Ketentuan ‘iddah bagi wanita yang ditalak setelah rujuk dan belum pernah digauli selama rujuknya : studi analisis pendapat Imam al-Māwardī
Teks penuh
Gambar
Garis besar
Dokumen terkait
Para ulama‟ madzhab sepakat bahwa wanita yang ditalak sebelum dicampuri dan sebelum melakukan khalwat, tidak mempunyai iddah. Hanafi, Maliki, dan Hambali mengatakan
Sedangkan dalam al-quran, hadis maupun ijma‟ tidak ditemukan ketentuan yang menerangkan tentang masa „iddah yang harus dijalani wanita yang mengajukan khulu‟, oleh
Madzhab Hanafi menyatakan bahwa seorang istri yang belum haid ketika ditalak oleh suaminya baik istri tersebut ditalak hidup atau talak mati maka wajib menjalani masa
D alil pendukung dari pendapat Imam Syafi’i tersebut adalah riwayat hadis, dimana Abu Hurairah yang berselisih pendapat dengan Ibnu Abbas mengenai seorang wanita
Jika pendapat Imam Malik tentang kesunahan memberikan mut‟ah dikembalikan kepada metode Istinbat yang dipedomaninya dalam memutuskan hukum, maka diasumsikan bahwa
Perbedaan pendapat antara Imam al-Kasani dan Imam al-Imroni mengenai talak yang dilakukan melalui pesan tertulis menurut penulis pendapat yang paling kuat ialah
Dari penelaahan literatur tersebut akan diperoleh data-data yang dikehendaki berupa fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i tentang hak rujuk dalam nikah beserta hal-hal yang
Pendapat ulama’ Hanabillah tentang iddah wanita hamil akibat zina adalah dilatar belakangi oleh masalah dalam hal iddah itu bukan pada kehamilan yang menimbulkan nasab