• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH CREATIVE THINKING PROSES BERFIKIR KREATIF DALAM OTAK MANUSIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH CREATIVE THINKING PROSES BERFIKIR KREATIF DALAM OTAK MANUSIA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

MAKALAH CREATIVE THINKING

PROSES BERFIKIR KREATIF DALAM OTAK MANUSIA

Dosen Pengampu : Mustiawan M.Ikom

Disusun Oleh :

1. Elvira Devie Mulyana 2006015132 2. Nurkamila Aslamiyah 2006015351 3. Sulistyorini 2006015427

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

ILMU KOMUNIKASI 2020/2021

(2)

2

DAFTAR ISI

JUDUL ... 1

DAFTAR ISI ... 2

BAB I PENDAHULUAN ... 3

A. Latar Belakang ... 3

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penulisan ... 3

BAB II PEMBAHASAN ... 4

A. Pengertian Berpikir Kreatif ... 4

B. Proses Berfikir Kreatif dalam Otak Manusia ... 5

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi berfikir kreatif ... 10

D. Ciri-ciri berfikir kreatif ... 11

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 13

B. Saran ... 13

DAFTAR PUTAKA ... 14

(3)

3

BAB I

PENDAHAULUAN

A. Latar Belakang

Manusia berfikir dengan menggunakan otak dan 100 milyar syaraf yang tersebar diseluruh tubuhnya. Proses berfikir dalam memperoleh informasi atau pengetahuan didapat manusia melalui alat indra penglihatan, peraba, pengecap, pencium, pendengaran dan lainnya, dimana hasil dari penangkapan oleh alat indra, ditransfer melalui syaraf-syaraf yang terhubung ke otak, lalu diolah dan ditransfer kembali keseluruh syaraf-syaraf lainnya, dan informasi tersebut dicerna secara cepat dan disimpan dalam memori yang tersedia dalam diri manusia itu sendiri, baik dalam ingatan jangka panjang maupun jangka pendek.

Manusia dalam dirinya memiliki suatu kognisi. Kognisi adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu.

Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. Kapasitas atau kemampuan kognisi biasa diartikan sebagai kecerdasan atau inteligensi. Bidang ilmu yang mempelajari kognisi beragam, di antaranya adalah psikologi, filsafat, komunikasi, neurosains, serta kecerdasan buatan.

Kepercayaan atau pengetahuan seseorang tentang sesuatu yang dipercaya dapat memengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya memengaruhi perilaku atau tindakan mereka terhadap sesuatu dan mengubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu pengertian berfikir kreatif?

2. Bagaimana proses berfikir kreatif dalam otak manusia?

3. Apa faktor-faktor mempengaruhi berpikir kreatif?

4. Apa ciri-ciri berpikir kreatif?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui apa itu berfikir kreatif

2. Untuk mengetahui bagaimana proses berfikir kreatif otak manusia 3. Untuk mengetahui apa faktor-faktor berfikir kreatif

4. Untuk mengetahui ciri-ciri berpikir kreatif

(4)

4

BAB II PEMBAHASAN A. Berpikir Kreatif

1. Pengertian Berfikir Kreatif

Berpikir pada umumnya didefinisikan sebagai proses mental yang dapat menghasilkan pengetahuan. Berpikir adalah suatu kegiatan akal untuk mengolah pengetahuan yang telah diperoleh melalui indra dan ditujukan untuk mencapai kebenaran (Rakhmat, 1991: 138).

(Maxwell, 2004: 82) mengartikan berpikir sebagai segala aktivitas mental yang membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan, atau memenuhi keinginan untuk memahami; berpikir adalah sebuah pencarian jawaban, sebuah pencapaian makna.

Menurut Khodijah (2006: 81) berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. (Solso, dalam Khodijah, 2006: 94) berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah.

Pengertian tersebut tampak bahwa ada tiga pandangan dasar tentang berpikir, yaitu (1) Berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku, (2) Berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif, dan (3) Berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi.

Definisi yang paling umum dari berpikir adalah berkembangnya ide dan konsep di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri seseorang yang berupa pengertian- pengertian. Berpikir mencakup banyak aktivitas mental.

1. Kita berpikir saat memutuskan barang apa yang akan kita beli di toko.

2. Kita berpikir saat melamun sambil menunggu kuliah pengantar psikologi dimulai.

3. Kita berpikir saat mencoba memecahkan ujian yang diberikan di kelas.

4. Kita berpikir saat menulis artikel, menulis makalah, menulis surat, membaca buku, membaca koran, merencanakan liburan, atau mengkhawatirkan suatu persahabatan yang terganggu.

(5)

5 Secara sederhana, berpikir adalah memproses informasi secara mental atau secara kognitif.

Secara lebih formal, berpikir adalah penyusunan ulang atau manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang disimpan dalam long term memory. Jadi, berpikir adalah sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa (Khodijah, 2006: 117).

Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak. Kegiatan berpikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia dan juga melibatkan perasaan dan kehendak manusia. Memikirkan sesuatu berarti mengarahkan diri pada obyek tertentu, menyadari secara aktif dan menghadirkannya dalam pikiran kemudian mempunyai wawasan tentang obyek tersebut.

B. Proses Berfikir otak Manusia

Ada 3 bidang utama otak, yaitu jaringan awal, jaringan fungsi kontrol eksekutif, dan jaringan saliensi. Jaringan awal sejak dulu dikaitkan dengan kreativitas, karena bertanggung jawab atas tugas seperti imajinasi, melamun, hingga berpikir spontan. Sedangkan jaringan fungsi kontrol eksekutif terlibat dengan fungsi kognitif seperti memori dan bahasa. Terakhir, jaringan saliensi bertugas untuk menyaring rangsangan dari luar.

Dalam proses berlangsungnya kreativitas, maka menurut Graham Wallas menjelaskan beberapa tahap sebagai berikut :

1. Tahap pertama, yaitu tahap persiapan (preparation).

Pada tahap ini ide datang dan timbul dari berbagai kemungkinan. Namun biasanya ide itu berlangsung dengan hadirnya suatu keterampilan, keahlian, atau ilmu pengetahuan tertentu sebagai latar belakang atau sumber dari mana ide itu lahir.

2. Tahap kedua, yaitu Inkubasi (incubation).

Dalam pengembangan kreativitas, pada tahap ini diharapkan hadirnya suatu pemahaman serta kematangan terhadap ide yang timbul. Berbagai teknik dalam menyegarkan dan meningkatkan kesadaran itu, seperti meditasi, latihan peningkatan kreativitas, dapat dilangsungkan untuk memudahkan “perembetan”, perluasan, dan pendalaman ide.

3. Tahap tiga, yaitu iluminasi (illumination).

Pada tahap ini terjadi komunikasi terhadap hasilnya dengan orang yang signifikan bagi penemu, sehingga hasil yang telah dicapai dapat lebih disempurnakan lagi.

4. Tahap empat, verfikasi (verification).

(6)

6 Perbaikan dari perwujudan hasil tanggung jawab terhadap hasil menjadi tahap akhir dari proses ini. Dimensi dari perwujudan karya kreatif dari proses ini. Dimensi dari perwujudan karya kreatif untuk diteruskan kepada masyarakat yang lebih luas setelah perbaikan dan penyempurnaan terhadap karyanya itu berlangsung. (Conny R. Semiawan, 1998)

Contoh Kasus :

Raffa adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi, suatu hari ada salah satu dosen menugaskan Raffa untuk membuat suatu media pembelajaran yang menarik dan inovatif. Lalu Raffa mencoba memikirkan media pembelajaran apa yang mungkin akan menarik dan Inovatif.

Raffa mempelajari dan mengumpulkan informasi untuk membuat media pembelajaran yang menarik dan inovatif melalui jurnal, youtube, buku dll.

