• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 Praproses Data 4.2 Perancangan Sistem 3.1 Ekstraksi Data 5 Pembentukan Prototipe 6 Evaluasi Prototipe 3.2 Transformasi Data HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3 Praproses Data 4.2 Perancangan Sistem 3.1 Ekstraksi Data 5 Pembentukan Prototipe 6 Evaluasi Prototipe 3.2 Transformasi Data HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

tahapan ini dilakukan pula analisis terhadap kebutuhan client dan server. 3 Praproses Data

3.1 Ekstraksi Data

Setelah dilakukan analisis kebutuhan, dilakukan survei terhadap ketersediaan data. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi setiap sumber data yang potensial dalam pengembangan sistem dan dilanjutkan dengan pengambilan data yang relevan (ekstraksi). Setelah data diperoleh, dilakukan pembersihan data untuk memeriksa kesalahan yang ada pada data spasial maupun data tekstual (atribut) kemudian dilakukan pengeditan dan pembuatan topologi sesuai fitur sumber datanya. Topologi pada peta digital adalah hubungan spasial antara masing-masing fitur (titik, garis, atau poligon) pada peta. Tahap ini menghasilkan layer peta yang dibutuhkan.

3.2 Transformasi Data

Pada tahap ekstraksi data, telah dilakukan pembersihan data dan pembuatan topologi sesuai dengan fitur datanya. Sampai tahap ini, hasil coverage masih berada dalam sistem koordinat layar. Agar peta tersebut dapat digabungkan dengan peta lainnya untuk lokasi yang sama, maka peta tersebut harus ditransformasikan ke dalam sistem koordinat bumi. Proses ini biasa disebut koreksi geometrik (registrasi peta). 3.3 Pemuatan Data

Setelah tahap ekstraksi dan transformasi data dilakukan, maka data telah siap untuk dimuat (load) ke dalam

database. Pada tahap ini, dilakukan pula

pengurutan dan peninjauan integritas suatu data. Tahap pemuatan data bertujuan memuat data yang terseleksi ke dalam

database dan membuat indeks yang

diperlukan.

4 Perancangan Prototipe 4.1 Perancangan Database

Pada tahap ini, dilakukan perancangan konseptual database, perancangan logis

database, dan perancangan fisik database.

Perancangan konseptual mengidentifikasi data yang dibutuhkan dan desain proses dari sistem. Perancangan logis merupakan perancangan database dengan membuat diagram keterhubungan antartabel. Perancangan fisik dilakukan dengan

memilih struktur penyimpanan yang spesifik.

4.2 Perancangan Sistem

Perancangan sistem terdiri atas 3 tahap, yaitu perancangan arsitektur, perancangan proses, dan perancangan antarmuka. 5 Pembentukan Prototipe

Pembentukan prototipe merupakan tahap untuk merealisasikan apa yang telah dirancang. Tahap ini meliputi implementasi database, implementasi arsitektur dan proses, dan implementasi antarmuka sistem.

6 Evaluasi Prototipe

Evaluasi yang dilakukan pada prototipe ini mencakup uji fungsionalitas yang bertujuan memastikan bahwa semua fungsi dalam aplikasi ini dapat berjalan dengan baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Studi Pustaka

Mobile Application adalah sebutan untuk

aplikasi yang berjalan di mobile device (Purnama 2010). Ada sejumlah fitur yang saat ini sudah dianggap sebagai fitur standar yang harus ada pada sebuah ponsel, yaitu GPRS dan Java. Sistem Java yang bisa digunakan untuk membuat mobile application adalah Java 2 Micro Edition (J2ME), yang merupakan object-oriented programming.

Keputusan untuk menggunakan platform J2ME diambil karena menurut informasi dari JavaWorld, J2ME memiliki keunggulan bahwa J2ME didesain untuk mendukung mobilitas pengguna dibandingkan dengan platform lain dalam dunia peralatan mobile.

Penelitian ini merujuk kepada aplikasi

wireless, yaitu aplikasi mobile yang

digunakan untuk data yang diproses dan ditransaksikan melalui sistem client-server. Pada kondisi ini, ponsel akan bertindak sebagai client dan sebuah komputer akan bertindak sebagai server. GeoServer dipilih sebagai web map server. Tidak seperti tools lain, GeoServer dikemas dengan antarmuka administratif berbasis web yang mudah dioperasikan. Berdasarkan WMS

Performance Shootout oleh Aime dan

McKenna (2009), GeoServer lebih cepat antara 25% hingga 50% dalam membaca

shapefile sedangkan MapServer dengan

(2)

MapServer pun memiliki kinerja yang sama persis ketika menggunakan database PostGIS dan Oracle.

2 Analisis Kebutuhan 2.1 Analisis Kebutuhan Sistem

Analisis kebutuhan yang dilakukan terdiri atas analisis kebutuhan fungsional perangkat lunak, analisis spesifikasi pengguna, analisis kebutuhan

client-server, dan analisis lingkungan

pengembangan sistem. Pada tahap analisis kebutuhan fungsional perangkat lunak, diperoleh fungsi-fungsi umum sistem, yaitu:

Menampilkan daftar layer peta Institut Pertanian Bogor tiap level dan layer dapat dipilih lebih dari satu.

 Menampilkan peta yang telah dipilih dari daftar layer peta.

 Menampilkan skala dan koordinat peta.  Menampilkan screen menu untuk operasi pada peta, yaitu: zoom in, zoom

out, getfeatureinfo, mylocation,

refresh, dan reset view.

