Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke-44 UNS Tahun 2020
“Strategi Ketahanan Pangan Masa New Normal Covid-19”
Potensi Dioscorea esculenta (Lour.) Burkill sebagai Bahan Pangan dan
Tanaman Obat: Review
Nur Rahmawati Wijaya, Devi Safrina, dan Tyas Friska Dewi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Abstrak
Umbi gembili (Dioscorea esculenta (Lour.) Burkill masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Beberapa upaya untuk meningkatkan nilai ekonomi tanaman gembili sudah banyak dilakukan baik dari segi konservasi, peningkatan produktivitas maupun diversifikasi produk berbahan tanaman ini. Review ini bertujuan untuk mengungkapan berbagai potensi yang dimiliki gembili sebagai bahan pangan maupun sebagai tumbuhan obat. Umbi gembili mengandung alkaloid, terpenoid, saponin, β-sistosterol, stigmasterol, fenolik, glikosida jantung, lemak, pati, PLA, dioscorin, diosgenin dan inulin. Sebagai bahan pangan gembili mengalami perubahan kandungan gizi akibat pengolahan baik secara digoreng, direbus, maupun dikukus. Perubahan zat gizi yang terjadi meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan karbohidrat. Pengolahan menjadi produk dalam bentuk tepung umbi dan tepung pati menyebabkan terjadinya perbedaan kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan total pati. Sebagai bahan obat, umbi gembili berkhasiat sebagai antifertilitas, antihipertensi, antiinflamasi, mengobati diabetes, antioksidan dan kolesterol.
Kata kunci: gembili, Dioscorea esculenta, bahan pangan, bahan obat
Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang kaya akan jenis umbi-umbian. Beberapa diantaranya merupakan umbi berpati seperti ubi kayu, ubi jalar, gadung, garut, porang, gembolo, uwi, talas dan gembili (Hatmi dan Djaafar, 2014). Gembili merupakan salah satu umbi yang berasal dari family Dioscoreaceae yang berpotensi sebagai pangan alternatif sumber karbohidrat (Turmudi, et al., 2009). Salah satu genus dalam family tersebut adalah Dioscorea. Kelompok ini terdiri dari 600 spesies (Aminah, Hidayah, dan Tanjung, 2017), beberapa diantaranya yaitu D. alata, D. pentaphylla, D. bulbifera, D. hispida dan D.
esculenta (Dutta, 2015).
Keanekaragaman tanaman umbi yang dimiliki dapat menyebabkan tidak semua tanaman telah dimanfaatkan secara optimal, salah satunya gembili. Gembili dapat digunakan
sebagai tanaman pangan tinggi karbohidrat dan biasa dikonsumsi di daerah tropis (Prabowo
et al., 2014). Akan tetapi tanaman yang berpotensi sebagai bahan pokok tersebut masih kalah
pamor dengan padi, jagung, singkong dan ubi. Beberapa upaya untuk meningkatkan nilai ekonomi tanaman gembili sudah banyak dilakukan baik dari segi konservasi, peningkatan produktivitas maupun diversifikasi produk.
Di Indonesia, gembili memiliki berbagai sebutan antara lain Kombili, Sido (Jawa); Kaburan, Kamburan (Madura); Huwi Butul, Huwi Jahe, Kuwi Kawayang, dan Huwi Cheker (Sunda). Tumbuhan dengan nama sinonim Dioscorea aculeata Roxb. (illeg.) dan Dioscorea
aculeata var. spinosa (Prain) Roxb. ex Prain & Burkill ini memiliki batang memanjat yang
melilit, berbentuk ramping, dan berduri. Daun tunggal, berwarna hijau, tersusun berseling, dan tangkai daun berukuran 5-8 cm. Helaian daun berbentuk ginjal, dengan panjang dan lebar 15x17 cm, ujung daun berbentuk runcing sedangkan pangkal daun membulat (Lim, 2016). Pembungaan uniseksual, bunga jantan terletak di ketiak sedangkan bunga betina melengkung ke arah bawah dengan bulir berbentuk menyerupai tandan. Buah pipih berbentuk kapsul dengan biji bersayap. Setiap 1 individu tanaman menghasilkan 4-20 umbi berbentuk silinder (Estiasih, 2015) Umbi berukuran panjang mencapai 12-20 cm (Lim, 2016). Kulit umbi berwarna keabu-abuan dan daging umbi berwarna putih kekuningan (Richana & Sunarti, 2004).