Pada saat ini, Raffa berada pada tahap Persiapan.

Suatu hari Raffa tidak mau memikirkan tugas yang diberikan oleh dosennya.

Pada saat ini, Raffa berada pada tahap Inkubasi

Tiba-tiba Raffa mendapatkan ide cemerlang. Raffa berfikir bahwa ia akan menggunakan software Videoscribe untuk membuat media pembelajaran.

Pada saat ini, Raffa berada pada tahap Iluminati.

Kemudian Raffa mencoba dan mencoba nya lagi sampai dia berhasil membuat media pembelajaran dengan Videoscribe yang benar-benar menarik dan inovatif.

Pada saat ini Raffa berada pada tahap Verifikasi.

Hubungan antara koneksi otak dengan kreativitas ini bergitu kuat. Bahkan, para peneliti bisa memprediksi seberapa kreatif jawaban para relawan dalam tugas-tugasnya hanya dengan membaca hasil FMRI mereka (Functional Magnetik Resonance Imaging ) merupakan teknik penggambaran aktivasi otak dengan jenis yang berbeda dari sensasi fisik (penglihatan, suara, sentuhan, taste, senyum) atau aktivitas lainnya seperti penyelesaian masalah gerakan (dibatasi oleh mesin). Scan FMRI merupakan penambahan peralatan umum untuk pemetaan otak dalam ilmu kognitif). Dengan kata lain, orang-orang kreatif sebenarnya terhubung dengan cara yang berbeda. Selain itu, orang kreatif lebih dapat mengendalikan koneksi di otak mereka.

Proses berpikir merupakan salah satu rangkaian dalam mekanisme penafsiran terhadap stimuli.

Dalam berpikir semua proses kognitif dilibatkan, mulai dari sensasi, persepsi dan memori.

(7)

7 Secara garis besar, ada dua macam cara berpikir, yaitu cara berpikir autistik dan berpikir realistik.

 Berpikir autistik seringkali disebut sebagai mengkhayal, melamun atau berfantasi. Dengan berpikir autistik orang melarikan diri dari kenyataan, melihat hidup sebagai gambar-gambar yang fantastic. Sebaliknya, berpikir realistik disebut sebagai nalar (reasoning), yaitu berpikir secara logis, berdasarkan fakta-fakta yang ada dan menyesuaikan dengan dunia nyata, beserta semua dalil/hukum-hukumnya.

 Berpikir realistik dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

a. Berpikir deduktif

Berpikir deduktif adaiah proses berpikir yang rnenerapkan kenyataan-kenyataan yang berlaku umum kepada hal-hai yang bersifat khusus. Kesimpulan yang dihasilkan dalam berpikir deduktif dimulai dari hal-hal umum menuju hal-hal khusus.

b. Berpikir induktif

Berpikir induktif justru sebaliknya, dimulai dari hal-hal khusus kemudian ditarik kesimpulan secara umum. Kesimpulan yang dihasilkan dalam berpikir induktif merupakan generalisasi dari hal-hal khusus.

c. Berpikir evaluatif.

Berpikir evaluatif adalah dengan menilai baik-buruknya atau tepat-tidaknya suatu gagasan.

Dalam berpikir evaluatif, seseorang tidak menambah atau mengurangi gagasan, tetapi menilainya berdasarkan kriteria tertentu. Untuk melatih kemampuan berpikir siswa, seorang pendidik dapat melatih siswanya dengan cara menunjukkan cara berpikir melalui semua mata pelajaran. Memberikan contoh-contoh kasus cara berpikir yang baik, memberikan masalah yang menuntut siswa berpikir, dan menerapkan keterampilan untuk mengambil keputusan.

Untuk melatih kemampuan berpikir siswa, seorang pendidik dapat melatih siswanya dengan cara menunjukkan cara berpikir melalui semua mata pelajaran. Memberikan contoh-contoh kasus cara berpikir yang baik, memberikan masalah yang menuntut siswa berpikir, dan menerapkan keterampilan untuk mengambil keputusan.

