EPS 55 : Devoted Husband
K
alimat Arran itu menggema di telinga Remi dan lengan kuat lelaki itu bergerak semakin kencang untuk memeluknya rapat, tubuhnya mendekat ke tubuh Remi, seolah-olah membutuhkan perempuan bertubuh mungil itu untuk menjadi sandarannya. Remi sendiri sangat ingin membagikan kekuatannya kepada Arran. Lengannya yang rapuh bergerak melingkari tubuh Arran dan membalas pelukan erat lelaki itu dengan sama kuatnya, ingin menunjukkan bahwa dia memiliki empati yang kuat dengan sikap tubuhnya.
Dua anak manusia itu berpelukan di antara bebungaan yang mekar, diiringi nuansa harum dari aroma bunga yang mekar yang melingkupi mereka seolah bekerjasama
menciptakan nuansa menenangkan penuh kedamaian di hati mereka.
Arran menenggelamkan kepalanya di sisi rambut Remi, menghirup kelembutan nan harum dari aroma perempuan itu. Remi terasa enak untuk dihirup, perempuan itu diliputi wangi shampo beraroma bunga dan juga diselubungi oleh aroma alami tubuhnya yang menguar samar dan menyapa indra penciuman Arran pun terasa menyenangkan untuk dinikmati.
Tanpa sadar lengan Arran mengencang kuat, semakin merapatkan tubuh mungil itu ke tubuhnya.
Meskipun dia yakin bahwa perasaan di antara ayah dan ibunya adalah sesuatu yang indah dan tulus, Arran tidak pernah mencoba memahami ikatan cinta di antara kedua orang tuanya dengan lebih dalam. Sebab, jauh di dalam benaknya, dia selalu berpikir bahwa cinta sejati di antara kaum pengubah wujud itu sesungguhnya tidak pernah ada.
Yang membuat kaum pengubah wujud saling mencintai, itu adalah ritual penyatuan yang ditandai dengan gigitan penandaan kepada pasangan.
Sebesar apapun mereka mencintai pasangan mereka, jika suatu saat terjadi insiden pasangan mereka ditandai oleh lelaki lain atau dia menandai perempuan lain, maka perasaan cinta kepada pasangan lamanya itu akan runtuh dengan kejam seketika dan dengan mudahnya akan beralih kepada orang dimana mereka melakukan ritual penandaan itu.
Kalau sudah begitu, sesungguhnya memang tidak ada cinta sejati yang sesungguhnya di antara kaum pengubah wujud, bukan? Yang menumbuhkan cinta itu adalah hormon alami yang menciptakan ikatan antara dua makhluk yang sudah menandai dan sudah ditandai.
Ya. Tidak pernah ada cinta sejati, hanya hormon alami yang mengikat hati. Itulah yang dipercaya oleh Arran selama ini. Itulah yang juga dipercaya oleh Arran sebagai sesuatu yang akan terjadi dalam hubungannya dengan Remi.
Selama ini dia selalu bersikap sinis terhadap ritual ikatan di antara kaum pengubah wujud yang mengikat mereka dengan pasangannya di luar kehendak pribadi makhluk itu sendiri. Dia menganggap mereka yang mengabdikan cinta kepada pasangannya adalah makhluk lemah yang rela diperbudak oleh perasaannya sendiri.
Karena itulah, ketika dia pada akhirnya berakhir menandai Remi dan mengikatnya ke dalam pernikahan, dia menutup hatinya rapat-rapat. Setiap dia merasakan
aliran perasaan hangat kepada perempuan itu, dia selalu menganggap bahwa itu hanyalah dorongan hormon alami. Ketika dia merasakan keinginan yang kuat untuk memeluk dan memiliki perempuan itu, dia merasakan bahwa itu juga desakan dari hormon alami, bahkan ketika dia merasakan kerinduan yang kuat saat perempuan itu tak ada di sisinya, Arran tetap berpikir bahwa hormon alami dari klan pengubah wujudlah yang menumbuhkan perasaan itu pada dirinya.
Namun, sekarang, saat dia memeluk perempuan ini dengan erat dan sedikit membuka hatinya untuk berbagi kesedihannya dengan Remi, Arran merasakan kedamaian aneh yang melingkupinya. Seolah- olah dia sudah tak perlu berlari dan mencari lagi, seolah-olah dia sudah menemukan tempat berpulang yang nyaman, yang menjadi ujung dari perjalanannya.
