FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDERITA TB PARU DROP OUT MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS
Jansen Parlaungan1, Yenni Huriani2, Oktovina Mobalen3, Panel Situmorang4 Staf Dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Sorong Papua Barat
e-mail : [email protected]
Artikel history
Dikirim, Mar 12th, 2021 Ditinjau, Apr 20th, 2021 Diterima, Ags 18th, 2021
ABSTRAK
Penyakit tuberkulosis mempunyai risiko kematian yang tinggi di Indonesia, pengobatan akan efektif apabila penderita patuh dalam mengkonsumsi obat anti tuberculosis (OAT).
Penelitian ini untuk engetahui faktor yang mempengaruhi penderita TB Paru drop out minum obat anti tuberculosis (OAT). Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode pengembangan yang digunakan adalah cross sectional yaitu studi epidemiologi yang mengukur beberapa variabel dalam satu saat sekaligus. Desain penelitian yang digunakan adalah expost facto. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Sampel berjumlah 26 penderita TB Paru yang drop out. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan sikap dengan kejadian drop out penderita TB Paru nilai P Value = 0,002 < dari nilai α 0,05. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pihak rumah sakit agar dapat meningkatkan pemberian informasi mengenai cara pengobatan, karena pengobatan TB Paru memakan waktu yang lama, sehingga apabila penderita TB Paru kurang memahami hal ini, sangat besar kemungkinan mereka akan menghentikan pengobatan yang sementara berjalan dan belum tuntas.
Kata Kunci : Sikap;Drop Out;TB Paru;Obat Anti Tuberkulosis(OAT).
ABSTRACT
Tuberculosis has a high risk of death in Indonesia, treatment will be effective if the patient is obedient in taking tuberculosis drugs. This study aims to determine the factors that influence pulmonary TB patients drop out of taking tuberculosis drugs. This research is quantitative with method of cross sectional, namely an epidemiological study that measures several variables at one time at once. The research design used is expost facto.
The sampling technique used is total sampling. The sample was 26 patients with pulmonary TB who dropped out. The results showed that there was a relationship between attitude and the incidence of drop out of pulmonary TB patients with P Value = 0.002 <
from 0.05. The results of this study can be used by Hospital in order to improve the provision of information about treatment methods, because pulmonary TB treatment takes a long time, so if pulmonary TB sufferers do not understand this, it is very likely that they will stop treatment temporarily running and unfinished.
Keyword: attitude, Drop Out, Tuberculosis, Tuberculosis Drugs Nursing Arts
Vol 15, No 1 Agustus 2021 ISSN: 1978-6298 (Print) ISSN: 2686-133X (online)
PENDAHULUAN
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis). Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberkulosis (M.tb).
Indonesia saat ini menempati urutan ke lima dari 22 negara dengan beban TB terbanyak yakni setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria. Suksesnya program penanggulangan TB paru bisa dilihat pada tingkat kesembuhan dan tingkat drop out (DO) yang dicapai, tingkat kesembuhan minimal 85% dari semua penderita baru BTA positif yang ditemukan, sedangkan kejadian DO tidak diharapkan dan tidak boleh melebihi 5%
dari seluruh pasien TB paru yang diobati.
Pengobatan penyakit TB paru memerlukan waktu lama (6-8 bulan) dengan memakai strategi DOTS.
Berdasarkan data Global Tuberculosis Report WHO 2017, angka keberhasilan pengobatan TB di dunia sebesar 83% terlihat masih belum sempurna karena standar yang dikeluarkan oleh WHO untuk tingkat keberhasilan TB adalah ≥90%. Laporan terbaru dari WHO 2016 menunjukan peningkatan yang signifikan pada kasus TB di dunia sejak tahun 2012 hingga
tahun 20152 . Pada tahun 2012 diperkirakan terdapat 8,6 juta kasus TB di dunia, pada tahun 2013 sebanyak 9 juta, dan pada tahun 2014 sebanyak 9,6 juta penduduk dunia terinfeksi bakteri TB. Pada tahun 2015, jumlah kasus TB di dunia kembali mengalami peningkatan hingga 10,4 juta kasus. Meskipun demikian, TB adalah salah satu dari 10 penyebab kematian terbesar di seluruh dunia.
