• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL STEBC 03 : PENGUJIAN TANAH DAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODUL STEBC 03 : PENGUJIAN TANAH DAN"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1

CONSTRUCTION

(AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN)

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA

PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN

KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK)

MODUL

STEBC – 03 :

PENGUJIAN TANAH DAN

MATERIAL

(2)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) i

KATA PENGANTAR

Modul ini berisi bahasan tentang pelaksanaan pekerjaan pengujian tanah dan material dalam pekerjaan konstruksi jembatan. Pengetahuan ini sangat bermanfaat dalam menunjang tugas-tugas ahli struktur pekerjaan jembatan untuk melaksanakan pekerjaan struktur jembatan berdasarkan gambar kerja sesuai dengan spesifikasi dan pengendalian waktu.

Modul ini disusun dalam rangka membekali seorang ahli struktur pekerjaan jembatan untuk melakukan pengujian tanah dan material untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah dan pekerjaan bangunan atas

Disadari bahwa buku ini masih cukup banyak kekurangannya, oleh karena itu berbagai masukan demi sempurnanya buku ini sangat diharapkan. Kepada siapapun yang berkenan untuk memberikan masukan termaksud, kami ucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, Desember 2006 Penyusun

(3)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) ii

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : Pelatihan Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction) MODEL PELATIHAN : Lokakarya terstruktur

TUJUAN UMUM PELATIHAN :

Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan pekerjaan struktur jembatan berdasarkan gambar kerja sesuai dengan spesifikasi dan pengendalian waktu.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN :

Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu:

1. Menerapkan ketentuan UUJK, mengawasi penerapan K3 dan memantau lingkungan selama pelaksanaan pekerjaan jembatan

2. Melakukan survey lapangan untuk memastikan kesesuaian gambar rencana dengan lokasi jembatan di lapangan.

3. Melakukan koordinasi dengan petugas/teknisi laboratorium di lapangan dalam rangka pengujian tanah dan material untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah dan pekerjaan bangunan atas.

4. Menyusun detail jadwal pelaksanaan pekerjaan struktur jembatan sesuai dengan urutan pelaksanaannya.

5. Meneliti kesesuaian gambar kerja dengan metode pelaksanaan yang akan digunakan dalam upaya memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan.

6. Menyiapkan perhitungan volume pekerjaan, penggunaan peralatan, material dan tenaga kerja yang diperlukan untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan.

7. Memecahkan permasalahan konstruksi yang mungkin timbul sesuai dengan metode pelaksanaan selama pekerjaan berjalan.

8. Mengorganisasi alat, bahan dan tenaga pekerjaan struktur jembatan dan membuat laporan.

(4)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) iii

NOMOR : STEBC – 03

JUDUL MODUL : PENGUJIAN TANAH DAN MATERIAL TUJUAN PELATIHAN :

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melakukan koordinasi dengan petugas/teknisi laboratorium di lapangan dalam rangka pengujian tanah dan material untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah dan pekerjaan bangunan atas.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)

Pada akhir pelatihan peserta mampu :

1. Menetapkan titik sondir dan titik bor untuk keperluan pekerjaan pondasi sesuai dengan kesepakatan para pihak (penyedia jasa dan pengguna jasa)

2. Menjelaskan properties tanah berdasarkan hasil pengujian laboratorium untuk kepentingan pekerjaan bangunan bawah

3. Menentukan jenis material yang diperlukan untuk pekerjaan bangunan atas (termasuk test dan pengujian) sesuai dengan waktu penggunaannya

(5)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) iv

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR ... i LEMBAR TUJUAN ... ii DAFTAR ISI ... iv

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge

Construction) ... vi

DAFTAR MODUL ... vii

PANDUAN INSTRUKTUR ... viii

BAB I PENDAHULUAN

BAB II TITIK SONDIR DAN TITIK BOR

2.1 DASAR PENENTUAN TITIK SONDIR / TITIK BOR ... II-1 2.1.1 Survei Pendahuluan ... II-1 2.1.2 Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Survai

Pendahuluan ... II-1 2.1.3 Jenis Peralatan Dan Perlengkapan Penyelidikan

Lapangan ... II-3 2.1.4 Titik Ikat Pengukuran ... II-4 2.1.5 Bangunan Utilitas Yang Ada Dibawah Tanah ... II-4 2.1.6 Penyelidikan Geofisika ... II-4 2.1.7 Laporan Survai Pendahuluan ... II-4 2.2 RENCANA LETAK TITIK SONDIR DAN TITIK BOR ... II-5 2.2.1 Pengukuran Lokasi Titik Sondir Dan Titik Bor ... II-7 2.2.2 Kontrol Vertikal ... II-7 2.2.3 Toleransi Perubahan Letak Titik Penyelidikan ... II-8 2.2.4 Penyelidikan Untuk Pondasi ... II-8 2.3 PENENTUAN ELEVASI PONDASI ... II-9 2.4 PENENTUAN PERALATAN YANG SESUAI ... II-12 2.4.1 Sondir (Cone Penetration Test /CPT) ... II-12 2.4.2 Pemboran ... II-15 2.4.3 Pengambilan Contoh... II-18

(6)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) v

BAB III

KARAKTERISTIK DAN SIFAT-SIFAT TEKNIK (PROPERTIES)

TANAH

3.1 METODE PELAKSANAAN GALIAN STRUKTUR ... III-1 3.1.1 Cakupan Pekerjaan ... III-1 3.1.2 Kesiapan Kerja ... III-2 3.1.3 Pengamanan Pekerjaan Galian ... III-2 3.1.4 Kondisi Tempat Kerja ... III-3 3.1.5 Perbaikan Terhadap Pekerjaan Galian Yang Tidak

Memenuhi Ketentuan ... III-3 3.1.6 Utilitas Bawah Tanah ... III-4 3.1.7 Penggunaan Dan Pembuangan Bahan Galian ... III-4 3.1.8 Pengembalian Bentuk Dan Pembuangan Pekerjaan

Sementara ... III-4 3.1.9 Prosedur Penggalian ... III-5 3.1.10 Metode Pengeringan (Dewatering) ... III-6 3.2 PENGARUH MUKA AIR TANAH ... III-12 3.2.1 Air Di Dalam Tanah... III-12 3.2.2 Gerakan Air Tanah ... III-14 3.2.3 Pengaruh Permukaan Air Tanah Pada Oprit Jembatan III-15 3.2.4 Daya Dukung Tanah Dasar ... III-19 3.2.5 Sistem Drainase Bawah Permukaan ... III-21 3.3 PEMERIKSAAN LABORATORIUM UNTUK MENDAPATKAN

DATA KARAKTERISTIK DAN SIFAT-SIFAT TEKNIK

(PROPERTIES) TANAH ... III-21 3.3.1 Umum ... III-21 3.3.2 Macam Pemeriksaan Dan Pengujian ... III-22

3.3.2.1 Klasifikasi jenis tanah berdasarkan proses

pembentukannya ... III-22 3.3.2.2 Bentuk, ukuran, tekstur dan gradasi ... III-29 3.3.2.3 Berat Jenis (G) ... III-32 3.3.2.4 Batas-batas Atterberg ... III-33 3.3.2.5 Uji Konsolidasi. ... III-33 3.3.2.6 Triaxial ... III-33 3.3.2.7 Geser Langsung (Direct Shear) ... III-34

3.3.2.8 Kekuatan Tekan bebas (Unconfined Compressive Strength) ... III-34

(7)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) vi

BAB IV PENETAPAN JENIS MATERIAL

4.1 BETON ... IV-1 4.1.1 Persyaratan Material ... IV-1 4.1.2 Rencana Mutu ... IV-3 4.2 BETON PRATEKAN ... IV-3 4.2.1 Persyaratan Material ... IV-5 4.2.2 Rencana Mutu ... IV-8 4.3 BAJA TULANGAN ... IV-16 4.3.1 Persyaratan Material ... IV-16 4.4 BAJA STRUKTUR ... IV-17 4.4.1 Persyaratan Material Dan Rencana Uji Mutu ... IV-17 4.5 KAYU ... IV-18 4.5.1 Persyaratan Material Dan Rencana Uji Mutu ... IV-18 4.6 PASANGAN BATU KOSONG DAN BRONJONG ... IV-19 4.6.1 Persyaratan Material Dan Rencana Mutu ... IV-19 4.7 EXPANSION JOINT ... IV-20 4.7.1 Persyaratan Material Dan Rencana Mutu ... IV-20 4.8 PERLETAKAN (BEARING) ... IV-21 4.8.1 Persyaratan Material Dan Rencana Mutu ... IV-21 4.9 SANDARAN (RAILING) ... IV-22 4.9.1 Persyaratan Material Dan Rencana Mutu ... IV-22 4.10 JADWAL PENGUJIAN MATERIAL ... IV-22

RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA HAND OUT

(8)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) vii

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN

AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN

(Structure Engineer of Bridge Construction)

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Struktur Pekerjaan

Jembatan (Structure Engineer of Bridge Construction) dibakukan dalam Standar

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan

(Structure Engineer of Bridge Construction) unit-unit tersebut menjadi Tujuan

Khusus Pelatihan.

2. Standar Latih Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan (Structure

Engineer of Bridge Construction).

DAFTAR MODUL

Jabatan Kerja : Ahli Struktur Pekerjaan Jembatan

(Structure Engineer of Bridge Construction/STEBC) Nomor

Modul Kode Judul Modul

1 STEBC – 01 UUJK, K3 dan Pemantauan Lingkungan 2 STEBC – 02 Survey Lapangan Pekerjaan Jembatan

3

STEBC – 03 Pengujian Tanah dan Material

4 STEBC – 04 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan 5 STEBC – 05 Gambar Kerja Pekerjaan Jembatan 6 STEBC – 06 Kebutuhan Sumber Daya

7 STEBC – 07 Permasalahan Pelaksanaan Jembatan 8 STEBC – 08 Metode Pelaksanaan Jembatan

(9)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) viii

PANDUAN INSTRUKTUR

A. BATASAN

NAMA PELATIHAN : AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN (Structure Engineer of Bridge Construction )

KODE MODUL : STEBC - 03

JUDUL MODUL : PENGUJIAN TANAH DAN MATERIAL

DESKRIPSI : Materi ini berisi tentang penetapan titik sondir dan titik bor untuk keperluan pekerjaan pondasi sesuai dengan kesepakatan para pihak (penyedia jasa dan pengguna jasa), properties tanah berdasarkan hasil pengujian laboratorium untuk kepentingan pekerjaan bangunan bawah, penentuan jenis material yang diperlukan untuk pekerjaan bangunan atas (termasuk test dan pengujian) sesuai dengan waktu penggunaannya yang memang penting untuk diajarkan pada suatu pelatihan bidang jasa konstruksi sehingga perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pekerjaan konstruksi betul-betul dapat dikerjakan dengan penuh tanggung jawab yang berazaskan efektif dan efisien, nilai manfaatnya dapat mensejahteraan bangsa dan negara.

TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya.

(10)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) ix

B. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

1. Ceramah Pembelajaran  Pengantar

 Menjelaskan TIU dan TIK serta pokok pembahasan

 Merangsang motivasi peserta untuk mengerti/memahami dan membandingkan

pengalamannya  Bab I Pendahuluan Waktu = 10 menit

 Mengikuti penjelasan, pengantar, TIU,TIK, dan pokok bahasan.  Mengajukan pertanyaan apabila

kurang jelas atau sangat berbeda dengan pengalaman

OHT

Ceramah Bab II Titik Sondir dan Titik Bor, meliputi :

 Dasar Penentuan Titik Sondir dan Titik Bor

 Rencanan Letak Titik Sondir dan Titik Bor

 Penentuan Elevasi Pondasi  Penentuan Peralatan yang

sesuai

Waktu = 90 menit

 Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat

 Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta yang ada di lapangan dan atau pengalaman

OHT

2. Ceramah Bab III Karakteristik dan Sifat-sifat Teknik (Properties) Tanah  Metode Pelaksanaan Galian

Struktur

 Pengarut Muka Air Tanah  Pemeriksaan Laboratorium

untuk Mendapatkan data karakteristik dan sifat-sifat teknik (Properties) Tanah Waktu = 80 menit

 Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat

 Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman

OHT

3. Ceramah Bab IV Penetapan Jenis Material, meliputi :  Beton  Beton Pratekan  Baja Tulangan  Baja Struktur  Kayu

 Pasangan Batu Kosong dan Bronjong

 Expansion Joint  Perletakan (Bearing) Sandaran (Railing)  Jadwal Pengujian Material Waktu = 90 menit

 Mengikuti ceramah dengan tekun dan memperhatikan hal-hal penting yang perlu di catat

 Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas atau sangat berbeda dengan fakta dilapangan dan atau pengalaman

(11)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) I-1

BAB I

PENDAHULUAN

Modul ini disusun dalam rangka membekali peserta pelatihan dalam mengenali pengujian tanah dan material pekerjaan jembatan di lapangan. Dengan memahami substansi modul ini diharapkan peserta latihan dapat mengetahui secara rinci apa yang diperlukan didalam melakukan koordinasi dengan petugas/teknisi laboratorium di lapangan dalam rangka pengujian tanah dan material untuk pekerjaan pondasi, pekerjaan bangunan bawah dan pekerjaan bangunan atas jembatan.

Ada 3 (tiga) substansi utama yang dikemukakan di dalam modul ini yaitu :

 Titik sondir dan titik bor

 Properties tanah

 Penetapan jenis material

Pada substansi titik sondir dan titik bor, dijelaskan bagaimana menetapkan titik sondir dan titik bor untuk keperluan pekerjaan pondasi sesuai dengan ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku. Penjelasan tentang hal ini mencakup dasar penentuan titik sondir dan titik bor, data titik sondir dan data titik bor untuk penentuan elevasi pondasi dan penentuan peralatan yang sesuai dalam melakukan pengambilan data titik sondir dan titik bor.

Pada substansi properties tanah, dijelaskan pengertian properties tanah berdasarkan hasil pengujian laboratorium untuk pekerjaan bangunan bawah. Lebih jauh dalam substansi ini dijelaskan metode pelaksanaan galian struktur untuk keperluan pembuatan bangunan bawah dan pengaruh muka air tanah dalam pelaksanaan pekerjaan pondasi misalnya untuk pondasi sumuran.

Pada substansi penetapan jenis material, dijelaskan bagaimana menentukan jenis material yang diperlukan untuk pekerjaan bangunan atas (termasuk test dan pengujian) sesuai dengan waktu penggunaannya. Jenis material yang harus ditest dan jadwal pengujian material juga diberikan dalam modul ini.

Pemahaman atas 3 (tiga) substansi di atas diharapkan akan dapat membantu peserta pelatihan menjalankan koordinasi berkaitan dengan pengujian tanah dan material.

Pelaksanaan pekerjaan jembatan di lapangan memerlukan tingkat kecermatan dan ketelitian yang harus mendapat perhatian penuh dari structure engineer of bridge

(12)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) I-2 construction. Hal ini dimaksudkan untuk memperkecil kesalahan-kesalahan umum yang sering dijumpai pada pelaksanaan pekerjaan jembatan.

Dalam pelaksanaan lapangan pekerjaan jembatan, ada 3 (tiga) hal yang saling berkaitan satu sama lain yaitu :

 Jika kurang memahami spesifikasi teknis, tidak mampu menyiapkan gambar kerja, dan tidak mempunyai SDM (Sumber Daya Manusia) lapangan yang tangguh, kontraktor akan sulit menghindar dari kesalahan/kelalaian pelaksanaan lapangan.

(13)

II-1

BAB II

TITIK SONDIR DAN TITIK BOR

2.1 DASAR PENENTUAN TITIK SONDIR / TITIK BOR

2.1.1 SURVEI PENDAHULUAN

Untuk dapat menentukan lokasi titik sondir dan bor dalam pembangunan perlu dilakukan survai pendahuluan. Survai pendahuluan ini berupa tinjauan ke lokasi/lapangan tempat jembatan akan dibangun. Pelaksanaan survai pendahuluan dilakukan setelah tinjauan data yang ada selesai diolah, pengolahan dilakukan oleh ahli teknik tanah dan pondasi dan dimulai dengan mengumpulkan semua informasi tentang ”tanah” yang telah digunakan sebagai bahan masukan dalam perencanaan teknis. Informasi yang diperoleh berdasarkan data-data perencanaan teknis dipakai sebagai bahan masukan untuk menetapkan dimana titik sondir dan titik bor harus diletakkan. Dalam hal penyelidikan memerlukan pemboran mesin, ahli teknik tersebut sebaiknya disertai kepala tim pemboran.

Survei pendahuluan tersebut dilakukan oleh Tim penyelidikan lapangan dengan cakupan tugas sebagai berikut :

 pemilihan peralatan dan perlengkapannya  penentuan jumlah dan letak titik sondir,  penentuan jumlah dan letak titik bor

 pembuatan rencana kerja terutama persiapan waktu dan persiapan alat

2.1.2 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM SURVAI PENDAHULUAN

 Rencana Letak Kepala Jembatan dan Pilar

Letak kepala jembatan dan pilar, baik vertical maupun horisontal harus diperhatikan. Apabila diperkirakan akan timbul kesulitan yang mungkin terjadi kemudian dan sulit dihindari maka penggeseran letak bangunan bawah dapat disarankan sedini mungkin. Sebagai contoh antara lain;

a. rencana letak kepala jembatan pada tepi sungai yang stabilitasnya diragukan (kemungkinan longsor, penggerusan dsb), dapat disarankan penggeseran kearah lokasi yang lebih mantap.

(14)

II-2 b. rencana oprit jembatan pada daerah rawa-rawa,di atas tanah lembek, dan tanah kompresibel yang akan menimbulkan persoalan stabilitas dan penurunan, maka dapat disarankan penambahan panjang bentang jembatan, perbaikan tanah atau kemungkinan cara penanggulangan lainnya.

Keterangan-keterangan tersebut perlu diketahui oleh tim penyelidikan lapangan sebelum diberangkatkan ke lokasi / lapangan.

 Tanah Permukaan

Tanah permukaan mudah dilihat dengan mengupas penutupnya (dengan cangkul, belincong dan lain-lain); biasanya dengan mengenal tanah permukaan dapat ditunjukkan sifat-sifat daripada formasi lapisan bawahnya. Bila ada singkapan batuan (outcrop) yang ada disekitar daerah rencana perlu diketahui dan dipelajari apakah singkapan tersebut merupakan lapisan yang menerus, maka perlu dilakukan pengukuran jurus dan kemiringannya, sehingga dapat diketahui apakah alinyemen jalan pada oprit jembatan akan terletak diatas batuan tadi atau tidak. Penjelasan mengenai pengertian jurus dan kemiringan lapisan bisa didapat dari pelajaran geologi.  Alur-alur, Galian, Parit, Lereng-lereng, Tebing Sungai

Jenis-jenis tanah dan batuan sampai kedalaman tertentu kadang-kadang dapat dipelajari lebih baik pada lereng-lereng terjal, tebing sungai, parit, galian atau sumur. Keterangan ini sangat membantu untuk menambah keterangan mengenai kondisi tanah/batuan ditempat tersebut, yang perlu dituangkan didalam bentuk sketsa dan penampang geologi permukaan.

 Air-permukaan dan Air-tanah

Air-permukaan dan fluktuasi air-tanah merupakan faktor yang penting diketahui baik dalam rencana penyelidikan lapangan (pemboran,sumur uji, dsb), untuk perencanaan jalan karena tinggi muka air tanah dapat mempengaruhi kekuatan daya dukung tanah dasar. Semua aliran air-permukaan, fluktuasi tinggi muka air-tanah selama periode tertentu dalam sumur serta lubang galian lainnya harus diperhatikan dan dicatat.  Keadaan Topografi dan Tumbuh-tumbuhan

 Topografi yang menunjukkan keadaan permukaan mempunyai arti penting karena

hal ini erat hubungannya dengan batuan yang dijumpai di daerah tersebut dan persiapan peralatan lapangan yang akan digunakan. Sebagai contoh antara lain;  sungai yang sempit dan curam menunjukkan tanah - penutup tipis dan letak

(15)

II-3  daerah yang relatif datar dan lebar biasanya me nunjukkan aluvial yang tebal

dan letak lapisan batuannya dijumpai cukup dalam.

 catatan topografi ini juga penting dalam mempersiapkan peralatan pemboran, misalnya untuk lereng yang curam akan diperlukan peralatan yang ringan dan mudah dibawa,serta mudah dipindahkan.

 Tumbuh-tumbuhan sering menunjukkan gambaran keadaan air-tanah dan

keadaan tanah/batuan setempat,sebagai contoh antara lain;

 tumbuh-tumbuhan yang lebat menunjukkan adanya air tanah yang merembes didekat permukaan tanah

 selain itu tumbuhan atau semak-semak tertentu dapat menunjukkan tanah penutup yang tipis dan batuan dekat permukaan.

Penafsiran hubungan air tanah dan keadaan bawah permukaan (tanah penutup, batuan) dengan tumbuh tumbuhan memerlukan bantuan tenaga biologi yang berpengalaman.

 Bangunan yang ada

Bangunan atau jembatan lama yang ada disekitar daerah penyelidikan dapat merupakan sumber keterangan yang baik. Dengan melakukan pengamatan pondasi/penurunan yang mungkin terlihat retak-retak pada bangunan bawah pembebanan yang ada, lokasi, umur dan lain-lain akan diperoleh data yang dapat digunakan untuk perencanaan penyelidikan dan perencanaan pondasi.

2.1.3 JENIS PERALATAN DAN PERLENGKAPAN PENYELIDIKAN LAPANGAN

Dalam rangka mempersiapkan peralatan penyelidikan lapangan dengan sebaik-baiknya, maka diperlukan keterangan keadaan setempat sebagai berikut:

 keadaan tanah dan batuan setempat, sehingga dapat dipersiapkan peralatan penyelidikan lapangan yang sesuai (sondir,bor tangan, geofisika,sumur uji/test pit, pemboran mesin dan lain-lain).

 untuk pemboran putar dan pemboran semprot,lokasi sumber air yang terdekat sangat membantu untuk mempersiapkan perlengkapan seperti mesin pompa, selang / pipa, dan sebagainya.

 sifat tanah/batuan penting dalam mempersiapkan peralatan dan perlengkapan seperti pipa lindung, mata bor,alat pengambil contoh,alat pemeriksaan setempat dan lain-lain.

(16)

II-4

2.1.4 TITIK IKAT PENGUKURAN

 Pengikatan titik rencana penyelidikan sangat penting artinya, karena itu sebaiknya ditentukan terlebih dahulu titik ikat pengukuran untuk titik-titik penyelidikan lapangan.  Sebagai titik ikat pengukuran biasanya digunakan titik tetap (bench mark) atau bidang

atas kepala jembatan lama yang masih utuh dan mantap. Selanjutnya letak rencana titik-titik penyelidikan harus di beri patok yang diukur secara tepat kedudukannya terhadap titik-titik ikat tersebut (dilakukan dengan Teodolit atau alat lainnya).

2.1.5 BANGUNAN UTILITAS YANG ADA DIBAWAH TANAH

 Disekitar lokasi penyelidikan lapangan kadang kadang dijumpai bangunan utilitas seperti pipa air, pipa gas, kabel listrik, kabel telepon dan sebagainya.

 Tanpa adanya keterangan yang pasti, akan dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan utilitas tersebut dan kecelakaan yang tidak diinginkan.

 Keterangan-keterangan yang didapat dari peta sebaiknya dibuktikan dengan kenyataan di lapangan karena seringkali letaknya tidak tepat seperti yang ditunjukkan dalam peta.

2.1.6 PENYELIDIKAN GEOFISIKA

 Survai pendahuluan bila perlu dapat dibantu dengan menggunakan alat geofisika misalnya geolistrik dan geoseismik, untuk mendapatkan keterangan-keterangan bawah permukaan. Cara geofisika ini dapat memberikan keterangan mengenai pendugaan kedalaman homogenitas dan jenis tanah/batuan yang, ada, yang dapat digunakan untuk melengkapi rencana pemboran (jumlah titik dan kedalaman).

 Pelaksanaan penyelidikan geofisika ini harus disertai dengan pemetaan topografi dan peta geologi teknik.

2.1.7 LAPORAN SURVAI PENDAHULUAN

 Hasil survai pendahuluan dicantumkan kedalam Formulir lapangan Survai Pendahuluan. Keterangan-keterangan survai pendahuluan sangat berarti dalam menentukan langkah penyelidikan selanjutnya. Dengan demikian pelaksanaan survai pendahuluan harus mencatat keterangan-keterangan tentang apa yang diamati dalam survai pendahuluan ini, dan mampu memberi saran-saran selanjutnya. Sebaiknya pelaksana ini harus mempunyai dasar pengetahuan geologi, teknik tanah, teknik pondasi ataupun teknik jembatan

(17)

II-5  Apabila dari hasil survai pendahuluan lokasi jembatan tidak dapat dipertahankan

maka dapat disarankan peninjauan kembali rencana lokasi jembatan semula.

 Apabila hasil survai pendahuluan menunjukkan bahwa hasil penyelidikan tanah yang tersedia (ex laporan perencanaan teknis jembatan) dinilai kurang memadai, maka disarankan untuk melakukan penyelidikan tanah ulang di titik-titik sondir dan titik-titik bor yang dipertimbangkan dapat merepresentasikan kondisi tanah yang harus digunakan dalam perhitungan pondasi jembatan.

2.2 RENCANA LETAK TITIK SONDIR DAN TITIK BOR

Dalam memilih rancangan pondasi jembatan, diperlukan data-data lapangan yang diperoleh dari test sondir, bor-log lapangan dan bor-log akhir. Test sondir dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang perlawanan tanah terhadap ujung konus dan lekatan tanah terhadap selimut bikonus. Data-data tersebut diperoleh dengan cara menekan konus dan bikonus ke dalam lapisan tanah yang diselidiki, digambarkan ke dalam suatu grafik yang menunjukkan hubungan antara kedalaman ujung konus (m) dengan tekanan konus (kg/cm2) dan antara kedalaman ujung konus (m) dengan hambatan pelekat (kg/cm). Sedangkan bor log merupakan hasil uji pemboran berupa penampang yang menggambarkan lapisan-lapisan tanah disertai dengan keterangan-keterangan yang diperlukan untuk menganalisa kondisi tanah/batuan yang harus dipertimbangkan untuk perencanaan pondasi jembatan. Bor-log lapangan merupakan catatan-catatan berdasarkan fakta-fakta lapangan sedangkan bor-log akhir dibuat berdasarkan bor-log lapangan dan hasil-hasil pengujian laboratorium.

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa data-data yang diperoleh dari test sondir, bor-log lapangan dan bor-log akhir harus memberikan informasi yang tepat dan akurat guna kepentingan perhitungan pondasi jembatan. Ini berarti bahwa letak titik sondir dan bor harus sedemikian sehingga hasil pengolahan dan evaluasi data tanah yang dibuat dapat merepresentasikan informasi tentang properties tanah yang diperlukan dalam perhitungan pondasi jembatan.

