Edisi 1172
Tahun XXIV/2022 Jum’at, 29 Dzulhijah 1443 H / 29 Juli 2022 M
Diterbitkan oleh :
Bidang Penyelenggara Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI)
MUHASABAH DIRI SEBAGAI REFLEKSI
KEIMANAN KEPADA ALLAH
Waktu Adzan : 12.03 WIB
Khatib : Prof. Dr. Arif Satria. SP, M.Si Imam I : H.A. Rofi’uddin Mahfudz, M.Ag Imam II : H. Martomo Malaing, SQ, MA Muadzin I : Qadarasmadi Rasyid, S.Hum Muadzin II : H. Ahmad Achwani, S.Ag Qori : H. Ahmad Achwani, S.Ag
(Maqro : QS. Ali Imran ayat 1 - 5)
Agenda Shalat Jum’at Masjid Istiqlal
Tanggal 29 Dzulhijah 1443 H / 29 Juli 2029 M
nPengantar Redaksi - 1 nKhutbah Jum’at - 2 nHikmah - 13 nGoresan Imam Besar - 15 nKajian Zhuhur Pilihan - 17 nPelayanan Bimbingan Ikrar Syahadat - 20 nUPZ BAZNAS Istiqlal- 20 nPelayanan Masjid Istiqlal - 21 nJadwal Narasumber Kajian Dialog Zhuhur - 22 nShalat Ghaib - 22 nJadwal Waktu Shalat - 24 nPelaksana Penerbitan Mimbar Jum’at - 24
Daftar Isi
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah bersabda : Artinya : “Apabila engkau berkata pada temanmu “diamlah”
sewaktu imam (khatib) berkhutbah, maka engkau telah lalai (telah sia-sialah pahala Jum’atnya)” (HR. Bukhari dan Muslim).
IBADAH SHALAT JUMAT TERBUKA UNTUK UMUM DENGAN MEMATUHI PROTOKOL KESEHATAN
Disiarkan Langsung :
TELEVISI REPUBLIK INDONESIA (TVRI) Nasional YOUTUBE MASJID ISTIQLAL TV
PENGANTAR REDAKSI
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Di penghujung tahun 1443 Hijriah ini, semoga para pembaca Mimbar Jum’at selalu mendapatkan nikmat iman, Islam dan kesehatan lahir dan batin.
Akhir tahun biasa dipergunakan untuk intropeksi diri dan merefleksikan semua kejadian dan pencapaian selama tahun yang akan ditinggalkan. Dengan demikian diharapkan dapat menjadi catatan untuk modal berbuat lebih baik dan lebih bijaksana pada masa kemudian. Aamiin.
Khutbah Jum’at pekan ini disampaiikan oleh Prof. Dr. Arif Satria.
SP, M.Si (Ketua Umum ICMI/ Rektor IPB ) dengan judul “Muhasabah Diri sebagai Refleksi Keimanan kepada Allah”. Khutbah memberi pesan agar kita melakukan evaluasi diri atas pencapaian masa lalu agar dapat memperbaiki diri pada tahun berikut.
Goresan Imam Besar mengangkat judul “Hakikat Alam Barzakh” dimana kata barzakh sering diartikan sebagai antara dunia dan akhirat, dari waktu kematian sampai hari kebangkitan. Barang siapa yang meninggal berarti memasuki alam barzakh.
Hikmah edisi ini mengajak untuk merenungkan QS. Ali Imran ayat 26 dengan judul “Seberapa Hebat Manusia”, Tuan Guru Saparwadi, SE.I menyampaikan bahwa sehebat-hebatnya manusia, harta yang ia peroleh hanya bisa dinikmati berupa makanan, minuman, dan perasaan. Katakanlah ia (manusia) bisa memperoleh harta bergunung-gunung, atau seluruh harta di dunia ini ia miliki namun hanya sedikit yang ia bisa nikmati.
Dialog Zhuhur pilihan menampilkan Dr. H. Sholeh Asri, MA dengan kajian Tafsir Jalalain: QS, Al-Baqarah ayat 217, kajian ini membahas tentang pentingnya menjaga keimanan di akhir zaman yang penuh dengan fitnah terkait masalah keduniaan. Rubrik lain tetap rutin memberilan informasi tentang pengajian, jadwal pelayanan, aneka kegiatan dan galeri. Selamat merenung dan berefleksi, semoga bisa mencapai hakekat kesadaran diri dan mencapai derajat kemanusiaan yang lebih baik di tahun 1444 H. Kami mohon maaf apabila pada persembahan Mimbar Jum'at edisi tahun ini masih banyak kekurangan. Semoga ke depan Mimbar Jum'at menjadi lebih baik, lebih matang dan lebih mencerahkan. (BUT)
Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah.
Khatib mengajak diri sendiri dan para jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, mempertajam kesadaran ilahiah, mempertebal sikap berserah diri kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan ummatnya.
Allah subhanahu wata'ala memerintahkan kita untuk meningkatkan iman dan taqwa karena itu Allah subhanahu wata'ala
KHUTBAH JUM’AT
Oleh : Prof. Dr. Arif Satria. SP, M.Si
(Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) / Rektor Institut Pertanian Bogor)
Khutbah Pertama
(Intisari Khutbah Jum’at, 29 Dzulhijah 1443 H / 29 Juli 2022 M)
Muhasabah Diri sebagai Refleksi Keimanan kepada Allah
دْمَحْلَا َّ ّلِل يّ َلَّا َل َسْرَأ َل ْو سَر ى َد هْل ّبِ
ّنْيّدَو ّ قَحْلا هَرّه ْظ يّل
َلَع ّنْيّ لا ّهّ ك ْوَلَو َهّرَك َن ْو رّف َكَْلا .
دَه ْشَأ ْنَأ َل َٰل ا ِ َل ا ِ
،الله
دَه ْشَأَو َنَأ ا ًدَمَح م لْو سَر ٰ لِلا َّتاَخ ّءايّبْنَ ْلْا ْيّل َسْر مْلاَو
َم هَللَا ّ ل َص َلَع َنّدّ ي َ س دَمَح م َلَعَو ّّل أ ّهّباَ ْصَْأَو ْنَمَو
ْم هَعّبَت
نا َسْح ِ ّبِ
َل ا ِ ّمْوَي َنْيّ لا َي . اَ هيَُّأ َنيّ َلَّا او نَم أ او قَتا َ ٰ لِلا َقَح
ّهّتاَق ت
َل َو
َن تو مَت
َل ا ِ
ْ تْنَأَو
َنو مّل ْس م
mengingatkan untuk senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi terhadap diri kita. Hal ini seperti diperintahkan Allah dalam firman-Nya :
Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dengan panggilan yang spesifik.
