BUDGET IN BRIEF
APBNP
2015
20 6
1
INFORMASI
APBN
20 6
1
2016
INFORMASI APBN
Disusun oleh Direktorat Penyusunan APBN, Direktorat Jenderal Anggaran
Penanggung jawab:
Direktur Jenderal Anggaran
Editor:
Direktur Penyusunan APBN
Kontributor:
PENGANTAR
Menteri Keuangan Republik Indonesia
Puji Syukur
kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya, RUU APBN tahun 2016 yang diajukan Pemerintah telah disetujui oleh DPR pada Sidang Paripurna tanggal 30 Oktober 2015. Tahun 2016 merupakan tahun pertama bagi Pemerintahan Kabinet Kerja bersama dengan DPR RI yang baru merumuskan dan menyusun APBN secara utuh, sehingga anggaran tahun 2016 diupayakan untuk menampung secara utuh kebijakan dan program dari Pemerintahan Kabinet Kerja. Kebijakan dan program tersebut tercermin dalam RKP tahun 2016 yang kemudianditindaklanjuti dengan penetapan arah kebijakan iskal yang mengusung tema “Penguatan Pengelolaan Fiskal Dalam Rangka Memperkokoh Fundamental Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi yang berkualitas”.
Arah kebijakan
iskal tersebut akan ditempuh melalui pengendaliandeisit anggaran pada tingkat yang berkelanjutan dengan tetap menjaga
keseimbangan peran APBN dalam perekonomian, menghimpun pendapatan
negara secara optimal, serta meningkatkan eisiensi dan kualitas belanja
negara termasuk dengan melanjutkan dan mempertajam program-program prioritas di tahun 2015.
Kebijakan
dalam peningkatan pendapatan negara antara lain denganmenggulirkan kebijakan-kebijakan terkait dengan optimalisai perpajakan, peningkatan lifting, penyesuaian target dividen Pemerintah atas laba BUMN, perbaikan pengawasan pengelolaan sumberdaya alam dan penyesuaian tarif pengenaan PNBP. Sedangkan kebijakan pada sisi belanja negara diarahkan agar
semakin eisien, produktif, dan berkualitas, serta memperkuat pelaksanaan desentralisasi iskal. Sejalan dengan rencana kebijakan pendapatan negara
dan belanja negara, maka kebijakan pembiayaan anggaran diarahkan antara lain dengan menyempurnakan kualitas perencanaan investasi Pemerintah, mengendalikan rasio utang dalam batas yang aman, membuka akses pembiayaan pembangunan dan investasi kepada masyarakat secara lebih luas, memprioritaskan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) dan memberikan penjaminan untuk mendukung dan mempercepat pembangunan infrastruktur.
Sebagai
upaya penyampaian informasi yang ringkas dan mudah dipahami terkait APBN 2016 kepada masyarakat luas serta untuk menciptakan transparansi anggaran, maka disusunlah Informasi APBN 2016 ini. Kepada para tim penyusun dan para pihak yang telah menyampaikan masukan yang konstruktif hingga terbitnya Informasi APBN 2016 ini kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.Harapan kami
semoga Informasi APBN 2016 ini dapat memberikanpengetahuan dan pemahaman yang lebih luas kepada para pembacanya dan dapat memberikan masukan yang konstruktif bagi penyusunan APBN yang lebih berkualitas.
Terima Kasih
Menteri Keuangan
Republik Indonesia
APBN 2016
Penguatan pengelolaan iskal dalam rangka memperkokoh fundamental
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas
STRATEGI
YANG
DITEMPUH
- Memperkuat stimulus
yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penguatan daya saing
- Meningkatkan ketahanan
iskal dan menjaga
terlaksananya program-program prioritas di tengah tantangan perekonomian global
- Mengendalikan risiko dan menjaga kesinambungan
iskal dalam jangka
FOKUS
APBN 2016
PENDAPATAN
BELANJA NEGARA
PEMBIAYAAN ANGGARAN
Target penerimaan perpajakan direncanakan secara realistis dengan mendasarkan pada kondisi perekonomian terkini dan dukungan pelaksanaan kebijakan dan langkah administratif perpajakan yang komprehensif serta extra effort dalam upaya memperkecil kesenjangan antara potensi penerimaan perpajakan dengan realisasinya
Mengoptimalkan PNBP K/L dalam rangka mengurangi ketergantungan PNBP terhadap faktor eksternal (ICP, kurs, dan harga komoditas)
Melanjutkan program prioritas nasional (antara lain infrastruktur konektivitas, kedaulatan pangan dan energi, kemaritiman,
pariwisata, pengurangan kesenjangan serta pertahanan ) untuk memperbaiki kualitas pembangunan
Mempertahankan pemenuhan anggaran pendidikan sebesar
20% dari APBN dan pertama kali memenuhi anggaran kesehatan sebesar 5% dari APBN
Menyelaraskan kebijakan desentralisasi iskal, melalui
pengalihan belanja K/L ke DAK diikuti dengan peningkatan Transfer ke Daerah dan Dana Desa yang signiikan
Mendukung pembangunan infrastruktur untuk transportasi, pemukiman untuk MBR, air bersih dan sanitasi, serta
infrastruktur energi
PROSES PENYUSUNAN
APBN 2016
Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat RI telah membahas dan menyepakati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2016 dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah RI
Januari-Maret 2015
20 Mei 2015
7 Juli 2015
Agustus-Oktober
November 2015
Desember 2015
15 April 2015
28 Mei-6 Juli 2015
14 Agustus 2015
30 Oktober 2015
November 2015
Penyusunan Kapasitas Fiskal
Penyampaian KEM PPKF ke DPR
Keputusan Menteri Keuangan tentang Pagu Anggaran K/L
Pembahasan dengan DPR SB Pagu Indikatif Menteri Keuangan
dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
Pembicaraan Pendahuluan RAPBN TA 2016
Pidato Presiden Penyampaian Nota Keuangan & RAPBN 2016
Sidang Paripurna Penetapan RUU APBN Tahun 2016
UU Nomor 14 tahun 2015 tentang APBN 2016 Peraturan Presiden Nomor 137 Tahun 2015
HAL-HAL BARU
APBN 2016
Rp
Pertama kali pemenuhan anggaran kesehatan sebesar 5% dari belanja negara serta mempertahankan pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20% dari belanja negara
Percepatan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan infrastruktur.
Percepatan pengurangan kesenjangan antara lain melalui perluasan coverage program keluarga harapan
Menjaga kesejahteraan aparatur negara: THR dan gaji 13
Meningkatkan besaran serta memperbaiki dan memperkuat kebijakan DAK untuk
mendukung implementasi nawacita dan pencapaian prioritas nasional
Alokasi anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa dalam APBN 2016 mendekati anggaran Kementerian/ Lembaga (Belanja K/L).
Meningkatkan alokasi Dana Desa hingga 6% dari dan diluar transfer ke daerah sesuai Road Map Dana Desa 2015-2019
Meningkatkan besaran dan memperbaiki formula alokasi DAU guna meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah.