Letak titik sondir dan titik bor kadang-kadang tidak dapat tepat pada rencana letak bangunan mengingat situasi-lapangan yang sulit. Oleh karena itu penting diketahui sampai beberapa jauh dapat diadakan penggeseran, relokasi, pengurangan atau penambahan titik penyelidikan. Untuk pemboran mesin perlu juga ditinjau jalan masuk kelokasi.

(18)

II-6 Jumlah dan letak titik sondir dan titik bor (contoh)

 Jika jembatan dengan bangunan-bangunan atas diletakkan di 1 (satu) abutment kiri, dan 2 (dua) pilar dan 1 (satu) abutment kanan, serta direncanakan berdasarkan data sondir dan bor yang lengkap, maka data sondir dan bor yang tersedia dalam laporan perencanaan teknis adalah sebagai berikut:

 Terdapat data-data penyelidikan tanah untuk 2 titik sondir di abutmen kiri, 8 titik

sondir di dasar sungai/lembah, 2 titik sondir di abutmen kanan. Dalam hal ini sebanyak 6 titik sondir berada di sebelah kiri as jembatan dan 6 titik sondir berada di sebelah kanan as jembatan.

 Terdapat data-data penyelidikan tanah untuk 1 titik sondir di abutmen kiri, 4 titik

bor di dasar sungai/lembah, 1 titik bor di abutmen kanan. Lokasi titik-titik bor tersebut berada kurang lebih tepat di bawah as jembatan.

 Yang harus dipastikan adalah apakah data sondir dan bor yang digunakan dalam perencanaan pondasi jembatan jumlah dan letaknya memenuhi persyaratan perencanaan dan dapat dipastikan tingkat akurasinya; dalam hal ini structure engineer of bridge construction harus mengambil keputusan berdasarkan hasil evaluasi atas data-data yang diperoleh dari berkas laporan perencanaan.

 Jika Tim mengambil kesimpulan bahwa data penyelidikan tanah yang diperoleh dari laporan perencanaan dinilai masih valid dan tingkat akurasinya memadai, maka yang diperlukan oleh structure engineer of bridge construction adalah tambahan data sondir dan bor yang sifatnya hanya untuk cross check, misalnya di tiap abutment cukup ditambah penyelidikan tanah untuk 1 (satu) titik sondir dan 1 (satu) titik bor. Sedangkan untuk dasar sungai/lembah ditambah penyelidikan tanah 2 (dua) titik sondir dan 1 (satu) titik bor untuk tiap pilar. Agar hasilm penyelidikan tanah memberikan gambaran riil yang diperlukan, maka lokasi titik sondir dan titik bor tersebut adalah berada di bawah abutmen dan atau pilar jembatan.

 Jika Tim mengambil kesimpulan bahwa data penyelidikan tanah yang diperoleh dari laporan perencanaan dinilai kurang akurat, maka sondir dan bor diulang di seluruh titik-titik sondir dan titik-titik bor yang memang secara teknis diperlukan bukan hanya untuk keperluan pembangunan fisik akan tetapi juga untuk menyiapkan revisi desain pondasi jembatan.

(19)

II-7

2.2.1 PENGUKURAN LOKASI TITIK SONDIR DAN TITIK BOR

Apabila letak titik sondir dan titik bor belum ditetapkan pada waktu survai pendahuluan maka letak titik titik penyelidikan tersebut harus diukur dengan tepat dan dicantumkan pada peta/sketsa situasi.

Apabila peta situasi dan penampang melintang sungai pada as rencana jembatan belum tersedia, maka perlu dilakukan pengukuran dengan cara sederhana atau khusus tergantung keadaan medan.

Pengukuran cara sederhana (untuk medan sederhana dan sempit) misalnya menggunakan kompas dan peta ukur, sipat datar (water pass) dengan slang plastik diisi air dan sebagainya. Pengukuran cara khusus (untuk medan berat dan luas) dilakukan dengan alat ukur presisi.

Bentuk penampang sungai sedikit banyak mempengaruhi rencana penyelidikan dan rencana peletakan pondasi terhadap tebing baik horizontal maupun vertikal, sehingga penampang sungai perlu diukur dan digambar yang mencakup;

a. tinggi lereng

b. sudut/kemiringan lereng - muka air banjir c. muka air terendah

d. dasar sungai terdalam dan lain-lain.

Sebagai titik nol diambil lantai atau bidang atas kepala jembatan yang ada. Untuk daerah yang belum ada jembatan, titik nol ini harus dibuat lebih dahulu berupa patok beton permanen yang menunjukkan ketinggian dari orientasinya dan letaknya tidak terganggu pada waktu pembangunan jembatan tersebut. Letak titik-titik penyelidikan harus diberi patok sesuai dengan rencana penyelidikan dan diberi nomer urut.

Apabila diperlukan titik-titik penyelidikan tambahan sesuai dengan kebutuhan. maka harus dilakukan pula pematokan tambahan dan diberi nomor urut juga.

2.2.2 KONTROL VERTIKAL

Untuk mencatat hasil-hasil penyelidikan bawah permukaan diperlukan adanya titik tetap sebagai dasar pengukuran ketinggian titik penyelidikan dan kedalaman yang dicapai. Ketinggian titik penyelidikan dapat diukur terhadap titik nol yang telah ditentukan untuk suatu daerah penyelidikan.

Untuk penyelidikan yang dilakukan:

 didarat, ketinggian titik penyelidikan diukur dari muka tanah setempat terhadap titik nol.

(20)

II-8  diair dengan menggunakan lantai kerja,ketinggian titik penyelidikan diukur dari

permukaan lantai kerja terhadap titik nol.

 diair dengan menggunakan ponton/rakit, ketinggian titik penylidikan diukur dari permukaan lantai ponton/rakit terhadap titik nol.

Apabila permukaan air mempunyai fluktuasi yang cukup besar, maka pengukuran ketinggian titik penyelidikan harus dilakukan secara periodik.

Pengukuran ketinggian penyelidikan terhadap titik nol dapat dilakukan secara langsung atau dengan perantaraan tanda-tanda tetap yang sengaja dipasang. Batas toleransi pengukuran ketinggian titik penyelidikan maksimum adalah 0,05 meter.

2.2.3 TOLERANSI PERUBAHAN LETAK TITIK PENYELIDIKAN

Letak dan jumlah titik penyelidikan (sondir dan bor) harus diusahakan tepat sesuai dengan yang telah direncanakan, dengan toleransi radius 0,50 meter dari titik rencana semula. Dalam keadaan tertentu letak dan jumlah titik penyelidikan dapat digeser atau ditambah dengan berpedoman pada peta situasi.

Penambahan jumlah dan penggeseran titik penyelidikan diluar ketentuan yang ada harus ditentukan oleh ahli teknik tanah atau ahli geologi yang bertanggung jawab dalam pekerjaan tersebut, dengan memperhatikan kondisi tanah/batuan setempat.

Lokasi penggeseran atau penambahan titik penyelidikan harus dicantumkan dalam peta situasi. Alasan penggeseran atau penambahan titik penyelidikan harus dicatat dalam laporan pekerjaan lapangan.

2.2.4 PENYELIDIKAN UNTUK PONDASI

Titik penyelidikan seharusnya diletakkan pada lokasi pondasi yang direncanakan. Dalam pemboran pengambilan contoh asli dan pemeriksaan setempat dilakukan pada interval tertentu sesuai dengan keadaan tanah/batuan yang dijumpai.

Kedalaman penyelidikan ditentukan oleh kedalaman tanah yang masih terpengaruh oleh beban pondasi.

 Pondasi langsung; berdasarkan pengalaman untuk pondasi langsung jembatan umumnya pada kedalaman 2 kali lebar pondasi kurang lebih 1/10 tegangan vertikal pada level dasar pondasi. Oleh karena itu pengambilan contoh asli harus dilakukan sampai kedalaman 4xB kecuali bila dijumpai lapisan tanah keras/batuan. Umumnya pengambilan contoh asli dilakukan setiap pergantian lapisan atau tiap interval 0,75 meter sampai kedalaman 4,50 meter dibawah dasar perencanaan pondasi dan

(21)

II-9 selanjutnya setiap 1,50 meter. Apabila dijumpai lapisan keras/batuan maka pemboran harus dilakukan sampai kedalaman sedikit-dikitnya 6 meter, dibawah dasar pondasi yang direncanakan.

 Bila pondasi sumuran merupakan alternatif pertama, maka pengambilan contoh harus dilakukan mulai kedalaman peletakan pondasi yang direncanakan samoai kedalaman 4xB dari dasar pondasi.

 Bila pondasi tiang merupakan alternatif, maka pengambilan contoh harus diteruskan sampai kedalaman 4,50 meter untuk batuan lapuk dan 7,5 meter untuk tanah kohesif dibawah ujung tiang yang direncanakan, kecuali dijumpai lapisan/batuan keras sebagai batuan dasar maka pengambilan contoh dihentikan. Perkiraan ujung tiang pondasi dapat ditentukan dari hasil S.P.T, dan grafik korelasi hasil penyelidikan. Apabila belum jelas kemungkinan rencana tipe pondasi maka perlu dilakukan penyelidikan pendahuluan, misalnya dengan alat sondir dan pemboran, untuk memperoleh gambaran tentang ketebalan dan susunan lapisan tanah/batuan. Dari gambaran tersebut dapat diperkirakan letak dan kedalaman pondasi - yang direncanakan.

