Pengurangan Kadar H2s Dari Biogas Limbah Cair Rumah Sakit Dengan Metode Adsorpsi

Teks penuh

(1)

PENGURANGAN KADAR H

2

S DARI BIOGAS LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT

DENGAN METODE ADSORPSI

Alwathan*), Mustafa, Ramli Thahir Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda

*E-mail: Lalwathan@yahoo.com

Abstrak- Biogas sebelum digunakan harus dimurnikan terlebih dahulu dari kandungan asam sulfida (H2S) yang

meskipun jumlahnya kecil namun menimbulkan kerugian karena menimbulkan korosi pada logam atau apabila dibakar akan membentuk SO2atau SO3yang dikenal dengan SOx yang menyebabkan terjadinya hujan asam. Tujuan

dari penelitian ini adalah mencari waktu jenuh adsorben dalam menjerap H2S, mengetahui kemampuan adsorben

karbon aktif dalam menyerap dan mencari konstanta persamaan adsorpsi isotherm Freundlich pada variasi ukuran karbon aktif yang digunakan dalam menghitung waktu tinggal adsorpsi. Bahan yang digunakan adalah sludge dari hasil pengolahan limbah cair rumah sakit. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu mengukur kandungan H2S dalam biogas sebelum melalui adsorber disusun secara seri ukuran tinggi kolom 70 cm, diameter ½ inch,

tinggi isian 64 cm bahan isian karbon aktif dengan ukuran 4, 7, 10, 12, 14 mesh kecepatan biogas 0.5 liter/menit diperoleh hasil karbon aktif paling cepat mengalami kejenuhan ukuran 4 mesh yaitu 60 menit, H2S yang terjerap

202.42 unit dari effisiensi kejenuhan 9.76% sedangkan waktu jenuh paling lama 90 menit ukuran karbon aktif 14 mesh H2S yang terjerap 368.65 unit effisiensi kejenuhan 9.79%. Karbon aktif yang optimal digunakan yaitu 12 mesh

waktu jenuh 80 menit, effisiensi kejenuhan 9.82% dengan waktu tinggal 127.927 detik sedangkan waktu tinggal paling singkat terjadi pada ukuran adsorben 4 mesh, yaitu waktu tinggal 73.855 detik.

Keywords: limbah, biogas, adsorpsi, asam sulfida, karbon aktif

Abstract-Biogas is purified before being used in from the acid content of sulfide (H2S), although the numbers are

small, but the resulting loss due to corrode metal or when burned to form SO2or SO3, known as SOx that cause acid

rain. The purpose of this study to find time in the saturated adsorbent adsorb H2S, the ability of the activated

carbon adsorbent adsorb adsorption equation and find the constants in the Freundlich isotherm variations in the size of activated carbon for in calculating the residence time of adsorption. The materials used are the sludge from the hospital wastewater treatment. The method was performed in this study for measure the content of H2S in the

biogas before passed through to the third adsorber column 70 cm height, ½ inch diameter, 64 cm high filling packing material of activated carbon with a size of 4, 7, 10, 12, 14 mesh velocity biogas 0 , 5 litre. / min obtained results most rapidly activated carbon burnout mesh size of 4 is 60 minutes, H2S is adsorption 202.42 mg of 9.76%

while the efficiency of saturation saturation time exceeding 90 minutes 14 mesh size activated carbon is adsorption H2S 368.65 mg 9.79% saturation efficiency. Optimal use of activated carbon which is 12 mesh saturated 80-minute

time, efficiency saturated 9.82% with a residence time of 127.927 seconds while the shortest residence time occurs on the mesh size of adsorbent 4, the residence time of 73.855 seconds.

Keywords: waste , biogas, adsorption, acid sulfide, activated carbon.

PENDAHULUAN

Rumah sakit yang berlokasi di Samarinda sebagian besar belum mempunyai sistem pengolahan limbah, pada hal pengolahan air limbah rumah sakit merupakan suatu hal yang sangat penting karena terkait langsung dengan kesehatan masyarakat yang bermukim di sekitar rumah sakit. Berdasarkan data, air limbah yang dihasilkan dari rumah sakit berasal dari dapur, cuci (laundry), ruang radiologi, laboratorium, ruang perawatan dan ruang gawat darurat. Selain itu rumah sakit yang ada di Kalimantan Timur sekitar 75% limbahnya hanya dibuang ke septic tank yang

tentunya sangat berbahaya karena dapat merembes ke dalam tanah, sehingga berdasarkan SK Gubernur Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 tentang Baku Mutu Air limbah maka perlu dilakukan pengolahan air limbah khususnya air limbah rumah sakit. Mengingat hal tersebut, maka rumah sakit perlu memiliki pengolahan limbah yang baik dan menyeluruh. Agar rumah sakit terasa nyaman, segar dan terjaga kesehatan lingkungan maupun kesehatan pasien, pekerja, pengunjung, serta masyarakat sekitarnya. Dari hasil pengolahan limbah rumah sakit

(2)

tersebut maka di ambil sludge untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas.

Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan

organik seperti kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida. Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah limbah biodegradable

karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit.

Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan

gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam

pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil. Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi mekanis pada tempat pengolahan limbah.Anaerobic Digestionadalah proses dekomposisi dan pembusukan yang dilakukan oleh mikroorganisme, dimana senyawa organik terurai menjadi komponen senyawa kimia yang lebih sederhana tanpa menggunakan oksigen. Mikroorganisme anaerobik tersebut memproduksi biogas yang terdiri dari metana dan karbon dioksida sebagai produk akhir pada kondisi ideal. Dari proses

anaerobic digestiondihasilkan biogas yang umumnya mengandung pula hidrogen sulfida (H2S) dan amoniak

(NH3) dalam jumlah kecil begitu juga gas-gas lainnya.

Bahan baku yang diolah secara anaerobic degestion menghasilkan biogas yang memberikan keuntungan antara lain : anaerobic digestion dapat mengurangi efek dari rumah kaca. Sistem anaerobic digestionyang baik dapat memaksimalkan metana, tapi tidak melepaskan gas ke atmosfer, karena itu mengurangi emisi keseluruhan. anaerobic digestion

juga menyediakan sumber energi yang tidak meningkatkan kadar karbon di atmosfer yang menyebabkan perubahan iklim, bahan (feedstock) untuk anaerobic digestion merupakan sumber yang dapat diperbaharui karena itu tidak menghabiskan minyak bumi. Penggunaan digester juga membantu pengurangan dalam pemakaian minyak bumi pada industri pupuk, anaerobic digestion mengurangi

terjadinya pencemaran air dan tanah, pada aspek ekonomi anaerobic digestion mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomis yaitu biogas dan pupuk.

Disamping keuntungan di atas mempunyai juga kerugian yaitu adanya gas hidrogen sulfida (H2S) yang

berasal dari penguraian senyawa-senyawa yang mengandung belerang yang diuraikan oleh bakteri seperti Desulfovibrio desulfuricans. Meskipun dalam jumlah kecil tetapi mempunyai kerugian, antara lain bersifat korosif terhadap logam, pada konsentrasi tertentu bersifat racun, apabila dibakar akan membentuk SO2 atau SO3. Dalam penelitian ini

hidrogen sulfida yang terkandung dalam biogas dapat diminimalkan atau dikurangi dengan cara adsorpsi menggunakan karbona ktif. Adsorpsi adalah suatu proses pemisahan komponen tertentu dari suatu fasa gas berpindah ke permukaan zat padat yang menyerap. Pada umumnya zat pengadsorpsi atau adsorbent yang banyak digunakan adalah karbon aktif. Hal ini disebabkan karena karbon aktif memiliki luas permukaan yang besar (Pararaja, 2008).

Peneliti-peneliti pendahulu yang pernah dilakukan antara lain ; Rancang bangun dan rekayasa pengolahan limbah cair rumah sakit (studi kasus rumah sakit kristen Tayu, Pati ). Hasil yang diperoleh limbah cair Infeksius dan non infeksius yang memberikan Nilai COD (Chemical Oxygen Demand) cukup tinggi sebesar 121,60 mg/l (Bestari Alamsyah, 2007)., Teknologi Pengolahan Air limbah rumah sakit dengan sistem biofilter anaerob-aerob. Hasil yang diperoleh dari penelitian efisiensi penghilangan BOD 96 %, COD 92,8 %, Total zat padat tersuspensi (TSS) 98,8 %, Ammonia 76,2 % dan deterjen (MBAS) 78 %

(Nusa Idaman Said, dkk, 2007). Dalam upaya

peningkatan sistem pengelolaan limbah cair terhadap effektivitas pengolahan limbah cair rumah sakit umum pusat dokter Kariadi Semarang, hasil yang diperoleh program upaya peningkatan sistem pengelolaan limbah cair berhasil dengan baik dengan hasil pemeriksaan air limbah untuk parameter suhu, pH, TSS, BOD5, COD, NH3N, Phosfat dan E-Colidibawah baku mutu

limbah cair No 10 tahun 2004 (Estri Irawati, dkk, 2007).

Molekul dan atom dapat menempel pada permukaan dengan dua cara yaitu secara fisika (fisiosorpsi) dan secara kimia (chemisorpsi). Pada

fisiosorpsi, gaya yang menyebabkan adsorpsi fisik adalah gaya van der waals (seperti dispersi atau antaraksi dipolar) antara adsorben dan zat yang teradsorpsi. Adsorpsi fisik dapat meningkat dengan semakin tingginya konsentrasi, tetapi akan semakin kecil jika suhu dinaikkan. Padachemisorpsimencakup pembentukan ikatan kimia. Oleh karena itu sifatnya lebih spesifik daripada adsorpsi fisik. Pada adsorpsi ini

(3)

ikatannya sangat ketat sehingga spesies aslinya tak dapat ditemukan. Laju adsorpsi dapat cepat atau lambat tergantung pada energi aktivasi. Adsorpsi fisik suatu zat dapat terjadi pada suhu rendah dan zat dapat terchemisorpsi bila suhu dinaikkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi adsorpsi, antara lain : karakteristik fisika dan kimia adsorbent; luas permukaan; ukuran pori dan komposisi kimia, karakteristik fisika dan kimia adsorbsi, ukuran molekul dan komposisi kimia, dan waktu tinggal. Adsorben yang baik adalah setelah jenuh dapat diregenerasi agar dapat digunakan kembali untuk proses adsorpsi, waktu penyerapan hingga komposisi yang diinginkan. Penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: membuat alat pemurnian gas dari hasil pengolahan limbah cair rumah sakit, memurnikan gas yang diperoleh dari hasil pengolahan limbah cair rumah sakit dan menganalisa gas H2S dan komposisi biogas lainnya.

METODE PENELITIAN Bahan dan Peralatan

Bahan yang digunakan adalah biogas dari hasil pemanfaatan sludge limbah cair rumah sakit dan karbon aktif sebagai adsorben. Peralatan yang digunakan antara lain : selang udara, selang kompresor, kolom adsorpsi, valve output, input dan kompresor, flowrate meter, stopwatch, alat M40, UV-Vis DR/2400, piknometer 10 ml, corong, loyang, dan furnace.

Metode

Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda, sedangkan biogas dari hasil anaerobic digestion denganproses batch yang ditampung dalam gasholder. Penelitian dilakukan secara eksperimen yaitu menganalisa kadar H2S sebelum dan sesudah melewati

adsorben, digunakan larutan penjerap H2S yang

nantinya larutan dianalisa dengan berdasarkan prosedur baku SNI 19-7117.7-2005 menggunakan spektrofotometer (UV-Vis DR/2400)”.

Dari hasil analisa ini dapat diketahui kemampuan dari adsorben karbon aktif dalam menyerap H2S. Kemudian menentukan waktu jenuh

dari adsorben, yaitu saat dimana kadar H2S setelah

diadsorpsi sama

dengan atau mendekati kadar H2S sebelum di adsorpsi.

Selanjutnya dari data-data kadar H2S setelah melewati

adsorber (output) yang diperoleh, dimasukkan dalam persamaan adsorpsi isotherm Freundlich untuk memperoleh nilai konstanta, yang digunakan untuk menghitung waktu tinggal adsorpsi.

Penelitian ini digunakan sebagai variabel tetap yaitu tinggi kolom 70 cm, tinggi isian 64 cm, jumlah kolom 3 unit dengan diameter 1.85 cm.

Gambar 1. Proses Pemurnian Biogas dengan Proses Adsorpsi

Bahan isian berupa karbon aktif dengan laju alir biogas 0,5 L/min sedangkan variabel tidak tetap yaitu

waktu laju alir volumetrik biogas mulai dari menit ke 10 dan kelipatannya hingga adsorben mencapai kondisi jenuh (x menit), ukuran karbon aktif 4, 7, 10, 12 dan 14 mesh.

Gambar 2. Skema Proses Adsorpsi H2S HASIL DAN PEMBAHASAN

Waktu Jenuh Adsorben Karbon Aktif

Kemampuan adsorben dalam menyerap H2S yang

terkandung dalam biogas semakin lama akan semakin berkurang. Hal ini dikarenakan adsorben akan mencapai kondisi jenuhnya. Adsorben dikatakan sudah jenuh jika gas H2S yang melewati kolom adsorber tidak

(4)

pada permukaan adsorben sudah mulai tertutupi oleh H2S yang terjerap, sehingga penjerapan terhadap H2S

selanjutnya akan menjadi semakin sedikit jumlahnya hingga akhirnya adsorben tidak mampu lagi dalam menjerap H2S (mencapai kondisi jenuh).

Gambar 3. Hubungan antara konsentrasi H2dalam biogas

terhadap waktu penyerapan biogas pada variasi ukuran karbon aktif pada kondisi jenuh

Berdasarkan Gambar 3 di atas, waktu jenuh paling lama terjadi pada adsorben dengan ukuran partikel 14 mesh, yaitu saat proses adsorpsi telah berjalan selama 90 menit. Sedangkan waktu jenuh paling singkat terjadi pada adsorben dengan ukuran partikel 4 mesh saat dimana proses adsorpsi telah berjalan selama 60 menit. Hal ini dikarenakan dalam penelitian ini, adsorben 14 mesh memiliki porositas lebih besar dari ukuran adsorben yang lain, sehingga ruang kosong dalam pori-pori adsorben menjadi lebih banyak untuk menjerap H2S dan menyebabkan waktu

jenuh adsorben yang diperoleh juga menjadi lebih lama dibandingkan dengan ukuran adsorben yang lain. Hal ini dikarenakan adanya peristiwa desorpsi, yaitu proses terlepasnya zat/bahan yang telah dijerap oleh adsorben sehingga adsorben yang pori-porinya tadi sudah penuh oleh zat yang diserap menjadi terbuka kembali, dan menyebabkan H2S selanjutnya yang akan melewati

adsorben ini akan terjerap kembali, walaupun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan H2S yang lolos

dari adsorben.

Kemampuan Adsorben dalam Menyerap H2S

Tujuan untuk mengetahui kemampuan dari adsorben dalam menyerap H2S dapat dilakukan dengan

membandingkan massa H2S yang berhasil dijerap oleh

karbon aktif yang divariasikan ukuran partikelnya terhadap waktu adsorpsi, sehingga nantinya akan diperoleh ukuran adsorben yang paling baik digunakan untuk menyerap H2S dalam biogas pada laju alir 0,5

L/min.

Gambar 4. Hubungan antara konsentrasi H2S yang terjerap

terhadap waktu untuk variasi ukuran karbon aktif pada kondiSi jenuh

Gambar 4 menunjukkan kemampuan dari variasi ukuran adsorben karbon aktif dalam menjerap H2S terhadap waktu adsorpsi. Terlihat bahwa

kemampuan adsorben karbon aktif bisa dikatakan hampir sama dalam menjerap H2S pada 20 menit

pertama, akan tetapi semakin lama proses adsorpsi berlangsung, maka terlihat perbedaan dari kemampuan tiap-tiap ukuran karbon aktif dalam menjerap H2S.

Pada gambar 4. terlihat jelas sekali bahwa penjerapan H2S paling besar terjadi pada ukuran karbon aktif 14

mesh dengan waktu proses adsorpsi 90 menit, dimana H2S yang dapat dijerap sebanyak 368.65 mg.

Sedangkan penjerapan H2S paling sedikit terjadi pada

ukuran karbon aktif 4 mesh dengan waktu proses adsorpsi selama 60 menit, dimana H2S yang dapat

dijerap hanya sebanyak 202.42 mg. Jadi dalam penelitian ini adsorben yang paling baik digunakan untuk menjerap H2S dalam biogas adalah pada ukuran

karbon aktif 14 mesh, ini dikarenakan pada adsorben tersebut memiliki luas permukaan yang lebih besar sehingga sangat efektif dalam menjerap H2S.

Penentuan Konstanta Persamaan Adsorpsi Isotherm Freundlich untuk Menghitung Waktu Tinggal Adsorpsi

Tujuan penentuan konstanta persamaan adsorpsi

isotherm Freundlich dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan memasukkan data-data yang diperoleh pada variasi ukuran adsorben ke dalam persamaan isotherm Freundlich, kemudian dari data persamaan tersebut dibuat grafik hubungan antara Log Ce dengan Log x/m, sehingga dari grafik akan diperoleh persamaan linear (garis lurus) yaitu y = ax + b, dimana a merupakan nilai konstanta untuk 1/n, sedangkan b merupakan nilai konstanta untuk Kf dalam persamaan adsorpsi isotherm Freundlich

(

log

v k

= log Kf + 1/n log C

) (1) 0 50 100 150 200 250 300 350 400 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 m a ss a H2 S y a n g te rj er a p (m g ) Waktu (menit) 14 mesh 12 mesh 10 mesh 7 mesh 4 mesh 0 2 4 6 8 10 12 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 K o n se n tr a si H2 S (m g /L ) Waktu (menit) 14 mesh 12 mesh 10 mesh 7 mesh 4 mesh

(5)

di mana : x/m adalah kapasitas monolayer, Kf adalah faktor kapasitas Freundlich, n adalah intensitas Freundlich dan C adalah konsentrasi molekul zat yang terlarut bebas.

Dari hasil perolehan konstanta pada masing-masing ukuran karbon aktif, kemudian digunakan untuk mencari waktu tinggal adsorpsi. Adapun tujuan menentukan waktu tinggal adsorpsi adalah untuk mengetahui berapa lama waktu kontak antara biogas dengan adsorben karbon aktif dalam kolom adsorber.

Gambar 5.Hubungan antara waktu tinggal terhadap variasi ukuran partikel karbon aktif pada kondisi jenuh

Dari gambar 5. diperoleh hasil dimana Intensitas Freundlich (n) = 0.1736 dan Faktor kapasitas Freundlich (Kf) = 1.683. Dan Untuk Waktu tinggal paling lama terjadi pada ukuran partikel adsorben 12 mesh yaitu selama 127.927 detik, sedangkan waktu tinggal paling singkat terjadi pada ukuran adsorben 4 mesh, yaitu selama 73.855 detik. Hal ini dikarenakan semakin besar ukuran partikel adsorben, maka ruang kosong/celah antara partikel yang satu dengan yang lainnya akan semakin besar pula, sehingga biogas yang dilewatkan dalam kolom adsorber lebih mudah melewati adsorben tersebut, hal ini menyebabkan waktu tinggal biogas dalam kolom adsorber menjadi lebih singkat, dan menyebabkan penjerapan H2S dalam

biogas oleh karbon aktif menjadi kurang efektif dan maksimal. Dari gambar 5 juga dapat dilihat bahwa pada adsorben 14 mesh waktu tinggalnya lebih rendah dibandingkan dengan adsorben 12 mesh. Hal ini dikarenakan pada adsorben 14 mesh, walaupun celah antara partikel yang satu dengan yang lainnya akan semakin kecil, sehingga menyebabkan kontak antara biogas dengan adsorben menjadi lebih lama dan penjerapan menjadi lebih efektif. Akan tetapi dengan berlangsungnya proses adsorpsi yang dilakukan secara kontinyu dengan celah yang cukup kecil untuk dilewati biogas, akan menyebabkan sebagian biogas tertahan pada kolom adsorber. Hal ini mengakibatkan terjadinya

proses fluidisasi, dimana pada adsorben akan membentuk satu celah garis lurus dikarenakan adanya tekanan dari biogas yang tertahan tadi, sehingga biogas akan keluar melalui celah tersebut dan akibatnya kontak antara adsorben dengan biogas menjadi lebih singkat dan tidak efektif lagi. Hal inilah yang menyebabkan waktu tinggal adsorben 14 mesh lebih cepat dibandingkan dengan adsorben 12 mesh.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian penghilangan/pengurangan kadar H2S dalam biogas

dengan metode adsorpsi menggunakan adsorben karbon aktif, dengan laju alir 0.5L/min,tinggi isian 64

cm, diameter kolom 1.85 cm jumlah kolom 3 buah diperoleh beberapa kesimpulan antara lain: waktu jenuh paling lama terjadi pada adsorben dengan ukuran partikel 14 mesh yaitu setelah proses adsorpsi berjalan selama 90 menit, kemampuan adsorben karbon aktif yang paling baik dalam menyerap H2S adalah pada

ukuran adsorben 14 mesh dengan kemampuan menjerap H2S sebanyak 368.65 mg setelah proses

adsorpsi berlangsung selama 90 menit, dengan memasukkan data konstanta persamaan adsorpsi isotherm Freundlich ke dalam rumus waktu tinggal adsorpsi, diperoleh waktu tinggal paling lama terjadi pada ukuran adsorben 12 mesh yaitu selama 127.927 detik.

UCAPAN TERIMA KASIH

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada DP2M Direktur Jenderal Perguruan Tinggi atas Hibah dalam bentuk Skim Penelitian Hibah Bersaing (APHB) tahun anggaran 2011/2012 yang diberikan kepada kami. Dan tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada DP2M Politeknik Negeri Samarinda atas bantuannya sehingga dapat terlaksananya kegiatan Penelitian Hibah Bersaing (APHB) ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ammary, Baashar Y., 2004, “Nutrients Requirements

in Biological Industrial Wastewater

Treatment”, African Journal of Biotechnology, Vol. 3.

Bitton, Gabriel, 1999. “Waste Water Microbiology“,

2th.A John Willey & Sons, Singapore.

Engineers Without Borders Sustainable Development Research Competion, 2004,”The Biogas Digester – A Sustainable Energy Production Technology for Rural Development of Sub-Saharan Countries”.

Grady, CP Leslie and Lim, Henry C., 1980,

“Biological Wastewater Treatment: Theory & Applications”, Marcel Dekker, Inc., New York & Bassel. y = 5.760x + 48.21 R² = 0.922 0 20 40 60 80 100 120 140 0 5 10 15 W a k tu T in g g a l (d et ik )

(6)

Hagmann, M., Heimbrand, E., Hentschel, P., 1999, Determination of Siloxanes in Biogas from Landfills and Sewage Treatment Plants”,

Seventh International Waste Management and Landfill Symposium, Italy.

Harasimowicz, M., P. Orluk., G. Zakrzewska-Trznadel and A.G. Chmielewski., 2007,”Application of Polyimide Membranes for Biogas Purification

and Enrichment”, Journal of Hazardous

Materials, vol. 144, pp. 698 – 702.

Kirk, R.E. and Othmer, D.F., 1964,”Enclyclopedia of Chemical Technology”, vol. 4, Second Edition, New York.

Lastella, G., C. Testa., G. Cornacchia., M. Notornicole., F. Voltasio and V.K. Sharma., 2002,”Anaerobic Digestion of Semi-Solid Organic Waste : biogas production and its

purification Energy Conversion ang

management”, Vol 43, Issue I, pp. 63 – 75 Lovisa, 2000, ”Intensification Of The Biogas Process

by Imroved Process Monitoring and Biomass Retention”, Departement Of Biotechnology Lund University Sweden.

Masjhudi, “Produksi Biogas dari Tiga Jenis Kotoran Ternak pada berbagai suhu”, Jurnal

Metcalf & Eddy Inc, “Wastewater Engeneering

Treatment Diposal Reuse”,McGraw Hill. Mikucki, J.A., Liu,Y., Delwiche, M., Colwell, F.S.,

Boone, D.R., 2003, “ Isolation of a Methanogen from Deep Sediments That Contain Methane Hydrates, and Description of Methanoculleus

submarinus sp. nov.”, Applied and

Environmental Microbiology.

Pararaja, A., 2008, “karbon aktif”, http://www.tkcmindonesia.com, diakses pada 25 Juni 2011, jam 16.00 WITA.

Perry, 1999, Chemical Hand book.

Price,E.C and Cheremisinoff, P.N., 1981,”Biogas Production and Utilization.Ann Arbor Science Publishers”, Inc .United States of America. Saidu E. Gumbira, 1983, Bioindustri Penerapan

Teknologi Fermentasi, PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.

Setyo Sarwanto “ Parameter Air limbah Rumah Sakit ,” UI, 2000

Smisek, M. & Cerny S., 1970,”Active Carbon Manufactute Properties and application”, Amsterdam : El savier Publishing Company. Wellinger, A., and A. Lindeberg., 2000,”Biogas

Upgrading and Utilization-IEA Bioenergy”, Task 24, International Energy Association, France, pp.20.

Figur

Gambar 2. Skema Proses Adsorpsi H2S HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 2.

Skema Proses Adsorpsi H2S HASIL DAN PEMBAHASAN p.3
Gambar 1. Proses Pemurnian Biogas dengan Proses Adsorpsi

Gambar 1.

Proses Pemurnian Biogas dengan Proses Adsorpsi p.3
Gambar 3. Hubungan antara konsentrasi H 2 dalam biogas

Gambar 3.

Hubungan antara konsentrasi H 2 dalam biogas p.4
Gambar 4. Hubungan antara konsentrasi H 2 S yang terjerap

Gambar 4.

Hubungan antara konsentrasi H 2 S yang terjerap p.4
Gambar 5.Hubungan antara waktu tinggal terhadap variasi ukuran partikel karbon aktif pada kondisi jenuh

Gambar 5.Hubungan

antara waktu tinggal terhadap variasi ukuran partikel karbon aktif pada kondisi jenuh p.5

Referensi

Memperbarui...