• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI TOKSISITAS AKUT (LC 50 ) LIMBAH PENGEBORAN MINYAK BUMI TERHADAP Daphnia magna DITTA AYU ANGGRAINI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI TOKSISITAS AKUT (LC 50 ) LIMBAH PENGEBORAN MINYAK BUMI TERHADAP Daphnia magna DITTA AYU ANGGRAINI"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

UJI TOKSISITAS AKUT (LC

50

) LIMBAH PENGEBORAN

MINYAK BUMI TERHADAP Daphnia magna

DITTA AYU ANGGRAINI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Uji Toksisitas Akut (LC50) Limbah Pengeboran Minyak Bumi terhadap Daphnia magna” adalah benar

merupakan hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2016 Ditta Ayu Anggraini

(4)

ABSTRAK

DITTA AYU ANGGRAINI. Uji Toksisitas Akut (LC50) Limbah Pengeboran

Minyak Bumi terhadap Daphnia magna. Dibimbing oleh HEFNI EFFENDI dan MAJARIANA KRISANTI.

Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi menghasilkan limbah berpotensi toksik bagi lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung konsentrasi supernatan limbah serbuk bor (cutting) yang dapat mematikan 50% biota uji dengan waktu pemaparan 96 jam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2016. Kegiatan penelitian dibagi menjadi dua tahapan, yaitu uji pendahuluan dan uji utama. Analisis data meliputi perhitungan LC50

menggunakan analisis probit secara manual dan menggunakan software EPA probit analisis. Berdasarkan hasil penelitian, nilai LC50-96 jam dari supernatan

limbah serbuk bor (cutting) sebesar 58241 ppm. Dengan demikian sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 45 Tahun 2006 bahwa limbah minyak bumi tersebut dapat dibuang langsung ke perairan.

Kata kunci : analisis probit ,cutting, Daphnia magna, uji toksisitas akut (LC50).

ABSTRACT

DITTA AYU ANGGRAINI. The Acute Toxicity of Drilling Waste Oil (LC50) on

Daphnia magna. Supervised by HEFNI EFFENDI and MAJARIANA KRISANTI.

Exploration activities of oil and gas waste potentially toxic to the aquatic environment. Aim of this research was to calculate the concentration of supernatant waste drill cutting results that can kill 50% of test organisms with an exposure time of 96 hours. This research was conducted in January until May 2016. The research activities are divided into two stages, a preliminary test and the primary test. Data analysis included the calculation of LC50 using probit

analysis both manually and using software EPA probit analysis. Based on the research results, the value LC50-96 hours of supernatan waste drill cutting in the

amount of 58241 ppm. According to regulation of the Minister of Energy and Mineral Resources No. 45 of 2006 that petroleum waste can be dumped directly into the water.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan

pada

Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

UJI TOKSISITAS AKUT (LC

50

) LIMBAH PENGEBORAN

MINYAK BUMI TERHADAP Daphnia magna

DITTA AYU ANGGRAINI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Uji Toksisitas Akut (LC50) Limbah Pengeboran Minyak Bumi terhadap Daphnia magna yang

dilaksanakan sejak bulan Januari hingga Mei 2016. Skripsi ini disusun dan diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1 Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan kesempatan untuk menempuh studi di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

2 PT Yudhistira Ghalia Indonesia yang telah memberikan kesempatan untuk menerima Beasiswa Utusan Daerah sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan.

2 Dr Ir M Mukhlis Kamal, MSc selaku dosen Pembimbing Akademik yang telah memberi saran selama perkuliahan.

3 Dr Ir Hefni Effendi, MPhil dan Dr Majariana Krisanti, SPi, MSi selaku dosen pembimbing yang telah memberikan masukan dan arahan dalam penyelesaikan penulisan skripsi ini.

4 Ir Agustinus M Samosir, MPhil selaku dosen penguji tamu dan Dr Ir Rahmat Kurnia, SPi, MSi selaku dosen Komisi Pendidikan Program S1 yang telah memberikan arahan dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

5 Staf Tata Usaha Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan.

6 Keluarga: Bapak Rusmiyanto, Ibu Mardianah, Kurnia Putri Mustika Dewi, Sabrina Destya Rosdiana dan saudara-saudara tercinta yang telah memberikan doa, kasih sayang, semangat dan dukungannya selama ini.

7 Dr Ir RA Hangesti Emi Widyasari, MSi yang telah banyak memberikan semangat dan dukungan dari awal masuk Institut Pertanian Bogor.

8 Sahabat terbaik: Andhika Rachman, I Nyoman Oka Tri Ari Susena, Ignasius Dio, Endang Sri Wahyuni, Nurlian Fauziah R, dan Bagus Amrullah Utomo, SPi Dudi Muhammad Wildan, SPi yang mendampingi dari awal penelitian di laboratorium hingga akhir pembuatan skripsi.

10 Sahabat terbaik: Widy Triaprilyanti, Nefi Islamiati, Nurlia Andriyani, Rahmah Saidah, Budi Nurjayanti, Risna Rosalina Siregar, Fanisa Muharomah, Agustiani Purwanigsih, MSP 48, MSP 49, MSP 50, yang telah memberikan dukungan, masukkan, dan bantuan kepada penulis selama masa perkuliahan sampai dengan penyusunan skripsi ini.

11 Sahabat terbaik: Intan Marisha, Desi Widiyati, Shierly Yunita, Sherly Indiani, Silvia Dewi, Debby Aries, Santika, Niken Putri, Rendy Fristyanto, Muhammad Habib, Murti dwi Yulyanti, Olivira Ismi Alim, Ikhwan Fadli, Lazuardi Azis, Irfan Lubis, Harliansyah, Imam M, Fadel Nugraha, Ani Munawaroh, Rizki Novia Rahmi, Rofi’ul Hidayah, Andi Fahmi Kasari dan Zidni Ilma Palupi atas dukungan dan kebersamaannya selama ini serta seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Bogor, September 2016

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi DAFTAR GAMBAR vi DAFTAR LAMPIRAN vi PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Perumusan Masalah 1 Tujuan Penelitian 2 Manfaat Penelitian 2 METODE 2

Waktu dan Lokasi 2

Ceteris paribus 3

Penyediaan neonat 4

Pembuatan toksikan 4

Uji pendahuluan 4

Pengamatan tingkah laku dan kerusakan morfologi 5

Analisis data 6

HASIL DAN PEMBAHASAN 8

Hasil 8

Pembahasan 12

KESIMPULAN DAN SARAN 13

Kesimpulan 13 Saran 13 DAFTAR PUSTAKA 14 LAMPIRAN 16 RIWAYAT HIDUP 25

(10)

DAFTAR TABEL

1 Konsentrasi limbah dan jumlah kematian pada uji pendahuluan 1 8 2 Konsentrasi limbah dan jumlah kematian pada uji pendahuluan 2 9 3 Nilai LC50 uji toksisitas 24, 48, 72 dan 96 jam 10

DAFTAR GAMBAR

1 Diagram alir penelitian uji toksisitas akut (LC50) limbah pengeboran 2

2 Sketsa ceteris paribus 3

3 Perangkat lunak EPA probit analysis program version 1.5. 8 4 Hubungan antara konsentrasi limbah (ppm) dengan jumlah kematian

