JU A pad Bro me Ge ter Co sia (Si dit ber sol fun ini dig me bai pen TV ter K ann dig ana Fr TV sec leb tek kom ter int leb M Ind T TV sta DV DV asp opt cov dik
S
URNAL TEKN Abstrak—Siara da awalnya m oadcasting-Tere enjadi DVB-T2 eneration). Oleh rmasuk optimas verage merupa aran TV digital ingle Frequen terapkan denga rusaha mencar lusi yang lain, ngsi energy (fitn dilakukan d gital sehingga enggunakan 10ik pada mode nelitian ini adal V digital DVB
rbaik rata-rata
Kata Kunci—D nealing, TV Dig
AAT ini Ind analog ke dig gital mempuny alog. Pada pen equency) hany V, sedangkan p
cara multipleks bih efisien dala knik modulasi mplek memun rhadap ganggua terferensi, sehi bih baik diband Migrasi TV an donesia dari ta (Digital Video V digital terestr andar TV digit VB-T2 karena VB [2]. Akibat pek yang pe timasi coverag verage merupa karenakan dala
Optim
DV
JuruS
IK POMITS V an TV digital ya menggunakan estrial) yang ke 2 (Digital Video h karena itu, p si coverage TV akan salah sat l. Pada tugas ancy network)
an metode SA (S ri solusi dengan , dimana akan
ness) yang terke
engan mengub didapatkan po
cooling schedu
FFT 2K ataup lah daerah cove -T2 mengalam sebesar 2.348% DVB-T2, optim gital I. PENDA donesia tengah gital. Hal ini di yai lebih banyak
nyiaran TV an ya mampu dite pada TV digit s oleh beberap am penggunaan i digital dise ngkinkan peny an derau dan d ingga kualitas dingkan penyia nalog ke TV d ahun 2007, yai o Broadcasting rial (darat ke d tal tersebut pa pengembanga t dari pergantia erlu disesuaik ge. Pada pener akan salah satu am TV digital a
masi Co
VB-T2
usan Teknik E
Vol. 2, No. 2, (2
ang akan ditera standar DVB-mudian pada t o Broadcasting-penelitian-pene digital sudah t tu bagian yan akhir ini, optim pada peman Simulated Anne n berpindah d dipilih solusi ecil. Optimasi d bah-ubah posi osisi yang terb
ule dengan mela
pun 4K. Hasil y erage SFN pada mi peningkatan % pada cooling s masi coverage, AHULUAN h memulai mi latarbelakangi k keunggulan d nalog, sebuah
mpati oleh sat tal dapat digun pa program siar n spektrum frek ertai pengolah yiaran TV dig distorsi oleh ka gambar yang aran TV analog digital telah dim
tu dengan dite g – Terestrial) darat) di Indon ada tahun 2012 n dan peningk an standar terse kan, salah sa rapan siaran T u bagian yang apabila receive
overag
denga
Adib Nur Elektro, Faku Jl E-mail: a 2013) ISSN: 23 apkan di Indone -T (Digital Vid ahun 2012 diga -Terestrial Seco litian sebelumn tidak relevan la ng penting dal masi coverage S ncar TV dig ealing). Metodeari satu solusi yang mempun dengan metode si pemancar baik. Optimasin akukan 2 kali yang dicapai d a pemancar siar n coverage rel schedule 7. SFN, Simula igrasi siaran T bahwa siaran T dibandingkan T kanal RF (Ra tu program sia nakan bersama ran TV, sehing kuensi. Selain i han sinyal ya gital lebih tah anal ataupun e g dihasilkan ju g [1]. mulai pemerin etapkannya DV ) sebagai stan esia. Akan teta 2 diubah menj katan standar d ebut maka bany atunya menge TV digital, dae g penting. Hal er (penerima)
ge SFN
an Met
Ikhwan, End ultas Teknolog l. Arief Rahm [email protected] 337-3539 (230 esia deo anti ond nya agi. lam SFN ital SA ke nyai SA TV nya tes, dari ran atif ated TV TV TV dio ran aan gga itu, ang han fek uga ntah VB-dar api, adi dari yak enai rah ini Gambar tidak m layar TV itu, opti penerap DVB menggu dimana secara menawa (Multi F minimn dan mem Dalam metode didasark suatu te yang te susunan sampai kemudi kristal-k diadapta permasa optimas mengop Dalam saling prediksi Arah p menunjuN pada
tode Si
