AKTIVITAS ANTIOKSIDAN RUMPUT LAUT GRACILARIA
SP DARI TAMBAK DESA NEUHEN, KECAMATAN MESJID
RAYA ACEH BESAR MENGGUNAKAN METODE DPPH
(2,2-DIPHENYL-1-PICRYLHYDRAZYL)
SKRIPSI
Diajukan Oleh : CUT ELLA AISA
NIM. 140704022
Mahasiswi Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi Kimia
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM – BANDA ACEH 2019 M / 1440 H
ii Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Cut Ella Aisa
NIM : 140704022
Program Studi : Kimia
Fakultas : Sains dan Teknologi
Judul Skripsi : Aktivitas Antioksidan Rumput Laut Gracilaria Sp Dari Tambak Desa Neuhen, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar Menggunakan Metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya:
1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan mempertanggungjawabkan;
2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah karya orang lain;
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli atau tanpa izin pemilik karya
4. Tidak memanipulasi dan memalsukan data;
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas karya ini. Bila dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah melalui pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan dan ternyata memang ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan tanpa paksaan dari pihak manapun.
Cut Ella Aisa Yang Menyatakan, Banda Aceh, 31 Juli 2019
iv ABSTRACT
Name : Cut EllaAisa
NIM : 140704022
Major : Chemistry
Title : The Test of Seaweed Antioxidant Activity Gracilaria Sp
From the Pond of Neuheun Village, Mesjid Raya District, Aceh Besar, By Using DPPH Method (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl)
Daet of Defense : 31 December 2019 Thesis Thickness : 56 Pages
Supervisor 1 : Mukhlis, S.Pd.,M.Si.
Supervisor 2 : Cut Nuzlia, M.Sc.
Keywords : Antioxidant activity, oxidation, polyphenols, seaweed
Gracilaria sp, extract.
Seaweed, Gracilaria sp, is a red seaweed (Rhodophyceae) which functioned as an antioxidant. Antioxidants are compounds that are able to inhibit the oxidation’ rate of other molecules or neutralize free radicals. This study is aimed to find the antioxidant activity of ethanol extract from the red seaweed, Gracilaria sp based
on IC50 values (Inhibitory Concentration 50%). This research is also aimed to find
the antioxidant which is contained in Neuhen’s pond, Mesjid Raya District, Aceh Besar. Proximate Analysis is used as theanalitical procedure in this research. Proximate analysis is running by analyzing the content of water, ash, protein, fat and carbohydrate. The result from the extraction istaken for analyzingthe antioxidant activity. The results in the Proximate Analysiswere 84.6% water content; ash 6.585%; fat 1.51%; 6.4% protein; and carbohydrates 1,234%. The
analysis results of antioxidant activity IC50 by using DPPH method is obtained
IC50 amount of 822,54 ppm, which impliedthe 50% inhibition of free radical
DPPH compounds, but this activity was still very small. The results of
phytochemical testby using FeCl3 towards polyphenol compounds in the ethanol
extract of seaweed showed that there was a change in the color of ethanol extract into bluish black which is showedthe positive results of the polyphenols existence in the ethanol extract of seaweed Gracilaria sp.
iii
NIM : 140704022
Program Studi : Kimia
Judul : Aktivitas Antioksidan Rumput Laut Gracilaria Sp Dari
Tambak Desa Neuhen, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar Menggunakan Metode DPPH
(2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) Tanggal Sidang : 31 Desember 2019
Tebal Skripsi : 56 Halaman
Pembimbing 1 : Mukhlis, S.Pd.,M.Si.
Pembimbing 2 : Cut Nuzlia, M.Sc.
Kata Kunci : Aktivitas antioksidan, oksidasi, polifenol, rumput laut
Gracilaria sp, ekstrak.
Rumput laut Gracilaria sp merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae) yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang mampu menghambat laju oksidasi molekul lain atau menetralisir radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui aktivitas antioksidan
ekstrak etanol dari rumput laut merah Gracilaria sp berdasarkan nilai IC50
-(Inhibitory Concentration 50%) serta mengetahui potensi antioksidan yang terdapat di tambak Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar. Prosedur analisis yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan analisis proksimat. Analisis proksimat yang dilakukan adalah analisis kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat. Ekstrak kasar hasil ekstraksi dianalisis aktivitas antioksidannya. Hasil yang didapatkan pada analisis proksimat yaitu kadar air 84,6%; kadar abu 6,585%; kadar lemak 1,51%; protein 6,4%; dan
karbohidrat 1,234%. Hasil analisis aktifitas antioksidan IC50 dengan metode
DPPH diperoleh IC50 sebesar 822,54 ppm yang berarti dapat menghambat 50%
radikal bebas senyawa DPPH namun aktivitas ini masih sangat kecil. Hasil
pengujian fitokimia menggunakan larutan FeCl3 terhadap senyawa golongan
polifenol pada ekstrak etanol rumput laut memiliki perubahan warna ekstrak etanol menjadi hitam kebiruan yang menunjukkan hasil positif adanya polifenol pada ekstrak etanol rumput laut Gracilaria sp.
v
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Dia-lah yang Maha mengetahui dan Maha Besar. Tidak lupa shalawat dan salam tidak lupa saya Sanjung sajikan untuk junjungan besar Nabi Muhammad SAW. beserta keluarga dan sahabat beliau sebagai utusan manusia pilihan, dia-lah penyampai, pengamal dan penafsir pertama Al-Qur’anul Karim.
Dengan pertolongan dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Uji Aktivitas Antioksidan Rumput Laut Gracilaria Sp Dari Tambak Desa Neuhen, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar Menggunakan Metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl)”. Skripsi ini disusun untuk melengkapi tugas – tugas dan beban studi untuk memperoleh gelar sarjana (S.Si) di Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.
Penulis mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Bapak Mukhlis, S.Pd., M.Si. selaku pembimbing I dan . Ibu Cut Nuzlia, M.Sc. selaku pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberi bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan skripsi ini, Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.
Selanjutnya pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kelancaran penulisan tugas akhir, yaitu kepada:
1. Teristimewa kepada orang tua, ayah (H. TM Daudsyah.) dan ibu (Hj. Sri Ayu) yang telah merawat, membesarkan, mendidik, memotivasi dan mendoakan dengan penuh semangat dan kasih sayang, serta kakak (Cut Fina Rama Yuda S.E) dan adik-adik (T. Syah Kumala dan TM. Nejadsyah) sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
2. Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Khairun Nisah M.Si. selaku Ketua Prodi juga Bapak Muhammad Ridwan Harahap M. Si. selaku sekretaris Prodi sekaligus dosen wali, serta para dosen dan staf Prodi Kimia yang telah banyak
vi
3. berjasa selama proses perkuliahan sehingga penulis dapat menyelesaikan Pendidikan S-1.
4. Terima kasih kepada organisasi mahasiswa pengurus harian dan pengurus anggota Dewan Eksekutif Mahasiawa Fakultas (DEMA-FST) dan juga Himpunan Mahasiswa Kimia Saintek (HIMASAKI) Sains dan Teknologi yang telah menyemangati dan memberi dukungan serta doa kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Terima kasih juga kepada teman-teman seperjuangan Program Studi Kimia Angkatan I Tahun 2014 dan seluruh teman-teman lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah bersedia membantu dan memberi dukungan, semangat serta doa kepada penulis selama proses penyelesaian skripsi ini.
Penulis berharap semoga tugas akhir ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya. Penulis menyadari bahwa dalam proses pengerjaan dan penulisan tugas akhir ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis sampaikan terima kasih.
