• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Universitas Sumatera Utara"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Demam

2.1.1. Definisi Demam

Demam adalah peningkatan suhu tubuh sebagai akibat dari infeksi atau peradangan. Sebagai respon terhadap invasi mikroba, sel -sel darah putih tertentu mengeluarkan suatu zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen, yang memiliki banyak efek untuk melawan infeksi dan juga bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan patokan termostat.

Demam ringan mungkin bermanfaat, tapi tidak diragukan lagi bahwa de mam yang sangat tinggi dapat mengganggu fungsi tubuh, terutama pengaruhnya pada susunan saraf pusat. Tidak jarang anak -anak yang mekanisme pengontrol suhu tubuhnya belum berkembang sempurna (stabil) seperti orang dewasa, mengalami kejang akibat demam tingg i (Sherwood, 2001). Secara umum suhu tubuh yang dapat dikatakan demam bila suhu rektal >38,0oC, suhu oral

>37,8oC, ataupun suhu aksila >37,2oC. Demam tinggi bila suhu tubuh

>40,5oC. Demam yang dapat menyebabkan kerusakan otak bila suhu tubuh

>41,5oC (Schmitt,1984).

2.1.2. Pengaturan Suhu Tubuh

Suhu tubuh diatur oleh suatu mekanisme yang meliputi susunan saraf, biokimia, dan hormonal. Suhu adalah hasil produksi metabolisme tubuh yang diperlukan untuk kelancaran aliran darah dan menjaga agar reaksi ki mia tubuh dapat berjalan baik (enzim hanya bekerja pada suhu tertentu) (Ismoedijanto, 2000). Suhu tubuh normal umumnya dianggap berada pada 37,0oC (Baxter et al., 2000), Dari sudut pandang termoregulatorik, tubuh dapat dianggap sebagai suatu inti ditengah (central core) dengan lapisan pembungkus disebelah luar (outer shell). Suhu di inti bagian dalam yang terdiri dari organ -organ abdomen, toraks, sistem saraf pusat, dan otot rangka umumnya relative konstan yang dianggap sebagai suhu tubuh dan menjadi subjek pengaturan ketat untuk mempertahankan kestabilannya. Jaringan tubuh dibagian tengah

(2)

ini berfungsi optimum pada suhu relatif konstan sekitar 37,8oC. Kulit dan jaringan subkutis membentuk lapisan disebelah luar dan suhu di dalam lapisan luar umumnya lebih dingin dan pada dasarnya berubah -ubah (Sherwood, 2001).

Hipotalamus menerima informasi suhu tubuh bagian dalam dari suhu darah yang masuk ke otak dan informasi suhu luar tubuh dari reseptor panas dikulit, kemudian suhu dipertahankan dengan menjaga keseimba ngan pembentukan atau pelepasan panas. Hipotalamus posterior merupakan pusat pengatur yang bertugas meningkatkan produksi panas dan mengurangi pengeluaran panas bila suhu luar lebih rendah. Hipotalamus anterior merupakan pusat pengatur pengeluaran panas bi la suhu di luar tubuh lebih tinggi (Ismoedijanto, 2000).

Walaupun suhu inti dipertahankan relative konstan, terdapat beberapa faktor yang sedikit dapat mengubahnya:

a. Dalam keadaan normal sebagian besar suhu inti manusia bervariasi sekitar 1oC selama siang hari, dengan tingkat te rendah terjadi di pagi hari (pukul 6 sampai pukul 7 pagi) dan titik tertinggi terjadi di sore hari (pukul 5 sampai 7 sore).

b. Pada wanita suhu inti rata -rata 0,5oC lebih tinggi selama separuh terakhir siklus dari saat ovulasi ke haid. Penyebab peningkatan ringan suhu ini masih belum diketahui.

c. Selama olahraga suhu inti meningkat dikarenakan peningkatan luar biasa produksi panas oleh otot -otot yang berkontraksi.

d. Suhu inti dapat berubah-ubah jika tubuh terpapar ke suhu yang ekstrim. Ini dikarenakan mekanisme pengatur suhu tidak 100% efektif (Sherwood, 2001).

2.1.3. Tahapan Demam

Demam terdiri dari tiga tahapan klinis, yaitu:

1. Tahap dingin

(3)

Suhu inti meningkat mencapai patokan suhu yang baru di set point.

Disini akan terjadi vasokonstriksi kulit dan meningkatnya aktivitas otot seperti menggigil yang akan meningkatkan produksi panas.

2. Tahap demam

Terjadinya keseimbangan anta ra produksi dan pembuangan panas pada setpoint yang tinggi.

