• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOGI CTG Buku Acuan, JJE 20130115.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOGI CTG Buku Acuan, JJE 20130115.pdf"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

I. Latar Belakang Kardiotokografi (KTG)

Bagian ini menjelaskan definisi KTG sebagai alat pemantauan kesejahteraan janin melalui penilaian denyut jantung janin (DJJ), kontraksi uterus, dan gerak janin. Kesejahteraan janin dikaitkan dengan oksigenasi, pertumbuhan, kesehatan ibu, dan volume cairan amnion. Pemantauan kesejahteraan janin (PKJ) diangkat sebagai hal krusial dalam pengawasan antenatal dan persalinan. Dipaparkan pula pentingnya persiapan pra-konsepsi dan data epidemiologis yang menunjukkan rendahnya deteksi kasus serebral palsi akibat gangguan intrapartum karena kesalahan interpretasi KTG. Ini menekankan urgensi pelatihan dan standarisasi interpretasi KTG untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas perinatal di Indonesia, yang masih tinggi dibandingkan negara maju. Terakhir, pasal 7b KODEKI dihubungkan dengan perlunya peningkatan kompetensi dokter melalui P2KB.

II. Tujuan Umum dan Khusus Pelatihan Kardiotokografi

Tujuan umum pelatihan adalah agar peserta didik mampu melakukan pemeriksaan KTG dengan baik dan benar. Tujuan khusus meliputi pemahaman konsep dasar PKJ, indikasi pemeriksaan KTG, persiapan pemeriksaan (pasien, peralatan, dan pemeriksa), dasar fisiologi kesejahteraan janin dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, batasan definisi dalam KTG, pelaksanaan pemeriksaan, interpretasi hasil dan pembuatan laporan KTG, tatalaksana pasien berdasarkan hasil KTG, serta pemahaman masalah etika dan medikolegal terkait pemeriksaan KTG. Daftar tujuan khusus ini memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk modul pelatihan, memastikan cakupan seluruh aspek penting dalam penggunaan dan interpretasi KTG.

III. Konsep Dasar Pemantauan Kesejahteraan Janin (PKJ)

Bagian ini membahas PKJ sebagai bagian penting dalam penatalaksanaan kehamilan dan persalinan. Dikaitkan dengan kemajuan teknologi yang belum merata di Indonesia karena keterbatasan SDM dan biaya. Diuraikan faktor internal (janin, plasenta, cairan ketuban, umbilikus, uterus) dan eksternal (kesehatan ibu, lingkungan) yang mempengaruhi keadaan janin. Ditegaskan perlunya kompetensi tenaga kesehatan dan perawatan peralatan yang baik. Gambar 2 yang menjelaskan konsep dasar PKJ dengan faktor internal dan eksternal menjadi visualisasi yang kuat untuk pemahaman konsep ini. Pentingnya P2KB dan kepustakaan terkait PKJ juga diungkapakan.

IV. Indikasi Pemeriksaan Kardiotokografi

Bagian ini menjelaskan berbagai kondisi yang memerlukan pemantauan dengan KTG karena peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas perinatal. Kondisi-kondisi tersebut meliputi pertumbuhan janin terhambat (PJT), penurunan gerakan janin, kehamilan post-term, preeklampsia/hipertensi kronik, diabetes melitus, ketuban pecah prematur, dan dugaan solusio plasentae. Pentingnya identifikasi pasien berisiko tinggi insufisiensi uteroplasenta dan konsekuensi kegagalan dalam mengenali faktor risiko ditekankan untuk meningkatkan kewaspadaan klinis.

V. Persiapan Pemeriksaan KTG

Bagian ini menjelaskan persiapan pemeriksaan KTG yang meliputi persiapan pasien (identitas, indikasi, penjelasan prosedur), persiapan peralatan (kalibrasi, konektivitas, fungsi bel), dan persiapan pemeriksa (pemeriksaan ulang identitas pasien, kesiapan peralatan, pengukuran tekanan darah, komunikasi dengan pasien). Penjelasan detail tentang setiap persiapan ini memastikan akurasi dan meminimalkan kesalahan dalam pemeriksaan. Penggunaan bel vibroakustik sebagai alternatif untuk merangsang aktivitas janin juga disebut sebagai pilihan yang ideal.

VI. Dasar Fisiologi Kesejahteraan Janin dan Faktor yang Memengaruhinya

Bagian ini menjelaskan fisiologi sirkulasi uteroplasenta, menggambarkan bagaimana tekanan darah rata-rata (MAP) arteri uterina, tekanan dalam miometrium, dan tekanan dalam cairan amnion mempengaruhi aliran darah. Gambar 3, 4, dan 5 yang menampilkan sirkulasi utero-plasenta di luar dan saat kontraksi uterus serta potongan melintang uterus gravidus menjadi poin penting untuk visualisasi. Faktor-faktor seperti posisi ibu, aktivitas fisik, kontraksi uterus, luas permukaan plasenta, anestesi, hipertensi, dan jarak difusi dijelaskan sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi aliran darah ke uterus.

