Studi Analisis Penerapan LessonStudy Dalam Peningkatan Efektivitas
Praktek Pembelajaran Pada Diklat Guru Mata Pelajaran IPS
MTs Tingkat Dasar
di Balai Diklat Keagamaan Surabaya
Oleh :
Drs. Rudi Hariyono, M.Pd, Widyaiswara BDK Surabaya
Abstrak
Studi Analisis Penerapan LessonStudy Dalam Peningkatan Efektivitas Praktek Pembelajaran Pada Diklat Guru Mata Pelajaran IPS MTs Tingkat Dasar di Balai Diklat Keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk Bagaimana cara penyajian materi yang dilakukan oleh widyaiswara dalam pembelajaran pada diklat guru mata pelajaran IPS MTs di balai diklat keagamaan Surabaya melalui lesson study. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Data berupa data kuantitatif berupa hasil pre test peserta diklat. Hasil yang didapat dari penelitian ini antara lain : prosentase ketercapaian kompetensi profesionalisme dilihat dari hasil pre test peserta diklat pada umumnya belum maksimal terutama untuk penilaian widyaiswara yang ke 1 yaitu pemahaman terhadap pembuatan satuan pelaksanaan pembelajaran (SAP) beserta silabusnya mendapatkan prosentase rata-rata 80%. Dari 6 kriteria penilaian peserta terhadap widyaiswara prosentasenya diatas 85%.Dari pengolahan dan analisis data disimpulkan bahwa Peningkatan Efektivitas Praktek Pembelajaran Pada Diklat Guru Mata Pelajaran IPS MTs Tingkat Dasar di Balai Diklat Keagamaan secara keseluruhan belum maksimal. Kesimpulan yang dapat diambil antara lain : perlu peningkatan kompetensi mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif untuk mewujudkan implementasi pengembangan Praktek Pembelajaran Pada Diklat Guru Mata Pelajaran IPS MTs Tingkat Dasar. Berdasarkan kesimpulan penelitian ini dapat direkomendasikan sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah rendahnya kompetensi widyaiswara yaitu dalam proses pembelajaran dalam diklat guru mata pelajaran IPS MTs hendaknya benar-benar melakukan persiapan dan memaksimalkan sehingga harapan dari hasil yang diharapkan peserta diklat dapat tercapai.
Kata Kunci : Penerapan Lesson Study, Efektifitas praktek pembelajaran, Diklat Guru Mata
Pelajaran IPS.
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Selama ini proses pembelajaran kurang mendapat perhatian dari orang tua dan pemerintah. Proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas tidak ada yang tahu kecuali guru itu sendiri. Kebanyakan pengawas dari penma belum berfungsi sebagai supervisor pembelajaran di kelas. Ketika datang di sekolah, pengawas memeriksa kelengkapan administrasi guru berupa dokumen RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Pengawas sangat jarang masuk kelas melakukan observasi terhadap pembelajaran dan menjadi nara
sumber pembelajaran bagi guru di sekolah. Begitu juga kepala sekolah. Kepala sekolah umumnya lebih mementingkan dokumen administrasi guru, seperti RPP dari pada masuk kelas melakukan observasi dan supervisi terhadap pembelajaran oleh seorang guru. Akibatnya guru tidak tertantang melakukan persiapan mengajar dengan baik, memikirkan metoda mengajar yang bervariasi, mempersiapkan bahan materi IPS di pembelajaran (www.google.com.id, tanggal 15 Maret 2010).
Umumnya pembelajaran dilakukan dalam bentuk satu arah. widyaiswara lebih banyak ceramah dihadapan peserta sementara aktivitas peserta lebih banyak mendengarkan. widyaiswara beranggapan tugasnya hanya mentransfer pengetahuan yang dimiliki dengan target tersampaikannya topik-topik yang tertulis dalam dokumen kurikulum diklat. Pelaksanaan diklat yang disajikan widyaiswara kurang menantang peserta untuk berpikir. Akibatnya peserta kurang tertarik menyenangi pemaparan materi.
Untuk mengatasi hal-hal tersebut widyaiswara perlu melakukan lesson study, sehingga widyaiswara dapat melakukan review terhadap kinerjanya yang selanjutnya dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki kinerjanya. Lesson Study muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif (Lewis, 2002).
Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher - centered) dari pada bagaimana siswa belajar (Student – centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk mengubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (Penolakan perubahan / inovasi). Dalam hal ini, Lesson Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.
