• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Breastfeeding Self-efficacy pada Ibu Post Sectio Caesarea di RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Breastfeeding Self-efficacy pada Ibu Post Sectio Caesarea di RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Breastfeeding Self-efficacy pada

Ibu Post Sectio Caesarea di RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali

Febriana Lukita Wulandari

1)

, Anita Istiningtyas*

2)

, Ari Pebru Nurlaily

3)

1) Mahasiswi Program Studi Keperawatan Program Sarjana Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta

2) Dosen Program Studi Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta

3) Dosen Program Studi Keperawatan Diploma Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta

E-mail : 1) [email protected]

ABSTRAK

Ibu yang bersalin dengan metode SC memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi

dibandingkan ibu yang bersalin pervaginam, dimana semakin tinggi tingat nyeri maka

semakin tinggi tingkat kecemasan. Salah satu faktor yang dapat menghambat produksi

ASI adalah faktor psikologis ibu. Breastfeeding self-efficacy merupakan faktor yang dapat

mempengaruhi proses menyusui dan tercapainya keberhasilan ASI eksklusif. Tujuan

penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan breastfeeding

self-efficacy pada ibu post SC di RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali. Jenis penelitian ini adalah

deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional, jumlah sampel sebanyak 59 ibu

post SC dengan menggunakan metode quota sampling. Penelitian ini dilakukan di RSU

Asy-Syifa Sambi Boyolali pada bulan Juli 2020, diukur menggunakan kuesioner HARS

dan BSES-SF lalu di analisis menggunakan uji statistik kendall tau. Hasil penelitian

diketahui rata-rata responden mengalami tingkat kecemasan ringan dan tingkat efikasi

diri menyusui sedang. Uji statistik kendall tau diketahui nilai p-value sebesar 0,000 < α

(0,05) dengan nilai korelasi – 0,466 (arah korelasi negatif). Kesimpulan penelitian ini

yaitu terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan breastfeeding self-efficacy pada

ibu SC di RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali, kekuatan korelasi sedang, arah korelasi negatif

yang berarti semakin tinggi tingkat kecemasan maka semakin rendah tingkat

breastfeeding self-efficacy begitu juga sebaliknya. Saran bagi tenaga kesehatan agar

memperhatikan dampak psikologis ibu post SC yang selanjutnya dapat diterapkan

intervensi non-farmakologi sehingga kecemasan dapat teratasi dan efikasi diri dalam

menyusui meningkat.

Kata kunci : Breastfeeding self-efficacy, kecemasan, post sectio caesarea.

Daftar pustaka : 51 (2009-2019)

(2)

2

ABSTRACT

Maternal delivery by cesarean section method has a higher level of anxiety than

vaginal delivery where the higher the level of pain, the higher the level of anxiety. One of

the factors restraining breast milk production is the mother's psychological factor.

Breastfeeding self-efficacy is a factor that influences the breastfeeding process and the

success of exclusive breastfeeding. The purpose of the study was to identify the

relationship between anxiety levels and breastfeeding self-efficacy in post-cesarean

section mothers at Asy-Syifa Hospital of Sambi, Boyolali. This research adopted

descriptive correlative with a cross-sectional approach. Quota sampling method was used

to determine its samples which consisted of 59 post-cesarean section. The study was

conducted in July 2020 at the Asy-Syifa Hospital of Sambi, Boyolali. The measurements

applied the HARS and BSES-SF questionnaires then analyzed them by Kendall's tau

statistical test. The result showed that the average respondent had mild anxiety and

moderate breastfeeding self-efficacy. The Kendall's Tau statistical test obtained a p-value

of 0.000 <α (0.05) with a correlation value of - 0.466 (negative correlation direction).

This study concludes that there is a relationship between the anxiety level and

breastfeeding self-efficacy in the cesarean section at Asy-Syifa Hospital Sambi Boyolali,

the strength of the correlation is moderate, and the negative correlation direction. It

implies that the higher the level of anxiety, the lower the level of breastfeeding

self-efficacy and vice versa. Suggestions for health workers to pay attention to the

psychological impact of post-cesarean section mothers. It can then be applied to

non-pharmacological interventions to handle anxiety and increase self-efficacy in

breastfeeding.

Keywords:

Breastfeeding self-efficacy, anxiety, post-cesarean section

Bibliography :

51 (2009-2019)

PENDAHULUAN

Melahirkan merupakan proses

akhir dari serangkaian kehamilan, ada

dua cara persalinan yaitu persalinan

spontan atau alami dan persalinan

dengan sectio caesarea, persalinan

sectio caesarea adalah lahirnya janin,

plasenta dan selaput ketuban melalui

irisan yang dibuat pada dinding perut

dan rahim (Kasdu, 2013). Faktor-faktor

dilakukan SC diantaranya berkaitan

dengan perubahan teknologi, sosial dan

faktor

dari ibu dan janin

yang

(3)

3

mempunyai indikasi untuk dilakukan SC

maupun permintaan dari ibu.