Pengguna sistem ini adalah mahasiswa dan masyarakat umum sehingga hak akses terhadap data sistem bersifat publik. Sistem ini dibuat mengikuti arsitektur

client-server. Client berupa telepon selular

dengan sistem operasi Symbian yang termasuk series 60 3rd edition feature

pack 2 dan memiliki fitur Wi-Fi. Server

berupa web server dan database server. Jaringan berupa access point Wi-Fi yang banyak tersedia di kampus IPB.

Berdasarkan analisis kebutuhan, spesifikasi perangkat lunak yang digunakan dalam pengembangan sistem adalah:

Pengembangan client

- Bahasa Pemrograman: Java. - Framework: J2ME.

- Editor/Compilator: NetBeans IDE 7.0.1.

- Emulator/SDK: S60 3rd Edition

Feature Pack 2.

Pengembangan web server

- Arcview 3.3 sebagai perangkat lunak untuk mengolah data spasial. - Apache Tomcat 7.0.22 sebagai web

server.

- PostgreSQL 8.4 dengan ekstensi PostGIS 1.5.3 sebagai perangkat lunak ORDBMS.

- GeoServer 2.0.3 sebagai web map

server yang mengakomodasi data

dalam bentuk peta.

- Server: ApacheFriends XAMPP

version 1.7.1.

- Bahasa pemrograman: PHP. - Editor: Notepad++.

Pengembangan database server - PostgreSQL 8.4 dengan ekstensi

PostGIS 1.5.3 sebagai perangkat lunak Object-Relational Database

Management System (ORDBMS).

Spesifikasi perangkat keras yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem ini adalah:

Processor: Intel CoreTM i3 2.1 GHz.  Sistem Operasi: Windows 7

professional 64-bit.  Memori: 2048 MB RAM.  Harddisk: 320 GB. 2.2 Analisis Batasan Sistem

Batasan yang dimiliki oleh sistem ini antara lain:

Emulator yang digunakan dalam penelitian ini merupakan bagian dari Symbian Series 60 3rd Edition Feature

Pack 2 yang dimiliki oleh vendor

Nokia dan mengindikasikan adanya

access point Wi-Fi.

Access point urutan pertama yang terdeteksi diasumsikan sebagai lokasi yang akan dikirim ke server.

2.3 Analisis Data

Data yang digunakan pada penelitian ini adalah:

 Denah kampus IPB Darmaga dalam bentuk file AutoCAD (.dwg) yang diperoleh dari Direktorat Fasilitas dan Properti.

 Data hasil penelitian Khairani (2011) dalam bentuk shapefile (.shp) yang terdiri atas data ruangan gedung FAPERTA level 3, 4, 5, dan 6 yang di dalamnya juga terdapat ruangan FMIPA, FEMA, serta sebagian ruangan FEM, ruangan FMIPA yang terdapat di gedung FPIK dan FAPET, gedung FEM Rektorat, gedung fasilitas umum seperti gedung Perpustakaan, GWW, dan Rektorat.

Data access point hanya mencakup

access point yang berada di

Departemen Ilmu Komputer, Departemen Fisika, Departemen

(3)

Matematika, dan ruang Dekanat FMIPA.

3 Praproses Data 3.1 Ekstraksi Data

Data denah kampus IPB Darmaga yang diperoleh dalam format AutoCAD (.dwg) diatur skala dan koordinatnya sehingga fitur spasial pada data tersebut memiliki ukuran dan koordinat yang sama dengan data hasil penelitian Khairani. Hal ini juga bertujuan menentukan letak posisi suatu bangunan dalam peta kampus IPB Darmaga agar mendekati posisi sesungguhnya dengan skala tertentu. Data tersebut kemudian disimpan dalam format

drawing interchange/exchange format

(.dxf), yaitu format data file CAD yang dikembangkan oleh Autodesk untuk memungkinkan interoperabilitas data antara AutoCAD dan program lain.

Data dalam format .dxf kemudian dikonversi ke dalam bentuk shapefile dengan membuat topologi yang sesuai dengan fitur spasial (titik, garis, atau poligon) menggunakan ArcView 3.3. Penelitian ini tetap menggunakan format ESRI shapefile karena merupakan format data spasial yang didistribusikan paling umum (Obe & Hsu 2011). Cara kerjanya ialah dengan mengidentifikasi dan mengubah objek atau fitur spasial menjadi kumpulan koordinat x dan y. Proses ini menghasilkan 6 layer peta vektor (shapefile) yang berasal dari penelitian Khairani (2011) yang merepresentasikan 6 level peta ruangan gedung fakultas IPB dan 5 layer shapefile tambahan yang merepresentasikan jalan serta bangunan atau gedung IPB lainnya yang berada di sekitar gedung fakultas. Pembersihan data juga dilakukan pada tahap ini untuk mengoreksi kesalahan, menangani masalah data kosong (null), dan data yang tidak konsisten.

3.2 Transformasi Data

Setelah melakukan ekstraksi data dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya, hasil coverage tersebut masih berada dalam sistem koordinat layar. Agar peta dapat digunakan (ditumpangsusunkan) bersama dengan data spasial lain yang sudah ada, diperlukan proses

georeferencing ke dalam sebuah sistem

koordinat yang disebut koreksi geometrik (GIS Consortium Aceh Nias 2007). Geometrik citra adalah korelasi antara

koordinat suatu objek pada citra dengan koordinat pada permukaan bumi. Koreksi ini (rektifikasi) merupakan proses transformasi data, dari data yang belum mempunyai koordinat geografis menjadi data yang akan mempunyai koordinat geografis (georeferensi). Transformasi dilakukan menggunakan extensions Register and Transform tool ArcView 3.3.