droyono dan G gi Industri, In man Hakim, Su ee.its.ac.id , g 01-9271 Print) 1. Diagram met menerima seca V tidak akan d imasi coverage pan TV digital B-T2 memu unakan jaringa beberapa pem simultan pad arkan lebih b Frequency Net nya interferens miliki keandal m pengoptima SA. SA merup kan pada pros eknik yang m erdiri dari bu n kristal yang tingkat terte ian didinginka kristal dengan asi oleh S alahan optima si coverage ptimalkan posis II. M m metode pen berhubungan i propagasi, m panah yang m ukkan hubunga Pema
imulat
Gamantyo He nstitut Teknol urabaya 6011 gamantyo@ee tode penelitianara penuh siny ditampilkan si e menjadi sala di Indonesia. ungkinkan p an SFN. SFN mancar mengi da kanal frek banyak keuntu twork), seperti si, penggunaan an yang tinggi asian coverage pakan salah sat ses annealing. mempelajari pr utir kristal dan
sempurna, m entu hingga an secara per n kualitas yan SA untuk asi, termasuk d e pada ja si setiap peman METODEPEN nelitian ini diba seperti pada model penerima menghubungkan gan/keterkaitan
ancar T
ted ann
endrantoro logi Sepuluh N 11 e.its.ac.id yal transmisi m iaran tersebut. ah satu topik pe pemancar T adalah jaringa irimkan sinyal kuensi yang ungan dibandin i coverage yan n daya yang l [3]. pemancar SFN tu algoritma st . Proses annea roses pembent n logam. Aga maka diperlukan materi terseb rlahan agar m ng baik [4]. menyelesaikan dalam peneliti aringan SFN ncar TV digita NELITIANagi menjadi tig gambar 1, y a dan model o n antar bagian antar bagian te
TV Dig
nealin
Nopember (IT A-maka dalam Oleh karena enting dalam TV digital an penyiaran l yang sama sama. SFN ngkan MFN ng lebih luas, lebih efisien N digunakan tokastik yang aling adalah tukan materi ar terbentuk n pemanasan but mencair, menghasilkan Konsep ini n berbagai ian ini yaitu N dengan al. ga blok yang yaitu model optimasi [5]. n pada blok ersebut.gital
ng
TS) -329JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-330
Tabel 1.
Posisi pemancar pada mode 2K dan 4K Mode Koordinat Pemancar
X1 Y1 X2 Y2 X3 Y3 2K 39,5 39,5 60,5 39,5 50 57,6865 4K 29 38 71 38 50 74,373
Tabel 2.
Range koordinat gedung penghalang
Mode Daerah X min X max Y min Y max 2K 1 34 42 32 36 2K 2 54 62 32 36 2K 3 44 46 55 64 2K 4 54 56 55 64 4K 1 27 33 32 36 4K 2 67 73 32 36 4K 3 40 45 69 77 4K 4 55 60 69 77
A. Model Prediksi Propagasi
Model prediksi propagasi digunakan untuk mengestimasi kontribusi dari sejumlah N pemancar terhadap SFN pada setiap lokasi penerima berdasarkan model propagasi yang digunakan dan dengan menggunakan data posisi ataupun ketinggian gedung di daerah yang diukur. Model ini untuk mengukur daya terima (Pn, 1 ≤ n ≤ N) dan delay propagasi (δn, 1 ≤ n ≤ N) yang berhubungan dengan setiap pemancar dari titik penerima (1 ≤ r ≤ R) dalam wilayah SFN.
Dalam penelitian ini luasan daerah yang diukur secara keseluruhan adalah 10km × 10km yang disimulasikan dalam square-grid matrik 100x100 dengan satu titik penerima setiap matriknya, sehingga terdapat 10000 titik penerima. Dalam optimasi ini digunakan 3 pemancar TV digital yang diletakkan pada posisi segitiga sama sisi agar daerah cakupannya dapat maksimal dengan koordinatnya ditunjukkan pada tabel 1. Posisi ketiga pemancar tersebut ditentukan berdasarkan jarak maksimum antar pemancar, dimana dalam penelitian ini digunakan mode 2K dan 4K dengan rasio guard interval 1/32. Sehingga jarak maksimum antar pemancar yang diperbolehkan adalah 2,1 km untuk mode 2K dan 4,2 km untuk mode 4K. Tinggi ketiga pemancar ditentukan sama yaitu sebesar 30 meter, dengan daya pancar sebesar 100 W. Gain trasmitter (Gd) dan gain receiver (Gr) sebesar 10 dB. Frekuensi yang digunakan adalah 600 MHz dengan bandwidth sebesar 8 MHz.
