• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK Muhamad Isnaini Gerakan Kerelawanan Generasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK Muhamad Isnaini Gerakan Kerelawanan Generasi"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KASUS PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH

(PILKADA) JAKARTA 2017 DALAM PERSPEKTIF

KOMUNIKASI POLITIK

Muhamad Isnaini

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur, Jakarta

[email protected]

Pendahuluan

Terdapat dua fenomena menarik pasca usainya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2017. Pertama, tingginya partisipasi pemilih, mencapai 75,75% pada putaran pertama dan 78% pada putaran kedua (KPU 2017). Kedua, maraknya gerakan relawan, baik yang mendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur maupun relawan yang mendukung proses pilkada agar berlangsung jujur (Ginanjar 2017). Gerakan relawan tersebut bibitnya dimulai dari tumbuhnya konsultan-konsultan politik yang disewa para politikus yang mulai berlaga di Pilkada langsung pada 2005. Sejak tahun 2012, mulai berkembanglah fenomena relawan seperti sekarang, berupa antusiasme warga yang berkelindan dengan keputusan sejumlah pegiat hak-hak sipil untuk terlibat dalam pemilihan kepala-kepala pemerintahan (Ginanjar 2017).

Hal lain yang membuat Pilkada Jakarta bertambah semarak adalah munculnya gelombang pemilih belia dengan antusiasme yang tinggi. Berdasarkan data dari BPS DKI Jakarta (2016), jumlah penduduk Jakarta mencapai 10,154 juta jiwa, dengan penduduk yang mempunyai hak pilih (lebih dari 17 tahun atau sudah menikah) mencapai 7,218 juta jiwa (KPU 2017), dan pemilih muda (generasi milenial/generasi Y) yang berusia 17-35 sekitar 44,7% (BPS DKI Jakarta 2016).

(2)

memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap partai. Generasi ini, menurut Harmadi (2016) besar dan tumbuh di tengah derasnya arus teknologi informasi, cenderung memiliki perilaku yang relatif mirip, ermasuk soal pilihan dalam berpolitik dan berdemokrasi, sehingga sering disebut sebagai connected kids. Padahal, pandangan umum generasi milenial terhadap politik, seperti dikemukakan oleh Tapscott (2013) adalah sikap antipatik, serta pesimis bahwa pesta demokrasi (pemilu) tidak akan melahirkan perubahan.

Untuk menyiasati pesimisme tersebut, banyak generasi mudah yang bergabung dengan gerakan kerelawanan sebagai bagian untuk menghadirkan politik dengan wajah baru. Tapscott (2013) menyatakan bahwa pandangan generasi internet adalah kumpulan anak manja, pemalas, mementingkan diri sendiri ternyata salah besar. Justru generasi milenial memiliki kepedulian untuk bermasyarakat dengan terjun menjadi relawan, mengumpulkan uang, dan bekerjasama dengan orang lain untuk memerangi kemiskinan, pencemaran penyakit, dan perkara-perkara besar (Tapscott 2013).

Pada Pilkada Jakarta 2017 terlihat jelas bahwa mesin politik kandidat tidak lagi didominasi partai politik, tetapi oleh gerakan kerelawanan. Pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat misalnya, mengandalkan relawan yang tergabung dalam “Teman Ahok” untuk meraik suara. Handayani (2016) menyebut bahwa sebagia besar sebagian besar relawan “Teman Ahok” datang dari kalangan mahasiswa, dengan usia rata-rata 19-24 tahun. Dengan kata lain, pemilih berusia belia ini mengorganisasi diri dan memimpin dukungan politik untuk calon kepala daerah pilihan mereka (Handayani 2016). Pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno juga demikian. Meski relawan pasangan ini tidak semasif relawan Basuki-Djarot yang terkoordinasi, namun tetap bergerak secara sporadis dan mengandalkan generasi mudah. Hal yang sama juga terlihat pada pasangan Agus-Sylvi.

(3)

kepala daerah) sebagai arena kontestasi yang jujur dan adil. Karena itulah, muncul gerakan kerelawanan untuk mengawal pemungutan suara, yang juga dimotori oleh generasi milenial, misalnya gerakan KawalPilkada.

Menurut Suryahudaya (2017), gerakan partisipasi politik yang aktif dalam bentuk relawan adalah sebuah langkah maju dari demokrasi. Para relawan justru bisa keluar dari berbagai kepentingan dan bias elite untuk kemudian secara personal dan komunal berpartisipasi dalam politik. Gerakan relawan yang independen sendiri juga memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan kekuatan oligarkis. Dengan demikian, gerakan relawan adalah cara untuk mengimbangi kepentingan politik elite dalam memilih calon pemimpin di daerah maupun nasional. Gerakan relawan dengan sendirinya akan menjadi anjing penjaga (watch dog) bagi pemimpin yang mereka pilih dan itu semakin menguatkan relasi representasi politik antara yang terpilih dengan konstituennya (Suryahudaya 2017).

Hal yang unik dalam gerakan kerelawanan generasi milenial adalah bentuk perjuangannya yang tidak lagi konvensional. Hal ini sejalan dengan perspektif komunikasi politik, yakni penggunaan media sebagai saluran komunikasi. Tapscott (2013) mengemukakan bahwa sebagai generasi yang besar pada era digital, generasi milenial akan menyapu habis model politik konvensional. Generasi milenial justru ingin dilibatkan secara langsung, berinteraksi dengan politisi dan masyarakat, menyumbangkan gagasan, melahirkan prakarsa katalisator tidak hanya selama pemilihan, tetapi juga pemerintahan.

Perjumpaan generasi milenial dengan dunia digital menghadirkan pola komunikasi yang menyingkirkan cara-cara tradisional. Maka, media sosial pun menjadi pilihan para relawan untuk menarik sebanyak mungkin pemilih. Seperti dikemukakan oleh Budiyono (2016), dalam demokrasi di era digital ini, khususnya pada konteks kampanye politik, media sosial telah berperan menjadi alat komunikasi yang bisa menghubungkan para pelaku politik dengan konstituennya, antara komunikator dan komunikan secara jarak jauh dan bersifat masif.

(4)

dan menganalisis alasan gerakan kerelawanan menjadi pilihan generasi milenial dalam Pilkada Jakarta 2017; (2) untuk Menjelaskan dan menganalisis partisipasi generasi milenial dalam gerakan kerelawanan.

Kajian Teoretik

Pembagian Generasi

Adalah William Strauss dan Neil Howe yang memperkenalkan pembagian generasi berdasarkan karakteristik masyarakat Amerika. Metcalf (2016) menjelaskan, dalam buku Generations (1990) dan

he Fourth Turning (1997), Strauss dan Howe berupaya meyakinkan masyarakat bahwa terjadi perulangan generasi dalam siklus 80 tahun. Setelah empat generasi berbeda, maka generasi kelima akan muncul dengan ciri yang serupa generasi pertama, generasi keenam dengan gererasi kedua, dan seterusnya. Generasi yang muncul pada keempat variasi, memiliki sekuens yang sama: artis (adaptif), nabi (idealis), pengembara (reaktif) dan yang paling hebat, pahlawan (civic).

Strauss dan Howe, sebagaimana dikutip Metcalf (2016) mendeiniskan generasi sebagai agregat dari semua orang yang lahir selama rentang waktu sekitar dua puluh tahun atau sekitar satu rentang fase kehidupan: anak-anak, dewasa muda, usia pertengahan dan usia tua. Masing-masing generasi mempunyai kecenderungan karakter, kepercayaan, nilai dan tingkah laku yang berbeda, dibentuk dan dipengaruhi oleh periode sejarah tertentu dimana mereka tumbuh dan menjadi dewasa. Umumnya peristiwa besar serta tren sosial-kebudayaan mengubah secara fundamental zeitgeist

generasi itu tumbuh dibesarkan.

(5)

generasi millenial, karena generasi ini mencapai umur produktif di dua dasawarsa awal abad ke-21.

Tapscott (2013) membagi generasi berdasarkan parameter demograis, dan mempopulerkan istilah generasi X, Y, dan Z. Karena tulisan ini fokus pada generasi Y (milenial), maka yang akan dibahas lebih banyak adalah generasi tersebut. Menurut Tapscott (2013), ciri khas generasi milenial adalah mudah berinteraksi dengan beragam media hanya melalui alat berlayar ukuran dua inci. Mereka menggunakan ponsel untuk beragam aktivitas. Untuk berbicara, mengecek dan membalas surat elektronik. Mereka menggunakan ponsel untuk kirim pesan, berselancar di dunia maya, bermain game, mencari arah atau jalan, mengambil gambar dan membuat video. Mereka ber-Facebook setiap saat, termasuk saat bekerja atau belajar, atau memberitahukan status mereka melalui Twitter kapan pun mereka mau.

Di samping Strauss dan Howe serta Tapscott, terdapat ahli lain yang juga mengelompokkan pembagian generasi, misalnya Zemke et al, Lancaster & Stillman, Martin & Tulgan, serta Oblinger & Oblinger (Putra 2016). Berikut disajikan pengelompokkannya:

(6)

Lebih lanjut menurut Tapscott (2013), meski sama-sama memanfaatkan internet dan ponsel, ada perbedaan norma hidup yang nyata antara generasi milenial dan generasi sebelumnya. Harus diakui bahwa ketergantungan generasi X terhadap ponsel juga besar. Di sebagian besar wilayah, misalnya, interaksi masyarakat dengan media sosial juga cukup besar. Hanya saja, generasi milenial lah yang paling melek teknologi dan adaptif dengan segala hal yang berbau informasi.

Generasi milenial di Indonesia adalah pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi. Dalam setiap aktivitas sosial mereka di hampir seluruh provinsi, mereka sangat terbuka dan responsif dengan perkembangan politik dan ekonomi daerahnya. Hal ini tentu berakibat pada sikap mereka yang juga sangat aktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya. Mampu menghadapi beragam rintangan dan melihat peluang yang dapat diraih. Oleh karena itulah Tapscott (2013) dalam teorinya mengemukakan bahwa kesadaran modernitas generasi milenial atas nasionalisme tidak lagi bersifat historis melainkan sangat fungsional. Mereka hadir melakukan ekspansi untuk menggantikan generasi sebelumnya. Perubahan dan inovasi selalu dimunculkan untuk membuat sejarah baru.

Perbedaan mendasar dan paling mencolok antara generasi milenial dan generasi sebelumnya adalah mereka tumbuh dalam lingkungan saintiik dan serba digital. Melalui gaya hidup yang demikian ini perubahan mendasar pun terjadi di mana hidup menjadi lebih praktis, eisien, dan inovatif. Akhirnya muncullah wajah baru anak muda Indonesia menjadi generasi digital, eisien, terbuka, optimis, inovatif, kritis, dan egaliter.

(7)

biasa dan cepat karena kebanyakan lebih melek teknologi. Keenam, tidak menyukai jadwal yang detail. Ketujuh, anytime-anywhere, kurang memperdulikan aturan baku. Bagi mereka, bekerja dari cafe atau toko merupakan hal lumrah. Hanya saja, minusnya adalah generasi milenial dianggap kurang baik dalam menjalin komunikasi dengan sesama.

Kerelawanan

Terdapat tiga kata yang saling beririsan terkait dengan kerelawanan, yakni sukarela, altruisme (mementingkan orang lain), dan kerelawanaan itu sendiri. Batson (Leventhal 2009) mendeinisikan altruisme sebagai, “a motivational state with the ultimate goal of increasing another’s welfare.” Sementara kerelawanan menurut Leventhal (2009) terfokus pada aspek membantu orang lain tanpa maksud untuk memperoleh balasan materi, tetapi sesuai keingian dari yang membantu itu. Pilihan (choice) dan keinginan (will) merupakan fondasi dasar kerelawanan.

Filkenstein (2009) menyatakan bahwa kerelawanan adalah sebuah bentuk kegiatan kesukarelaan, yang sedang berlangsung, terencana, perilaku menolong yang meningkatkan kesejahteraan orang lain, tidak menawarkan kompensasi keuangan, dan biasanya terjadi dalam konteks keorganisasian. Wilson dan Musick (dalam Forbes dan Zampell 2014) mengembangkan teori terpadu mengenai kerelawanan yang bersandarkan pada premis bahwa kerja sukarela adalah: (a) aktivitas produktif; (b) melibatkan tindakan bersama; dan (c) dipandu secara etik. Ketiga hal tersebut mensyaratkan modal manusia, modal sosial, dan modal budaya. Modal manusia membuat kerja sukarela menjadi aktivitas yang produktif, modal sosial membuat kerja sukarela menyediakan jaringan sosial yang dibutuhkan untuk tindakan kolektif, dan modal budaya merupakan indicator insentif moral untuk kerelawanan.

(8)

Kerelawanan mengacu pada pilihan bebas dan bdeliberatif untuk membantu aktivitas yang memerlukan waktu lama, dan dilakukan tanpa mengharap imbalan atau kompenasisi lain, serta biasanya melalui organisasi formal (Snyder dan Omoto 2008). Lebih lanjut menurut Snyder dan Omoto (2008), terdapat lima ciri khas dalam mengkonseptualisasikan kerelawanan. Pertama, tindakan relawan harus bersifat sukarela, dilakukan atas dasar kebebasan tanpa ikatan kewajiban atau paksaan. Relawan dapat mengembangkan hubungan pribadi dengan sukarelawan lain, dengan anggota lembaga, atau dengan orang-orang yang menerima bantuan mereka. Kedua, tindakan sukarela untuk memberikan layanan bagi orang lain atau untuk tujuan lebih lanjut melibatkan sejumlah pertimbangan atau pengambilan keputusan. Ketiga, kegiatan sukarela harus dilakukan selama periode waktu tertentu, dengan minat khusus untuk membantu dengan dampak kegiatan yang meluas. Keempat, keputusan untuk menjadi sukarelawan didasarkan sepenuhnya pada tujuan pribadi seseorang tanpa harapan penghargaan atau hukuman. Kelima, relawan melibatkan kegiatan melayani orang atau sebab yang menginginkan bantuan. Dengan kata lain, layanan yang diberikan oleh sukarelawan tidak boleh dipaksakan, tapi harus dengan sukarela dicari atau diterima oleh penerima. Keenam, kesukarelaan itu dilakukan atas nama orang atau sebab, dan biasanya melalui instansi atau organisasi.

Komunikasi Politik

Denton dan Woodward (dalam McNair 2011) mendeinsikan komunikasi politik sebagai,”diskusi mengenai alokasi sumber daya publik, otoritas resmi (yang memberi kuasa untuk membuat hukum, peraturan, dan pelaksanaan pemerintah/eksekutif) dan sanksi resmi (penghargaan dan hukuman apa yang diberikan oleh negara).” Mengacu pada deinisi Denton dan Woodward tersebut, McNair (2011) membuat deinisi komunikasi politik secara sederhana sebagai komunikasi terarah tentang politik, yang meliputi:

1. Semua bentuk komunikasi yang dilakukan oleh politisi dan aktor politik lainnya untuk memperoleh tujuan khusus;

2. Komunikasi yang ditujukan kepada aktor-aktor tersebut oleh yang bukan politisi, misalnya para pemilih atau kolumnis surat kabar; 3. Komunikasi mengenai aktor-aktor tersebut dan aktivitasnya seperti

(9)

Menurut Muis (dalam Ariin 2003), istilah komunikasi politik menunjuk pada pesan sebagai objek formalnya sehingga titik berat konsepnya terletak pada komunikasi dan bukan politik. Dengan demikian, komunikasi politik mengandung informasi atau pesan tentang politik. Susanto (dalam Ariin 2003) mengartikan komunikasi politik sebagai komunikasi yang diarahkan pada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa sehingga masalah yang dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi politik dapat mengikat semua warganya melalui suatu sanksi yang ditentukan bersama oleh lembaga-lembaga politik. Dengan demikin, melalui kegiatan komunikasi politik, terjadi pengaitan masyarakat sosial dengan lingkup negara sehingga komunikasi politik merupakan sarana untuk pendidikan politik/kesadaran warga dalam hubungan kenegaraan.

Tindakan komunikasi politik dapat dilakukan dalam beragam konteks, yaitu komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa. Komunikasi politik merupakan proses dimana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian ke bagian lainnya, diantara sistem-sistem sosial dengan sistem politik serta merupakan proses yang berkesinambungan, melibatkan pertukaran informasi di antara individu-individu yang satu dengan kelompoknya, pada semua tingkatanmasyarakat (Rush dan Althof 2003).

Satu hal yang pasti, dalam komunikasi politik melibatkan aktor politik. Menurut Wahid (2012) aktor tersebut adalah komunikator politik, yakni semua orang yang berkomunikasi tentang politik. Aktor politik tersebut dapat berupa politisi, professional, dan aktivis. Dalam tulisan ini, aktor politik adalah aktivis yang menginisiasi atau bergiat langsung dengan gerakan kerelawanan.

Metode

(10)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Gulo (2002) menjelaskan bahwa metode deskriptif didasarkan pada pertanyaan dasar ”bagaimana.” Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, berupa literatur dan penelusuran dokumen.

Hasil dan Pembahasan

Gambaran Gerakan Kerelawanan pada Pilkada Jakarta 2017

Menurut Suaedy (2014) gerakan kerelawanan dalam kontestasi Pilkada Jakarta dapat dilacak sejak Pilkada 2012, terutama relawan yang mendukung Jokowi-Ahok. Ciri khas gerakan kerelawanan saat itu adalah partisan. Suaedy (2014) mengemukakan bahwa berkebalikan dengan gerakan sosial sebelumnya, gerakan kerelawanan yang mendukung Jokowi-Ahok tidak hanya berperan untuk menggantikan pemimpin petahana (incumbent), tetapi juga berjuang secara berkelanjutan, yakni dengan berkecimpung secara langsung dalam pemerintahan serta dengan menjadi pengawas (watch dog).