(%) 9

5 Daphnia magna normal 11

6 Morfologi Daphnia magna setelah dipaparkan toksikan selama 24

jam 11

7 Morfologi Daphnia magna setelah dipaparkan toksikan selama 48

jam 11

8 Morfologi Daphnia magna setelah dipaparkan toksikan selama 72

jam 11

9 Morfologi Daphnia magna setelah dipaparkan toksikan selama 96

jam 11

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil anova kualitas air 16

2 Klasifikasi Daphnia magna 17

3 Koefisien dan nilai probit (Bliss 1935 in Busvine 1971) 18

4 Tabel probit (Busvine 1971) 19

5 Analisis probit manual toksisitas limbah pengeboran minyak

terhadap Daphnia magna LC50-96 jam 20

6 Penentuan LC50- 96 jam dengan menggunakan software 21

7 Data tingkah laku Daphnia magna selama uji toksisitas 22 8 Kandungan Drill cutting (Husin et al. 2011) 24

(11)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Minyak bumi merupakan salah satu sumberdaya alam yang berlimpah serta dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pengembangan industri, rumah tangga, angkutan, perdagangan, dan lain-lain. Kegiatan pertambangan minyak bumi terdiri dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan atau pemurnian dan pemasaran hasil. Kegiatan eksploitasi minyak bumi, yaitu melakukan pengeboran minyak bumi secara bertahap dan setiap tahapannya akan menghasilkan limbah baik padat maupun cair. Beberapa bahan yang terkait dengan kegiatan pengeboran minyak bumi di antaranya drilling mud dan soil cutting (Breuer et al. 2004). Eksploitasi, pengolahan atau pemurnian dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan yang cukup besar, salah satunya ialah lingkungan perairan. Penambangan minyak bumi dapat mengakibatkan dampak terhadap lingkungan, seperti penurunan kualitas air, perubahan tata guna lahan, dan air serta gangguan terhadap organisme perairan (Fikirdesici et al. 2010).

Salah satu organisme yang memegang peranan penting di dalam ekosistem perairan tawar adalah Daphnia magna. Daphnia magna memiliki siklus hidup yang relatif singkat, mudah di kultur skala laboratorium, dan merupakan mata rantai dalam jaring-jaring makanan di perairan (Tyagi et al. 2007). Donson et al. (2000) menyatakan bahwa Daphnia magna merupakan hewan yang sensitif terhadap berbagai zat pencemar. Organisme tersebut juga telah digunakan sebagai standar dalam uji toksisitas (USEPA 1987). Masukan limbah pengeboran minyak ke dalam perairan akan menimbulkan pencemaran yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup Daphnia magna.

Pencemaran yang dihasilkan dari kegiatan pertambangan minyak dapat dicegah yaitu, dengan menentukan batasan volume dari limbah pengeboran minyak. Ketentuan tentang limbah pengeboran minyak terdapat pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 45 Tahun 2006. Ketentuan tentang limbah pengeboran minyak dilihat dari ukuran nilai LC50-96 jam yaitu ≥

30000 ppm. Jika limbah pengeboran minyak mempunyai nilai LC50-96 jam ≤

30000 ppm, maka limbah tidak dapat langsung dibuang ke perairan melainkan harus melewati pengolahan terlebih dahulu. Jika nilai LC50-96 jam limbah

pengeboran minyak ≥ 30000 ppm, maka limbah dapat langsung dibuang ke perairan karena diduga limbah tidak bersifat toksik (ESDM 2006). Oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai toksisitas limbah pengeboran minyak terhadap Daphnia magna melalui studi bioassay untuk menentukan nilai LC50-96 jam.

Perumusan Masalah

Kegiatan eksplorasi menghasilkan volume serbuk bor (cutting) dalam jumlah yang banyak dan penggunaan lumpur bor (drilling mud) adalah inti masalah dari ladang pengeboran (oilfield) yang kemudian berpotensi mencemari perairan. Drilling mud dan minyak akan keluar bercampur dengan cutting saat pengeboran berlangsung. Pada tingkat tertentu, air permukaan yang terkontaminasi serbuk bor (cutting) diduga dapat menimbulkan kematian atau

(12)

2

perubahan genetik bagi seluruh atau sebagian makhluk hidup. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang uji toksisitas akut (LC50) limbah pengeboran

minyak bumi terhadap Daphnia magna untuk mengetahui konsentrasi aman yang tidak mempengaruhi kelangsungan hidup Daphnia magna tersebut. Penjelasan di atas dirangkum ke dalam diagram alir pada Gambar 1.

-

+

Gambar 1 Diagram alir penelitian uji toksisitas akut (LC50) limbah pengeboran minyak bumi

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung konsentrasi supernatan dari limbah serbuk bor (cutting) yang dapat mematikan 50% Daphnia magna sebagai biota uji dengan waktu pemaparan 96 jam.

Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi mengenai limbah pengeboran minyak bumi yang dapat dibuang langsung ke lingkungan sekitar atau melalui pengolahan terlebih dahulu berdasarkan pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 45 Tahun 2006 tentang pengelolaan lumpur bor, limbah lumpur, dan serbuk bor pada kegiatan pengeboran minyak dan gas bumi.

METODE

Waktu dan Lokasi

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Mei 2016. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Riset Plankton, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Limbah pengeboran minyak bumi Daphnia magna Konsentrasi aman yang tidak

mempengaruhi kelangsungan hidup Daphnia magna Uji Bioassay LC50

(13)

3 Metode kerja

Beberapa lembaga ilmiah di Amerika Serikat telah mengeluarkan beragam metode kerja dalam uji toksisitas akut Daphnia magna. Sebagian besar metode kerja dalam penelitian ini diadopsi dari Procedures for Conducting Daphnia magna Toxicity Bioassay (USEPA 1987).

Ceteris paribus

Ceteris paribus merupakan kondisi homogen suatu objek penelitian yang hanya akan mengalami perubahan pada perlakuan tertentu (Silva 2012). Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi akuarium. Sketsa dalam melakukan pengujian kondisi ceteris paribus disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Sketsa ceteris paribus

Pengujian kondisi ceteris paribus dengan cara meletakkan wadah plastik pada sisi akuarium berukuran 70 x 60 x 60 cm yang diisi oleh 100 mL air, kemudian dilakukan pengukuran kualitas air setiap 24 jam selama 96 jam. Parameter yang diukur dalam setiap wadah plastik yaitu, suhu, pH, dan oksigen terlarut. Untuk memastikan kondisi homogen dari akuarium dilihat dari hasil pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut (Lampiran 1). Berdasarkan selang kepercayaan 95% diketahui bahwa pengukuran suhu, pH, dan oksigen terlarut berdasarkan waktu dan jumlah ulangan menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata antara wadah pada setiap sisi. Dapat diartikan bahwa kondisi ruang tersebut homogen sehingga dapat digunakan sebagai ruang untuk uji utama.

