• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 1 Sejarah Perkembangan Hindu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab 1 Sejarah Perkembangan Hindu"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Sejarah Perkembangan Hindu

Agar dapat memahami dan menghayati Agama Hindu dengan baik dan benar, maka sangat perlu untuk mengetahui sejarah perkembangan Agama Hindu itu sendiri.

Setiap agama di dunia ini memiliki sejarah per-kembangannya masing-masing, sejak wahyu ter-sebut diturunkan sampai ajarannya menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Sejarah perkembangannya ini besar pengaruh-nya terhadap karakteristik dari masing-masing agama tersebut.

Demikian pula halnya dengan Agama Hindu, yang usianya paling tua jika dibandingkan de-ngan agama-agama lainnya, memiliki rangkaian-rangkaian sejarah yang cukup panjang sejak wahyu diturunkan sampai Ajaran Hindu menyebar ke seluruh dunia.

(2)

1.1 Perkembangan Agama Hindu di India

Wahyu yang menjadi sumber ajaran Agama Hindu telah diturunkan lebih dari 4000 tahun yang lalu.

Wahyu ini diturunkan oleh Tuhan melalui Maharsi-Maharsi (terutama Sapta Rsi penerima wahyu) yang sedang bertapa (bersemadi) di sekitar lem-bah Sungai Sindhu dan lemlem-bah Sungai Gangga di India.

Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa In-dia memegang peranan yang penting dalam se-jarah perkembangan Agama Hindu.

Di dalam kesusastraan Hindu negara India dike-nal dengan beberapa sebutan antara lain:

a. Bharata Warsa : yang berarti negerinya Wamsa Bharata.

b. Arya Dwipa : yang berarti negerinya orang-orang Arya.

c. Jambu Dwipa : yang berarti negeri yang berbentuk seperti buah jambu.

(3)

Jika kita tinjau posisi geogra¯s India, maka ne-gara ini dikelilingi oleh berbagai pegunungan antara lain:

* Di sebelah barat, dari utara ke selatan, mem-bujur Pegunungan Hindu Khus dan Pegu-nungan Sulaiman.

* Di sebelah utara India, membentang Pegu-nungan Himalaya.

* Di sebelah timur membujur Pegunungan Pat-kai, Pegunungan Naga, Pegunungan Braik dan Pegunungan Lushai, yang memisahkan India dan Birma.

* Di sebelah selatan terdapat Samudra Indone-sia. India Utara dan India selatan dipisahkan oleh Pegunungan Windhya dan Dataran Tinggi Dekan.

Keadaan negara India yang subur serta geogra¯s yang terlindung dari pengaruh luar, menyebabkan kebudayaan India pada masa yang silam dapat tumbuh dengan subur dan terpelihara dengan baik.

Di India Utara terdapat dua daerah yang meru-pakan pusat peradaban Hindu yaitu : Lembah Sungai Sindhu dan Lembah Sungai Gangga.

(4)

Menurut Radha Krisna, kurun waktu perkem-bangan Agama Hindu di India dapat dibagi men-jadi empat periode (empat jaman), yaitu:

1. Jaman Weda

2. Jaman Wiracarita 3. Jaman Sutra

4. Jaman Scholastik

1.1.1 Jaman Weda

Jaman Weda dapat dibedakan lagi menjadi: Ja-man Weda Kuno, Jamam BrahJa-mana dan Jaman Upanisad.

A. Jaman Weda Kuno

Jaman ini merupakan jaman penulisan kembali Wahyu Suci Weda yang pertama yaitu Reg Weda. Kehidupan keagamaan pada jaman ini lebih banyak menekankan pada: pembacaan, penyanyian, dan perapalan ayat-ayat suci Weda.

Jadi bentuk dan sistem pemujaan yang menon-jol adalah melaksanakan Bhakti Marga (yaitu menekankan pada sujud bakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa melalui cara-cara di atas).

(5)

Konsep Ketuhanan pada jaman ini mengakui dan mempercayai ke-Esaan Tuhan, yang dima-nifestasikan melalui sinar-sinar kemahakuasaan-Nya yang disebut Dewa.

Hal ini antara lain dinyatakan dalam ayat berikut. Reg Weda I. 164. 46:

Ekam Sat wipra bahuda wadanti Agnir Ya-mam MatariswamYa-mam ahuh.