Setelah extensions ini diaktifkan pada menu File dan dipilih pada menu View, langkah selanjutnya ialah menentukan beberapa titik kontrol pada peta, yang mengacu pada titik kontrol lapangan (diperoleh dari pengukuran langsung dengan GPS atau interpolasi dari peta dasar yang sudah ada). Parameter tingkat akurasi dari proses rektifikasi ini adalah nilai yang dipresentasikan oleh selisih antara koordinat titik kontrol hasil transformasi dengan koordinat titik kontrol, yang dikenal dengan Root Mean

Square (RMS) Error. Nilai RMS Error

yang rendah akan menghasilkan hasil rektifikasi yang akurat.

3.3 Pemuatan Data

Tahap selanjutnya yakni memuat data

shapefile ke dalam database PostgreSQL.

Proses konversi shapefile menjadi format .sql ini dilakukan menggunakan GUI PostGIS 1.5.3 yang disebut shp2pgsql-gui, yaitu plug-in yang terdapat dalam pgAdmin III. Tahapan yang dilakukan pertama kali ialah membuat database dengan nama ipb dan menggunakan

template_postgis. Ketika program PostGIS Shapefile and DBF Loader

(shp2pgsql-gui) digunakan (Gambar 4), database

credentials langsung dibaca dari pgAdmin

III untuk database yang dipilih.

Langkah selanjutnya ialah memilih data shapefile yang ingin dikonversi, melakukan koneksi dengan PostGIS dan mengisi kolom Username dan Password yang sebelumnya disimpan saat proses instalasi. Setelah itu, dipilih database yang akan menjadi tempat penyimpanan pemuatan data shapefile, yaitu ipb pada kolom Database. Pada tab configuration, kolom Destination Schema, SRID, dan

Geometry Column masing-masing bernilai default: public, -1, dan the_geom. Kolom Destination Table merupakan tabel yang

akan berisi data yang dikonversi pada

database yang dipilih. Kolom Spatial

Reference System Identifier (SRID)

(4)

dengan primary key dari metatabel

spatial_ref_sys.

Gambar 4 Shp2pgsql-gui.

PostGIS menggunakan tabel ini untuk mendaftarkan sistem referensi spasial yang ada ke dalam database. Sistem referensi spasial yang paling umum digunakan ialah WGS 84 lon lat (EPSG:4326) karena mencakup seluruh dunia, dan merupakan sistem referensi spasial paling umum, dan karena data GPS disimpan dalam SRS ini. Oleh karena itu, kolom SRID diisi dengan nilai 4326, yaitu ID SRS dari European

Petroleum Survey Group (EPSG).

Sebagian besar sistem referensi spasial yang didefinisikan dalam PostGIS berasal dari EPSG, sehingga SRID yang digunakan dalam tabel biasanya sama dengan identifier EPSG. Saat impor data

shapefile dilakukan, data yang telah

terkonversi termuat secara otomatis ke dalam database pada PostgreSQL, serta tersusun berdasarkan kolom Destination

Table yang diatur pada plug-in tersebut.

4 Perancangan Prototipe 4.1 Perancangan Database

Berdasarkan data yang telah dikonversi, diperoleh 13 tabel pada PostgreSQL yang dapat dilihat pada Tabel 1. Setelah data dimuat dalam database, dilakukan perancangan konseptual berdasarkan analisis data dan kebutuhan sistem sehingga pemodelan database direduksi menjadi 12 tabel sebagai berikut:  accesspoint

Tabel yang menyimpan informasi

access point Wi-Fi berupa id, essid, id

lokasi, latitude, longitude, area, bbox1, bbox2, bbox3, dan bbox4.

geometry_columns  jalan

 level1, level2, level3, level4, level5, dan level6

 sekitarkampus

Tabel agregasi sekitar1, sekitar2, sekitar3, dan sekitar4 menjadi satu tabel sekitarkampus.

 semualevel

Tabel agregasi level1, level2, level3, level4, level5, dan level6 menjadi satu tabel semualevel.

spatial_ref_sys

Tabel 1 Database hasil konversi shapefile menggunakan PostGIS Nama Tabel Deskripsi geometry_ columns

Tabel yang menyediakan metadata untuk setiap kolom pada tabel yang didefinisikan sebagai objek spasial. jalan Tabel yang menyimpan

informasi nama jalan di lingkungan kampus IPB Darmaga. level1, level2, level3, level4, level5, level6

Tabel yang menyimpan informasi ruangan kampus IPB Darmaga berupa kode ruang, nama ruang, level, fakultas, departemen, wing, dan id ruang.

sekitar1, sekitar2, sekitar3, sekitar4

Tabel yang menyimpan informasi bangunan sekitar ruangan kampus IPB Darmaga berupa nama bangunan.

spatial_ref _sys

Tabel yang berisi informasi tentang sistem referensi spasial.

