1 1.1 Latar belakang
Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas dimana lansia mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (UU RI NO.13 Tahun 1998). Indonesia merupakan negara yang termasuk dalam negara dengan struktur penduduk menuju tua (ageing population) (Badan Pusat Statistika, 2014). Secara global populasi lansia diprediksi mengalami peningkatan dan populasi di Indonesia diprediksi meningkat lebih tinggi dari pada populasi lansia di dunia setelah tahun 2100.
(Kemenkes, 2016)
Struktur ageing population merupakan cerminan dari semakin tingginya rata- rata Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Indonesia. Tingginya UHH merupakan indicator keberhasilan pembangunan nasional terutama di bidang kesehatan. Di Indonesia, usia harapan hidup meningkat dari 68,6% tahun 2004 meningkat menjadi 72% tahun 2015. Usia harapan hidup penduduk Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat, sehingga persentase penduduk Lansia terhadap total penduduk diproyeksikan terus meningkat. Berdasarkan hasil Susenas tahun 2014, jumlah Lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa atau sekitar 8,03% dari seluruh penduduk Indonesia. Data tersebut menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 yaitu 18,1 juta jiwa atau 7,6% dari total jumlah penduduk (Kemenkes RI, 2016).
Di Jawa barat pun angka penduduk lansia dari 3,27 juta jiwa tahun 2010, mengalami peningkatan menjadi 3,48 juta jiwa pada tahun 2014 (Badan Pusat Statistik, 2014). Kota Bandung juga termasuk kota yang memiliki presentasi pertumbuhan penduduk lanjut usia cukup tinggi. Menurut data sensus tahun 2010, jumlah lanjut usia umur 60+ Kota Bandung mencapai 6,6%. Hal ini dapat terjadi karena, salah satunya, dipengaruhi oleh semakin meningkatnya usia harapan hidup di Kota Bandung yang sudah mencapai 73,4. Padahal usia harapan hidup nasional hanya mencapai 70,7 tahun. Jumlah lanjut usia (Lansia) yang terus meningkat dapat menjadi aset bangsa bila sehat dan produktif. Namun Lansia yang tidak sehat dan tidak mandiri akan berdampak besar terhadap kondisi sosial dan ekonomi bangsa.(Kemenkes RI, 2016).
Angka kesakitan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur derajat kesehatan penduduk. Angka kesakitan tergolong sebagai indikator kesehatan negatif. Semakin rendah angka kesakitan,menunjukkan derajat kesehatan penduduk yang semakin baik (Kemenkes RI, 2016). Angka kesakitan penduduk lansia tahun 2014 sebesar 25,05% artinya bahwa dari setiap 100 orang lansia terdapat 25 orang di antaranya mengalami sakit. Bila dilihat perkembangannya dari tahun 2005-2014, derajat kesehatan penduduk lansia mengalami peningkatan yang ditandai dengan menurunnya angka kesakitan pada lansia dari 29,86% ditahun 2005 menjadi 25,05% di tahun 2014 (Badan Pusat Statistika, Susenas 2005-2014). Lansia mengalami peningkatan yang ditandai dengan menurunya angka kesakitan.
Kementerian Kesehatan terus mendorong dan mengupayakan peningkatan jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan Santun Lansia ini, dengan menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di Pusat Kesehatan Masyarakat Upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia, khususnya dalam bidang kesehatan tentu melibatkan peran serta dari pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kebijakan Kementerian Kesehatan dalam pelayanan kesehatan lanjut usia bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia yang berkualitas melalui penyediaan sarana pelayanan kesehatan yang ramah bagi lanjut usia untuk mencapai lanjut usia yang berdayaguna bagi keluarga dan masyarakat. Upaya yang dikembangkan untuk mendukung kebijakan tersebut antara lain meningkatkan upaya kesehatan bagi lanjut usia di pelayanan kesehatan dasar dengan pendekatan Pelayanan Santun lanjut usia, meningkatkan upaya rujukan kesehatan bagi lanjut usia melalui pengembangan Poliklinik Geriatri Terpadu di Rumah Sakit, dan menyediakan sarana dan prasarana yang ramah bagi lanjut usia (Kemenkes RI, 2015).