Artinya: Tuhan adalah Esa, tetapi para arif bijaksana memberi nama Agni, Yama, Ma-tariswa dan lain-lainnya.

Salah satu peninggalan dari Jaman ini, yang merupakan peradaban tertua di Lembah Sun-gai Sindhu, adalah : Kota Mahenyodaro dan Kota Harapah.

Setelah Jaman Weda Kuno, diikuti oleh jaman Weda belakangan yaitu jaman penghimpunan dan penulisan kembali Wahyu Suci lainnya yaitu :

* Kitab Suci Yajur Weda * Kitab Suci Sama Weda

(6)

B. Jaman Brahmana

Jaman ini merupakan jaman disusunnya kitab-kitab Brahmana (Karma Kanda) yang isinya memuat tentang :

a. Himpunan dari do'a - do'a,

b. Penjelasan-penjelasan tentang Upacara (Yadnya),

c. Penjelasan tentang kewajiban-kewajiban keagamaan.

Pada jaman ini pengamalan agama lebih mene-kankan pada pelaksanaan Yadnya Upacara.

Hal ini menggeser perhatian terhadap aspek Tat-twa dan Etika.

Pada jaman ini peranan kaum Brahmana men-jadi sangat menonjol, sehingga akhirnya meng-geser Sistem Catur Warna (yang penggolon-gannya menurut Weda berdasarkan Guna Karma) menjadi Sistem Kasta (yang penggolongan-nya berdasarkan keturunan).

Hal ini jelas merupakan penyimpangan dari pelak-sanaan Weda.

(7)

C. Jaman Upanisad

Jaman ini merupakan jaman dihimpunnya kitab-kitab Upanisad (Jnana Kanda).

Kitab ini isinya memuat tentang penjelasan-penjelasan ¯loso¯s dari apa yang telah diuraikan pada Kitab Mantra pada Jaman Weda dan Ja-man BrahJa-mana.

Di dalam Weda dikatakan bahwa kitab Upanisad pokok ada sebanyak 108 buah.

Pelaksanaan agama yang menonjol pada jaman ini adalah pembahasan rohaniah dengan meni-tik beratkan pada pendalaman ¯lsafat yang mem-batin (pelaksanaan Jnana Marga).

Konsepsi- konsepsi yang menjadi topik pem-bicaraan antara lain :

a. Keyakinan terhadap Panca Sraddha Tattwa (Brahman, Atman, Hukum Kar-mapala, Sam-sara/Punarbawa dan Moksa).

b. Dasar dan tujuan hidup manusia yaitu : Catur Purusartha (Dharma, Artha, Kama dan Moksa).

(8)

Jika kita tinjau dari arti katanya, Upanisad be-rarti: duduk dekat dengan guru untuk me-nerima wejangan-wejangan suci.

Sistem pendalaman ¯lsafat yang bersifat raha-sia dan membatin dilakukan dengan sistem: Pas-raman, sehingga Upanisad sering juga disebut Rahasiopadesa atau Aranyaka, yang berarti ajaran rahasia yang ditulis di hutan.

(9)

1.1.2 Jaman Wiracarita

Jaman Wiracarita ini ditandai oleh masa-masa atau hal-hal berikut:

a. Masa perkembangan kitab-kitab Upanisad. b. Masa perkembangan sistem ¯lsafat (dharsana).

c. Jaman munculnya dua epos besar yaitu: Wi-racarita Ramayana dan Maha-bharata, yang mengajarkan nilai-nilai kepahlawanan dan kebe-naran (Dharma).

d. Jaman timbulnya banyak pemikir-pemikir dan ¯losof-¯losof yang mengembangkan ajaran-ajaran agama dengan berbagai aliran.

Pada jaman ini, di satu pihak berkembang aliran yang pembahasasnnya bersifat: Non Theistis (tidak membahas tentang Tuhan maupun Dewa-Dewa) seperti mi-salnya Buddha dan Jaina, sedangkan di lain pihak berkembang aliran yang pembahasannya bersifat Theistis (banyak mem-bahas tentang Tuhan) seperti Bhagawadgita dan Kitab-Kitab Upanisad lainnya.

