Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur - 1
STASIUN KERETA API SEBAGAI URBAN PUBLIC SPACE DI KOTA BANDUNG
Adri Fadhilah
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Itenas, Bandung Email: [email protected]
ABSTRAK
Stasiun Kiaracondong merupakan stasiun tersibuk ke dua di kota Bandung setelah stasiun Bandung. Stasiun Kiaracondong terletak di kecamatan kiaracondong dan kelurahan kebunjayanti. Stasiun ini mengakomodasi keberangkatan dari kota bandung ke kota – kota lainnya, khususnya ke arah daerah timur pulau jawa. Tak hanya untuk tujuan luar kota, stasiun ini pun menyediakan tujuan – tujuan dalam kota. Saat ini bangunan stasiun yang ada di kota Bandung sudah cukup mewadahi kebutuhan – kebutuhan para penumpang, khusus nya stasiun kiaracondong. Namun di kawasan Kiaracondong juga terdapat pasar dan pemukiman warga yang menyebabkan menurunnya kondisi ruang publik yang layak untuk digunakan oleh pengguna ruang.
Mulai dari berkurangnya lahan akan ruang publik hingga kualitas ruang yang masih jauh dari kata layak menyebabkan terbatasnya hak masyarakat untuk mendapatkan ruang publik yang baik. Secara tidak langsung pula berpengaruh pada kegiatan serta aktifitas masyarakat terkait rauang publik seperti, bersosialisai, interaksi dengan informasi baru, pengalaman sosial serta edukasi. Maka dari itu tema
“Public Space” sangat tepat diterapkan pada fungsi bangunan ini. Tema ini akan menyelesaikan masalah kebutuhan akan ruang publik di kawasan Kiaracondong. Public Space diaplikasikan melalui pengolahan ruang luar,pembagian zona dalam bangunan. Penerapan tema public space akan menciptakan suatu ruang publik di dalam bangunan stasiun.
Kata kunci: Stasiun Kiaracondong, Public space
ABSTRACT
Kiaracondong Station is the second busiest station in the city of Bandung after the Bandung station.
Kiaracondong Station is located in Kiaracondong Subdistrict and Kebunjayanti Village. This station accommodates departures from the city of Bandung to other cities, especially to the east of the island of Java. Not only for destinations outside the city, this station also provides destinations in the city. At present the station buildings in the city of Bandung have sufficiently accommodated the needs of the passengers, especially the Kiaracondong station. But in the Kiaracondong region there are also markets and residential areas that cause declining conditions of public spaces that are suitable for use by space users. Starting from the reduced land for public space to the quality of space that is still far from feasible, it causes the public's right to get a good public space. It also indirectly affects activities and community activities related to public events such as socializing, interaction with new information, social experience and education.
Therefore the theme of "Public Space" is very precisely applied to the function of this building. This theme will solve the problem of the need for public space in the Kiaracondong region. Public Space is applied through processing outer space, division of zones in buildings. The application of the theme of public space will create a public space inside the station building.
Keywords: Kiaracondong Station, Public space
1. PENDAHULUAN
Perkembangan pertumbuhan jumlah penduduk pada suatu kota berkembang secara pesat, sehingga intensitas penggunaan ruang kota dari waktu ke waktu menyebabkan timbulnya permasalahan bagi perkotaan. Perkembangan fisik kota yang tidak terstruktur serta tidak merata menjadi factor utama disini. Saat ini banyak kota didominasi oleh gedung-gedung dan secara fisik menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan serta berpengaruh langsung pada perilaku manusianya. Akibat serta pengaruh dari perkembangan fisik perkotaan yang tidak terstruktur adalah menurunnya kondisi ruang publik yang layak untuk digunakan oleh pengguna ruang. Mulai dari berkurangnya lahan akan ruang publik hingga kualitas ruang yang masih jauh dari kata layak menyebabkan terbatasnya hak masyarakat untuk mendapatkan ruang publik yang baik. Secara tidak langsung pula berpengaruh pada kegiatan serta aktifitas masyarakat terkait rauang publik seperti, bersosialisai, interaksi dengan informasi baru, pengalaman sosial serta edukasi.