Allah subhanahu wata'ala memerintahkan orang–orang yang beriman untuk bertakwa kepada Allah, yaitu menjunjung (mematuhi) seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan- Nya, yang nyata atau yang tersembunyi, serta mensyiarkan kebesaran kemuliaan Allah subhanahu wata'ala.”
Setelah memerintahkan bertakwa, Allah subhanahu wata'ala memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan introspeksi terhadap diri mereka. Al-Quran menegaskan sebagai berikut :
Jika kita cermati, terdapat tiga keterangan waktu pada ayat di atas, sebagai bentuk introspeksi terhadap diri. Ketiga keterangan waktu tersebut adalah :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);
dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Hasyr : 18).
“Hai orang-orang yang beriman”.
“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”.
• Waktu sekarang, yaitu ( ). Kita diperintahkan untuk memperhatikan dan meneliti kondisi saat ini. Setiap mukmin menyadari bahwa kesempatan adalah karunia terbesar yang harus disyukuri dengan berbuat yang terbaik agar dapat membangun jejak-jejak kehidupan dan menjadi warisan terbaik dihadapan Allah,
• Waktu yang telah lalu, yaitu ( ). Pengertian ini merujuk pada segala hal yang telah diperbuat pada masa lalu sebagai nasehat dan pelajaran terbaik
• Masa depan, yaitu ( ). Semua itu dilakukan agar kita tidak mengulangi kesalahan. Selain itu, proses introspeksi dilakukan agar kita dapat melakukan hal-hal yang lebih baik pada masa yang akan datang.guna menhadirkan kebaikan dan kemanfaatan bagi umat manusia
Jika dirangkai menjadi satu, maka muhasabah diri adalah memperhatikan dan meneliti segala sesuatu yang telah dilakukan pada masa lalu dan masa kini untuk kebaikan di masa depan. Itulah maksud dari surat al-Hasyr ayat 18 tersebut. Perbuatan yang bisa menghubungkan masa lalu dengan masa depan yang lebih baik adalah introspeksi diri. Dalam istilah bahasa Arab disebut juga dengan “muhasabah diri.”
Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dirahmati Allah.
Muhasabah adalah meneliti perbuatan kita pada masa lalu dan masa kini, apakah ia merupakan perbuatan baik atau perbuatan buruk. Dengan muhasabah diri, perbuatan baik pada masa lalu bisa ditingkatkan pada masa depan, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Dengan muhasabah, perbuatan buruk pada masa lalu tidak perlu diulangi pada masa yang akan datang. Maka dengan muhasabah, hari esok kita akan lebih baik, di dunia juga di akhirat Insya Allah. Sahabat Umar Ibnul Khaththab r.a. berkata:
اوُب ِ ساَح ُْك َسُفْنَأ َلْبَق ْنَأ اوُب َ ساَ ُتُ
Artinya : “Hendaklah kalian menghisab (mengintrospeksi) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah subhanahu wata'ala)”
(H.R. At-Tirmidzi-Ahmad).
ْر ُظْنَتْلَو
تَمَّدَق
دَغِل
Bila kita cermati, paling tidak ada 3 (tiga) makna penting yang terkandung dalam proses muhasabah ini. Pertama, orang yang rajin melakukan muhasabah sesungguhnya merupakan sosok pembelajar, dan kita dituntut untuk menjadi pembelajar sejati sepanjang hayat.
Banyak kisah dalam Al-Qur’an yang harus menjadi bahan pelajaran untuk peringatan ke depan, dan hanya sosok pembelajar yang bernama Ulul Albab yang mampu belajar dari Kisah-kisah masa lalu tersebut.
Allah berfirman dalam al-Qur'an Surat Yusuf ayat 111, yang artinya: "Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman".
Sosok pembelajar sejati adalah sosok yang selalu berpikir dan berpikir, sehingga mampu mengakumulasi ilmu yang didapatkan untuk diamalkan. Itulah mengapa Allah meningkatkan derajat orang-orang yang berilmu. Tidak lain karena orang-orang yang berilmu inilah yang diharapkan bisa terus menebar rahmat di muka bumi. Orang-orang yang berilmu lah yang bisa merancang arah perubahan sosial di masa depan. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS.
Al-Mujadalah: 11).
Sosok ulul albab yang pembelajar ini semakin diharapkan perannya dalam transformasi bangsa. Oleh karena itu di era yang serba cepat dan penuh ketidakpastian ini, maka sosok pembelajar juga harus dimaknai sebagai sosok yang adaptif dengan pola pikir tumbuh (growth mindset), yang terus memacu skill dan kompetensi baru dengan learning agility yang tinggi. Kemampuan kecepatan belajar ini sangat penting agar bisa berperan menjadi trend setter perubahan.
Kedua, muhasabah mengandung makna perlunya orientasi pada masa depan. Tujuan evaluasi diri adalah untuk kelebihbaikan di masa depan. Ada dua dimensi masa depan, yaitu masa depan
di dunia dan di akhirat. Ayat surat al-Hasyr ayat 18 yang tadi saya bacakan merupakan fondasi tentang visi masa depan. Visi besar seorang mukmin adalah menjadi hamba yang berbahagia di dunia dan akhirat. Keseimbangan masa depan di dunia dan akhirat adalah keniscayaan, sebagaimana doa kita sehari-hari :
Dunia adalah jembatan menuju akhirat. Karena itu kehidupan dunia pun tidak boleh ditinggalkan. Marilah kita cermati ayat-ayat berikut ini:
اَنَّبَر اَنِت آ اَيْنُّلدا ِف ةَن َ سَح ِف َو ِةَرِخ ْلا ةَن َ سَح اَنِقَو َباَذَع ِراَّنلا
Artinya : Artinya: “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”
Artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS. al-Jumu’ah: 10).
Artinya : “Maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan” (QS. al-Ankabut: 17).
Namun demikian, berburu dunia pun tidak boleh melupakan akhirat. Marilah kita ingat kisah Qarun yang berlimpah harta namun akhirnya binasa. Qarun adalah orang saleh miskin yang kemudian minta tolong Nabi Musa agar didoakan kaya. Namun setelah kaya raya dia menjadi sombong dan meninggalkan ibadah serta tidak lagi peduli sesama. Jadi ayat tersebut mengingatkan kita perlunya keseimbangan dunia dan akhirat.
Sementara itu, dalam QS. Yasin ayat 12 Allah berfirman:
Ayat ini semakin menegaskan bahwa apa yang kita kerjakan di dunia adalah investasi untuk akhirat. Artinya, kehidupan akhirat kita akan sangat tergantung dari apa yang kita kerjakan dan investasikan di dunia ini.
Oleh karena itu di dunia ini kita dituntut untuk mampu menciptakan masa depan. Dengan mampu menciptakan masa depan
Artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. al-Qasas : 77).
