69 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PELAKSANAAN KABASANO KAMPANAHA
(Studi di Desa Lianosa Kabupaten Muna)
1Amisbah Ramly, 2Farid Wajdi, 3Zulfikar Putra Universitas Sembilanbelas November Kolaka
1[email protected]*, 2[email protected], 3[email protected] ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai pendidikan yang terdapat dalam ritual kabasano kampanaha di Desa Lianosa, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Jenis penelitian ini merupakan kualitatif studi etnografi, yaitu dengan pengamatan yang mendalam, wawancara serta dokumentasi yang terkait dengan pelaksanaannya. Ritual kabasano kampanaha di mulai dengan penetapan waktu serta penyediaan sarana prosesi ritualnya. Pada tahap pelaksanaan (prosesi) ritual tersebut terdapat beberapa nilai pendidikan di antaranya yaitu:
religius, budaya, etika dan moral, dan gotong royong. Apa dan bagaimana muatan pendidikan yang terdapat dalam ritual kabasano kampanaha?, hal ini dapat dilihat dari beberapa tahapan prosesi pelaksanaannya, diawali dengan keterlibatan warga sampai kepada tata cara mandi keluarga. Dengan demikian, ritual kabasano kampanaha, didalamnya sarat dengan nilai-nilai pendidikan.
Kata kunci: Ritual, Nilai, Kabasano Kampanaha.
ABSTRACT
The purpose of this study was to determine the value of education contained in the Kabasano Kampanaha ritual in Lianosa Village, Muna Regency, Southeast Sulawesi Province.
This type of research is a qualitative ethnographic study, with in-depth observation, interviews, and documentation related to its implementation. The Kabasano Kampanaha ritual begins with determining the time and providing the means for the ritual procession. At the stage of the implementation (procession) of the ritual, there are several educational values including: religious, cultural, ethical and moral, and mutual cooperation. What and how is the educational content contained in the Kabasano Kampanaha ritual? This can be seen from the several stages of its implementation procession, starting with the involvement of residents in the procedures for family bathing. Thus, the Kabasano Kampanaha ritual is filled with educational values.
Keyword: Ritual, Values, Kabasano Kampanaha.
PENDAHULUAN
Kabasano kampanaha (tolak bala) diyakini oleh Masyarakat Desa Lianosa Kecamatan Tongkuno Selatan sebagai sebuah tradisi yang dapat mencegah atau menangkal bahaya yang akan terjadi nanti pada suatu keluarga. Selain itu kabasano kampanaha juga dijadikan sebagai sarana
pengobatan tradisional. Ritual tersebut dilakukan, jika dalam suatu keluarga ada salah satu anggota keluarganya yang sakit- sakitan. Walaupun sudah berobat ke rumah sakit, namun dokter tidak mampu mendeteksi penyakit yang diderita orang tersebut. Bahkan apabila dalam keluarga tersebut merasa tidak nyaman dan kurang rezeki, maka kabasano kampanaha
70 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
dilakukan agar sakit yang diderita itu sembuh dan tidak terulang lagi serta kenyamanan dalam keluarga dapat tercipta.
Eksistensi ritual kabasano kampanaha, amalan-amalan serta ajaran- ajaran para leluhur yang ada pada masyarakat Lianosa, sampai hari ini masih menunjukkan eksistensinya ditengah- tengah masyarakat pendukungnya, hal ini merupakan sebuah sebab adanya keyakinan yang mendalam terhadap pendukung ritual kabasano kampanaha, keyakinan itu didasarkan pada kandungan nilai pendidikan yang tinggi pada ritual kabasano kampanaha tersebut, seperti nilai religius, nilai etika dan moral, nilai budaya dan nilai gotong royong.
Nilai adalah nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebahagian warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan dalam bertindak. Oleh karena itu, nilai budaya yang dimiliki seseorang mempengaruhinya dalam menentukan alternatif, cara-cara, alat-alat, dan tujuan- tujuan pembuatan yang tersedia (Koentjaraningrat 2002). Menurut (Wajdi 2020), nilai merupakan konsepsi abstrak yang ada dalam diri manusia, sesuatu yang sangat berarti, berharga, penting, baik, layak, dan indah dalam berinteraksi dengan lingkungannya dan sebagai cerminan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbudaya, berbangsa dan bernegara.
Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakatnya dan pendidikan adalah usaha kebudayaan, berazas keadaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan (Dewantara 2013a). Pendidikan adalah proses pembimbingan, pengarahan, dan pengalaman yang ditransfer kepada setiap individu melalui peranan orangtua, guru, masyarakat, lingkungan, budaya, dan
Negara (Wajdi 2020). Sedangkan kebudayaan adalah hasil akal budi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Oleh karena itu kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari juga memengaruhi perilaku manusia yang memiliki kebudayaan tersebut (Dewantara 2013b).
Nilai pendidikan yang terkandung dalam budaya tradisi kabasano kampanaha dapat terwujud manakala masyarakat yang meyakini ritual tersebut mampu melestarikan, mempertahankan, serta melaksanakan dalam kehidupannya, sebagaimana telah diajarkan oleh para leluhur terdahulu mereka. (Hafiz 2017), keikutsertaan dan kesadaran masyarakat untuk memikul tanggung jawab pendidikan bukan sekadar harapan tetapi merupakan suatu tuntutan mendesak yang harus diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan nyata dilapangan. Partisipasi masyarakat merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dalam pendidikan, baik dalam lingkup kecil maupun dalam skala yang lebih luas.
Tradisi ritual kabasano kampanaha yang masih dijalankan oleh masyarakat Desa Lianosa merupakan bukti kecintaan dan keyakinan yang mendarah daging akibat kehidupan manusia yang tidak bisa dihindari dari hal baik dan buruk yang dialaminya. Oleh sebab itu, terdapat nilai pendidikan yang perlu dipertahankan agar tetap lestari dan terjaganya nilai-nilai kearifan lokal dalam budaya tersebut. Rasa kecintaan terhadap budaya bangsa dapat memicu timbulnya jiwa nasionalisme pada masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat pada kasus pengklaiman budaya Indonesia oleh pihak Malaysia, misalnya Reog Ponorogo, batik, angklung, keris, dan lain-lainya yang menggugah bangsa Indonesia untuk mempertahankan budayanya. Pendidikan karakter yang berbasiskan pada kearifan lokal dapat menguatkan agama, budaya, identitas, dan peradaban yang memperkokoh karakter bangsa generasi muda untuk merevitalisasi ketahanan bangsa (Mahardika 2017).
Seiring berkembangnnya zaman, perlunya suku bangsa di Indonesia
71 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
mempertahankan nilai kearifan local yang mengandung nilai-nilai pendidikan. Agar budaya luar yang dapat mempengaruhi budaya lokal bangsa dapat diantisipasi dengan nilai kearifan lokal tersebut.
(Totok 2018), era kemajuan zaman yang menghasilkan arus globalisasi dengan hasil produk-produk yang baru dari bingkai teknologi yang canggih tentunya memberikan suatu tantangan tersendiri bagi negara yang kaya akan budaya termasuk diantaranya adalah Indonesia.
Derasnya arus globalisasi menimbulkan problematika moral dan nasionalisme bangsa, kini nilai-nilai kebangsaan mulai terkikis. Hal demikian dibuktikan dengan rasa bangga pada diri anak bilamana menggunakan produk-produk luar negri dibanding menggunakan hasil karya atau produk bangsa sendiri. Lebih dari pada itu, kini bahasa keseharian, pola berpakaian dan cara berinteraksi sudah mulai tidak mencerminkan identitas keindonesiaan.
Pendidikan sebagai wujud dari kebudayaan. Karena, nilai-nilai pendidikan banyak terdapat dalam kearifan lokal setiap suku bangsa yang dikembangkan dan diimplementasikan melalui adat istiadat (tradisi) budaya tersebut yang dapat membentuk perilaku (kepribadian) seseorang. (Z. Putra, L. O Rasidun 2020), kepribadian adalah totalitas psychophysis yang kompleks dari individu sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.
(Putra 2018), secara umum pendidikan sekurang-kurangnya memiliki empat fungsi yaitu transfer ilmu, konservasi dan pengembangan ilmu, penguasaan life skill dan teknologi, serta membangun karakter (character building).
(Dewi 2015), pendidikan bertujuan untuk membentuk agar manusia dapat menunjukkan perilakunya sebagai mahluk yang berbudaya yang mampu bersosialisasi dalam masyarakatnya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup, baik secara pribadi, kelompok, maupun masyarakat secara keseluruhan.
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu, (Aris 2015), berjudul Model Pengembangan Mangaho (Seni Bela Diri) Pada Suku Wuna Di Desa Wale-Ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna. Menyimpulkan bahwa, mangaho merupakan salah satu seni bela diri orang Wuna yang bermukim di Desa Wale-ale memiliki makna dan filosofi yang tinggi dalam kehidupannya, baik kaitannya dengan sejarah hidupnya, lingkungannya, ekonominya maupun sosial budayanya.
