• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANGKUMAN DISKUSI. 1. Dampak dan Strategi Mitigasi serta Adaptasi Pertanian terhadap Perubahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RANGKUMAN DISKUSI. 1. Dampak dan Strategi Mitigasi serta Adaptasi Pertanian terhadap Perubahan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

RANGKUMAN DISKUSI

Sesi I

Pembicara : 1. Prof. Dr. Irsal Las (BBSDLP)

2. Prajogo U. Hadi, SE, M.Ec (PSE-KP) 3. Prof. Dr. Bustanul Arifin

Moderador : Prof. Dr. M. Husein Sawit (PSE-KP) Pembahas : Prof. Dr. Hermanto Siregar (IPB) Judul Makalah:

1. Dampak dan Strategi Mitigasi serta Adaptasi Pertanian terhadap Perubahan Iklim Global

2. Prospek, Masalah dan Strategi Pemenuhan Kebutuhan Pangan Pokok 3. Bio-energi: Status Saat ini dan Perspektif Kedepan

Pemaparan:

1. Dampak dan Strategi Mitigasi serta Adaptasi Pertanian terhadap Perubahan Iklim Global (Prof. Dr. Irsal Las, BBSDLP)

 Isu strategis perubahan iklim pada sektor pertanian  Isu dan pencitraan (terpojokkan)

- Deforestasi - Degradasi lahan - Kebakaran lahan

- Lahan sawah dan Peternakan sebagai sumber gas rumah kaca (GRK)  Posisi Objektif Pertanian

- Emitor GRK 6 persen diluar gambut, jika gambut dimasukkan GRK Nasional 20 persen

- Penyerap GRK dan mitigator - Sebagai korban (victim) - Multi fungsi pertanian

 Posisi Indonesia dalam diplomasi perubahan iklim

- Yang selalu diangkat adalah isu deforestasi (kelapa sawit dan lahan gambut) perlu kajian lebih lanjut terhadap aspek sosial ekonomi - Isu mitigasi jauh lebih menonjol dibanding adaptasi

 Kemampuan adaptasi Indonesia (relatif rendah)  Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian:

(2)

- Sistem produksi

- Sosial dan ekonomi yang berdampak pada kesejahteraan petani  Strategi Antisipasi-Mitigasi-Adaptasi (AMA) dalam perubahan iklim  Komitmen dan keharusan

- Pemerintah RI bersedia menurunkan emisi GRK 26 persen (unilateral) dan 41 persen (multilateral)

- PERPRES MORATORIUM

- Upaya Adaptasi untuk mengamankan produksi dan ketahanan pangan (4 sukses)

 Rencana aksi nasional penurunan GRK sd 2020 sektor pertanian  Kendala pengembangan inovasi

Kendala Teknis Jenis dan Keandalan Teknologi,

Kendala Komunikasi  Sistem dan Kapasitas Komunikasi dan Penyuluhan

2. Prospek, Masalah dan Strategi Pemenuhan Kebutuhan Pangan Pokok (Prajogo U. Hadi, SE, M.Ec, PSE-KP).

 Kebutuhan Pangan Pokok Nasional Akan Terus Meningkat - pertumbuhan jumlah penduduk (1,4%/tahun)

- perbaikan pendapatan riil/kapita

- agenda nasional untuk mengatasi masalah kelaparan  Kemandirian Pangan

- Melanjutkan program swasembada dan swasembada berkelanjutan - Meningkatkan jangkauan dan distribusi pangan di KTI dan DT - Percepatan penganekaragaman konsumsi pangan

- Pengembangan kapasitas cadangan pangan

 Prospek Peningkatan Produksi Pangan Pokok  padi, jagung, kedelai, tebu.

 Kemampuan Produksi Dalam Penyediaan Pangan Pokok (padi, jagung, kedelai, tebu)

 Potensi Pengembangan Produksi ke Depan

- Keanekaragaman hayati lokal & introduksi dan agroekosistem

- Sumberdaya lahan dan air untuk tanaman pangan (lahan basah 25,6 jt ha, lahan kering tanaman semusim 25,3 jt ha)

- Tenagakerja pertanian (43 jt jiwa) - Paket teknologi pertanian

 Target dan Sasaran Produksi 2010 – 2014

- Pertumbuhan padi 3,22 persen/tahun, jagung 10,02 persen/tahun, kedelai 20,05 persen/tahun, dan gula 17,63 persen/tahun.