Mempertajam alokasi PMN melalui peningkatan peran BUMN dan
ASUMSI
DASAR
EKONOMI
MAKRO
2015
APBNP
2016
APBN
%
%
IDR USD
5,7
5,0
6,2
60
825
1.221
1.155
830
5,5
4,7
5,3
12.500 13.900
IDR USD
Pertumbuhan
Ekonomi
(%)
Inflasi
(%,yoy)
Tingkat bunga
SPN 3 bulan
(%)
Nilai Tukar
(Rp/US$)
Harga Minyak
(USD/barel)
Lifting Minyak
(ribu barel/hari)
Lifting Gas
(MBOEPD)
50
Lifting
Minyak
INDIKATOR KESEJAHTERAAN
DAN TARGET PEMBANGUNAN
Tingkat Kemiskinan
(%)
10,3
0,40
0,39
69,4
70,1
5,6
9,0-10,0
5,2-5,5
Gini Ratio
APBNP 2015
APBN 2016
Indeks Pembangunan
Manusia
(indeks)
Tingkat
Pengangguran
Pendapatan
Negara
Penerimaan Hibah Pendapatan
Dalam Negeri Penerimaan
Perpajakan Pendapatan Pajak
Dalam Negeri Pajak
Penghasilan
PPh Non Migas
PPh Migas
Pajak Pertambahan Nilai
Pajak Bumi dan Bangunan
Cukai
Pajak Lainnya
Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional Bea Masuk
Bea Keluar
Penerimaan Negara Bukan Pajak Pendapatan SDA
Pendapatan Bagian Laba BUMN
PNBP
I ACCOUNT
APBN 20
Triliun upiah
Tax Ratio
13%
Dalam Negeri Penerimaan
Perpajakan Pendapatan Pajak
Dalam Negeri Pajak
Penghasilan
PPh Non Migas
PPh Migas
Pajak Pertambahan
Nilai
Pajak Bumi dan Bangunan
Cukai
Pajak Lainn ya
Pendapatan Pajak Perdagangan In ternasional Bea Masuk
Bea Keluar
Penerimaan Nega ra Bukan Pajak Pendapatan SDA
Pendapatan Bagian Laba BUMN
PNBP Lainn ya
Pendapatan
Tax Ratio
13%
I ACCO
APB
Pembiayaan
Pemerintah PusatTransfer Ke daerah dan Dana Desa
Pembiayaan
Dalam Negeri PembiayaanLuar Negeri
Transfer Ke daerah
Dana Transfer Umum
Dana Bagi Hasil
Dana Alokasi Umum
Dana Transfer Khusus
Dana Alokasi Khusus Fisik
Dana Alokasi Khusus Non Fisik Dana
Insentif Daerah Dana Otonomi Khusus &
Dana Keistimewaan DIY Belanja K/L
Belanja Bunga Utang
Subsidi Belanja
Pegawai Belanja
Barang BelanjaSosial
Belanja Modal
273,2
-88,2
272,8 0,4
2.095,7
Ben ana BelanjaLain lain
541,4
I ACCOUNT
APBN 2016
Triliun upiah
208,2
323,9 50,4
184,9
182,6
Pembiayaan Dalam Negeri Neto
Pembiayaan Luar Negeri Neto
47,0 Pemerintah Pusat
Trans fer Ke dae rah dan Dana Desa
Pembia yaan
Dalam Negeri Pembia yaanLuar Negeri
Trans fer Ke dae rah
Dana Trans fer Umum
Dana Bagi Hasil
Dana Alokasi Umum
Dana Trans fer Khusus
Dana Alokasi Khusus Fisik
Dana Alokasi Khusus Non Fisik Dana
Insentif Dae rah Dana O tonomi Khusus &
Dana Keistime waan DIY Belanja K/L
Belanja Non K/L
Belanja Pega wai
Belanja Barang
Pemba yaran Bunga Utang
Subsidi Belanja
Pega wai Belanja
Barang BelanjaSosial
Belanja Modal
273,2
-88,2
272,8 0,4
2.095,7
I ACCOUNT
PBN 2016
(Triliun Rupiah)
PENDAPATAN
NEGARA
Target Pendapatan Negara naik Rp60,9 T dari APBNP 2015 atau tumbuh sebesar 3,5%. Kenaikan tersebut terutama bersumber dari meningkatnya penerimaan perpajakan sebesar Rp57,4 T
Masih lemahnya ICP dan harga komoditas menyebabkan pendapatan yang bersumber dari SDA mengalami penurunan dari target APBNP 2015
PENDAPATAN NEGARA
Pajak
Rp1.360,2 T
Kepabeanan
dan Cukai
Rp186,5 T
PNBP
Penerimaan Hibah
Rp273,8 T
Rp2,0 T
Rp1.822,5 T
74%
11%
15%
75%
Pajak
Hibah
PNBP Kepabeanan dan Cukai
628,2
PENDAPATAN NEGARA
2005-2016
Rp403,4 T
Rp495,2 T
Rp638,0 T
Rp707,8 T
Rp981,6 T
Rp848,8 T
Rp995,3 T
Rp1.210,6 T
Rp1.338,1 T
Rp1.438,9 T
Rp1.550,6 T
238,6 41,9 122,5
,
298,5 48,5 146,9
1,3
358,2 51,0 227,0
1,8
425,4 65,6 215,1
1,7
571,1 87,6 320,6
2,3
544,5 75,4 227,2
1,7
268,9 95,1
3,0
742,7 131,1 331,5
5,3
835,8 144,7 351,8
5,8
921,4 156,0 354,8
6,8
985,1 161,7 398,7
5,1
APBNP
2015
Rp1.761,6 T
1.294,3 195,0 269,1
3,3
1.360,2 186,5
2,0
273,8
Rp1.822,5 T
APBN
2016
2014
TRILIUN RUPIAH
PENERIMAAN
PERPAJAKAN
Rata-rata pertumbuhan Penerimaan Perpajakan 2010 –
2016 adalah sebesar
13,5 %
Target penerimaan perpajakan direncanakan secara realistis dengan mendasarkan pada kondisi perekonomian terkini dan dukungan pelaksanaan kebijakan dan administrasi perpajakan yang komprehensif. Selain itu, Pemerintah juga mempertimbangkan upaya untuk mengoptimalkan potensi pajak yang ada dalam perekonomian dengan tetap memerhatikan iklim investasi.
2010
2011
2012
2013
2014
2015
APBNP
2016
APBN
16,7%
569,4
Pertumbuhan Perpajakan
Triliun Rupiah
PPh Migas Kepabeanan & Cukai
Pajak Nonmigas 669,6
131,1 73,1
83,5
144,7
752,4
88,7
155,9
832,7
87,4
161,7
897,7
1.244,7 195,0 49,5
1.318,7 186,5
41,4
95,1 58,9
20,8%
12,2%
9,9%
6,5%
PENERIMAAN
PERPAJAKAN
Kepabeanan
dan Cukai
Rp186,5 T
Kepabeanan
dan Cukai
Rp186,5 T
Pajak
Cukai PPh Non Migas
Bea Keluar Bea Masuk
PPh Migas PBB Pajak Lainnya PPN
Rp1.360,2 T
Pajak
Rp1.360,2 T
12 %
88 %
Rp715,8 T Rp571,7 T Rp41,4 T Rp19,4 T Rp11,8 T
42 % 53 %
78 %
20 %
2 %
1 % 1 %
1 %
Target Penerimaan Perpajakan
naik
Rp57,4 T
dari APBNP 2015 atau tumbuh sebesar
3,9%
, yang terdiri dari:
•
Penerimaan Pajak
naik Rp 65,9 T atau tumbuh sebesar 5,1% dari APBNP 2015,
terutama dipengaruhi oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi dan
extra effort
di
bidang perpajakan tahun 2016
•
Kepabeanan dan Cukai
turun Rp8,5 T atau sebesar 4,3% dari APBNP 2015, terutama
disebabkan turunnya tarif bea keluar CPO beserta turunannya sebagai dampak dari
kebijakan pembentukan Badan Penghimpun Dana Perkebunan Kelapa Sawit
3 %
Pajak
Kepabeanan
dan cukai
PERBANDINGAN
TAX RATIO 10 NEGARA 2013
Extra Effort Pengamanan
Target Penerimaan Perpajakan 2016
Tax
Ratio
Optimalisasi pemeriksaan
a.l. fokus sektor unggulan masing-masing Kanwil, transfer pricing, dan
fraud;
Ekstensiikasi dan Intensiikasi WP
a.l. data matching, optimalisasi IT, e-tax
invoice, perbaikan regulasi
Implementasi tahun 2016 sebagai tahun Penegakan Hukum (law
enforcement)
a.l. melalui penagihan aktif, pemeriksaan dan penyidikan
Meningkatkan kinerja audit
memperbaiki targeting obyek audit.
Meningkatkan pengawasan, penindakan, dan penyidikan
Peningkatan operasi peredaran dan pengawasan Barang Kena Cukai
TAX
CUSTOMS
Tax ratio untuk tahun 2016 ditargetkan sebesar 12,2% (deinisi sempit).
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
12,9
10,5 11,2 11,4 11,3 10,9
12,7 12,2 13,8 14,0 13,6
13,1 13,7 13,1
Rp723,3 T Rp873,9 T
arti luas
(penerimaan perpajakan +
SDA Migas + pertambangan umum/PDB)
arti sempit
(penerimaan perpajakan/PDB)
Optimalisasipenerimaan migas
(merealisasikan produksi sumur minyak baru, menahan penurunan alamiah
lifting migas, dan pengendalian cost recovery).
Penyesuaiantarif PNBP dan
ekstensiikasi.
Peningkatan kinerja BUMN.
Peningkatan pengawasan dan pelaporan PNBP.
Perbaikan administrasi dan sistem PNBP.
Perbaikan regulasi PNBP.
Target PNBP naik Rp4,8 T atau tumbuh sebesar 1,8% dari APBNP 2015, antara lain disebabkan
oleh:
PNBP SDA Migas turun Rp2,7 T antara lain dipengaruhi melemahnya harga minyak mentah (ICP)
PNBP Minerba naik Rp9,1 T antara lain dipengaruhi oleh naiknya tarif royalti mineral, logam dan batubara.
Kebijakan Penerimaan
Negara Bukan Pajak
PENERIMAAN NEGARA
BUKAN PAJAK
PNBP Lainnya
Rp79,4 T
Rp78,6 T
SDA Non Migas
SDA Migas
Rp46,3 T
Pendapatan BLU
Rp35,4 T
Bagian Laba BUMN
Rp34,2 T
29% 17%
13%
28 %
TRILIUN RUPIAH
PERKEMBANGAN PENERIMAAN NEGARA
BUKAN PAJAK 2005-2016
2004
21,2
9,8
91,5
Rp122,5 T
nilai tukar (Rp/USD 1)
harga minya k (USD/bar
harga minyak (USD/barrel)
37
8.939
lifting minyak (MBDP)
lifting gas (MBOEDP)
LKPP 2014
Rp146,9 T
Rp227,0 T
Rp215,1 T
Rp320,6 T Rp227,2 T
Rp268,9 T
Rp331,5 T Rp351,8 T
Rp273,8 T
APBN
52
9.705
64
9.164
70
9.140
97
9.691
62
999
959
10.408
79
9.087
112
8.779
113
9.400
106
10.460
97
11.878
50
13.900
60
12.500
PERKEMBANGAN PENERIMAAN NEGARA
BUKAN PAJAK LAINNYA
2010-2016
Rp59,4 T
Rp69,4 T
Rp73,5 T
Rp69,7 T
Rp85,8 T
Penjualan Hasil Tambang Pendapatan dari Penerimaan
Kembali Belanja TAYL Pendapatan 5 K/L Besar Lainnya
2010
Rp90,1 T
APBN
2016
6,0 7,5 6,7 37,0 22,2
Rp79,4 T
Domestic Market Obligation (DMO)
TRILIUN RUPIAH
5
KEMENTERIAN
NEGARA/LEMBAGA
PENYUMBANG PNBP
TERBESAR
Kementerian Komunikasi dan Informatika
Kementerian Perhubungan
Kementerian Hukum dan HAM
Kepolisian Negara Republik Indonesia
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
Rp14,0 T
Rp9,1 T
Rp8,0 T
Rp3,6 T
BELANJA
NEGARA
26%
BELANJA NEGARA
Rp2.095,7 T
Transfer ke
Daerah dan Dana Desa
Belanja
Non K/L
Belanja
K/L
Program Pengelolaan Utang Negara Transfer Ke
Daerah Dana Desa
Program Pengelolaan Subsidi
Program Pengelolaan Hibah Negara Program Pengelolaan Belanja Lainnya Program Pengelolaan Transaksi Khusus
Rp184,9 T
Rp182,6 T
Rp4,0 T
Rp59,9 T
Rp110,0 T Rp723,2 T
Rp47,0 T
Rp784,1 T
37%
26%
37%
BELANJA PEMERINTAH PUSAT
MENURUT FUNGSI
BELANJA PEMERINTAH PUSAT
MENURUT JENIS
Pelayanan Umum
Ketertiban dan Keamanan
Ekonomi Lingkungan
Hidup Perumahan dan Fasilitas Umum Kesehatan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Agama
Pendidikan
Perlindungan Sosial
Pertahanan
Rp158,1 T
Rp316,5 T
Rp99,6 T
Rp109,8 T
Rp360,2 T Rp12,1 T
Rp34,6 T Rp67,2 T
Rp7,4 T Rp9,8T
Rp150,1 T
24%
8%
8%
27%
3%
1%
1%
1%
5%
11%
12%
BELANJA NEGARA
Rp1.325,5 T
Belanja Pegawai Belanja Barang Pembayaran Bunga Utang
Subsidi Belanja Lain Lain
Belanja Modal
Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial
Rp347,5 T
Rp325,4 T
Rp201,6 T
Rp184,9 T
Rp182,6 T
Rp4,0 T
Rp54,9 T
Rp24,7 T
26%
4%
14%
25%
15%
0,3%
14%
2%
Rp1.325,6 T
Rp34,7 T
BELAN JA
PEMERINTAH PUSAT
MENURUT ORGANISASI
FOKUS BELANJA PEMERINTAH
PUSAT DALAM APBN 2016
Dimensi
Pembangunan
Manusia
Dimensi
Pembangunan
Sektor Unggulan
Belanja K/L
Rp.795,5 T Rp784,1 T
Rp110,0 T
Rp59,9 T
Rp182,6 T
Rp4,0 T
Rp184,9 T
60% 59%
14% 14%
5% 8% 4%
16%
12% 8%
Rp101,4 T
APBNP
2015
Rp1.319,5 T
Rp1.325,6 T
APBN
2016
Rp50,2 T
Rp212,1 T
Rp4,6 T
Rp155,7 T
Program Pengelolaan Belanja Lain nya
Program Pengelolaan Transaksi Khusus
Program Pengelolaan Subsidi
Program Pengelolaan Hibah Nega ra
Program Pengelolaan Utang Nega ra
10 KEMENTERIAN/LEMBAGA DENGAN
ANGGARAN TERBESAR
Perkembangan
Belanja K/L
APBNP 2015 -- Rp 795 T
TRILIUN RUPIAH
TRILIUN RUPIAH
APBN 2016 -- Rp 784 T
KEMENPUPR
118,5 104,1
102,3 99,5
57,1 73,0
51,3 63,5
60,3 57,1
53,3 49,2
65,0 48,5
43,6 40,6
25,7 39,3
32,8 31,5
185,7 177,9
KEMENHAN
POLRI
KEMENKES
KEMENAG
KEMENDIKBUD
KEMENRISTEK &DIKTI KEMENKEU
KEMENTAN K/L LAINNYA KEMENHUB
2010
2011
2012
2013
2014
APBNP
APBN
332,9
417,6
489,4
582,9 577,2
Dimensi
Pembangunan
Manusia
Bidang
Pendidikan
Dimensi Pembangunan Manusia merupakan Pemenuhan kewajiban dasar, antara lain:
Pemenuhan anggaran Pendidikan 20 persen dari APBN untuk peningkatan akses dan kualitas pendidikan
Pemenuhan anggaran Kesehatan sebesar 5 persen dari APBN, dengan didukung program yang lebih efektif dan luas.
Penyediaan kebutuhan pokok Perumahan melalui program Sejuta Rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui dukungan pembangunan rumah, subsidi bunga kredit, bantuan uang muka, dan FLPP
Mengarahkan subsidi yang lebih tepat sasaran
Arah Kebijakan:
Pemenuhan anggaran pendidikan 20% dari APBN untuk peningkatan akses dan kualitas pendidikan, a.l melalui:
Wajib belajar 12 tahun melalui Program Indonesia Pintar dengan pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP)
Meningkatkan kualitas pembelajaran
Meningkatkan pengelolaan dan penempatan guru
Meningkatkan pemerataan akses dan kualitas serta relevansi dan daya saing pendidikan tinggi
Beasiswa bidik misi dan bantuan siswa miskin sebanyak 306 ribu mahasiswa
Pembangunan unit: 981 unit sekolah baru 14.566 ruang kelas baru 11.625 rehabilitasi ruang kelas
Pemberian Bantuan Operasional Sekolah (melalui Kementerian Agama): MI/Ula -- 3,6 juta santri
MTs/Wustha -- 3,4 juta santri MA/Ulya -- 1,3 juta santri
Kartu Indonesia Pintar sebanyak 19,54 juta siswa
Peningkatan Kompetensi Tenaga Pendidik dengan target 497,6 ribu
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan:
APBNP 2015 --Rp53,3 triliun
APBN 2016 --Rp49,2 triliun
Kementerian Agama:
APBNP 2015 --Rp60,3 triliun
APBN 2016 --Rp57,1 triliun
Kemenristek Dikti
APBNP 2015 --Rp43,6 triliun
APBN 2016 --Rp40,6 triliun
Bidang
Perumahan, Air
Minum, Sanitasi
Arah Kebijakan:
Meningkatkan persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan dengan target 77%
Jumlah kecamatan yang memiliki minimal satu
puskesmas yang tersertiikasi
akreditasi dengan target 700 kecamatan
Meningkatkan persentase anak usia 0-11 bulan yang mendapat imunisasi dasar lengkap dengan target 91,5%
Jumlah puskesmas yang minimal memiliki 5 jenis tenaga kesehatan di 2000 puskesmas
Jumlah penduduk miskin dan tidak mampu yang terdaftar sebagai peserta PBI melalui JKN/Kartu Indonesia Sehat (KIS) sebanyak 92,4 juta jiwa
Menurunkan prevalensi kekurangan gizi (underweight) pada anak balita hingga 18,3%
Persentase obat yang memenuhi syarat sebesar 92,5%
JKN
Rasio elektriikasi
diharapkan mencapai 90,15 %
121 ribu sambungan rumah tangga yang tersambung jaringan gas
Kapasitas terpasang kilang LPG sebesar 4,62 juta ton
Kapasitas terpasang PLT Bioenergi sebesar 2.069,4 MW
Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, Air, Surya, dan Angin masing-masing sebesar 1.712,5 MW, 5.534 MW, 92,1 MW, dan 11,2 MW
Peningkatan pengembangan infrastruktur ruas transmisi dan/atau
Bidang
Kedaulatan Energi
Kementerian Kesehatan
APBNP 2015 --Rp51,3 triliun
APBN 2016 --Rp63,5 triliun
Kementerian ESDM
APBNP 2015 --Rp15,1 triliun
APBN 2016 --Rp8,6 triliun
Dimensi
Pembangunan
Sektor Unggulan
Melanjutkan
program prioritas pembangunan untuk memperbaiki kualitas pembangunan.
Arah Kebijakan:
Meningkatkan produksi energi primer terutama minyak dan gas bumi
Meningkatkan pemanfaatan gas bumi dan batubara nasional
Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan energi dan ketenagalistrikan
Meningkatkan peranan Energi Baru Terbarukan dalam Bauran Energi
Bidang
Kesehatan
Arah Kebijakan:
Pemenuhan anggaran kesehatan sebesar 5% dari APBN, dengan didukung program yang lebih efektif dan luas, untuk mencapai:
Meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak
Meningkatnya pengendalian penyakit
Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, terutama di daerah terpencil, tertinggal, dan perbatasan
Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS) serta kualitas dan keberlanjutan pengelolaan SJSN kesehatan (dari sisi demand dan supply), termasuk perbaikan kebijakan dan regulasinya
Bidang
Kedaulatan Pangan
Arah Kebijakan:
Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai untuk Mencapai
Swasembada dan Peningkatan Produksi Protein Hewani Daging dan Gula
Penguatan Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan
Perbaikan Kualitas Konsumsi Pangan dan Gizi Masyarakat
Penanganan Gangguan Ketahanan Pangan
Produksi padi 76,2 juta ton,
Produksi jagung 21,4 juta ton
Produksi kedelai 1,82 juta ton
Produksi daging sapi/kerbau 588,56 ribu ton
Produksi telur 3.393,36 ribu ton
Produksi susu 850,77 ribu ton
Embung dan penampung air lainnya 387 buah
Bendungan baru 8 buah
Normalisasi sungai dan pembangunan/ peningkatan tanggul 184,9 km
Penambahan luas tanam padi 60 ribu ha,
Penambahan luas baku lahan padi 200,6 ribu ha,
Pengembangan/perbaikan jaringan irigasi dan optimasi air seluas 400 ribu ha
Produksi perikanan tangkap sebanyak 6,45 juta ton;
Penyediaan dana cadangan stabilisasi harga pangan
Penyediaan dana cadangan beras pemerintah
Kementerian Pertanian
APBNP 2015 --Rp32,8 triliun
APBN 2016 --Rp31,5 triliun
Kementerian Kelautan dan Perikanan
APBNP 2015 --Rp10,6 triliun
APBN 2016 --Rp13,8 triliun
Kementerian PU & PR
APBNP 2015 --Rp118,5 triliun
APBN 2016 --Rp104,1 triliun
Kementerian Kelautan dan Perikanan
APBNP 2015 --Rp10,6 triliun
APBN 2016 --Rp13,8 triliun
Bakamla
APBN 2016 --Rp0,3 triliun
Kemaritiman dan
Kelautan
Pembangunan kapal perintis penumpang dan barang sebanyak 100 unit
Produksi perikanan budidaya 8,35 juta ton ikan, 11,11 juta ton rumput laut, 1,9 miliar ekor ikan hias, dan produksi garam 3,6 juta ton
Kepatuhan (compliance) pelaku usaha kelautan dan perikanan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang
25 Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) yang difasilitasi pengembangan ekonominya
Penyelesaian perkara/kasus tindak pidana di wilayah
perairan Indonesia dan wilayah yuridiksi Indonesia yang ditangani/ diproses (P21) sebesar 80%
Menurunnya tingkat gangguan keamanan dan pelanggaran hukum yang terjadi di wilayah perairan Indonesia dan wilayah
Arah Kebijakan:
Meningkatkan pengawasan dan penjagaan serta penegakan hukum di laut dan daerah perbatasan;
Percepatan pembangunan transportasi yang mendorong penguatan industri nasional
Pemberantasan tindakan perikanan liar
Pengembangan ekonomi maritim dan kelautan
Kementerian Perhubungan
APBNP 2015 --Rp65,0 triliun
Pariwisata
dan Industri
Arah Kebijakan:
Pembangunan Destinasi Pariwisata
Pemasaran Pariwisata Nasional
Pembangunan Industri Pariwisata
Pembangunan Kelembagaan Pariwisata fasilitasi peningkatan
destinasi wisata, budaya, alam dan buatan di 15 lokasi
Kontribusi investasi sektor pariwisata terhadap total investasi nasional 3,7%
Terevitalisasinya industri galangan kapal di 9 lokasi
Jumlah wisatawan
mancanegara ke Indonesia 12 juta orang
Jumlah perjalanan wisatawan nusantara 260 juta perjalanan
Pengembangan 10 kawasan industri di Sumatera dan Kalimantan
Perluasan cakupan perluasan cakupan penerima Bantuan Tunai Bersyarat 6 juta KSM Tingkat kemiskinan 9-10% Tingkat pengangguran terbuka 5,2-5,5%
Ketimpangan
Antarkelompok
Masyarakat
Arah Kebijakan:
P
eningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dan tidak mampumelalui program bantuan sosial yang lebih berkesinambungan (KIP, KIS), termasuk perluasan cakupan penerima Bantuan Tunai Bersyarat
Perluasan dan penajaman program KUR (coverage dan subsidi bunga)
yang sudah dimulai tahun 2015
Dimensi Pemerataan
dan Kewilayahan
Menyelaraskan
kebijakan Desentralisasi Fiskal dengan mengalihkan alokasi Dana
Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan (Dekon/TP) di K/L ke DAK.
Peningkatan
kesejahteraan masyarakat miskin dan tidak mampu melalui program
bantuan sosial yang lebih berkesinambungan
Perluasan
cakupan penerima Bantuan Tunai Bersyarat menjadi 6 juta KSM.
Perluasan
dan penajaman program KUR (coverage dan subsidi bunga) yang sudah
dimulai tahun 2015
Kepesertaan program SJSN Ketenagakerjaan kumulatif 40 juta pekerja formal dan 3,2 juta pekerja informal Subsidi pangan/raskin 15,5 juta RTS dengan harga jual Rp1.600/kg
passport
Kementerian Pariwisata
APBNP 2015 --Rp2,4 triliun
APBN 2016 --Rp5,4 triliun
Kementerian Sosial
APBNP 2015 --Rp22,4 triliun
APBN 2016 --Rp14,7 triliun
Kementerian Perindustrian
APBNP 2015 --Rp4,5 triliun
Antar
Wilayah
Arah Kebijakan:
Percepatan pembangunan infrastruktur yang efektif dan eisien untuk
mendukung kegiatan sektor-sektor strategis ekonomi serta mengurangi kesenjangan ekonomi dan spasial.
Pembangunan jalan dan jembatan sepanjang 768,7 km dan 8.051,7 m;
Pemeliharaan jalan dan jembatan sepanjang 44.570,2 Km dan 378.310 m;
Pembangunan 28,95 km ruas jalan tol.
Pembangunan 11.642 unit rusun;
Penyediaan fasilitas untuk rumah swadaya sebanyak 94.000 RT;
Pembangunan sarana bantu navigasi pelayaran sebanyak 221 unit dan 96 trayek perintis
Pembangunan jalur kereta api sepanjang 142,12 km sp;
Pembangunan jembatan/
underpass/lyover KA sebanyak 33 unit
Bus Rapid Transit (BRT) sebanyak 813 unit;
Lokasi pembangunan jembatan timbang sebanyak 1 lokasi;
Pembangunan dermaga sungai dan danau baru sebanyak 7 dan 1 dermaga
26 dan 59 lokasi bandar udara yang dikembangkan di daerah perbatasan dan rawan bencana;
15 lokasi bandar udara baru yang dibangun.
Pengembangan/perbaikan jaringan irigasi dan optimasi air seluas 400.000 ha
Kementerian PU & PR
APBNP 2015 --Rp118,5 triliun
APBN 2016 --Rp104,1 triliun
Kementerian Perhubungan
APBNP 2015 --Rp65,0 triliun
APBN 2016 --Rp48,5 triliun
Kementerian Pertanian
APBNP 2015 --Rp32,8 triliun
APBN 2016 --Rp31,5 triliun
Komisi Pemberantasan Korupsi
APBNP 2015 --Rp0,9 triliun
APBN 2016 --Rp1,1 triliun
Polri
APBNP 2015 --Rp57,1 triliun
APBN 2016 --Rp73,0 triliun
Kementerian Dalam Negeri
APBNP 2015 --Rp6,1 triliun
APBN 2016 --Rp5,1 triliun
Mahkamah Agung
APBNP 2015 --Rp8,6 triliun
APBN 2016 --Rp9.0 triliun
Kementerian Pertahanan
APBNP 2015 --Rp102,3 triliun
APBN 2016 --Rp99,5 triliun
Kondisi
Perlu
Arah Kebijakan:
Memperkuat kepastian dan penegakan hukum, stabilitas pertahanan dan keamanan, serta politik dan demokrasi
Penataan/restrukturisasi kelembagaan birokrasi pemerintah agar efektif, eisien, dan sinergis.
Kepastian dan Penegakan Hukum
Efektivitas penanganan kasus/perkara tindak pidana korupsi (conviction rate) sebesar 95%;
Terselenggaranya pelayanan peradilan umum (165.900 perkara), peradilan agama (10.815 perkara), peradilan militer dan peradilan TUN (56 perkara)
Persentase penambahan Almatsus Polri sebesar 13%;
Berkurangnya daerah rawan kejahatan dan kegiatan premanisme sebesar 15%;
Penambahan alutsista dan non alutsista fasilitas serta Sarpras 20% dan pengadaan 143 unit Rantis (matra darat); Pengadaan 130 unit KRI, KAL, Alpung, Ranpur, Rantis (matra laut); Pesawat yang siap operasional sebanyak 150 unit (matra udara)
Meningkatnya pemanfaatan NIK, database kependudukan, dan KTP-el oleh lembaga pengguna pusat pada 25 K/L;
Terfasilitasinya penyelenggaraan tahapan pilkada provinsi dan kabupaten/kota pada 102 satker
Keamanan dan Ketertiban
Perbandingan Subsidi Energi, Anggaran Pendidikan,
Infrastruktur dan Kesehatan 2010-2016
Anggaran Pendidikan
Mempertahankan pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20% dari Belanja Negara
Meningkatkan alokasi pembangunan
infrastruktur untuk meningkatkan produktivitas Peningkatan produksi untuk mencapai swasembada pangan dan ketersediaan pasokan Pemenuhan pertama kali anggaran kesehatan sebesar 5% dari Belanja Negara
Anggaran Kesehatan
Anggaran Infrastruktur
Anggaran Kedaulatan Pangan
Anggaran
2010 2011 2012 2013 2014 APBN
2016 triliun rupiah
Subsidi Energi
500 Kebijakan pengalihan subsidi
energi untuk belanja yang lebih produktif seperti belanja infrastruktur
2010 2011 2012 2013 2014 APBN
2016
2010 2011 2012 2013 APBNP APBN
0
2010 2011 2012 2013 2014
0 80 160
120
40
2010 2011 2012 2013 2014 APBN
Stabilitas
harga kebutuhan pokok
Daya
beli masyarakat tetap terjaga terutama masyarakat miskin
Ketersediaan
pasokan kebutuhan pokok dan peningkatan produktivitas
Daya
saing produksi dan akses permodalan UMKM makin meningkat
Subsidi Energi
Alokasi anggaran yang disalurkan melalui perusahaan/lembaga yang menyediakan dan mendistribusikan BBM, LPG tabung 3 kg, LGV, dan tenaga listrik sehingga harga jualnya terjangkau oleh masyarakat.
Subsidi Nonenergi
Subsdi Non energi
Rp80,5 T
44%
Subsdi Energi
Rp102,1 T
56%
%
SUBSIDI
APBN 2016
Arah Kebijakan
Subsidi Tahun
2016
PERKEMBANGAN SUBSIDI
2005-2016
200 4
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
APBNP 2014
APBN 2016
71,3 20,2
104,4 16,3
94,6 12,8
116,9 33,3
223,0 52,3
94,6 43,5
140,0 52,8
255,6 39,7
306,5 39,9
310,0 45,1
52,7
102,1 80,5
Subsidi Energi Subsidi Nonenergi Persentase terhadap Belanja Negara
24%
16%
20%
28%
15%
18%
23%
23%
22%
21%
APBNP 2015
74,3
137,8
11%
9%
2014
341,8 50,2
Rp91,5 T
Rp120,8 T
Rp107,4 T
Rp150,2 T
Rp275,3 T
Rp138,1 T
Rp192,7 T
Rp295,4 T
Rp346,4 T
Rp355,0 T
Rp392,0 T
Rp212,1 T
Rp182,6 T
Volume Minyak Tanah:
0,69 juta KL
Volume Minyak Solar:
16,0 juta KL
Volume LPG Tabung 3 KG:
6,6 metrik ton
Kebijakan
Subsidi BBM
Kebijakan
Subsidi Listrik
Melanjutkan pemberian subsidi tetap untuk BBM jenis minyak solar dan subsidi (selisih harga) untuk minyak tanah dan LPG tabung 3 kg;
Melaksanakan eisiensi dan efektivitas subsidi LPG tabung 3 kg;
Meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan untuk transportasi
Meningkatkan dan mengembangkan pembangunan jaringan gas kota untuk rumah tangga
Meningkatkan pengawasan penyaluran BBM bersubsidi dan dan LPG tabung 3 kg antara lain melalui penggunaan data dan teknologi, dan
Meningkatkan peranan pemerintah daerah dalam pengendalian dan pengawasan BBM bersubsidi dan LPG tabung 3kg
Meningkatkan rasio elektriikasi
Meningkatkan eisiensi penyediaan tenaga listrik
Subsidi BBM, LPG tabung 3 kg, LGV terutama untuk rumah tangga, usaha mikro, usaha perikanan dan transportasi
Subsidi listrik terutama untuk golongan pelanggan 450-900 VA
56%
44%
Subsdi Listrik
Rp38,4 T
Subsdi BBM
Rp63,7 T
SUBSIDI ENERGI
JUTA KILO LITER
PERKEMBANGAN SUBSIDI
ENERGI 2005-2016
Volume
Konsumsi
BBM Bersubsidi
2005-2016
Rp104,4 T
Rp94,6 T
Rp116,9 T
Rp233,0 T
Rp310,0 T
Rp306,5 T
Rp255,6 T
Rp94,6 T
Rp140,0 T
95,6 8,9
64,2 30,4
83,8 33,1
139,1 83,9
45,0 49,5
82,4 57,6
165,2 90,4
211,9 94,6
210,0 100,0
240,0 101,8
BBM, LPG Tabung 3kg, dan LGV Listrik
Rp104,4 T
Rp94,6 T
Rp116,9 T
Rp223,0 T
Rp94,6 T
Rp140,0 T
Rp255,6 T
Rp306,5 T
Rp310,0 T
Rp137,8 T
APBNP 2015
64,7 73,1
Rp71,3 T
Rp341,8 T
Rp102,1T
APBN 2016
63,7 38,4
59,7
37,5 38,7 38,1 37,0 38,2 41,8
45,0 46,2 46,0 2014
TRILIUN RUPIAH
2005
2006 2007 2008 2009 2010
2011
Subsidi Pangan
Rp21,0 T
Subsidi Bunga
Kredit Program
Rp16,5 T
Subsidi Benih
Rp1,0 T
Subsidi PSO
Rp3,8 T
Subsidi Pajak
Rp8,2 T
Subsidi
Nonenergi
Rp80,5 T
Subsidi Pupuk
Rp30,1 T
Penyediaan beras dengan harga tebus/ jual Rp1.600/Kg bagi 15,5 juta RTS @15 Kg/ RTS selama 12 bulan. Mendukung program
pengembangan UMKM, peningkatan ketahanan pangan, dan program
diversiikasi energi.