Apakah ini juga efek dari hormon alami di tubuhnya? Ataukah ini cinta?
Arran menghadiahkan kecupan di sisi kepala Remi. Senyuman muncul di bibirnya saat dia merasakan bagaimana Remi berjinjit dan melingkarkan lengannya kuat-kuat di tubuh Arran, seolah ingin menyalurkan kekuatan untuk menopangnya sekaligus berbagi kesedihan dengannya. Perempuan itu menangis bersamanya dan Arran sungguh berharap dia bisa tertawa bersama Remi seterusnya di masa depan nanti.
Pertanyaan yang sama terus terngiang di dalam kepalanya akhir- akhir ini. Apakah itu cinta? Entahlah,
bahkan Arran sendiri tak bisa menjawab pertanyaan yang dia ajukan kepada hatinya itu. Saat ini, dia memutuskan untuk tak memaksakan diri menelaah hatinya sendiri, dia hanya ingin menikmati saat-saat berharga ini di dalam genggamannya dengan sepenuh hati.
***
S
uara dentuman terdengar semakin keras, membuat jantung siapapun yang mendengarnya pasti akan bergetar karenanya.Safed menoleh ke arah para petugas yang bergerak cepat dan tergesa, lalu keningnya berkerut dalam melihat ekspresi ketakutan yang menghiasi wajah-wajah pucat mereka.
Ya, siapapun pasti akan ketakutan ketika melihat makhluk yang terbuat dari darah kental membentuk siluet seperti manusia tanpa bagian-bagian wajah, hanya terdapat lubang menganga besar di area yang seharusnya menjadi wajahnya dan terus menerus mengeluarkan suara jeritan yang memekakkan telinga. Belum lagi,
makhluk itu seperti kesetanan, bergerak terus menerus memukul- mukulkan tangannya ke pembatas kaca tebal itu, menciptakan retakan
demi retakan yang
mengkhawatirkan.
Kaca itu dibuat dari bahan khusus yang seharusnya bahkan tak akan bisa ditembus oleh peluru sekalipun. Namun, Safed tetap khawatir. Bagaimanapun, di dalam rumah perlindungan yang menyerap semua kekuatan magis saja, makhluk itu bisa sekuat ini dan memiliki daya pukul mengerikan hingga mampu menciptakan
retakan di kaca tersebut. Bagaimana kalau sampai makhluk itu berhasil memecahkan kaca pembatas tersebut dan keluar dari rumah perlindungan?
Tanpa kekuatan magis saja dia sudah sekuat ini, kalau sampai dia keluar dari rumah perlindungan, entah seperti apa kekuatan magis yang dimilikinya dan mungkin akan membuatnya jauh lebih mengerikan lagi dibandingkan sekarang.
Karena itulah Safed memutuskan untuk memerintahkan para pekerja membangun secepat kilat lapisan
kaca pelindung tambahan di depan kaca yang sudah retak itu. Demi keamanan, mereka menambahkan lima lapis lagi kaca pelindung yang sangat kuat sebagai jaminan supaya makhluk mengerikan itu tak bisa keluar dari ruangan tempatnya dikurung saat ini.
Para pekerja yang melakukan pekerjaannya itu menjalankan tugasnya sambil gemetaran menahan takut di tengah bisingnya suara teriakan dan pukulan-pukulan tanpa henti dari monster di belakang kaca tersebut. Hingga setelah beberapa lama kemudian,
mereka akhirnya berhasil menyelesaikan pekerjaannya setelah beberapa lama. Panel kaca pelindung lima lapis telah terpasang rapi dan sangat kuat, menahan kemungkinan untuk tertembus oleh kekuatan sebesar apapun.
Ketika salah seorang dari pekerja itu melapor kepada Safed sambil memohon izin untuk meninggalkan tempat ini karena sudah menyelesaikan pekerjaannya, Safed langsung berbaik hati memberikan izinnya. Dia tahu pasti bahwa para pekerja ini pasti merasa ngeri dengan pemandangan amukan
makhluk di belakang mereka dan ingin segera pergi dari tempat mengerikan ini.