(3)

 Permasalahan Krusial dalam Peningkatan Produksi Pangan - peningkatan kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global - kondisi infrastruktur pertanian (jaringan irigasi banyak yang rusak) - ketersediaan sarana produksi (benih unggul langka, ada yang palsu,

mahal)

- ketersediaan alat dan mesin pertanian (pompa air dan pasca panen kurang)

- luas, legalitas penguasaan dan konversi lahan pertanian - subsidi input pertanian

- kelembagaan petani masih lemah

- keterpaduan sektoral masih sulit dilakukan

- capaian sasaran produksi pangan pokok tahun 2010

 Strategi utama pemenuhan kebutuhan pangan pokok dengan peningkatan produksi

3. Bio-energi: Status Saat ini dan Perspektif Kedepan (Prof. Dr. Bustanul Arifin)  Outline Presentasi

- Kebijakan bioenergi, sedang dipersimpangan jalan - Dampak krisis ekonomi global belum selesai - Dinamika pengembangan bioenergi Indonesia - Keterkaitan dengan pengembangan pangan lokal - Ke Depan: Pertanian berbasis pengetahuan  Kebijakan Biofuels: Komitmen Negara

 Kebijakan Percepatan Biofuels  Esensi dari Kebijakan Biofuel

 Roadmap Pengembangan Biofuel Indonesia  Target Nasional Biofuels

Harga Komoditas: Bukan Supply-Demand?

Bio-diesel, semakin berkembang, demikian pula bio-ethanol

Peran Transaksi Derivatif: Terlalu dominan?--> Mempengaruhi harga pangan

Era Pangan Murah: Telah Lewat  era biofuel dan era climate change  Kenaikan Harga Komoditas Pertanian

Fluktuasi Harga Komoditas Pangan Global Fluktuasi Harga CPO dan Minyak Nabati lain Fluktuasi Harga Komoditas Perkebunan

Harga GKP, Beras Medium dan HPP 2004 – 2010 Stok Beras BULOG Tahun 2004 – 2010 (Ton)

 Bagaimana Bioenergi dari tebu dan ubikayu untuk kebutuhan pangan, namun untuk biofuel belum ok (belum siap)

(4)

 Analisis Respon Penawaran Pangan

 Harapan besar pada minyak jarak pasar untuk minyak jarak belum tercipta/supply demand belum ketemu.

 Tantangan Besar: Desa Mandiri Energi?  Perspektif ke Depan: Prioritas Langkah Pengantar Moderator:

Para pembicara telah menampilkan bahan yang kaya informasi, fakta dan data serta informasi terkini terkait dengan permasalahan climate change.

Pembahasan:

Prof. Dr. Hermanto Siregar (IPB)

 Sangat sepakat mengenai dampak dan strategi mitigasi dan adaptasi ini jangan bisnis as usual, sebab dengan bisnis as usual maka persoalan-persoalan yang dihadapi tidak akan efektif untuk dipecahkan begitu juga dengan bio-energi dan pemenuhan kebutuhan pangan yang dikemukan oleh Pak Bustanul dan Pak Prajogo.

 Dari segi kebijakan atau strategi sudah cukup komprehensif, persoalan utamanya yang pertama adalah implementasi, proses juga cukup banyak yang dibahas tetapi yang kita hadapi kelemahannya di sisi implementasi.  Pertanyaan pertama untuk semua makalah, permasalahannya adalah

bagaimana pandangan dari ketiga pemakalah untuk membuat implementasi yang efektif ? Pandangan pembahas adalah kita harus fokus pada satu hal dulu misalnya bioenergi yang dikemukakan Pak Bustanul Arifin. Fokus dulu pada satu komoditi, dan concentrated effort untuk menyatukannya.

1. Makalah Prof. Irsal Las:

 Kalau untuk mengatasi perubahan iklim/adaptasi daripada repot-repot sekali dengan mitigasi. Walaupun mitigasi merupakan suatu keputusan politik mungkin sudah dilakukan tetapi yang paling penting dirasakan oleh petani itu adalah mengenai adaptasi. Adaptasi itu apa yang bisa dilakukan.  Asuransi untuk risiko perubahan iklim, agak pesimis. Karena dalam hal asuransi „biasa‟ (umum)dalam kondisi normal saja untuk pertanian sudah terbukti sulit dilaksanakan, contohnya perkebunan tebu yang terbakar sulit dibuktikan apakah itu terbakar atau sengaja dibakar. Sehingga perusahaan asuransi enggan. Itu untuk perusahaan-perusahaan besar seperti perkebunan tebu apalagi untuk petani yang smallholders tentu lebih sulit lagi. Tantangan terletak pada bagaimana membuat perusahaan-perusahaan asuransi itu untuk mau terjun, ada dua

(5)

kemungkinan yaitu (1) memberikan insentif kepada perusahaan asuransi, dan (2) bagi smallholders sebaiknya yang diasuransikan adalah petaninya/orangnya. Seperti misalnya UKM atau perusahaan-perusahaan mikro yang diasuransikan itu orangnya.