Banda Aceh, 9 Juli 2019 Penulis,
viI
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x BAB I : PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 3 1.4 Manfaat Penelitian ... 4
BAB II : LANDASAN TEORITIS ... 5
2.1 Tumbuhan Rumput Laut Gracilaria sp ... 5
2.2 Jeni- jenis Rumput laut ... 6
2.3 Morfologi Rumput laut ... 7
2.4 Klasifikasi Rumput Laut ... 8
2.5 Kandungan Rumput Laut ... 8
2.6 Antioksidan Rumput Laut Gracilaria sp ... 10
2.7 Metode DPPH ... 11
2.8.Ekstraksi Senyawa Dalam Rumput Laut Gracilaria sp ... 12
2.9 Polifenol ... 13
2.10 Spektrofotometer Uv-Vis ... 16
BAB III :METODE PENELITIAN ... 18
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 18
viII
3.4 Prosedur Kerja ... 20
3.4.1 Analisis Proksimat ... 20
3.4.1.1 Uji Kadar Air ... 20
3.4.1.2 Analisis Kadar Abu ... 21
3.4.1.3. Analisis Kadar Protein ... 21
3.4.1.4 Analisis Kadar Lemak ... 22
3.4.1.5 Analisis Karbohidrat ... 22
3.4.2 Ekstraksi Rumput Laut Gracilaria sp ... 23
3.4.3 Uji Aktivitas Antioksidan dan IC50 dengan Metode DPPH ... 23
3.4.4 Uji Fitokimia Kandungan Senyawa Polifenol Rumput Laut Gracilaria sp... 25
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26
4.1 Uji proksimat Rumput Laut Gracilaria sp ... 26
4.2 Ekstraksi Rumput Laut Gracilaria sp ... 29
4.3 Pengujian Aktifitas Antioksidan dan IC50 dengan Metode DPPH ... 30
4.4 Pembuatan Larutan Blanko dan Kurva Kalibrasi... 30
4.5 Uji Aktivitas Antioksidan Pada Vitamin C ... 32
4.6 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Rumput laut Gracilaria sp ... 33
4.7 Uji Fitokimia Kandungan Senyawa Polifenol Rumput Laut Gracilaria sp ... 36 BAB V : PENUTUP ... 38 5.1 Kesimpulan ... 38 5.2 Saran ... 38 DAFTAR PUSTAKA ... 39 LAMPIRAN ... 43
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Analisis Proksismat Rumput Laut Gracilaria Sp ... 46
Tabel 5.2 Data Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum DPPH ... 46
Tabel 5.3 Hasil Pengukuran Serapan Blanko ... 48
Tabel 5.4 Hasil Pengukuran Serapan Ekstrak Etanol terhadap DPPH ... 48
x
Gambar 2.1 Rumput Laut gracilaria sp ... 9 Gambar 2.2 Struktur Molekul Florotanin ... 10 Gambar 2.3 Reaksi Penangkapan Radikal DPPH oleh Antioksidan (AH =
Antioksidan) ... 16 Gambar 2.4 Struktur Senyawa Fenol ... 18 Gambar 2.5 Struktur Molekul Senyawa ... 36 Gambar 4.2 Hasil Uji Fitokimia Senyawa Golongan Polifenol pada Ekstrak
1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia adalah negara yang dua pertiga wilayahnya adalah laut dengan tingkat pencemaran laut yang relatif kecil dibandingkan dengan lautan yang terdapat di negara lain serta kaya akan hasil buminya, terutama dengan keanekaragaman flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) (Maharany dkk., 2017). Salah satu flora laut yang merupakan hasil bumi yaitu rumput laut. Dimana tanaman ini tumbuh subur di lautan Indonesia. Salah satu daerah di Indonesia penghasil rumput laut yaitu Aceh, di Desa Neuhun Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar. Di daerah tersebut terdapat tambak yang ditumbuhi liar oleh rumput laut. Jenis rumput laut yang berada ditambak Desa Neuhen merupakan rumput laut (Gracilaria sp) yang tumbuh liar dan sangat mudah ditemukan, serta perlakuan yang dilakukan setelah panen sangat mudah dilakukan. Rumput Laut banyak digunakan masyarakat sebagai bahan makanan, bahan industri dan juga sebagai perawatan kulit. Kulit manusia membutuhkan antioksidan sebagai pelindung dari radikal bebas yang tersebar di alam dan yang terdapat didalam tubuh manusia. Radikal bebas adalah suatu atom atau senyawa yang mana terdapat elektron yang tidak berpasangan yang dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif. Radikal bebas dapat berperan sebagai sistem pertahanan tubuh yang dapat melindungi tubuh manusia dari virus dan bakteri yang akan masuk, namun jika jumlah yang diperoleh lebih dari yang dibutuhkan oleh tubuh, maka akan mengakibatkan kerusakan protein, DNA, dan membran sel. Radikal bebas mampu bereaksi dengan mengambil elektron yang terdapat pada molekul lain. Reaksi ini akan terjadi berulang kali dan akan membentuk rantai yang akan mengakibatkan rusaknya suatu membran sel dan komponen sel lainnya, hal ini disebabkan oleh adanya reaksi yang terjadi dijaringan sel yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan membran sel. Akibat yang ditimbulkan akibat rusaknya membran sel dan komponen sel lainnya dapat mengakibatkan penyakit
tinggi. Namun demikian, radikal bebas bisa dikontrol secara alami dengan menggunakan senyawa lainnya yang dapat dikenal dengan antioksidan (Putra, 2015).
Antioksidan adalah suatu senyawa yang mampu menetralkan, meniadakan atau menghilangkan efek radikal bebas. Antioksidan yang dikeluarkan oleh tubuh manusia memiliki keterbatasan sehingga tubuh memerlukan suplai antioksidan dari luar tubuh. Sumber antioksidan yang dihasilkan dari luar tubuh dapat diperoleh dari tumbuhan rumput laut. Salah satu sumber antioksidan alami yang bersumber dari luar tubuh berasal dari tumbuhan. Tumbuhan yang berpotensi memiliki aktivitas sebagai antioksidan alami adalah rumput laut, dimana rumput laut dapat digunakan sebagai bahan alami dalam bidang kesehatan. Hal ini diduga bahwa dalam rumput laut mengandung senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan. Kenyataan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Bagja (2015), dimana hasil pengujian aktivitas antioksidan pada rumput laut hijau Caulerpa sp segar mempunyai nilai IC50 sebesar 452,37±8,29 ppm dan setelah terjadinya proses perebusan berubah menjadi 484,59±5,69 ppm. Proses perebusan tersebut dapat membuat menurunnya aktivitas antioksidan yang terdapat didalam rumput laut Caulerpa sp.
Rumput laut diduga memiliki aktivitas antioksidan dimana didalam rumput laut mengandung senyawa metabolit sekunder yang berperan sebagai antioksidan. Berdasarkan penelitian Yanuarti, dkk (2016) aktivitas antioksidan yang dihasilkan oleh ekstrak rumput laut Eucheuma Cottoni dan Turbinaria conoides telah didapatkan yaitu pada rumput laut eucheuma cottoni lah yang terdapat paling tinggi kadar antioksidannya yaitu 15,148 μg/mL dan 23,154 μg/mL dan berpotensi menjadi antioksidan alami.
Antioksidan yang terbentuk dalam rumput laut ditentukan dengan menggunakan berbagai metode, salah satunya adalah menggunakan metode DPPH (2,2- diphenyl -1- picrylhidrazyl). Metode DPPH ini adalah suatu metode pengukuran antioksidan yang dapat dilakukan secara sederhana, cepat dan tidak membutuhkan banyak reagen. DPPH adalah suatu senyawa radikal bebas yang stabil dan penggunaan pereaksi ini cukup dilarutkan ketika melakukan uji
3
penangkapan radikal bebas dan apabila disimpan dalam keadaan kering dengan kondisi penyimpanan yang baik akan stabil bertahun tahun. (Yanuarti et al. 2017)
Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa rumput laut yang terdapat di tambak Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar juga diduga memiliki aktivitas antioksidan. Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian untuk memastikan bahwa dalam rumput laut di tambak Desa Neuhen memiliki aktivitas antioksidan dengan judul “Aktivitas Antioksidan Rumput Laut Gracilaria Sp dari Tambak Desa Neuhen, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar menggunakan Metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah didalam rumput laut Gracilaria sp yang terdapat di tambak Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar berpotensi sebagai antioksidan alami?
2. Apakah rumput laut Gracilaria sp mengandung seyawa polifenol?
3. Apakah dalam rumput laut Gracilaria Sp dari Tambak Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar memiliki aktivitas antioksidan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Potensi antioksidan alami pada tumbuhan rumput laut Gracilaria sp yang terdapat di tambak Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar
2. Aktivitas antioksidan dari rumput laut Gracilaria sp yang terdapat di tambak Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar.
3. Kandungan polifenol dari rumput laut Gracilaria sp yang terdapat di tambak Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Memberi masukan kepada masyarakat bahwa rumput laut dari tambak Desa
Neuhun Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar dapat berpotensi sebagai antioksidan.
2. Memberi informasi kepada masyarakat bahwa rumput dari tambak Desa Neuhun Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar dapat dibudidaya karena memiliki aktivitas antioksidan yang dapat dijadikan sebagai obat alternatif.