Sepeninggal para pekerja, Safed melangkah lagi, mendekat ke depan cermin yang sekarang jauh lebih tebal dari sebelumnya dan bersedekap sambil mengamati monster darah hitam yang masih memukul-mukul kaca, kali ini dengan kemungkinan lepas yang sia-sia.
Firasat buruk terus menggaungi benak Safed ketika matanya mengamati monster itu dengan
saksama. Selama ini, dia tahu bahwa Sang Kolektor sangatlah kuat, tetapi dia sama sekali tak menyangka kalau Sang Kolektor memiliki kemampuan untuk menciptakan monster dari darah manusia.
Pengetahuan mereka tentang sang kolektor, selain hobinya menculik berbagai jenis klan pengubah wujud untuk dikoleksi kekuatannya dan dimodifikasi menjadi monster ciptaannya, adalah nol besar. Mereka semua tahu bahwa Ambrosia adalah wujud dari Sang Kolektor yang
sesungguhnya, dan bahwa perempuan berdarah campuran itu meninggalkan klan serta menyimpan dendam kepada kaum pengubah wujud, karena ditinggalkan oleh Zale yang memilih menikahi Rhea yang sama-sama memiliki darah murni.
Apakah cinta memang sebegitu
mengerikannya hingga
menciptakan dendam kesumat yang pada akhirnya menciptakan begitu banyak korban nyawa yang tak bersalah?
Safed tak pernah mengerti kenapa Ambrosia sedendam itu kepada klan pengubah wujud sehingga begitu bersemangat untuk menciptakan perang besar melawan seluruh anggota klan. Perempuan itu bahkan berniat mengobarkan pembantaian dengan membangun pasukan monster untuk menghabisi seluruh kaum pengubah wujud dan memusnahkan mereka tanpa sisa.
Sebegitu burukkah kaum pengubah wujud di mata Ambrosia sehingga perempuan itu ingin memusnahkannya sampai habis?
Pertanyaan Safed itu tentu saja tak bisa bersua dengan jawabannya, hanya berputar terus di dalam kepalanya layaknya tikus yang terperangkap di dalam sarang ular predator besar, berputar mencari jalan keluar tapi pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa dirinya terjebak di sana dan bahwa jalan keluar itu tak pernah ada.
“Tuan Safed.”
Suara Markus di belakangnya membuat Safed terbangun dari lamunannya. Lelaki itu menolehkan kepala ke arah Markus dan
beberapa anak buahnya yang muncul di belakangnya.
“Apakah kau sudah memperketat perimeter keamanan di sekitar rumah perlindungan ini?” Safed bertanya dengan cepat.
Arran memang memasang pelindung di sekitar kastil lama dan kastil baru yang menjadi tempat tinggalnya, dan itu termasuk rumah perlindungan yang menjadi bagian dari kastil lama. Namun, mengingat Ambrosia bahkan tidak perlu menggunakan kekuatan magis ituk membangunkan monsternya, bisa
saja Sang Kolektor menembus tameng perlindungan dan melakukan penyerangan dadakan kepada mereka. Kemungkinan itulah yang sangat ingin dihindari oleh Safed untuk saat ini.
“Kami sudah menyiagakan seluruh pasukan yang ada.” Markus menjawab cepat, memberitahukan perkembangan terbaru dengan patuh kepada Safed.
Tuan Arrannya telah bilang kepadanya, bahwa selama dia pergi, Tuan Safed akan datang dan mengambil alih kendali untuk
melindungi area ini, karena itulah Markus memutuskan untuk
mematuhi semua yang
diperintahkan oleh Safed sepenuhnya tanpa harus bertanya- tanya atau membantah.
Pukulan-pukulan makhluk itu masih terjadi, tanpa menyerah menggempurkan tangannya ke permukaan kaca, jeritannya yang mengerikan pun masihlah terdengar, meskipun sekarang suaranya sedikit samar karena teredam oleh lima lapisan kaca pelindung yang dipasang kuat di hadapannya.
Safed menatap kembali monster darah hitam itu sambil merenung, berusaha mencari celah yang bisa digunakannya untuk melumpuhkan makhluk itu jika dia terpaksa harus melawan satu lawan satu dengan makhluk tersebut.