Berkembangnya pengetahuan guru tentang materi ajar dan pembelajaran terjadi pada saat implementasi pembelajaran yakni melalui observasi. Respon siswa akan semakin dalam diketahui oleh guru sebagai observer, berbaga latar belakang pengetahuan dari observer juga akan menjadikan semakin variatifnya hasil observasinya. Secara singkat kegiatan lesson study dapat mendatangkan banyak manfaat meliputi meningkatnya pengetahuan guru tentang materi ajar dan pembelajarannya, aktivitas belajar siswa, menguatnya hubungan kolegalitas baik antar guru maupun dengan observer selain guru. Hal ini akan dapat meningkatkan motivasi guru. Dengan motivasi tinggi untuk selalu berkembang pada guru akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran (termasuk bahan ajar dan teaching material / hand on) dan strategi pembelajaran. Akhirnya menuju pada peningkatan yang profesional.
Atas dasar uraian diatas tulisan ini kami beri judul “Studi Analisis Penerapan
Lesson Study Dalam Peningkatan Efektivitas Praktek Pembelajaran Pada Diklat Guru
Mata Pelajaran IPS MTs Tingkat Dasar di Balai Diklat Keagamaan”.
2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas masalah-masalah yang dapat diidentifikasi adalah: Bagaimana cara penyajian materi yang dilakukan oleh widyaiswara dalam pembelajaran diklat guru IPS MTs pada pendalaman materi sejarah di balai diklat keagamaan
Surabaya melalui lesson study.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan pendahuluan tersebut di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana cara penyajian materi yang dilakukan oleh widyaiswara dalam pembelajaran diklat guru IPS MTs pada pendalaman materi sejarah di balai diklat keagamaan
Surabaya melalui lesson study?
4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan maka tujuan dari penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui cara penyajian yang dilakukan oleh widyaiswara dalam pembelajaran diklat guru IPS MTs pada pendalaman materi sejarah di balai diklat keagamaan Surabaya melalui lesson study
5. Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat dari penelitian ini terdiri dari:
a. Manfaat ilmiah, yaitu sebagai penemuan baru yang dapat menambah kekayaan khazanah intelektual bangsa Indonesia.
b. Manfaat profesi, yaitu sebagai bentuk pengembangan profesi yang salah satu lingkup kerjanya adalah melakukan penelitian yang terkait dengan kediklatan dan pada saat yang sama mengingkatkan kompetensi menulis KTI.
c. Manfaat instansi, yaitu sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan mata diklat dalam suatu jenis diklat.
d. Manfaat dokumentasi, yaitu sebagai rekaman keadaan yang terjadi pada saat penelitian yang dapat dijadikan dasar kajian di masa yang akan datang.
B.
KERANGKA TEORI, TEMUAN DAN PEMBAHASAN
a. Kerangka Teori
1. Pengertian Lesson StudyCarthein Lewis (2002) menyebutkan bahwa:
“Lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect
on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.
Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan
mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Dalam tulisanya yang
lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri–ciri esensial dari
Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa
sekolah di Jepang, yaitu:
1. Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson Study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembeljaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.
2. Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.
3. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.
4. Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekalipun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap dan bukan sebagai pengganti.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Lesson study adalah suatu
model pembinan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berladaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komonitas belajar. Dengan demikian, Lesson
study bukan metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan Lesson study dapat
menerapkan berbagai metoda/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru. Lesson study dapat dilakukan oleh sejumlah
guru dan pakar pembelajaran yang mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu perencanan (planning), impelementasi (action) pembelajaran dan observasi serta refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran
2. Manfaat Lesson Study
Lesson study dipilih dan diimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembeljaran di kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, lesson study akan menempatkan peran guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis, 2002). Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profeional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat (1) menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermnfaat bagi; (3) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru; (4) menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; (5) merencana pelajaran secara kolaboratif; (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; (7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan (8) melaksanakan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan kolaganya (Lewis, 2002).
Wang-Iverson dan Yoshida (2005) mengatakan bahwa lesson study memiliki beberapa manfaat sebagai berikut.
1) Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya)
2) Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritis pembelajarannya.
3) Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum.
4) Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa. 5) Menciptakan terjadinya pertukaran pegetahuan tentang pemahaman berpikir dan
belajar siswa.
6) Meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.
3. Pelaksanaan Lesson Study
Robinson (2006) mengusulkan ada delapan tahap berdasarkan pada banyaknya kegaitan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yakni:
Tahap 1 : Pemilihan topik lesson study
Tahap 2 : Melakukan review silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi ada dalam buku pelajaran. Selanjutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.
Tahap 3 : Setiap tim yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara kelompok lain
memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.
Tahap 4 : Guru yang ditunjuk oleh kelompok menggunakan masukan-masukan terebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.
