• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menyerap Pelajaran dari Berbagai Sektor.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Menyerap Pelajaran dari Berbagai Sektor."

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

MENYERAP PELAJARAN DARI BERBAGAI SEKTOR Oleh: GPB Suka Arjawa

Ketika klub Liverpool bertanding melawan tim Indonesia di Jakarta baru-baru ini, sebanyak 75.000 penonton memadati Gelora Bung Karno. Kekalahan 0-2 masih

dipandang wajar. Saat Arsenal menggunduli Indonesia Dream Team 0-7, kekalahan itu memalukan karena harus menyandang nama tim impian. Tetapi sekitar 40.000 orang hadir di Stadion. Kamis malam giliran klub Chelsea yang mencoba kepiawaian pemain-pemain Indonesia U-23. Diperkirakan puluhan ribu penonton juga akan memadati stadion yang dulu namanya Senayan. Sebagian penonton hadir karena hobinya sepakbola,

sebagian lagi karena mendukung tim Indonesia, sebagian datang karena klub Chelsea, tetapi kemungkinan juga (siapa tahu!) ada yang datang semata-mata untuk melihat

penampilan si pelatih Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal ini memang mirip Muhammad Ali, mampu memancing emosi demi memperlamah mental lawan. Ali selalu mencaci, bila perlu menghina lawan tandingnya sampai marah. Setelah marah dengan mudah Ali akan menjatuhkan lawan. George Foreman dijungkalkan ronde ke delapan tahun 1974 di Zaire. Si Mourinho sempat memelintir kuping Villanova, yang saat itu masih menjadi asisten di Barcelona. Dan di Jakarta, ia mengatakan tidak perlu mempelajari strategi permainan Indonesia! Siapa yang salah? Dalam konteks olahraga, sebagian besar menilai bahwa kesalahan itu ada pada pihak yang kalah. Siapa suruh mau terpancing strategi lawan?

Tulisan ini bukan hendak mengupas strategi marah. Akan tetapi fenomena yang ada di balik kunjungan klub-klub Inggris tersebut. Tiga klub yang datang hampir dalam hitungan satu bulan itu, jelas klub-klub elit Eropa yang berjaya baik di kompetisi domestik maupun Eropa (Liga Champions). Meski prestasi sepakbola Indonesia masih jauh dibandingkan dengan prestasi klub tersebut, tetapi kunjungan ini menandakan bahwa pada lingkup masyarakat tidak ada keterkaitan antara prestasi tim nasional dengan

turunnya minat terhadap permainan sepakbola. Sebagai sebuah permainan, sepakbola tetap menjadi idola di tanah air. Karena itu, betapapun telaknya kalah Indonesia ”the Dream Team” sebelumnya, masyarakat tetap hadir menyaksikan Liverpool. Dan

melubernya masyarakat pennonton Indonesia itupun telah memperlihatkan diri ke arah ”profesional”. Ini misalnya terlihat dari tersegmentasinya penonton kepada masing-masing klub kesayangannya. Segmentasi yang memusat kepada satu tujuan, adalah bakat-bakat profesionalisme. Mereka yang menjadi penggemar Arsenal, berbeda dengan penggemar Liverpool, berbeda pula dengan Chelsea. Tidak bisa lain, fenomena ini merupakan akibat dari gelobalisasi yang didukung modernnya teknologi informasi (siaran langsung televisi). Bayangkan, Liverpool berani mengkalim pendukungnya di Indonesia sejumlah 5 juta orang!

Seharusnya, pola-pola segmentasi seperti ini harus menjadi pembelajaran bagi

(2)

ada dukungan kepada klub itu oleh fans, baik di kala menang maupun kalah. Ada yang mendampingi kemanapun dia bertanding. Intinya adalah kesetiaan. Bisa saja fans kagum dengan Arsenal karena konsisten dengan pemain-pemain muda. Lalu, terpesona oleh Chelsea karena ambisinya, dan mungkin saja oleh kepongahan sang pelatih.

Seharusnya fans Indonesia mampu menarik pelajaran dari sana, misalnya apabila dikaitkan engan dunia kerja atau profesi. Orang akan mampu menerapkan filosofi Liverpool itu ke dalam profesinya. Dengan ketekunan dan kesetiaan, profesi pasti akan memberikan keahlian kepada sesorang, sesuai dengan perjalanan waktu. Kelemahan masyarakat Indonesia adalah terlalu cepat membelokkan diri dari profesi awal, terlalu cepat pindah partai politik, terlalu cepat terpengaruh oleh mereka yang kebetulan mendapatkan keuntungan banyak. Ketika seorang calo tanah tiba-tiba kaya mendadak, maka banyak orang menjadi calo tanah, tanpa memikirkan bagaimana kelak tempatnya berpijak di bumi. Di Bali misalnya, calo tanah ada di mana-mana. Mereka tidak tahu, apa akibat percaloan ini bagi tanah di Bali dan akibat kepada masyarakat.

Mourinho mungkin dikatakan culas ketika menerapkan berbagai macam strategi, baik di saat memipin Real Madrid , Inter Milan, dan mungkin juga di Chelsea nanti. Tetapi meski ia pernah memelintir telinga Tito Villanova, tapi saat Tito mundur dari Barcelona dan memutuskan fokus penyembuhan penyakit kankernya, Mourinho memberikan dukungan dengan langkah itu. Disini tetap ada sportifitas dalam ukuran batas

kemanusiaan. Seharusnya, felosofi inipun mampu diambil oleh para penggemar Chelsea yang ada di Indonesia. Membangun interaksi sosial di masyarakat, sangat memerlukan sportifitas. Seseorang yang mendapatkan kedudukan sosial lebih tinggi seharusnya didapatkan dengan cara meritokrasi, sesuai dengan prestasnya, bukan dengan hubungan-hubungan khusus yang bersifat kolusi atau nepotis. Atau begaimanapun kurang aktifnya anggota masyarakat di banjar (Bali), tidak benar kemudian kalau saat ia meninggal haknya untuk di kubur di kuburan desa dihilangkan! Praktik non-merit dan kurangnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan masih marak di Indonesia.

Di tubuh Chelsea juga ada sikap ambisius. Pemilik klub ini, Roman Abramovic dikenal ambisi merebut Piala Champions, gelar paling bergengsi di daratan Eropa. Sisi positifnya, untuk mencapai ambisi itu, ia bersedia berdiskusi dengan para pakar yang ahli di bidang itu lalu membuat keputusan untuk membeli pemain-pemain hebat, pengontrak pelatih unggul demi mencapai ambisi. Hasilnya, ambisi itu berhasil diraih ketika Chelsea mampu meraih Piala Champions tahun 2012 yang lalu. Intinya adalah mengerahkan segala upaya untuk meraih ambisi. Orang Indonesia bisa belajar dari hal-hal positif seperti ini dalam meraih ambisi. Kekurangan perilaku sosial masyarakat di Indonesia adalah kurang bersedia berdiskusi, ngotot dengan pendapatnya sendiri, untuk meraih ambisi sehingga terlalu banyak kegagalan yang didapatkan.

(3)

pembaruan-pembaruan politik justru banyak berkembang pada generasi muda. Partai politik yang mau memberikan kesempatan kepada generasi muda, pasti akan dihargai oleh masyarakat.

Banyak pelajaran yang bisa dilihat dari kunjungan klub-klub elit itu ke Indonesia. Namun, yang perlu dipikirkan, nampaknya Indonesia hanya menjadi pangsa pasar saja karena tim nasionalnya sampai sekarang masih belum mampu bangkit, luar dalam. Di luar kalah dengan tim lain, di dalam pengurusnya masih gontok-gontokan sampai sekarang. Dekade tujuhpuluhan Stadion Utama Senayan masih mampu menghadirkan delapanpuluhan ribu penonton saat Oyong Liza, Iswadi Idris, Ronny Paslah, Anjas Asmara, Ronny Pattinasarani atau Sofyan Hadi bertanding di lapangan. Kini hanya Chelsea, Arsenal, atau Liverpool yang mampu menggoyang stadion kebanggan tersebut. Indonesia harus menyerap pelajaran dari berbagai bidang. ****

Referensi

Dokumen terkait