Gembili dapat dibudidaya di dataran rendah dengan ketinggian hingga 900 mdpl dengan suhu 27,5 – 35ºC. Tanaman dengan tinggi 3-5 meter ini biasa ditemukan di hutan dan mampu tumbuh di daerah tropis maupun subtropis (Herlina, 2015; Prabowo et al., 2014). Tumbuhan ini tersebar di negara Nigeria, China, Mexico, India dan berbagai negara lain di dunia (Shajeela et al., 2011).
Gembili dapat digunakan sebagai alternatif bahan pangan dan sebagai makanan pokok. Pangan merupakan kebutuhan primer dalam kehidupan manusia. Menurut UU no 18 tentang pangan, segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati baik diolah maupun tidak diolah, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman (RI, 2012). Gembili tidak hanya memiliki kandungan gizi tetapi juga mengandung senyawa bioaktif. Beberapa senyawa bioaktif yang terkandung antara lain diosgenin, β-sistosterol, saponin, stigmasterol, diosgenin, inulin dan dioscorin. Kandungan senyawa bioaktif mengakibatkan gembili berkhasiat sebagai obat (Kurniawati dan Estiasih, 2015). Khasiat obat pada tanaman tersebut antara lain sebagai antiinflamasi, antifertilitas, rematik, diabetes dan antihipertensi (Prabowo et al., 2014; Shajeela et al., 2011).
Meskipun berguna sebagai alternatif bahan pangan dan berkhasiat obat, gembili masih ditanaman dalam jumlah yang terbatas kerena rasanya belum digemari, ketersediaan bibit terbatas, kandungan gizi serta khasiat yang belum diketahui oleh masyarakat (Tatay, 2018). Potensi gembili selain sebagai alternatif bahan pangan (diversifikasi) dan sebagai tanaman obat telah dikembangkan melalui penelitian sudah banyak dilakukan akan tetapi belum diketahui oleh masyarakat. Review ini bertujuan untuk mengungkapan berbagai potensi yang dimiliki gembili sebagai bahan pangan maupun sebagai tumbuhan obat. Beberapa informasi yang dibahas dalam review ini antara lain senyawa bioaktif, potensi gembili sebagai alternatif bahan pangan dan potensi gembili sebagai tanaman obat.
Senyawa Bioaktif
Senyawa bioaktif merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan melalui reaksi metabolisme sekunder. Metabolit sekunder merupakan hasil dari sintesis metabolit primer (Prabowo et al., 2014). Hasil skrining fitokimia memberikan informasi bahwa umbi gembili mengandung saponin, diosgenin, β-sistosterol, stigmasterol, dan glikosida jantung (Olayemi dan Ajaiyeoba, 2007). Selain itu terdapat juga kandungan fenolik berupa nudol dan confusarin (Aminah et al., 2017), saponin, alkaloid, flavonoid, serta inulin (Lim, 2016). Inulin umbi gembili memiliki aktivitas prebiotik tinggi sehingga sering ditambahkan pada produk susu (Ferra dan Masrikhiyah, 2019). Gembili memiliki kadar inulin yang paling tinggi dibandingkan Dioscorea yang lain dengan kadar inulin 14,77% (Winarti, 2017). Senyawa metabolit sekunder lain yang biasa terdapat pada famili Dioscoreaceae adalah polisakarida larut air (PLA), dioscorin, dan diosgenin. Ketiga senyawa tersebut sangat bermanfaat baik oleh industri makanan maupun industri farmasi.
