PENGARUH PENAMBAHAN EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4) TERHADAP KUALITAS KOMPOS CAMPURAN
FESES SAPI DAN PELEPAH SAWIT
SKRIPSI
EMILIA WAHYU SAPUTRI E10018096
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS JAMBI
2023
PENGARUH PENAMBAHAN EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4) TERHADAP KUALITAS KOMPOS CAMPURAN
FESES SAPI DAN PELEPAH SAWIT
Emilia Wahyu Saputri (E10018096), dibawah bimbingan:
Hardi Syafria1) dan Adriani2)
Program Studi Peternakan fakultas Petrnakan Universitas Jambi Jl.Jambi-Ma. Bulian KM 15 Mendalo Darat Jambi 36361
Email: [email protected] RINGKASAN
Kompos merupakan hasil penguraian bahan organik dari berbagai bahan limbah peternakan dan perkebunan yang telah mengalami proses pengomposan dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Melalui proses tersebut akan menjadi kompos yang mengandung unsur hara makro dan mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Effective Microorganisme 4 (EM4) terhadap kualitas kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 pelakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari A0= feses sapi 50% + pelepah sawit 45% + urea 1% + dedak 4%, A1= feses sapi 50% + pelepah sawit 45% + urea 1% + dedak 4% + EM4 1%, A2= feses sapi 50% + pelepah sawit 45%
+ urea 1% + dedak 4% + EM4 2%, A3= feses sapi 50% + pelepah sawit 45% + urea 1% + dedak 4% + EM4 3%. Peubah yang diamati yaitu warna, tekstur, bau, suhu, pH, penyusutan dan unsur hara kompos (karbon, nitrogen, phospor, kalium dan C/N rasio).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan penambahan EM4 menghasilkan kompos dengan warna, bau dan tekstur semuanya berwarna coklat kehitaman, berbau tanah dan bertekstur remah. Rataan suhu awal pengomposan yaitu 31.03 dan suhu akhir 29.15oC, rataan pH 7.27-7.52 dan rataan penyusutan 19.15-20.67%.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan EM4 berpengaruh sangat nyata (P<0.01) pH, Penyusutan, kandungan karbon, nitrogen, phosphor, rasio C/N dan berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap kandungan kalium kompos.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam pembuatan kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit dengan penambahan EM4 1%
didapatkan pada warna, bau dan tekstur yang baik dan unsur hara (C, N, P, dan C/N) dan pH kompos sudah memenuhi (SNI 19-7030-2004) kecuali kandungan Kalium.
Kata Kunci: Effective Microorganism 4 (EM4), Unsur Hara, Kompos, Feses Sapi, Pelepah sawit
Keterangan: 1) Pembimbing utama
2) Pembimbing pendamping
SKRIPSI
PENGARUH PENAMBAHAN EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4) TERHADAP KUALITAS KOMPOS CAMPURAN
FESES SAPI DAN PELEPAH SAWIT
Oleh
EMILIA WAHYU SAPUTRI E10018096
Telah di Uji Dihadapan Tim Penguji Pada Hari,……… dan dinyatakan Lulus
Ketua : Dr. Ir Hardi Syafria, M.Si Sekertaris : Prof. Dr. Ir. Hj. Adriani, M.Si Anggota : 1. Ir. Ahmad Yani, M.P
2. Dr. Ir. Jalius, M.S 3. Dr. Ir. Yurleni, M.Si
Menyetujui :
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Dr. Ir. Hardi Syafria, M.Si Prof. Dr. Ir. Hj. Adriani, M.Si NIP.196309071989021002 NIP.196701211993032001
Tanggal: Tanggal:
Mengetahui:
Wakil Dekan BAKSI Ketua Jurusan Peternakan
Dr. Ir. Syafwan, M.Sc Dr. Bayu Rosadi, S. Pt., M.Si NIP.196902071993031003 NIP. 197212101999031003
Tanggal: Tanggal:
PERNYATAAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul
“Pengaruh Penambahan Effective Microorganism 4 (EM4) terhadap Kualitas Kompos Campuran Feses Sapi dan Pelepah Sawit” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku.
Jambi. Desember 2022
Emilia Wahyu Saputri
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tegal Arum pada tanggal 8 Juni 2000, sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan bapak Suwarso dan ibu Sunarti. Penulis menyelesaikan pendidikan PAUD di PAUD Sari Arum pada tahun 2006, pendidikan sekolah dasar di SDN 165/VIII Sumber Arum pada tahun 2012, pendidikan menengah pertama di SMPN 27 Tebo pada tahun 2015, dan pendidikan menengah atas di SMAN 11 Tebo pada tahun 2018. Penulis mengambil jurusan IPA dan menamatkan SMA pada tahun 2018.
Pada tahun 2018 penulis diterima sebagai mahasiswa di Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jambi melalui jalur Seleksi Nasioanl Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN). Selama perkuliahan penulis menjadi Asisten Dosen Mata Kuliah Agama 2019-2020, Bahan pakan dan Formulasi Ransum 2019-2020 dan penulis juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jendral Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan pada tahun 2020.
Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapang dan Magang Pengganti Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) pada semester VII (ganjil) tahun akademik 2021/2022 yang bertempat di UPTD Balai Pembibitan Ternak Serai Serumpun Kabupaten Tebo Provinsi Jambi.
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh Penambahan Effective Microorganism 4 (EM4) terhadap Kualitas Kompos Campuran Feses Sapi dan Pelepah Sawit”.
Skripsi ini dapat terselesaikan dengan adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh sebab itu dengan penuh kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
Bapak Dr. Ir. Hardi Syafria, M.Si selaku pembimbing akademik sekaligus pembimbing utama dan Ibu Prof. Dr. Ir. Hj. Adriani, M.Si selaku pembimbing pendamping yang sudah penulis anggap seperti orang tua sendiri yang telah banyak membantu dan meluangkan waktu membimbing penulis dalam penyusunan skripsi.
Bapak Ir. Ahmad Yani M.P., Bapak Dr. Ir. Jalius, M.S, dan Ibu Dr. Ir.
Yurleni M.Si., selaku tim evaluator yang telah banyak memberikan saran dan masukan kepada penulis dari mulai penyusunan proposal hingga penyusunan skripsi.
Kedua orang tua penulis Bapak Suwarso dan Ibu Sunarti, Bapak Bambang Gunarso dan Ibu Sulasmi, suami Deden Suyono dan anak Anak Arshaka H.A., serta adik Aziz Maulana dan Ahmad Prabu yang selalu memberikan motivasi, dukungan moril maupun materil, semangat, kasih sayang serta doa yang terus dipanjatkan tiada hentinya.
Bapak Dr. Ir. Agus Budiansyah, M.S. selaku Dekan Fakultas Peternakan yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan studi di Fakultas Peternakan.
Bapak Dr. Bayu Rosadi, S.Pt., M.Si. selaku Kepala Jurusan Peternakan yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan studi di Fakultas Peternakan.
Bapak Dr. Ir. Endri Musnandar, MS selaku Kaprodi Peternakan yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan studi di Fakultas Peternakan.
Bapak dan Ibu Dosen Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Jambi yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada peulis selama masa studi.
Teman-teman angkatan 2018, teman-teman PMII dan semua teman-teman yang tak tersebutkan namanya semoga persahabatan ini selalu terjalin hingga nanti.
Untuk orang yang telah banyak membantu penulis selama perkuliahan hingga selesai yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungannya.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang peternakan dan dapat dijadikan acuan untuk penulis selanjutnya.