Model propagasi yang digunakan pada penelitian ini adalah model propagasi free space dan knife edge. Model free space digunakan apabila antara pemancar dan penerima tidak terdapat halangan (obstacle) atau berada pada jalur line-of-sight (LOS) diantara keduanya. Nilai Daya free space yang diterima oleh antena receiver yang dipisahkan dari antena pemancar pada jarak d, dapat ditentukan dengan (1) berikut.
4 (1)
dimana adalah daya terima dalam fungsi T-R, adalah daya yang ditransmisikan, adalah gain antena pemancar,
adalah gain antena penerima, adalah panjang gelombang (meter), d adalah jarak antara penerima dan pemancar (meter) dan L adalah system loss factor yang tidak ada hubungannya dengan propagasi (L ≥ 1).
Sedangkan jika terdapat halangan diantara pemancar dan penerima maka terdapat nilai gain difraksi yang diprediksi dengan model propagasi knife edge. Nilai daya terima total (P) didapatkan dari jumlah antara daya terima hasil pendekatan model free space dengan gain difraksi (Gd) seperti yang ditunjukkan pada (2).
10
4 dB (2)
Halangan dalam propagasi knife-edge ini berupa gedung penghalang yang berjumlah 60 gedung. Setiap gedung dimodelkan berbentuk persegi yang berukuran 100m × 100m. Gedung-gedung tersebut ketinggiannya diacak dalam range 10-80 meter agar sesuai dengan kondisi aslinya. Selain itu, posisi gedung-gedung tersebut juga disusun secara acak tetapi masih berada di sekitar posisi pemancar dengan dibatasi range tertentu agar pengaruh adanya obstacle tersebut besar terhadap daerah coverage SFN dan kondisi terjelek dari adanya obstacle dapat dimodelkan. Pada tabel 2 dapat dilihat range koordinat gedung yang disusun acak tersebut.
B. Model Penerima
Blok penerima menggabungkan sinyal yang datang pada tiap lokasi penerima dari N pemancar yang menyusun SFN menggunakan metode penjumlahan daya. Sinyal-sinyal ini dapat berkontribusi untuk membangun secara penuh atau sebagian atau bahkan menginterferensi komponen. Pada model penerima ini, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan delay propagasi sinyal dari tiap titik penerima terhadap masing-masing pemancar. Nilai tersebut telah diperoleh dengan model prediksi propagasi. Kemudian dicari nilai delay efektif dengan cara mengurangi nilai delay propagasi dengan nilai referensi waktu (δ0) 100 ns, nilai referensi ini adalah durasi yang dibutuhkan satelit GPS untuk memancarkan sinyal 1 pps (pulse per second) ke oscillator 10 MHz pada penerima GPS di pemancar DVB-T2 sehingga setiap pemancar DVB-T2 menjadi sinkron. Nilai Daya terima (P(d)) dihitung menjadi dua cara berdasarkan adanya difraksi, jika tidak ada difraksi maka dihitung dengan model propagasi free space (1) dan jika ada difraksi maka dihitung dengan model propagasi knife edge (2). Dengan nilai receiver mask (3) dapat diketahui juga nilai carrier (C) dan carrier-to-interference ratio (C/I) (5) [5].
/ 1 / 0 jika (Tg-Tp) < t ≤ 0 jika 0 < t ≤ Tg jika Tg < t ≤ Tp untuk yang lain
(3)
Pada persamaan (4), Tu adalah panjang simbol yang berguna, Tg adalah panjang guard interval, Tp adalah interval saat sinyal berkontribusi konstruktif.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-331
∑ ∈ .
∑ ∈ . 1 ∑ ∈ (5)
Pada persamaan (5) diatas SFN terdiri atas N pemancar A={1, ..., N} dan terdapat M pemancar pada jaringan lain yang beroperasi pada frekuensi yang sama B={1, ..., M}. Pn adalah
daya terima dari pemancar ke-n, adalah nilai fungsi bobot, adalah delay relatif echo ke-n untuk referensi waktu sinkronisasi dan adalah noise power. Noise power dapat diketahui dari (6).
(6) dimana k adalah konstanta Bolzmann (1,38 × 10 ), T adalah suhu absolut (290 K) dan B adalah bandwidth.
C. Model Optimasi
Pada proses optimasi digunakan algoritma SA. Hubungan antara metode SA dan masalah coverage ini adalah pada fitness function. Fitness function dipakai untuk memeriksa keakuratan iteratif dari solusi Q (7) yang berkaitan pada persentase daerah coverage sinyal pada daerah SFN. Solusi Q pada penelitian ini adalah konfigurasi posisi terbaik dari ketiga pemancar. Pada penelitian ini posisi ketiga pemancar akan diubah-ubah sehingga diperoleh konfigurasi optimal dari pemancar. Covr adalah jumlah titik penerima yang tercakup karena telah memenuhi kriteria QoS (C≥Cmin dan (C/I)≥(C/I)min) seperti pada (9). Nilai Cmin adalah -75 dBm [11], sedangkan Nilai (C/I)min dicari yang sesuai dengan luasan 100 km2 baik pada mode 2K ataupun 4K. Nilai fitness
function merupakan 100 persen dikurangi nilai Covr seperti ditunjukkan pada (8) [6]. Dari nilai fitness yang telah diketahui tersebut maka dapat dijadikan initial energy pada optimasi dengan SA.
, , … , , (7)
% 100 1 (8)
1
0 Jika C ≥ CUntuk yang lain min & (C/I) ≥ (C/I)min (9) Pada metode SA, dibutuhkan beberapa variabel awal yaitu:
a. Temperatur awal (T0) = 0,5 b. Temperatur akhir (TN) = 0,001
c. Iterasi maksimum (N atau imaks) = 1000
d. Cooling shedule yang digunakan adalah semua cooling schedule (cooling schedule 0 sampai 9) Dalam kaitannya dengan optimasi pada coverage SFN pemancar TV digital, maka algoritma SA dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Menentukan nilai kontrol T0, TN dan iterasi maksimal yang diinginkan.
Menentukan initial solution (posisi awal pemancar). Menghitung fitness dari initial solution tersebut.
Tabel 3.
Macam-macam cooling schedule [7]
Cooling schedule Persamaan 0 1 2 1 ; ; 1 3 ln ; 4 . 5 1 2 1 cos 6 1 2 1 tanh 10 5 7 cosh 10 8 1 ln ; 9 1 ln ;
Melakukan random posisi setiap pemancar, dimana batas posisi random ditentukan. Proses ini dinamakan update solution.
Melakukan proses perhitungan kembali nilai fitness yang dihasilkan dari update posisi pemancar tersebut. Menghitung selisih antara fitness terbaru dengan
fitness awal. Hasilnya digunakan untuk menghitung probabilitas Boltzmann.
Melakukan penurunan nilai kontrol T0 ke target TN menggunakan cooling schedule (Tabel 3) yang dipilih.
III. HASILSIMULASIDANANALISISDATA A. Penentuan Nilai Threshold QoS C/I
Dalam penentuan nilai threshold QoS C/I maka disesuaikan dengan mode transmisi yang dipilih yaitu 4K dan 2K untuk kemudian dicoba dengan masing-masing modulasi dengan code rate yang berbeda. Modulasi yang dicoba ini dipilih yang diijinkan oleh peraturan pemerintah Indonesia [8] dan besarnya Rayleigh Channel (C/I)min pada tiap modulasi dan
code rate telah ditetapkan dalam ETSI [9].
Pada hasil percobaan melalui model LOS didapatkan persentase coverage dan fitness sesuai dengan (8). Persentase coverage disini merupakan perbandingan antara daerah yang tercakup dengan keseluruhan daerah yang diukur. Nilai (C/I)min yang akan dipilih haruslah mempunyai persentase yang tinggi tetapi masih berada dalam luasan daerah yang diuji (100 km2). Nilai (C/I)
min ini nantinya akan dibuat sama baik mode 4K ataupun 2K sehingga nilai (C/I)min yang dipilih harus mewakili keduanya. Maka setelah melalui pertimbangan tersebut dipilihlah nilai (C/I)min adalah 20,2 dB yakni pada modulasi 64-QAM dengan code rate 5/6. Hal ini dikarenakan pada nilai C/I ini persentase daerah coverage pada mode 4K maksimal dan tidak melebihi luasan daerah yang diuji yakni
JU Ga 10 cov B. Fr tig lok ber ter kri (C/ ada 2K %. rel mo leb C. Kn (pe pad den pad nil sim cov A kni lua dae dik obs dif me dal sim dar pad 4K (x 1 00 m e te r) URNAL TEKN (a)
ambar 2. (a) Simu (b) Sim
0 km2, mode
vereage-nya re Hasil Simula ee space Pada hasil sim ga pemancar kasinya telah rwarna putih a rsebut, daerah t iteria threshold C/I)min = 20,2 d alah daerah yan Dari hasil sim K adalah 20,64 Selanjutnya latif dengan m ode FFT. Hal bih aktual. Hasil Simula nife edge Pada model enghalang) ant da propagasi i ngan fungsi ra da tabel 2. Sete lai posisi koo mulasi acak g verage pada ga Apabila diban ife edge denga asan daerah co erah coverage karenakan pad stacle berupa fraksi sinyal y enimbulkan titi lam kriteria mulasi dapat di ri model prop da mode 2K a K adalah 77,95% (x 100 20 40 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 IK POMITS V
ulasi model prop mulasi model prop
2K mengikut elatif lebih sem asi dan Analisi mulasi free spa SFN dengan ditentukan s adalah daerah tersebut merup d dari C dan dB. Sedangkan ng tidak masuk mulasi tersebut % dan persent nilai tersebut menyesuaikanny ini dilakukan
asi dan Analisi propagasi k tara pemancar ini berupa ged andom pada M elah dilakukan ordinat dari g gedung dapat ambar 3. ndingkan anta an free space overage-nya, d -nya lebih lua da model pr a gedung (titi ang datang da ik-titik hitam y threshold Qo iketahui nilai p pagasi knife ed adalah 19,76% %. meter) 60 80 100 Vol. 2, No. 2, (2
pagasi free space pagasi free space
ti nilai dari 4K mpit daripada 4K is Data pada M ace diatas dapa
titik berwar seperti pada t
coverage dar pakan daerah ya
C/I yaitu Cmin n daerah yang k dalam kriteri
persentase cov tase dari mode
dijadikan per ya menjadi 10 untuk membe is Data pada M knife edge te dengan pener ung-gedung ya MATLAB deng simulasi acak gedung-gedung dilihat pada ara simulasi m maka terdapat dimana pada fr as daripada kn ropagasi knife ik-titik biru) ari pemancar k yaitu daerah y oS seperti pa persentase cove dge. Nilai per
dan nilai pers
(x 10 0 m e te r) 20 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 2013) ISSN: 23 (b) e mode 2K e mode 4K K karena daer K. Model Propag at dilihat terda rna merah ya tabel 1. Dae ri pemancar S ang masuk dal = -75 dBm d g berwarna hit a threshold. verage dari mo e 4K adalah 80 sentase covera 00% untuk set erikan hasil ya Model Propag erdapat obsta rima. Penghala ang disusun ac gan range sepe maka didapatk g tersebut. Ha simulasi dae model propag t perbedaan pa free space jum nife edge. Hal e edge terda sehingga terj ke penerima ya yang tidak mas ada (7). Mela erage dan fitn
sentase covera sentase dari mo (x 100 meter) 40 60 80 337-3539 (230 rah gasi apat ang rah FN lam dan tam ode ,04 age tiap ang gasi acle ang cak erti kan asil rah gasi ada mlah ini apat adi ang suk alui ess age ode Gambar P Setel diketahu pada p 80,24% persenta tabel 4. D. Has Optim pada ke yang ke terbaik. paramet kecepat 1) Fi Nilai selisih relatif cooling tertingg rata-rata belum d peningk mode 4 sekitar 0 untuk m Hasil o gambar simulas dan pa konverg mencap (mempu atau mo 100 01-9271 Print) (a) 3. (a) Simulasi m (b) Simulasi Persentase coverag Mode Covera 2K 4K lah diketahui n ui juga nilai fi proses optima % pada mode 2K
ase relatif dar sil dan Analisis masi ini dilaku edua mode (2K emudian diana Cooling sch ter-parameter tan konvergens itness Akhir i persentase p nilai fitness a dari optimasi. g schedule ya gi adalah cooli a sebesar 2,348 dilakukan peny katan sebesar 4K. Nilai ters 0,51 km2 dan menambah da optimasi pada r 5 (mode 2K) sinya dapat dil ada gambar gensi yang ba pai nilai fitn unyai iterasi y ode 4K.
