Sesuatu dan secangkir kopi
Kebanggaan tersendiri menjadi seorang berkebangsaan Indonesia dengan budaya mengopi. Aku penah menuliskan status di salah satu media sosialku “ Ketika bapak bapak, kepulan asap dan secangkir kopi bersatu maka kita bisa mendapatkan informasi yang tidak ada di Google”. Seiring dengan perkembangan jaman maka tidak hanya sang bapak yang mengopi tapi sang ibu dan sang anak baik laki laki maupun perempuan juga mulai menikmati cairan agak pahit namun menyenangkan ini.
Informasi dan secangkir kopi. Salah satu hobiku adalah travelling dengan budget minimal dan hobi satu ini mewajibkanku untuk mencari info sebanyak banyaknya tentang suatu daerah yang akan atau sedang aku datangi. Kebetulan aku salah satu penikmat kopi, jika informasi minim lalu budget sudah menipis dan seolah tidak ada jalan keluar hal pertama yang aku lakukan adalah berdoa (negara kita negara beragama yak kan) dan yang kedua berjalan mencari penjual kopi pinggir jalan. Memesan kopi, duduk, bernapas, saat kopi masih setengah gelas dan si abang atau ibu sudah agak santai maka mulut ini akan bertanya “bang /bu bla bla bla…” dalam hitungan menit jawaban lengkap sudah di tangan at least next clue we got.
Masih tentang sesuatu dan secangkir kopi, bagian kedua adalah diskusi dan secangkir kopi. Satu waktu dalam setiap minggu aku dan beberapa teman selalu menyempatkan untuk berkumpul di salah satu kedai kopi di daerah Jakarta Timur. Kami berkumpul tanpa agenda khusus, tetapi agenda bukanlah acuan kami satu satunya. Kami janjian, tiba, memesan segelas kopi sesuai keinginan masing masing dan berdiskusi. Tidak ada topik khusus, tidak ada jadwal topik yang disepakati sebelumnya, tidak ada narasumber dan tidak ada yang tidak tidak lainnya. Topik mengalir begitu saja dimulai dari pembicaraan tentang pengalaman liburan, berbicara tentang tempat baru yang mau kita datangi sampai berbicara tentang hidup. Keseruan yang membunuh waktu saat kita mulai berkisah tentang hidup. Berbicara tentang hidup bukan berarti kami hanya bercerita tentang kisah hidup kita masing masing alias curhat, tapi obrolan kami lebih mengenai pendapat kami tentang menyikapi hidup. Tidak ada maksud menggurui, kami hanya bermaksud untuk belajar terbuka akan pemikiran yang baru. Bukankah hal yang baru dapat memperkaya kita ? Dan hal ini keren, setidaknya bagi saya.
dalam kisah yang akhirnya saja belum selesai kubaca. Aku bercinta dengan imajinasiku, menikmati setiap lekuk kekonyolan dalam pikiranku dan tak jarang tertawa renyah dalam kesendirianku.