5 BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1 Tumbuhan Rumput laut Gracilaria sp
Rumput laut adalah salah satu jenis tumbuhan tingkat rendah yang termasuk kedalam golongan ganggamg yang dapat hidup di air laut. Rumput laut adalah salah satu komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Indonesia mempunyai luar area yang digunakan untuk membudidaya rumput laut dengan luas tanah sekitas 1.110.900 ha, tetapi pengembangan budidaya rumput laut baru memanfaatkan lahan sekitar 222.180 ha (20% dari luas areal potensial). (Wijayanto dkk., 2011).
Di Aceh sendiri, luas lahan yang efektif yang dapat dijadikan dan dimanfaatkan sebagai budidaya komoditas rumput laut kurang lebih 12.141 ha. Aceh merupakan Provinsi dengan luas efektif lahan budidaya rumput laut yang terluas di Indonesia, sehingga daerah ini dapat dikatakan sangat berpotensi terdahap pembudidayaan rumput laut. Salah satu wilayah di Aceh yang banyak ditumbuhi rumput laut adalah Tambak didesa Neuhen kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar (Sahat, 2013).
Rumput laut di Aceh banyak dimanfaatkan hanya sebagai bahan makanan, padahal banyak manfaat lain dari rumput laut yang dapat menghasilkan nilai jual tinggi apabila terus dikembangkan. Contohnya seperti antioksidan alami pada produk kecantikan dan obat-obatan. namum masih sedikit dari masyarakat Aceh sendiri yang memanfaatkan rumput laut didaerah tersebut. Hal ini kemungkinan dapat terjadi karena kurangnya minat generasi muda terhadap pemanfaatan sumber daya kelautan, dan minimnya teknologi yang ada.
Gracilaria sp mampu tumbuh dan berkembang diberbagai kedalaman laut, tetapi pada umumnya tumbuhan jenis ini lebih baik jika di letakkan ditempat yang lebih dangkal dari pada tempat yang dalam. Temperatur adalah faktor terpenting sebagai syarat untuk pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp sedangkan temperatur yang baik untuk pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp berkisar
antara 20-28 ˚C. Bahkan di daerah Sulawesi pada musim-musim tertentu rumput laut jenis ini banyak terdampar di pantai karena hempasan gelombang dalam jumlah yang sangat besar. Gracilaria tersebar luas di sepanjang p antai daerah tropis. (Erdiansyah. 2013)
Rumput laut dapat tumbuh hampir di seluruh bagian hidrosfir sampai batas kedalaman 200 meter. Jenis rumput laut ada banyak, ada yang hidup di perairan tropis, subtropis, dan di perairan dingin. Di samping itu, ada terdapat beberapa jenis yang hidup kosmopolit seperti Ulva lactuca, Hypnea musciformis, Colpomenia sinuosa, dan Gracilaria verrucosa. Rumput laut yang hidup dengan cara menyerap zat makanan dari perairan dan melakukan fotosintesis. Jadi pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika dan kimia perairan seperti gerakan air, temperatur, kadar garam, nitrat, dan fosfat serta pencahayaan sinar matahari (Effendie, 1997).
Pertumbuhan rumput laut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor internal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan antara lain jenis, bagian thallus dan umur, sedangkan faktor eksternal yang dapat berpengaruh antara lain keadaan lingkungan fisika dan kimia yang dapat berubah menurut ruang dan waktu, penanganan bibit, perawatan tanaman dan metode budidaya. Laju pertumbuhan yang dianggap menguntungkan adalah diatas 3% pertambahan berat per hari. (Katiandagho. 2016)
2.2 Jenis- Jenis Rumput Laut
Rumput laut dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelas, yaitu: Rhodophyceae (merah), Phaeophyceae (coklat), Cyanophyceae (hijau-biru) dan Chlorophyceae (hijau). Rumput laut coklat mengandung senyawa fenolik berupa florotanin yang berfungsi sebagai pertahanan dari radiasi sinar ultra violet (UV). Florotanin dapat menangkap radikal bebas yang disebabkan oleh radiasi sinar UV. Rumput laut merah juga diketahui mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenolik yang memiliki gugus kromofor. Gugus kromofor tersebut menyebabkan kemampuan untuk menyerap gelombang sinar UV. Jenis rumput laut coklat yang potensial untuk dimanfaatkan salah satunya adalah Gracilaria Sp (Maharany 2017).
7
Gracilaria sp merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae). Rumput laut merah merupakan salah satu hasil perikanan yang penting di Indonesia. Rumput Laut merah mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dibandingkan jenis rumput laut yang lain karena mengandung keraginan dan agar. Jenis-jenis rumput laut merah yang lain Gracilaria gigas, gracilaria salicornia, Gracilaria verrucosa, Amphiroa rigida, Hypnea asperi, Euchema denticulatum, Euchema Edule, Khappaphycus alvarezii, Euchema spinosum, Laurencia elata, Gelidiumlatifolium dan lain sebagainya.
2.3 Morfologi Rumput Laut
Secara morfologi Rumput laut adalah salah satu tumbuhan laut yang dapat digolongkan kedalam makroalga benthik atau benthic algae yang hidupnya melekat di dasar perairan. Tanaman ini tidak bisa dibedakan antara bagian akar, batang dan daun, sehingga bagian tumbuhan tersebut disebut thallus, oleh karena itu tergolong tumbuhan tingkat rendah.
Gracilaria sp dapat hidup dengan cara melekatkan diri pada substrat padat, seperti kayu, batu, karang mati dan sebagainya. Untuk melekatkan dirinya, Gracilaria sp memiliki suatu alat cengkeram berbentuk cakram yang dapat diketahui dengan sebutan hold fast. Jika diperhatikan sepintas, tumbuhan ini mirip seperti rumput, dengan tipe percabangan tidak teratur,dichotomous, alternate, pinnate, ataupun bentuk-bentuk percabangan yang lain.
Thallus pada umumnya berbentuk silindris atau agak memipih, namun pada G. euchewnoides dan G. textoni yang dideskripsikan oleh Cordeo (1977) di Filipina, bentuk thallus kedua tumbuhan tersebut benar-benar pipih. Ujung-ujung thallus umumnya meruncing, permukaan thallus halus atau berbintil-bintil. Keadaan permukaan thallus yang berbintil, umumnya ditemukan pada tumbuhan dalam bentuk karposporofit (mengandung). Panjang thallus sangat bervariasi, mulai dari 3,4-8 cm pada G. eucheumoides sampai mencapai lebih dari 60 cm pada G.Verrucosa (Alamanda., dkk, 2018)
Di alam kita dapat menemukan Gracilaria sp dalam 3 bentuk pertumbuhan. Secara morfologi memang ketiga bentuk pertumbuhan tadi sangat sulit dibedakan, namun jika dilihat dari segi anatomi maka dapat dibedakan antara bentuk sporofit,
gametofit dan bentuk karposporofit. Bentuk sporofit adalah tumbuhan yang memiliki kromosom diploid (2n), gametofit adalah bentuk tumbuhan haploid (In), sedangkan karposporofit adalah bentuk tumbuhan haplodiploid (sedang mengandung). Umumnya, karposporofit dapat dibedakan dari sporofit dan gametofit, karena pada permukaan thallus sering dijumpai tonjolan-tonjolan bulat. Seperti umumnya Rhodophyceae, daur hidup Gracilaria sp bersifat 'trifasik' (3 bentuk pertumbuhan), yang mengalami pergantian generasi antara seksual dan aseksual. Apabila awal perkembangbiakan dimulai dari generasi aseksual maka akan terlihat bahwa sporofit akan membentuk suatu badan yang disebut dengan tetrasporangia (Sjafie,1990).
2.4 Klasifikasi Rumput Laut
Rumput Laut Gracilaria sp di klasifikasikan kedalam Kingdom Plantae, Divisi Rhodophyta, Kelas Rhodophyceae, Ordo Gigartinales, Famili
Gracilariacea, Ganus Eucheuma, Spesies Gracilaria sp (Anggadiredja dkk,
2006). Rumput laut dari spesies Gracilaria sp seperti di perlihatkan pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1. Rumput Laut Gracilaria sp
2.5 Kandungan Rumput Laut
Rumput laut Gracilaria sp mengandung senyawa golongan fenolik berupa florotanin yang berfungsi sebagai pertahanan dari radiasi sinar ultra violet (UV). Florotanin dapat menangkap radikal bebas yang disebabkan oleh radiasi sinar UV.
9
Rumput laut coklat juga diketahui mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenolik yang memiliki gugus kromofor. Gugus kromofor tersebut menyebabkan kemampuan untuk menyerap gelombang sinar UV. Jenis rumput laut yang potensial untuk dimanfaatkan salah satunya adalah Gracilaria sp. (Ridlo dkk 2017)
Gambar 2.2 Struktur Molekul Florotanin
Rumput laut memiliki kandungan karbohidrat, protein, abu, air, vitamin dan mineral dalam bentuk makro dan mikro elemen yaitu kalium (K), natrium (Na), magnesium (Mg), fosfat (P), iodin (I) dan besi (Fe). Rumput laut cokelat mengandung metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kesehatan yaitu alkaloid, glikosida, tannin dan steroid yang banyak digunakan dalam pengobatan dan industri farmasi serta senyawa fenolik dan flavonoid yang memiliki aktivitas penghambatan oksidasi LDL, Angiotensin Converting Enzyme (ACE), α-amilase, α-glukosidase dan berpotensi memberikan efek terapeutik serta perlindungan terhadap beberapa penyakit degeneratif terutama kanker (Padua et al. 2015).
Senyawa fenolik pada rumput laut memiliki komponen struktural yang tidak terpisahkan dari dinding sel dan memiliki berbagai fungsi perlindungan dari radiasi UV, berperan dalam reproduksi rumput laut dan mekanisme perlindungan terhadap faktor biotik serta memiliki sifat terapeutik. Senyawa bioaktif yang memiliki peranan sebagai antioksidan, mampu menghambat dihasilkannya agen oksidatif dalam produksi Reactive Oxygen Spesies (ROS) oleh sel darah perifer, menghambat paparan oksidatif dalam tubuh dan berperan dalam proses penurunan tekanan darah. Beberapa peneliti melaporkan bahwa ekstrak etanol Sargassum sp,
Padina sp dan Gracilaria s, memiliki senyawa flavonoid, steroid, triterpenoid, fukoidan serta komponen fenolik sedangkan ekstrak metanol S. echinocarpum dan Padina sp., mengandung senyawa fenolik, tanin, saponin, glikosida dan steroid yang memiliki aktivitas antioksidan scavenging. (Padua et al. 2015).
2.6 Antioksidan Rumput Laut (Gracilaria sp)
Radikal bebas merupakan suatu molekul yang memiliki elektron yang tidak berpasangan dalam orbital terluarnya sehingga sangat reaktif. Radikal ini cenderung mengadakan reaksi berantai, dan apabila terjadi di dalam tubuh dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan yang berlanjut dan terus menerus. Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan endrogen terhadap serangan radikal bebas terutama terjadi melalui peristiwa metabolisme sel normal dan peradangan. Jumlah radikal bebas dapat mengalami peningkatan yang diakibatkan adalah faktor stress, radiasi, asap rokok dan polusi lingkungan yang menyebabkan sistem pertahanan tubuh yang ada tidak memadai, sehingga tubuh memerlukan senyawa tambahan yaitu senyawa antioksidan dari luar yang dapat melindungi dari serangan radikal bebas. (Ikhlas, 2013).
Antioksidan adalah senyawa yang mampu menghambat laju oksidasi molekul lain atau menetralisir radikal bebas. Tubuh kita memerlukan suatu antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas. Mengingat begitu banyaknya radikal bebas yang berasal dari luar tubuh yang berupa makanan banyak mengandung bahan pengawet, pewarna, asam lemak tidak jenuh, pestisida, polusi, debu, dan radiasi ultraviolet. Emisi kendaraan bermotor dan industri, asap rokok serta pelepasan senyawa kimia reaktif ke alam merupakan penyumbang radikal bebas yang cukup besar (Ikhlas, 2013).
Beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap rumput laut yaitu:
1) Bagja (2015), hasil pengujian aktivitas antioksidan pada rumput laut hijau
Caulerpa sp segar memiliki nilai IC50 sebesar 452,37±8,29 ppm dan setelah proses perebusan menjadi 484,59±5,69 ppm. Proses perebusan yang dilakukan mengakibatkan menurunnya aktivitas antioksidan dari Caulerpa sp.
11
2) Kandungan antioksidan pada rumput laut Eucheuma spinosum yang
diekstrak rendemen tertinggi diperoleh pada sampel yang diekstrak dengan etanol 50% dengan nilai rendemen sebesar 1,8 %. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa sampel yang diekstrak dengan metanol 95% memiliki 6 komponen antioksidan yang diuji secara kualitatif (alkaloid, steroid, saponin, terpenoid, polifenol dan flavonoid). Nilai IC50 paling baik diperlihatkan oleh sampel yang diekstrak dengan etanol 95% yaitu sebesar 97,522 ppm. Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan efektivitas sampel Euchema spinosum segar sebagai sumber antioksidan alami (Podungge dkk., 2018)
3) Maharany et al (2017), menyatakan bahwa hasil pengujian secara fitokimia
pada rumput laut P. australis dan E. cottonii menunjukkan bahwa mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid, fenol hidrokuinon, dan triterpenoid, sedangkan P. australis juga diketahui mengandung tanin dan saponin. Kandungan senyawa fitokimia tersebut mengindikasikan bahwa P. australis dan E. cottonii potensial untuk digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan tabir surya.
4) Yanuarti, dkk (2016), kandungan fenolik, flavonoid dan aktivitas
antioksidan dari ekstrak rumput laut Turbinaria conoides dan Eucheuma cottonii telah didapatkan yaitu pada rumput laut Eucheuma Cottoni lah yang terdapat paling tinggi kadar antioksidannya dan berpotensi menjadi antioksidan alami.
2.7 Metode DPPH
Metode DPPH merupakan metode yang cepat, sederhana, dan tidak membutuhkan biaya tinggi dalam menentukan kemampuan antioksidan menggunakan radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Metode ini sering digunakan untuk menguji senyawa yang berperan sebagai free radical scavengers atau donor hidrogen dan mengevaluasi aktivitas antioksidannya, serta mengkuantifikasi jumlah kompleks radikal-antioksidan yang terbentuk. Metode DPPH dapat digunakan untuk sampel yang berupa padatan maupun cairan.
Metode DPPH merupakan metode pengujian aktivitas antioksidan yang sederhana dan cepat. Metode ini menggunakan radikal bebas DPPH untuk menguji suatu senyawa antioksidan dalam meredam radikal bebas. Gugus kromofor dan auksokrom DPPH memberikan serapan yang kuat pada panjang gelombang 517 nm dengan warna ungu. Warna ungu akan berubah menjadi kuning ketika terdapat senyawa antioksidan yang meredam radikal bebas DPPH (Sadeli, 2016). Mekanisme penangkapan radikal ditunjukan pada reaksi di bawah ini.
Gambar 2.3. Reaksi Penangkapan Radikal DPPH oleh Antioksidan Metode DPPH adalah yang metode paling sering dilaporkan digunakan untuk skrining aktivitas antioksidan dari berbagai tanaman obat. Metode peredaman radikal bebas DPPH didasarkan pada reduksi dari radikal bebas DPPH yang berwarna oleh penghambat radikal bebas. Prosedur ini melibatkan pengukuran penurunan serapan DPPH pada panjang gelombang maksimalnya, yang sebanding terhadap konsentrasi penghambat radikal bebas yang ditambahkanke larutan reagen DPPH. Aktivitas tersebut dinyatakan sebagai konsentrasi efektif (Ikhlas, 2013).
2.8 Ekstraksi Senyawa Dalam Rumput Laut (Gracilaria sp)
Ekstraksi merupakan proses pemisahan didasarkan prinsip pelarutan. Beberapa parameter yang dapat mempengaruhi proses ekstraksi meliputi lama proses ekstraksi, suhu dan jenis pelarut yang digunakan. Parameter ini berbanding
13
lurus dengan hasil ekstraksi yaitu semakin lama dan semakin tinggi suhu yang digunakan, semakin sempurna proses ekstraksi. Begitu juga dengan semakin dekat tingkat kepolaran suatu pelarut dengan komponen yang akan di ekstrak, maka semakin sempurna proses ekstraksi yang dilakukan. Menurut Yulia (2007), untuk menemukan senyawa pengekstrak yang baik diperlukan bahan pengekstrak yang memiliki kepolaran yang sama dengan zat yang diekstrak. Jika komponen yang diekstrak belum diketahui tingkat kepolarannya, biasanya digunakan beberapa pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda.
Ekstraksi yang digunakan adalah ekstraksi tunggal, dalam satu tahap ekstraksi tunggal, yaitu mencampur bahan ekstraksi dengan pelarut satu kali, umumnya tidak mungkin seluruh ekstrak terlarutkan. Hal ini karena adanya proses kesetimbangan. Ekstraksi akan lebih menguntungkan jika dilaksanakan dalam jumlah tahap yang banyak, setiap tahap menggunakan pelarut yang sedikit tetapi kerugiannya adalah konsentrasi larutan ekstrak makin lama makin rendah dan jumlah total pelarut yang dibutuhkan menjadi besar, sehingga untuk mendapatkan pelarut kembali biayanya menjadi mahal. Operasi yang lebih ekonomis adalah dengan menggunakan proses dengan aliran berlawanan. (Parenrengi, 2007).
Dalam proses ekstraksi, luas permukaan bidang antar muka untuk perpindahan massa antara bahan ekstraksi dan pelarut harus sebesar mungkin. Pada ekstraksi padat-cair hal tersebut dapat dicapai dengan memperkecil ukuran bahan ekstraksi dan pada ekstraksi cair-cair dengan mencerai-beraikan salah satu cairan menjadi tetes-tetes (dengan bantuan pengaduk). Pada ekstraksi padat-cair memperkecil ukuran bahan ekstraksi bisa berpengaruh pada mengecilnya porositas bulk material yang berakibat terhambatnya pencampuran pelarut dan akhirnya proses ekstraksi menjadi tidak optimal (Parenrengi, 2007).
2.9 Senyawa Polifenol
Senyawa polifenol adalah salah satu senyawa fenolik yang memiliki gugus hidroksil lebih dari satu dan senyawa ini mampu menyumbangkan atom hidrogennya kepada radikal bebas. Senyawa fenol yang memiliki gugus hidroksil lebih dari satu disebut polifenol. Senyawa polifenol sebagian besar cenderung bersifat polar, karena memiliki gugus hidroksil. Istilah polifenol seringkali
disalahartikan sebagai bentuk polimerisasi senyawa fenolik, padahal hanya merupakan satu senyawa yang memiliki lebih dari satu gugus fenol. Struktur senyawa fenol seperti diperlihatkan pada Gambar 2.4
Gambar 2.4 Struktur Senyawa Fenol
Banyaknya variasi gugus yang mungkin tersubtitusi pada kerangka utama fenol menyebabkan kelompok polifenol memiliki banyak sekali substituen. Terdapat lebih dari 8.000 jenis senyawa yang termasuk dalam golongan senyawa polifenol. Anggota senyawa polifenol mulai dari yang paling sederhana dengan berat molekul yang kecil hingga senyawa kompleks dengan berat molekul lebih dari 30.000 Da (Marinova et al., 2005).
Polifenol merupakan senyawa metabolitsekunder yang dapat disintesis dari tumbuhan, sebagai respon terhadap berbagai kondisi seperti infeksi, radiasi UV, dan lain sebagainya. Pada tumbuhan, polifenol dapat bertindak sebagai antifeedants, atraktan untuk penyerbuk, kontributor pigmentasi tanaman, antioksidan, sebagai pelindung dari berbagai jenis parasit dan paparan suhu ekstrim (Arif et al., 2015)
Polifenol dalam rumput laut memiliki aktivitas antioksidan, sehingga mampu mencegah berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit karena tekanan oksidatif, di antaranya kanker, penuaan, dan penyempitan pembuluh darah. Aktivitas antioksidan polifenol dari ekstrak rumput laut telah banyak dibuktikan melalui uji in vitro sehingga tentunya kemampuan antioksidannya sudah tidak diragukan lagi. Selain itu, polifenol juga terbukti memiliki aktivitas antibakteri, sehingga dapat dijadikan alternatif bahan antibiotik. Salah satunya terbukti bahwa rumput laut mampu melawan bakteri Helicobacter pylori, penyebab penyakit kulit.
15
Senyawa golongan polifenol yang berperan sebagai antioksidan alami pada rumput laut meliputi katekin (gallocathecin, epicathecin, epigallocatechin gallate), asam galat, flavonol, flavonolglycosides, caffeic acid, hesperidin, myricetin.
I J
Gambar 2.5. Struktur Molekul Senyawa Katekin (a); Gallocathecin (b);
Epicathecin (c); Epigallocatechin Gallate (d); Asam Galat (e); Flavonol (f); CaffeicAcid (g); Hesperidin (h); Myricetin (i); dan FlavonolGlycosides(j)
(www.pubchem.ncbi.nlm.nih.gov)
2.10 Spektrofotometer Uv-Vis
Daerah pengukuran spektrofoto meter UV adalah pada panjang gelombang 200-400 nm. Spektrum UV disebut juga spektrum elektronik karena terjadi sebagai hasil interaksi radiasi UV terhadap mole- kul yang mengakibatkan molekul tersebut mengalami transisi elektronik. Apabila ra- diasi elektromagnetik dikenakan pada sua- tu molekul atau atom maka sebagian dari radiasi tersebut diserap oleh molekul atau atom tersebut sesuai dengan strukturnya yang mempunyai gugus kromofor.
Spektrofotometri adalah suatu metode analisis instrumental
berdasarkaninteraksi radiasi elektromagnetik dengan materi. Dimana radiasi elektromagnetiknya adalah sinar dengan daerah panjang gelombang sedangkan materinya adalah molekul atau senyawa kimia.
Bila radiasi elektromagnetik pada daerah panjang gelombang melewati suatu molekul dan bila energi totalnya cukup, maka energi tersebut akan diserap dan di dalam molekul terjadi transisi elektronik yang disebut eksitasi. Bila suatu cahaya (monokromatik maupun campuran) jatuh pada suatu medium homogen sebagian dari sinar masuk akan dipantulkan, sebagian akan di serap medium, dan sisanya akan diteruskan. Berikut tabel spektrum tampak dan warna-warna
17
komplementer yang diserap maupun diteruskan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. (Mailandari, 2012)
Spektrofotometri UV/Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar saat analisis, sehingga spetrofotometer UV/Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibanding kualitatif. Spektrofotometri UV-vis adalah pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet (200 –350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya uv atau cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi.Dimana detector dapat mengukur intensitas cahaya yang dipancarkan secara tidak langsung cahaya yang diabsorbsi. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawa atau warna yang terbentuk. Spektrofotometri UV-Vis merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Alat ini menggunakan dua buah sumber cahaya yang berbeda, yaitu sumber cahaya UV dan sumber cahaya Visible. Larutan yang dianalisis diukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampaknya. Konsentrasi larutan yang dianalisis akan sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut. (Sukindro, 2011).
18 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Pangan, Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala dan Laboratorium Kimia, Prodi Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal 1 Juli sampai 2 Agustus 2019.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Rumput Laut Gracilaria Sp yang terdapat di Tambak Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar. Sampel dalam penelitian ini adalah rumput laut Gracilaria Sp di Tambak Desa Neuhen Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar berjumlah 250 g yang diambil dari populasi secara acak.
3.3 Alat dan Bahan 3.3.1 Bahan
Bahan utama yang digunakan adalah rumput laut Gracilaria sp. Bahabahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol p.a (C2H5OH),
n-heksana p.a (C6H14), etil asetat p.a. (C4H8O2), Asam sulfat (H2SO4), Natrium
hidriksida (NaOH) 40%, Asam Borat (H3BO3), Asam Klorida (HCl), kristal
1,1-difenil-2-pikrilhidrazil DPPH (Aldrich), asam askorbat (C6H8O6), kertas saring Whatmann no 1, dan aquades (H2O)
3.3.2 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan digital (Quattro), botol vial, kulkas, gelas ukur 100 mL (Pyrex), tabung reaksi (Duran),
19
termometer, labu erlenmeyer 500 mL (Duran), desikator, tanur, oven, tabung soxhlet, selongsong lemak, labu Kjeldahl, corong, kertas saring, oven, rotary
vacuum evaporator, kompor listrik (Maspion), pipet mikro ,microplate, dan Spektrofotometer Uv-Vis.
3.4 Prosedur Kerja
Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis proksimat yang mengadopsi prosedur Bagja (2015) untuk analisis kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat rumput laut. Sedangkan untuk analisis antioksidan dari rumput laut Gracilaria sp dilakukan menggunakan DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil).
3.4.1 Analisis Proksimat
Analisis proksimat adalah suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan yang mengadopsi prosedur dari Bagja (2015). Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya.
3.4.1.1 Uji Kadar Air
Dilakukan pengujan kadar air dengan mengeringkan cawan porselen di dalam oven pada suhu 105°C selama 20 menit. Kemudian diletakkan cawan tersebut ke dalam desikator, dan kemudian cawan ditimbang. Seberat 5 gram sampel dimasukkan ke dalam cawan tersebut dan kemudian dikeringkan ke dalam oven selama 5 jam pada suhu 105°C. Kemudian sampel tersebut dimasukkan ke dalam desikator dan ditimbang kembali. Penentuan kadar air menggunakan rumus:
Keterangan:
B0 = Berat cawan kosong (g)
B1 = Berat cawan dengan sampel (g)
21
3.4.1.2 Analisis Kadar Abu
Dilakukan pengujian kadar abu dengan menggunakan cawan pengabuan yang dikeringkan pada suhu 105°C di dalam oven selama 1 jam, kemudian disimpan di dalam desikator selama 15 menit dan ditimbang. Sebanyak 5 g sampel dimasukkan ke dalam cawan pengabuan dan dipijarkan hingga tidak berasap lagi. Kemudian dimasukkan sampel tersebut ke dalam tanur pengabuan selama 6 jam dengan suhu 600°C dan ditimbang. Penentuan kadar abu yang ditentukan dengan rumus:
Keterangan:
B0 = Berat cawan kosong (g) B1 = Berat sampel awal (g)
B2 = Berat cawan dengan sampel setelah ditanur (g)
3.4.1.3 Analisis Kadar Protein
Dilakukan pengujian analisis protein pada sampel rumput laut Gracilaria sp yang dilakukan dengan metode Kjeldalh. Dalam analisis protein terdapat 3 tahapan yang dilakukan yaitu destruksi, destilasi, dan titrasi. tahap destruksi dilakukan dengan cara, dimasukkan sampel rumput laut Gracilaria sp ke dalam tabung Kjeldahl sebanyak 0,4 gram, ditambahkan 0,4 gram selenium dan 10 mL
H2SO4 pekat. Tabung yang berisi larutan tersebut dipanaskan atau didestruksi
selama 1 jam pada suhu 400ºC.
Proses destruksi dapat dilakukan sampai larutan berwarna hijau jernih. Hasil destruksi destilasi larutan dilarutkan dengan menggunakan akuades dalam labu takar 10 mL kemudian dimasukkan ke dalam alat destilasi dan NaOH 40%. ditambahkan 10 mL. Cairan yang terdapat diujung tabung kondensor ditampung
dalam erlenmeyer 50 mL yang berisi larutan H3BO3 dan ditambahkan 2 tetes
indikator (cairan methyl red dan bromo cresol green). Destilasi dapat dilakukan sampai larutan yang diperoleh berwarna hijau kebiruan. Dilakukan titrasi menggunakan larutan HCl 0,1 N sampai larutan yang terdapat di dalam Erlenmeyer berubah menjadi merah muda. Dibaca dan dicatat volume titran.
Dengan cara yang sama juga dapat dilakukan untuk blanko. Penentuan kadar protein dapat ditentukan dengan rumus:
3.4.1.4 Analisis Kadar Lemak
Dilakukan analisis kadar lemak dengan mengadopsi prosedur kerja (Bagja, 2015) yaitu sebanyak 5 gram sampel dimasukkan ke dalam kertas saring dan dimasukkan ke dalam selongsong lemak, kemudian dimasukkan ke dalam labu lemak yang sudah ditimbang setelah itu disambungkan dengan tabung soxhlet. Selongsong lemak dimasukkan ke dalam ruang ekstraktor tabung soxhlet dan dibasahi dengan pelarut n-heksana, kemudian pada suhu 40°C dipanaskan menggunakan pemanas listrik selama 6 jam. n-heksana yang ada dalam labu lemak didestilasi hingga semua pelarut menguap. Pada saat destilasi pelarut akan tertampung di ruang ekstraktor. Kemudian pelarut tersebut dapat dikeluarkan sehingga tidak kembali ke dalam labu lemak, selanjutnya labu lemak dimasukkan kedalam oven kemudian dapat dikeringkan pada suhu 105°C, kemudian labu lemak disimpan dalam desikator sampai beratnya konstan. Penentuan kadar lemak dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
W1 = Berat sampel (gram)
W2 = Berat labu lemak kosong (gram)
W3 = Berat labu lemak dengan sampel (gram)
3.4.1.5 Analisis Karbohidrat
Penentuan kandungan karbohidrat yang terkandung dalam suatu bahan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus seperti yang dillakukan oleh Bagja, (2015), yaitu :
Keterangan:
23
B = Kadar lemak C = Kadar protein D = Kadar abu
3.4.2 Ekstraksi Rumput Laut Gracilaria sp
Digunakan metode ekstraksi pada penelitian ini adalah metode ekstraksi tunggal modifikasi Pramesti (2013) dengan menggunakan pelarut etanol 96 % Dipotong sampel Gracilaria sp segar dengan ukuran yang kecil-kecil dan dihaluskan dengan mortar, kemudian ditimbang sebanyak 250 g, lalu dimaserasi menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 5 L. Dilakukan proses maserasi ini selama 3 x 24 jam (3 hari). Kemudian disaring hasil maserasi dengan menggunakan kertas saring Whatmann No.1 sehingga telah diperoleh filtrat dan residu. Filtrat yang dihasilkan kemudian dievaporasi hingga pelarut terpisah dengan ekstrak menggunakan pada suhu 37°C rotary vacuum evaporator sehingga diperoleh ekstrak kasar. Kemudian ekstrak kasar tersebut diuji aktivitas antioksidannya dengan menggunakan metode DPPH.
3.4.3 Uji Aktivitas Antioksidan dan IC50 dengan Metode DPPH
Pengujian aktivitas antioksidan dan IC50 menggunakan metode DPPH berdasarkan prosedur penelitian Suhaling (2010) yang telah dimodifikasi, sebagai berikut :
1. Pembuatan larutan DPPH
Ditimbang senyawa DPPH sebanyak 15 mg dan kemudian dilarutkan ke dalam etanol p.a hingga 100 mL. Larutan tersebut dimasukkan dalam botol reagen gelap, dibalut dengan aluminium voil dan disimpan di dalam lemari pendingin pada suhu -20˚C.
2. Penentuan panjang gelombang maksimum larutan DPPH
Sebanyak 1 mL larutan DPPH dipipet dan dimasukkan ke dalam botol vial, kemudian ditambahkan etanol p.a, dicukupkan volumenya sampai 5 mL dan dihomogenkan kemudian selama 30 menit dibiarkan, setelah itu diukur serapannnya pada panjang gelombang 400-600 nm dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis.
3. Pengukuran serapan blanko DPPH
Dilakukan pengukuran dengan memipet 1 mL larutan DPPH dan dicukupkan volumenya sampai 5 mL. Campuran dihomogenkan dan selama 30 menit dibiarkan pada suhu kamar dan kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang didapat dengan menggunakan spektofotometri UV-Vis
4. Pengukuran aktivitas antioksian larutan baku asam askorbat (Vitamin C) Dilarutkan vitamin C sebanyak 0,1 g dengan menggunakan etanol 100 mL, diperoleh larutan stok dengan konsentrasi 1000 ppm. Larutan stok masing-masing dipipet 0,5; 1; 2 dan 4 mL, kemudian ditambahkan 1 mL larutan DPPH dan dicukupkan volumenya dengan etanol sampai 5 mL sehingga diperoleh konsentrasi vitamin C 100; 200; 400 dan 800 ppm. Campuran tersebut dikocok dan dibiarkan selama 30 menit pada suhu kamar. Masing-masing larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
5. Pengukuran aktivitas antioksidan Ekstrak Etanol Rumput laut (Gracilaria sp). Ekstrak etanol rumput laut merah sebanyak 0,1 g dilarutkan dengan pelarut etanol 100 mL, diperoleh larutan stok dengan konsentrasi 1000 ppm. Larutan stok masing-masing dipipet 0,5; 1; 2; 4 mL, kemudian ditambahkan larutan DPPH sebanyak 1 mL dan dicukupkan volumenya dengan etanol sampai 5 mL sehingga diperoleh konsentrasi 100; 200; 400 dan 800 ppm. Campuran tersebut dikocok dan dibiarkan selama 30 menit pada suhu kamar kemudian diamati perubahan warnanya. Masing-masing larutan tersebut kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
Nilai persentase inhibisi (penghambatan) dihitung dengan rumus sebagai berikut:
% Inhibisi = x 100
Besarnya aktivitas antioksidan ditentukan dengan nilai IC50 yang dihitung
25
hubungan antara konsentrasi dan presentase inhibisi (%). Nilai IC50 didapatkan
dari nilai x setelah mengganti y = 50 (Ningrum et al., 2017).