Berbeda dengan monster lainnya yang menjadi ciptaan Sang Kolektor, jika monster lain memiliki raga dari tubuh klan pengubah wujud yang diculik dan telah dimodifikasi menjadi monster, monster yang satu ini bisa dibilang tidak memiliki raga.
Raga yang menjadi wadahnya adalah tubuh Lenka, tetapi anak kecil itu sekarang sudah mati kehabisan darah di atas ranjang di dalam ruangan itu. Safed menipiskan bibir dan menatap dengan perasaan pahit terhadap mayat anak kecil yang bahkan tak bisa diambilnya dari ruangan itu untuk disemayamkan dengan baik.
Dia tahu bahwa mereka tak bisa mengurung makhluk itu terus menerus di dalam ruangan tersebut.
Ada mayat Lenka yang harus dikeluarkan sebelum kondisinya memburuk di dalam sana.
Apakah ini rencana yang sengaja dibuat oleh sang kolektor? Dengan menciptakan makhluk dari serapan darah hitam Lenka, ada mayat Lenka yang tertinggal dan jika dibiarkan terus maka akan membusuk. Mau tak mau mereka harus mengeluarkan mayat itu dan itu berarti mereka harus masuk ke dalam ruangan itu dan menghadapi monster darah hitam tersebut.
Jika itu terjadi, maka akan terbuka kemungkinan bagi makhluk itu untuk keluar dari ruangan ini.
Padahal, sampai dengan saat ini, Safed masih belum bisa mengukur
kekuatan monster dengan penampilan mengintimidasi tersebut. Dia bahkan tak yakin bahwa kekuatannya sendiri mampu menghadapinya.
Safed menatap makhluk darah hitam yang begitu aktif seolah tak mungkin kehabisan energi itu dengan khawatir.
Jika satu makhluk saja sudah sehebat ini, akankah mereka semua bertahan saat perang besar dimana Sang Kolektor mengeluarkan koleksi monsternya yang jumlahnya tak terhitung?
“Kapan Arran kembali?” Safed merasa harus mendiskusikan langkah yang akan dia ambil dengan Arran, mereka harus memikirkan cara terbaik untuk menghadapi situasi ini.
Markus tampak kesulitan berucap, tetapi akhirnya dia menjawab juga.
“Kemungkinan besar, Tuan Arran tidak akan pulang malam ini. Saya menduga esok hari barulah Tuan Arran pulang bersama Nyonya Remi.”
Safed menyipitkan mata.
“Memangnya Arran pergi kemana?” tanyanya kemudian.
Sekali lagi, Markus tampak kesulitan berucap.
“T-tuan Arran membawa Nyonya Remi ke rumah di dalam hutan terlarang.” Larangan untuk menyebutkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibu Arran membuat Markus kesulitan untuk menyusun kalimatnya. “T-tuan Arran membawa Nyonya Remi untuk melihat rumah kaca. U-untuk melihat.... makam.”
Jadi, Arran sedang membawa Remi untuk melihat makam kedua orang tuanya. Safed langsung menyimpulkan dalam hatinya.
“Rumah di dalam hutan terlarang itu dilindungi oleh kekuatan magis yang sangat kuat. Tidak ada sesuatu pun yang bisa masuk menembus tameng perlindungan yang dibuat oleh Tuan Arran, bahkan setitik debu pun tidak bisa masuk.” Markus melanjutkan kalimatnya untuk menjelaskan kemudian.
“Sayangnya, hal itu juga membuat kita tidak bisa menghubungi Tuan Arran. Bisa dibilang jika berada di
dalam sana, maka akan berada di dalam selubung kuat yang memisahkan dengan dunia luar, seperti berada di dunia lain yang tertutup dengan waktu yang seolah terhenti.”
“Aku mengerti.” Kembali Safed menganggukkan kepala. Dia menghormati nuansa sakral yang dibutuhkan oleh Arran untuk membawa Remi ke makam kedua orang tuanya dan mungkin menceritakan kisah tragis kedua orang tuanya kepada Remi. Sudah tentu Safed tak akan mengusik Arran untuk saat ini.
Lagipula, spesialisasi kekuatan Arran adalah dalam hal mantra magis untuk membangun pelindung dan tameng yang tak tertembus.
Lelaki itu pasti menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk melindungi makam kedua orang tuanya.
Jika Arran sudah menggunakan kekuatannya, maka tak akan ada orang yang bisa menembusnya.