3. Tahap Flush (muka kembali merah)

Setpoint kembali normal, d an tubuh merasakan bahwa dirinya terlalu hangat. Terjadi peningkatan mekanisme penghilangan panas dengan cara vasodilatasi kulit dan diaphoresis sehingga kulit akan menjadi hangat, memerah, dan kering (Dalal & Zhukovsky, 2006).

2.1.4. Etiologi Demam

Demam biasanya disebabkan oleh infeksi. Infeksi yang paling sering menimbulkan demam adalah pneumonia, infeksi tulang (oste omyelitis), appendisitis, tuberkulosis, infeksi kulit atau sellulitis , meningitis. Infeksi pernapasan (flu, sakit tenggorokan, sinusi tis, dan bronchitis). Infeksi telinga, infeksi saluran kemih (ISK ), viral gastroenteritis dan bak terial gastroenteritis.

Selain itu anak-anak juga mengalami demam ringan selama 1 -2 hari sebagai akibat efek samping dari imunisasi. Tumbuh gigi juga dapat men ingkatkan suhu tubuh anak, akan tetapi biasanya tidak lebih dari 38oC. Gangguan autoimun atau inflamasi juga dapat menyebabkan demam seperti, rheumatoid arthritis dan systemic lupus erythematosus . Demam juga mungkin timbul pada gejala-gejala awal keganasan terutama pada penyakit Hodgkin, limfoma non - Hodgkin, dan leukemia. Penyebab lain yang memungkinkan timbulnya demam meliputi tromboflebitis dan obat-obatan (beberapa antibiotik , antihistamin, dan obat-obatan kejang) (Kaneshiro & Zieve, 2010) .

2.1.5. Faktor Risiko Demam

Risiko antara anak dengan terjadinya demam akut terhadap suatu penyakit serius bervariasi tergantung usia anak. Anak dengan usia dibawah tiga bulan

(4)

memiliki risiko tinggi untuk terjadinya infeksi bakteri yang serius. Biasanya anak tersebut hanya memperlihatkan demam dan pola makan yang buruk, tanpa adanya tanda lokasi infeksi. Pada anak usia dibawah tiga tahun ini kebanyakan demam disebakan oleh infeksi virus, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya infeksi bakteri yang serius yang akan menyebabkan bakteremia, infeksi saluran kemih, pneumonia, meningitis, diare, dan osteomyelitis (Smith, 2011).

Anak dengan usia antara dua bulan sampai tiga tahun memiliki risiko yang tinggi untuk terjadinya infeksi yang serius, hal ini dikarena kan kurangnya IgG yang merupakan bahan bagi tubuh untuk membentuk sistem kekebalan tubuh yang berfungsi untuk mengatasi infeksi. Demam yang terjadi pada anak dibawah tiga tahun pada umumnya merupakan demam yang disebabkan oleh infeksi seperti influenza, pn eumonia, dan infeksi saluran kemih. Pada anak - anak dibawah tiga tahun didapati bakteremia dan hanya bersifat sementara tapi tidak menutup kemungkinan bias berkembang menjadi infeksi yang serius (Smith, 2011)

2.1.6. Patogenesis Demam

Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan noninfeksi berinteraksi dengan mekanisme pertahananm hospes. Pada kebanyakan anak demam disebabkan oleh agen mikrobiologi yang dapat dikenali dan menghilang sesudah masa yang pendek (Arvin, 1999).

Sebagai respon terhadap pirogen eksogen (berbagai macam agen infeksius, imunologis, atau agen yang berkaitan dengan toksin) sel -sel darah putih tertentu mengeluarkan zat kimia yang memiliki banyak efek melawan infeksi yang dikenal sebagai pirogen endogen. Pirogen end ogen ini juga akan bekerja pada pusat regulasi hipotalamus yang akan menyebabkan pengeluaran prostaglandin untuk meningkatkan patokan thermostat hipotalamus yg mengatur suhu tubuh (Sherwood, 2001).

(5)

Pirogen endogen ini adalah sitokin, misalnya interleukin (IL-1,β IL-1,α IL-6), faktor nekrosis tumor (TNF,α TNF -β) dan interferon-α (INF) yang diproduksi oleh sel-sel radang hospes. Sebagai respon terhadap sitokin tersebut maka terjadi sintesis prostaglandin, terutama prostaglandin E2 melalui metabolisme asam arakidonat jalur siklooksigenase -2 (COX-2) dan menimbulkan peningkatan suhu tubuh (Arvin, 1999). Hipotalamus merasa bahwa suhu normal s ebelum demam terlalu dingin, dan organ ini memicu mekanisme-mekanisme respon dingin untuk meningkatkan suhu baru yang telah ditetapkan hipotalamus.

Menggigil ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas, sementara vasokonstriksi kulit juga berlangsung untuk dengan cepat mengurangi pengeluaran panas. Kedua mekanisme tersebut mendorong suhu naik. Pada permulaan demam mekanisme-mekanisme tersebut menyebabkan timbulnya rasa menggigil mendadak (Sherwood, 2001).

Karena merasa kedinginan, orang yang bersangkutan mungkin memakai selimut sebagai mekanisme volunter untuk membantu meningkatkan suhu tubuh dengan mengkonversi panas. Setelah suhu baru tercapai, suhu tubuh kemudian diatur seperti keadaan normal sebagai respon terhadap pejanan dingin atau panas, tetapi dengan patokan yang lebih tinggi (Arvin, 1999).

Pembentukan demam sebagai respon terhadap infeksi adalah sesuatu yang disengaja dan bukan disebabkan oleh kerusakan mekanisme termoregulasi.

Walaupun makna fisiologis dari demam masih belum jelas, b anyak pakar medis berpendapat bahwa peningk atan suhu tubuh bersifat menguntungkan,

Gambar 2.1. Patogenesis Demam ( Sumber: Arch Intern

Med. 1998;158(17):1870-1881.

doi:10.1001/archinte.158.17.1870 )

(6)

suhu yang lebih tinggi meningkatkan proses fagositosis dan meningkatkan kecepatan aktivitas peradangan yang bergantung pada enzim, juga meningkatkan kebutuhan bakteri akan b esi sekaligus menurunkan konsentrasi besi dalam plasma sehingga akan mengganggu multiplikasi bakteri (Sherwood, 2001). Kecuali pada peningkatan suhu tubuh yang terlalu tinggi yang akan menyebabkan demam itu sendiri tidak bermanfaat. Produksi panas pada demam meningkatkan pemakaian oksigen, produksi karbondioksida dan curah jantung. Dengan demikian demam dapat memperburuk insufisiensi jantung pada penderita penyakit jantung atau anemia kronis (misalnya penyakit sel sabit), insufisiensi paru pada mereka yang menderita penyakit paru kronis, dan ketidakstabilan metabolik pada anak yang menderita diabetes mellitus atau kelainan metabolism e bawaan. Lagipula anak -anak yang umurnya antara 6 bulan dan 5 tahun menghadapi peningkatan resiko untuk mengalami kejang demam sederhana, sedangkan mereka yang menderita epilepsi idiopatik dapat mengalami peningkatan frekuensi kejang (Arvin, 1999).

2.1.7. Tipe Demam

Demam Septik : Pada tipe demam ini, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat diatas normal pada pagi hari. Biasanya sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat.

Demam Hektik : Pada tipe demam ini, suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat yang normal pada pagi hari.

Demam Remiten : Pada tipe demam ini, setiap hari suhu badan dapat turun tetapi tidak pernah mencapai suhu badan yang normal. Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak

(7)

sebesar perbedaan suhu yang dicatat pada demam septik.

Demam Intermiten : Pada tipe demam ini, dalam satu hari suhu badan turun ke tingkat yang normal selama beberapa jam.

Demam Kontinyu : Pada tipe demam ini, variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat.

Demam Siklik : Pada tipe demam ini, terdapat kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.

(Nelwan, 2009)

2.1.8. Penatalaksanaan Demam

Demam sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi.

Akan tetapi demam yang terlalu tinggi akan menimbulkan kerusakan pada otak. Penatalaksanaan demam bertujuan untuk merendahkan suhu yang terlalu tinggi bukan untuk menghilangkan demam (Kaneshiro & Zieve, 2010).

Menurut Ferry (2010), secara garis besar penatalaksanaan demam dapat dibagi dua yaitu: terapi yang bisa dilakukan dirumah dan terapi yang bisa dilakukan oleh paramedis. Untuk mengetahui seseorang tersebut mend erita demam dapat dilakukan pengukuran suhu menggunakan t ermometer.

 Perawatan dirumah

Ada tiga tujuan perawatan dirumah pada anak yang mengalami demam, yaitu:

a. Mengontrol suhu.

b. Mencegah dehidrasi.

c. Memantau penyakit serius atau penyakit yang mengancam jiwa (Ferry, 2010).

(8)

a. Mengontrol suhu

Bertujuan untuk membuat anak nyaman dengan memantau dan mengurangi demam. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan thermometer, obat-obatan, dan menggunakan pakaian yang tepat.

mandi air hangat juga dapat membantu tetap i tidak lebih dari 10 menit.