3.4.4 Uji Fitokimia Senyawa Polifenol Pada Rumput Laut (Gracilaria sp) Kandungan senyawa polifenol yang terkandung dalam rumput laut Gracilaria sp dilakukan dengan cara mengambil 1 mL ekstrak etanol rumput laut dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian pada ekstrak tersebut
diteteskan senyawa ferri klorida (FeCl3). Adanya kandungan senyawa polifenol
26 BAB IV
HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN
Pengujian aktivitas Antioksidan dari ekstrak etanol rumput laut (Gracilaria sp) telah dilakukan di Laboratorium Kimia FST UIN Ar-Raniry sejak tanggal 1 Juli 2019 sampai dengan tanggal 2 Agustus 2019. Pelaksanaan penelitian diawali dengan pengambilan sampel dari Tambak Desa Neuhen, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar pada tanggal 1 Juli 2019. Simplisia rumput laut selanjutnya dibersihkan dan diuji kadar air, kadar abu, kadar lemak, protein, dan karbohidratnya dan kemudian di ekstraksi menggunakan pelarut etanol. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi.
4.1 Uji Proksimat Rumput Laut Gracilaria sp
1. Penentuan Kadar Air
Penentuan kadar air dapat berpengaruh terhadap suatu bahan. Semakin rendah kadar air dalam rumput laut maka semakin baik kualitas rumput laut tersebut (Tamaheang dkk., 2017). Kadar air dalam rumput laut Gracilaria sp dilakukan dengan mengeringkan 5 gram rumput laut dan dimasukkan ke dalam oven pada suhu 105°C selama 5 jam. Hal ini dilakukan agar rumput laut mengering dengan maksimal.
Kadar air pada rumput laut yang didapatkan pada penelitian adalah sebesar 84,6% . Kadar air adalah banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dapat dinyatakan dalam persen. Kadar air juga merupakan salah satu karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan cita rasa pada bahan pangan. Kadar air yang terdapat didalam suatu bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut, kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan mudahnya bakteri, kapang, dan khamir untuk tumbuh dan berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan (minarno, 2015). Kadar air yang terkandung dalam rumput laut Gracilaria sp masih memenuhi standart mutu rumput laut yang ditetapkan oleh SNI- 01-23542-2006 yaitu minimal kadar air 40%.
27
2. Penentuan Kadar Abu
Kadar abu adalah kandungan abu dari suatu bahan pangan yang menunjukkan residu bahan organik yang telah tersisa setelah bahan organik dalam makanan didestruksi. Dilakukan metode penentuan kadar abu yang terdapat didalah rumput laut dengan mengeringkan cawan pengabuan di dalam oven selama 1 jam menggunakan suhu 105°C, kemudian selama 15 menit disimpan di dalam desikator dan selanjutnya ditimbang. Sebanyak 5 g sampel dimasukkan ke dalam cawan pengabuan dan dipijarkan hingga tidak berasap lagi. Kemudian sampel tersebut dimasukkan ke dalam tanur pengabuan selama 6 jam dengan suhu 600°C dan kemudian ditimbang berat akhirnya. Kadar abu yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 6%.
Menurut Istini dkk., (1986) kadar abu rumput laut sebesar 17,09% dari berat basah .Bahan makanan terdiri dari bahan organik dan komponen air sebesar 96%, sedangkan sisanya berupa unsur-unsur mineral yang dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu, akan tetapi kadar abu tidak selalu equivalen dengan unsur-unsur mineral karena beberapa unsur mineral dapat hilang selama proses pemanasan.
3. Penentuan Kadar Protein
Protein tersusun dari asam-asam amino, sehingga hidrolisis protein secara sempurna akan menghasilkan asam-asam amino. Kadar asam amino suatu produk makanan perlu dikaitkan dengan kebutuhan asam amino dalam tubuh manusia. Ada tiga faktor penting kebutuhan asam amino dalam tubuh manusia yaitu keseimbangan asam amino, kadar asam amino essensial relatif dibandingkan dengan asam amino protein telur, dan rasio asam amino essensial terhadap asam amino non essensial (Arifin., dkk, 2006).
Kadar protein dalam bahan makanan sangat menentukan kualitas bahan makanan yang bersangkutan. Dalam penelitian ini penentuan kadar protein yang dilakukan dengan cara Kjeldhal diperoleh kadar protein sebesar 6,4% dari berat basah. Kadar protein rumput laut Gracilaria sp ini sesuai dengan pendapat (Burtin, 2003), bahwa rumput laut coklat mengandung protein sebesar 3-9% dari berat basah, sedangkan rumput laut merah dan hijau mengandung protein sebesar 6-20% dari berat basah. Penggunaan rumput laut dengan kadar protein tinggi pada
produksi makanan bagi ikan budidaya menjadi aplikasi lain dari sumber tanaman laut.
4. Penentuan Kadar Lemak
Lemak adalah ester asam lemak dan gliserol, yang apabila lemak dipecah secara sempurna akan menghasilkan gliserol dan asam lemak. Asam lemak ini yang dapat menentukan kualitas dari lemak itu sendiri, sehingga pada pengukuran jenis dan kadar asam lemak sangat penting untuk menentukan kualitas lemak. Bahan makanan sumber lemak (trigliserida) berasal dari hewan yang disebut lemak hewani dan bisa juga berasal dari tumbuh-tumbuhan yang disebut lemak nabati. Dalam penelitian ini diperoleh kadar lemak sebesar 1,51% dari berat kering (Handayani., dkk 2004).
Mabeau dan Fleurence (1993), mengemukakan bahwa “Rumput laut mengandung sangat sedikit lemak, yaitu 1- 3% dari berat kering”. Sedangkan Dharmananda (2002), mengemukakan bahwa “Rumput laut secara umum mengandung lemak sebesar 1-5% dari berat kering”. Rumput laut mengandung sangat sedikit lemak. Rumput laut dan tumbuhan pada umumnya menyimpan cadangan makanannya dalam bentuk karbohidrat terutama polisakarida. Sedangkan hewan menyimpan cadangan makanannya dalam bentuk lemak dalam jaringan lemak (Sediaoetama, 2000).
Perbedaan bentuk penyimpanan cadangan makanan ini menyebabkan lemak nabati umumnya mempunyai persentase yang rendah, sedangkan lemak hewani mempunyai persentase yang tinggi.
5. Karbohidrat
Kandungan karbohidrat penting untuk diketahui karena karbohidrat berperan sebagai sumber energi utama manusia. Kandungan karbohidrat rumput laut Gracilaria sp yang didapatkan pada penelitian ini sebesar 1,234 %. Penelitian yang dilakukan oleh Putra (2015), rumput laut Caleurpa sp di peroleh karbohidrat sebesar 0,19 % sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Matanjun et al. (2009), rumput laut Calceurpa sp didapatkan kadar karbohidrat sebesar 0,96 % . dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kadar karbohidrat dari rumput laut Gracilaria sp lebih tinggi dari rumput laut Caleurpa sp. Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi hampir seluruh penduduk bumi dan sumber kalori yang
29
lebih murah dibandingkan dengan protein dan lemak, serta berperan sangat dalam metabolisme tumbuhan dan hewan (Ketaren 1986).
4.2 Ekstraksi Rumput Laut Gracilaria Sp
Maserasi merupakan salah satu cara pemisahan yang dilakukan dengan cara perendaman simplisia menggunakan suatu pelarut dengan kepolaran yang sama dengan senyawa yang akan diekstrak. Senyawa yang akan diekstrak dalam penelitian ini adalah golongan senyawa polifenol yang merupakan golongan senyawa yang bersifat polar. Semakin sama kepolaran pelarut yang digunakan pada ekstraksi dengan senyawa yang akan diekstrak, maka akan semakin maksimal hasil ekstrak yang didapatkan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Susanti et al. (2016) bahwa “Keberhasilan pemisahan bergantung pada kelarutan komponen yang akan dipisahkan dalam pelarut. Senyawa polar akan larut dalam pelarut polar, begitu pula sebaliknya”.