Tahap 5 : Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan semua anggota kelompok lesson study untuk mendapatkan balikan. Tahap 6 : Guru yang ditunjuk tersebut memperbaiki kembali secara lebih detail rencana
pembelajaran dan mengirimkan pada semua guru anggota kelompok, agar mereka tahu bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan di kelas.
Tahap 7 : Para guru dapat mempelajari kembali tentang rencana pembelajaran tersebut dan mempertimbangkannya dari berbagai aspek pengalaman pembelajaran yang mereka miliki, khususnya difokuskan pada hal-hal yang penting seperti: hal-hal yang akan dilakukan guru, pemahaman siswa, proses pemecahan oleh murid, dan kemungkinan yang akan terjadi dalam implementasi pembelajarannya.
Tahap 8 : Guru yang ditunjuk tersebut melaksanakan rencana pembelajaran di kelas, sementara guru yang lain bersama dosen / pakar mengamati sesuai dengan tugas masing-masing untuk memberi masukan pada guru. Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan pembelajaran, jika mereka mengulang di kelas masing-masing atau untuk topik yang berbeda.
Dari delapan tahapan diatas tampak adanya upaya penyusunan dan perbaikan rencana pembelajaran yang berulang-ulang untuk memperoleh rencana pembelajaran yang baik. Dalam implementasi lesson study yang dilakukan oleh IMSTEP-JICA di Indonesia, Saito, dkk (2005) mengenalkan lesson study yang berorientasi pad praktik. Lesson study yang dilaksanakan tersebut terdiri atas 3 tahap pokok, yakni:
1. Merencanakan pebelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap plan.
2. Melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati. Kegiatan ini disebut tahap Do.
3. Melaksanakan refleksi melalui berbagai pendapat/tanggapan dan diskusi bersama pengamat/observer. Kegiatan ini disebut tahap See.
a) Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah yang ada di kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi masalah dalam rangka perencanaan pemecahan masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan dengan kelas dan jadwal pelajaran, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode / pendekatan pembelajaran, media, alat peraga dan evaluasi proses dan hasil belajar.
Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan (dalam kelompok lesson study) tentang pemilihan materi pembelajaran, pemilihan metode dan media yang sesuai dengan
karakteristik siswa, serta jenis evaluasi yang akan digunakan. Pada saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para guru dan pakar dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, pakar dapat mengemukakan hal-hal penting/baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh para guru, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran konstektual, pengembangan life skill, Realistic Mathematic Education, pemuktahiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.
Hal yang penting pula untuk didiskusikan adalah penyusunan lembar observasi, terutama penentuan aspek-aspek proses pembelajaran dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.
Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi perencanaan pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas:
i. Rencana Pembelajaran (RP)
ii. Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran (Teaching Guide) iii. Lembar Kerja Siswa (LKS)
iv. Media atau alkat peraga pembelajaran
v. Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran vi. Lembar okbservasi pembelajaran.
b) Implementasi dan Observasi
Pada tahap ini seorang guru yang telah ditunjuk (disepakati) oleh kelompokkan, melakukan implementasi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun tersebut, dikelas. Pakar dan guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para observer ini mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama dilhat dari segi tingkah laku siswa. Selain itu (jika memungkinkan), dilakukan rekaman video (audio visual) yang mengclose-up kejadian-kejadian khusus (pada guru dan siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna nantinya sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi atau pada seminar hasil lesson study, di samping itu dapat digunakan sebagai bahan diseminasi kepada khalayak yang lebih luas.
c) Refleksi
Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, guru yang tampil dan para observer serta pakar mengadakan dikusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh Kepala Sekolah, Koordinator kelompok, atau guru yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama guru yang melakukan implementasi rencana pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi.
Selanjutnya observer (guru lain dan pakar) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung
pebeljaran yang disertai dengan peutaran video hasil rekaman pembelajaran. Selanjutnya, guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan baik atas komentar para observer. Hal yang penting pula dalam tahap refleksi ini adalah mempertimbangkan kembali recana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran sela.
B. Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas merupakan derivasi dari kata efektif yang dalam bahasa Inggris
effective didefinisikan “producing a desired or intended result” (Concise Oxford Dictionary, 2001) atau “producing the result that is wanted of intended” dan
definisi sederhananya “coming into use” (Oxford Learner’s Pocket Dictionary, 2003:138). Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:584) mendefinisikan efektif dengan “ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya)” atau “dapat membawa hasil, berhasil guna (usaha, tindakan)” dan efektivitas diartikan “keadaan berpengaruh; hal berkesan” atau “keberhasilan (usaha, tindakan)”.
The Liang Gie dalam Ensiklopedia Administrasi (1989:108) mendefinisikan efektivitas sebagai berikut.
“Suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya efek atau akibat yang dikehendaki. Jika seorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki, maka orang itu dikatakan efektif kalau memang menimbulkan akibat dari yang dikehendakinya itu.”
Efektivitas merujuk pada kemampuan untuk memiliki tujuan yang tepat atau mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektifitas juga berhubungan dengan masalah bagaimana pencapaian tujuan atau hasil yang diperoleh, kegunaan atau manfaat dari hasil yang diperoleh, tingkat daya fungsi unsur atau komponen, serta masalah tingkat kepuasan penggunaan / client.
Dalam ranah kajian perilaku organisasi, Steers (1985) mengemukakan tiga pendekatan dalam memahami efektivitas. Pendekatan-pendekatan tersebut antara lain pendekatan tujuan (the goal optimazion approach), pendekatan sistem (sistem
theory approach), dan pendekatan kepuasan partisipasi (participant satisfaction model).
1. Pendekatan Tujuan. Suatu norganisasi berlangsung dalam upaya mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu, dalam pendekatan ini efektivitas dipandang sebagai goal attainment/goal optimazion atau pencapaian asaran dari upaya bersama. Derajat pencapaian sasaran menunjukkan derajat efekjtivitas. Suatu program dikatakan efektif jika tujuan akhir program tercapai. Dengan perkataan lain, pencapaian tujuan merupakan indikator utama dalam menilai efektivitas.
2. Pendekatan Sistem. Pendekatan ini memandang efektivitas sebagai kemampuan organisasi dalam mendayagunakan segenap potensi lingkungan serta memfungsikan semua unsur yang terlibat. Efektivitas
diukur dengan meninjau sejauh mana berfungsinya unsur-unsur dalam sistem untuk mencapai tujuan.
3. Pendekatan Kepuasan Partisipasi. Dalam pendekatan ini, individu partisipasn ditempatkan sebagai acuan utama dalam menilai efektivitas. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa keberadaan organisasi ditentukan oleh kualitas partisipasi kerja individu. Selain itu, motif individu dalam suatu organisasi merupakan faktor yang sangat menentukan kualitas partisipasi. Sehingga, kepuasan individu menjadi hal yang penting dalam mengukur efektivitas organisasi.
Dari tiga pendekatan dalam menilai efektivitas organisasi diatas, bisa ditarik kesimpulan berkenaan dengan efektivitas pembelajaran bahwa efektivitas suatu program pembelajaran berkenaan dengan masalah pencapaian tujuan pembelajaran, fungsi dari unsur-unsur pembelajaran, serta tingkat kepuasan dari individu-individu yang terlibat dalam pembelajaran.
3. Pendekatan Dan Model Penilaian Efektivitas
Untuk mengetahui efektivitas suatu program, perlu dilakukan penilaian terhadap manfaat atau daya guna program tersebut. Penilaian terhadap manfaat atau daya guna disebut juga dengan evaluasi (Stufflebeam, 1974, dalam Tayibnafis, 2000:3). Dulu, evaluasi hanya berfokus pada hasil yang dicapai. Jadi, untuk mengevaluasi objek pendidikan, seperti halnya pembelajaran, hanya berfokus pada hasil yang telah dicapai peserta. Akhir-akhir ini, usaha evaluasi ditujukan untuk memperluas atau memperbanyak variabel evaluasi dalam bermacam-macam model evaluasi.
Dalam menilai efektivitas program, Tayibnafis (2000:23-36) menjelaskan berbagai pendekatan evaluasi, yakni sebagai berikut:
1. Pendekatan eksperimental (experimental approach). Pendekatan ini berasal dari kontrol eksperimen yang biasanya dilakukan dalam penelitian akademik. Tujuannya untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum tentang dampak suatu program tertentu dengan mengontrol sebanyak-banyaknya faktor dan mengisolasi pengaruh program.
2. Pendekatan yang berorientasi pada tujuan (goal oriented approach). Pendekatan ini memakai tujuan program sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Pendekatan ini amat wajar dan praktis untuk desain pengembangan program. Pendekatan ini memberi petunjuk kepada pengembang program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dengan hasil yang akan dicapai.
3. Pendekatan yang berfokus pada keputusan (the decision focused approach). Pendekatan ini menekankan pada peranan informasi yang sistematik untuk pengelola program dalam menjalankan tugasnya. Sesuai dengan pandangan ini, informasi akan amat berguna apabila dapat membantu para pengelola program membuat keputusan. Oleh sebab itu, evaluasi harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan untuk keputusan program.