Terdapat berbagai upaya pengendalian tuberkulosis yang telah dijalankan sejak tahun 1995 dengan strategi Directly Observed Treatment Succes Rate (DOTS). DOTS adalah strategi penyembuhan tuberkulosis jangka pendek dengan menggunakan pengawasan secara langsung. Strategi DOTS ini direkomendasikan secara global oleh WHO untuk menanggulangi TB paru, karena dapat menghasilkan angka kesembuhan yang tinggi yaitu 95 persen. Namun sejauh ini, usaha tersebut belum menunjukan keberhasilan maksimal.
Pada tahun 2016 diketahui terdapat 10,4 juta kasus insiden TBC yang setara dengan 120 kasus per 100.000 penduduk.
Lima negara dengan insiden kasus tertinggi yaitu India, Indonesia, China, Philipina dan Pakistan. Sementara itu
jumlah kasus baru TB Paru di Indonesia sebanyak 420.994 kasus pada tahun 2017 (data per 17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TB Paru tahun 2017 pada laki-laki sebesar 245.298 dan perempuan sebesar 175.696 atau 1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan. Bahkan berdasarkan Survei Prevalensi Tuberkulosis, prevalensi pada laki-laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan, begitu juga yang terjadi di negara-negara lain. Hal ini terjadi kemungkinan karena laki-laki lebih terpapar pada faktor risiko TB Paru misalnya merokok dan kurangnya ketidakpatuhan minum obat.
Berhentinya pengobatan tuberkulosis sebelum waktunya (drop out) di Indonesia merupakan suatu faktor terbesar dalam kegagalan pengobatan penderita TB yang besarnya 50%. Drop out adalah pasien tuberulosis yang telah melakukan pengobatan dan putus pengobatan 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Masalah yang dapat ditimbulkan oleh drop out tuberkulosis yaitu adalah resistensi obat yaitu kemunculan strain resisten obat selama kemoterapi, dan penderita tersebut merupakan sumber infeksi untuk individu yang tidak terinfeksi.
Kepatuhan merupakan hal yang sangat penting dalam perilaku hidup sehat. Kepatuhan minum obat anti tuberkulosis adalah mengkonsumsi obat- obatan yang diresepkan dokter pada waktu dan dosis yang tepat. Pengobatan hanya akan efektif apabila pasien mematuhi aturan dalam penggunaan obat.
Keberhasilan pengobatan TB Paru sangat dipengaruhi akan kepatuhan dalam berobat dan permasalahan kepatuhan pasien penyakit TB Paru banyak dipengaruhi faktor. Faktor yang dapat memengaruhi tingkat kepatuhan seseorang untuk meminum obat, yaitu:
usia, pekerjaan, waktu luang, pengawasan, jenis obat, dosis obat, pengetahuan, sikap dan penyuluhan dari petugas kesehatan.
Data penderita TB Paru di propinsi Papua Barat dari tahun ketahun cendrung meningkat, walaupun pelaksanna program pemberantasan TB Paru terus ditingkatkan. Berdasarkan data riskesdas 2010, Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.7 persen. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua (1,5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, DI Yogyakarta, dan Bali
(0,3%). Proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83,2%) lebih baik dibandingkan dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66,25%). Data pada Kasubdin BP2PL, Dinas Kesehatan Propinsi Papua Barat , tahun 2011, diketemukan 2.462 penderita TB Paru BTA positif. Dari jumlah kasus tersebut yang tidak melaksanakan pengobatan dengan benar/putus berobat (drop out) adalah sebanyak 337 penderita atau 14,17%.
