Kompresor aksial dapat menghasilkan laju aliran massa udara yang tinggi dengan luas bidang frontal yang kecil, maka kompresor aksial sangat cocok untuk turbin gas pada sistem propulsi pesawat terbang. Berbagai penelitian dan pengembangan terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi kompresor, dimana salah satu penyebab rendahnya efisiensi adalah kerugian energi akibat aliran
sekunder pada
kompresor yang mencapai 50% dari total kerugian energi. Aliran sekunder terbentuk di
sekitar pada dan yang
diakibatkan adanya interaksi antara lapisan
batas sudu dengan
lapisan batas atau lapisan batas dimana fenomena ini disebut sebagai aliran tiga dimensi. Terbentuknya aliran sekunder akan diikuti
dengan penyumbatan aliran ,
perubahan sudut defleksi dan konstraksi aliran ke arah serta timbulnya kerugian (secondary flow) cascade
endwall hub casing
(blade boundary layer)
casing hub
(casing-hub boundary layer)
(blockage effect) mid span
sekunder sebagai efek
terbesar. Oleh karena itu penelitian mengenai fenomena separasi aliran tiga dimensi perlu dilakukan dalam rangka mengurangi s yang terjadi akibat aliran sekunder.
Kaskade kompresor tanpa , wujud fisiknya dalam kompresor aksial terdapat pada hubungan yang antara dengan pangkal sudu rotor untuk sudut stagger lemah.
Pada penelitian dengan harga sudut stagger yang lemah (<45°), hampir semua penelitian menemukan fenomena yang sama
dan dikenal sebagai . Hasil
penelitian Storer [1] dengan = 22.5º, = 45.5º dan Kang [2] dengan = 10º, = 45º serta Hubner [3] dengan = 32.5º, = 48º menunjukaan gejala tiga dimensi berupa aliran sekunder dekat dan yang membuat terhadap aliran primer sehingga aliran berkonsentrasi menjauhi . Fenomena itu terbentuk di bagian pada
(secondary losses)
losse tip-clearance
rigid hub
Corner Stall Theory
vortex casing hub blockage wall hub λ θ λ θ λ θ
Stagger Lemah, Dengan dan Tanpa Tip Clearance
Alief Wikarta, Herman SasongkoJurusan Teknik Mesin, FTI - ITS Surabaya Kampus ITS, Keputih, Sukolilo, Surabaya, 60111
Telp.: 031-5963007, Fax.: 031-5922941 E-mail: [email protected]
Diterima 13 Juni 2006; diterima terkoreksi 2 Agustus 2006; disetujui 15 Agustus 2006
Abstract
End-wall region in low staggered axial compressor cascade is a region where the secondary flow happened. At a configuration without tip clearance, the secondary flow is formed by interaction of cross passage flow with curl flow. While for the configuration with tip clearance, the secondary flow is formed by the interaction of passage vortex with tip clearance flow. The major effect of the secondary flow is an incidence of secondary vortices. Based on that idea, this research is conducted to visualize the secondary flow using experimental and numerical studies. Experimental studies were performed using oil flow visualization, while the numerical study was performed using commercial software “Fluent 6.0” applied to three dimensional cascade model. Flow visualization results show that the increase in blade loading form the stronger cross passage, curl, and tip clearance flows. Comparing with the lower camber results, the present results also show the increase in strength of cross passage and curl flows. The static pressure distribution at the end-wall and span is obtained from numerical simulation, and can be used as basic analysis for the formulation of the secondary flow.
Secondary flow, compressor cascade, strong camber angle, oil flow picture, static pressure distribution.
Keywords:
sudut dekat karena adanya tubrukan aliran secara frontal antara
dengan dalam arah yang
berlawanan. Akhirnya tubrukan dari kedua a l i r a n y a n g m a s i n g - m a s i n g m e m i l i k i momentum dan arah yang berbeda tersebut akan menghancurkan aliran energi dekat
dan mengakibatkan harga ) dari aliran di
hanya sedikit lebih besar dari satu. Hasil penelitian Sasongko [4] untuk stagger = 30°
menunjukkan fenomena dan
secara jelas seperti pada gambar 1. Kaskade kompresor dengan
, wujud fisiknya dalam kompresor aksial terdapat pada daerah antara ujung sudu stator dengan untuk sudut stagger lemah.
Hasil penelitian [1], [2] dan [3] dengan menunjukkan bahwa terjadi
pembentukan
bersama-sama dalam arah perputaran
satu sama lain yang berlawanan sehingga terjadi efek timbal balik antara keduanya. Intensitas dari efek timbal balik itu tergantung
trailing edge
passage
vortex curl flow
cascade wall Axial
Velocity Ratio (AVR mean radius
passage vortex curl flow tip-clearance (tip) hub tip clearance
tip clearance vortex passage vortex
λ
dari intensitas yang pada
prinsipnya sangat dipengaruhi oleh besarnya yang diberikan. Semakin besar
maka akan
semakin mendominasi aliran dekat sehingga
material yang semula terpusat di sudut belakang sekarang terpusat di
pusat . Pola aliran dan
kronologi terjadinya aliran sekunder berupa pada diilustrasikan dengan baik oleh Kang dan Hirsch [5] pada gambar 2. Kang dan Hirsch memilih NACA 65-(18)10 dengan sudut stagger lemah. Sedangkan tip clearance flow diilustrasikan oleh Inoue [6] pada gambar 3.
Penelitian ini akan difokuskan pada pemodelan secara numerik dan visualisasi
dengan menggunakan untuk
aliran sekunder pada kaskade kompresor aksial berprofil British 9C7/42.5C50 stagger lemah dengan dan tanpa Hasil penelitian ini akan memberikan suatu tambahan informasi mengenai pengaruh penambahan
tip clearance vortex tip clearance
tip clearance tip clearance vortex cascade wall low energy boundary layer
suction side tip clearance vortex vortex tip clearance
blade oil-flow picture endwall tip-clearance. blade loading (a) (b)
Gambar 1. Aliran tiga dimensi untuk = 30 = 18 c/l = 0; (a) Oil flow picture, (b) Sketsa aliran tiga dimensi [4].
dihasilkan dapat dilihat pada gambar 4 dan 5;
2. Models. Merupakan pemodelan jenis penyelesaian yang digunakan yaitu
dan . Model turbulen yang dipakai adalah k- Realizable;
1. Membuat campuran untuk pemolesan pada daerah yang telah ditentukan, yaitu dari
dan dengan perbandingan 1:8:1;
double precision segregated
titanium powder, palm oil tinner ε
3. Materials. Merupakan penetapan jenis material yang akan digunakan, yaitu udara
dengan 1,225 kg/m dan
1,7894x10 kg/m.s;
4. Operating Condition. Merupakan perkiraan kondisi daerah operasi yang biasanya merupakan perkiraan tekanan pada daerah operasi, yakni sebesar 101325 Pascal;
5. B o u n d a r y C o n d i t i o n . M e r u p a k a n penentuan parameter-parameter dan batasan yang mungkin terjadi pada aliran. Kondisi batas menggunakan harga
sekitar Re =3,286.10 ; 6. Solution. Adalah tahap penyelesaian
masalah berupa proses iterasi hingga mencapai harga
yang diinginkan, dalam penelitian ini harganya sebesar 10 ;
7. Postprocessing. Merupakan penampilan hasil serta analisa terhadap hasil yang telah diperoleh. Pengunaan model numerik dapat menghasilkan kontur koefisien tekanan statis dan .
Visualisasi aliran merupakan cara untuk mengetahui secara nyata (kasat mata) fenomena aliran sekunder yang terjadi pada kaskade kompresor. Prosedur pengambilan visualisasi adalah sebagai berikut:
density viscouscity inlet Reynolds Number convergence criterion pathlines 3 5 5 -3 c pada sudu yang memiliki besar dan
pengaruh adanya terhadap pola aliran yang terjadi. Jika selama ini penelitian yang telah ada menunjukkan dengan
penambahan menyebabkan
yang kuat maka pada penelitian ini adanya yang besar akan menjadikan terbentuk semakin kuat lagi. Apalagi dengan adanya akan menyebabkan aliran sekunder yang terjadi sangat hebat karena terdapat gabungan dari
terhadap
Pemodelan secara numerik dapat memperjelas diskripsi aliran yang terjadi sehingga dapat menambah data base mengenai aliran sekunder pada kaskade kompresor aksial.
Perangkat lunak
(CFD) yang digunakan dalam penelitian numerik adalah program Fluent 6.0. Langkah-langkah dalam penggunaan CFD adalah sebagai berikut:
camber clearance
blade loading cross
passage flow camber cross passage flow
clearance tip clearance flow cross passage flow.
Computational Fluid Dynamics
METODE PENELITIAN
1. Grid. Pada langkah ini kita mengimport grid yang telah kita buat dulu pada Gambit. Bentuk yang
software meshing
Gambar 2. Skema aliran di daerah tip-clearance
2. Memasang benda uji pada lorong angin dengan pemasangan secara vertikal; 3. Memoleskan campuran yang telah dibuat
ke daerah yang telah ditentukan;
4. Menghidupkan sesuai dengan kecepatan sebesar 30 m/s (putaran 1340 rpm) sampai terbentuk pola-pola aliran sekunder pada permukaan model; 5. Mematikan dan mengeluarkan model
dari lorong angin;
6. Melakukan pemotretan pada model yang telah dikeringkan.
Perubahan menyebabkan
perubahan pola aliran sekunder di
kaskade kompresor. Hasil pemodelan numerik dan visualisasi eksperimen yang dilakukan Djanali [7] dengan menggunakan profil sudu British 9C7/32,5C50 dapat dipergunakan sebagai pembanding.
Pada gambar 6 dan 7 hasil eksperimen untuk yang tanpa , terlihat bahwa pada pemberian pembebanan yang sama menghasilkan fenomena menarik yaitu
semakin besar maka semakin
kuat pula intensitas di
dan di . Analisa
mengenai hal ini harus kembali pada dasar 2D kontur isobar dan dari sudu tersebut. Sudu yang memiliki
lebih besar (lebih lengkung) akan memiliki perbedaan tekanan maksimum dan m i n i m u m y a n g s e m a k i n b e s a r s e r t a pembentukan 2D yang semakin ke depan. Kedua hal itulah yang menyebabkan aliran sekunder 3D yang terbentuk semakin hebat.
Gambar 8a, 8b, dan 8c menunjukkan fan fan fan camber angle endwall clearance camber angle
cross passage flow blade passage curl flow trailing edge
history history wake
camber angle
wake
PEMBAHASAN
bahwa dengan adanya kenaikan membuat lokasi
mengalami pergeseran yang semakin menuju dan menjauhi sudu itu sendiri. Ini dikarenakan, aliran pada
dipaksa untuk melalui daerah percepatan
sedangkan aliran pada harus
melintasi daerah pembebanan yang semakin membesar sehingga energi yang digunakan. juga akan semakin besar. Akibat semakin besarnya energi yang dihabiskan untuk
melewati dan ini maka
aliran harus terseparasi lebih awal agar mampu melintasi . Selain itu lengkung cabang
berupa yang
mengarah ke sudu di sebelahnya akan memiliki yang semakin kuat dengan
penambahan . Pada daerah
, intensitas yang terjadi juga semakin menguat terlihat dengan semakin
melengkungnya dekat .
Untuk memprediksi pola aliran sekunder di belum cukup dengan hanya melihat
goresan yang terbentuk.
Sebagaimana diketahui bahwa di daerah kondisi aliran dapat dikatakan sama dengan aliran melintasi lorong sudu tanpa adanya atau berupa aliran dua dimensi. Aliran yang jauh dari dinding ini memiliki momentum yang sangat besar sehingga mudah melewati lengkung sudu dengan kejadian aliran dipercepat sampai titik optimum, kemudian mengalami perlambatan sampai terjadi separasi dua dimensi. Semakin mendekati dinding maka aliran akan terpengaruh oleh lapisan batas selain lapisan batas sudu. Aliran yang terkena angle of attack forward saddle point lower side leading edge
upper side lower side
upper side lower side nose
separation line cross passage flow upper side
slope
angle of attack exit
cascade curl flow
curl flow trailing edge endwall
shear stress line midspan
wall
wall
pengaruh lapisan batas akan mengalami hambatan sehingga momentumnya jadi kecil, padahal diketahui bahwa aliran akan bergerak dari daerah kaya energi menuju daerah miskin energi. Dalam hal ini momentum aliran pada yang kecil tidak akan banyak berperan dalam pergerakan aliran. Oleh karena itulah tekanan statis menjadi faktor yang sangat dominan dalam menentukan pergerakan aliran. Analisa kontur koefisien tekanan statis (isobar) yang didapat dari simulasi numerik seperti gambar 9 akan sangat membantu memprediksi aliran sekunder.
Pada , harga
tekanannya masih cenderung konstan karena aliran belum mengalami gangguan. Memasuki , aliran yang semula bergerak dalam satu koloni terbagi menjadi dua kelompok mengarah ke dua daerah yang berbeda, yaitu daerah bertekanan rendah dan daerah bertekanan tinggi. Daerah tekanan rendah terletak pada bagian tengah
sudu yang ditunjukkan oleh warna biru. Daerah tekanan tinggi terletak pada bagian
sudu mulai dari sampai ke
. Di depan dapat
ditemukan adanya melingkar yang memiliki harga tekanan statik yang lebih besar dari tekanan statik di sekitarnya. Hal ini
wall
endwall
inlet cascade wall region
blade cascade wall region
upper side lower side leading edge
trailing edge leading edge contour line
menunjukkan adanya fenomena seolah-olah di daerah ini aliran dihentikan secara mendadak,
kemudian terbentuk .
Fenomena ini pada akan
terdeteksi sebagai
Pada daerah antara dua yaitu
dan sudu di
bawahnya terdapat perbedaan tekanan. Ini memungkinkan adanya aliran yang mengarah
dari sudu atas menuju
sudu bawah. Pada kejadian inilah yang terdeteksi sebagai
. Di daerah sekitar
masih terlihat pola kontur isobar bertekanan rendah sedangkan pada daerah nya terbentuk area bertekanan tinggi. Akibatnya adalah terjadi aliran memutari
dari menuju . Fenomena
ini merupakan kejadian yang bisa menjelaskan terjadinya .
Kontur isobar pada gambar 9 dan 10 dapat digunakan untuk memperkirakan arah aliran fluida berdasarkan kecenderungan fluida mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan lebih rendah. Atau dengan kata lain, kontur isobar yang ditunjukkan pada daerah untuk tanpa
merupakan suatu sebab terjadinya aliran local stagnation pressure
oil flow picture saddle point.
blade pressure side suction side
pressure side suction
side oil flow picture
cross passage flow upper side trailing edge
lower side trailing edge lower side upper side
curl flow
endwall tip clearance
Gambar 6. Oil flow picture ( = 32,5º = 30º = 4º c/l =0%) [7].θ γ
sekunder bukan merupakan suatu akibat. Penjelasannya sebagai berikut, pada gambar 10 terlihat bahwa kontur isobar pada identik dengan kontur isobar pada meskipun levelnya berbeda. Ini menunjukkan bahwa kontur isobar sepanjang secara kualitatif adalah sama. Padahal karakteristik aliran yang ditunjukkan pada sangat berbeda dibandingkan pada
, misalnya yang
terjadi pada tidak terjadi pada . Pada aliran yang memasuki sudu adalah aliran yang kaya energi sehingga kontur isobar tidak berpengaruh terhadap aliran dan aliran mampu melewati lorong sudu dengan baik. Sedangkan pada endwall, aliran dekat dinding adalah aliran yang miskin energi atau momentum kinetiknya sangat rendah sehingga kontur isobar sangat mempengaruhi aliran tersebut.
Gambar 11 menunjukkan hasil visualisasi aliran dan prinsip topologi yang didapat dari
analisa pada untuk
4 , 8 dan 12 dengan Gambar11a, 11b dan 11c menunjukkan bahwa dengan pembebanan yang lebih besar ( lebih besar), titik separasi akan bergeser ke arah depan dan daerah
menjadi semakin luas. Hal ini disebabkan aliran semakin tangensial sehingga aliran yang memasuki dipercepat, akibatnya
tidak lagi hanya terjadi di daerah tetapi meluas ke arah . midspan
endwall span midspan
endwall cross passage flow endwall
midspan midspan
skin friction line endwall
angle of attack tip
clearance.
angle of attack
jet flow
tip clearance
jet flow tip
clearance leading edge
º º º
Meningkatnya intensitas menyebabkan
dengan menjadi
semakin kuat dan semakin jauh dari
sehingga yang terjadi
juga semakin hebat. Selain itu, kuatnya
intensitas akan
menyebabkan lintasan semakin ke atas atau tangensial. Hal ini disebabkan
akan semakin mendesak ke atas. yang semakin tangensial ini juga menyebabkan posisi titik separasi di dekat bergeser maju semakin mendekati bagian tengah sudu. Analisa kontur koefisien tekanan yang didapat dari simulasi numerik seperti gambar 12 akan sangat membantu memprediksi aliran sekunder dekat
Kontur koefisien tekanan yang diperoleh dari hasil numerik untuk konfigurasi kaskade dengan pada menunjukkan bahwa distribusi tekanan terbagi menjadi dua daerah yaitu daerah bertekanan rendah dan daerah bertekanan tinggi.
Daerah tekanan rendah menguasai hampir di semua daerah hingga daerah di atas , dimana daerah tekanan minimum berada di daerah
. Daerah tekanan tinggi menguasai sudu hingga ke bagian belakang sudu. Tekanan minimum yang berada di daerah sudu yang bersangkutan menyebabkan terjadinya
yang dipercepat menjadi dan
mengalami membentuk
jet flow rolling up passage flow
suction side tip clearance vortex
tip clearance flow vortex jet flow passage flow Jet flow trailing edge endwall cascade compressor. tip clearance cascade wall tip clearance suction side tip clearance lower side suction side
tip clearance flow jet flow
rolling up tip
(a)α= 4º (b)α= 8º (c)α= 12º
clearance vortex
suction side Tip
clearance vortex jet
flow tip
tip trailing edge
tip clearance vortex suction side tip clearance endwall midspan tip trailing edge
tip clearance vortex
tip trailing edge
vortex
vortex
yang arahnya membujur dari ke belakang lorong sudu.
yang dipercepat menjadi pada mengakibatkan tekanan pada
bagian dekat menjadi sangat
rendah. Pada grafik kontur isobar, ini ditandai dengan adanya tonjolan-tonjolan pada daerah kontur di atas
hingga ke belakang.
Pada aliran dengan , kontur isobar pada berbeda dengan pada , seperti gambar 13. Perbedaan itu terletak pada bagian dan tonjolan-tonjolan
di dekat sampai di belakang
lorong sudu, tonjolan-tonjolan ini merupakan
suatu akibat adanya di
bagian dekat yang
intensitasnya kuat. Intensitas yang kuat ini akan menginduksi aliran sekitar ke belakang sudu mengakibatkan palung tekanan rendah yang tampak sebagai tonjolan-tonjolan pada kontur isobar. Jadi kontur isobar akan berubah jika terdapat dengan intensitas yang sangat kuat.
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa:
KESIMPULAN
1. Semakin lengkung suatu sudu akan mengakibatkan intensitas
dan yang terbentuk semakin kuat;
2. kontur isobar 2D sangat
menentukan pola-pola aliran sekunder yang terjadi pada , baik pada konfigurasi tanpa maupun dengan
cross passage flow curl flow
History
nearwall flow
tip
clearance.
Posisi forward saddle point lower side leading edge
cross passage flow curl flow
forward saddle point leading edge jet flow
tip clearance vortex
“Tip Clearance Flow ini Axial Compressor”
“Experimentelle und Theorische Stromung in Verdichtergitten”
Sementara untuk variasi
yang semakin bertambah menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
3. Perbedaan tekanan antara
dan semakin meningkat;
3. Lintasan semakin ke
depan dan semakin tangensial.
[3] Kang, S. 1993. “Investigation on Three Dimensional within a Axial Compressor with and without Tip Clearance”. PhD Thesis, Vrije Universiteit Brussel Belgium.
angle of attack
pressure side suction side
tip clearance vortex
Tanpa tip clearance
Dengan tip clearance
DAFTAR PUSTAKA
1. semakin
bergeser ke arah dan menjauhi ;
2. Intensitas dan
menjadi semakin kuat;
1. Posisi semakin
bergeser ke depan menjauhi ; 2. Intensitas semakin menguat
sehingga juga semakin hebat; [1] Storer, J.A. 1991. . PhD Disertation, University of Cambridge. [2] Hubner, J. 1991. . Dissertation Universitat der Brundeswerhr, Muenchen.
Gambar 9. Kontur isobar di endwall ( = 42,5º, = 30º, = 4º, c/l = 0%).θ
[4] S a s o n g k o , H . 1 9 9 7 . “ R a n d a n d Spaltstromungen in Stark Gestaffelten Verdichtergitten aus Schwach Gewolbten Profilen”. ZLR-Forschungsbericht 97- 01. [5] K a n g , S a n d H i r s c h , C . 1 9 9 3 .
“ E x p e r i m e n t a l S t u d y o n T h r e e Dimensional Flow Within A Compressor Cascade With Tip-Clearance: Part II Tip L e a k a g e Vo r t e x ” . J o u r n a l o f Turbomachinery, Vol 115.
[6] Inoue, M. Kuroumaru, M and Fukuhara, M. 1986.
. Journal of Engineering for Gas Turbines and Power, Vol 108.
[7] Djanali, Vivien Suphandani. 2003. “Visualisasi Aliran Sekunder (Numerik d a n E k s p e r i m e n ) p a d a K a s k a d e Kompressor Aksial Profil British 9C7/32.5C50 Stagger Lemah Dengan dan Tanpa Tip Clearance”. Tugas Akhir Jurusan Teknik Mesin FTI-ITS Surabaya.
“Behavior of Tip Leakage Flow Behind an Axial Compressor Rotor”
(a)α= 4º (b)α= 8º (c)α= 12º
Gambar 11. Oil flow picture ( = 42,5ºθ γ= 30ºα= 4º, 8º dan 12º c/l =3%).
Gambar 12. Kontur isobar di endwall ( = 42,5º = 30º = 4º c/l = 3%).
θ
γ α Gambar 13. Kontur isobar di span ( = 42,5º= 30º = 4º c/l = 3%). θ