• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBEBANAN UANG HANTARAN DALAM MAHAR NIKAH (Studi Analisis Menurut Fiqh Syafi iyyah)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBEBANAN UANG HANTARAN DALAM MAHAR NIKAH (Studi Analisis Menurut Fiqh Syafi iyyah)"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

98

PEMBEBANAN UANG HANTARAN DALAM MAHAR NIKAH (Studi Analisis Menurut Fiqh Syafi’iyyah)

Syarkawi

Institut Agama Islam Al-Aziziyah Samalanga Bireuen Email: [email protected]

Abstrak

Uang hantaran adalah uang yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada calon mertua untuk kebutuhan perkawinan yang memiliki dampak positif dan dampak negatifnya. Dampak negatif uang hantaran terlihat ketika ditetapkan pada jumlah yang tinggi pada calon laki-laki yang ekonominya menengah ke bawah dan memiliki berbagai tanggungan sehingga kesulitan untuk menabung. Tidak sedikit juga pasangan yang ingin mendirikan rumah tangga terpaksa menunda perkawinan akibat tingginya jumlah uang hantaran yang telah ditetapkan dari pihak perempuan. Perkawinan Merupakan salah satu sunnah Rasulullah saw yang juga merupakan perbuatan yang dianjurkan Allah Swt kepada hambanya. Dalam pandangan Islam perkawinan merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt karena perkawinan bertujuan untuk menciptakan keluarga yang tenteram, damai dan sejahtera lahir dan batin.Yang menjadi rumusan masalah adalah apa saja yang menyebabkan dasar pembebanan uang hantaran dalam mahar nikah dan bagaimana pandangan fiqh

syᾱfi’iyyah terhadap pembebanan uang hantaran dalam mahar nikah. Yang

menjadi tujuan penelitian adalah Untuk mengetahui bagaimana dasar-dasar pembebanan uang hantaran dalam mahar nikah dan untuk mengetahui bagaimana tindak lanjut fiqh syᾱfi’iyyah terhadap dasar-dasar pembebanan uang hantaran dalam mahar nikah. Teknik penelitian dalam setiap penulisan karya ilmiah harus mempunyai metode dan cara tertentu sesuai dengan penelitian yang hendak dibahas, penelitian dalam skripsi ini menggunakan penelitian kualitatif, Dengan melihat kepada kaidah-kaidah fiqhiyyah yang telah digunakan dan melihat kepada dampak-dampak yang timbul dari penetapan uang hantaran yang tinggi serta bertentangnya dengan syarat ‘urf yang sahih bisa disimpulkan bahwa hukum uang hantaran yang tinggi tidak sesuai sebagaimana yang seharusnya berlaku. Maka, penetapan uang hantaran yang tinggi telah membebankan laki-laki yang ekonominya menengah ke bawah dan yang memiliki tanggungan untuk melangsungkan pernikahan.

Kata Kunci: Pembebanan, Uang Hantaran, Mahar Nikah dan Fiqh Syᾱfi’iyyah

A. Pendahuluan

Pernikahan atau perkawinan adalah akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban antara seorang laki-laki dan perempuan yang

(2)

99

bukan mahram.1 Perkawinan Merupakan salah satu sunnah Rasulullah saw yang

juga merupakan perbuatan yang dianjurkan Allah SWT kepada hambanya. Dalam pandangan Islam perkawinan merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt karena perkawinan bertujuan untuk menciptakan keluarga yang tenteram, damai dan sejahtera lahir dan batin. Agama sangat menganjurkan perkawinan karena dapat menjauhkan individu dan masyarakat dari berbagai kerusakan serta dapat mendatangkan kemaslahatan yaitu ketenangan hati dan keturunan yang sah hal itu merupakan salah satu jalan untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Rum ayat 21 sebagai berikut











































Artinya : Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.2 (Ar-Rum 30: 21).

Sehubungan dengan kecenderungan alamiah, setiap manusia dewasa untuk menjalani hubungan suami istri tersebut dan membentuk pernikahan yang bahagia dan kekal. Kerukunan yang inti pokok dalam perkawinan yaitu keridhaan laki-laki dan perempuan serta kesepakatan untuk mengikat hidup dalam kedamaian. Pernikahan merupakan sunnatullah yang umum dan terjadi pada semua makhluk Allah, baik pada manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan. Ia

1Beni Ahmad Saebani, Fiqh Munakahat, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hal. 9.

2Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Diponegoro, 2008), hal.

406.

(3)

100

adalah suatu cara yang dipilih oleh Allah sebagai jalan bagi makhluk-Nya untuk berkembang biak, dan melestarikan hidupnya.3

Mengenai dengan uang hantaran dalam sebuah perkawinan itu berdasarkan dua keadaan yaitu, hukum syara’ dan hukum adat masyarakat setempat, maka dari itu, lahirnya dua praktek pemberian wajib dan adat perkawinan dalam masyarakat, yaitu mahar dan uang hantaran. Uang hantaran adalah uang persiapan untuk pihak calon perempuan yang diberikan dari pihak laki-laki dalam proses pertunangan sebelum berlangsungnya walimah. Dan ada juga yang menganggap bahwa uang hantaran itu untuk kedua orang tua yang telah melahirkan dan menjaga anaknya hingga dewasa yaitu calon istri sebagai balas jasa terhadap orang tuanya. Dalam Islam, tidak ada yang namanya uang hantaran akan tetapi Islam juga tidak mengharamkan akan pemberian uang hantaran karena uang hantaran tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal semacam inilah yang sering disebut sebagai adat dalam masyarakat.

Hal ini berdasarkan firman Allah Swt.































Artinya: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. QS An-Nisaa’ (04):4)

3Tihani dan Sobari Sahrani, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap, Cet. Ke-4,

(Bandung: PT Raja Grafindo Persada, 2014), hal. 7.

(4)

101

Maskawin merupakan hak mutlak bagi seorang istri dan tidak boleh diambil oleh sang suami melainkan jika seorang istri rela sang suami menggunakan haknya sebagaimana yang telah tersebut dalam ayat di atas. Dan ada terdapat perbedaan antara uang hantaran dan mahar.

Mahar termasuk keutamaan agama Islam dalam melindungi dan memuliakan kaum wanita dengan memberikan hak yang dimintanya dalam pernikahan berupa mahar kawin yang besar kecilnya ditetapkan atas persetujuan kedua belah pihak karena pemberian itu harus diberikan secara iklas. para ulama fiqh syᾱfi’iyyah sepakat bahwa mahar wajib wajib diberikan oleh suami kepada istrinya baik secara kontan maupun secara tempo, pembayaran mahar harus sesuai dengan perjanjian yang terdapat dalam akad pernikahan. Para fiqh syᾱfi’iyyah sepakat bahwa mahar merupakan syarat nikah yang tidak boleh diadakan persetujuan untuk meniadakannya.4

Mahar yang diberikan oleh mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan bukan diartikan sebagai pembayaran, seolah-olah perempuan yang hendak dinikahi telah dibeli seperti barang. Pemberian mahar dalam syariat Islam dimaksudkan untuk mengangkat harta dan derajat kaum perempuan yang sejak zaman jahiliyah telah diinjak-injak harga dirinya. Dengan adanya pembayaran mahar dari pihak mempelai laki-laki status perempuan tidak dianggap sebagai barang yang diperjual belikan, sehingga perempuan tidak berhak memegang harta bendanya sendiri atau walinya pun dengan semena-mena boleh menghabiskan hak kekayaannya.5 Dalam syariat Islam, wanita

diangkat derajatnya dengan diwajibkan kaum laki-laki membayar mahar jika dinikahinya. Pengangkatan hak-hak perempuan pada zaman jahiliyah dengan adanya hak mahar bersamaan pula dengan hak-hak perempuan lainnya yang

4Ibnu Rusyd, Terjemah Bidayatul Mujtahid, Penerjemah: M. A. Abdurrahman dan A.

Harits Abdullah, (Semarang: CV. Asy. Syifa’, 1990), hal. 385.

5Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2, trjmh. Nor Hasanuddin, Cet I, (Jakarta: Pena Pundi Aksara,

(5)

102

sama dengan kaum laki-laki, sebagaimana adanya hak waris dan hak menerima wasiat.6

Salah satu keistimewaan Islam adalah memperhatikan dan menghargai kedudukan wanita, yaitu dengan memberikan hak untuk memegang dan memiliki sesuatu. Setelah itu, Islam datang dengan menghilangkan belenggu tersebut, kemudian istri diberi hak mahar (maskawin), dan kepada suami diwajibkan untuk memberikan mahar kepada istrinya, bukan kepada ayahnya atau kepada siapapun yang dekat dengannya. dan orang lain tidak boleh meminta harta bendanya walaupun sedikit, meskipun oleh suaminya sendiri, kecuali dengan mendapatkan kerelaan dari sang istri.7 Mahar ditetapkan sebagai

kewajiban suami kepada istrinya, sebagai tanda keseriusan laki-laki untuk menikahi dan mencintai perempuan, sebagai lambang ketulusan hati untuk mempergaulinya secara ma’ruf.

Mahar merupakan pemberian wajib, tetapi hantaran merupakan hadiah kepada istri. Hantaran tidak wajib kepada pasangan untuk menentukan kadarnya. Hantaran juga tidak ada kadar minimum yang sudah ditentukan oleh pihak yang berwenang. Ini berbeda dengan mahar secara umumnya, uang hantaran merupakan bantuan bagi pihak istri untuk belanja kawin. Yang bertujuan untuk mengurangi beban istri dan keluarga istri dalam membuat persiapan perkawinan. Ia juga boleh dianggap sebagai hadiah kepada istri yang kini akan menjadi pasangannya. Jadi, pada saat uang hantaran telah diserahkan kepada pihak istri, maka terserah kepada istri untuk membelanjakannya. Calon suami boleh memberi maskawin melebihi kadar minimum yang ditetapkan dan terserah kepada istri untuk menggunakan maskawin tersebut. Akan tetapi kenyataan yang terdapat dalam masyarakat uang hantaran yang diminta oleh ahli keluarga perempuan terkadang melebihi dari kemampuan calon mempelai laki. Yang menjadi permasalahan adalah ada sebagian calon mempelai

6Amin Nurudin, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada media, cet 1), 2004,

hal. 54.

7Abd. Rahman Ghazali, Fikih Munakahat, “seri buku daras”, (Jakarta: Prenada Media,

(6)

103

laki yang berhutang untuk melunasi uang hantaran yang ditetapkan oleh keluarga calon istri. Akibat dari uang hantaran yang tinggi menyebabkan calon suami terbeban dan sangat berat untuk melunasinya.

B. Metode Penelitian

Merujuk pada fokus penelitian yang diajukan maka penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai penelitian kualitatif. Moleong mengutip pendapat dari bogdan dan taylor bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati8 Sementara itu, penelitian deskriptif menurut

Arikunto adalah penelitian yang tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan9 Di lihat dari jenis penelitiannya, penelitian ini merupakan

penelitian library research atau penelitian kepustakaan yang menurut subagyo adalah penelitian yang menjadikan data-data kepustakaan sebagai teori untuk dikaji dan ditelaah dalam memperoleh hipotesa atau konsepsi untuk mendapatkan hasil yang objektif 10.

Teknik pengumpulan data dari penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi, artinya data dikumpulkan dari dokumen-dokumen, baik yang berbentuk buku, jurnal, majalah, artikel, maupun karya ilmiah lainnya yang berkaitan tentang Uang Hantaran dalam Mahar Nikah Menurut Fiqh Syafi’iyyah

Pengumpulan data pada penelitian ini mengacu pada tahap-tahap sebagai berikut: memilih luteratur untuk dijadikan sumber data primer dan sumber data sekunder, heuristik, yaitu pengumpulan data sejarah yang bersangkutan dengan kajian yang diteliti. Dalam hal ini peneliti berusaha mengumpulkan data sejarah sebanyak mungkin yang berkaitan dengan pokok persoalan melalui library

8 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja rosda karya, 2002),

hal. 3.

9 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,

1993), hal. 310.

10 Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999),

(7)

104

research yang kegiatannya dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagai literatur, baik dari perpustakaan maupun tempat lain yang memuat tentang Mahar Nikah maupun yang berhubungan dengan penelitian ini11. Verifikasi,

yaitu mengadakan kritik terhadap data yang telah terkumpul, sehingga diperoleh data yang valid. Interpretasi yaitu menyimpulkan data yang telah terseleksi dengan cara analisis dan sintesis. Mengklarifikasi data dari tulisan dengan merujuk pada fokus penelitian. Historiografi, yaitu penulisan sebagai tahap akhir prosedur penelitian sejarah dengan memperhatikan aspek kronologis12. Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis

data untuk menemukan gambaran yang lebih konkrit dari penelitian ini teknik analisis pada penelitian ini menggunakan conten anlisiys yang menenkankan pada analisis ilmiah tentang isi pesan suatu komunikasi13 Content Analisys ini

jelas menggunakan prosedur penarikan kesimpulan dari sebuah buku dan dokumen isi pesan tersebut dipilih untuk dimasukkan dalam kategorisasi (dikelompokkan) antar dua yang sejenis lalu dianalisis secara kritis.14

C. Pembahasan

1. Pengertian Uang Hantaran

uang hantaran merupakan suatu bentuk hadiah berupa uang tunai yang disetujui oleh kedua belah pihak keluarga yaitu keluarga calon mempelai perempuan dan keluarga calon mempelai laki-laki. Namun, uang hantaran bukan hak milik mutlak istri. Uang hantaran boleh diberikan kepada keluarga mempelai perempuan untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan. Yang paling penting adalah pemberian maskawin adalah wajib, namun pemberian Uang Hantaran terdiri dari dua kata, yaitu Uang dan Hantaran. Uang adalah alat penukar atas standar pengukur nilai hitung yang sah, dikeluarkan oleh

11 Hermawan Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian Buku Panduan Mahasiswa, (Jakarta:

Gramedia, 1992), hal. 11.

12 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Bandung, 1995), hlm. 102.

13 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja rosda karya, 2002),

hal. 163-164.

(8)

105

pemerintah suatu negara yang sah, berupa kertas, perak, atau logam lain yang dicetak dengan bentuk dan gambar tertentu.15 Sedangkan hantaran,

berkhususkan kepada perkawinan, hantaran terbagi dua macam; uang dan hadiah. Uang adalah yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada calon mertua untuk perbelanjaan perkawinan, ia juga dikenal dengan istilah “belanja hangus”. Hadiah berupa makanan, pakaian dan sebagainya yang dibawa bersama uang hantaran dan dikenal sebagai “hadiah perkawinan”, Hantaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari perkataan “antaran”, yang bermaksud uang sebagai pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak calon mertua.16 Jadinya,

maksud dari uang hantaran adalah uang untuk kegunaan dan persiapan perkawinan yang diberikan kepada pihak perempuan dari pihak laki-laki. uang hantaran adalah tidak wajib. Selain dari ketentuan yang diatur oleh syara’, terdapat ketentuan adat yang diatur oleh masyarakat setempat yaitu praktek pemberian uang hantaran. Merujuk kepada pembahasan tersebut, praktek uang hantaran dibolehkan untuk dikerjakan karena tidak ada pertentangan dari ciri-ciri pelaksanaannya dengan syarat-syarat ‘Uruf sahih yang telah digunakan ketika mengkaji kebolehan hukumnya.

Dalam kaidah-kaidah fiqhiyyah, terdapat kaidah yang namanya:

لحاصلما بلج ىلع مدقم دسافلما ءرد

Artinya: “menolak kerusakan didahulukan dari pada meraih manfaat”.17

Dalam ungkapan lainnya, disebutkan:

عفنلا بلج نم لىوا ررضلا عفد

Artinya: “menolak kemudaratan lebih utama dari pada meraih manfaat”.18

15Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Baru, Cet. Ke-5 (Jakarta: balai

pustaka, 2002), hal.765.

16Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke-3,

(Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hal. 56.

17A. Djazuli, Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan

Masalah-masalah yang Praktis, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 164.

(9)

106

Pemberian uang hantaran memang tidak dipungkiri ada manfaatnya tapi apabila ditetapkan dengan jumlah yang tinggi, maka akan timbulnya kerusakan seperti penundaan perkawinan, perzinaan, kawin lari dan lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan kaidah:

ابلاغ ةدسفلما عفد مدق ةحلصمو ةدسفم ضراعت اذ اف لحاصلما بلج نم لىوا دسافلما ءرد

Artinya: “Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan, dan apabila berlawanan antara mafsadah dan maslahah didahulukan menolak yang mafsadah”.19

Apabila dalam suatu perkara terlihat adanya manfaat atau mashlahah, namun di situ juga ada mafsadah atau kerusakan, maka harus didahulukan menghilangkan mafsadah atau kerusakan, karena kerusakan dapat meluas dan menjalar kemana mana, sehingga akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar.20

Selain dari kaidah-kaidah di atas, terdapat kaidah yang namanya:

ا

لازوي ررضل

Artinya: “kemudharatan harus dihilangkan”.21

Kesimpulan dari kaidah ini menunjukkan bahwa kemudaratan itu telah terjadi dan akan terjadi. Dalam menetapkan uang hantaran yang tinggi, berkemungkinan akan terbuka pintu-pintu kejahatan untuk mendapatkan uang dalam waktu yang cepat seperti berhutang dan merampok. Kaidah ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad saw sebagai berikut:

انثدح .ةبقع نب ىسوم انثدح .ناميلس نب ليضف انثدح .سلغلما وبأ ،يىرمنلا دلاخ نب وبر دبع انثدح

نب ييح نب قاحسإ

نأ ،تماصلا نب ةدابع نع ،ديلاولا

( نأ ىضَق ملسو ويلع للها ىلص للها لوسر

)دمحا هاور(.)رارض لا و ررض لا

19Abdul Mudjib, Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqih, Cet. Ke-2, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), hal. 39. 20Abdul Mudjib, Kaidah-Kaidah…, hal. 40.

(10)

107

Artinya: Telah berkata Abdu Rabbihi bin Khalid An-Numairi, Abu Mughallis. Telah berkata Fudhail bin Sulaiman. Telah berkata Musa bin ‘Uqbah. Telah berkata Ishak bin Yahya bin Walid, daripada ‘Ubadah bin As-Shamit,

Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda (Tidak boleh membuat kemudaratan pada diri sendiri dan membuat kemudhratan kepada orang lain). (HR.Ahmad).22

Adapun uang hantaran bukanlah sepenuhnya hak milik istri dalam syara’ dan ia boleh diambil oleh keluarga pihak istri untuk menyelenggarakan majlis perkawinan. Islam tidak menetapkan kadar maksimal dan minimal jumlah mahar bagi seorang wanita karena Islam mengakui wujud perbedaan dalam masyarakat dari segi kekuatan ekonominya dan setiap kaum turut memiliki adat resam tersendiri

2. Dasar yang Menyebabkan Pembebanan Uang Hantaran dalam Mahar Nikah

Pemberian uang hantaran merupakan salah satu adat-istiadat yang terdapat dalam masyarakat Aceh. Hantaran terbagi kepada dua macam yaitu uang hantaran dan barang hantaran. Uang hantaran adalah uang yang diberikan dari pihak laki-laki kepada calon mertua untuk kebutuhan perkawinan sedangkan barang hantaran adalah barang yang berupa makanan, pakaian, peralatan make up dan sebagainya yang diberikan pada hari pernikahan.23 Uang

hantaran merupakan uang yang diberikan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan manakala barang hantaran diberikan dari kedua belah pihak dengan cara saling bertukar barang. Barang hantaran juga merupakan tanda penghargaan dan persetujuan pihak perempuan. Setiap barang-barang yang diberikan mempunyai tujuan tertentu. Lazimnya, barang hantaran pihak

22Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini, Sunan Ibnu

Majah, (Riyadh: Darussalam, 1952), hal. 784.

23Noresah Baharom, Kamus Dewan, Edisi Ke-3, Cet. Ke-5 (Selangor:Percetakan Dewan

(11)

108

perempuan melebihi pihak laki-laki dengan angka ganjil.24 Seandainya pihak

laki-laki memberi sembilan dulang pihak perempuan akan membalas dengan sebelas dulang. Selain pemberian hantaran yang muncul dari adat masyarakat terdapat satu lagi pemberian yang muncul dari hukum Islam yaitu mahar.

Mahar merupakan suatu pemberian yang diwajibkan bagi suami terhadap istrinya, baik dalam bentuk benda maupun jasa seperti memerdekakan, mengajar dan lain sebagainya.25 Allah S.W.T berfirman di dalam surah An-Nisa‟

ayat 4: 































Artinya: “Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. (Q.S An-Nisa‟ (4): 4).26

Masalah ini juga terdapat dalam firman Allah surat An-Nisa ayat 24:

24Jasiman Ahmad, Perkawinan Tradisional, (Kuala Lumpur: Jade Green Publication Sdn.

Bhd, 2001), hal. 4.

25Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap, Cet. Ke-4,

(Bandung: PT Raja Grafindo Persada, 2014), hal. 37.

26 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Diponegoro, 2005),

(12)

109













































Artinya: Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan Tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q. S. An-Nisa: 24).27

Dalam kajian peneliti, peneliti mengkhususkan kajian hanya kepada uang hantaran dikarenakan tidak ada banyak kasus tentang mahar ataupun barang hantaran yang menjadi penghalang kepada sebuah perkawinan. Kajian peneliti merangkumi dasar pembebanan uang hantaran, pengaruh uang hantaran tinggi, dampak dari pemberian uang hantaran dan hubungan tingginya uang hantaran menurut Fiqh Syᾱfi’iyyah. Fiqh Syᾱfi’iyyah tidak mengatur tentang pelaksanaan uang hantaran dari segi bagaimana jumlahnya ditetapkan ataupun waktu untuk memberikannya. Kebiasaannya uang hantaran diberikan sebelum pesta pernikahan atau sebelum akad nikah ataupun pada hari akad nikah. Terdapat juga pihak laki-laki yang memberikan sebagian uang hantaran sebelum hari akad nikah dan mencukupinya pada hari akad nikah dan terdapat juga pihak laki-laki yang memberikan sebagian uang hantaran pada hari akad nikah dan mencukupinya setelah hari akad nikah ataupun sesudah pesta pernikahan.

Lebih mudahnya dikatakan bahwa waktu pemberian uang hantaran adalah mengikut kesepakatan kedua belah pihak. Walaupun uang hantaran hanyalah adat ia tetap ditulis di dalam surat akad nikah. Namun ada juga sebagian yang tidak menyatakannya di dalam surat akad nikah. Masalah

(13)

110

seberapa besar jumlahnya ditentukan sendiri oleh orang tua mempelai perempuan pada hari pertunangan.

Dapat disimpulkan bahwa Uang hantaran ditetapkan dengan melihat beberapa dasar yaitu dari segi pendidikan perempuan, status sosial keluarga perempuan dan pekerjaan perempuan.28

Pembebanan uang hantaran kepada pihak calon suami bisa berakibat dampak yang tidak baik di samping dampak positifnya membantu keluarga perempuan dalam melaksanakan resepsi pernikahan dan mempererat hubungan persaudaraan yang sesaat lagi akan dilaksanakan. Perkawinan merupakan jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan memuaskan naluri seks karena naluri seks merupakan naluri yang paling kuat yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Dengan kawin badan jadi segar, jiwa jadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram dan perasaan tenang menikmati barang yang halal.29

Di antara dampak negatif praktek uang hantaran yang tinggi adalah sebagai berikut:

a. Membebankan laki-laki yang ekonominya menengah kebawah. Praktek uang hantaran memang tidak dinafikan bahwa membebankan laki-laki apalagi jika laki-laki tersebut memang dari keluarga yang sederhana ataupun pendapatan bulanannya hanya cukup untuk dirinya saja. Mempelai laki-laki bukan hanya perlu memberikan uang kepada pihak perempuan, malahan mereka juga harus mengeluarkan uang sendiri untuk pesta pernikahan mereka. Beban ini jelas terlihat apabila mereka terpaksa berhemat, melakukan kerja sampingan ataupun kerja lebih dalam mengumpul jumlah yang diperlukan.30

b. Adat diutamakan dari Agama. Penetapan kadar mahar yang lebih rendah daripada uang hantaran menempatkan seolah-olah mahar tidak ada nilainya padahal mahar merupakan salah satu rukun perkawinan yang apabila tidak

28 Fadzilah Kamsah dan Noralina, PTS Litera Utama, 2007, hal. 68.

29 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, Cet. Ke-3 (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 69. 30 Muhammad Azhaa bin Haji Mustafa,“Uang Hantaran, (Jakarta: Mitra Pustaka, 2011), hal.

(14)

111

sempurna salah satu rukun maka tidak sahnya perkawinan tersebut. Sebaiknya uang hantaran disatukan ke dalam mahar dengan kata lain tidak ada uang hantaran dan yang ada hanyalah mahar untuk menunjukkan bahwa mahar lebih berjumlah dari uang hantaran.31

c. Kawin lari. Keinginan yang tinggi untuk menikah tetapi terhalang disebabkan uang hantaran membuatkan laki-laki maupun pasangannya mencari jalan alternatif untuk membenarkan perkawinan sekalipun terpaksa membelakangkan keputusan dan mencoreng nama baik keluarga. Walaupun kawin lari bukanlah suatu perbuatan yang boleh dibanggakan tetapi lebih baik dari melakukan perzinaan yang sudah terang lagi nyata adalah haram.32

d. Berhutangan. Siapa pun yang mempunyai masalah keuangan pasti akan meminta pertolongan. Cara termudah meminta tolong dalam masalah keuangan adalah dengan meminjam. Peminjaman uang boleh dilakukan dengan meminjam dari keluarga, kawan-kawan terdekat ataupun pihak bank. Apabila terjadi proses peminjaman maka terjadinya perhutangan. Banyak kasus di mana setelah bernikah laki-laki terpaksa membayar hutangnya sehingga membuat belanja perbulan keluargat erpaksa dikurangkan. Jika dilihat dari aspek agama, seandainya peminjaman dibuat dari bank sebenarnya hanya mengandung unsur riba di mana jika proses perkawinan berlangsung menggunakan uang tersebut maka tidak ada keberkatan di dalamnya.

e. Perzinaan. Salah satu hikmah perkawinan adalah dapat menyalurkan nafsu syahwat. Apabila terdapat suatu hal yang menghalang kepada melakukan istri tidak lagi dapat ditahan. Seperti dalam Firman Allah S.W.T:



















31 Muhammad Azhaa bin Haji Mustafa,“Uang…, hal. 22.

(15)

112

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S Al-Israa’ 17: 32)33

f. Penggadaian atau penjualan barang berjumlah. Di saat desakan waktu dalam mengejar sesuatu, tidak ada yang mustahil akan dilakukan sekalipun terpaksa melepaskan barang yang paling disayangi ataupun menggadaikannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berjumlah. Sama halnya di dalam mengumpul uang hantaran. Laki-laki yang ingin memperistrikan perempuan yang disukainya akan memilih untuk menjual apa saja yang dia miliki ataupun menggadaikannya sekalipun barang tersebut mempunyai maksud nilai tersendiri bagi si laki-laki.34

g. Penundaan pernikahan. Pernikahan akan ditunda apabila uang yang diminta oleh orang tua perempuan tidak dapat disediakan pada waktunya. Kebiasaannya orang tua perempuan akan memberikan waktu kepada pihak laki-laki untuk mengumpulkan jumlah yang diminta. Jangka waktu yang diberi berdasarkan ketentuan orang tua perempuan ataupun kesepakatan kedua belah pihak. Seandainya pihak laki-laki tidak dapat menyediakan uang setelah tiba masa yang dijanjikan, besar kemungkinan akan terjadinya pembatalan nikah ataupun penambahan waktu sekiranya diberi izin oleh orang tua perempuan.

h. Pembatalan nikah. Banyak orang banyak ragamnya. Tidak semua orang tua perempuan yang sanggup melihat anaknya terlambat menikah dan tidak semua laki-laki sanggup memberikan apa yang dia tidak miliki walaupun bisa dicapai jika disertakan dengan usaha. Sekalipun laki-laki sudah berusaha untuk mengumpul jumlah yang diminta, dikarenakan keterbatasan dalam banyak hal, kemungkinan untuk tidak dapat memenuhinya juga ada. Rasa cinta dan sayang terpaksa dikorbankan apabila uang menjadi penunjang utama dalam mendirikan perkawinan.35

33 Departemen Agama RI, Al-Qur’an…, hal. 285 34Dimas Prawiro, “Implementasi…, hal. 64. 35Dimas Prawiro, “Implementasi…, hal. 69.

(16)

113

Pihak laki-laki tidak melangsungkan pesta pernikahan. Uang yang telah banyak dihabiskan kepada pihak perempuan membuatkan mempelai laki- laki tidak melangsungkan pesta pernikahan bagi pihaknya dan terdapat juga mempelai laki-laki yang membuat pesta pernikahan hanya sekadar memberi makan kue kepada tamunya berbeda dengan kebiasaan dilakukan, yaitu dengan menjamu nasi.36

3. Pandangan Fiqh Syᾱfi’iyyah Terhadap Pembebanan Uang Hantaran dalam Mahar Nikah

Dalam kitab Al-Umm, Imam Syᾱfi’i banyak menggunakan hadis-hadis Nabi saw sebagai landasan baginya dalam mengambil istinbat hukum sebagai seorang ulama yang diberi gelar Nasir Al-Sunnah, sudah tentu Imam Syᾱfi’i telah melakukan penyaringan terhadap hadis-hadis yang beliau gunakan. Oleh karenanya merupakan suatu yang menarik untuk diteliti tentang kesahihan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Syᾱfi’i. Terlebih lagi kaedah-kaedah dan dasar-dasar pensahihan dan pendha’ifan hadis itu sifatnya relatif. Nilai kebenarannya lebih banyak ditentukan oleh hasil ijtihad ulama yang bersangkutan.37

Menurut Imam Syafi‟i mengatakan bahwa mahar adalah sesuatu yang wajib diberikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan untuk dapat menguasai seluruh badannya. Sedangkan menurut Imam Maliki adalah mahar merupakan syarat sahnya nikah, bahkan Imam Maliki mengatakannya sebagai rukun nikah, maka hukum memberikannya adalah wajib.38 Hukum yang

digunakan oleh Imam Syᾱfi’i yaitu Imam Syᾱfi’i menyatakan bahwa pemberian hadiah atau uang hantaran yang terjadi pada pernikahan itu boleh dilaksanakan apabila Nabi saw memperbolehkannya yang berdasarkan hadis:

سلما

لالاح مرح وأ امارح لحأ اطرش لاإ مهطورش ىلع نومل

36 Fadzilah Kamsah dan Noralina, (PTS Litera Utama, 2007), hal. 69.

37M. Alfatis Suryadilaga (ed), Studi Kitab Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2003), hal. 298. 38Muhammad Bagir Al-Habsyi, Fiqih Praktis, (Mizan Media Utama: Bandung, 2002), hal. 3.

(17)

114

Artinya: Orang Islam itu menurut syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal.

Imam Syᾱfi’i memutlakkan makna hadis tersebut yaitu orang muslim boleh mensyaratkan segala hal, kecuali syarat yang menjadikan halalnya perkara yang haram atau haramnya perkara yang halal. Imam Syᾱfi’i juga menyatakan masalah pemberian hadiah atau uang hantaran dalam hadis yang lain yaitu:

ع الله ىلص الله لوسر نأ

حاكنلا ةمصع لبق ةدع وأ ءابح وأ قادص ىلع تحكن ةأرما ايمأ :لاق ملسو هيل

39

.هتخأو هتنبا لجرلا هيلع مركي ام قحأو هيطعأ نلم وهف حاكنلا ةمصع دعب ناك امو,اله وهف

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “Seorang perempuan yang hendak dinikahkan apabila diberikan sesuatu oleh calon suami baik berupa mahar, suatu pemberian atau suatu janji maka itu menjadi hak milik si perempuan begitu juga yang diberikan sesudah berlangsungnya pernikahan. Dan yang paling berhak diberikan kemuliaan kepada seseorang ialah anak perempuannya dan saudaranya.

Secara penelusuran literatur, penulis tidak menemukan nash Al-Qur’an baik yang bersifat qoth‟i maupun dzonni yang membahas tentang pemberian barang hantaran sebagai syarat perkawinan, begitupun dengan hadits, ijma’ maupun pembahasan pada kitab-kitab fikih klasik tidak ada yang menerangkan tentang barang hantaran sebagai syarat perkawinan, untuk itu peneliti akan menggunakan tinjauan al-‘Uruf (adat kebiasan) sebagai upaya pencarian hukum. Pelaksanaan tradisi pemberian barang hantaran walaupun tidak tercantum dalam hukum Islam, hal ini tidak bertentangan dengan syari‟at Islam dan tidak merusak akidah karena salah satu fungsi dari pemberian barang hantaran ini adalah sebagai tanda kesanggupan atau tanda bahwasannya mempelai laki-laki siap menjadi pemimpin dan memikul beban tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. Adat seperti ini disebut dengan al-‘Uruf al-Shahih yaitu adat yang baik, sudah benar dan bisa dijadikan pertimbangan hukum.

39 Teungku Muhammad Hasbi As-Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, (Semarang:

(18)

115

Adapun penetapan beberapa persyaratan untuk diterimanya ‘Uruf tersebut

adalah:

1. 1. Adat atau ‘Uruf itu bernilai maslahat dan dapat diterima oleh akal sehat

2. Adat atau ‘Uruf itu berlaku umum dan merata dikalangan orang-orang yang berada dalam lingkungan adat itu, atau dikalangan sebagian besar warganya.

3. ‘Uruf yang dijadikan sandaran dalam penetapan hukum itu telah berlaku pada saat itu, bukan ‘Uruf yang muncul kemudian. Hal ini berarti ‘Uruf itu harus telah ada sebelum penetapan hukum.

4. Adat tidak bertentangan dan melalaikan dalil syara’ yang ada atat bertentangan dengan prinsip yang pasti

5. ‘Uruf itu harus termasuk ‘Uruf yang shahih dalam arti tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.

Tradisi pemberian barang hantaran di dalam pernikahan menurut Islam yaitu:

a. ‘Uruf Shahih yaitu sesuatu yang saling dikenal oleh manusia, dan tidak bertentangan dalil syara’, tidak menghalalkan sesuatu yang diharamkan, dan tidak pula membatalkan sesuatu yang wajib. Tradisi pemberian barang hantaran di dalam pernikahan sudah menjadi adat masyarakat dan juga tradisi ini tidak bertentangan dengan dalil-dalil syara‟ ataupun tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang wajib.

b. ‘Uruf Fi’li yaitu kebiasaan yang berlaku dalam bentuk perbuatan Tradisi ini merupakan tradisi pemberian barang hantaran di dalam pernikahan berbentuk perbuatan yakni penyerahan barang hantaran yang biasanya berupa kasur, lemari, alat-mandi dan lain-lain yang bisa digunakan oleh pasangan suami istri apabila sudah menjadi pasangan suami istri yang sah. Biasanya pemberian barang hantaran ini biasanya dilaksanakan satu

(19)

116

minggu sebelum ijab qabul, tergantung kesepakatan keluarga kedua mempelai.

c. ‘Uruf Khusus yaitu kebiasaan yang dilakukan sekelompok orang ditempat tertentu atau pada waktu tertentu, tidak berlaku disemua tempat dan disembarang waktu.

Adapun dalil tentang kehujjahan al- ‘Uruf sebagai sumber hukum Islam adalah dalam surat al-A‟raaf ayat 199

















Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma‟ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (QS. al-A‟raaf 199).40

Ayat tersebut juga bisa dikategorikan sebuah isyarat agar manusia mengerjakan kebiasaan yang baik, kaidah menunjukkan pengertian bahwa perintah untuk melakukan perkawinan juga mengandung arti perintah untuk melakukan upaya agar tercapainya tujuan perkawinan, meskipun tidak diatur dalam Al-Qur’an dan sunnah.

D. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah penulis uraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat penulis ambil beberapa kesimpulan:

1. Uang hantaran merupakan suatu bentuk hadiah berupa uang tunai yang disetujui oleh kedua belah pihak keluarga yaitu keluarga calon mempelai perempuan dan keluarga calon mempelai laki-laki. Namun, uang hantaran bukan hak milik mutlak istri. Uang hantaran boleh diberikan kepada keluarga mempelai perempuan untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan. Yang paling penting adalah pemberian maskawin adalah wajib, namun pemberian uang hantaran adalah tidak wajib.

(20)

117

Pemberian uang hantaran adalah dengan melihat terhadap pendidikan, pekerjaan perempuan dan menurut kebiasaan jumlah ditetapkan di masyarakat tersebut. Seandainya calon mempelai perempuan mempunyai pendidikan yang tinggi, maka terhadap uang hantaran yang diminta juga tinggi. Misalnya perempuan yang ingin dinikahi merupakan lulusan S2, maka sudah pasti pembebanan yang diminta adalah sesuai dengan tingkat pendidikan anaknya. Melihat dari latar belakang keluarga perempuan, kebiasaannya calon mempelai perempuan merupakan keluarga yang kaya ataupun dari keluarga yang mempunyai nama dalam masyarakat, maka penetapan uang hantaran adalah tinggi. Ketetapan ini mungkin terjadi dikarenakan apabila laki-laki tersebut masuk ke dalam keluarga perempuan tersebut akan mendapat banyak manfaat serta akan mendapat nama dalam masyarakat.

2. Pandangan Fiqh Syᾱfi’iyyah terhadap pembebanan uang hantaran dalam mahar nikah berdasarkan syarat-syarat ‘Uruf shahih Karena tidak adanya pertentangan di antara ciri-ciri pelaksanaan praktek uang hantaran dengan syarat-syarat ‘urf sahih. Jadi, mengenai uang hantaran dibolehkan. Tetapi, apabila praktek ini telah berakibatkan penundaan perkawinan ketika ditetapkan pada jumlah yang tinggi, maka hukum uang hantaran tersebut tidak sesuai sebagaimana yang seharusnya berlaku.

(21)

118

DAFTAR PUSTAKA

A. Djazuli, Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan

Masalah-masalah yang Praktis, (Jakarta: Kencana, 2010),

Abd. Rahman Ghazali, Fikih Munakahat, “seri buku daras”, (Jakarta: Prenada Media, 2003),

Abdul Mudjib, Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqih, Cet. Ke-2, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, Cet. Ke-3 (Jakarta: Kencana, 2008), Muhammad Azhaa bin Haji Mustafa,“Uang Hantaran, (Jakarta: Mitra Pustaka,

2011),

Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini,

Sunan Ibnu Majah, (Riyadh: Darussalam, 1952),

Amin Nurudin, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada media, cet 1), 2004,

Beni Ahmad Saebani, Fiqh Munakahat, (Bandung: Pustaka Setia, 2003),

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Bandung: Diponegoro, 2005),

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke-3, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990),

Dimas Prawiro, “Implementasi Penetapan, (Jakarta: Pustaka Amani, 1989),

Dimas Prawiro, “Implementasi Penetapan, (Jakarta: Pustaka Amani, 1989), Fadzilah Kamsah dan Noralina, (PTS Litera Utama, 2007),

Hermawan Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian Buku Panduan Mahasiswa, (Jakarta: Gramedia, 1992),

Ibnu Rusyd, Terjemah Bidayatul Mujtahid, Penerjemah: M. A. Abdurrahman dan A. Harits Abdullah, (Semarang: CV. Asy. Syifa’, 1990), hal. 385.

Jasiman Ahmad, Perkawinan Tradisional, (Kuala Lumpur: Jade Green Publication Sdn. Bhd, 2001)

Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999),

(22)

119

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Bandung, 1995),

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja rosda karya, 2002),

M. Alfatis Suryadilaga (ed), Studi Kitab Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2003),

Muhammad Bagir Al-Habsyi, Fiqih Praktis, (Mizan Media Utama: Bandung, 2002),

Neong Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1992), Noresah Baharom, Kamus Dewan, Edisi Ke-3, Cet. Ke-5 (Selangor:Percetakan

Dewan Bahasa dan Pustaka, 2000).

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 2, trjmh. Nor Hasanuddin, Cet I, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006),

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993),

Teungku Muhammad Hasbi As-Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1997), hal. 98-99.

Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap, Cet. Ke-4, (Bandung: PT Raja Grafindo Persada, 2014),

Tim Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Baru, Cet. Ke-5 (Jakarta: balai pustaka, 2002),

Referensi

Dokumen terkait

Metode ini menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai kegiatan perhitungan pendugaan stok Lobster air tawar di Perairan Rawa Pening beserta aspek biologinya

Sistem imun pada penderita IBD terjadi secara abnormal dan kronis yang menyebabkan inflamasi dan ulserasi saluran cerna.. Beberapa faktor lain yang diduga

Simpulan yang dapat diambil dari Tugas Akhir ini adalah: 1) Telah berhasil dibuat jam digital yang berbasiskan microcontroller. 2) Terdapat selisih pada

1) Evaluasi terhadap penerapan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja. Evaluasi di PT. Indofood Sukses makmur Divisi Noodle Cabang Semarang dilakukan untuk mengetahui

Setelah dilakukan pewarnaan Gram dari koloni bakteri 20 sampel yang diduga Streptococcus yang diuji kemu- dian dilakukan pengamatan dengan menggunakan

Berbagai cara atau teknik alternatif yang digunakan untuk mencegah dan mengurangi respon kardiovaskuler yang berlebihan pada laringoskopi dan intubasi endotrakhea, antara

4.3 kerugian kerusakan atau biaya yang disebabkan oleh tidak memadainya atau tidak sesuainya pembungkus atau penyiapan obyek yang diasuransikan (untuk keperluan Klausul 4.3 ini,

Matakuliah ini merupakan pengenalan tentang pengertian, tujuan dan ruang lingkup, trayek pelayanan jasa angkutan umum, karakteristik pelayanan sistem angkutan umum