Pada survey pendahuluan yang dilakukan peneliti pada bulan Mei 2017, diperoleh data dari medical record RSUD sele be Solu Kota sorong, ditemui pada periode Januari s/d Desember 2016 jumlah pendeita TB paru yang berobat sebanyak 360 penderita. Dari 360 penderita TB tersebut yang berobat teratur (sembuh) sebanyak 270 penderita, sedangkan 90 penderita gagal (drop out), karena berobat tidak teratur atau putus obat.
Berdasarkan permasalahan diatas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian faktor yang mempengaruhi penderita TB Paru drop out minum obat anti tuberculosis (OAT) di Polik Pojok Dots RSUD Sele be Solu Kota Sorong.
METODE
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu analisis pada data numerical (angka) mulai dari pengumpulan data, penafsiran data serta hasil yang diolah dengan statistika adalah angka. Metode pengembangan yang digunakan adalah cross sectional yaitu studi epidemiologi yang mengukur beberapa variabel dalam satu saat sekaligus. Penelitian ini hanya digunakan dalam waktu tertentu dan tidak dilakukan pada penelitian lain di waktu yang berbeda untuk diperbandingkan. Desain penelitian yang digunakan adalah ex post facto yaitu untuk menjajaki kemungkinan ada jalinan kausal (sebab-akibat) pada variabel atau penyelidikan pada apa yang berlangsung pada subjek. Penelitian ini di laksanakan pada penderita TB Paru yang drop out di Polik Pojok Dots RSUD Sele
be Solu Kota Sorong pada tahun 2017.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Total Sampling dimana pengambilan jumlah sampel sama dengan populasi. Alasan mengambil total sampling karena jumlah populasi yang kurang dari 100. Sampel berjumlah 26 penderita TB Paru yang drop out di Polik Pojok Dots RSUD Sele be Solu Kota Sorong.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1 Distribusi responden Penderita TBdi Polik Pojok Dots RSUD Sele be Solu Kota Sorong
No Umur Jumlah Presentase (%)
1 Dewasa Muda (<= 45 tahun) 15 57.7
2 Dewasa Tua (> 45 tahun) 11 42,3
Jumlah 26 100
No Jenis Kelamin Jumlah Presentase (%)
1 Laki-Laki 17 65,4
2 Perempuan 9 34,6
Jumlah 26 100
No Pendidikan Jumlah Presentase (%)
1 Pendidikan Dasar (SD,SMP) 14 53,8
2 Pendidikan Menengah (SMA) 12 46,2
Jumlah 26 100
No Pekerjaan Jumlah Presentase (%)
1 Tani 11 43,2
2 Swasta 15 57,7
Jumlah 26 100
No Sikap Jumlah Presentase (%)
1 Sikap Negatif 16 61,5
2 Sikap Positif 10 38,5
Jumlah 26 100
No Status Drop Out Jumlah Presentase (%)
1 Drop out > = 1 Tahun 16 61,5
2 Drop out < 1 Tahun 10 38,5
Jumlah 26 100
Hasil penelitian menunjukkan responden dengan umur terbanyak adalah Dewasa Muda (<= 45 tahun) yakni sebanyak 15 responden (57,7 %) dan yang paling sedikit adalah responden Dewasa Tua (> 45 tahun) yakni sebanyak 11 responden (42,3 %). Responden yang terbanyak adalah yang berjenis kelamin laki-laki yakni sebanyak 17 responden (65,4 %) dan yang paling sedikit adalah responden berjenis kelamin perempuan yakni sebanyak 9 responden (34,6 %).
Responden yang berpendidikan dasar
(SD,SMP) adalah yang terbanyak, yakni 14 responden (53,8%) dan yang paling sedikit yang berpendidikan menengah (SMA) yakni 12 responden (46,2 %.).