4. Pendekatan yang berorientasi pada pemakaian (the user oriented approach). Pendekatan ini memfokuskan pada masalah utilisasi evaluasi dengan penekanan pada perluasan pemakaian informasi. Tujuan utamanya adalah pemakaian informasi yang potensial. Evaluator dalam hal ini menyadari sejumah elemen yang cenderung akan mempengaruhi kegunaan evaluasi, seperti cara-cara pendekatan dengan klien, kepekaan, faktor kondisi, situasi seperti kondisi yang telah ada (pre – existising condition), keadaan organisasi dengan pengaruh masyarakat, serta situasi dimana evaluasi dilakukan dan dilaporkan. Dalam pendekatan ini, teknik analisis data, atau penjelasan tentang tujuan evaluasi memang penting, tetapi tidak sepenting usaha pemakai dan cara pemakai informasi.
5. Pendekatan yag responsif (the responsive approach). Pendekaran reponsif menekankan bahwa evaluasi yang berarti adalah evaluasi yang mencari pengertian suatu isu dari berbagai sudut pandang semua orang yang terlibat, berminat dan berkepentingan dengan program (stakehoolder program). Evaluator menghindari satu jawaban untuk suatu evaluasi program yang diperoleh dengan memakai tes, kuesioner, atau analisis, sebab setiap orang yang dipengaruhi oleh program merasakannya secara unik. Evaluator mencoba menjembatani pertanyaan yang berhubungan dengan melukiskan atau menguraikan kenyataan melalui pandangan orang-orang tersebut. Tujuan evaluasi adalah untuk memahami ihwal program melalui berbagai sudut pandang yang berbeda.
Evaluasi dilakukan dengan pendekatan kualitatif / naturalistik. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara, sedangkan instrumen tes atau kuesioner dilakukan sevagai data pendukung serta interprestasi data dilakukan secara impresionistik. Evaluator mengobservasi, merekam, menyeleksi, mengecek pengetahuan awal (preliminary understanding) peserta program, dan mencoba membuat model yang mencerminkan pandangan berbagai kelompok. Elemen penting dalam pendekatan ini adalah pengumpulan dan penyintesisan data dengan tidak menghindari pengukuran dan teknis analisis data. Dengan jalan ini, evaluator mencoba responsif terhadap orang –orang yang berkepentingan pada hail evaluai, bukan pada permintaan desain penelitian atau teknik pengukuran.
Selain melalui pendekatan-pendekatan diatas, efektivitas pembelajaran dapat ditinjau dengan menggunakan berbagai model evaluasi. Salah satu model yang populer adalah model CIPP (context, input, Process, Product) yang diajukan oleh Stufflebeam (1972:73) dalam tim MKDK Kurikulum dan Pembelajaran (2001:40). Model ini bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan program pendidikan dipegaruhi oleh berbagai faktor, antara lain sebagai berikut:
1. Karakteritik peserta didik dan lingkungan 2. Tujuan program dan peralatan yang dipakai, dan 3. Prosedur dan mekanisme pelaksanaan program.
Menurut model ini, terdapat empat dimensi yang perlu dievaluasi sebelum, selama, dan sesudah program pendidikan dikembangkan. Dimensi-dimensi tersebut antara lain:
1. Konteks (context), merupakan situasi atau latar belakang yang mempengaruhi tujuan dan strategi yang dikembangkan, misalnya: kebijakan departemen atau unit kerja yang bersangkutan, sasaran yang ingin dicpai oleh unit kerja yang
bersangkutan, sasaran yang ingin dicapai oleh unit kerj, dan masalah ketenagaan yang dihadapi unit kerja.
2. Masukan (input), mencakup bahan, peralatan, dan failitas yang disiapkan untuk keperlun program, misalnya: dokumen kurikulum dan bahan ajar yang dikembangkan, staf pengajar yang bertugas, sarana / prasarana yang tersedia, dan media pendidikan yang digunakan.
3. Proses (process), merupakan pelaksanaan nyata dari program pendidikan di kelas/lapangan yang meliputi: pelaksanaan proses pembelajaran, pelaksanaan evaluasi, dan pengelolaan program.
4. Hasil (product), yaitu keseluruhan hasil yang dicapai oleh program. Hasil utama yang diharapkan dari program prouktif adalah meningkatnya kompetensi siswa sesuai bidang keahliannya.
Kategori evaluasi reaksi dan belajar, lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan yang terakhir, yaitu perubahan perilaku yang tercapainya hasil yang optimal. Perubahan perilaku sukar untuk diidentifikasi, karena banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar program pelatihan. Akhirnya, dampak pelatihan terhadap hasil yang dicapai merupakan ukuran yang paling signifikan. Hal ini dapat dinilai dengan mengetahui tingkat kepuasan dunia usaha / industri sebagai user dari lulusan.