Aklimatisasi dan pemeliharaan hewan uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian adalah kutu air (Daphnia magna) (Lampiran 2) yang berasal dari pembudidaya Daphnia magna yang berlokasi di daerah Dramaga, Bogor. Hewan uji yang diperoleh dari pembudidaya diaklimatisasi ke dalam wadah agar dapat hidup sesuai kondisi fisik dan kimia yang diinginkan (Mehdipour et al. 2011). Proses aklimatisasi merupakan proses penyesuaian hewan uji terhadap media baru. Induk Daphnia magna yang diperoleh dari pembudidaya diaklimatisasi ke dalam wadah baru berupa akuarium berukuran 30 x 30 x 30 cm. Air PDAM yang terdapat dalam media baru sebelumnya ditampung dalam bak penampung dan harus diaerasi sekurang-kurangnya 24 jam sebelum digunakan agar kandungan klor yang ada di dalamnya terbebaskan.

(14)

4

Pemeliharaan Daphnia magna dilakukan setelah air yang digunakan diberi pupuk berupa kotoran ayam. Bahan pupuk berupa kotoran ayam kering yang dimasukkan ke dalam kain dan dibenamkan ke dasar akuarium. Pemupukan ini dapat menimbulkan efek pada warna air setelah 4 hari berubah dari bening menjadi kuning kecoklatan, sebelum digunakan air kotoran ayam tersebut disaring. Selain memberikan kondisi lingkungan yang sesuai, kotoran ayam ini merupakan bahan organik yang menjadi pakan alami Daphnia magna (Zahidah et al. 2012).

Selama pemeliharaan, yang perlu dijaga adalah ketersediaan pakan. Selama pemeliharaan, pakan yang diberikan adalah pakan buatan berupa EM4 dan

ragi (Jusadi et al. 2008). Jumlah Daphnia magna dapat berkurang karena kematian jika ketersediaan pakan tidak mencukupi. Selama pemeliharaan, Daphnia magna 16 jam menggunakan cahaya dan 8 jam tidak menggunakan cahaya serta suhu yang digunakan 24-280C (Guilhermino et al. 2000).

Penyediaan neonat

Instar pertama Daphnia magna yang berumur ≤ 24 jam merupakan neonat (Barata 2000). Neonat tersebut yang digunakan sebagai biota uji dalam penelitian ini. Kegiatan awal yang dilakukan untuk menyediakan neonat yaitu, memisahkan 10 induk yang memiliki embrio dari wadah kultur yang dilakukan 24 jam sebelum uji. Indukan yang memiliki embrio biasanya terlihat dari telur yang ada di punggungnya (brood chamber) telah berwarna oranye (Stollewerk 2010). Induk-induk ini kemudian ditempatkan di dalam cawan petri yang sudah dicampurkan air tawar dan pakan. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam induk-induk tersebut akan menetaskan neonat.

Pembuatan toksikan

Toksikan yang digunakan berupa limbah serbuk bor (cutting) yang berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Air tawar yang digunakan adalah air PDAM yang telah di aerasi selama 24 jam. Toksikan yang akan digunakan untuk uji pendahuluan dan uji utama ialah supernatan yang merupakan hasil pencampuran antara limbah pengeboran minyak dengan air tawar.

Pembuatan supernatan dilakukan dengan perbandingan antara bobot limbah dengan volume air tawar sebesar 1 kg/L. Konsentrasi supernatan limbah yang dihasilkan dari pelarutan limbah dengan air tawar yaitu sebesar 1000000 ppm dengan asumsi bahwa pelarutan limbah bersifat homogen. Setelah itu dilakukan pengenceran limbah dengan volume tertentu pada uji pendahuluan dan uji utama.

Uji pendahuluan

Uji pendahuluan dilakukan untuk menentukan selang konsentrasi limbah yang akan digunakan sebagai kontaminan pada uji utama. Uji pendahuluan dilakukan dengan cara menguji beberapa konsentrasi supernatan limbah terhadap hewan uji. Hewan uji yang digunakan pada uji pendahuluan berjumlah 10 ekor pada masing-masing uji yang dipaparkan oleh toksikan di dalam wadah kaca selama 24 jam. Perlakuan percobaan dilakukan dengan lima variasi pengenceran limbah dan satu sebagai kontrol dengan ulangan sebanyak tiga kali. Setiap wadah uji berkapasitas 250 mL dengan volume larutan sebanyak 100 mL. Wadah yang

(15)

5 sudah berisi larutan disimpan di dalam ruang yang telah berada dalam kondisi ceteris paribus.

Uji pendahuluan digunakan untuk menentukan konsentrasi ambang atas (N) dan konsentrasi ambang bawah (n). Penentuan konsentrasi awal dan konsentrasi selanjutnya menggunakan rasio atau perbandingan sebesar 0,5 (Franson 1995). Konsentrasi ambang atas (N) adalah konsentrasi terendah dari toksikan yang menyebabkan seluruh hewan uji mati pada pemaparan waktu 24 jam, sedangkan konsentrasi ambang bawah (n) adalah konsentrasi tertinggi dari toksikan yang tidak menyebabkan kematian hewan uji pada pemaparan waktu 24 jam. Menurut Komisi Pestisida (1983) in Adhiarni (1997), penentuan selang kepercayaan dari konsentrasi tertinggi dan konsentrasi terendah dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut:

og n k log a n... (1) a n b a c b d c e... (2) Keterangan N : konsentrasi tertinggi n : konsentrasi terendah

k : jumlah konsentrasi yang diuji

Variabel a, b, c, d, dan e merupakan konsentrasi antara konsentrasi terendah dan konsentrasi tertinggi, a adalah konsentrasi terkecil setelah uji pendahuluan dilakukan kemudian ditentukan konsentrasi tertinggi dan terendah untuk kontaminasi. Selang konsentrasi untuk kontaminasi (k=5) ditentukan dengan menggunakan persamaan di atas.

Uji utama

Bentuk percobaan pada uji utama adalah short term bioassay dengan menggunakan tipe statik tes (USEPA 1991). Konsentrasi limbah yang digunakan pada percobaan utama berasal dari hasil percobaan pendahuluan. Kegiatan awal yang dilakukan dalam pelaksanaan percobaan yaitu pemilihan Daphnia magna.

Daphnia magna yang telah diaklimatisasi dipilih dalam kondisi yang sehat dan berukuran seragam (Hooper et al. 2008). Neonat Daphnia magna yang terpilih dimasukkan ke masing-masing wadah kaca sebanyak 10 ekor yang sudah diberi kontaminan dengan konsentrasi tertentu. Terdapat enam wadah kaca berukuran 250 mL, lima diantaranya diberi perlakuan kontaminan dan sisanya sebagai kontrol, dengan ulangan sebanyak tiga kali. Wadah kaca yang sudah berisikan kontaminan disimpan dalam ruang yang telah berada dalam kondisi ceteris paribus. Selama kontaminasi Daphnia magna tidak diberi pakan dengan waktu kontaminasi selama 96 jam.

Pengamatan tingkah laku dan kerusakan morfologi

Pengamatan tingkah laku dilakukan berdasarkan geometrik seri yaitu pada pemaparan waktu 0, 3, 6, 12, 24, 48, 72, dan 96 jam (Novotny 1994). Pengamatan kerusakan morfologi organisme uji dilakukan pada pemaparan waktu 24, 48, 72, dan 96 jam (Wang et al. 2011). Pengamatan dilakukan untuk melihat

(16)

6

kedua antena, badan malpighi, rostrum, ekor, dan bulu sensorik pada hewan uji setelah kontaminasi dengan menggunakan mikroskop cahaya binokuler (Wang et al. 2011).