1. PLA
PLA berupa getah kental yang mengandung glikoprotein dan polisakarida. Senyawa ini membentuk masa kental dan dapat membentuk gel dalam saluran pencernaan (Prasetya,
et al.,, 2016). PLA dapat digunakan sebagai emulsifier dan penstabil adonan roti dan kue
(Haryati et al., 2020). Umbi gembili mengandung PLA sebanyak 13,14% (Utomo et al., 2019)
2. Dioscorin
Dioscorin merupakan protein yang berperan sebagai cadangan utama pada umbi Dioscorea (Prasetya et al., 2016). Senyawa ini memiliki aktivitas immunomodulator, dan mengontrol hipertensi (Haryati et al., 2020). Umbi gembili mengandung kadar dioscorin
sebanyak 0,77% (Mar’atirrosyidah dan Estiasih, 2015) Dioscorin merupakan senyawa alkaloid bersifat basa yang mengandung satu atau lebih nitrogen heterosiklik dan beracun bagi manusia (Julaeha et al., 2016) Sifat toksik senyawa tersebut pada umbi dapat dikurangi dengan cara pencucian, pemberian perlakuan panas (Pramitha dan Wulan, 2017) dan melalui fermentasi BAL (Bakteri Asam Laktat) (Setiarto dan Widhyastuti, 2016). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan dosis yang tepat agar dapat digunakan sebagai obat tanpa memberikan efek racun di dalam tubuh.
3. Diosgenin
Diosgenin merupakan sapogenin stereoidal yang masuk dalam kelompok triterpen. Senyawa ini berperan dalam produksi steroid, hormon kelamin, dan kontrasepsi oral (Oncina et al., 2000) serta memiliki potensi sebagai anti kanker, mengatasi hiperkolesterolemia, radang, serta infeksi (Haryati et al., 2020). Umbi gembili mengandung diosgenin sebanyak 0,53% (Behera dan Sahoo, 2010) .
Gembili sebagai Alternatif Bahan Pangan
Gembili merupakan salah satu sumber energi karena kandungan karbohidrat yang tinggi (Epriliati, 2000). Umbi gembili umumnya dikonsumsi dengan cara direbus, dikukus, maupun digoreng yang tentunya dapat merubah kandungan gizi yang terdapat di dalamnya. Selain dimakan dengan cara direbus maupun digoreng, gembili juga dapat dimanfaatkan sebagai produk setengah jadi yaitu berupa tepung umbi maupun tepung pati. Tabel 1 menunjukkan kandungan gizi gembili dengan beberapa pengolahan.
Tabel 1. Komposisi gembili dengan beberapa pengolahan
Analisis Komposisi Zat Gizi Gembili Mentah* Gembili Rebus* Gembili Kukus* Gembili Goreng* Tepung
Umbi** Tepung Pati**
Kadar Air (%) 64,49 68,09 62,11 49,09 6,44 4,06 Kadar Abu (%bk) 1,62 2,15 2,13 2,56 2,87 0,16 Kadar Lemak (%bk) 0,51 0,63 0,37 7,75 0,89 2,24 Protein (%bk) 4,63 3,71 2,99 4,25 - - Karbohidrat (%bk) 85,87 91,05 93,33 88,88 - - Tingkat gelatinisasi (%bk) 60,39 60,66 84,21 51,58 42,16 51,34 Total pati (%bk) - 44,64 62,12 47,94 9,8 12,47
Sumber: (Rimbawan dan Nurbayani (2013)*; Richana dan Sunarti, 2004**)
Tabel 1 menunjukkan terjadinya perubahan kandungan gizi gembili selama pengolahan baik dengan direbus, dikukus maupun digoreng. Perubahan ini terjadi pada
hampir semua komponen zat gizi meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, maupun karbohidrat karena pengaruh pemanasan maupun media selama pengolahan. Kadar air tertinggi olahan gembili terdapat pada gembili rebus karena dalam pengolahannya menggunakan air. Kadar lemak tertinggi terdapat pada olahan gembili goreng karena penggunaan minyak dalam metode pengolahannya sehingga kemungkinan terjadi penyerapan minyak. Karbohidrat pada gembili yang diolah lebih tinggi dibandingkan dalam kondisi mentah, sebagai akibat proses pengolahan yang menyebabkan penurunan zat gizi. Tingkat gelatinisasi pada gembili goreng rendah karena kadar serat dan lemak yang tinggi (Rimbawan dan Resita, 2013).
Tepung umbi maupun tepung pati gembili memiliki perbedaan kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan total pati. Hal ini berkaitan dengan cara pengolahan tepung umbi dan tepung pati gembili yang berbeda. Kadar abu pada tepung pati lebih rendah karena diperoleh dari ekstraksi dan pencucian dengan air berulang sehingga mineral terlarut dan terbuang bersama ampas. Kadar lemak pada tepung pati lebih tinggi dibandingkan tepung umbi karena kadar lemak masih berikatan dengan pati sehingga tidak terbuang bersama ampas sehingga bobot patinya meningkat (Richana dan Sunarti, 2004).
Selain pati, umbi gembili juga dapat diproses menjadi tepung. Produk setengah jadi gembili berupa tepung umbi maupun tepung pati potensial untuk dikembangkan karena memiliki beberapa keunggulan. Jika pada pembuatan pati gembili dilakukan proses ekstraksi, pada pembuatan tepung tidak dilakukan ekstraksi sehingga serat umbi masih terbawa pada produk. Gembili memiliki ukuran granula pati yang halus, indeks glikemik (>70) serta kadar inulin yang tinggi sehingga dapat menjadi bahan pangan pendamping diet serta dapat berperan sebagai prebiotik maupun pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan (Rimbawan dan Nurbayani, 2013).
Pati termodifikasi merupakan pati yang telah mengalami pengolahan baik secara fisika maupun kimia namun daya ikat yang dimiliki rendah (Dewi et al., 2019). Pati umbi gembili termodifikasi memiliki ukuran granula yang halus sehingga pati gembili cocok digunakan untuk membuat makanan pendamping ASI (MP-ASI), serta diet untuk orang sakit (Herlina, 1996; Markus, 2015). Salah satu bentuk makanan pendamping ASI dari gembili adalah toddler cookies yang memanfaatkan umbi gembili sebagai bahan baku (Dewi et al., 2019).
Banyak produk olahan lain yang dapat dikembangkan dari tepung pati maupun tepung gembili. Dengan berbagai manfaat yang dimilikinya, gembili dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif yang memiliki banyak keunggulan. Semakin berkembangnya teknologi
juga menuntut modifikasi sediaan gembili secara modern. Beberapa penelitian formulasi dengan komposisi gembili telah dilakukan untuk meningkatkan minat masyarakat melalui diversifikasi pangan. Beberapa penelitian yang dilakukan antara berupa beras analog (Septyaningsih et al., 2016), mie (Sari et al., 2015), kue kering (Prameswari & Estiasih, 2013), roti (Kuncara, 2011), nugget (Pratiwi et al., 2016), getuk (Koir et al., 2017), hingga
snack bar (Cahyani & Rosiana, 2018). Pembuatan beras analog dilakukan dengan merendam
umbi pada Na Bisulfit kemudian dalam pengolahannya diberikan bahan tambahan berupa STTP, air, garam, alginat dam minyak sawit diperoleh kandungan karbohidrat 37,59% dan protein 5,53% (Septyaningsih et al., 2016). Penggunaan tepung gembili dalam pembuatan mie dilakukan dengan beberapa variasi perbandingan tepung gembili dan tepung terigu. Uji hedonik menunjukkan variasi terbaik diperoleh dengan perbandingan 25:75 (Sari et al., 2015). Penelitian pembuatan kue kering yang dilakukan memperoleh hasil bahwa proporsi tepung gembili dan pati jagung 60:40 memiliki sifat fisik, kimia dan organoleptik terbaik (Prameswari dan Estiasih, 2013). Penggunaan tepung gembili yang dikombinasikan dengan tepung terigu untuk pembuatan roti diperoleh perbandingan 900:100 gram yang menghasilkan hasil optimal dengan kadar air 21,15%, kadar protein 7,02% dan kadar lemak 9,29% (Kuncara, 2011). Pemberian tepung gembili pada nugget ikan tongkol juga terbukti dapat meningkatkan kadar abu, serat pangan, serta inulin (Pratiwi et al., 2016). Pembuatan getuk dengan prosentase 20% merupakan formula terbaik dari segi tekstur, kadar protein, kadar air, kadar abu dan karbohidrat (Koir et al., 2017). Pembuatan snack bar dengan tepung gembili 90% ditambah tepung kedelai 10% menghasilkan tekstur yang renyah dan serat pangan 12,55 gram/100 gram (Cahyani dan Rosiana, 2018). Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian tersebut dapat membuka diversifikasi produk pangan lain baik sebagai bahan dasar maupun bahan pendukung dari umbi gembili sehingga dapat meningkatkan minat masyarakat serta nilai ekonomi.