model propagasi i model propagas
Tabel 4.
ge relatif dan fitne age relatif (%) 95,736 97,389 nilai persentas fitness yang ak si dengan m K dan 22,05% ri model free is Optimasi den ukan 2 kali tes
K dan 4K) dan alisis untuk dip hedule terbaik optimasi ya si dan running peningkatan co awal relatif (t . Dari gamba ang mempuny ing schedule 7 8%. Pada rang yesuaian, cooli 0,51% pada m sebut apabila 1,78 km2 dima aerah coverage cooling sched ) dan gambar lihat pada gam 7(b) (mode aik adalah saa ness akhir p yang paling se
(b)
i knife edge mod si knife edge mo
ess relatif pada knif Fitness relatif ( 4,264 2,611 se coverage te kan dijadikan in metode SA, ya % pada mode 4K space dapat ngan Metode S pada tiap cool n diambil nilai pilih cooling sc k ini dibandin aitu nilai fit time optimasi. overage relatif tabel 4) dan f ar 4 dapat di yai peningkat yaitu dengan ge persentase 1 ing schedule 7 mode 2K dan diukur dalam ana nilai ini lu e penerimaan dule 7 dapat 6 (mode 4K) mbar 7(a) (mod
4K tes 1). at suatu cooli pada waktu dikit) baik pad
A-de 2K ode 4K fe edge (%) ersebut maka nitial energy aitu sebesar K sedangkan dilihat pada SA ling schedule i rata-ratanya chedule yang ngkan antara tness akhir, f merupakan fitness akhir ilihat bahwa tan rata-rata peningkatan 100 km2 atau 7 mempunyai 1,78% pada km2 adalah umayan besar TV digital. dilihat pada . Sedangkan de 2K tes 2) Kecepatan ing schedule yang cepat da mode 2K -332
JU Ga Ga Ga Ga (a) (b) URNAL TEKN ambar 4. Peningk ambar 5. Hasil op ambar 6. Hasil op (a) ambar 7. Simulasi hasil o Simulasi hasil o 0 79.7 79.8 79.9 80 80.1 80.2 80.3 N il a i F it n e ss ( % ) 0 20.4 20.6 20.8 21 21.2 21.4 21.6 21.8 22 22.2 N ila i F it n e s s ( % ) IK POMITS V katan coverage r
ptimasi pada coo
ptimasi pada coo
optimasi pada co optimasi pada co 200 400 Ite 200 400 It Vol. 2, No. 2, (2 relatif mode 2K d oling schedule 7 oling schedule 7 ooling schedule 7 ooling schedule 7 600 800 1 erasi ke-Fitnes Fitnes Fitnes 600 800 erasi ke-Fitn Fitn Fitn 2013) ISSN: 23 dan 4K mode 2K mode 4K (b) 7 mode 2K 7 mode 4K 000 1200 ss Tes 1 ss Tes 2 ss Rata-rata 1000 1200 ness Tes 1 ness Tes 2 ness Rata-rata 337-3539 (230 Gambar 8 Gambar 2) Kec Dari yang te (iterasi ke-151) 3) Ru Nilai banyakn kecepat running dan 4K time ter waktu a rata 384 optimas schedul karena sama ya tidak ter E. Ana Hasil sebelum lain yai Perband gambar Perband 01-9271 Print) 8. Perbandingan ke 9. Perbandingan cepatan Konver gambar 8 dida erbaik, dimana ke-364) dan p ). unning time i running time nya iterasi, ba tan komputer g time optimas . Berdasarkan rbaik adalah pa antar cooling s 44 detik). Ini si ini tidaklah t le ataupun pada dalam melak aitu 1000 itera rlalu signifikan alisis Perbandi l nilai optimas mnya akan diba
itu metode PS dingan disini ran tentang op dingan antara k ecepatan konverge n running time p rgensi apatkan bahwa a pada mode ada mode 4K k ditentukan ol anyaknya perh memproses pr si tiap cooling gambar 7 mak ada cooling sc schedule tidak menunjukkan terlalu berpeng a mode FFT ya kukan optimas asi sehingga pe n. ingan Optimas si dari metode andingkan den SO (Particle S i dimaksudn ptimasi covera kedua metode i
ensi mode 2K dan
pada mode 2K da a cooling sched 2K kecepatan kecepatannya c eh banyak var itungan dalam rogram. Gamb g schedule pad ka didapatkan n chedule 6, akan k jauh (dalam bahwa runnin garuh antara se ang berbeda. H si digunakan erbedaan runn si SA dengan P SA yang suda ngan metode op Swarm Optimiz nya untuk rage dengan m
ini dibagi dalam
A-4K an 4K dule 1 adalah nnya sedang cepat (iterasi riabel seperti m matlab dan bar 9 adalah da mode 2K nilai running n tetapi jarak kisaran rata-ng time pada etiap cooling Hal ini terjadi iterasi yang ing time-nya PSO ah dijelaskan ptimasi yang ization) [10]. memberikan metode lain. m dua mode -333
JU R Ga dan dib fitn ny kar me dib Pa ada mo cov sch pad pad me ma yai dil cov me seh me opt dis did pad 11 ter run dib URNAL TEKN Pe Parameter M Coverage relatif (%) Running time (detik) ambar 10. Perba n PSO (mode 2K da bandingan pa ness/coverage a. Sedangkan rena terjadiny elebihi jumlah Pada perband bandingan pad da metode P alah pada Swa ode 4K. Seda verage terbes hedule 7 dan n da cooling sch da tabel 5. Dik etode SA (1000 atlab disesuaik itu 30 iterasi. H lihat pada ga verage terseb empunyai pers hingga lebih b etode SA. Pada perband timasi juga d sesuaikan yait dapatkan nilai da mode 2K a 5,845 detik. rsebut dapat nning time yan bandingkan me
IK POMITS V
Tab rbandingan hasil o Mode SA coolischedule 2K 98,038 4K 99,638 2K 114,83 4K 115,17 andingan persent an 4K) dima arameter-param terbaik kedua kecepatan ko ya nilai fitness iterasi yang dig dingan nilai da nilai cover SO didapatka arm 48 iterasi 3 angkan pada sar untuk mo nilai coverage t hedule 0. Untuk karenakan jum 0 iterasi) dan P kan dengan jum
Hasilnya perba ambar 10. D but dapat dik
sentase covera baik dalam op dingan runnin dibandingkan tu 30 iterasi. running time adalah 115,1 d Sehingga dari disimpulkan ng lebih cepat y etode PSO. Vol. 2, No. 2, (2 bel 5. optimasi SA dan P ng e 0 SA cooling schedule 7 8 98,207 8 99,613 3 115,37 7 116,52 tase coverage m
ana dalam set meter optima metode, dan ju onvergensi tid s akhir pada gunakan pada coverage-nya, rage relatif ak an nilai cover 30 baik pada m metode SA ode 2K adala terbesar untuk k hasil lengkap mlah iterasi yan PSO (30 iterasi
mlah iterasi y andingan untuk Dari hasil per ketahui bahw age yang sed ptimasi covera ng time-nya, dengan juml . Sesuai data e rata-ratanya detik dan pada i perbandingan bahwa metod yakni sekitar 7 2013) ISSN: 23 SO PSO swarm 48 iterasi 30 98,546 99,95 8833,74928 8565,3148 mode 4K pada tiap mode ak asi, yaitu n
uga running tim dak dibandingk metode SA b metode PSO. , kedua meto khir terbesarn rage terbesarn mode 2K ataup didapatkan n ah pada cool mode 4K ada pnya dapat dili ng berbeda ant ), maka pada p ang lebih sedi k mode 4K da rbandingan n wa metode P dikit lebih bes age dibandingk kedua meto lah iterasi ya a pada tabel dari metode mode 4K ada n kedua meto de SA memil 75 kali lebih ce 337-3539 (230 8 SA kan ilai me-kan bisa ode nya. nya pun ilai ling alah ihat tara plot ikit apat ilai SO sar, kan ode ang 5, SA alah ode liki epat Dari dengan mengop Pada pa pada co 2,348% maka d Kemudi cooling kecepat mode 4 sehingg membut time pa cooling ini terj adalah s Dari dan m didapatk optimas pada pe dibandin sehingg [1] Bud G., Jaka [2] Pera Tele air) [3] Mat On B [4] Rute IEE [5] Lan and Netw [6] Lan and DVB Conf [7] Bria http [8] Ran Indo Siar [9] ETS Imp telev [10] Prim men Sarj 201 01-9271 Print) I hasil penelitia menggunakan ptimalkan daer arameter penin ooling schedule % apabila diu didapatkan pen
ian pada param g schedule 1 ad tan konvergen 4K kecepatan ga cooling sc utuhkan efisien ada optimasi g schedule atau adi karena it sama yaitu 100 hasil perbandi metode PSO p kan hasil ba si coverage d erbandingan ru ingkan metode ga metode SA m D diarto, H., Tjahjon Dharmanto, S. “S arta : Multikom In aturan Menteri K evisi Digital Tere ”. Nomor 5. 2012. ttsson, A. “Single
Broadcasting, Vol
enbar, Rob A. “S
EE CIRCUITS AND
nza, M., A.L. Gutié J. Basterrechea works using Simul nza, M., A.L. Gutié J. Basterrechea. B-T Services usin
nference on Antenn
an, T. Luke. “Si p://www.btluke.com ncangan Peraturan
onesia. “Persyarat ran Digital Berbas SI TS 102 831 plementation guid
vision broadcastin masetiya, Oxy Riz nggunakan Metod jana, Jurusan Tekn
3. IV. KESIMPU an metode SA an 10 cooling rah coverage S ngkatan covera e 7 dengan pen ukur dalam ra ingkatan sekita meter kecepata dalah yang terb nsinya sedang konvergensin chedule 1 coc nsi waktu yang
ini tidaklah upun pada mod
terasi yang d 00 iterasi. ingan optimasi pada iterasi ahwa metode dibandingkan m unning time-ny e PSO yaitu se memiliki efisie DAFTARPUST no, B.H., Rufiyant Sistem TV Digita ndo Persada. 2005. Komunikasi dan I estrial Penerimaan . Frequency Netwo l.51, No.4. 2005. Simulated anneal D DEVICE MAGA érrez, I. Barriuso, . “Coverage Opt lated annealing”. I érrez, I. Barriuso, “Optimization of ng SA and PSO”.
nas and Propagati imulated annealin
m/simanf1.html> n Menteri Komun tan Teknis Alat da is Standar DVB – V.1.1.1. “Digita delines for a seco ng system (DVB-T za. “Optimasi Jari de Particle Swar nik Elektro Institu
ULAN A pada mode g schedule te
SFN pemancar age relatif terb ningkatan rata ange persenta ar 0,51 km2 da an konvergens aik, dimana pa (iterasi ke-364 nya cepat (iter
cok untuk op g baik. Sedangk terlalu berpen de FFT yang b igunakan dala i terbaik antara yang sama PSO lebih metode SA. A ya metode SA ekitar 75 kali ensi waktu yan
TAKA
to, A., Kusuma, A al dan Prospeknya . Informatika. “Sta n Tetap Tidak Be orks in DTV”, IEE ling Algorithms: AZINE. Januari 198 J.R. Pérez, M. Do timization in Sin IEEE. 2011. J.R. Pérez, M. Do f Single Frequency Proceeding of th ion (EUCAP). 201 ng Cooling sche
nikasi dan Inform an Perangkat Pem T2”. 2012. al Video Broadc ond generation di T2)”. 2010. ingan SFN pada S rm Optimization” ut Teknologi Sepu A-2K dan 4K elah berhasil r TV digital. baik terdapat a-rata sebesar ase 100 km2 an 1,78 km2. si didapatkan ada mode 2K 4) dan pada rasi ke-151), ptimasi yang kan running ngaruh antar berbeda. Hal am optimasi a metode SA (30 iterasi) baik dalam Akan tetapi, lebih unggul lebih cepat, ng lebih baik. A., Hendrantoro, a di Indonesia”. andar Penyiaran erbayar (free-to-EE Transactions An Overview”. 89. mingo, L. Valle ngle Frequency mingo, L. Valle y Networks for e 5th European 11. edules”. <URL: matika Republik mancar Televisi casting (DVB): igital terrestrial Sistem DVB-T2 ”. Tugas Akhir uluh Nopember, -334