WHO

(World

Health

Organization) (2015), menempatkan

standar rata-rata sectio caesarea di

sebuah negara sekitar 5-15% per 1000

kelahiran di dunia, di negara-negara

maju frekuensi SC berkisar anata

1,5-7%,

sedangkan

di

negara-negara

berkembang berkisar 21,2% dari total

kelahiran. Angka kejadian bedah sectio

caesarea di Indonesia pada perempuan

umur 10-54 tahun sebesar 17,6% dari

78.736 kelahiran, sementara jumlah

persalinan SC di Jawa Tengah sebesar

17,1% dari 9.291 (Riskesdas, 2018).

Komplikasi post SC yang terjadi

pada ibu seperti nyeri pada daerah insisi,

nyeri punggung, potensi terjadinya

thrombosis,

potensi

terjadinya

penurunan

kemampuan

fungsional,

penurunan elastisitas otot perut dan otot

dasar

panggul,

perdarahan,

luka

kandung kemih, infeksi, bengkak pada

ekstremitas bawah, dan gangguan laktasi

(Putri,

2015).

Beberapa

penelitian

menyimpulkan bahwa proses melahirkan

dengan

operasi

caesarea

akan

menghambat terbentuknya produksi dan

pengeluaran ASI, terutama jika ibu

mendapatkan obat-obatan penghilang

rasa sakit sebelum operasi dapat

menyebabkan tidak responsif untuk

menyusui (Kristiyansari, 2019)

Menurut Komalasari dkk (2016),

selain

berasal

dari

faktor

fisik,

terhambatnya produksi ASI juga dapat

dipengaruhi oleh faktor psikologis ibu.

Ibu yang merasa produksi ASI nya

kurang,

cenderung

memiliki

kepercayaan diri yang rendah dalam

menyusui. Secara umum, efikasi diri

adalah penilaian mengenai seberapa

besar kemampuan seseorang dalam

mengerjakan suatu tugas tertentu untuk

mencapai hasil tertentu (Muaningsih,

2014).

Menurut

Bowles

(2011),

menjelaskan

efikasi diri

menyusui

(Breastfeeding

self-efficacy)

adalah

kepercayaan yang dimiliki ibu dalam

kemampuannya

untuk

menyusui

bayinya.

Breastfeeding

self-efficacy

mempengaruhi

insiasi

menyusui,

tercapainya komitmen ibu terhadap

pemberian ASI eksklusif dan durasi

menyusui, dimana semakin tinggi

self-efficacy maka semakin tinggi pula

tingkat keberhasilan ASI eksklusif pada

ibu post portum (Vincent, 2015).

Menurut data dari WHO (2016),

cakupan ASI eksklusif di seluruh dunia

sekitar 36% selama periode 2017-2014,

cakupan ASI eksklusif di negara

ASEAN seperti India mencapai 46%, di

Philipina 34%, dan di Myanmar 24%.

Menurut Profil Kesehatan Indonesia

(2018), secara nasional cakupan ASI

(4)

4

eksklusif tahun 2018 yaitu 68,74%,

sementara

presentase

cakupan

pemberian ASI eksklusif di Provinsi

Jawa Tengah adalah 45,21%. Menurut

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah

(2017),

cakupan

pemberian

ASI

eksklusif di Kabupaten Boyolali 58,30

%

dari

4.435

bayi.

Berdasarkan

penelitian yang telah dilakukan oleh

Komalasari (2016), lebih dari setengah

ibu post SC di RSKIA Kota Bandung

memiliki self-efficacy yang rendah.

Berdasarkan penelitian Britton

(2017),

menyatakan

bahwa

ibu

menyusui dengan tingkat breastfeeding

self-efficacy yang tinggi berdampak baik

pada dimensi individu konsep diri,

perilaku, nilai moral, nilai sebagai

anggota keluarga dan penampilan fisik,

sedangkan dampak breastfeeding

self-efficacy rendah terbukti cenderung

menggunakan teknik alternatif untuk

menyusui bayinya ketika menghadapi

masalah selama menyusui, , seperti

memberikan

susu

formula

ketika

menghadapi masalah ketika menyusui.

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

breastfeeding

self-efficacy

menurut

Forster (2011) adalah indeks massa

tubuh

yang

tinggi,

depresi,

dan

kecemasan ibu. Tingkat kecemasan pada

ibu sectio caesarea disebabkan oleh

nyeri luka setelah operasi, semakin

tinggi tingkat nyeri yang dialami oleh

pasien maka semakin tinggi tingkat

kecemasan pasien tersebut sehingga

dapat

mengganggu

pengeluaran

oksitoksin dalam merangsang reflek

aliran

ASI

dan

efek

anastesi

(Desmawati,

2010).

Berdasarkan

penelitian

yang

dilakukan

dari

Mudhawaroh (2017) di RSUD Jombang

didapatkan bahwa sebagian besar dari

responden memiliki kecemasan ringan

sejumlah

26

responden

(70,3%),

sedangkan berdasarkan penelitian yang

dilakukan oleh Mulazim (2016) di

Detasemen Kesehatan Rumah Sakit TK

IV 05.07.02 Kediri didapatkan bahwa

sebagian besar ibu post SC termasuk

dalam

kategori

kingan

sampai

kecemasan sedang (64,71%).

RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali

merupakan rumah sakit umum pilihan

masyarakat sekitar untuk melakukan

persalinan serta sebagai rumah sakit

rujukan untuk melahirkan dengan teknik

SC. Berdasarkan studi pendahuluan

yang

telah

dilakukan

peneliti,

didapatkan data dari Instalasi Rekam

Medis RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali

bahwa prevalensi ibu yang melahirkan

menggunakan teknik sectio caesarea

dalam rentang waktu 3 bulan terakhir

sejak bulan Maret sampai Mei 2020

adalah 210 pasien.

Berdasarkan

wawancara

yang

telah dilakukan oleh peneliti dengan

(5)

5

salah satu perawat yang bekerja di

bangsal Anggrek dan bangsal Cendana

RSU

Asy-Syifa

Sambi

Boyolali

mengatakan sebagian besar ibu post SC

mengalami tingkat kecemasan ringan

sampai kecemasan sedang, dimana ibu

post SC masih tampak gelisah, masih

merasa was-was dan takut untuk

melakukan hal-hal baru seperti miring

kanan/kiri karena takut jahitan lepas

sedangkan untuk tingkat breastfeeding

self-efficacy pada ibu post SC berada

pada tingkat self-efficcay sedang sampai

rendah baik dari segi teknik menyusui

ataupun intrapersonal ibu, hal ini

terbukti dari ibu yang kesulitan untuk

menyusui bayinya karena sulit untuk

memposisikan bayinya ketika menyusui

bayinya

cenderung

akan

langsung

beralih ke susu formula.

Tujuan

umum

Untuk

menganalisis

hubungan

tingkat

kecemasan dengan breastfeeding

self-efficacy pada ibu post sectio caesarea di

RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali.

Tujuan khusus dalam penelitian

ini adalah : 1) Untuk mengidentifikasi

karakeristik responden berdasarkan usia,

pekerjaan,

paritas

dan

pendidikan

terakhir pada ibu post SC di ruang

perawatan postpartum RSU Asy-Syifa

Sambi

Boyolali

2)

Untuk

mengidentifikasi

tingkat

kecemasan

pada ibu post sectio caesarea 3) Untuk

mengidentifikasi

breastfeeding

self-efficacy pada ibu post sectio caesarea 4)

Untuk menganalisis hubungan tingkat

kecemasan dengan breastfeeding

self-efficacy pada ibu post sectio caesarea.

Penelitian ini diharapkan dapat

menambah wawasan ibu post sectio

caesarea mengenai faktor-faktor yang

dapat mempengaruhi breastfeeding

self-efficacy serta dapat digunakan sebagai

bahan acuan dengan metode penelitian

mengenai intervensi non-farmakologi

yang dapat digunakan untuk mengatasi

kecemasan pada ibu post SC sehingga

tingkat efikasi dalam menyusui dapat

meningkat.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada

bulan Juli 2020 di bangsal Cendana dan

Anggrek

RSU

Asy-Syifa

Sambi

Boyolali. Penelitian ini merupakan jenis

penelitian kuantitatif dengan desain

deskriptif korelatif dan menggunakan

pendekatan

cross-sectional.

Pengambilan

sampel

menggunakan

teknik non probability sampling dengan

metode quota sampling dan didapatkan

sampel 59 responden.

Penelitian

ini termasuk

data

parametik (numerik) dengan kedua

variabel berskala data rasio. Syarat uji

statistik dengan skala data keduanya

numerik adalah harus dilakukan uji

(6)

6

normalitas untuk mengetahui sebaran

distribusi suatu data apakah normal atau

tidak. Uji normalitas data berupa uji

kolmogorov-smirnov

lalu

dianalisis

menggunakan uji statistik kendall tau.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden :

Usia

Tabel 1. Karakeristik Responden

Berdasarkan Usia (n=59)

Usia

F

%

< 20 tahun

1

1,7

20 – 35 tahun

46

78,0

> 35 tahun

12

20,3

Jumlah

59

100,0

Berdasarkan tabel 1. diatas dapat

diketahui

bahwa

mayoritas

usia

responden yaitu usia 20 sampai 35 tahun

dengan frekuensi 46 responden (78,0%),

sehingga termasuk klasifikasi usia ibu

tidak beresiko tinggi untuk melahirkan.

