• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL AWAL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS IPA PESERTA DIDIK KELAS VIII-A MTs PSM TANEN - REJOTANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL AWAL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS IPA PESERTA DIDIK KELAS VIII-A MTs PSM TANEN - REJOTANGAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL AWAL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS IPA PESERTA DIDIK

KELAS VIII-A MTs PSM TANEN - REJOTANGAN

Novita Ratnasari1, Sarwanto2, Baskoro Adi Prayitno3 1Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, 57126 2Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, 57126 3Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, 57126

Email Korespondensi: [email protected]

Abstrak

Keterampilan berpikir kritis belakangan ini gencar untuk ditingkatkan pada peserta didik di semua tingkatan pendidikan. Peserta didik diharapkan memiliki keterampilan berpikir kritis yang baik agar dapat menghadapi persaingan dalam dunia kerja. Penelitian yang dilakukan merupakan deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk mengklasifikasikan keterampilan berpikir kritis dari peserta didik. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VIII A MTs PSM Tanen - Rejotangan Kabupaten Tulungagung tahun pelajaran 2019/2020 sebanyak 25 peserta didik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan tes keterampilan berpikir kritis. Instrumen tes keterampilan berpikir kritis mencakup 6 indikator yang terdiri atas 10 butir tes uraian. Instrumen tes yang digunakan telah divalidasi dosen ahli, diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran serta daya beda. Analisis dilakukan terhadap hasil tes peserta didik pada tiap indikator dan dikategorikan ke dalam lima kategori berpikir kritis yang terdiri dari sangat baik (SB), baik (B), sedang (S), kurang (K), dan sangat kurang (SK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor indikator berpikir kritis tertinggi diperoleh pada indikator menjelaskan yakni sebesar 33 dengan kategori kurang (K). Indikator menganalisis dan pengaturan diri memiliki rata-rata skor terendah yakni sebesar 12 dengan kategori sangat kurang (SK). Berdasarkan hasil tersebut, terbukti bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik masih perlu dilatihkan agar dapat ditingkatkan. Sehingga, guru perlu menerapkan pembelajaran IPA yang bermakna agar dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik.

Kata Kunci: keterampilan berpikir kritis, IPA, pembelajaran bermakna, peserta didik sekolah menengah pertama

Pendahuluan

Berpikir adalah aktivitas yang secara kontinu dilakukan manusia dan menjadi pembeda dengan hewan sebagai sesama makhluk hidup. Berpikir dan mencari solusi pada suatu masalah merupakan pekerjaan paling krusial bagi otak, bahkan dengan keterampilanyang tidak terbatas. Berpikir sering dilakukan untuk membentuk teori, memecahkan masalah, mengambil keputusan, bernalar dan bepikir secara kritis serta kreatif (Santrock, 2011).

Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan untuk menyiapkan peserta didik di jenjang pendidikan dan dunia kerja (Partnership for 21st Century Skills, 2006). Selain itu, keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu tujuan penting dari pendidikan terutama di abad 21 ini. Keterampilan berpikir kritis juga merupakan salah satu keterampilan yang diharapkan menjadi output dalam proses pembelajaran (Kemdikbud, 2017). Keterampilan berpikir kritis merupakan pemikiran yang logis dan terfokus dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan analisis dan evaluasi masalah secara menyeluruh (Ennis, 2011). Cece (2010) juga mengungkapkan gagasannya mengenai keterampilan berpikir kritis, yaitu kegiatan menganalisis ide ke arah yang lebih spesifik, membedakannya secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya ke arah yang lebih sempurna. Pemikiran kritis adalah pemikiran reflektif dan produktif, serta melibatkan evaluasi bukti Santrock (2011). Lebih lanjut, Facione (1989) mengatakan bahwa pemikir kritis yang ideal mampu memecahkan masalah dengan bijaksana.

Keterampilan berpikir kritis dapat dikembangkan dengan meningkatkan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik (Wisudawati & Sulistyowati, 2015). Pengalaman tersebut dapat berupa mengevaluasi informasi yang akurat, menganalisis masalah, melakukan eksperimen, diskusi dalam memecahkan masalah, bekerjasama, serta membuat keputusan yang bertanggungjawab

(2)

(Wisudawati & Sulistyowati, 2015). Dalam melakukan eksperimen, peserta didik akan belajar dengan baik jika menggunakan objek dan fenomena yang terjadi disekelilingnya (Dewey, 1916). Fenomena alam yang sering ditemui peserta didik di lingkungan tempat tinggalnya merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan oleh guru dalam mengaktifkan keterampilan berpikir kritisnya (Pujianto dan Maryanto, 2009).

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yaitu peserta didik kelas VIII-A MTs PSM Tanen - Rejotangan Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur sebanyak 25 peserta didik yang dipilih menggunakan cluster random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa soal tes keterampilan berpikir kritis yang dikembangkan dari Facione (1989) yang terdiri atas enam indikator. Ke-enam indikator tersebut tertuang dalam 10 butir soal uraian yang telah diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran serta uji daya beda terhadap hasil uji coba tes profil awal keterampilan berpikir kritis peserta didik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan tes keterampilan berpikir kritis. Jawaban peserta didik selanjutnya dikategorikan dalam Sangat Kurang (SK), Kurang (K), Sedang (S), Baik (B), dan Sangat Baik (SB). Skor akhir tes profil awal keterampilan berpikir kritis peserta didik (Adaptasi dari Setyowati, dkk., 2011)selanjutnya dikategorikan ke dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kategori Nilai Keterampilan Berpikir Kritis

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Tes keterampilan berpikir kritis pada materi interaksi makhluk hidup dan lingkungannya yang telah dilakukan menunjukkan variasi perolehan skor. Analisis perolehan skor berdasarkan indikator berpikir kritis disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Analisis Jawaban Peserta Didik berdasarkan Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Indikator Keterampilan

Berpikir Kritis

Rata-rata Skor Kategori

Interpretasi 24 Sangat Kurang (SK)

Analisis 12 Sangat Kurang (SK)

Evaluasi 24 Sangat Kurang (SK)

Kesimpulan 21 Sangat Kurang (SK)

Penjelasan 33 Kurang (K)

Penguatan diri 12 Sangat Kurang (SK)

Analisis jawaban peserta didik berdasarkan indikator keterampilan berpikir kritis menunjukkan kategori berpikir kritis yang kurang variatif. Aspek menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, dan penguatan diri termasuk kategori sangat kurang (SK). Kategori sangat kurang dalam beberapa indikator berpikir kritis yang diperoleh berarti bahwa peserta didik lebih mampu ketika dihadapkan soal ranah mengingat dan menghafal. Rendahnya perolehan peserta didik disebabkan oleh (1) peserta didik belum mampu mengutarakan peristiwa yang disajikan dalam bentuk gambar pada soal, (2) beberapa peserta didik hanya mampu menunjukkan pernyataan mana yang benar tanpa mengemukakan identifikasi pemilihan jawabannya ketika dihadapkan pada soal analisis, (3) kurang memahami konsep sehingga kemampuan mengevaluasinya sangat kurang, (4) belum mengidentifikasi dengan maksimal sehingga penarikan kesimpulan yang dibuat juga kurang sesuai dengan konsep yang sebenarnya, (5) kurang mampu menempatkan diri dalam menghadapi suatu persoalan. Indikator ‘menjelaskan’, peserta didik memperoleh kategori kurang (K) yang merupakan perolehan rata-rata skor tertinggi dalam penelitian ini. Pada tahap ini, peserta didik cukup

Rentang Skor Kategori

81,25 – 100,00 Sangat Baik (SB)

62,50 – 81,25 Baik (B)

43,75 – 62,50 Sedang (S)

25,00 – 43,75 Kurang (K)

(3)

mampu memberikan argumen yang meyakinkan meskipun skor nya masih kategori kunga (K). Berdasarkan hasil analisis Rancangan Program Pembelajaran (RPP), ditemukan banyak butir soal tes dengan ranah “menjelaskan”. Hal ini membuktikan bahwa peserta didik sudah terlatih dengan soal ranah “menjelaskan”.

Keterampilan berpikir kritis peserta didik MTs PSM Tanen - Rejotangan tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan perolehan skor yang didominasi kategori keterampilan berpikir kritis yang sangat kurang (SK). Penelitian yang dilakukan oleh Prihatiningsih, dkk. (2016), Rahmawati (2016), dan Dahlia (2018) juga menyatakan bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik tingkat SMP/MTs tergolong rendah.Keterampilan berpikir kritis peserta didik yang rendah ini dipengaruhi oleh proses belajar mengajar di sekolah yang masih pasif. Hal ini juga didukung oleh Patonah (2014) yang menyatakan bahwa pembelajaran tingkat SMP/MTs masih teacher centered.Tidak hanya itu, bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran juga berpengaruh terhadap berpikir kritis peserta didik. Hasil analisis bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran terhadap indikator berpikir kritis ditampilkan pada Grafik 1.

Grafik 1. Analisis bahan ajar terhadap indikator berpikir kritis

Grafik tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar yang digunakan guru memiliki kategori berpikir kritis yang sangat kurang (SK). Hal ini membuktikan bahwa proses pembelajaran di kelas tidak melatihkan berpikir kritis sehingga keterampilan berpikir kritis peserta didik rendah.

Rendahnya keterampilan berpikir kritis peserta didik dapat menyulitkannya dalam menghadapi kehidupan di abad 21. Oleh karena itu, keterampilan berpikir kritis perlu dilatihkan. Pelatihan keterampilan berpikir kritis dimaksudkan agar peserta didik mampu bersikap adaptif dalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara efektif (Partnership for 21st Century Skills, 2006). Salah satu cara melatihkan keterampilan berpikir kritis adalah melalui proses pembelajaran IPA. IPA merupakan ilmu yang berasal dari pengamatan fenomena alam dan interaksi yang terjadi didalamnya (Rosa, 2015). Fenomena alam berhubungan dengan makhluk hidup maupun benda tak hidup untuk dijadikan objek kajian IPA. Objek kajian IPA yang berasal dari fenomena tertentu dianalisis dan dievaluasi sehingga ditemukan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang disebut produk IPA (Yuliati, 2008; Sunarno, 2017). Guru harus mampu menerapkan model pembelajaran IPA yang dapat melatih keterampilan berpikir kritis peserta didik. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat membuat peserta didik belajar mandiri tanpa melupakan aspek kognitif, psikomotorik dan afektif sehingga dapat mengaktifkan keterampilan berpikir yang salah satunya adalah berpikir kritis (Sani, 2014). Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Pembelajaran inkuiri terbimbing menekankan peserta didik untuk mengonstruk pengetahuannya secara bersama-sama dalam kelompok eksperimen sebagaimana halnya peneliti (Corebima, 2008). Hal ini sejalan dengan Novitaningrum, dkk., (2014), Fitriyani, dkk., (2015), Kemdikbud (2017), Putri (2018) dan Shalihin

0 5 10 15 20 25

Interpretasi Analisis Evaluasi Kesimpulan Penjelasan Penguatan

Diri

Sk

o

r

Indikator Berpikir Kritis

(4)

(2019), yang menyatakan bahwa inkuiri terbimbing dapat melatihkan keterampilan berpikir kritis peserta didik.

Simpulan, Saran, dan Rekomendasi

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik MTs PSM Tanen masih rendah. Hal tersebut dibuktikan dari capaian skor rata-rata indikator keterampilan berpikir kritis serta analisis bahan ajar yang sebagian besar memiliki kategori sangat kurang (SK) dalam berpikir kritis. Penyebab rendahnya keterampilan berpikir kritis yakni pembelajaran masih teacher centered; peserta didik belum terbiasa menghadapi soal tes yang memaksimalkan kemampuan berpikirnya. Hasil penelitian ini memberikan gambaran kepada guru dan peneliti tentang kondisi keterampilan berpikir kritis peserta didik SMP/MTs. Guru dituntut kreatif dalam menerapkan proses pembelajaran agar dapat menciptakan kebermaknaan bagi peserta didik. Selain itu, guru harus menerapkan berbagai model pembelajaran aktif yang melibatkan peserta didik agar mampu merangsang peserta didik dalam berpikir kritis.

Daftar Pustaka

Cece, Wijaya. (2010). Pendidikan Remidial: Sarana Pengembangan Mutu Sumber Daya Manusia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Che, F. S. (2002). Teaching Critical Thinking Skills an A Hong Kong Secondary School. Asia Pacific Education Review, 3(1), 83”” 91

Corebima, A.D. (2008). Memberdayakan Kemampuan Berpikir dan Kemampuan Metakognitif Selama Pembelajaran. Makalah disajikan dalam Pelatihan Guru Biologi Se-Jawa Timur di Jember, 13 Desember 2008

Dahlia, Ibrohim dan Susriyati Mahanal. (2018). Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP Menggunakan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing dengan Sumber Belajar Hutan Wisata Baning. Jurnal Pendidikan: Teori dan Pengembangan 3(2) 188-194

Dewey, John. (1916). Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education. New York: Coulumbia University.

Ennis, R. H. (2011). The Nature of Critical Thinking: An Outline of Critical Dispositions and Abilities.

Chicago: University of Illinois.

Facione, Peter A. (I989). Critical Thinking: A Statement of Expert Consensus for Purposes of Educational Assessment and Instruction. Insight Assesment

Fitriyani, R., Corebima, A. D., & Ibrohim. (2015). Pengaruh Strategi pembelajaran Problem Based Learning dan Inkuiri Terbimbing terhadap Keterampilan Metakognitif, Berpikir Kritis, dan Hasil Belajar Kognitif Siswa SMA. Jurnal Pendidikan Sains, 3(4), 186—200

Kemdikbud. (2017). Model Silabus Mata Pelajaran Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Novitaningrum, M., Parmin., & Stephani, D. P. (2014). Pengembangan Handout IPA Terpadu Berbasis Inkuiri pada Tema Mata untuk Kelas IX Siswa MTs Al-Islam Sumurejo. Unnes Science Education Journal, 3(2), 542—548

Patonah, S. (2014). Elemen Bernalar Tujuan pada Pembelajaran IPA Melalui pendekatan Metakognitif Siswa SMP. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 3(2), 128—133

Partnership for 21st century skills. (2006). Are They Really Ready to Work?. U.S Workforce.

Prihartiningsih., Zubaidah, S., & Kusairi. (2016). Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP pada Materi Klasifikasi Makhluk Hidup. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA Pascasarjana UM, (1) 1053—1062

Pujianto & Maryanto, Al. (2009). Pengembangan Model KBSB (Keterampilan Berpikir dan Strategi Berpikir melalui Pembelajaran Sains Realistik untuk Meningkatkan Akivitas Hand-On dan Minds-On. Jurnal disajikan dalam Simposium Hasil Penelitian dan Inovasi Pendidikan.

Putri, Neta. (2018). Studi Komparatif Metode Guided Inquiry Learning dan Metode Problem Based Learning terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Indonesian Journal Of Economic Education, 1 (1), 2018, 17-30

Rosa, F.O. (2015). Pengembangan Modul Pembelajaran IPA SMP pada Materi Tekanan Berbasis Keterampilan Proses Sains. Jurnal PendidikanFisika, (III), 1, 49-63

(5)

Sani, R. A. (2014). Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: PT Bumi Aksara. Santrock, John W. (2011). Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.

Shalihin, N., dkk. (2019). Implementation of Guided Inquiry Learning To Improve The Critical Thinking Skills of Junior High School Students. Journal of Innovative Science Education

Sunarno, Widha. (2017). IPA Terpadu. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Wisudawati, A. W. & Sulistyowati, E. (2015). Metodologi dan Pembelajaran IPA. Jakarta:Bumi Aksara. Yuliati, L. (2008). Model-model Pembelajaran Fisika “Teori dan Praktek”. Malang: LP3 Universitas Negeri

Gambar

Tabel 2.  Hasil Analisis Jawaban Peserta Didik berdasarkan Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Indikator Keterampilan
Grafik 1. Analisis bahan ajar terhadap indikator berpikir kritis

Referensi

Dokumen terkait

Langkah yang dilakukan dalam membangun sistem baru ini yaitu dengan melakukan analisis kebutuhan data, mengumpulkan data, meran- cang dengan menggunakan pemodelan terstruktur,

Sehingga permasalahannya bagaimana membangun suatu aplikasi alat bantu ajar digital berbasis mobile android untuk anak-anak sekolah minggu yang akan memenuhi kebutuhan akan

Quang (2005) mengata- kan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu di- perhatikan selama penanganan saat pembong- karan hingga pengangkutan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Terdapat perbedaan peningkatan pemahaman konsep dan kompetensi strategis matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran

6 Penelitian tentang ma’had atau pondok juga diteliti oleh Ahmad Yazid Albariki, Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Msulana Malik Malang 2016

Selada (Lactuca sativa L.) merupakan tanaman yang dalam satu dekade ini umum dibudidayakan oleh petani di Indonesia. Penggunaan sistem hidroponik dapat menghasilkan tanaman

menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dari pada tanaman terong hijau ( Solanum melongena L) yang tidak diberikan perlakuan kompos ampas tebu; (2) terdapat pengaruh yang

Tujuan dalam penelitian ini yaitu suhu, pH dan berbagai variasi jarak dengan kadar Pb pada badan air Sungai Rompang dan air sumur gali disekitar industri