• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI MORFOMETRIK KUDA PACU DI INDONESIA SECARA CITRA DIGITAL RETNO KUSUMA SURYANTAMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IDENTIFIKASI MORFOMETRIK KUDA PACU DI INDONESIA SECARA CITRA DIGITAL RETNO KUSUMA SURYANTAMI"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI MORFOMETRIK KUDA PACU

DI INDONESIA SECARA CITRA DIGITAL

RETNO KUSUMA SURYANTAMI

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Identifikasi Morfometrik Kuda Pacu di Indonesia secara Citra Digital adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2016

Retno Kusuma Suryantami NIM D14120046

(4)
(5)

ABSTRAK

RETNO KUSUMA SURYANTAMI. Identifikasi Morfometrik Kuda Pacu di Indonesia secara Citra Digital. Dibimbing oleh RUDY PRIYANTO dan AMROZI Penelitian ini memberikan informasi mengenai perbandingan metode pengukuran citra digital dan manual pada pengukuran tinggi 19 ekor kuda dengan tingkat keakuratan yang dihasilkan. serta mengidentifikasi ukuran tubuh kuda pacu di Indonesia dilakukan pada kuda G1, G3, G4, KPI, dan THB pada selang umur 3-10 tahun dengan total kuda 44 ekor. Metode pengukuran secara citra digital tidak memberikan perbedaan nyata dengan pengukuran manual. Tingkat keakuratan pengukuran digital sebesar 98.34% dengan selang maksimal 1.27 cm. Keseluruhan parameter dianalisis dengan perangkat lunak ImageJ. Data perbandingan pengukuran manual dan digital dianalisis secara nonparametrik (uji Wilcoxon) dan ukuran tubuh diuji menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 9 peubah yakni panjang leher, scapulla, metacarpal, panjang badan, tinggi badan, tinggi pinggul, femur, tibia-fibulla, jarak fetlock-coronaria band memiliki perbedaan nyata antara ketiga kelompok kuda. Sementara 4 peubah lainnya yaitu humerus, radius-ulna, metatarsal, dan lebar dada tidak memiliki perbedaan antara jenis kuda yang diamati. Data rataan dari yang terkecil hingga terbesar antara 3 kelompok kuda adalah kelompok pertama kuda G1, kelompok kedua yang terdiri dari G3, G4, dan KPI, serta kelompok ketiga adalah kuda Thoroughbred.

Kata kunci: kuda G, KPI, morfometrik, pengukuran citra digital, Thoroughbred

ABSTRACT

RETNO KUSUMA SURYANTAMI. Identification of Morphometric Indonesia Race Horse with Digital Image Method. Supervised by RUDY PRIYANTO and AMROZI

This study provides information of accuracy on height measurement horses by using digital image and manual. In addition to identify morphometrics 44 horses (3-10 years) in the digital image of the racehorse in Indonesia (G1, G3, G4, KPI) and Thoroughbred which is used as a comparison. Method of indirect measurement using digital imaging did not give a significant difference with manual measurement with an accuracy of 98.34% with a maximum interval of 1.27 cm. Overall parameters are measured by digital imaging and analyzed with the ImageJ software. Data comparison of manual and digital measurements was tested using Wilcoxon test and body size were tested using a completely randomized design. The results showed that the nine variables which are the length of the neck, scapulla, metacarpal, length of the body, height, height of the hip, femur, tibia-fibulla, distance of fetlock-coronary band had significant differences (P<0.05) among the three groups of horses. While four other variables, namely the humerus, radius-ulna, metatarsals, and the width of the chest do not have a distinctive difference between types of horses observed. The data average

(6)

from the smallest to the largest among the three groups of horses are group 1 G1, group 2 including G3, G4, and KPIs, and group 3 Thoroughbred.

Key words: G horses, KPI, measuring digital image, morphometrics, Thoroughbred

(7)

IDENTIFIKASI MORFOMETRIK KUDA PACU DI

INDONESIA SECARA CITRA DIGITAL

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan

pada

Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

RETNO KUSUMA SURYANTAMI

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(8)
(9)

Judul Skripsi : Identifikasi Morfometrik Kuda Pacu di Indonesia secara Citra Digital

Nama : Retno Kusuma Suryantami NIM : D14120046 Disetujui oleh Dr Ir Rudy Priyanto Pembimbing I Drh Amrozi, PhD Pembimbing II Diketahui oleh

Dr Irma Isnafia Arief, SPt MSi Ketua Departemen

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Judul penelitian adalah Identifikasi Morfometrik Kuda Pacu di Indonesia secara Citra Digital.

Penyusunan skripsi ini dilakukan untuk mengidentifikasi ukuran tubuh kuda pacu di Indonesia dengan metode citra digital yang diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi pemuliabiakan ternak kuda pacu di Indonesia kedepannya.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Rudy Priyanto dan Drh Amrozi, PhD selaku pembimbing skripsi, atas waktu, saran, serta bimbingan yang telah diberikan kepada penulis selama penelitian dan penyusunan tugas akhir. Terima kasih kepada Dr Ir Afton Atabany, Msi dan Dr Jakaria, SPt Msi selaku dosen penguji sidang atas masukan dan sarannya. Terima kasih kepada Dr Epi Taufik, SPt MVPH MSi selaku dosen pembimbing akademik atas bimbingan selama penulis menjalankan studi. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pemilik dan keseluruhan pengurus Aragon Stable, Eclipse Stable, Tombo Ati Stable, Nikita Stable, Brotoseno Stable, Pulo Mas Stable karena telah membantu selama penelitian.

Ucapan terimakasih yang tak terhingga juga penulis sampaikan kepada Ibu, Bapak, Kak Ratih, Ridwan serta seluruh keluarga besar atas doa, dan dukungan yang diberikan. Ucapan terima kasih kepada Drh Ade Octa, Drh Aulia Miftakhur Rahman, Dr Ir Kartiarso, MSc, Prof Dr Ir Pollung H Siagian, MS, serta seluruh anggota Equestrian Club IPB, teman seangkatan IPTP 49, yang selalu memberi motivasi, bantuan, dan dukungan selama berjuang menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan IPB.

Penulis menyadari penulisan karya ilmiah ini terdapat kekurangan, untuk itu penulis sangat berterima kasih atas kritik dan saran-saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya ilmiah ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2016

(11)

3

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi DAFTAR GAMBAR vi DAFTAR LAMPIRAN vi PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Tujuan Penelitian 1

Ruang Lingkup Penelitian 2

METODE 2

Waktu dan Tempat Penelitian 2

Bahan 2

Alat 3

Prosedur 3

Pengambilan Foto Digital 3

Pengumpulan Data Primer 3

Pengumpulan Data Sekunder 4

Analisis Data 5

HASIL DAN PEMBAHASAN 6

Perbandingan Tinggi Badan Kuda Pengukuran Manual dan Citra Digital 6

Performa Tubuh Kuda Pacu 8

Alat Gerak Kuda 8

Ukuran Tubuh Kuda 10

SIMPULAN DAN SARAN 11

DAFTAR PUSTAKA 12

(12)

DAFTAR TABEL

1 Jumlah kuda yang digunakan dalam penelitian 2

2 Perbandingan tinggi badan kuda pada pengukuran digital dan manual 7 3 Rataan dan simpangan baku panjang ukuran tubuh kuda pacu jenis G1,

G3, G4, KPI, dan Thoroughbred

9

DAFTAR GAMBAR

1 Model pengukuran morfometrik secara digital pada kuda 4

2 Persilangan kuda pacu Indonesia 5

DAFTAR LAMPIRAN

1 Analisis general linear model (GLM) 13 parameter 15 2 Analisis Wilcoxon test pengukuran manual dan digital 18

(13)
(14)
(15)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan kuda di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Perkembangan tersebut terlihat dari segi kuantitas maupun kualitas. Peningkatan dari segi kualitas maupun kuantitas terus dikelola oleh peternak. Salah satu contohnya pada bidang olahraga pacuan kuda. Berbagai jenis kuda lokal Indonesia diikutsertakan dalam pacuan kuda. Kuda pacu di Indonesia merupakan ternak lokal Indonesia yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Peningkatan baik dari segi kuantitas dan kualitas sejalur dengan kebijakan pemerintah yang ditetapkan. Kebijakan pemerintah tersebut mengenai pengembangan ternak lokal Indonesia yang tertera dalam Permentan No.35/Permentan/OT.140/8/2006. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menempatkan kuda pacu sebagai salah satu target utama sumber budaya lokal yang menjadi simbol kebanggaan sekaligus daya tarik pariwisata bagi masyarakat dalam dan luar negeri.

SNI tentang kuda pacu Indonesia termuat dalam SNI 01-4226-1996. Mengingat perkembangan kuda pacu di Indonesia yang cukup baik, maka diperlukan suatu standar yang baku untuk menjaga mutu kuda pacu di Indonesia. Setiap tahunnya terdapat perkembangan kuda pacu di Indonesia yang menyebabkan perubahan performa kuda pacu per generasi berikutnya. Suherman (2007) menyatakan bahwa penciri untuk ukuran tubuh seekor kuda adalah panjang badan, tinggi pundak, dan tinggi panggul. Oleh karena itu diperlukan penelitian dasar mengenai karakteristik fenotipik pada generasi kuda pacu yang terbentuk.

Metode pengukuran yang digunakan adalah metode yang mengedepankan kemudahan, kecepatan, dan menciptakan suatu kondisi nyaman antara peneliti dan kuda. Oleh karena itu pengukuran secara citra digital diterapkan pada penelitian ini. Pengukuran secara citra digital di latar belakangi untuk mempermudah dalam identifikasi morfometrik dari kuda pacu yang diketahui bertemperamen aktif. Menurut Tasdemir et al. (2011), photogrammetry (mengukur objek dari foto) merupakan teknik yang akurat dalam teknik pengukuran objek. Jika dibandingkan dengan teknik manual, photogrammetry lebih efisien dalam masalah biaya, lebih cepat, aman, serta dapat mengatasi resiko dan stres pada ternak.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dapat dijadikan informasi mengenai perbandingan metode pengukuran citra digital dan manual pada pengukuran tinggi kuda dengan tingkat keakuratan yang dihasilkan. Selain itu untuk mengidentifikasi morfometrik secara citra digital terhadap kuda pacu di Indonesia (G1, G3, G4, KPI) dan Thoroughbred yang digunakan sebagai pembanding.

(16)

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan secara langsung meliputi pengambilan ukuran tinggi badan secara manual dan pengambilan gambar kuda, sehingga dilakukan cara handling kuda yang baik dan aman. Tahapan lainnya adalah penggalian informasi tentang pelaksanaan dan syarat pacuan serta melihat langsung teknis pengadaan pacuan kuda. Pengukuran ukuran tubuh kuda dengan analisis citra digital. Analisis gambar dengan perangkat lunak ImageJ untuk menentukan ukuran tubuh kuda dan melakukan analisis data keseluruhan dengan perangkat lunak statistik. Jenis keturunan kuda yang diteliti berupa kuda generasi kesatu (G1), generasi ketiga (G3), Generasi keempat (G4), Kuda Pacu Indonesia (KPI), dan Thoroughbred (THB) dengan total 44 ekor kuda.

METODE

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini merupakan riset observasi lapang untuk menganalisis kuda pacu di Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara langsung dengan pengambilan foto kuda (G1, G3, G4, KPI, dan THB) serta wawancara langsung terhadap pengelola stable. Kegiatan penelitian keseluruhan dilaksanakan pada tanggal 28 Februari – 4 April 2016. Lokasi Penelitian untuk pengambilan data berada pada 2 stable yakni Aragon dan Pulo Mas.

Bahan

Bahan yang digunakan untuk perbandingan pengukuran manual dan citra digital adalah 19 ekor kuda peranakan Thoroughbred dengan rentang umur 2-6 tahun. Sementara bahan yang digunakan untuk pengukuran morfometrik citra digital berupa kuda generasi kesatu (G1), generasi ketiga (G3), generasi keempat (G4), Kuda Pacu Indonesia (KPI), dan Thoroughbred (THB) dengan rentang umur antara 3-10 tahun yang terdiri dari jantan dan betina. Tabel 2 menjelaskan rincian kuda yang digunakan dalam penelitian.

Tabel 1 Jumlah kuda yang digunakan dalam penelitian morfometrik citra digital

Kuda Jumlah (ekor)

Jantan Betina Total

G1 1 1 2

G3 4 4 8

G4 8 6 14

KPI 9 8 17

(17)

3

Alat

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah kamera digital dengan resolusi minimal 14 mega piksel, meteran, tripod, memori, perangkat lunak ImageJ, perangkat lunak statistik, laptop, dan alat tulis.

Prosedur Pengambilan Foto Digital

Pengukuran morfometrik dilakukan dengan menggunakan metode pencitraan digital. Metode pengukuran morfometrik secara digital dilakukan dengan pengambilan foto digital ternak kuda pada jarak kurang lebih 2 m menggunakan kamera digital resolusi 14 mega piksel. Foto-foto digital yang diambil memiliki dimensi 4 200 x 3 300 piksel.

Ternak dalam keadaan tegak lurus, meteran berdiri ditempatkan dan disejajarkan dengan tanah dengan skala 100 cm tepat didekat kuku kuda. Ternak ditempatkan pada tempat datar dan lurus, sehingga seluruh tubuh ternak dapat diambil foto digitalnya secara jelas. Poros tengah tubuh ternak berada pada poros tengah foto digital. Pengambilan foto dilakukan lebih dari sekali. Foto yang diambil dari ternak kuda tersebut kemudian diseleksi untuk dilakukan pengukuran lanjutan. Seleksi foto digital dilakukan dengan perangkat lunak pengolah foto digital yaitu ImageJ.

Pengumpulan Data Primer

Data primer yang diperoleh dengan cara pengamatan langsung dilakukan dengan penarikan garis pada foto dengan perangkat lunak ImageJ. Peubah yang diukur berdasarkan WAVA (2005) adalah :

A. Panjang leher. Diukur dari batas Axio-Atlas hingga pangkal leher bagian dorsal.

B. Panjang Os Scapulla. Diukur dari titik tertinggi tubuh hingga Tuber humerus. C. Panjang Os Humerus. Diukur dari Tuber humerus hingga di titik tengah

Tuber radius-ulna.

D. Panjang Os Radius-Ulna. Diukur dari Tuber radius-ulna hingga Os carpal. E. Panjang Os Metacarpal. Diukur dari Os carpal hingga pangkal Os Phalank. F. Panjang Os Femur. Diukur dari Tuber illium hingga Tuber femoris.

G. Panjang Os Tibia-Fibulla. Diukur dari Tuber femoris hingga Tuber calcis. H. Panjang Os Metatarsal. Diukur dari pangkal Os tarsus hingga Os phalank. I. Panjang badan. Diukur dari Tuber humerus hingga Tuber ischium.

J. Tinggi badan. Diukur tepat di belakang Os scapulla dari titik dorsal hingga tanah.

K. Lebar dada. Diukur tepat di belakang Os scapulla dari titik dorsal hingga ventral.

L. Tinggi pingul. Diukur lurus dari Os Coxae hingga tanah. M. Panjang antara Fetlock-Coronaria band.

(18)

Gambar 1 Model pengukuran morfometrik secara digital pada kuda Keterangan : A= Panjang Leher, B= Panjang Scapulla, C= Panjang

Humerus, D= Panjang Radius–Ulna, E= Panjang Metacarpal, F=

Panjang Femur, G= Panjang Tibia-Fibulla, H= Panjang Metatarsal, I= Panjang Badan, J= Tinggi Badan, K= Lebar Dada, L= Tinggi Pinggul, M= Jarak Fetlock–Coronaria Band, N= Panjang Meteran

Gambar 1 memperlihatkan prosedur pengambilan gambar kuda. Pengumpulan data primer pada parameter tinggi badan diambil dari 19 kuda sebagai sampel perbandingan pengukuran manual dan digital. Kuda yang telah diukur manual tinggi badannya dicatat dan dibandingkan dengan pengukuran digital yang telah dianalisis sebelumnya.

Pengumpulan Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari pengurus stable terkait. Data sekunder yang dibutuhkan antara lain:

1. Umur kuda (tahun); 2. Daftar prestasi kuda;

3. Data pejantan dan induknya beserta jenis keturunannya; dan 4. Jenis keturunan kuda (Gambar 2)

(19)

5

Gambar 2 Persilangan kuda pacu Indonesia (Yayasan Pamulang Equestrian Centre 2011). Tanda (*) merupakan persentase darah lokal yang terkandung dalam tubuh

Analisis Data

Perbandingan antara pengukuran digital dan manual terhadap tinggi kuda dilakukan dengan uji nonparametrik Wilcoxon. Uji non parametrik Wilcoxon dilakukan untuk mengetahui perbandingan pengukuran manual dan digital berdasarkan simpangan bakunya. Menurut Suharyadi (2004), model matematika uji nonparametrik Wilcoxon adalah sebagai berikut:

Keterangan :

N = jumlah data

T = jumlah rangking dari nilai selisih yang negatif atau positif

Foto kuda yang telah diambil sesuai prosedur terlebih dahulu diolah dengan menggunakan perangkat lunak ImageJ dan dianalisis untuk mendapatkan nilai rataan ( ), pada setiap parameter di setiap jenis kuda. Data yang telah disusun dianalisis ragam (ANOVA). Rancangan yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk ke-13 parameter. Jika hasil analisis ragam menunjukan perbedaan nyata (P<0.05) maka dilakukan uji lanjut. Uji lanjut yang digunakan adalah uji Tukey pada setiap jenis rataan ( ) setiap nilai parameter kuda. Menurut Walpole (1995), model matematika Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(20)

Keterangan:

= Nilai pengamatan

= Nilai rataan parameter yang diukur

= Pengaruh perbedaan golongan kuda terhadap parameter = Pengaruh galat dari percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perbandingan Tinggi Badan Kuda Pengukuran Manual dan Citra Digital Pengukuran tinggi badan kuda biasanya dilakukan secara langsung dengan menggunakan tongkat ukur. Pengukuran dilakukan ketika kuda berdiri dengan posisi normal. Tinggi badan kuda dimulai dari bagian pundak tertinggi kuda sampai dasar pijakan (tanah/alas) atau diukur tepat di belakang Os scapulla dari titik dorsal hingga tanah (WAVA 2005). Kelebihan pengukuran secara manual adalah data yang didapatkan langsung diperoleh dan tidak perlu diolah terlebih dahulu. Pengukuran tinggi kuda dilakukan oleh seseorang yang harus mengetahui sifat kuda dan terbiasa menangani kuda sehingga dapat meminimalisir resiko cidera atau kecelakaan pada saat pengambilan data. Pengukuran manual tersebut akan efektif jika jumlah ternak tidak melampaui batas kesanggupan dari pengukur dan ternak memiliki temperamen tenang.

Data penelitian secara citra digital merupakan data hasil analisis digital dari foto yang diambil dengan skala pembanding meteran yang disejajarkan di tanah dekat dengan kaki kuda berdiri. Menurut Lawrence dan Fowler (2002), terdapat beberapa teknik yang digunakan dalam mengukur ukuran tubuh pada ternak salah satunya adalah analisis gambar yang merupakan metode pengukuran secara objektif. Pengukuran secara linear pada kerangka tubuh ternak dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pengukuran tidak langsung melibatkan suatu analisis perubahan dari gambar ke dalam sebuah ukuran. Metode citra digital yang digunakan menggunakan konsep algoritma perhitungan komputer (computer vision) dan melibatkan analisis piksel dalam suatu gambar yang telah diolah (Tasdemir et al. 2011). Analisis gambar dalam penelitian ini dilakukan dengan sederhana, yaitu melalui pengambilan gambar kuda dan menganalisis parameter tubuhnya dengan perangkat lunak untuk menganalisis gambar (ImageJ). Prinsip metode ini adalah dengan mengambil foto digital ternak kuda yang diposisikan tegak lurus pada jarak kurang lebih 2 m dengan menggunakan skala pembanding meteran yang disejajarkan dengan kaki kuda.

Pengukuran tinggi tubuh kuda secara langsung (manual) dilakukan dan hasilnya dibandingkan dengan pengukuran melalui analisis gambar (citra digital) untuk mengetahui keakuratan pada pengukuran digital. Tabel 2 menjelaskan perbandingan pengukuran digital dan manual pada 19 ekor sampel kuda yang diamati.

(21)

7

Tabel 2 Perbandingan tinggi badan kuda pada pengukuran digital dan manual

Nama Kuda Umur

(th) M (cm) D (cm) Deviasi |D-M| Langit Cerah 3 143.00 142.80 0.20 Cerrybell 5 143.00 143.30 0.30

Mina Esa Putra 2 146.00 147.20 1.20

Chealsea Eclipse 2 148.00 147.60 0.40 Dewi Mayangkara 2 148.00 147.80 0.20 Chielo 2 148.00 148.90 0.90 Little Minister 6 148.00 147.13 0.87 Rajapatni 6 153.00 154.22 1.22 Gen Pesona 3 153.00 152.81 0.19 Djohar Manik 5 155.00 154.28 0.72 Winona Ecipse 5 156.00 155.07 0.93 Intan Suminar 4 142.80 143.80 1.00 Wisnu Aji 2 147.50 148.19 0.69 Thoiron Ababil 2 148.80 147.53 1.27 Kembang Desa 3 150.50 151.07 0.57 Maesa Agni 3 152.50 153.10 0.60 Sidra 3 152.50 153.50 1.00 Dewi Mutiara 4 152.80 153.08 0.28 Gamang 4 153.80 154.11 0.31 Rataan 149.59 149.76 0.68 Sd 4.08 4.02 0.37 KK (%) 2.73 2.68

Keterangan : sd = simpangan baku; kk = koefisien keragaman; D= Digital; M= Manual; |D-M|= selisih mutlak digital dan manual

Hasil penelitian menunjukan tidak adanya perbedaan nyata antara pengukuran manual dan digital pada tinggi badan kuda. Selain itu tinggi badan kuda secara digital memiliki simpangan baku dan koefisien keragaman yang lebih rendah dibanding pengukuran manual. Oleh karena itu tingkat keakuratan pada metode digital lebih tinggi dibandingkan manual. Kelebihan pengukuran morfometrik secara citra digital antara lain memberikan pengaruh yang rendah dalam peningkatan standar eror dari pada pengukuran manual (Munoz-Munoz dan Perpinan 2010).

Pengukuran digital dan manual pada peubah tinggi badan yang dilakukan terhadap 19 sampel kuda membuktikan bahwa pengukuran digital sama dengan pengukuran manual. Hasil penelitian menghasilkan rataan jarak perbedaan pengukuraan manual dan digital sebesar 0.68 cm dengan simpangan baku antara selisih pengukuran manual dan digital sebesar 0.37 cm. Angka dari pengukuran digital dibandingkan pengukuran manual memiliki selang maksimal 1.27 cm. Tingkat keakuratan pengukuran digital tinggi kuda pada penelitian ini adalah 98.34%.

Metode analisis gambar yang diterapkan pada penelitian kali ini memiliki banyak kelebihan. Menurut Tasdemir et al. (2011) pengukuran digital merupakan

(22)

teknik yang akurat, efisien, cepat, dan aman, dapat memperkecil resiko ternak stress selama pengukuran. Sifat dari kuda pacu salah satunya adalah bertemperamen aktif sehingga butuh penanganan lebih sigap pada pengaturannya karena kuda yang diukur memiliki karakter agonistik, tingkat agresifitas, dan pergerakan yang berbeda-beda. Oleh karena itu metode penelitian secara citra digital lebih tepat dalam pengumpulan data.

Pengukuran digital pada kuda dapat dilakukan oleh parameter dimensi linear tubuh kuda lainnya hanya dengan 1 pengambilan gambar sehingga dapat membuat tingkat keefisienan pengambilan data lebih tinggi dengan pengukuran digital dibandingkan dengan pengukuran manual yang dilakukan jika diukur dari selang waktu penelitian.

Menurut Hakim (2016) selain adanya kelebihan, pengukuran digital ini memiliki kelemahan diantaranya hanya dapat mempresentasikan gambar secara 2 dimensi, sehingga data yang didapatkan adalah panjang, lebar, dan tinggi, tidak dapat mengukur parameter berupa lingkar, selain itu pengambilan gambar foto harus tegak lurus, skala pembanding harus sejajar tubuh ternak, dan peneliti harus mampu menentukan titik bagian tubuh yang akan diukur (tonjolan tulang).

Penelitian dengan metode citra digital sudah banyak dilakukan dalam dunia peternakan diantaranya pengukuran dimensi tubuh sapi FH dengan hasil keakuratan 95%-98% (Tasdemir et al. 2011), pendugaan bobot badan sapi (Lasfeto et al. 2008), pengukuran dimensi tubuh sapi dan pendugaan bobot badan dengan mengunakan infrared thermal camera (Stajnko et al. 2008), pertumbuhan sapi FH dan limousin betina berdasarkan morfometrik dengan menggunakan citra digital (Hakim 2016).

Performa Tubuh Kuda Pacu Alat Gerak Kuda

Alat gerak depan yang berupa kaki depan pada kuda pacu mempunyai peran penting dalam pergerakannya sehingga ukuran dari alat gerak kuda penting untuk diketahui. Kuda menyimpan tekanan lebih besar pada kaki depan dengan membawa 60%-65% berat badannya sehingga kegunaan utama pada alat gerak depan kuda adalah untuk meredam tekanan (Selinow 2006). Alat gerak depan berupa radius-ulna dan metacarpal lebih fleksibel dengan perputaran yang terbatas, dan penunjang kecepatan berlari (Camilo 2013). Alat gerak belakang pada kuda berfungsi sebagai pendorong saat kuda berjalan dan berlari. Menurut Barham et al. (2005) pada kaki yang lemah, dan melengkung dapat membuat pergerakan kuda menjadi lambat dan terbatas. Kaki kuda memiliki struktur yang kompleks dan terdiri dari tulang, persendian, ligamenta, otot, dan tendo, komponen tersebut bekerja dalam satu sistem sehingga kuda dapat melakukan aktifitas gerakannya (Putro 2008).

Fungsi dari pengukuran alat gerak kuda yang sangat penting menjadikkan dasar dari pengukuran yang dilakukan. Hasil penelitian mengenai panjang tulang penyusun alat gerak dan ukuran tubuh kuda tertera pada Tabel 3.

(23)

9

Tabel 3 Rataan ± sd ukuran tubuh kuda pacu jenis G1, G3, G4, KPI, dan Thoroughbred Ukuran Tubuh

(cm)

Kelompok Kuda

G1 G3 KPI G4 THB

(n=2) (n=10) (n=17) (n=12) (n=3)

Alat Gerak Depan 136.36 ± 16.12c 159.26 ± 5.64b 160.53 ± 11.23ab 171.51 ± 9.39ab 179.61 ± 14.65a Scapulla 38.61 ± 2.58b 48.56 ± 3.09ab 48.89 ± 4.55ab 53.84 ± 4.50a 54.31 ± 3.72a Humerus 28.68 ± 8.86 31.05 ± 3.17 30.78 ± 4.16 34.11 ± 4.37 35.65 ± 3.38 Radius – Ulna 35.47 ± 5.03 40.04 ± 2.97 39.14 ± 2.93 41.24 ± 3.71 42.82 ± 5.49 Metacarpal 21.91 ± 2.80b 25.56 ± 2.89ab 27.14 ± 2.65ab 27.99 ± 1.62ab 30.22 ± 2.09a Fetlock - Coronaria Band 11.69 ± 2.00b 14.05 ± 0.56ab 14.58 ± 1.60ab 14.33 ± 1.57ab 16.61 ± 1.75a Alat Gerak Belakang 110.15 ± 6.31 126.06 ± 11.66 127.11 ± 11.27 135.64 ± 14.27 144.50 ± 6.25

Femur 38.58 ± 2.48c 46.84 ± 6.06ab 45.00 ± 4.88b 50.08 ± 6.46a 51.85 ± 1.78a Tibia – Fibulla 40.33 ± 2.48 45.70 ± 4.56 48.30 ± 6.25 49.47 ± 7.28 55.43 ± 3.48 Metatarsal 31.24 ± 3.27 33.52 ± 5.98 33.81 ± 3.30 36.09 ± 2.16 37.22 ± 0.68 Ukuran Tubuh

Lebar Dada 61.71 ± 2.38 65.23 ± 3.98 63.58 ± 3.94 68.23 ± 6.24 73.54 ± 5.09 Panjang Leher 36.12 ± 1.00b 60.52 ± 5.54a 56.31 ± 4.47a 58.68 ± 5.60a 63.96 ± 5.86a Panjang Badan 135.59 ± 9.62b 150.12 ± 5.66ab 153.18 ± 10.12ab 158.82 ± 8.95a 163.07 ± 5.37a Tinggi Badan 138.99 ± 1.06c 153.46 ± 5.53bc 150.67 ± 4.02b 154.18 ± 4.93b 168.08 ± 7.70a Tinggi Hip 142.85 ± 4.81b 151.42 ± 7.06b 150.45 ± 5.68b 153.43 ± 8.53ab 167.98 ± 4.69a Keterangan : G1= Kuda Pacu G1; G3= Kuda Pacu G2; G4= Kuda Pacu G4; KPI= Kuda Pacu Indonesia; THB= Thoroughbred; Angka yang disertai huruf kecil

(24)
(25)
(26)

Alat gerak kuda memiliki perbedaan nyata (P<0.05) pada bagian scapulla, metacarpal, jarak fetlock–coronaria band, femur, tibia-fibulla dan tidak berbeda nyata (P>0.05) pada bagian humerus, radius–ulna, serta metatarsal. Jika dilihat dari keseluruhannya alat gerak depan memiliki perbedaan nyata (P<0.05), namun alat gerak belakang tidak memiliki perbedaan nyata (P>0.05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kuda pacu Indonesia memiliki potensi pertumbuhan tulang yang berbeda antara parameter yang diamati. Perbedaan laju pertumbuhan diantara jenis kuda dan individu satu sama lain disebabkan oleh perbedaan ukuran badan saat dewasa. Hal ini sesuai dengan pendapat Shimizu et al. (1984) bahwa distribusi nilai pertumbuhan relatif berbeda signifikan pada setiap spesies yang dihasilkan dari perbedaan tahap dalam mencapai kedewasaan.

Menurut Hakim (2016) pertumbuhan tulang dapat dipengaruhi oleh 2 hal, yaitu faktor yang berasal dari luar tubuh dan dari dalam tubuh yang keduanya saling berinteraksi. Semua bagian dari tubuh hewan tumbuh dengan cara teratur, namun tidak tumbuh dengan satu kesatuan karena berbagai jaringan tumbuh dengan laju yang berbeda dari lahir sampai dewasa (Anggorodi 1979). Pertumbuhan tulang termasuk sesuatu yang kompleks sehingga sangat dimungkinkan adanya perbedaan ukuran tiap individu kuda yang didasarkan pada faktor internal seperti keturunan dari tetuanya (genetik).

Ukuran Tubuh Kuda

Dilihat dari Tabel 3 kuda pacu jenis G (G1, G3, G4), KPI, dan THB secara performa tubuh memiliki perbedaan nyata (P<0.05), dan pada bagian lebar dada saja yang tidak memiliki perbedaan signifikan (P>0.05). Terlihat dari performa tubuh kuda pacu antara kuda G1, G3, G4, dan THB memang memiliki perbedaan. Perbedaannya dapat dikelompokkan dalam 3 kelompok ukuran. Ukuran dari kecil ke besar pada tingkat pertama adalah G1, kedua adalah G3, KPI, G4, dan ketiga adalah THB. Menurut Hafez et al. (1969) Perbedaan antara kelompok kuda karena perbedaan tetua dan proporsi sifat yang diturunkan dari tetuanya.

Data penelitian menunjukan kuda G1 memiliki rataan ukuran tubuh yang lebih kecil dibanding dengan kelompok kuda G3, KPI, dan G4 karena persentase darah lokal yang ada pada kuda G1 masih sebesar 50% sehingga setengah dari tubuhnya masih menggambarkan postur dari kuda lokal. Sementara untuk kuda G3, G4, dan KPI memiliki ukuran tubuh yang relatif sama diantara ketiganya dikarenakan persentase darah pada kuda-kuda tersebut berkisar 6.25%-12.5%. Selain itu data hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Suherman (2007) yang menyatakan bahwa skor ukuran tubuh kuda peranakan Thoroughbred (G3, KPI, G4) tidak jauh berbeda satu sama lainnya namun memiliki kecenderungan panjang yang meningkat.

Tinggi badan yang berbeda nyata didasarkan pada penyusun ukuran tubuh tinggi badan tersebut yang mempunyai nilai rataan panjang yang berbeda antara jenis kudanya. Penyusun ukuran tinggi badan antara lain adalah panjang kelompok tulang dari alat gerak depan ditambah dengan lebar dada dari kuda. Penyusun alat gerak depan memiliki perbedaan nyata dan kecenderungan yang meningkat mulai dari G1, G3, KPI, G4, dan THB dari segi rataan panjangnya, sehingga mempengaruhi pertambahan ukuran tinggi kuda.

Peubah berupa tinggi pundak dan tinggi pinggul memiliki nilai yang tidak terlalu berbeda jauh antar kuda. Menurut Thompson (1995) tinggi pundak dan

(27)

11

tinggi panggul berkembang secara bersama-sama dengan proporsi yang berbeda, dan secara umum tinggi pundak 2-3 cm lebih tinggi dibandingkan tinggi panggul, namun memiliki pola pertumbuhan yang sama antara keduanya. Hubungan antara panjang badan, tinggi pundak, dan tinggi panggul terhadap ukuran tubuh bersifat positif sehingga peningkatan antara ketiganya dapat meningkatkan skor ukuran tubuh kuda.

Bagian lebar dada tidak mempunyai perbedaan nyata (P>0.05) antar setiap jenis kuda. Bagian lebar dada merupakan bagian dari ukuran lingkar dada. Menurut Hakim (2016) lingkar dada adalah kerangka ukuran yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan (perdagingan dan perlemakan). Hasil penelitian terbukti tidak ada perbedaan nyata (P>0.05) pada peubah lebar dada karena disetiap individu kuda yang diamati memiliki manajemen pemberian pakan yang sama dan mendapat pengaruh lingkungan yang sama. Namun pada bagian lebar dada menunjukkan bahwa urutan lebar dada dari yang terkecil ke terbesar adalah kuda G1, G3, KPI, G4, dan THB. Hal tersebut didasarkan pada dasar kerangka kuda Thoroughbred lebih besar dibanding dengan kuda peranakannya. Menurut Frandson (2009) tulang berfungsi sebagai penyokong dan tempat perlekatan otot, semakin besar tulang penyusun kerangka maka ukuran tubuhnya akan semakin besar pula.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Pengukuran digital tidak memiliki perbedaan nyata terhadap pengukuran manual. Tingkat keakuratan pengukuran digital sebesar 98.34% dengan selang maksimal 1.27 cm. Secara umum hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 9 peubah yakni panjang leher, scapulla, metacarpal, panjang badan, tinggi badan, tinggi pinggul, femur, tibia-fibulla, jarak fetlock-coronaria band memiliki perbedaan nyata. Sementara 4 peubah lainnya yaitu humerus, radius-ulna, metatarsal, dan lebar dada tidak memiliki perbedaan antara jenis kuda yang diamati. Terdapat 3 pengelompokan (terkecil–terbesar) terhadap kuda yang diukur antara lain kelompok pertama kuda G1, kelompok kedua yang terdiri dari G3, G4, dan KPI, serta kelompok ketiga adalah kuda Thoroughbred.

Saran

Perlu adanya pengelompokan terhadap jantan dan betina pada setiap jenis kudanya. Perlu dilakukan pencatatan kecepatan lari pada setiap individu kuda yang diamati. Serta perlu dilakukan analisis lanjut berupa Analisis Komponen Utama (AKU).

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi R. 1979. Ilmu Makanan Ternak. Jakarta (ID): Gramedia Pr.

Barham B, Jones ST, Troxel TR. 2005. An Analysis of Beef Cattle Conformation. United States (US): University of Arkansas.

[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 1996. SNI 01-4226 Tentang Kuda Pacu Indonesia. Jakarta (ID): Badan Standarisasi Nasional.

Camilo VD. 2013. The bone basics [Internet] [diunduh 2016 Maret 20]. Tersedia pada:http://www.entomology.cornell.edu/cals/entomology/extension/outreac h/upload/SarahUCudneyULocomotionUanatomy.pdf.Fatimah.

Frandson RD, Wilke WL, Fails AD. 2009. Anatomy and Physiology of Farm Animal. Ed ke-7. Colorado (US): Wiley-Blackwell Pub.

Hakim A. 2016. Pertumbuhan sapi friesian holstein dan limousin betina berdasarkan morfometrik dengan menggunakan citra digital [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Hafez EZE, Dyer IA. 1969. Animal Growth and Nutrition. Philadelphia (US): Lea & Febiger Pub.

Lasfeto DB, Susanto A, Agus A. 2008. Aplikasi pengolahan citra digital untuk estimasi bobot badan ternak sapi. Buletin Peternakan. 32 (3): 167-176. Lawrence TLJ, VR Fowler. 2002. Growth of Farm Animals. Ed ke-2. London

(UK): CABI Publishing.

Matrix. 2009. Seri Panduan Belajar dan Evaluasi Biologi. Jakarta (ID): Tim Matrix.

Munoz-Munoz F, Perpinan D. 2010. Measurement error in morphometric studies: comparison between manual and computerized methods. Ann Zool Fennici. 47: 46-56.

[Permentan] Peraturan Menteri Pertanian. 2006.

PermentanNo.35/Permentan/OT.140/8/2006. Tentang Pedoman Pelestarian dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Ternak. Jakarta (ID): Peraturan Menteri Pertanian

[PP PORDASI] Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia. 2003. Peraturan Pacuan dan Petunjuk Pelaksanaan Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda. Jakarta (ID): PP.PORDASI

Putro KB. 2008. Struktural internal pada kuku kuda abnormal di laboratorium anatomi fkh ipb [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Shimizu H, Yamadate T, Awata T, Ueda J, Hachinohe Y. 1984. A modification in skeletal bone growth by the selection for boy weight in mice. J Fak Hokkaido Univ. 62 (1): 36-54.

Stajnko D, Brus M, Hocevar M. 2008. Estimation of bull weight through thermographically measured body dimensions. Comp and Electrons in Agr. 61: 233-240.

Suharyadi, Purwanto SK. 2004. Statistik untuk Ekonomi dan Keuangan Modern. Jakarta (ID): Salemba Empat.

Suherman E. 2007. Studi morfometrik ukuran (size) dan bentuk tubuh kuda sumba, priangan, kuda pacu G2, G3, G4, dan Kuda Pacu Indonesia (KPI) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

(29)

13

Tasdemir S, Urkmez A, Inal S. 2011. Determination of body measurement on the Holstein cows using digital image analysis and estimation of live weight regression analysis. Comp and Electrons in Agr. 76:189-197.

Thompson KN. 1995. Skeletal growth rates of weanling and yearling Throughbred horses. J Animal Sci. 73: 2513-2517.

Walpole RE. 1995. Pengantar Statistika. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Umum. [WAVA] World Associatin of Veterinary Anatomist. 2005. Nomina Anatomica

Veterinaria. Ed ke-5. Hannover (DE): Editorial Committee.

Yayasan Pamulang Equestrian Centre. 2011. Kejuaraan Pacuan Kuda PORDASI (Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia) Tahun 1966-2011. Tanggerang (ID): Karya Abadi.

(30)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 19 Oktober 1994 di Cirebon, Jawa Barat. Penulis merupakan anak kedua dari 3 bersaudara pasangan Bapak Soni Susiharto dan Ibu Etik Kusuma Wiryaningsih. Pendidikan formal penulis dimulai dari sekolah dasar di SDN 1 Kasugengan Lor, Cirebon sejak tahun 2001. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Cirebon pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Cirebon, Jawa Barat pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 dan pada tahun 2012, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan (SNMPTN) di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB.

Penulis aktif dalam organisasi Century 2013), OMDA IKC (2012-2013), Equestrian Club IPB (2013-2016), dan AET Fakultas Peternakan (2015-2016), serta penulis berkontribusi terhadap PKM-K IPB (2012), PKM-P IPB (2016), penulis menjadi asisten praktikum MK. Rancangan Percobaan pada tahun akademik 2015-2016.

(31)

15

LAMPIRAN

Lampiran 1 Analisis general linear model (GLM) 13 parameter Tabel ANOVA scapulla

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 462.51 115.63 5.81 0.0009 Galat 39 775.56 19.89

Total 43 1 238.07 Tabel ANOVA humerus

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 112.55 28.14 1.79 0.1513 Galat 39 614.46 15.75

Total 43 727.02 Tabel ANOVA radius-ulna

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 86.99 21.75 1.89 0.1311 Galat 39 448.07 11.49

Total 43 535.06 Tabel ANOVA metacarpal

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 105.63 26.41 4.69 0.0035 Galat 39 219.74 5.64

Total 43 325.38 Tabel ANOVA femur

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 418.11 104.53 3.97 0.0085 Galat 39 1 025.68 26.30

Total 43 1 443.79 Tabel ANOVA tibia-fibulla

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 430.24 107.56 3.23 0.0222 Galat 39 1 300.52 33.35

Total 43 1 730.75 Tabel ANOVA metatarsal

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 63.85 15.96 1.07 0.3861 Galat 39 583.73 14.97

(32)

Tabel ANOVA jarak fetlock-coronaria band

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 33.65 8.41 4.06 0.0076 Galat 39 80.85 2.07

Total 43 114.40 Tabel ANOVA panjang leher

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 1 077.23 269.31 10.80 0.0000 Galat 39 969.53 24.86

Total 43 2 046.76 Tabel ANOVA tinggi badan

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 1 138.44 284.61 12.20 0.0000 Galat 39 913.42 23.42

Total 43 2 051.86

Tabel ANOVA tinggi hip

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 932.74 233.185 5.46 0.0014 Galat 39 1 665.31 42.700

Total 43 2 598.05

Tabel ANOVA panjang badan

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 1 352.15 338.04 4.99 0.0024 Galat 39 2 642.71 67.76

Total 43 3 994.86 Tabel ANOVA lebar dada

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 268.95 67.24 2.43 0.0637 Galat 39 1 078.43 27.65

Total 43 1 347.38 Tabel ANOVA alat gerak depan

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 3 007.13 751.78 7.40 0.0002 Galat 39 3 963.10 101.62

Total 43 6 970.22 Tabel ANOVA alat gerak belakang

SK db JK KT Fhit P Jenis 4 1 616.78 404.19 2.82 0.0379 Galat 39 5 589.49 143.32

(33)

17

Lampiran 2 Analisis Wilcoxon test pengukuran manual dan digital

Jumlah rangking negatif -69.00

Jumlah ranking positiv 121.00

One tailed P-value 0.23

Normal Approximation with Continuity Correction 1.03 Two-tailed P-value for Normal Approximation 0.30

Cases Included 19.00

Gambar

Tabel 1 Jumlah kuda yang digunakan dalam penelitian morfometrik citra digital
Gambar  1  memperlihatkan  prosedur  pengambilan  gambar  kuda.
Gambar  2  Persilangan  kuda  pacu  Indonesia  (Yayasan  Pamulang  Equestrian  Centre  2011)
Tabel 2 Perbandingan tinggi badan kuda  pada pengukuran digital dan manual
+3

Referensi

Dokumen terkait