Gerakan kerelawanan yang berakar pada Pilkada Jakarta 2012 berlanjut hingga ke Pilkada Jakarta 2017. Terdapat empat gerakan kerelawan yang menonjol selama Pilkada Jakarta 2017. Keempatnya adalah relawan pendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat yang tergabung dalam Teman Ahok, relawan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang tergabung dalam Relawan Anies Sandi Jakarta, relawan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylvia Murni yang tergabung dalam Gerakan Relawan Agus-Sylvi (Gerasi), dan gerakan untuk mengawal proses pilkada agar berlangsung jujur dan bersih, yakni KawalPilkada.

1. Teman Ahok

Teman Ahok adalah fenomena baru dalam politik Indonesia. Pemilih berusia belia mengorganisasi diri dan memimpin dukungan politik untuk calon kepala daerah pilihan mereka. Teman Ahok didirikan oleh lima orang generasi milenial, yakni Amalia Ayuningtyas, Richard Haris, Singgih Widiyastono, Aditya Yogi Prabowo, dan Muhammad Fathony.

(11)

Purnama dalam visinya mewujudkan Jakarta baru yang bersih, maju, dan manusiawi.

Selama Pilkada Jakarta 2017, Teman Ahok melakukan kampanye dengan metode door to door atau yang dinamakan Kanvasing baik di putaran pertama maupun putaran kedua. Melalui Kanvasing, Teman Ahok tidak hanya mengkampanyekan program Ahok-Djarot secara personal kepada warga tetapi juga mendata masyarakat yang belum merasakan manfaat program pemprov DKI yang sedang berjalan seperti KJP (Kartu Jakarta Pintar) dan KIS (Kartu Indonesia Sehat). Selain itu, selama kampanye Pilkada 2017, sebagai bagian untuk melawan ujaran kebencian dan sentiment SARA yang mengancam proses berdemokrasi, Teman Ahok menggagas event Kreatif  di berbagai titik di seluruh Jakarta. Dari mulai senam pagi bersama, Lomba memancing, lomba memasak, lomba olahraga, penampilan kesenian hingga acara Doa bersama antar warga (https://www.temanahok.com/artikel/272-2-tahun-teman-ahok-capaian-dan-harapan?l=id).

Sebagai gerakan kerelawanan yang didirikan oleh generasi milenial, Teman Ahok juga melengkapi kampanyenya dengan media sosial. Tercatat, Teman Ahok hadir melalui situs www.temanahok.com, Facebook (https://www.facebook.com/temanahok), kanal Youtube (https://www. youtube.com/channel/UCtpS6GcD0p6gJ4T9gHu1nJQ), Twitter (https:// twitter.com/temanahok), Instagram (https://www.instagram.com/ temanahokoicial/), dan Line (http://line.me/@temanahok).

2. Relawan Anies Sandi Jakarta

Meski ketua gerakan relawan Anies Sandi, yakni Boy Sadikin, bukanlah generasi milenial, namun di beberapa unsur gerakan relawan, yang menjadi ujung tombak adalah generasi milenial. Misalnya gerakan Komunitas Mahasiswa Salam Bersama yang dipimpin oleh Izzudin Al Farras. Beberapa gerakan relawan lainnya yang terailiasi dengan komika Pandjoi Pragiwaksono juga didominasi generasi milenial.

(12)

Sebagai amunisi tambahan selama kampanye, relawan Anies Sandi juga dibekali dengan media sosial, yakni situs http://www. jakartamajubersama.com, Facebook: https://www.facebook.com/ pg/RelawanAniesSandiJakarta/, dan Twitter: https://twitter.com/ JktMajuBersama.

3. Gerakan Relawan Agus-Sylvi (Gerasi)

Gerakan relawan pendukung Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni (Gerasi) mendapat dukungan penuh dari Partai Demokrat. Relawan lainnya bergabung dalam Tim Relawan Agus Sylvi (TRAS). Gerakan relawan ini tidak banyak berkiprah dalam kontestasi Pilkada Jakarta 2017, karena pasangan Agus-Sylvi gagal melaju ke putaran kedua. Meski begitu, yang perlu dicatat adalah semangat gerakan relawan ini, yang juga dikomandani oleh generasi milenial, misalnya ketua tim relawan, Rico Rustombi.

4. Gerakan Relawan Kawal Pilkada

Kawal Pilkada adalah sebuah tim relawan independen yang berniat untuk mengawal suara rakyat di tiap Pilkada dengan menyediakan akses publik untuk memonitor penghitungan suara secara live melalui situs www. kawalpilkada.id. Dalam Pilkada Jakarta 2017, Kawal Pilkada mengajak warga DKI Jakarta untuk menjadi relawan penjaga suara masyarakat

Dasar pendirian gerakan relawan Kawal Pilkada adalah pelaksanaan Pilkada bersih dan transparan, di samping hasil hitung cepat (quick count). Melalui aplikasi mobile, Kawal Pilkada mengajak seluruh warga DKI Jakarta untuk berpartisipasi dalam merealisasikan penghitungan suara cepat secara riil (real quick count) tercepat dalam sejarah pemilihan umum di Indonesia.

Inisiator Kawal Pilkada adalah para generasi milenial yang tergerak untuk membuat perubahan dengan menjadikan Pilkada sebagai bagian dari proses berdemokrasi yang jujur, adil, dan transparan. Para inisiator tersebut antara lain Ainun Najib dan Khairul Anshar.

Alasan Gerakan Kerelawanan Menjadi Pilihan Generasi Milenial dalam Pilkada Jakarta 2017

(13)

dengan mendukung orang baik yang memiliki kompetensi dan track

record baik, maka akan mengubah wajah perpolitikaan.

Para relawan yang bergabung dalam gerakan kerelawanan tersebut bergerak dengan inisiatif mereka sendiri dan telah tersebar di berbagai daerah di Jakarta. Mereka tidak mendapatkan kompensasi uang ataupun imbalan, justru tak jarang mereka harus mengorbankan dan ikut menyumbang baik secara materil maupun non materil agar tujuan dari gerakan relawan dapat tercapai. Hal ini mengindikasikan adanya altruisme yang ditunjukkan dengan kerelaan setiap relawan untuk menyumbangkan kemampuan yang dimilikinya dan memprioritaskan kepentingan gerakan kerelawanan dibandingkan kepentingan dirinya.

Dalam sebuah rekaman Youtube, Amalia Ayuningtyas, penggagas Teman Ahok mengatakan bahwa pilihan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) untuk maju menjadi gubernur Jakarta periode kedua melalui jalur independen adalah hal yang realistis. Karena itulah, gerakan yang digagasnya mendukung pilihan Ahok tersebut.

Sebagai generasi milenial, Amalia dan rekan-rekannya menjadikan dukungan mereka kepada Ahok sebagai hal yang menyenangkan. Hal seserius pilihan maju lewat partai atau independen dibuat seperti pertaruhan kecil yang disertai tawa-tawa riang.

Relawan Teman Ahok lainnya, Singgih, mengemukakan bahwa Teman Ahok merupakan sekumpulan anak muda yang bertekad mengusung dan memenangkan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta periode kedua. Para pendiri Teman Ahok tersebut telah saling mengenal sejak tahun 2012 saat menjadi relawan Jakarta Baru (Riana 2016)

(14)

tiap-tiap pasangan calon dengan sumber hasil rekapitulasi suara dari setiap-tiap tempat pemungutan suara yang diunggah Komisi Pemilihan Umum ke situsnya (dalam Kompas, 15 Desember 2014). Ketika berlangsung pilkada serentak, ia un mendirikan Kawal Pilkada, dengan tujuan sama, yaitu menghasilkan proses demorasi yang jujru, adil, dan transparan.

Jaringan yang dibentuk oleh generasi milenial sehingga menjadi sebuah gerakan kerelawanan pada dasarnya menguatkan tesis yang dikemukakan oleh Howe dan Strauss (2007). Menurut Howe dan Strauss, generasi milenial akan menggunakan kemampuan digitalnya untuk membangun dan menjaga jaringan pertemanan.

Lebih lanjut menurut Howe dan Strauss (2007), gelombang pertama generasi milenial memang sangat tergantung pada komunitas daring (online) untuk membantu hidup mereka setelah lulus sekolah. Sejalan dengan bertambahnya usia dan memasuki usia menjadi pemilih, generasi milenial akan menjadi kekuatan baru politik. Mereka melihat politik sebagai alat untuk mengubah tujuan sekolah menjadi kemajuan masyarakat. Pemilih muda akan mengacaukan para pakar mengenai kontestasi dalam pemilihan. Mereka akan mendukung kandidat yang disukai -terutama yang bisa menerjemahkan tekad spiritual menjadi otoritas publik Mereka akan menolak apa yang dianggap sebagai negativisme, moralisme, dan keegoisan politik nasional yang mereka saksikan ketika masih anak-anak. Ketika mereka bertemu dengan pemimpin yang berpegang pada cara lama, mereka akan bekerja untuk mengalahkan mereka.

Dalam perspektif komunikasi politik, apa yang dilakukan oleh generasi milenial dengan menggagas gerakan kerelawanan merupakan indikasi kesiapan mereka sebagai aktor politik. Wujud aktor politik tersebut adalah sebagai aktivis, yang menjembatani kepentingan masyarakat dengan kandidat yang mereka usung. Sebagai aktivis, model kampanye generasi milenial pun berbada. Mereka tidak lagi menggunakan cara-cara konvesional, tetapi seperti apa yang dikemukakan oleh Howe dan Strauss (2007), menggunakan jaringan komunikasi melalui dunia digital untuk merebut konstiituen sebanyak-banyaknya.

Partisipasi Generasi Milenial dalam Gerakan Kerelawanan

(15)

Khususnya di media sosial atau dikenal sebagai gerakan online activism

adalah cara generasi millenial menggabungkan keadaan sosial dengan kehidupan sehari-hari.

Selain itu,  generasi milenial juga kerap memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspirasi masyarakat  pada  umumnya. Dalam makna positif aspirasi yang berbeda ini disebut dengan semangat pembaharu yang kreatif dan inovatif. Generasi milenial seharusnya berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Peran aktif itu dapat diwujudkan dengan membangkitkan sikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan dari sutu pemerintahan, juga dapat berperan aktif sebagai agen-agen perubahan dengan cara meraih pendidikan politik dan demokratisasi agar menjadi agen yang lebih inovatif membawa perubahan yang lebih besar dan memberi manfaat yang banyak bagi masyarakat dan negara.

Dari beberapa gerakan kerelawanan yang muncul selama Pilkada Jakarta 2017, terlihat partisipasi generasi milenial yang cukup aktif. Teman Ahok misalnya, nmyaris semua elemennya diisi oleh generasi milenial. Begitu juga dengan gerakan kerelawan yang lain.

Fenomena gerakan kerelawanan tersebut adalah bentuk partisipasi pemuda terjun dalam kancah politik nasional. Gerakan para relawan relawan yang mendukung calon kepala daerah provinsi DKI Jakarta periode 2017-2022, adalah bentuk kesukarelaan politik dalam demokrasi. Partisipasi generasi milenial tersebut tentunya mempunyai dasar yang kuat, salah satunya adalah keinginan kuat dari para relawan untuk memajukan kepala daerah di Pilkada Jakarta 2017.

Bagi relawan yang bergabung di Teman Ahok, kepuasan yang mereka alami dari kinerja dari kepala daerah mendorong mereka untuk melakukan gerakan sukarela untuk mendukung kembali Ahok dengan tujuan agar dapat melanjutkan pembangunan di daerah tersebut pada periode selanjutnya. Begitu juga dengan gerakan relawan kandidat yang lain. Mereka ingin melihat perubahan terjadi di Jakarta dalam beberapa isu, sehingga mendukung kandidat yang diusungnya.

(16)

Generasi milenial adalah adalah agen-agen perubahan suatu negara, dan dengan partisipasi mereka dalam kancah politik diharapkan akan membawa perubahan yang terdapat di dalam demokrasi. Sebaliknya, jika generasi milenial apatis dan masa bodoh terhadap kancah politik dan kebijakan-kebijakan pemerintah, akan membuat demokrasi jalan di tempat.. Oleh sebab itu perlunya partisipasi para pemuda untuk menjadikan negara Indonesia menjadi negara yang maju.

Partisipasi generasi milenial dalam gerakan kerelawan pada dasarnya sejalan dengan pandangan Sandford dan Haworth (2002) yang menyatakan bahwa di tengah meningkatnya apati terhadap iklim politik, memaksa generasi milenial untuk berputar haluan menjauh dari politik. Namun, generasi milenial sekarang berpandangan bahwa sikap tersebut harus diubah. Maka, berpartisipasilah mereka ke dalam politik, salah satunya melalui gerakan kerelawanan atau menjadi aktivis dengan fokus pada upaya memajukan kehidupan masyarakat. Hal yang ingin disampaikan oleh Sandforth dan Haworth adalah, generasi milenial, melalui partisipasinya dalam politik, tidak hanya menginginkan perubahan, namun juga berharap menjadi agen perubahan dengan cara mereka sendiri.

Kesimpulan

(17)

Referensi

Ali, Hasanudin. 2016. 3M, Kunci Kemenangan dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, tersedia pada: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme- warga/wacana/16/10/05/oekh2u408-3m-kunci-kemenangan-dalam-pilgub-dki-jakarta-2017

Ariin, Anwar. 2003. Komunikasi Politik:Paradigma, Teori, Aplikasi, Strategi dan Komunikasi Politik di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

BPS DKI Jakarta. 2016. Proil Penduduk DKI Jakarta Hasil SUPAS 2015, Jakarta: BPS DKI Jakarta

Budiyono. 2016. Media Sosial dan Komunikasi Politik: Media Sosial sebagai Komunikasi Politik Menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017. Jurnal Komunikasi UII, Volume 11, Nomor 1, Oktober 2016

Creswell, John W., 2016. Research Design:Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran, Edisi 4. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Filkelstein, Marcia A. 2009. Intrinsic vs. extrinsic motivational orientations

and the volunteer process. Personality and Individual Diferences, Volume 46, Issues 5–6, April 2009

Forbes, Kevin F and Ernest M. Zampelli. 2014. Volunteerism: he Inluences

of Social, Religious, and Human Capital.

Nonproit and Voluntary Sector Quarterly 2014, Vol. 43(2), DOI: 10.1177/0899764012458542

Ginanjar, Ging. 2017. Relawan pilkada cuma fenomena kota besar? Bisakah menekan politik uang? Tersedia pada http://www.bbc.com/ indonesia/indonesia-38966195

Gulo,W. 2002. Metodologi Penelitian, Jakarta: Penerbit PT. Grasindo

Handayani. Maulinda Sri. 2016. Nasib DKI-1 di Tangan Generasi Milenial, tersedia pada https://tirto.id/nasib-dki-1-di-tangan-generasi-milenial-zeS

Harmadi, Sonny Harry B. 2016. Demograi Pemilih dalam Pilkada DKI Jakarta, tersedia pada http://news.metrotvnews.com/ read/2016/03/28/504756/demografi-pemilih-dalam-pilkada-dki-jakarta

Howe, Neil and William Strauss. 2007. he Next 20 Years How Customer and Workforce Attitudes Will Evolve. Harvard Business Review: July– August 2007, p:1-13

(18)

McNair, Brian. 2011. An Introduction to Political Communication, 5th Ed.

New York: Routledge

Metcalf, Allan. 2016. From Skedaddle to Selfe: Words of Generations,

Oxford:Oxford University Press

Omoto, Allen M. and Mark Snyder. 2002. Considerations of Community: he Context and Process of Volunteerism. American Behavioral Scientist, Vol. 45 No. 5, January 2002

Putra, Yanuar Surya. 2016. heoritical Review : Teori Perbedaan Generasi.

Among Makarti Vol.9 No.18, Desember 2016

Riana Friski. 2016. Siapa Saja Pendiri Teman Ahok? Inilah Proil Mereka, tersedia pada https://m.tempo.co/read/news/2016/03/15/231753591/ siapa-saja-pendiri-teman-ahok-inilah-proil-mereka

Rush, M dan P Althof. 2013. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta : PT RajaGraindo Persada

Sahri, Mardhiyyah dkk. 2013. Empowering Youth Volunteerism: he Importance and Global Motivating Factors. Journal of Educational and Social Research, Vol. 3 No. 7 October 2013

Sandfort, Melissa H & Jennifer G Haworth. 2002. Whassup? A Glimpse Into the Attitudes and Beliefs of the Millennial Generation, Journal of College and Character, 3:3, , DOI: 10.2202/1940-1639.1314

Snyder, Mark & Allen M. Omoto. 2008. Volunteerism: Social Issues Perspectives and Social Policy Implications. Social Issues and Policy Review, Vol. 2, No. 1, 2008

Suaedy, Ahmad. 2014. he Role of Volunteers and Political Participation in the 2012 Jakarta Gubernatorial Election, Journal of Current Southeast Asian Afairs, 33, 1, 111–138.

Suryahudaya, Edbert Gani. 2017. Gerakan Relawan itu Rasional, tersedia pada: https://geotimes.co.id/gerakan-relawan-itu-rasional-tanggapan-untuk-hurriyah

Tingkat Partisipasi Pilkada Jakarta, tersedia pada: https://pilkada2017.kpu. go.id/hasil/t1/dki_jakarta

Tapscott, Don. 2013. Grown Up Digital: Yang Muda yang Mengubah Dunia

(Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)

Wajah Baru Gerakan Kerelawanan Rakyat, Kompas, 15 Desember 2014 Wahid, Umaimah. 2012. Komunikasi Politik: Perkembangan Teori dan

Gambar

Tabel 1Pengelompokan Generasi

Referensi

Dokumen terkait