Analisis data Metode analisis probit manual

Pendugaan nilai LC50 dihitung dengan menggunakan metode probit.

Metode probit merupakan analisis regresi yang memiliki peubah tidak bebas berupa kategori. Metode probit mencakup transformasi proporsi mortalitas dengan transformasi probit dan transformasi konsentrasi toksikan ke dalam bentuk logaritma. Hubungan antara variabel yang digunakan pada analisis probit adalah linear dalam bentuk regresi. Transformasi yang dilakukan pada metode probit meliputi penentuan nilai probit empiris, probit harapan, probit kerja, dan koefisien pemberat. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara manual dan dengan menggunakan perangkat lunak (software) EPA Probit Analysis Program versi 1.5. Menurut Busvine (1971), tahapan pada penentuan nilai LC50

dengan menggunakan metode probit secara manual adalah sebagai berikut: 1. Transformasi konsentrasi toksikan ke dalam bentuk logaritma basis 10. 2. Proporsi mortalitas yang akan ditransformasi dengan transformasi probit,

dikoreksi terlebih dahulu dengan menggunakan persamaan Abbot’s (1925) in Busvine (1971). Keterangan P : mortalitas terkoreksi (%) Pi : mortalitas pengamatan (%) C : mortalitas pada kontrol (%)

3. Probit empiris ditentukan dari proporsi mortalitas yang ditransformasi dengan menggunakan tabel transformasi probit (Bliss 1957 in Busvine 1971) ( Lampiran 3).

4. Probit harapan ditentukan dari persamaan regresi linear antara log konsentrasi (x) dengan nilai probit empiris (y). Nilai probit harapan (Y) ditentukan dengan memasukan nilai log konsentrasi (X) ke dalam persamaan regresi tersebut.

Y (probit harapan) = a + bX

5. Probit kerja dan koefisien pembobot merupakan hasil penjumlahan probit kerja minimum (yo) dengan konstanta (K) dikalikan dengan persen

kematian hewan uji dengan menggunakan nilai probit harapan (Y) yang di transformasikan dengan menggunakan tabel koefisien dan nilai probit (Bliss 1935 in Busvine 1971) (Lampiran 4) yang dihitung dengan menggunakan persamaan di bawah.

(17)

7 6. Nilai pemberat (w) ditentukan dengan mengalikan antara nilai koefisien

pembobot pada tabel Bliss dengan jumlah hewan uji.

7. Tentukan nilai wx dengan mengalikan antara log volume (x) dengan nilai pemberat (w).

8. Tentukan nilai wy dengan mengalikan antara probit kerja (y) dengan nilai pemberat (w).

9. Tentukan nilai wx2 dengan mengalikan antara nilai pemberat (w) dengan log volume (x) yang telah dikuadratkan.

10. Tentukan nilai wxy dengan mengalikan antara nilai pemberat (w) dengan log volume (x) dan probit kerja (y).

11. Tentukan nilai ̅ dengan menggunakan persamaan berikut:

̅ ∑

12. Tentukan nilai ̅ dengan menggunakan persamaan berikut:

̅ ∑ y

13. Menentukan nilai a dengan menggunakan persamaan berikut:

̅ ̅

14. Menentukan nilai b dengan menggunakan persamaan berikut: b ∑ y ̅ ∑ y

∑ 2 ̅ ∑

15. Nilai a dan b yang telah didapatkan kemudian dimasukkan ke dalam bentuk persamaan regresi berikut dengan nilai Y (probit) yang telah ditransformasikan dengan menggunakan tabel Probit.

Y(probit) = a + bX

Estimasi nilai LC50 adalah antilog dari hasil perhitungan di atas.

16. Perhitungan ragam (varian) ditentukan dengan menggunakan persamaan:

(

∑ ∑ )

Keterangan

(18)

8

17. Selang atas dan selang bawah nilai LC50 diperoleh melalui persamaan:

Metode analisis probit berbasis software

Perhitungan nilai LC50 menggunakan software yang berasal dari salah satu

lembaga, yaitu Environmental Protection Agency (EPA). Software yang digunakan ialah EPA PROBIT ANALYSIS PROGRAM Version 1.5 (Gambar 3).

Gambar 3 Perangkat lunak EPA probit analysis program version 1.5.

User’s guide software tersebut menjelaskan bahwa program ini mampu menghitung estimasi nilai LC/EC50 dan dalam selang kepercayaan 95%.

Tampilan antarmuka (interface) yang interaktif (Gambar 3) memudahkan pengguna dalam input dan edit data yang akan diolah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Nilai ambang atas (N) dan ambang bawah (n)

Nilai ambang atas (N) dan ambang bawah (n) digunakan untuk menentukan selang konsentrasi limbah yang akan digunakan sebagai kontaminan pada uji utama. Penentuan nilai ambang atas (N) dan ambang bawah (n) dilakukan dengan cara menguji beberapa konsentrasi supernatan limbah terhadap biota uji.

Konsentrasi limbah dan jumlah kematian pada uji pendahuluan pertama disajikan pada Tabel 1. Tabel tersebut menunjukkan kematian biota dengan persentase 100% terdapat pada konsentrasi 400000 ppm, sedangkan kematian biota dengan persentase 0% terdapat pada konsentrasi sebesar 25000 ppm.

Tabel 1 Konsentrasi limbah dan jumlah kematian pada uji pendahuluan 1

Konsentrasi Volume limbah (ml) Volume air (ml) Jumlah biota Jumlah yang mati (%) % ppm 40 400000 40 60 10 100 20 200000 20 80 10 80 10 100000 10 90 10 90 5 50000 5 95 10 70 2,5 25000 2,5 97,5 10 0

(19)

9 Hasil dari percobaan pertama menunjukkan bahwa selang konsentrasi ambang atas (N) dan ambang bawah (n) masih terlalu lebar. Dengan demikian dibuat rangkaian percobaan berikutnya dengan selang konsentrasi yang lebih sempit. Tabel 2 merupakan hasil uji pendahuluan kedua.

Tabel 2 Konsentrasi limbah dan jumlah kematian pada uji pendahuluan 2

Konsentrasi Volume limbah

(ml) Volume air (ml) Jumlah biota Jumlah yang mati (%) % ppm 30 300000 30 70 10 100 15 150000 15 85 10 40 7,5 75000 7,5 92,5 10 20 3,75 37500 3,75 96,25 10 0 1,875 18750 1,875 98,125 10 0

Pada Tabel 2 terlihat bahwa seluruh biota uji mengalami kematian pada konsentrasi 300000 ppm. Konsentrasi yang tidak menyebabkan kematian terdapat pada konsentrasi 37500 ppm. Berdasarkan uji pendahuluan 1 dan 2 terlihat bahwa nilai ambang atas (N) pada konsentrasi 300000 ppm, sedangkan nilai ambang bawah (n) terdapat pada konsentrasi 37500 ppm. Nilai tersebut kemudian dimasukkan ke dalam persamaan (1) dan (2) pada bagian metode penelitian untuk mendapatkan konsentrasi toksikan yang digunakan pada uji toksisitas.

Hasil uji utama

Uji utama dilakukan setelah uji pendahuluan, karena nilai ambang atas dan ambang bawah konsentrasi limbah sudah didapatkan untuk menentukan konsentrasi limbah yang digunakan sebagai perlakuan pada uji utama. Gambar 4 merupakan hubungan antara konsentrasi limbah dengan jumlah kematian biota pada pemaparan waktu tertentu.