Beberapa pelarut polar yang digunakan sebagai pelarut dalam ekstraksi senyawa golongan polifenol adalah metanol dan etanol. Dalam penelitian ini digunakan pelarut etanol karena selain kepolarannya juga toksisitasnya lebih rendah dibanding metanol. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Susanti et al. (2012) bahwa “Pelarut metanol memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi dari etanol dan juga sedikit lebih tinggi dari pada air, sehingga menyebabkan metanol lebih berbahaya dari pada etanol”.
Selain itu, etanol juga memiliki beberapa keuntungan, yaitu harganya tergolong murah, mudah di dapat, dan relatif lebih aman penggunaannya untuk bahan pangan dibandingkan dengan pelarut organik lainnya. Pelarut ini juga dapat melarutkan hampir semua senyawa organik yang ada pada simplisia, baik yang bersifat polar maupun yang bersifat semipolar, dan mudah menguap sehingga ekstrak mudah dipekatkan (Ahmad et al., 2015).
Ekstraksi yang dilakukan terhadap 250 g rumput laut Gracilaria sp dengan mengguakan pelarut etanol diperoleh ekstrak etanol sebanyak 100 ml. Selanjutnya ekstrak etanol tersebut dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dan IC50 .
4.3 Pengujian Aktifitas Antioksidan dan IC50 dengan Metode DPPH Radikal bebas DPPH sangat bersifat peka terhadap cahaya, oksigen dan pH, tetapi sangat bersifat stabil dalam bentuk radikal sehingga dapat memungkinkan untuk bisa dilakukan pengukuran antioksidan (Molyneux 2004). DPPH dapat menangkap atom hidrogen dari komponen aktif ekstrak yang dicampurkan kemudian dapat bereaksi menjadi bentuk tereduksinya. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol rumput laut dengan menggunakan metode DPPH menggunakan vitamin C sebagai kontrol positifnya. Vitamin C atau asam askorbat adalah senyawa antioksidan alami yang dapat digunakan sebagai kontrol positif dan dapat digunakan sebagai pembanding (Putera, 2015). Hasil DPPH dapat tereduksi membentuk senyawa nonradikal oleh kemampuannya untuk dapat mendonorkan radikal-radikal bebas yang ada pada senyawa tersebut.
4.4 Pembuatan Larutan Blanko dan Kurva Kalibrasi
Pengukuran aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol rumput laut Gracilaria sp diawali dengan mengukur panjang gelombang maksimum senyawa DPPH dengan menggunakan UV-Vis pada panjang gelombang 400 – 600 nm. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum ini dapat bertujuan untuk menentukan panjang gelombang pada saat senyawa yang ingin diukur memberikan absorbansi yang paling optimum. Senyawa yang dapat memberikan absorbansi yang paling optimum, maka pengukuran akan memiliki sensitifitas yang tinggi dan linear sehingga adanya sedikit perubahan pada konsentrasi senyawa dan akan memberikan perubahan yang besar pada absorbansi yang dihasilkan perubahan konsentrasi senyawa sebanding dengan perubahan absorbansi senyawa yang dihasilkan. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum ini menggunakan senyawa BSA (Bovine Serum Albumin), karena BSA merupakan suatu senyawa yang memiliki cincin aromatik dengan jumlah yang cukup untuk menghasilkan pengukuran yang sensitif dan linear pada metode yang digunakan (Sadeli, 2016).
31
Gambar 4.1 Penangkapan Radikal Bebas Oleh DPPH
Gugus kromofor dan auksokrom pada radikal bebas DPPH dapat memberikan absorbansi maksimum pada panjang gelombang 515 nm sehingga menimbulkan warna ungu. Warna DPPH akan berubah dari ungu menjadi kuning seiring penambahan antioksidan yaitu saat elektron tunggal pada DPPH berpasangan dengan hidrogen dari antioksidan. Hasil dekolorisasi oleh antioksidan setara dengan jumlah elektron yang tertangkap.
Berdasarkan hasil pengukuran panjang gelombang larutan DPPH yang dilakukan pada panjang gelombang 400-600nm diperoleh grafik seperti diperlihatkan pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 Kurva Penentuan Panjang Gelombang Maksimum (λmaks) DPPH
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 400 415 430 445 460 475 490 505 520 535 550 565 580 595 Abs orba ns i Panjang Gelombang (λ)
Berdasarkan gambar grafik di atas dapat dilihat bahwa, serapan maksimum terhadap larutan DPPH diperoleh panjang gelombang maksimum pada λ 515 nm. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa untuk pengukuran untuk kurva kalibrasi larutan standar dengan aktivitas antioksidan dilakukan pada λ= 515 nm.
4.5 Uji Aktivitas Antioksidan Pada Vitamin C
Pembuatan larutan blanko bertujuan untuk mengetahui besarnya serapan oleh zat bukan analat. Hasil pengukuran terhadap larutan blanko pada λ = 515 nm diperoleh absorbansi sebesar 1,018. Kontrol positif yang digunakan dalam pengukuran antioksidan pada rumput laut Gracilaria sp adalah asam askorbat. Hal ini disebabkan karena asam askorbat memiliki gugus pendonor elektron, gugus ini
terletak pada atom C2 dan C3. Adanya gugus ini memungkinkan asam askorbat
untuk menangkap radikal bebas pada DPPH. Persentase penangkapan radikal bebas DPPH tertinggi terdapat pada Absorbansi kontrol standar asam askorbat diikuti florotanin, ekstrak florotanin, polifenol, ekstrak polifenol (Septiana dan Ari, 2013). Reaksi yang terjadi antara vitamin C dan DPPH memiliki beberapa tahap yang dapat dilihat pada gambar berikut :
a) Tahap Insiasi
33
c) Tahap Terminasi
Gambar 4.1 Mekanisme Reaksi antara Vitamin C dengan DPPH (Rosahdi et. al., 2013)
4.6 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Rumput Laut Gracilaria sp
Hasil absorbansi DPPH yang diperoleh dapat ditentukan nilai persentasi
penghambatan radikal DPPH (% inhibisi) dan nilai IC50 (inhibitory concentration
50%). IC50 yaitu konsentrasi suatu senyawa antioksidan yang menyebabkan 50%
DPPH kehilangan karakter radikal atau konsentrasi suatu senyawa antioksidan
yang memberikan persentase penghambatan sebesar 50%. Nilai IC50 merupakan
bilangan yang menunjukkan konsentrasi ekstrak (ppm) yang mampu menghambat
proses oksidasi sebesar 50%. Semakin kecil nilai IC50 berarti semakin tinggi
aktivitas antioksidan (Ikhlas. 2013). Menurut Ningrum, et al. (2017) bahwa,
“Harga IC50 yang baik yaitu dibawah 200 ppm atau mg/L, artinya setiap simplisia
yang diuji memiliki nilai IC50 kurang dari 200 ppm memiliki aktivitas antioksidan
yang kuat karena dapat meredam 50% radikal bebas yang ada pada senyawa uji yaitu DPPH”.
Penentuan nilai IC50 terhadap ekstrak etanol rumput laut dan kontrol
positif menggunakan persamaan regresi linier dari hubungan antara nilai % inhibisi dengan konsentrasi ekstrak etanol rumput laut Gracilaria sp maupun kontrol positif. Grafik yang menunjukkan hubungan antara % inhibisi ekstrak etanol rumput laut dengan berbagai konsentrasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 4.3. Kurva Hubungan antara % Inhibisi dengan Konsentrasi Terhadap Ekstrak Etanol Rumput Laut
Berdasarkan gambar diatas dapat diperoleh harga persamaan regresi linear
yaitu y = 0,044x + 13,80 , dimana y merupakan nilai IC50 dan nilai R2 sebesar
0,954 yang menunjukkan bahwa data memiliki tingkat keakuratan yang tinggi. Grafik yang menunjukkan hubungan antara % inhibisi terhadap kontrol positif vitamin c pada berbagai konsentrasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 4.4. Kurva Hubungan antara % Inhibisi Terhadap Kontrol Positif (Vitamin C) Pada Berbagai Konsentrasi
y = 0.044x + 13.808 R² = 0.9548 0 10 20 30 40 50 60 0 200 400 600 800 1000 % In h ib isi
Konsentrasi Ekstrak Etanol (ppm)
y = 0.0418x + 40.672 R² = 0.9359 0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 200 400 600 800 1000 % In h ib isi Konsentrasi Vitamin C (ppm