Responden yang mempunyai pekerjaan swasta, yaitu 15 responden (57,7%) dan yang paling kecil adalah jenis pekerjaan tani yakni sebanyak 11 responden (42,3%). Responden yang bersikap negative paling dominan sebanyak 16 responden (61,5%) dan yang paling kecil adalah sikap positif yakni 10 responden (38,5%). Status DO penderita TB Paru >
1 Tahun sebanyak 16 responden (61,5%) dan yang paling kecil adalah status DO
penderita TB Paru < 1 Tahun yakni 10 responden (38,5%).
Tabel 2 Hubungan variabel bebas responden dengan variabel terikat status drop out Penderita TBdi Polik Pojok Dots RSUD Sele be Solu Kota Sorong
No Umur
Status Drop out Penderita TB Paru
Total
Drop out
> = 1 Tahun
Drop out
< 1 Tahun
f % f % f %
1 Dewasa Muda (< 45 Tahun) 12 80 3 20 15 100
2 Dewasa Tua (> 45 Tahun) 4 36,4 7 63,6 11 100
Jumlah 16 61,5 10 38,5 26 100
p value = 0,064
No Jenis Kelamin
Status Drop out Penderita TB Paru
Total
Drop out
> = 1 Tahun
Drop out
< 1 Tahun
f % f % f %
1 Laki-Laki 12 70,6 5 29,4 17 100
2 Perempuan 4 44,4 5 55,6 9 100
Jumlah 16 61,5 10 38,5 26 100
p value = 0,379
No Pendidikan
Status Drop out Penderita TB Paru
Total
Drop out
> = 1 Tahun
Drop out
< 1 Tahun
f % f % f %
1 Pendidikan Dasar (SD, SMP) 12 85,7 2 14,3 14 100
2 Pendidikan Menengah (SMA) 4 33,3 8 66,7 12 100
Jumlah 16 61,5 10 38,5 26 100
p value = 0,020
No Pekerjaan
Status Drop out Penderita TB Paru
Total
Drop out
> = 1 Tahun
Drop out
< 1 Tahun
f % f % f %
1 Tani 6 54,5 5 45,5 11 100
2 Swasta 10 66,7 5 33,3 15 100
Jumlah 16 61,5 10 38,5 26 100
p value = 0,826
No Pekerjaan
Status Drop out Penderita TB Paru
Total
Drop out
> = 1 Tahun
Drop out
< 1 Tahun
f % f % f %
1 Negatif 14 87,5 2 12,5 16 100
2 Positif 2 20 8 80 10 100
Jumlah 16 61,5 10 38,5 26 100
p value = 0,002
Dari tabel diatas menggunakan uji Chi Square Test faktor yang mempengaruhi dengan status drop out penderita TB Paru minum obat anti tuberculosis di Polik Pojok Dots RSUD Sele be Solu Kota Sorong adalah faktor sikap dengan nilai p value = 0,002 lebih kecil dari nilai α (0,05). Tabel di atas menunjukkan sikap negative untuk status DO penderita TB > 1 Tahun lebih besar sebanyak 14 (87,5%) dan status DO penderita TB < 1 Tahun sebanyak 2 (12,5%). Sikap Positif untuk status DO penderita TB < 1 Tahun lebih besar sebanyak 8 (80%) dan status DO penderita TB > 1 Tahun sebanyak 2 (20%).
Nilai sangat terkait dengan sikap, nilai membantu sebagi jalan untuk mengatur sikap. Nilai didefinisikan sebagi konstelasi dari suka, tidak suka, titik pandang, keharusan. Melalui tindakan dan belajar seseorang akan mendapatkan kepercayaan dan sikap terhadap sesuatu yang pada giliranya akan mempengarui perilaku.
Kepercayaan merupakan sesuatu yang didasari atas pengetahuan, pandapat dan keyakinan nyata. Sikap adalah evaluasi perasaan dan kecenderungan seseorang yang relatip konsisten terhadap sesuatu obyek atau gagasan. Sikap akan menempatkan orang menyukai atau tidak
menyukai sesuatu tersebut. Sikap adalah respon yang tidak teramati secara langsung yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek.