Telah dikatakan di atas, bahwa berpikir terarah diperlukan dalam memecahkan persoalan- persoalan. Untuk mengarahkan jalan pikiran kepada pemecahan persoalan, maka terlebih dahulu diperlukan penyusunan strategi.

(8)

8

 Ada dua macam strategi umum dalam memecahkan persoalan :

a. Strategi menyeluruh: di sini persoalan dipandang sebagai suatu keseluruhan dan dipecahkan untuk keseluruhan itu.

b. Strategi detailistis : di sini persoalan di bagi-bagi dalam bagian-bagian dan dipecahkan bagian demi bagian.

 Kesulitan dalam memecahkan persoalan dapat ditimbulkan oleh :

a. Pemecahan persoalan yang berhasil biasanya cenderung dipertahankan pada persoalan- persoalan yang berikutnya. Padahal belum tentu persoalan berikut itu dapat dipecahkan dengan cara yang sama. Dalam hal ini akan timbul kesulitan-kesulitan terutama kalau orang yang bersangkutan tidak mau mengubah dirinya.

b. Sempitnya pandangan, sering dalam memecahkan persoalan, seseorang hanya melihat satu kemungkinan jalan keluar. Meskipun ternyata kemungkinan yang satu ini tidak benar, orang tersebut akan mencobanya terus, karena ia tidak melihat jalan keluar yang lain. Tentu saja ia akan mengalami kegagalan. Kesulitan seperti ini disebabkan oleh sempitnya padangan orang tersebut. Sehingga tidak dapat melihat adanya beberapa kemungkinan jalan keluar.

Gambaran ini dapat dilihat bahwa berpikir pada dasarnya adalah proses psikologis, kemampuan berpikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang relatif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang "selengkapnya" tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berpikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ini akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

Tujuan berpikir adalah memecahkan permasalahan tersebut. Karena itu sering dikemukakan bahwa berpikir itu adalah merupakan aktifitas psikis yang intentional, berpikir tentang sesuatu.

Di dalam pemecahan masalah tersebut, orang menghubungkan satu hal dengan hal yang lain hingga dapat mendapatkan pemecahan masalah.

(9)

9

 Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal- hal yang sudah ada, yang belum pernah ada sebelumnya dengan menekankan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan atau menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif.

 Kreatif seringkali dianggap sebagai sesuatu keterampilan yang didasarkan pada bakat alam, dimana hanya mereka yang berbakat saja yang bisa menjadi kreatif, Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, walaupun memang dalam kenyataannya terlihat bahwa orang-orang tertentu memiliki kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru dengan cepat dan beragam.

Berpikir kreatif sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasangagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya (Munandar, 1999: 25).

Berpikir kreatif merupakan ungkapan (ekspresi) dari keunikan individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Ungkapan kreatif inilah yang mencerminkan orisinalitas dari individu tersebut.

Dari ungkapan pribadi yang unik dapat diharapkan timbulnya ide-ide baru dan produk-produk yang inovatif dan adanya ciri-ciri seperti:

 Mampu mengarahkan diri pada objek tertentu, mampu memperinci suatu gagasan

 Mampu menganalisis ide-ide dan kualitas karya pribadi,

 Mampu menciptakan suatu gagasan baru dalam pemecahan masalah.

Menurut Utami Munandar (1999: 20) menerangkan bahwa kreativitas adalah sebuah proses atau kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci), suatu gagasan. Pada definisi ini lebih menekankan pada aspek proses perubahan (inovasi dan variasi).

