I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan dalam rata-rata pendapatan perkapita, tetapi juga penambahan (reduksi) dalam kemiskinan. Hal ini sudah sangat jelas, bahwa output yang besar yang dihasilkan oleh suatu negara, belum bisa dikatakan bahwa negara tersebut telah mengalami pembangunan ekonomi (sektor riil), karena pada intinya, pembangunan ekonomi (sektor riil) hanya bertujuan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Dan kesejahteraan itu tidak akan didapatkan, kalau kemiskinan masih merajalela, dan adanya ketidakmerataan. Keadilan dan kesejahteraan itu baru bisa dicapai dengan adanya pembenahan pada manusianya, sehingga keadilan bisa diwujudkan dan kemiskinan serta ketidakmerataan dapat diminimalkan (Juliani, 2008).
Selama ini sektor pertanian merupakan sektor yang paling sedikit mendapat perhatian pemerintah. Pembahasan tentang pertanian umumnya dilakukan tanpa dikaitkan dengan sektor lainnya. Akibatnya pembangunan ekonomi (sektor riil) dipandang sebagai bagian yang terpisah dari pembangunan di bidang lainnya seperti bidang industri, perdagangan dan jasa serta sektor ekonomi (sektor riil) lainnya. Padahal pandangan yang sempit inilah yang menyebabkan pembangunan pertanian di negara-negara berkembang menjadi sangat jauh tertinggal dibandingkan pembangunan
pertanian dan pembangunan ekonomi (sektor riil) negara-negara maju (Reza, 2008).
Berbicara tentang sektor pertanian tentu tidak terlepas dari membicarakan “petani” selaku pelaku usahatani. Mereka melakukan kegiatan pada berbagai subsektor pertanian baik pada Subsektor Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Subsektor Perkebunan, Peternakan, Perikanan dan sedikit pada Subsektor Kehutanan (Hassan, 2005).
Kita bisa melihat usahatani di Jepang, Thailand, dan Korea Selatan. Pemerintah di negara itu benar-benar melindungi usahatani padi karena usahatani ini merupakan akar kebudayaan mereka. Perlindungan dilakukan dengan berbagai cara bukan hanya karena berdasarkan hitung-hitungan angka produksi dan konsumsi. Mereka berkeyakinan meski mereka telah menjadi negara maju, namun mereka sadar nenek moyang mereka adalah petani padi. Dalam beberapa kesempatan lobi-lobi internasional, Jepang juga memperkenalkan nilai intrinsik (kebudayaan) usahatani padi. Jepang melihat usahatani padi tidak hanya ditentukan oleh harga di pasar. Usahatani padi juga harus dihargai dari sisi kebudayaan, perlindungan lingkungan hidup, dan pariwisata. Untuk itulah usahatani padi harus dilindungi (Anonim, 2005).
Oleh karena itu, kita memiliki akar kebudayaan yang sangat kuat dengan usahatani padi. Selayaknya usahatani ini dilindungi dengan alasan yang sama seperti yang dilakukan oleh banyak negara di Asia lainnya. Usahatani padi selayaknya digolongkan dalam peninggalan sejarah yang harus dilindungi. Bila tidak dilindungi, para petani sebenarnya tengah menjalani kenyataan yaitu hari-hari akhir sebelum usahatani ini lenyap. Mereka tidak bisa dilepas ke pasar yang sangat berubah (distortif) dan penuh kepentingan ekonomi kapitalis (Kapitalisme adalah suatu paham sekularisme yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama) negara lain. Pendekatan kebudayaan salah satu cara untuk melindungi petani padi (Anonim, 2005).
Setiap usahatani, tak terkecuali usahatani padi, memiliki ketergantungan terhadap cuaca dan iklim. Ketergantungan ini menghasilkan irama tanam dan panen yang (hampir) sering (ajeg). Perubahan iklim membuat irama tanam dan panen kacau. Irama panen yang tidak merata membuat harga berfluktuasi (berubah-rubah atau tidak tetap). Harga gabah atau beras melorot ketika panen raya, sebaliknya harga gabah atau beras naik tajam saat paceklik. Nasib petani terombang-ambing di antara dua kutub itu. Ini terjadi karena daya tawar petani
lemah dalam perdagangan gabah sebab surplus jual dan kemampuan menyimpan gabah rendah, sedangkan kebutuhan pengembalian utang (likuiditasnya) tinggi (Khudori, 2008).
Petani menjual seluruh gabah segera setelah panen dalam bentuk gabah kering panen (GKP). Padahal, kualitas gabah amat dipengaruhi cuaca. Saat hujan atau mendung mutu GKP amat buruk. Dengan karakteristik demikian, pasar gabah bersifat mudah rusak (monopsonistik) dan di perioritaskan (tersegmentasi) secara lokal. Adapun penawaran gabah petani amat tidak tetap (inelastis). Pasar gabah lokal di tingkat petani tak sempurna (penentuan harga masih dipengaruhi oleh pedagang pengumpul atau pembeli, selain itu gabah yang dijual jenisnya banyak atau tidak homogen), tidak efisien (inefisien), dan sangat tidak adil (merugikan petani, tetapi menguntungkan pedagang). Akibatnya, pendapatan riil petani kian tertinggal jauh dari pendapatan mereka di sektor non-usahatani (Khudori, 2008).
Tingkat produktivitas padi di Indonesia relatif tinggi, yakni sebanyak 4,69 ton per ha pada 2007 dan cenderung terus meningkat, namun sayangnya kesejahteraan petani justru turun terus. Bila dilihat dari indikator nilai pendapatan-harga (Revenue-Cost) pertanian padi selama 2004-2007, maka kesejahteraan petani yang diukur dari pendapatan riil-nya justru turun, ini dialami di hampir semua provinsi. Secara keseluruhan (agregat), pendapatan riil petani memang disebutkan naik 1%, namun sebenarnya untuk pertanian padi turun sekitar 4% bahkan di atas 5%, karena kenaikan hanya dialami petani perkebunan, seperti kelapa sawit, kakao, atau karet. Nilai pendapatan- harga perbandingan (Revenue-Cost Ratio) usahatani padi di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatra Barat, Jambi, Riau, Sumatra Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Bali, juga Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua turun 1-4,99 persen, bahkan menurun tajam lima persen ke atas untuk usahatani padi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Bengkulu,
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara (Anonim, 2008).
Dalam struktur ongkos usahatani, komponen benih hanya mencakup delapan persen, sisanya 92 persen adalah komponen pupuk, pestisida, sewa lahan, upah pekerja, pengairan dan biaya pasca panen. 92 persen ini juga perlu campur tangan (diintervensi) pemerintah agar ongkos usahatani padi lebih efisien dan memberi margin (selisih biaya dengan penerimaan) yang memadai untuk menstimulus (kemudahan) petani agar tetap bertahan pada usahataninya. Jika pemerintah menjamin harga sarana produksi padi maka petani mempunyai konsep (ekspektasi) yang jelas terhadap struktur ongkos usahataninya dan merangsangan (stimulus) untuk bertahan pada usahanya dan tak tertarik mengkonversi lahannya ke perkebunan, perumahan atau industri (Anonim, 2008).
Pertanyaannya, untung gede kok petani tetap miskin? Ternyata, keuntungan petani sama sekali tidak menjamin mereka bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin mahal. Faktor pembatasnya adalah penguasaan lahan. Bagaimana mungkin petani dapat menghidupi keluarganya kalau lahan yang diusahakan terlalu kecil, rata-rata di bawah 0,25 ha, bahkan banyak yang hanya sebagai buruh tani. Jika ini dikalikan dengan harga Rp 1.000/kg GKG berarti Rp 1,25 juta (per tahun per petani). Berarti per bulannya petani hanya berpenghasilan Rp 100.000. Ini belum dikurangi modal dan pengeluaran yang porsinya sekitar 75 persen. Artinya, petani hanya
untung bersih sekitar Rp 312.500/tahun atau Rp 25.000/bulan (atau Rp 866,7/hari). Bagaimana para petani hidup dengan pendapatan sekecil itu?.
Secara ekonomi, pendapatan sebesar itu sama sekali tidak mungkin bisa menghidupi keluarga. Tetapi pada kenyataannya, petani tetap hidup. Ini benar. Tidak semua petani mempunyai tanah. Sebagian petani bekerja menjadi buruh tani atau sebagai tenaga kerja musiman sehingga bisa hidup dari pendapatan lain di luar pertanian (Khudori, 2008).