Gambar 4 Hubungan antara konsentrasi limbah (ppm) dengan jumlah kematian (%) pada pemaparan waktu tertentu.

Hasil analisis menunjukkan bahwa respon mortalitas neonat Daphnia magna pada masing-masing konsentrasi media uji bervariasi sejak pemaparan dalam waktu 24-96 jam. Pemaparan 24 jam pertama menunjukkan media uji telah menyebabkan 70% neonat Daphnia magna mati pada konsentrasi 298000 ppm. Waktu pemaparan 48 jam pada konsentrasi 298000 ppm, mortalitas meningkat menjadi 90%. Selanjutnya mortalitas pada waktu pemaparan selama 72 jam dan 96 jam mencapai 100% pada konsentrasi 298000.

0 20 40 60 80 100 120 kontrol 57000 86000 130000 197000 298000 K em a tia n (%) Konsentrasi Limbah (ppm) 0 jam 24 jam 48 jam 72 jam 96 jam

(20)

10

Nilai LC50

Hasil analisis LC50 dilakukan dengan waktu pemaparan yang berbeda, yaitu

24 jam, 48 jam, 72 jam, dan 96 jam. Nilai LC50 yang didapatkan berdasarkan

perhitungan secara manual dan dengan menggunakan software EPA Probit Analysis Program Versi 1.5. dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3Nilai LC50 uji toksisitas 24, 48, 72 dan 96 jam

Waktu (jam) LC50 Selang Kepercayaan Software Manual 95 % (ppm) 24 232790 233154 176006–420173 48 114964 113291 65075–176020 72 76384 76367 37008–105005 96 58241 57619 13658–84979

Nilai LC50 yang didapat semakin menurun seiring dengan meningkatnya

waktu pemaparan. Berdasarkan selang kepercayaan 95%, dengan konsentrasi limbah tersebut dapat mematikan biota uji sebesar 50 %. Hasil perhitungan secara manual dan software disajikan dalam Lampiran 5 dan 6.

Pengaruh limbah selama uji toksisitas terhadap tingkah laku dan kerusakan bentuk tubuh neonat Daphnia magna

Pengamatan tingkah laku dilakukan saat neonat Daphnia magna dimasukkan ke dalam wadah uji yang telah dimasukkan toksikan dengan konsentrasi tertentu. Tingkah laku hewan uji berada dalam keadaan normal saat dimasukkan ke dalam media uji pada waktu ke-0. Pada saat jam ke 3, neonat Daphnia magna pada media uji dengan konsentrasi 298000 ppm mulai menunjukkan tingkah laku yang tidak normal. Neonat Daphnia magna mulai mengalami stres dengan berenang di permukaan dan beberapa mengalami moulting pada jam ke 6. Neonat Daphnia magna pada seluruh konsentrasi mulai melemah dan moulting serta berada pada permukaan wadah pada jam ke 12. Pada jam ke 24 terlihat respon semakin lemah, pergerakan menurun, dan moulting terjadi pada seluruh media uji, kecuali pada kontrol.

Kematian terjadi pada beberapa neonat Daphnia magna pada seluruh media uji pada jam ke-48. Setelah 72-96 jam, seluruh biota uji mengalami kematian dengan ditandai perubahan warna pada konsentrasi 298000 ppm. Sebelum Kematian, neonat Daphnia magna secara visual menunjukkan pergerakan dan respon yang lemah terhadap rangsangan dari luar (Lampiran 7).

Kerusakan bentuk tubuh dapat dilihat dengan membandingkan antara bentuk tubuh biota uji pada kontrol dengan biota uji yang terpapar oleh limbah. Gambar 5-9 merupakan morfologi neonat Daphnia magna setelah dilakukan pemaparan selama 96 jam.

Gambar 5 merupakan kondisi neonat Daphnia magna sebelum dilakukan pemaparan, terlihat bahwa kondisi neonat Daphnia magna masih dalam keadaan normal. Setelah dilakukan pemaparan selama 24 jam terlihat bahwa morfologi neonat Daphnia magna mulai mengalami perubahan, yaitu terlihat pada kedua antena yang mulai hilang (Gambar 6). Gambar 7 menunjukkan kondisi neonat Daphnia magna semakin memburuk, yaitu ditandai dengan rusaknya ekor, kedua

(21)

11 antena, dan tubuh neonat Daphnia magna setelah pemaparan selama 48 jam. Setelah dilakukan pemaparan selama 72 jam kondisi neonat Daphnia magna terlihat lebih buruk dari kondisi sebelumnya, organ dalam tubuh neonat Daphnia magna yang mulai keluar (Gambar 8). Setelah dilakukan pemaparan selama 96 jam, kondisi tubuh neonat Daphnia magna sangat buruk dibandingkan kondisi sebelumnya, yaitu struktur morfologi tubuh yang tidak terlihat jelas (Gambar 9).

Gambar 5 Daphnia magna normal

Gambar 7 Morfologi Daphnia magna setelah dipaparkan toksikan selama 48 jam Gambar 6 Morfologi Daphnia magna setelah

dipaparkan toksikan selama 24 jam

Gambar 9 Morfologi Daphnia magna setelah dipaparkan toksikan selama 72 jam Gambar 8 Morfologi Daphnia magna setelah

(22)

12

Pembahasan

Daphnia magna yang diberi perlakuan kontrol tidak mengalami kematian. Hal ini karena perlakuan kontrol tidak mengandung toksikan. Pada perlakuan konsentrasi tertinggi (298000 ppm), Daphnia magna mengalami kematian lebih cepat. Secara umum kematian meningkat seiring dengan bertambahnya waktu pemaparan. Selain itu, kematian Daphnia magna disebabkan oleh konsentrasi toksikan yang semakin tinggi.

Bahan toksikan yang terdapat dalam limbah pengeboran minyak dapat merusak organ tubuh biota air karena mengandung beberapa logam berat yang menyebabkan kematian, salah satunya adalah kromium. Melnikov (2010) menjelaskan, kromium merupakan salah satu komponen limbah cutting yang membahayakan kehidupan Daphnia magna jika terjadi secara simultan. Besar kemungkinan bahan-bahan penyusun drilling cutting (Lampiran 8) inilah yang menyebabkan kematian pada Daphnia magna ketika dipaparkan oleh limbah pengeboran. Setelah uji toksisitas dilakukan perhitungan nilai LC50.

Nilai LC50 digunakan untuk melihat konsentrasi efektif toksikan yang

mampu mematikan 50% biota uji dalam waktu tertentu. Untuk mendapatkan nilai LC50 digunakan perhitungan transformasi. Transformasi ini dapat dilakukan

dengan pendekatan rumus manual maupun software EPA probit analisis. Pendekatan tersebut dilakukan guna mendapatkan hasil yang memiliki presisi tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa limbah serbuk bor (cutting) dengan konsentrasi 58241 ppm dapat mematikan 50% populasi Daphnia magna. Berdasarkan penelitian Utomo (2008), pada konsentrasi 58241 ppm merupakan kisaran konsentrasi yang termasuk ke dalam batas aman untuk dibuang secara langsung ke perairan.

Menurut Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 45 Tahun 2006, batasan ukuran nilai LC50-96 jam pada kegiatan pengeboran minyak

yaitu ≥ 3 000 ppm. Berdasarkan hasil uji utama pada penelitian ini, diperoleh nilai LC50–96 jam yaitu sebesar 58241 ppm. Nilai LC50–96 jam pada uji utama

sebesar 58241 ppm tergolong ke dalam batas ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga memungkinkan limbah pengeboran minyak tersebut dapat dibuang secara langsung ke perairan.

Pemaparan limbah juga dapat memberikan dampak terhadap perubahan tingkah laku neonat Daphnia magna. Perubahan tingkah laku ditandai dengan pergerakan neonat yang tidak normal seperti berenang ke permukaan. Kondisi ini kemudian menyebabkan kerusakan struktur fisiologis, seperti moulting, rusaknya kedua antena, dan hancurnya struktur tubuh bagian dalam.

Altindag et al. (2008) menjelaskan bahwa salah satu dampak dari efek toksikan limbah yaitu terjadi kerusakan bentuk tubuh hewan uji. Perubahan morfologi atau kerusakan tubuh pada hewan uji diduga akibat pengaruh dari salah satu komponen limbah cutting, yaitu kadmium dan arsen yang dapat merusak bagian-bagian tubuh Daphnia magna. Fenomena ini serupa dengan penelitian uji toksisitas akut kadmium dan arsen terhadap Daphnia magna yang dilakukan oleh Fikirdesici et al. (2010), yaitu kadmium dan arsen dapat merusak bagian-bagian tubuh Daphnia magna. Kematian hewan uji dapat dicegah dengan mengurangi

(23)

13 bahan pencemar yang masuk ke perairan dan melakukan pengolahan limbah secara ramah lingkungan.

Pengolahan limbah hasil pengeboran dapat dilakukan dengan memisahkan antara limbah padat dan cair serta pemisahan minyak dan limbah cair. Pengolahan limbah hasil pengeboran minyak dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu tahap penyaringan kasar untuk material limbah yang besar (screening), saringan halus untuk material limbah yang berukuran kecil (grit removal), dan perangkap minyak (oil trap). Penyiapan dan perancangan tempat penampungan limbah harus disesuaikan dengan jenis limbah yang diproses. Selain itu berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral nomor 45 tahun 2006, limbah hasil pengeboran minyak tidak boleh dibuang pada daerah sensitif.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil analisis probit diperoleh nilai LC50 darisupernatan limbah serbuk bor

(cutting) terhadap Daphnia magna pada waktu pemaparan 96 jam adalah 58241 ppm. Supernatan dari limbah serbuk bor (cutting) diduga bersifat tidak toksik karena nilai LC50-96 jam masih dalam kisaran yang telah ditetapkan oleh

pemerintah sebesar ≥ 3 000 ppm.

Saran

Saran dari penelitian ini yaitu, mengatur sistem pengelolaan terhadap limbah sebelum dibuang ke perairan seperti mengatur debit limbah dan monitoring kapasitas perairan penerima limbah. Selain itu dilakukan uji toksisitas limbah hasil pengeboran dengan menggunakan hewan uji yang berbeda untuk melihat perbandingan nilai LC50.

(24)

14

DAFTAR PUSTAKA

(ESDM) Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 45 Tahun 2006. Tentang pengelolaan lumpur bor, limbah lumpur dan serbuk bor pada kegiatan pengeboran minyak dan gas bumi. 15 hal.

(USEPA) United States Environmental Protection Agency. 1987. Procedure for conducting Daphnia magna toxicity bioassay prepare for the office of solid waste. U.S. Environmental Protection Agency. Washington D.C. United States. 87 hal.

(USEPA) United States Environmental Protection Agency. 1991. Methods for measuring the acute toxicity of effluent and receiving waters to freshwater and marine organisms (fourth edition). U.S. Environmental Protection Agency. Washington D.C. United States. 247 hal.

Adhiarni R. 1997. Pengaruh lanjut kontaminasi brine terhadap pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio, Linn) ukuran 4-6 cm. [Skripsi]. Bogor (ID). Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Istitut Pertanian Bogor.

Altindag A, Ergonul MB, Yigit S, Baykan O. 2008. The acute toxicity of lead nitrat on Daphnia magna Straus. African journal of biotechnology,7 (23):4298-4300.

Barata C, Baird DJ. 2000. Determining the ecotoxicological mode of action of chemicals from measurement made on individuals : results from-instar test with Daphnia magna Straus. Aquatic toxicology. 48: 195-209.

Breuer E, Stevenson AG, Howe JA, Carroll J, Shimmield GB. 2004. Drill cutting accumulations in the Northern and Central North Sea: a review of environmental interactions and Chemical fate. Marine pollution bulletin, 48: 12-25.

Busvine JR. 1971. A critical review of the techniques for testing insecticides. second edition. Commonwealth Agricultural Fanham Royal. England. 263-276 hal.

Donson S, Cmerritt C, Shurin J, Redman K. 2000. Daphnia reproductive bioassay for testing toxicity of aqueous sample and presence of an endocrine disrupter. The Journal of Experimental Bioplogy US : 1-7. Fikirdesici S, Altindag A, Ozdemir E. 2010. Investigation of acute toxicity of

cadmium-arsenic mixtures to Daphnia magna with toxic units approach. Turk j zool, 36 (4):543-550.

Franson MAH. 1995. Standard methods: for the examination of water and wastewater (19th edition). APHA. United States. 8000 hal.

Guilhermino L, Diamantino T, Silva MC, Soares AMVM. 2000. Acute toxicity test with Daphnia magna: an alternative to mammals in the prescreening of chemical toxicity. Ecotocxicology and Environmental Safety. 46:357-362.

Hooper HL, Cannon R, Callaghan A, Fryer G, Buchanan SY, Biggs J, J Steve, Hutchinson TH, Sibly RM. 2008. The ecological niche of Daphnia magna Characterized using population growth rate. Ecology. 89 (4):1015-1022.

(25)

15 Husin AA, Lasino, Sugiharto B. 2011. Penelitian tingkat toksisitas produk komponen bangunan dari bahan drill cutting. Jurnal Teknik Lingkungan. 12(3): 251-258.

Jusadi D, Meylani I, Utomo NBP. 2008. Kadar vitamin c dalam tubuh Daphnia sp. yang diperkaya dengan vitamin c pada lama waktu pengkayaan yang berbeda. Jurnal akuakultur Indonesia. 7 (1): 11-17.

Mehdipour N, Fallahi M, Takami A, Vossoughi G, Mashinchian A. 2011. Freshwater green algae Chlorella sp and Scenedesmus obliquus enriched with b group of vitamis can enhance fecundity of Daphnia magna. Irian Journal of Science & Technology. A2: 157-163.

Melnikov P, Freitas T. 2010. Evaluation of acute chromium (III) toxicity in relation to Daphnia similis. Journal of water resource and protection. 3: 127-130.

Novotny V, H Olem. 1994. Water quality ”prevention, identification and management of diffuse pollution. Van Nostrand Reinhold. New York. United States. 817-828 hal.

Pennak RW. 1989. Freshwater Invertebrate of The United States (3rd ed). John Wiley & Sons. New York.

Silva R. 2012. Ceteris paribus laws and the human sciences. University of the azores and lancog group. Biblid. 34: 851-867.

Stollewerk A. 2010. The water flea Daphnia a new model system for ecology and evolution. Stollewerk Journal of Biology. 21:1-4

Tyagi Vk, Chopra Ak, Durgapal Nc, Kumar A. 2007. Evaluation of Daphnia magna as an indicator of toxicity and treatment efficacy of municipal sewage treatment plant. Journal Applied Science Environmental Management. 11:61 – 67.

Utomo BA. 2008. Uji toksisitas limbah hasil pengeboran minyak menggunakan studi bioassay LC50 pada hewan uji benur udang windu (Penaeus

monodon) [Skripsi]. Bogor (ID): Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Wang KS, Lua CY, Changa SH. 2011. Evaluation of acute toxicity and teratogenic effects of plant growth regulators by Daphnia magna embryo assay. Journal of Hazardous Materials. 190:520–528.

Zahidah, Gunawan W, Subhan U. 2012. Pertumbuhan populasi Daphnia spp yang diberi pupuk limbah budidaya Karamba Jaring Apung (KJA) di waduk Cirata yang telah di fermentasi EM4. Jurnal Akuatika. 3(1):84-94.

(26)

16

LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil anova kualitas air

SUHU (0C) Source of

Variation SS Df MS F P-value F crit

Between Groups 0,099 7 0,014143 0,075429 0,999178 2,312741

Within Groups 6 32 0,1875

Total 6,099 39

Dissolved Oxygen (ppm) Source of

Variation SS Df MS F P-value F crit

Between Groups 0,132 7 0,018857 0,077522 0,999102 2,312741

Within Groups 7,784 32 0,24325

Total 7,916 39

pH Source of

Variation SS Df MS F P-value F crit

Between

Groups 0,00575 7 0,000821 0,410714 0,888499 2,312741

Within Groups 0,064 32 0,002

(27)

17 Lampiran 2 Klasifikasi Daphnia magna

Daphnia magna adalah krustasea berukuran kecil yang hidup di perairan tawar, sering juga disebut sebagai kutu air. Menurut Pennak (1989) Daphnia magna dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Filum : Arthropoda Kelas : Crustacea Sub Kelas : Branchiopoda Divisi : Oligobranchiopoda Ordo : Cladocera

Famili : Daphnidae Genus : Daphnia

Spesies : Daphnia magna

(28)

18

Lampiran 3 Koefisien dan nilai probit (Bliss 1935 in Busvine 1971)

(29)

19 Lampiran 4 Tabel probit (Busvine 1971)

(30)

20 L ampi ra n 5 Ana li sis pro bit manua l t oksi sit as li m ba h pe n g ebor an mi n y ak t erha da p Daphnia magna LC 50 -96 jam K o n se n tr asi L imb ah (mL ) v o lu me li mb ah (%) V o lu m e Ju ml ah M at i (e k o r) P er se n ta se K emat ia n ko re k si k emat ia n (%) lo g v o lu me (X) p ro b it emp ir is (Y) p ro b it h ar ap an p ro b it k er ja (y ) K o ef isi en p emb o b o t P emb er at (w) W x wy w x ^ 2 W xy 5 7 0 0 0 57 1 0 0 5 50 50 1 ,7 5 5 9 5 5 ,0 3 7 5 ,0 1 0 ,6 3 7 6 ,3 7 1 1 ,1 8 4 9 3 1 ,8 8 1 9 1 9 ,6 3 9 3 5 5 ,9 8 0 5 8 6 0 0 0 86 1 0 0 7 70 70 1 ,9 3 4 5 5 ,5 2 5 ,4 5 1 5 ,5 2 0 ,6 0 1 6 ,0 1 1 1 ,6 2 6 3 3 3 ,1 9 9 2 2 2 ,4 9 1 1 6 4 ,2 2 3 9 1 3 0 0 0 0 1 3 0 1 0 0 8 80 80 2 ,1 1 3 9 5 ,8 4 5 ,8 6 7 5 ,8 4 0 ,5 0 3 5 ,0 3 1 0 ,6 3 3 1 2 9 ,3 7 5 2 2 2 ,4 7 7 8 6 2 ,0 9 7 5 1 9 7 0 0 0 1 9 7 1 0 0 9 90 90 2 ,2 9 4 5 6 ,2 8 6 ,2 8 5 6 ,2 8 0 ,3 7 3 ,7 8 ,4 8 9 5 2 3 ,2 1 7 5 1 9 ,4 7 8 9 5 3 ,2 7 1 8 2 9 8 0 0 0 2 9 8 1 0 0 10 1 0 0 1 0 0 2 ,4 7 4 2 - 6 ,7 0 2 7 ,1 7 0 ,2 0 8 2 ,0 8 5 ,1 4 6 4 1 4 ,9 1 3 6 1 2 ,7 3 3 2 3 6 ,8 9 9 5 Ju ml ah 2 ,3 1 9 2 3 ,1 9 4 7 ,0 8 0 3 1 3 2 ,5 8 7 4 9 6 ,8 2 0 5 2 7 2 ,4 7 3 2 Y (p ro b it h ar ap an ) = 0 ,9 +2 ,3 1 7 0 x Y (p ro b it) = 0 ,3 1 5 4 +2 ,6 6 0 x ̅ ∑ ∑ 2 ,0 3 0 2 LC 50 = Y = 5 ,0 0 ( T ab el) ; m = 1 ,7 6 0 6 ̅ ∑ y ∑ 5 ,7 1 7 4 Ma k a n ilai L C50 9 6 j am ad ala h an ti lo g d ar i 1 ,7 6 0 6 = 5 7 ,6 1 9 4 m L /L ( 5 7 6 1 9 p p m ) b ∑ ̅∑ y ∑ 2 - ̅∑ 2 ,6 6 0 8 ( ∑ ∑ ) = 0 ,0 531 ̅ ̅ 0 ,3 1 5 4 A c u a n = m ± 1 ,9 6 = 1 ,7 6 0 6 ± 1 ,9 6 = 1 ,3 0 9 0 ≥ m ≤ 2 ,2 1 2 1 = 2 0 ,3 7 0 1 ≥ m ≤ 1 6 2 ,9 8 3 4

(31)

21 Lampiran 6 Penentuan LC50- 96 jam dengan menggunakan software

EPA PROBIT ANALYSIS PROGRAM USED FOR CALCULATING LC/EC VALUES

Version 1.5 LC50 96 jam Proportion Observed Responding Predicted

Number Number Proportion Adjusted for Proportion

Conc. Exposed Resp. Responding Controls Responding 57000.0000 10 5 0.5000 0.5000 0.4897 86000.0000 10 7 0.7000 0.7000 0.6792 130000.0000 10 8 0.8000 0.8000 0.8312 197000.0000 10 9 0.9000 0.9000 0.9272 298000.0000 10 10 1.0000 1.0000 0.9744

Chi - Square for Heterogeneity (calculated) = 0.466 Chi - Square for Heterogeneity

(tabular value at 0.05 level) = 7.815 Mu = 4.765233

Sigma = 0.363660

Parameter Estimate Std. Err. 95% Confidence Limits --- Intercept -8.103528 4.937223 (-17.780485,1.573429) Slope 2.749819 0.985661 ( 0.817923,4.681715 )