Gembili sebagai Tanaman Obat
Sejak dahulu, manusia menggunakan berbagai bagian tumbuhan sebagai obat. Salah satunya adalah bagian umbi. Umbi gembili memiliki khasiat sebagai berikut:
1. Antifertilitas
Gembili digunakan secara tradisional sebagai kontrasepsi oral. Menurut penelitian, menggunakan ekstrak etanol gembili sebanyak 300 mg/kg berat badan dan 600 mg/kg berat badan efektif menghasilkan sterilitas yang reversible. Ekstrak etanol gembili
menghambat konsentrasi, motilitas dan testosteron pada sperma tikus putih Wistar.Aktivitas ini berhubungan dengan kandungan berbagai steroid saponin berupa diosgenin dan aglicon serta dioscorin, dioscin, dan alkaloid lain. Diosgenin dan aglicon merupakan bahan yang banyak digunakan industri untuk pembuatan hormon steroid (Shajeela et al., 2011).
2. Antihipertensi
Hipertensi terjadi akibat perubahan angiotensin 1 menjadi angiotensin 2 dengan batuan ACE (Angiotensin Converting Enzyme). Angiotensin 2 bersifat vasoconstrictor (menyebabkan penyempitan pembuluh darah) sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Beberapa penelitian terkait potensi antihipertensi mengungkapkan bahwa senyawa dioscorin yang tedapat pada gembili mampu menghambat aktivitas ACE (Kurniawati dan Estiasih, 2015). Penelitian dengan menggunakan mie gembili yang mengandung dioscorin yang diberikan selama 28 hari menghasilkan penurunan tekanan darah pada tikus (Nugraheni, 2012).
3. Diabetes
Diosgenin yang terkandung dalam gembili memiliki efek penurunan glukosa darah dengan cara menurunkan enzim laktase, maltase dan transaminase. Senyawa ini juga dapat menyebabkan penurunan disakarida intestinal sehingga terjadi penghambatan pemecahan karbohidrat menjadi monosakarida sehingga peningkatan kadar glukosa darah menurun (Yofananda dan Estiasih, 2016). Diosgenin juga berpengaruh meningkatkan sensitifitas dan menurunkan resistensi insulin (Sato et al., 2017).
3. Antiinflamasi
Ekstrak metanol dari umbi gembili dievaluasi untuk sifat antiinflamasi pada model hewan menggunakan tikus Wistar. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode benang kapas dalam mengukur edema kaki kanan belakang dan pembentukan jaringan granuloma pada tikus. Ekstrak diuji pada dosis antara 100-200 mg/kg berat badan tikus. Ekstrak menunjukkan penghambatan signifikan edema yang diinduksi karagenan pada dosis dengan efek selama 1 jam dan 2 jam masing-masing pada dosis 100 mg/kg dan 150 mg/kg. Aktivitas yang diamati sebanding dengan 150 mg/kg asam asetil salisilat yang digunakan sebagai kontrol. Ekstrak metanol gembili dapat mengurang peradangan yang terjadi (Olayemi dan Ajaiyeoba, 2007).
4. Antioksidan
Antioksidan bermanfaat sebagai penangkap radikal bebas yang mengakibatkan terjadinya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hepatitis, pemicu tumor dan kanker.
Senyawa bioaktif dari gembili yang berfungsi sebagai antioksidan antara lain tannin dan alkaloid (Wahyuni dan Indradewi, 2015). Sedangkan penelitian lain menyatakan bahwa komponen fenolik lain yang berperan sebagai antioksidan yaitu confusarin dan nudol dengan masing-masing nilai 1C50 19,63 ± 0,09 dan 37,91 ± 0,08 ppm (Aminah et al., 2017).
5. Antikolesterol
Salah satu cara untuk menurunkan kadar kolestrol adalah dengan konsumsi sinbiotik (gabungan probiotik dan prebiotik). Sumber prebiotik yang dapat digunakan adalah inulin. Penelitian menyatakan bahwa penggunaan inulin mampu menurunkan kadar kolestrol dalam darah (Anandharaj et al., 2014). Sementara Saputra dan Margawati, (2015) dalam penelitiannya menggunakan yoghurt sinbiotik tanpa lemak dengan penambahan tepung gembili dengan dosis 4 ml/hari selama 2 minggu menghasilkan penurunan kadar kolesterol darah secara signifikan.
Kesimpulan
Umbi gembili mengandung senyawa kimia antara lain alkaloid, terpenoid, saponin, disgenin, β-sistosterol, stigmasterol, fenolik, glikosida jantung, PTA, dioscorin, diosgenin dan inulin. Sebagai bahan pangan gembili mengalami perubahan kandungan gizi akibat pengolahan baik secara digoreng, direbus, maupun dikukus. Perubahan zat gizi yang terjadi meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan karbohidrat. Sementara dalam bentuk tepung umbi dan tepung pati terdapat perbedaan kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan total pati. Sebagai bahan obat umbi gembili berkhasiat sebagai antifertilitas, antihipertensi, antiinflamasi, antioksidan, mengobati diabetes, dan kolesterol.
Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala B2P2TOOT dan Ketua PPI B2P2TOOT atas dukungan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan naskah review.
Daftar Pustaka
Aminah, N. S., Hidayah, R., & Tanjung, M. (2017). Confusarin and nudol, two phenathrene group compounds, from Dioscorea esculenta L. and their antioxidant acitivities. Journal
of Chemical Technology and Metallurgy, 52(6), 1135–1139.
Anandharaj, M., Sivasankari, B., & Rani, R.P. (2014). Corrigendum to “Effects of Probiotics, Prebiotics, and Synbiotics on Hypercholesterolemia: A Review.” Chinese Journal of
Behera, K. K., & Sahoo, S. (2010). Biochemical Quantification of Diosgenin and Ascorbic Acid from the Tubers of Different Dioscorea Species Found in Orissa. Libyan
Agriculture Research Center Journal International, 2(2), 123–127. Retrieved from
http://www.idosi.org/larcji/1(2)10/10.pdf
Cahyani, W. & Rosiana, N. M. (2018). Jurnal kesehatan. Jurnal Kesehatan, 9(2), 1–9. Retrieved from http://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/908/753 Dewi, A. T., Rahayu, K. D., Lestari, R., & Rum, I. A. (2019). Preparasi dan Evaluasi
Ko-Proses Pati Gembili (Dioscorea esculenta L) Pregelatinasi-HPMC sebagai Eksipien Tablet Kempa Langsung. Journal of Pharmacopolium, 2(2), 94–103.
Dutta, B. (2015). Food and medicinal values of certain species of Dioscorea with special reference to Assam. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 3(4), 15–18.
Epriliati, I. (2000). Potensi Dioscorea Dalam Pangan Fungsional. Jurnal Teknologi Pangan
Dan Gizi, 1(1), 29–38.
Estiasih, T. (2015). Senyawa bioaktif pada umbi-umbian lokal Dioscorea sp. dan Pengembangannya untuk Pangan Fungsional. Seminar Nasional Peran Zat Gizi Sebagai
Regulator Gen Dan Kesehatan, 75–148.
Ferra, M. & Masrikhiyah, R. (2019). Ekstraksi Inulin dari Umbi Gembili (Discorea esculenta L) Dengan Pelarut Etanol. Jurnal Pangan dan Gizi, 9(2), 110–116. https://doi.org/10.26714/jpg.9.2.2019.110-116
Haryati, T., Dwiatmini, K., Diantina, S., Koswanudin, D., Yuniawati, R., & Priyatno, T. P. (2020). Karakterisasi Kuantitatif Diosgenin dengan Spetrofotometri UV-Vis pada Koleksi Umbi Dioscorea spp. di Indonesia. Buletin Plasma Nutfah, 26(1), 21–28. https://doi.org/10.21082/blpn.v26n1.2020.p21-28
Hatmi, R. U. & Djaafar, T. F. (2014). Keberagaman Umbi-Umbian Sebagai Pangan Fungsional. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang Dan Umbi
2014, (22), 950–960.
Herlina. (1996). Karakterisasi Sifat Fisik, Kimia, dan Fungsional Bahan Pati Umbi Gembili (Dioscore esculenta L.) Termodifikasi secara Ikatan Silang dengan Natrium Tripolifosfat. Agrotek, 4(1), 60–67.
Herlina. (2015). Penggunaan Tepung Glukoman Umbi Gembili (Dioscorea esculenta L.) sebagai Bahan Tambahan Makanan pada Pengolahan Sosis Daging Ayam. Jurnal
Agroteknologi, 09(02).
Julaeha, E., Rustiyaty, S., Nurmaliah Fajri, N., Ramdlani, F., Tantra, R. G., & Studi Pendidikan Teknologi Agroindustri, P. (2016). Pemanfaatan Tepung Gadung (Dioscorea
hispida Dennist.) pada Produksi Amilase Menggunakan Basillus sp. Fortech, 1(1), 2016.
Retrieved from http://ejournal.upi.edu/index.php
Koir, R. I., Devi, M., & Wahyuni, W. (2017). Analisis Proksimat Dan Uji Organoleptik Getuk Lindri Substitusi Umbi Gembili (Dioscorea esculenta L). Teknologi Dan
Kejuruan: Jurnal Teknologi, Kejuruan, dan Pengajarannya, 40(1), 87–98.
https://doi.org/10.17977/um031v40i12017p087
Kuncara, A. L. (2011). Substitusi Tepung Gembili (Dioscorea esculenta L.) pada Pembuatan
Roti Tawar. Universitas Atmajaya.
Kurniawati, I. T. & Estiasih, T. (2015). Efek Antihipertensi Senyawa Bioaktif Dioscorin Pada Umbi- Umbian Keluarga Dioscorea : Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri,
3(2), 402–406.
Lim, T. K. (2016). Edible Medicinal and Medicinal Plants. Edible Medicinal and
Non-Medicinal Plants, 10, 1–659. https://doi.org/10.1007/978-94-017-7276-1
Mar’atirrosyidah, R. & Estiasih, T. (2015). Aktifitas Antioksidan Senyawa Bioaktif Umbi-Umbian Lokal Inferior: Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 3(2), 594– 601.
Markus, A. G. F. (2015). Pengembangan Produk Biskuit sebagai Makanan Pendamping ASI berbasis Tepung Gandum dan Gembili dengan Penambahan Protein (Biji Kecipir) dan Pro-Vitamin A (Wortel). Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian.Universitas Katolik Soegijapranata
Nugraheni, S. (2012). Efek Antihipertensi Mie Instan Berbasis Tepung Umbi Gembili (Dioscorea esculenta L.) Dengan Penambahan Gluten Kering yang Diuji Secara In Vivo. Skripsi. Universitas Brawijaya, Malang.
Olayemi, J. & Ajaiyeoba, E. (2007). Anti-inflammatory studies of yam (Dioscorea esculenta) extract on wistar rats. African Journal of Biotechnology, 6(16), 1913–1915. https://doi.org/10.5897/ajb2007.000-2289
Oncina, R., Botía, J. M., Del Río, J. A., & Ortuño, A. (2000). Bioproduction of diosgenin in callus cultures of Trigonella foenum-graecum L. Food Chemistry, 70(4), 489–492. https://doi.org/10.1016/S0308-8146(00)00121-7
Prabowo, A. Y., Estiasih, T., & Purwantiningrum, I. (2014). Umbi gembili (Dioscorea
esculenta L .) sebagai bahan pangan mengandung senyawa bioaktif : kajian pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2(3), 129–135.
Prameswari, R. D., & Estiasih, T. (2013). Pemanfaatan Tepung Gembili (Dioscorea esculenta L.) Dalam Pembuatan Cookies. Jurnal Pangan dan Agro Industri, 1 No. 1(1), 115–128. Pramitha, A. R., & Wulan, S. N. (2017). Detoksifikasi Sianida Umbi Gadung (Dioscorea
hispida Dennst.) dengan Kombinasi Perendaman dalam Abu Sekam dan Perebusan. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 5(2), 58–65.
Prasetya, M. W. A., Estiasih, T., Ida, N., & Nugrahini, P. (2016). Potensi Tepung Ubi Kelapa Ungu dan Kuning ( Dioscorea alata L .) sebagai Bahan Pangan Mengandung Senyawa Bioaktif: Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 4(2), 468–473.
Pratiwi, T., Rachmawanti Affandi, D., Jati Manuhara, G., Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, P., & Pertanian, F. (2016). Aplikasi Tepung Gembili (Dioscorea esculenta) Sebagai Substitusi Tepung Terigu Pada Filler Nugget Ikan Tongkol (Euthynnus affinis). Jurnal
Teknologi Hasil Pertanian, IX(1), 34–50.