Sikap lebih mengacu pada kesiapan dan kesediaan untuk bertindak, dan bukan pelaksana motif tertentu. Sikap bukan merupakan suatu tindakan, namun merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.
Sikap seseorang tentang penyakit tuberkulosis dan pencegahan penularannya memegang peranan penting dalam keberhasilan upaya pencegahan penularan penyakit tuberkulosis.
Responden menyatakan akan melakukan kontrol apabila ingin atau saat keluarga mengalami keluhan (menghentikan pengobatan dikarenakan merasa kondisi fisik mulai membaik). Responden cenderung mengabaikan adanya kemungkinan timbulnya penyakit yang lebih serius dan menggangap tidak ada keluhan, penyakit akan sembuh dengan sendirinya. Namun, apabila ada keluhan, maka responden baru akan memikirkan untuk melakukan pengobatan.
Responden mengabaikan adanya kemungkinan timbulnya penyakit yang lebih serius.
Sikap negatif yang ditunjukkan responden tersebut menyebabkan status
drop out dan tidak melakukan pencegahan tuberkulosis, disebabkan oleh tidak mau menerima kenyataaan, bahwa dirinya menderita sesuatu penyakit serta pemikiran, bahwa penyakit tersebut tidak mungkin dapat disembuhkan menyebabkan sikap apatis dari seseorang untuk tidak melakukan pencegahan terhadap penyakit tuberculosis dan efek samping dari obat tersebut membuat sikap untuk menyerah, dikarenakan tidak kuat menahan efek OAT (Obat Anti Tuberkulosis) yang diminumnya setiap hari.
Faktor lain yang menyebabkan sikap negatif terhadap pencegahan tuberkulosis, adalah jarang sekali pelaksanaan kontrol rutin 6 bulan sekali, menggunakan masker debu, pemeriksaan dahak, merokok, mengabaikan perintah dokter, serta adanya pengaruh faktor emosional dari penderita. Sikap berperan dalam bagaimana seseorang berperilaku dan mengambil keputusan dalam proses kesembuhannya. Selain itu, sikap positif yang dimiliki seseorang terhadap penyakitnya akan mengarah pada health seeking behavior yang positif pula sehingga harapannya dengan sikap positif tersebut semakin mendorong seseorang dalam usahanya menuntaskan pengobatan (Mweemba et al. 2008).
Kepatuhan dalam suatu sikap merupakan respon yang hanya muncul apabila individu tersebut dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Kepatuhan adalah suatu sikap yang akan muncul pada seseorang yang merupakan suatu reaksi terhadap sesuatu yang ada dalam peraturan yang harus dijalankan (Notoatmodjo, 2014). Mednick, Higgins dan Kirschenbaum menyebutkan bahwa pembentukan sikap dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu pengaruh sosial seperti norma dan kebudayaan, karakter kepribadian individu dan informasi yang selama ini diterima individu. Penelitian tentang kepatuhan minum obat anti tuberkulosis pernah dilakukan Dhewi, dkk (2011) pada pasien TB Paru di BKPM Pati dimana hasil penelitiannya menujukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap dengan kepatuhan minum obat TB Paru.
Menurut Kelman, perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi kemudian baru menjadi internalisasi. Mula-mula individu mematuhi anjuran atau instruksi petugas tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari hukuman/sanksi jika tidak patuh atau untuk memperoleh imbalan yang dijanjikan jika mematuhi
anjuran tersebut tahap ini disebut tahap kesediaan, biasanya perubahan yang terjadi dalam tahap ini bersifat sementara, artinya bahwa tindakan itu dilakukan selama masih ada pengawasan petugas. Tetapi begitu pengawasan itu mengendur atau hilang, perilaku itupun ditinggalkan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Gendhis Indra Dhewi (2011) yang menunjukkan ada hubungan pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,001) dengan kepatuhan minum obat tuberkulosis pada pasien TB Paru di BKPM Pati
SIMPULAN
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pihak RSUD Sele Be Solu Kota Sorong melakukan kegiatan promosi kesehatan kepada penderita TB Paru dengan memberikan buku yang berisi kepatuhan meminum obat anti tuberculosis tanpa putus sebagai upaya mempengaruhi psikologis penderita untuk mematuhinya. Bagi penderita TB Paru untuk mematuhi semua anjuran dari petugas kesehatan untuk meminum obat anti tuberculosis agar penderita TB Paru dapat sembuh dari penyakit
DAFTAR RUJUKAN
Aditama T. Tuberkulose Paru: Masalah dan Penanggulangannya, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta 2002.
Alsagaff H, dan Mukty H.A. 2015.
Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru.
Surabaya: Airlangga University Press.
Amin Z., Bahar A., 2014. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III.Edisi V. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Apriani, R., Fasich dan Athijah. 2016.
Analisis Terhadap Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kepatuhan
Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Empat FDC (Fixed Dose Combination). Majalah Farmasi Airlangga. Hal. 2-8.
Blumenfeld, Santos, Cruz, Dizon. 1999.
Reducing Treatment Default Among Tuberculosis Patients in the Philippines. USA: Center for human services.
Caminero, JA. (2013). Guidelines for clinical and operational management of drug-resistant tuberculosis. Paris : International Union Against Tuberculosis and Lung Disease.
Depkes RI, 2018. Tuberkolosis. Jakarta:
Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
Dhewi, Gendhis Indra; Yunie Armiyati;
Mamat Supriyono, 2011. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap Pasien dan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB Paru di BKPM Pati. Jurnal, Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang.
Hastono, Sutanto Priyo, 2007. Analisa Data Kesehatan. Jakarta : FKM
Hardianto, Herman, 2013. Hubungan Motivasi Ingin Sembuh Dan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Fase
Intensif Penderita Tuberkolosis Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto Kabupaten Banyuman.
Tesis Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Junita F., 2017. Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberculosis pada Pasien Tuberculosis Paru Di Puskesmas Kecamatan Jatinegara Tahun 2017.
Bekasi: STIKES Medistra Indonesia Green L.W. Health Promotion Planning
and Education and Environmental Approach, Second Edition, Mayfield publishing Company London, 2001.
Kemenkes RI, 2018. Tuberkolosis.
Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI
Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. (2011).
Terobosan menuju akses universal:
Strategi nasional pengendalian tb di Indonesia 2010-2014. Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2010.
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta
Partasasmita, 2016. Riset Tentang Penderita TBC di Wilayah Kabupaten Sleman Jogyakarta. Jakarta: EGC Pasek, M., dan Made, S. 2013. Hubungan
Persepsi dan Tingkat Pengetahuan Penderita TB dengan Kepatuhan Pengobatan di Kecamatan Buleleng.
Jurnal Pendidikan Indonesia. Hal.
145-150
Riskesdas, 2013. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI
Sukana, B., Herryanto & Supraptini, 2013. Pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan penderita TB paru di Kabupaten Tangerang. Jurnal Ekologi Kesehatan.
Sudjana, 2000. Metode Statiska.
Bandung : PT. Gramedia Pustaka Utama
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Suparyanto, 2014. Konsep Kepatuhan.
Diakses dari:
http://drsuparyanto.blogspot.com/201 0/07/konsep-kepatuhan.html
World Heath Organization (WHO), 2016. Global Tuberculosis Report 2016. Geneva.
Wijaya, A.S dan Putri, Y.M.
2015.Keperawatan Medikal Bedah 2, Keperawatan Dewasa Teori dan Contoh Askep. Yogyakarta: Nuha Medik