Tahap selanjutnya ialah melakukan perancangan logis database yang menunjukkan diagram keterhubungan antartabel, dan ditampilkan pada Gambar 5. Setelah itu, dilakukan perancangan

database secara fisik, yaitu proses

pemilihan struktur penyimpanan yang spesifik dengan menentukan tipe data dari tiap atribut sehingga dapat diakses dengan mudah oleh sistem. Perancangan fisik

(5)

accesspoint PK id essid id_lokasi latitude longitude area bbox1 bbox2 bbox3 bbox4 geometry_columns PK f_table_catalog PK f_table_schema PK f_table_name PK f_geometry_column coord_dimension srid type sekitarkampus PK gid nama_bangu the_geom semualevel PK gid kd_ruang nama_ruang level fakultas departemen wing id_ruang the_geom spatial_ref_sys PK srid auth_name auth_srid srtext proj4text jalan PK gid nama_jalan the_geom level6 PK gid kd_ruang nama_ruang level fakultas departemen wing id_ruang the_geom level5 PK gid kd_ruang nama_ruang level fakultas departemen wing id_ruang the_geom level4 PK gid kd_ruang nama_ruang level fakultas departemen wing id_ruang the_geom level3 PK gid kd_ruang nama_ruang level fakultas departemen wing id_ruang the_geom level2 PK gid kd_ruang nama_ruang level fakultas departemen wing id_ruang the_geom level1 PK gid kd_ruang nama_ruang level fakultas departemen wing id_ruang the_geom

Gambar 5 Perancangan logis database. Tabel geometry_columns terdiri atas 7 kolom, yaitu f_table_catalog untuk menyimpan nama database (katalog),

f_table_schema untuk menyimpan skema

tabel, f_table_name untuk menyimpan nama tabel, f_geometry_column untuk menyimpan nama kolom geometri. Kolom

coord_dimension adalah dimensi

koordinat dari kolom geometri. Kolom SRID merupakan foreign key metatabel

spatial_ref_sys. Kolom type menyimpan

jenis geometri (titik, garis, poligon, multipoligon, dan lain-lain) sebagai

character varying. PostGIS menggunakan

tabel geometry_columns untuk menyimpan metadata yang terkait dengan kolom geometri pada database. Tabel ini secara otomatis dibuat saat instalasi PostGIS dan digunakan oleh alat-alat third-party untuk mengumpulkan daftar layer geometri pada

database.

Tabel spatial_ref_sys terdiri atas 5 kolom. Kolom SRID bernilai integer unik yang mengidentifikasi sistem referensi spasial dalam database. Kolom auth_name berisi nama dari badan standar atau standar yang sedang dikutip untuk sistem referensi, dalam hal ini “EPSG”. Kolom

auth_srid merupakan id dari sistem

referensi spasial yang didefinisikan dalam

auth_name. Kolom srtext

merepresentasikan well-known text dari sistem referensi spasial. Kolom proj4text berisi string definisi koordinat proj4 (library yang digunakan PostGIS untuk menyediakan kemampuan transformasi koordinat) untuk SRID tertentu. PostGIS menggunakan tabel ini untuk mengatalogkan semua sistem referensi spasial yang tersedia ke dalam database. Metatabel spatial_ref_sys berisi nama sistem referensi spasial, parameter-parameter yang diperlukan untuk memproyeksikan ke sistem lain, dan sumber definisi sistem.

4.2 Perancangan Sistem

Perancangan pengembangan sistem dilakukan dengan pemodelan Unified

Modeling Language (UML), yaitu sebuah

bahasa yang telah menjadi standar dalam industri untuk memvisualisasi, merancang, dan mendokumentasikan sistem perangkat lunak. Tujuannya ialah menjadi bahasa umum untuk menciptakan model-model perangkat lunak komputer berorientasi objek. Class adalah sebuah spesifikasi yang jika diinstansiasi akan menghasilkan sebuah objek dan merupakan inti dari pengembangan dan desain berorientasi objek. Class menggambarkan keadaan (atribut/properti) suatu sistem, sekaligus menawarkan layanan untuk memanipulasi keadaan tersebut (metode/fungsi). Class dapat merupakan implementasi dari sebuah interface, yaitu class abstrak yang hanya memiliki metode. Interface tidak dapat langsung diinstansiasikan, tetapi harus diimplementasikan terlebih dahulu menjadi sebuah class. Class diagram menggambarkan struktur dan deskripsi

class, package, dan objek beserta

hubungan satu sama lain. Class diagram sistem dapat dilihat pada Lampiran 2. 4.2.1 Perancangan Arsitektur

Sistem dibuat mengikuti arsitektur

three-tier yang terdiri atas client, web server, dan database server. Client

berfungsi sebagai presentation tier, web

server berfungsi sebagai application tier,

dan database server berfungsi sebagai

data tier. Arsitektur sistem dapat dilihat

pada Gambar 6. Komponen pertama adalah client yang berupa telepon selular untuk menjalankan aplikasi.

(6)

Gambar 6 Arsitektur sistem.

Komponen kedua adalah web server.

Web server terdiri atas web map server

yaitu GeoServer dan Apache web server. GeoServer berfungsi sebagai aplikasi untuk menyimpan dan mengolah data geospasial serta mengirim response

layanan berupa peta Institut Pertanian Bogor maupun informasinya ke client.

Apache web server dengan aplikasi PHP

mengolah data lokasi berdasarkan SSID

access point Wi-Fi yang dikirim oleh client. Koneksi client dengan server terjadi

melalui protokol HTTP. Komponen ketiga adalah database server. Database server berfungsi untuk menyimpan data yang dibutuhkan sistem.

4.2.2 Perancangan Proses

Proses dimulai dengan mengirim permintaan GetCapabilities ke GeoServer. GeoServer merespon permintaan tersebut dalam format XML. Hasil dari permintaan ini berupa daftar layer peta. Layer peta yang ditampilkan adalah semua layer yang telah dimuat dalam GeoServer. Peta akan ditampilkan sesuai layer yang telah dipilih. Setelah peta ditampilkan, pengguna dapat memilih menu yang diinginkan untuk pemrosesan peta lebih lanjut, yaitu menu

Zoom in, Zoom out, GetFeatureInfo, MyLocation, Refresh, atau Reset view.