(Munandar, 1999: 45). Berpikir kreatif adalah kemampuan individu untuk memikirkan apa yang telah dipikirkan semua orang, sehingga individu tersebut mampu mengerjakan apa yang belum pernah dikerjakan oleh semua orang. Terkadang berpikir kreatif terletak pada inovasi yang membantu diri sendiri untuk mengerjakan hal-hal lama dengan cara yang baru. Tetapi pokoknya, ialah memandang dunia lewat cukup banyak mata baru sehingga timbullah solusi- solusi baru, itulah yang selalu memberikan nilai tambah. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian berpikir kreatif adalah suatu kemampuan seseorang untuk

(10)

10 menciptakan ide atau gagasan baru sehingga membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagi tujuan dalam hidupnya (Maxwell 2004: 136).

Berpikir kreatif akan terwujud jika ada dukungan dari lingkungan, ataupun jika ada dorongan kuat dalam dirinya sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu berpikir kreatif dapat berkembang dalam lingkungan yang menunjang. Di dalam keluarga, di sekolah, di dalam lingkungan pekerjaan mau pun di dalam masyarakat harus ada penghargaan dan dukungan terhadap sikap dan perilaku kreatif individu atau kelompok individu. Oleh karena itu pendidikan hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswannya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswa menemukan bakat-bakatnya dan menghargainya.

Untuk mengembangkan berpikir kreatif, siswa perlu diberi kesempatan untuk bersibuk diri secara kreatif. Pendidik hendaknya dapat merangsang anak untuk melibatkan dirinya dalam kegiatan kreatif, dengan membantu mengusahakan sarana prasarana yang diperlukan. Dalam hal ini yang penting ialah memberi kebebasan kepada anak untuk mengeksprsikan dirinya secara kreatif, tentu saja dengan persyaratan tidak merugikan orang lain atau lingkungan.

Pertama-tama yang perlu ialah proses bersibuk diri secara kreatif tanpa perlu selalu atau terlalu cepat menuntut dihasilkannya produk-produk kreatif yang bermakna. Hal itu akan datang dengan sendirinya dalam iklim yang menunjang, menerima dan menghargai. Perlu pula diingat bahwa jika kurikulum sekolah yang terlalu padat sehingga tidak ada peluang untuk kegiatan kreatif, dan jenis pekerjaan yang monoton, tidak menunjang siswa untuk mengungkap dirinya secara kreatif.

Kedua kondisi yang memungkinkan anak menciptakan pikiran kreatif yang bermakna ialah kondisi pribadi dan kondisi lingkungan, yaitu sejauh mana keduannya mendorong anak untuk melibatkan dirinya dalam proses (kesibukan dan kegiatan) berpikir kreatif. Dengan dimilikinya bakat dan ciri-ciri pribadi kreatif, dan dengan dorongan (internal maupun eksternal) untuk bersibuk diri secara kreatif, maka berpikir kreatif yang sesuai dengan kemampuan dirinya akan timbul dengan sendirinya.

Hendaknya pendidik menghargai kreativitas anak dan mengkomunikasikannya kepada yang lain, misalnya dengan mempertunjukan atau memamerkan hasil karya anak, ini akan lebih menggugah minat anak untuk berkreasi. Siswa kreatif kebanyakan menggunakan cara berpikir secara analogis karena mereka mampu melihat berbagai hubungan yang tidak terlihat oleh siswa

(11)

11 lain. Siswa yang biasa juga sering berpikir analogis, tetapi berpikir analogis yang dilakukan oleh siswa kreatif ditandai oleh sifatnya yang luar biasa, aneh, dan kadang-kadang tidak rasional.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif tumbuh subur bila ditunjang oleh faktor internal dan situasional. Orang-orang kreatif memiliki temperamen yang beraneka ragam. Ada tiga aspek yang secara umum menandai orang-orang kreatif menurut Munandar (1999: 96) :

a. Kemampuan kognitif : termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.

b. Sikap yang terbuka : orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal maupun eksternal.

 Internal

Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam individu yang dapat mempengaruhi kreativitas, diantaranya :

1. Keterbukaan terhadap pengalaman dan rangsangan dari luar atau dalam individu.

Keterbukaan terhadap pengalaman adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha defense (mempertahankan diri), tanpa kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan demikian individu kreatif adalah individu yang mampu menerima perbedaan

2. Evaluasi internal, yaitu kemampuan individu dalam menilai produk yang dihasilkan ciptaan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain.