Berdasarkan penelitian Yunita

(2013), seorang wanita berumur 20 - 35

tahun sudah dianggap siap secara fisik

dan psikologis untuk melahirkan dan

merawat anak. Karena pada umur seperti

itu tingkat kedewasaan, cara berfikir dan

berprilaku

juga

akan

mengalami

peningkatan

seiring

dengan

bertambahnya umur. Usia berpengaruh

terhadap

efikasi

diri

seseorang,

mayoritas ibu dengan usia 20 sampai 35

tahun memiliki efikasi tinggi dan

memberikan ASI eksklusif, karena pada

usia itu ibu memiliki kemampuan laktasi

yang lebih baik dibanding dengan ibu

yang berumur lebih dari 35 tahun

(Cahyani, 2012).

Menurut asumsi peneliti usia

mempunyai

pengaruh

terhadap

kecemasan,

usia

responden

dalam

penelitian ini merupakan usia yang baik

untuk reproduksi sehingga fisik maupun

psikologisnya sudah matang, semakin

tua usia individu maka pengalaman

dalam

mengatasi

stressor

semakin

banyak dalam menghadapi kecemasan

sehingga keyakinan dalam diri ibu untuk

menyusui pun akan meningkat

Jenis Pekerjaan

Tabel 2. Karakteristik Responden

Berdasarkan Jenis Pekerjaan (n=59)

Pekerjaan

F

%

IRT

33

55,9

Buruh

10

16,9

PNS

2

3,4

Petani

2

3,4

Wiraswasta

12

20,3

Jumlah

59

100,0

Tabel 2. menunjukkan bahwa

mayoritas responden adalah IRT (Ibu

Rumah Tangga) sebanyak 33 responden

(55,9%).

Berdasarkan penelitian penelitian

dari Indriani (2011), IRT mempunyai

tingkat

kecemasan

ataupun

gejala

depresi yang lebih tinggi dibandingkan

ibu yang bekerja diluar walau hanya

bekerja part time, hal ini disebabkan

karena seorang ibu rumah tangga harus

(7)

7

terisolasi dari lingkungan diluar rumah

ketika melakukan pekerjaan rumah

tangganya. Melakukan kegiatan yang

monoton yang dilakukan di dalam

rumah sehari-hari dalam waktu yang

berkepanjangan dapat meningkatkan

risiko terjadinya kecemasan dan mampu

mempengaruhi fungsi yang baik sebagai

seorang IRT. Berdasarkan penelitian

Lestari (2013), walaupun ibu yang tidak

bekerja

memungkinkan

untuk

memberikan

ASI

eksklusif

pada

bayinya,

namun

pemberian

ASI

eksklusif tidak bisa didasarkan hanya

dengan melihat waktu luang yang

dimiliki oleh seorang ibu, karena ibu

yang

tidak

bekerja

belum

tentu

menjamin ibu memiliki banyak waktu

bersama bayinya.

Menurut asumsi peneliti, terdapat

hubungan antara jenis pekerjaan dengan

kecemasan dan efikasi diri dalam

menyusui,

IRT

memiliki

tingkat

kecemasan yang lebih tinggi daripada

ibu yang bekerja diluar rumah hal ini

karena IRT jarang bersosialisasi dengan

lingkungan luar sehingga lebih mudah

mengalami kecemasan karena kegiatan

yang monoton. IRT memungkinkan

memiliki tingkat efikasi dalam menyusui

lebih baik daripada ibu yang bekerja

karena lebih bisa fokus dan secara terus

menerus bersama bayinya.

Paritas

Tabel 3. Karakteristik Responden

Berdasarkan Jumlah Paritas (n=59)

Jumlah Paritas

F

%

Primipara

26

44,1

Multipara

33

55,9

Jumlah

59

100,0

Tabel 3. menunjukkan bahwa

mayoritas responden berdasarkan jumlah

paritas adalah ibu multipara sebanyak 33

responden (55,9%).

Terdapat hubungan antara jumlah

paritas dengan kecemasan ibu, hal ini

disebabkan oleh pengalaman persalinan

terdahulu yang kurang menyenangkan

serta pengalaman persalinan yang tidak

normal yang dialami ibu (Lili, 2014).

Paritas merupakan faktor pendorong ibu

untuk tetap memberikan ASI kepada

bayinya.

Para

ibu

yang

pernah

mempunyai pengalaman melahirkan dan

memberikan ASI eksklusif sebelumnya

cenderung untuk memberikan ASI

daripada memberikan susu formula pada

bayinya (Andini, 2016).

Menurut asumsi peneliti, jumlah

paritas dapat mempengaruhi kecemasan

maupun tingkat efikasi diri menyusui

ibu, hal ini sesuai pernyataan dari

responden yang mengatakan bahwa

melahirkan dengan operasi sesar yang

kedua kalinya akan lebih terasa lebih

sakit, dimana semakin tinggi tingkat

nyeri maka akan semakin tinggi tingkat

kecemasan. Ibu multipara mungkin lebih

(8)

8

memiliki keyakinan diri menyusui yang

lebih baik daripada ibu primipara,

dikarenakan

ibu

multipara

telah

mendapatkan pengalaman atau belajar

dari pengalaman menyusui terdahulu.

Pendidikan Terakhir

Tabel 4. Karakteristik Responden

Berdasarkan Pendidikan Terakhir

(n=59)

Tabel 4. menunjukkan bahwa

mayoritas pendidikan terakhir responden

adalah

SMA

dengan

jumlah

31

responden (52,5%).

Pendidikan berpengaruh terhadap

tingkat kecemasan seseorang dimana

semakin tinggi tingkat pendidikan maka

makin

banyak

pengetahuan

yang

dimiliki dan makin mudah proses

penerimaan terhadap informasi sehingga

semakin rendah tingkat kecemasannya,

karena tingkat pendidikan yang tinggi

pada seseorang akan membentuk pola

yang

adaktif

terhadap

kecemasan

(Hidayat, 2014). Menurut Cahyani

(2012),

pendidikan

berpengaruh

terhadap pengetahuan ibu menyusui

karena

semakin

tinggi

tingkat

pendidikan maka semakin membuat ibu

yakin

dalam

menyusui

sehingga

mendorong keinginan ibu memberikan

ASI eksklusif pada bayinya.

Tingkat Kecemasan pada Ibu Post SC

di RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali

Tabel 5. Tingkat Kecemasan pada Ibu

Post SC (n=59)

Variabel

Penilaian

Min Max Mean SD Median

Tingkat

Kecemas

an

8 26 18,20

4,8

13

18

Berdasarkan tabel. 5. didapatkan

hasil skor rata-rata tingkat kecemasan

ibu post SC adalah 18,20, sehingga

rata-rata responden mengalami kecemasan

ringan. Skor minimal tingkat kecemasan

adalah 8 dan skor maksimal tingkat

kecemasan responden adalah 26, tingkat

kecemasan ringan dihubungkan dengan

ketegangan dalam kehidupan sehari-hari

yang menyebabkan seseorang lebih

waspada serta meningkatkan ruang

persepsinya,

kecemasan

ini

dapat

memotivasi belajar dan menghasilkan

pertumbuhan

serta

kreativitas,

manifestasi yang muncul pada tingkat

ini adalah kelelahan, iritabel, lapang

persepsi meningkat, kesadaran tinggi,

mampu

untuk

belajar,

motivasi

meningkat dan tingkah laku sesuai

situasi dan masih dianggap wajar,

berbeda dengan kecemasan sedang

ataupun

kecemasan

berat

dimana

seseorang dengan kecemasan sedang

Pendidikan

Terakhir

F

%

SD

2

3,4

SMP

16

27,1

SMA

31

52,5

S1

10

16,9

Jumlah

59

100,0

(9)

9

akan lebih fokus berpikir pada suatu

masalah yang dihadapi namun tetap

dapat dapat menjalani aktifitas lainnya.

Kecemasan disebabkan oleh beberapa

faktor antara lain yaitu rasa cemas yang

timbul akibat adanya bahaya yang

mengancam dirinya (Rochman, 2010).

Pernyaatan dari beberapa responden

menyatakan bahwa walaupun ibu sudah

merasa lega karena operasi sudah selesai

dan sudah bisa bertemu dengan bayinya

akan tetapi rasa nyeri di daerah luka

operasi dan rasa was-was karena takut

jahitan lepas itu masih muncul. Hal ini

dudukung oleh penelitian Page (2018)

yang menyatakan bahwa kondisi ibu

post SC yang gelisah, perasaan yang

tidak nyaman diakibatkan oleh nyeri

atau ngilu perut ibu akibat dari luka

operasi.

Tingkat Breastfeeding Self-efficacy

pada Post SC di RSU Asy-Syifa Sambi

Boyolali

Tabel 6. Tingkat Breastfeeding

Self-efficacy Ibu Post SC (n=59)

Varia

bel

Penilaian

Min Max Mean SD Median

BSE 15

62

40,97

10,4

47

41,00

Tabel 6. menunjukkan bahwa skor

rata-rata breastfeeding self-efficacy ibu

post SC adalah 40,97, sehingga rata-rata

responden memiliki tingkat efikasi diri

menyusui

sedang.

Skor

minimal

breastfeeding self-efficacy adalah 15

dan skor maksimal breastfeeding

self-efficacy responden adalah 62.

Ibu yang memiliki tingkat efikasi

diri menyusui sedang sampai rendah

sebenarnya mungkin sudah mengerti

mengenai pentingnya pemberian ASI

bagi bayinya, namun karena tingkat

keyakinan dan kenyamanan ibu yang

tidak adekuat untuk menyusui, akhirnya

ketika ibu menemui kesulitan saat

melakukan aktivitas menyusui sehingga

membuat

ibu

cenderung

untuk

menghentikan usaha untuk memberikan

ASI atau langsung beralih untuk

pemberian susu formula. Khoraiyah

(2012) menyatakan bahwa semakin

tinggi efikasi diri pada ibu menyusui

maka semakin besar kemungkinan ibu

untuk memberikan ASI eksklusif.

Berdasarkan

penelitian

Kurniawan (2014), ibu yang memiliki

efikasi diri kuat akan terdorong dalam

mempelajari hal-hal baru terkait tentang

pemberian ASI sehingga permasalahan

menyusui

lebih

sedikit,

memiliki

persepsi yang baik tentang kepuasan

bayi saat menyusui, dan selalu berusaha

untuk mendapatkan berbagai informasi

mengenai laktasi.

Menurut asumsi peneliti rata-rata

responden pada penelitian ini memiliki

tingkat efikasi diri menyusui sedang

disebabkan mayoritas ibu masih belajar

(10)

10

untuk miring kanan/kiri, ibu masih

merasa lemas, merasakan nyeri pada

luka operasi ketika bergerak serta

kekhawatiran ibu untuk bergerak karena

takut jahitan operasi lepas, hal ini

menyebabkan

ibu

kesulitan

untuk

memposisikan diri untuk menyusui. Ibu

juga akan berfokus pada rasa nyerinya

sehingga ibu akan merasa kurang rileks

dalam

menyusui

bayinya,

dengan

adanya kenyamanan ibu yang tidak

adekuat untuk menyusui membuat ibu

cenderung untuk menghentikan usaha

untuk memberikan ASI atau langsung

beralih untuk pemberian susu formula.

Analisis

Hubungan

Tingkat

Kecemasan dengan Breastfeeding

Self-efficacy pada Ibu Post SC di RSU

Asy-Syifa Sambi Boyolali

Pada penelitian ini dilakukan uji

normalitas

data

terlebih

dahulu

menggunakana

dalah

kolmogorov

smirnov.

Tabel 7. Uji Normalitas Kolmogorov

Smirnov

Uji

Kolmogorov

Smirnove

Sig.

(2-taied)

Keterangan

Tingkat

Kecemasan

0,000

Tidak

normal

Breastfeeding

Self-efficacy

0,000

Tidak

normal

Berdasarkan tabel 7. diketahui

nilai signifikansi kedua variabel yaitu

0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan

bahwa

nilai

residual

data

tidak

terdistribusi normal. Analisa bivariat

dalam penelitian ini untuk mengetahui

hubungan tingkat kecemasan dengan

breastfeeding self-efficacy ibu post SC

di RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali

adalah menggunakan uji statistik kendall

tau, karena diperoleh dari subjek yang

sama. Hasil uji hubungan tingkat

kecemasan dengan breastfeeding

self-efficacy ibu post SC di RSU Asy-Syifa

Sambi Boyolali dapat dilihat pada tabel

berikut :

Tabel 8. Hasil Uji Kendall Tau

Berdasarkan

tabel

8.

menunjukkan hasil uji kendall tau yaitu

nilai p-value sebesar 0,000 < α (0,05)

maka hal ini berarti Ho ditolak atau Ha

diterima, yang berarti ada hubungan

tingkat

kecemasan

dengan

tingkat

breastfeeding self-efficacy pada ibu post

SC di RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali.

Diketahui kendall tau correlation untuk

hubungan tingkat kecemasan dengan

breastfeeding self-efficacy ibu post SC

Tingkat

Kecemas

an

BSE

Tingkat

Kecema

san

Correlation

Coefficient

1.000

-.466

**

Sig.

(2-tailed)

.

.000

N

59

59

BSE

Correlation

Coefficient

-.466

**

1.000

Sig.

(2-tailed)

.000

.

N

59

59

(11)

11

adalah - 0,466 maka dapat disimpulkan

bahwa

terdapat

hubungan

antara

variabel tingkat kecemasan dengan

tingkat breastfeeding self-efficacy yang

signifikan dengan kekuatan hubungan

sedang, sedangan arti negatif (-) yaitu

menunjukkan arah korelasi negatif yang

berarti

semakin

tinggi

tingkat

kecemasan maka semakin rendah tingkat

breastfeeding self-efficacy begitu juga

sebaliknya, semakin rendah/tidak ada

kecemasan maka semakin tinggi tingkat

breastfeeding self-efficacy. Dari tabel

diatas diketahui bahwa nilai kendall tau

correlation

antara

masing-masing

variabel yang dihubungkan mempunyai

dua tanda bintang (**) berarti terdapat

hubungan dengan taraf signifikansi 1%.

Persalinan sectio caesarea adalah

lahirnya janin, plasenta dan selaput

ketuban melalui irisan yang dibuat pada

dinding perut dan rahim (Kasdu, 2013).

Komplikasi post SC yang terjadi pada

ibu selain nyeri adalah gangguan laktasi,

karena

proses

melahirkan

dengan

operasi caearea akan menghambat

terbentuknya produksi dan pengeluaran

ASI, terutama jika ibu mendapatkan

obat-obatan

penghilang

rasa

sakit

sebelum

operasi,

sehingga

mengakibatkan tidak responsif untuk

menyusui (Kristiyansari, 2019).

Faktor-faktor

yang

dapat

menghambat produksi ASI salah satunya

faktor psikologis ibu yaitu keyakinan

diri dalam menyusui atau breastfeeding

efficacy, dimana breastfeeding

self-efficacy dapat mempengaruhi proses

menyusui dan tercapainya keberhasilan

ASI eksklusif, semakin tinggi efikasi

diri semakin tinggi peluang untuk

menyusui eksklusif. Faktor-faktor yang

dapat mempengaruhi breastfeeding

self-efficacy

adalah

pengalaman

keberhasilan, pengalaman orang lain,

bujukan verbal, serta keadaan fisik dan

emosional ibu. Ibu yang bersalin dengan

metode SC memiliki tingkat kecemasan

yang lebih tinggi dibandingkan dengan

ibu yang bersalin spontan. Tingkat

kecemasan pada ibu post SC disebabkan

oleh nyeri luka setelah operasi, semakin

tinggi tingkat nyeri maka akan semakin

tinggi pula tingkat kecemasan pasien

tersebut sehingga dapat mengganggu

pengeluaran

oksitoksin

dalam

merangsang reflek aliran ASI dan efek

anastesi (Desmawati, 2010), pendapat

ini sejalan dengan penelitian Page

(2018) yang menyatakan bahwa kondisi

ibu post SC yang gelisah, perasaan yang

tidak nyaman diakibatkan oleh nyeri

atau ngilu perut ibu akibat dari luka

operasi.

Rasa tegang maupun cemas akan

merangsang

hipotalamus

untuk

meningkatkan produksi Corticotrophin

Relasing Factor (CRF), CRF inilah yang

(12)

12

selanjutnya akan merangsang kelenjar

pituitari anterior untuk meningkatkan

produksi Adronocorticotropik Hormone

(ACTH).

ACTH

ini

yang

akan

merangsang korteks adrenal untuk

meningkatkan sekresi kortisol, dan

mengaktifkan neuron adrenegik dari

locus cereleus yang bertanggung jawab

untuk merespon langsung stressor fight

or flight (Sugiharto, 2012).

Hormon kortisol yang tinggi akan

mempengaruhi laktasi, kortisol yang

tinggi menyebabkan produksi hormon

oksitoksin

terhambat

sehingga

berpengaruh dengan tidak sempurnanya

letting down reflex (LDR) untuk

mengeluarkan produksi ASI (Chartons

dkk, 2009). Ibu yang merasa produksi

ASI nya kurang, cenderung memiliki

keyakinan diri yang rendah dalam

menyusui karena ibu dengan tingkat

-self-efficacy yang rendah cenderung

berfokus pada aspek negatif dalam

menyusui seperti berfokus pada nyeri

dan

cemas

yang

ibu

rasakan

(Komalasari, 2016). Nyeri akibat luka

operasi membuat ibu kesulitan untuk

bergerak dan merawat bayinya terutama

saat menyusui. Selain itu juga muncul

kekhawatiran ibu untuk bergerak karena

takut jahitan operasi lepas ketika

menyusui

bayinya

sehingga

menyebabkan self-efficacy ibu untuk

menyusui rendah dan dengan adanya

kenyamanan ibu yang tidak adekuat

untuk menyusui membuat ibu cenderung

untuk

menghentikan

usaha

untuk

memberikan ASI atau langsung beralih

untuk pemberian susu formula.

KESIMPULAN DAN SARAN

Karakteristik ibu post SC di RSU

Asy-Syifa Sambi Boyolali berdasarkan

usia paling banyak adalah usia yaitu usia

20 sampai 35 tahun dengan frekuensi 46

responden (78,0%), sehingga termasuk

klasifikasi usia ibu tidak beresiko tinggi

untuk melahirkan, berdasarkan jenis

pekerjaan paling banyak adalah IRT

dengan frekuensi 33 responden (55,9%),

berdasarkan

jumlah

paritas

paling

banyak adalah ibu multipara dengan

frekuensi 33 responden (55,9%) dan

berdasarkan pendidikan terakhir paling

banyak adalah SMA dengan frekuensi

31 responden (52,5%). Skor rata-rata

(mean) tingkat kecemasan adalah 18,20

sehingga termasuk dalam tingkat

kecemasan ringan, sedangkan skor

rata-rata (mean) breastfeeding self-efficacy

adalah 40,97, sehingga termasuk dalam

tingkat efikasi diri menyusui sedang.

Terdapat

hubungan

tingkat

kecemasan dengan breastfeeding

self-efficacy pada ibu post sectio caesarea di

RSU Asy-Syifa Sambi Boyolali dengan

uji kendall tau yaitu nilai p-value

sebesar 0,000 < α (0,05) dan kekuatan

(13)

13

hubungan sedang dengan uji kendall tau

correlation sebesar - 0,466, sedangan

arti negatif (-) yaitu menunjukkan arah

korelasi negatif yang berarti semakin

tinggi tingkat kecemasan maka semakin

rendah

tingkat

breastfeeding

self-efficacy begitu juga sebaliknya, semakin

rendah/tidak

ada kecemasan

maka

semakin tinggi tingkat breastfeeding

self-efficacy.

Saran untuk ibu post sectio

caesarea diharapkan dapat mencari

informasi mengenai teknik untuk

mengurangi kecemasan sehingga efikasi

diri

dalam

menyusui

meningkat,

sementara

saran

untuk

peneliti

selanjutnya

diharapkan

dapat

meneruskan penelitian lanjutan terkait

intervensi

yang

bertujuan

untuk

menyelesaikan masalah pada kecemasan

yang dialami oleh ibu post SC sehingga

tingkat efikasi diri dalam menyusui

dapat meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Andini. (2016). “Pola Pemberian Susu

Formula dan Konsumsi Zat Gizi

Anak Usia Bawah Dua Tahun

Pada Keluarga Ibu Bekerja dan

Tidak Bekerja”. Skripsi. Bogor :

FEMA IPB

Desmawati. (2010). Perbedaaan Waktu

Pengeluaran ASI Ibu Post Sectio

Caesarea dengan Post Partum

Normal. Jurnal Bima Widya

Universitas

Pembangunan

Veteran. Jakarta

Forster, G. M., & Anderson, B.G.

(2011). Antropologi Kesehatan.

Jakarta : UI Press

Hidayat, A. (2014). Metode Penelitian

Kebidanan dan Teknik Analisa

Data: Contoh Aplikasi Studi

Kasus. Jakarta: Salemba Medika

Indriani, Diyan & Asmuji. (2011). Buku

Ajar Keperawatan Maternitas.

Yogyakarta : Ar-Ruzz Media

Kasdu. (2013). Angka Persalinan Sectio

Caesarea

dan

Kejadian

Cephlopelvic Disproportion di

Indonesia dan Provinsi Jawa

Tengah.

Khoraiyah, A., dan Sumarsih. (2012).

Gambaran

Karakteristik

Ibu

Menyusui dalam Pemberian Air

Susu Ibu (ASI) di Klinik Asih

Waluyojati Bantul Yogyakarta.

Jurnal Ilmu Kebidanan. 4. (1) :

125-129

Komalasari, M, Solehati, T & Widianti,

E. (2016). Jurnal Keperawatan

Indonesia.

Gambaran

Tingkat

Self-efficacy Ibu Post Seksio

Sesarea saat Menyusui di RSKIA

Kota Bandung. 2. (2) : 95-103

Kristiyansari, W. (2019). ASI, Menyusui

dan Sadari.Yogyakarta : Nuha

Medika

(14)

14

Kurniawan, Bayu. (2013). Determinan

Keberhasilan Pemberian Air Susu

Ibu Eksklusif. Jurnal Kedokteran

Brawijaya. Vol. 27. No. 4

Muaningsih. (2014). “Studi Komparasi

antara Breastfeeding Self-efficacy

pada Ibu Menyusui di RSSIB

dengan Non RSSIB dan Faktor

yang Mempengaruhinya”.Thesis :

Universitas Indonesia

Nursalam.

(2017).

Metodologi

Penelitian Ilmu Keperawatan:

Pendekatan Praktis. Jakarta :

Salemba Medika

Riskesdas,

(2018).

Rencana

Kerja

Pembinaan

Gizi

Masyarakat

Tahun 2018. Jakarta : Direktorat

Bina Gizi Kemenkes RI

World

Health

Organization.(2015).

Global Nutrition Targets 2025

Breastfeeding

Policy

Brief.

Switzerland:

World

Health

Organization

Referensi

Dokumen terkait