Jambi, Januari 2023
Emilia Wahyu Saputri
DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA i
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL v
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1.Latar Belakang 1
1.2.Tujuan 3
1.3.Manfaat 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1.Kompos 4
2.2.Feses Sapi 6
2.3.Pelepah sawit 7
2.4.Effective Microorganisme 4 (EM4) 8
2.5.Urea 9
2.6.Dedak 9
BAB III METODE PENELITIAN 11
3.1.Tempat dan Waktu 11
3.2.Materi dan Peralatan 11
3.3.Metode 11
3.4.Rancangan Penelitian 14
3.5.Peubah yang Diamati 15
3.6.Analisis Data 16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 17
4.1.Pengamatan Warna 17
4.2.Pengamatan Bau 18
4.3.Pengamatan Tekstur 18
4.4.Suhu Pengomposan 19
4.5.pH (Derajat Keasaman) 20
4.6.Penyusutan Kompos 21
4.7. Kandungan Karbon (C) 23
4.8. Kandungan Nitrogen (N) 23
4.9. Kandungan Phospor (P) 25
4.10. Kandungan Kalium (K) 26
4.11. C/N rasio 26
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 28
5.1.Kesimpulan 28
5.2.Saran 28
DAFTAR PUSTAKA 29
LAMPIRAN 33
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Standar Kualitas Kompos (SNI) 5
2. Kandungan Unsur hara Feses sapi 7
3. Kandungan Unsur Hara Pelepah Sawit 8
4. Warna kompos dengan Perlakuan EM4 (%) 17
5. Bau kompos dengan Perlakuan EM4 (%) 18
6. Tekstur kompos dengan Perlakuan EM4 (%) 18
7. Rataan pH (Derajat Keasaman) yang diberi Perlakuan EM4 (%) 20
8. Rataan Penyusutan kompos dengan Perlakuan EM4 (%) 21
9. Rataan Kandungan karbon (C) dengan Perlakuan EM4 (%) 23
10. Rataan Kandungan nitrogen (N) dengan Perlakuan EM4 (%) 24
11. Rataan Kandungan phosfor (P) dengan Perlakuan EM4 (%) 25
12. Rataan Kandungan kalium (K) dengan Perlakuan EM4 (%) 26
13. Rataan Kandungan Rasio C/N kompos dengan Perlakuan EM4 (%) 27
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1.Bahan-bahan Pembuatan Kompos 12
2.Pencampuran Bahan 12
3.Pemanenan Kompos 13
4.Diagram Alur Pembuatan Kompos 15
5.Standar Warna Kompos (Coklat, Coklat Kehitaman, Hitam) 17
6.Grafik Perubahan Suhu Harian Kompos 19
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Perhitungan C/N sebelum pembuatan kompos campuran feses sapi
dan pelepah sawit 33
2. Perhitungan komposisi bahan sebelum pembuatan kompos 35
3. Analisis ragam pH kompos 36
4. Uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan terhadap pH kompos 37
5. Analisis ragam penyusutan kompos 38
6. Uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan terhadap penyusutan kompos 39
7. Analisis ragam C-Organik kompos 40
8. Uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan terhadap C-Organik kompos 41
9. Analisis ragam N total kompos 42
10. Uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan terhadap N total kompos 43
11. Analisis ragam P total kompos 44
12. Uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan terhadap P total kompos 45
13. Analisis ragam K totalkompos 46
14. Analisis ragam C/N yang rasio kompos 47
15. Uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan terhadap C/N rasio kompos 48
16. Pelaksanaan analisa kandungan unsur hara kompos 49
17. Tata letak (pengacakan) unit penelitian 51
2 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kompos merupakan hasil penguraian atau pelapukan bahan organik dari berbagai bahan yang berasal dari limbah peternakan dan perkebunan yang telah mengalami proses pengomposan. Pengomposan adalah proses penguraian (dekomposisi) bahan-bahan organik dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Dengan proses tersebut bahan-bahan organik akan diubah menjadi kompos yang mengandung unsur hara makro dan mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Banyak bahan yang digunakan untuk pembuatan kompos yaitu berasal dari limbah peternakan dan limbah perkebunan.
Salah satu bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku campuran kompos adalah feses sapi dan pelepah sawit. Feses sapi mempunyai potensi sangat baik sebagai sumber hara tanaman melalui proses penguraian.
Pengolahan bahan organik menjadi kompos merupakan teknologi pupuk organik yang bertujuan untuk konservasi lingkungan, disamping itu, penggunaan pupuk organik kompos kompos dapat mereduksi penggunaan pupuk kimia, dan memberi nilai tambah bagi peternak.
Populasi sapi potong di Jambi sebanyak 160.261 ekor (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2022). Sapi Bali (Bos Sondaicus) rata-rata satu ekor setiap harinya menghasilkan feces 7-10 kg per hari atau setara dengan 1.121.827-1.160.261 ton per hari. Oleh sebab itu, feses sapi sangat berpotensi sebagai bahan dasar campuran pembuatan kompos. Adapun kandungan nutrisi feces sapi terdiri dari nitrogen 0.4 - 1 %, phospor 0,2 - 0,5 %, kalium 0,1 – 1,5 %, kadar air 85 – 92 %, dan juga mengandung beberapa unsur-unsur lain seperti Ca, Mg, Mn, Fe, Cu, dan Zn , namun dalam jumlah yang sedikit (Dewi et al, 2017).
Selain feses sapi, pelepah sawit merupakan salah satu limbah yang belum banyak dimanfaatkan. Pelepah sawit banyak tertumpuk di perkebunan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan kompos. Luas tanaman kelapa sawit di Jambi pada tahun 2020 adalah 1.074.599 ha dengan produksi 3.002.565 ton atau sekitar 3.596 kg/ha (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian
3 Pertanian, 2022). Komponen penyusun terbesar pelepah kelapa sawit adalah hemiselulosa 21.1%; selulosa 27.9%; lignin 16.9%, PK 5.3% dan silica 0.6%
(Darmosarkoro, 2012).
Pelepah kelapa sawit berpotensi besar untuk dijadikan sebagai bahan baku pupuk kompos, namun karena bahan penyusun pelepah kelapa sawit terdiri dari bahan yang sulit terdekomposisi maka dibutuhkan perlakuan khusus untuk mempercepat proses dekomposisi pelepah kelapa sawit yaitu dengan penambahan bioaktivator. Kompos berbahan baku pelepah kelapa sawit yang dihasilkan Yuniati (2014) menunjukkan hasil analisa kompos, rata-rata C-organik 40-41 %, kadar N 1,27-1,43 % dan rasio C/N 28,01–32,72. Berdasarkan SNI Kompos 19- 7030-2004 bahwa nilai C-organik dan rasio C/N kompos belum sesuai kriteria SNI Kompos.
Proses pengomposan secara alami memerlukan waktu yang cukup lama dalam merombak bahan organik. Tetapi proses pengomposan dapat dipersingkat dengan penambahan bioaktivator. Hal ini, disebabkan karena bioaktivator mengandung berbagai jenis mikroorganime pengurai yang mampu mengurai bahan organik, sehingga mempercepat proses pematangan kompos. Salah satunya adalah dengan penambahan Effektive Mikroorganism 4 (EM4). Effektive Mikroorganism 4 (EM4) merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang dapat menghasilkan enzim untuk memecah selulosa menjadi glukosa yang bermanfaat bagi kesuburan tanah, pertumbuhanan dan produksi tanaman serta ramah lingkungan. EM4 adalah suatu cairan berwarna kecoklatan dan beraroma segar yang di dalamnya berisi campuran beberapa mikroorganisme yang menguntungkan bagi proses penyerapan unsur hara dalam tanah. EM4 mengandung 90% bakteri Lactobacillus sp. (bakteri penghasil asam laktat) dan Saccharomyces, bakteri fotosintetik, Streptomyces sp, Actinomycycetes sp, jamur pengurai selulosa dan ragi (Yeast), EM4 juga mengandung bakteri penghambat N dan bakteri pelarut P yang dapat bekerja secara efektif dalam mempercepat proses fermentasi pada bahan organik (Yuniwati,2012). Hasil penelitian Lilis (2021) menyatakan bahwa dosis terbaik penggunaan EM4 berbahan dasar feses sapi, limbah kubis dan kulit kopi adalah 2%, karena menghasilkan kualitas kompos yang baik ditinjau dari warna, bau, tekstur, pH, penyusutan dan unsur hara.
4 Berdasaran uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian ini, yang bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh penamabahan EM4 terhadap kualitas kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit.
1.2. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Effective Microorganisme 4 (EM4) terhadap kualitas kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit.
1.3. Manfaat
Mengetahui taraf terbaik penambahan EM4 pada pembuatan kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit dan diharapkan dapat berguna sebagai bahan informasi bagi peneliti maupun masyarakat.
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kompos
Kompos merupakan salah satu pupuk yang berasal dari feses hewan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, sehingga dapat menjadi pupuk yang berkualitas (Simarmata, 2017).
Pengomposan merupakan proses dekomposisi bahan organik secara biologi dengan bantuan mikroorganisme pada lingkungan yang terkendali. Menurut Wicaksono et al (2012), mekanisme kelangsungan dekomposisi bahan organik dijelaskan secara sederhana yaitu pada saat mikroorganisme mengambil air (H2O), oksigen (O2) dan makanan dengan cara memotong rantai karbon pada bahan organik sehingga menghasilkan produk berupa CO2, air (H2O), humus dan energi.