Artinya : “Maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan” (QS. al-Ankabut: 17).
Artinya : “Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh)”.
berarti kita ini akan menjadi penentu kecenderungan perubahan di dunia. Bukankah misi rahmatan lil alamin sesungguhnya adalah sebuah misi mulia untuk menciptakan tatanan perubahan menuju kelebihbaikan dan kemajuan?
Ketiga, muhasabah mendorong jiwa berprestasi. Muhasabah diri akan mendorong sesorang untuk mengasilkan kebaikan, kemanfaatan dan termotivasi untuk terus berprestasi karena terus berupaya belajar dari masa lalu untuk kelebihbaikan di masa depan. Orang yang berprestasi adalah orang yang mau belajar dari masa lalu, baik masa lalu dirinya maupun orang lain. Selain itu, juga karena orang yang berprestasi yakin bahwa Allah subhanahu wata'ala sangat detil dan akurat dalam mencatat setiap kabaikan hambanya, Allahsubhanahu wata'ala berfirman :
Orang yang berprestasi adalah orang yang ingin terus bergerak ke depan dan berada dalam rel kemajuan. Orientasi untuk bergerak maju tersebut didasari pada dua hal. Pertama, menjalankan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi yang harus memakmurkan dan sekaligus menjaga kehidupan dunia dari kerusakan (QS. Hud:
61; QS. al-Anbiya: 107; QS. al-Baqarah: 30; QS. al-Baqarah:11).
Orientasi maju adalah konsekuensi dari tanggung jawab manusia yang memang diciptakan untuk menjaga bumi, karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang dikaruniai kelebihan daripada makhluk lainnya (QS. at-Tiin:4; QS. al-Isra’: 70).
Kedua, sebagai bentuk syukur kita atas nikmat yang tak terhingga dari Allah subhanahu wata'ala (QS. an-Nahl : 4), baik nikmat kehidupan, nikmat kemerdekaan, dan nikmat iman. Nikmat
Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. al-Zalzalah: 7 - 8).
Allah kepada kita akan secara akumulatif membesar dan membesar manakala kita selalu mensyukurinya dengan jiwa dan tindakan nyata yang impactful. Apabila kita bersyukur akan bertambah nikmatnya, sebagaimana al-Qur'an Surat Ibrahim ayat 7 :
Orang yang berprestasi adalah tanda orang yang pandai bersyukur. Oleh karena itu orang yang berprestasi pada akhirnya adalah orang yang memperoleh nikmat lebih. Apalagi kalau kita juga ingat kata-kata mutiara :
Orang yang beruntung adalah orang yang memperoleh nikmat lebih. Dan sebenarnya disinilah kita semakin memahami bahwa barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia.
Manusia yang tidak mau melakukan muhasabah, maka dia dapat dikategorikan sebagai manusia yang sombong. Mengapa? Karena
Artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Artinya : “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat”.
نَم َن َكَ
ُهُم وَي اً يَۡخ نِم ِه ِس مَا َوُهَف ُحِباَر نَمَو . َن َكَ
ُهُم وَي هلس مَا لثم
نوُب غَم وهف نَمو . نكَ
اًّ َشَ هموي
نِم
هسما
نوُع لَم وهف
orang yang sombong merasa dirinya telah sempurna, sehingga ia merasa tidak perlu melakukan introspeksi. Ia merasa selalu baik, benar, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Kesombongan inilah yang menutup manusia dari kebenaran, karena dia tidak pernah muhasabah (introspeksi) terhadap dirinya. Allah azza wa jalla berfirman:
Marilah kita terus bermuhasabah, agar kita menjadi pembelajar, berorientasi masa depan, dan berprestasi. Orang yang bermuhasabah juga sejatinya adalah orang yang rendah hati karena menyadari bahwa dirinya belum sempurna sehingga terus belajar dan kerja keras untuk menjadi lebih baik di masa depan.
Namun demikian, yang kini harus kita pikirkan juga adalah bagaimana mentransformasi muhasabah personal menjadi muhasabah kolektif. Sehingga, kita tidak saja memikirkan kelebih- baikan diri kita pasca evaluasi diri, namun juga memikirkan kelebihbaikan umat dan bangsa ini secara institusional. Dengan demikian, marilah kita juga melakukan muhasabah kolektif untuk mengantarkan kita sebagai umat Islam dan bangsa Indonesia yang maju, adil dan makmur yang diridhai Allah subhanahu wata'ala di masa mendatang.
Semoga Allah menganugerahkan kekuatan kepada kita untuk dapat melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap diri sendiri maupun kolektif. Dengan muhasabah itu semoga Allah subhanahu wata'ala memudahkan hisab kita kelak di yaumul qiyamah. Aamiin.
اكار ابَ
ه ّٰللا ي ِل يهكالاو ِن آيرهقيلا ِف
، ييِْراكيلا ِناعافاناو يهك ايَّ
ِ ااو اامِب ِهييِف انِم
ِت ايَّ يلا ِريكِّلااو
، ييِْكاحيلا هلوهقَآ
،نوهعام يسات اام هرِفيغات ي سَآاو
ّٰللا اييْ ِظاعيلا
ي ِل يهكالاو ينِم ِّ هك
، ٍبيناذ
،ه يو هرِفيغات ي سااف ههان ا ِ
اوهه هروهفاغيلا ييِْحارلا
Artinya : “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS. al-Mukmin : 35).
...
29 Dzulhijah1443 H / 29 Juli 2022 M 11 Khutbah Kedua
ن إ ِ َدْمَحْلإ َّ ّلِل ُه ُدَمْ َنَ
ُهُنْيّعَت ْ سَنَو ُهُرّفْغَت ْ سَنَو
ُذْوُعَنَو ٰ لِل ّب ْنّم ّر ْوُ ُشُ
اَن ّ سُفْنَأ ّتاَئ ي َسَو اَنّلاَ ْعَْأ ْنَم ّهّدْ َيَ
ُ ٰ لِلإ َلَف ل ّضُم ْنَمَو َُل ْلّل ْضُي َلَف
َيّداَه َُل ُدَه ْشَأ ْنَأ َل َل إ ِ ل إ ِ ُ ٰ لِلإ ُدَه ْشَأَو نَأ إ ًد مَحُم ُه ُدْبَع ُُل ْو ُس َرَو
مُهللَإ ل َص ْ ل َسَو د مَحُم لىَع
لىَعَو ّّل أ ّهّباَ ْصَْأّو ْنَمَو ْمُهَعّبَت نا َسْح ِ ّب
َل إ ِ ّمْوَي نْي لدإ اَ يََأ َيَ . َنْيَ لّإ إْوُنَم أ إوُق تإ ٰ لِلإ قَح ّهّتاَقُت َل َو نُتْوُمَت ل إ ِ
ُْتْنَأَو َن ْوُمّل ْسُم
Jamaah shalat Jumat yang senantiasa diberkahi oleh Allah ta’ala … Muhasabah diri adalah sebuah keniscayaan dan sekaligus refleksi keimanan kepada Allah subhanahu wata'ala. Iman dan taqwa dalam diri kita berflutuasi, kadang naik dan kadang turun. Marilah kita senantiasa melakukan muhasabah diri dan terus meminta pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam melakukannya.