Republik Indonesia. (1992).Undang-Undang No.12 Tahun 2012 tentang Pangan. lembar Negara RI Tahun 1992.No 12.Sekretariat Negara.Jakarta.
Richana, N., & Sunarti, T.C. (2004). Karakterisasi Sifat Fisikokimiatepung Umbi dan Tepung Pati dari Umbi Ganyong, Suweg, Ubikelapa dan Gembili. J.Pascapanen, 1(1), 29–37. Rimbawan, & Resita, N. (2013). Nilai Indeks Glikemik Produk Olahan Gembili (Dioscorea
esculenta). Jurnal Gizi dan Pangan, 8(2), 145–150.
Saputra, S., & Margawati, A. (2015). Pengaruh Pemberian Yoghurt Sinbiotik Tanpa Lemak Dengan Penambahan Tepung Gembili (Dioscorea esculenta) Terhadap Kadar Kolesterol Total Tikus Hiperkolesterolemia. Journal of Nutrition College, 4(2), 104–109. https://doi.org/10.14710/jnc.v4i2.10052
Sari, D.K., Lestari, R.S.D., Sari, V.D.K., & Umbara, M.T. (2015). Pemanfaatan Tepung Gembili (Dioscorea esculenta) dalam Pembuatan Mie. Seminar Nasional Sains dan
Teknologi, (November), 1–5.
Sato, K., Fujita, S., & Iemitsu, M. (2017). Dioscorea esculenta-induced increase in muscle sex steroid hormones is associated with enhanced insulin sensitivity in a type 2 diabetes rat model. FASEB Journal, 31(2), 793–801. https://doi.org/10.1096/fj.201600874R Septyaningsih, D., Wirasti, H., Rahmawati, & Wibowo, E.A.P. (2016). Analisis Kandungan
Beras Analog Berbahan Dasar Umbi Gembili (Dioscorea esculenta). Prosiding Seminar
Nasional XI “Rekayasa Teknologi Industri Dan Informasi, 363–367.
Setiarto, R.H.B., & Widhyastuti, N. (2016). Pengaruh Fermentasi Bakteri Asam Laktat Terhadap Sifat Fisikokimia Tepung Gadung Modifikasi (Dioscorea hispida). Jurnal
Shajeela, P.S., Mohan, V.R., Louis Jesudas, L., & Tresina Soris, P. (2011). Antifertility acitivity of ethanol extract of Dioscorea esculenta (L.) Schott on male albino rats.
International Journal of PharmTech Research, 3(2), 946–954.
Tatay, P., Widiastuti, M.M., & Untari. (2018). 1 analisis pendapatan budidaya dan
pengolahan hasil gembili. Musamus Journal of Agribusiness, 1(1), 32–40.
Turmudi, E., Herison, C., & Handayaningsih, M. (2009). Pengembangan Uwi (Dioscorea)
sebagai Pangan Alternatif Sumber Karbohidrat: Koleksi, Karakterisasi dan Peningkatan Produktivitas. Bengkulu.
Utomo, S., Adnan, A.Z., Sulistyo, R., Lestari, D., & Sari, D.K. (2019). Pengaruh Rasio
Pelarut dan Waktu Ekstraksi terhadap Kadar Glukomanan pada Ekstraksi Umbi Gembili ( Discorea esculenta L ) Berbantu Gelombang Mikro. (April), 1–7.
Wahyuni, S., & Indradewi, F. (2015). Nilai Gizi, Fitokimia Dan Kadar Total Fenol Dari Beberapa Umbi Lokal Sulawesi Tenggara. Chem. Prog, 8(2), 34–40. https://doi.org/10.35799/cp.8.2.2015.13263
Winarti, S., Susiloningsih, E.K.B., & Fasroh, F.Y.Z. (2017). Karakteristik Mie Kering Dengan Substitusi Tepung Gembili dan Penambahan Plastiziser Gms (Gliserol Mono Stearat). Agrointek, 11(2), 53. https://doi.org/10.21107/agrointek.v11i2.3069
Yofananda, O., Estiasih, T. (2016). Potensi Senyawa Bioaktif Umbi-Umbian Lokal Sebagai Penurun Kadar Glukosa Darah : Kajian Pustaka Bioactive Compounds Potential In Local Tubers For Lowering Blood Glucose Levels : A Review. Jurnal Pangan dan