Salah satu pelayanan terhadap lansia di tingkat masyarakat, yang dijalankan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia adalah Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu). Posbindu adalah suatu wadah pelayanan kepada lansia di masyarakat, yang proses pembentukan dan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), lintas sektor pemerintah dan non- pemerintah, swasta, organisasi sosial dan lain-lain, dengan menitik-beratkan pelayanan kesehatan pada upaya promotif dan preventif (Komnas Lansia, 2010).
Disamping pelayanan kesehatan, di Posbindu juga diberikan pelayanan sosial, agama, pendidikan, keterampilan, olah raga dan seni budaya serta pelayanan lain yang dibutuhkan para lansia dalam rangka meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan mereka (Komnas Lansia, 2010). Sampai dengan tahun 2015, jumlah kelompok lansia (Posyandu Lansia) yg memberikan pelayanan promof dan prevenf tersebar di 23 provinsi di Indonesia dengan jumlah posbindu terbanyak terdapat di provisi jawa timur dan jawa barat menempati urutan ke-3 dengan urutan posbindu terbanyak yaitu sejumlah 6.565 posbindu.
Di Kota Bandung pada Tahun 2011 terdapat posbindu sebanyak 750 kelompok dengan jumlah usila (60 tahun+) sebanyak 150.939 orang, dari jumlah tersebut 49.384 dilayani kesehatan atau sebanyak 32,72 %. Dari data tersebut bila dibandingkan dengan tahun lalu terdapat penurunan dari yang sebelumnya sebanyak 33,02 % pada Tahun 2010 (Profil Kesehatan Kota Bandung, 2011).
Dan dari hasil penelitian Bratanegara, Lukman dan Hidayati (2010) sampai saat ini di Kota Bandung, khususnya di Kelurahan Karasak yang terdiri dari enam RW telah memiliki dua posbindu, yaitu di wilayah RW 01 dan RW 06 yang secara rutin mengadakan kegiatan posbindu setiap satu bulan sekali. Dari hasil penelitian tersebut jumlah kunjungan lansia yang datang secara rutin di wilayah kerja posbindu RW 06 dan RW 01 lansia yang berkunjung ke posbindu tidak lebih dari 50% dari total lansia yang ada di wilayah kerja posbindu tersebut yang berjumlah 144 orang. Ketidakhadiran lansia menurut para kader, salah satu penyebabnyanya adalah tidak adanya anggota keluarga yang mengantar ke posbindu yang mengakibatkan rata-rata kunjungan lansia yang datang ke
posbindu setiap bulanya sedikit. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Suparto, sunjaya, dess dan susanti juga menunjukan bahwa kunjungan lansia di posbindu di desa Dayeuhkolot pun yaitu sebesar 40% di Posbindu RW 02, 12% di Posbindu RW 05, 18% di Posbindu RW 08, 27% di Posbindu RW 10 dan 13% di Posbindu RW 11 dari seluruh masing masing populasi lansia di masing-masing RW. Jumlah kehadiran tersebut dinilai belum memenuhi standar ketercapaian program posbindu yang telah di sediakan oleh pemerintah.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di posbindu di Kelurahan Garuda Kecamatan Andir Kota Bandung kunjungan lansia di posbindu inipun juga memiliki jumlah kunjungan lansia yang lebih rendah dari posbindu di desa Dayeuhkolot yaitu di posbindu RW 01 sebanyak 7 % dengan jumlah penduduk lansia sebanyak 87 orang, di posbindu RW 02 8,3 % dengan jumlah penduduk lansia sebanyak 69 orang, di posbindu RW 03 7% dengan jumlah penduduk lansia sebanyak 107 orang, di posbindu RW 04 19% dengan jumlah penduduk lansia sebanyak 112 orang, di posbindu RW 05 7% dengan jumlah penduduk lansia sebanyak 75 orang dan di posbindu RW 05 sebanyak 10% 98 orang lansia.
Faktor – faktor yang mengidentifikasi dan berpotensi mempengaruhi seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan menurut Green dalam Notoatmodjo (2007) adalah factor predisposisi (predisposing) yang meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, jarak dan fasilitas kesehatan/sarana kesehatan, keterjangkauan biaya, jarak dan fasilitas transportasi dan factor reinforcing/penguat yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan
atau merupakan dukungan dari pemimpin, tokoh masyarakat, keluarga dan orang tua.