Menu Zoom in dan Zoom out digunakan untuk memperbesar dan memperkecil peta, GetFeatureInfo

digunakan untuk meminta informasi tentang fitur spesifik yang ditunjukkan pada peta, dan menu MyLocation

digunakan untuk mengidentifikasi lokasi

pengguna berdasarkan jaringan Wi-Fi yang dideteksi. Wi-Fi pertama yang dideteksi kemudian dikirim ke web server untuk mendapatkan data lokasi dengan melakukan query ke database server. Selanjutnya, web server merespon permintaan dalam format Java Script

Object Notation (JSON). Data lokasi dari database server harus didapatkan melalui web server. Hal tersebut dilakukan karena client menggunakan HTTP request untuk

mendapatkan data. Jadi, data dari database

server diproses terlebih dahulu oleh web server agar dapat digunakan oleh client.

Menu refresh digunakan untuk menyegarkan tampilan peta, dan menu

reset view berfungsi mengembalikan

tampilan peta seperti saat awal menampilkan peta berdasarkan layer yang dipilih.

Proses detail fungsi sistem digambarkan dengan sequence diagram pada Lampiran 3. Sequence diagram menggambarkan interaksi antarobjek di dalam dan di sekitar sistem berupa

message yang digambarkan terhadap

waktu. Sequence diagram biasa digunakan untuk menggambarkan skenario atau rangkaian langkah-langkah yang dilakukan sebagai respon dari sebuah event untuk menghasilkan output tertentu. Jadi,

sequence diagram digunakan untuk

memvisualisasikan urutan panggilan dalam suatu sistem untuk melakukan fungsi tertentu.

4.2.3 Perancangan Antarmuka

J2ME menyediakan sejumlah class yang digunakan sebagai objek antarmuka. Secara hirarki, susunan class yang menjadi antarmuka di J2ME dapat dilihat pada Gambar 7 (Purnama 2010).

Gambar 7 Hirarki class antarmuka di J2ME.

Class Displayable merupakan induk dari

semua antarmuka J2ME. Class ini akan diturunkan menjadi class Screen yang mewakili layar J2ME kategori high level

user interface, dan layar Canvas yang

mewakili low level user interface. Kedua

Displayable

Screen

Alert Form List TextBox

Canvas

(7)

jenis antarmuka ini bisa digunakan secara bergantian, tetapi tidak dapat digunakan secara bersamaan. Pada saat tertentu, hanya ada satu objek antarmuka yang dinyatakan sebagai antarmuka yang tampak oleh pengguna (visual-page). Akan tetapi, semua objek antarmuka bisa menjadi antarmuka yang sedang mengalami modifikasi konten

(active-page).

Display merupakan class yang

disediakan oleh J2ME untuk mengelola tampilan di layar, yaitu kegiatan untuk memperoleh informasi mengenai konteks layar yang sedang digunakan dan informasi mengenai objek yang sedang berada di layar. Sebuah objek Display menjadi penentu bagi aplikasi dalam mengatur antarmuka yang menjadi

visual-page. Hanya ada satu objek Display untuk

sebuah class MIDlet. Aplikasi yang dibuat bisa merujuk kepada objek Display tersebut melalui method getDisplay().

Perancangan antarmuka pada penelitian ini difokuskan pada antarmuka

client. Antarmuka yang akan dibuat terdiri

atas beberapa halaman dan tiap halaman memiliki 3 bagian, yaitu bagian judul, bagian layar utama, dan bagian menu. Bagian judul akan berisi nama halaman yang sedang dilihat, bagian layar utama berisi informasi yang akan ditampilkan dari tiap halaman, bagian menu terdiri atas menu 1 dan menu 2. Bagian menu ini merupakan objek Command, yaitu objek visual yang digunakan untuk mengaktifkan fitur dalam aplikasi secara interaktif. Objek Command merepresentasikan tombol keypad pada device yang bila ditekan maka aplikasi akan terpicu untuk melakukan proses tertentu. Perancangan antarmuka di sisi client dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Perancangan antarmuka.

5 Pembentukan Prototipe 5.1 Implementasi Database

Alasan utama PostgreSQL dipilih sebagai platform untuk mendirikan PostGIS ialah kemudahan perluasan yang disediakan untuk membuat tipe dan operator baru serta untuk mengendalikan operator indeks. Agregasi tabel level dan sekitar menjadi tabel semualevel dan sekitarkampus yang dijelaskan sebelumnya, diperoleh dengan melakukan

export tabel level1, level2, level3, level4,

level5, dan level6 ke dalam format CSV dengan query “SELECT * FROM level1, level2, level3, level4, level5, level6” dan mengurutkan atribut serta data tersebut sehingga diperoleh 1988 record. Data hasil export tersebut disalin kembali ke dalam

database dengan query “COPY

nama_tabel_tujuan_PostgreSQL FROM ‘direktori/letak_file_csv’ WITH DELIMITER ‘,’ CSV HEADER”. Hal yang sama dilakukan pada tabel sekitar1, sekitar2, sekitar3, dan sekitar4 untuk digabung menjadi tabel sekitarkampus dengan 383 record.

Langkah selanjutnya ialah masuk pada aplikasi GeoServer yang akan digunakan untuk merepresentasikan data PostGIS pada platform web dengan default username admin, password geoserver.

Untuk menjalankan GeoServer di bawah konteks layanan web server yang ada, membutuhkan plug-in servlet untuk web

server-nya seperti Tomcat, dan menginstal

Java versi web archive. Arsitektur

three-tier yang dibangun untuk pembuatan peta

pada GeoServer dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Arsitektur GeoServer sebagai web

(8)

Tahapan pembuatan suatu layer pada GeoServer ini meliputi:

1 Membuat workspace

Workspace merupakan ruang kerja

yang menampung layer-layer yang akan dibuat. Workspace Name yang telah dibuat pada penelitian ini adalah map_ipb, dengan Namespace URI http://sigipb.ac.id, dan dibuat sebagai

default workspace.