VII. Mekanisme Pengaturan Denyut Jantung Janin (DJJ)

Bagian ini menjelaskan mekanisme pengaturan DJJ yang melibatkan sistem saraf simpatis dan parasimpatis, baroreseptor, kemoreseptor, susunan saraf pusat (SSP), sistem hormonal, dan sistem kompleks proprioseptor. Setiap sistem dijelaskan secara detail, dengan penekanan pada bagaimana setiap sistem berkontribusi pada pengaturan frekuensi DJJ. Gambar 6, 7, dan 8 yang menunjukkan baroreseptor dan kemoreseptor serta faktor-faktor yang mempengaruhi DJJ dan hubungan gerak janin dengan akselerasi DJJ menjadi ilustrasi penting.

VIII. Batasan (Definisi) yang Dipergunakan dalam KTG

Bagian ini memberikan batasan-batasan yang digunakan dalam interpretasi KTG, termasuk definisi kontraksi uterus (normal dan takhisistol), frekuensi dasar DJJ, bradikardia, takhikardia, variabilitas (jangka pendek dan panjang), akselerasi, deselerasi (dini, lambat, variabel, dan lama), dan pola disfungsi SSP (datar, tumpul, frekuensi dasar tidak stabil, overshoot, sinusoidal, dan check mark). Gambar 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, dan 21 yang menampilkan visualisasi berbagai kondisi ini sangat krusial untuk pemahaman.

IX. Pemeriksaan, Interpretasi Hasil, dan Pembuatan Laporan KTG

Bagian ini membandingkan metode pemantauan kesejahteraan janin sederhana (anamnesis, pemantauan gerak janin, pengukuran tinggi fundus uteri, pemantauan DJJ) dengan metode canggih (USG, KTG, profil biofisik, analisa gas darah). Fokus utama pada KTG, menekankan pentingnya perawatan peralatan dan pelatihan interpretasi. Gambar 22 menunjukkan posisi pasien yang tepat selama pemeriksaan. Syarat pemeriksaan KTG juga dijelaskan, diikuti oleh penjelasan tiga kategori interpretasi DJJ menurut NICHD (Kategori I, II, dan III) dengan deskripsi detail setiap kategori. Formulir laporan KTG dan penuntun pengisiannya disertakan untuk standarisasi.

X. Tatalaksana Pasien Berdasarkan Hasil Pemeriksaan KTG

Bagian ini menjelaskan penatalaksanaan kehamilan dan persalinan berdasarkan hasil KTG, yang harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan fasilitas yang tersedia. Pentingnya algoritma tatalaksana berdasarkan status antenatal dan persalinan, serta faktor-faktor seperti usia gestasi, taksiran berat janin, indeks cairan amnion, dan Doppler sirkulasi janin ditekankan. Dokumentasi KTG yang dianjurkan oleh RCOG juga dibahas. Strategi tindak lanjut hasil pemantauan, termasuk pilihan penanganan di tempat kerja, rujukan, peningkatan fasilitas, peningkatan SDM, dan edukasi masyarakat diuraikan.

XI. Masalah Etika dan Medikolegal Terkait Pemeriksaan KTG

Bagian ini membahas aspek etika dan medikolegal dalam pemeriksaan KTG, menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara dokter-pasien dan rumah sakit-pasien dengan mengutamakan keselamatan pasien. Pasal 7a dan 12 KODEKI (2002) dikaitkan dengan kompetensi dokter, kerahasiaan pasien, dan pelayanan medis yang kompeten. Aspek medikolegal meliputi akurasi pemeriksaan, penatalaksanaan, dan kelengkapan rekam medis. Penyimpanan hasil KTG minimal 5 tahun juga diwajibkan. Pasal 2 KODEKI dikaitkan dengan kewajiban P2KB bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan.

XII. Simpulan dan Kepustakaan

Bagian ini menyimpulkan poin-poin penting dari makalah, menekankan pentingnya pemantauan kesejahteraan janin sejak trimester pertama, penggunaan metode pemantauan yang akurat dan memadai, kombinasi KTG dengan pemantauan lain, pemahaman anatomi, fisiologi, dan patofisiologi, penggunaan alat bantu diagnostik lain, dan penyimpanan hasil KTG selama 25 tahun untuk berbagai keperluan. Daftar kepustakaan yang lengkap disertakan.

Gambar

Gambar 1. Persiapan pra konsepsi, asuhan antenatal hingga masa neonatus
Gambar  2. Konsep dasar PKJ, keadaan janin dipengaruhi oleh faktor eksternal  dan internal
Gambar  3. Sirkulasi utero-plasenta di luar kontraksi uterus
Gambar  5. Potongan melintang uterus gravidus. Uterus menekan pembuluh  darah besar disamping vertebra sehingga terjadi oklusi aliran darah  (Sumber
+7

Referensi

Dokumen terkait