Keluarga adalah bagian dari masyarakat yang perananya sangat penting untuk membentuk kebudayaan yang sehat. Dari keluarga inilah pendidikan kepada individu dimulai dan dari keluarga inilah akan tercapai tatanan masyarakat yang baik, sehingga untuk membangun suatu kebudayaan maka seyogyanya dimulai dari keluarga. Keluarga dijadikan sebagai unit pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saing berkaitan dan saling mempengaruhi pula keluarga- keluarga yang ada disekitarnya atau masnyarakat sekitarnya atau dalam konteks yang luas berpengaruh terhadap negara (Setiawan, 2016).
Dukungan dari keluarga merupakan unsur terpenting dalam membantu individu menyelesaikan masalah. Apabila ada dukungan, rasa percaya diri akan bertambah dan motivasi untuk menghadapi masalah yang terjadi akan meningkat (Stuart dan Suden, 1995 dalam Tamher dan Noorkasiani, 2009). Dukungan keluarga membuat keluarga mampu berfungsi dengan baik sehingga dapat meningkatkan kesehatan serta adaptasi keluarga yang baik pula. Dalam dukungan keluarga tersebut memiliki 4 komponen dukungan yaitu dukungan emosional yaitu keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan emosi, dukungan penghargaan yaitu keluarga sebagai sebuah umpan balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah, dukungan informasi yaitu keluarga berfungsi sebagai penyebar informasi dan dukungan instrumental yaitu keluarga merupakan sumber pertolongan praktis konkrit (Friedman, 1998 dalam Hernilawati, 2013).
Dari data yang sudah dipaparkan dan fakta yang ada, dapat disimpulkan bahwa salah satu permasalahan yang dihadapi lansia adalah kurangnya kepedulian dan dukungna dari anggota keluarga kepada lansia, sehingga pemanfaatan pelayanan pemerintah yang diberikan kepada lansia seperti posbindu pun kurang dimanfaatkan. Dari permasalahan tersebut peneliti tertaruk untuk meneliti tentang
“ Gambaran Dukungan Keluarga Lansia Dalam Pemanfaatan Posbindu Lansia di RW 03 Kelurahan Garuda Kecamatan Andir Kota Bandung tahun 2017 ”.
1.2 Rumusan Penelitian
Bagaimanakah gambaran dukungan keluarga dalam pemanfaatan posbindu lansia di RW 03 Kelurahan Garuda Kecamatan Andir Kota Bandung tahun 2017 ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dukungan keluarga lansia dalam pemanfaatan posbindu lansia RW 03 di Kelurahan Garuda Kecamatan Andir Kota Bandung tahun 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi dukungan emosional keluarga dalam pemanfaatan posbindu lansia di RW 03 Kelurahan Garuda Kecamatan Andir Kota Bandung tahun 2017.
b. Mengidentifikasi dukungan penghargaan keluarga dalam pemanfaatan posbindu lansia di RW 03 Kelurahan Garuda Kecamatan Andir Kota Bandung tahun 2017.
c. Mengidentifikasi dukungan informasi keluarga dalam pemanfaatan posbindu lansia di RW 03 Kelurahan Garuda Kecamatan Andir Kota Bandung tahun 2017.
d. Mengidentifikasi dukungan instrumental keluarga dalam pemanfaatan posbindu lansia di Kelurahan Garuda Kecamatan Andir Kota Bandung tahun 2017.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Institusi Pendidikan
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan berguna sebagai bahan masukan untuk memperkaya pengetahuan dan pemahaman sehingga dapat manambah informasi dan membantu proses belajar bagi mahasiswa tentang dukungan keluarg adalam pemanfaatan posbindu lansia.
1.4.2 Profesi
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi untuk puskesmas khususnya bagi perawat komunitas yang berperam dalam program pengembangan puskesmas tentang kesehatan lansia dan pentingnya dukungan keluarga dalam pemanfaatan posbindu lansia sehingga menjadi pertimbangan dalam penyusunan program posbindu atau penyuluhan tentang posbindu oleh Puskesmas.
1.4.3 Peneliti Selanjutnya
Hasil peelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dalam data awal penelitian dan gambaran penelitian tentang dukungan keluarga dalam pemnfaatan posbindu lansia di kelurahan garuda kecamatan andir kota bandung tahun 2017.