2 Melakukan penyimpanan data (store)

Stores merupakan ruang konfigurasi

untuk mengatur penyimpanan data yang tersedia ke dalam GeoServer. Terdapat pilihan konfigurasi berdasarkan sumber data yang dimiliki, yang berupa vektor atau raster. Sumber data yang dimiliki pada penelitian ini berupa data vektor, maka database PostGIS dipilih untuk konfigurasi ini. 3 Membuat layer pada GeoServer

Penelitian ini menggunakan GeoServer versi 2.0.3. Sebelum layer terbentuk, perlu dilakukan konfigurasi data yang disediakan GeoServer pada menu layer guna melengkapi informasi yang dibutuhkan untuk setiap layer.

Informasi tersebut meliputi nama layer, pemilihan nilai sistem referensi koordinat (EPSG:4326), bounding box peta yang di-generate dari data, dan memilih default style. Layer-layer yang terbentuk kemudian dikonversi oleh layanan yang terdapat pada GeoServer menjadi file dengan format XML. File XML inilah yang ketika dilakukan

parsing akan menghasilkan URL

dengan halaman web yang berupa suatu penyajian data dalam bentuk peta. Penelitian ini membangun 9 layer dalam GeoServer, yaitu layer jalan, level1, level2, level3, level4, level5, level6, sekitar fakultas, dan layer semua level fakultas, yang kemudian dari layer tersebut dibuat 7 layer

groups yaitu layer ipb, ipb_level1,

ipb_level2, ipb_level3, ipb_level4, ipb_level5, dan ipb_level6.

4 Menyesuaikan style peta

Untuk menghasilkan suatu layer peta, diperlukan style dari layer yang sesuai dengan tipe layer tersebut (point, line,

polygon atau multipolygon). GeoServer

telah menyediakan default style yang terdapat dalam library-nya dalam format Styled Layer Descriptor (SLD).

File SLD ini merupakan dokumen

XML yang berfungsi mengatur tampilan peta. Layer jalan menggunakan style jalan yang disalin dan diedit dari default style simple_roads, layer level1 hingga

level6 dan semualevel menggunakan

style fakultas yang disalin dan diedit

dari default style polygon, dan layer sekitarfakultas menggunakan style

sekitarfakultas yang juga disalin dan diedit dari default style polygon. Style jalan, fakultas, dan sekitarfakultas dapat dilihat pada Lampiran 4.

5 Melihat hasil peta

Untuk melihat peta sesuai layer yang telah dibuat, pengguna dapat mengakses menu Layer Preview. Peta yang dilihat pada menu tersebut hanya dapat diakses pada GeoServer dan hanya bertujuan menguji tampilan peta yang telah dibuat. Pada penelitian ini, peta diakses melalui client.

5.2 Implementasi Arsitektur dan Proses

Open Geospatial Consortium (OGC)

adalah organisasi standar yang diterima dalam dunia GIS. OGC telah menggariskan serangkaian layanan web yang harus tersedia pada tiap server pemetaan. Semua klien web pemetaan

open source dan tools desktop

mengonsumsi layanan web OGC. Pendistribusian data yang didukung oleh OGC WMS ialah HTTP. HTTP mendukung 2 metode permintaan: GET dan POST. Spesifikasi WMS dasar hanya mendefinisikan HTTP GET untuk memanggil operasi (Kolodziej 2004).

Ada 3 operasi yang didefinisikan oleh spesifikasi WMS, yaitu GetCapabilities,

GetMap, dan GetFeatureInfo. Berikut ini

adalah contoh permintaan WMS, diberikan sebagai permintaan HTTP GET (dengan pergantian baris ditambahkan untuk kejelasan) kepada host GeoServer: http://suite.opengeo.org/geo server/wms? SERVICE=WMS& VERSION=1.3.0& REQUEST=GetMap& LAYERS=usa:states& SRS=EPSG:4326& BBOX=24.956,124.731,49.372,-66.97& FORMAT=image/png& WIDTH=600& HEIGHT=255

(9)

Pada contoh di atas, http://suite.opengeo.org/ ialah

domain GeoServer, geoserver/ ialah directory path, wms? ialah nama script Common Gateway Interface (CGI) yang

memproses permintaan WMS klien. Tanda tanya dikaitkan setelah nama script untuk memisahkannya dari daftar parameter permintaan OGC. Tiap parameter yang tidak bersifat case-sensitive dipisahkan oleh ampersand (&). SERVICE=WMS& merupakan parameter permintaan jenis layanan, VERSION=1.3.0& merupakan detail server, REQUEST=GetMap& merupakan jenis permintaan, LAYERS=usa:states& merupakan nama layer, SRS=EPSG:4326& merupakan proyeksi yang digunakan, BBOX=24.956,-124.731,49.372,-66.97& merupakan bounding box atau koordinat latitude longitude, dan FORMAT=image/png&,

WIDTH=600&, dan HEIGHT=255 merupakan properti gambar.

5.2.1 Mendapatkan GetCapabilities

Permintaan GetCapabilities

mengembalikan tingkat layanan metadata WMS server yang dapat dibaca mesin (dan dapat dibaca manusia), deskripsi dari konten informasi layanan WMS dan parameter permintaan yang dapat diterima. Respon permintaan GetCapabilities adalah informasi umum layanan dan informasi tentang peta yang tersedia berupa dokumen “capabilities”, yakni konfigurasi

file XML yang disediakan pada

permintaan WMS klien. File XML ini berisi metadata tentang WMS server yang mengindikasikan data dan kemampuan.

