• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci : Penerimaan diri, remaja, leukemia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata kunci : Penerimaan diri, remaja, leukemia"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA PENDERITA LEUKEMIA Nama : Ulfa Rizkiana

Pembimbing : Dra. Retnaningsih, MSi ABSTRAKS

Seiring dengan perkembangan jaman yang pesat manusia membutuhkan

segala sesuatu dengan cepat tanpa menyadari konsekuensi yang akan didapat. Salah

satunya adalah makanan cepat saji (fast food) yang apabila dikonsumsi secara

berlebihan dapat menyebabkan beragam penyakit dan salah satunya adalah kanker.

Menurut Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM mengatakan bahwa kasus

internasional menyebutkan 110-130 dari satu juta remaja di bawah 15 tahun

menderita Kanker. Leukemia merupakan salah satu jenis kanker darah yang paling

banyak dijumpai pada usia di bawah 15 tahun. Leukemia adalah bentuk kanker yang

mempengaruhi darah dan dikarakteristikan dengan tidak terkontrolnya produksi sel

darah putih dalam sirkulasi darah. Usia remaja merupakan masa dimana seseorang

berkembang menjadi dewasa dan masa yang sangat penting dalam pembentukan

kepribadian seseorang. Dengan adanya penyakit seperti leukemia pada remaja maka

akan mempengaruhi semua aktivitas dan kepribadian pada remaja penderita

leukemia.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dari penerimaan

diri remaja penderita leukemia dan faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan

diri pada remaja penderita leukemia.

Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif yang berupa studi kasus

dengan satu subjek yaitu penderita leukemia yang berumur 14 tahun dan menderita

leukemia jenis ALL stadium satu selama satu tahun.

Hasil dari penelitian yang dilakukan, menunjukan bahwa subjek penelitian

mampu menerima dirnya dengan baik, hal tersebut ditunjukan dengan adanya

pemahaman tentang diri sendiri dan mengenali apa yang menajdi kekurangan dan

kelebihannya serta adanya harapan yang realistis terhadap keadaan diri dan tidak

merasa rendah diri dengan adanya penyakit yang dialami subjek. Selain itu subjek

memiliki keluarga yang sangat mendukung harapan-harapan subjek dan teman-teman

serta lingkungan yang bersikap baik pada subjek, sehingga subjek mempunyai

penerimaan diri yang baik sebagai remaja penderita leukemia.

Kata kunci : Penerimaan diri, remaja, leukemia

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Kanker menjadi momok bagi semua orang, hal ini karena angka kematian akibat kanker yang sangat tinggi. Tidak hanya di Indonesia melainkan juga di berbagai negara.

Di Indonesia, masalah penyakit kanker terlihat lonjakan yang luar biasa. Dalam jangka waktu 10 tahun, terlihat bahwa peringkat kanker sebagai penyebab kematian naik, dari peringkat 12 menjadi peringkat enam. Setiap tahun diperkirakan terdapat 190 ribu penderita

(2)

baru dan seperlimanya akan meninggal akibat penyakit ini. Namun angka kematian akibat kanker ini sebenarnya bisa dikurangi 3-35 persen, asal dilakukan tindakan prevelensi, screening dan deteksi dini. Jumlah penderita kanker di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Saat ini, jumlahnya mencapai 6% dari total populasi yang ada. Angka tersebut hampir sama dengan yang terjadi di negara-negara berkembang lainnya, namun kecenderungannya terus meningkat seiring globalisasi, gaya hidup, dan kualitas pelayanan kesehatan (Media Sehat, 2005)

Taylor (1999) mengatakan bahwa kanker adalah suatu kumpulan lebih dari 100 penyakit yang mempunyai beberapa faktor yang sama. Semua kanker dihasilkan

dari gangguan dalan DNA-bagian itu yang terdiri dari sel penyusunan yang mengontrol sel pertumbuhan dan reproduksi. Bukannya memastikan seperti biasa memproduksi secara perlahan sel-sel baru. Kegagalan DNA ini menyebabkan perkembangan yang terlalu banyak dan cepat pada sel pertumbuhan. Tidak seperti sel-sel yang lain sel-sel kanker tidak memberikan keuntungan pada tubuh, sel-sel itu hanya melemahkannya.

Faktor penyebab munculnya kanker sampai sekarang belum diketahui pasti. Diduga ada kaitannya dengan radiasi sinar radioaktif dan bahan-bahan kimia seperti zat pengawet. penyebab kanker sampai saat ini belum diketahui pasti. Namun demikian berdasarkan pengalaman dan penelitian, kanker pada anak bisa diakibatkan interaksi berbagai faktor, gabungan faktor genetik atau pengaruh lingkungan. Faktor genetik, gaya hidup, dan

diet juga harus dipertimbangkan sebagai faktor risiko penting penyebabnya. Misalnya saja, sekitar 50% semua jenis kanker disebabkan oleh cara makan yang salah (Novalina, 2003).

Menurut penelitian tahun 1993 di Jakarta menunjukkan bahwa insidensi leukemia anak adalah 27,6% tiap satu juta anak berusia 1-14 tahun, sedangkan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta telah tercatat sejumlah 35% kasus LLA dan 13% kasus LMA dari penderita kanker anak dalam periode tahun 2000-2004. Menurut penelitian, anak dengan leukemia yang berusia lebih muda memiliki harapan hidup lebih tinggi 61-77% dibanding remaja berusia 20 tahun. Kurang lebih 80% penderita dengan LLA memiliki peluang hidup lebih lama setelah mendapatkan protokol pengobatan LLA meskipun 40–60% pada kelompok tersebut bergantung pada jenis protokol yang digunakan. (Palestin, 2008)

Menurut Nelson (1992) leukemia adalah kanker yang paling umum pada masa usia dibawah 15 tahun. Diagnosa kankernya sekitar 1 dari 3 kasus baru pertahunnya. Leukemia adalah bentuk kanker yang mempengaruhi darah, dan merupakan penyebab utama kematian setelah kecelakaan untuk anak-anak di bawah 15 tahun. Leukemia dikarakteristikan dengan tidak terkontrolnya sel darah putih dan di klasifikasikan ke dalam tipe akut dan kronis (Kushi dan Jack, 1983)

Pengobatan penderita leukemia harus dilakukan di rumah sakit dengan sarana lengkap, termasuk kamar bebas infeksi dan dilakukan oleh ahli dan hal ini berarti penderita mengalami hospitalisasi. Menurut Smet (1994) episode-episode kesakitan yang akut dan

(3)

opname di rumah sakit dapat memberi stress bagi remaja dan kadang-kadang menimbulkan akibat yang merugikan dalam kurun waktu lama. Opname di Rumah Sakit jauh dari menyenangkan untuk usia 15 tahun ke bawah, prosedur medis dan pembedahan yang menyakitkan, pisah dari keluarga, teman dan sekolah

Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke masa dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang, khususnya dalam pembentukan kepribadian seseorang (Riyanti , Prabowo & Puspitawati, 1996). Santrock (2002) mengatakan bahwa remaja memiliki perasaan bahwa mereka unik dan kebal yang membuat mereka berfikir bahwa penyakit dan gangguan tidak akan memasuki kehidupan mereka. Maka bukanlah suatu yang mengejutkan, ketika remaja diagnosa terkena penyakit terminal seperti kanker, mereka akan merasa terkejut, terhina dan merasa tidak adil (Taylor, 1999). Setelah didiagnosa adanya leukemia remaja sering berada dalam tahap krisis yang ditandai dengan ketidakseimbangan fisik, sosial dan psikis. Penyakit seperti leukemia dapat mengakibatkan perubahan drastis dalam konsep diri dan harga diri penderita. Perubahan ini dapat terjadi secara sementara namun dapat juga menetap. Dengan adanya diagnosa leukemia pada diri remaja dan menjalankan treatment-treatment dengan efek samping yang dihasilkan dari treatment tersebut, hospitalisasi dan dampak yang diberikan pada kehidupan remaja, hal-hal seperti ini kemungkinan dapat mempengaruhi penerimaan dirinya. Ryff (dalam Johada, 1985)

menyatakan penerimaan diri sebagai suatu keadaan dimana seseorang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek diri termasuk kualitas baik dan buruk yang ada pada diri dan memandang positif terhadap kehidupan yang telah dijalani.

Penerimaan diri yang baik hanya akan terjadi bila individu yang bersangkutan mau dan mampu mamahami keadaan diri sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan. Selain itu juga harus memiliki harapan yang realistis, sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian bila seorang individu memiliki konsep yang menyenangkan dan rasional mengenai diri maka dapat dikatakan orang tersebut dapat menyukai dan menerima dirinya ( Hurlock, 1985).

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran dari penerimaan diri remaja penderita leukemia dan faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri pada penderita leukemia.

TINJAUAN PUSTAKA Penerimaan Diri

Menurut Johada (1958) penerimaan diri mengandung pengertian bahwa individu telah belajar untuk hidup dengan dirinya sendiri, dalam arti individu dapat menerima kelebihan maupun kekurangan yang ditemukan dalam dirinya. Individu yang menerima keadaan dirinya dengan tenang, akan bebas dari rasa bersalah, rasa malu dan rendah diri karena kecacatan/keterbatasan diri serta bebas

(4)

dari kecemasan penilaian orang lain terhadap dirinya (Maslow,1970 dalam Hjelle & Ziegler, 1985).

Menurut Ryff (dalam Urim, 2007) mengatakan bahwa penerimaan diri adalah memiliki pandangan yang positif tentang diri sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek diri termasuk kualitas baik dan buruknya yang ada pada dirinya, dan memandang positif terhadap kehidupan yang telah dijalaninya. Aspek penerimaan diri

Jersild (1958) mengemukakan beberapa aspek-aspek penerimaan diri sebagai berikut : a. Persepsi mengenai diri dan sikap

terhadap penampilan

Individu yang memiliki penerimaan diri berfikir lebih realistik tentang penampilan dan bagaimana dirinya terlihat dalam pandangan orang lain. Individu tersebut dapat melakukan sesuatu dan berbicara dengan baik mengenai dirinya yang sebenarnya

b. Sikap terhadap kelemahan dan kekuatan diri sendiri dan orang lain Individu yang memiliki penerimaan diri memandang kelemahan dan kekuatan dalam dirinya lebih baik daripada individu yang tidak memiliki penerimaan diri. c. Perasaan infeoritas sebagai gejala

penolakan diri

Seorang individu yang terkadang merasakan infeoritas/disebut dengan infeority complex adalah seorang individu yang tidak memiliki sikap penerimaan diri dan hal tersebut akan mengganggu penilaian yang realistik atas dirinya.

d. Respon atas penolakan dan kritikan

Individu yang memiliki penerimaan diri tidak menyukai kritikan, namun demikian individu mempunyai kemampuan untuk menerima kritikan bahkan dapat mengambil hikmah dari kritikan tersebut. e. Keseimbangan antara “real self” dan

“ideal self”

Individu yang memiliki penerimaan diri adalah individu yang mempertahankan harapan dan tuntutan dari dalam dirinya dengan baik dalam batas-batas memungkinkan individu ini mungkin memiliki ambisi yang besar, namun tidak mungkin untuk mencapainya walaupun dalam jangka waktu yang lama dan menghabiskan energinya. Oleh karena itu, dalam mencapai tujuannya individu mempersiapkan dalam konteks yang mungkin dicapai, untuk memastikan dirinya tidak akan kecewa saat nantinya. f. Penerimaan diri dan penerimaan orang

lain

Hal ini berarti apabila seorang individu menyayangi dirinya, maka akan lebih memungkinkan baginya untuk menyayangi orang lain.

g. Penerimaan diri, menuruti kehendak, dan menonjolkan diri

Menerima diri dan menuruti diri merupakan dua hal yang berbeda. Apabila seorang individu menerima dirinya, hal tersebut bukan berarti individu memanjakan dirinya. Individu yang menerima dirinya akan menerima dan bahkan menuntut pembagian yang layak akan sesuatu yang baik dalam hidup dan tidak mengambil kesempatan yang tidak

(5)

pantas untuk memiliki posisi yang baik atau menikmati sesuatu yang bagus Semakin individu menerima dirinya dan diterima orang lain, semakin individu mampu untuk berbaik hati.

h. Penerimaan diri, spontanitas, menikmati hidup

Individu dengan penerimaan diri mempunyai lebih bayak keleluasaan untuk menikmati hal-hal dalam hidupnya. Individu tersebut tidak hanya leluasa menikmati sesuatu yang dilakukannya. Akan tetapi, juga leluasa untuk menolak atau menghindari sesuatu yang tidak ingin dilakukannya.

i. Aspek moral penerimaan diri

Individu dengan penerimaan diri bukanlah individu yang berbudi baik dan bukan pula individu yang tidak mengenal moral, tetapi memiliki fleksibilitas dalam pengaturan hidupnya. Individu memiliki kejujuran untuk menerima dirinya sebagai apa dan untuk apa nantinya, dan tidak menyukai kepura-puraan..

j. Sikap terhadap penerimaan diri

Menerima diri merupakan hal penting dalam kehidupan seseorang. Individu yang dapat menerima beberapa aspek hidupnya, mungkin dalam keraguan dan kesulitan dalam menghormati orang lain.

Ciri-ciri Penerimaan diri

Jersild (dalam Hurlock,1974) mengemukakan beberapa ciri penerimaan diri untuk membedakan antara orang yang menerima keadaan diri dengan orang yang menolak keadaan diri (denial). Berikut ini

adalah ciri dari orang yang menerima keadaan diri :

a. Orang yang menerima dirinya memiliki harapan yang realistis terhadap keadaannnya dan menghargai dirinya sendiri

b. Yakin akan standar-standar dan pengakuan terhadap dirinya tanpa terpaku pada pendapat orang lain

c. Memiliki perhitungan akan keterbatasan dirinya dan tidak melihat pada dirinya sendiri secara irasional

d. Menyadari asset diri yang dimilikinya, dan merasa bebas untuk menarik atau melakukan keinginannya

e. Menyadari kekurangannya tanpa menyalahkan diri sendiri

Faktor-faktor yang berperan dalam Penerimaan diri

Selain aspek dan cirri-ciri adapula faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri. Hurlock (1974) mengemukakan tentang faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri yang positif sebagai :

a. Adanya pemahaman tentang diri sendiri

Hal ini dapat timbul dari kesempatan seseorang untuk mengenali kemampuan dan ketidakmampuannya. Pemahaman diri dan penerimaan diri berjalan dengan berdampingan, maksudnya semakin orang dapat memahami dirinya, maka semakin dapat menerima dirinya

b. Adanya harapan yang realistik

Hal ini bisa timbul bila individu menentukan sendiri harapannya dan

(6)

disesuaikan dengan pemahaman mengenai kemampuannya, dan bukan diarahkan oleh orang lain dalam mencapai tujuannya. c. Tidak adanya hambatan didalam

lingkungan

Walaupun seseorang sudah memiliki harapan yang realistik, tetapi bila lingkungan disekitarnya tidak memberikan kesempatan atau bahkan menghalangi maka harapan orang tersebut tentu akan sulit tercapai.

d. Sikap-sikap anggota masyarakat yang menyenangkan

Tidak adanya prasangka, adanya penghargaan terhada kemampuan sosial orang lain dan kesediaan individu untuk mengikuti kebiasaan lingkungan

e. Tidak adanya gangguan emosional yang berat

Yang membuat individu dapat bekerja sebaik mungkin dan merasa bahagia f. Pengaruh keberhasilan yang dialami,

baik secara kualitatif maupun kuantitatif

Keberhasilan yang dialami dapat menimbulkan penerimaan diri dan sebaliknya kegagalan yang dialami dapat mengakibatkan adanya penolakan diri g. Identifikasi dengan orang yang

memiliki penyesuaian diri yang baik Mengindentifikasi diri dengan orang yang Well adjusted dapat membangun sikap-sikap yang positif terhadap diri sendiri, dan bertingkah laku dengan baik yang bisa menimbulkan penilaian diri yang baik dan penerimaan diri yang baik

h. Adanya prespektif diri yang luas

Yaitu mempertahatikan juga pandangan orang lain tentang diri. Prespektif diri yang luas ini diperoleh melalui pengalaman dan belajar. Dalam hal ini usia dan tingkat pendidikan memegang peranan penting bagi seseorang untuk mengembangkan prespektif dirinya

i. Pola asuh dimasa kecil yang baik Anak yang diasuh secara demokratis akan cenderung berkembang sebagai orang yang dapat menghargai dirinya sendiri j. Konsep diri yang stabil

Individu yang tidak memiliki konsep diri stabil misalnya, maka kadang individu menyukai dirinya, dan kadang ia tidak menyukai dirinya, akan sulit menunjukan pada orang lain siapa dirinya yang sebenarnya, sebab individu sendiri ambivalen terhadap dirinya.

Leukemia

Menurut Kushi dan Jack (1983) leukemia adalah bentuk kanker yang mempengaruhi darah. Leukemia dikarakteristikan dengan tidak terkontrolnya sel darah putih dan di klasifikasikan ke dalam tipe akut dan kronis.

Sedangkan menurut Regato, Spjut dan Cox (1985) leukemia adalah golongan penyakit yang terutama mempengaruhi kelenjar getah bening dan sistem reticuloendothelial dan tulang sumsum, dan menghasilkan produksi yang berlebihan unsur leukocytic yang abnormal pada bagian aslinya, dengan atau tanpa meningkatnya sel-sel ini dalam sirkulasi darah dan infiltrasi berbagai macam viscera. Tipe-tipe Leukemia

(7)

Sheridan dan Raclmacher (1992) mengatakan bahwa klasifikasi utama leukemia dibuat bredasarkan kecepatan gerak maju penyakitnya

a. Acute Leukemia : Kemajuannya sangat cepat dan menyebabkan kematian dalam kurun waktu bulanan. Menyerang segala umur termasuk anak-anak

b. Chronic Leukemia : Kemajuannya sangat lambat dan cenderung terjadi pada orang yang lebih tua.

Menurut Kushi dan Jack (1983) ada 4 bentuk leukemia yang sering ditemui :

a. Acute Lymphocytic Leukemia or

lymphoblastic (ALL), kanker yang paling

umum diantara anak-anak, dicirikan dengan berkurangnya granulocytes, sel-sel darah putih yang menolak infeksi

b. Acute Myelocytic Leukemia ( AML), leukemia yang paling umum diantara orang dewasa diatas 40 tahun, dicirikan dengan berkurangnya produksi dalam platelet

c. Chronic Myelocytic or granulocytic

leukemia (CML), suatu penyakit yang

disertai dengan kromosom yang abnormal dan mempengaruhi orang muda dan orang dewasa pertengahan

d. Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL), suatu penyakit yang mempengaruhi umumnya pada orang tua diatas 55 tahun dan biasanya melibatkan gangguan pada limpa.

Tanda dan Gejala Leukemia

Menurut Regato, Spjut dan Cox (1985) mengatakan gejala-gejalanya

tergantung tipe leukemianya, tapi gejala-gejala yang umum seperti demam, kedinginan, hilang nafsu makan, berat badan berkurang, anemia, pendarahan, memar, gusi berdarah, berkeringay, tulang terasa nyeri.

Sedangkan menurut Nelson (1992) gejala-gejala leukemia biasanya tidak jelas dan tidak spesifik. Pasien mungkin mengalami semua atau sebagian gejala-gejala berikut ini : a. Lemah

b. Demam yang tidak diketahui sumbernya c. Kehilangan berat badan bukan karena diet

ataupun latihan d. Sakit kepala e. Ruam pada kulit

f. Sakit pada tulang yang tidak spesifik g. Mudah mengalami memar

h. Pendarahan pada hidung atau gusi i. Adanya darah pada urin

j. Pembengkakan pada kelenjar getah bening

Treatment pada Leukemia

Regato, Spjut dan Cox (1985) mengatakan treatment yang dapat dilakukan pada penderita leukemia :

a. Chemotherapy, penggunaan berbagai macam obat yang kuat untuk membunuh sel-sel kanker. Ini adalah treatment utama dalam kebanyakan tipe leukemia

b. Immunotherapy, manipulasi mekanisme imun sebagai pelengkap chemotherapy. c. Radiotherapy, untuk waktu yang lama

radiotherapy telah digunakan sebagai treatment untuk meringankan pada acute sebaik pada chronic leukemia. Pada acute leukemia yang dialami oleh anak, radiotherapy mungkin digunakan untuk

(8)

penyinaran pada sistem pusat syaraf, dimana obat dari chemotherapy tidak efektif.

Kushi dan Jack (1983) mengatakan bahwa obat modern untuk mengobati semua jenis leukemia yang terutama adalah chemotherapy. Operasi dan penyinaran dengan ronteg ray atau fosfor radioaktif dapat juga digunakan apabila sistem getah bening rusak atau organ tubuh lain yang membesar. Transfusi darah atau transplantasi tulang sumsum terkadang dilakukan dalam rangka menyediakan sumber sel-sel darah merah, yang mana peneliti percaya dihasilkan dalam tulang sumsum.

Sedangkan menurut Stanford Cancer Center (2008) treatment pada leukemia meliputi , chemotherapy, terapi radiasi, transplantasi tulang sumsum, biological therapy yaitu menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker. Transfusi darah (sel-sel darah merah, platelets), pengobatan (untuk mencegah atau mengobati kerusakan pada system tubuh lain yang disebabkan oleh treatment leukemia).

Remaja

Pengertian Remaja

Menurut Turner dan Helms (1995) masa remaja berada pada rentang usia 13 sampai 19 tahun. Papalia dan Olds (1995) mengatakan masa remaja ialah masa perkembangan antara anak dan masa dewasa pada umumnya dimulai dari umur 12-13 tahun sampai dengan 19-20 tahun. Sedangkan menurut Monks, Knoers dan Haditono (2002) mengatakan batasan usia remaja adalah masa diantara 12-21 tahun dengan perincian 12-15 tahun masa remaja

awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun masa remaja akhir.

Tugas Perkembangan Remaja

Havighurst (dalam Kimmel dan Weiner, 1985) menyebutkan tugas-tugas perkembangan remaja meliputi aspek-aspek sebagai berikut :

1) Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan sebaya baik pria dan wanita

2) Menerima keadaan fisiknya

3) Menerima keadaan jasmaninya dan menggunakan tubuhnya dengan efektif 4) Memperoleh kebebasan secara emosional

dari orang tuanya dan orang dewasa lainnya

5) Mempersiapkan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga

6) Mempersiapkan karir ekonomi

7) Membangun keterampilan intelektual untuk kompetensi

8) Memiliki hasrat dan mencapai prilaku sosial yang bertanggung jawab

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 1 subjek dengan satu significant other. Karakteristik subjek yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah remaja penderita leukemia yang berusia 14 tahun.

Untuk mempermudah proses pengumpulan data, peneliti menyusun

(9)

pedoman wawancara, pedoman observasi, dam alat perekam.

Untuk mendapatkan keakuratan penelitian, peneliti menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi menurut Moleong (2001) adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu.

Patton (dalam Poerwandari, 2001) mengemukakan empat macam triangulasi, antara lain:

1. Triangulasi Data

Menggunakan berbagai sunber data, seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi, atau mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memiliki sudut pandang yang berbeda. Dalam penelitian ini, peneliti mewawancarai satu significant other untuk masing-masing subjek.

2. Triangulasi Pengamat

Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing bertindak sebagai pengamat (expert judgment) yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data.

3. Triangulasi Teori

Penggunaan teori yang berlainan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan berbagai teori yang telah dijelaskan pada bab II untuk digunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut.

4. Triangulasi Metode

Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan observasi. Dalam penelitian, peneliti melakukan metode wawancara yang didukung dengan metode observasi.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dapat diketahui bahwa subjek memiliki penerimaan diri yang baik. Hal ini dapat dilihat dari aspek-aspek penerimaan diri yang ditunjukan oleh subjek.

Menurut Jersild (1958) ada beberapa aspek-aspek penerimaan diri, yang di tunjukan dengan persepsi mengenai diri sendiri dan sikap terhadap penampilan, sikap terhadap kelemahan dan kekuatan diri sendiri dan orang lain, perasaan infeoritas sebagai gejala penolakan, respon terhadap penolakan dan kritikan, keseimbangan antara real self dan ideal self, penerimaan diri dan penerimaan orang lain, penerimaan diri, menuruti kehendak dan menonjolkan diri, penerimaan diri, spontanitas dan menikmati hidup, aspek moral penerimaan diri, sikap terhadap penerimaan diri.

Menurut Jersild (1958) individu yang memiliki penerimaan diri berfikir lebih realistik tentang penampilan dan bagaimana dirinya terlihat dalam pandangan orang lain. Ini bukan berarti individu tersebut mempunyai gambaran sempurna tentang dirinya, melainkan individu tersebut dapat melakukan sesuatu dan berbicara dengan baik mengenai dirinya yang sebenarnya. Dalam kasus ini persepsi

(10)

mengenai diri dan sikap terhadap penampilan yang ditunjukan oleh subjek antara lain seperti penilaian subjek terhadap dirinya tergambar dengan baik oleh subjek, menurut subjek dirinya sangat berbeda sebelum subjek menderita leukemia, sebelumnya subjek adalah anak yang aktif dalam mengikuti kegiatan tubuh seperti menari, namun setelah menderita leukemia subjek tidak mampu lagi untuk mengikuti kegiatan menari karena kondisi fisik subjek yang tidak mendukungnya untuk melakukan kegiatan menari, oleh karena itu subjek memahami keterbatasannya dan mengurangi kegiatan menarinya.

Jersild (1958) mengemukakan individu yang memiliki penerimaan diri memandang kelemahan dan kekuatan dalam dirinya lebih baik daripada individu yang tidak memiliki penerimaan diri. Individu tersebut kurang menyukai jika harus menyia-nyiakan energinya untuk menjadi hal yang tidak mungkin, atau berusaha menyembunyikan kelemahan dari dirinya sendiri maupun orang lain. Individu pun tidak berdiam diri dengan tidak memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya. Sebaliknya individu akan menggunakan bakat yang dimilikinya dengan lebih leluasa. Individu yang bersikap baik pula dalam menilai kelamahan dan kekuatan dirinya akan bersikap pula dalam menilai kelemahan dan kekuatan orang lain. Dalam kasus ini sikap terhadap kelemahan dan kekuatan diri sendiri. Kelebihan subjek digambarkan dengan kepandaian subjek dalam bergaul dan berteman. Sedangkan untuk kekurangan subjek lebih digambarkan mengenai pelajaran, subjek lebih suka melalukan praktek daripada teori

dan lebih senang mendengar daripada membaca. Subjek dapat menerima kekurangan yang dimilikinya dan mencoba menjadikan kekurangannya tersebut menjadi kelebihan untuk dirinya dengan cara banyak membaca dan berusaha untuk membuatnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Menurut Jersild (1958) seorang individu yang terkadang merasakan infeoritas/disebut dengan infeority complex adalah seorang individu yang tidak memiliki sikap penerimaan diri dan hal tersebut akan mengganggu penilaian yang realistik atas dirinya. Dalam kasus ini subjek menyadari bahwa dengan penyakitnya ini menyebabkan dirinya tidak dapat beraktivitas seperti orang normal lainnya, kadangkala subjek merasa sedih namun subjek merasa bahwa penyakit yang dialaminya adalah sebagai cobaan dari Tuhan untuk dirinya oleh karena itu subjek tidak merasa rendah diri karena penyakitnya

Jersild (1958) menyatakan individu yang memiliki penerimaan diri tidak menyukai kritikan, namun demikian individu mempunyai kemampuan untuk menerima kritikan bahkan dapat mengambil hikmah dari kritikan tersebut. Individu berusaha untuk melakukan koreksi atas dirinya sendiri, ini merupakan hal yang penting dalam perkembangannya menjadi seorang individu dewasa dan dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan. Individu yang tidak memiliki penerimaan diri justru menganggap kritikan sebagai wujud penolakan terhadapnya. Yang penting dalam penerimaan diri yang baik adalah mampu belajar dari pengalaman dan meninjau kembali sikapnya yang terdahulu

(11)

untuk memperbaiki diri. Dalam kasus ini subjek pernah menerima kritik dari orang lain dan subjek paling sering menerima kritik dari keluarganya mengenai sikap subjek terhadap orang lain. Subjek mau menerima kritikan dari orang lain dan mencoba untuk mengubah sikapnya dan subjek kurang menyukai apabila ada orang yang mengkritiknya dan kurang mengenal dirinya.

Menurut Jersild (1958) individu yang memiliki penerimaan diri adalah individu yang mempertahankan harapan dan tuntutan dari dalam dirinya dengan baik dalam batas-batas memungkinkan individu ini mungkin memiliki ambisi yang besar, namun tidak mungkin untuk mencapainya walaupun dalam jangka waktu yang lama dan menghabiskan energinya. Oleh karena itu, dalam mencapai tujuannya individu mempersiapkan dalam konteks yang mungkin dicapai, untuk memastikan dirinya tidak akan kecewa saat nantinya. Dalam kasus ini subjek masih mempertahankan semua harapan-harapannya karena subjek yakin akan sembuh dan dapat mencapai semua harapannya. Subjek ingin menjadi dokter anak karena subjek ingin membantu anak-anak yang terkena leukemia. Subjek merasa kurang bisa menyeimbangkan antara real self dan ideal self, menurut subjek diri yang ideal adalah diri yang baik, jujur dan tidak berlebihan dan subjek belum mempunyai semua hal itu. Cara subjek untuk menyeimbangkan real self dan ideal self dengan menjalani semua apa adanya dan tidak harus menjadi ideal karena subjek menyukai dirinya yang sekarang. Subjek merasa yakin dengan harapan yang dimilikinya dan yakin

bisa mencapai hal itu semua, yaitu dengan menjadi dokter anak

Jersild (1958) mengemukakan penerimaan diri berarti apabila seorang individu menyayangi dirinya, maka akan lebih memungkinkan baginya untuk menyayangi orang lain, dan apabila seorang individu merasa benci pada dirinya, maka akan lebih memungkinkan untuk merasa benci pada orang lain. Terciptanya hubungan timbal balik antara penerimaan diri dengan penerimaan orang lain adalah individu yang memiliki penerimaan diri merasa percaya diri dalam memasuki lingkungan sosial. Dalam kasus ini subjek menyayangi dirinya sendiri bahkan lebih menyayangi dirinya setelah kena leukemia. Subjek merasa percaya diri dalam memasuki lingkungan sosialnya, subjek tidak merasa minder dengan kondisinya sekarang ini

Menurut Jersild (1958) menerima diri dan menuruti diri merupakan dua hal yang berbeda. Apabila seorang individu menerima dirinya, hal tersebut bukan berarti individu memanjakan dirinya. Walau bagaimanapun bukan berarti bahwa individu keluar dari jalannya untuk menghindari kesenangan dan mencari penderitaan. Individu yang menerima dirinya akan menerima dan bahkan menuntut pembagian yang layak akan sesuatu yang baik dalam hidup dan tidak mengambil kesempatan yang tidak pantas untuk memiliki posisi yang baik atau menikmati sesuatu yang bagus. Individu akan berjuang untuk mendapatkan posisi yang didamba-dambakan dalam kelompoknya. Semakin individu menerima dirinya dan diterima orang lain, semakin individu mampu untuk berbaik hati. Individu

(12)

dengan penerimaan diri menghargai harapan orang lain dan meresponnya dengan bijak. Individu memiliki pendirian yang baik dalam berfikir, merasakan dan membuat pilihan. Individu tidak hanya akan menjadi pengikut apa yang dikatakan orang lain. Dalam kasus ini subjek ingin terlihat normal dalam lingkungannya dan tidak ingin dirinya dilihat sakit. Subjek bersikap semua hal yang diinginkannya harus dilakukan, namun terkadang subjek juga merasa dirinya terlalu egois karena semua keinginannya harus dituruti dan membuat kakak dan adik subjek menjadi cemburu.

Menurut Jersild (1958) individu dengan penerimaan diri mempunyai lebih banyak keleluasaan untuk menikmati hal-hal dalam hidupnya. Namun, terkadang kurang termotivasi untuk melakukan sesuatu yang rumit. Individu yang memiliki penerimaan diri lebih mudah untuk menikmati hubungan dengan teman-temannya. .Individu tersebut tidak hanya leluasa menikmati sesuatu yang dilakukannya. Akan tetapi, juga leluasa untuk menolak atau menghindari sesuatu yang tidak ingin dilakukannya. Dalam kasus ini subjek menikmati hidupnya karena merasa lebih dekat dengan keluarganya, subjek menikmati hidupnya dengan cara menerima semuanya dengan senang hati, namun subjek terkadang juga merasa sedih terhadap penyakit yang dideritanya. Subjek dengan leluasa menolak dan menghindari sesuatu yang tidak ingin dilakukannya dengan cara berkata tidak. Contohnya ketika ibu subjek meminta subjek melakukan sesuatu dan subjek merasa lelah

atau tidak ingin melakukannya maka subjek akan berkata tidak, untuk menolaknya.

Jersild (1958) mengemukakan individu dengan penerimaan diri bukanlah individu yang berbudi baik dan bukan pula individu yang tidak mengenal moral, tetapi memiliki fleksibilitas dalam pengaturan hidupnya. Individu memiliki kejujuran untuk menerima dirinya sebagai apa dan untuk apa nantinya, dan tidak menyukai kepura-puraan. Individu ini dapat secara terbuka mengakui dirinya sebagai individu yang pada suatu waktu dalam masalah, merasa cemas, ragu dan bimbang tanpa harus menipu diri dan orang lain. Hal yang paling penting dari aspek moral penerimaan diri adalah apa yang dinyatakan secara tidak langsung pada nilai, arti dan tujuan hidup secara keseluruhan. Individu dengan penerimaan diri yang baik akan menjalani kehidupan dengan penuh dan bebas sebagai anugrah dan kesempatan yang diberikan padanya. Dalam kasus ini subjek sangat menerima keadaan dirinya, terkadang subjek merasa sedih ketika melihat kakak subjek dapat pergi dengan teman-temannya tanpa didampingi orang tua sedangkan subjek harus didampingi orang tuanya jika ingin pergi. Menurut subjek dirinya merasa seperti itu hanya jika subjek merasa suntuk dan tidak melakukan apa-apa. Subjek tidak mau membohongi diri sendiri bahwa ia pernah merasakan cemas, ragu dan bimbang, subjek mengakui bahwa dirinya dalam masalah, merasa cemas, ragu dan bimbang dengan bercerita kepada ibu subjek karena subjek menjadi lebih dekat dengan ibunya semenjak subjek sakit. Subjek menjalani hidupnya

(13)

dengan apa adanya, dan subjek berusaha untuk sembuh dari penyakitnya

Menurut Jersild (1958) menerima diri merupakan hal penting dalam kehidupan seseorang. Individu yang dapat menerima beberapa aspek hidupnya, mungkin dalam keraguan dan kesulitan dalam menghormati orang lain. Hal tersebut merupakan arahan agar dapat menerima dirinya. Individu dengan penerimaan diri membangun kekuatannya untuk menghadapi kelemahan dan keterbatasanya. Banyak hal dalam perkembangan seorang individu yang belum sempurna, bagi seorang individu akan lebih baik jika ia dapat menggunakan kemampuannya dalam perkembangan hidupnya. Dalam kasus ini subjek membangun kekuatan untuk menghadapi kelemahan dan keterbatasannya dengan cara terus mempunyai semangat hidup dan yakin bahwa dirinya akan sembuh dan keluarga yang selalu mendukung subjek. Subjek menerima dirinya dengan berfikiran bahwa inilah yang harus dihadapi dan dijalani oleh subjek yaitu menerima bahwa dirinya mengidap leukemia, dan subjek yakin dirinya dapat sembuh. Subjek pernah merasa takut dan merasa akan meninggal namun dokter meyakinkan subjek bahwa subjek masih punya harapan untuk sembuh

Menurut Maslow (dalam Hejlle dan Ziegler, 1985) individu yang memiliki sikap positif terhadap dirinya sendiri akan dapat menerima keadaan dirinya secara tenang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dalam kasus ini subjek tidak merasa sedih dengan dirinya yang sekarang, namun terkadang subjek juga merasa sedih.

Menurut Shepard (dalam Urim, 2007) mengatakan bahwa penerimaan diri berarti kepuasan atau kebahagiaan individu terhadap dirinya sendiri dan pemikiran akan kebutuhan mental yang sehat. Penerimaan diri mencakup pemahaman diri, pemikiran realistis walaupun subjektif, kesadaran akan kelemahan dan kekuatan diri. Pada akhirnya individu akan merasa bahwa dirinya unik. Secara klinis, penerimaan diri mengarahkan seseorang menuju perubahan. Penerimaan diri akan menghentikan celaan terhadap diri, dan menerimanya sebagai bagian dirinya. Dalam kasus ini subjek merasa puas dan bahagia terhadap kehidupan dan dirinya karena subjek dapat melihat keluarga yang menyayangi subjek

Selain itu menurut Corsini (2002) menyatakan bahwa penerimaan diri berarti mengenali kemampuan dan keberhasilan diri serta mengakui dan menerima keterbatasan diri. Kurangnya seseorang dalam menerima dirinya dapat mengarahkannya pada gangguan emosi. Ketidakmampuan untuk menerima diri dapat menuju pada berbagai kesulitan emosi seperti kemarahan dan depresi. Salah satu aspek penting dalam penerimaan diri yaitu mampu dan mau membiarkan orang lain melihat dirinya yang sesungguhnya, melakukan evaluasi yang sesuai dan menerima kesalahan dimasa lalu (Carson & Langer dalam Urim, 2007). Dalam kasus ini subjek pernah mengalami depresi dan kemarahan terhadap keadaannya, subjek menyikapinya dengan menangis namun setelah menangis subjek berusaha membuat dirinya semangat lagi dengan berjuang agar bisa sembuh dari

(14)

penyakitnya. Subjek merasa ada yang disesalinya dimasa lalunya yaitu ketika menerima kritikan dari kakaknya mengenai sikapnya terhadap orang lain, dan subjek merasa dirinya sudah berubah dengan lebih banyak senyum. Subjek tidak lagi menyesali hal tersebut dan berusaha membuka lembaran baru dalam hidupnya

Berkaitan dengan membuka diri dan mau menerima kualitas baik dan buruk, Ryff (dalam Linley & Joseph, 2004) menyatakan bahwa individu yang mempunyai penerimaan diri yang rendah akan merasa tidak puas dengan dirinya, menyesali apa yang terjadi di masa lalunya, sulit untuk terbuka, terisolasi dan frustasi dalam hubungan interpersonal sehingga tidak ada keinginan untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain. Sedangkan individu yang memiliki penerimaan diri dalam tingkat optimal atau tinggi akan bersikap positif terhadap dirinya sendiri, mau menerima kualitas baik dan buruk dirinya, serta memiliki sikap positif terhadap masa lalunya. Dalam kasus ini subjek mampu membuka dirinya dan membiarkan orang lain melihat dirinya dengan cara menceritakan apa yang dirasakannya dan subjek mampu menerima kualitas baik dan buruk yang ada dalam dirinya. Kualitas baik dalam diri subjek adalah menyukai interaksi dengan anak kecil, sedangkan kualitas buruk yang ada dalam diri subjek tergambarkan dengan sikapnya yang suka marah.

Faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri yang baik pada subjek

Faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri yang baik pada subjek antara lain adalah subjek memiliki pemahaman tentang diri sendiri, subjek memahami bagaimana dirinya, sebelumnya subjek lebih suka diam terhadap orang lain dan subjek berusaha untuk merubahnya dan subjek mengenali kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Menurut Hurlock (1974) pemahaman tentang diri sendiri dapat timbul dari kesempatan seseorang untuk mengenali kemampuan dan ketidakmampuannya. Individu yang dapat memahami dirinya sendiri tidak akan hanya tergantung dari kemampuan intelektualnya saja, tetapi juga pada kesematannya untuk penemuan diri sendiri (self discovery). Pemahaman diri dan penerimaan diri berjalan dengan berdampingan, maksudnya semakin orang dapat memahami dirinya, maka semakin dapat menerima dirinya.

Menurut Hurlock (1974) individu menentukan sendiri harapannya dan disesuaikan dengan pemahaman mengenai kemampuannya, dan bukan diarahkan oleh orang lain dalam mencapai tujuannya. Dengan memiliki harapan yang realistik, maka akan semakin besar kesempatan tercapainya harapan itu, dan hal ini akan menimbulkan kepuasan diri yang merupakan hal penting dalam penerimaan diri. Subjek juga memiliki harapan yang realistis terhadap keadaan dirinya yang sekarang, harapan subjek untuk sekarang adalah dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya dan dapat menggapai semua cita-citanya yaitu menjadi dokter anak. Selain itu subjek memiliki keluarga yang sangat

(15)

mendukung harapan yang dimiliki subjek dan teman-teman serta lingkungan yang bersikap baik terhadap subjek, walaupun ada beberapa orang yang bersikap mengasihani subjek.

Subjek menanggapi pandangan orang lain terhadap dirinya dengan baik, dengan bersikap mau untuk mengevaluasi dirinya apabila pandangan yang diberikan orang lain terhadap dirinya benar, subjek merasa ibunya mempunyai pengaruh dalam hidupnya karena subjek dekat dengan ibunya semenjak subjek sakit, subjek mempunyai penerimaan diri yang baik karena subjek mencontoh ibunya. Subjek juga mampu membangun sikap positif terhadap diri sendiri dengan yakin bahwa subjek akan sembuh dari penyakit yang dideritanya. Menurut Hurlock (1974) mengindentifikasi diri dengan orang yang Well adjusted dapat membangun sikap-sikap yang positif terhadap diri sendiri, dan bertingkah laku dengan baik yang bisa menimbulkan penilaian diri yang baik dan penerimaan diri yang baik.

Disamping itu subjek merasa diasuh secara demokratis oleh kedua orang tuanya, hal tersebut digambarkan dengan pemberian pilihan oleh orang tua subjek dan pengarahan mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk dirinya. Hurlock (1974) menyatakan anak yang diasuh secara demokratis akan cenderung berkembang sebagai orang yang dapat menghargai dirinya sendiri.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Sebagai penderita leukemia subjek memiliki penerimaan diri yang baik, hal

ini ditunjukan dengan penilaian subjek terhadap dirinya tergambar dengan baik oleh subjek, dengan adanya leukemia dalam diri subjek dan menyebabkan kondisi fisik subjek yang tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan seperti sebelum subjek sakit maka subjek mengurangi kegiatannya. Subjek juga mengenali apa saja yang menjadi kelebihan dan kekurangan dalam dirinya dan dapat menerima kekurangan yang dimilikinya terutama dengan penyakitnya, serta mencoba menjadikan kekurangannya tersebut menjadi kelebihan untuk dirinya. Subjek merasa bahwa penyakit yang dialaminya adalah sebagai cobaan dari Tuhan untuk dirinya oleh karena itu subjek tidak merasa rendah diri karena penyakitnya. Subjek mau menerima kritik dari orang lain dan subjek memiliki harapan yang realistis yaitu dapat sembuh dan dapat mencapai semua harapannya. Selain itu subjek menikmati hidupnya dan merasa puas dan bahagia karena merasa lebih dekat dengan keluarganya dan dapat melihat keluarga yang menyayangi subjek, subjek juga dengan leluasa menolak dan menghindari sesuatu yang tidak ingin dilakukannya dengan cara berkata tidak. Subjek sangat menerima keadaan dirinya, subjek menerima dirinya dengan berfikiran bahwa inilah yang harus dihadapi dan dijalani oleh subjek yaitu menerima bahwa dirinya mengidap leukemia. Subjek tidak mau membohongi diri sendiri bahwa ia pernah merasakan cemas, ragu dan

(16)

bimbang, subjek tidak lagi menyesali masa lalunya dan berusaha membuka lembaran baru dalam hidupnya. Selain itu subjek mampu membuka dirinya dan membiarkan orang lain melihat dirinya apa adanya dan subjek mampu menerima kualitas baik dan buruk yang ada dalam dirinya.

2. Faktor-faktor yang berperan dalam penerimaan diri yang baik pada subjek antara lain adalah subjek memiliki pemahaman tentang diri sendiri, subjek memahami bagaimana dirinya, subjek juga mengenali apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya.. Subjek juga memiliki harapan yang realistis terhadap keadaan dirinya yang sekarang, harapan subjek untuk sekarang adalah dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya dan dapat menggapai semua cita-citanya yaitu menjadi dokter anak. Selain itu subjek memiliki keluarga yang sangat mendukung harapan yang dimiliki subjek dan teman-teman serta lingkungan yang bersikap baik terhadap subjek. Subjek menanggapi pandangan orang lain terhadap dirinya dengan baik, subjek merasa ibunya mempunyai pengaruh dalam hidupnya karena subjek dekat dengan ibunya semenjak subjek sakit, dan subjek memiliki penerimaan diri yang baik karena subjek mencontoh ibunya dalam bersikap positif, subjek juga mampu membangun sikap positif terhadap diri sendiri dengan yakin bahwa subjek akan sembuh dari penyakit yang dideritanya. Disamping itu subjek merasa diasuh

secara demokratis oleh kedua orang tuanya, hal tersebut digambarkan dengan pemberian pilihan oleh orang tua subjek dan pengarahan mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk dirinya

SARAN

Berikut ini adalah saran yang dapat diterapkan bagi remaja yang menderita leukemia dan saran untuk penelitian selanjutnya antara lain :

1. Kepada remaja yang menderita leukemia untuk selalu mempunyai semangat hidup yang kuat dan berusaha untuk menerima keadaan diri mereka karena dengan mempunyai semangat hidup yang kuat dan penerimaan diri yang baik maka para remaja penderita leukemia akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

2. Untuk peneliti yang tertarik meneliti lebih jauh pada penerimaan diri remaja penderita leukemia dapat menggali tentang peranan faktor-faktor yang mendukung penerimaan diri yang baik dan dapat mengambil subjek penelitian lebih dari satu dan mendapat gambaran yang lebih beragam tentang penerimaan diri pada remaja penderita leukemia.

3. Untuk keluarga dan dokter serta perawat yang merawat penderita leukemia agar selalu memberikan semangat dan harapan untuk penderita leukemia agar mereka selalu mempunyai semangat untuk sembuh dan hidup, karena dukungan keluarga, dokter serta perawat berperan sangat

(17)

penting dalam kualitas hidup penderita leukemia.

DAFTAR PUSTAKA

Corsini, J.R.(2002). The Dictionary of Psychology. New York: Brunner/ Routledge

Hjelle, L.A & Ziegler, D.J.(1985). Personality theories: Basic assumptions research and application (Third Edition). New York: McGraw-Hill.

Hurlock, E.B.(1974). Personality development. New Delhi:McGraw-Hill

Hurlock, E.B. (1997). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ahli bahasa: Isti Widayanti dan Soedjarwo. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga

Johada, M. (1958). Current consepts of positive mental health. New York: Basic Books

Jersild, A.T. (1958). The Psychology of Adolescence. New York: Mc Millan Company

Kimmel, D.C. Weiner, I.B. (1985). Adolescence: A Developmental Trantition (second edition). New York: John Willey & Sons Inc

Kushi, M.Jack, A.(1983). The Cancer Prevention Diet Michio Kushi’s Nutritional Blueprint for the Prevention and Releif Disease. New York: St. Martin’s Press

Linley, P.A. Joseph, S. (2004). Positive Psychology in Practice. New Jersey: John Willey & Sons Inc

Moleong.(2001).Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya

Monk, F.J. Knoers, AMP, Haditono, S.R. (2002). Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai

Bagiannya. Gajah Mada University Press

Mediasehat. (2005). Mengenal Kanker.

http://www.mediasehat.com/utama07. php

Nelson, W.E. (1992). Textbook of Pediatrics (fourteenth edition).Philadelphia: WB Saunders Company Harcourt Brace Javanovich Inc

Novalina. (2003). Penggunaan Tanaman Obat Sebagai Upaya Alternatif Dalam

terapi Kanker.

http://tumoutou.net/70207134/novalin a.htm

Olds, S.W. Papalia, D.E.(1995). Human Development (sixth edition).New York: Mc Graw-Hill Company

Poerwandari,E.K.(2001). Pendekatan kualitatif untuk penelitian prilaku manusiai. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi Universitas Indonesia

Palestin, B.(2008). Perawatan Lanjutan di Rumah Pada Penderita Leukemia Anak. http://bondan-palestin.blogspot.com/

Riyanti, B.P. Prabowo, H. Puspitawati, I. (1996). Psikologi Umum I. Univeritas Gunadarma

Regato,J.A.del. Spjut, H.J. Cox, J.D.(1985).Ackerman and del Regato’s Cancer Diagnosis Treatment and Prognosis. St. Louise: The CV Mosby Company

Santrock, J.W.(2002). Life Span Development Perkembangan Masa Hidup (edisi 5 jilid II). Jakarta : Erlangga

Stanford Cancer Center. (2008). Leukemia.

Http://Cancerstanford.edu/blood/leuke mias/blooddisease

Sheridan, C.L. Raclmacher, S.A.(1992). Health Psychology Challenging the

(18)

Biomedical Model. Canada: John Willey & sons Inc

Taylor, S.E, (1999).Health Psychology. Singapore: Mc Graw-Hill

Smet. B. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT.Grasindo

Urim, P.(2007). Penerimaan Diri Pada Remaja Penderita Gagal Ginjal Kronis. Skripsi.(tidak diterbitkan). Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Turner, J.S & Helms, D.B.(1995). Human Development. USA: John Willey & Sons Inc

Referensi

Dokumen terkait

Pada komponen kegiatan pengolahan (agroindustri) usaha perikanan, desa yang memiliki potensi pengembangan adalah Desa Tluwuk, Desa Kepoh, Desa Sambilawang, Desa

Penyajian berita pada media massa termasuk berita kriminal pembunuhan pada harian Pekanbaru MX harus bertolak dari Kode Etik Jurnalistik (KEJ), sehubungan dengan

Sinergi dengan issue tersebut serta upaya mempertahankan populasi sekaligus meningkatkan pendapatan dari usaha subsektor peternakan domba, maka perlu dilakukan peningkatkan

Pada akhirnya, para siswa akan memiliki sikap menghargai matematika karena dengan masalah realistik yang berkaitan dengan kehidupan nyata sehari-hari proses

kesehatan masyarakatnya, dimana hanya kesehatan masyarakatnya, dimana hanya dapat dilaksanakan dengan menyediakan dapat dilaksanakan dengan menyediakan sistem kesehatan dan

1. Sanksi pendidikan adalah tindakan pedagogis/ mendidik yang diberikan kepada mahasiswa yang menyimpang dari peraturan yang berlaku. Pemberian sanksi dimaksudkan

309 Dagregister van Jan Greeve, Raad extra ordinair van Nederlands Indie, Mitsgaders Gouverneur en Directeur op en langs Java's Noordoost Kust in den jaar 1788 naar Solo en Djocja,

Praktik yang terjadi dalam kasus ini adalah pada saat Ahmadi sebagai distributor kelapa Bali menahan/menimbun (ihtika>r) kelapa Bali untuk dijual yang mengakibatkan