Perbedaan penelitian Aris dengan penelitian ini yaitu fungsi mangaho sebagai tradisi yang dilakukan orang Wuna dalam hal bela diri. Sedangkan kabasano kampanaha yaitu tradisi (ritual) sebagai do’a tolak bala dalam melindungi diri dan keluarga yang dilakukan komunitas suku Muna.
Berdasarkan uraian tersebut, maka fokus penelitian ini yaitu, Apa nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi kabasano kampanaha?, dan Apakah nilai- nilai tersebut relevan dengan nilai karakter bangsa?.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis kualitatif studi etnografi yang dilakukan di Desa Lianosa Kabupaten Muna. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan masyarakat suku Muna. Adapun teknik pengumpulan data yaitu, melalui pengamatan dan wawancara. Tujuan penelitian etnografi yaitu untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasikan kebudayaan suatu kelompok, termasuk didalamnya keyakinan, perilaku, dan bahasa yang digunakan kelompok tersebut.
72 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
HASIL PENELITIAN/KAJIAN Hasil penelitian nilai pendidikan dalam pelaksanaan kabasano kampanaha meliputi:
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kabasano Kampanaha
Pelaksanaan Kabasano Kampanaha (tolak bala) dilakukan oleh salah satu keluarga manakala dalam keluarga tersebut mengalami sakit. Menurut La Razak (Hasil wawancara, 2019) bahwa jika dalam satu keluarga ada yang mengalami sakit maka pelaksanaan Kabasano Kampanaha harus dilaksanakan dirumah si sakit, hal ini bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat yang berada di rumah sisakit tersebut. Sejalan dengan hal diatas, menurut La Rasuli (Hasil wawancara, 2019) bahwa roh-roh jahat akan pergi jika didalam rumah tersebut ada doa (mantra) yang dipanjatkan atau diucapkan.
Penetapan waktu pelaksanaan Kabasano Kampanaha (Tolak Bala) didasarkan pada pemikiran-pemikiran para leluhur terdahulu bahwa hari-hari itu merupakan hari yang baik dalam pelaksanaannya.
Keyakinan terhadap hari-hari yang baik merupakan pengetahuan yang telah diwariskan secara turun temurun pada masyarakat Desa Lianosa. Menurut La Razak (Hasil wawancara, 2019) penentuan hari yang baik itu bukan hanya terdapat pada masyarakat Desa Lianosa, bahkan dalam agama pun hari yang baik itupun didapatkan. Seperti hari Jum’at bagi agama Islam, hari Sabtu atau hari minggu Bagi orang kristiani. Dalam keyakinan mereka, penentuan hari baik itu bertujuan agar keluarga yang melaksanakan ritual kabasano kampanaha selalu dalam kabaikan (keberkahan). Baik keberkahan dalam kesehatan maupun keberkahan dalam rezeki, baik rezeki berupa harta, jabatan atau kesuksesan dalam pendidikan.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa dalam menentukan tempat pelaksanaan ritual Kabasano Kampanaha,
didalamnya terkandung nilai-nilai religius yang sangat tinggi. Dimana do’a-do’a (mantra) yang diucapkan diyakini mampu menghindarkan sisakit dari gangguan roh- roh jahat yang dialami sisakit atau menghindarkan keluarga dari gangguan roh-roh yang jahat tersebut. Selain itu, bahwa dalam menentukan waktu harus didasarkan pada sebuah kebaikan.
Merujuk hal diatas bahwa nilai- nilai yang terdapat dalam penetapan waktu dan tempat pelaksanaan ritual Kabasano Kampanaha sangat jelas terdeskripsikan, baik deskripsi tentang nilai religus maupun deskripsi tentang nilai kabaikan (budaya)
Perlengkapan Kegiatan
Kabasano Kampanaha
Perlengkapan yang harus disiapkan oleh keluarga yang ingin melaksanakan ritual Kabasano Kampanaha di antaranya yaitu: (a) Al-Qur’an; (b) Bantal (kandulua); (c) Kemenyan (dupa);
(d) Alat untuk membakar kemenyan (kaetunuha dupa); (e) Air yang digunakan mandi oleh keluarga yang melaksanakan Kabasano Kampanaha (tolak bala); (f) Haroa (makanan yang disimpan di atas dulang yang akan disajikan bagi para tamu maupun orang yang melaksanakan ritual Kabasano Kampanaha); (g) Rerumputan (Kasimbolili); dan (h) Papan.
Menurut La Rasuli (Hasil wawancara, 2019), bahwa perlengkapan pelaksanaan ritual Kabasano Kampanaha harus terpenuhi, hal ini didasarkan pada pengetahuan yang telah diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur mereka.
Antara lain:
a. Al-Qur’an
Menurut La Faana (Hasil wawancara, 2019), bahwa sarana pelaksanaan ritual Kabasano Kampanaha yang paling utama adalah Alquran. Hal ini bertujuan agar seseorang yang terkena sakit dan keluarganya mampu mengetahui bahwa kitab suci agama mereka (Islam) adalah Al- Quran. Selain itu, ada harapan yang lebih besar yang diinginkan yakni mengetahui, memahami dan
73 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
mengamalkan ajaran dalam kitab suci al-qur’an.
b. Bantal (Kandulua)
Menurut La Faana bahwa bantal yang digunakan dalam prosesi ritual Kabasano Kampanaha sebagai tempat meletakkan alquran. Hal ini bertujuan untuk menempatkan alquran ditempat yang tinggi dan tidak mensejajarkannya dengan kaki manusia. Selanjutnya menurut La Faana (Hasil wawancara, 2019) bahwa masyarakat Desa Lianosa sangat menghargai Alquran yang diyakini sebagai kitab suci yang harus ditempatkan pada tempat yang tinggi.
c. Kemeyan dan dupa
Menurut La Faana (Hasil wawancara, 2019) bahwa kemeyan yang digunakan pada ritual Kabasano Kampanaha bertujuan sebagai media komunikasi dengan roh-roh jahat agar roh-roh jahat tersebut tidak mengganggu sisakit dan keluarganya serta tidak menghalangi rezeki yang merupakan pemberian tuhan.
d. Air
Menurut La Razak (Hasil wawancara, 2019). Sarana Air yang disiapkan dalam pelaksanaan Kabasano Kampanaha jadikan sebagai sarana untuk mandi sekeluarga. Hal ini bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat yang bersarang ditubuh mereka.
Masyarakat pendukung ritual Kabasano Kampanaha tersebut meyakini bahwa roh-roh jahat yang bersarang dalam tubuh sisakit dan keluarganya akan pergi seiring dengan tetesan-tetesan air dari tubuh mereka.
e. Haroa
Menurut La Razak (Hasil wawancara, 2019) bahwa Haroa ini merupakan sajian yang disiapkan oleh warga yang melaksanakan ritual Kabasano Kampanaha, hal ini bertujuan sebagai bentuk hikmad tuan rumah kepada tetangga dan masyarakat lainnya. Hal yang sama juga dinyatakan oleh La
Faana (Hasil wawancara, 2019) bahwa salah satu kewajiban muslim yang satu dengan lainnya, adalah berkhidmat kepada siapapun apalagi kepada tetangga.
f. Kasimbolili (rerumputan)
Menurut La Faana (Hasil wawancara, 2019). Bahwa Kasimbolili (rerumputan) ini dijadikan sebagai bahan dalam pelaksanaan ritual bertujuan untuk mengambil nilai- nilai yang terdapat dalam manfaat serta fungsi dari rumput itu sendiri.
Selanjutnya Menurut La Faana (Hasil wawancara, 2019) jika melihat fungsi dari Kasimbolili (rerumputan) ini, bahwa rerumputan ini dapat dibuat menjadi atap rumah yang berfungsi untuk menaungi. Hal inilah yang menjadikan alasan kenapa kasimbolili atau reremputan ini jadikan sebagai sarana dalam pelaksanaan Kabasano Kampanaha.
Merujuk dari beberapa penjelasan informan diatas menunjukkan bahwa media yang disiapkan dalam pelaksanaan ritual Kabasano Kampanaha sarat dengan nilai-nilai pendidikan, yakni nilai religius, etika dan moral.
Prosesi Pelaksanaan Budaya
Kabasano Kampanaha
Prosesi Kabasano Kampanaha ini dilakukan setelah semua perlengkapan ritual telah disediakan dan orang yang akan dimandikan juga sudah disiapkan.
Maka prosesi selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Mandi
Menurut La Juna (Hasil wawancara, 2019) Ritual Kabasano Kampanaha diawali dengan proses mandi. Air yang digunakan untuk mandi terdiri dari dua jerigen.
Pengambilan air untuk mandi diambil secara khusus yaitu dalam pengambilan air tidak menggunakan sembarang orang untuk mengambil, air hanya boleh diambil oleh imam yang dianggap punya ilmu dan pengetahuan tentang pelaksanaan ritual kabasano
74 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
kampanaha, serta mengetahui tentang doa-doa yang diucapkan saat memandikan.
Proses mandi diawali dengan menyiram orang yang lebih tua kemudian orang muda sesuai dengan tingkatan umur secara berturut-turut, pada proses permandian ini sanak keluarga duduk berjejeran yang mula- mula menghadap kiblat lalu berbalik membelakangi kiblat dengan beralaskan papan yang disertai dengan rerumputan yang di percayai dapat mencegah dan menghilangkan bencana, juga dapat menangkal dan menyembuhkan penyakit yang diderita.
Pada saat prosesi mandi maka peserta yang mandi diharapkan tenang dan tidak boleh balik ke belakang apalagi membalikkan badan sebelum imam mempersilahkan untuk balik badan.
Merujuk penjelasan diatas dapat dijelaskan bahwa ilmu dan pengetahuan merupakan sandaran utama untuk melaksanakan sesuatu.
Selain itu prosesi mandi dalam ritual kabasano kampanaha ini didalamnya terdapat nilai-nilai etika baik ketenangan, kepatuhan terhadap perintah maupun kepatuhan untuk mandahulukan yang tua kemudian berturut-turut kepada yang muda.
b. Baca Do’a
Setelah prosesi mandi selesai, dilanjutkan dengan acara pembacaan do’a. Menurut La Juna (Hasil wawancara, 2019) proses pembacaan doa ini diawali dengan membakar kemenyan (dupa), hal ini dilakukan sebagai media untuk berkomunikasi dengan roh-roh jahat untuk tidak menggganggu orang yang sakit dan keluarganya serta tidak menghalangi rezki seseorang. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa pembacaan surat-surat pendek sebagaimana awal pembacaan do’a pada umumnya adalah sebagai media untuk mengusir roh-roh jahat baik roh-roh jahat yang minimpa sisakit maupun keluarganya serta rumah mereka, agar terbebas dari
pengaruh pengaruh roh-roh jahat tersebut.
Merujuk hal tersebut, dapat digambarkan bahwa nilai religius merupakan nilai yang paling utama dalam pelaksanaan kabasano kampanaha. selain nilai religius tersebut dapat pula temukan bahwa pemahaman masyarakat pendukung ritual kabasano kampanaha ini, masih sangat popular pada era globalisasi saat ini.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti memperoleh nilai pendidikan dalam pelaksanaan kabasano kampanaha di antaranya yaitu:
1) Nilai Religius
Nilai religius yang terdapat dalam pelaksanaan kabasano kampanaha terdeskripsikan dalam pembacaan do’a yaitu meminta dan memohon kepada Tuhan. Sebagaimana dinyatakan La Faana (Hasil wawancara, 2019) bahwa pelaksanaan adat kabasano kampanaha ini merupakan ritual permohonan doa kepada Sang Pencipta agar dihindarkan dari segala bencana, baik itu penyakit, nasib yang tidak baik (berkaitan dengan rezeki), kesehatan dan keselamatan, serta kesuksesan bagi anak dan cucunya, bukan hanya saja untuk keselamatan (keluarga) yang melaksanakannya, tetapi semua warga yang hadir La Faana (Hasil wawancara, 2019).
2) Nilai Etika atau Moral
Nilai etika atau moral yang terdapat dalam pelaksanaan kabasano kampanaha dideskripsikan pada pelaksanaan adat tersebut yaitu ketertiban, ketenangan, dan ketaatan terhadap perintah orang tua.
Prosesi mandi yang diawali dengan membasuh orang tua terlebih dahulu kemudian berturut-turut kepada yang muda, menggambarkan tentang penghargaan kepada yang lebih tua, mendengarkan dengan tenang ajaran-ajaran tentang kabaikan, menjaga sopan santun dengan tujuan
75 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
agar terhindar dari bahaya. La Juna (Hasil wawancara, 2019).
3) Nilai Budaya
Menurut La Faana (Hasil wawancara, 2019) pelaksanaan ritual kabasano kampanaha sarat dengan nilai budaya hal ini dapat dilihat dari media (benda-benda) yang digunakan.
Pelaksanaan ritual kabasano kampanaha ini yang merupakan warisan para leluhur masyarakat Desa Lianosa masih mempertahankan media atau bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan ritual Kabasano Kampanaha yang telah diwariskan secara turun temurun.
. Nilai budaya yang terdapat dalam pelaksanaan kabasano kampanaha dapat terlihat pada proses pelaksanaan yang dilakukan oleh warga yang eksistensinya masih berpedoman peninggalan atau warisan para leluhur mereka.
4) Nilai Gotong Royong
Menurut La Faana (Hasil wawancara, 2019) Nilai gotong royong yang terdapat dalam pelaksanaan kabasano kampanaha terlihat pada kesibukan para warga dalam mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan, seperti alat-alat memasak serta alat makan dan minum. Para orang tua dan anak muda saling bahu membahu mempersiapkan segala sesuatunya baik mengangkat air, membelah kayu dan mempersiapkan tempat mandi bagi keluarga yang akan melaksanakan ritual kabasano kampanaha, juga kesibukan ibu-ibu memasak dan menyiapkan makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang menghadiri pelaksanaan ritual kabasano kampanaha yang juga dibantu oleh para gadis dalam mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan pada saat memasak, yang kesemuanya dilakukan secara suka rela.
Berdasarkan hasil penelitian maka pembahasan ini mencakup nilai pendidikan dalam pelaksanaan ritual
kabasano kampanaha
.1) Nilai Religius
Pelaksanaan kabasano kampanaha merupakan adat ritual permohonan do’a kepada Sang Maha Pencipta, agar masyarakat terhindar dari segala bencana, baik itu penyakit, nasib yang tidak baik (berkaitan dengan rezeki), kesehatan dan keselamatan, serta kesuksesan bagi anak dan cucunya, bukan hanya saja untuk keselamatan (keluarga) yang melaksanakannya, tetapi semua warga yang hadir.
(Maseliya 2019),
p
endidikan adalah kegiatan belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik agar peserta didik memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran yang dilakukan di sekolah dan lingkungan sekitar. Kebudayaan sendiri memiliki arti merupakan hasil dari nilai-nilai budaya yang ditanamkan oleh masyarakat di lingkungan tertentu dan pendidikan itu tidak luput dari adanya nila-nilai budaya. Pendidikan kebudayaan merupakan kegiatan memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai budaya di suatu daerah tertentu. (Mahardika 2017), nilai-nilai yang terkandung dalam acara adat keagamaan disetiap daerah pada intinya adalah wujud rasa syukur kepada sang pencipta, tunduk dan taat terhadap perintah tuhan, mengagumi keagungan tuhan, memupuk rasa kekeluargaan, dan lain-lain.Kaitannya dengan nilai pendidikan, ritual tersebut termasuk nilai religius. Nilai religius merupakan salah satu nilai karakter bangsa yang tercantum pada 18 nilai karakter.
(Mahardika 2017),pendidikan karakter yang berbasiskan pada kearifan lokal dapat menguatkan agama, budaya, identitas, dan peradaban yang memperkokoh karakter bangsa generasi muda untuk merevitalisasi ketahanan bangsa.
76 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
2)
Nilai Etika atau Moral
Pelaksanaan kabasano kampanaha merupakan adat ritual yang dapat membentuk perilaku (karakter).
Pada pelaksanaan adat tersebut yaitu ketertiban, ketenangan, dan ketaatan terhadap perintah orang tua.
(Wajdi 2020), nilai-nilai pendidikan karakter terbentuk dari proses kehidupan seseorang terhadap lingkungannya. (Sulha and Gani 2017), dengan adanya pendidikan tentunya manusia dalam hal ini setiap individu akan terlepas dari suatu kebodohan.Sehingga dengan adanya pendidikan maka siswa selaku peserta didik akan dapat menciptakan sesuatu yang diinginkan maupun mampu bersaing dalam dunia pendidikan.
(Muchson and Samsuri 2015), hakikat pendidikan karakter tidak lain adalah penanaman nilai-nilai moral, baik moral kesusilaan maupun kesopanan. (Syahputra 2020), pendidikan karakter adalah proses transfer informasi yang bertujuan membentuk pribadi yang memiliki sikap dan prilaku yang baik, transfer informasi tersebut dapat terjadi dari pendidikan informal (keluarga), pendidikan non-formal (masyarakat), dan pendidikan formal (sekolah).
(Totok 2018), pendidikan dan karakter merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dipisah karena karakter dapat dikembangkan dan diperkuat melalui pendidikan. karakter dan kualitas moral mulai dari pikiran, sikap, dan perbuatan atau tindakan pada dasarnya memiliki keterkaitan sebab keduanya melekat kuat dalam pribadi seseorang, dengan kata lain karakter merupakan bentuk pola perilaku seseorang atau bentuk pola perilaku yang timbul dari sikap. Karakter tidak terbentuk dengan sendirinya, karakter terbentuk dengan serangkaian proses yang tidak terlepas dari lingkungan masyarakat, sekolah, dan orang tua.
Ada sinergi satu sama lain dalam
memantau tindakan atau perilaku peserta didik.
3)
Nilai Budaya
Pelaksanaan kabasano kampanaha merupakan adat ritual yang
sarat dengan nilai budaya hal ini dapat dilihat dari media (benda-benda) yang digunakan dalam pelaksanaan ritual kabasano kampanaha sebagai warisan dari para leluhur mereka.
(Normina 2017), budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Jadi, budaya bangsa adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh suatu bangsa dan diwariskan dari generasi ke generasi.
(Nuryatin 2017), pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi, yaitu sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai. (Rahmawati, Hanafi, and dan Fahruddin Hanafi 2019), kebudayaan daerah merupakan salah satu unsur yang turut memberikan corak kehidupan masyarakat. Ini berarti kebudayaan daerah memberikan ciri khas kehidupan masyarakat suatu bangsa. Melalui kebudayaan daerah dapat terungkap berbagai pengalaman hidup, sikap, dan pandangan masyarakat sebagai manifestasi dari apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh warga masyarakat.
Kebudayaan merupakan ciri khas suatu bangsa yang melambangkan jati diri bangsa tersebut yang harus dijaga dan dilestarikan oleh segenap warga negara Indonesia. Budaya yang ada di Indonesia mempunyai keunikan yang berbeda-beda di setiap daerah (Gusnetti, Syofiani 2015).
Pendidikan dan kebudayaan
77 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
merupakan dua hal yang saling terkait.
Pendidikan selalu berubah sesuai perkembangan kebudayaan. Karena pendidikan merupakan proses transfer nilai- nilai kebudayaan (pendidikan bersifat reflektif). Pendidikan dikatakan ilmu pendidikan atau pedagogi merupakan disiplin ilmu yang terkait dengan proses pemeradaban, pemberbudayaan, dan pendewasaan manusia. Salah satu upaya untuk membangun dan meningkatkan mutu sumber daya manusia menuju era globalisasi yang penuh dengan tantangan, sehingga pendidikan merupakan sesuatu yang sangat fundamental bagi setiap individu (Normina 2017). Peran pendidikan adalah sebagai transfer nilai-nilai budaya atau sebagai cara yang paling efektif dalam mentransfer nilai-nilai budaya adalah dengan cara proses pendidikan, karena keduanya sangat erat hubungannya. Kebudayaan dengan pendidikan sangat erat sekali keduanya saling berkesinambungan dan tidak dapat dipisahkan karena saling dan membutuhkan antara satu sama lainnya (Dewi 2015). (Vebrianto Susilo 2018), pendidikan tanpa didasari nilai-nilai budaya lokal bangsa kita hanya akan menjadikan bangsa kita menjadi bangsa yang selalu mengikuti bangsa orang lain. Sebab budaya kitalah yang akan menjadi pembeda untuk dapat tampil bersandaing dan bersaing dengan negara lain. Budaya kita yang beranekaragam mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kesopanan, dan nilai keagamaan. Sejumlah fenomena yang terjadi belakangan ini memberikan tamparan keras bagi pelaku pendidikan yang memberikan gambaran boboroknya nilai-nilai dan esensi dari pendidikan itu sendiri.
4)
Nilai Gotong Royong
Pelaksanaan kabasano kampanaha merupakan adat ritual yang
terlihat pada kesibukan para warga masyarakat dalam mempersiapkan
proses adat ritual alat-alat yang akan digunakan. Baik kalangan bapak-bapak, ibu-ibu, kaum muda, dan seluruh masyarakat.
(Mahardika 2017), gotong royong secara sederhana merupakan sikap saling membantu atau tolong menolong antar masyarakat. (Gusal. La Ode 2015), setiap Makhluk sosial manusia tidak dapat dipisahkan dari komunitasnya dan setiap orang di dunia ini tidak dapat berdiri sendiri melakukan segala aktivitas untuk memenuhi kebutuhanya, tanpa batuan orang lain.Pendidikan bertujuan untuk membentuk agar manusia dapat menunjukkan perilakunya sebagai mahluk yang berbudaya yang mampu bersosialisasi dalam masyarakatnya dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup, baik secara pribadi, kelompok, maupun masyarakat secara keseluruhan.
Berdasarkan pembahasan tersebut, maka nilai pendidikan yang terkandung dalam pelaksanaan rituat kabasano kampanaha di antaranya nilai religius (agama), nilai etika dan moral, nilai budaya, dan nilai gotong royong. Dan nilai-nilai tersebut relevan dengan nilai- nilai karakter kebangsaan republik Indonesia.
SIMPULAN
Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam ritual kabasano kampanaha di antanya yaitu: nilai religius, nilai etika dan moral, nilai budaya, dan nilai gotong royong. Nilai-nilai pendidikan tersebut tergambar saat prosesi pelaksanaannya, mulai prosesi pembacaan do’a, prosesi mandi, alat-alat yang digunakan, serta proses keterlibatan warga setempat.
78 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
DAFTAR PUSTAKA Aris, La Ode. 2015. “Model
Pengembangan Mangaho (Seni Bela Diri) Pada Suku Wuna Di Desa Wale-Ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna.”
Etnoreflika 4(1).
Dewantara, Ki Hadjar. 2013a. Ki Hadjar Dewantara: Pendidikan Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka I (Pendidikan). Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Dewantara, Ki Hadjar. 2013b. Ki Hadjar Dewantara: Pendidikan Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka II (Kebudayaan). Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Dewi, Rinita Rosalinda. 2015.
“Pendidikan Dalam Lingkup Kebudayaan.”
Gusal. La Ode. 2015. “Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Karya La Ode Sidu.” Jurnal Humanika 15(3):1–18.
Gusnetti, Syofiani, dan Romi Isnanda.
2015. “Struktur Dan Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Cerita Rakyat Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat.” JURNAL GRAMATIKA Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia V1.I2 (174-182) ISSN: 2(2):174–82.
Hafiz, Abdul. 2017. “Partisipasi
Masyarakat Dalam Pendidikan Studi Pada Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Pendidikan Kejuruan ( Smk-Ypk ) Banjarbaru.” Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan 7(1):9–23.
Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Cet. 8. Jakarta: Rineka Cipta.
Mahardika, Alhafizh. 2017. “Penanaman Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah.” Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan 7(2):16–27.
Maseliya, Niza Annisa. 2019.
“Mendukung Kebudayaan Dalam Pendidikan.” Kompasiana.
Muchson, A. R., and M. Samsuri. 2015.
“Dasar-Dasar Pendidikan Moral
Basis Pengembangan Pendidikan Karakter.” Yogyakarta: Ombak.
Normina. 2017. “Pendidikan Dalam Kebudayaan.” Ittihad Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan 15(28):17–28.
Nuryatin, Riza Suryadi Agus. 2017. “Nilai Pendidikan Dalam Antologi Cerpen Senyum Karyamin Karya Ahmad Tohari.” Bahasa Dan Sastra Indonesia 6(03):314–22.
Putra, Nusa. 2012. “Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan, Jakarta: PT.”
RajaGrafindo Persada.
Putra, Zulfikar. 2018. “Implementasi Pendidikan Pancasila Sebagai Character Building Mahasiswa Di Universitas Sembilanbelas November Kolaka.” Implementasi Pendidikan Pancasila Sebagai Character Building Mahasiswa Di Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka 1(1):9–13. doi:
10.12928/citizenship.v1i1.9515.
Rahmawati, Erni, Hilaluddin Hanafi, and dan Fahruddin Hanafi. 2019. “Nilai- Nilai Pendidikan Yang Terkandung Dalam Ritual Kangkilo Pada Masyarakat Muna Desa Warambe.”
Jurnal BASTRA (Bahasa Dan Sastra) 4(1):268–83.
Sulha, and Marsianus Gani. 2017. “Peran Guru Dalam Mengembangkan Karakter Disiplin Pada Siswa Kelas Xi Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.” Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan 7(3):73.
Syahputra, Muhammad Candra. 2020.
“Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Budaya Nengah Nyappur.”
Jurnal PAI Raden Fatah 2(1).
Totok, Tolak. 2018. “Aktualisasi Nilai- Nilai Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Peneguh Karakter Kebangsaan.” Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan 8(2).
Vebrianto Susilo, Sigit. 2018. “Refleksi Nilai-Nilai Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dalam Upaya Upaya Mengembalikan Jati Diri Pendidikan Indonesia.” Jurnal Cakrawala Pendas
79 Amisbah Ramly, Farid Wajdi, Zulfikar Putra. Nilai - Nilai Pendidikan Karakter Dalam Pelaksanaan KABASANO KAMPANAHA.
4(1):33–41.
Wajdi, Farid. 2020. Nilai-Nilai Karakter Etnis Bajo Relevan Dengan Nilai Karakter Bangsa. Makassar: Yayasan
Barcode.
Z. Putra, L. O Rasidun, dan Dwi Kartika Prananingrum. 2020. Kepribadian Sebagai Suatu Ilmu. Bandung:
Bandung: Alfabeta.