Sistem informasi, kita sudah ada kesepakatan di kawasan ASEAN mengenai Information System for Food Security, di Filipina (Los Banos) dilakukan roundtable membahas hal tersebut. Dari Kementan (Indonesia) ada juga yang diundang. Sama dengan di negara lain yang tergabung dalam ASEAN Information System for Food Security belum terlalu baik/efektif padahal seperti yang dikemukakan Pak Irsal Las bahwa semakin iklim berubah berarti kebutuhan kita akan informasi perubahan iklim global itu semakin besar juga, value dari informasi itu akan tinggi, yang selama ini para petani kita tidak merasa perlu sekarang sudah merasa sebagai kebutuhan. Jadi mungkin disamping yang sifatnya lokal, nasional atau daerah yang vertikal ke bawah juga yang horizontal. Persoalan-persoalan diselesaikan bersama sesama negara ASEAN. Karena persoalan global tentu saja harus diatasi bersama. Kebijakan kita dalam pandangan Pak Irsal mengenai itu bagaimana?

2. Makalah Prajogo U. Hadi

Lahan. Salah satu permasalahan adalah konversi lahan, dari data yang dikemukakan bahwa luasan lahan kepemilikan petani yang >2 ha terjadi penurunan dari 18 persen menjadi 13 persen, dan yang lebih besar lagi adalah penurunan luas lahan yang >1 ha turun dari 24 persen menjadi 16 persen. Permasalahannya adalah adanya fragmentasi lahan/degradasi, tetapi yang lebih penting lagi selain fragmentasi lahan adalah adanya kesenjangan kepemilikan lahan, terkait dengan hal tersebut bagaimana mengatasi kesenjangan antara individu petani dan perusahaan. Ada perusahaan yang menguasai sampai 1 juta hektar atau lebih. Disatu sisi ada fragmentasi atau degradasi lahan dan disisi lain ada kesenjangan kepemilikan sehingga menyebabkan Reforma Agraria bias dalam akselarasinya, oleh karena itu dalam implementasinya harus dipercepat agar dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

Tenaga kerja pertanian. Selain produktivitas lahan yang perlu diperhatikan juga adalah produktivitas tenaga kerja. Salah satu upayanya adalah bagaimana membawa dalam tanda kutip tenaga kerja pertanian keluar untuk masuk kedalam sektor industri. Lemahnya kinerja sektor industri mengakibatkan pertanian sektor pangan pun melemah sehingga tenaga kerjapun tidak terjadi mobilisasi ke sektor industri.

Pembiayaan Pertanian. Masalah pembiayaan pertanian menyatu dalam sub bab pemberian subsidi tidak ada bahasan tersendiri, bagaimana pandangan pemakalah (Prajogo) tentang pembentukan Bank Pembangunan Pertanian, agar skim pembiayaan pertanian lebih dapat diakses oleh masyarakat petani. Di negara lain seperti Thailand, Malaysia ataupun Afrika Selatan sudah ada Bank Pembangunan Pertanian. Kenapa kita tidak mencoba. Kita butuh Bank Pembangunan Pertanian.

(6)

3. Makalah Bustanul Arifin : tidak ada komentar karena satu dapur. Sedang sama-sama melakukan studi mengenai Dampak Bioenergi Terhadap Perekonomian yang oleh Pak Bustanul akan diintegrasikan dengan model yang dibangun oleh Filipina dan Cina.

(Tanggal 1-2 Des 2010 akan ada International Conference di Bali tentang BIOFUEL)

 Perkembangan biofuel dampaknya negatif terhadap GDP, karena dalam pengembangannya tersebut telah terjadi kompetisi dengan sub sektor tanaman pangan. Ada kompetisi penggunaan untuk pangan dan energi.  Bagaimana jika subsidi terhadap BBM dialihkan kepada biofuel tetapi

komoditinya jangan yang kompetitif dengan komoditas tanaman pangan sehingga ketahanan pangan dapat dipertahankan.

Respon Pemakalah: 1. Prof. Dr. Irsal Las:

Permasalahan Climate Change dalam konsep ok, oleh sebab itu berbicara perubahan iklim merupakan terkait dengan permasalahan global, bagaimanapun hal-hal tersebut harus tetap disiapkan.