Energi yang dihasilkan digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme dan sebagian lainnya dibuang dalam bentuk panas. Semakin tinggi panas yang dikeluarkan menandakan aktivitas mikroorganisme dalam pengurian bahan organik berjalan secara cepat. Hal tersebut yang menjadikan suhu merupakan salah satu indikator menandakan keberhasilan dalam proses pengomposan. Nantinya, fluktuasi suhu dari kompos akan menggambarkan karakteristik proses pengomposan yang sedang berlangsung.
Proses pengomposan bahan organik dibagi menjadi dua tahapan yaitu proses aktif dan proses pematangan. Pada proses aktif, mikroorganisme akan menguraikan bahan organik komplek menjadi bahan organik yang lebih sederhana. Pada awal tahapan aktif, mikroorganisme akan menguraikan senyawa yang mudah terurai lebih dahulu sehingga pada awal tahap aktif merupakan tahapan pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme pengurai. Pada awal tahap aktif, mikroorganisme yang banyak berperan merupakan bakteri mesofilik yaitu bakteri 2 yang aktif pada suhu 20-450C (Heni, 2012). Pertumbuhan dan perkembangan dari mikroorganisme akan berbanding lurus dengan jumlah energi panas yang dilepaskan sehingga suhu kompos akan meningkat dengan cepat pada awal pengomposan. Tahapan aktif akan terus berlangsung dengan suhu bahan yang terus naik sehingga hanya mikroorganisme termofilik yang memiliki peran
6 dikarenakan memiliki suhu optimum untuk hidup berkisar antara 45-600C (Heni, 2012).
Menurut Isroi (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan antara lain :
a. Pencacahan ukuran partikel :Pencacahan bahan organik akan membantu kecepatan pengomposan.
b. Aerasi :Pengomposan yang cepat dapat berlangsung dalam kondisi yang cukup oksigen (aerob). Apabila kekurangan oksigen, proses dekomposisi tidak berjalan dengan baik.
c. Kelembaban :Kelembaban 40-60% adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban dibawah 40% aktivitas mikroba akan mengalami penurunan. Jika kelembaban lebih besar dari 60% maka unsur hara akan tercuci dan volume udara berkurang.
d. Temperatur/Suhu :Kisaran temperatur ideal tumpukan kompos adalah 55-65ºC.
Menurut Indriani. (2000), suhu optimal dalam proses pengomposan adalah 30- 50ºC, sedangkan menurut kriteria SNI (2004), suhu ideal proses pengomposan maksimal 50ºC.
e. Derajat Keasaman (pH) : Kisaran pH yang baik sekitar 6,5 - 7,5 (netral). Oleh karena itu, dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH (Indriani, 2000).
Karakteristik kompos menurut SNI dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Standar Kualitas Kompos (SNI)
No Parameter Satuan Minimum Maksimum
1 Kadar Air % - 50
2 Temperatur oC suhu air tanah
3 Warna Kehitaman
4 Bau berbau tanah
5 Ph 6,80 7,49
6 Nitrogen % 0,40 -
7 Karbon % 9,80 32
8 Phosfor (P2O5) % 0.1 -
9 C/N-rasio 10 20
10 Kalium (K2O) % 0,20
Sumber : Standar Nasional Indonesia (SNI) Pupuk Kompos
7 2.2. Feses Sapi
Sapi mempunyai potensi yang besar untuk menghasilkan kotoran ternak yang dapat diproses menjadi pupuk organik. Pada pemeliharaan sapi secara tradisional, kotoran sapi pada umumnya tidak dimanfaatkan sebagai pupuk meskipun pada beberapa daerah pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk sudah dilakukan. Proses pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi belum banyak dilakukan petani sehingga hal ini merupakan peluang yang baik bagi petani/petemak pemelihara sapi untuk mendapat tambahan pendapatan. Proses dekomposisi kotoran sapi hingga menjadi pupuk organik memerlukan waktu yang lama (3-4 bulan) bila dilakukan secara tradisional. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat menghasilkan beberapa unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman (Rahayu dan Nurhayati, 2005).
Di Provinsi Jambi tercatat jumlah populasi sapi sebanyak 153,220 ribu ekor (BPS Provinsi Jambi, 2017). Kotoran sapi dapat dijadikan pupuk organik karena mempunyai kandungan unsur hara yang cukup tinggi. Penggunaan pupuk kompos dari feses sapi sangat baik sebagai suplai bahan organik serta dapat memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan panjang dan kerapatan akar, biomassa, luas daun, serapan nitrogen, produksi biji, efisiensi penggunaan air (Rahayu dan Nurhayati, 2005).
Limbah kotoran sapi mempunyai potensi yang sangat baik sebagai penyedia unsur hara tanaman, oleh karena itu salah satu upaya penanganan yang dilakukan dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak tersebut sebagai pupuk organik sehingga limbah tersebut tidak terbuang sia-sia. Pengolahan bahan organik menjadi kompos (pengomposan), dianggap sebagai teknologi berkelanjutan karena bertujuan untuk konservasi lingkungan, dan penggunaan kompos (pupuk organik) (Purba, 2016).
Pengolahan feses sapi menjadi pupuk terhadap unsur hara pupuk kandang bisa mendatangkan keuntungan bagi peternak, yang baik untuk mendapat unsur hara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman menjadi sangat penting. Selain itu, pengolahan feses menjadi pupuk bisa lebih cepat daripada proses alami (Suhesy, 2014).
Kandungan unsur hara feses sapi dapat dilihat pada tabel 2 berikut.
8 Tabel 2. Kandungan Unsur Hara Feses Sapi
Parameter Satuan Minimum
Nitrogen (N) % 0,4
Phospor (P2O5) % 0,2
Kalium (K) % 0,1
Air % 80
C/N rasio % 19
Sumber : Pinus Lingga, 1992 2.3. Pelepah Sawit
Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia 12,3 juta hektar dengan produksi lebih dari 34,94 juta ton CPO. Provinsi Jambi menempati posisi kelima di Indonesia dengan produksi 28 juta ton (Statistik Pertanian, 2018). Luas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Jambi pada tahun 2017 adalah 768,022 (Statistik Pertanian, 2018).
Limbah industri kelapa sawit adalah limbah yang dihasilkan pada proses pengolahan kelapa sawit. Limbah jenis ini digolongkan dalam tiga jenis yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Kandungan unsur hara pada pelepah kelapa sawit Menurut Yulianti (2009) yaitu sebagai berikut: N (1,5-1,9%), P (0,18-0,20%), K (1,3-1,5%), C (18,00 %), Ca (0,8-0,9%).
Salah satu cara untuk memanfaatkan pelepah kelapa sawit sebagai sumber unsur hara tanaman adalah dalam bentuk kompos. Pelepah kelapa sawit mengandung lignin yang tinggi maka proses pengomposan pelepah kelapa sawit membutuhkan waktu lama. Pelepah sawit yang telah difermentasi memiliki kandungan nutrisi tinggi. Nutrisi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber makanan mikroorganisme sehingga dapat berkembangbiak dan bertumbuh dengan cepat pada kompos (Saragih et al. 2020).
Pemanfaatan dari limbah daun kelapa sawit salah satunya adalah dengan mengkonversinya menjadi pupuk organik. Hal ini lebih memungkinkan mengingat proses yang cukup mudah dan biaya relatif murah. Selain itu, produk hasil konversinya dapat langsung dimanfaatkan di areal kebun sebagai tambahan zat hara pada tanah (Bulan et al., 2016).
Kandungan unsur hara pelepah swit dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini:
9 Tabel 3. kandungan unsur hara pelepah kelapa sawit
No Kandungan unsur hara Hasil pengujian
1 C-Organik 10,20%
2 N Total 1,46%
3 Ca 15,75%
4 C/N 6,99%
5 Selulosa 27.9%
6 Hemiselulosa 21.1%
7 Lignin 16.9%
8 Silica 0.6%
9 PK 5.3%
Keterangan : hasil pengujian di Laboratorium Penguji Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor tahun 2020.
2.4. Effective Mikroorganisme 4 (EM4)
EM4 pertanian yang digunakan mengandung bakteri (Lactobacillus sp.