- Penggunaan termometer

Untuk mengetahui suhu anak diperlukan thermometer. Berbagai jenis thermometer yang tersedia, termasuk kaca, merkuri, digital, dan timpani. Kebanyakan dokter tidak menyarankan menggunakan thermometer timpani karena penggunaannya diluar klinik tidak dapat diandalkan dan dapat memberikan hasil yang tidak akurat.

Thermometer digital hasilnya bisa dibaca dalam hitungan detik. Cara yang terbaik untuk memeriksa bayi maupun balita adalah de ngan menggunakan thermometer rektal, tetapi pemeriksaannya membuat anak merasa tidak nyaman. Suhu oral dapat diperoleh pada anak yang lebih tua dengan tidak bernafas dari mulut dan tidak baru saja meminum air dingin ataupun hangat (Ferry, 2010). Pengukuran suhu mulut aman dan dapat dilakukan pada anak usia di atas 4 tahun karena sudah dapat bekerja sama untuk menahan termometer di mulut. Pengukuran ini juga lebih akurat dibandingkan dengan suhu aksila. Pengukuran suhu aksila mudah dilakukan, tetapi hanya menggambarkan suhu pe rifer tubuh yang sangat dipengaruhi oleh vasokonstriksi pembuluh darah dan keringat sehingga kurang akurat.

(9)

Tabel 2.1: Tipe termometer, berdasarkan wawancara telepon dengan sampel acak pada komunitas ahli farmasi di Itali pada tahun 2008

Tipe Termometer

Tempat/Cara Pengukuran

Keuntungan Kerugian Komentar

Merkuri Aksila, oral, rektal

Mudah dibaca, biaya murah

Rapuh, tidak dapat

dikalibrasi, waktu pengukuran yg lama (5-8 menit)

dengan tipe nonprismatik klasik, berpotensi terhadap keracunan merkuri

Ditarik dari pasaran pada tahun 2010 karena risiko keracunan merkuri

(10)

Digital Aksila, oral, rektal

mempunyai alarm akustik yg

menandakan akhir pengukuran

Butuh penggantian baterai, kalibrasi sulit dilakukan, beberapa model bergantung pada perubahan temperatur/

waktu pengukuran dan dapat berhenti lebih cepat

Model yang fleksibel lebih dipilih karena alasan keamanan, tipe

“dummy”

(pacifier) mempunyai akurasi yg kurang

Cairan Kristal

Strip plastik ditempel pada dahi

Mudah digunakan, tidak rusak, non

toksik

Akurasi dan ketepatan yang kurang

Tipe

“mother’s touch”

lebih tepat dibanding model lainnya

Inframerah Aurikula Kontak kulit Non kontak

Waktu pengukuran yg sangat singkat (beberapa detik)

Tidak ada standarisasi antar model menyebabkan kalibrasi yg tidak

tepat,

Pengukuran aurikula dapat memberikan hasil akurat ketika dilakukan oleh tenaga

(11)

beberapa model (aurikula) dapat sulit untuk dimasukkan, tipe

kontak-kulit membutuhkan disinfeksi rutin

atau hanya dikhususkan pada 1 pasien

ahli

(Lubis I & Lubis C, 2011)

Rentang suhu tubuh normal bervariasi, tergantung metode apa yang digunakan.

Tabel 2.2: Rentang suhu normal

(Baxter et al., 2000)

Tabel 2.3: Teknik pengukuran suhu yang dianjurkan

Metode Pengukuran Rentang Suhu Normal

Rectum (Anus) Mulut (oral) Axila (ketiak) Telinga

36.6°C - 38°C (97.9°F - 100.4°F) 35.5°C - 37.5°C (95.9°F - 99.5°F) 34.7°C - 37.3°C (94.5°F - 99.1°F) 35.8°C - 38°C (96.4°F - 100.4°F)

Age Anjuran teknik

(12)

(Baxter et al., 2000)

- Obat-obatan

Antipiretik hanya dapat diberikan apabila demam anak > 39,0oC, demam yang diikuti rasa tidak nyaman, atau demam pada anak yang memiliki riwayat kejang demam atau penyakit jantung (Schmitt,1984). Demam <39oC pada anak yang sebelumnya sehat pada umumnya tidak memerlukan p engobatan. Bila suhu naik

>39oC, anak cenderung tidak nyaman dan pemberian obat -obatan penurun panas sering membuat anak merasa lebih baik (Kania,2010).

Dosis pemberian antipiretik untuk anak juga perlu diperhatikan sesuai dengan berat badan dan umurnya (Schmit, 1984).

Acetaminofen dan ibuprofen digunakan untuk menurunkan demam, petunjuk dosis dan frekuensi pemberian obat biasanya dicantumkan pada label setiap obat. Terus memberi obat setidaknya selama 24 jam, karena biasanya demam akan kembali terjadi (Ferry, 2010).

Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan acetaminophen dalam pengurangan demam lebih cepat, sementara ibuprofen Bayi – 2 tahun

2 tahun – 5 tahun

> 5 tahun

1. Anus (Rectal) 2. Ketiak (Axila)

1. Anus (Rectal) 2. Telinga (Tympanic) 3. Ketiak (Axila)

1. Mulut (Oral) 2. Telinga (Tympanic) 3. Ketiak (Axila)

(13)

memiliki efek yang lebih lama (Graneto, 2013). Penggunaan aspirin sangat tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan terjadiny a sindrom Reye pada anak (Davis, 2012).

Acetaminophen (Parasetamol)

Di Indonesia Asetaminofen lebih dikenal dengan nama parasetamol dan tersedia sebagai obat bebas (Wilmana & Gan, 2007). Parasetamol adalah obat yang paling banyak digunakan sebagai analgesik dan antipiret ik (Farrell, 2012).

- Farmakodinamik

Efek analgesik parasetamol menghilangka n atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang, juga menurunkan suhu tubuh yang diduga berdasarkan efek sentral.

- Farmakokinetik

Parasetamol diberikan secara peroral, penyerapa nnya dihubungkan dengan tingkat pengosongan lambung dan konsentrasi darah. Konsentrasi tertinggi di dalam pl asma biasanya tercapai dalam 30 sampai 60 menit (Katzung, 2002). Dalam plasma 25 % parasetamol terika t protein plasma. Diabsorbsi dengan sempurna melalui saluran cerna.

Dimetabolisme oleh enzim mikrosomal hati. Diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjungasi. Parasetamo l memiliki waktu paruh plasma 1 sampai 3 jam (Wilmana &

Gan, 2000).

- Efek samping

Dalam dosis terapetik bisa terjadi peningkatan enzim hati dan terkadang bisa terjadi tanpa adanya ikterus. Dengan menelan dosis 15 gram (250mg/kgBB) parasetamol bisa

(14)

fatal, kematian dapat terjadi karena hepatotoksisitas yang hebat dengan nekrosis lobules sentral (Katzung, 2000).

- Sediaan dan dosis

Parasetamol tersedia sebagai obat tunggal, berbentuk tablet 500 mg atau sirup yang mengandung 120 mg/5 mL. selain itu terdapat juga sebagai sediaan kombinasi tetap, dalam bentuk tablet maupun cairan. Dosis yang dianjurkan pada anak < 1 tahun adalah 60 mg/kali. Untuk anak 1 sampai 6 tahun adalah 60 sampai 120 mg/kali. Pada keduanya diberikan maksimum 6 kali sehari. Untuk an ak 6 sampai 12 tahun dosis yang diberikan adalah 150 sampai 300 mg/kali, dengan maksimum 1,2 g/hari (Wilmana & Gan, 2000).

Ibuprofen

Ibuprofen merupakan obat pereda nyeri yang termasuk kedalam golongan obat analgesik anti -inflamasi non steroid (AINS) yang bisa ditemukan di banyak toko obat. Ibuprofen adalah derivate asam propionate. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat (Wilmana & Gan, 2000).

- Farmakodinamik

Ibuprofen digunakan untuk mengurangi nyeri ringan sampai sedang, demam, dan peradangan. Nyeri, demam, dan peradangan tersebut di hasilkan karena adanya senyawa kimia yang dikeluarkan oleh tubuh yang disebut prostaglandin. Ibuprofen menghambat siklooksigenase, yaitu enzim yang membentuk prostaglandin, sehingga jumlah prostaglandin di dalam tubuh akan menjadi rendah.

Akibatnya, peradangan, nyeri dan demam berkurang (Ogbru, 2007).

(15)

- Farmakokinetik

Ibuprofen diabsorbsi cepat melalui lambung dan kadar maksimal dalam plasma dicapai setelah 1 sampai 2 jam.

Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam. Sembilan puluh persen ibuprofen terikat dalam protein plasma(Wilmana and Gan,2000). Metabolisme secara estensif via CYP2C8 dan CYP2C9 di dalam hati (Katzung, 2002). Ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap, kira -kira 90 % dari dosis yang diabsorbsi akan diekskresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya (Wilmana & Gan, 2000).

- Efek samping

Obat-obatan anti-inflamasi (termasuk ibuprofen) jarang dapat meningkatkan risiko untuk serangan jantung atau stroke. Iritasi gastrointestinal dan perdarahan bias terjadi, walaupun tidak sesering aspirin (Katzung, 2002). Efek lain yang jarang terjadi ialah, eritema kulit, sakit kepala, trombosipenia ,ambilopia toksik yang reversible (Wilmana

& Gan, 2007).

- Dosis

Untuk nyeri ringan sampai sedang, kram menstruasi, dan demam, dosis lazim dewasa adalah 200 atau 400 mg setiap 4 sampai 6 jam. Anak-anak 6 bulan sampai 12 tahun biasanya diberikan 5 sampai 10 mg/kgBB ibuprofen setiap 6 sampai 8 jam untuk pengobatan demam dan rasa sakit . Dosis maksimum adalah 40 mg / kg sehari. Tidak harus menggunakan ibuprofen selama lebih dari 10 hari untuk pengobatan nyeri atau lebih dari 3 hari untuk pengobatan demam kecuali, diarahkan oleh dokter (Ogbru, 2007).

(16)

- Penggunaan pakaian dan kompres y ang tepat

Di dalam ruangan, anak- anak tidak boleh memakai pakaian yang berlebihan tebalnya, bahkan ketika musim dingin. Berpakaian terlalu tebal akan sulit mengeluarkan panas melaui proses evaporasi (penguapan), radiasi, konduksi dan konveksi. Solusi yang paling praktis adalah dengan memakaikan anak pakaian satu lapis, lalu selimuti anak dengan selembar selimut tipis (Ferry, 2010). Kompres air hangat akan membantu mengurangi demam (Dalal &Zhukovsky, 2006).

Gunakan kain basah atau spons yang hangat untuk m embasahi kulit tubuh, lengan, dan kaki, tapi jangan menutupi anak dengan handuk basah karena akan mencegah penguapan panas (Ferry, 2010).

Pemberian kompres hangat dilakukan apabila suhu diatas 38,5oC dan telah mengkonsumsi antipiretik setengah jam sebelum nya (Newman,1985). Menurut penelitian Setiawati, (2008) dalam Maling et al, (2012) rata-rata penurunan suhu tubuh pada anak hipertermia yang mendapatkan terapi antipiretik ditambah pengompresan air hangat sebesar 0,53oC dalam waktu 30 menit. Sedangkan yang mendapat terapi pengompresan air hangat saja rata -rata penurunan suhu tubuhnya sebesar 0,97oC dalam waktu 60 menit. Suhu air untuk mengompres antara 30-35oC (Maling et al., 2012). Sebelum tahun 1950, pengompresan dengan isopropil alkohol dan etil alkohol sering dilakukan akan tetapi, hal tersebut tidak dianjurkan lagi setelah jelas bahwa anak-anak bisa menghirup uap alkohol selama pengompresan, dan hal ini akan menimbulkan hipoglike mia, koma, bahkan kematian. Keracunan alkohol juga bisa terjadi pada orang dewasa yang di kompres dengan alkohol (Axelrod, 2000).

b. Mencegah dehidrasi

Tubuh manusia akan kehilangan banyak air melalui kulit dan paru -paru saat demam. Dorong anak untuk minum cairan yang bening tanpa kafein dan tidak mengandung glukosa ataupun elektrolit. Cairan

(17)

bening lainnya yang boleh diberikan adalah sup ayam dan minuman rehidrasi lain yang tersedia di toko maupun apotek. Teh sebaiknya tidak diberikan karena, teh merupakan produk yang mengandung kafein yang akan meningkatkan kehilangan cairan pada anak melalui buang air kecil dan memperberat dehidrasi. Jika terhidrasi dengan baik maka, anak akan buang air kecil empat jam sekali dengan urin bewarna terang (Ferry, 2010).

c. Memantau penyakit yang serius ataupun mengancam jiwa

Memantau anak akan adanya tanda -tanda penyakit serius ataupun yang mengancam jiwa. Strategi yang baik adalah dengan mengurangi suhu anak dibawah 39,0oC. Selain itu, pastikan cairan anak tercukupi dengan meminum banyak air. Jika kedua kondisi ini terpenuhi dan anak masih tampak sakit, mungkin ada masalah yang serius (Ferry, 2010).

 Perawatan Medis

Diperlukan perawatan demam secara langsung oleh dokter apabila penderita dengan:

- usia < 3 bulan dengan suhu re ctal ≥ 38,0oC.

- usia 3 sampai 12 bulan dengan suhu ≥ 39,0oC.

- usia < 2 bulan dengan demam yang berlangsung > 24 sampai 48 jam.

- demam dengan suhu > 40,5oC, kecuali mudah turun dengan pengobatan dan orang tersebut merasa nyaman.

- mengalami demam yang naik turun selama seminggu atau lebih, bahkan dengan suhu yang tidak terlalu tinggi.

- memiliki penyakit serius, seperti masalah jantung, sickle cell anemia, diabetes, atau cystic fibrosis.

- demam dengan suhu yang tidak turun selama 48 sampai 72 jam (Kaneshiro & Zieve, 2010).

(18)

 Seorang dokter mungkin saja tidak memberitahu penyebab pasti terjadinya demam. Ada beberapa tindakan yang dilakukan oleh dokter ketika anak dengan demam dibawa oleh keluarganya untuk berobat.

a. Pada infeksi virus dokter tidak akan memberikan antibiotik karena, pemberian antibiotik tidak akan bermanfaat dan justru akan menyebabkan terjadinya reaksi obat yang akhirnya menimbulkan masalah yang baru.

b. Antibiotik diberikan pada infeksi bakteri.

c. Anak yang memiliki penyakit serius sepe rti meningitis bakteri biasanya akan dirawat di rumah sakit.

d. Acetaminophen dan ibuprofen adalah obat yang biasanya digunakan dokter untuk menurunkan demam.

e. Pemberian cairan oral ataupun intravena dapat dilakukan untuk mengatasi dehidrasi.

f. Jika kondisi anak sudah mulai membaik setelah mengurangi demam, mengatasi dehidrasi, dan memastikan tidak ada infeksi bakteri yang serius, umumnya dokter akan menganjurkan perawatan dirumah dan pemantauan lebih lanjut (Ferry, 2010).

2.1.9 Pencegahan Demam

Pencegahan berbagai macam penyakit penyebab demam dimulai dari kebersihan pribadi dan rumah tangga. Tindakan -tindakan dibawah ini dapat mencegah terjadinya penyebaran bakteri dan virus, yaitu:

1. Mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir 2. Menutup mulut dan hidung saat bersin.

3. Menyentuh makanan dengan tangan yang bersih.

4. Mengimunisasi anak dengan benar sesuai jadwal imunisasi.

5. Memakan makanan yang sehat, termasuk buah -buahan dan sayuran.

6. Tidur yang cukup (Ferry, 2010)

(19)

2.2. Pengetahuan

2.2.1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata). Penginderaan ini juga dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap suatu objek.

2.2.2. Pembagian Tingkat P engetahuan

Secara garis besar tingkat pengetahuan dibagi atas enam hal, yaitu:

1. Tahu (Know), yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

2. Memahami (Comprehension), yakni kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi (Application), yakni kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.

4. Analisis (Analysis), yakni kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen yang masih dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitan satu sama lain.

5. Sintesis (Synthesis), yakni kemampuan untuk meletakkan dan menghubungkan bagian -bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6. Evaluasi (Evaluation), yakni kemampuan melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek (Notoatmodjo, 2005).

2.2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi P engetahuan 1. Pendidikan

(20)

Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan seseorang pada orang lain terhadap suatu hal agar dapat dipahami. Semakin tinggi pendidikan seseorang maki n mudah mereka menerima informasi, dan semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya.

3. Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

4. Tingkat ekonomi

Tingkat ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status social ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

5. Umur

Dengan bertambahnya umur pada seseorang akan terjadi per ubahan pada aspek fisik dan psikologis. Pada aspek psikologis taraf berpikir seseorang akan semakin matang dan dewasa.

6. Minat

Suatu kecendrungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu.

Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang mendalam.

7. Pengalaman

Pengalaman adalah kejadian yamg pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Seseorang akan berusaha melupakan pengalaman yang tidak baik dan sebaliknya mengingat pengalaman yang menyenangkan.

8. Kebudayaan dan lingkungan sekitar 9. Informasi

Kemudian untuk memperoleh suatu informasi dapat mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru (Mubarak et al., 2007).

(21)

2.2.4. Pengukuran dan Indikator Pengetahuan Kesehatan

Pengetahuan tentang kesehatan adalah mencakup apa yang diketahui oleh seseorang terhadap cara -cara memelihara kesehatan. Pengetahuan tentang cara-cara memelihara kesehatan ini meliputi:

1. Pengetahuan tentang penyakit menular atau tidak menular (jenis penyakitnya, tanda-tanda atau gejalanya, penyebabnya, cara penularannya, cara pencegahannya, dan cara mengatasi atau menangani sementara).

2. Pengetahuan tentang faktor -faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan antara lain: gizi makanan, sarana air bersi h, pembuangan air limbah, pembuangan kotoran manusia, pembuangan sampah, perumahan sehat, polusi udara ,dan sebagainya.

3. Pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang professional maupun tradisional.

4. Pengetahuan untuk menghindari kecelakaan (Notoat modjo, 2005)

2.3. Tindakan

2.3.1. Definisi Tindakan

Tindakan adalah kecenderungan untuk melakukan sesuatu. Untuk mewujudkan tindakan diperlukan faktor lain, yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana.

2.3.2. Tingkatan Tindakan

Tindakan dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan menurut kualitasnya, yaitu:

1. Praktik terpimpin (guided response)

Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tunt unan atau menggunakan panduan. m isalnya, seseorang ibu memeriksaka n kehamilannya tetapi masih menunggu diingatkan oleh bidan atau tetangga -nya.

2. Praktik secara mekanisme (mechanism)

(22)

Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikan sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis.

misalnya, seorang ibu selalu membawa anaknya ke Pos yandu untuk ditimbang, tanpa harus menunggu perintah dari kader atau petugas kesehatan.

3. Adopsi (adoption)

Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.

Artinya, apa yang dilakukan tidak s ekedar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan atau prilaku yang berkualitas. Misalnya, menggosok gigi bukan sekedar gosok gigi, melainkan dengan teknik-teknik yang benar (Notoatmodjo, 2005).

2.3.3. Faktor yang Memp engaruhi Perilaku Kesehatan

Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi perilaku kesehatan, yaitu 1. Faktor predisoposisi

Faktor ini meliputi pengetahuan dan sikap masyarakat terhdap hal -hal yang berkaitan dengan kesehatan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya. Diperlukan pengetahuan dan kesadaran tentang manfaat perilaku kesehatan untuk mewujudkan tindakan kesehatan.

Namun, kepercayaan akan tradisi masyarakat, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi juga dapat menghambat atau mendorong seseorang untuk berperilaku.

2. Faktor pemungkin

Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Untuk dapat berperilaku sehat, masyarakat memerlukan sarana dan prasarana mendukung atau fasilitas yang memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung atau pemudah.

3. Faktor penguat

Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas kesehatan, termasuk juga undang-undang, peraturan yang terkait dengan kesehatan. Untuk

(23)

dapat berperilaku sehat positif tidak bisa hanya dengan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan para petugas kesehatan.

2.3.4. Pengukuran Tindakan atau Peraktik K esehatan

Adalah semua kegiatan atau aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan.

Hal ini meliputi empat faktor, yaitu:

1. Tindakan atau praktik sehubungan dengan penyakit menular atau tidak menular (jenis penyakitnya, tanda-tanda atau gejalanya, penyebabnya, cara penularannya, cara pencegahannya, dan cara mengatasi atau menangani sementara).

2. Tindakan atau praktik sehubungan dengan faktor -faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan, antara lain: gizi makanan, sar ana air bersih, pembuangan air limbah, pembuangan kotoran manusia, pembuangan sampah, perumahan sehat, polusi udara dan, sebagainya.

3. Tindakan atau praktik sehubungan dengan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan.

4. Tindakan atau praktik untuk menghindari k ecelakaan.

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan apabila droplet air yang terdispersikan dalam minyak itu berarti emulsi yang terbentuk adalah emulsi water-in-oil (W/O).. Secara teoritis, fase terdispersi

Berdasarkan hasil wawancara, dapat dikemukakan bahwa pelaksaan teknis sudah berpedoman kepada Peraturan Kepala BKN No. 29 Tahun 2014 Tentang Standar Opera- sional

Tahap yang digunakan dalam penelitian mencakup tiga tahap yaitu (1) penyediaan data, (2) analisis data, dan (3) penyajian hasil data. Tahap penyajian dengan mengamati

Pertama; percaya kepada yang ghaib:Orang-orang yang beriman kepada yang ghaib merupakan hakekat keimanan yaitu kepercayaan yang sempurna dengan apa-apa yang

Metode seismik  khususnya seismik refraksi dapat membantu dalam penentuan $ona gelincir dengan prinsip khususnya seismik refraksi dapat membantu dalam penentuan $ona gelincir

Tahanan tanah (soil resistance) sepanjang tiang yang tertanam dan pada ujung tiang direpresentasikan dengan komponen statik dan dinamik.

Pokja Pengadaan Barang/Jasa pada Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Aceh Barat Daya akan melakukan klarifikasi dan/atau verifikasi kepada penerbit dokumen,

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : Untuk menganalisis pengelolaan modal kerja, struktur modal dan profitabilitas pada industri pulp &amp; paper yang terdaftar di