 Mitigasi merupakan kebijakan politik, jadi mau tidak mau harus mengikutinya/melaksanakannya.

 Asuransi yang terkait dengan iklim masih dalam konsep dan harus tetap disiapkan.

 Sistem informasi menghadapi beberapa permasalahan

- Masalah mutu informasi, semakin dipertajam, namun informasi sampai ke petani perlu dijabarkan lebih konkrit untuk sampai ke petani/daerah - Medianya

- Penyederhanaan dari informasinya. 2. Prajogo U. Hadi:

 Untuk mengurangi laju konversi lahan di Jawa bisa melalui - Pembangunan gedung-gedung bertingkat

- Pembangunan diarahkan pada lahan kering

- Di daerah dilakukan pembangunan perkantoran di lahan kering

 Penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian adalah 23 persen, masalahnya membawa TK perdesaan ke sektor formal terkait dengan masalah skill yang dimiliki, hal ini harus benar-benar dipikirkan. Bagaimana kedepan labor intensif technology pada sektor industri atau apakah melalui capital intensive technology. Hal ini perlu penegasan.

 Bank Pembangunan Pertanian sudah dibicarakan dari 20 tahun yang lalu, namun hal ini sangat tergantung kepada political will dari pemerintah

(7)

sendiri. Dengan menyiapkan perangkatnya baik sarana maupun prasarananya.

3. Prof. Dr. Bustanul Arifin:

Terkait dengan Public policy diperlukan syarat atas suatu kebijakan tapi juga harus ada pemikiran bagaimana melaksanakan kebijakan tersebut (how to do). Teori hal ini sudah berkembang. Input – proses – output ditambah outcome (yang lebih baik lagi dengan mengurangi korelasi dan noise).

Pertanyaan Peserta Seminar: 1. Prof. Sumarno:

Untuk Prajogo U. Hadi: Pada komoditas padi belum adanya teknologi yang tersedia akibat adanya keterbatasan produktivitas lahan. Sebetulnya kuncinya adalah pada sempitnya penguasaan lahan yang dimiliki oleh masyarakat petani. Dalam hal benih, masalahnya bukan tidak sesuai dengan wilayah, tapi terjadi keterlambatan datang benih, mutu benih yang kurang baik, dll.

Untuk Bustanul Arifin: Dalam penyusunan kebijakan adanya noise, misal dengan adanya konflik interest dari pengambil kebijakan. Bagaimana tentang hal tersebut? Tentang bioenergi, untuk tanaman jarak tetap membutuhkan produktivitas lahan lebih dari jagung. Walupun ada market kurang yakin apabila jarak sebagai sumber bahan bioenergi bisa berjalan dengan baik. Selain itu, apabila terjadi global warming, yang perlu diperhatikan dan yang harus dilakukan adalah adaptasi terhadap banjir dan kekeringan.

2. Dr. Delima Asahari:

Untuk Prof. Irsal Las: Komitmen internasional harus bisa dimanfaatkan oleh negara kita. Di sektor pertanian, bagaimana dalam hal adaptasi dengan adanya dampak climate change. Perlu langkah-langkah strategic. Salah satu misalnya dengan saving water. Perlu meningkatkan inovasi-inovasi untuk membuat strategic climate change juga perlu memperkuat kelembagaan petani dalam menghadapi hal-hal tersebut diatas.

Untuk Prajogo U.Hadi: Dalam permasalahan lahan kita tidak mempunyai suatu perencanaan yang akurat. Perlu langkah-langkah strategic.

Untuk Prof.Dr.Bustanul Arifin: Tidak setuju dengan statemen ya atau tidak yang dikemukakan mengenai bioenergi. Kedepan kita harus tetap konsisten terhadap bioenergi.

Untuk Prof. Hermanto: Model APBN kita hanya 6 persen untuk masalah sektor riil, namun hal ini tidak jalan karena hanya mengandalkan APBN saja. Sementara private sector sulit untuk investasinya disana karena harus ada insentif bagi perusahaan tersebut.

(8)

3. Dr. Ir. Ronnie S. Natawidjaja, MSc (UNPAD):

Adaptasi petani terhadap perubahan iklim (Penelitian yang dilakukan UNPAD), hasilnya sudah diberikan kepada yang berkepentingan, namun tanggapannya dari pemerintah tidak ada/dingin. Fakta dilapangan bahwa petani masih kebingungan menghadapi perubahan iklim, seperti kapan musim tanam dimulai. Selama ini tidak ada direction, arahan-arahan tersebut seharusnya oleh BPTP. Bagaimana usaha-usaha yang dilakukan. Mitigasi ada di bawah Kementerian apa?