Pada saat ini realita yang nampak adalah telah terjadi ketidakadilan dan ketimpangan dalam pendistribusian pendapatan dan kekayaan baik di negara maju maupun di negara-negara berkembang. Hal ini negara maju maupun di negara-negara berkembang mempergunakan sistem kapitalis sebagai sistem
ekonomi negaranya, sehingga menciptakan kemiskinan dimana-mana. Berkaitan dengan masalah distribusi, sistem kapitalisme menggunakan asas bahwa penyelesaian kemiskinan dan kekurangan dalam suatu negara dengan cara meningkatkan produksi dalam negeri. Selain itu memberikan kebebasan bagi penduduk untuk mengambil hasil produksi (kekayaan) sebanyak yang mereka produksi untuk negara. Berkenaan dengan teori distribusi, dalam ekonomi kapitalis dilakukan dengan cara memberikan kebebasan memiliki dan kebebasan berusaha bagi semua individu masyarakat. Sehingga setiap individu masyarakat bebas memperoleh kekayaan sejumlah yang ia mampu dan sesuai dengan faktor produksi yang dimilikinya. Dengan demikian setiap individu masyarakat bebas tidak memperhatikan apakah pendistribusian tersebut merata dirasakan oleh semua individu masyarakat atau hanya bagi sebagian saja. Teori yang diterapkan oleh sistem kapitalis ini adalah dzalim sebab apabila teori tersebut diterapkan maka berimplikasi pada penumpukan kekayaan pada sebagian pihak dan ketidakmampuan di pihak yang lain (Muhammad, 2008).
Dalam sistem ekonomi kapitalis bahwa kemiskinan dapat diselesaikan dengan cara menaikkan tingkat produksi. Selain itu juga dengan cara meningkatkan pendapatan nasional (national income) adalah teori yang tidak dapat dibenarkan. Dan bahkan kemiskinan menjadi salah satu produk dari sistem ekonomi kapitalistik yang melahirkan pola distribusi kekayaan secara tidak adil. Fakta empirik menunjukkan, bahwa bukan karena tidak ada makanan yang membuat rakyat menderita kelaparan melainkan buruknya distribusi makanan. Fakta empirik yang lain menjelaskan bahwa berbagai krisis yang melanda perekonomian dunia yang menyangkut sistem ekonomi kapitalis. Ekonomi kapitalis dewasa ini telah memperburuk tingkat kemiskinan serta pola pembagian pendapatan di dalam perekonomian negara-negara yang ada, lebih-lebih lagi keadaan perekonomian di negara-negara-negara-negara berkembang (Muhammad, 2008).
Ketidakadilan tersebut juga tergambar dalam pemanfaatan kemajuan teknik yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Hal ini hanya bisa dinikmati oleh
masyarakat yang relatif kaya, yang pendapatannya melebihi batas pendapatan untuk hidup sehari-hari. Sedangkan mereka yang hidup sekedar cukup untuk makan sehari-hari terpaksa harus tetap menderita kemiskinan abadi. Karena hanya dengan mengurangi konsumsi hari ini ia dapat menyediakan hasil yang kian bertambah bagi hari esok. Dan kita tidak bisa berbuat demikian kecuali bila pendapatan kita sekarang ini bersisa sedikit di atas keperluan hidup sehari-hari (Muhammad, 2008).
Usahatani padi anorganik adalah cara bagaimana mengolah kegiatan-kegiatan pertanian padi anorganik dengan senyawa kimia seperti Urea, KCL, TSP dan ZA dan lain-lain. Usahatani ini mempunyai biaya eksplisit (biaya yang sesungguhnya dikeluarkan) sarana produksi seperti benih, pupuk (Urea, KCL, TSP dan ZA), pestisida, pajak tanah, iuran irigasi, dan pengangkutan. Sedangkan biaya yang lain adalah biaya ekspisit. Biaya ini terdiri dari pengolahan tanah, penanaman padi anorganik, perawatan tanaman, pemupukan, penggunaan pestisida, semuanya dihitung dalam hari kerja pria (HKP). Keberhasilan usahatani ini ditentukan keadaan geografis seperti jenis tanah, kesuburan tanah, iklim, curah hujan, topografi dan serangan hama.
Sebagian besar petani di Kabupaten Klaten melakukan usahatani padi anorganik. Sehingga produk pertanian negara kita yang notabene adalah negara agraris dirasa masih berlimpah. Sedangkan permintaan pasar terhadap komoditas pertanian padi anorganik meningkat. Dengan meningkatnya permintaan pasar, maka meningkat pula pendapatan petani. Namun dengan meningkatnya pendapatan petani ternyata petani tetap miskin struktural (yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kesalahan sistem yang digunakan pemerintah dalam mengatur urusan rakyat). Menurut pemerintah kemiskinan petani dapat diatasi dengan meningkatkan produksi. Dengan meningkatnya produksi akan meningkatkan pendapatan petani. Fakta empirik menunjukkan meningkatnya pendapatan petani ternyata terjadi ketimpangan distribusi pendapatan petani. Hal ini dikarenakan perbedaan luas lahan pertanian, biaya eksplisit dan penerimaan yang akan membuat terjadi perbedaan pendapatan
yang diterima oleh petani padi anorganik. Di lain pihak, ternyata kesejahteraan setiap individu petani mereka juga masih dipertanyakan.
B. Perumusan Masalah
Pertanian dan industri merupakan sektor perekonomian unggulan Kabupaten Klaten. Sejak dahulu Kabupaten Klaten dikenal sebagai lumbung beras, dan penghasil beras berkualitas tinggi seperti beras Rojolele dari Delanggu. Kabupaten Klaten merupakan penghasil padi terbanyak kedua setelah Kabupaten Sukoharjo (Anonim, 2008).
Adanya biaya eksplisit sarana produksi dan tenaga kerja luar yang semakin tinggi karena dampak dari krisis ekonomi kapitalis menyebabkan pendapatan yang diterima petani menjadi kecil. Pendapatan ini yang pada akhirnya akan digunakan untuk keberlanjutan usahatani padi anorganik dan pemenuhan kebutuhan hidup akan semakin kecil. Di samping itu dengan adanya perbedaan luas lahan pertanian, biaya eksplisit dan penerimaan akan membuat terjadi perbedaan pendapatan yang diterima oleh petani padi anorganik. Perbedaan pendapatan dari usahatani padi anorganik ini akan mengakibatkan perbedaan distribusi pendapatan. Perbedaan distribusi pendapatan usahatani padi anorganik mengakibatkan ketimpangan distribusi pendapatan. Ketimpangan distribusi pendapatan mengakibatkan kegagalan kesejahteraan setiap petani. Kegagalan kesejahteraan setiap petani mengakibatkan kemiskinan struktural.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh bagaimana petani dalam pengelolaan usahatani padi anorganik. Hal ini dapat ditinjau dari perbedaan pendapatan dan besarnya distribusi pendapatan usahatani padi anorganik di Kabupaten Klaten.
Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah yang akan diteliti meliputi:
1. Berapakah pendapatan usahatani padi anorganik di Kabupaten Klaten? 2. Seberapa besar ketimpangan distribusi pendapatan usahatani padi anorganik
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah-masalah yang ada maka penelitian analisis pendapatan usahatani dan distribusi pendapatan padi anorganik Kabupaten Klaten mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendapatan usahatani padi anorganik di Kabupaten Klaten.
2. Untuk mengetahui distribusi pendapatan usahatani padi anorganik di Kabupaten Klaten.
D. Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang ada maka penelitian analisis pendapatan usahatani dan distribusi pendapatan padi anorganik Kabupaten Klaten mempunyai kegunaan sebagai berikut:
1. Bagi peneliti, memperluas khazanah pendapatan dan distribusi pendapatan usahatani padi anorganik di Kabupaten Klaten dan sebagai salah satu syarat meraih gelar sarjana pertanian Unisversitas Sebelas Maret.
2. Bagi pemerintah, sebagai sumbangan pemikiran dalam memberikan solusi atas kegagalan sistem kapitalis sebagai sistem ekonomi pemerintah dalam mensejahterakan setiap individu warganya. Hal ini berkaitan kegagalan sistem kapitalis dalam mendukung usahatani padi anorganik yang memberikan pendapatan dan distribusi pendapatan yang lebih baik. Sehingga diharapkan dengan adanya solusi dapat memberikan kesejahteraan setiap individu petani dan keluarganya.
3. Bagi pembaca, sebagai bahan wacana dan kajian untuk menambah pengetahuan.
4. Sebagai bahan informasi peneliti selanjutnya.
5. Bagi petani, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pustaka dan informasi.
II. LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Heri (2002), dengan judul Hubungan Status dan Pemilikan Lahan Pertanian terhadap Distribusi Pendapatan Petani Di Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan sebesar 0,66 per ha dengan pendapatan usahatani sebesar Rp 2.836.741 per ha. Kemudian nilai Koefisian Gini (Rasio Gini) sebesar 0,37. Hal ini menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan rendah jika Rasio Gini 0,20-0,35.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Endah (2004), dengan judul Analisis Pengaruh Status Penguasaan Lahan Pertanian Terhadap Distribusi Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan garapan petani penggarap 0,50 per ha dengan pendapatan usahatani sebesar 4.171.537 per ha. Kemudian nilai Koefisian Gini (Rasio Gini) sebesar 0,59. Hal ini menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan sedang jika Rasio Gini 0,35-0,50
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Bety (2004), dengan judul Analisis Usahatani Padi Sawah Tadah Hujan pada Musim Kemarau dan Pengaruhnya Terhadap Distribusi Pendapatan di Kabupaten Klaten. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan 1 per hektar dengan pendapatan yang diperoleh usahatani sebesar Rp 504.462.266 per ha. Kemudian nilai Koefisian Gini (Rasio Gini) sebesar 0,309. Hal ini menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan rendah jika Rasio Gini 0,20-0,35
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Karuniawan (2008) dengan judul Analisis Distribusi Pendapatan Dan Efisiensi Biaya Usahatani Padi Pada Pengguna Irigasi Sumur Pompa Di Kabupaten Nganjuk. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa (1) Rata-rata pendapatan petani pada kelompok
1 dengan luas lahan garapan dibawah 0,5 per ha sebesar Rp 1.283.176,70. Rata-rata pendapatan pada kelompok 2 dengan luas garapan antara 0,5-1 per ha sebesar Rp. 3.300.453,33. Rata-rata pendapatan kelompok 3 dengan luas lahan lebih besar dari 1 per ha adalah sebesar Rp. 6.422.826,67. (2) Nilai angka Koefisian Gini (Rasio Gini) pada petani padi pengguna irigasi sumur pompa sebesar 0,5. Hal ini menunjukkan ketimpangan distribusi pendapatan sedang jika Rasio Gini 0,35-0,50 atau ketimpangan distribusi pendapatan tinggi jika Rasio Gini 0,50-0,70.
B. Tinjauan Pustaka
1. Pertanian Anorganik
Pertanian anorganik (non organik) cenderung menggunakan senyawa kimia daripada senyawa mikroorganisme dan dalam penerapannya tidak membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang banyak (Dina, 2004). Revolusi hijau (green revolution) adalah pemanfaatan suatu paket input, termasuk varietas modern, pestisida, pupuk dan juga irigasi, sebagai upaya untuk meningkatkan hasil pertanian di negara-negara berkembang (Reijntjs et al., 1999). Revolusi hijau ditandai dengan adanya pemuliaan tanaman, pemupukan, serta pemberantasan hama dan penyebab penyakit secara intensif. Untuk pemuliaan tanaman dalam revolusi hijau, kemajuan bioteknologi sangat diandalkan dengan lahirnya tanaman hibrida (unggul). Untuk pemupukan, muncul pupuk-pupuk buatan pabrik (pupuk kimia) yang dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman secara lengkap dan cepat. Sementara untuk pemberantasan hama dan penyebab penyakit, ditemukan pestisida kimia yang efektif (Agus, 2002).
Pertanian intensif adalah pertanian yang menggunakan mesin-mesin berteknologi tinggi dan bahan-bahan kimia pertanian, seperti pupuk dan pestisida untuk mendapatkan sejumlah hasil yang maksimal dari lahan pertanian. Metode ini dapat digunakan pada tanah-tanah pertanian kecil yang subur atau lahan peternakan untuk meningkatkan hasil, atau pada lahan-lahan pertanian yang lebih luas yang menggunakan praktek-praktek
bisnis modern (bisnis modern adalah suatu organisasi non riil yang menjual barang kepada konsumen, untuk mendapatkan laba) untuk membentuk agribisnis (Agribisnis adalah cara pandang ekonomi bagi kegiatan dalam bidang pertanian). Para petani dapat menerapkan metode-metode intensif jika ada permintaan untuk hasil pertanian mereka dan jika mereka biasa membeli mesin-mesin dan bahan-bahan kimia. Metode ini biasanya hanya dipraktekkan di negara-negara kaya area pertanian intensif mahal dalam memulai mengolahnya (Martyn, 2004).
High External Input Agriculture (penggunaan input luar secara besar besaran) ini sangat tergantung pada input kimia buatan (pupuk, pestisida), benih hibrida (unggul), mekanisasi dengan memanfaatkan bahan bakar minyak dan juga irigasi. Sistem pertanian seperti ini berorientasi pasar dan membutuhkan modal besar. Uang tunai yang dijadikan untuk membeli input buatan seringkali diperoleh dengan menjual produk pertanian. HEIA hanya dimungkinkan di daerah di mana kondisi ekologinya relatif seragam dan bisa dengan mudah dikendalikan (misalnya daerah irigasi) dan di mana pelayanan penyaluran, penyuluhan, dan pemasaran serta transportasinya baik. Kebutuhan produk pertanian yang semakin meningkat dan pengembangan varietas baru, seperti jagung, padi, dan gandum serta tanaman komersial lainnya menyebabkan pengenalan teknologi HEIA tampak menarik. HEIA bisa ditemukan pada daerah yang kaya sumber daya alam “berpotensi besar” di negara-negara berkembang
dan paling tersebar di Asia (Coen et al., 1999). 2. Usahatani Padi
a. Tanaman Padi
Tanaman padi merupakan tanaman semusim dan mempunyai nama botani Oryza sativa. Padi termasuk golongan rumput-rumputan (Gramineae). Padi biasanya berumur pendek, kurang dari satu tahun dan hanya sekali produksi, setelah berproduksi akan mati atau dimatikan (Soemartono, 1990).
dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki pertahun sekitar 1500-2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23°C. Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 01500 m dpl. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi antara pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu, serta mengandung air dalam jumlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 1822 cm dengan pH antara 47 (Anonim, 2007).
Padi dibudidayakan dengan tujuan mendapatkan hasil yang setinggi-tingginya dengan kualitas sebaik mungkin. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan, maka tanaman yang akan ditanam harus sehat dan subur. Tanaman yang sehat ialah tanaman yang tidak terserang oleh hama dan penyebab penyakit serta tidak mengalami defisiensi hara, baik unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar maupun dalam jumlah kecil. Sedangkan tanaman subur ialah tanaman yang pertumbuhan dan perkembangannya tidak terhambat, baik oleh kondisi biji ataupun kondisi lingkungan (Anonim, 2007).
b. Usahatani
Pertanian rakyat merupakan usahatani sebagai istilah lawan dari perkataan “farm” (diterjemahkan oleh Krisnandi menjadi usahatani) sebagai suatu tempat atau permukaan bumi di mana pertanian diselenggarakan oleh seorang petani tertentu apakah ia seorang pemilik, penyakap, atau manajer yang digaji. Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber daya alam yang di tempat itu diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh tanah-tanah itu, sinar matahari, bangunan-bangunan yang didirikan atas tanah dan sebagainya. Usahatani dapat berupa usaha bercocok tanam atau memelihara ternak (Mubyarto, 1995).
Pemilihan jenis tanaman oleh petani dalam usahatani pada umumnya ada kecenderungan untuk berorientasi pada hasil panen yang diperoleh dalam waktu singkat dan selanjutnya didasarkan pada faktor-faktor kebiasaan dan pendapatan yang diperoleh. Selama itu, petani dalam menjalankan usahataninya selalu berpihak pada prinsip ekonomi juga mengharap hasil usahataninya mempunyai tingkat keuntungan tinggi sehingga diperoleh pendapatan yang besar (Soekartawi, 1991).
Menurut Fadholi (1993), kegiatan usahatani meliputi organisasi operasi, pembiayaan dan penjualan. Usahatani pada dasarnya kegiatan pokoknya adalah mengusahakan tanah pada tingkat dewasa ini, untuk mendapatkan tanah guna diusahakan dan boleh dikatakan menuntut pengorbanan, seperti harus membeli dulu atau sewa.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Usahatani
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan usahatani padi sebagai produsen, petani berupaya dengan faktor-faktor produksi (tanah, modal, tenaga kerja, teknologi dan informasi) yang ada padanya dapat menghasilkan produksi padi sebanyak-banyaknya dan mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun dalam upaya meningkatkan produksi, para petani dibatasi dengan jenis dan jumlah faktor-faktor produksi yang tersedia. Kondisi ini menjadi bahan pertimbangan bagi petani dalam mengambil keputusan mengatur jumlah dan kapasitas produksi yang harus dihasilkan agar keuntungan yang diperoleh maksimal. Tinggi rendahnya pendapatan yang diperoleh petani, ditentukan oleh tinggi rendahnya produksi dan produktivitas yang dicapai. Antara produksi dan pendapatan memiliki hubungan yang linier (satu arah). Semakin tinggi produksi dan produktivitas yang dicapai, maka semakin tinggi pendapatan yang diperoleh petani. Tingginya pendapatan yang diperolah petani akan mempengaruhi motivasi petani untuk mau meningkatkan produksi (Edwar, 2008).
Menurut Suratiah (2006) faktor-faktor yang bekerja dalam usahatani adalah faktor alam, tenaga, dan modal. Alam merupakan
faktor yang menentukan dalam usahatani. Sampai dengan tingkat tertentu manusia telah berasil mempengaruhi faktor alam. Namun demikian pada batas selebihnya faktor alam adalah penentu dan merupakan sesuatu yang harus diterima apa adanya.
1). Faktor Alam dalam Usahatani
Faktor alam dapat dibedakan menjadi dua, yakni faktor tanah dan lingkungan alam sekitarnya. Faktor tanah misalnya jenis tanah dan kesuburan tanah. Faktor alam sekitar yakni iklim yang berkaitan dengan ketersediaan air, suhu dan lain sebagainya. Alam mempunyai barbagai sifat yang harus diketahui karena usaha pertanian adalah usaha yang sangat peka terhadap alam.
2). Faktor Tenaga Kerja dalam Usahatani
Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usahatani keluarga (family farms), khususnya tenaga kerja petani beserta anggota keluarganya. Rumah tangga tani yang umumnya sangat terbatas kemampuannya dari segi modal, peranan tenaga kerja keluarga sangat menentukan. Jika masih dapat diselesaikan oleh tenaga kerja keluarga sendiri maka tidak perlu mengupah tenaga kerja luar yang berarti menghemat biaya eksplisit.
Baik pada usahatani keluarga maupun perusahaan pertanian, peranan tenaga kerja belum sepenuhnya dapat diatasi dengan teknologi yang menghemat tenaga (tenaga mekanis). Hal ini dikarenakan selain mahal, juga ada hal-hal tertentu yang memang tenaga kerja manusia tidak dapat digantikan.
3). Faktor Modal dalam Usahatani
Modal adalah syarat mutlak berlangsungnya suatu usaha, demikian pula dengan usahatani. Dalam arti ekonomi, perusahaan modal adalah barang ekonomi yang dapat dipergunakan untuk diproduksi kembali atau modal adalah barang ekonomi yang dapat dipergunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan pendapatan.
Sementara menurut Edwar, (2008) besarnya pendapatan yang diperolah petani akan ditentukan oleh faktor-faktor diantaranya
1). Harga produk itu sendiri
Harga produksi itu sendiri harga adalah sejumlah uang yang dikenakan atas suatu produk atau jasa. Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan. Jika suatu harga barang naik, maka produsen cendrung akan menambah jumlah barang yang akan dihasilkan. Hal ini akan membawa kita ke hukum penawaran yang menjelaskan hubungan antara harga suatu barang dengan jumlah barang tersebut yang ditawarkan. Hukum penawaran menyatakan “semakin tinggi harga suatu barang, dimana semua faktor-faktor yang mempengaruhi dianggap tetap, maka semakin banyak jumlah barang tersebut yang ingin ditawarkan oleh penjual , atau sebaliknya”
2). Harga biaya produksi
Harga biaya produksi kenaikan harga input sebenarnya juga menyebabkan kenaikan biaya produksi. Dengan demikian, bila biaya produksi meningkat (apakah dikarenakan kenaikan harga faktor produksi atau penyebab lainnya), akan mengakibatkan rendahnya pendapatan yang diperoleh petani. Kondisi ini dapat menyebabkan petani (produsen) akan mengurangi skala usahanya, hasil produksinya bahkan juga sampai menghentikan usahanya. 3). Harga faktor produksi
Harga faktor produksi secara garis besar, paling tidak ada empat kelompok faktor produksi dalam usahatani padi yang memerlukan pengorbanan langsung dari petani, yaitu: tanah, tenaga kerja, teknologi dan modal.
i). Tanah
Tanah dalam usahatani, khususnya usahatani padi, kepemilikan lahan atau luas garapan pengelolaan lahan merupakan salah satu faktor produksi yang turut menentukan
tingkat produktivitas, produksi dan pendapatan. Hal ini karena mempengaruhi pada peningkatan kemampuan penyediaan produksi (supply) melalui peningkatan sasaran luas tanam, dan panen.
ii). Tenaga kerja
Tenaga kerja di dalam pertanian, tenaga kerja dapat dikatakan faktor produksi kedua setelah tanah. Kebutuhan akan tenaga kerja sangat tergantung pada jenis tanaman yang diusahakan. Dalam usahatani pertanian rakyat seperti padi di pedesaan, sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri atas suami, isteri dan anak-anaknya. Namun kadangkala mereka juga membutuhkan tenaga kerja tambahan. Secara ekonomi, semua tenaga kerja yang dicurahkan dalam kegiatan usahatani, dihitung atau dinilai dengan uang. Saat sekarang ketersediaan tenaga kerja boleh dikatakan langka, sehingga tingkat upahnya menjadi mahal. iii). Teknologi
Teknologi Produksi Kemajuan teknologi merupakan implikasi dari kemajuan ilmu pengetahuan. Penggunaan teknologi berakibat kepada pengorbanan atas biaya produksi sebagai dampak peningkatan produktivitas. Namun kemajuan teknologi menyebabkan penurunan biaya produksi, seperti penggunaan mekanisme pertanian pada usahatani padi.
iv). Modal
Modal dalam proses produksi, sebagai bagian dari faktor produksi, modal memegang peranan yang sangat dominan. Dalam pengertian ekonomis, modal adalah barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi lainnya menghasilkan barang baru, dalam hal ini hasil pertanian yaitu padi. Modal dilihat dari dari segi pemilikan, bisa dibagi dua yaitu modal sendiri (capital equity) dan modal pinjaman (kredit). Antara
modal sendiri dan modal pinjaman tidak berbeda dalam proses produksi, karena sama-sama menyumbang langsung pada proses produksi. Bedanya pada bunga modal yang dipinjam harus dibayar pada kreditor.
v). Kebijakan pemerintah.
Kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi kemampuan produksi padi oleh petani. Pemerintah terus berupaya mengamankan dan menjaga stabilitas harga gabah dan beras. Terhitung mulai tanggal 1 April 2007, melalui Instruksi Presiden RI, Pemerintah memberlakukan penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terhadap Gabah Kering Panen (GKP) dalam negeri sebesar Rp. 2.000,/kg di penggilingan dan gabah kering giling Rp. 2.575,-/kg di penyimpanan. Kebijakan penetapan harga pembelian pemerintah ini diharapkan disamping untuk menjaga stabilitas harga, juga diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi beras (padi) dan menjamin peningkatan pendapatan petani. Namun harapan ini belum dapat melegakan hati petani karena tingkat harga yang ditetapkan belum dapat meningkatkan pendapatan petani padi.
d. Biaya Eksplisit
Biaya eksplisit, adalah biaya yang secara nyata dibayarkan selama proses produksi oleh produsen yang berasal dari luar (Djuwari 1994).
e. Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian produksi dengan harga jual (Soekartawi, 2006).
f. Pendapatan
Pendapatan adalah pengurangan penerimaan dengan biaya total luar (Djuwari, 1994).
g. Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya (Dumairy, 1996).
1). Kurva Lorenz
Kurva Lorenz menggambarkan distribusi pendapatan nasional di kalangan lapisan-lapisan penduduk, secara komulatif pula (Dumairy, 1996). Cara lain untuk menganalisis distribusi pendapatan perorangan adalah membuat kurva yang disebut Kurva Lorenz. Tidak ada suatu negara kapitalis manapun yang mengalami kemerataan sempurna ataupun ketidakmerataan sempurna dalam distribusi pendapatannya. Semakin tinggi derajat ketidakmerataan Kurva Lorenz itu akan semakin melengkung (cembung) dan semakin mendekati sumbu horisontal sebelah bawah (Lincolin, 2004). Distribusi Pendapatan Yang Relatif Merata dapat dilihat pada Gambar 1. Sedangkan distribusi pendapatan yang relatif tidak merata dapat dilihat pada Gambar 2. 1 0 0 8 0 6 0 4 0 2 0 % P e n d a p a t a n 0 0 20 40 60 80 100 % Penduduk
Gambar 1. Distribusi Pendapatan Yang Relatif Merata Kurva
Lorenz Garis Kemerataan Sempurna
1 0 0 8 0 6 0 4 0 2 0 % P e n d a p a t a n 0 0 20 40 60 80 100 % Penduduk
Gambar 2. Distribusi Pendapatan Yang Relatif Tidak Merata 2). Koefisian Gini (Rasio Gini)
Menurut Michael (1994) Koefisian Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan atau kesejahteraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Distribusi atau pendapatan antar lapisan pendapatan dapat ditelaah dengan mengamati perkembangan angka-angka Rasio Gini. Rasio Gini adalah suatu koefisien yang berkisar antara angka nol hingga satu, menjelaskan kadar kemerataan (ketimpangan) distribusi pendapatan nasional Dumairy (1996). Rasio Gini bernilai antara nol (kemerataan sempurna) dan satu (kesejahteraan sempurna). Semakin tinggi rasio gini berarti semakin tinggi kesenjangan distribusi pendapatannya atau semakin tidak merata. Angka rasio gini semakin kecil berarti semakin rendah kesenjangan distribusi pendapatan atau semakin merata (Sri, 2004).
Menurut Rustian (1998) Bank Dunia mengelompokkan ketimpangan distribusi pendapatan negara-negara dunia.
i). Ketimpangan distribusi pendapatan tinggi jika Rasio Gini 0,50-0,70
ii). Ketimpangan distribusi pendapatan sedang jika Rasio Gini Garis
Kemerataan Sempurna
Kurva Lorenz
0,35-0,50
iii). Ketimpangan distribusi pendapatan rendah jika Rasio Gini 0,20-0,35
Menurut Lincolin (2004) secara matematis rumus Koefisien Gini dapat disajikan sebagai berikut:
KG = Koefisien Gini
fi = Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i
Yi = Proporsi jumlah pendapatan rumah tangga kumulatif
dalam kelas i
C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah
Usahatani merupakan suatu bentuk organisasi faktor-faktor produksi untuk mendapatkan pendapatan keluarga petani yang sebesar-besarnya dan berkelanjutan melalui pertanian, dalam hal ini usahatani anorganik. Tujuan dari usahatani adalah untuk memperoleh pendapatan bagi keluarga petani. Besarnya pendapatan ini dapat digunakan untuk menilai keberhasilan petani dalam mengelolanya. Keberhasilan dalam berusahatani pada akhirnya akan ditentukan oleh biaya eksplisit dan penerimaan yang diperoleh dalam satu musim tanam.
Sebagai suatu kegiatan ekonomi (sektor riil), maka usahatani padi anorganik tidak terlepas dari prinsip ekonomi (sektor riil) di mana segala tindakan dilakukan dengan pertimbangan antara biaya eksplisit dengan pendapatan yang akan diterima. Keberhasilan usahatani akan dinilai dari biaya eksplisit dan penerimaan yang diperoleh. Adapun langkah-langkah untuk mengetahui dan menghitung permasalahan dalam usahatani tersebut meliputi: 1. Biaya Eksplisit
Biaya eksplisit yaitu biaya eksplisit, yaitu biaya yang secara nyata dibayarkan selama proses produksi oleh produsen yang berasal dari dalam dan tenaga kerja luar (Djuwari 1994). Biaya eksplisit terdiri dari: biaya
tenaga kerja luar, biaya pembelian benih, biaya pembelian pupuk (Urea, TSP, SP 36, dan KCL), biaya pembelian pestisida, biaya pengangkutan. 2. Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian produksi dengan harga jual (Soekartawi, 2006).
3. Pendapatan
Pendapatan adalah pengurangan penerimaan dengan biaya total luar (Djuwari, 1994).
4. Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya (Dumairy, 1996).
a. Kurva Lorenz
Kurva Lorenz menggambarkan distribusi pendapatan nasional di
kalangan lapisan-lapisan penduduk, secara komulatif pula (Dumairy, 1996). Cara lain untuk menganalisis distribusi pendapatan
perorangan adalah membuat kurva yang disebut Kurva Lorenz. Tidak ada suatu negara kapitalis manapun yang mengalami kemerataan sempurna ataupun ketidakmerataan sempurna dalam distribusi pendapatannya. Semakin tinggi derajat ketidakmerataan Kurva Lorenz itu akan semakin melengkung (cembung) dan semakin mendekati sumbu horisontal sebelah bawah (Lincolin, 2004).
b. Koefisian Gini (Rasio Gini)
Menurut Michael (1994) Koefisian Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan atau kesejahteraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Distribusi atau pendapatan antar lapisan pendapatan dapat ditelaah dengan mengamati perkembangan angka-angka Rasio Gini. Rasio Gini adalah suatu koefisien yang berkisar antara angka nol hingga satu, menjelaskan kadar kemerataan (ketimpangan) distribusi pendapatan
nasional Dumairy (1996). Rasio Gini bernilai antara nol (kemerataan sempurna) dan satu (kesejahteraan sempurna). Semakin tinggi rasio gini berarti semakin tinggi kesenjangan distribusi pendapatannya atau semakin tidak merata. Angka rasio gini semakin kecil berarti semakin
rendah kesenjangan distribusi pendapatan atau semakin merata (Sri, 2004).
Menurut Rustian (1998) Bank Dunia mengelompokkan ketimpangan distribusi pendapatan negara-negara dunia.
1). Ketimpangan distribusi pendapatan tinggi jika Rasio Gini 0,50-0,70 2). Ketimpangan distribusi pendapatan sedang jika Rasio Gini
0,35-0,50
3). Ketimpangan distribusi pendapatan rendah jika Rasio Gini 0,20-0,35
Menurut Lincolin (2004) secara matematis rumus Koefisien Gini dapat disajikan sebagai berikut:
KG = Koefisien Gini
fi = Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i
Yi = Proporsi jumlah pendapatan rumah tangga kumulatif
dalam kelas i
D. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah. Jawaban ini bisa salah atau benar dan masih harus diuji kembali kebenarannya. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah diduga ketimpangan distribusi pendapatan usahatani padi anorganik rendah.
E. Asumsi
Asumsi adalah istilah anggapan untuk memudahkan penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi dianggap tidak berpengaruh. Kalau tidak memakai
asumsi penelitian akan salah. Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Petani dalam menjalankan usahataninya bersifat rasional untuk memperoleh pendapatan setingggi-tingginya.
2. Keadaan geografis daerah penelitian jenis tanah, kesuburan tanah, iklim, curah hujan dan topografi berpengaruh normal terhadap proses usahatani serta tidak ada serangan hama.
3. Harga sarana produksi maupun hasil produksi dihitung berdasarkan harga setempat yang berlaku pada saat penelitian.
4. Seluruh hasil panen terjual dan dihitung dalam gabah kering panen (GKP).
F. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah bertujuan untuk fokus pada tujuan penelitian. Pembatasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Petani sampel merupakan petani pemilik penggarap 2. Biaya yang dihitung adalah biaya eksplisit
3. Penelitian dilakukan pada satu musim tanam pada bulan Januari-April 2008.
G. Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel
Definisi operasional dan konsep pengukuran variabel bertujuan untuk memahami variabel-variabel yang dipergunakan dalam penelitian. Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Usahatani padi anorganik adalah usahatani yang mengusahakan tanaman padi sawah dengan menggunakan senyawa kimia.
2. Tenaga kerja dihitung dalam satuan HKP (hari kerja pria), yaitu satuan yang setara dengan upah buruh tani pria yang bekerja pada kegiatan usahatani selama 8 jam dan dinilai dalam rupiah.
3. Biaya eksplisit yaitu biaya yang secara nyata dibayarkan selama proses produksi oleh petani yang berasal dari luar, tenaga kerja luar, biaya pembelian benih, biaya pembelian pupuk (Urea, TSP, SP 36, dan KCL), biaya pembelian pestisida, biaya pengangkutan.
4. Produksi padi anorganik adalah produksi padi yang dibudidayakan secara usahatani dengan menggunakan senyawa kimia.
5. Penerimaan adalah hasil produksi dikalikan dengan harga yang berlaku saat itu.
6. Pendapatan adalah pengurangan penerimaan dengan biaya total luar. 7. Pendapatan petani adalah pendapatan petani yang berasal dari usahatani
padi anorganik.
8. Distribusi pendapatan adalah proporsi pendapatan yang diterima oleh kelompok petani dari total pendapatan yang diterima dan dinyatakan dalam persentase.
III. METODE PENELITIAN
A. Metode Dasar
Metode dasar penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Menurut Winarno (1994), metode deskriptif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang dan pada masalah-masalah yang aktual.
2. Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, dan kemudian dianalisa. Sedangkan pelaksanaan metode deskriptif dengan menggunakan teknik survei yaitu dengan cara mengumpulkan data dari sejumlah unit atau individu dalam waktu yang bersamaan. Jumlah itu biasanya cukup besar.
Pelaksanaan penelitian menggunakan metode survei. Menurut Masri dan Sofian (1989), metode survei merupakan metode penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai pengumpulan data pokok.
B. Metode Pengambilan Sampel
1. Metode Pengambilan Sampel Daerah
Penelitian dilakukan di daerah Kabupaten Klaten. Dari kabupaten tersebut dengan sengaja diambil sampel Kecamatan Delanggu yang berlokasi di Desa Tlobong dan Kecamatan Juwiring yang berlokasi di Desa Sawahan. Dengan pertimbangan kedua desa tersebut mempunyai status petani pemilik penggarap yang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai sampel daerah.
2. Metode Pengambilan Sampel Petani
Menurut Singarimbun dan Effendi (1989), jumlah sampel minimal 30 sampel data yang dianalisis dari seluruh populasi petani, karena nilai-nilai yang diperoleh distribusinya mengikuti distribusi normal. Sampel
yang jumlahnya besar dan berdistribusi normal adalah sampel yang jumlahnya lebih besar atau sama dengan 30.
C. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data
1. Jenis Data a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dengan wawancara langsung kepada petani-petani di lokasi penelitian dan dipandu dengan daftar pertanyaan (kuisioner) yang sudah dipersiapkan. Data tersebut nantinya diperlukan untuk menghitung pendapatan dan distribusi pendapatan usahatani anorganik di Kabupaten Klaten. Adapun isi dari data tersebut meliputi adalah biaya eksplisit, penerimaan dan pendapatan usahatani padi anorganik.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan mengambil dan mencari informasi dari pustaka, internet, peneliti terdahulu, dan instansi yang terkait. Data tersebut nantinya diperlukan untuk membuat landasan teori pendapatan dan distribusi pendapatan usahatani anorganik di Kabupaten Klaten. Adapun isi dari data tersebut meliputi adalah latar belakang, hasil penelitian terdahulu, tinjauan pustaka, keadaan alam, keadaan penduduk dan keadaan pertanian di Kabupaten Klaten.
2. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara
Cara penelitian dengan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan sampel petani. Hal-hal yang ditanyakan tentang masalah yang diteliti menggunakan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan. b. Pencatatan
Mencatat dan mengumpulkan data sekunder dari instansi yang berhubungan dengan penelitian ini.
c. Observasi
Cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan secara langsung pada obyek penelitian.
D. Metode Analisis Data
Untuk menganalisis data pada penelitian ini menggunakan langkah-langkah metode analisis sebagai berikut:
1. Analisis Pendapatan Usahatani Padi Anorganik a. Biaya Eksplisit
Biaya eksplisit yaitu biaya yang secara nyata dibayarkan selama proses produksi oleh produsen yang berasal dari luar. Adapun biaya-biaya tersebut sebagai beikut:
a. Biaya tenaga kerja dalan dan tenaga kerja luar b. Biaya pembelian benih
c. Biaya pembelian pupuk (Urea, TSP, SP 36, ZA dan KCL) d. Biaya pembelian pestisida
e. Biaya pengangkutan. b. Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian produksi dengan harga jual.
c. Pendapatan
Pendapatan adalah pengurangan penerimaan dengan biaya total luar.
2. Analisis Distribusi Pendapatan Usahatani Padi Anorganik a. Kurva Lorenz.
Para ekonom kapitalis dan ahli statistik lebih suka menyusun semua induvidu menurut tingkat pendapatannya yang semakin tinggi dan kemudian membagi semua induvidu tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda-beda. Metoda yang umum adalah membagi penduduk ke dalam kuintil (5 kelompok) sesuai dengan tingkat pendapatan yang semakin tinggi tersebut dan kemudian menentukan
proporsi dari pendapatan nasional total yang diterima oleh masing-masing kelompok tersebut. Masing-masing-masing kuintil (5 kelompok)
dikalikan dengan 100 dan dibagi dengan jumlah total kuintil (5 kelompok). Dari hasil tersebut dapat dibuat Kurva lorenz.
b. Rumus Koefisian Gini sebagai berikut:
Keterangan:
KG = Koefisien Gini
Y = Proporsi jumlah rumah tangga kumulatif ke-i fi = Frekuensi pendapatan kumulatif ke-i
IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
A. Keadaan Alam
1. Keadaan Geografis dan Administrasi
Kabupaten Daerah Tingkat II Klaten secara geografis terletak antara 110030’-110045’ BT dan 7030’-7045’ LS. Mempunyai 26 kecamatan yaitu: Prambanan, Gantiwarno, Wedi, Bayat, Cawas Trucuk, Kalikotes, Kebonurum, Jogonalan, Manisrenggo, Karangnongko, Ngawen Ceper, Pedan, Karangdowo, Juwiring, Wonosari, Delanggu, Polanharjo, Karanganom, Tulung, Jatinom, Kemalang, Klaten Selatan, Klaten Tengah, Kaltwen Utara, Kabupaten mempunyai luas 65,556 Ha.
Secara administratif, Kabupaten Klaten mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali Sebelah Selatan : Kecamatan Gunung Kidul Sebelah Timur : Kecamatan Sukoharjo Sebelah Barat : Kecamatan Sleman
(Daerah Istimewa Yogyakarta).
Penelitian dilakukan di Kecamatan Delanggu dan Kecamatan Juwiring. Untuk Kecamatan Delanggu mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali Sebelah Selatan : Kecamatan Ceper
Sebelah Timur : Kecamatan Wonosari dan Kecamatan Juwiring Sebelah Barat : Kecamatan Polanharjo.
Sedangkan Kecamatan Juwiring mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Wonosari Sebelah Selatan : Kecamatan Pedan Sebelah Timur : Kabupaten Sukoharjo Sebelah Barat : Kecamatan Delanggu.
2. Topografi Daerah
Kabupaten Klaten mempunyai topografi yang berbeda-beda dengan ketinggian daerah:
a. 3,73% wilayah Kabupaten Klaten terletak di antara ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut.
b. 77,72% terletak di antara ketinggian 100-500 meter dari atas permukaan laut.
c. 12,56% terletak di antara ketinggian 500-1000 meter dari permukaan laut
d. Wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi tiga daratan yaitu:
1). Deretan Lereng Gunung Merapi membentang di sebelah utara, meliputi sebagian kecil utara wilayah-wilayah Kecamatan Kemalang, Karangnongko, Jatinom dan Tulung.
2). Daratan rendah membujur di tengah, meliputi seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten kecuali sebagian kecil wilayah merupakan Dataran Lereng Gunung Merapi dan Dataran Gunung Kapur.
3). Dataran Gunung Kapur yang membujur sebelah selatan meliputi sebagian kecil sebelah selatan wilayah Kecamatan Bayat dan Kecamatan Cawas.
Keadaan Kabupaten Klaten yang sebagian besar adalah daerah dataran rendah maka Kabupaten Klaten merupakan daerah yang berpotensi untuk lahan pertanian di samping penghasil batu kapur, batu kali dan pasir merapi yang bersumber dari sungai yang berasal dari Gunung Merapi. 3. Kedaan Tanah
Kabupatan Daerah Tingkat II Klaten secara keseluruhan mempunyai tanah bervariasi yaitu
a. Litosol: Bahan induk dari skis kristain dan batu tulis terdapat di daerah kecamatan Bayat.
b. Regenol Kelabu Tua: Bahan induk abu dan pasir vulkan intermedier terdapat di Kecamatan Cawas, Trucuk, Klaten Tengah, Kalikotes,
Kobonarum, Klaten Selatan, Karangnongko, Ngawen, Klaten Utara, Ceper, Pedan, Karangdowo, Juwiring, Wonosari, Delanggu, Polanharjo, Karanganom, Tulung dan Jatinom.
c. Grumusol Kelabu Tua: Bahan induk berupa abu dan pasir vulkan intermedier terdapat di daerah Kecamatan Bayat, Cawas sebelah selatan.
d. Komplek Regosol Kelabu dan Regosol Coklat Kelabu: bahan induk berupa abu dan pasir vulkan intermedier terdapat di daerah Kacamatan Kemalang, Manisrenggo, Prambanan, Jogolanan, Gantiwarno dan Wedi.
2. Tata guna lahan
Tata guna lahan menurut penggunaan di Kabupaten Klaten dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Tata Guna Lahan Menurut Penggunaannnya di Kabupatan Klaten Tahun 2001-2005 (Ha) No Tahun Tanah Sawah (Ha) % Tanah Kering (Ha) % Luas Wilayah (Ha) 1. 2001 33.659 51.3 31.897 48.6 65.556 2. 2002 33.618 51.2 31.938 48.7 65.556 3. 2003 33.579 51.2 31.977 48.7 65.556 4. 2004 33.541 51.1 32.015 48.8 65.556 5. 2005 33.494 51.0 32.062 48.9 65.556
Sumber: BPS Kabupaten Klaten dalam Angka 2005
Pada tahun 2001-2005 Kabupaten Klaten mempunyai tanah sawah yang lebih luas dibandingkan dengan tanah kering, tetapi apabila luas tanah sawah dibandingkan dengan luas tanah kering per tahunnya menunjukkan bahwa dari tahun 2001-2005 luas sawah mnengalami penurunan 0,1% per tahun. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar tanah sawah telah berubah fungsi dan banyak dipergunakan untuk bangunan, halaman, tegal, kebun, ladang padang rumput dan kolam atau rawa sehingga menyebabkan luas tahah kering naik 0,1% per tahun. Adapun tanah menurut sistem pengairannya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Tanah Sawah Menurut Pengairannya di Kabupaten Klaten Tahun 2001-2005 No T PT (Ha) % PST (Ha) % PS (Ha) % TH % Jumlah (Ha) 1. 2001 18.034 53 11.978 35 2.391 7 1.256 3 33.659 2. 2002 18.868 56 10.977 32 2.520 7 1.253 3 33.618 3. 2003 18.797 55 11.041 32 2.507 7 1.234 3 33.579 4. 2004 18.795 56 11.044 32 2.478 7 1.224 3 33.541 5. 2005 19.173 57 10.455 31 2.386 7 1.480 4 33.494
Sumber: BPS Kabupaten Klaten dalam Angka 2005 Keterangan:
T : Tahun
PT : Pengairan Teknis
PST : Pengairan Setengah Teknis PS : Pengairan Sederhana TH : Tadah Hujan
Pada tahun 2001-2005 sebagian besar tanah sawah di Kabupaten Klaten sudah berpengairan teknis dengan persentase rata-rata sebesar 55,7%, sedangkan pengairan setengah teknis memiliki persentase rata-rata sebesar 33%, pengairan sedaerhana persentase rata-rata sebesar 7,3% dan tadah hujan persentase rata-ratanya 3,8%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kabupaten Klaten sangat berpotensi untuk budidaya tanaman padi anorganik dan diharapkan dapat menjadi wilayah berswasembada beras.
Sedangkan berdasarkan luas penggunaan tanah sawah di Kabupaten Klaten tahun 2005, seluruh pengairan tanah sawah di Kecamatan Delanggu dan Juwiring sudah berpengairan teknis. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Luas Penggunaan Tanah Sawah di Kabupaten Klaten Tahun 2005 Tanah Sawah (Ha)
No. Kecamatan Teknis Setengah Teknis Sederhana Tadah Hujan Jumlah Tanah Sawah 1. Prambanan 312 813 134 0 1259 2. Gantiwarno 633 394 456 142 1625 3. Wedi 700 705 97 54 1556 4. Bayat 129 38 215 434 816 5. Cawas 1123 860 0 336 2319 5. Trucuk 1524 139 0 258 1921 7. Kalikotes 117 559 68 10 754 8. Kebonarum 726 0 0 0 726 9. Jogonalan 708 765 116 0 1589 10. Manisrenggo 158 652 569 123 1512 11. Krangnongko 125 411 229 0 765 12. Ngawen 462 547 41 0 1020 13. Ceper 1575 0 0 0 1575 14. Pedan 363 487 29 5 884 15. Karangdowo 1310 649 19 72 2050 16. Juwiring 1789 209 0 12 2010 17. Wonosari 1882 347 0 21 2250 18. Delanggu 1334 0 0 0 1334 19. Polanharjo 1830 0 0 0 1830 20. Karanganom 1226 329 88 0 1693 21 Tulung 525 970 244 1 1740 22. Jatinom 41 565 1 2 609 23. Kemalang 54 0 0 0 54 24. Klaten Selatan 251 526 73 0 850 25. Klaten Tengah 84 254 0 0 338 26. Klaten Utara 192 186 7 0 385 Jumlah 19171 10455 2386 480 33494
Sumber: BPS Kabupaten Klaten dalam Angka 2005.
B. Keadaan penduduk
1. Keadaan Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Klaten 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Jumlah Penduduk dan Persentase Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Klaten 2001-2005
Jumlah Penduduk (Jiwa) Pertumbuhan No. Tahun
Laki-laki Perempuan Jumlah Absolut % 1. 2001 615.836 649.459 1.257.682 7.613 0,60 2. 2002 619.155 652.375 1.271.530 6.235 0,49 3. 2003 622.443 654.854 1.277.297 5.767 0,45 4. 2004 625.173 656.613 1.281.786 4.489 0,35 5. 2005 627.751 658.307 1.286.058 4.272 0,33
Pada tahun 2001-2005 terlihat bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laki. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendapatan. Saat ini sebagian penduduk telah memikirkan masa depan anaknya sehingga mereka lebih mengutamakan tingkat pendidikan.
2. Keadaan Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Berdasarkan angkatan kerja penduduk dapat dibagi dalam tiga kelompok umur, yaitu kelompok umur belum produksi (0-14 tahun), kelompok umur produktif (15-64 tahun) dan kelompok umur tidak produktif (64 tahun ke atas).
Keadaan penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Kabupaten Klaten pada tahun 2005 dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Klaten 2005
Jenis Kelamin (Jiwa) No Kelompok Umur (th) Laki-laki Perempuan Jumlah Penduduk (jiwa) (%) 1. 0-14 159.746 152.785 312.531 24,86 2. 15-64 417.654 413.968 831.622 66,16 3. 65-tahun ke atas 50.351 62.452 112.803 8,97 Jumlah 627.751 629.205 1.256.956 100
Sumber: BPS Kabupaten Klaten dalam Angka 2005
Persentase terbesar di Kabupaten Klaten adalah umur produktif. Untuk itu angka beban tanggungan yaitu perbandingan antara jumlah penduduk belum produktif dan non produktif dengan jumlah kelompok umur produktif digunakan rumus:
Dari hasil perhitungan diperoleh nilai ABT sebesar 51,14 artinya di Kabupaten Klaten setiap umur produktif menanggung 51 orang umur non produktif. Sedangkan untuk mengetahui besarnya imbangan penduduk laki-laki dan perempuan dapat dihitung dengaan rumus:
Hasil perhitungan untuk imbangan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Kabupaten Klaten adalah sebesar 55 artinya setiap 100 orang perempuan terdapat 95 orang laki-laki.
C. Keadaan Pertanian
Keadaan pertanian menurut BPS Kabupaten Klaten Dalam Angka 2006 dibagi menjadi tiga antar lain adalah:
1. Pertanian Tanaman Pangan
Tanaman padi merupakan salah satu hasil pertanian Kabupaten Klaten yang diunggulkan. Di lain pihak tanan padi sejak 2001 terus mengalami penurunan. Untuk produksi per hektarnya tahun 2006 bila dibandingkan dengan tahun 2005 mengalami penurunan.
Untuk luas tanaman palawija dan buah- buahan di Kabupaten Klaten mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun dengan tahun 2005. Produksi beberapa jenis sayuran dan buah-buahan secara umum juga mengalami kenaikan.
2. Perkebunan
Produksi tanaman perkebunan merupakan salah salah satu sumber devisa sektor pertanian. Secara rata-rata produksi untuk tanaman perkebunan mengalami penurunan. Apabila dilihat dari luas areal, luas perkebunan tembakau paling luas dibandin tanaman perkebunan lainnya.
Untuk tanaman tebu rakyat intendifikasi (meningkatkan poduksi) baik di tanah sawah maupun tegalan luasnya seluruhnya 2.520,20 ha dengan produksi sebesar 5.398,89 ton, mengalami penurunan produksi sebesar 11,69 persen.
3. Peternakan dan Perikanan
Jenis ternak yang diusahakan di Kabupaten Klaten adalah sapi (perah atau potong), kerbau, kuda, kambing domba dan babi. Selain itu juga diusahakan unggas seperti ayam. Secara umum hasil peternakan dan perikanan mengalami kenaikan, seperti untuk sapi perah mengalami kenaikan sebesar 1,20 persen sedangkan susu naik 3,67 persen.
Untuk produksi ikan pada obyek perikanan mengalami penurunan sebesar 0,46 persen, menjadi 23.153,79 kw. Sedangkan nilai produksinya juga mengalami penurunan sebasar 1,21 persen dari Rp 19.743.010,00 menjadi Rp 19.504.573,00.
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Identitas Petani Sampel
Identitas petani sampel yang dilakukan di Kecamatan Delanggu dan Kecamatan Juwiring Kabupaten Klaten meliputi umur petani (th), pendidikan (th), jumlah anggota keluarga, pengalaman berusahatani (th) dan luas lahan usahatani (ha) berdasarkan rata-rata. Identitas petani sampel dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Identitas Petani Sampel
No. Uraian Rata-rata
1. Umur Petani (th) 56
2. Pendidikan (th) 9
3. Jumlah Anggota Keluarga (orang) 4
4. Pengalaman Berusahatani (th) 30
5. Luas Lahan Usahatani (ha) 1
Sumber: Analisis Data Primer, 2008
Dari karakteristik petani dapat diketahui bahwa rata-rata umur petani padi anorganik adalah 56 tahun. Tingkat pendidikan dari keluarga petani rata-rata 9 tahun. Sebagian besar pendidikan keluarga petani hanya sampai lulusan SMP. Jumlah rata-rata anggota keluarga petani sebanyak 4 orang. Petani padi anorganik ini mempunyai pengalaman usahatani dengan rata-rata selama 30 tahun dengan luas lahan usahatani sebesar 1 ha.
2. Biaya Eksplisit
Biaya Eksplisit terdiri dari biaya penggunaan tenaga kerja luar per musim tanam dengan satuan HKP dan penggunaan sarana produksi per musim tanam.
a. Biaya Penggunaan Tenaga Kerja Luar per musim Tanam dengan Satuan HKP.
Biaya Penggunaan tenaga kerja luar per musim tanam dengan satuan HKP terdiri dari biaya pengolahan, biaya penanaman, biaya penyulaman, biaya menyorok, biaya penyiangan, biaya pemupukan dan biaya penyemprotan. Biaya ini dikelompokkan menjadi dua yaitu biaya
setiap usahatani dan biaya setiap hektar yang masing-masing berdasarkan fisik (HKP) dan Rupiah. Biaya Penggunaan tenaga kerja luar per musim tanam dengan satuan HKP dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Biaya Tenaga Kerja Luar setiap Musim Tanam dengan Satuan HKP
Tenaga Kerja Luar Usahatani Hektar No. Uraian Fisik (HKP) Rp Fisik (HKP) Rp 1. Pengolahan 6 Rp 84.500 9 Rp 140.833 2. Penanaman 5 Rp 82.000 9 Rp 136.667 3. Penyulaman 2 Rp 27.500 3 Rp 45.833 4. Menyorok 1 Rp 8.500 1 Rp 14.167 5. Penyiangan 5 Rp 70.000 8 Rp 116.667 6. Pemupukan 0 Rp 3.500 0 Rp 5.833 Total biaya 19 Rp 213.000 30 Rp 460.000
Sumber: Analisis Data Primer, 2008
Biaya pengolahan sebesar Rp 84.000 setiap usahatani atau mencapai Rp 140.833 setiap hektarnya. Biaya pengolahan lahan dikerjakan tenaga kerja luar laki-laki. Biaya penanaman sebesar Rp 82.000 setiap usahatani atau mencapai Rp 136.667 setiap hektarnya. Biaya penanaman dikerjakan tenaga kerja luar wanita. Biaya penyulaman sebesar Rp 27.500 setiap usahatani atau mencapai Rp 45.833 setiap hektarnya. Biaya penyulaman dikerjakan tenaga kerja luar laki-laki. Biaya menyorok sebesar Rp 8.500 setiap usahatani atau mencapai Rp 14.167 setiap hektarnya. Biaya menyorok dikerjakan tenaga kerja luar laki-laki. Biaya penyiangan sebesar Rp 70.000 setiap usahatani atau mencapai Rp 116.667 setiap hektarnya. Biaya penyiangan dikerjakan tenaga kerja laki-laki. Biaya pemupukan sebesar Rp 3.500 setiap usahatani atau mencapai Rp 5.833 setiap hektarnya. Biaya pemupukan dikerjakan tenaga kerja luar laki-laki. Total biaya tenaga kerja luar sebesar Rp 213.000 per usahatani atau mencapai Rp 460.000 setiap hektarnya. Kemudian ketika panen padi anorganik para petani pemilik penggarap menjual kepada pelanggannya. Hasil perhitungan tersebut berdasarkan biaya-biaya eksplisit pada saat penelitian dilaksanakan.