(10)

Hasil karya yang menonjol pada jaman ini adalah kitab Ramayana dan kitab Mahabharata.

a. Ramayana

Kitab ini disusun oleh Rsi Walmiki dan terdiri atas tujuh kanda.

Salah satu bagian yang penting dari kitab ini adalah Ajaran Astabrata yaitu: ajaran ten-tang delapan sifat dewa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (kepala negara) untuk men-capai keadilan dan kemakmuran negara.

b. Mahabharata

Kitab ini disusun oleh Rsi Wyasa dan terdiri atas delapan belas Parwa, sehingga dikenal juga dengan sebutan Asta Dasa Parwa.

Salah satu bagian yang penting dari kitab ini adalah Bhagawadgita yang merupakan intisari dari Bhisma Parwa, yang antara lain memba-has tentang:

* Bhakti Yoga : yaitu ajaran menuju kepada-Nya melalui sujud bakti dan penye-rahan diri. * Karma Yoga : yaitu ajaran menuju

kepada-Nya melalui kerja yang tanpa mengikatkan diri pada hasilnya.

(11)

* Jnana Yoga : yaitu ajaran menuju kepada-Nya melalui kebijaksanaan ¯lsafat.

* Raja Yoga : yaitu ajaran untuk berhubungan dengan-Nya melalui suatu konsentrasi sehingga mencapai Samadhi.

* Paramatma (Tuhan Yang Maha Esa), Pu-rusa (jiwa), dan Prakerti (bukan jiwa, atas serba kebendaan).

(12)

1.1.3 Jaman Sutra

Jaman Sutra ini ditandai oleh munculnya kitab-kitab Sutra yang memuat penjelasan dan ko-mentar terhadap Weda dan Mantra-Mantra, serta kitab-kitab yang merupakan sumber dari ¯lsafat-¯lsafat Hinduisme.

Kitab Sutra yang penting antara lain:

a. Kalpasutra. Isi dari kitab ini membahas

tentang Yadnya: yaitu cara-cara melakukan Upacara Kurban Suci.

b. Dharmasutra. Isi dari kitab ini membahas tentang pengertian Dharma yang meliputi tugas dan kewajiban umat manusia seba-gaimana yang diuraikan di dalam Weda.

Kitab-kitab sutra yang merupakan sumber ajaran dari ajaran-ajaran ¯lsafat yang tergolong Hin-duisme antara lain: Nyaya-sutra (sumber ajaran Nyaya), Waisesika-sutra (sumber ajaran Wa-isesika), Yoga-sutra (sumber ajaran Yoga), Mimamsa-sutra (sumber ajaran Mimamsa), dan Wedanta-sutra (sumber ajaran Wedanta).

(13)

1.1.4 Jaman Scholastik

Jaman ini ditandai dengan lahirnya pemikir-pemikir besar seperti: Sankara, Ramanuja, Madhwa dan sebagainya.

Pemikir-pemikir ini menulis kembali ajaran ter-dahulu dengan memberi interpretasi dan

pengembangan-pengembangan baru. Sehingga lahirlah beberapa ¯lsafat antara lain :

a Adwaita : yaitu suatu ajaran bahwa tidak ada dualisma. Jadi tidak ada sesuatu yang nyata yang lepas dari roh yang mutlak yaitu Brahman.

b Wisista Adwaita : yaitu suatu ajaran yang berpangkal pada tiga kenyataan, yaitu: Tuhan, Cit (Jiwa) dan Acit (benda, bukan jiwa). Hanya Tuhan yang bebas, sedangkan semua yang lainnya tergantung pada Tuhan.

c Dwaita : yaitu suatu ajaran yang berpangkal pada dua kenyataan yang ber-beda (dualisma) yaitu: yang tidak nyata (Tuhan) dan yang nyata (benda). Semua yang ada tergantung pada Tuhan.

(14)

1.2 Penyebaran Agama Hindu ke Berbagai Daerah di Dunia

Dengan berjalannya waktu, Ajaran Hindu telah menyebar ke berbagai daerah yaitu ke hampir seluruh penjuru dunia.

Penyebaran Agama Hindu ke seluruh dunia da-pat kita lihat dari berbagai peninggalan berupa prasati-prasasti, benda- benda bersejarah, adat-istiadat dan bukti lainnya yang menunjukkan adanya pengaruh Hindu, di samping eksistensi Agama Hindu di berbagai penjuru Dunia saat ini.

Berikut ini akan kita lihat pengaruh Agama Hindu di berbagai daerah penting di Dunia.

(15)

A. Pengaruh Agama Hindu di Mesir Pengaruh Agama Hindu di Mesir dapat kita li-hat dari beberapa butir berikut:

- Di Mesir terdapat prasasti berangka 1280 se-belum masehi, yang berisi tulisan tentang nama raja-raja Mesir seperti Ramases I, Ra-mases II dan sebagainya. Nama-nama ini sangat mirip dengan nama Rama yang me-rupakan penjelmaan Dewa Wisnu.

- Di Mesir juga dikenal nama Maitrawaruna yaitu nama dewa yang disebutkan di dalam Weda.

(16)

B. Pengaruh Agama Hindu di Gurun Sahara Afrika

Pengaruh Agama Hindu di Gurun Sahara dapat kita lihat dari beberapa butir berikut:

- Gurun Sahara adalah sebuah dasar samudera yang mengering. Kata Sahara berasal dari kata Sagara yang berarti lautan.

- Penduduk di sekeliling Gurun Sahara banyak mempergunakan nama-nama bernada San-skerta, seperti penduduk negeri Kosala yang merupakan nama yang ada di dalam kitab Mahabharata.

- Di Pulau Madagaskar juga banyak dikenal nama-nama yang erat hubungannya dengan nama Rama.

C. Pengaruh Agama Hindu di Aus-tralia

Pengaruh Agama Hindu di Australia dapat kita lihat dari bukti berikut:

- Di Australia ada suatu tarian sakral yang disebut Tarian Ciwa (Ciwa Dance). Para penari dari Tarian Ciwa ini menggambari dahi mereka dengan mata ketiga sehingga meng-hasilkan apa yang disebut Trinetra yang me-rupakan simbol dari Dewa Indra.

(17)

D. Pengaruh Agama Hindu di Peru Pengaruh Agama Hindu di Peru dapat kita lihat dari beberapa butir berikut:

- Penduduk asli Peru yaitu Bangsa Inca, men-genal hari raya tahunan yang dirayakan pada saat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa (Kalau di Bali pada saat: Sasih Kenem (Desember) atau Sasih Sada (Juni). - Kata Inca mirip dengan kata Sanskerta Ina

yang berarti matahari. Jadi mereka tergo-long para pemuja Tuhan dalam wujud Dewa Surya (Adhitya) yang merupakan salah satu nama Dewa dalam Agama Hindu.

(18)

E. Pengaruh Agama Hindu di Mexico Pengaruh Agama Hindu di Mexico dapat kita lihat dari beberapa butir berikut:

- Di Mexico ada Hari Raya Rama-Sita, yang dirayakan tepat pada perayaan Nawaratri. - Di sini terdapat sejumlah Patung Ganesa,

yang merupakan simbol kebijaksanaan dalam Agama Hindu.

- Nama dari penduduk asli Mexico, yaitu Bangsa Astec, berhubungan erat de-ngan nama San-skerta Astika yang berarti: golongan (peng-anut) yang meyakini Ajaran Weda.

F. Pengaruh Agama Hindu di Califor-nia

Pengaruh Agama Hindu di California dapat kita lihat dari bukti berikut:

- Kata California mungkin sekali berasal dari kata Sanskerta Kapila Arania, yang berarti Petala Loka yaitu negeri di balik Bumi. Hal ini juga benar dari kenyataan bahwa Califor-nia terletak di Benua Amerika, yang letaknya di Bumi adalah di balik Benua Asia tempat Negara India.

(19)

1.3 Penyebaran Agama Hindu di Indonesia

Sebelum Agama Hindu menyebar ke Indonesia, di Indonesia telah ada kebudayaan yang kita se-but Kebudayaan Indonesia Asli.

Penyebaran Agama Hindu ke Indonesia terutama lewat penyebaran secara tidak langsung yaitu lewat kontak dagang antara penduduk Indone-sia dengan penduduk India, di samping juga adanya Para Rsi dari India yang mengajarkan Agama Hindu di Indonesia.