2.3 PENENTUAN ELEVASI PONDASI

Letak pondasi jembatan ditentukan berdasarkan pada sistem referensi yang digunakan. Titik offset referensi harus ditetapkan untuk tiap pilar dan kepala jembatan. Letak dan jarak offset tiap-tiap titik referensi harus hati-hati diputuskan dan dikenali di lapangan dan untuk menyiapkan tahap penentuan kembali yang mudah bagi letak pilar dan kepala jembatan selama pelaksanaan pekerjaan sehingga titik-titik ini tidak terganggu.

Penempatan dan pematokan letak pondasi jembatan yang telah ditentukan harus diperiksa. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara terpisah dan dilakukan dengan menggunakan peralatan lain yang berbeda dengan peralatan yang digunakan pada saat penempatan dan pematokan awal.

Bagi petugas lapangan yang melaksanakan pemeriksaan ulang atas hasil pekerjaannya sendiri, dianjurkan untuk menggunakan methoda lain yang berbeda dengan methoda yang telah digunakan pada saat awal penempatan dan pematokan. Untuk menghindari kesalahan dari ketidaktepatan identifikasi patok, ketidak-tepatan penandaan atau kesalahan dalam melaksanakan survei, maka pengukuran jarak dan beda tinggi dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan dari titik awal suatu sisi sampai pada titik akhir pada sisi yang lain, kemudian diikatkan pada titik kontrol hasil survei pertama.

(22)

II-10 Pemeriksaan ini tidak diperkenankan dilakukan hanya dengan mengukur dari satu titik akhir saja atau dari 2 (dua) titik akhir pada sisi yang terpisah.

Prinsip dasar pekerjaan survei harus selalu digunakan, terutama untuk jarak yang besar. Peralatan harus mengukur dengan akurat dan sudut diukur pada sisi muka kanan dan muka kiri. Peralatan survei yang digunakan dianjurkan untuk diperiksa secara teratur untuk mempertahankan ketelitian dan ketepatannya. Dalam pengukuran, diusahakan agar jarak muka sama dengan jarak belakang jika memungkinkan.

 Elevasi Tiang Pancang

Penentuan dan pematokan posisi pondasi merupakan pekerjaan yang paling kritis. Beberapa unsur-unsur penting seperti jarak antara beton kopel tiang (pile cap) harus selalu diperiksa ulang sesuai dengan ukuran bangunan atas, sebelum pekerjaan konstruksi dimulai, terutama bila bangunan atas tidak horizontal.

Hal terpenting yang harus diperhatikan, apabila posisi garis kontrol terletak di luar garis tengah Jembatan. Perlu diperhatikan bahwa sudut kemiringan diputar dari garis yang benar terutama bila kemiringan berada di antara 40° dan 50°. Lokasi tiang pancang terletak pada satu bidang di sisi bawah dari beton kopel tiang atau kepala jembatan. Oleh karena itu pada pematokan tiang pancang, maka posisi tiang pancang dipermukaan atau kerangka tiang pancang harus diukur dan disesuaikan, untuk mendapatkan perbedaan antara bagian bawah beton kopel atau kepala jembatan dan permukaan asli atau kerangka tiang pancang.

Kontrol posisi tiang pancang sulit dilakukan setelah pemancangan, dalam menentukan ketepatan posisinya dibutuhkan letak awal dari pergeseran tiang pancang, untuk memastikan bahwa posisi pancang tetap pada posisi semula. Pergeseran tiang pancang cenderung bergerak searah dengan kemiringan pada waktu pemancangan dan seringkali bertambah sesuai kemiringannya. Penyesuaian untuk tiang miring dalam kelompok tiang dapat dibenarkan, untuk mengurangi resiko tiang terlalu dekat pada tepi beton kopel tiang yang akan mengakibatkan beton kopel tiang diperbesar. Pemancangan tiang miring pertama kali dapat digunakan untuk memeriksa seberapa besar pergeseran dari kemiringan rencana.

Pemancangan tiang dilakukan sampai elevasi ujung tiang memenuhi persyaratan daya dukung, tahanan lateral, deformasi vertikal dan lateral, dan kekuatan struktur. Untuk itu data yang diperlukan adalah data geoteknik (sondir dan bor), jenis dan tipe alat pancang, jenis dan dimensi tiang pancang. Data hasil sondir dan pemboran tanah dapat digunakan sebagai masukan untuk menentukan dimana ujung tiang

(23)

II-11 pancang (= elevasi ujung tiang pancang) harus diletakkan melalui pemancangan. Pelaksana lapangan harus memahami, prinsip apa yang digunakan oleh perencana dalam menetapkan pondasi tiang pancang, apakah sebagai friction pile, point bearing pile, atau kombinasi dari friction pile dan point bearing pile.

(24)

II-12 Jika hasil sondir menunjukkan grafik tekanan konus sebesar 150 kg/cm2 (tanah

keras) berada 23 m di bawah tepi bawah pelat beton dari telapak kaki pilar, maka ini berarti digunakan prinsip-prinsip pont bearing pile. Dalam hal ini tekanan konus berdasarkan hasil sondir yang menunjukkan letak tanah keras dapat digunakan sebagai “pemandu” untuk meletakkan ujung konus. Minimal ujung tiang pancang harus menembus tekanan konus sebesar 150 kg/cm2 sedalam kurang lebih 0.50 m atau tergantung desain teknis. Elevasi ujung tiang sebagaimana digambarkan di dalam rencana teknis, hanyalah memberikan gambaran perkiraan posisi atau elevasi ujung tiang pancang. Posisi tepatnya ujung tiang pancang sebenarnya sudah dapat diperkirakan jika kita mengetahui pada kedalaman berapa hasil sondir menunjukkan tekanan konus sebesar 150 kg/cm2. Pada akhirnya, elevasi masing-masing ujung tiang pancang secara tepat baru dapat diketahui berdasarkan kalendering pemancangan.

Jika hasil sondir menunjukkan grafik tekanan konus (kg/cm2) relatif rendah dan tidak dijumpai tekanan konus sebesar 150 kg/cm2 pada kedalaman misalnya 25 m dari permukaan tanah asli, berarti pondasi tiang diperhitungkan berdasarkan jumlah hambatan pelekat, artinya tiang pancang diperhitungkan sebagai “friction pile”. Elevasi ujung tiang ditentukan berdasarkan panjang tiang sesuai desain; misalnya jika ditentukan panjang tiang pancang adalah 24 m dihitung dari tepi bawah abutment, maka apabila tiang dipancang sampai dengan kedalaman 24 m di bawah abutment, pemancangan dihentikan.

 Elevasi Pondasi Sumuran.

Pondasi sumuran digunakan apabila letak tanah keras (tekanan konus sebesar 150 kg/cm2 ) berada sekitar 4 – 8 meter dari permukaan tanah. Elevasi telapak sumuran diletakkan 1 m di bawah tanah keras; jadi misalnya tekanan konus = 150 kg/cm2 berada pada kedalaman 6 meter dari permukaan tanah maka telapak kaki sumuran diletakkan pada kedalaman 6 m + 1 m = 7 m dari permukaan tanah. Untuk jelasnya lihat sketsa tersebut di bawah :

2.4 PENENTUAN PERALATAN YANG SESUAI

2.4.1 SONDIR (CONE PENETRATION TEST /CPT)

Sondir merupakan salah satu uji lapangan yang populer di tanah air karena beberapa keunggulan antara lain, (a) penggunaan yang sederhana, (b) dapat memberi gambaran tanah dengan cepat dan (c) memberi profil kekuatan Tanah secara menerus. Kelemahan

(25)

II-13 Sondir adalah tidak dapat melihat contoh tanah. Ada 2 (dua) jenis peralatan sondir yang dikenal yaitu Sondir Mekanis dan Sondir Elektrik sebagaimana dijelaskan di bawah :

 Sondir Mekanis

Sondir mekanis dilakukan dengan mendorong ke dalam tanah sebuah konus dengan luas proyeksi sebesar 10 cm2 bersudut kemiringan 60 derajat. Tekanan yang dibutuhkan untuk mendorong konus disebut tekanan konus (cone resistance, qc). Pada sondir jenis bikonus terdapat selubung gesek dibelakang konus dengan luas selimut sebesar 150 cm2. Tekanan yang dibutuhkan untuk mendorong selubung gesek disebut tekanan friksi (local friction,fs). Penetrasi sondir dilakukan dengan kecepatan standar yaitu 20 mm per detik. Pengukuran tekanan konus dan tekanan friksi pada jenis sondir mekanik dilakukan setiap 20 cm. Standar prosedur pengujian sondir dan ukuran standard konus yang dianjurkan dapat dipelajari pada ASTM D3441.

Untuk tanah liat yang lunak dan uji sondir dengan kedalaman besar, berat tiang tekan dalam (inner rods) akan lebih besar dari pada daya dukung tanah. Oleh karena itu, tekanan konus dan friksi harus dikoreksi dengan berat tiang. Pembersihan berkala untuk tiang tekan dan bikonus harus dilakukan untuk mengurangi gesekan yang dapat memberi hasil uji yang cenderung membesar.

 Sondir Elektrik

Belakangan ini telah terdapat sondir elektrik untuk mengukur tekanan konus dan tekanan friksi secara menerus dengan akurasi jauh lebih baik dari pada sondir mekanik. Koreksi berat tiang tekan seperti yang dilakukan untuk sondir mekanik tidak perlu dilakukan untuk sondir listrik karena sensor tepat berada diujung konus. Dengan demikian, sondir elektrik cukup sensitif untuk tanah liat sangat lunak sehingga baik digunakan untuk proyek-proyek reklamasi.

Untuk sondir elektrik, telah diciptakan pula sensor untuk mengukur tekanan air pori yang sangat berguna untuk penentuan jenis tanah, yaitu (a) tekanan air pori yang cenderung sama dengan tekanan air hidrostatis menunjukkan tanah jenis pasiran, (b) tekanan air pori yang lebih besar dari tekanan hidrostatis menunjukan tanah liat lunak hingga sedang, dan (c) untuk tanah liat atau pasir sangat padat; tekanan air pori cenderung lebih kecil dari pada tekanan hidrostatis. Uji dissipation yang menghentikan penetrasi sondir dan membiarkan air pori kembali ke kondisi hidrostatis sangat berguna untuk rnempelajari kecepatan konsolidasi (rate of consolidation). Apabila tekanan air pori dibiarkan terus sampai stabil, tekanan air tersebut menunjukkan tekanan hidrostatisnya.

(26)

II-14  Korelasi Umum Hasil Sondir

Hasil sondir biasanya ditampilkan dalam grafik tekanan konus (qc), tekanan friksi (fs) serta perbandingan friksi dan konus (FR = fs/qc x 100%) dengan kedalaman. Untuk sondir elektrik, grafik tegangan air pori juga ditampilkan dengan kedalaman. Dari grafik sondir, dapat diperoleh korelasi dengan jenis tanah serta sifat mekanis lainnya. Penggunaan tabel korelasi tersebut perlu diverifikasi dengan data pengeboran untuk memastikan akurasi.

 Penggunaan dan Batasan Sondir

Sondir digunakan untuk mengetahui profil tanah dan mencari kuat geser tanah melalui korelasi empiris. Sondir elektrik dengan uji disipasi berguna untuk mencari koefisien konsolidasi tanah lateral yang sering dipakai pada perencanaan reklamasi dengan vertical drains.

Penyelidikan tanah dengan sondir tanpa dibarengi pengeboran sangat tidak dianjurkan terutama pada daerah baru tanpa pengalaman yang memadai karena Sondir tidak dapat memperoleh contoh tanah. Sondir yang tidak dapat menembus tanah keras bukan jaminan bahwa lapisan keras tersebut cukup tebal. Oleh karena itu, Sondir hanya dilakukan sebagai pelengkap penyelidikan yang dikombinasikan dengan pengeboran dan pengambilan contoh tanah.

Sondir mekanis kurang sensitif pada tanah liat sangat lunak dan dianjurkan untuk menggunakan Sondir elektrik. Sondir juga tidak dapat dipakai pada tanah berbatuan atau berkerikil.

Kelemahan Sondir elektrik adalah mahalnya investasi serta mudah rusaknya komponen elektronik. Tidak terdapatnya pusat reparasi lokal dengan dukungan komponen elektronik yang memadai sering menghambat progress penyelidikan tanah bila Sondir elektriknya rusak.

Pada penggunaan Sondir elektrik, posisi filter untuk pengukuran tekanan air pori perlu diperhatikan karena berbeda untuk Sondir elektrik yang satu dengan yang lain tergantung dari produsen. Respon tekanan air pori akan berbeda-beda tergantung pada posisi filter. Oleh karena itu, penggunaan korelasi yang didapat dari tulisan ilmiah harus diperhatikan apakah konus yang dipakai adalah sejenis. Seperti halnya pada semua korelasi empiris, pengalaman setempat dibutuhkan sehingga korelasi tersebut tidak dapat dipakai secara universal.

(27)

II-15

2.4.2 PEMBORAN

Pemilihan peralatan untuk pemboran, akan tergantung pada metoda pemboran, kemudahan mencapai lokasi, kondisi tanah/batuan, kedalaman yang dikehendaki serta kondisi air tanah. Pada bagian ini akan diutarakan secara umum mengenai metoda pemboran beserta peralatan dan penggunaannya untuk memberikan gambaran dalam memilih peralatan pemboran.

 Pemboran Putar (Rotary Drilling)

Pemboran dengan sistim Putar sampai saat ini dianggap yang paling cocok untuk penyelidikan tanah bawah permukaan. Dengan metoda ini praktis semua jenis tanah/batuan dapat diselidiki dengan baik termasuk pengambilan contoh dan klasifikasinya. Semua alat pengambil sample uji cocok dengan metoda ini.

Kerugiannya yang utama adalah: metoda ini memerlukan air/lumpur pembilas dan perlengkapan yang relatif berat.

Dengan menggunakan peralatan yang sesuai pemboran dengan sistim putar dapat digunakan untuk pengambilan contoh tanah asli, contoh inti, contoh cutting dan pemeriksaan setempat yang berhubungan dengan penentuan sifat teknis tanah/batuan. Keberhasilan dan ketelitian data yang diperoleh dengan pemboran putar ini sebagian besar tergantung kepada ketepatan penggunaan alat pengambilan contoh, alat pemeriksaan lapangan (SPT, Vane dan sebagainya), prosentase contoh atau inti yang terambil, pengalaman pelaksana pemboran, ketelitian pencatatan penampang dan keterangan pemboran (logging), ketepatan memilih prosedur yang diikuti serta disesuaikan dengan keadaan tanah/batuan yang dijumpai.

Dalam pengambilan contoh inti, yang dimaksudkan dengan prosentase inti terambil (core recovery) adalah prosentase panjang contoh yang terambil dibandingkan dengan panjang tabung penginti yang masuk kedalam tanah/batuan yang ditembus. Prosentase inti terambil dapat digunakan sebagai petunjuk didalam mengevaluasi sifat fisis tanah/batuan yang dijumpai. Pada umumnya contoh inti yang hancur dan tidak dapat diangkat keatas permukaan tanah akan menunjukan batuan lunak, rapuh, lepas atau remuk. Sedangkan bagian inti utuh menunjukan lapisan tanah keras atau padat. Contoh-contoh inti dapat menunjukan susunan dan sifat berbagai lapisan, struktur dan tekstur dari batuan yang dijumpai. Cengan alat ini dapat digunakan metoda pengambil contoh inti menerus (continous coring).

Cara umum untuk menilai mutu batuan adalah dengan RQD (Rock Quality Designation). RQD bertujuan menggambarkan mutu batuan yaitu banyak retakan dan alterasi dari contoh inti tersebut.

(28)

II-16 Prosedurnya adalah dengan menjumlahkan panjang potongan-potongan inti yang berukuran lebih besar atau sama dengan 10c, selanjutnya panjang jumlah potongan-potongan ini dibandingkan terhadap panjang inti yang seharusnya didapat dan dinyatakan dalam persen (%). Hubungan antara RQD dengan mutu batuan adalah sebagai berikut : R.Q.D. (%) Mutu Batuan 0 - 25 sangat jelek 25 - 50 jelek 50 - 75 cukup 75 - 90 baik 90 - 100 sangat baik

 Pemboran Auger (Auger Drilling).

Cara pemboran ini baik dipergunakan bila yang dibutuhkan adalah pengambilan contoh tanah tidak asli dan akan lebih tepat untuk jenis tanah yang mempunyai sifat kohesi. Contoh tanah dapat diambil dari material yang melekat pada mata bor (auger) yang digunakan.

Keuntungan cara ini antara lain; pekerjaan pemboran cepat dan tidak menggunakan air pembilas. Dengan cara ini dapat pula dilakukan pengambilan contoh asli dan pemeriksaan setempat lainnya dengan dibantu alet-alat khusus (tabung contoh, tabung belah/split barrel dan sebagainya). Cara ini lebih banyak digunakan untuk mengetahui penyebaran lapis an tanah kearah lateral.

Beberapa faktor yang mempengaruhi keterbatasan penggunaan bor auger antara lain:

 kekerasan lapisan tanah yang ditembus. Kedalaman yang dicapai dengan bor

auger sangat tergantungkepada letak kedalaman lapisan tanah keras.

 lapisan tanah yang berbutir besar (mengandung ke rikil dan atau kerakal! sangat

sulit ditembus de ngan bor auger.

 untuk lokasi pemboran yang mempunyai permukaan air tanah tinggi dapat

menyebabkan tanah yang melekat pada mata mata bor mudah lepas dan contoh tanah sulit diambil.

 cara ini tidak cocok untuk pemboran yang dilakukan diatas ponton/rakit.

Bila menggunakan "hollow stem auger" pada lapisan pasir dibawah permukaan air tanah, perlu dipertahankan keseimbangan permukaan air tanah didalam lubang bor terhadap sekitarnya, agar pasir tidak masuk kedalam 'hollow stem". Bila ini terjadi maka untuk keperluan pemeriksaan penetrasi standar dasar lubang bor harus dibersihkan terlebih dahulu.

(29)

II-17  Pemboran Semprot (Wash Boring)

Istilah pemboran semprot (wash boring) menunjukkan dua prosedur pemboran yang berbeda. Pengertian pertama menunjukkan pemboran dimana sebuah pipa dimasukkan kedalam tanah dengan atau tanpa pipa lindung (casing), bersamaan dengan penyemprotan air pada ujung bawahnya.

Pelaksanaannya dilakukan dengan tangan. Contoh yang didapat hanyalah contoh cucian. Bila pemboran sudah cukup dalam, maka harus hati-hati dalam menentukan permukaan lapisan tanah yang ditembus, karena harus dipertimbangkan adanya waktu angkut contoh cucian (contoh cucian dari dasar lubang bor sampai kepermukaan memerlukan waktu yang lamanya bergantung pada kecepatan air pembilas). Cara ini merupakan cara yang tidak teliti, oleh karena itu harus hati-hati dalam menginterpretasikan hasilnya dan hanya boleh digunakan bila telah benar-benar dipertimbangkan maksud dan tujuan pemboran yang akan dilakukan.

Pengertian kedua adalah cara pemboran dimana kemajuan pemboran pada interval pengambilan contoh dilakukan dengan tenaga semprotan dan pemotongan oleh mata bor.

 Pemboran dengan mengambil contoh menerus (Continuous Sampling)

Pada metoda ini sama sekali tidak digunakan air pembilas, semua alat pengambil contoh hanya di tekan/ditumbuk/diputar secara kering untuk pengambilan contoh tanah yang menerus.

Alat pengambil contoh, tabung penginti, tabung contoh asli, split barrel dan sebagainya ditekan, di putar atau ditumbuk sampai kedalaman tertentu (biasanya tidak lebih dari 0,75 meter), kemudian diangkat dan isinya dikeluarkan. Alat tersebut dipasang pada mesin bor, sondir atau langsung ditumbuk.

Contoh-contoh yang diperoleh dapat digunakan untuk pemeriksaan lapangan ataupun laboratorium. Bila dikehendaki contoh tidak terganggu untuk pemeriksaan laboratorium, maka tabung contoh harus ditutup segera misalnya dengan parafin agar diperoleh contoh dalam keadaan yang seasli mungkin dengan kadar air yang relative tetap.

Cara ini merupakan cara yang sangat tepat dan teliti untuk mendapatkan keterangan mengenai tanah bawah permukaan digunakan pada penyelidikan oprit dan stabilitas lereng karena seluruh kedalaman lubang bor dapat diperiksa, tetnpi cara ini mahaldan lingkup penggunannya terbatas. Umumnya cara penekanan ini hanya berhasil untuk lapisan lempung dan lanau yang lembek sampai sedang.

(30)

II-18  Pemboran Tangan.

Metoda ini menggunakan macam-macam mata bor tanah seperti mata bor iwan jurret dan spiral. Lubang bor dibuat dengan jalan memutar rangkaian tangkai pemutar batang bor dan mata bor tanah dengan tangan dan dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan panjang mata bor yang digunakan. Tanah yang di-bor akan melekat didalam atau diluar mata bor yang digunakan.

Penggunaan ini sangat terbatas untuk lapisan tanah yang lembek sampai sangat kenyal dengan kedalaman yang dapat dicapai kurang lebih 10 meter atau 15 meter bila dibantu dengan penggunaan "tripod" (menara kaki tiga).

Untuk menembus tanah keras/batuan lunak dapat dibantu dengan penumbukan, yang menggunakan mata bor tumbuk seberat 25 sampai 40 kg. Untuk menembus lapisan tanah lepas dapat digunakan pipa lindung yang diameternya sesuai dengan mata bor tanah yang digunakan, sedangkan untuk mengangkat tanah yang berada didalam pipa lindung dapat digunakan bor peluru (sand bailer), bor katup atau pompa pasir (sand pump). Dengan pemboran ini dapat juga dilakukan pengambilan contoh tanah tidak terganggu dan pemeriksaan tanah setempat lainnya.

 Pemboran Tumbuk

Pemboran tumbuk ada 2 macam yaitu:

 Pemboran tumbuk dengan tangan  Pemboran tumbuk dengan mesin

Pemboran tumbuk dengan tangan dapat membantu pemboran tangan dalam menembus lapisan tanah keras/ batuan lunak dan membantu penyondiran dalam menembus lensa tanah keras/batuan lunak ataupun mengetahui ketebalan lapisan tanah keras dengan tekanan 150 kg/cm2.

Pemboran tumbuk dengan mesin jarang digunakan dalam penyelidikan tanah untuk pondasi jembatan, umumnya digunakan untuk pembuatan sumur bor air. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor antara lain kesulitan dalam mendapatkan contoh tidak terganggu sangat terganggunya lapisan tanah/batuan yang akan diperiksa setempat, tidak dapatnya diperoleh contoh inti dan sebagainya.

2.4.3 PENGAMBILAN CONTOH

Dalam penyelidikan geoteknik untuk perencanaan pondasi jembatan diperlukan contoh-contoh tanah/batuan guna identifikasi, klasifikasi, pemeriksaan lapangan atau laboratorium.

(31)

II-19 Contoh-contoh yang diambil harus benar-benar mewakili lapisan tanah/batuan yang dijumpai, karena contoh yang tidak mewakili dapat menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang salah.

Contoh tanah terdiri dari :

a. Contoh terganggu, adalah contoh yang diambil dengan tidak menjaga keutuhan struktur aslinya dari tanah/batuan tersebut. Contoh-contoh ini dipergunakan untuk pengamatan umum pemeriksaan visual, klasifikasi dan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium yang tidak mementingkan struktur asli dari tanah/batuan.

b. Contoh tidak terganggu, adalah contoh yang relatif tidak terganggu, baik struktur maupun kadar airnya. Contoh-contoh ini selain digunakan untuk pemeriksaan klasifikasi dapat juga dipergunakan untuk pemeriksaan-pemeriksaan antara lain kepadatan, kadar air, konsolidasi, triaxial, kuat tekan bebas dan kuat geser langsung. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengambilan contoh asli ialah tinggi muka air didalam pipa lindung harus sama atau lebih tinggi dari pada muka air tanah ditempat pemboran dilaksanakan. Ini dimaksudkan agar kadar air contoh yang didapat tidak dipengaruhi oleh air disekitar tempat pengambilan contoh, karena jika ketinggian muka air dalam pipa lindung turun dibawah muka air tanah, disekitarnya akan terjadi keadaan "quick" atau "running". Terjadinya kondisi "running" ini terutama disebabkan oleh prosedur pemboran dan dalam hal ini terjadi data yang diperoleh kurang dapat dipercaya.

Tingkat ketergantungan contoh tergantung kepada beberapa faktor antara lain jenis tanah yang diambil, alat pengambilan contoh serta perlengkapan yang digunakan dan keterampilan pelaksana lapangan. Pengaruh udara luar yang cukup lama sebagai akibat terbukanya contoh akan merubah contoh tidak terganggu menjadi contoh yang tidak mewakili, karena itu cara pengambilan dan pemeliharaan contoh yang mewakili tidak boleh dikesampingkan. Pengambilan contoh harus dikaitkan dengan pemeriksaan penetrasi standar, karena kedua-duanya dapat saling melengkapi, antara lain dapat dikorelasikannya hasil laboratorium dengan harga N dari penetrasi standar, terutama bila dipertimbangkan akan digunakan pondasi langsung atau pondasi tiang lekat.

Perlu diketahui bahwa pemeriksaan penetrasi standar lebih dapat dipercaya untuk lapisan pasir daripada untuk lapisan lempung, karena itu data yang digunakan untuk desain pondasi pada lapisan lempung dan lanau plastis lebih akurat dengan uji lapangan sondir atau vane shear dan dari hasil pemeriksaan laboratorium dari hasil pengambilan sample terhadap contoh-contoh tidak terganggu. Macam-macam pengambilan contoh akan digunakan dibawah ini.

(32)

II-20  Pengambilan Contoh dengan Tabung Contoh berdinding Tipis

Tabung contoh berdinding tipis (shelby tube) atau tabung tekan (push barrel) digunakan untuk me ngambil contoh tanah tidak terganggu guna pameriksaan laboratorium. Pengambilan contoh dilakukan dengan menekan tabung tersebut kedalam lapisan tanah pada kedalaman yang dikehendaki. Diameter contoh tidak terganggu yang dapat diambil dengan tabung ini berkisar an tara 50,80 mm - 127,00 mm. Pengambilan contoh dengan tabung ini lebih tepat untuk jenis tanah kohesif (lempung atau lanau) yang bersifat teguh (firm) sampai kenyal (stiff).

Untuk memperoleh prosentase contoh terambil yang lebih tinggi pada tanah lembek yang bersifat agak lepas (kepasiran, kelanauan) di kepala tabung dipasang bola (ball check valve), yang harus dapat bekerja dengan baik.

 Pengambilan Contoh dengan Tabung Bertorak (Piston Sampler)

Pengambilan contoh ini dilakukan dengan tabung berdinding tipis yang dilengkaoi dengan torak didalamnya yang bersifat stationer dalam kerjanya.