Server mengirim informasi ini ketika

permintaan sebagai dokumen XML diformat berdasarkan Document Type

Definition (DTD). Bagian yang penting

dari XML WMS capabilities adalah layer dan style. File XML ini diperlukan untuk spesifikasi WMS dan memenuhi

Document Type Definition WMS OGC.

Ketika melakukan permintaan peta, WMS klien menetapkan informasi layer dan style terkait. WMS klien perlu mencari tahu apa yang dapat diminta dari WMS server (mengetahui kemampuan layanan WMS

server). Untuk mencari tahu layer yang

disediakan oleh WMS server dan proyeksi yang didukung, WMS klien membuat permintaan capabilities. Tujuan lain permintaan GetCapabilities adalah untuk

menerangkan layanan GetMap yang disediakan.

Contoh GetCapabilities request dalam implementasi sistem ini ialah http://localhost:8080/geoser ver/wms?request=GetCapabilit ies. Respon permintaan berupa file dengan MIME type yang ditetapkan dalam “text/xml”. Layanan metadata ini memungkinkan WMS klien untuk memformulasikan permintaan yang valid dan memungkinkan konstruksi katalog yang dapat dicari dan mengarahkan WMS klien kepada WMS server tertentu. Operasi GetCapabilities perlu menerima daftar lengkap dari dukungan antarmuka

server dan layer peta yang dapat melayani

respon permintaan antarmuka peta. Operasi GetCapabilities menyediakan WMS klien dari WMS server dengan fungsi sebagai berikut:

 Semua antarmuka yang dapat didukung oleh WMS server.

 Format gambar yang dapat dilayani (GIF, JPEG, PNG).

 Daftar sistem referensi spasial yang tersedia untuk pengiriman data peta dari WMS server.

 Daftar format exception untuk pengembalian exception yang tersedia dari WMS server.

 Daftar kemampuan rinci vendor (properti) yang tersedia untuk modifikasi atau mengatur aksi dari WMS server tertentu.

Daftar satu atau lebih layer peta yang tersedia dari WMS server.

Dukungan WMS server terhadap antarmuka FeatureInfo.

Parameter permintaan yang sesuai dengan OGC dapat dilihat pada Lampiran 5. Skema permintaan GetCapabilities yang sesuai dengan parameter tersebut dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Skema permintaan

(10)

Pada tahap ini diperoleh informasi

layer peta yang telah dimuat dalam

GeoServer dan ditampilkan dalam bentuk

list. Layer list tersebut dapat dipilih sesuai

keinginan pengguna. 5.2.2 Mendapatkan GetMap

Permintaan GetMap mengembalikan gambar peta geospasial dan parameter dimensional. Permintaan GetMap

mengizinkan WMS klien untuk menspesifikasikan layer yang berbeda, sistem referensi spasial (SRS), area geografis, dan parameter lain yang menggambarkan format pengembalian peta. WMS server mengirim peta via HTTP ketika menerima permintaan seperti http://127.0.0.1:8080/geoser ver/wms?SERVICE=WMS&&request =GetMap&service=wms&styles=& layers=ipb_level6&bbox=106.7 14,-6.57333333333333333,106.736, -6.544&SRS=EPSG:4326&width=24 0&height=320&format=image/pn g&exceptions=text/plain&vers ion=1.0.0.

Pada contoh di atas,

127.0.0.1:8080 adalah server hostname yakni localhost dengan optional port number 8080, geoserver/ adalah directory path, wms? Adalah nama script Common Gateway Interface (CGI) yang

memproses permintaan WMS klien. Tanda tanya dikaitkan setelah nama script untuk memisahkannya dari daftar parameter. Parameter dipisahkan oleh ampersand (&). Nama parameter tidak bersifat

case-sensitive.

Keluaran permintaan GetMap adalah peta tunggal yang terkait dengan parameter FORMAT dalam permintaan. Penelitian ini menggunakan permintaan FORMAT=PNG, sehingga objek yang dikembalikan berupa gambar PNG dengan MIME type image/png. Dalam permintaan

non-picture (elemen grafis atau data fitur),

parameter WIDTH, HEIGHT,

TRANSPARENT, dan BGCOLOR tidak relevan. WIDTH dan HEIGHT adalah perintah ketika format keluaran adalah gambar. Format disesuaikan dengan skema yang diberikan OGC dan dapat dilihat pada Gambar 11. Setelah meminta operasi

GetMap, respon dari server adalah peta

sesuai layer yang telah dipilih sebelumnya.

Gambar 11 Skema permintaan GetMap. 5.2.3 Mendapatkan GetFeatureInfo

Permintaan GetFeatureInfo merespon informasi tentang fitur tertentu yang ditunjukkan pada peta. Jika WMS server mendukung operasi ini, query dapat dilakukan dan WMS klien dapat meminta informasi fitur peta dengan menambahkan

parameter tambahan yang

menspesifikasikan lokasi dan jumlah fitur terdekat pada informasi kembalian URL peta. Operasi GetFeatureInfo didesain untuk WMS klien dalam menyediakan informasi fitur pada semua gambar peta yang dikembalikan oleh permintaan

GetMap sebelumnya.