4. Konsep Pembelajaran yang Efektif
Pembelajaran dikatakan efektif apabila dalam proses pembelajaran setiap elemen berfungsi secara keseluruhan, peserta merasa senang, puas dengan hil pembelajaran, membawa kesan, sarana / fasilitas memadai, materi dan metode affordable, guru profesional. Tinjauan utama efektivitas pembelajaran adalah outputnya, yaitu kompetensi siswa.
Efektivitas dapat dicapai apabila semua unsur dan komponen yang terdapat pada sistem pembelajaran berfungsi sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Efektivitas pembelajaran dapat dicapai apabila rancangan pada persiapan, implementasi, dan evaluasi dapat dijalankan sesuai prosedur serta sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Efektivitas pembelajaran dapat diukur dengan mengadaptasi pegukuran efektivitas pelatihan yaitu melalui validasi dan evaluasi (Lesli Rae, 2001:3).
Untuk mengukur keberhasilan pembelajaran harus ditetapkan sejumlah fakta tertentu, antara lain dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Apakah pembelajaran mencpai tujuannya?
2. Apakah pembelajaran memenuhi kebutuhan siswa dan dunia usaha? 3. Apakah siswa memiliki keterampilan yang diperlukan didunia kerja?
4. Apakah keterampilan tersebut diperoleh siswa sebagai hasil dari pembelajaran? 5. Apakah pelajaran yang diperoleh diterapkan dalam situasi pekerjaan yang
sebenarnya?
6. Apakah pembelajaran menghasilkan lulusan yang mampu bekerja dengan efektif dan efisien? (diadaptasi dari Rae, 2001:5).
1) Rancangan Penelitian
Penelitian akan dilakukan di Balai Diklat Keagamaan Surabaya dengan subjek penelitian adalah guru yang menjadi peserta diklat guru Mata Pelajaran IPS MTs Tingkat Dasar tahun 2013. Penelitian dimulai dengan persiapan konsep, pengajuan proposal, pengambilan data, pengolahan data, pembuatan laporan. 2). Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data
Dalam penelitian ini data diperoleh dari hasil penilaian peserta diklat guru mata pelajaran IPS tingkat dasar tahun 2013. Adapun proses pengumpulan
datanya dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a). Perencanaan dalam kegiatan perencanaan ini meliputi menyusun proposal, menyusun soal sesuai dengan standar isi.
b) Pengumpulan data; dengan menganalisis hasil penilaian peserta yang merupakan evaluasi balikan dari 6 kriteria penilaian peserta terhadap widyaiswara.
c) Pengolahan data dimulai dengan melihat ketercapaian widyaiswara pada proses pembelajaran pendalaman materi sejarah diklat guru mata pelajaran IPS tingkat dasar tahun 2013.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, berupa dokumentasi yaitu Dokumentasi merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil, atau hukum -hukum lain yang berhubungan dengan masalah penelitian (Zuriah, 2003). Guba dan Lincoln (1981), mengatakan bahwa dokumen dan record dapat digunakan untuk keperluan penelitian karena : (1) Merupakan sumber yang stabil. (2) Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian. (3) Sifafnya alamiah sesuai dengan konteks. (4) Hasil pengkajian akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas pengetahuan yang diselidiki.
d) Analisis data
Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Dengan maksud bahwa penelitian ini dirancang untuk memperoleh informasi serta menggambarkan tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan seperti apa adanya. Dalam penelitian ini, analisis data yang akan diperoleh dari kuantitatif berupa hasil pretes
c. Temuan dan Pembahasan
1) Temuan
Hasil perbandingan cara penyajian guru dalam menerapkan lesson study disajikan pada tabel 4.1, 4.2 dan 4.3
Tabel 4.1 Hasil Ringkasan Analisis Data Observasi Cara Penyajian Materi Pada tahap Pendahuluan
Open Klas
Skor Klasikal yang Diperoleh
Skor Maksimum
Persentase Nilai dengan Huruf
Nilai dengan Angka
I 1 2 50 D 1
II 2 2 100 A 5
Pada Tabel 4.1 diketahui bahwa kegiatan widyaiswara dalam menerapkan lesson study tahap pendahuluan pada open klas II mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan siklus I.
Tabel 4.2 Hasil Ringkasan Analisis Data Observasi Kegiatan widyaiswara dalam menerapkan lesson study Tahap inti.
