• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdayaguna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab, dipandang perlu adanya pelaporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah untuk mengetahui kemampuannya dalam pencapaian visi, misi dan tujuan, telah diterbitkan Instruksi Presiden Republik Indonesia nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Presiden No. 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Pelaksanaan lebih lanjut didasarkan atas pedoman penyusunan penetapan kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Nomor 53 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja Dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggung jawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan visi dan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggung jawaban secara periodik.

Rencana strategis Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Renstra Kemenkumham) tahun 2015-2019 ini adalah penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ke-3 yang ditujukan untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.

Dalam mendukung prioritas Presiden, program dan kegiatan Kementerian/Lembaga ditujukan untuk menciptakan supremasi hukum; memberdayakan masyarakat untuk sadar hukum dan hak asasi manusia; memperkuat manajemen dan kelembagaan secara nasional; dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Program dan kegiatan tersebut dijadikan kerangka dasar dan arah pelaksanaan kebijakan dan kegiatan prioritas pembangunan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

PASTI yang merupakan akronim dari Profesional, Akuntabel, Sinergi,

Transparan dan Inovatif. Profesional artinya Aparat Kementerian Hukum dan HAM adalah aparat yang bekerja keras untuk mencapai tujuan organisasi melalui

(2)

penguasaan bidang tugasnya, menjunjung tinggi etika dan integritas profesi. Akuntabel artinya Setiap kegiatan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku. Sinergi artinya Komitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan untuk menemukan dan melaksanakan solusi terbaik, bermanfaat dan berkualitas. Transparan artinya Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai. Inovatif artinya Kementerian Hukum dan HAM mendukung kreativitas dan mengembangkan inisiatif untuk selalu melakukan pembaharuan dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2015 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Imigrasi mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang keimigrasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam melaksanakan tugas, Direktorat Jenderal Imigrasi menyelenggarakan fungsi:

a. perumusan kebijakan di bidang penegakan hukum dan keamanan keimigrasian, pelayanan dan fasilitas keimigrasian, perlintasan negara dan kerja sama luar negeri keimigrasian, dan teknologi informasi keimigrasian;

b. pelaksanaan kebijakan di bidang penegakan hukum dan keamanan keimigrasian, pelayanan dan fasilitas keimigrasian, perlintasan negara dan kerja sama luar negeri keimigrasian, dan teknologi informasi keimigrasian;

c. pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang penegakan hukum dan keamanan keimigrasian, pelayanan dan fasilitas keimigrasian, perlintasan negara dan kerja sama luar negeri keimigrasian, dan teknologi informasi keimigrasian;

d. pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang penegakan hukum dan keamanan keimigrasian, pelayanan dan fasilitas keimigrasian, perlintasan negara dan kerja sama luar negeri keimigrasian, dan teknologi informasi keimigrasian;

e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Imigrasi; dan f. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

(3)

Untuk mencapai Akuntabilitas Instansi Pemerintah yang baik, Rumah Detensi Imigrasi selaku Unit Pelaksana Teknis di bidang keimigrasian di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melaksanakan sebagian tugas pokok Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di bidang Pendetensian orang asing.

Gambar 1. Peta Lokasi Rudenim di Seluruh Indonesia

2. Dasar Hukum

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru ini disusun berdasarkan beberapa landasan hukum sebagai berikut :

a. Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian;

b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2013 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian;

(4)

Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP);

c. Keputusan Menteri Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.01.PR.07.04 Tahun 2004 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi;

d. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja dan Tata Cara Review Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah;

3. Deskripsi Kondisi Umum

Istilah Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) tidak dikenal dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Dalam undang-undang tersebut dikenal dengan istilah Karantina Imigrasi yang dimungkinkan untuk dibentuk pada setiap Kantor Imigrasi sebagaimana diatur dalam pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1994 tentang Pengawasan Orang Asing dan Tindakan Keimigrasian.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian pasal 1 angka 15 yang terdahulu disebutkan bahwa karantina imigrasi adalah tempat penampungan sementara bagi orang asing yang dikenakan proses pengusiran atau deportasi atau tidakan keimigrasian lainnya. Berdasarkan undang-undang tersebut maka dikenal istilah “Karantina Imigrasi” sebagai bentuk permulaan dari Rumah Detensi Imigrasi.

Dalam Undang-Undang nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian, Kantor Imigrasi dan Rumah Detensi Imigrasi merupakan unit pelaksana teknis yang berada di Direktorat Jenderal Imigrasi dan menjalankan Fungsi Keimigrasian sebagai tempat penampungan sementara bagi Orang Asing yang dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian. Sedangkan Deteni adalah Orang Asing penghuni Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi yang telah mendapatkan keputusan pendetensian dari Pejabat Imigrasi.

Seiring dengan meningkatnya lalu lintas orang baik yang keluar maupun yang masuk ke Indonesia sehingga berpotensi timbulnya permasalahan keimigrasian terhadap kedatangan dan keberadaan orang asing di Indonesia yang memerlukan upaya penindakan bagi orang asing yang melanggar ketentuan yang berlaku, maka

(5)

untuk mengefektifkan dan mengefisienkan penindakan tersebut diperlukan adanya sarana dan prasarana pendukung yaitu Rumah Detensi Imigrasi. Oleh sebab itu, berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01.PR.07.04 tahun 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi, maka sejak saat itulah istilah Karantina Imigrasi berubah menjadi Rumah Detensi Imigrasi.

Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru bertanggung jawab kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Riau. Wilayah kerja Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru menerima para deteni dari Unit Pelaksana Kerja (UPT)/Satuan Kerja dibawah lingkungan kerja Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Riau, Sumatera Barat dan Jambi.

Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru memiliki :

4. Tugas Dan Fungsi Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru

Rumah Detensi Imigrasi disebut Rudenim adalah Unit Pelaksana Teknis di bidang keimigrasian di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Rudenim mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di bidang Pendetensian orang asing.

Untuk menyelenggarakan tugas, Rudenim mempunyai fungsi : a. Melaksanakan tugas penindakan;

b. Melaksanakan tugas pengisolasian;

c. Melaksanakan tugas pemulangan dan pengusiran/deportasi. •Visi yaitu Masyarakat memperoleh kepastian hukum; •Misi yaitu melindungi hak asasi manusia;

•Motto yaitu mendetensi dengan aman dan nyaman;

•Tatanan Nilai yaitu Kepentingan masyarakat, Integritas, Responsif, Akuntabel dan Profesional.

(6)

Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru bertanggung jawab kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Riau. Wilayah kerja Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru menerima para deteni dari Unit Pelaksana Kerja (UPT)/Satuan Kerja dibawah lingkungan kerja Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Riau, Sumatera Barat dan Jambi.

Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru memiliki :

a. Visi yaitu Masyarakat memperoleh kepastian hukum; b. Misi yaitu melindungi hak asasi manusia;

c. Motto yaitu mendetensi dengan aman dan nyaman;

d. Tatanan Nilai yaitu Kepentingan masyarakat, Integritas, Responsif, Akuntabel dan Profesional.

5. Struktur Organisasi Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru

Keputusan Menteri Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor M.01.Pr.07.04 Tahun 2004 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Rudenim Pekanbaru ditunjang oleh struktur sebagai berikut :

a. Sub Bagian Tata Usaha

b. Seksi Registrasi, Administrasi, dan Pelaporan; c. Seksi Perawatan dan Kesehatan;

d. Seksi Keamanan dan Ketertiban.

Gambar 2. Pembagian Seksi pada Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru

RUM A H D ETENSI IMIG RA SI PEKA N BA RU

Seksi Register, Administrasi dan Pelaporan

Seksi Perawatan dan Kesehatan

Seksi Keamanan dan Ketertiban

(7)

KEPALA RUMAH DETENSI IMIGRASI PEKANBARU

YANTO ARDIANTO

KASI REG, ADM & LAP

YANUAR

Kasubsi Reg

ASRIL

Kasubsi Adm & Lap

TRI RAHAYU KASI PERKES REDI RESTUANTO Kasubsi Perawatan BOBBY A Kasubsi Kesehatan HENDRIZAL KASI KAMTIB RIZKI HARIS Kasubsi Keamanan DEWI NATALINE Kasubsi Ketertiban ARSYAD JOURDAN KASUBAG TATA USAHA RULLY FATRIA KARUS KEUANGAN AFRISYAL KARUS KEPEGAWAIAN AGUS SETIONO KARUS UMUM DESY SOFIANI RAHAYU

Gambar 3. Struktur Organisasi pada Rumah Detensi Imigrasi

Gambar 4. Struktur Organisasi pada Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru

Rumah Detensi Imigrasi terdiri dari :

a. Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan Tata Usaha, dan rumah tangga Rudenim. Untuk menyelenggarakan tugas, Sub Bagian Tata Usaha mempunyai fungsi :

(8)

2) melakukan urusan keuangan;

3) melakukan urusan surat menyurat, perlengkapan dan rumah tangga. Sub Bagian Tata Usaha terdiri dari :

1) Urusan Kepegawaian mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian;

2) Urusan Keuangan mempunyai tugas melakukan urusan keuangan; 3) Urusan Umum mempunyai tugas melakukan urusan surat menyurat,

perlengkapan dan rumah tangga.

b. Seksi Registrasi, Administrasi, dan Pelaporan mempunyai tugas melakukan pencatatan pada saat masuk dan keluar, membuat dokumentasi sidik jari, foto, dan menyimpan benda-benda milik pribadi, serta melaksanakan pemulangan terdetensi dan pelaporannya. Untuk menyelenggarakan tugas, Seksi Registrasi, Administrasi, dan Pelaporan mempunyai fungsi :

1) Melakukan pencatatan, registrasi, membuat dokumentasi sidik jari, foto dan menyimpan serta mengamankan benda-benda milik pribadi terdetensi yang dilarang oleh ketentuan yang berlaku;

2) Melaksanakan administrasi pengeluaran terdetensi dan pelaporannya. Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan terdiri dari :

1) Sub Seksi Registrasi mempunyai tugas melakukan pencatatan, registrasi, membuat dokumentasi sidik jari, foto dan menyimpan serta mengamankan benda-benda pribadi terdetensi;

2) Sub Seksi Administrasi dan Pelaporan mempunyai tugas melaksanakan pemulangan terdetensi, dan pelaporannya.

c. Seksi Perawatan dan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan kebutuhan makan sehari-hari, kebutuhan perawatan kesehatan, dan kegiatan olah raga, serta memfasilitasi kegiatan ibadah terdetensi. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Seksi Perawatan dan Kesehatan mempunyai fungsi :

1) Melakukan penyiapan kebutuhan makan terdetensi;

2) Melakukan penyiapan kebutuhan perawatan kesehatan, kegiatan olah raga, dan memfasilitasi kegiatan ibadah terdetensi.

(9)

1) Sub Seksi Perawatan mempunyai tugas melakukan penyiapan kebutuhan makan terdetensi.

2) Sub Seksi Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan kebutuhan perawatan kesehatan, kegiatan olah raga dan memfasilitasi kegiatan ibadah terdetensi.

d. Seksi Keamanan dan Ketertiban mempunyai tugas dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pengamanan, melakukan pengisolasian dan pemindahan terdetensi antar Rudenim serta pengeluaran terdetensi dalam rangka pengusiran dan pemulangannya. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Seksi Keamanan dan Ketertiban mempunyai fungsi :

1) Melakukan pengaturan jadwal pembagian tugas pengamanan, melaksanakan tugas penjagaan dalam rangka pengamanan di lingkungan Rudenim; .

2) Melakukan pengisolasian, pelaksanaan pemindahan terdetensi antar Rudenim, menjaga ketertiban serta pengeluaran terdetensi dalam rangka pengusiran dan pemulangannya.

3) Sub Seksi Keamanan mempunyai tugas mengatur jadwal pembagian tugas pengamanan, melaksanakan tugas penjagaan dan keamanan di lingkungan Rudenim.

4) Sub Seksi Ketertiban mempunyai tugas melakukan pengaturan penempatan, pengisolasian, pelaksanaan pemindahan terdetensi, serta menjaga ketertiban dan pengeluaran terdetensi dalam rangka pengusiran dan pemulangannya.

Untuk menunjang tugas dan fungsinya secara prima, Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru ditunjang memiliki 55 (lima puluh lima) orang pegawai yang saat ini secara efektif bekerja menjalankan tugas. Untuk mengatasi beban tugas dan fungsi yang ada, dibuat kebijakan dengan menambah jumlah tenaga honor sebanyak 14 (empat belas) orang yang diberikan tugas tambahan untuk membantu pelaksanaan tugas penjagaan pada Seksi Keamanan dan Ketertiban dan Bagian Tata Usaha.

Berikut adalah komposisi jumlah pegawai pada Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru berdasarkan pangkat/golongan, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pendidikan penjenjangan karir:

(10)

1 Pegawai Rudenim Pekanbaru Golongan IV Golongan III Golongan II CPNS Golongan II 0 18 37 0

Tabel 1. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan Golongan

Grafik 1. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan Golongan

Komposisi Jenis Kelamin Golongan IV Golongan III Golongan II CPNS Gol. II

Laki - Laki 0 12 27 0

Perempuan 0 6 10 0

Tabel 2. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan Golongan dan jenis kelamin

Grafik 2. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan Golongan dan jenis kelamin

0

10

20

30

40

Golongan IV

Golongan III

Golongan II

CPNS Gol. II

Pegawai Rudenim Pekanbaru

Jumlah

0

5

10

15

20

25

30

Golongan

4

Golongan

3

Golongan

2

CPNS Gol.

2

Laki-Laki

Perempuan

(11)

3. Tingkat Pendidikan Formal

S2 (Pasca Sarjana)

S1

(Sarjana) Diploma SMA

Laki - Laki 2 8 1 28

Perempuan 0 6 0 10

Tabel 3. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan tingkat pendidikan

Grafik 3. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan tingkat pendidikan dan jenis kelamin

4.

Pendidikan Penjenjangan Diklat Pim III Diklat Pim IV

Laki - Laki - 2

Perempuan - 0

Tabel 4. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan tingkat pendidikan penjenjangan karir

Grafik 4. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan tingkat pendidikan penjenjangan karir

0

5

10

15

20

25

30

S2

S1

DIPLOMA

SMA

Laki-Laki

Perempuan

0 0 2 0 laki - laki perempuan

PENDIDIKAN PENJENJANGAN

(12)

6. Isu Strategis

Indonesia telah dijadikan tempat singgah (transit) oleh para imigran gelap yang mengungsi dari berbagai negara seperti Afganistan, Srilanka, Irak, selebihnya dari Iran, Myanmar, Vietnam, Bangladesh dan Pakistan, yang bermaksud menuju negara Australia untuk mencari kehidupan yang lebih layak, aman dan terlindungi hak-hak asasinya.

Pada dasarnya orang asing yang masuk wilayah Indonesia tanpa visa atau tanpa izin tinggal yang sah terbagi 3 (tiga) bentuk yakni :

1. Orang asing yang melakukan kegiatan ilegal; 2. Orang asing imigran ilegal;

3. 4.

Orang asing pencari suaka;

Orang asing dengan status pengungsi.

Sampai saat ini, masalah migrasi di wilayah Indonesia ternyata masih terus berlanjut. Ribuan orang dan berbagai negara konflik terus masuk ke wilayah Indonesia, baik secara legal maupun ilegal, melalui darat, laut maupun udara dengan menyatakan diri sebagai pencari suaka (asylum seekers).

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi nomor IMI.1917.OT.02.01 Tahun 2013 tentang Standar Operasional Prosedur Rumah Detensi Imigrasi, proses penempatan pertama kali deteni di Rudenim Pekanbaru adalah prosedur pendetensian meliputi penerimaan, registrasi, perawatan, penempatan dan pengamanan. Bahwa manajemen kegiatan penindakan keimigrasian bagi deteni yang berada di Rudenim meliputi pendetensian, pengisolasian, pendeportasian, pemulangan, pemindahan, dan fasilitas penempatan Negara ketiga merupakan Tindakan Administratif Keimigrasian. Sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi nomor IMI-0352.GR.02.07 tentang Penanganan Imigran Ilegal yang menyatakan diri sebagai pencari suaka atau pengungsi, pada pasal 7 bahwa pendataan dilakukan juga oleh Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Karudenim). Rudenim wajib melakukan pengawasan dan pendataan terhadap Orang Asing pencari Suaka atau Pengungsi yang berada diwilayah kerjanya berkoordinasi dengan instansi terkait. Pendataan dilakukan untuk mendapatkan keterangan mengenai

:

1. Identitas diri; 2. Jenis Kelamin;

(13)

3. Kebangsaan;

4. Tempat tanggal lahir/umur; 5. Foto dan sidik jari; dan

6. Dokumen perjalanan yang dimiliki.

Saat ini pengambilan foto dan sidik jari masih bersifat manual. Untuk pengelolaan data pencari suaka (asylum seekers) dan pengungsi (refugee) masih menggunakan pendataan manual berupa absen kertas yang berisi nama, kebangsaan, foto wajah dan tandatangan, gunanya untuk mengawasi, memonitor/memantau, mengindentifikasi dan mengetahui jumlah deteni. Apabila melanggar peraturan tersebut non deteni akan dikenai sanksi atau hukuman

(punishment), menjatuhkan sanksi dengan teguran secara lisan atau teguran tertulis

berupa pengisolasian (sel) atau pencabutan hak tertentu dalam waktu yang ditentukan.

Sistem pengawasan terhadap non deteni saat ini dilakukan secara berkala melalui aplikasi Sistem Informasi Terpadu Wajib Lapor Pengungsi yang berisi nama, kebangsaan, foto wajah dan keterangan dari Rudenim, yang harus selalu dibawa deteni dalam melaksanakan wajib lapor. Informasi yang dihasilkan dari pengelolaan data dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan oleh Rumah Deteni Imigrasi selaku Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi dan Divisi Keimigrasian dalam rangka melaksanakan pengumpulan, pengolahan dan pelaporan yang berfungsi sebagai pooling data.

Menyikapi perkembangan keadaan dan kondisi non deteni pada Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru pada saat ini, non deteni berstatus pencari suaka dan pengungsi masih berkeinginan pergi meninggalkan Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru tidak kembali, karena dalam keseharian dengan ketidakpastian akan nasib yang ditentukan oleh United Nations High Commissioner for Refugees

(UNHCR), membuat deteni kian gelisah. Melarikan diri dari pengawasan petugas

pengamanan Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru adalah satu-satunya pilihan untuk hidup bebas sambil mencari cara menuju negara tujuan di Australia atau negara penerima. Dapat disampaikan beberapa hal sebagai berikut :

1. Penentuan status pencari suaka menjadi pengungsi adalah wewenang United

Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) bukan pemerintah

Indonesia, dengan status pengungsi tersebut UNHCR akan menempatkan para pengungsi ke negara ketiga. Sementara itu International Organization for

(14)

pengungsi dalam menunggu kepastian atau ditolak (rejected person);

2. Proses seleksi yang dilakukan oleh UNHCR untuk menjadi pencari suaka dan pengungsi bisa memakan waktu yang cukup lama lebih dari dua tahun, inilah yang menjadi kendala utama bagi non deteni yang berada di Rudenim Pekanbaru sehingga berakibat menjadi sensitif, emosional, depresi, stress, gangguan jiwa, frustrasi, mogok makan, kebosanan, percobaan bunuh diri dan melarikan diri. Mengatasi hal ini, Rudenim Pekanbaru menyarankan kepada IOM dan UNHCR agar melakukan kunjungan secara berkala dan kegiatan, namun baik IOM maupun UNHCR belum merespon;

3. Kedatangan para Imigran ke wilayah provinsi Riau jumlahnya terus meningkat, sehingga mulai menimbulkan ketidaknyamanan serta berpeluang memicu gangguan sosial, keamanan, politik, bahkan ketertiban di masyarakat. Kenyamanan warga mulai terganggu dengan keberadaan para Imigran dengan perilaku para Imigran semakin seenaknya, bahkan mengabaikan masalah hukum di Indonesia. Jumlah kedatangan Imigran yang semakin banyak, namun tidak ada penyelesaian dan penempatan ke negara penerima atau dipulangkan kenegara yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan berbagai dampak dan masalah di Indonesia.

Gambar 5. Proses non deteni penentuan status di Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru

STATUS SEBAGAI PENCARI SUAKA (ASYLUM SEEKERS) STATUS SEBAGAI PENGUNGSI (REFUGEE) RESETTLEMENT KE NEGARA KETIGA

(15)

Statistik jumlah penghuni pada Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru NO REGISTER JAN FEB M A R A PR

MEI JUN JUL AGT SEP OK

T N OV JUM LA H 1 2P1 PENDENTESIAN 1 0 2 1 0 2 0 0 0 7 0 13 2 2P2 PEMULANGAN 1 0 2 0 0 0 7 1 17 0 0 28 3 2P3 PENGUSIRAN / DEPORTASI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 1 6 4 2P4 PEMINDAHAN 0 12 5 0 0 0 0 8 7 0 0 32 5 2P5 PENGISOLASIAN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 2P6 PENYIMPANAN DAN PENYERAHAN BARANG 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 3 7 2P7 IZIN KELUAR SEMENTARA 0 0 4 0 0 0 0 0 1 0 0 5

Tabel 5. Statistik jumlah penghuni pada Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru per 20 November 2020

7. Sistematika Penulisan

Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru tahun 2020 adalah

BAB I Pendahuluan 1. Latar belakang

2. Deskripsi kondisi umum

3. Tugas dan Fungsi Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru 4. Struktur organisasi Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru 5. Isu strategis

6. Dasar Hukum 7. Sistematika

(16)

BAB II Perencanaan Kinerja

Meliputi perencanaan strategis dan kinerja BAB III Akuntabilitas Kinerja

Meliputi uraian dan penjelasan mengenai pencapaian kinerja serta ukuran keberhasilan juga pengukuran pencapaian sasaran.

BAB IV Penutup

(17)

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

1. Perencanaan Strategis

Setiap Program dan Kegiatan yang dilaksanakan oleh Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru mengacu kepada Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Rl Tahun 2015 – 2019, sesuai Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor 7 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Tahun 2015 - 2019.

Renstra Kemenkumham tahun 2015-2019 adalah dokumen perencanaan yang memuat penjabaran dari visi, misi, tujuan, arah kebijakan, strategis, kerangka regulasi, kerangka kelembagaan, target kinerja, dan kerangka pendanaan.

Visi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia adalah : “Masyarakat memperoleh Kepastian Hukum” dan Misi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia adalah :

a. Mewujudkan peraturan Perundang-Undangan yang berkualitas; b. Mewujudkan pelayanan hukum yang berkualitas;

c. Mewujudkan penegakan hukum yang berkualitas;

d. Mewujudkan penghormatan, pemenuhan, dan perlindungan HAM;

e. Mewujudkan aparatur Kementerian Hukum dan HAM yang profesional dan berintegritas.

Sasaran strategis ini akan mudah dicapai melalui kerjasama dan koordinasi yang baik antar Seksi, Subbagian Tata Usaha, Subseksi, Urusan Umum dan Fungsional umum dilingkungan Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru. Strategi yang relevan ialah kemitraan dengan semua pemangku kepentingan (stakeholder) di dalam sistem yang sinergis mencakup peningkatan dan penyempurnaan terhadap tugas dan fungsi sebagai berikut :

1. Terlaksananya tugas dan fungsi Keimigrasian di Subbagian Tata Usaha;

2. Terlaksananya tugas dan fungsi Keimigrasian di Seksi Register, Administrasi dan Pelaporan;

3. Terlaksananya tugas dan fungsi Keimigrasian di Seksi Perawatan dan Kesehatan;

4. Terlaksananya tugas dan fungsi Keimigrasian di Seksi Keamanan dan Ketertiban.

(18)

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Rudenim, Kepala Sub Bagian, Kepala Seksi, Kepala Sub Seksi, Kepala Urusan wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi di lingkungan Rudenim dan instansi lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Renstra yang ada di Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru tetap akan memperhatikan acuan pada Direktorat Jenderal Imigrasi yang ada yaitu visi “Masyarakat memperoleh Kepastian Hukum”, misi “Melindungi Hak Asasi Manusia”, motto “Melayani dengan Tulus”, dan janji layanan “kepastian dalam hal persyaratan, biaya maupun waktu penyelesaian”.

Visi, misi, motto dan janji layanan tersebut adalah pondasi penyusunan perencanaan strategis yang menunjukkan dengan jelas arti pentingnya eksistensi organisasi dengan kewenangan yang dimiliki di dalamnya mengandung isi tentang proses perencanaan strategis, menunjukkan secara jelas apa yang hendak dicapai, mengandung apa yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan, dan perkembangan Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru.

Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai 5 (lima) tahunan. Tujuan ditetapkan dengan mengacu kepada pernyataan visi dan misi serta didasarkan pada isu-isu dan analisa strategis.

Sasaran adalah hasil yang akan dicapai secara nyata oleh Instansi Pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur, dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan. Sasaran diupayakan untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu / tahunan secara berkesinambungan sejalan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sasaran yang ditetapkan untuk mencapai Visi, Misi, motto dan janji serta permasalahan dan isu-isu strategis yang sangat mempengaruhi keberhasilan.

Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru menetapkan perjanjian kinerja tahun 2020 adalah sebagai berikut :

(19)

2. Perencanaan kinerja

Indikator kinerja dalam hal ini diartikan sebagai ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu program atau kegiatan yang telah ditetapkan. Indikator-indikator tersebut secara langsung atau tidak langsung dapat mengindikasikan sejauh mana keberhasilan pencapaian sasaran. Setiap indikator kinerja sasaran disertai dengan rencana tingkat capaiannya (targetnya) masing-masing. Sasaran diupayakan untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu/tahunan secara berkesinambungan sejalan dengan tujuan yang ditetapkan dalam rencana strategis.

Pengukuran pencapaian tujuan strategis sebagaimana ditetapkan dalam Renstra dilakukan melalui pengukuran pencapaian sasaran strategis dalam hal ini pengukuran indikator kinerja utama. Untuk menguatkan pencapaian sasaran strategis ini di tahun 2020 telah disusun perjanjian kinerja atau penetapan kinerja.

Kepala Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru untuk mewujudkan target kinerja tertentu. Target kinerja tersebut menunjukkan komitmen dari pimpinan dan seluruh jajarannya untuk mencapai hasil yang diinginkan dari setiap sasaran strategis sesuai indikator kinerja utama yang bersifat outcome.

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

1. Meningkatnya

Penyelenggaraan Fungsi Pengkoordinasian,Pelayanan dan Penegakan Hukum Keimigrasian

Jumlah Kegiatan Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan

Fungsi Keimigrasian 100 %

1. Meningkatnya Penyelenggaraan Fungsi Pengkoordinasian,Pelayanan dan

Penegakan Hukum Keimigrasian;

2. Terselenggaranya Layanan Dukungan Manajemen Satker;

3. Terselenggaranya Layanan Sarana dan Prasarana Internal;

(20)

2. Terselenggaranya Layanan Dukungan Manajemen Satker

Jumlah Layanan Dukungan

Manajemen Satker 100 %

3. Terselenggaranya Layanan Sarana dan Prasarana Internal

Jumlah Layanan Sarana dan

Prasarana Internal 100 %

4. Terselenggaranya Layanan Perkantoran

Jumlah Layanan Perkantoran

100 %

Program Anggaran

Peningkatan pelayanan dan penegakan hukum keimigrasian Rp. 5.688.684.000

Tabel 6.Tabel rencana strategis Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru per 20 November 2020

Menindaklanjuti Renstra Rudenim Pekanbaru dalam penetapan/perjanjian kinerja tahun 2020 yang sasarannya telah ditetapkan akan direalisasikan pelaksanaannya dengan program penyelenggaraan fungsi pengkoordinasian, pelayanan dan penegakan hukum keimigrasian di wilayah sebagai berikut :

Output Jumlah biaya

a. Penyelenggaraan Penegakan Hukum Keimigrasian; Rp. 469.241.000 b. Layanan Sarana dan Prasarana Internal Rp. 147.890.000 c. Layanan Dukungan Manajemen Satker Rp. 664.585.000

d. Layanan Perkantoran; Rp. 4.406.968.000

(21)

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

1. Capaian Kinerja Organisasi

Pengukuran kinerja merupakan salah satu alat untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja. Pengukuran kinerja akan menunjukkan seberapa besar kinerja manajerial yang dicapai, seberapa bagus kinerja financial organisasi, dan kinerja lainnya yang menjadi dasar penilaian akuntabilitas. Pengukuran tingkat capaian kinerja dilakukan dengan cara membandingkan antara target kinerja yang telah ditetapkan dengan realisasinya.

Adapun rumusannya adalah sebagai berikut:

Realisasi

Persentasi capaian = X 100 %

Rencana

Gambar 6. Rumus persentasi capaian kinerja

Daftar Realisasi Output Tahun Anggaran 2020

Kode Uraian Pagu Realisasi Kinerja / Target Volume Capaian Kinerja / Volume (%) 013.06.10 Program peningkatan pelayanan dan penegakan hukum keimigrasian Rp. 5.688.684.000 Rp. 4.362.074.635 5254 Penyelenggaraan fungsi pengkoordinasian, pelayanan dan penegakan hukum keimigrasian di wilayah Rp. 5.688.684.000 Rp. 4.362.074.635 5254.017 Penyelenggaraan Penegakan Hukum Keimigrasian Rp. 469.241.000 Rp.280.907.409 11 LHK 90.90 %

(22)

5254.951 Layanan Sarana dan Prasarana Internal Rp. 147.890.000 Rp. 31.800.000 1 Layanan 83.30 % 5254.970 Layanan Dukungan Manajemen Satker Rp. 664.585.000 Rp.403.472.649 1 Layanan 83.30 %

5254.994 Layanan perkantoran; Rp. 4.406.968.000 Rp.3.645.894.577 1 Layanan 83.30 %

Tabel 8.Daftar Realisasi Output Tahun Anggaran per 20 November 2020

Dengan membandingkan antara realisasi dan rencana, maka dapat dilihat jumlah persentase pencapaian pada masing-masing indikator kinerja utama. Dengan diketahui capaian kinerja, maka dapat dianalisis faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan, yang selanjutnya dapat dipetakan kekurangan dan kelemahan realisasi dan rencana kegiatan, kemudian ditetapkan strategi untuk meningkatkan kinerja dimasa yang akan datang.

Dalam upaya mengimplementasikan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru terus melaksanakan berbagai upaya perbaikan, dengan tujuan untuk mendorong terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance) dan berorientasi kepada hasil (result oriented government).

(23)

BAB IV

PENUTUP

Laporan kinerja Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru tahun 2020 ini menyajikan informasi atas hasil-hasil kinerja yang dicapai periode Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun 2020 secara menyeluruh, dalam upaya meningkatkan pelayanan dan penegakan hukum keimigrasian agar dapat memberikan nilai tambah dan kemanfaatan secara riil bagi masyarakat. Berbagai keberhasilan maupun kekurangan sebagaimana tercermin dalam capaian kinerja Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicators), telah tergambarkan secara rinci pada table dan uraian penjelasan diatas.

Secara umum target-target sasaran yang tercermin dalam Indikator Kinerja Utama berhasil dicapai dan terhadap indikator kinerja yang tidak mencapai target 100 %, untuk meningkatkan capaian indicator outcome yang telah diperjanjikan dalam Perjanjian Kinerja, Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru kedepan akan berupaya meningkatkan fungsi koordinasi, pelaksanaan kebijakan dan meningkatkan efektivitas instrumen kebijakan yang ada. Hal ini dimaksudkan agar pencapaian outcome bisa disinergikan dengan kebijakan dan program dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dan stakeholder.

Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru juga berkomitmen mendukung salah satu agenda prioritas pemerintah (nawacita), yaitu “ Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya

Dimasa mendatang dengan berbekal komitmen, kesamaan persepsi dan kekuatan, serta sumberdaya yang ada, Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru akan terus meningkatkan kinerjanya sesai peran dan tanggungjawab yang diembannya, sehingga amanah Rencana Strategis Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia tahun 2015-2019 optimis dapat dicapai dan ditingkatkan kinerjanya.

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Rudenim di Seluruh Indonesia
Gambar 2. Pembagian Seksi pada Rumah Detensi Imigrasi PekanbaruRUMAH DETENSI IMIGRASI PEKANBARU
Gambar 3. Struktur Organisasi pada Rumah Detensi Imigrasi
Tabel 2. Komposisi jumlah pegawai Rudenim Pekanbaru berdasarkan Golongan dan jenis kelamin
+5

Referensi

Dokumen terkait

Metode analisis yang di pakai untuk menganalisis preferensi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta tentang Valentine’s day dalam sudut pandang ekonomi, sosial, dan religi

Jadi, kegiatan pengajaran mengikut konteks dapat mengarahkan siswa untuk dapat mengaplikasikan teori matematika dengan lebih efektif (Pearson, 2003).Target khusus

Tabungan dengan prinsip Mudharabah yang ada di Bank Jabar Banten Syariah adalah Tabungan iB Maslahah yaitu jenis investasi pada Bank bagi perorangan yang penarikannya hanya

Kendala di lapangan adalah sangat sulitnya mencari singkapan pada daerah formasi pembawa batubara, oleh karena banyak keterdapatan batuan metasedimen yang mempunyai ciri-ciri

Untuk memudahkan dalam pengaturan sirkulasi dan peiayanan pada konsumen, penataan los/kios dibedakan juga berdasarkan cara berdagang yaitu zone berdagang secara grosir dan

Optimasi Lokal : adalah optimasi yang dilakukan hanya pada suatu blok dari source code, dengan cara:.

[email protected] Shri Satish Waman Wagh [email protected] Shri Madhu V A Nair [email protected] Shri Prakash Sekhani [email protected] Shri Harish

EKA PUTRA SAMUDRA bukan sebagai importir kayu dan seluruh bahan baku yang digunakan tidak ada yang berasal dari kayu impor, sehingga verifier ini tidak diaplikasikan