4. Asturnadi (Balaiklimat):

Bioenergi selalu dikaitkan dengan komoditas pangan, oleh karena itu sebetulnya limbah komoditas pangan, seperti jerami bisa menghasilkan bioenergi juga. Sekam dapat menjadi 2 ton elpiji. Apakah bisa dikembangkan limbah pertanian untuk bioenergi, sehingga tidak akan terjadi konflik interest. 5. Makarim:

Untuk Prajogo U. Hadi:

Peningkatan produksi selalu dikaitkan dengan produktivitas dan perluasan areal panen. Padahal untuk meningkatkan produksi dan produktivitas bisa dicapai melalui perluasan adopsi teknologi yang unggul spesifik lokasi,

Untuk Bustanul Arifin:

Perlu diingat bahwa strategi bukan hanya potensial namun juga harus layak.

Jawaban Pemakalah: 1. Prof. Irsal Las:

Untuk Pak Sumarno, saya sependapat, tapi suhu juga berpengaruh. Suhu naik rata-rata didunia 2 derajat, namun yang ditakutkan untuk di wilayah lainnya belum tentu.

Untuk Dr. Delima:

Mitigasi, dengan memanfaatkan dana dari luar Ok.

Dalam adaptasi terhadap perubahan iklim strateginya dengan efisiensi energy, dengan membuat biogas, intermittent, SLI, PTT untuk menghemat air. Sebelumnya kita harus melakukan analisa dampak untuk yang menyangkut aspek biofisik, identifikasi sumber daya lahan dan air serta identifikasi teknologi.

Untuk Dr. Ronnie:

Strategi untuk directon yang tepat belum dapat dirumuskan, oleh karena itu perlu pemikiran lebih lanjut.

(9)

2. Prajogo U. Hadi:

Setuju dengan Pak Makarim, bahwa dengan adopsi teknologi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan productivitas, seperti dengan pupuk organik bisa mencapai 7 ton/ha produktivitasnya.

Lokasi lahan yang 25 juta hektar lahan sawah dimana (bisa menanyakan pada Pak Irsal)

Untuk Dr. Delima:

Dalam Paper hanya fokus pada pangan pokok, tidak memasukkan hal yang dimaksud oleh Ibu.

Dengan tingginya pendidikan masyarakat dan perlunya hidup sehat perlu nutrisi yang baik yakni banyaklah makan sayur dan buah.

Untuk Dr. Ronnie:

Subsidi pupuk langsung ke petani tahapnya sedang uji coba di Kabupaten Karawang dan tahun depan akan diperluas di 7 kabupaten lainnya. Jadi belum menjadi pola yang final, namun skalanya akan diperluas.

3. Prof. Dr. Bustanul Arifin:

Obama melakukan seperti apa yang dikatakan. Untuk Prof. Sumarno:

Kalau pemerintah memang tidak sanggup, pemerintah harus tetap konsisten bahwa hal itu akan jalan, karena rakyat tidak tahu keinginan Policy Maker. Setuju bahwa perlu dilihat yang layak dan fisibel. Perguruan Tinggi seperti IPB sudah melakukan penelitian bioenergi terkait dengan hal yang disebutkan, mulai dari jasad laut, plankton maupun komoditas lainnya. Tetapi masih perlu dilanjutkan. Food Estate perlu dilakukan.

Untuk Dr. Ronnie:

Yang dapat dilakukan adalah penyedia alternatif, kalau tapioka menjadi alternatif tepung maka dia agar dapat diakses secara baik. Jangan ada kebijakan yang undermind.

Noise yang dimaksud adalah dalam regresi yang menjadi not explanatory variabel dalam peubah tetapi dijelaskan secara baik menjadi suatu kausalitas yang menjadi derap langkah untuk melakukan sesuatu. Ada buku yang berjudul Happinies and Economs.

Penutup oleh Moderator (Prof. Dr. M. Husein Sawit):

Tidak menyimpulkan, karena sudah ada tim yang merumuskan. Saya hanya bertindak sebagai Moderator. Yang jelas mereka sudah membuat strategi yang cerdas yaitu strategi yang tidak Bisnis As Usual. Selanjutnya akan dirumuskan oleh Tim Perumus.