Siklus ke
Skor Klasikal yang Diperoleh
Skor Maksimum
Persentase Nilai dengan Huruf
Nilai dengan Angka
I 6 8 75 B 4
II 8 8 100 A 5
Pada tabel 4.2 diketahui bahwa cara penyajian materi dalam menerapkan lesson study tahap inti pada open klas II mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan open klas I.
Tabel 4.3 Hasil Ringkasan Analisis Data Observasi Kegiatan widyaiswara dalam Menerapkan Lesson Study Tahap Penutup.
Siklus ke
Skor Klasikal yang Diperoleh
Skor Maksimum
Persentase Nilai dengan Huruf
Nilai dengan Angka
I 2 2 100 A 5
II 2 2 100 A 5
Pada Tabel 4.3 diketahui bahwa cara penyajian materi widyaiswara dalam menerapkan lesson study tahap penutup pada open klas II tidak mengalami peningkatan dibandingkan open I. Namun kinerja widyaiswara sudah dinyatakan sangat baik.
Perbandingan Data Hasil Refleksi Pembelajaran kelas control (open klas I) dengan Kelas eksperimen (open klas II) Data hasil
Refleksi Pembelajaran di Kelas eksperimen (open klas I)
Widyaiswara : Drs. Rudi Hariyono, M.Pd Materi :Pendalaman Materi Sejarah
Moderator : Dwi Asih Suryani, S.Pd Notulen : Dra.Khuril Aini
1. Peserta diklat masih cenderung bekerja secara individual, belum berkomunikasi secara aktif dengan teman sekelompoknya hal ini terbukti masih ada peserta yang mengerjakan soal dengan menutupi bukunya agar tidak dicontoh oleh temannya.
2. Beberapa Peserta diklat dalam pembelajaran masih ada yang hanya bermain-main dengan bukunya, serta suka menganggu temannya yang aktif belajar.
3. Beberapa Peserta diklat masih ada yang belum mengerti dari pembelajaran yang disampaikan oleh Widyaiswara, ini dibuktikan Dari kelompok 4 masih kebingungan dengan materi pendalaman khususnya materi esensial.
4. Perhatian peserta diklat pada saat pembelajaran masih belum fokus, hal ini dibuktikan bahwa kelompok 3 pada waktu salah peserta dari kelompok lain persentasi di depan kelas tidak memperhatikan dan berbicara sendiri-sendiri.
5. Pembagian waktu dalam pembelajaran yang dilaksanakan widyaiswara masih kurang jelas, hal ini ditunjukkan bahwa kelompok 6 saat widyaiswara memberi tugas untuk menyimpulkan kurang memperhatikan, peserta masih sibuk untuk mengerjakan tugas yang belum terselesaikan.
6. Masih ada beberapa siswa yang kesulitan dengan mengisi lembar demonstrasi atau lembar kerja peserta diklat jawaban.
Dari data refleksi pada open klas I cara mengajar widyaiswara masih dirasa kurang baik. Hal ini terbukti masih ada beberapa peserta diklat yang belum mengerti tentang materi pendalaman sejarah. Motivasi peserta pada pembelajaran juga masih kurang. Hal ini terlihat pada perhatian peserta juga belum terfokus. Managemen waktu widyaiswara juga belum baik hal ini masih ada peserta yang belum mengumpulkan tugas padahal waktu sudah habis.
5. Temuan
Hasil Observasi Aktivitas Siswa Aspek melakukan pengamatan
Data hasil observasi aktivitas peserta terdapat pada Lampiran 2b dan 2c. Aktivitas peserta diklat saat melakukan demonstrasi diindikasikan dengan melihat jumlah peserta yang melakukan pengamatan sesuai materi, secara sungguh-sungguh dan tidak bergurau berjumlah, peserta yang melakukan pengamatan sesuai dengan materi tetapi sering bergurau anak dan yang tidak melakukan pengamatan. Persentase keberhasilan tindakan analisis datanya dapat diringkas dan ditampilkan yang dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil Ringkasan Analisis Data Aktivitas Siswa Aspek Melakukan Pengamatan Open Klas ke Skor Klasikal yang Diperoleh Skor Maksimum
Persentase Nilai dengan Huruf
Nilai dengan Angka
I 69 96 72 B 4
II 80 96 83 A 5
Aspek merekam data pengamatan
Data hasil observasi kegiatan peserta terdapat pada Lampiran 2b dan 2c. Prosentasi aspek merekam data pengamatan dalam pembelajaran dengan demonstrasi dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Hasil Ringkasan Analisis Data Aktivitas Peserta Diklat Aspek Merekam Data Pengamatan Open Klas Skor Klasikal yang Diperoleh Skor Maksimum
Persentase Nilai dengan Huruf
Nilai dengan Angka
I 78 96 81 B 4
II 88 96 91 A 5
Aspek mengumpulkan hasil pengamatan
Data hasil observasi kegiatan peserta terdapat pada lampiran 2b dan 2c. Prosentasi aspek merekam data pengamatan dalam pembelajaran dengan demonstrasi dapat dilihat pada tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil Ringkasan Analisis Data Aktivitas Peserta Diklat Aspek Mengumpulkan hasil Pengamatan
Siklus ke Skor Klasikal yang Diperoleh Skor Maksimum
Persentase Nilai dengan Huruf
Nilai dengan Angka
I 65 96 68 B 4
II 87 96 90 A 5
Aspek Penyelesaian Tugas
Dari hasil observasi kegiatan peserta diklat terdapat pada Lampiran 2b dan 2c. Prosentasi aspek merekam data pengamatan dalam pembelajaran dengan demonstrasi dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.7 Hasil Ringkasan Analisis Data Aktiviitas Siswa Aspek Penyelesaian Tugas Siklus ke Skor Klasikal yang Diperoleh Skor Maksimum
Persentase Nilai dengan Huruf Nilai dengan Angka I 67 96 69 C 3 II 90 96 93 A 5
Dari tabel hasil ringkasan analisis aktivitas peserta diklat mulai 4,4 dampai 4,7 dapat disimpulkan terjadi peningkatan aktivitas dari semua indicator kerja. Ini berarti peserta diklat telah termotivasi dengan baik. Berarti pula kepuasan peserta diklat terhadap pembelajaran juga baik.
Perbandingan Data Hasil Observasi Interaksi Peserta Dengan Peserta Pada Open Klas I dengan Open Klas II Data Hasil Observasi
Data hasil observasi Interaksi Peserta dengan Peserta pada Open Klas I Interaksi Peserta dengan Peserta pada open klas I
1. Kelompok 1 terutama peserta nomor absen 3 masih pasif
2. Kelompok 4 ditemukan masih kurang aktif karena terdapat satu siswa dengan nomor absen 12 masih pasif.
3. Kelompok 2 cenderung pasif tetapi ada salah satu peserta yang aktif dan memimpin kelompoknya yaitu siswa dengan nomor absen 14 sedangkan nomor absen 17, 29, dan 12 tidak aktif cenderung menunggu dari peserta nomor absen 14.
4. kelompok 5 terbagi menjadi 2 kelompok kecil karena ada 2 tugas materi, setiap 2 orang siswa mengerjakan 1 tugas materi, tidak terjadi diskusi pada kelompoknya secara utuh (nomor absen 26 berkelompok dengan nomor 24, nomor absen 1 berkelompok dengan nomor 21).
5. Kelompok 3 antar peserta masih belum bisa berkomunikasi dengan baik dan peserta bekerja sendiri-sendiri.
6. Kelompok 6 peserta masih bekerja secara individual bahkan ada peserta satu peserta nomor absen 21 mengerjakan soal dengan menutupi bukunya.
1. Kesimpulan
Berdasarkan temuan dan pembahasan bab II dapat disimpulkan bahwa :
Lesson Study dapat meningkatkan penyajian materi yang dilakukan oleh widyaiswara dalam pembelajaran diklat guru IPS MTs pada pendalaman materi sejarah di Balai Diklat Keagamaan Surabaya.
2. Rekomendasi
1. Diharapkan Pusdiklat memberikan pelatihan yang banyak tentang lesson study pada semua widyaiswara teknis demi semakin cepatnya sosialisasi lesson study ke seluruh guru di Kementerian Agama.
2. Pentingnya bagi Penma untuk mensosialisasikan pelaksanaan lesson study demi efektivitas pembelajaran di Madrasah.
3. Pentingnya bagi guru untuk segera melakukan lesson study di tingkat madrasah maupun di.
DAFTAR PUSTAKA
Iman, Muis Saad. (2004). Pendidikan Partisipatif. Yogyakarta: Safira Insania Press Isjoni.(2003, 4 November). SMK dan Permasalahannya. Artikel Pendidikan Network [online], halaman 1. Tersedia : http://re-searchengines.com/isjoni3.html.
[8 Desember 2007]
Iskandar, Suryana. (2006). Pembelajaran Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Jubaedah, Yoyoh (2005). Telaah Implementasi Pendekatan Competency Based Kartadinata, Sunaryo. (2007). Tingkatkan Kualitas SDM melalui Pendidikan
Kejuruan. Pikiran Rakyat (24 Oktober 2007)
Lewis, Catherine C. (2002). Lesson study: A Handbook of Teacher-Led
Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc
Marwansyah, & Mukaram. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Pusat Penerbit Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung.