• Tidak ada hasil yang ditemukan

STAN-ku Sayang, Ayahku Tersayang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STAN-ku Sayang, Ayahku Tersayang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

STAN-ku Sayang, Ayahku Tersayang

Siang itu panas terik menembus pakaian panjang yang kukenakan. Sinar matahari di jalanan menyilaukan pandanganku. Aku memerhatikan jalan raya dengan seksama di balik punggung seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayahku. Ya, setiap hari Minggu siang aku dan ayahku menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer menggunakan sepeda motor keluaran lama untuk menuju tempatku memperdalam kemampuanku dalam mengerjakan soal-soal tes masuk STAN. Kala itu di pikiranku hanya sebatas pemikiran pendek anak remaja yang baru saja menginjakkan kaki di tahun terakhir sekolah menengah atas. Kalimat yang terlintas di pikiranku dan sering aku ucapkan kepada ayahku adalah, “Ayah, kenapa Kakak tidak Ayah izinkan untuk berangkat sendiri? Kakak kan udah gede, Yah. Toh biasanya ke sekolah juga nge-bus (naik bus).“ Aku menyebut diriku sebagai kakak karena aku adalah anak pertama, sedangkan adikku terpaut tiga tahun usianya denganku. Jawaban ayahku selalu sama. “Gapapa, biar Kakak tidak repot ke sananya. Lama juga kalo naik bus macet berjam-jam. Ayah juga ga ngapa-ngapain di rumah, Kak.” Aku menggerutu di dalam hati, batinku, “Ah, ayah ga percaya amat sama anaknya. Ke mana-mana dianterin. Takut aku jalan-jalan dulu pasti pulangnya.” Oh ya, sekedar informasi, jarak rumahku ke tempat lesku memang jauh. Beda kota. Di sekitar tempat tinggalku tidak ada bimbingan belajar khusus masuk STAN. Alhasil aku harus keluar kota untuk mencapai itu.

Setiap minggu pagi aku harus melewatkan acara tontonan favorit remaja yang berjiwa anak-anak sepertiku. Doraemon dan Crayon Shinchan, tapi aku masih sempat menonton sampai selesai episode Chibi Maruko Chan yang mungkin kadangkala melenakanku sampai mandi pun telat karena asik menonton rentetan acara kartun di Minggu pagi. Sayangnya, acara-acara anak-anak itu harus tergantikan dengan sinetron cinta anak labil yang mendominasi pertelevisian negeri sekarang. Sembari ibu sedang menyiapkan sarapan dan aku membantu beliau sambil menonton kartun, ayahku sudah siap untuk mengantarku berangkat les khusus masuk STAN. Iya, ayah sudah ganteng dan sudah siap berjam-jam sebelum jam keberangkatan menuju tempat les. Kalian mungkin tau sendiri, betapa besar magnet bermalas ria di hari libur. Dengan sabar dan telaten ayah mengingatkanku untuk segera bersiap-siap berangkat. Begitulah rutinitas minggu pagiku.

Aku mengambil les khusus masuk STAN selama setahun dengan satu kali pertemuan di setiap minggunya. Di tempat les itu aku dan teman-teman peserta lain latihan mengerjakan soal-soal USM STAN. Ada tryout yang diadakan setiap tiga pekan sekali yang artinya di

(2)

pertemuan keempat hasil belajar kami diuji. Hasilnya diumumkan di pertemuan berikutnya. Aku selalu sumringah bercerita kepada ayah bagaimana di kelas. Apalagi ketika hasil tryout diumumkan, aku langsung berlari dengan tersenyum lebar menunjukkan hasilku. Kegembiraan luar biasa saat itu adalah ketika melhat senyum ayah yang seakan lupa akan jarak tempuh perjalanan 40 kilometer menuju rumah di bawah terik matahari yang menyengat. Tepat pukul dua belas siang. Sambil mengelus kepalaku ayah berkata, “Anak ayah insyaa Allah bisa masuk STAN.” Aku mengamini kalimat ayahku sambil tersenyum sampai tidak terlihat bola mataku. Alhamdulillah.

Kekecewaan menghampiriku kala aku mendengar kabar bahwa STAN tidak buka pendaftaran di tahun aku lulus sekolah. Aku sudah menghilangkan kesempatanku untuk tidak mendaftar SBMPTN (kala itu namanya SNMPTN) karena aku hanya fokus pada USM STAN yang biasanya diadakan di akhir penantian peralihan ke perguruan tinggi. Ayah selalu berpikiran yang berbeda denganku. Di saat aku terjebak dengan pikiran sempitku mempertanyakan kenapa begini, tetapi ayah berpikiran sangat luas, menenangkanku sehingga aku bisa berlapang dada dan mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim [14]: 7)

Akupun menjalani kehidupan kuliahku di salah satu perguruan tinggi negeri di luar kota. Itu adalah hasil seleksi SNMPTN (kala itu namanya undangan) yang diterima. Aku kurang begitu suka dengan universitasnya, tetapi jurusan yang kupilih sesuai dengan minatku. Hanya saja kalau disuruh memilih antara STAN atau hasil SNMPTN-ku kala itu, aku lebih memilih STAN, hehe. Selama setahun aku disibukkan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari banyaknya tugas, laporan praktikum, sampai kegiatan-kegiatan nonakademis yang aku ikuti. Aku sudah lupa akan impian masuk STAN-ku.

Hingga pada suatu hari...

“Eh kamu ga daftar STAN?” tanya seorang temanku tiba-tiba di saat aku sedang fokus pada layar laptop sembari jemariku menari-nari di atas keypad dan keyboard.

“Emang buka?” aku diam sejenak dan memalingkan muka ke arahnya sebentar lalu melanjutkan kegiatanku.

“Iya, tahun ini buka. Si Carla, Cemot, Steven pada ikut katanya. Banyak temen-temen yang mo daftar. Tuh temen-temen lagi rame bahas STAN.”

(3)

“Hmm..” (aku tidak bergeming)

“Kan kamu dulu katanya pengen banget masuk STAN.”

Aku menghentikan ketikanku pada keyboard. Pikiranku menerawang jauh.

Sepulang dari kampus, aku langsung mencari info tentang pendaftaran STAN. Jari-jariku bergerak lincah untuk mencari tau apa saja persyaratannya. Buku-buku latihan soal USM STAN kembali kubuka. Entah hanya berselang berapa minggu dari tes tertulis aku intens mengerjakan latihan soal karena pada saat itu aku harus membagi waktuku antara kuliah dan kegiatan nonakademik lainnya di kampus. Aku menghubungi orang tuaku untuk meminta restu. “Buk, yah, Kakak mau ikut USM STAN tahun ini, doain ya.”

Setelah tes tulis, aku mulai latihan fisik. Hasil tes tulis belum keluar, tapi apa salahnya mempersiapkan diri lebih awal. Lagipula lebih banyak manfaatnya untuk kesehatan. Seumur hidup semenjak aku memasuki bangku sekolah menengah pertama, rasanya aku tidak pernah olahraga selain memang ada jadwal olahraga di sekolahku. Ayahku adalah instruktur pribadiku. Beliau yang melatih aku dalam mempersiapkan tes fisik. Aku ingat betul, saat itu bulan Ramadhan, jadi kami yang muslim sedang menjalankan ibadah puasa wajib Ramadhan. Ayahku libur pada hari Sabtu dan Minggu. Di kedua hari itulah (dalam keadaan berpuasa) aku dan ayahku berlari mengitari lapangan pada waktu pagi. Rasa haus dan lapar terkalahkan dengan semangatku ingin masuk STAN. Ayah berpesan padaku agar sore hari sebelum maghrib saja aku latihan larinya agar tidak terlalu capek. Tapi apa daya aku terlalu malas untuk melakukan itu. Tidak ada ayah yang menemani berlari sehingga aku malas melakukannya.

Hari pengumuman tes tertulis tiba. Alhamdulillah. Aku lolos. Itu artinya aku benar-benar bisa melanjutkan tahap selanjutnya, yaitu tes kesehatan dan tes kebugaran. Aku makin bersemangat dan meningkatkan tempo berlariku. Semula, pada saat awal-awal latihan berlari, ayah selalu selangkah di depanku. Ketika aku sudah konsisten dan stabil dalam berlari, ayah sudah tertinggal jauh di belakangku. Ketika aku berpapasan dengan ayahku setelah mendahuluinya satu putaran, aku mendengar dengus nafas yang berat dari ayahku. Aku memperhatikannya dengan seksama. Pada saat itu aku sadar bahwa ayahku sudah tidak lagi muda, bahkan mungkin sudah terlalu tua untuk seusianya melakukan kegiatan ini. Ayahku sebenarnya sudah sangat ngos-ngosan dan tidak kuat untuk menyamai daya tahan lari anak muda. Aku segera mendahului ayahku. Tetesan air mata keluar dari mataku tanpa bisa aku

(4)

cegah. Aku menangis. Aku baru tau bahwa ayah melakukan ini semua demi aku. Ayah rela menemaniku berlari di setiap Sabtu dan Minggu pagi karena hanya hari itulah aku mau berlari dan aku hanya mau berlari jika ditemani ayahku. Aku menangis, aku malu, aku bahagia memiliki ayah sehebat itu.

Sejak saat itu aku mulai latihan lari pada sore hari. Jika hari Sabtu atau Minggu pagi tiba, aku pamit untuk berangkat lari sendiri tetapi tetap saja ayah kadangkala ingin ikut menemani. Aku mengajak ayah hanya untuk melihat progress latihanku. “Pak Bos duduk aja di situ lihat prajuritnya udah bener apa belum larinya.” Beliaulah instruktur pribadiku. Alhamdulillah, berawal dari latihan lari untuk tes fisik STAN berujung menjadi kebiasaan (hobi) lari di pagi hari hingga kini.

Tes kesehatan dan kebugaran serta wawancara dilakukan pada dua hari berturut-turut. Saat itu aku sedang di luar kota, ada banyak kegiatan di kampus. Ayah berniat untuk cuti kerja agar bisa menemaniku tes di luar kota. Kuyakinkan ayah agar mengirim doa saja dari tempat kerja beliau. Alhamdulillah, tes tahap kedua dan ketigapun lancar. Hanya perlu menunggu pengumuman beberapa hari ke depannya.

Hasil USM STAN keluar pada dini hari. Posisiku saat itu sedang di kos (iya, saat itu aku masih sibuk kegiatan kuliah dan kampus). Internet di dalam kosan sedang lelet. Aku langsung berlari menuju warnet di depan kosanku. Dag dig dug. Degup di dada kencang sekali. Tak henti-hentinya mengucapkan bismillah sambil scrolling berharap semoga ada namaku di situ. ALHAMDULILLAH, ALLAHU AKBAR! Aku lolos sesuai pilihan pertamaku. Aku segera menghubungi ayah dan ibuku di kota yang berbeda denganku di sana. Aku menangis terharu dan bahagia. Begitu pula dengan kedua orang tuaku.

Cerita tidak berhenti di situ. Aku mulai bimbang dengan keputusan apa yang akan aku ambil. Di satu sisi aku sudah nyaman dan menikmati kuliahku di jurusan saat itu. Ditambah dengan aku mendapat beasiswa dan berbagai impian dan tawaran menarik lainnya jika aku melanjutkan kuliah di jurusan tersebut. Di sisi lain keinginan berkuliah di STAN masih besar bagiku.

“Tapi yah, uang yang ayah ibuk keluarkan untuk Kakak kuliah setahun ini kan gede. Udah habis ini itu.”

“Kakak kok mikirnya kesitu. Asal Kakak seneng, nyaman, dan semangat kuliahnya Ayah ya ikut seneng.”

(5)

Aku langsung memeluk ayahku. Semua perkataan yang keluar dari mulut beliau selalu menenangkan. Aku meminta pertimbangan dan saran orang tua. Orang tuaku selalu menyerahkan semua keputusan padaku. Ayah dan ibu percaya pada anaknya dan selalu mendukung apapun yang terbaik bagi anaknya. Setelah memikirkan dengan matang dan atas petunjuk Allah, aku pun meminta restu kepada orang tua untuk memilih STAN. Alhamdulillah, ada banyak kebaikan dan kenikmatan tak terkira di kampus ini ☺

Ketika aku bercerita tentang STAN, yang terpikirkan peratama di benakku adalah ayahku. Semua perjuangan dan pengorbanan beliau luar biasa. Aku selalu tak kuat menahan tangis ketika bercerita, termasuk saat ini. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengirimkanku pada sosok ayah yang hebat ☺

Referensi

Dokumen terkait