;1,09x107 cfu/ml dan Saccharomyces sp. ;4,30x107 cfu/ml), bakteri fungsional positif (penambat nitogen, pelarut pospat, penghasil fitohormon, perombak bahan organik seperti selulotik, Lignolitik), dan Logam berat (timbal (Pb) <0,096 mg/kg, kadmium (Cd) 0.01 mg/kg, merkuri (Hg) <0.01 µg/kg, Arsen (As) 1,86 µg/kg dan pH 3.25) (Analisa Lab Fakultas Pertanian UGM Serifikat Hasil Analisa Mikroorganisme No.212/LM/ANLS/10/17).
Effective Microorganisme 4 terdiri dari kultur campuran beberapa mikroorganisme yang menguntungkan dalam proses pengomposan yang mengandung mikroorganisme yakni bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.), jamur fermentasi (Saccharomyces sp.), bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas sp.) dan Actinomycetes (Utomo, 2007).
Effective Microorganism 4 berisi sekitar 80 genus mikroorganisme fermentasi, di antaranya bakteri fotositetik, Lactobacillus sp., Streptomyces sp., Actinomycetes sp. dan ragi yang digunakan untuk pengomposan modern. Effective Microorganism 4 diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman yang selanjutnya dapat
10 meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kualitas dan kuantitas produksi tanaman (Maman, 1994).
Penggunaan mikroorganisme seperti Effective Migroorganism 4 (EM4) merupakan bahan aktivator untuk membangun pertanian ramah lingkungan dengan memanfatkan mikroorganisme pembusuk yang bermanfaat untuk kesuburan tanah, dengan cara pembuatan kompos pupuk kandang dengan menggunakan EM4 atau sejenisnya, sesuai dengan dosis atau pemakaian yang tepat berdasarkan petunjuk penggunaan. Berdasarkan hal tersebut di atas maka organisme di dalam tanah akan tumbuh subur kembali, sehingga fisik tanah yaitu tektur dan struktur menjadi lebih baik, tanaman akan tumbuh subur, dengan produktifitas yang tinggi (BBPP Lembang 2013).
Manfaat EM4 dalam proses fermentasi bahan organik, mikroorganisme akan bekerja dengan baik bila kondisi sesuai. Proses fermentasi akan berlangsung dalam kondisi anaerob, pH rendah (3-4), kadar garam dan gula tinggi, kandungan air sedang 30-40%, kandungan antioksidan dari tanaman rempah dan obat, adanya mikroorganisme fermentasi, serta suhu yang mendukung (40-50 0C) (Ekawandani, 2018).
2.5.Urea
Urea dengan rumus kimia CO(NH2)2 dibuat dengan bahan dasar gas alam dan hasil sampingan tembaga minyak bumi. Udara mudah menyerap air karena mempunyai sifat higroskopis. Pada kelembaban 73%, urea akan berubah menjadi air. Di pasaran, urea telah banyak dijual dalam bentuk seperti prill (curah), bola- bola, kotak, dan tablet (Parnata, 2004).
Urea merupakan salah satu pupuk yang mengandung 46% N. Unsur N mudah hilang melalui penguapan dan pencucian. Oleh karena itu, dalam aplikasinya dilapangan efesiensi pupuk N hanya sekitar 30-40 % dari jumlah pupuk yang diberikan (Widowati et al, 2015).
Unsur nitrogen dibutuhkan tanaman sepanjang pertumbuhannya sehingga sebaiknya pemupukan nitrogen diberikan secara bertahap sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman (Abdul dan Maya, 2014). Menurut Wawan et al, (2007) pemupukan N sangat diperlukan untuk mendapatkan produksi tanaman yang
11 optimal. Pengelolaan pemupukan N sering dihadapkan pada rendahnya efisiensi yang disebabkan oleh besarnya kehilangan N melalui pencucian dan penguapan.
2.6. Dedak
Dedak merupakan hasil penggilingan padi yang dapat digunakan sebagai tambahan nutrisi pada media tumbuh jamur (Alqurni et al., 2020). Dedak mempunyai sumber karbon dan nitrogen lebih kompleks dibandingkan dengan media lain. Karbohidrat yang mudah tersedia seperti halnya dedak pada merupakan sumber energy yang dapat memfasilitasi aktifitas mokroorganisme dalam melakukan proses fermentasi. Menurut Gunawan (2008) kualitas dedak dipengaruhi oleh banyaknya kulit gabah yang ada didalamnya serta mengandung serat kasar antara 11-19%. Dedak padi terdiri dari kulit gabah, bahan pati dan selaput putih.
Dedak adalah hasil samping pabrik penggilingan padi dalam memproduksi beras. Dedak merupakan bagian kulit ari beras pada waktu dilakukan proses pemutihan beras. Dedak dapat digunakan sebagai pakan ternak, karena mempunyai kandungan gizi yang tinggi, harganya relatif murah, mudah diperoleh, dan pengunaanya tidak bersaing dengan manusia. Menurut Schalbroeck (2001) produksi dedak di Indonesia cukup tinggi per tahun dapat mencapai 4 juta ton dan setiap kwintal padi dapat menghasilkan 18-20 gram dedak. Proses penggilingan padi dapat menghasilkan beras giling sebanyak 65% dan limbah hasil gilingan sebanyak 35%, yang terdiri dari sekam 23%, dedak dan bekatul sebanyak 10%.
Protein dedak berkisar antara 12-14%, lemak sekitar 7-9%, serat kasar sekitar 8- 13% dan abu sekitar 9-12% (Murni et al, 2008).
Dedak padi yang berkualitas baik mempunyai ciri fisik seperti baunya khas, tidak tengik, teksturnya halus, lebih padat dan mudah digenggam karena mengandung kadar sekam yang rendah, dedak yang seperti ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi (Bakri, 2017). Menurut Yusak (2004) dedak juga memilki fungsi sebagai media pertumbuhan mikroba penghasil enzim selulase.Dedak masih digolongkan sebagai sumber energi, sumber vitamin B, dan kandungan lemaknya yang tinggi. Kandungan energi metabolis dedak padi ini sekitar 1,700 kkal/kg, kandungan lemak 13% (Rasyaf, 2011).
12 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Analisis kompos dilakukan di Laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi dan Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi. Penelitian dilakukan pada tanggal 20 April sampai dengan 20 Mei 2022
3.2.Materi dan Peralatan
Bahan yang digunakan berdasarkan total bahan kering sebanyak 60kg atau 5kg/perlakuan yang terdiri dari feses sapi 30kg (2.5 kg/perlakuan), pelepah sawit 27kg (2.25 kg/perlakuan) yang diperoleh dari kelompok tani taman kerja Rimbo Ilir, Tebo, dedak padi 2.4kg (0.2 kg/perlakuan), urea 0.6kg (0.05 kg/perlakuan) dan EM4 sebanyak 1.2L dengan masing-masing (50 ml, 100 ml dan 150 ml/perlakuan) yang dibeli ditoko pertanian. Sedangkan peralatan yang digunakan yaitu cangkul, jaring ayakan, ember, terpal, plastik, gunting, timbangan, choper, penyemprot cairan, thermometer, alat tulis (buku, pulpen, spidol), karung dan peralatan untuk analisa kualitas kompos.
3.3.Metode
Metode yang digunakan dalam pembuaan kompos adalah metode yang dikembangkan oleh Sofian (2006) yang sudah dimodifikasi. Pelaksanaan pembuatan kompos dibagi dalam 3 tahap:
3.3.1.Persiapan Bahan
Persiapan peralatan dan bahan campuran kompos. Bahan kompos pelepah sawit dipotong lebih kurang 5 cm dengan mesin chopper. Selanjutnya dilakukan analisis berat kering setiap bahan campuran kompos (feces sapi, pelepah sawit dan dedak), kemudian baru dikonversikan ke bahan segar, guna mengetahui banyaknya bahan yang digunakan. Melakukan penimbangan bahan campuran kompos sesuai persentase perlakuan. Sebagai wadah tempat pembuatan kompos digunakan karung ukuran 25 kg. Bahan- bahan pembuatan kompos yang telah digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
13 Gambar 1. Bahan-bahan Pembuatan Kompos
Keterangan : (a) Effective Microoganisme 4 (EM4), (b) Feses Sapi, (c) Pelepah Sawit, (d) Dedak Padi, (e) Urea
3.3.2.Pembuatan Kompos
Pencampuran bahan kompos dilakukan diatas terpal plastik, yang dimulai dari bahan dengan persentasenya lebih sedikit sampai yang terbanyak. Hal ini bertujuan agar bahan bisa tercampur secara homogen. Pada saat pencampuran bahan kompos, maka kandungan air bahan kompos diusahakan 50–60% dengan cara dikepal kemudian kompos menggumpal sebentar dan buyar. Kemudian bahan kompos yang sudah dicampur homogeny di masukan ke dalam karung, dan diikat.
Selanjutnya setiap karung dibuat label sesuai perlakuan, kemudian untuk penempatannya dilapangan dilakukan dengan pengacakan sesuai rancangan yang digunakan. Proses pengomposan dilakukan selama selama 30 hari dalam kondisi semiaerobik, pengukuran suhu kompos dilakukan setiap hari pada pukul 15.00 WIB dan setiap satu minggu dilakukan pengadukan dengan cara bahan kompos diaduk didalam karung. Pencampuran bahan-bahan kompos yang telah dilaksanakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Pencampuran bahan
Keterangan : (a) Pencampuran bahan kompos, (b) Pengukuran Suhu Kompos, (c) Pengacakan/Tata Letak Unit Penelitian
(a) (b) (c) (d) (e)
(a) (b) (c )
14 3.3.3.Pengamatan
Pengamatan secara sensory (menggunakan panca indra) meliputi warna, bau dan teksur kompos. Pengukuran penyusutan kompos dengan mengurangi berat awal dengan berat akhir kompos. Setelah kompos matang dilakukan pemanenan serta pengamatan warna, bau dan tektur kompos. Selanjutnya pada setiap unit penelitian diambil sampel sebanyak 500 gram kompos untuk dianalisa pH, N, P, K, C dan C/N kompos. Analisis karbon organik menggunkan metode Walkey dan Black, nitrogen menggunakan metode kjedhal, phosfor menggunakan metode spektrofotometer, kalium metode pertukaran kation dan C/N dari perbandingan C dengan N kompos.
Tahap-tahap pemanenan kompos yang telah dilaksanakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Proses Pemanenan Kompos
Keterangan : (a) Pengamatan sifat fisik (warna, tekstur, bau), (b) penjemuran kompos, (c) penggilingan dan pengayakan kompos, (d) pengemasan bahan untuk kandungan anlisa unsur hara
Pelaksanaan pembuatankompos juga dapat dilihat pada diagram alur yang tertera pada gambar 4.
(a) (b) (c) (d)
15 z
Gambar 4. Diagram alur pembuatan kompos 3.4. Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Sebagai perlakuan adalah tingkatan penggunaan EM4 pada pembuatan kompos.
A0 = feses sapi 50% + pelepah sawit 45% + urea 1% + dedak 4%
A1 = EM4 1% + feses sapi 50% + pelepah sawit 45% + urea 1% + dedak 4%
A2 = EM4 2% + feses sapi 50% + pelepah sawit 45% + urea 1% + dedak 4%
A3 = EM4 3% + feses sapi 50% + pelepah sawit 45% + urea 1% + dedak 4%
Dengan demikian terdapat 4 x 4= 16 unit penelitian. Dalam menentukan tata letak tiap unit perlakuan, dilakukan dengan cara pengacakan.
PELAKSANAAN PEMBUATAN KOMPOS
Persiapan bahan Pembuatan Kompos Pengamtan
Siapkan peralatan dan bahan campuran kompos
Pencampuran bahan dimulai dari yang sedikit sampai
yang terbanyak
Pengamatan sensory
Menchoper pelepah sawit
Analisis BK kemudian dikonversikan ke BS
Timbang bahan sesuai persentase
perlakuan
Kandungan air Usahakan 50-60%
Masukkan kedalam karung, lalu diikat Dibuat label sesuai
perlakuan dan dilakukan pengacakan
Pengamatan fisik
Pengolahan data Pengamatan unsur
hara
Penulisan dan laporan
16 3.5. Peubah yang diamati
Peubah yang diamati pada penelitian ini meliputi pengamatan secara sensory (warna, bau, tekstur) pH (Derajat Keasaman), penyusutan serta kandungan unsur hara (C, N, P, K dan C/N rasio.
a. Penentuan Warna
Penentuan warna kompos dilakukan dengan indra penglihatan. Penelis yang digunakan dalam penentuan warna berjumlah 5 orang.
Dalam penentuan warna menggunakan tabel warna dan menggunakan kategori warna coklat, coklat kehitaman dan hitam. Penentuan warna dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini:
Gambar 5. Standar Warna Kompos (oklat, Coklat Kehitaman dan Hitam) b. Penentuan Bau
Penentuan bau pada kompos dilakukan dengan indra penciuman. Panelis yang digunakan dalam penentuan bau berjumlah 5 orang. Dalam penentuan ini digunakan 3 kategori bau, yaitu bau amonia, bau tanah dan bau kayu lapuk. Bau amonia adalah kompos yang baunya menyengat dan masih berbau amoniak. Bau kayu lapuk adalah kompos yang dihasilkan sedikit berbau tetapi tidak berbau amoniak. Bau tanah adalah kompos yang hasilnya tidak berbau menandakan kompos sudah matang.
c. Penentuan Tekstur
Penentuan tekstur pada kompos dilakukan dengan menggunakan indra perabaan. Panelis yang digunakan dalam penentuan tekstur berjumlah 5 orang.
Dalam menentukan tekstur ini digunakan 2 kategori, yaitu kasar dan remah.
Tekstur remah adalah kompos dikepal akan menggumpal dan apabila ditekan lunak akan mudah hancur. Tekstur kasar kompos yang dihasilkan tidak hancur masih berbentuk seperti bahan awal.
d. Suhu
Pengukuran suhu dilakukan setiap hari pada jam 15.00 WIB. Alat yang digunakan adalah thermometer. Titik yang dapat mewakili suhu tumpukan adalah
17 bagian tengah tumpukan dengan ketinggian kira-kira 1/3 dari dasar tumpukan.
e. Penyusutan
Pengukuran penyusutan kompos dilakukan dengan cara penimbangan berat awal dan berat akhir kompos dengan menggunakan timbangan. Penyusutan kompos dihitung dengan cara mengurangi berat awal dikurangi berat akhir dibagi berat awal dan dikali 100%
3.6.Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara statistik dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 4 ulangan. Analisis ragam digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati.
Model matematis yang digunakan dalam penelitian adalah : Yij = μ + αi + εij
Keterangan:
Yij=hasil pengamatan (respon) akibat pengaruh perlakuan ke-i dalam ulangan ke-j i = perlakuan EM4 (0, 1, 2, dan 3).
J = ulangan (1, 2, 3 dan 4) μ = nilai tengah umum.
αi= pengaruh dari faktor perlakuan ke-i.
εij= pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j.
Apabila analisis ragam menunjukkan pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji jarak Duncan (Steel dan Torrie, 1993).
18 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengamatan Sensory Kompos
Pengamatan warna, bau dan tekstur kompos merupakan peubah yang perlu diamati dalam pengomposan, karena dapat menjadi indikator terjadinya proses dekomposisi bahan kompos, dan juga untuk menilai baik atau tidaknya kompos dihasilkan. Hasil pengamatan di tampilkan pada Tabel 4, 5 dan 6.
4.1.Pengamatan Warna
Hasil pengamatan warna kompos dengan perlakuan EM4 dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Warna kompos dengan Perlakuan EM4 (%)
Ulangan Perlakuan
A0 A1 A2 A3
1 Coklat Coklat
Kehitaman
Coklat Kehitaman
Coklat Kehitaman
2 Coklat Coklat
Kehitaman
Coklat Kehitaman
Coklat Kehitaman
3 Coklat Coklat
Kehitaman
Coklat Kehitaman
Coklat Kehitaman
4 Coklat Coklat
Kehitaman
Coklat Kehitaman
Coklat Kehitaman Pada Tabel 4. menunjukkan bahwa terjadi perubahan warna setelah difermentasi selama 30 hari. Hal ini dapat dilihat pada perlakuan tanpa penambahan EM4 (A0) semua kompos berwarna coklat. Sedangkan pada perlakuan dengan penambahan EM4 (A1, A2, dan A3) terjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman. Perubahan warna terjadi dikarenakan adanya proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme yang terdapat pada EM4 sehingga menyebabkan warna berubah menjadi coklat kehitaman. Hal ini sesuai dengan Aryanto (2011) bahwa warna kompos yang baik dan sudah matang adalah coklat sampai hitam. Warna kompos juga dipengaruhi oleh bahan dasar pembuatan kompos. Suryati (2014) menyatakan bahwa apabila warna kompos masih berwarna seperti bahan awal, maka ini juga dapat diindikasikan sebagai kompos belum matang.