Theoretical Spontaneous Response Rate = 0.0000 LC50 96 jam

Estimated LC/EC Values and Confidence Limits

Exposure 95% Confidence Limits Point Conc. Lower Upper LC/EC 1.00 8303.291 21.927 24137.873 LC/EC 5.00 14690.901 147.731 34106.668 LC/EC 10.00 19914.354 407.300 41131.031 LC/EC 15.00 24453.201 805.958 46765.922 LC/EC 50.00 58241.566 13658.774 84979.305 LC/EC 85.00 138717.375 96870.867 368991.313 LC/EC 90.00 170333.609 117295.305 685624.438 LC/EC 95.00 230896.906 147712.219 1810188.500 LC/EC 99.00 408523.031 215207.125 11828115.000

(32)

22 L ampi ra n 7 Da ta ti ng k ah laku Daphnia magna se la ma uji t oksi sit as Ko n se n tr asi li m b ah (m L /L ) Jam k e-0 3 6 12 24 48 72 96 0 No rm a l B er en an g a k ti f B er en an g a k ti f B er en an g a k ti f B er en an g a k ti f B er en an g Ak ti f B er en an g Ak ti f B er en an g a k ti f R esp o n b aik R esp o n b aik R eso n b ai k R esp o n b aik R esp o n b aik R esp o n b aik b eb er ap a ek o r m o u lt in g B eb er ap a ek o r m o u lt in g Mo u lti n g 57 No rm a l R esp o n b aik B er en an g d i p er m u k aa n P er g er ak an la m b at R esp o n b aik B eb er ap a ek o r m ati Mo u lti n g B eb er ap a ek o r m ati B er en an g d i p er m u k aa n B eb er ap a ek o r m o u lt in g R esp o n b aik B eb er ap a ek o r le m as B eb er ap a ek o r le m as B eb er ap a ek o r le m as T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t B eb er ap a ek o r le m as B eb er ap a ek o r le m as B eb er ap a ek o r m o u lt in g B eb er ap a ek o r m o u lt in g B er ad a d i p er m u k aa n B eb er ap a b er en an g ak ti f M o u lti n g B eb er ap a m o u lt in g B er ad a d ip er m u k aa n T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t 86 No rm a l R esp o n b aik B er en an g d i p er m u k aa n B eb er ap a m at i B eb er ap a m at i B eb er ap a m at i B eb er ap a ek o r m ati Seb ag ian b esar m ati B eb er ap a ek o r le m as B eb er ap a ek o r m o u lt in g B er ad a d i p er m u k aa n B er en an g d i p er m u k an M o u lti n g B eb er ap a ek o r le m as T u b u h b er w a n a p u tih p u ca t B er en an g d i p er m u k aa n B eb er ap a ek o r le m as B eb er ap a ek o r m o u lt in g B eb er ap a m o u lt in g B eb er ap a ek o r le m as B eb er ap a b er en an g ak ti f B eb er ap a lem a s B eb er ap a lem a s tu b u h b er w ar n a p u tih p u ca t B er ad a d ip er m u k aa n T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t 130 No rm a l B er en an g d i p er m u k aa n B er ad a d i p er m u k aa n B eb er ap a m at i b eb er ap a m ati b eb er ap a m ati Seb ag ian b esar m ati Seb ag ian b esar m ati Stre ss Stre ss Seb ag ian b esar le m as L e m as L e m as T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t

(33)

23 B eb er ap a lem a s B er ad a d i p er m u k aa n p er u b ah an w ar n a tu b u h tu b u h b er w ar n a p u tih p u ca t Mo u lti n g B eb er ap a ek o r m o u lt in g B eb er ap a m o u lt in g Mo u lti n g M o u lti n g 197 No rm a l B er en an g d i p er m u k aa n B er ad a d i p er m u k aa n B eb er ap a ek o r m ati B eb er ap a ek o r m ati Seb ag ian b esar m ati Seb ag ian b esar m ati Seb ag ian b esar m ati Stre ss Stre ss B eb er ap a lem a s L e m as L e m as Mo u lti n g T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t B eb er ap a m o u lt in g B eb er ap a ek o r m o u lt in g B eb er ap a ek o r m o u lt in g P er g er ak an la m b at P er g er ak an la m b at T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t Mo u lti n g M o u lti n g 298 No rm a l B er en an g d i p er m u k aa n B er ad a d i p er m u k aa n B eb er ap a ek o r m ati Seb ag ian b esar m ati Seb ag ian b esar m ati Se m u a b io ta u ji m ati Se m u a b io ta u ji m ati Stre ss Stre ss B eb er ap a lem a s L e m as L e m as T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t T u b u h b er w ar n a p u tih p u ca t B eb er ap a m o u lt in g B eb er ap a ek o r m ati B eb er ap a ek o r m o u lt in g P er g er ak an la m b at P er g er ak an la m b at B eb er ap a ek o r m o u lt in g Mo u lti n g M o u lti n g

(34)

24

Lampiran 8 Kandungan Drill cutting (Husin et al. 2011)

No Unsur Satuan Pure

waste On Waste PP No. 18/1999 (TCLP) 1 Sianida (CN) Ppm < 0,004 - 1 2 Nitrat (HNO3) + Nitrit (HNO2) Ppm < 0,86 - 500 3 Nitrit (HNO2) Ppm < 0,062 - 50 4 Arsen (As) Ppm 0,003 6,48 0,2 5 Barium (Ba) Ppm 0,2 433,36 5 6 Boron (B) Ppm < 0,07 100 7 Krom (Cr) Ppm < 0,02 2,06 0,25 8 Tembaga (Cu) Ppm 0,047 41,45 0,19 9 Merkuri (Hg) Ppm 0,0006 0,3315 0,01 10 Timah hitam (Pb) Ppm 0,261 13,26 2,5 11 Seng (Zn) Ppm 0,092 43,62 2,5

(35)

25

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tangerang pada tanggal 18 Januari 1995 dari pasangan Bapak Rusmiyanto dan Ibu Dra Mardiana sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Pendidikan formal pernah dijalani penulis berawal dari SDN Poris Gaga 3 (2000-2004), SDN Gondrong 4 (2004-2006), SMPN 45 Jakarta (2006-2009), MAN 12 Jakarta (2009-2012). Pada tahun 2012 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Kemudian diterima di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Selain mengikuti perkuliahan, Penulis berkesempatan menjadi asisten mata kuliah Avertebrata air (2014-2015) dan mengikuti beberapa organisasi di IPB yaitu anggota Clarity (2012-2013), Fotografer Koran Kampus IPB (2012-2013), Tim Kreatif Sanggar Juara (2013-2014). Penulis juga aktif mengikuti seminar maupun berpartisipasi dalam berbagai kepanitian di lingkungan kampus IPB.

Gambar

Gambar 1 Diagram alir penelitian uji toksisitas akut (LC 50 ) limbah pengeboran                           minyak bumi
Gambar 2 Sketsa ceteris paribus
Tabel 1 Konsentrasi limbah dan jumlah kematian pada uji pendahuluan 1  Konsentrasi Volume
Tabel 2 Konsentrasi limbah dan jumlah kematian pada uji pendahuluan 2  Konsentrasi Volume limbah
+2

Referensi

Dokumen terkait