Bila alat ini dipergunakan untuk mengambil contoh pasir lepas maka yang perlu diperhatikan ialah terjadinya kompresi terhadap contoh.

Bila tabung contoh ditekan kedalarm lapisan pasir tadi sedalam lebih dari 5 kali tabung yang di pergunakan, maka akan terjadi pemadatan karena adanya geseran (friction) yang berlebihan antara contoh dengan permukaan dalam tabung contoh.

Untuk mendapatkan contoh pasir yang sangat lepas (N<5) alat ini telah dikembangkan oleh Matsubara (1977), berupa tabung bertorak yang dilengkapi.dengan tabung baja disebelah luarnya dan mempunyai tabung karet (rubber tube) pada ujung - bawahnya mencegah terjadinya kehilangan contoh. Dengan cara ini contoh terambil umumnya dapat menca pai 95%, walaupun ada kemungkinan dapat mencapai 100%. Hal ini tidak menjamin tidak terjadinya perubahan struktur atau kepadatan (density).

 Pengambilan Contoh dengan Tabung Belah (Split Barrel)

Tabung belah (split barrel atau split spoon) dengan diameter luar 5 cm dan diameter dalam 3,5 cm disamping digunakan untuk pemeriksaan penetrasi standar dapat pula digunakan untuk pengambilan contoh. Contoh-contoh yang didapat dari tabung belah ini bukan merupakan conntoh tidak terganggu, walaupun demikian sebagian struktur asli dari tanah yang diambil masih dapat dipertahankan, sehingga dapat digunakan untuk pemeriksaan visual dan klasifikasi. Sebagian contoh-contoh tersebut biasanya disimpan dalam tabung gelas/plastik untuk arsip dan sebagian lagi untuk pemeriksaan laboratorium (seperti kadar air, berat jenis, atterberg limit, analisa butir dan sebagainya). Khusus untuk pemeriksaan kadar air harus ditutup serapat mungkin, sehinaga tidak ada kehilangan air. Pengambil contoh tabung belah (split barrel sample) dapat diperoleh dalam beberapa ukuran. Ukuran yang paling umum digunakan adalah ukuran seperti tersebut diatas.

(33)

II-21  Pengambilan Contoh dengan Tabung Penginti Tunggal (Single Core Barrel)

Metoda ini dimaksudkan untuk memperoleh contoh klasifikasi visual dan membuat bor-log. Contoh inti yang didapat pada umumnya terganggu, akibat tekanan bor pada waktu pemotongan dan pemasukan inti kedalam tabung tersebut. Pengambilan contoh dengan menggunakan tabung Penginti tunggal akan menghasilkan inti yang baik hanya untuk batuan yang keras dan padat, disamping diperlukan kecermatan pembor.

Bila Pengambilan contoh dengan cara ini digunakan untuk semua jenis tanah (kecuali lempung yang sangat lembek dan pasir) maka akan dihasilkan contoh-contoh yang mempunyai komponen-komponen yang sama dengan aslinya.

 Pengambilan Contoh dengan Tabung Penginti Ganda (Double Core Barrel) Pada umumnya Pengambilan contoh dengan tabung penginti ganda (double core barrel) lebih luas penggunaannya dan akan memberikan hasil yang lebih baik dari pada menggunakan tabung penginti tunggal, karena dapat digunakan untuk mengambil contoh semua jenis tanah/batuan yang diperlukan untuk pemeriksaan laboratorium. Pengambil contoh ini terdiri atas tabung luar dan tabung dalam, dimana air/lumpur pembilas bersirkulasi (masuk lewat diantara kedua tabung).

Ada beberapa versi tabung penginti ganda ini yang desainnya bergantung kepada sifat material yang akan diambil contohnya. Untuk batuan tidak keras digunakan jenis pengambil contoh yang mempunyai lembaran logam tipis sebagai pelapis bagian dalam tabung dalam. Pelapis ini berguna untuk memudahkan pengambilan inti dan merupakan pelindung contoh inti asli sewaktu diangkut ke laboratorium. Untuk batuan keras pelapis logam tidak diperlukan karena batuan tersebut sudah cukup kuat tanpa dilindungi pelapis. Beberapa macam batuan misalnya batu gamping lunak dan serpih lunak harus dibungkus dalam kemasan yang kedap air, karena ke kuatannya akan berubah bila menjadi kering.

 Pengambilan Contoh dengan Tabung Penginti Rangkap Tiga (Tripple Core

Barrel)

Metoda pengambilan contoh jenis ini lebih teliti dan luas penggunaannya dari pada metoda pengambilan contoh dengan tabung penginti tunggal dan ganda, dimana "core recovery" yang didapat lebih tinggi dan dapat digunakan untuk semua jenis tanah/batuan. Jenis pengambil contoh ini terdiri dari tabung luar, tabung dalam dan tabung paling dalam.

Prinsip kerja air/lumpur pembilas dalam tipe ini sama dengan tabung penginti ganda, yaitu cairan pembilas masuk/lewat diantara tabung luar dan dalam. Contoh inti terletak pada tabung yang paling dalam dan tidak ikut berputar pada waktu pemboran. Keutuhan contoh pada tabung penginti rangkap tiga lebih terjamin dari pada tabung penginti ganda, karena contoh tidak terganggu oleh semprotan cairan pembilas pada

(34)

II-22 ujung mata bor. Jenis tabung penginti rangkap tiga ini ada yang dikombinasikan dengan tabung retraktor yang menarik inti kedalam (tripple tube retraktor core barrel). Tabung retraktor ini digunakan untuk mengambil contoh material yang bersifat lunak dan lepas.

 Pengambilan Contoh Bilasan (Wash Sampling)

Pengambilan contoh tanah dengan pembilasan adalah untuk mendapatkan contoh tanah tidak asli dari suatu lapisan tanah/batuan yang ikut terbawa air pembilas yang digunakan dalam pemboran.

Pengambilan contoh dengan cara ini tidak dianjurkan, kecuali bila sangat terpaksa, karena contoh yang terambil sangat terganggu walaupun demikian semua contoh bilasan harus dikumpulkan untuk seluruh kedalaman.

Penggambaran yang hanya berdasarkan pada contoh yang terbawa air pembilas sering menghasilkan kesimpulan yang keliru. Pengamatan contoh yang didapat dengan pembilasan hanya berguna untuk melihat perubahan macam lapisan tanah/batuan.

 Pengambilan Contoh Kubus

Metoda ini dilakukan untuk memperoleh contoh kubus dari tanah keras/batuan yang relatif dangkal dengan membuat sumur uji (trench). Umumnya ukuran kubus 20x20x20 cm3.

Metoda ini dapat dilakukan dengan mudah, bila lokasi pengambilan contoh kubus terletak diatas muka air tanah. Untuk lokasi dibawah muka air tanah, maka peralatan penggalian harus dilengkapi dengan pompa isap untuk mengeringkan dasar lubang galian. Contoh kubus digunakan untuk pemeriksaan lengkap dilaboratorium. Contoh diambil dengan cara ini relatif tidak terganggu.

 Perlindungan dan Pengangkutan Contoh

Contoh tanah atau batuan sebagai hasil penyelidikan dilapangan dikumpulkan kemudian diangkut ke laboratorium untuk pemeriksaan selanjutnya.

Harus diingat bahwa contoh-contoh tersebut mudah rusak, sehingga harus benar-benar diperhatikan cara/melindungi dan pengepakan didalam pengangkutan ke laboratorium. Perlu disadari bahwa pemakaian data dan hasil pemeriksaan contoh yang telah rusak seringkali lebih jelek dibandingkan dengan tidak ada contoh sama sekali.

(35)

Pelatihan Structure Engineer of Bridge Construction (STEBC) III-1

BAB III

KARAKTERISTIK DAN SIFAT-SIFAT TEKNIK

(PROPERTIES) TANAH

3.1 METODE PELAKSANAAN GALIAN STRUKTUR

3.1.1 CAKUPAN PEKERJAAN

Galian Struktur mencakup galian pada segala jenis tanah dalam batas pekerjaan yang disebut atau ditunjukkan dalam Gambar untuk Struktur. Setiap galian yang didefinisikan sebagai Galian Biasa atau Galian Batu tidak dapat dimasukkan dalam Galian Struktur. Galian Struktur terbatas untuk galian lantai pondasi jembatan, tembok beton penahan tanah, dan struktur pemikul beban lainnya selain yang disebut dalam Spesifikasi Teknis. Pekerjaan galian struktur mencakup :

 penimbunan kembali dengan bahan yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan;  pembuangan bahan galian yang tidak terpakai;

 semua keperluan drainase, pemompaan, penimbaan, penurapan, penyokong;  pembuatan tempat kerja atau cofferdam beserta pembongkarannya.

Kelandaian akhir, garis dan formasi sesudah galian tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm dari yang ditentukan dalam Gambar Rencana.

muka air sungai galian struktur

Gambar

Gambar 2.1: Hasil Sondir dan Bor
Tabel  4.3: Tegangan Leleh Karakteristik Baja Tulangan
Tabel  4.4: Ketentuan Bahan Elastomer

Referensi

Dokumen terkait