BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang melayani kesehatan masyarakat serta di dukung oleh instansi dan

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit merupakan suatu organisasi yang bergerak di bidang kesehatan yang melayani kesehatan masyarakat serta di dukung oleh instansi dan sumber daya yang berkualitas, salah satu sumber daya yang sangat berpengaruh adalah sumber daya manusia. Rumah sakit harus memberikan layanan yang berkualitas terhadap pelayanan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.659/MANKES/PER/VIII/2009 tentang Rumah Sakit Kelas Dunia menyatakan bahwa rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Pelayanan yang diberikan rumah sakit tentu tidak lepas dari tenaga kesehatan yang sangat berperan penting dalam menjalankan visi dan misi rumah sakit yaitu perawat. Perawat merupakan seseorang yang melakukan kontak langsung dengan pasien serta pertama kali yang harus selalu siap, cepat dan tanggap dalam menjaga keselamatan pasien. Perawat tidak hanya dituntut memberikan layanan secara medis tetapi etika dan kesabaran harus diutamakan dalam pelayanan kesehatan. Perawat juga merupakan tenaga medis yang memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat selama 24 jam (dalam Selvia, 2013).

(2)

Setiap manusia pasti akan mengalami permasalahan dalam rentang kehidupannya, apapun yang akan dijalankan dan dilalui pasti akan ada resiko dan hambatan-hambatan yang menghalangi apa yang menjadi tujuan. Hal itu akan menimbulkan stres, begitu juga dengan sebuah pekerjaan yang akan dikerjakan, jika tidak mendapatkan solusi dari permasalahan yang dihadapi maka akan mengakibatkan timbulnya stres. Dan Allah SWT telah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 :                                                        

Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir" (Q.S. Al-Baqarah 286).

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupan yang dimiliki oleh hamba-hamba-Nya tersebut, manusia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diusahakannya, begitu juga dalam menghadapi sebuah pekerjaan yang dapat menimbulkan stres. Stres yang dialami oleh setiap orang pasti berbeda-beda, begitu juga dengan stres

(3)

yang dialami oleh perawat yang bekerja berdasarkan shift kerja di sebuah rumah sakit.

Rumah sakit umumnya berusaha memberikan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas dan semua itu tidak terlepas dari kerja keras perawat. Perawat dituntut dalam bertugas diantaranya bekerja cepat, tepat, disiplin, kesiapan fisik dan psikologis dalam menghadapi banyak pasien, yang pastinya menemukan bermacam-macam kendala yang dialami oleh perawat setiap hari. Semakin besar tuntutan kerja pada perawat maka akan berpengaruh terhadap kondisi kerja perawat salah satunya adalah perawat mengalami stres kerja. Dimana stres kerja tersebut bisa disebabkan oleh beberapa gejala-gejala stres yaitu gejala fisiologis, gejala psikologis, dan gejala perilaku.

Stres merupakan respon organisme untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan yang berlangsung. Tuntutan-tuntutan ini bisa jadi berupa hal-hal yang faktual saat itu, bisa juga hal-hal yang baru mungkin akan terjadi, tetapi dipersepsi secara aktual (dalam Sutardjo, 2005:44). Misalnya, ketika dituntut untuk menyelesaikan suatu pekerjaan secepatnya, namun di dalam benak sudah ada bayangan bahwa tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu yang telah ditentukan tersebut, padahal belum mencobanya sama sekali. Pikiran yang seperti inilah yang akan mengakibatkan seseorang menjadi stres.

Pengertian dasar stres adalah tegangan yang terdapat atau terjadi pada seseorang sebagai akibat dari adanya sumber ketegangan. Stres biasanya dianggap sebagai istilah negatif, stres dianggap terjadi karena disebabkan oleh sesuatu yang buruk. Namun tidak selalu berarti demikian, karena stres yang dimaksud di sini

(4)

adalah stres kerja yaitu suatu bentuk interaksi individu terhadap lingkungannya. Stres mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif stres adalah pada tingkat rendah sampai pada tingkat tinggi yang bersifat fungsional dalam arti berperan sebagai pendorong peningkatan kinerja karyawan. Sedangkan pada dampak negatif stres pada tingkat yang tinggi adalah penurunan pada kinerja karyawan secara drastis.

Menurut Kavaganh, Hurst, dan Rose (1990) (dalam Wijono, 2010:122), stres kerja merupakan suatu ketidakseimbangan persepsi individu terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan. Kemudian, stres kerja dapat disimpulkan sebagai suatu kondisi dari hasil penghayatan subjektif individu yang dapat berupa interaksi antara individu dan lingkungan kerja yang dapat mengancam dan memberi tekanan secara psikologis, fisiologis, dan sikap individu.

Smith (1981) (dalam Wijono, 2010:119-120) mengemukakan bahwa konsep stres kerja dapat di tinjau dari beberapa sudut, pertama stres kerja merupakan hasil dari keadaan tempat kerja. Contoh keadaan tempat bising dan ventilasi udara yang kurang baik, hal ini akan mengurangi motivasi karyawan. Kedua, stres kerja merupakan hasil dari dua faktor organisasi yaitu keterlibatan dalam tugas dan dukungan organisasi. Ketiga, stres terjadi karena faktor “workload” juga faktor kemampuan melakukan tugas. Keempat, akibat dari waktu kerja yang berlebihan. Kelima, adalah faktor tanggung jawab kerja. Terakhir, tantangan yang muncul dari tugas.

(5)

Sedangkan Heilriegel & Slocum (1986) (dalam Wijono, 2010: 120) mengatakan bahwa stres kerja dapat disebabkan oleh empat faktor utama yaitu:

1. Konflik

2. Ketidakpastian 3. Tekanan dari tugas

4. Hubungan dengan pihak manajemen.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa stres kerja merupakan umpan balik atas diri karyawan secara fisologis maupun psikologis terhadap keinginan atau permintaan organisasi. Kemudian, dikatakan pula bahwa stres kerja merupakan faktor-faktor yang dapat memberi tekanan terhadap produktivitas dan lingkungan kerja serta dapat mengganggu individu tersebut. Stres kerja yang dapat meningkatkan motivasi karyawan dianggap sebagai stres yang positif (eustress). Sebaliknya, “stressor” yang dapat mengakibatkan hancurnya produktivitas kerja karyawan dapat disebut sebagai stres negatif (distress).

Dewan Internasional Keperawatan (International Council of Nursing/ICN) menyatakan bahwa pelayanan kesehatan diberikan 24 jam per hari sehingga perlu shift kerja. Banyak keluhan akibat shift kerja seperti gangguan tidur, selera makan menurun, gangguan pencernaan dan kelelahan.

Shift kerja merupakan periode waktu kerja yang dibagi secara bergilir dalam waktu 24 jam. Pekerja yang terlibat dalam sistem shift rotasi akan berubah-ubah waktu kerjanya sesuai dengan sistem kerja shift yang ditentukan. Pemberlakuan sistem shift kerja dapat mempengaruhi jam biologis tubuh. Fungsi-fungsi tubuh meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari.

(6)

Pemberlakuan shift malam pada pekerja dapat mempengaruhi jam biologis tubuh yang selanjutnya akan berdampak pada respon fisiologis tubuh, efek sosial, efek kerja, dan efek terhadap keselamatan kerja (Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2015).

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres kerja yaitu faktor intrinsik dalam pekerjaan, peranan dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan interpersonal dalam pekerjaan (hubungan antar tenaga kerja), struktur, dan iklim organisasi (Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2015).

Menurut Cooper (dalam Munandar, 2001) Faktor intrinsik dalam pekerjaan yang dapat menyebabkan stres yaitu berupa tuntutan tugas. Tuntutan tugas dalam pekerjaan meliputi: beban kerja, shift kerja, jam kerja, dan rutinitas. Penerapan sistem shift dalam pekerjaan dapat memicu terjadinya stres kerja. Pembagian jam kerja secara bergilir biasa disebut dengan kerja shift. Menurut Wijaya, dkk bahwa shift kerja dapat berperan penting terhadap permasalahan pada manusia yang dapat meluas menjadi gangguan tidur, gangguan fisik, gangguan psikologis, dan gangguan sosial serta kehidupan keluarga (dalam Selvia, 2013).

Shift kerja sebagai sebuah pola waktu kerja yang diterapkan kepada pekerja ternyata memiliki dampak yang cukup besar terhadap pekerja. Dalam instansi rumah sakit terdapat beberapa pekerjaan yang harus dilakukan terus menerus selama 24 jam. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga kerja yang lebih dari satu orang untuk melakukan pekerjaan yang sama dalam satu yang berbeda sehingga 24 jam kerja harus terpenuhi.

Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo juga memiliki pembagian shift kerja pada karyawan, terutama pada perawatnya yaitu selama 24 jam yang terdiri

(7)

dari shift pagi pada Pukul 08.00-16.00 WIB, shift sore pada Pukul 16.00-00.00 WIB, dan shift malam pada Pukul 00.00-08.00 WIB.

Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo awalnya terbentuk dari Badan Kesehatan Rakyat BKR yang anggotanya diambil dari Kesehatan Militer Belanda dan barisan Palang Merah Indonesia serta Sukarelawati Indonesia. Setelah ikut menghadapi Agresi militer belanda ke I dan II Dr. Reksodiwiryo dinilai mempunyai kemampuan menonjol untuk memajukan dan meningkatkan perjuangan khususnya di dalam perjuangan kesehatan. Karena jasa perjuangan Dr. Reksodiwiryo di Sumatera Tengah sangat banyak dan berhasil, terutama di bidang kesehatan,, maka rumah sakit tentara padang di beri nama Rumah Sakit Tentara Dokter Reksodiwiryo. Rumah sakit memiliki memiliki visi dan misi dalah satunya yaitu menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada parajurit, PNS, dan keluarganya serta masyarakat umum secara professional serta memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan profesional (Detasemen Kesehatan Wilayah 01.04.04 Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang).

Hasil data yang didapat penulis pada tanggal 27 Maret 2016, bahwasanya luas lokasi Rumah Sakit TK. III ini 4 Ha, jumlah tempat tidur 130 TT (tempat tidur) yaitu: VIP: 20 TT (tempat tidur), Kls I: 22 TT (tempat tidur), Kls II: 34 TT (tempat tidur), Kls III/Zaal: 40 TT (tempat tidur), Paviliun: 10 TT (tempat tidur), dan ICCU:4 TT (tempat tidur). Di dalamnya terdapat beberapa ruangan perawat dan pembagian shift kerja perawat. Sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut ini :

(8)

Tabel 1.1

Ruangan Perawat dan Shift Kerja Perawat Rumah Sakit TK. III Dr. Resksodiwiryo Padang

No Ruangan Perawat Shift Kerja Jumlah Perawat

Pagi Sore Malam

1 VIP 6 5 5 16 Orang

2 RU. II 6 5 5 16 Orang

3 RU. III 6 5 5 16 Orang

4 RU. IV 6 4 4 14 Orang

5 RU. V 6 4 4 14 Orang

6 R.A. YANI 6 5 4 15 Orang

7 RU. HCU 6 4 4 14 Orang

8 RU. Pav HWS 6 5 5 16 Orang

Jumlah 121 orang

Sumber : Administrasi Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.HK.02.02/MENKES/148/1/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktek Perawat, defenisi perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai peraturan perundang-undangan. Seorang perawat dituntut untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena itu perawat dituntut untuk lebih profesional agar kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan semakin meningkat. Semakin meningkatnya tuntutan tugas yang dimiliki oleh seorang perawat, maka akan menyebabkan timbulnya gejala-gejala stres kerja pada perawat itu sendiri.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh perawat yang bekerja pada shift pagi di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo yang berinisial M, berikut ini:

“Saya bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit ini baru 1 tahun. Kendala masuk kerja pagi itu biasanya cuaca yang kadang tidak bersahabat seperti hujan dan lupa sarapan. Kemudian kalau ada masalah di rumah, ya cukup ditinggal di rumah saja. Kalau cara menyesuaikan diri dengan pasien itu terlebih dahulu saya memperkenalkan diri dan jalin hubungan kerja sama yang baik dengan pasien yaitu dengan memberikan pelayanan prima, sehingga

(9)

pasien senang dan percaya pada perawat. Kami dituntut untuk lebih cepat dan tanggap dalam melayani pasien, jika terlambat sedikit bisa-bisa akan berdampak buruk untuk pasien, bahkan tidak itu saja jika terlambat sedikit akibatnya sangat fatal yaitu nyawa pasien akan melayang. Terkadang saya sering merasakan tidak nyaman dan rasa terganggu dengan kondisi atau keadaan ruangan karena ventilasi (sirkulasi) udara kurang baik, serta pendingin ruangan yang sering tidak menyala, jumlah pasien yang masuk tidak seimbang dengan perawat yang bertugas”(wawancara, 11/04/2016 Pukul 09.00 WIB).

Selain itu, penulis juga mewawancarai perawat yang bekerja pada shift sore di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo yang berinisial L, berikut ini:

“Saya bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit ini sudah 3 tahun. Saya bekerja disini masuk sore hari, kendala yang saya hadapi di sini lumayan banyak seperti pasien yang kedatangannya tidak terduga, kesusahan mereka dari yang sakitnya biasa-biasa saja sampai yang kritis. Apalagi jika kita mendapat pasien yang sangat kritis kita harus memiliki stamina yang cukup bagus, konsentrasi yang tinggi karena bekerja sore sangat menyita tenaga, rasa kantuk yang sangat kuat harus bisa kita kendalikan. Waktu sore kita membutuhkan konsentrasi yang tinggi dalam memantau keadaan pasien apa lagi dalam persalinan atau dalam menghadapi pasien yang kritis. Saya yang bertugas pada sore hari sangat merasa kelelahan, dan kantuk yang luar biasa karena rutinitas pagi juga banyak jadi tidak ada waktu saya untuk mempersiapkan stamina yang cukup banyak”(wawancara, 11/04/2016 Pukul 14.00 WIB).

Selain itu, penulis juga mewawancarai perawat yang bekerja pada shift malam di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo yang berinisial S, berikut ini:

“Saya sudah bekerja di Rumah Sakit ini lebih kurang 4 tahun. Kalau yang menjadi kendala bekerja pada shift malam itu adalah ngantuk karena malam itu kan waktu yang biasanya banyak digunakan untuk tidur. Bekerja malam banyak sekali berdampak pada fisik saya yaitu fisik mudah lelah, mengantuk yang terkadang sangat sulit untuk ditahan, mudah pusing bahkan mual-mual karena angin malam. Dampak dari kondisi psikologis juga banyak saya rasakan, dimana saya harus cepat dan profesional dalam bekerja, mencek pasien setiap saat bahkan dalam saat mengantukpun saya harus siap dalam melayani pasien. Dimana jumlah pasien yang masuk sangat banyak jadi butuh tenaga yang ekstra dan berusaha memberikan tempat

(10)

untuk setiap pasien yang masuk” (wawancara, 11/04/2016 Pukul 19.30 WIB).

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa ternyata perawat yang bekerja pada shift pagi, perawat yang bekerja pada shift sore, dan perawat yang bekerja pada shift malam di Rumah Sakit TK.III Dr. Reksodiwiryo Padang memiliki gejala stres kerja yang berbeda-beda. Diantaranya ada yang stres karena ketika jumlah pasien banyak dan semuanya memerlukan penanganan, ditambah lagi alat yang di butuhkan belum ada di ruangan tersebut, dan ini termasuk kepada gejala perilaku. Ada yang stres karena harus berhadapan dengan pasien yang datangnya tidak terduga, ditambah lagi dengan pasien yang lainnya juga banyak yang memerlukan penanganan, dan ini termasuk kepada gejala psikologis. Dan ada yang stres karena harus melayani pasien secara ekstra bahkan sekalipun dalam keadaan lelah dan mengantuk, dan ini termasuk kepada gejala fisiologis.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perbedaan Gejala Stres Kerja Pada Perawat Berdasarkan Shift Kerja di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas penulis perlu menjelaskan apa yang menjadi rumusan masalah penelitian. Adapun yang menjadi rumusan dalam penelitian ini adalah “adakah perbedaan gejala stres kerja pada perawat yang bekerja berdasarkan shift kerja di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang?”.

(11)

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian yang menjadi batasan-batasan masalah adalah sebagai berikut:

1. Gejala stres kerja perawat yang bekerja pada shift pagi di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

2. Gejala stres kerja perawat yang bekerja pada shift sore di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

3. Gejala stres kerja perawat yang bekerja pada shift malam di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

4. Perbedaan gejala stres kerja perawat yang bekerja berdasarkan shift pagi, shift sore, dan shift malam di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

D. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui gejala stres kerja perawat yang bekerja pada shift pagi di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

2. Untuk mengetahui gejala stres kerja perawat yang bekerja pada shift sore di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

3. Untuk mengetahui gejala stres kerja perawat yang bekerja pada shift malam di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

(12)

4. Melihat perbedaan gejala stres kerja perawat yang bekerja pada shift pagi, shift sore, dan shift malam di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat dalam pengembangan ilmu psikologi dan penelitian. Khususnya mengenai gejala stres kerja pada perawat berdasarkan shift kerja di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi pemimpin Rumah Sakit, penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai perbedaan gejala stres kerja pada perawat yang bekerja pada shift pagi, shift sore dan shift malam di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

b. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa dan praktisi pendidikan sebagai bahan informasi untuk mengatahui dan mengkaji tentang gejala stres kerja pada perawat berdasarkan shift kerja di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

3. Manfaat Bagi Peneliti

a. Sebagai bahan informasi mengenai perbedaan gejala stres kerja perawat berdasarkan shift kerja di Rumah Sakit TK. III Dr. Reksodiwiryo Padang.

(13)

b. Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi Islam (S. Psi) pada Jurusan Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang.

F. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam penulisan skripsi ini, maka penulis akan menyusun secara sistematis ke dalam beberapa BAB sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menggambarkan latar belakang dari permasalahan yang dibahas, menguraikan batasan masalah dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan tentang landasan teori tentang pengertian stres kerja, gejala-gejala stres, sumber stres, faktor yang mempengaruhi sumber stres, jenis stres kerja, pengertian perawat, peran perawat, hubungan kerja perawat-pasien, shift kerja, penelitian relevan, kerangka konseptual, dan hipotesis penelitian.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang jenis penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik

(14)

pengumpulan data, teknik analisis data, uji coba instrumen, dan analisis data.

BAB IV : HASIL PENELITIAN

Pada bab ini memaparkan mengenai penelitian, pelaksanaan penelitian, deskripsi data penelitian, deskripsi hasil penelitian, hasil analisis data dan pembahasan.

BAB V : SIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dan saran mengenai penelitian yang telah dilakukan bagi pengembangan profesi auditor dimasa depan.

(15)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :