• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Rzwp3k Banyuwangi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Rzwp3k Banyuwangi"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Penilaian Terhadap Produk Perencanaan Pesisir RZWP3K Kabupaten Banyuwangi” dengan tepat waktu. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menyusun tugas akhir dari bagian mata kuliah Perencanaan Pesisir. Selama proses penulisan, penulis banyak mendapatkan bantuan dari pihak-pihak lain sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan optimal. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah ini, Ibu Dian Rahmawati, ST., MT. yang turut membimbing dalam penyelesaian laporan ini, serta sumber- sumber terkait yang turut menjadi referensi makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat secara luas bagi perkembangan perencanaan pesisir serta rekomendasi ke depannya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

Surabaya, Desember 2015

(2)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR GAMBAR ... iv BAB I PENDAHULUAN ... 5 1.1 Latar Belakang ... 5

1.2 Tujuan dan Sasaran ... 6

1.3 Lingkup Substansi ... 6

1.4 Sistematika Penulisan ... 6

BAB II CRITICAL REVIEW RZWP3K KABUPATEN BANYUWANGI ... 7

2.1 Data dan Informasi ... 7

2.1.1 Data Terestrial ... 7

2.1.2 Data Batimetri ... 10

2.1.3 Data Geologi dan Geomorfologi Laut ... 11

2.1.4 Data Oseanografi ... 12

2.1.5 Data Ekosistem Pesisir ... 15

2.1.6 Data Sumber Daya Ikan ... 15

2.1.7 Data Penggunaan Lahan dan Status Lahan ... 16

2.1.8 Data Pemanfaatan Wilayah Laut ... 20

2.1.9 Data Sumber Daya Air ... 20

2.1.10 Data Infrastuktur ... 20

(3)

iii

2.1.12 Data Ekonomi Wilayah ... 26

2.1.13 Data Risiko Bencana dan Pencemaran ... 28

2.1.14 Data Hukum Penyusunan dan Kajian Perencanaan yang diacu ... 28

2.2 Metode dan Hasil Analisis ... 30

2.2.1 Proses Analisis... 30

2.2.2 Deskripsi Potensi Sumberdaya ... 30

2.2.3 Analisis Kesesuaian Lahan dan Penentuan Alokasi Ruang ... 32

2.2.4 Analisis Non Spasial ... 34

2.2.5 Analisis Konflik Pemanfaatan Ruang ... 40

2.3 Produk Perencanaan ... 40

2.3.1 Batas Wilayah Perencanaan ... 40

2.3.2 Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan ... 41

2.3.3 Kawasan Pemanfaatan Umum ... 42

2.3.4 Kawasan Konservasi ... 47

2.3.5 Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) ... 48

2.3.6 Alur Laut ... 51

2.3.7 Peta Pemanfaatan Ruang Pesisir ... 52

2.3.8 Peraturan Pemanfaatan Ruang ... 53

2.3.9 Arahan Pemanfaatan Ruang ... 54

2.3.10 Pengawasan ... 57

2.3.11 Pengendalian ... 57

BAB III EVALUASI TEKNIS ... 58

(4)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Perkembangan Jumlah Penduduk ... 23 Tabel 2 Produk Domestik Regional Bruto menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Kabupaten Banyuwangi ... 26 Tabel 3 Produk Domestik Regional Bruto menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 2000 Kabupaten Banyuwangi ... 27 Tabel 4 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Pendapatan Perkapita

Kabupaten Banyuwangi ... 28 Tabel 5 Analisa Isu-Isu Pengelolaan Kawasan Pesisir di Kecamatan Banyuwangi ... 37 Tabel 6 Zona Pertambangan ... 47 Tabel 7 Evaluasi Teknis Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) Kabupaten Banyuwangi ... 58

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Contoh penentuan zona dan sub zona pada RZWP3K Kabupaten Banyuwangi ... 34 Gambar 2 Peta Wilayah Pesisir Banyuwangi ... 41 Gambar 3 Peta Kawasan Strategis ... 50

(5)

5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan dimana batasnya dapat didefinisikan baik dalam konteks struktur administrasi pemerintah maupun secara ekologis. Sebagai negara kepulauan, laut dan wilayah pesisir memiliki nilai strategis dengan berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya sehingga berpotensi menjadi primemover pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis menunjukkan bahwa wilayah pesisir ini telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimilikinya. Agar pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir dapat terselenggara secara optimal, diperlukan upaya penataan ruang sebagai salah satu bentuk intervensi kebijakan dan penanganan khusus dari pemerintah dengan memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya. Selain itu, implementasi penataan ruang perlu didukung oleh program-program sektoral baik yang terselenggarakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat, termasuk dunia usaha.

Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir, perairan, dan pulau-pulau kecil Pasal 5 menyatakan bahwa pengelolaan wilayah pesisir meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hasil dari perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terdiri atas rencana strategis, rencana zonasi, rencana pengeloaan, dan rencana aksi. Pasal 7 ayat 3 undang-undang tersebut mengamanatkan bahwa pemerintah daerah wajib menyusun semua rencana sebagaimana dimaksud sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Negara Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan gugus pulau-pulau kecil yang tersebar di seluruh nusantara. Dimana negara ini juga mendapat pengakuan memiliki garis pantai terpanjang ke 2 (dua) setelah Kanada. Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu bagian kecil dari wilayah Indonesia yang terletak di sebelah ujung timur Pulau Jawa yang wilayahnya disekelilingi oleh pantai. Pada Kabupaten Banyuwangi ada 11 dari 24 kecamatan yang ada, lokasinya berbatasan langsung dengan pantai yang mana termasuk pada wilayah pesisir. Berkaitan dengan amanah UU No. 27 Tahun 2007 dan pentingnya dokumen perencanaan pengelolaan wilayah pesisir sebagai dasar untuk pemanfaatan wilayah pesisir Kabupaten Banyuwangi yang mana Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi untuk mendukung terciptanya

(6)

6 penataan ruang laut dan pesisir secara serasi, seimbang dan berkelanjutan. Adanya maksud dari makalah ini disusun agar lebih informatif produk perencanaan ini dalam penelitian/pengembangan secara lebih lanjut, seiring dengan rencana penyatuan dari RZWP3K Kabupaten/Kota menjadi RZWP3K Provinsi.

1.2

Tujuan dan Sasaran

Tujuan penyusunan makalah ini adalah mendapatkan penilaian sederhana terhadap produk perencanaan pesisir RZWP3K Kabupaten Banyuwangi secara teknis maupun tidak, yang mana disesuaikan dengan pedoman penyusunan RZWP3K Provinsi Tahun 2015. Yang mana sasaran ialah terdapat evaluasi teknis terhadap produk perencanaan untuk dasar informasi pada pengembangan atau penelitian selanjutnya.

1.3

Lingkup Substansi

Lingkup substansi studi dalam makalah mengenai Penilaian Terhadap Produk Perencanaan Pesisir RZWP3K Kabupaten Banyuwangi ini mencakup input, process, serta output yang terkait dalam perencanaan pesisir pada Kabupaten Banyuwangi.

1.4

Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dari makalah mengenai Penilaian Terhadap Produk Perencanaan Pesisir RZWP3K Kabupaten Banyuwangi meliputi:

 BAB I PENDAHULUAN:

Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, tujuan dan sasaran, lingkup substansi, serta sistematika penulisan dalam makalah mengenai penilaian terhadap produk perencanaan pesisir RZWP3K Kabupaten Banyuwangi ini.

 BAB II CRITICAL REVIEW RZWP3K KABUPATEN BANYUWANGI:

Bab ini menjabarkan review atas dokumen perencanaan serta adanya kritik atau saran mengenai isi dari produk perencanaan pesisir RZWP3K Kabupaten Banyuwangi.  BAB III EVALUASI TEKNIK:

Bab ini menjelaskan hasil deskriptif pada bab sebelumnya yang mana ditampilkan dalam bentuk tabel agar lebih mudah dalam eksplorasi makalah ini.

 BAB IV PENUTUP:

(7)

7

BAB II

CRITICAL REVIEW RZWP3K KABUPATEN BANYUWANGI

2.1

Data dan Informasi

2.1.1 Data Terestrial

2.1.1.1 Topografi

Dalam perencanaan kota kemiringan lahan/topografi merupakan unsur yang penting untuk ditelaah. Kesesuaian lahan bagi peruntukkan bangunan tertentu tidak terlepas dari pertimbangan kemiringan lahan di kawasan tersebut. Wilayah Kabupaten Banyuwangi terletak pada beberapa ketinggian yang terjadi sebagai berikut sebagai berikut:

 0-50 meter diatas permukaan laut (mdpl): merupakan wilayah dengan dataran rendah, ataupun wilayah yang berada di sekitar kawasan pantai. Wilayah yang berada pada ketinggian tersebut meliputi sebagian dari Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, Muncar, Purwoharjo, Tegaldlimo, Bangorejo, Siliragung, Pesanggaran.

 50-100 meter diatas permukaan laut (mdpl) meliputi sebagian dari Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah, Licin, Kabat, Rogojampi, Srono, Cluring, Purwoharjo, Bangorejo, Siliragung dan Pesanggaran.

 100-500 meter diatas permukaan laut (mdpl), meliputi sebagian dari Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Glagah Licin, Kabat, Cluring, Singojuruh, Rogojampi, Genteng, Sempu, Songgon, Glenmore, Kalibaru, Tegaldlimo, Siliragung, Pesanggaran, Bangorejo, Purwoharjo, Gambiran, Tegalsari.

 500-1000 meter diatas permukaan laut (mdpl) merupakan wilayah berbukit yang meliputi sebagian Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Glagah, Licin, Songgon, Sempu, Glenmore, Kalibaru, Siliragung, Pesanggaran.

 1000-2000 meter diatas permukaan laut (mdpl) merupakan daerah pegunungan terletak di sebagian Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Licin, Songgon, Glenmore, dan Kalibaru.

 > 2000 meter diatas permukaan laut (mdpl) meliputi sebagian Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Licin, Songgon, Glenmore dan Kalibaru.

(8)

8 2.1.1.2 Kemiringan Lahan

Kondisi kemiringan lahan di Kabupaten Banyuwangi dapat dibedakan dalam 5 (lima) bagian kemiringan yang ditampilkan dalam tabel, sebagai berikut:

Tabel 1 Kemiringan Lahan di Kabupaten Banyuwangi

No. Kecamatan Kemiringan Jumlah (%)

0-2% 2-15% 15-40% >40% 1 Pesanggaran 2,60 1,69 3,21 6,19 13,69 2 Siliragung 1,47 0,40 0,38 0,43 2,68 3 Bangorejo 4,32 0,50 0,00 0,16 4,98 4 Purwoharjo 3,53 0,05 0,10 0,06 3,74 5 Tegaldlimo 5,85 1,82 4,49 4,10 16,26 6 Muncar 2,27 0,00 0,00 0,00 2,27 7 Cluring 1,89 0,00 0,00 0,00 1,89 8 Gambiran 1,18 0,00 0,00 0,00 1,18 9 Tegalsari 1,23 0,04 0,00 0,00 1,27 10 Glenmore 0,96 4,93 0,98 2,07 8,94 11 Kalibaru 0,96 1,24 1,11 1,62 4,93 12 Genteng 0,53 0,87 0,00 0,00 1,40 13 Srono 1,81 0,18 0,00 0,00 1,99 14 Rogojampi 2,19 0,12 0,00 0,00 2,31 15 Kabat 1,15 0,99 0,09 0,00 2,23 16 Singojuruh 0,63 0,64 0,01 0,00 1,28 17 Sempu 0,8 1,37 0,28 0,00 2,45 18 Songgon 0,00 1,24 0,85 2,47 4,56

(9)

9 19 Glagah 0,00 1,31 0,02 0,00 1,33 20 Licin 0,00 2,59 0,94 0,75 4,28 21 Banyuwangi 0,4 0,24 0,00 0,00 0,64 22 Giri 0,06 0,40 0,07 0,00 0,53 23 Kalipuro 0,08 2,93 0,62 2,12 5,75 24 Wongsorejo 1,51 3,02 2,18 2,71 9,42 Jumlah 35,45 26,56 15,31 22,67 100,00

Sumber: Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Banyuwangi 2.1.1.3 Tanah

Untuk Jenis Tanah terdapat 17 jenis tanah di Kabupaten Banyuwangi yaitu Aluvial Coklat Kemerahan, Aluvial Hidromorf, Andosol Coklat Kekuningan, Assosiasi Aluvial Kelabu dan Aluvial Coklat Kekelabuan, Assosiasi Andosol Coklat Kekuningan dan Regosol Coklat Kekuningan, Asosiaso Latosol Coklat dan Regosol Kelabu, Grumosol Hitam, Grumosol Kelabu, Kompleks Latosol Coklat Kekuningan dan Litosol, Kompleks Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol, Kompleks Mediteran Coklat dan Litosol, Kompleks Mediteran Merah dan litosol, Kompleks Regosol Kelabu dan Litosol, Kompleks Brown Forest Soil, Litosol dan Mediteran, Latosol Coklat Kemerahan, Regosol Coklat, Regosol Kelabu. Kedalaman efektif tanah menggambarkan ketebalan tanah dan sejauh mana akar tanaman dapat berkembang. Besarnya diukur dari permukaan tanah sampai dengan lapisan di mana akar tanaman tidak dapat lagi menembusnya. Lapisan tersebut biasanya berupa penghalang fisik yang berupa batuan atau lapisan kedap akar. Pada keadaan tertentu lapisan tersebut dapat berupa suatu lapisan yang secara kimia mengandung racun yang mematikan akar tanaman.

Kedalaman efektif tanah untuk Kabupaten Banyuwangi dibagai menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu:

a. >90 cm, tersebar pada seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi b. 60 – 90 cm, tersebar di Kecamatan Tegaldlimo, Bangorejo, Kalipuro dan

Wongsorejo

c. 30-60 cm, tersebar di Kecamatan Tegaldlimo yakni di sekitar di Tanjung Sembulungan

(10)

10 Tekstur tanah adalah kasar halusnya bahan padat organik tanah berdasarkan perbandingan fraksi pasir, lempung debu dan air. Tekstur ini akan berpengaruh terhadap pengolanah tanah dan pertumbuhan tanaman terutama dalam mengatur kandungan udara dalam rongga tanah dan persediaan serta kecepatan peresapan air di tanah tersebut.

Berdasarkan teksturnya, tanah di Kabupaten Banyuwangi dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu:

1. Halus (liat) tersebar di Kecamatan Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo, sebagian Genteng, Siliragung, Cluring dan Muncar.

2. Sedang (lempung) tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Banyuwangi kecuali Kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo

3. Kasar (pasir) hanya terdapat di sebagian kecil wilayah kabupaten Banyuwangi, tepatnya di wilayah pantai selatan di Kecamatan Purwoharjo dan Tegaldlimo. Data terrestrial yang disampaikan oleh produk perencanaan kali ini sudah cukup detail, namun tidak ada terlampir peta untuk informasi visualnya.

2.1.2 Data Batimetri

Kondisi dasar pantai Kabupaten Banyuwangi yang diukur oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, diperoleh kedalaman pantai berkisar -10 m hingga -160 m dari rata-rata muka laut (Mean Sea Level). Bagian Selat Bali mempunyai perubahan kedalaman dari -11 m hingga ke tengah mencapai kedalaman -140 m. Di bagian tengah Selat Bali terdapat cekungan hingga mencapai kedalaman -90 m. Bagian selatan Banyuwangi, perubahan kedalaman dari -10 m hingga -160 m, dengan perubahan yang agak curam mengarah ke selatan dengan kontur batimetri rata-rata sejajar pantai. Disepanjang Pantai Selatan Banyuwangi terdapat banyak teluk maupun tanjung bahkan beberapa pulau terdapat di wilayah tersebut. Hal ini akan membuat perubahan gelombang dan yang diakibatkan menjadi sangat variatif.

Dari data angin sebagaimana yang telah digambarkan dalam Mawar Angin Tahunan, menunjukkan bahwa prosentase terbesar terjadi dari selatan, sementara di Perairan Samudera Indonesia mempunyai panjang fetch yang absolut, sehingga gelombang angin yang terbentuk akan menjadi tinggi. Dengan demikian perilaku gelombang maupun yang diakibatkan akan sangat variatif. Akibat dari bentuk batimetri dan bentuk garis pantai maka dimungkinkan terjadinya gelombang yang datang dengan menggulung dengan indah, dan kemungkinan di tempat lain akan terjadi gelombang dengan tinggi gelombang relatif kecil. Dan setelah gelombang pecah juga akan memberikan

(11)

11 kemungkinan beberapa macam tipe arus pantai seperti longshore current, offshore current maupun rip current. Dengan variatifnya tinggi gelombang yang terbentuk dan tipe arus pantai yang terjadi dapat dijadikan aset untuk pemanfaatan sebagai rekreasi, pelabuhan, atau laboratorium kepantaian/kelautan.

Data batimetri yang disajikan cukup jelas namun lebih baik dan mempermudah dalam mengeksplorasi disajikan dalam bentuk tabel.

2.1.3 Data Geologi dan Geomorfologi Laut

2.1.3.1 Geologi

Adapun jenis batuan yang terdapat di Wilayah Kabupaten Banyuwangi dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian sebagai berikut:

a) Endapan Permukaan

 Q1 Batu Gamping Terumbu: Batu gamping terumbu, tuf dan aglomerat.

 QA Aluvium: Kerakal, kerikil, pasir, lanau dan lempung yang merupakan endapan pantai.

b) Batuan Sedimen

 TMP Formasi Punung: Batu gamping terumbu, batu gamping tufan dan napalan.  Qpvk Formasi Kalibaru: Breksi lahar, konglomerat, batu pasir tufan dan tuf.

 Tmj Formasi Jaten: Batupasir, batupasir konglomeratan, batupasir tufan, batupasir gampingan, batulempung, tuf dan batu gamping tufan.

 Tmw Formasi Wuni: terdiri atas breksi gunungapi, konglomerat, batupasir tufan, tuf, napal dan batu gamping tufan.

c) Batuan Gunung Api  Tomb Formasi Batuampar.

 Qpvi Batuan Gunung Api Ijen Tua; breksi gungnungapi, breksi batuapung dan tuf.  Qhv Batuan Gunung Api Raung Suket dan Pendil: breksi gunungapi, lava dan tuf

(12)

12  Qv (r,m) Batuan Gunung Api Merapi dan Rante.

 Qhvr Batuan Gunungapi Raung: Breksi gunung api dan tuf. d) Batuan Terobosan

 Tmi (g) Granodiorit dan Dasit.  Tmi (a) Andesit, Andesit Profir. 2.1.3.2 Geomorfologi

Pada data geologi, dirasakan dalam penjelasan sudah cukup lengkap dan merepresentasikan kondisi nyata. Namun untuk geomorfologinya, penjelasan deskriptif saja tidak disampaikan.

2.1.4 Data Oseanografi

Secara umum perairan pantai yang ada di Kabupaten Banyuwangi terbagi dalam dua kelompok yakni; pantai timur yang merupakan Selat Bali dan pantai selatan yang berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Pantai Timur Banyuwangi, secara geografis berdekatan dengan pulau Bali, sehingga panjang fatch relatif pendek, oleh karena itu pengaruh hembusan angin relatif kecil, sehingga gelombang yang ditimbulkan di pantai timur relatif kecil. Tetapi bila ditinjau, susunan letak Pulau Jawa-Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara yang membentang ke timur, maka akibat pengaruh pasang surut air laut menjadikan arus yang sangat besar di Selat Bali. Dari hasil inventarisasi dan pemetaan sumber daya kelautan, pengukuran arus di Selat Bali mencapai 4 m/dt, keadaan ini sangat penting sebagai pertimbangan dalam usaha pemanfaatan dan pengembangan Pantai Timur Kabupaten Banyuwangi.

Pantai Selatan Banyuwangi, berbatasan dengan Samudera Indonesia, sehingga panjang fatch dapat dikatakan absolut, oleh karena itu akibat dari angin yang berhembus dari arah utara menyebabkan gelombang terbentuk dengan sempurna dan besar. Namun demikian besar (tinggi) gelombang yang terbentuk sangat tergantung pada kecepatan angin yang terjadi. Kondisi garis pantai Banyuwangi bagian selatan sangat variatif, pada lokasi tertentu terdapat tanjung dan pada lokasi lainnya berbentuk tanjung dengan posisi arah, besar dalam serta panjang tonjolan tanjung maupun lekukannya sangat variatif. Dengan keadaan batimetri tertentu, kondisi ini sangat memungkinkan terbentuknya perilaku perairan pantai yang sangat variatif dan kompleks. Dengan demikian terbentuknya perilaku gelombang mulai terjadi refraksi gelombang, defraksi gelombang, soaling dan akhirnya pecah akan terjadi di pantai selatan, demikian juga

(13)

13 perilaku aliran setelah terjadi gelombang pecah.

2.1.4.1 Pasang Surut

Pola pasang surut yang terjadi di wilayah pesisir di kecamatan-kecamatan yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi dapat mengakibatkan terjadinya perbedaan volume pantai yang akan memberikan perubahan terhadap luas ketinggian permukaan air. Volume air wilayah pesisir Kecamatan-kecamatan yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi akan mengalami penambahan pada saat terjadinya pasang tinggi yaitu pada bulan penuh (purnama) dan volume air akan mengalami penurunan pada saat surut terendah yaitu pada bulan gelap. Adanya aksi pasang surut yang terjadi dapat menyebabkan terjadinya perbedaan volume air disuatu perairan serta terjadinya perbedaan ketinggian muka perairan (Bishop 1984). Tinggi pasang surut dipengaruhi oleh posisi bulan, dimana tinggi pasang berbeda antara bulan penuh (purnama) dengan bulan setengah (sabit) dan selain itu pula, perbedaan tinggi pasang juga dipengaruhi oleh lokasi perairan tersebut berada (Pariwono 1997).

Terutama di perairan sebelah Timur Banyuwangi perlu menjadi pertimbangan dalam penentuan lokasi budidaya rumput laut karena merupakan salah satu zona yang terkena dampak dari gelombang internal (soliton) dari Selat Bali, dimana tinggi muka air dari hasil gelombang ini dapat mencapai 2 – 5 meter. Gelombang internal ini dihasilkan dari proses baroklinik karena adanya perubahan yang mendadak dari parameter suhu dan salinitas di sekitar perairan ini.

2.1.4.2 Arus

Hasil analisis pola arus permukaan laut normal bulanan antara tahun 1930 – 2007 dapat dijelaskan sebegai berikut:

 Pola arus di perairan sebelah selatan Banyuwangi masih cukup kuat dipengaruhi oleh pola musim (angin) yaitu musim Barat, musim peralihan I, musim timur dan musim peralihan II.

 Pola arus di perairan sebelah timur Banyuwangi sangat ditentukan oleh kuat-lemahnya aliran massa air yang masuk ke perairan Selat Bali dari perairan di sebelah utara jawa timur dan sebelah utara perairan Bali.

 Kuat-lemahnya aliran massa air ini sangat ditentukan oleh kekuatan dari ARLINDO (Arus Lintas Indonesia), sehingga fenomena El Nino dan La Nina cukup kuat berpengaruh terhadap pola sirkulasi di sekitar perairan Banyuwangi.

(14)

14 masuk keperairan sebelah timur Banyuwangi melalui Selat Bali (umumnya terjadi pada saat La Nina) sangat kuat dan dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kesuburan perairan yang disebabkan oleh masukan bahan nutrien dari perairan utara Jawa Timur dan utara Bali.

 Peningkatan kesuburan perairan ini akan menyebabkan dua kemungkinan yaitu berlimpahnya ikan Lemuru atau terjadinya alga blooming. Jika terjadi alga blooming maka akan mengganggu kestabilan tanman karena akan mengalami kekurangan kandungan oksigen terlarut dan meningkatnya turbiditas perairan.

 Arus permukaan laut yang dibangkitkan oleh pasut di perairan sebelah Timur Banyuwangi tidak cukup kuat untuk mempengaruhi kuat lemahnyaaliran massa air dari utara ke Selatan melalui Selat Bali.

Pola sirkulasi arus ini juga menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi budidaya rumput laut, dimana lokasi yang dipilih sebaiknya mempunyai sedikit variabilitas fluktuasi arus yang ekstrim. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut jenis Eucheuma cottonii yang ditanam di bagian Timur Banyuwangi. Karena tingginya arus dan ditunjang dengan gelombang yang tinggi akan mengakibatkan terjadinya pengadukan dasar perairan sehingga limbah organik yang mengendap didasar perairan akan teraduk dan menyebabkan perairan menjadi keruh dan sangat berpengaruh terhadap aktivitas budidaya. Berdasarkan hasil analisis pola arus, maka pantai Selatan Banyuwangi mempunyai variabilitas fluktuasi arus yang tidak terlalu ekstrim.

Pada periode tertentu dimana Arlindo kuat sehingga terjadi algae blooming yang dapat mengganggu pertumbuhan bahkan merusak tanaman rumput laut. Kesuburan yang ditimbulkan arus ini juga menyebabkan kesuburan perkembangan ikan termasuk pemakan atau predator rumput laut. Apabila fluktuasi arus terjadi sangat ekstrim sehingga perubahan kondisi perairan juga ekstrim ini dapat menyebabkan munculnya penyakit ice-ice penyakit yang ditakuti karena dapat merusak rumput laut secara serentak dan dapat menimbulkan kerusakan total rumput laut yang dibudidayakan. Namun walaupun demikian dugaan ini perlu dikaji terlebih dahulu dan pada saat kapan terjadinya perubahan pola arus ekstrim yang ditimbulkan akibat kuatnya Arlindo.

Secara umum dengan memperhatikan pola sirkulasi arus serta kekuatan arus dapat diuraikan sebagai berikut; Budidaya Eucheuma cottonii di Kabupaten Banyuwangi sulit untuk dilakukan sepanjang tahun dan ada periode dimana arus dan angin cukup besar yang menyulitkan bahkan tidak memungkinkan dilakukan budidaya rumput laut. Waktu budidaya rumput laut yang baik untuk Banyuwangi di bagian Timur dan Selatan adalah bulan Maret sampai Juni. Untuk di teluk Rajekwesi cukup terlindung dari angin musim

(15)

15 Timur bisa tanam dari Maret sampai Oktober. Pada bulan Juli arus sangat kuat demikian juga pengaruh angin Timur cukup kuat yang dapat merusakkan konstruksi dan tanaman rumput laut. Pada saat ini di Banyuwangi tidak bisa titanami rumput laut, Demikian juga bulan November arus dari barat cukup keras terutama tanaman yang di Selatan Banyuwangi.

2.1.4.3 Gelombang

Untuk data gelombang sudah sedikit diulas pada bab batimetri. 2.1.4.4 Kualitas Air

2.1.4.5 Biologi Perairan

Untuk data oseanografi, pada sub bab pasang surut dan arus sudah dijelaskan dengan jelas. Untuk data gelombang secara umum telah dijelaskan pada bab Data Batimetri, namun kurangnya penjelasan secara khusus yang merepresentasikan kondisi gelombang pada kawasan pesisir di Kabupaten Banyuwangi. Adapula mengenai sub bab kualitas air dan biologi perairan malah sama sekali tidak ada penjelasannya. Dan semua data dirasa kurang dalam menyajikan dalam bentuk visual terutama peta, adapun peta yang dapat dilampirkan yakni Peta Salinitas, Peta Suhu Permukaan, Peta Kecerahan, Peta PH, Peta Arah Kecepatan Arus, Peta Tinggi Gelombang, Peta Sebaran Amonia.

2.1.5 Data Ekosistem Pesisir

Untuk data ekosistem pesisir, tidak ada penjelasan mengenai pokok bahasan pada produk perencanaan ini. Perlu ditambahkannya data mengenai ekosistem pesisir seperti terumbu karang, padang lamun, dsb yang menggambarkan kondisi eksisting wilayah studi dan dapat disajikan dalam bentuk tabel/peta agar lebih mudah dieksplorasi.

2.1.6 Data Sumber Daya Ikan

Produksi perikanan Kabupaten Banyuwangi didominasi oleh produksi ikan hasil tangkapan baik itu hasil tangkapan laut maupun perairan umum. Jenis ikan laut dengan hasil produksi paling besar di kabupaten banyuwangi adalah jenis Ikan Lemuru yang mencapai 54.904.723 kg di tahun 2007 (88,84% total produksi perikanan laut Kabupaten Banyuwangi). Sedangkan untuk perikanan air tawar yang paling banyak diproduksi adalah jenis ikan Lele sebanyak 189.696 ton di tahun 2007 (71,6% dari total produksi ikan air tawar). Untuk perairan laut, nelayan di Kabupaten Banyuwangi mengandalkan potensi yang dimiliki oleh perairan di Selat Bali (Pesisir Timur) dan Perairan Samudrera Indonesia (di pesisir selatan Banyuwangi).

(16)

16 Data ekosistem pesisir dan sumber daya ikan, dirasa kurang untuk kedalaman penjelasan. Yang mana untuk ekosistem pesisir sendiri tidak ada dibahas, namun ada dalam analisa. Sumber daya ikan pun, data yang ada hanyalah luasan dari lahan penghasil ikan bukan jenis dan kelimpahan ikan yang ada. Untuk hal yang lebih mendetail belum dituangkan dalm produk perencana ini.

2.1.7 Data Penggunaan Lahan dan Status Lahan

2.1.7.1 Hutan

Hutan merupakan jenis penggunaan terbesar di Kabupaten Banyuwangi dengan luas mencapai 180.937,78 ha atau sekitar 31,28% dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Berdasarkan data Banyuwangi dalam angka tahun 2007 (Tabel), hutan yang ada di Kabupaten Banyuwangi dapat dibedakan berdasarkan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH), sebagai berikut:

a. KPH Banyuwangi Utara, memiliki jenis dan luas hutan sebagai berikut: hutan lindung seluas 1.425,80 ha, hutan produksi seluas 26.698,46 ha.

b. KPH Banyuwangi Selatan, memiliki jenis dan luas hutan sebagai berikut: hutan lindung, seluas 7.677,80 ha, hutan produksi seluas 37.716,37 ha, hutan konservasi berupa taman nasional seluas 63.835 ha, yang terdiri dari Taman Nasional Alas Purwo seluas 43.420 ha yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Taman Nasional Meru Betiri dengan luas 20.415 ha yang terletak di Kecamatan Pesanggaran. Alas Purwo yang akrab dikenal sebagai semenanjung Blambangan, merupakan salah satu kawasan pelestarian alam di Indonesia. Ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.283/Kpts-II/1992, tanggal 26 Pebruari 1992 seluas 43.420 ha dan terbagi menjadi 4 (empat) zonasi yaitu zona inti seluas 17.200 ha, zona rimba seluas 24.767 ha, zona pemanfaatan seluas 250 ha dan zona penyangga seluas 1.2003 ha.

c. KPH Bayuwangi Barat, memiliki jenis dan luas hutan sebagai berikut : hutan lindung seluas 27.456,80 ha, hutan produksi seluas 14.511,30 ha, hutan konservasi seluas 1.720,5 ha yang terdiri dari suaka alam seluas 1.514,25 ha dan 102 ha berupa hutan wisata yang terletak di kawasan Kawah Ijen.

2.1.7.2 Sawah

Sawah di Kabupaten Banyuwangi dibedakan menjadi sawah irigasi dan sawah tadah hujan. Sawah irigasi tersebar hampir di seluruh kecamatan mulai dari utara, tengah, selatan dan barat. Luas keseluruhan sawah irigasi adalah 66.811 ha, sedangkan sawah

(17)

17 tadah hujan seluas 36 ha yang tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Wongsorejo, Songgon, Glagah. Luas sawah irigasi yang cukup besar tersebut (11,5%), menjadikan Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Timur. Berdasarkan data Banyuwangi Dalam Angka tahun 2004, luas sawah yang ada di Kabupaten Banyuwangi adalah 66.647 ha, sedangkan pada Tahun 2007, luas sawah yang ada di Kabupaten Banyuwangi menjadi 66.811 ha. Setiap tahunnya (2004-2007) luasan sawah irigasi di Kabupaten Banyuwangi mengalami pertambahan luasan.

2.1.7.3 Tambak

Areal tambak di Kabupaten Banyuwangi pada umumnya berada di sebelah timur tepatnya di sepanjang pantai Selat Bali membentang dari utara tepatnya di Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, Muncar, Tegaldlimo dan sebagain kecil Kecamatan Purwoharjo. Luas total areal tambak di Kabupaten Banyuwangi mencapai 1.334 ha.

2.1.7.4 Ladang/Tegal

Ladang/tegal merupakan sebagian kecil dari luas penggunaan lahan yang ada di Kabupaten Banyuwangi dengan total luas 16.215,33 ha yang tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Wongsorejo, Kalibaru, Kabat, Sempu, Songgon, Glenmore, Pesanggaran, Siliragung, Bangorejo, Purwoharjo, Tegaldlimo.

2.1.7.5 Perkebunan

Perkebunan di Kabupaten Banyuwangi dapat dikelompokkan menjadi perkebunan besar seluas 33.126,59 ha dan perkebunan rakyat seluas 31.097 ha. Perkebunan besar dimaksud pada umumnya berada di wilayah barat dan selatan, tepatnya di Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Glenmore, Kalibaru, Licin. Perkebunan di maksud antara lain:

1. Perkebunan Pasewaran dengan komoditas yang yang ditanam kelapa dan kapuk, 2. Perkebunan Kaliselogiri dengan komoditas yang yang ditanam coklat dan kopi, 3. Perkebunan Trebasala dengan komoditas yang ditanam coklat,

4. Perkebunan Malangsari dengan komoditas yang ditanam kopi,

5. Perkebunan Kendenglembu dengan komoditas yang yang ditanam kelapa dan kakao,

(18)

18 7. PTPN Kalirejo dengan komoditas yang ditanam karet dan kako,

8. Perkebunan Kaliklatak dengan komoditas yang ditanam kopi, coklat dan cengkeh, 9. Perkebunan Pagergunung dengan komoditas yang ditanam kopi, coklat, cengkeh, 10. Perkebunan Lijen dengan komoditas yang ditanam cengkeh, kopi,

11. Perkebunan Bayulen dengan komoditas yang ditanam cengkeh dan pinus,

12. Perkebunan Afdeling Wonorejo dengan komoditas yang ditanam kopi, kakao, kelapa, pinus, karet,

13. Perkebunan Gunung Sanen dengan komoditas yang ditanam kopi, 14. Perkebunan Barurejo dengan komoditas yang ditanam kopi, 15. Perkebunanan Pringgodani dengan komoditas yang ditanam kopi, 16. Perkebunan Sekaran dengan komoditas yang ditanam karet. 2.1.7.6 Permukiman

Lahan yang dimanfaatkan untuk permukiman mencapai luas 125.240,95 ha pada Tahun 2007. Sementara itu berdasarkan profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007, luas permukiman di Kabupaten Banyuwangi pada tahun tersebut mencapai 28.915,39 ha. Bila kita bandingkan data tahun 1998 dengan data tahun 2007, menunjukkan bahwa luas lahan permukiman mengalami penambahan sebesar 96.325,56 ha.

Pola pengembangan kawasan permukiman di Kabupaten Banyuwangi khususnya untuk wilayah perkotaan cenderung mengarah dan mendekati pusat-pusat kegiatan, terutama ibukota-ibukota kecamatan. Bila dilihat dari aspek hukumnya, permukiman di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari permukiman formal dan permukiman informal, sebagaimana uraian berikut:

1. Permukiman Informal

 Permukiman informal adalah permukiman yang menempati tanah legal milik pemerintah yang dibangun atas hasil swadaya warga kota atau biasa disebut permukiman kampung (perumahan lama) yang merupakan permukiman yang sudah ada sejak zaman dahulu.

(19)

19 pada lahan yang diperuntukkan untuk membangun perumahan atau tidak mendapatkan izin pemilikan tanah dari pemerintah contohnya adalah huniar liar yang berada di sren kali maupun disepanjang rel kereta api yang merupakan lahan milik PT. KAI.

2. Permukiman formal adalah permukiman yang diberi izin oleh pemerintah dalam skala luas dan biasanya dibangun oleh developer swasta ataupun pemerintah yang bekerjasama dengan developer untuk membantu warga kota dalam mendapatkan rumah. Permukiman formal sendiri masih dibagi menjadi beberapa jenis yaitu Perumahan Nasional (Perumnas), Real Estate, dan Rumah Ruko (Ruko).

Berdasarkan data Kantor Pelayanan Perijinan Kabupaten Banyuwangi, selama kurun waktu 2007-2009 terdapat 44 buah perumahan baru yang diajukan IPPTnya dengan luasan total mencapai 598.004 m2 (59,8 Ha).

2.1.7.7 Perdagangan dan Jasa

Penggunaan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa pada umumnya berada di ibukota kecamatan dan perkembangannya mengikuti jaringan jalan yang ada. Penggunaan lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa berupa pasar, pertokoan, toko, bank, bengkel, showroom dll. Pada Tahun 2006 terjadi peningkatan jumlah perdagangan baik itu yang berskala besar, menengah maupun usaha kecil sebanyak 100% atau 2 kali lipat disbanding tahun 2005.

2.1.7.8 Fasilitas Umum

Penggunaan lahan untuk fasilitas umum pada umumnya menyebar dan menyatu dengan kegiatan permukiman terutama untuk penggunaan lahan pendidikan, peribadatan dan kesehatan. Sedangkan untuk perkantoran terkonsentrasi di ibukota kecamatan maupun di ibukota kabupaten. Berdasarkan data Kantor Pelayanan Perijinan Kabupaten Banyuwangi, terdapat 6 permohonan IPPT Fasilitas Umum yang diajukan oleh masyarakat selama perode 2007-2009.

2.1.7.9 Industri

Penggunaan lahan untuk kegiatan industri, terutama untuk lahan peruntukan industri terkonsentrasi di Kecamatan Muncar dan Kalipuro, sedangkan untuk kawasan industri Kabupaten Banyuwangi belum memiliki. Untuk penggunaan lahan industri kecil pada umumnya menyatu dengan permukiman. Jenis industri yang berkembang di Kabupaten Banyuwangi didominasi oleh industri kecil dan kerajinan rumah tangga.

(20)

20 dalam beberapa sub bab masih belum terlihat secara jelas kepemilikannya. Adapun penyajian dalam bentuk peta tidak disertakan.

2.1.8 Data Pemanfaatan Wilayah Laut

Data pemanfaatan wilayah laut belum ada data yang disampaikan, namun pada analisis terdapat kesesuaian pemanfaatan wilayah.

2.1.9 Data Sumber Daya Air

2.1.9.1 Curah Hujan Tahunan

Kondisi iklim di Kabupaten Banyuwangi sebagaimana pada umumnya di Indonesia, Kabupaten Banyuwangi beriklim tropis. Berdasarkan data dari Dinas Meteorologi dan Geofisika Kabupaten Banyuwangi 2010, hujan terjadi antara bulan Nopember sampai dengan Mei dengan hujan tertinggi pada bulan Pebruari yaitu terjadi hujan selama 22 hari sebesar 351 mm dalam sebulan, sedangkan tinggi hujan harian maksimum sebesar 128.6 mm. Suhu udara maksimum mencapai 360C dan minimum adalah 200C, sedangkan tekanan udara relatif stabil yaitu rata-rata 1010 milibar.

2.1.9.2 Geohidrologi

Keberadaan air bawah tanah dapat dijumpai pada zona-zona antiklin, perselingan antara lapisan batuan permeabel dan impermeabel, maupun pada takik- takik lereng. Tipe dan karakterisrtik akifer dan air bawah tanah Kabupaten Banyuwangi adalah sebagai berikut:

A. Akifer dengan aliran melalui ruang antar butir

B. Akifer dengan aliran melalui celahan dan ruang antar butir

C. Akifer dengan aliran melalui ruang antar butir, rekahan dan saluran. D. Akifer bercelah atau sarang dan daerah air tanah langka

Data sumber daya air sudah cukup lengkap, namun belum ada penyajian dalam bentuk peta yang merepresentasikan kawasan peisisir Kabupaten Banyuwangi.

2.1.10 Data Infrastuktur

2.1.10.1 Fasilitas Kesehatan

Kabupaten Banyuwangi memiliki 2 RSUD Pemerintah, 6 Rumah Sakit Khusus, 9 Rumah Sakit Swasta dan 11 Rumah Sakit Bersalin. Jenis fasilitas kesehatan yang paling banyak tedapat di Kabupaten Banyuwangi adalah Posyandu Pondok Bersalin dan Puskemas Keliling. Hal ini dimungkinkan karena Ketiga jenis fasilitas ini yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat disamping karena faktor lokasi rumah sakit yang lokasinya

(21)

21 berada di wilayah perkotaan serta membutuhkan biaya yang lebih besar untuk berobat. 2.1.10.2 Fasilitas Pendidikan

Jenis fasilitas pendidikan yang ada di Kabupaten Banyuwangi meliputi fasilitas pendidikan SD/MI, SLTP sederajat, SMU/MA dan SMK. Jumlah skolah SD negeri pada tahun 2009 sebanyak 817 unit dan swasta sebanyak 263 unit. Jumlah sekolah SLTP/sederajat negeri sebanyak 75 unit dan swasta sebanyak 141 unit. Jumlah sekolah SMU/MA negeri sebanyak 21 unit dan swasta sebanyak 50 unit. Jumlah sekolah SMK negeri sebanyak 7 unit dan swasta sebanyak 26 unit. Sedangkan perguruan tinggi di Kabupaten Banyuwangi terdapat 7 perguruan tinggia, diantaranya adalah UNTAG 1945, STIB, STIKES Banyuwangi, STAI IBRAHIMY, Universitas PGRI Banyuwangi, AKABA dan STIKES Bakti Indonesia.

2.1.10.3 Fasilitas Peribadatan

Fasilitas peribadatan yang ada di Kabupaten Banyuwangi antara lain: masjid, langgar, gereja, pura, vihara, dan klenteng. Jumlah langgar mendominasi dan tersebar merata di Kabupaten Banyuwangi. Fasilitas terbanyak jumlahnya adalah berupa langgar/Musholla yaitu sebanyak 7.001 unit.

2.1.10.4 Fasilitas Perdagangan dan Jasa

Fasilitas perdagangan dan jasa yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi terdiri dari pasar umum, hewan dan pasar desa, Toko, Bank, Pegadaian dan KUD. Fasilitas perdagangan untuk pasar umum terletak di Kecamatan Bangorejo, Purwoharjo, Tegaldlimo, Muncar, Cluring, Gambiran, Glenmore, Kalibaru, Genteng, Srono, Rogojampi, Sempu, Banyuwangi, Giri, Tegalsari, dengan jumlah terbanyak terdapat di Kecamatan Banyuwangi sebanyak 4 unit. Pasar Hewan sebanyak 5 unit terletak di Kecamatan Bangorejo, Glenmore, Genteng, Rogojampi dan Banyuwangi. Untuk pasar desa terdapat di setiap kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Perubahan yang signifikan terjadi pada meningkatnya jumlah pasar swalayan dan mall di Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun 2007 terdapat 4 unit mall dan 32 unit pasar swalayan. Meningkat lebih dari 100% dibandingkan tahun 2004.

Sedangkan untuk jenis perusahaan, yang mendominasi adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan dan perdagangan besar maupun eceran. Untuk industri pengolahan, terkonsentrasi di Kecamatan Srono, Rogojampi dan Muncar. Untuk perdagangan besar dan eceran terdapat paling banyak di Kecamatan Muncar, Genteng, Rogojampi dan Banyuwangi.

(22)

22 2.1.10.5 Industri dan Gudang

Adapun Jenis industri yang berkembang di Kabupaten Banyuwangi adalah industri besar sedang dan kecil. Jenis industri yang paling mendominasi adalah jenis industri kecil yang jumlahnya mencapai 2.386 unit di tahun 2007. Sedangkan industri besar dan menengah hanya 4 unit di tahun yang sama. Industri pengolahan angan merupakan industri yang paling mendominasi unit usah industri kecil di Kabupaten Banyuwangi. Jumlahnya mencapai 1.235 unit atau 51,7% dari total unit usaha industri kecil di Banyuwangi.

2.1.10.6 Air Bersih

Kebutuhan air bersih di Kabupaten Banyuwangi yang dikelola oleh PDAM hanya melayani beberapa wilayah diantaranya Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Kalipuro, Rogojampi, Muncar, Genteng dan Wongsorejo. Sehingga kebutuhan air bersih dengan sistem perpipaan yang dikelola PDAM tersebut belum seluruhnya dirasakan oleh masyarakat, karena sebagian masyarakat masih menggunakan sumurdan sungai serta air bersih dari HIPPA.

2.1.10.7 Persampahan

Sistem persampahan di Kabupaten Banyuwangi dilakukan dengan 2 (dua) sistem pembuangan yaitu secara tradisional dan dikelola secara khusus oleh Dinas kebersihan Kabupaten Banyuwangi Pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi hanya melayani beberapa Kecamatan yaitu Kecamatan Banyuwangi, Kalipuro, Giri, Glagah, Rogojampi, Genteng, Srono, Muncar dan Gambiran. Pembuangan sampah secara tradisional, yakni melalui pemusnahan sampah, dengan cara menimbun sampah di pekarangan rumah, membakar atau juga membuang sampah di tanah-Iahan kosong yang ada maupun dibuang di sungai. Berdasarkan data dari DKPLH (Dinas Kebersihan Pertamanan dan Lingkungan Hidup) Jumlah pasukan kuning di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 201, dengan area pelayanan meliputi Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Kalipuro., sedangkan volume sampah kurang lebih 176 M3.