2. EKSPLORASI DAN PROSES RANCANGAN
2.1 Tinjauan Teori
Stasiun adalah tempat kereta api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api [1].
kereta api adalah kereta yg terdiri atas rangkaian gerbong (kereta) yg ditarik oleh lokomotif, dijalankan dng tenaga uap (atau listrik), berjalan di atas rel (rentangan baja dsb)[2]. ruang public diartikan sebagai ruang diskusi kritis yang terbuka bagi semua orang. Pada ruang public ini, setiap individu berkumpul untuk membentuk suatu kumpulan dimana akan terbentuk suatu penmikiran, yaitu suatu pemikiran yang berfungsi sebagai pengawas kekuasaan pemerintah dan kekuasaan negara. Dari sini dapat diartikan bahwa ruang public adalah ruang dimana masyarakat bebas mengekspresikan semua kegiatan secara demokratis dan bebas, namun masih dalam batasan norma dan aturan yang ada[3].
Berdasarkan uraian di atas, maka pengertian Stasiun kereta api sebagai Urban Public Space merupakan tempat yang memfasilitasi tunggu bagi calon penumpang kereta api di kawasan Kiaracondong, selain memfasilitasi calon penumpang, stasiun juga dapat memfasilitasi masyarakat
Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur -3
sekitar dengan memanfaatkan lahan yang dapat digunakan untuk berbagai macam kegiatan yang bersifat umum.
2.2 Konsep Zoning Tapak
Zona di dalam tapak dibagi menjadi 3 zona yaitu zona publik, semi publik, dan zona private. Zona publik terdapat di bagian utara site yang dekat dengan jalan utama, yaitu jalan Ibrahim Adjie. Hal itu bertujuan agar warga sekitar dapat memanfaatkan lahan Stasiun kereta api untuk melakukan kegiatan yang bersifat umum, selain itu agar calon penumpang dapat dengan mudah mengenali bangunan stasiun kereta api. Zona semi publik yaitu zona yang dapat di akses oleh orang yang bertujuan ke stasiun kereta api, baik sebagai calon penumpang, penjemput maupun pengantar. Zona Semi public juga terdapat di area hotel transit,area ini dapat diakses oleh pengguna bangunan hotel transit. Zona private terdapat di dalam bangunan stasiun yaitu area tunggu steril bagi calon penumpang dan area perkantoran.
Gambar 1. Zoning dalam tapak
Zoning dalam bangunan terdiri dari 4 zona yaitu zona publik, semi publik, private , dan servis. Zona publik adalah zona yang dapat di akses oleh semua pengguna bangunan baik penumpang, pengantar, pegawai dan semua pengguna bangunan. Zona semi publik terdapat di area hotel transit,biasanya zona ini di akses oleh penumpang kereta api baik dari kedatangan maupun keberangkatan, penjemput dan pengelola atau pegawai hotel transit. Zona private adalah zona yang tedapat di area perkantoran PT.KAI dan area steril dimana hanya penumpang atau calon penumpang kereta api yang telah memiliki tiket. Pada bangunan ini zona steril terdapat di lantai 1 dan 2 bangunan stasiun, baik itu stasiun utara maupun stasiun selatan. Zona servis seperti kamar mandi,mushola atau ruang ekspedisi yang betugas mengirim barang.Pada Lantai 1 Bangunan Utara,zona publik terdapat di ruang tunggu umum atau ruang tunggu penjemput. Zona Private terdapat di ruang tunggu steril dan
area peron. Di lantai 2 Stasiun Utara,zona private terdapat di ruang tunggu steril, area perkantoran dan skybridge.
Gambar 2. Zoning Bangunan Stasiun Utara
Pembagian zona pada bangunan stasiun selatan, kurang lebih sama seperti zona pada bangunan stasiun utara,dimana ruang tunggu steril terdapat di lantai 1, namun area perkantoran terdapat di lantai 1
.
Gambar 3. Zoning Bangunan Stasiun Selatan
Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur -5
Pada denah gabungan antara stasiun utara dan stasiun selatan adalah zona private, yang di hubungkan oleh skybridge yang dapat mengakses setiap peron yang ada di stasiun Kiaracondong
.
Gambar 4. Zoning Keseluruhan Stasiun Kiaracondong
2.3 Konsep Gubahan Massa
Pada konsep gubahan massa, bentuk bangunan mengikuti bentuk tapak agar menyikapi kawadan sekitar tapak Kiaracondong. Di olah dengan subtraktif dan adiktif yang menyesuiakan dengan tema yang diambil, yaitu public space.
Gambar 5. Konsep Gubahan Massa
2.4 Konsep Fasad
Konsep Fasad menyesuaikan dengan tema yang diambil, yaitu public space. Dengan memberikan material transparan pada fasad agar menciptakan hubungan atau interaksi secara visual dari zona publik ke zona private.
Gambar 6. Konsep Fasad
3. HASIL RANCANGAN 3.1 Data proyek
Proyek ini bernama Stasiun Kereta Api Kiaracondong namun bersifat semi fiktif. Pemilik proyek dan sumber dana adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. KAI (Persero). Proyek ini berlokasi di Kiaracondong, Bandung dengan luas lahan ± 35.000 m2 dan luas bangunan ± 622,5 m2.
Stasiun Kiaracondong berada di persimpangan Jalan Ibrahim Adjie yang merupakan jalan kolektor primer dan Jalan Kebon Jayanti yang merupakan jalan lokal lingkungan. Lahan Stasiun Kiaracondong memiliki KDB 70%, KDH minimal 20%, KLB 1,4 dan GSB ½ lebar jalan. Wilayah ini termasuk ke dalam zona SPU 5 yang merupakan zona pelayanan umum di bidang transportasi.
Perhitungan regulasi sesuai peraturan yang berlaku adalah sebagai berikut. Luas lahan yang boleh dibangun adalah 70% dari luas seluruh lahan yaitu sekitar 24.500 m2, dan luas seluruh lantai yang boleh dibangun sebesar 49.000 m2. Adapun luas minimal lahan hijau sebesar 7.000 m2. Terakhir adalah GSB yaitu sebesar ½ lebar Jalan Ibrahim Adjie, Jalan Babakan Sari dan Jalan Stasiun Lama.
Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur -7
3.2 Deskripsi Rancangan
Stasiun Kereta Api Kiaracondong merupakan stasiun terbesar kedua setelah Stasiun Bandung, stasiun ini kini dilengkapi dengan hotel bintang 3 yang disediakan untuk seluruh pengunjung stasiun. Ruang terbuka hijau yang didesain sedemikian rupa menunjang fungsi utama bangunan ini.
Terkait tema yang di ambil,site di desain open space dan bersifat umum bagi pengunjung maupun warga sekitar Stasiun Kereta Api Kiaracondong. Di lihat dari gambar site plan, Stasiun Kiaracondong memiliki 2 massa bangunan yaitu stasiun utara dan stasiun selatan, dengan stasiun utara sebagai stasiun utama yang di lantai atas nya terdapat hotel transit. Stasiun Utara dan selatan dihubungkan oleh skybridge yang bersifat steril.
Gambar 7. Site Plan Stasiun Kiaracondong
Zoning dalam bangunan terdiri dari 4 zona yaitu zona publik, semi publik, private , dan servis. Zona publik adalah zona yang dapat di akses oleh semua pengguna bangunan baik penumpang, pengantar, pegawai dan semua pengguna bangunan. Zona semi publik terdapat di area hotel transit,biasanya zona ini di akses oleh penumpang kereta api baik dari kedatangan maupun keberangkatan, penjemput dan pengelola atau pegawai hotel transit. Zona private adalah zona yang tedapat di area perkantoran PT.KAI dan area steril dimana hanya penumpang atau calon penumpang kereta api yang telah memiliki tiket. Pada bangunan ini zona steril terdapat di lantai 1 dan 2 bangunan stasiun, baik itu stasiun utara maupun stasiun selatan. Zona servis seperti kamar mandi,mushola atau ruang ekspedisi yang betugas mengirim barang.
Pada denah gabungan antara stasiun utara dan stasiun selatan adalah zona private, yang di hubungkan oleh skybridge yang dapat mengakses setiap peron yang ada di stasiun Kiaracondong.
Gambar 8. Zona Keseluruhan Stasiun Kiaracondong
Menyikapi Analisa tapak yang ada, maka orientasi bangunan utama menghadap ke jalan utama,yaitu jalan Ibrahim Adjie agar massa bangunan dapat terlihat dari jalan utama dan dari jalan layang Kiaracondong.Sedangkan bangunan stasiun selatan berioentasi terhadap keadaan sekitar yaitu pada jalan Stasiun Lama.
Gambar 9. Orientasi Massa bangunan
Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur -9
Fasad Bangunan menyesuaikan dengan tema yang diambil yaitu public space, dengan memberikan material transparan yang bertujuan agar adanya interaksi visual dari zona private ke zona publik, zona stasiun dengan zona hotel transit, dan zona stasiun dengan Kawasan Kiaracondong.
Gambar 10. Fasad Bangunan
Penerapan tema public space diterapkan pada area lansekap (lihat gambar 5.7) dengan menciptakan suatu ruang public yang dapat di akses baik oleh pengguna bangunan maupun warga sekitar dan memfasilitasi berbagai kegiatan yang bersifat umum.
Gambar 11. Area Publik
Penerapan tema public space juga diterapkan pada area fasad bangunan yang bersifat transparan dengan tujuan dapat menciptakan interaksi visual dari zona publik zona privat.
Gambar 12. Penerapan Tema dalam Fasad
3.3 Rencana Anggaran Biaya
Berikut ini adalah perhitungan rencana anggaran biaya bangunan stasiun dan hotel secara kasar, harga tiap luasannya mengacu kepada harga Harga Satuan Bangunan Gedung Negara (HSBGN).
Tabel 1. Rencana Anggaran Biaya
No. Bangunan Luas(m2) Harga Jumlah
1 Stasiun lt.1 3946,92
Stasiun lt.2 3388,8
Total luas 7335,72 7.360.000 53.990.665.890
2 Skybridge 606 7.360.000 4.460.165,887
3 Perkerasan dan Pedestrian
2630,5 600.000 1.578.667.876
4 Lansekap 3015 1.000.000 3.015.889.765
5 hotel 1015,19 10.000.000 10.151.965.098
Total Harga 73.998.876.966
Anggaran total proyek Stasiun Kiaracondong secara kasar adalah Rp73.998.876.966,00 atau tujuh puluh tiga milyar Sembilan ratus Sembilan puluh delapan juta delapan ratus tujuh puluh enam ribu Sembilan ratus enam puluh enam rupiah.
Repository Jurnal Tugas Akhir Arsitektur -11
4.
SIMPULANStasiun Kereta Api Kiaracondong di desain menyikapi permasalahan yang ada dan telah sesuai dengan standar bangunan stasiun dari PT.KAI.Stasiun Kereta Api sebagai Urban Public Space dapat menyeselaikan masalah Kawasan kiaracondong akan kebutuhan ruang terbuka publik.
5.
DAFTAR PUSTAKA [1].UU No.13 Tahun 1992 Pasal 19
[2].