Dengan berjalannya waktu, agama Hindu telah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia.

Sifat penduduk Indonesia dalam menghadapi kebudayaan luar adalah °eksibel, yaitu mau nerima kebudayaan luar tetapi selektif atau me-nerimanya secara tidak langsung.

(20)

Sejarah penyebaran Agama Hindu di Indone-sia dapat dilihat dari beberapa bukti sejarah berikut:

(a) Peninggalan Kerajaan Kutai di Ka-limantan Timur

Peninggalan tertua Agama Hindu di Indonesia terdapat di daerah Kutai, berupa "tulisan di atas batu" yang disebut Yupa.

Tulisan ini menggunakan huruf Pallawa dan bahasa sanskerta. Semuanya ada tujuh buah Yupa.

Pada salah satu Yupa terdapat tulisan yang ber-bunyi:

* Srimato nrpa mukhyasya * Rajnah Sri Mulawarmanah * Danam punya tame ksetre * Yad dattam Waprakesware. Artinya:

* Seorang raja yang mulia dan terkemuka, * Bernama Raja Mulawarman,

* Telah memberi dana punia 20.000 ekor lembu,

* Kepada para Brahmana yang bertempat tinggal di tanah suci Waprakesware.

(21)

Waprakesware adalah tempat suci yang ber-hubungan dengan Iswara.

Pada Yupa lainnya terdapat keterangan bahwa Raja Mulawarman adalah putra dari Raja Aswawarman, dan Raja Aswawarman adalah putra dari Raja Kundungga.

(22)

(b) Peninggalan Prasati Batu Bertulis di daerah Jawa Barat

- Peninggalan ini berupa "batu Bertulis" yang terdapat di daerah Bogor, di pinggir sungai Citarum.

- Prasasti ini ditulis dengan menggunakan hu-ruf Pallawa dan bahasa sanskerta, dan ber-bunyi sebagai berikut:

* Wikrantasya wanipateh

* Srimatah Purnawarmanah * Taruma Nagarendrasya * Wisnor eva pada dwayam. Artinya:

* Tersebutlah seorang raja yang terke-nal,

* Yang bernama Raja Purnawarman, * Yang memerintah di Kerajaan

Taru-manegara,

(23)

(c) Prasasti Canggal

- Prasasti ini berangka 732 masehi dan ter-letak di Jawa Tengah.

- Pada prasasti ini disebutkan tentang pemu-jaan terhadap Ciwa, Brahma, dan Wisnu. Jadi telah mengenal konsep Trimurti.

(d) Prasasti Dinoyo

- Prasasti ini berangka 760 masehi dan dite-mukan di daerah Malang.

- Pada prasasti ini disebutkan: dilakukannya pemujaan secara khusus kepada Ciwa.

(e) Prasasti Pereng

- Prasasti ini berangka 863 masehi dan ter-letak di Jawa Tengah.

- Di sini dinyatakan pemujaan terhadap Agastya yang dipandang sebagai utusan Ciwa.

(f ) Peninggalan Agama Hindu di Bali - Agama Hindu menyebar ke Bali diperkirakan

pada abad ke-8 dibawa oleh Rsi Markandeya. - Peninggalan Agama Hindu yang paling besar

di Bali adalah Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung.

(24)

1.4 Perkembangan Tantrayana di Indonesia

Ajaran Hindu yang mula-mula menyebar ke In-donesia dapat dibedakan menjadi tiga paham atau aliran, yaitu:

(a) Paham Brahmaisme (b) Paham Waisnawa (c) Paham Ciwaisme.

Di antara ketiga paham ini, paham Ciwaisme yang dominan.

Jadi sedikit berbeda dengan yang ada di India, di mana ketiganya memiliki kedudukan yang sama. Di samping Agama Hindu, di Indonesia juga berkembang Agama Buddha.

Agama Buddha di Indonesia meliputi dua sekte yaitu:

(a) Buddha Hinayana (b) Buddha Mahayana.

Sekte Buddha Hinayana terlebih dahulu datang ke Indonesia, tetapi sekte ini tidak berkembang. Sekte yang berkembang adalah Buddha Ma-hayana.