(10)

Sesi II

Pembicara : 1. Dr. Didiek Hadjar Goenadi, MSc, APU - BKPM 2. Suharyo Husein, BSc, SE, MBA – KADIN Moderador : Prof. Dr. Pantjar Simatupang (PSEKP)

Pembahas : Dr. Ir. Ronnie S. Natawidjaja, MSc (UNPAD Bandung) Judul Makalah:

1. Perkembangan, Prospek dan Kebijakan Investasi di Sektor Pertanian

2. Prospek, Kendala dan Kebijakan Investasi di Sektor Pertanian : Pandangan Pelaku Usaha

Pemaparan

Pemakalah telah secara jelas menyampaikan poin-poin normatif tentang apa yang seharusnya dilakukan, namun pembahas mencoba mengkritisi dari segi bagaimana harus melakukan hal-hal tersebut. Hal ini terkait dengan tujuan Indonesia untuk feed the world atau menjadi pemasok pangan dunia. Namun, melihat kenyataan yang ada sekarang, ternyata begitu besar ketergantungan terhadap pihak atau negara lain. Impor yang demikian besar terutama dari China misalnya. Memang benar bahwa banyak potensi yang dimiliki negara kita, tetapi masalah ketergantungan ini menjadi hal penting yang harus diatasi.

Membicarakan mengenai investasi, pemakalah haruslah memiliki pandangan visioner, pandangan jauh kedepan mengenai apa yang diperkirakan terjadi, misalnya lima hingga sepuluh tahun yang akan datang. Sebagai contoh Vietnam yang kini sebagai negara pengekspor beras, namun dalam suatu seminar dinyatakan bahwa untuk rencana 10 tahun yang akan datang Vietnam diramalkan menjadi pengimpor beras karena perubahan lingkungan geografis yang demikian berat. Jadi investasi tidak dapat hanya diusahakan atau didorong berdasarkan kondisi pasar yang ada atau terjadi saat ini. Dari segi kebijakan investasi juga harus ada ketegasan dari pemerintah agar arah investasi juga semakin jelas mau dibawa kemana.

Mengenai pangan, pembahas menilai lebih banyak tanggungjawab pemerintah sementara pihak swasta sangat kecil. Namun, fokus pangan pemerintah masih kepada beras yang merupakan komoditas politik. Mengenai bio-energi memang sedang hangat permasalahannya dan swasta sangat berperan besar didalamnya. Mengenai perubahan iklim, lebih fokus ke mitigasi dibandingkan adaptasi. Investasi untuk menghadapi perubahan iklim masih sedikit. Anggaran sektor pertanian justeru besar ke subsidi sehingga timbul pertanyaan bagaimana pertanian kita bisa berdaya saing?

Mengenai isu pasar pangan, sebenarnya pangan tidak dapat dikatakan hanya beras. Kenyataannya beras telah mulai ditinggalkan, terdiversifikasi ke pangan lainnya. Perhatian masyarakat kini lebih ke kualitas dan jenis-jenis pangan.

(11)

Permintaan dari padi bergeser ke makanan olahan. Namun, bahan baku makanan olahan ini masih banyak yang impor seperti kentang, gula olahan, sayuran dan pisang. APBN kita masih terfokus pada pangan pokok sehingga pertanyaan yang sama muncul kemana arah investasi kita. Investasi harus dilakukan di pasar, infrastruktur dibangun dan ditingkatkan.

Industri pangan swasta harusnya mampu menarik investor, namun pada kenyataannya rantai distribusi bermasalah, tidak efisien dan biaya tinggi.

Pengeluaran untuk makanan berdasarkan data SUSENAS menunjukkan pergeseran dari padi-padian ke makanan jadi. Pengeluaran untuk padi-padian terus menurun sementara untuk makanan jadi terus meningkat. Namun, makanan jadi atau olahan ini banyak yang berasal dari impor. Seharusnya investasi lebih difokuskan ke industri makanan jadi ketimbang hanya berkutat di makanan pokok.

Isu bio-energi, seperti yang disampaikan pemakalah masih berfokus pada produksi sementara belum banyak ke produk olahan. Sebagai contoh Malaysia yang kini konsentrasi ke produk olahan sawit. Hal ini sepertinya menjadikan Indonesia sebagai “tempat sampah”, karena hanya memproduksi, sementara nilai tambahnya dinikmati orang lain. Selain itu, membuat sumber bio-energi menyebabkan persaingan lahan dan peningkatan harga pangan. Investasi tidak boleh salah arah untuk hal ini.

Mengenai isu perubahan iklim, perlu dilakukan riset tentang perubahan iklim yang terjadi pada tiap-tiap daerah. Perbaikan infrastruktur terutama untuk penampungan air tanah agar layak digunakan dan untuk penyerapan air permukaan agar semakin baik sebagai air tanah untuk penggunaannya.

Tambahan dari moderator, bahwa arah kebijakan dan prospek pasar ke non pangan. Tetapi kebijakan pemerintah lewat anggaran yang dikeluarkan tidak memadai atau tidak sesuai. Anggaran sebagian besar dialokasikan untuk subsidi pupuk yang sebenarnya kurang dinikmati oleh petani.

Pertanyaan :

1. Prof. Dr. Sumarno

 Mengenai Indonesia‟s feed the world, perlu dilakukan terlebih dahulu kebutuhan lahan kita untuk swasembada dan ekspor dimana sebenarnya feed the world juga bagian dari ekspor. Berdasarkan penelitian empiris, setiap orang perlu 1.000 m2 lahan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Dengan asumsi penduduk Indonesia sebanyak 247 juta jiwa maka diperlukan sekitar 24 juta hektar lahan. Jika Indonesia kini hanya memiliki 12 juta ha lahan maka kurang 12 juta ha lagi. Dua belas juta hektar lahan tersebut akan diperebutkan sekitar 14 macam komoditas pangan. Oleh sebab itu, untuk tahun-tahun mendatang perlu dihitung kebutuhan lahan tersebut yang mestinya semakin meningkat. Sebelum hal tersebut dipecahkan, kita tidak akan mampu memasok pangan dunia.

(12)

2. Prof. Dr. Tjondronegoro

 Mengenai UU No. 25/2007 mengenai penanaman modal, didalamnya menyatakan persamaan hak antara PMA dan PMDN. Paerlu diketahui bahwa PMA atau pihak asing itu lebih kaya dari penanam modal dalam negeri. Pertanyaannya bagaimana penanam modal dalam negeri bisa bersaing jika hak-haknya disamakan dengan penanam modal asing?  Mengenai penggunaan hak guna lahan yang kini semakin panjang waktu

penggunaannya. Hal ini dapat menyebabkan penguasaan yang demikian dominan oleh pihak asing sementara pihak dalam negeri tidak dapat apa-apa. Bagaimana kita mampu memproteksi hak-hak kita yang tidak mampu bersaing?

 Mengenai tata guna lahan (land use), Indonesia hingga kini tidak mempunyai peta penggunaan lahan. Tahun 1970-an pernah diusulkan dibuat untuk melihat batas – batas lahan untuk hutan, pertanian dan pertambangan namun tidak dilakukan. Ketidakjelasan batas-batas ini menyebabkan sering terjadinya pertarungan kepentingan atau konflik. Diusulkan bagi Kementerian Pertanian, Kehutanan, Pertambangan, BPN untuk duduk bersama untuk membicarakan batas-batas tanah untuk menanggulangi potensi konflik.

 Mengenai swasembada, dari sisi lahan sebenarnya sangat sempit untuk pertanian. Dari sekitar 190 juta ha lahan di Indonesia, sekitar 70 persen adalah untuk hutan, sementara 30 persen sisanya untuk keperluan lainnya termasuk pertanian. Secara lebih detil, sekitar 8 – 12 persen lahan yang digunakan untuk pertanian. Luasan ini dinilai terlalu sempit untuk mencapai dan mempertahankan swasembada. Selain itu, masih mengenai swasembada, perlu dipertimbangkan kembali batas kemiskinan.

3. Drs. Prajogo Utomo Hadi, MEc.

 Data investasi cukup sulit diperoleh. Oleh sebab itu, dengan adanya seminar ini dan dapat bertatap muka dengan pihak BKPM dapat memudahkan bagi pihak-pihak yang membutuhkan data investasi. Sungguh suatu keberuntungan.

 Mengenai UU No. 25/2007 dinyatakan salah satunya mengenai perpanjangan hak guna lahan dari 30 tahun menjadi 75 tahun bagi pihak asing. Jika banyak pihak asing yang berinvestasi hal ini bisa menyulitkan rakyat Indonesia dan berpotensi konflik kepentingan.

 Definisi investasi dan modal perlu di samakan antara Kadin dan BKPM. Skim-skim pembiayaan untuk permodalan kecil yang selama ini dinilai sulit diakses perlu dirubah dan dipertimbangkan lagi mengenai kemudahan dan jaminannya.

 Mengenai penanaman investasi baik dalam dan luar negeri, perlu dilakukan sebelumnya studi kelayakan. Pertanyaannya apakah selama ini

(13)

sudah dilakukan studi kelayakan untuk sebuah investasi? Studi kelayakan ini dilakukan baik untuk aspek teknis dan sosial.