b. Biaya Penggunaan Sarana Produksi setiap Musim Tanam
Penggunaan sarana produksi per musim tanam terdiri dari biaya benih (kg), biaya pupuk UREA (kg), biaya pupuk KCL (kg), biaya pupuk TSP (kg), biaya pupuk ZA (kg), biaya pestisida cair (ml), biaya pestisida padat (g), biaya transportasi, biaya pajak tanah (m2) dan pajak pengairan. Biaya ini dikelompokkan menjadi dua yaitu biaya setiap usahatani dan biaya setiap hektar yang masing-masing berdasarkan fisik (HKP) dan rupiah. Penggunaan sarana produksi per musim tanam dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Biaya Sarana Produksi setiap Musim Tanam Sarana Produksi Usahatani Hektar No Uraian Fisik Rp Fisik Rp 1. Benih (kg) 16 Rp 79.417 26 Rp 132.361 2. Pupuk (kg) a. UREA (kg) 50 Rp 60.460 84 Rp 100.767 b. KCL (kg) 13 Rp 79.200 22 Rp 132.000 c. TSP (kg) 24 Rp 36.503 39 Rp 60.838 d. ZA (kg) 6 Rp 7.292 10 Rp 12.153 3. Pestisida a. Cair (ml) 195 Rp 21.467 325 Rp 35.778 b. Padat (g) 123 Rp 20.300 206 Rp 33.833 4. Pajak Tanah Rp 12.022 Rp 20.037 5. Iuran Pengairan Rp 10.000 Rp 16.667 6. Pengangkutan Rp 32.583 Rp 54.306 Total biaya 427 Rp 359.243 712 Rp 598.738 Sumber: Analisis Data Primer, 2008
Biaya benih sebesar Rp 79.417 setiap usahatani atau mencapai Rp 132.361 setiap hektarnya. Biaya penggunaan pupuk Urea sebesar Rp 60.460 setiap usahatani atau mencapai Rp 100.767 setiap hektarnya. Biaya penggunaan pupuk KCL sebesar Rp 79.200 setiap usahatani atau mencapai Rp 132.000 setiap hektarnya. Biaya penggunaan pupuk TSP sebesar Rp 36.503 setiap usahatani atau mencapai Rp 60.838 setiap hektarnya. Biaya penggunaan pupuk ZA sebesar Rp 7.292 setiap usahatani atau mencapai Rp 12.153 setiap hektarnya. Biaya penggunaan
pestisida cair sebesar Rp 21.467 setiap usahatani atau mencapai Rp 35.778 setiap hektarnya. Biaya penggunaan pestisida padat sebesar
Rp 20.300 setiap usahatani atau mencapai Rp 33.833 setiap hektarnya. Biaya penggunaan pajak tanah sebesar Rp 12.022 setiap usahatani atau mencapai Rp 20.037 setiap hektarnya. Biaya penggunaan iuran pengairan sebesar Rp 10.000 setiap usahatani atau mencapai Rp 16.667 setiap hektarnya. Biaya penggunaan transportasi sebesar Rp 32.583 setiap usahatani atau mencapai Rp 54.337 setiap hektarnya. Total biaya sarana produksi setiap usahatani sebesar 4.27 setiap fisik dengan biaya sebesar Rp 359.243. Sedangkan total biaya sarana produksi setiap hektar sebesar 712 setiap fisik dengan biaya sebesar Rp 598.738.
3. Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian produksi dengan harga jual. Produksi terbagi dua antara lain produksi setiap usahatani dan setiap hektar yang yang masing-masing berdasarkan fisik (HKP) dan rupiah. Selanjutnya penerimaan terbagi dua antara lain produksi setiap usahatani dan setiap hektar yang yang masing-masing berdasarkan fisik (HKP) dan rupiah. Produksi dan penerimaan usahatani padi per musim tanam dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Produksi dan Penerimaan Usahatani Padi setiap Musim Tanam
Produksi Penerimaan
Usahatani Hektar Usahatani Hektar
Kg Rp Kg Rp Rp Rp
963 Rp 1.959 1.604 Rp 3.265 Rp 1.795.033 Rp 2.991.722 Sumber: Analisis Data Primer, 2008
Produksi setiap usahatani sebesar 963 setiap fisik dengan biaya sebesar Rp 1. 959. Sedangkan produksi setiap hektar sebesar 1.604 dengan biaya sebesar Rp 3.265. Penerimaan setiap usahatani sebesar Rp 1.795.033 atau sebesar Rp 2.991.722 setiap hektar.
4. Pendapatan
Pendapatan adalah pengurangan penerimaan dengan biaya total luar. Pendapatan usahatani padi anorganik setiap musim tanam terbagi menjadi
dua antara lain pendapatan setiap usahatani dan pendapatan setiap hektar. Pendapatan usahatani padi setiap musim tanam dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Pendapatan Usahatani Padi setiap Musim Tanam
No. Uraian Usahatani Hektar
1. Penerimaan Rp 1.795.033 Rp 2.991.722
2. Biaya Eksplisit Rp 607.743 Rp 1.012.905
3. Pendapatan Rp 1.187.290 Rp 1.978.817
Sumber: Analisis Data Primer, 2008
Penerimaan sebesar Rp 1.795.033 setiap usahatani atau mencapai Rp 2.991.722 setiap hektar. Biaya eksplisit sebesar Rp 607.743 setiap usahatani atau mencapai Rp 1.012.905 setiap hektar. Sedangkan pendapatan sebesar Rp 1.187.290 setiap usahatani atau mencapai Rp 1.978.817 setiap hektar.
5. Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya (Dumairy, 1996).
a. Kurva Lorenz
Kurva Lorenz menggambarkan distribusi pendapatan nasional di
kalangan lapisan-lapisan penduduk, secara komulatif pula (Dumairy, 1996). Cara lain untuk menganalisis distribusi pendapatan
perorangan adalah membuat kurva yang disebut Kurva Lorenz. Tidak ada suatu negara kapitalis manapun yang mengalami kemerataan sempurna ataupun ketidakmerataan sempurna dalam distribusi pendapatannya. Semakin tinggi derajat ketidakmerataan Kurva Lorenz itu akan semakin melengkung (cembung) dan semakin mendekati sumbu horisontal sebelah bawah ( Lincolin, 2004).
Dari gambar Kurva Lorenz distribusi pendapatan dapat dijelaskan. Jumlah petani sebesar 20% dengan jumlah pendapatan sebesar 2%. Jumlah petani sebesar 40% dengan jumlah pendapatan sebesar 16%. Jumlah petani sebesar 60% dengan jumlah pendapatan
sebesar 34%. Jumlah petani sebesar 80% dengan jumlah pendapatan sebesar 48%. Pada gambar distribusi pendapatan menunjukkan garis Kurva Lorenz gagal mendekati garis kemeratanan sempurna. Sehingga terjadi ketimpangan distribusi pendapatan.
b. Koefisian Gini (Rasio Gini)
Menurut Michael (1994) Koefisian Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan atau kesejahteraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Distribusi atau pendapatan antar lapisan pendapatan dapat ditelaah dengan mengamati perkembangan angka-angka Rasio Gini. Rasio Gini adalah suatu koefisien yang berkisar antara angka nol hingga satu, menjelaskan kadar kemerataan (ketimpangan) distribusi pendapatan nasional Dumairy (1996). Rasio Gini bernilai antara nol (kemerataan sempurna) dan satu (kesejahteraan sempurna). Semakin tinggi rasio gini berarti semakin tinggi kesenjangan distribusi pendapatannya atau semakin tidak merata. Angka rasio gini semakin kecil berarti semakin
rendah kesenjangan distribusi pendapatan atau semakin merata (Sri, 2004).
Menurut Rustian (1998) Bank Dunia mengelompokkan ketimpangan distribusi pendapatan negara-negara dunia.
a. Ketimpangan distribusi pendapatan tinggi jika Rasio Gini 0,50-0,70 b. Ketimpangan distribusi pendapatan sedang jika Rasio Gini 0,35-0,50 c. Ketimpangan distribusi pendapatan rendah jika Rasio Gini 0,20-0,35 Menurut Lincolin (2004) secara matematis rumus Koefisien Gini dapat disajikan sebagai berikut:
KG = Koefisien Gini
fi = Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i