Mendukung program stabilitas harga kebutuhan pokok dan pengembangan industri strategis.
Membantu petani memenuhi kebutuhan pupuk dengan harga terjangkau, serta mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan. Membantu petani memenuhi
kebutuhan benih dengan harga terjangkau, serta mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan.
Diberikan untuk penumpang angkutan kereta api, penumpang angkutan kapal laut kelas ekonomi, dan penyediaan informasi publik.
Rp
%
SUBSIDI NONENERGI
APBN 2016
26%
37%
10%
5%
21%
Subsidi Pangan
Subsidi Bunga Kredit Program
Subsidi Pupuk Subsidi Pajak Subsidi Lainnya
Subsidi PSO Subsidi Benih
PERKEMBANGAN SUBSIDI
NONENERGI 2005-2016
2004
TRILIUN RUPIAH
Rp50,2 T
Rp45,1 T
Rp39,9 T
Rp39,7 T
Rp52,8 T
Rp43,5 T
Rp52,3 T
Rp33,3 T
Rp12,8 T
Rp16,3 T
Rp20,2 T
4,8
Rp74,3 T
APBNP
30,1 16,5
2,5
21,0 18,9
Rp80,5 T
2014
Memenuhi kewajiban Pemerintah untuk menjaga kredibilitas dan kesinambungan pembiayaan
Menjaga eisiensi pembayaran
bunga utang, antara lain melalui pemilihan komposisi instrumen utang dan melaksanakan transaksi lindung nilai.
KEBIJAKAN PEMBAYARAN
BUNGA UTANG 2016
PEMBAYARAN BUNGA
UTANG APBN 2016
91%
9%
Pembayaran Bunga Utang
Dalam Negeri
Pembayaran Bunga Utang
Luar Negeri
Rp168,5 T
TRANSFER KE DAERAH
DAN DANA DESA
Dana Otonomi Khusus
91%
30%
70% 30%
6%
2% 1%
Rp47,0 T
Rp5,0 T
Rp0,5 T
Rp17,2 T
Rp700,4 T
Dana
Perimbangan
Rp106,1 T
Rp491,5 T
Dana
Bagi Hasil Rp123,5 T Dana Nonfisik
Rp85,5 T
Dana Fisik
Dana Transfer Umum
Rp770,2 T
Transfer ke Daerah
dan Dana Desa
Rp208,9 T
Dana Transfer Khusus
Rp385,4 T
Dana Alokasi Umum
Dana Transfer Umum
Dana Transfer Khusus
Dana Desa Dana Insentif Daerah Dana Keistimewaan DIY
41% 59%
44%
122,9 1,6 5,2
143,2 1,8 5,5
222,1 3,5
0,6
244,0 4,0
5,3
278,7 7,5
6,2
287,3 9,5
11,8
316,7 9,1
18,9
347,2 10,4
53,7
411,3 12,0
57,4
430,4 13,4
0,1
69,3
491,9 16,1
0,5
87,9
516,4
Rp129,7 T
Rp150,5 T
Rp226,2 T
Rp253,3 T
Rp292,4 T
Rp308,6 T
Rp344,7 T
Rp411,3 T
Rp480,6 T
Rp511,3 T
Rp596,5 T
2004
104,4 20,8
Rp664,6 T
Rp770,2 T
5,0 0,5
PERKEMBANGAN TRANSFER KE DAERAH
DAN DANA DESA 2005-2016
2014
477,1 80,1
0,4
Rp573,7 T
Meningkatkan alokasi anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa, agar dapat mempercepat penguatan peran daerah dalam penyediaan pelayanan publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang merupakan perwujudan dari ciri Indonesia
sebagai negara desentralisasi iskal
Melakukan perubahan struktur dan ruang lingkup Transfer ke Daerah dan Dana Desa agar lebih sesuai dengan pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah serta kebutuhan pendanaan daerah
Meningkatkan kualitas penganggaran dan penyaluran DBH guna meningkatkan kepastian jumlah dan ketepatan waktu penyaluran
Reformulasi alokasi DAU guna meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah
Reformulasi dan penguatan DAK untuk mendukung Nawacita dan pencapaian prioritas nasional
Meningkatkan kualitas pengelolaan Dana Otsus dan Dana Keistimewaan DIY
Reformulasi DID untuk memberikan penghargaan yang lebih besar kepada daerah yang berkinerja baik dalam pengelolaan keuangan, perekonomian, dan kesejahteraan daerah
Peningkatan alokasi Dana Desa minimal 6 persen dari dan di luar Transfer ke Daerah sesuai Road Map Dana Desa tahun 2015-2019
PERUBAHAN POSTUR TRANSFER KE
DAERAH DAN DANA DESA
Kebijakan Transfer Ke Daerah
dan Dana Desa
Transfer ke Daerah
Dana Desa
Postur
Transfer ke Daerah
dan Dana Desa
Postur
Transfer ke Daerah
dan Dana Desa
Dana Perimbangan
Dana Transfer Lainnya
DBH
DAU
DAK
Dana Otonomi Khusus
Dana Keistimewaan DIY
Dana Insentif Daerah
Dana Otonomi Khusus
Dana Keistimewaan DIY
Transfer ke Daerah
Dana Desa
Dana Perimbangan
Dana Transfer Umum
DBH
DAU
Dana Transfer Khusus
DAK Fisik
DAK Nonfisik
37
Rp385,4 T
Papua Barat
Papua Maluku
Maluku Utar a Sulawesi Tengah
Gorontalo
Sulawesi Barat
Sulawesi Tenggara Sulawesi Selatan
Sulawesi Utara Kalimantan Barat
Kalimantan Utara
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah
Nanggroe Aceh Darussala m
Sumatera Utara
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bangka Belitung
Lampung Sumatera Selatan Sumatera Barat
Bengkulu
Rp14,1 T
Rp23,3 T Rp13,0 T
Rp6,3 T
Rp7,0 T
Rp3,8 T Rp7,7 T
Rp11,7 T Rp12,5 T Rp8,0 T
Rp35,9 T
Rp11,7 T Rp10,0 T
Rp7,7 T
Rp17,3 T Rp4,2 T
Rp3,3 T
Rp6,8 T
Rp8,2 T
Rp13,0 T Rp38,3 T
Rp33,1 T Rp4,2 T
Banten Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta Jawa Timur
Bali
Nusa Tenggara Barat
Dialokasikan kepada daerah bersumber dari pendapatan APBN berdasarkan persentase tertentu guna mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
DBH Pajak:
APBN 2016 Rp51,5 T
DBH Sumber Daya Alam:
APBN 2016 Rp54,6 T
Dana Bagi Hasil
Dana Transfer Khusus
Rp106,1 T
Rp208,9 T
Rp55,1 T
Rp27,5 T
Rp2,8 T Rp2,7 T
Rp16,4 T
Rp0,8 T Rp8,3 T
Rp1,6 T Rp0,7 T
Rp1,3 T Rp0,3 T Rp21,6 T
Rp1,5 T
DAK Reguler
Pendidikan
DAK Infrastruktur dan Publik Daerah DAK Afirmasi
Kesehatan dan KB
Perumahan, Permukiman, Air Minum & Sanitasi
Kedaulatan Pangan
Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Energi Skala Kecil Kelautan dan Perikanan
Prasarana Pemerintahan Daerah Transportasi
Sarana Perdagangan, Industri Kecil Menengah & Pariwisata
DAK FISIK
Rp85,4 T
Rp43,9 T
Rp2,3 T
Rp71,0 T
Rp1,0 T
Rp0,4 T
Rp4,6 T
Rp0,3 T
DAK NONFISIK
Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD (BOP)
Tunjangan Profesi Guru PNSD Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi
Tambahan Penghasilan Guru PNSD
BOK dan BOKB
Dana Peningkatan Kapasitas Koperasi, UKM, dan Ketenagakerjaan
Dana Otsus Provinsi PapuadanPapua Barat terutama ditujukan untuk pembiayaan Pendidikan dan Kesehatan.
Dana Otsus Provinsi Aceh terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan. Selanjutnya Dana Tambahan Infrastruktur Provinsi Papua dan Papua Barat ditujukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dermaga, sarana transportasi darat, sungai maupun laut dalam rangka mengatasi keterisolasian dan kesenjangan penyediaan infrastruktur antara Papua dan Papua Barat dengan daerah lainnya
Dana Otonomi Khusus
Rp17,2 T
Alokasi Otsus Provinsi Aceh
Rp7,7 T Rp2,3 T Rp5,4 T
Rp1,2 T Rp0,6 T
Alokasi Otsus
Provinsi Papua Barat Alokasi Otsus
Provinsi Papua
Alokasi Tambahan Infrastruktur Provinsi Papua Alokasi Tambahan
Infrastruktur Provinsi Papua Barat
Dana Desa diperuntukkan antara lain bagi: (1) mendanai penyelenggaraan pemerintahan, (2) pelaksanaan pembangunan, dan (3) pemberdayaan masyarakat desa. Anggaran Dana Desa dihitung berdasarkan jumlah desa dan dialokasikan dengan memerhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah,
dan tingkat kesulitan geograis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan
desa. Besaran anggaran Dana Desa yang bersumber dari APBN ditentukan sebesar 10 % dari dan di luar dana Transfer ke Daerah (on top) secara bertahap. Untuk itu, kebijakan Dana Desa pada tahun 2016 salah satunya diarahkan untuk meningkatkan pagu anggaran Dana Desa yang bersumber dari APBN, yakni
Dialokasikan untuk mendanai urusan Keistimewaan DIY, meliputi: a) tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur; b) kelembagaan Pemerintah Daerah DIY; c) kebudayaan; d) pertanahan; dan e) tata ruang
Dana Insentif Daerah
Dana Keistimewaan DIY
Dana Desa
Rp5,0 T
Rp0,5 T
Rp47,0 T
Kriteria:
Dialokasikan kepada Provinsi, Kabupaten, dan Kota berdasarkan kriteria utama dan kriteria kinerja
Tujuan:
Memberikan penghargaan (reward) kepada daerah yang mempunyai kinerja baik dalam: - Kesehatan Fiskal dan Pengelolaan Keuangan Daerah
- Pelayanan Dasar Publik
Kebijakan Deisit Anggaran diarahkan untuk memperkuat stimulus iskal yang
diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penguatan daya saing
dengan tetap mengendalikan risiko dan menjaga kesinambungan iskal dalam
jangka menengah dan panjang
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menjaga kesinambungan iskal adalah dengan mengendalikan deisit dalam batas aman, mengendalikan rasio utang
terhadap PDB, dan mengendalikan keseimbangan primer
TRILIUN RUPIAH
2005
Defisit APBN (triliun Rupiah) Defisit LKPP (triliun Rupiah)
Defisit LKPP (% terhadap PDB) Defisit APBN (% terhadap PDB)
2016 273,2
2,15
PERKEMBANGAN DEFISIT ANGGARAN
2005-2016
PEMBIAYAAN
ANGGARAN
Utang
PEMBIAYAAN
Penerbitan
SBN Neto
Perbankan
Dalam Negeri
Non
Perbankan
Dalam Negeri
Pinjaman Dalam
Negeri Neto
Pinjaman Luar
Negeri Neto
Non
Utang
Rp
Rp
Rp
Rp273,2 T
Rp330,9 T
-Rp57,7 T
Rp5,5 T
-Rp63,2 T
Rp3,3 T
Rp0,4 T
Rp327,2 T
Pinjaman luar negeri neto direncanakan positif dengan maksud untuk
1. Mengurangi beban biaya penarikan utang (cost of borrowing) secara keseluruhan 2. Mengurangi risiko pasar dari pengelolaan SBN
TRILIUN RUPIAH
Nonutang
Pembiayaan Anggaran Utang
Penurunan pembiayaan anggaran pada tahun 2010 karena menyesuaikan dengan menurunnya realisasi
deisit APBN dari target yang ditetapkan
2013
Rp8,9T
Rp29,4T
Rp42,5T
Rp84,1T
Rp112,6T
Rp91,6T
Rp130,9 T
Rp175,2 T
Rp237,4T
(, )
18,1
219,3 38,1
137,0 28,3
102,7 4,6
86,9 28,7
83,9 16,6
67,5 11,9
30,6 20,0
9,4 (1,2)
10,1
APBNP 2015
(56,9)
279,4 Rp222,5T
(3,4)
Rp246,6 T
Rp273,2T (57,7)
APBNP 2014
2012 2011 2010 2009 2008 2007 2006 2005
250,0
APBN
2014
PERKEMBANGAN PEMBIAYAAN ANGGARAN
2005-2016
Rp248,9 T
3,2
Kebijakan Pembiayaan
Anggaran APBN 2016
Kebijakan Pembiayaan
Non Utang
Kebijakan Pembiayaan
Utang
Mengendalikan rasio utang terhadap PDB
Mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhan pembiayaan dan melakukan pendalaman pasar obligasi domestik
Mengarahkan pemanfaatan utang untuk kegiatan produktif antara lain melalui penerbitan sukuk yang berbasis proyek
Memanfaatkan pinjaman luar negeri secara selektif, terutama untuk bidang infrastruktur dan energi
Meningkatkan pemanfaatan fasilitas pinjaman sebagai alternatif instrumen pembiayaan
Melakukan pengelolaan utang secara aktif dalam kerangka asset liabilities management (ALM)
Menyempurnakan kualitas perencanaan investasi Pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah BUMN sebagai agen pembangunan antara lain untuk mendukung pembangunan infrastruktur, kedaulatan pangan, dan kemaritiman
Mengendalikan rasio utang pemerintah dalam batas yang aman
Membuka akses pembiayaan pembangunan dan investasi kepada masyarakat secara lebih luas antara lain melalui penerbitan obligasi ritel
Mengoptimalkan dana kelolaan BLU dalam rangka pembiayaan pembangunan termasuk memperluas akses sektor UMKM, perumahan murah dan pendidikan
Memprioritaskan skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) untuk mendukung pembangunan infrastruktur
Memberikan penjaminan dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur
Mendukung program peningkatan akses terhadap pendidikan dan penyediaan kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)
Mendukung pembangunan infrastruktur baik sarana dan prasarana transportasi, pemukiman, air bersih dan sanitasi, serta infrastruktur energi melalui alokasi dana investasi pemerintah, dan kewajiban penjaminan
Mendukung peningkatan ekspor melalui alokasi PMN
Mendukung pemenuhan kewajiban negara sebagai anggota organisasi/lembaga keuangan internasional serta mempertahankan persentase kepemilikan modal melalui alokasi PMN
Mendukung pemenuhan ketersediaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) baik melalui program PMN, maupun dana bergulir serta melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya agar tepat sasaran
Pengeluaran Pembiayaan
APBN 2016
Pengeluaran pembiayaan anggaran 2016 terutama dialokasikan untuk PMN kepada BUMN/ lembaga, antara lain guna mendukung agenda program prioritas Pemerintah yang tertuang dalam Nawacita
Dana PMN digunakan untuk melakukan investasi dalam rangka pelaksanaan program prioritas Pemerintah, sekaligus untuk memperbaiki dan memperkuat struktur permodalan BUMN/ lembaga
Dana PMN diharapkan dapat meningkatkan kemampuan BUMN/lembaga untuk me-leverage
pendanaan yang selanjutnya akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan/atau percepatan pelaksanaan program prioritas Pemerintah.
Rapat ParipurnaDPR RI memutuskan bahwa PMN dikembalikan lagi pada komisi-komisi terkait yang akan dibahas dalam RAPBN Perubahan tahun 2016
Pengeluaran pembiayaan2016 juga dialokasikan untuk PMN kepada organisasi/lembaga keuangan internasional, dana bergulir Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan,
Kewajiban Penjaminan, Dana Pengembangan Pendidikan Nasional, Penerusan Pinjaman kepada BUMN/Pemda.
Penerusan Pinjaman kepada BUMN/Pemda Rp5,9 T
PT PLN Rp4,0 T digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur energi melalui pembangunan/ restrukturisasi pembangkit listrik (PLTU, PLTA, dan PLTG)
PT Pertamina Rp1,6 T digunakan untuk pembangunan geothermal sebagai sumber energi listrik yang ramah lingkungan
PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia Rp15,0 M digunakan untuk fasilitas penjaminan proyek infrastruktur dalam rangka mendorong dan mempercepat pembangunan proyek-proyek infrastruktur
Pemprov DKI Jakarta Rp184,7 M digunakan untuk pengendalian banjir Jakarta melalui pengerukan dan rehabilitasi sungai, kanal dan waduk, serta rehabilitasi/penguatan tanggul
PMN kepada BUMN
Menurut Prioritas
Infrastruktur
dan Maritim
Kedaulatan
Pangan
Kedaulatan
Energi
Pengembangan
Industri Strategis
Rp20,7 T
51%
10%
4%
25%
10%
Rp4,2 T
Rp1,5 T
Rp3,9 T
Rp10,0 T
Perum Bulog Rp2,0 T, untuk mempercepat pembangunan unit-unit modern rice milling plant, drying centre beserta SILO dan
Cold Storage, guna mempercepat proses pengeringan, pengolahan, dan meningkatkan kapasitas penyimpanan gabah/beras, jagung, produk hortikultura dan daging
PT Rajawali Nusantara Indonesia Rp692,5 M
(konversi utang pokok RDI), untuk revitalisasi pabrik gula, pengembangan bisnis sawit, dan pengembangan bisnis properti yang dimiliki perseroan
PT Perusahaan Perdagangan IndonesiaRp1,0 T, untuk mendukung penugasan sebagai stabilisator harga gula
PT Perikanan Nusantara Rp29,4 M, PMN (konversi Piutang SLA/RDI) untuk memperbaiki struktur permodalan perseroan sehingga kinerja keuangan perseroan akan semakin baik
PT PLNRp10,0 T, untuk mendukung pendanaan proyek 35.000 MW sampai dengan tahun 2019 serta membiayai pembangunan infrastruktur kelistrikan.
PT Krakatau Steel Rp1,5 T (tunai) dan Rp956,5 M (non tunai), untuk mendukung pembiayaan pembangunan
Hot Strip Mill (HSM) #2 dan pembangunan pembangkit listrik.
PT Industri Kereta Api Rp1,0 T, untuk mendukung proyek KRL Airport Link Bandara Soekarno-Hatta, serta pembangunan workshop di Gresik.
PT Barata Indonesia Rp500,0 M, untuk pengembangan pabrik pengecoran (foundry), pembangunan pabrik pusat penempaan ( ) dan permesinan (
Rincian
PMN
Mendukung Program Kedaulatan Pangan
Mendukung Program Kedaulatan Energi
Mendukung Program Pengembangan
Industri Strategis
Kebijakan
PMN
BUMN yang melaksanakan kebijakan/program Pemerintah dalam rangka menyelenggarakan kemanfaatan umum bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak
Peningkatan kapasitas usaha BUMN antara lain dalam rangka peningkatan kualitas infrastruktur, kedaulatan pangan dan energi dengan
memperhatikan kemampuan keuangan negara
Mempertahankan porsi kepemilikan, sehingga Pemerintah masih dapat mengendalikan BUMN yang bersangkutan
Mempertimbangkan efek pengganda bagi pertumbuhan ekonomi;
PMN pada Organisasi/Lembaga keuangan internasional dan badan usaha lain, bertujuan untuk:
Memenuhi kewajiban Indonesia sebagai anggota serta mempertahankan proporsi kepemilikan saham (shares) dan hak suara (voting rights).
Memperoleh manfaat yang maksimal bagi kepentingan nasional, didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku dan memperhatikan
eisiensi penggunaan anggaran dan kemampuan
PT Asuransi Kredit Indonesia, dan Perum Jamkrindo, masing-masing Rp500,0 M, dalam rangka pelaksanaan penjaminan KUR bagi KUMKM.
PT BPUI Rp500,0 M, untuk meningkatkan kapasitas perusahaan dalam melakukan penyaluran kredit kepada KUMKM.
PT Sarana Multi Infrastruktur Rp4,2, T, untuk berpartisipasi dalam pembiayaan proyek-proyek infrastruktur strategis.
PT Penjaminan Infrastruktur IndonesiaRp1,0 T, untuk memperkuat struktur permodalan dan peningkatan kapasitas usaha PT PII untuk melakukan penjaminan dalam proyek infrastruktur.
PT Sarana Multigriya Finansial Rp1,0 T, untuk memperbaiki struktur permodalan dan meningkatkan kapasitas usaha dalam rangka pengembangan pasar pembiayaan sekunder perumahan.
PT Jasa Marga Rp1,3 T, untuk melaksanakan pembangunan proyek jalan tol baru.
PT Hutama Karya Rp3,0 T, untuk melaksanakan penugasan Pemerintah dalam melakukan pengusahaan jalan tol di Sumatera
PT Wijaya Karya Rp4,0 T, untuk melaksanakan proyek infrastruktur antara lain pembangkit listrik, Kawasan Industri Kuala Tanjung, Pembangunan Water Treatment Plant serta jalan tol.
PT Pembangunan Perumahan Rp2,3 T, untuk melaksanakan proyek di bidang infrastruktur berupa pelabuhan dan kawasan industri pelabuhan serta jalan tol.
Perum Perumnas Rp250 M (tunai) dan Rp235,4 M (konversi utang pokok RDI), untuk mempercepat pengadaan lahan dan penyediaan rumah, baik rumah tapak maupun rumah susun untuk masyarakat menengah ke bawah.
PT Pelni Rp564,8 M (konversi utang pokok SLA) untuk meningkatkan kemampuan perseroan dalam pendanaan investasinya.
PT Angkasa Pura II Rp2,0 T, digunakan dalam rangka pembebasan lahan untuk pembangunan runway 3 Bandara Soekarno-Hatta
PT Amarta Karya Rp32,1 M (konversi utang pokok SLA) untuk meningkatkan kapasitas usaha dan percepatan program prioritas Pemerintah terkait infrastruktur energi.
PT Pelindo III Rp1,0 T, untuk melaksanakan program pembangunan dan pengembangan aksesibilitas laut; pengembangan pelabuhan di Kawasan Timur Indonesia; serta pengembangan terminal penumpang, pelayaran rakyat dan fasilitas penunjang pelabuhan.