Walaupun demikian individu tidak tertutup dari kemungkinan masukan dan kritikan dari orang lain.

3. Kemampuan untuk bermaian dan mengadakan eksplorasi terhadap unsur-unsur, bentuk- bentuk, konsep atau membentuk kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

 Eksternal

Faktor eksternal (lingkungan) yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis. Peran kondisi lingkungan mencakup lingkungan dalam arti kata luas yaitu masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan

(12)

12 dapat mengembangkan kreativitas jika kebudayaan itu memberi kesempatan adil bagi pengembangan kreativitas potensial yang dimiliki anggota masyarakat. Adanya kebudayaan creativogenic, yaitu kebudayaan yang memupuk dan mengembangkan kreativitas dalam masyarakat, antara lain :

(1) tersedianya sarana kebudayaan, misal ada peralatan, bahan dan media, (2) adanya keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan bagi semua lapisan masyarakat, (3) menekankan pada becoming dan tidak hanya being, artinya tidak menekankan pada kepentingan untuk masa sekarang melainkan berorientasi pada masa mendatang, (4) memberi kebebasan terhadap semua warga negara tanpa diskriminasi, terutama jenis kelamin, (5) adanya kebebasan setelah pengalamn tekanan dan tindakan keras, artinya setelah kemerdekaan diperoleh dan kebebasan dapat dinikmati, (6) keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda, (7) adanya toleransi terhadap pandangan yang berbeda, (8) adanya interaksi antara individu yang berhasil, dan (9) adanya insentif dan penghargaan bagi hasil karya kreatif.

Sedangkan lingkungan dalam arti sempit yaitu keluarga dan lembaga pendidikan. Di dalam lingkungan keluarga orang tua adalah pemegang otoritas, sehingga peranannya sangat menentukan pembentukan kreativitas anak. Lingkungan pendidikan cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir anak didik untuk menghasilkan produk kreativitas, yaitu berasal dari pendidik.

c. Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri :

Orang kreatif ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terikat oleh aturan- aturan. Hal ini menyebabkan orang kreatif sering dianggap “nyentrik” atau gila. Selain faktor lingkungan psikososial (Presepsi kita tentang bagaimana lingkungan memperlakukan kita.

Ada yang memuaskan ataupun mengecewakan dan hal-hal tersebut mempengaruhi perilaku kita dalam lingkungan). Beberapa peneliti menunjukan adanya faktor situasional lainnya.

Maltzman menyatakan adanya faktor peneguhan dari lingkungan. Dutton menyebutkan tersedianya hal-hal istimewa bagi manusia kreatif, dan Silvano Arieti menekankan faktor isolasi dalam menumbuhkan kreativitas.

D. Ciri-Ciri Berpikir Kreatif

Seseorang dikatakan kreatif tentu ada ciri-ciri yang lebih berkaitan dengan ketrampilan, sikap atau perasaan. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukan kreativitas dikemukan oleh (Munandar, 1999: 118 ) sebagai berikut ini ciri-ciri berpikir kreatif pada siswa :

(13)

13 a) Keterampilan Berpikir Lancar Dilihat dari bagaimana perilaku anak yang suka mengajukan banyak pertanyaan, menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan, mempunyai banyak gagasan mengenai suatu masalah, lancar mengungkapkan gagasan-gagasannya.

b) Keterampilan Berpikir Luwes (Fleksibel) Dilihat dari bagaimana perilaku anak yang memberikan aneka ragam penggunaan yang tidak lazim terhadap suatu objek, memberikan macam-macam penafsiran (interpretasi) terhadap suatu gambar; cerita; atau masalah, memberi pertimbangan terhadap siuasi; yang berbeda dari yang diberikan orang lain.

c) Keterampilan Berpikir Orisinal Dilihat dari bagaimana perilaku anak memikirkan masalah- masalah atau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.

d) Keterampilan Memperinci (Mengelaborasi) Dilihat dari bagaimana perilaku anak mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.

e) Keterampilan Menilai (Mengevaluasi) Dilihat dari bagaimana perilaku anak menentukan pendapat sendiri mengenai suatu hal.

f) Memiliki Rasa Ingin Tahu Dilihat dari bagaimana perilaku anak mempertanyakan segala sesuatu.

g) Bersifat Imajinatif Dilihat dari bagaimana perilaku anak membuat cerita tentang tempat- tempat yang belum pernah dikunjungi atau tentang kejadian-kejadian yang belum pernah dialami.

h) Merasa Tertantang Oleh Kemajemukan Dilihat dari bagaimana perilaku anak mencari penyelesaian suatu masalah tanpa bantuan orang lain.

i) Memiliki Sifat Berani Mengambil Resiko Dilihat dari bagaimana perilaku anak yang berani mempertahankan gagasannya dan bersedia mengakui kesalahannya.

j) Memiliki Sifat Menghargai Dilihat dari bagaimana perilaku anak yang menghargai hak-hak diri sendiri dan hak-hak orang lain.

(14)

14

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang belum pernah ada sebelumnya dengan menekankan kemampuan yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasikan, memecahkan atau menjawab masalah, dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif.

Berpikir kreatif akan terwujud jika ada dukungan dari lingkungan, ataupun jika ada dorongan kuat dalam dirinya sendiri (motivasi internal) untuk menghasilkan sesuatu berpikir kreatif dapat berkembang dalam lingkungan yang menunjang. Di dalam keluarga, di sekolah, di dalam lingkungan pekerjaan mau pun di dalam masyarakat harus ada penghargaan dan dukungan terhadap sikap dan perilaku kreatif individu atau kelompok individu. Oleh karena itu pendidikan hendaknya dapat menghargai keunikan pribadi dan bakat-bakat siswannya (jangan mengharapkan semua melakukan atau menghasilkan hal-hal yang sama, atau mempunyai minat yang sama). Guru hendaknya membantu siswa menemukan bakat-bakatnya dan menghargai hasil karya nya.

B. Saran

Demikianlah makalah yang kami buat, semoga bermanfa’at bagi pembaca, dalam pembuatan makalah ini sungguh kami mengakui masih terdapat kesalahan maupun kelemahan di dalamnya. Oleh karena itu, apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisan makalah ini, mohon di maafkan dan memakluminya.

Jika ada kritik dan saran yang sifatnya membangun akan kami terima dan silahkan sampaikan kepada kami kelompok 1. Terima Kasih.

(15)

15

DAFTAR PUSTAKA

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas. (2011, Desember 16). Retrieved from Psikologi Kreativitas UMP: https://psikologikreativitasump.wordpress.com/2011/12/16/faktor-faktor- yang-mempengaruhi-kreativitas/

Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI) Merupakan Pengembangan MRI. (2013, November 17). Retrieved from BLOG TEKNIK: https://margionoabdil.blogspot.com/2013/11/functional- magnetic-resonance-imaging.html

Proses berfikir manusia dan bagaimana memperkuat ingatan. (2013, May 22). Retrieved from it's yours: https://itajuita3.blogspot.com/2013/05/proses-berpikir-manusia-dan-bagaimana.html Sartika, R. E. (2018, 01 19). Inikah Cara Kerja Otak dari Orang-orang Kreatif? Retrieved from

Kompas.com: https://sains.kompas.com/read/2018/01/19/112400723/inikah-cara-kerja- otak-dari-orang-orang-kreatif-?page=all

Tahap dan Proses Kreatifvitas. (2012, March 2). Retrieved from Dewasastra:

https://dewasastra.wordpress.com/2012/03/02/tahap-dan-proses-kreatifvitas/

Microsoft Word - SKRIPSI (uinsby.ac.id)

Referensi

Dokumen terkait