Peta diidentifikasi dengan menyertakan semua informasi dalam permintaan

GetMap. Permintaan GetFeatureInfo

menyimpan muatan permintaan GetMap, dengan menambahkan parameter untuk mendefinisikan layer yang diminta. WMS

server dapat mengembalikan halaman

text/HTML/XML, gambar bahkan

dokumen Word dalam respon permintaan

GetFeatureInfo. Contoh format yang

digunakan untuk mengirim permintaan

GetFeatureInfo dalam penelitian ini ialah

http://127.0.0.1:8080/geoser ver/wms?SERVICE=WMS&&request =GetFeatureInfo&service=wms& styles=&layers=ipb_level6&bb

(11)

ox=106.714,-6.57333333333333333,106.736, -6.544&SRS=EPSG:4326&width=24 0&height=272&format=image/pn g&query_layers=ipb_level6&in fo_format=text/plain&x=120&y =92&feature_count=1&exceptio ns=text/plain&version=1.0.0.

WMS server mengembalikan respon berdasarkan permintaan INFO_FORMAT. Hasil permintaan operasi ini adalah informasi atribut yang terdapat pada peta. Skema permintaan GetFeatureInfo dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12 Skema permintaan

GetFeatureInfo.

5.2.4 Mendapatkan MyLocation

Modul identifikasi posisi pengguna diimplementasikan menggunakan library com.nokia.mid.iapinfo yang disediakan untuk pengembangan aplikasi J2ME pada Symbian Series 60 3rd Edition Feature

Pack 2. Identifikasi lokasi dilakukan

dengan mendapatkan semua access point yang tersedia dari sistem dan menambahkan nama access point ke

daftar. Elemen pertama dalam daftar

access point yang terdeteksi (berupa

SSID) kemudian dikirim ke web server menggunakan protokol HTTP connection dengan method GET untuk mendapatkan informasi lokasi pengguna berdasarkan SSID tersebut.

SSID akan diproses oleh Apache web

server, dalam hal ini aplikasi web PHP,

sebagai lokasi yang dicocokkan dengan essid pada tabel accesspoint dalam

database. Apabila lokasi berupa SSID

yang dikirim oleh client berada pada hasil

query tabel accesspoint dengan

semualevel, maka server merespon informasi berupa kode ruang, nama ruang, level, fakultas, departemen, wing, latitude, dan longitude. Namun apabila pada query tersebut tidak ditemukan lokasi yang sama, maka dilakukan query dengan tabel

accesspoint dan sekitarkampus sehingga

menghasilkan informasi berupa nama bangunan, latitude, dan longitude.

5.3 Implementasi Antarmuka

Implementasi antarmuka pertama kali sistem dijalankan, yakni antarmuka

request GetCapabilities, dengan

antarmuka bagian judul berisi GeoServer, bagian layar utama berupa TextField.URL, bagian menu terdiri atas objek Command

Go dan Exit, dapat dilihat pada Gambar

13.

Gambar 13 Antarmuka request

GetCapabilities dalam TextField.

Setelah permintaan URL dikirim ke GeoServer dengan menekan menu Go, antarmuka selanjutnya adalah daftar layer (list) hasil respon GeoServer, yang dapat

(12)

dilihat pada Gambar 14. List adalah objek layar berisi sejumlah data yang bisa dipilih. Jenis List yang digunakan ialah

Choice.MULTIPLE. Pengguna dapat

memilih layer yang diinginkan untuk mendapatkan peta, atau tidak ada layer yang dipilih.

Gambar 14 Antarmuka daftar layer peta dalam multiple choice.

Antarmuka peta diperoleh setelah menandai layer dan menu Get Map dipilih. Gambar peta yang dikirim oleh GeoServer ditampilkan pada bidang gambar (Canvas). Class Canvas didefinisikan sebagai class abstrak sehingga tidak bisa membuat objek langsung dari Canvas untuk digunakan dalam program. Untuk menggunakan class ini, harus dibuat class turunan dari class ini kemudian membuat objek dari class turunan ini. Di dalam

class baru inilah dibuat instruksi

penggambaran, lalu diinstansiasi menjadi objek yang akan menjadi antarmuka. Class

Canvas memiliki method paint() yang

harus di-override oleh class turunannya dan mengisinya dengan instruksi untuk melakukan penggambaran objek visual peta. Jika pengguna memilih menu Back, maka antarmuka kembali seperti pada Gambar 13. Sedangkan antarmuka peta dapat dilihat pada Gambar 15.

Skala, informasi longitude dan latitude, serta kursor ditampilkan pada gambar peta di bagian bawah kiri dan bawah kanan. Pada antarmuka tersebut, terdapat pilihan

screen menu yang dapat dilihat pada

Gambar 16. Objek Command pada menu tersebut terdiri atas Zoom in, Zoom out,

GetFeatureInfo, MyLocation, Refresh,

Reset view, dan Back. Untuk memberitahu

sistem bahwa telah terjadi penekanan terhadap keypad, maka class MIDlet tempat objek Command itu berada harus mengimplementasikan interface CommandListener.

Gambar 15 Antarmuka peta IPB.

Gambar 16 Antarmuka screen menu. Setelah menggunakan interface

tersebut, di dalam class MIDlet harus disebutkan objek yang akan merespon penekanan objek Command. Method

setCommandListener() digunakan untuk

memasang objek Command ke dalam objek antarmuka. Konsekuensi penggunaan interface CommandListener ialah harus menulis method

commandAction() yang berisi daftar

perintah yang akan dikerjakan jika objek

Gambar

Gambar 5  Perancangan logis database.
Gambar 6  Arsitektur sistem.
Gambar 8  Perancangan antarmuka.
Gambar 10  Skema permintaan  GetCapabilities.
+4

Referensi

Dokumen terkait