19 Perubahan warna kompos disebabkan aktivitas mikroorganisme yang bekerja selama proses pengomposan berlangsung. Mikroba pada masing-masing perlakuan berfungsi dengan baik untuk mendekomposisi bahan organik.
Penambahan EM4 yang menjadi perlakuan dalam pembuatan kompos ini memberikan pengaruh yang baik untuk perubahan warna menjadi coklat kehitaman dan dipengaruhi oleh bahan-bahan yang digunakan. Warna kompos yang dihasilkan pada penelitian ini sudah memenuhi standar (SNI 19-8030-2004) yaitu kompos berwarna coklat kehitaman.
4.2.Pengamatan Bau
Hasil pengamatan bau kompos dengan perlakuan EM4 dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Bau kompos dengan Perlakuan EM4 (%)
Ulangan Perlakuan
A0 A1 A2 A3
1 Kayu Lapuk Bau Tanah Bau Tanah Bau Tanah 2 Kayu Lapuk Bau Tanah Bau Tanah Bau Tanah 3 Kayu Lapuk Bau Tanah Bau Tanah Bau Tanah 4 Kayu Lapuk Bau Tanah Bau Tanah Bau Tanah Pada Tabel 5. menunjukkan bahwa terjadi perubahan bau setelah bahan kompos mengalami proses pengomposan 30 hari. Hal ini dapat dilihat pada perlakuan tanpa penambahan EM4 (A0) semua kompos berbau kayu lapuk.
Sedangkan pada perlakuan dengan penambahan EM4 (A1, A2, dan A3) terjadi perubahan bau menjadi bau tanah 100%. Hal ini diduga perubahan bau terjadi dikarenakan dalam proses pengomposan juga merupakan indikasi bahwa proses pengomposan telah berjalan dengan baik. Bau kompos yang menyerupai bau tanah menandakan bahwa kompos telah matang dan aktivitas mikroorganisme berjalan dengan baik. Hal ini sesuai pendapat Wiyono (2020) bahwa menghasilkan bau 100% bau tanah. Menurut Djuarnani dan Setiawan (2012), bahwa karakteristik bokashi yang telah matang yaitu hilangnya bau tak sedap.
Dalam proses dekomposisi, Effective Microorganism 4 mampu memecah ikatan nitrogen dalam bentuk amonia menjadi nitrogen bebas, dan kemudian nitrogen bebas dimanfaatkan oleh bakteri sebagai unsur penyusun protein tubuhnya sehingga bau amonia menjadi berkurang dan hilang (sihombing 2022). Bau
20 kompos pada penelitian ini sudah memenuhi standar SNI (2004) bahwa kompos yang sudah matang berbau tanah.
4.3.Pengamatan Tekstur
Hasil pengamatan tekstur kompos dengan perlakuan EM4 dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Tekstur kompos dengan Perlakuan EM4 (%)
Ulangan Perlakuan
A0 A1 A2 A3
1 Kasar Remah Remah Remah
2 Kasar Remah Remah Remah
3 Kasar Remah Remah Remah
4 Kasar Remah Remah Remah
Pada Tabel 6. menunjukkan bahwaterjadi perubahan tekstur kompos stelah kompos mengalami proses pengomposan 30 hari. Hal ini dapat dilihat pada perlakuan tanpa penambahan EM4 (A0) semua kompos bertekstur kasar.
Sedangkan pada perlakuan dengan penambahan EM4 (A1, A2, dan A3) terjadi perubahan tekstur menjadi remah 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pada kontrol terjadi perubahan tekstur yang belum sempurna karena tidak ada penambahan EM4 sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuk mendekomposisikan bahan-bahan organik. Sebaliknya pada perlakuan dengan penambahan EM4 (A1, A2 dan A3) terjadi perubahan tekstur menjadi remah. Bahan-bahan organik tersebut hancur karena adanya proses penguraian alami oleh mikroorganisme yang hidup didalamnya. Selama proses pengomposan, bahan-bahan organik mengalami pembusukan dan pelapukan. Kompos yang telah matang memiliki tekstur remah ketika dipegang. Hal ini sesuai dengan Ekawandani (2018) selama proses pengomposan, terjadi perubahan tekstur mulai hancur lalu kompos menunjukan ciri-ciri kematangan, yaitu kompos bertekstur remah. Pada penelitian ini menghasilkan kompos yang memenuhi standar SNI (2004) yaitu tanda kompos sudah matang akan bertekstur remah.
4.4.Suhu Kompos
Pengukuran suhu selama pengomposan merupakan indikator yang penting untuk melihat proses pengomposan. Pada proses pengomposan yang baik akan terjadi 3 fase yaitu fase mesofilik, thermofilik dan fase pematangan/pendinginan
21 0
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324252627282930
suhu (oC)
EM4 0%
EM4 1%
EM4 2%
EM4 3%
kompos. Data hasil pengukuran suhu selama pengomposan dicantumkan pada Gambar 6.
Gambar 6. Perubahan suhu harian selama pengomposan
Pada Gambar 6. menunjukan bahwa selama proses pengomposan suhu kompos mengalami kenaikan dan penurunan sampai pengamatan 30 hari.
Pengukuran suhu awal kompos perlakuan A0 31.30oC, A1 31.05oC, A2 30.33oC, dan A3 30.85oC. Suhu awal pengomposan terjadi pada suhu rendah dibawah 40oC yang disebut fase mesofilik. Proses awal dekomposisi dilakukan oleh mikroorganisme mesofilik, yang dengan cepat tumbuh memecah senyawa yang mudah terurai. Panas yang dihasilkan menyebabkan suhu kompos naik dengan cepat. Isroi (2007) menyatakan bahwa fase mesofilik dekomposisi melibatkan bakteri yang hidup pada suhu 23-40°C. Selama proses pengomposan berlangsung, setiap seminggu sekali dilakukan pengadukan. Pengadukan ini bertujuan untuk memberikan sirkulasi udara bagi aktifitas mikroorganisme saat penguraian bahan oganik. Setelah pembalikan memperhatikan kelembaban. Jika terlalu kering maka dilakukan penyemprotan air untuk menjaga kelembaban supaya bakteri yang membantu perombakan tetap bekerja.
Suhu pada perlakuan A1 47.5oC, A2 47.25oC, A3 45.75oC mencapai fase termofilik. Setelah fase mesofilik, maka suhu kompos mengalami kenaikan diatas 40oC, dan mikroorganisme yang bekerja adalah yang menyukai suhu tinggi, disini terjadi proses degradasi bahan fraksi serat yang banyak terdapat pada bahan campuran kompos. Selama fase termofilik berlangsung, suhu tinggi dapat mempercepat pemecahan bahan organik yang terkandung didalam kompos.
22 Menurut Yuniwati (2012) bahwa mikroorganisme termofilik hidup pada suhu 45- 60°C dan bertugas mengkonsumsi karbohidrat dan protein sehingga bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat dan mikroorganisme yang terdapat pada fase termofilik berupa Actinomycetes dan jamur termofilik yang mampu merombak selulosa dan hemiselulosa.
Setelah pengadukan kedua pada hari keempat belas dan ketiga pada hari kedua puluh satu melakukan pemabalikan kembali dan suhu meningkat sedikit dan hari berikutnya suhu kembali turun menjadi suhu stabil. Peningkatan suhu itu terjadi karena aktivitas mikroorganisme yang menghasilkan energi dalam bnetuk panas. Hal ini sesuai pendapat Hartuti et al. (2008) bahwa meningkat suhu awal pengomposan karena adanya aktivitas mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik dengan oksigen sehingga menghasilkan energi dalam bentuk panas, CO2 dan uap air. Panas disimpan dalam tumpukan akan menaikkan suhu, setelah mencapai puncak suhu akan turun dan stabil sampai proses pengomposan selesai.
Setelah proses dekomposisi dilakukan selama 30 hari aktifitas mikroorganisme menurun dan berkurangnya bahan organik yang bisa diurai oleh mikroorganisme. Suhu akhir dari setiap perlakuan yaitu A0 29oC, A1 29.2oC, A2 29.4oC dan perlakuan A3 29oC. Diamati dari suhu akhir, maka kompos sudah mengalami fase pendinginan dan pematangan yang ditandai dengan menurunya suhu kompos menuju kestabilan. Suhu akhir kompos yang diperoleh pada penelitian ini sudah sesuai dengan suhu tanah pada kisaran 26-30°C (SNI, 2004).
4.5.pH (Derajat Keasaman)
pH merupakan indikator dalam penilaian kualitas fisik kompos yang mempengaruhi aktivitas mikroorganisme dalam penguraian bahan organik. Hasil pengukuran pH kompos dengan penambahan EM4 dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan pH (Derajat Keasaman) dengan Pelakuan EM4 (%)
Perlakuan Ulangan
Rataan
I II III IV
A0 7.28 7.24 7.25 7.3 7.27±0.028C
A1 7.33 7.35 7.32 7.34 7.34±0.013C
A2 7.38 7.4 7.5 7.45 7.43±0.054B
A3 7.48 7.51 7.52 7.55 7.52±0.029A
Keterangan: Nilai rataan yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 1%
23 Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan dengan penambahan EM4 berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap pH kompos. Hasil uji jarak Duncan diperoleh bahwa pH kompos pada perlakuan A3 berbeda dengan perlakuan lainnya, demikian juga perlakuan A2 berbeda dengan A1 dan A0, tetapi pada perlakuan A1 dan A0 tidak berbeda. pH pengomposan dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kelembaban, aerasi, dan fluktuasi suhu pengomposan yang terkait dengan aktivitas mikroorganisme. Djuarni et al. (2005) menyatakan bahwa perubahan pH menunjukan adanya aktivitas mikroorganisme yang dapat mendegradasi bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme dari jenis yang lain akan mengkonversi asam organik yang terbentuk. Sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi mendekati netral. pH yang dihasilkan lebih tinggi dengan hasil penelitian Sihombing (2021) yaitu 6.98 dengan kisaran 6.95-7.00.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pH kompos masih dalam kisaran normal dikarenakan nilai pH kompos yang dihasilkan 7,27-7,52.
Secara umum pH kompos pada penelitian ini sesuai dengan standar (SNI-19- 7030-2004) bahwa pH kompos berkisar 6,80-7,49.
4.6.Penyusutan
Penyusutan juga merupakan salah satu indikator untuk menilai fisik daripada kompos, karena dengan mengetahui nilai penyusutan kompos dapat mengetahui tingkat kematangan kompos. Hasil penyusutan kompos yang ditambahkan effective microorganism4 dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Penyusutan kompos masing-masing perlakuan
Perlakuan Ulangan
Rataan
I II III IV
A0 20.7 20.66 20.65 20.66 20.67±0.0222A A1 20.44 20.45 20.44 20.44 20.44±0.0050B A2 19.32 19.3 19.33 19.34 19.32±0.0171C A3 19.17 19.16 19.14 19.13 19.15±0.0183D
Keterangan: Nilai rataan yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 1%
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan EM4 berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap penyusutan kompos. Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa penyusutan kompos antar perlakuan
24 menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata. Perlakuan A0 menghasilkan penyusutan yang lebih besar diikuti oleh perlakuan A1, A2 dan paling sedikit dihasilkan pada perlakuan A3. Besarnya penyusutan kompos pada perlakuan A0 kemungkinan disebabkan oleh kadar air dan penguapan yang lebih besar dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini sejalan menurut Capah (2006) yang menyatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap penyusutan kompos adalah kadar air bahan, penguapan, serta ukuran bahan kompos yang digunakan.
Selanjutnya, juga disebabkan oleh penggunaan air oleh mikroorganisme yang terdapat pada bahan kompos untuk pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan penyusutan pada kompos yang mendapat perlakuan EM4 disebabkan karena penggunaan air oleh mikroorganisme untuk proses dekomposisi bahan organik.
Hal ini kemungkinan yang menyebabkan proses kehilangan air dan penguapan pada perlakuan menggunakan EM4 lebih sedikit. Menurut Dahono (2012) bahwa terjadi penyusutan volume atau bobot kompos seiring dengan kematangan kompos. Penguapan yang terjadi mengakibatkan bobot akhir kompos yang dihasilkan menurun.
Faktor lain, kemungkinan yang menyebabkan penguapan yang lebih besar antar perlakuan adalah ukuran dan bentuk bahan. Demikian juga menurut Isroi (2007) bahwa penyusutan kompos berhubungan dengan fase kematangan kompos, sedangkan besarnya tergantung pada karakteristik bahan kompos dan tingkat kematangan kompos. hasil penelitian Alqorni, Syafria, dan Ubaidilah (2019) tentang pengaruh penambahan stardec terhadap kualitas kompos berbahan dasar feses sapi dan ampas tebu menyimpulkan bahwa penyusutan kompos yang terjadi pada perlakuan tanpa stardec meunjukkan hasil yang lebih besar dibandingkan perlakuan penambahan stardec.
Kandungan Unsur Hara
Pengamatan dan pengukuran kualitas kompos sangat penting, karena dapat memberikan informasi tentang kandungan hara kompos. Data hasil analisa kandungan unsur hara kompos (C, N, P, K dan C/N Rasio).
25 4.7.Kandungan Karbon
Unsur karbon merupakan sumber energi didalam proses metabolisme dan perbanyakan sel oleh bakteri. Hasil analisis kandungan karbon dari kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit yang diberi perlakukan EM4 dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan Kandungan karbon (C) dengan perlakuan EM4 (%)
Perlakuan Ulangan
Rataan
I II III IV
A0 34.89 34.88 34.89 34.89 34.89±0.0048C A1 39.38 39.37 39.39 39.38 39.38±0.0082A A2 36.82 36.84 36.81 38.83 37.32±1.0009B A3 36.34 36.36 36.35 36.36 36.35±0.0085B
Keterangan: Nilai rataan yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 1%
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan EM4 berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap kandungan karbon kompos.
Hasil uji jarak Duncan menunjukkan bahwa perlakuan A1 berbeda dibanding lainnya, selanjutnya perlakuan A2 tidak berbeda dengan A3 namun keduanya berbeda dibanding perlakuan A0. Kandungan karbon tertinggi pada perlakuan A1 yaitu 39.38%, sedangkan yang terendah pada perlakuan A0 yaitu 34.89%.
Perbedaan kandungan karbon kompos, diduga karena peranan mikroorganisme yang sama saat ferementasi untuk mengurai rantai karbon dalam bahan organik. Karbon juga dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme. hal ini sesuai menurut Wati (2018) bahwa selama pengomposan C-organik dalam bahan kompos akan berkurang karena dimanfaatkan oleh mikroorganisme sebagai sumber energi. Dilanjutkan Yuwono (2006) menjelaskan bahwa kehilangan karbon terjadi karena proses penguraian karbon selama proses pengomposan yang disebabkan dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme, dimana karbon dikonsumsi sebagai sumber energi dengan membebaskan CO2 dan H2O melalui proses respirasi sehingga konsentrasi karbon berkurang. Diperjelas oleh Isroi (2007) unsur-unsur penting yang diperlukan agar proses penguraian dapat berjalan baik yaitu, karbon (C) sebagai sumber energi bagi mikroba dan nitrogen (N) sebagai sumber protein bagi mikroba dan pada proses pengomposan mikroba membutuhkan karbon untuk memenuhi kebutuhan energi.
26 Keberadaan karbon organik dalam tanah sangat penting untuk mendukung budidaya tanaman oleh karenanya ketersediaanya harus dikelola dengan baik dan bijak. Penambahan atau peningkatan karbon organik dapat dilakukan dengan berbagai cara. Menurut Hermanu Widjaja (2002) peningkatan karbon dalam tanah dapat diklasifikasikan ke dalam empat pendekatan utama: 1) mengurangi intensitas pengolahan tanah, 2) intensifikasi sistem pertanaman, 3) adopsi metode peningkatan hasil, seperti perbaikan sistem pemupukan, dan 4) penggunaan tanaman tahunan.