Pembuangan akhir sampah di Kabupaten Banyuwangi ditempatkan di 3 (tiga) TPA yakni TPA Bulusan dengan luas 1,5 Ha di Kecamatan Kalipuro dan merupakan TPA terbesar di Kabupaten Banyuwangi melayani Kecamatan Banyuwangi, Kalipuro, Giri dan Glagah, TPA yang terletak di Desa Getek Kecamatan Rogojampai seluas 0,5 Ha melayani Kecamatan Rogojampi, Genteng, Srono dan Muncar, dan TPA di Desa Wringinagung Kecamatan Gambiran hanya melayani Kecamatan Gambiran. Sistem yang dipergunakan untuk TPA yang ada ditimbun dan di bakar dengan peralatan yang dimiliki adalah truck sebanyak 16 unit, buldozer 1 unit, dan mobil 1 unit.

(23)

23 Sedangkan jumlah TPS yang ada di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 43 unit dan 8 unit transfer depo. Sebanyak 20 unit TPS dan Transfer Depo di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Giri sebanyak 6 unit, Glagah sebanyak 4 unit, Kalipuro, Rogojampi dan Genteng sebanyak 5 unit, serta Gamboran dan Muncar sebanyak 3 unit.

2.1.11 Data Demografi dan Sosial

2.1.11.1 Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi Tahun 2004 sebesar 1.557.436 jiwa, Tahun 2005 sebesar 1.575.089 jiwa, Tahun 2006 sebesar 1.576.328 jiwa, dan Tahun 2007 sebesar 1.580.441 jiwa. Pada tahun 2004 terjadi perubahan jumlah penduduk di beberapa kecamatan terkait oleh Perda Kabupaten Banyuwangi No 32 Tahun 2004 dengan terbentuknya 3 (tiga) kecamatan baru yakni Siliragung, Licin dan Tegalsari. Untuk lebih jelas mengenai jumlah penduduk dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2 Pertumbuhan Jumlah Penduduk

No. URAIAN SATUAN 2004 2005 2006 2007

1. Jumlah Penduduk Jiwa 1.557.436 1.575.089 1.576.328 1.580.441

- Laki-laki Jiwa 780.459 789.305 770.954 772.966

- Perempuan Jiwa 776.977 785.784 805.374 807.475

2. Kepadatan Penduduk Jiwa/Km2 269 272 272 273

Sumber: Profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007 2.1.11.2 Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 rata-rata adalah sebesar 273 jiwa/km2 dimana Kecamatan Banyuwangi merupakan kecamatn dengan kepadatan penduduk tertinggi yaitu 3588 jiwa/km2 sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Tegaldlimo yang hanya memiliki kepadatan penduduk sebesar 43 jiwa/km2.

2.1.11.3 Struktur Umur

Berdasarkan struktur umurnya, penduduk Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 didominasi oleh penduduk usia produktif terutama usia 15-19 tahun sebanyak 148.048 jiwa. Jumlah penduduk usia produktif (15-64th) sebanyak 1.087.335 jiwa (68,79%) sedangkan usia non produktif (0-14th dan 65th+) sebanyak 493.106 jiwa (31,21%).

(24)

24 2.1.11.4 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Berdasarkan data profil Kabupaten Banyuwangi tahun 2007, penduduk Kabupaten Banyuwangi sebagian besar adalah petani sebanyak 371.056 jiwa (46,38%). Meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 358.879 jiwa.

2.1.11.5 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Jumlah penduduk menurut jenis kelamin adalah mengenai perbandingan jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk wanita sehingga diperoleh besaran sex ratio penduduk di wilayah tersebut. Berdasarkan data sex ratio, jumlah penduduk perempuan di Kabupaten banyuwangi lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laiknya. Tahun 2007, angka sex ratio penduduk Kabupaten Banyuwangi adalah sebesar 95,73 yang artinya perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan adalah 95:100. Pada tahun-tahun sebelumnya besaranya angka sex ratio ini tidak mengalami perubahan yang signifikan.

2.1.11.6 Jumlah Penduduk Menurut Agama

Penduduk Kabupaten Banyuwangi sebagian besar adalah pemeluk agama Islam dengan jumlah 1.495.546 jiwa (94,44%). Sedangkan lainnya adalah pemeluk agama Hindu (2,6%), Kristen Protestan (1,5%), Katholik (0,7%) dan Budha (0,5%).

2.1.11.7 Jumlah Rumah Tangga Miskin

Berdasarkan data profil Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi tahun 2007 adalah sebanyak 463.211 jiwa, mengalami penurunan dari tahun 2006 dengan jmlah penduduk miskin sebanyak 464.555. Jumlah penduduk miskin terbanyak ada di Kecamatan Rogojampi sebanyak 36.156 jiwa (tahun 2007). Sedangkan wilayah dengan jumlah penduduk miskin terendah adalah Kecamatan Tegalsari yaitu sebanyak 7.070 jiwa. Secara umum jumlah penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan dari tahun 2004-tahun 2007 sebanyak 52%.

2.1.11.8 Budaya Masyarakat

Masyarakat Banyuwangi memiliki banyak budaya, adat istiadat maupun kesenian daerah. Adat istiadat yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi antara lain:

1) Upacara Adat

 Upacara Petik Laut

Upacara ”Petik Laut” merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan Muncar sebagai ucapan rasa syukur kepada pencipta alam atas rizki

(25)

25 yang dilimpahkan-Nya. saat ini, upacara petik laut masih dilakukan oleh masyarakat Muncar yang diadakan setiap tanggal 15 bulan Syuro berupa upacara pelarungan perahu kecil yang berisi berbagai sesaji ke laut yang diiringi oleh ratusan perahu nelayan ke Sembulungan.

 Upacara Kebo-Keboan, merupakan upacara yang menggambarkan pernyataan rasa syukur dan terima kasih masyarakat di Desa Alas Malang kepada Tuhan YME atas keselamatan dan peningkatan hasil panen yang diperolehnya selama ini.

 Gredoan

 Upacara tradisi Ngarah Jodang, merupakan upacara tradisi pelepasan sesaji ke laut yang dilakukan pada saat bulan Maulud oleh masyarakat Desa Blimbingsari Kecamatan Rogojampi.

 Seblang Bakungan  Seblang Olehsari

 Tari Seblang yakni upacara bersih desa untuk menolak bala 2) Upacara Keagamaan

 Kesenian tradisional Gedogan dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis peralatan yang kemudian dipukul-pukul sehingga menghasilkan bunyi-bunyian.

 Siwalatri

 Saraswati, upacara agama hindu yang merupakan persembahan kepada dewi saraswati, dewi kebijakan dan pengetahuan.

 Mekiyis, upacara agama mekiyis dilaksanakan di Pura Agung Tawangalun di Pantai Pulau Merah, merupakan upacara adat agama Hindu yang dilaksanakanpada awal tahun Saka. Biasanya mereka mengorbankan dirinya ke laut, kemudian mereka melepaskan persembahan.

 Pagerwesi, adalah upacara untuk menghormati senjata ampuh (jimat) yang dilakukan oleh masyarakat Hindu dan dipimpin oleh pendeta, orang yang terhormat dengan tujuan dapat hidup damai dan sejahtera, upacara ini untuk membersihkan buana alit dan buana agung, diadakan di Pura Trianggulasi Kecamatan Tegaldlimo.

 Kuningan

 Kebo-Keboan, adalah upacara yang menggambarkan rasa syukur dan terimakasih masyarakat Desa Alasmalang kepada Tuhan YME atas keselamatan dan meningkatkan hasil panen.

 Gredoan

 Seblang Bakungan

 Upacara Rebo Wekasan, upacara keagamaan berupa syukuran yang dilakukan pada hari rabu oleh penduduk desa di Kelurahan Klatak dan Desa

(26)

26 Cacalan untuk meminta kedamaian dan kesejahteraan kepad Tuhan YME. 3) Kesenian Daerah Kesenian tradisional yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi.

diantaranya adalah sebagai berikut:

 Gandrung, tari Gandrung menceritakan tentang keterpesonaan masyarakat Blambangan (Banyuwangi) kepada Dewi Sri yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat, Ungkapan rasa syukur masyarakat setelah panen tersebut diwujudkan melalui tarian Gandrung.

 Kuntulan, kesenian tradisional kuntulan, adalah kesenian yang nemenggunakan rebana sebagai instrumen pokok, dinamakan kuntulan karena penarinya terlihat serba putih seperti warna burung kuntul (bangau putih).

 Bordah, kesenian bordah merupakan bentuk kesenian Islam dengan nama lain kasidatul bordah.

 Angklung,  Barong,

 Patrol, tradisi masyarakat dalam melakukan tugas kampung malam hari pada bulan puasa

2.1.12 Data Ekonomi Wilayah

Produk Domestik Regional Bruto, PDRB Kabupaten Banyuwangi pada periode 2004-2007 terus meningkat meskipun perkembangannya fluktuatif setiap tahun. Sektor pertanian merupakan sektor yang menyumbang pemasukan PDRB paling besar yaitu sebesar 48,1% sedangkan pemasukan terbesar kedua adalah berasal dari sektor perdagangan, hotel dan restoran (15,5 %).

Tabel 3 Produk Domestik Regional Bruto menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Kabupaten Banyuwangi

NO. URAIAN SATUAN 2004 2005 2006 2007

1. Pertanian Milyar

Rp.

4.822,90 5.619,14 6.363,94 7.492,67

2. Pertambangan dan Penggalian Milyar

Rp.

383,64 471,51 547,49 593,23

3. Industri Pengolahan Milyar

Rp.

579,45 675,33 777,68 8743,64

4. Listrik, Gas, dan Air Bersih Milyar

Rp.

(27)

27

5. Konstruksi Milyar

Rp.

41,84 50,00 73,20 84,97

6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran Milyar Rp.

2.423,74 2.977,64 3.572,19 3.947,64

7. Pengangkutan dan Komunikasi Milyar

Rp.

392,69 455,33 519,19 559,43

8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Milyar Rp. 675,37 765,70 855,45 899,57 9. Jasa-jasa Milyar Rp. 663,45 770,19 883,94 1.012,74 Jumlah PDRB Milyar Rp. 10.051,24 11.880,32 13.673,56 15.550,30

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi

Tabel 4 Produk Domestik Regional Bruto menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 2000 Kabupaten Banyuwangi

NO. URAIAN SATUAN 2004 2005 2006 2007

1. Pertanian Milyar Rp. 4.029,31 4.178,47 4.378,21 4.615,67

2. Pertambangan dan Penggalian Milyar Rp. 316,07 335,45 343,87 353,55

3. Industri Pengolahan Milyar Rp. 485,52 500,10 517,59 543,47

4. Listrik, Gas, dan Air Bersih Milyar Rp. 49,88 52,48 54,39 56,76

5. Konstruksi Milyar Rp. 25,60 26,73 29,16 31,84

6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran Milyar Rp. 1.769,39 1.908,91 2.058,20 2.233,18

7. Pengangkutan dan Komunikasi Milyar Rp. 357,79 374,49 388,36 403,56

8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Milyar Rp. 549,78 574,94 597,59 610,49

9. Jasa-jasa Milyar Rp. 446,00 462,70 482,65 499,09

Jumlah PDRB Milyar Rp. 8.029,34 8.414,26 8.850,01 9.347,62

(28)

28 Tabel 5 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Pendapatan Perkapita Kabupaten

Banyuwangi

NO. URAIAN SATUAN 2004 2005 2006 2007

1. Pendapatan Regional

- Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Prosen 9,02 21,91 17,25 12,58

- Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (ADHK 2000)

Prosen 3,62 9,70 4,42 5,03

2. PDRB Perkapita (ADHB) Prosen 9,88 16,27 14,45 13,19

3. PDRB Perkapita (ADHK 2000) Prosen 5,27 3,09 4,59 5,46

Data yang dijelaskan sudah menutupi bahan dasar dari data ekonomi wilayah, namun akan lebih baik apabila dapat ditambahan lagi mengenai data laju pertumbuhan ekonomi sektoral dan kabupaten, komoditi unggulan, kegiatan perekonomian perikanan dan kelautan, produksi perikanan, dsb. yang mendukung dan lebih merepresentasikan ekonomi wilayah Kabupate Banyuwangi.

2.1.13 Data Risiko Bencana dan Pencemaran

Data risiko bencana dan pencemaran belum terlampir pada produk perencanaan RZWP3K Kabupaten Banyuwangi ini. Akan lebih baik bila data ini dilengkapi, adapun data-data tersebut yakni jenis, lokasi, batas riwayat kebencanaan, tingkat kerusakan dan kerugian bencana, sumber dan lokasi pencemaran, dsb. yang mana bisa menunjang informasi yang merepresentasikan wilayah studi.

2.1.14 Data Hukum Penyusunan dan Kajian Perencanaan yang diacu

Acuan normatif kebijakan penyusunan Rencana Zonasi dan Pengelolaan Pulau-pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi ini adalah:

1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

2) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi; 4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air;

5) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional; 6) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

(29)

29 8) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan

Pulaupulau Kecil;

9) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara; 10) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;

11) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

12) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Undang- Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

13) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang tahun1967 tentang Ketentuan Pertambangan;

14) Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan; 15) Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan;

16) Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara, Peran Serta Masyarakat dalam Kegiatan Penataan Ruang;

17) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Pengrusakan Laut;

18) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah;

19) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom;

20) Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah;

21) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;

22) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan;

23) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Kewenangan Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/ Kota;

24) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;

25) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaran Penataan Ruang Daerah;

26) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan;

27) Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar;

28) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 tahun 1989 tentang Pengelolaan Kawasan Budidaya;

29) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;

(30)

30 30) Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor 27 tahun 2002 tentang Penataan Pedoman

Bidang Penataan Ruang;

31) Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah;

32) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang di Daerah;

33) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah;

34) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16 Tahun 2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;

35) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;

36) Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur No.11 tahun 1991 tentang Penetapan Kawasan Lindung di Propinsi Dati I Jawa Timur;

37) Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur No.4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Hutan di Jawa Timur;

38) Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur No.6 tahun 2005 tentang Penertiban dan Pengendalian Hutan Produksi di Propinsi Jawa Timur

39) Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Timur Tahun 2005- 2020;

2.2

Metode dan Hasil Analisis

2.2.1 Proses Analisis

2.2.1.1 Pengolahan dan Analisis Data Disajikan Dalam Bentuk Peta Tematik Pengolahan dan analisis data disajikan dalam bentuk peta tematik, seperti Peta Analisa Kesesuaian Lahan Untuk Kawasan Lindung Dan Budaya, Peta Situasi Daerah Penyangga Taman Nasional Alas Purwo, Peta Prasarana Di Taman Nasional Alas Purwo, dan Peta Zonasi Taman Nasional Alas Purwo.

2.2.2 Deskripsi Potensi Sumberdaya

Potensi ekosistem mangrove ada di kawasan sisi timur teluk Pangpang. Kawasan hutan mangrove alami yang masih dalam kondisi baik dengan ketebalan berkisar antara 30 – 400 meter. Hutan mangrove dapat dijumpai di sisi barat teluk Pangpang dimana hutan ini merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Pada kawasan sisi selatan terdapat hutan mangrove alami dengan ketebalan sekitar 1.000 meter. Kawasan lain yang memiliki ekosistem mangrove yaitu di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan

(31)

31 Wongsorejo, Kecamatan Kalipuro, Kecamatan Tegaldlimo, dan Kecamatan Pesanggaran. Potensi ekosistem terumbu karang yang terdapat di daerah teluk Pangpang dengan kondisi masih baik, telah dijadikan daerah fish sanctuary. Keberadaan ekosistem terumbu karang lain yaitu terdapat di daerah Kayu Aking (kondisi sedang), dan di daerah Watudodol, sekitar Pulau Tabuhan, Tanjung Wangi (kondisi rusak).

Potensi sumberdaya kelautan yang ada di Kabupaten Banyuwangi adalah pasir kuarsa, andetsit, kaolin, batu gamping, tras, lempung dan pasir besi di sepanjang pantai Kecamatan Kalipuro, Kecamatan Purwoharjo, dan Kecamatan Bangorejo. Di perairan Kabupaten Banyuwangi terdapat mineral berat (magnetit, pirit, aahematit, zircon, ilmenite diopsit, augit, dan homblede), dan mineral ringan (mineral yang memiliki berat kurang dari 2,88 gr/cm2, seperti kuarsa, biatit, muskovit, dan dolomit).

Potensi pertambangan yang ada di Kabupaten Banyuwangi ialah adanya hasil pertambangan belerang, batu kapur, tanah liat, batu gunung, pasir, dan tanah urug. Selain itu, potensi lainnya ialah potensi bahan galian emas, perak, tembaga yang terdapat di G. Tumpang Pitu dan Pantai Pulau Merah yang memiliki potensi emas sebesar 60 ton emas. Kabupaten Banyuwangi juga memiliki potensi minyak lepas pantai, namun memerlukan penelitian lebih lanjut tentang volume kandungan minyak dan luasan areal penambangan.

Potensi budidaya ikan laut di Kabupaten Banyuwangi umumnya menggunakan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) udang. KJA saat ini terdapat di perairan Muncar yang meliputi teluk Pangpang.

Potensi wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi menyebar hampir di seluruh wilayah dengan jarak yang cukup berjauhan, kondisi ini menyebabkan tidak semua obyek wisata dapat berkembang sesuai yang diharapkan, unsur pemerataan dalam pembangunan obyek wisata menjadi tidak maksimal dan sistem pengelolaan dan pemantauan juga sangat terbatas sehingga beberapa obyek wisata yang potensial dan mempunyai keunikan belum termanfaatkan dengan optimal. Menurut hasil analisis RZWP3K, pengembangan wisata di Kabupaten Banyuwangi difokuskan pada 3 (tiga) obyek wisata, yaitu Kawah Ijen, Pantai, Plengkung, dan Pantai Sukomade.

Berikut merupakan potensi pesisir di Kabupaten Banyuwangi yang dijelaskan per kecamatan dan tercantum pada Tabel 4.8 Kesesuaian Pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil:

1. Pada Kecamatan Pesanggaran, terdapat potensi tambang emas, potensi suaka alam laut dan obyek pariwisata, obyek wisata, potensi perikanan karena terdapat TPI.

(32)

32 2. Pada Kecamatan Siliragung, terdapat potensi wisata Rowo Biru, untuk tempat rekreasi

dan tempat memancing.

3. Pada Kecamatan Purwoharjo, terdapat potensi objek wisata Bedul (wisata tanaman bakau), wisata Segara Anakan (hutan mangrove), dan wisata pantai Grajagan.

4. Pada Kecamatan Tegaldlimo, terdapat banyak potensi pariwisata, seperti Pantai Plengkung, Pantai Trianggulsari, wisata penangkaran penyu, dan Taman Nasional Alas Purwo.

5. Pada Kecamatan Muncar, terdapat potensi perikanan yaitu TPI Muncar yang merupakan salah satu TPI terbesar di Indonesia, dan adaya potensi ubur-ubur.

6. Pada Kecamatan Rogojampi, terdapat potensi pariwisata Pantai Blimbingsari, dan potensi perikanan yaitu TPI Rogojampi.

7. Pada Kecamatan Kabat, terdapat potensi pertanian dan kehutanan (tanaman kelapa) di Desa Sukojati.

8. Pada Kecamatan Banyuwangi, terdapat potensi pariwisata yaitu Pantai Boom dan Pulau Santen.

9. Pada Kecamatan Kalipuro, terdapat potensi pariwisata yaitu Watu Dodol, dan potensi pertanian dan kehutanan PIR (Perkebunan Inti Rakyat) dengan produk unggulan kopi. 10. Pada Wongsorejo, terdapat potensi wisata suaka alam laut (Pulau Tabuhan), potensi perikanan (PPI Bimorejo), potensi agrowisata Kampe (Di Desa Kampe), potensi persawahan, dan potensi buah manga dan pisan.

2.2.3 Analisis Kesesuaian Lahan dan Penentuan Alokasi Ruang

Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan memerhatikan kondisi eksisting pemanfaatan wilayah pesisir, potensi wilayah pesisir, dan menganalisa kesesuaiannya per kecamatan. Output dari analisis kesesuaian lahan ini adalah tabel kesesuaian pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Berdasarkan SK Menteri 837/KPTS/UM/11/1980, Kabupaten Banyuwangi pada umumnya sesuai untuk penggunaan tanaman perkebunan dan permukiman yang menyebar dari arah utara, tengah, hingga selatan. Pada bagian barat sesuai untuk kawasan penyangga dan lindung, sedangkan pada bagian tengah dan timur sesuai untuk pengembangan permukiman dan tanaman semusim.

Output analisis kesesuaian lahan yang lainnya adalah peta analisis kesesuaian lahan untuk kawasan lindung dan budidaya pada RZWP3K Kabupaten Banyuwangi. Peta ini didapatkan dengan melakukan overlay pada peta-peta kesesuaian kawasan/zona yang akhirnya menghasilkan peta multikesesuaian.

(33)

33 Penentuan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil harus memerhatikan hal-hal seperti penentuan kawasan konservasi, penentuan kawasan strategis nasional tertentu (KSNT), penentuan kawasan pemanfaatan umum, dan penentuan alur laut. Adapun penentuan alokasi ruang pada RZWP3K Kabupaten Banyuwangi sebagai berikut: 1. Persebaran Kawasan Lindung, terdiri atas kawasan suaka alam, pelestarian alam dan

cagar budaya meliputi kawasan cagar alam dan suaka alam laut, kawasan pantai hutan berhutan bakau, taman nasional dan taman wisata alam, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.

2. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya, meliputi kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air, yaitu kawasan di sekitar rawa.

3. Kawasan Perlindungan Setempat, meliputi kawasan sempadan pantai, kawasan sempadan sungai, kawasan di sekitar waduk, dan kawasan di sekitar mata air.

4. Kawasan Rawan Bencana Alam, meliputi kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah longsor, dan kawasan rawan gelombang pasang dan tsunami.

5. Kawasan Lindung Geologi, terdiri atas kawasan rawan letusan gunung berapi.

Pada RZP3K Kabupaten Banyuwangi, tidak terdapat penentuan alur laut, seperti alur pelayanan umum dan perlintasan dan alur pelayaran masuk pelabuhan. Selain itu, alur migrasi ikan dan alur migrasi biota laut lain juga tidak disebutkan dalam rencana pengembangan kawasan pesisir ini.

Penentuan zona dan sub zona atau arahan pemanfaatan pada masing-masing kawasan mengacu pada perundang-undangan dan standar Departemen PU. Berikut merupakan salah satu contoh penentuan zona dan sub zona pada RZWP3K Kabupaten Banyuwangi:

(34)

34 Sumber: RZWP3K Kabupaten Banyuwangi

2.2.4 Analisis Non Spasial

2.2.4.1 Analisis Kebijakan dan Kewilayahan

Kebijakan yang berpengaruh dalam penentuan zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil meliputi kebijakan Wilayah Pengembangan (WP) yang terbagi menjadi 4 WP. Dengan demikian kegiatan rencana zonasi yang terdapat di 11 kecamatan wilayah pesisir harus memperhatikan fungsi utama kegiatan didalamnya. Pusat kegiatan perkotaan yang dimaksud adalah:

1. Banyuwangi ditetapkan sebagai pusat pengembangan seluruh Kabupaten Banyuwangi yang sekaligus sebagai pusat pengembangan WP Banyuwangi Utara. Adapun fungsi utama dari Kota Banyuwangi adalah pusat pemerintahan skala kabupaten, pusat perdagangan dan jasa skala kabupaten, pusat fasilitas uum skala kabupaten, pusat pendidikan skala kabupaten, dan pusat pergudangan skala kabupaten. Sedangkan untuk wilayah belakangnya (Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Licin dan Glagah) berfungsi sebagai kawasan pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, industri, pelabuhan, lindung, dan wisata.

2. Kota Rogojampi ditetapkan sebagai pusat pengembangan untuk WP Banyuwangi Tengah Timur. Adapun fungsi utama dari Kota Rogojampi adalah pusat pemerintahan skala kecamatan, pusat perdagangan dan jasa skala beberapa kecamatan, dan pusat fasilitas umum skala beberapa kecamatan. Sedangkan wilayah belakangnya

(35)

35 (Kecamatan Muncar, Songgon, Kabat, Singojuruh, Srono dan Cluring) berfungsi sebagai kawasan pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, pertambangan, industri, lindung, dan bandar udara.

3. Kota Genteng ditetapkan sebagai pusat pengembangan untuk WP Banyuwangi Tengah Barat. Adapun fungsi utama dari Kota Genteng adalah pusat pemerintah skala kecamatan, pusat perdagangan dan jasa skala beberapa kecamatan, dan pusat fasilitas umum skala beberapa kecamatan. Sedangkan wilayah belakangnya (Kecamatan Kalibaru, Glenmore, Tegalsari, Sempu dan Gambiran) berfungsi sebagai kawasan pertanian, peternakan, perkebunan, pariwisata, industri kecil, dan lindung. 4. Kota Bangorejo ditetapkan sebagai pusat pengembangan untuk WP Banyuwangi

Selatan. Adapun fungsi utama dari Kota Bangorejo adalah pusat pemerintahan skala kecamatan, pusat perdagangan dan jasa skala beberapa kecamatan, dan pusat fasilitas umum skala beberapa kecamatan. Sedangkan wilayah belakangnya (Kecamatan Siliragung, Pesanggaran, dan Tegaldlimo) berfungsi sebagai kawasan pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, pertambangan, pariwisata, industri kecil, dan lindung.

2.2.4.2 Analisis Sosial dan Budaya

Belum ada data mengenai analisis sosial budaya yang ada di Kabupaten Banyuwangi 2.2.4.3 Analisis Infrastruktur

Kondisi eksisting infrastruktur per kecamatan dijelaskan pada tabel kesesuaian pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Berikut infrastrukrut dan sarana prasarana pendukung pulau-pulau kecil yang ada di setiap kecamatan di Kabupaten Banyuwangi:

1. Pada Kecamatan Pesanggaran, Siliragung, dan Rogojampi belum ada sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk menuju pulau-pulau tersebut.

2. Pada Kecamatan Purwoharjo dan Kecamatan Tegaldlimo belum ada sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk menuju pulau-pulau tersebut dan tidak ada infrastruktur di lingkungan pulau.

3. Pada Kecamatan Banyuwangi terdapat jembatan kayu yang menghubungkan pulau tersebut.

4. Pada Wongsorejo, terdapat perahu-perahu nelayan sekitar yang dapat digunakan untuk menuju ke pulau Tabuhan.

2.2.4.4 Analisis Ekonomi Wilayah

Gambar

Tabel 1 Kemiringan Lahan di Kabupaten Banyuwangi
Tabel 2 Pertumbuhan Jumlah Penduduk
Tabel 3 Produk Domestik Regional Bruto menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)  Kabupaten Banyuwangi
Tabel 4 Produk Domestik Regional Bruto menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 2000  Kabupaten Banyuwangi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sumber : Peta Cekungan Air Tanah Kepulauan Maluku Skala 1 : 250.000 Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral Direktorat Jenderal Geologi Dan Sumber Daya Mineral Direktorat

Ketua Pusat Vulkanologidan Mitigasi Beneana Geologi Ba- dan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mi- neral, Surono, menjelaskan, Jabar merupakan daerah yang rawan bencana

Pokja Pusat Survei Geologi pada ULP Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia akan melaksanakan Pelelangan Sederhana dengan Pascakualifikasi

Pokja Pusat Survei Geologi pada ULP Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia akan melaksanakan Lelang Umum dengan

Pokja Pusat Survei Geologi pada ULP Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia akan melaksanakan Lelang Umum/Sederhana dengan

Pokja ULP Pusat Survei Geologi pada Unit Layanan Pengadaan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia akan melaksanakan Pelelangan Sederhana

Pusdiklat Geologi merupakan salah satu unit di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral yang memiliki tugas dan fungsi untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bidang

dibawah Badan Geologi bersama dengan terbentuknya Badan Geologi sebagai Unit Eselon I yang ada di lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM). Guna lebih