Tanggapan Pemakalah :

1. Berbicara mengenai investasi, seolah-olah semua tertuju pada BKPM. Tapi sebenarnya BKPM hanya bertindak mengkoordinasikan penanaman modal sementara untuk mendorong investasi menjadi tanggungjawab masing-masing sektor. Setelah ada yang akan mengajukan investasi dan diterima oleh BKPM, selanjutnya BKPM mengumpulkan sektor-sektor terkait dan mendiskusikan ajuan investasi tersebut yang kemudian ditentukan lewat suatu kebijakan. Untuk memperlancar proses pengambilan keputusan bagi investor tersebut disetjui atau tidaknya, maka kantor BKPM telah menyediakan ruang untuk masing – masing sektor untuk menempatkan perwakilannya demi memperlancar proses.

2. Mengenai data-data yang diperlukan untuk penentuan batas wilayah dan mengecek kebenaran lokasi untuk investasi, pihak BKPM sendiri merasa kesulitan karena data-data yang berasal dari pihak-pihak kementerian terkait seperti Kementerian Pertanian dan Kehutanan berbeda. Bahkan pernah suatu kali dilakukan koordinasi langsung di wilayah terkait ajuan investasi, luasan lahan yang akan digunakan tidak diketahui keberadaan dan ketersediaannya. Sulit sekali penyediaan data, namun BKPM tetap berusaha menyediakan datanya.

3. Mengenai penyamaan hak antara PMA dan PMDN, BKPM tidak melihat dari sudut pandang itu. PMA dan PMDN dilayani sama baiknya. Namun ketika menyangkut persoalan perlindungan, hal itu menyangkut insentif. Insentif tersebut dapat diajukan oleh masing-masing sektor selama perlindungan tersebut tidak melanggar aturan yang berlaku. Kesemuanya itu dapat didiskusikan oleh BKPM dan pihak terkait lainnya. Misalkan sebagai contoh untuk crump rubber yang sudah demikian banyak investor yang berniat masuk dari Thailand, maka oleh pihak kementerian dapat mengajukan untuk dimasukkan dalam daftar negatif investasi.

4. Mengenai pengaturan banyaknya persentase antara PMDN dan PMA maka hal itu sepenuhnya wewenang dari masing-masing sektor untuk mengaturnya. Jika ada keberatan dari pihak investor, baru BKPM bertindak untuk menjadi mediator, tentunya ada keberpihakan atas kepentingan dalam negeri.

5. Mengenai pajak ekspor kelapa sawit dan biji kakao, terdapat perbedaan. Permasalahan pajak ekspor minyak sawit sudah terjadi tiga tahun lalu dan kini telah diselesaikan. Sementara pajak ekspor biji kakao sedang hangat diperdebatkan sekarang ini. Namun intinya adalah pemerintah bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri. Ada 13 industri biji kakao, yang 11 mati suru karena harga biji kakao yang melebihi 3000 US$. Oleh sebab itu, pihak Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian mengusulkan pengenaan pajak ekspor biji kakao 10 persen ketika harga internasional sudah

(14)

mencapai 2.700 US$. Tujuannya agar biji kakao tidak dijual keluar negeri dan dapat dijual ke industri dalam negeri.

6. Mengenai industri biji kakao yang mati suri tadi, perlu dicarikan penyebabnya apakah memang kesulitan memperoleh biji kakao atau manajemen yang tidak baik kinerjanya karena sudah banyak investor luar yang siap masuk. Namun demi meningkatkan industri biji kakao dalam negeri perlu diberikan perlindungan.

7. Mengenai data, untuk kepentingan penelitian diberikan sedikit kemudahan. BKPM juga sudah bekerjasama dengan beberapa pihak penyedia data. Juga sudah dipublikasikan lewat website BKPM.

8. Mengenai definisi investasi dan modal belum dapat didefinisikan secara pasti, namun pasti terkait kepentingan jangka panjang.

9. Public Private Partnership merupakan kemitraan swasta dan pemerintah di bidang infrastruktur. Ada 5 macam hal terkait kemitraan ini : 1) pembangunan rel kereta api Manggarai-Bandara Soetta; 2) Jalan Tol Medan-Kualanamu; 3) Erminologi di Jawa Timur; 4) Pelabuhan di Bali; 5) di Tapin. Dalam hal ini BKPM diberikan kuasa sampai menjadi kontrak namun dengan menggunakan aturan baru tidak menggunakan aturan lama untuk mempercepat proses investasi.

10. Mengenai land use mapping memang belum ada. Masih dipegang masing-masing. Sepertinya masing-masing pihak ingin memiliki peta sendiri dan aturan sendiri. Sebenarnya pengaturan tanah ada di kehutanan dan BPN.

Referensi

Dokumen terkait