Semoga Allah membimbing kita semua selalu ingat kapada-Nya, besyukur atas nikmtnya dan memperbaiki ibadah kepada-Nya.
ن إ ِ ه للَإ ههتهكِئ هلَهمهو هنوُّل هص ي
هلهع يِ ِب نلإ هي اه ُّيَُّأ هنيِ لَّإ إو نهم أ إوُّل هص ِهْيهلهع
إو ميِل هسهو ايمِل ْسهت م ه للهإ . يِل هص هلهع د مهح م هلهعهو ِل أ د مهح م ههكَ
هتْي ل هص
هلهع هْيِهإهرْبِإ هلهعهو ِل أ
،ه ْيِهإهرْبِإ هك ن
ِ إ دْيِ هحَ
دْيِجهم ْكِر هبَ هو . هلهع د مهح م
هلهعهو ِل أ د مهح م ههكَ
هتْكهر هبَ
هلهع هْيِهإهرْبِإ هلهعهو ِل أ
،ه ْيِهإهرْبِإ هك ن
ِ إ
دْيِ هحَ
دْيِجهم م هللإ .
ْرِفْغإ ه ْيِمِل ْس مْلِل ِتاهمِل ْسلمإهو
ه ْيِنِمْؤلمإهو
ِتاهنِمْؤلمإهو ِءاهيْحَلأإ
ْم ْنِْم ِتإهوْمَلأإهو هك ن
ِ إ عْيِ هسَ
بْيِرهق بْيِج م ِةهوْع لدإ
اهن بهر . ْغِز ت هل ل ق اهنهبو هدْعهب ْذ إ ِ اهنهتْيهدهه ْبهههو اهنهل ْنِم هكْن هلد اةه ْحَهر هك ن
ِ إ
هتْنَأ با ههوْلإ
م ه للإ نَ إ ِ ه لَأ ْسهن ى هد هلإ ىهقُّتلإهو هفاهفهعلإهو هنِغلإهو
م ه للإ . ْن ِسْحَأ
اهنهتهبِقاهع ِرو مُلأإ ِف
اههيِ ك هنَ ْرِجَأهو ْنِم ِىْزِخ اهيْنُّلدإ ِبإهذهعهو ِةهرِخ لأإ
اهن بهر اهنِت أ اهيْنُّلدإ ِف اةهن ه سهح ِف هو ِةهرِخ ْلأإ اةهن ه سهح اهنِقهو هبإهذهع ِرا نلإ .
ل هصهو الل هلهع اهنيِيِبهن د مهح م هلهعهو ِِل أ ِهِبْ هصَهو هو ْنهم ْم ههعِبهت نا هسْح ِ ِبَ
هل إ ِ ِمْوهي نْييلدإ . رِخ أهو . هنَإهوْعهد ِنَأ دْمهحْلإ يِبهر لله
ه ْيِمهلاهعْلإ
هداهبِع ِالل ن إ ِ ! هالل هنَ ر مْأهي ِل ْدهعلْ ِبَ
ِنا هسْح لْإهو ِ ِء أتْي
ِ إهو هب ْر قلْإ يِذ
ىىه ْنْهيهو ِنهع ِء أشْحهفلْإ ِرهكْن لمْإهو يْغهبلْإهو ْ ك ظِعهي ْ ك لهعهل هن ْو ر كهذهت إو ر كْذإهو
هالل هْي ِظهعلْإ ْ كْر ك ْذهي ه ْو ر ك ْشإهو هلهع
ِهِمهعِن
ْ كْدِزهي
رْكِ هلَّ هو
ِالل
بركإ
ن إ ِ ه للَإ ههتهكِئ هلَهمهو هنوُّل هص ي
هلهع يِ ِب نلإ هي اه ُّيَُّأ هنيِ لَّإ إو نهم أ إوُّل هص ِهْيهلهع
إو ميِل هسهو ايمِل ْسهت م ه للهإ . يِل هص هلهع د مهح م هلهعهو ِل أ د مهح م ههكَ
هتْي ل هص
هلهع هْيِهإهرْبِإ هلهعهو ِل أ
،ه ْيِهإهرْبِإ هك ن
ِ إ دْيِ هحَ
دْيِجهم ْكِر هبَ هو . هلهع د مهح م
هلهعهو ِل أ د مهح م ههكَ
هتْكهر هبَ
هلهع هْيِهإهرْبِإ هلهعهو ِل أ
،ه ْيِهإهرْبِإ هك ن
ِ إ
دْيِ هحَ
دْيِجهم م هللإ .
ْرِفْغإ ه ْيِمِل ْس مْلِل ِتاهمِل ْسلمإهو
ه ْيِنِمْؤلمإهو
ِتاهنِمْؤلمإهو ِءاهيْحَلأإ
ْم ْنِْم ِتإهوْمَلأإهو هك ن
ِ إ عْيِ هسَ
بْيِرهق بْيِج م ِةهوْع لدإ
اهن بهر . ْغِز ت هل ل ق اهنهبو هدْعهب ْذ إ ِ اهنهتْيهدهه ْبهههو اهنهل ْنِم هكْن هلد اةه ْحَهر هك ن
ِ إ
هتْنَأ با ههوْلإ
م ه للإ نَ إ ِ ه لَأ ْسهن ى هد هلإ ىهقُّتلإهو هفاهفهعلإهو هنِغلإهو
م ه للإ . ْن ِسْحَأ
اهنهتهبِقاهع ِرو مُلأإ ِف
اههيِ ك هنَ ْرِجَأهو ْنِم ِىْزِخ اهيْنُّلدإ ِبإهذهعهو ِةهرِخ لأإ
اهن بهر اهنِت أ اهيْنُّلدإ ِف اةهن ه سهح ِف هو ِةهرِخ ْلأإ اةهن ه سهح اهنِقهو هبإهذهع ِرا نلإ .
ل هصهو الل هلهع اهنيِيِبهن د مهح م هلهعهو ِِل أ ِهِبْ هصَهو هو ْنهم ْم ههعِبهت نا هسْح ِ ِبَ
هل إ ِ ِمْوهي نْييلدإ . رِخ أهو . هنَإهوْعهد ِنَأ دْمهحْلإ يِبهر لله
ه ْيِمهلاهعْلإ
هداهبِع ِالل ن إ ِ ! هالل هنَ ر مْأهي ِل ْدهعلْ ِبَ
ِنا هسْح لْإهو ِ ِء أتْي
ِ إهو هب ْر قلْإ يِذ
ىىه ْنْهيهو ِنهع ِء أشْحهفلْإ ِرهكْن لمْإهو يْغهبلْإهو ْ ك ظِعهي ْ ك لهعهل هن ْو ر كهذهت إو ر كْذإهو
هالل هْي ِظهعلْإ ْ كْر ك ْذهي ه ْو ر ك ْشإهو هلهع
ِهِمهعِن ْ كْدِزهي رْكِ هلَّ هو ِالل بركإ
RALAT
Edisi : No.1171/XXIV/22, Jum’at, 22 Dzuhijjah1443 H/
22 Juli 2022. Pada halaman 2 baris ke-4.
Tertulis ; Oleh: Dr. KH Nur Alam Bakhtir, MA.
Seharusnya ; KH. Arif Zamhari, MA, Ph.D
Demikian agar menjadi maklum adanya.
Saksikan siaran langsung shalat lima waktu di AJWA TV dan Kajian Ba’da Dzuhur / Jum’at di
Youtube : Masjid Istiqlal TV.
Kegiatan kajian atau program yang terlewatkan dapat pula disaksikan melalui kanal Youtube diatas.
(Dukung layanan media Masjid Istiqlal silahkan subscribe, comment, like and share)
S
etelah penciptaan Adam alaihis salam, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, maka sujudlah seluruh Malaikat kecuali Iblis. “…Bersujudlah kamu kepada Adam (sebagai bentuk penghormatan kepadanya, karena kemampuannya menyebutkan nama-nama benda yang tidak mampu disebutkan oleh para Malaikat)” Mereka pun sujud, kecuali Iblis…” (QS. Al-A’raf/7:12). Iblis enggan sujud kepada Adam alaihis salam karena merasa penciptaannya lebih baik dari Adam alaihis salam, merasa bahwa unsur pembuatan dari api lebih hebat daripada unsur tanah. “Dia (Allah) berfirman: “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab:
“Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf/7:
12). Iblis “dianggap wajar” menyatakan diri lebih hebat daripada Adam, dikarenakan unsur yang berbeda, yakni api dan tanah. Lalu bagaimana seorang manusia merasa lebih hebat dari manusia yang lain sedangkan unsur penciptaannya sama (tanah).
Lalu, sehebat apa manusia? Sehebat-hebatnya manusia, rezeki dari Allah SWT berupa makanan dan minuman, hanya mampu dikonsumsi sesuai kebutuhan fisik badannya. Manusia tidak mampu mendatangkan sendiri makanan dan minumanya. Hanya Allah SWT yang dapat memberikannya kepada manusia. “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan air (hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanaman-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan…” (QS. An-Nahl/16: 10). Walaupun manusia tersebut mengklaim bahwa dialah yang terkaya di dunia ini, merasa mampu membeli makanan/minuman di seluruh dunia, namun dia (manusia) hanya mampu memakan makanan satu atau
HIKMAH
Seberapa Hebat Manusia
Oleh : Saparwadi Nuruddin Zaen
dua piring dalam sekali makan, minum minuman hanya satu gelas.
Bahkan kadang jenis dan porsi makanannya diatur, karena fisiknya tidak mampu mendapatkan makanan sesuai dengan keinginannya.
Manusia dikatakan hebat, bila ia mampu mendatangkan sendiri rezekinya, makanan dan minumannya, atau mampu menurunkan air (hujan) baginya.
Sehebat-hebatnya manusia, pasti membutuhkan orang lain untuk membantunya. Katakanlah manusia tersebut merasa paling berkuasa di dunia ini, wilayah kekuasaanya meliputi seluruh benua misalnya.
Namun dia tidak akan mampu melaksanakan dan menjalankannya sendiri, pasti membutuhkan bantuan dari petugas-petugas (manusia) lain yang membantunya. Orang yang berkuasa juga tidak bisa pergi kesana-kemari sesuka hatinya, karena kemanapun ia pergi akan diatur gerak langkah oleh peraturan kekuasaan yang ia pegang sendiri, dan kadang tak mampu mengubahnya, dengan alasan keamanan dirinya, dia tidak bisa menentukan kemana ia akan melangkah, harus diatur oleh manusia lain. Orang yang berkuasa tidak bisa makan-minum sesuka hatinya, makanannya harus melalui pengecekan keamanan dan kesehatan, yang dikhawatirkan akan membahayakan manusia berkuasa tersebut. Lalu di mana hebatnya kekuasaan manusia itu?
“Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau Kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di Tangan Engkau lah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”
(QS. Ali Imran/3: 26).
Sehebat-hebatnya manusia, harta yang ia peroleh hanya bisa dinikmati berupa makanan, minuman, dan perasaan. Katakanlah ia (manusia) bisa memperoleh harta bergunung-gunung, atau seluruh harta di dunia ini ia miliki. Namun hanya sedikit yang ia bisa nikmati, dan dipastikan bahwa ia (manusia) ketika mati tidak akan membawa hartanya itu. Hartanya yang sebesar dunia tidak akan bisa menolongnya dari kematian. Kematian akan mendatanginya walaupun seluruh manusia dalam kekuasaannya, dan seluruh harta di dunia adalah miliknya. Maka manusia yang hebat adalah manusia yang mampu menolak kematian. Wallaahu A’lam.
A
lam barzakh dapat didefinisikan ke dalam berbagai perspektif.Pandangan para teolog, termasuk ahli fikih, mengartikan kata ini sebagai sebuah tempat transit setelah seseorang meninggal dunia.
Pada saatnya mereka akan dibangkitkan lagi di dalam sebuah alam baru yang diistilahkan di dalam al-Quran dengan beberapa nama, seperti hari akhirat (al-yaum al-akhir) terulang penyebutannya 20 kali, hari kebangkitan kambali (yaum al-qiyamah) setelah ditiup trompet sangkakala kedua yang penyebutannya terulang 70 kali, hari rekapitulasi amal-amal anak manusia di dunia (yaum al-hisab) penyebutannya terulang lima kali, hari pembalasan (yaum al-din), hari kehancuran semua makhluk (yaum as-sa’ah) yang disebutkan 34 kali, dan hari kiamat (yaum al-mi’ad) yang terulang sekali.
Alam barzakh berasal dari bahasa Arab, dari akar kata baraza- yabrizu, berarti “pergi”, keluar ke tanah lapang kemudian membentuk kata barzakh, berarti dinding atau pemisah antara dua sesuatu (al- hajiz bain al-syaiain). Dari sinilah kata barzakh sering diartikan sebagai antara dunia dan akhirat, dari waktu kematian sampai hari kebangkitan. Barang siapa yang meninggal berarti memasuki alam barzakh. Barzakh juga sering diartikan sebagai antara awal dan akhir (pertengahan), antara ragu dan yakin (ma bain al-syak wa al-yaqin).
Ibn ‘Arabi (w. 1240 M) memberi pengertian lebih mendalam mengenai hakikat alam barzakh, yakni sebuah keadaan yang kompleks antara sesuatu yang diketahui dengan jelas dan sesuatu yang tak terketahui, antara yang ada dan yang tidak ada, antara yang ditiadakan dan yang diadakan, antara yang dapat diindra dan yang tak dapat diindra. Tidak ada suatu tempat di antara banyak temoat, tiada suatu keadaan di antara berbagai keadaan, tiada suatu keberadaan di antara berbagai keberadaan, tiada suatu jenis di antara berbagai jenis.
Termasuk juga alam barzakh antara al-Haq (Allah) dan makhluk-Nya GORESAN IMAM BESAR
Hakikat Alam Barzakh
Oleh : Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
atau antara Allah dan alam.
Dalam hadits pun banyak riwayat menceritakan pemandangan alam barzakh dapat diakses melalui mimpi atau pandangan mukasyafah. Ontologi alam barzakh ialah dunia kehidupan anak manusia yang dikumpulkan ke dalam wilayah atau benua lain supaya mereka tidak terkontaminasi kehidupan-kehidupan dunia syahadah.
Dalam hadits Nabi disebutkan ada sejumlah binatang yang mampu mendengarkan jeritan orang-orang yang sedang disiksa di alam kubur.
Suatu ketika Nabi pernah mampir di sebuah permakaman karena terusik dengan suara isak tangis orang-orang yang ada di makam baru itu. Para sahabat menanyakan, mengapa ia berhenti di makam ini? Dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa kedua makam ini disiksa penghuninya lantaran perbuatannya di dunia. Yang satu ketika ia buang air, ia tidak mengindahkan tata krama pembersihan najis menurut syariah. Sedangkan, yang satunya disiksa karena pada masa hidupnya sering menjadi kekuatan provokator. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil setangkai pohon, sebagian ulama mengartikannya dengan memetik beberapa pohon kurma.
Para sahabat Nabi baru sadar bahwa telinga Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam begitu sensitifnya sehingga masih dapat mendengarkan orang-orang yang disiksa di alam barzakh. Di dalam Alquran juga disebutkan, sejumlah orang yang sudah dinyatakan wafat lalu hidup kembali atas izin Allah subhanahu wata'ala, seperti orang kaya yang dibunuh oleh keponakannya sendiri sebagaimana dikisahkan dalam al-Baqarah. Nabi Isa juga pernah menghidupkan orang mati atas izin Allah subhanahu wata'ala. Kesemuanya itu meyakinkan kita bahwa alam barzakh itu betul-betul ada dan relatif masih dekat dengan alam fana, alam yang kita tempati sekarang.
Kisah dan pengalaman orang-orang yang ada di alam barzakh kiranya cukup menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa kehidupan sesudah mati betul-betul terjadi. Apa yang dialami di sana sangat ditentukan oleh apa yang kita amalkan ketika hidup di dunia ini.
Mari kita terus mengontrol diri kita di dalam menjalankan sisa-sisa kehidupan yang dipinjamkan Tuhan. Semoga kita kelak meraih husnul khatimah, mengakhiri hidup dengan kebaikan. (Bersambung) (Harian Republika, 15 Juli 2022 M/15 Dzulhijjah 1443 H). r(DN)
Dalam Al-Qur'an Allah berfirman:
Ayat menggambarkan pentingnya menjaga keimanan kepada Allah subhanahu wata'ala. Iman adalah sesuatu yang sangat berharga.
Dengan keimanan seseorang bisa selamat di dunia dan akhirat. Iman bisa menjaga seseorang dari ucapan kotor, ghibah, namimah dan membicarakan atau menebar kebohongan. Iman juga mencegah Artinya : “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup.
Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS. al-Baqarah/2 ayat 217).
ِ هٰللّا ِلْيِب َس ْنَع ٌّد َصَو ِۗ ٌ ْيِْبَك ِهْيِف ٌلاَتِق ْلُق ِِۗهْيِف ٍلاَتِق ِماَرَحْلا ِرْه َّشلا ِنَع َكَنْوُلَٔـ ْسَي رْفُكَو َنِم ُ َبَْكَا ُةَنْتِفْلاَو ۚ ِ هٰللّا َدْنِع ُ َبَْكَا ُهْنِم ٖ ِلِْهَا ُجاَرْخِاَو ِماَرَحْلا ِدِج ْسَمْلاَو ٖهِب ْدِدَتْرَّي ْنَمَو ِۗ اْوُعا َطَت ْ سا ِنِا ْ ُكُِنْيِد ْنَع ْ ُكُْوُّدُرَي هٰتَّح ْ ُكَُنْوُلِتاَقُي َن ْوُلاَزَي َلََو ِۗ ِلْتَقْلا
ْيِد ْنَع ْ ُكُْنِم ۚ ِةَرِخه ْلَاَو اَيْنُّلدا ِفِ ْمُهُلاَ ْعَْا ْتَطِبَح َكِٕى ٰۤهلوُاَف ٌرِفَكَ َوُهَو ْتُمَيَف ٖهِن
َنْو ُ ِلِهخ اَ ْيِْف ْ ُهُ ِۚراَّنلا ُبه ْصَْا َك ِٕ ىٰۤهلوُاَو
KAJIAN ZHUHUR PILIHAN
Tafsir Jalalain : QS. Al-Baqarah/2 ayat 217
Oleh : Dr. H. Sholeh Asri, MA
tangan pemiliknya dari berbuat kotor dan maksiat.
Orang yang beriman akan selalu menjaga lisannya, karena keselamatan manusia ada dalam penjagaan lisan. Sebagaimana sebuah makna hadis menyebutkan;
Lebih jauh lagi Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
Pada hari akhirat orang yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang berbuat buruk juga akan dibalas dengan yang buruk lagi, maka hendaklah seseorang mengatakan yang baik-baik saja, yang dapat menyejukkan orang lain atau menambah kebaikan orang lain. Kalau tidak dapat berkata baik maka hendaklah diam agar tidak menyakiti hati orang.
Karena iman bisa pasang surut maka kita dianjurkan untuk selalu memperbaharui dan merenovasi keimanan. Sebagaimana perkataan Nabi yang menyeru para sahabat dalam riwayat dari Abu Hurairah radhiallahu anhu:
Tidak sedikit orang karena desakan ekonomi dan kebutuhan hidup, menjadi murtad, keluar dari keimanan ini. Rasulullah
Artinya : “Perbarui iman kalian”, “Ya Rasulullah, bagaimana cara kami memperbarui iman kami?” tanya para sahabat.
Beliau bersabda, “Perbanyaklah membacaLa Ilaha Illa Allah”.
ْ ُكَُناَيم ا اوُدِّ دَج ِ “ :َلاَق ؟اَنَناَيم ا ُدِّ دَ ُنُ َفْيَكَو ،ِّالله َلو ُسَر َيَ :َليِّق ، ِ “
ُالله الَ ا َ َلَ ِ ”
ِ ا َلَ ِّلْوَق ْنِّم اوُ ِّثِْكَأ “
ناسللا ظفح في ناسنإلا ةملاس
Artinya : “Keselamatan manusia ada pada menjaga lisannya”.
Artinya : “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari).
ِبَأ ْنَع َِلََ م ُس هيل لله ى ل ِ هلَّل ِِل رَُض ْنَع هع لله ي ض ََََََْْرُ
ْنَم «
، ْترم ْصَهِل ْسَأ لً ْيَْخ ْلرقَهْيَف ،َِِخآلل ِمْلَهْللَس ِ هلَّ ِبِ رنِمْؤري َن َكَ
...
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan begitu beratnya ujian di akhir zaman. Karenanya, dengan mudahnya seseorang yang pada pagi hari masih beriman pada waktu sore hari sudah menjadi kafir, atau sebaliknya sorenya beriman pada pagi harinya menjadi kafir. Sebagaimana hadis:
Jika sudah demikian dia akan mengalami kerugian di dunia dan akhirat. Inilah kerugian yang sangat besar dan nyata. Maka setiap orang diminta untuk menjaga kualitas imannya masing-masing agar tidak berada di posisi ini. Sahabat Abu ad-Darda` Uwaimir al- Anshaari rahimahullah berkata:
Menurut berbagai keterangan yang menyimpulkan dari hadis- hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keimanan seorang hamba akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Maka setiap hamba agar selalu berupaya untuk meningkatkan keimanannya dengan menjaga ketaatan seperti berusaha mendekat selalu ke masjid dan majelis-majelis keilmuan.
Dan berupaya sekuat mungkin untuk menjauhi kaksiatan agar imannya tidak berkurang. Wallahu a'lam. r
Artinya : “Iman itu bertambah dan berkurang”.
ُصُقْنَي َو ُداَدْزَي ُناِمْيِلإا ِ سِممُياو اًنِممؤُم ُلُجَّرلا ُحِب مصُي ِ ِلِ مظُمملا ِلميَّللا ِع اطِقاك اًناتِف ِلاا معَْلأ ِبَ اوُرِد ابَ
اايمنُّلدا انِم ٍضاراعِب ُهانيِد ُعيِباي اًرِف اكَ ُحِب مصُياو اًنِممؤُم ِسِممُي موَأ اًرِف اكَ
Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah melakukan amalan-amalan kebajikan sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam menjadi kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam menjadi kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim).
Nama Agama Semula No.
1 2 3 4
Kristen Katholik Kristen Kristen Joseph Vincent Salzano
Fransiska Siregar Fitria Maharany Pefiri
PELAYANAN BIMBINGAN IKRAR SYAHADAT
Pelayanan Ikrar Syahadat / Pembinaan Muallaf / Kajian dan Kegiatan Remaja Masjid Istiqlal dengan Narahubung :
•
Ustadz Djamalullail (081314124444) dan•
Ustadz Subhan (08128829 7714) 1. Mengisi form data via online https://muallafcenter.istiqlal.or.id/daftar.php
2. Pas foto ukuran 3 x 2 cm : 3 (tiga) lembar (warna) 3. Surat Pengantar dari RT bagi WNI
4. Foto copy KTP
5. Foto Copy Kartu Keluarga 6. Materai 10.000 : 2 (dua) lembar 7. Menyerahkan Surat Baptis
(Asli)
8. Surat Pengantar Kedutaan bagi WNA
9. Foto copy pasport bagi WNA 10. Saksi 2 (dua) orang
Persyaratan Pelayanan Bimbingan Ikrar Syahadat :
Telah terlaksana Ikrar Syadahat di Masjid Istiqlal pada periode tanggal 19 - 25 Juli 2022 :
Unit Pengumpul Zakat (UPZ) BAZNAS Masjid Istiqlal
Menerima dan menyalurkan zakat, infaq, shadaqah Bank Mega Syari’ah (BMS) No. rekening 1000212008
(a/n. UPZ Masjid Istiqlal).
Narahubung : Bapak H. Budi Firmansyah, MM.
No HP/WA : 0856 9233 3688
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Majelis Ta’lim Kaum Ibu Pengajian Remaja Istiqlal (ARMI) Marching Band Istiqlal Seni Budaya Remaja Pagar Nusa Istiqlal Tapak Suci Istiqlal Konsultasi Agama
Hari Rabu &
Ahad Setiap Ahad
Setiap Ahad Setiap Ahad Setiap Ahad Setiap Ahad Senin s/d Jum’at
Pukul 08.00 - 11.00 11.00 - 12.00
09.00 - 15.00 09.00 - 11.00 07.00 - 11.30 15.30 - 20.00 10.30 - 15.00
Materi Al-Qur’an, Aqidah, Akhlak, Hadits, Fiqh Tahsinul Qur’an, Kajian Kitab Minhajul Abidin, Majelis Taklim Pemuda
Perkusi, Horn line, Pit, dll
Hadrah, Marawis dan Band
Seni Beladiri Seni Beladiri Pelayanan
Permasalahan Agama Kegiatan
Bagi jama’ah dan kaum Muslimin yang ingin meningkatkan wawasan ke-Islaman dapat mengikuti kegiatan kajian dan ta’lim yang dibimbing oleh para Ustadz / Guru yang berpengalaman sebagaimana jadwal dibawah ini :
PELAYANAN MASJID ISTIQLAL
No 1
2
3
4
5
6 Hari Sabtu
Ahad
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Tgl/Bln 30 Juli
31 Juli
1 Agust.
2 Agust.
3 Agust.
4 Agust.
Narasumber KH. M. Nur Hayyid, MM
KH. Abdurrahman Bustomi, MA H. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc, MA Drs.H. Sholahuddin Hamid, MA H. Mumtaz Mukhtar, Lc, MA
Moch. Taufiqur- rahman, MA
Bahasan/ Materi Ayyuhal Walad
Khuluqul Muslim
Riyadussholihin
Mukasyafatul Qulub Kasyful Ghowamidh fi Ilmil Faraidh Tijan Ad-Daruri
JADWAL NARASUMBER KAJIAN DIALOG ZHUHUR
Niat Shalat Ghaib :
Shalat Ghaib berjama’ah yang telah dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 22 Juli 2022, adalah untuk :
1. Almarhumah Hj. Rodiah binti KH. Sa’atun, usia 95 tahun.
Wafat, 19 juli 2022 di Bekasi
2. Almarhum Bunito bin Karsono, usia 52 tahun. Wafat, 19 Juli 2022 di Klender Jakarta Timur
ا ىلَع ِىّلَصُا ا ِتاَو م َل
ِبِئاَغ ل َن ي تاَر يِب كَت َعَب رَا ىلاَعَ ت ِهَّلِل ِةَياَفِك لا َض رَ ف
SHALAT GHAIB
3. Almarhum Dr.Masrawan, M.Ag. Wafat, 17 Juli 2022 4. Almarhum Mahfuzh. Wafat, 17 Juli 2022
5. Almarhum Muhammad Ibnu ‘Atthailah Al Mahfuzi. Wafat, 17 Juli 2022
6. Almarhum Muh. Salim Asmawi bin KH.Asmawi, usia 77 tahun. Wafat, 18 Juli 2022 di Tegeswetan Wonosobo
7. Almarhum H. Adnan bin Ahmad, usia 78 tahun. Wafat, 19 Juli 2022 di Bima
8. Almarhum Darmadi bin Akmal Abas, usia 53 tahun. Wafat, 10 Juli 2022 di Jambi
9. Almarhum M. Saykari bin H. Muhammad, usia 47 tahun.
Wafat, 21 Juli 2022 di Parado Bima
10. Almarhum Mohammad Yunus Syafroni bin Syafroni, usia 68 tahun. Wafat, 20 Juli 2022 di Jakarta
11. Almarhum Syahrizal bin Fulan, usia 57 tahun. Wafat, 18 Juli 2022 di Medan
12. Almarhumah Hj. Hamsah. Wafat, 17 juli 2022 13. Almarhumah Dra. Hj. Hilaliyah. Wafat, 17 Juli 2022 14. Almarhumah Siti Hasanah. Wafat, 17 Juli 2022
15. Ibu Handriyati binti sukardi, usia 76 tahun. Wafat, 14 Juli 2022 di Ciputat
16. Almarhumah Wasroh binti Da’an, usia 77 tahun. Wafat, 16 Juli 2022 di Tegal
17. Almahumah Tasih binti Tasmin, usia 86 tahun. Wafat, 18 Juli 2022 di Jakarta
18. Almarhumah Salbiyah binti Ngadi Wasono, usia 44 tahun.
Wafat, 21 Juli 2022 di Jakarta
19. Almarhum Fitrawan Ramadhan bin Mas’ud, usia 30 tahun.
Wafat, 20 Juli 2022 di Bekasi
20. Almarhum Askari bin H. Muhammad, usia 43 tahun. Wafat, 21 Juli 2022 di Parado
21. Almarhumah Rd. Anita binti R. Sadjad, usia 85 tahun. Wafat, 20 Juli 2022 di Jakarta Barat.
Shubuh Zhuhur Ashar Maghrib ‘Isya Tanggal
29 Juli 04 : 45 12 : 03 15 : 24 17 : 58 19 : 09 30 Juli 04 : 45 12 : 03 15 : 24 17 : 58 19 : 09 31 Juli 04 : 45 12 : 03 15 : 24 17 : 58 19 : 09 01 Agts 04 : 45 12 : 03 15 : 24 17 : 58 19 : 09 02 Agts 04 : 45 12 : 03 15 : 24 17 : 58 19 : 09 03 Agts 04 : 45 12 : 02 15 : 24 17 : 58 19 : 09 04 Agts 04 : 45 12 : 02 15 : 23 17 : 58 19 : 09
29 Juli 04:45 12:03 15:24 17:58 19:09
30 Juli 04:45 12:03 15:24 17:58 19:09 31 Juli 04:45 12:03 15:24 17:58 19:09 01 Agts 04:45 12:03 15:24 17:58 19:09 02 Agts 04:45 12:03 15:24 17:58 19:09 03 Agts 04:45 12:02 15:24 17:58 19:09 04 Agts 04:45 12:02 15:23 17:58 19:09
Untuk Jakarta dan sekitarnya berlaku Juli - Agustus 2022
JADWAL WAKTU SHALATJadwal shalat berdasarkan kalender Masjid Istiqlal Jakarta
Pelaksana Penerbitan Mimbar Jum’at
Penasehat: Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA Penanggung Jawab: Kepala Bidang Penyelenggara Peribadatan, KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA Pimpinan Redaksi: H. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc, MA Wakil Pim.Redaksi: H. Djamalullail, M.Pd.I Sekretaris Redaksi: H. Ahmad Mulyadi, SE.I Wakil Sekretaris: Hendra Sofiyansyah, S.Sos Dewan Redaksi: H. Saparwadi, SE.I; Drs. H.A. Dzulfatah Yasin, M.Ag; Abdul Rasyid Teguhdin Hamid, M.Pd; Budi Utomo, Lc, MA; Ibrahim Atho, S.Ag; Minhajul Afkar, SH.I; Nurul Fajriyah Bendahara: Endang Suherna, SE Wakil Bendahara: Subhan, S.Pd.I TU dan Sirkulasi: H. Aminuddin; Rullyansyah; Didiet Nanditio, SE; Joni Sagara; Suharti; Aril Muhrizadipura; Sumedi.
Gebyar Tahun Baru Hijriyah 1444 Di Masjid Istiqlal
"Lintas Generasi: Membangun dengan Cita-Cita Luhur dan Karya"
Ahad 1 Muharram / 31 Juli 2022
JADWAL KAJIAN DI MASJID ISTIQLAL
@masjidistiqlalofficial Masjid Istiqlal TV 1. Tasawuf, Membedah Kitab Ihya Ulumiddin
Setiap Sabtu (Pukul 05.15 - 07.00)
Nara Sumber : Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA 2. Tematik Tafsir Al-Qur’anul Karim
Jum’at Pertama (Pukul 10.30 - 11.30) Nara Sumber : Dr. KH. Muchlis M. Hanafi 3. Tasawuf, Membedah Kitab Al-Hikam Jum’at Kedua (Pukul 10.30 - 11.30)
Nara Sumber : Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA 4. Tematik Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Jum’at Ketiga (Pukul 10.30 - 11.30)
Nara Sumber : Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, MA 5. Fiqih, Membedah Kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu Jum’at Keempat (Pukul 10.30 - 11.30)
Nara Sumber : Dr. H. Syaifuddin Zuhri, MA
6. Dialog Zhuhur (Mengkaji Kitab-kitab Klasik/Turats) Senin s.d. Ahad (Usai Shalat Zhuhur)
Narasumber : Para Asatidz Pilihan