(25)

Buddha Mahayana yang menyebar ke Indonesia sebenarnya telah dipengaruhi oleh Ajaran Yo-gacarya dari Aliran Wajrayana.

Dengan berkembangnya beberapa aliran (pa-ham) secara bersama-sama, maka terjadilah apa yang disebut sinkritisme, yaitu: perpaduan an-tara dua paham atau aliran yang berbeda dan setelah luluh menjadi satu merupakan paham baru.

Jika kedua paham yang bergabung memiliki ke-samaan dasar, maka hal ini mempermudah ter-jadinya sinkritisme.

Sinkritisme antara Ajaran Trimurti dengan Bud-dha Mahayana menghasilkan aliran baru yang disebut: Aliran Ciwa-Buddha.

Aliran Ciwa-Buddha yang mengkhususkan pada pemujaan Sakti disebut: Aliran Tantrayana.

(26)

Beberapa bukti dari perkembangan Aliran Tan-trayana di Indonesia adalah:

(a) Prasasti Klurak (berangka 704 caka): Pada prasasti ini disebutkan tentang Dewa Man-jusri yang melambangkan Tri Ratna. Tri Ratna terdiri atas:

- Buddha - Dharma - Sanggha,

yang pada hakekatnya identik dengan Ajaran Trimurti pada Aliran Ciwaisme.

(b) Prasasti Taji (berangka 828 caka): Prasasti ini ditemukan di sebelah timur Candi Prambanan. Pada prasasti ini terdapat mantram yang berbunyi:

Om namas ciwa namo Buddhaya.

(Artinya: Om hormat kepada Ciwa dan Buddha. )

(27)

(c) Lontar Sutasoma

Di dalan Lontar Sutasoma gubahan Mpu Tan-tular ada sloka yang berbunyi:

* Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha wiswa

* Bhineki rakwa ringapan kne parwanosen * Mangkang jinatwa kelawan Ciwa Tattwa

tunggal

* Bhineka Tunggal Ika tan hana Dharma mangrwa.

Artinya:

* Dikatakan ada dua datu (intisari yang mulia) yaitu Hyang Ciwa dan Buddha. * Konon itu berbeda, tetapi kapan dapat

dipisahkan.

* Demikian pada hakekatnya Ciwa dan Bud-dha adalah tunggal.

* Berbeda itu namun tunggal, tak ada Tuhan mendua.

(28)

Aliran Tantrayana ini umumnya hanya berkem-bang pada golongan tertentu, misalnya di ling-kungan keraton dan dirahasiakan bagi masyarakat umum.

Ciri-ciri aliran Tantrayana pada patung adalah: a. Membawa mangkok berisi darah,

b. Membawa pisau,

c. Berdiri di atas rangkaian tengkorak / mayat manusia / seekor binatang.

(29)

Perkembangan lebih lanjut dari Aliran Tantra-yana di Indonesia menimbulkan Paham Bhai-rawa, yang dapat dibedakan atas:

1. Bhairawa Kalacakra (dominan Buddhis). Aliran ini dianut oleh

- Raja Kertanegara (di Jawa Timur),

- Raja Adityawarman (di Sumatra Barat). 2. Bhairawa Bhima (dominan Ciwaisme).

Peninggalan aliran ini terdapat di

- Sekitar Candi Sukuh dan Ceta (di Jawa Timur),

- Pura Kebo Edan (di Pejeng Bali) berupa Arca Bhima.

3. Bhairawa Heruka:

- Ada pengaruh Tibet,

- Lambangnya patung manusia berkepala kuda, - Terdapat di Padang Lawas (Aceh).

(30)

1.5 Penutup

Wahyu suci yang menjadi sumber Ajaran Hindu diterima oleh para Maha Rsi di India.

Jadi ajaran ini berkembang dari daerah India. Agama Hindu yang merupakan agama tertua, dengan berjalannya waktu, ajarannya telah me-nyebar ke barbagai pelosok daerah di dunia.

Berdasarkan fakta sejarah di mana Agama Hindu pernah berjaya di seluruh Indonesia, misalnya pada jaman kejayaan Majapahit dan Pajajaran, maka disadari atau tidak, Agama Hindu telah besar pengaruhnya untuk ikut menentukan ke-pribadian Bangsa Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait