• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA NYATA (KKN) ANGKATAN KE-67 TEMATIK POSDAYA BERBASIS ASSET BASED COMMUNITIES DEVELOPMENT (ABCD) Disusun Oleh :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN PELAKSANAAN KULIAH KERJA NYATA (KKN) ANGKATAN KE-67 TEMATIK POSDAYA BERBASIS ASSET BASED COMMUNITIES DEVELOPMENT (ABCD) Disusun Oleh :"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN PELAKSANAAN

KULIAH KERJA NYATA (KKN)

ANGKATAN KE-67

TEMATIK POSDAYA

BERBASIS ASSET BASED COMMUNITIES DEVELOPMENT

(ABCD)

Disusun Oleh :

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

RADEN FATAH PALEMBANG

(2)

ii | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mencapai kualitas pengabdian kepada masyarakat khususnya bagi pengembangan konsep pengabdian di UIN Raden Fatah Palembang dibutuhkan peran strategis dan pemikiran terencana untuk mencapai indikator kegiatan yang tepat sasaran. Kegiatan pengabdian didasari oleh dua kepentingan, yaitu kepentingan akademis dan kepentingan masyarakat. Kepentingan akademis memprioritaskan pengabdian masyarakat sebagai upaya menjembatani hasil-hasil pengembangan keilmuan yang teruji secara ilmiah untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah di masyarakat dan menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Dinamika keduanya akan memunculkan hubungan sinergis.

Pengembangan keilmuan di lingkungan pendidikan tinggi juga dapat bertumpu pada pengembangan kebutuhan langsung di masyarakat sebagai laboratorium pengabdian yang mampu direncanakan di luar tembok perguruan tinggi, sehingga hasil-hasil pengembangannya juga dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran dan/atau temuan yang dapat teruji secara ilmiah. Melihat hubungan keduanya amat penting, maka Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat UIN Raden Fatah Palembang berusaha membuat rencana KKN yang tepat sasaran dan ikut serta menjawab kebutuhan di masyarakat sehingga tidak menjadi Perguruan Tinggi yang berada di menara gading. Pengambilan peran ini sebagai bagian dari upaya menciptakan perubahan sosial yang terencana.

LP2M UIN Raden Fatah Palembang selalu berusaha melakukan revitalisasi peran sosial keagamaan para dosen dan mahasiswa melalui rintisan program unggulan pengabdian masyarakat berorientasi pada penerapan pilar-pilar Ulul Albab yang meliputi kedalaman spiritual, keagungan akhlaq, keluasan ilmu, dan kematangan profesional. Konsep ini dirumuskan sebagai langkah menempatkan masyarakat sebagai komponen penting pengembangan kehidupan religius dan kontribusinya dalam mencapai tujuan pembangunan. Masyarakat merupakan tempat belajar, dalam rangka pengembangan keilmuan seiring dinamika sosial keagamaan dan kemasyarakatan yang berkembang di masyarakat dan mampu menangkap peluang strategis untuk mendorong perubahan sosial demi mewujudkan masyarakat sejahtera, mandiri, dan berkeadilan.

Dalam pencapaian tujuan millenium dengan 8 sasaran MDGs (dilanjutkan dengan program SDGs), terutama pengentasan kemiskinan. Untuk itu, LP2M UIN Raden Fatah Palembang mengharapan KKN yang dilakukan mahasiswa dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan yang seluas-luasnya di tengah- tengah masyarakat.

Pada tahun 2017, LP2M UIN Raden Fatah Palembang mencanangkan program “KKN Tematik Posdaya Berbasis Asset Based Communities Development (ABCD)”. Program ini sebagai bentuk inovasi model pemberdayaan masyarakat, khususnya KKN yang mengambil sasaran keluarga dan komunitas sebagai unit terkecil masyarakat, namun memiliki akses dan dampak yang sangat luas di dalam kehidupan.

(3)

iii | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD ini diikuti oleh mahasiswa/i dan dosen untuk melakukan kerja bersama dengan berbagai pihak terkait secara gotong royong dalam penuntasan pencapaian delapan tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir tahun 2015 (dilanjutkan dengan program SDGs), melalui pendekatan keagamaan. Delapan tujuan dimaksud diwujudkan dalam empat konsentrasi program kegiatan yaitu; Pertama, pengentasan kemiskinan melalui pembinaan kewirausahaan dan pengembangan ekonomi produktif melalui kelompok; Kedua, kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana; Ketiga, pendidikan melalui bina balita, pendidikan anak usia dini (PAUD), ketuntasan wajib belajar sembilan tahun, termasuk pembinaan TPQ dan Madrasah Diniyah; Keempat, menciptakan lingkungan yang sehat, asri dan produktif. Melalui empat program kegiatan ini diharapkan dapat mengantarkan setiap keluarga untuk hidup sejahtera mandiri, dalam nuansa sakinah, mawawddah dan rahmah.

Selaku Ketua LP2M UIN Raden Fatah Palembang, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Rektor UIN Raden Fatah Palembang yang telah memberikan dukungan kebijakan dan pengarahan dalam melaksanakan mengabdi pada masyarakat dengan baik. 2. Walikota Palembang yang telah memperkenankan mahasiswa UIN Raden Fatah

ber-KKN di beberapa Kecamatan pada Kota Palembang.

3. Bupati Banyuasin yang telah memperkenankan mahasiswa UIN Raden Fatah ber-KKN di beberapa Kecamatan pada Kab. Banyuasin.

Semoga Allah Swt senantiasa mengarahkan nawaitu kita semua ke arah yang lebih baik untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Amin

Palembang, 01 Maret 2017 Ketua LP2M

Dr. Syefriyeni, M.Ag

(4)

iv | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

SAMBUTAN REKTOR

Alhamdulillah, shalawat dan salam teruntuk Rasulallah Saw, semoga kita semua kelak mendapatkan syafa’atnya. Amin.

KKN bertemakan tematik Posdaya ini tidak hanya dimaksudkan untuk membentuk posdaya-posdaya pada lokasi sasaran KKN, lebih dari itu maksud dan tujuannya adalah percepatan pencapaian tujuan pembangunan milenium yang sekarang ini dilanjutkan dengan program SDGs.

KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD ini, diharapkan mahasiswa UIN Raden Fatah khususnya, tidak hanya kaku dan beku dengan kegiatan keagamaan saja, sebagaimana KKN sebelumnya, tetapi juga dituntut berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia.

Buku KKN dalam format baru ini sudah lama dirindukan kalangan akademis UIN Raden Fatah Palembang, guna mewujudkan pola dan bentuk baru KKN yang berbasis akademik dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga julukan KKN UIN yang hanya dalam bidang agama tinggal slogan belaka.

Oleh karena itu, selaku Rektor saya berharap agar kerjasama antara UIN Raden Fatah dengan pihak-pihak terkait menjadi sebuah model inovasi baru dalam menggerakkan masyarakat. Kepada semua pihak kami ucapkan terima kasih. Semoga niat baik ini senantiasa mendapatkan ridhaNya. amin

Palembang, 01 Maret 2017 Rektor,

Prof. Drs. H. M Sirozi, MA., P.hD NIP. 196108061989031008

(5)

v | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Ketua LP2M ... ii

Sambutan Rektor ... iv

Daftar Isi ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Dasar Hukum Pelaksanaan KKN UIN Raden Fatah ... 3

C. Tema KKN UIN Raden Fatah tahun 2017 ... 3

D. Tujuan dan Target KKN UIN Raden Fatah tahun 2017 ... 3

E. Organisasi Pelaksana ... 5

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Posdaya ... 6

B. Maksud, Tujuan dan Sasaran Posdaya ... 7

C. Sayarat Pembentukan Posdaya ... 9

D. Langkah Pembentukan Posdaya ... 9

E. Struktur Organisasai Posdaya ... 9

F. ABCD Sebagai Pendekatan Pengabdian Kepada Masyarakat... ... ... 10

G. Prinsip-Prinsip Pengembangan Masyarakat Berbasis ABCD ... 11

1. Setengah Terisi Lebih Berarti (Half full and half empty) ... 11

2. Semua punya potensi (No body has nothing) ... 12

3. Partisipasi (Participation) ... 13

4. Kemitraan (Partnership) ... 15

5. Penyimpangan positif (Positive Deviance) ... 18

6. Berawal dari dalam Masyarakat (Endogenous) ... 20

7. Menuju pada Sumber Energi (Heliotropic) ... 21

H. Metode-Metode (Tools) dalam ABCD ... 21

1. Penemuan Apresiatif (Appreciative Inquiry) ... 21

2. Pemetaan Komunitas (community mapping) ... 23

3. Penelusuran Wilayah (transect) ... 25

4. Pemetaan Asosiasi dan Institusi ... 26

5. Pemetaan Aset Individu (Individual Inventory Skill) ... 27

6. Sirkulasi Keuangan (Leaky Bucket) ... 29

7. Skala Prioritas (Low hanging fruit) ... 32

BAB III PELAKSANAAN A. Hasil yang Diharapkan ... 34

B. Materi Pendampingan ... 34

C. Penyelenggaraan ... 35

1. Status dan Beban Kredit... 35

2. Persyaratan Peserta KKN ... 35

(6)

vi | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

4. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN ... 36

5. Hak dan Kewajiban Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) ... 36

6. Lokasi KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angakatan ke-67 ... 37

7. Jangka Waktu KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angakatan ke-67 ... 37

8. Jumlah Peserta KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angakatan ke-67 ... 37

D. Pelaksanaan Kegiatan ... 38

1. Perencanaan ... 38

2. Persiapan ... 38

3. Pembagian Lokasi ... 38

4. Pendataan dan Pemetaan ... 38

5. Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angakatan ke-67 ... 39

6. Monitoring dan Evaluasi ... 41

BAB IV TATA TERTIB PESERTA A. Pelaksanaan ... 43

B. Pelaporan ... 44

C. Sanksi- Sanksi ... 44

(7)

1 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu komponen kegiatan akademik yang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, disamping pendidikan dan penelitian. Dengan dilaksanakannya dharma pengabdian kepada masyarakat diharapkan selalu ada interrelasi antara perguruan tinggi dengan masyarakat. Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) memiliki peran penting dalam pengabdian dan pemberdayaan masyarakat untuk menunjang akselerasi pembangunan bangsa diberbagai bidang. Secara organisatoris LP2M adalah sebuah lembaga yang berfungsi sebagai wadah bagi sivitas akademika dalam menyalurkan pemikiran, penelitian dan karya ilmiah yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan akademik dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Universitas Islam Negeri Raden Fatah mempunyai kewajiban untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bahkan sebagai perguruan tinggi yang bercorak agama, dharma ketiga diharapkan menjadi trademark lembaga yang bercirikan keterpaduan antara peran-peran sosial keagamaan dengan berbagai aspek kehidupan di masyarakat.

Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) merupakan salah satu institusi yang memiliki peran dan fungsi sebagai pengembangan keislaman, dakwah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penyebaran dan informasi produk IPTEK. Oleh karena itulah, perspektif pengembangan Posdaya berbasis Aset yang dimiliki setiap komunitas, diharapkan sebagai penopang perubahan sosial dan kembali menempatkannya dalam percepatan pencapaian indikator tujuan pembangunan pasca millenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Sebagaimana diketahui MDGs yang berakhir tahun 2015 mempunyai 8 aspek sasaran atau tujuan oleh seluruh anggota PBB yang berjumlah 191 negara (UNFPA, 2004). Delapan sasaran tersebut adalah;

1. Menghapuskan tingkat kemiskinan dan kelaparan yang parah. 2. Pencapaian pendidikan dasar secara universal.

3. Mengembangkan kesetaraan gender & memberdayakan perempuan. 4. Mengurangi tingkat kematian anak.

5. Meningkatkan kesehatan ibu. 6. Perlawanan terhadap HIV/AIDS

7. Menjamin berlanjutnya pembangunan lingkungan. 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Berdasarkan Instruksi Presiden RI No 3 Tahun 2010 Tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan yakni, pembangunan nasional diarahkan pada tiga konsentrasi yang meliputi; Pertama, pro rakyat dalam bentuk penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga, pemberdayaan masyarakat dan usaha mikro dan kecil; Kedua; keadilan untuk semua, meliputi keadilan untuk anak, perempuan, ketenagakerjaan, hukum serta kelompok miskin dan termarginal; Ketiga, pencapaian MDGs terutama bidang pengentasan kemiskinan akan

(8)

2 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

berkorelasi dengan indeks pembangunan manusia, termasuk masjid sebagai lembaga sosial terlibat dalam penyelenggaraan aktifitas sosial kemasyarakatan, selain fungsi religiusitasnya dan juga dapat bermetamorfosis dengan berbagai kepentingan masyarakat seperti ekonomi, sosial, budaya, lingkungan hidup, kesehatan, teknologi tepat guna yang berbasis kebutuhan dalam pemberdayaan masyarakat dalam pencapaiannya serta meningkatkan indeks pembangunan manusia.

KKN yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang berkonsentrasi pada pemberdayaan aset yang dimiliki oleh komunitas masyarakat. Hubungannya dengan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD, mahasiwa berperan untuk membentuk Posdaya sebagai bentuk manifestasi dari kegiatan KKN yang dilaksanakan dalam rangka penyebaran informasi dan implementasi keilmuan serta menyelesaikan pendidikan tinggi melalui proses pembelajaran dengan cara tunggal, bergaul serta beradaptasi dengan masyarakat.

Dari sudut masyarakat penerima manfaat, KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD, masyarakat membantu membentuk, mengisi dan mengembangkan Posdaya pada masyarakat itu sendiri secara sistematis. Posdaya yang dibentuk tersebut merupakan forum wadah komunitas, keluarga dan masyarakat, untuk bersama-sama membantu mengembangkan aset yang dimiliki melalui kegiatan sosial, wirausaha, pendidikan dan keterampilan, peningkatan kesehatan serta dukungan pelestarian lingkungan sebagai upaya memperbaiki kualitas sumber daya manusia.

Mahasiswa/i perserta KKN membuka ruang konsultasi dan advokasi untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen para pejabat daerah, camat, kepala desa/Lurah, instansi terkait akan pentingnya kebersamaan dalam pengembangan aset dan pembangunan SDM, melalui pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) pada tingkat kecamatan, desa/kelurahan, dusun atau unit daerah lain secara mandiri. melakukan pendataan dan observasi seluruh sasaran keluarga, komunitas dan masyarakat. Pendataan yang seksama itu bertujuan untuk mengidentifikasi dan menempatkan sasaran dan memetakannya dalam kondisi atau posisi sesuai dengan indikator yang dipergunakan.

Selanjutnya, setelah pendataan selesai dilakukan dan dianalisis, para mahasiswa/i diharapkan mengajak seluruh keluarga di sekitar wilayah KKN untuk mengadakan pertemuan atau sarasehan guna pembentukan Posdaya, berikut susunan pengurusnya.1 Selanjutnya mahasiswa/i mendampingi dan membantu Pengurus Posdaya menetapkan prioritas sasaran, menyusun program kerja dengan mengembangkan gagasan inovatif dan kreatif melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki. Para mahasiswa mendampingi dan dalam hal-hal tertentu, membantu melaksanakan program atau kegiatan untuk kesejahteraan masyarakat.

Karena Posdaya diarahkan untuk menjadi lembaga yang mandiri, maka program utama yang dianjurkan adalah pemberdayaan ekonomi keluarga, dan komunitas. Utamanya kegiatan

1Disini, mahasiswa/i hanya berfungsi sebagai fasilitator.Nama posdaya, susunan pengurus dan juga

(9)

3 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

ekonomi mikro dalam bentuk usaha bersama, yang akhirnya dikembangkan menjadi koperasi. Kegiatan ekonomi rumah tangga dan komunitas bersama itu akan meningkatkan kemampuan untuk memberikan dukungan pada kegiatan Posdaya lainnya, yaitu dalam bidang pendidikan dan pelatihan keterampilan, KB dan kesehatan, pemeliharaan lingkungan yang kondusif dan “kebun/taman bergizi”, serta pembinaan keagamaan dan menciptakan suasana religius untuk ketahanan mental spiritualnya.

Langkah-langkah pelaksanakan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD, untuk pembentukan dan pengembangan Posdaya pada hakekatnya merujuk kepada Buku Pedoman Pembentukan dan Pengembangan Posdaya yang telah dikeluarkan oleh Yayasan Damandiri (Suyono dan Haryanto, 2009). Mengingat luasnya materi dan bidang garapan yang dicakup, maka dalam kegiatan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD kali ini, para mahasiswa/i dengan dikoordinasikan oleh para Dosen Pembimbing Lapangan perlu membentuk suatu tim dengan latar belakang ilmu dan jurusan yang berbeda-beda sesuai bidang garapan yang dirancang.

B. Dasar Hukum Pelaksanaan KKN UIN Raden Fatah

Dasar pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan ke-67 yang diselenggarakan oleh LP2M UIN Raden Fatah Palembang adalah:

1. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; 2. Peraturan Pemerintah No 60 Tahun 1999;

3. Undang-Undang No 23 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional;

4. Peraturan Presiden No 129 Tahun 2014 Tentang Perubahan Institut Agama Islam Negeri menjadi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang;

5. SK Rektor Nomor Tentang KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan ke-67 Tahun 2017.

C. Tema KKN UIN Raden Fatah Tahun 2017

Pada Tahun 2017 LP2M UIN Raden Fatah Palembang melaksanakan KKN tematik Posdaya dengan mengambil tema “Pengabdian Masyarakat melalui KKN Tematik Posdaya Berbasis Asset Based Communities Development (ABCD)”. Bahwa KKN tematik posdaya berbasis ABCD adalah pengembangan komunitas masyarakat kota dan desa dengan membuat pos-posnya pada masjid atau lainnya dengan mengembangkn aset atau potensi masyarakat yg ada, bukan dimulai dari permasalahan yang ada. Sehingga tujuannya adalah dari masyarakat dan untuk masyarakat.

D. Tujuan dan Target KKN UIN Raden Fatah Tahun 2017

Tujuan KKN UIN Raden Fatah tahun 2017 terbagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari KKN UIN Raden Fatah tahun 2017 adalah:

1. untuk kepentingan mahasiswa/i, KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan ke-67 bertujuan membantu para mahasiswa meningkatkan kemampuan belajar bersama dengan masyarakat, menerapkan ilmu agama integrasi dengan tehnologi, seni

(10)

4 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

dan budaya yang telah dipelajari secara langsung dan melihat apakah proses penerapan tersebut sesuai dengan teori yang diperoleh selama kuliah, serta membawa manfaat bagi masyarakat. Selain itu, melatih peserta KKN agar memiliki keterampilan praktis dan pengalaman dalam memberdayakan potensi keberagamaan masyarakat. 2. untuk kepentingan keluarga dan masyarakat. KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD

Angkatan ke-67 bertujuan membantu pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui pembinaan keagamaan, penerapan ilmu dan tehnologi dalam bidang wirausaha, pendidikan dan ketrampilan, KB dan kesehatan, serta pembinaan lingkungan untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, bahagia dan sejahtera, serta memiliki ketahanan mental spiritual yang kuat.

3. untuk kepentingan DPL, pengabdian masyarakat tematik Posdaya Berbasis Masjid ini bertujuan untuk mengembangkan profesionalisme dosen dalam memberdayakan masyarakat dan melakukan penelitian sosial keagamaan integratif.

Sedangkan Tujuan khusus yang ingin dicapai dari KKN UIN Raden Fatah tahun 2017 adalah:

1. Meningkatkan kepedulian dan kemampuan mahasiswa dalam mempelajari dan mengatasi permasalahan keluarga dan masyarakat, melalui bantuan penyusunan rencana dan pendampingan pada pelaksanakan program yang inovatif dan kreatif melalui penerapan ilmu dan teknologi bersama masyarakat dan lembaga terkait. 2. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan sosial

keagamaan dan pengembangan masyarakat sesuai kompetensi, potensi, sumberdaya dan kemampuan lingkungan dalam wadah kerjasama masyarakat, pemerintah, swasta dan lembaga lainnya.

3. Menggalang komitmen, kepedulian dan kerjasama berbagai stakeholders (Tokoh Agama, Pemerintah setempat, swasta, LSM dan masyarakat) dalam upaya pembinaan keagamaan, pengentasan kemiskinan, mengatasi permasalahan dan ketidakberdayaan masyarakat melalui KKN.

4. Membantu mempersiapkan keluarga dan masyarakat agar memiliki kemampuan untuk memanfaatkan fasilitas dan dukungan yang diberikan oleh mitra kerja pembangunan (Pemda, lembaga swasta dan LSM) dalam perencanaan dan pengelolaan program yang bersifat partisipatif.

5. Meningkatkan kompetensi, bakat dan minat mahasiswa sesuai dengan bidang keilmuan yang ditekuni.

6. Meningkatkan profesionalisme dosen dalam pengabdian kepada masyarakat sebagai tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

7. Membantu tugas-tugas pemerintah setempat, terutama dalam bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Mahasiswa sebagai motivator dapat menjadi teman masyarakat dalam rangka pemecahan perbagai persoalan.

Target umum KKN UIN Raden Fatah tahun 2017adalah:

1. Tumbuhnya semangat pengabdian dan kepekaan mahasiswa/i terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat, serta meningkatkan kesadaran masyarakat

(11)

5 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

terhadap kualitas kehidupan sosial-budaya, pendidikan, ekonomi dan lingkungan hidup.

2. Meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan masyarakat akan nilai-nilai agama, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan organisasi keagamaan, sosial dan ekonomi secara maksimal.

3. Meningkatkan kuantitas dan kualitas kader pembina kehidupan beragama dalam masyarakat dan terwujudnya wadah kerjasama.

E. Organisasi Pelaksana

KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan ke-67 diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang atas tanggung jawab Rektor dan secara langsung dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) dalam bentuk kepanitian (Panitia Pelaksana Kuliah Kerja Nyata [PPKKN] yang di SK-kan Rektor).

(12)

6 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

BAB II

LANDASAN TEORI A. Pengetian Posdaya

Posdaya adalah forum silahturahmi, advokasi, komunikasi, informasi, edukasi dan sekaligus bisa dikembangkan menjadi wadah koordinasi kegiatan penguatan fungsi-fungsi keluarga secara terpadu. Yaitu pelayanan pengembangan keluarga secara berkelanjutan, dalam berbagai bidang, utamanya agama, pendidikan, kesehatan, wirausaha dan lingkungan hidup, sehingga keluarga secara harmonis bisa tumbuh mandiri di desanya.

Posdaya adalah wadah bagi keluarga, yang kondisi sosial ekonomi dan budayanya umumnya lemah, untuk bersatu diantara mereka dan bersama keluarga lain yang lebih mampu. Setiap keluarga kurang mampu diundang untuk menempatkan dirinya dalam suatu proses pemberdayaan bersama. Dalam Posdaya keluarga yang lebih mampu, dengan dukungan dan pendampingan petugas-petugas pemerintah dan organisasi masyarakat, diharapkan membantu keluarga yang membutuhkan. Dengan demikian Posdaya menjadi wahana bersama untuk pemberdayaan, menambah wawasan dan pengetahuan tentang fungsi fungsi dan kemampuan keluarga, bukan atau tidak harus menjadi wahana untuk pemberdayaan anggota keluarganya.

Apabila Posdaya dikembangkan dari Posyandu, maka upaya yang dilakukan adalah menambah kegiatan yang biasa dilakukan di Posyandu dengan kegiatan advokasi lain yang lebih luas, misalnya kegiatan dalam bidang Kesehatan Anak, Petunjuk Praktis tentang Tumbuh Kembang Anak, pendidikan anak dini usia atau Padu, dengan memunculkan kegiatan melalui kelompok keluarga yang mempunyai anak balita, yaitu kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), perhatian pada persiapan pendidikan SD, SLP, SLA, dan latihan ketrampilan dengan memunculkan kegiatan melalui kelompokkeluargayang mempunyai anakremaja, yaitu kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR), dan kegiatan untuk remaja yang lebih dewasa melalui kelompok keluarga yang mempunyai anak dewasa, yaitu kelompok Bina Keluarga Dewasa (BKD). Perkembangan lebih lanjut akan memunculkan kelompok lansia, kelompok penyandang cacat, kelompok keluarga kurang mampu, dan kelompok keluarga dengan kegiatan ekonomi produktif atau koperasi.

Posdaya sebagaimana telah dikemukakan adalah suatu lembaga masyarakat yang berfungsi atau dapat dimanfaatkan sebagai forum silaturahmi, advokasi, komunikasi, edukasi dan wadah kegiatan penguatan fungsi-fungsi keluarga secara terpadu yang dilaksanakan dari, oleh dan untuk keluarga dan masyarakat.

KKN Posdaya merupakan salah satu jenis KKN tematik yang bertujuan membentuk, membina, dan mengembangkan Posdaya sebagai terobosan baru dalam pemberdayaan masyarakat, melalui pemanfaatan potensi SDM dan SDA lokal. Dari sudut masyarakat penerima, KKN Tematik Posdaya membantu membentuk, mengisi dan mengembangkan Lembaga Posdaya di desa atau pedukuhan secara sistematis. Posdaya yang dibentuk merupakan wadah bagi keluarga dan masyarakat untuk bersama-sama mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam bidang kewirausahaan, pendidikan dan pelatihan ketrampilan, KB dan kesehatan, dan lingkungan, yang sekaligus merupakan upaya

(13)

7 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau pencapaian tujuan dan sasaran MDGs.

Dalam melaksanakan fungsinya, Posdaya merancang kegiatan sesuai dengan kemampuan masyarakat dan anggotanya sehingga itu bisa dilakukan oleh, dari dan untuk keluarga dan masyarakat setempat atau dengan pengertian lain, kegiatan tersebut dilaksanakan atas kemampuan dan swadaya masyarakat sebagai upaya memberdayakan keluarga sejahtera dan membangun kesejahteraan rakyat secara luas. Dari pengertian tersebut, beberapa hal perlu diperjelas antara lain:

1. Posdaya, bukan dimaksudkan untuk menganti pelayanan sosial ekonomi kepada masyarakat berupa pelayanan terpadu diberbagai bidang seperti Posyandu, BKB, PAUD, UPPKS, pelayanan BLT, pelayanan beras murah, atau pelayanan pembangunan lainnya. Posdaya dibangun sebagai forum untuk mengembangkan kegiatan pemberdayaan terpadu yang dinamis, yaitu pemberdayaan pembangunan untuk seluruh anggota yang dipadukan dengan saling terkait. Tujuannya adalah agar pimpinan keluarga mengetahui peran dan fungsinya yang lengkap sebagai satu kesatuan keluarga yang utuh. Akhirnya setiap kepala keluarga dan anggota keluarga secara mandiri.

2. Terpadu berarti dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pembinaan, dan evaluasi program melibatkan berbagai petugas pemerintah, organisasi sosial, dan unsur-unsur masyarakat. Penyerasian dinamis disini berarti diperlukan adanya keserasian dalam hal memandukan kepentingan masyarakat dan kemampuan penyediaan bantuan profesional dari pemerintah dan swasta yang disediakan untuk mendukung kegiatan.

3. Posdaya dikembangkan secara bertahap, mulai dari yang bersifat sederhana dengan kegiatan terbatas sampai akhirnya bersifat paripurna tergantung dari dukungan masyarakatnya. Posdaya paripurna merupakan forum pemberdayaan yang bervariasi, dimana sebagian besar pengelola dan pembiayaan dikelola dan berasal dari anggota masyarakat. Dalam tingkat seperti itu pembinaan dapat diarahkan kepada program-program yang semakin inovatif dan pihak Pemerintah tinggal berperan mengafrahkan dan mendorong terutama dalam bentuk pendanaan.

B. Maksud, Tujuan dan Sasaran Posdaya 1. Maksud

a. Untuk kepentingan mahasiswa pelaksanaan KKN Tematik Posdaya dimaksudkan untuk membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan menyatu bersama masyarakat, menerapkan ilmu dan tehnologi yang dipelajari secara langsung dan melihat apakah proses penerapan tersebut sesuai dengan teori, atau kuliah yang diikutinya, serta membawa manfaat bagi rakyat. Mahasiswa berlatih mendidik dan mengajar masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan. Mahasiswa melakukan penelitian untuk mengembangkan ilmu yang bermanfaat bagi masa depan bangsa. b. Untuk kepentingan keluarga dan masyarakat, KKN Tematik Posdaya dimaksudkan

untuk membantu pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui penerapan ilmu dan tehnologi dalam bidang wirausaha, pendidikan dan ketrampilan, KB dan

(14)

8 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

kesehatan, serta pembinaan lingkungan untuk membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera.

2. Tujuan

a. Meningkatkan kepedulian dan kemampuan mahasiswa mempelajari dan mengatasi permasalahan keluarga dan penduduk melalui bantuan penyusunan rencana dan pendampingan pada pelaksanakan program yang inovatif dan kreatif melalui penerapan ilmu dan teknologi bersama masyarakat dan lembaga pedesaan lainnya. b. Meningkatkan kemampuan mahasiswa melaksanakan kegiatan pengembangan

masyarakat sesuai arahan pembangunan manusia (human development), mencapai target dan sasaran Millennium Development Goals (MDGs), kompetensi, potensi, sumberdaya dan kemampuan lingkungan dalam wadah kerjasama masyarakat, pemerintah, swasta dan lembaga lainnya.

c. Menggalang komitmen, kepedulian dan kerjasama berbagai stakeholders (Pemda, swasta, LSM dan masyarakat) dalam upaya pengentasan kemiskinan, kelaparan, mengatasi permasalahan dan ketidak berdayaan penduduk dan keluarga lainnya. d. Membantu mempersiapkan keluarga dan masyarakat agar memiliki kemampuan

untuk memanfaatkan fasilitas dan dukungan yang diberikan oleh mitra kerja pembangunan (Pemda, lembaga swasta dan LSM) dalam perencanaan dan pengelolaan program yang bersiat partisipatif.

e. Meningkatkan kemampuan dan kompetensi mahasiswa sesuai dengan bidang studi yang ditekuni.

3. Sasaran

a. Terbentuknya Posdaya sebagai sarana pemberdayaan keluarga dan penduduk untuk pengembangan SDM dan pengentasan kemiskinan. Sasaran utama pembentukan ini bukan semata-mata dengan tujuan membentuk Posdaya, tetapi dimaksudkan agar keluarga muda, keluarga lansia, kaya dan miskin bisa bersilaturahmi dan saling peduli sesamanya. Jadi sasarannya adalah bahwa Posdaya ini menjadi forum pemberdayaan keluarga muda kurang mampu dan berkembangnya suasana hidup gotong royong di kalangan masyarakat setempat.

b. Terbentuknya Pengurus melalui fasilitasi yang diberikan atau diupayakan oleh mahasiswa dilakukan melalui pemanfaatan potensi sumber daya manusia dan lainnya yang ada di sekitar desa.

c. Tersusunnya rencana program dan kegiatan pembangunan yang kreatif dan inovatif berdasarkan arahan basis human development atau Millennium Development Goals (people centered development) melalui pengembangan kemampuan keluarga dan masyarakat dengan mengembangkan program pembangunan yang dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri, sekaligus mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat berdasarkan potensi, minat masyarakat dan kondisi penduduk sebagai sasaran garapan.

d. Terlaksananya program Posdaya dengan pendampingan yang dilakukan oleh mahasiswa.

e. Makin mengecilnya jumlah keluarga kurang mampu karena mengikuti proses pemberdayaan dan mampu melaksanakan fungsi-fungsi keluarga secara sempurna. f. Meningkatnya kerja sama Perguruan Tinggi dengan Pemda, swasta dan LSM.

(15)

9 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

C. Syarat Pembentukan Posdaya

Untuk membentuk Posdaya berbasis KKN harus dipenuhi beberapa persyaratan, yaitu meliputi:

1. Lokasi (desa/rw/rt) dimana Posdaya akan dibentuk belum pernah melaksanakan pembentukan Posdaya sebelumnya oleh mahasiswa KKN dari perguruan tinggi lainnya.

2. Pengurus Posdaya harus dari cakupan wilayah (desa/rw/rt) yang sama dimana Posdaya dibentuk.

3. Kepengurusan organisasi Posdaya harus dibentuk berdasarkan kerelaan dan kesediaan anggota untuk terlibat aktif dalam menggerakkan dan mengembangkan Posdaya. 4. Organisasi Posdaya dapat dibentuk bersinergi dengan organisasi sosial

kemasyarakatan yang telah ada.

D. Langkah Pembentukan Posdaya

Untuk membentuk organisasi sosial Posdaya, mahasiswa peserta KKN Tematik Posdaya harus mengikuti alur lintasan proses sebagai berikut:

1. Mahasiswa melakukan survey/observasi lapangan untuk mengetahui ada/tidaknya posdaya yang telah terbentuk pada wilayah tersebut.

2. Mahasiswa memilih/menetapkan wilayah cakupan Posdaya yang akan dibentuk ( cakupan dapat dipilih dari basis desa, pedukuhan, rukun warga (RW), atau rukun tetangga (RT)).

3. Mahasiswa melakukan pendekatan terhadap warga untuk merencanakan pembentukan Posdaya.

4. Mahasiswa melakukan pendataan wilayah, kependudukan, potensi ekonomi, pendidikan, kekaryaan, dan permasalahan yang ada.

5. Mahasiswa menyusun data wilayah, menyusun rencana struktur organisasi Posdaya, menyusun rencana program kerja Posdaya dengan mengoptimalkan kegiatan kegatan yang sudah ada dimasyarkat.

6. Lebih memudahkan jika Kepengurusan Posdaya mencakup kader-kader dimasyarakat yang sudah ada, seperti kader PKK untu Koordinator bidang Lingkungan, PNPM untuk Koordinator bidang Ekonomi, Kader PAUD untuk Koordinator bidang Pendidikan dan Posyandu untuk Koordinator bidang Kesehatan.

E. Struktur Organisasi Posdaya

Dalam pembentukan Posdaya, struktur organisasi yang minimal harus ada adalah: 1. Ketua

2. Wakil/Sekretaris 3. Bendahara

4. Koordinator Bidang Pendidikan 5. Koordinator Bidang Kesehatan 6. Koordinator Bidang Kewirausahaan

(16)

10 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

7. Koordinator Bidang Lingkungan

Jika lokasi KKN telah memilik Posdaya, maka mahasiswa KKN dapat mengisi dengan kegiatan kegiatan saja, untuk lebih mengoptimalkan setiap kegiatan–kegiatan yang ada dengan membuat perencanaan untuk memenuhi jumlah jam kegiatan KKN.

F. ABCD (Asset-Based Community Development) Sebagai Pendekatan Pengabdian Kepada Masyarakat

Pendekatan ABCD digunakan sebagai usaha perbaikan kualitas kehidupan manusia dengan pola pembangunan yang menempatkan manusia menjadi pelaku utama sudah dilakukan di Indonesia. Mengingat pola ini masih menjadi rintisan maka dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan, terlebih lagi Perguruan tinggi sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat strategis untuk ikut serta upaya ini. ABCD adalah sebuah usaha yang memastikan bahwa kegiatan pembangunan selayaknya menempatkan posisi manusia dapat berkembang kapasitasnya sesuai dengan segala potensi dan aset yang dimiliki. Lebih dari itu, perguruan tinggi dapat berperan dalam mewujud kan bagaimana terbentuknya manusia Indonesia yang memiliki kepedulian dan keaktifan sebagai warga negara.

ABCD digunakan sebagai Pendekatan dalam Pengabdian karena orientasi Pengabdian kepada Masyarakat di PTKI adalah sebagai upaya peningkatan kapasitas masyarakat agar memiliki daya untuk mengenali dan memanfaatkan segala kekuatan dan aset yang dimiliki untuk kebaikan bersama. Asset-based community development (ABCD) dianggap sebagai pendekatan yang tepat untuk persoalan tersebut. Hal ini karena ABCD merupakan sebuah pendekatan dalam pengembangan masyarakat yang berada dalam aliran besar mengupayakan terwujudkan sebuah tatanan kehidupan sosial dimana masyarakat menjadi pelaku dan penentu upaya pembangunan di lingkungannya atau yang seringkali disebut dengan Community-Driven Development (CDD). Upaya pengembangan masyarakat harus dilaksanakan dengan sejak dari awal menempatkan manusia untuk mengetahui apa yang menjadi kekuatan yang dimiliki serta segenap potensi dan aset yang dipunyai yang potensial untuk dimanfaatkan. Hanya dengan mengetahui kekuatan dan aset, diharapkan manusia mengetahui dan bersemangat untuk terlibat sebagai aktor dan oleh karenanya memiliki inisiatif dalam segala upaya perbaikan.

Dengan mengetahui kekuatan dan set yang dimiliki masyarakat, serta memiliki agenda perubahan yang dirumuskan bersama, persoalan keberlanjutan sebuah program perbaikan kualitas kehidupan diharapkan dapat diwujudkan. Melalui pendekatan ABCD, warga masyarakat difasilitasi untuk merumuskan agenda perubahan yang mereka anggap penting. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat sangat penting untuk memastikan bahwa warga masyarakat “berkesempatan” untuk turut serta sebagai penentu, agenda perubahan tersebut.

Ketika warga masyarakat telah menentukan agenda perubahan tersebut, maka apapun rencana tersebut, warga masyarakat akan berjuang untuk mewujudkannya. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan pendekatan ABCD dirancang sebagai kegiatan

(17)

11 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

stimulasi dan fasilitasi pemberdayaan masyarakat. Para pengabdi akan mendapatkan pembelajaran betapa kehidupan ini akan berubah menjadi baik tatkala ada kemauan untuk berubah dari yang menjalaninya. Perubahan menuju kepada upaya perbaikan hanya dapat diwujudkan tatkala manusia dapat mencermati hal terbaik dalam dirinya, dan mengoptimalkan hal baik tersebut untuk apapun yang diimpikannya.

Paradigma dan prinsip pendekatan ABCD adalah bahwa semuanya mengarah kepada konteks pemahaman dan internalisasi aset, potensi, kekuatan, dan pendayagunaannya secara mandiri dan maksimal. Paradigma dan prinsip pendekatan ABCD mengisyaratkan penyadaran akan keberadaan kekuatan dan energi positif yang dimiliki “masyarakat” yang harus diidentifikasi, diketahui, difahami, diinternalisasi, untuk kemudian dimobilisasi oleh masyarakat sendiri dalam kerangka menuju peningkatan kesejahteran dan keberdayaan semua elemen komunitas-masyarakat.

G. Prinsip-Prinsip Pengembangan Masyarakat Berbasis ABCD 1. Setengah Terisi lebih Berarti (Half Full Half Empty)

Salah satu modal utama dalam program pengabdian masyarakat berbasis aset adalah merubah cara pandang komunitas terhadap dirinya. Tidak hanya terpaku pada kekurangan dan masalah yang dimiliki. Tetapi memberikan perhatian kepada apa yang dipunyai dan apa yang dapat dilakukan. Prinsip ini akan mengajarkan bagaimana pentingnya aset dalam pengembangan komunitas.

Setengah Terisi lebih Berarti (Half Full Half Empty) adalah salah satu modal utama dalam program pengabdian masyarakat berbasis aset adalah merubah cara pandang komunitas terhadap dirinya. Tidak hanya terpaku pada kekurangan dan masalah yang dimiliki. Tetapi memberikan perhatian kepada apa yang dipunyai dan apa yang dapat dilakukan. Prinsip ini akan mengajarkan bagaimana pentingnya aset dalam pengembangan komunitas. Setiap detail dari alam ini akan memberikan manfaat kepada kita jika kita mau menggali dan benar-benar meyakini manfaat aset tersebut. Sayangnya, seringkali kita lupa besaran aset yang kita miliki, dan terjebak dalam pandangan masalah yang ada di sekitar kita. Gambaran ini adalah ilustrasi bagaimana seharusnya melihat sebuah aset. Jika pandangan kita pada gelas ini hanya tertuju pada bagian yang kosong, maka kita belum bisa benar-benar bersyukur dan menyadari aset yang kita miliki. Akhirnya, energi kita hanya habis untuk kecewa atas kekosongan gelas daripada bersyukur atas air yang mengisi ruang kosong di setengahnya. Sebaliknya, jika kita fokus pada setengah air yang mengisi separuh gelas ini, maka sesugguhnya kita orang yang beruntung karena berhasil melihat kekuatan yang ada sebagai modal dalam sebuah perubahan. Dan tentu energi kita akan lebih banyak kita gunakan untuk berpikir mengisi setengah gelas kosong sisanya dan memanfaatkan setengah air yang sudah terisi.

Jika hanya berfokus pada kekurangan yang ada maka mengetahui kekurangan yang ada pada diri kita adalah sesuatu yang lumrah, tetapi menjadi tidak baik jika kita hanya fokus dan larut pada kekurangan tersebut sampai tidak berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. Saat komunitas hanya berpikir kekurangan mereka, maka seringkali yang muncul adalah keluhan,

(18)

12 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

merasa kurang, perasaan tidak kontributif, dan bergantung kepada orang lain sehingga ungkapan-ungkapan yang sering terdengar seperti: “kami ini miskin, butuh pertolongan”, “kami terbelakang, tidak ada yang bisa kami lakukan”.

Akan sangat berbeda jika komunitas lebih banyak melihat kelebihan yang dimiliki dan berpikir bagaimana mengoptimalkan asset yang dipunyai. Sehingga pemberdayaan masyarakat lebih mudah dilakukan. Cara pandang terhadap aset dan kelebihan yang dipunyai pasti akan berpengaruh pada cara bagaimana mereka berinteraksi dengan sesama anggota komunitas dan stakeholder. Ekspresi yang tampak pada wajah komunitas adalah keceriaan, kebanggaan, dan optimisme untuk perubahan yang lebih baik saat masing-masing anggota komunitas menyadari kelebihan dan aset yang dimiliki, maka saat itulah mereka akan menyadari kontribusi apa yang bisa diberikan. Selanjutnya yang akan diperoleh komunitas adalah kemandirian dan tidak bergantung pada orang lain dan momen inilah yang menjadi tujuan akhir sebuah program pengabdian kepada masyarakat.

Modal terbesar dalam sebuah program pengembangan masyarakat adalah adanya keinginan untuk berkehidupan lebih baik, tetapi yang tidak kalah penting juga adalah optimalisasi aset yang melekat pada komunitas tersebut. Sekecil apapun aset yang dimiliki akan sangat berguna jika disadari dan dimanfaatkan dan dalam perspektif ABCD, aset adalah segalanya.

Fungsi aset tidak sebatas sebagai modal sosial saja, tetapi juga sebagai embrio perubahan sosial yang dapat berfungsi sebagai jembatan untuk membangun relasi dengan pihak luar. Di sinilah komunitas dituntut untuk sensistif dan peka terhadap keberadaan aset yang ada di sekitar mereka.

Aset tidak selalu identik dengan uang atau materi, banyak hal yang dimiliki oleh komunitas tapi tidak disadari merupakan bagian dari aset. Diantara aset yang sering dijumpai dalam komunitas diantaranya adalah: cerita hidup, pengetahuan, pengalaman, inovasi, kemampuan individu, aset fisik, sumber daya alam, sumber finansial, budaya (termasuk tradisi lokal), perkumpulan dan kelompok kerja (PKK, kelompok tani), institusi lokal (RT, RW, lurah, camat). Demikian banyak aset yang dapat dijumpai dalam sebuah komunitas. Sehingga mustahil sebuah komunitas tidak memiliki asset sama sekali.

2. Semua Punya Potensi (Nobody Has Nothing)

Manusia yang cerdas adalah manusia yang menyadari kelebihan yang dimiliki, dan tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia di muka bumi ini. “Every singie person has capacities, abilities, gifts and ideas, and livinga good life depends on whether those capacities can be used, abilities expressed, gifts given and ideas shared” (Jody Kretzmann).

Dalam konteks ABCD, prinsip ini dikenal dengan istilah “Nobody has nothing”, setiap manusia terlahir dengan kelebihan masing-masing karena tidak ada yang tidak memiliki potensi, walau hanya sekedar kemampuan untuk tersenyum dan memasak air.

(19)

13 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

Semua berpotensi dan semua bisa berkontribusi, karena Tuhan menginginkan otot kita lebih bermanfaat dibalik fisik kita yang sehat. Pasti Tuhan menginginkan kaki dan tangan kita lebih bermanfaat dibalik tangan dan kaki kita yang sempurna.

Jika kita hidup dengan puluhan atau ratusan anggota komunitas, maka sesungguhnya kita juga hidup dengan sejumlah asset yang berbeda-beda. Tidak ada alasan bagi setiap anggota komunitas untuk tidak berkontribusi nyata terhadap perubahan lebih baik. Bahkan, keterbatasan fisikpun tidak menjadi alasan untuk tidak berkontribusi, karena banyak kisah dan inspirasi orang-orang sukses yang justru berhasil membalikkan keterbatasan dirinya menjadi sebuah berkah, sebuah kekuatan.

3. Partisipasi (Participation)

Partisipasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “participation”adalah pengambilan bagian atau pengikutsertaan. Partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya karena peran serta seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan maupun alam bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil -hasil pembangunan.

Pengertian tentang partisipasi dapat juga berarti bahwa pembuat keputusan menyarankan kelompok atau masyarakat ikut terlibat dalam bentuk penyampaian saran dan pendapat, barang, keterampilan, bahan dan jasa. Partisipasi dapat juga berarti bahwa kelompok mengenal masalah mereka sendiri, mengkaji pilihan mereka, membuat keputusan, dan memecahkan masalahnya.

Berdasarkan posisi pelaku dalam partisipasi, partisipasi dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Partisipasi vertikal; adalah suatu bentuk kondisi tertentu dalam masyarakat yang terlibat di dalamnya atau mengambil bagian dalam suatu program pihak lain, dalam hubungan mana masyarakat berada sebagai posisi bawahan; 2) Partisipasi horizontal; adalah dimana masyarakatnya tidak mustahil untuk mempunyai prakarsa dimana setiap anggota / kelompok masyarakat berpartisipasi secara horizontal antara satu dengan yang lainnya, baik dalam melakukan usaha bersama, maupun dalam rangka melakukan kegiatan dengan pihak lain.

Berdasarkan bentuk keterlibatan dalam aktifitas, partisipasi dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu: 1) Partisipasi Langsung. Partisipasi yang terjadi apabila individu menampilkan kegiatan tertentu dalam proses partisipasi. Partisipasi ini terjadi apabila setiap orang dapat mengajukan pandangan, membahas pokok permasalahan, mengajukan keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap ucapannya; dan 2) Partisipasi tidak langsung. Partisipasi yang terjadi apabila individu mendelegasikan hak partisipasinya.

Berdasarkan macam pelaksanaan dalam partisipasi, patisipasi dibagi menjadi empat jenis, yaitu; 1) Partisipasi dalam pengambilan keputusan. Partisipasi ini terutama berkaitan dengan penentuan alternatif dengan masyarakat berkaitan dengan gagasan atau ide yang

(20)

14 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

menyangkut kepentingan bersama.Wujud partisipasi dalam pengambilan keputusan ini antara lain seperti ikut menyumbangkan gagasan atau pemikiran, kehadiran dalam rapat, diskusi dan tanggapan atau penolakan terhadap program yang ditawarkan; 2) Partisipasi dalam pelaksanaan meliputi menggerakkan sumber daya dana, kegiatan administrasi, koordinasi dan penjabaran program. Partisipasi dalam pelaksanaan merupakan kelanjutan dalam rencana yang telah digagas sebelumnya baik yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan maupun tujuan; 3) Partisipasi dalam pengambilan manfaat. Partisipasi dalam pengambilan manfaat tidak lepas dari hasil pelaksanaan yang telah dicapai baik yang berkaitan dengan kualitas maupun kuantitas. Dari segi kualitas dapat dilihat dari output, sedangkan dari segi kuantitas dapat dilihat dari presentase keberhasilan program; dan 4) Partisipasi dalam evaluasi. Partisipasi dalam evaluasi ini berkaitan dengan pelaksanaan pogram yang sudah direncanakan sebelumnya. Partisipasi dalam evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui ketercapaian program yang sudah direncanakan sebelumnya.

Sedangkan level partisipasi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkatan mulai dari level yang terendah sampai level yang tertinggi dalam partisipasi sebagaimana berikut ini: 1) Partisipasi Pasif. Masyarakat diajak berpartisipasi dengan diberitahu apa yang sudah dan sedang terjadi. Mereka mendapatkan manfaat.Mereka berpartisipasi sepanjang ada manfaat yang tersedia; 2) Partisipasi Sebagai Kontributor. Masyarakat berpartisipasi dengan memberikan informasi, sumber daya atau membantu pekerjaan dalam proyek. Dalam merencanakan proyek, peran masyarakat , kalaupun ada sangat sedikit; 3) Partisipasi sebagai Konsultan. Masyarakat dikonsultasii mengenai masalah dan peluang dalam suatu daerah, dan desain sebuah proyek. Professional pembangunanlah yang membuat keputusan mengenai desain; 4) Partisipasi sebagai implementasi. Masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk melaksanakan suatu kegiatan dalam proyek atau program. Mereka tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan; 5) Partisipasi dalam pengambilan keputusan. Masyarakat berpartisipasi secara aktif dalam analisis dan perencanaan bersama dengan professional pembangunan. Mereka terlibat dalam pengambilan keputusan; dan 6) Mobilisasi-diri. Masyarakat berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara mandiri dari institusi dari luar. Mereka bisa melibatkan dampingan dari professional pembangunan, tetapi mereka tetap memegang control dalam proses.

Level keenam dari tingkatan partisipasi yaitu mobilisasi diri merupakan level partisipasi tertinggi. Partisipasi dalam level keenam ini menunjukkan keberdayaan dari komunitas, dimana komunitas/masyarakat yang mengontrol semua proses pembangunan. Sehingga slogan pembangunan dari, oleh dan untuk rakyat dapat diimplementasikan secara riil dan maksimal dalam level partisipasi mobilisasi diri. Seharusnya partisipasi yang ada, muncul dan terbangun dalam masyarakat adalah level partisipasi mobilisasi diri ini. Hal ini akan menjadi penanda tingginya tingkat keberdayaan yang dimiliki oleh masyarakat sebagaimana tujuan dari pembangunan itu sendiri, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keberdayaan masyarakat secara hakiki.

(21)

15 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

4. Kemitraan (Partnership)

Partnership secara harfiyah berarti kemitraan. Secara istilah, partnership adalah “a relationship between individuals or groups that is characterized by mutual cooperation and as for the achievement of a specified goal.” (Hubungan yang dibangun antara beberapa individu atau grup yang didasari oleh kerjasama dan tanggung jawab yang sama dalam menggapai tujuan tertentu).

Partnership mengandung pengertian adanya interaksi dan interelasi minimal antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak merupakan "mitra” atau "partner”. Kemitraan adalah proses pencarian/perwujudan bentuk-bentuk kebersamaan yang saling menguntungkan dan saling mendidik secara sukarela untuk mencapai kepentingan bersama.

Kemitraan adalah upaya melibatkan berbagai komponen baik sektor, kelompok masyarakat, lembaga pemerintah atau non-pemerintah untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip, dan peran masing-masing. Partnership juga mengandung pemahaman adanya suatu kesepakatan dimana seseorang, kelompok atau organisasi untuk bekerjasama mencapai tujuan, mengambil dan melaksanakan serta membagi tugas, menanggung bersama baik yang berupa resiko maupun keuntungan, meninjau ulang hubungan masing-masing secara teratur dan memperbaiki kembali kesepakatan bila diperlukan.

Partnership merupakan modal utama yang sangat dibutuhkan dalam memaksimalkan posisi dan peran masyarakat dalam pembangunan yang dilakukan. Hal itu dimaksudkan sebagai bentuk pembangunan dimana yang menjadi motor dan penggerak utamanya adalah masyarakat itu sendiri (community driven development) karena pembangunan yang dilakukan dalam berbagai varinnya seharusnya masyarakatlah yang harus menjadi penggerak dan pelaku utamanya. Sehingga diharapkan akan terjadi proses pembangunan yang maksimal, berdampak empowerment secara masif dan terstruktur. Hal itu terjadi karena dalam diri masyarakat telah terbentuk rasa memiliki (sense of belonging) terhadap pembangunan yang terjadi di sekitarnya.

Prinsip Partnership

Partnership memiliki prinsip- prinsip sebagai berikut:

a. Prinsip Saling Percaya (Mutual Trust), kemitraan mesti didasarkan pada prinsip saling percaya yang harus terbangun diantara pihak-pihak yang bermitra. Saling percaya akan menjadi pondasi yang kuat bagi kemitraan yang akan dibangun. Adanya saling percaya mengindikasikan bahwa kemitraan yang terbangun harus jauh dari prasangka-prasangka, apalagi prasangka yang negatif, karena sesungguhnya ketika muncul ketidakpercayaan diantara partner yang bermitra, maka sejak saat itu juga sesungguhnya kemitraan yang dibangun menjadi runtuh.

b. Prinsip Saling Kesefahaman (Mutual Understanding). Prinsip kemitraan yang selanjutnya adalah adanya saling kesefaham. Prinsip ini mengandung pengertian bahwa kemitraan harus dibangun diatas saling memahami / saling mengerti diantara

(22)

16 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

partner yang terlibat dalam kemitraan. Saling memahami yang dimaksudksan adalah memahami tentang konteks kemitraan yang dibangun diantara mereka.

c. Prinsip Saling Menghormati (Mutual Respect). Prinsip saling menghormati berarti bahwa dalam kemitraan masing-masing mitra harus saling menghormati eksistensi masing-masing partner, saling menghormati juga bermakna saling menghormati posisi, peran dan tanggung jawab masing-masing mitra dalam kemitraan yang dibangun.

d. Prinsip Kesetaraan (Equity), Prinsip kesetaraan bermakna bahwa dalam kemitraan masing-masing mitra harus menganggap dan memposisikan sama/setara antara semua partner yang terlibat. Tidak diperbolehkan adanya partner yang menganggap dirinya/lembaga/ institusinya lebih tinggi dari yang lain.

e. Prinsip Keterbukaan (Open). Kemitraan harus dibangun diatas prinsip keterbukaan dalam artian bahwa konteks kemitraan yang dibangun harus diketahuai oleh semua partner yang terlibat. Tidak boleh ada yang ditutupi dari pihak-pihak yang bermitra dalam semua hal yang terkait dengan kemitraan yang dibangun.

f. Prinsip Bertanggung Jawab Bersama (Mutual Responsibility). Prinsip bertanggungjawab bersama mengandung pengertian bahwa dalam kemitraan yang dibangun semua pihak yang terlibat dalam kemitraan memiliki tanggung jawab bersama terhadap keberhasilan dan kesuksesan kemitraan. Bertanggung jawab bersama juga menyangkut dalam hal ketika kemitraan yang dibangun mengarah atau bahkan mengalami ketidakberhasilan. Masing-masing partner bertanggung jawab terhadap proses dan hasil kemitraan yang dibangun, keberhasilan dan atau kegagalan. g. Prinsip saling menguntungkan (Mutual Benefit). Prinsip ini mengandung makna bahwa kemitraan harus dibangun di atas kemanfaatan bersama. Semua pihak yang bermitra harus memperoleh manfaat dan benefit yang sama sesuai dengan kesepakatan kemitraan. Tidak boleh kemudian muncul pihak-pihak yang bermitra tidak dapat mengambil manfaat dari kemitraan yang dibangun atau bahkan hanya mendapatkan kerugian.

Langkah-Langkah Membangun Partnership:

a. Pengenalan potensi-kekuatan. Langkah pertama yang mesti dilakukan adalah memahami konteks kemitraan yang akan dibangun, dengan memahami potensi kekuatan yang akan dijadikan sebagai bagian inti dalam kemitraan. Pemahaman dan pengenalan tentang potensi-kekuatan yang dimiliki mesti harus dilakukan sebagai landasan dasar dalam melakukan kemitraan, dan harus dilakukan sebelum kemitraan dibangun. Kemitraan harus didasarkan pada pertanyaan kunci yaitu kemitraan dibangun dalam rangka mengembangkan potensi-kekuatan apa. Pengenalan terhadap potensi-kekuatan yang dimilki akan menjadi modal utama untuk menentukan langkah-langkah dalam partnership selanjutnya. Sehingga bentuk dan model partnership yang akan dibangun akan lebih fokus, tepat sasaran, dan berdyaguna secara maksimal.

b. Seleksi potensi-kekuatan. Potensi-kekuatan yang sudah diidentifkasi kemudian diseleksi berdasarkan kebutuhan dan konteks kemitraan yang akan dibangun. Tidak

(23)

17 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

semua potensi-kekuatan kemudian dilibatkan dalam konteks kemitraan yang akan dibangun, karena hal itu justru akan berdampak kontra produktif.

c. Melakukan identifikasi calon mitra dan pelaku-pelaku potensial. Langkah selanjutnya adalah melakukan identifkasi terhadap calon mitra yang akan dilibatkan dalam kemitraan. Kemudian diklasifikasikan mitra-mitra mana saja yang potensial untuk diajak bergabung, dan yang kurang potensial untuk kemudian tidak dilibatkan dalam kemitraan yang akan dibangun.

d. Melakukan identifikasi peran mitra/jaringan kerjasama antar sesama mitra dalam upaya mencapai tujuan. Setelah melakukan identifikasi calon mitra potensial yang akan dilibatkan, maka selanjutnya adakah melakukan idenfikasi peran, tanggungjawab dan hak masing-masing mitra dalam upaya mencapai tujuan yang diinginkan dalam bermitra.

e. Menumbuhkan kesepakatan yang menyangkut bentuk kemitraan, tujuan dan tanggung jawab, penetapan rumusan kegiatan memadukan sumberdaya yang tersedia di masing-masing mitra kerja. Langkah ini menekankan pada menumbuhkan kesepakatan diantara para mitra yang tergabung dalam kemitraan tentang bentuk kemitraan yang disepakati, tujuan kemitraan, tanggungjawab masing- masing mitra, perumusan kegiatan yang dilakukan secara bersama- sama dalam kerangka memadukan sumberdaya, potensi, kekuatan dan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing mitra. Kesepakatan tersebut akan berdampak positif dan berpengaruh kuat terhadap keberhasilan kemitraan yang akan dibangun.

f. Menyusun rencana kerja: penyusunan rencana kerja dan jadwal kegiatan, pengaturan peran, tugas dan tanggung jawab. Langkah selanjutnya adalah menyusun rencana kerja bersama-sama termasuk didalamnya jadwal kegiatan serta pengaturan dan penetapan peran, tugas dan tanggung jawab masing-masing mitra.

g. Melaksanakan kegiatan terpadu: menerapkan kegiatan sesuai yang telah disepakati bersama melalui kegiatan, bantuan teknis, laporan berkala. Setelah rencana tersusun dengan maksimal, langkah selanjutnya adalah melaksanakan rencana yang telah disusun secara bersama-sama sesuai peran dan tanggungjawab masing-masing secara maksimal. Palaksanaan ini juga termasuk didalamnya pelaporan- pelaporan yang dibutuhkan, baik secara berkala, maupun untuk kepentingan laporan akhir.

h. Monitoring dan evaluasi (Monev).Semua langkah yang sudah disusun dan diimplementasikan tidak akan berdampak secara maksimal tanpa adanya langkah monitoring dan evaluasi. Monev berarti proses pendampingan terhadap jalannya kemitraan yang dibangun melalui kegiatan yang dilakukan bersama- sama. Monitoring merupakan aksi dalam rangka memberikan pengawasan terhadap proses dan jalannya partnership. Sehingga ketika dalam proses partnership terjadi penyimpangan atau bahkan berlawanan dengan konsep dan kesepakatan semula, maka melalui kegiatan monitoring penyimpangan tersebut dapat diluruskan kembali. Sedangkan evaluasi merupakan kegiatan yang menyertai monitoring dalam rangka melihat sejauhmana hasil dari partnership yang dilakukan. Hasil yang muncul kemudian dilihat untuk diperbandingkan dengan tujuan utama yang dirancang untuk diperoleh dalam partnership yang dilakukan.

(24)

18 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

5. Penyimpangan Positif (Positive Deviance)

Positive Deviance (PD) secara harfiah berarti penyimpangan positif. Secara terminologi positive deviance (PD) adalah sebuah pendekatan terhadap perubahan perilaku individu dan sosial yang didasarkan pada realitas bahwa dalam setiap masyarakat (-meskipun bisa jadi tidak banyak-) terdapat orang-orang yang mempraktekkan strategi atau perilaku sukses yang tidak umum, yang memungkinkan mereka untuk mencari solusi yang lebih baik atas masalah yang dihadapi daripada rekan-rekan mereka. Praktek PD bisa jadi, seringkali atau bahkan sama sekali keluar dari praktek yang pada umum dilakukan oleh masyarakat. Realitas tersebut mengisyaratkan bahwa seringkali terjadi pengecualian-pengecualian dalam kehidupan masyarakat dimana seseorang atau beberapa orang mempraktekkan perilaku dan strategi berbeda dari kebanyakan masyarakat pada umumnya. Strategi dan perilaku tersebut yang membawa kepada keberhasilan dan kesuksesan yang lebih dari yang lainnya. Realitas ini juga mengisyaratkan bahwa pada dasarnya masyarakat (anggota masyarakat) memiliki aset atau sumber daya mereka sendiri untuk melakukan perubahan-perubahan yang diharapkan.

Konsep ini pertama kali muncul dalam penelitian gizi pada 1970-an. Para peneliti mengamati bahwa meskipun kemiskinan melanda masyarakat, beberapa keluarga miskin memiliki anak bergizi baik. Penelitian tersebut kemudian merekomendasikan untuk menggunakan informasi yang dikumpulkan dari keluarga miskin yang memiliki anak bergizi baik tersebut sebagai rujukan untuk merencanakan program peningkatan gizi masyarakat.

Pendekatan positive deviance digunakan untuk membawa pada perilaku dan perubahan sosial berkelanjutan dengan mengidentifikasi solusi yang sudah ada dalam sistem di masyarakat. Positive deviance menunjukkan bahwa terdapat perilaku dan strategi khusus atau biasa yang memungkinkan orang atau kelompok untuk mengatasi masalahnya tanpa menggunakan atau memerlukan sumber daya khusus. Positive deviance merupakan modal utama dalam pengembangan masyarakat yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan berbasis aset-kekuatan.

Positive deviance menjadi energi alternatif yang vital bagi proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan. Energi itu senantiasa dibutuhkan dalam konteks lokalitas masing-masing komunitas. Positive deviance sangat dibutuhkan dalam proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis aset dan kekuatan. Terlebih ketika proses pembangunan yang diharapkan berdampak secara maksimal membutuhkan terobosan-terobosan strategi, teknik dan metode yang tepat, cepat dan sesuai dengan lingkup dan konteks lokalitas yang ada.

Prinsip-Prinsip Positive Deviance

a. Masyarakat pada dasarnya sudah memiliki solusi. Mereka adalah ahli terbaik dalam memecahkan tantangan mereka sendiri.

b. Komunitas mengatur dirinya sendiri dan memiliki sumber daya manusia dan aset sosial untuk memecahkan tantangan mereka.

(25)

19 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

c. Kecerdasan kolektif. Kecerdasan dan pengetahuan tidak terkonsentrasi ke beberapa anggota masyarakat atau ahli eksternal saja, tetapi didistribusikan ke seluruh anggota masyarakat.

d. Keberlanjutan sebagai landasan pendekatan. Pendekatan PD memungkinkan masyarakat atau organisasi untuk mencari dan menemukan solusi yang berkelanjutan bagi masalah yang dihadapi.

e. Positive deviance didasarkan pada prinsip bahwa lebih mudah untuk mengubah perilaku dengan berlatih atau berbuat dengan sesuatu yang baru tersebut, daripada hanya dengan sekedar mengetahui/ memahami tentang hal baru itu.

Secara umum desain Positive Devience terdiri dari empat langkah mendasar yaitu: 1) Mendefinisikan (to define); 2) Menentukan (to determine); 3) Menemukan (to discover); dan 4) Mendesain (to design).

Langkah-Langkah Operasional Positive Devience

a. Ajakan kepada masyarakat untuk melakukan perubahan. Proses PD dimulai dengan ajakan kepada masyarakat yang ingin mengatasi masalah penting yang mereka hadapi. Ini merupakan langkah awal yang penting dari pembentukan rasa kepemilikan masyarakat terhadap proses yang akan mereka lakukan .

b. Mendefinisikan potensi-kekuatan. Proses ini dilakukan oleh masyarakat dengan mendefinisikan potensi-kekuatan mereka sendiri. Proses ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk merefleksikan potensi-kekuatan yang ada serta memproyeksikan tujuan yang ingin dicapai dengan pengembangan potensi-kekuatan tersebut. Proses ini juga memberikan peluang untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan dan pengambil keputusan dalam konteks tantangan yang dihadapi. Pemangku kepentingan lainnya dan para pengambil keputusan akan ditarik di seluruh proses yang diidentifikasi.

c. Menentukan adanya pelaku (individu atau kelompok) PD; Melalui observasi atau pengumpulan data di masyarakat. Kemudian, masyarakat menetapkan bahwa ada pelaku PD di tengah-tengah mereka.

d. Menemukan praktik atau perilaku yang tidak biasa. Langkah ini merupakan penyelidikan PD untuk menemukan perilaku, sikap, atau keyakinan yang memungkinkan PD menjadi sukses. Fokusnya adalah pada strategi sukses PD, bukan pada membuat pahlawan orang yang menggunakan strategi. Langkah ini merupakan proses dimana mereka yang telah menemukan solusi sukses memberikan "bukti sosial" bahwa masalah ini dapat diatasi, tanpa harus membutuhkan sumber daya dari luar.

e. Merancang program. Setelah masyarakat mengidentifikasi strategi sukses, mereka memutuskan strategi apa yang ingin mereka adopsi, dan mendesain berbagai kegiatan untuk membantu anggota masyarakat yang lain untuk mengakses dan dan mempraktekkan strategi yang tidak umum tadi. Rancangan program tidak hanya terfokus pada menyebarkan "praktik terbaik" tetapi membantu anggota masyarakat "bertindak dengan cara mereka sendiri ke dalam cara berpikir baru" melalui kegiatan nyata.

(26)

20 | Pedoman Pelaksanaan KKN Tematik Posdaya Berbasis ABCD Angkatan Ke-67 Tahun 2017

f. Monitoring dan evaluasi. Program PD yang dilakuakn dimonitoring dan dievaluasi melalui proses partisipatif. Pemantauan akan diputuskan dan dilakukan oleh masyarakat. Prosesnya dengan menggunakan alat-alat monev yang mereka buat dengan disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada. Sehingga, proses monev dapat dilakukan secara fleksibel, dengan memungkinkan semua anggota masyarakat bahkan yang buta hurufpun dapat berpartisipasi dalam kegiatan monev melalui bentuk-bentuk monitoring bergambar atau melalui penggunaan alat-alat lain yang sesuai. Sementara itu valuasi memungkinkan masyarakat untuk melihat kemajuan mereka menuju tujuan yang ingin dicapai, juga dalam kerangka memperkuat perubahan perilaku, sikap, dan keyakinan.

6. Berawal dari Masyarakat (Endogenous)

Istilah endogenous secara bahasa berarti dari dalam, dikembangkan dari dalam “masyarakat”. Pemaknaan kata endegenous akan mengikuti sub kata yang disifatinya. Sehingga ketika kata yang disifati dan muncul sebelumnya adalah pembangunan, maka pembangunan endogen berarti pembangunan yang dikembangkan dari dalam masyarakat sendiri. Dalam penggunaannya, kata-kata endogenous seringkali digunakan untuk mensifati pembangunan sehingga yang sering muncul kemudian adalah istilah local endogenous dan istilah pembangunan endogen.

Pembangunan endogen sendiri mengandung arti pembangunan yang berdasar dari dalam konteks atau komunitas tertentu atau pembangunan yang dikembangkan dari dalam masyarakat. Pembangunan endogen kemudian berkembang dengan menemukan apa yang bisa ditemukan dalam satu konteks tertentu “dalam masyarakat” berdasarkan stimulus dari pengetahuan dan pemahaman di luar konteks tersebut. Istilah pembangunan endogen kemudian menjadi istilah tersendiri dalam konteks pendekatan dalam pengembangan masyarakat berbasis aset. Pembangunan endogen pada prinsipnya mengacu pada tujuan pokok yaitu memperkuat komunitas lokal untuk mengambil alih kendali dalam proses pembangunan mereka sendiri.

Tujuan Pembangunan Endogen adalah: 1) Merevitalisasi pengetahuan turun temurun yang ada di komunitas dan pengetahuan lokal yang dimiliki; 2) Memilih sumber daya eksternal yang paling sesuai dengan kondisi lokal; dan 3) Mencapai peningkatkan keanekaragaman hayati dan keragaman budaya, mengurangi kerusakan lingkungan, dan interaksi di tingkat lokal dan regional yang berkesinambungan.

Selain itu, Pembangunan Endogen memiliki prinsip- prinsip yaitu: 1) Memiliki kendali lokal atas proses pembangunan; 2) Mempertimbangkan nilai budaya secara sungguh-sungguh; 3) Mengapresiasi cara pandang dunia; dan 4) Menemukan keseimbangan antara sumber daya lokal dan eksternal.

Aplikasi Prinsip Pembangunan Endogen adalah semua aset yang dimiliki oleh komunitas sebagai kekuatan utama yang bisa dimobilisasi untuk digunakan sebagai modal utama dalam pengembangan masyarakat. Aset dan kekuatan tersebut bisa jadi sebelumnya

Referensi

Dokumen terkait