“Kalau begitu. Kita akan berada dalam posisi bertahan dan siaga untuk malam ini. Kita ambil giliran berjaga untuk mengawasi makhluk
ini tanpa jeda. Besok, ketika Arran pulang, barulah kita memikirkan langkah selanjutnya.”
Safed memutuskan dengan tenang kemudian dan Markus menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Setelah Markus meninggalkan ruangan, Safed mengalihkan pandangan matanya ke jendela luar.
Pemandangan kebun bunga matahari yang membentang indah itu untuk sejenak mengalihkan matanya dari pemandangan memuakkan monster darah hitam
yang terus memukul-mukul kaca tersebut.
Pikiran Safed menerawang, terpengaruh oleh perkataan Markus sebelumnya.
Makam kedua orang tua Arran...
Zale dan Rhea.
Arran selalu bersikap sinis dan memusuhinya karena menganggap Safed memiliki cinta terpendam yang tak kesampaian kepada Rhea ibunya. Ya, Rhea sebelumnya memang adalah tunangan Safed yang akan dinikahinya. Namun, sebuah insiden membuat Rhea
akhirnya berakhir dengan Zale dan bukan dengannya.
Selama ini Safed tidak pernah memperlakukan Arran dengan baik, bahkan ketika Arran yang yatim piatu menjadi muridnya pun, dia memperlakukannya dengan tangan besi, memberinya pelatihan yang keras tanpa hati dan bahkan merentangkan seluruh kekuatan Arran sampai di batasnya untuk melatih kekuatannya.
Mungkin karena itulah Arran
mengira bahwa Safed
melampiaskan dendamnya karena
kehilangan Rhea kepada dirinya.
Namun, sesungguhnya, bukan itu alasannya. Safed memperlakukan Arran dengan buruk, karena setiap dia melihat Arran, ada sesuatu yang menusuk jantungnya dan membuatnya merasa sakit. Seolah- olah setiap melihat Arran, ada nurani yang membisikkan kalimat absurd di dalam kepalanya, sebuah bisikan serupa bisikan setan yang mebuat hatinya remuk redam.
Bisikan itu berkata bahwa seharusnya dia juga memiliki anak seperti Rhea dan Zale, seharusnya jika dia memiliki seorang anak, maka
anak itu mungkin akan berdiri di hadapannya dan menjadi muridnya untuk dilatih sepenuh hati.
Perasaan kosong itu, entah kenapa terpenuhi seketika, seolah tergenapi ketika Safed melihat Remi untuk pertama kalinya. Mungkin jauh di dalam hatinya, di dalam kesendiriannya, dia merindukan untuk memiliki seorang anak perempuan. Karena itulah, dia tidak bisa memperlakukan hal yang sama antara Arran dengan Remi. Baginya, Remi dan Safed jelas berbeda. Remi menggenapi kekosongan hati Safed,
sementara Arran meniciptakan perasaan kosong di hatinya.
Perasan kosong dan kehilangan itulah yang membuat Safed memperlakukan Arran dengan buruk dan dipenuhi dengan rasa getir.
Menyangkut Rhea sendiri, ada perasaan familiar ketika dia melihat wajah perempuan itu, tetapi jauh di dalam hatinya, dia sadar bahwa dia tidak memiliki perasaan apapun kepada perempuan itu.
Zale dan Rhea adalah pasangan yang berakhir tragis karena Sang
Kolektor, mereka adalah korban dari Sang Kolektor yang memiliki nafsu kejam untuk menghancurkan klan pengubah wujud.
Tatapan Safed mengeras. Dahulu, dia masih tak peduli dengan kaum pengubah wujud sehingga tak bisa memberikan bantuan apapun saat Zale dan Rhea meninggal dengan tragis. Sekarang, dia adalah pemimpin para tetua serta memiliki kekuatan serta kekuasaan di tangannya.
Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya saat ini, Safed
mungkin bisa menggunakan kekuatannya untuk melindungi Arran dan Remi, supaya mereka tidak berakhir tragis seperti Zale dan Rhea.
***
E
ntah sudah berapa lama mereka berdua berpelukan dalam nuansa syahdu di rumah kaca itu.Arran sepertinya belum ingin melepaskan Remi dalam waktu dekat, dan Remi sendiri tidak keberatan dipeluk seperti itu.
Arran terasa hangat dan menyenangkan, tubuhnya yang kokoh dan jauh lebih besar dari Remi membuatnya bisa melingkupi tubuh Remi dan membuatnya nyaman.
Namun, tubuh Remi sepertinya tidak bisa diajak bekerja sama, terutama di bagian perutnya yang menagih minta diisi.
Suara bergemuruh yang cukup keras terdengar menggema di rumah kaca yang hening itu, tidak bisa ditahan dan berbunyi kencang,
membuat pipi Remi langsung merah padam, dilanda malu setengah mati.
Arran berdehem perlahan, seolah menahan tawa. Lelaki itu sedikit merenggangkan pelukannya, tetapi Remi yang malu
menundukkan kepala,
menyembunyikan wajahnya di dada Arran dan tak mau mengangkat kepalanya.
“Apakah kau lapar?” Arran menggerakkan tangannya untuk menyentuh dagu Remi, lalu mendongakkan wajah perempuan itu menghadap ke arahnya.
Dinikmatinya wajah cantik Remi yang dihiasi dengan rona merah yang menggurati permukaan kulitnya.
Mata Remi terlihat bening dan perempuan itu menggigit bibirnya perlahan.
“K-kurasa aku memang lapar.”
Remi berucap dengan nada malu setengah mati, apalagi perutnya kemudian berbunyi lagi, seolah sedang berusaha keras untuk mempermalukan Remi sepuasnya.
Kali ini Arran melepaskan kekehannya. Suara tawanya
terdengar lepas dan ringan, menularkan senyuman yang sama di bibir Remi.
“Kurasa kita sudah selesai memberi salam kepada kedua orang tuaku. Mereka sepertinya juga sudah cukup puas melihat menantunya.”
Arran berucap lembut dan mengecup pucuk kepala Remi.
Lelaki itu kemudian merangkul Remi dalam perlindungan lengannya yang kuat.
“Ayo, sudah waktunya aku memberi istriku makan.”
Dengan lembut Arran menghela tubuh Remi ke dalam pelukan lengannya dan membawa perempuan itu berbalik, melewati jalan setapak yang sama yang mereka lalui sebelumnya untuk melangkah keluar dari rumah kaca itu.
***
“Makhluk itu sudah bangun?”
Conrad langsung bertanya ketika melihat Ambrosia membuka matanya.
Perempuan itu menghabiskan sepagian ini untuk duduk di kursi
kerjanya yang besar, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi itu, lalu memejamkan matanya rapat selama berjam-jam.
Orang biasa mungkin melihat bahwa Sang Kolektor sedang bermalas-malasan dan tidur nyenyak di atas kursinya. Namun, Conrad tahu bahwa Sang Kolektor sedang berkonsentrasi. Perempuan tangguh itu tengah memusatkan seluruh kekuatannya untuk membangunkan monster darah hitam yang ditanamnya di dalam tubuh Lenka.
Bocah malang itu telah dibuat menjadi wadah dan cangkang dari monster darah hitam yang diciptakan oleh sang kolektor. Nasib Lenka mungkin bisa dibilang buruk, dia tak berdosa, tetapi terjebak situasi dimana dia akhirnya diperalat dan menjadi korban.
Namun, Conrad sama sekali tak memiliki penyesalan untuk Lenka.
Ibu anak itu adalah perempuan jahat yang menyiksa Remi dengan keji setiap malam dengan pukulan dan cambukan.
Lagipula, hati Conrad mungkin sudah mati sehingga dia tak
merasakan setitikpun rasa penyesalan di dalam jiwanya.
Mata Conrad mengawasi Ambrosia yang telah berubah menjadi sang kolektor. Sama seperti dirinya, jiwa Ambrosia yang telah dipanggil dari kegelapan dan dibangkitkan dari kematian telah kehilangan sisi terang dan manusiawinya.
Terkadang Conrad bertanya- tanya. Apakah jika Ambrosia yang asli melihat perbuatan Conrad selama ini, perempuan itu akan mengutuk dan marah kepadanya?
Bibir Conrad dipenuhi oleh senyuman sedih nan pilu. Ya, sudah pasti Ambrosia yang asli akan memarahinya habis-habisan.
Perempuan itu terlalu baik hati dan mungkin tak akan menyimpan dendam meskipun dia diperlakukan dengan buruk dan diinjak sampai serendah-rendahnya. Sayangnya, Conrad tak sebaik Ambrosia. Dia sudah bertekad akan membalaskan
dendam Ambrosia dan
memusnahkan seluruh kaum pengubah wujud hingga tak bersisa.
Kaum pengubah wujud selalu merasa bahwa diri mereka berada di
atas yang lain hingga merasa berhak menghancurkan kehidupan makhluk lain yang mereka anggap lebih rendah dari mereka. Conrad akan memastikan kaum pengubah wujud menyadari, bahwa mereka hanyalah setitik debu dengan kekuatan lemah jika dihadapkan dengan kekuatan Sang Kolektor.
“Aku sudah membangunkan monster itu dan mengalirkan energiku kepadanya.” Sang Kolektor menjawab dengan tenang, tak ada ekspresi di wajahnya. “Makhluk itu akan terus aktif sampai mendapatkan yang dia mau,”
sambungnya kemudian dengan tenang, menyimpan nada misterius di dalam suaranya.
***
A
roma harum menyeruak ke seluruh penjuru ruangan, apalagi dengan area dapur yang tak berpembatas di rumah itu.Tangan Arran terlihat cekatan mengiris sayuran dan bumbu dengan gerakan konstan dan ketipisan yang sempurna di atas talenan marmer yang tersedia di meja dapur tersebut.
Sementara itu, Remi duduk menunggu dan mengamati. Arran memintanya duduk saja dan beristirahat ketika lelaki itu memasakkan makanan untuknya, dan Remi tidak membantah. Dia tahu bahwa bagi Arran, dapur dan proses memasak yang dilakukannya adalah kuil sakral yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun.
Selain itu, Remi sendiri tidak memiliki kepercayaan diri untuk membantu memasak seorang koki ahli seperti Arran.
Mata Remi mau tak mau terpaku pada jari jemari Arran yang
meskipun tampak kuat dan kokoh, tetapi berukuran panjang dan lentik.
Tangan Arran tampak sangat pas memegang pisau itu, seolah-olah lelaki itu memang telah begitu terlatih menggunakan pisaunya untuk mengolah makanan.
Tatapan Remi lekat pada wajah Arran yang sedang berkonsentrasi memasak. Lelaki itu memasang wajah seriusnya yang biasa, dengan kening setengah berkerut dan bibir menipis.
Tiba-tiba saja senyum terulas di bibir Remi. Entah kenapa ketika
memasak, Arran tampak lebih manusiawi, lelaki itu terlihat sangat menikmati apa yang sedang dilakukannya dan terlihat berbahagia.
Arran tiba-tiba saja menolehkan kepala dan matanya langsung bersirobok dengan mata Remi yang sedang mengamati. Seketika Remi mengalihkan pandangan dengan wajah memerah, malu karena ketahuan sedang mengawasi suaminya dengan saksama.
Sayangnya, melihat pipi Remi yang memerah itu, Arran sama
sekali tak punya belas kasihan untuk berpura-pura tak sadar bahwa dirinya sedang dikagumi, lelaki itu malahan melemparkan tatapan menggoda ke arah Remi dan bibirnya membentuk senyuman sensual yang kentara.
“Suka dengan apa yang kau lihat?” tanyanya perlahan, membalikkan tubuhnya perlahan seolah memberikan kesempatan Remi untuk mengagumi keindahan fisik dan wajahnya sepuasnya.
Bersambung ke Part berikutnya
DO NOT COPY
COPYRIGHT BY PSA [ PROJECTSAIRAAKIRA ] Follow Instagram @projectsairaakira
www. projectsairaakira.com
aplikasi @GooglePlay : PSA Vitamins Reader
EBOOK PSA TERSEDIA DI GOOGLE PLAYBOOK Kata kunci playbook: sairaakira
KONTEN INI TIDAK TERSEDIA DI PLATFORM LAIN
Jika Anda mendapatkan akses baca part ini bukan melalui website projectsairaakira.com/ aplikasi PSA Vitamins Readers, maka Anda telah membaca dari sumber ilegal dan ikut serta dalam tindakan akses ilegal
serta penyebaran bajakan yang merupakan tindakan kriminal dan dapat kami proses secara hukum.