4.8.Kandungan Nitrogen
Nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terdapat pada atmosfer, namun demikian nitrogen merupakan unsur hara yang paling sering defisien pada tanah-tanah pertanian. Hasil pengukuran kadar nitrogen pada kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Kandungan Nitrogen (N) dengan Perlakuan EM4 (%)
Perlakuan Ulangan
Rataan
I II III IV
A0 1.65 1.62 1.64 1.63 1.64±0.0085D
A1 2.92 2.91 2.93 2.92 2.92±0.0082A
A2 2.16 2.18 2.15 2.17 2.17±1.0009B
A3 1.94 1.93 1.95 1.94 1.94±0.0048C
Keterangan: Nilai rataan yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 1%
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan EM4 berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap kandungan nitrogen kompos, Kandungan N kompos antar perlakuan memperlihatkan hasil berbeda sangat nyata (P<0.01). Kandungan nitrogen yang tertinggi terdapat pada perlakuan A1 yaitu 2.92%, dan yang terendah pada perlakuan A0 yaitu 1.64%. Kandungan nitrogen kompos diduga berasal dari siklus disintegrasi oleh mikroorganisme dalam kompos. Setelah proses pengomposan, organisme akan mati dan menjadi sumber N dalam kompos. Kandungan nitrogen yang meningkat di setiap perlakuan, dengan tingkat penggunaan EM4 yang lebih besar, akan semakin banyak organisme yang bekerja untuk mendesain ulang selulosa dari sistem perombakan.
Peningkatan kadar nitrogen selama pengomposan disebabkan oleh siklus dekomposisi bahan kompos yang dilakukan mikroorganisme yang merubah
27 ammonia membentuk nitrit. Selain itu kandungan nitrogen juga dipengaruhi oleh penambahan urea yang memiliki kandungan nitrogen yang cukup tinggi.
Menurut Intan (2013) menurunnya kadar nitrogen kompos diperkaya oleh urea saat awal pengomposan, sebab pada awal pengomposan nitrogen organik terlebih dahulu diubah menjadi ammonia yang mudah menguap.
Unsur hara N termasuk unsur yang dibutuhkan dalam jumlah paling banyak sehingga disebut unsur hara makro primer. Umumnya unsur Nitrogen menyusun 1-5% dari berat tubuh tanaman.
Unsur N diserap oleh tanaman dalam bentuk ion amonium (NH4+) atau ion nitrat (NO3-
). Sumber unsur N dapat diperoleh dari bahan organik, mineral tanah, maupun penambahan dari pupuk organik. N berfungsi untuk menyusun asam amino (protein), asam nukleat, nukleotida, dan klorofil pada tanaman, sehingga dengan adanya N, tanaman akan merasakan manfaat sebagai berikut: 1) Membuat tanaman lebih hijau, 2) Mempercepat pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah anakan, jumlah cabang), 3) Menambah kandungan protein hasil panen (Rina, 2015).
Dalam penelitian Sihombing (2021) kandungan nitrogen kompos dengan penambahan EM4 yang dihasilkan berkisar 1.28-2.00% secara umum pada penelitian ini rataan kandungan nitrogen kompos yaitu 1.64-2.92%. hasil ini sudah memenuhi standar (SNI 19-7030-2004) bahwa kandungan nitrogen kompos minimum 0.40%.
4.9.Kandungan Phosfor
Phosfor merupakan salah satu unsur hara makro yang sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Phosfor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral yang alami, sisanya berasal dari pelapukan bahan organik. Sebagian besar phosfor yang mudah larut di ambil oleh mikroorganisme tanah untuk pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Hasil pengukuran kadar phosfor kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit pada berbagai perlakuan dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Kandungan Phosfor (P) dengan Perlakuan EM4 (%)
Perlakuan Ulangan
Rataan
I II III IV
28
A0 0.17 0.16 0.18 0.17 0.17±0.0082C
A1 0.23 0.24 0.26 0.25 0.25±0.0129A
A2 0.23 0.23 0.25 0.24 0.24±0.0096A
A3 0.2 0.19 0.21 0.2 0.20±0.0082B
Keterangan: Nilai rataan yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 1%
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan dengan penggunaan EM4 berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap penyusutan kompos, Uji lanjut jarak Duncan menunjukkan bahwa kandungan P kompos pada perlakuan A1 dan A2 menunjukkan hasil yang tidak berbeda, tetapi keduanya berbeda sangat nyata (P<0.01) dibanding A3 dan A0, pada perlakuan A3 memperlihatkan hasil berbeda dibanding dengan A0. Kandungan phosfor yang tertinggi terdapat pada perlakuan A1 0,25%, sedangkan yang terendah pada perlakuan A0 0,17% tanpa penambahan EM4. Kandungan phospor yang tinggi ini diduga disebabkan oleh jumlah P yang ada di dalam bahan baku kompos, serta banyaknya mikroorganisme yang ada saat pengomposan. Organisme mati, menyebabkan kadar P juga meningkat. Selain itu, diduga karena mikroorganisme yang terkandung didalam EM4 dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen sehingga mampu mempercepat proses pengomposan. Hal ini sesuai dengan pendapat Kaswinarni dan Nugraha (2020) menyatakan bahwa kadar P juga dipengaruhi oleh proses pelapukan oleh mikroorganisme, karena selama tahap pengembangan organisme akan mati dan kadar P dalam organisme akan bercampur dengan bahan pupuk, sehingga dapat meningkatkan kandungan P kompos.
Unsur P juga merupakan salah satu unsur hara makro primer sehingga diperlukan tanaman dalam jumlah banyak untuk tumbuh dan berproduksi.
Tanaman mengambil unsur P dari dalam tanah dalam bentuk ion H2PO4-
. Konsentrasi unsur P dalam tanaman berkisar antara 0,1-0,5% lebih rendah daripada unsur N dan K. Keberadaan unsur P berfungsi sebagai penyimpan dan transfer energi untuk seluruh aktivitas metabolisme tanaman, sehingga dengan adanya unsur P maka tanaman akan merasakan manfaat sebagai berikut: 1) Memacu pertumbuhan akar dan membentuk sistem perakaran yang baik, 2) Menggiatkan pertumbuhan jaringan tanaman yang membentuk titik tumbuh tanaman, 3) Memacu pembentukan bunga dan pematangan buah/biji, sehingga mempercepat masa panen, 4) Memperbesar persentase terbentuknya bunga
29 menjadi buah, 5) Menyusun dan menstabilkan dinding sel, sehingga menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit. (Rina, 2015)
4.10. Kandungan Kalium
Kalium merupakan unsur hara esensial yang digunakan hampir pada semua proses untuk menunjang hidup tanaman. Hasil pengukuran kalium dalam kompos feses sapi dan pelepah sawit pada berbagai perlakuan dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Kandungan kalium (K) dengan Perlakuan EM4 (%)
Perlakuan Ulangan Rataan
I II III IV
A0 0.10 0.11 0.12 0.12 0.11±0.0096
A1 0.12 0.13 0.14 0.14 0.13±0.0096
A2 0.11 0.12 0.12 0.13 0.12±0.0082
A3 0.11 0.13 0.10 0.12 0.12±0.0129
Keterangan: Nilai rataan yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 1%
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan dengan penambahan EM4 dalam proses pembuatan kompos campuran feses sapi dan pelepah sawit berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap kandungan kalium. Rataan kandungan kalium kompos adalah 0.12% dengan kisaran 0.11–0.13%. Hasil penelitian ini lebih rendah dari penelitian sebelumnya yang dilakukan Sihombing (2021) kandungan kalium dengan penambahan EM4 yang dihasilkan berkisar 0.35-3.23%. Hal ini diduga disebabkan perbedaan dosis EM4, dan juga dipengaruhi oleh kemampuan mikroorganisme yang terdapat dalam EM4 untuk dapat memacu proses pengomposan, hal ini akan berpengaruh terhadap peningkatan kandungan kalium kompos dan terbentuknya asam organik selama proses pengomposan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hidayati et al. (2011) menyatakan bahwa unsur kalium dalam senyawa kalium dioksida (K2O) yang digunakan oleh mikroorganisme dalam bahan subtrat sebagai katalisator, akan mempengaruhi keberadaan bakteri dan aktivitasnya dalam proses fermentasi.
Dalam proses pertumbuhan tanaman, unsur K merupakan salah satu unsur hara makro primer yang diperlukan tanaman dalam jumlah banyak juga, selain unsur N dan P. Unsur K diserap tanaman dari dalam tanah dalam bentuk ion K+.
Kandungan unsur K pada jaringan tanaman sekitar 0,5-6% dari berat kering.
Manfaat unsur K bagi tanaman adalah: 1) Sebagai aktivator enzim, sekitar 80