Vol. 33 No. 1, Maret 2015 Penelitian Hasil Hutan Vol. 33 No. 1, Maret 2015
PENELITIAN HASILHUTAN
TERAKREDITASI
NO : 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012 KEMENTERIAN KEHUTANANBADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
BOGOR - INDONESIA (Ministry of Forestry)
Forestry Research and Development Agency (FORDA)
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN
ISSN 0216-4329
Vol. 33 No. 1, Maret 2015
Jurnal Penelitian Hasil Hutan adalah publikasi ilmiah bidang hasil hutan, keteknikan hutan dan bidang terkait lainnya, yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan P3KKPHH), Bogor. Jurnal ini telah dinilai oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan terakreditasi sebagai dengan Sertifikat No.: 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012.
(
Majalah Berkala Ilmiah
Journal of Forest Product Research is a scientific publication reporting research findings in the field of forest products, basic properties as well as processing, forest engineering and other related fields. The journal has been evaluated by the Indonesian National Science Institute (LIPI) and accredited as a
with Certificate number: 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012.
Scientific Periodical Magazine
NO : 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012
Diterbitkan oleh ( ):
Alamat ( ) : Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor 16610, Indonesia Telepon ( ) : (0251) 8633378, 8633413 Fax ( ) : (0251) 8633413 : [email protected], [email protected] : www.pustekolah.org (www.pustekolah.litbang.dephut.go.id) Published by Address Phone Faximile E-mail website
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (The Centre for Research and Development on Forest Engineering and Forest Products Processing)
Jurnal elektronik ( ) : http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPHH Percetakan ( ) : CV. Sinar Jaya, Bogor
E-journal Printing Company Penanggung jawab ( ) : Dewan Redaksi ( ): Sekretariat Redaksi ( ) : Editor in chief Editorial Board Editorial Secretariat
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan
Ketua ( ), merangkap anggota : Dr. Ir. Maman Mansyur Idris, M.S. (Keteknikan Hutan dan Pemanenan Hasil Hutan - P3KKPHH)
8. Dr. Krisdianto, S,Hut, M.Sc. 9. Ir. Totok K. Waluyo, M.Si. 10.
11. Dr. Ragil Widyorini, S.T, M.T. (Kimia Kayu - Fakultas Kehutanan UGM) 12. Dr. Lina Karlinasari, S.Hut, M.Sc. ( - Fakultas Kehutanan IPB)
Ketua ( ) : Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian Anggota ( ) : 1. Ayit T. Hidayat, S.Hut.T, M.Sc.
Chairman
Chairman Members
Anggota ( ) 1. Prof. (Ris) Ir. Dulsalam, M.M. (Keteknikan Hutan dan Pemanenan Hasil Hutan - P3KKPHH) 2. Dr. Ir. Han Roliadi, M.S, M.Sc. (Pengolahan Hasil Hutan - P3KKPHH)
3. Ir. Jamal Balfas, M.Sc. (Pengolahan Hasil Hutan - P3KKPHH)
4. Prof. (Ris) Dr. Gustan Pari, M.Si. (Pengolahan Hasil Hutan - P3KKPHH) 5. Prof. (Ris) Dr. Drs. Adi Santoso, M.Si. (Pengolahan Hasil Hutan - P3KKPHH) 6. Dra. Sri Rulliaty, M.Sc. (Anatomi Tumbuhan - P3KKPHH)
7. Dr. Drs. Djarwanto, M.Si. (Pengolahan Hasil Hutan - P3KKPHH) (Pengolahan Hasil Hutan - P3KKPHH) (Pengolahan Hasil Hutan - P3KKPHH)
Dr. Anne Hadiyane, S.Hut, M.Si. (Pengolahan Hasil Hutan Bukan Kayu (SITH - ITB) 1. Prof.Dr.Ir.YusufSudoHadi,M.Agr.(Bio-Komposit-FakultasKehutananIPB)
2. Prof. Dr. Buchari (Kimia Kayu/Kimia Analitik - Fakultas MIPA ITB)
3. Prof.Dr.Ir. Surdiding Ruhendi,M.Sc.(TeknologiPerekatKayu Fakultas Kehutanan IPB) 4. Prof. (Ris) Dr. Subyakto, M.Sc. (Pengolahan Hasil Hutan - Fakultas Kehutanan IPB) 5. Prof.Dr.Ir. Wasrin Syafii,M.Agr.(KimiaHasilHutan- Fakultas Kehutanan IPB) 6. Prof. Dr. Ir. Elias,M.Sc.(PemanfaatanSumberdayaHutan- Fakultas Kehutanan IPB) 7. Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, M.S. (Sifat dan Kualitas Kayu - Fakultas Kehutanan IPB) 8. Dr. Ir. Naresworo Nugroho, M.Sc. (Keteknikan Kayu - Fakultas Kehutanan IPB)
2. Drs. Juli Jajuli
3. Deden Nurhayadi, S.Hut. 4. Sophia Pujiastuti.
Members
-Keteknikan Kayu
Vol. 33 No. 1, Maret 2015
TERAKREDITASI
NO : 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
BOGOR - INDONESIA (Ministry of Forestry)
Forestry Research and Development Agency (FORDA)
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN
UCAPAN TERIMA KASIH
Dewan Redaksi Jurnal Penelitian Hasil Hutan mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada mitra bestari ( ) yang telah mencermati naskah yang dimuat pada
edisi Vol. 33 No. 1, Maret 2015 :
1. Prof. Dr. Ir. Wasrin Syafii, M.Agr. (Fakultas Kehutanan IPB (Kimia Hasil Hutan)) 2. Prof. Dr. Ir. Elias, M.Sc. (Fakultas Kehutanan IPB (Pemanfaatan Sumberdaya Hutan)) 3. Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS (Fakultas Kehutanan IPB (Sifat dan Kualitas Kayu)) 4. Prof. (Ris) Dr. Subyakto, M.Sc. (Puslit Biomaterial LIPI (Pengolahan Hasil Hutan)) 5. Prof. Dr. Ir. Surdiding Ruhendi, M.Sc. (Fakultas Kehutanan IPB (Teknologi Perekat Kayu))
Vol.
33
No. ,
1 Maret 15
20
DAFTAR ISI (
CONTENTS
)
1. SIFAT PAPAN PARTIKEL DAUR ULANG RENDAH EMISI FORMALDEHIDA
( )
Adi Santoso & Gustan Pari ... ...
2. ANALISIS HASIL PENGUJIAN KAYU DI LAUT DENGAN INTERPRETASI GAMBAR DIGITAL
( )
Krisdianto, Listya Mustika Dewi & Mohammad Muslich ... ... 3. ( ) .. .... 4. ( ) ... ...
5. REKAYASA DAN UJI COBA ALAT KABEL LAYANG E -2000 GENERASI-3 DALAM
PENGELUARAN KAYU PADA LERENG CURAM ( ) . ( ) . ( )
Properties of the Low Emission Formaldehyde Recycled Particlesboards
Digital Image Interpretation on The Marine Borer Attacked Wood Samples
TREE LENGTH LOGGING
Application of Tree Length Logging Methods by Oprational Scale Research in Intensive Silviculture System Area: Case study in PT Sarmiento Parakanca Timber East Kamimantan Province
Utilization of Peat Swamp Weed as Raw Material for Bio-briquettes
Engineering and Trial Test of Skyline Cable of Expo-2000 Generation-3 on Extracting Logs at The Steep Terrain
Refining Some Type of Illipe Nut's Fat and Its Physical-Chemical Properties
The Effects of Delignification Treatments on Cellulose Hydrolysis and Ethanol Production from Lignocellulosic Wastes
...
...
PENERAPAN METODE SKALA OPERASIONAL DI AREAL
TEKNIK SILVIKULTUR INTENSIF (STUDI KASUS DI PT SARMIENTO PARAKANCA TIMBER PROVINSI KALIMANTAN TIMUR)
Maman Mansyur Idris & Soenarno ... PEMANFAATAN GULMA LAHAN GAMBUT SEBAGAI BAHAN BAKU BIO-BRIKET Pranatasari Dyah Susanti, Reni Setyo Wahyuningtyas &Adnan Ardhana ...
XPO
Wesman Endom & Soenarno ... 6 PEMURNIAN BEBERAPA JENIS LEMAK TENGKAWANG DAN SIFAT FISIKO
KIMIANYA
Raden Esa Pangersa Gusti & Zulnely ... 7 PENGARUH PERLAKUAN DELIGNIFIKASI TERHADAP HIDROLISIS SELULOSA
DAN PRODUKSI ETANOL DARI LIMBAH BERLIGNOSELULOSA
Luciasih Agustini & Lisna Efiyanti ...
1 - 10 11 - 18 19 - 34 35 - 46 47 - 60 NO : 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012 61 - 68 69 - 80
ISSN 0216 - 4329
Kata kunci yang digunakan adalah istilah bebas. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin atau biaya
UDC (OSDC) 630*832.2
Santoso, A & G. Pari (Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor) Sifat Papan Partikel Daur Ulang Rendah Emisi Formaldehida J. Penelit. Has. Hut. Maret. 2015, Vol. 33 No. 1, hlm. 1 - 10
Tulisan ini mengkaji pengaruh penggunaan arang aktif dalam campuran perekat urea formaldehida terhadap emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis papan partikel daur ulang serta aspek ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian arang aktif mempengaruhi emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis papan partikel. Aplikasi arang aktif sebanyak 3% pada perekat urea formaldehida mampu mengurangi emisi formaldehida dan meningkatkan sifat fisis-mekanis papan partikel serta memenuhi persyaratan standar Indonesia dan Jepang, dan layak secara finansial.
Kata kunci: Papan partikel daur ulang, emisi formaldehida, arang aktif, urea formaldehida, aspek finansial
UDC (OSDC) 630*841
Krisdianto, Listya Mustika Dewi & Mohammad Muslich (Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor)
Penilaian Hasil Pengujian Kayu di Laut dengan Interpretasi Gambar Digital
J. Penelit. Has. Hut. Maret. 2015, Vol 33 No. 1, hlm. 11 - 18 Tulisan ini mempelajari ketahanan alami sembilan jenis kayu dari Sumatera, Jawa dan Kalimantan terhadap organisme penggerek laut dengan perangkat lunak Image-J setelah enam bulan pengujian. Hasil pengujian kayu di perairan terbuka menunjukkan kayu sempur lilin, kayu bambang lanang dan kayu bawang termasuk kelas ketahanan I (sangat tahan), sedangkan kayu cangcaratan, aveangkelalai termasuk kelas ketahanan II (tahan) terhadap penggerek kayu di laut. Kayu ki pasang dan segelam termasuk kelas ketahanan III (agak tahan) terhadap penggerek kayu di laut, sedangkan kayu ki bugang dan ki langir termasuk kelas ketahanan V (sangat tidak tahan) terhadap penggerek kayu di laut.
Kata kunci: Ketahanan alami, penggerek laut, gambar digital, sembilan jenis kayu, kelas ketahanan
Vol. 33 No. 1, Maret 2015
ABSTRAK
UDC (OSDC) 630*31
Maman Mansyur Idris & Soenarno (Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor)
Penerapan Metode Skala Operasional pada Areal Sistem Silvikultur Intensif : Studi Kasus di PT Sarmiento Parakanca Timber Provinsi Kalimantan Timur
J. Penelit. Has. Hut. Maret. 2015, Vol. 33 No. 1, hlm. 19 - 34
. Kata kunci: M
l
Tree Length Logging
Tulisan ini mempelajari kinerja penerapan metode dalam skala operasional. Penelitian dilaksanakan pada areal hutan yang dikelola dengan teknik SILIN di PT Sarmeinto Parakanca Timber (SARPATIM), Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja penerapan metode
skala operasional dinilai layak berdasarkan aspek produktivitas, biaya, efisiensi, dan kelestarian
etode pembalakan kayu sepanjang mungkin, produktivitas, biaya, faktor eksploitasi, kerusakan tegakan tingga
tree length logging
tree length logging
UDC (OSDC) 630*891:441
Pranatasari Dyah Susanti (Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Surakarta), Reni Setyo Wahyuningtyas & Adnan Ardhana (Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru) Pemanfaatan Gulma Lahan Gambut Sebagai Bahan Baku Bio-briket
J. Penelit. Has. Hut. Maret. 2015, Vol. 33 No. 1, hlm. 35 - 46 Tujuan penelitian ini mengetahui kualitas bio-briket dari 10 jenis gulma lahan gambut. Bio-briket dibuat dengan cara pengarangan dan dicampur dengan serbuk gergaji serta bahan perekat. Semua bahan dipres dan dioven pada suhu 60 C atau dijemur di bawah matahari. Hasil penelitian menunjukkan purun tikus merupakan bio-briket terbaik dengan nilai kalor 4.647,93 kal/g, karbon 25,63%, kadar air 5,48%, kadar abu 8,78%, dan sulfur 0,55%.
Kata kunci: Gulma, lahan gambut, bio-briket, kualitas, parameter yang diuji
J. Penelit. Has. Hut. Maret. 2015, Vol. 33 No. 1, hlm. 61 - 68 R. Esa Pangersa Gusti & Zulnely (Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor)
Pemurnian Beberapa Jenis Lemak Tengkawang dan Sifat Fisiko Kimianya
Penelitian ini bertujuan untuk menaganalisis sifat fisiko-kimia beberapa jenis lemak tengkawang yang telah dimurnikan. Hasil penelitian menunjukkan secara fisiko kimia lemak hasil penelitian memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dengan lemak tengkawang komersial. Dari semua lemak tengkawang yang diteliti asam oleat merupakan kandungan yang paling dominan. Kata kunci: pemurnian, lemak tengkawang, sifat fisiko kimia
,
.
UDC (OSDC) 630*813.13
Luciasih Agustini, & Lisna Efiyanti (Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Bogor) Pengaruh Perlakuan Delignifikasi Terhadap Hidrolisis Selulosa dan Produksi Etanol dari Limbah Berlignoselulosa J. Penelit. Has. Hut. Maret. 2015, Vol. 33 No. 1, hlm. 75 - 86
Delignifikasi merupakan salah satu perlakuan yang berpengaruh terhadap biokonversi biomasa berlignoselulosa menjadi etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan delignifikasi secara fisika, kimia dan biologi dari limbah kayu sengon dan pelepah daun kelapa sawit terhadap proses hidrolisis dan fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas delignifikasi dan hidrolisis dengan perlakuan kimiawi lebih optimal dibandingkan perlakuan lainnya.
Kata kunci: Biokonversi, bioetanol, delignifikasi, enzim, fermentasi, hidrolisis Wesman Endom & Soenarno (Pusat Penelitian dan
Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor)
Rekayasa dan Uji Coba Alat Sistem Kabel Layang Expo-2000 Generasi-3 untuk Pengeluaran Kayu pada Lereng Curam J. Penelit. Has. Hut. Maret. 2015, Vol. 33 No. 1, hlm. 47 - 60
Rekayasa dan uji coba alat pengeluaran kayu sistim kabel layang prototipe Expo-2000 Generasi-3 bertenaga 13 HP bertujuan untuk mengetahui kinerja pengeluaran kayu pada lereng curam. Hasil uji coba menunjukkan bahwa produktivitas kerja rata-rata adalah 1,72 m /jam dan biaya pemilikan alat dan biaya pengeluaran kayu sebesar Rp 138.587,39/jam atau Rp 80.346,45/m .
Kata kunci: Expo-2000 Generasi-3, kabel layang, pengeluaran kayu, topografi curam, produktivitas
3
Keywords given are free terms. Abstracts may be reproduced without permission or charge
Vol. 33 No. 1, March 2015
UDC (OSDC) 630*31
Maman Mansyur Idris & Soenarno (The Center for Research and Development on Forest Engineering and Forest Productb Processing,Bogor) Application of Tree Length Logging Methods by operational Scale Research in Intensive Silviculture System Area : Case study in PT Sarmiento Parakanca Timber East Kamimantan Province
J. of Forest Products Research. March. 2015, Vol. 33 No. 1, pp. 19 - 34
T
.
Keywords: T
e
his paper studies the working performance of tree length logging application in operational scale. The study was conducted in the forest area where SILIN technique has been applied in PT Sarmeinto Parakanca Timber (Sarpatim), East Kotawaringin Regency, Central Kalimantan. Results show that in general, the application of the tree length logging method is feasible in term of productivity, cost, efficiency, and sustainability
ree length logging method, productivity, costs, exploitation factor, residual stand damag
UDC (OSDC) 630*891:441
Pranatasari Dyah Susanti Forestry Technology Research Center for Watershed Management Surakarta Reni Setyo Wahyuningtyas & Adnan Ardhana (Forestry Research Institute Banjarbaru)
Utilization of Peat Swamp Weed as Raw Material of Bio-briquettes J. of Forest Products Research. March. 2015, Vol. 33 No. 1, pp. 35 - 46
.
Keywords:
(
, ),
The study was aimed to determine the bio-briquettes quality from 10 types of peat swamp weed. Bio-briquettes are made by carbonizing each weed type, and then mixed with sawdust and adhesive. All of the materials were pressed and put in the oven at 60°C or dried under the sun light. The results showed that purun tikus weed was the best weed with calorific value was 4647.93 cal/g, carbon 25.63 %, moisture content 5.48 %, ash content 8.78 %, and 0.55 % sulfur
Weeds, peat swamps, bio-briquettes, qualities, examined parameters
ISSN 0216 - 4329
UDC (OSDC) 630*832.2
Santoso, A & G. Pari (The Center for Research and Development on Forest Engineering and Forest Product Processing,Bogor)
Properties of the Low Emission Formaldehyde Recycled Particlesboards J. of Forest Products Research. March. 2015, Vol. 33 No. 1, pp. 1 - 10
This report describes the effect of imposing active charcoal into urea formaldehyde adhesive in terms of formaldehyde emission, physical-mechanical changes and economic aspect of the recycled particleboard. Results showed that the addition of active charcoal in particleboard production significantly changed the product properties. The charcoal addition as much as 3% to the UF adhesive could reduce formaldehyde emission and increase physical-mechanical properties of particleboard, and meet the Indonesian and Japanese Standards. The addition of active charcoal into particleboard is financially feasible.
Keywords: Recycled particleboard, formaldehyde emission, active charcoal, urea formaldehyde, financial aspect
UDC (OSDC) 630*841
Krisdianto, Listya Mustika Dewi & Mohammad Muslich (The Center for Research and Development on Forest Engineering and Forest Product Processing,Bogor)
Digital Image Interpretation on The Marine Borer Attacked Wood Samples J. of Forest Products Research. March. 2015, Vol. 33 No. 1, pp. 11 - 18
This paper studies natural durability of nine wood species from Sumatera, Java and Kalimantan against marine borer. Results show that sempur lilin, bambang lanang and kayu bawang are clasified into class durability I (very resistant), while cangcaratan and aveangkelalai are classified into durability class II (resistant). Ki pasang and segelam are grouped into class durability III, (moderately durable) while ki bugang and ki langir fall into class durability V (perishable).
Keywords: Natural durability, marine borer, digital image, nine wood species, class durability
Forestry Engineering and Forest Products Processing,Bogor)
Engineering and Trial Test of Skyline Cable of Expo-2000 Generation-3 for Extracting Logs in Steep Terrain
J. of Forest Products Research. March. 2015, Vol. 33 No. 1, pp. 47 - 60
The Engineering and trial testing on the skyline system tool of third Generation Expo-2000 powered by 13-HP engine aimed to assess its performance for extracting wood logs from the forest at steep terrain Results revealed that working productivity was 1.72 m of wood/hour,with the entire costs of tool ownership and wood extraction at Rp 138,587.39/hour or being equal to Rp 80,346.45/m .
Keywords: Expo-2000 Generation-3, skyline, log extraction, steep terrain, productivity
. 3
3
UDC (OSDC) 630*813.13
Luciasih Agustini, & Lisna Efiyanti (Research and Development Center for Conservation and Rehabilitation,Bogor) The Effects of Delignification Treatments on Cellulose Hydrolysis and Ethanol Production from Lignocellulosic Wastes
J. of Forest Products Research. March. 2015, Vol. 33 No. 1, pp. 75 - 86
Delignification is one of the crucial stages in converting lignocelluloses into ethanol. This paper investigates effects of three different delignification processes (physical-, chemical-, and biological- treatments) of lignocellulosic biomass (i.e sawdusts of sengon and oil-palm petioles) on cellulose hydrolysis and fermentation. Results show that in general, chemical delignification is more effective than physical and biological treatments.
Keywords: Bioconversion, bioethanol, delignification, enzymes, fermentation, hydrolysis
)
J. of Forest Products Research. March. 2015, Vol. 33 No. 1, pp. 61 - 68 Processing Research and Development Center, Bogor
Refining Several Type of Illipe Nut's Fat and It's Physical-Chemical Properties
This study aims to analyze physical-chemical properties several type of refined illipe's nut fat . The resulting neutralized fat was then examined for its physical-chemical properties which revealed that such properties were not so far different from those of commercial illipe nut's fat. All of the examined illipe nut's fat in this research showed that oleic acid is the dominant component.
ISSN: 0216-4329 Terakreditasi No.: 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012
SIFAT PAPAN PARTIKEL DAUR ULANG RENDAH EMISI
FORMALDEHIDA
(
Properties of the Low Emission Formaldehyde Recycled Particlesboards
)
Adi Santoso & Gustan Pari1 1
1Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan
Jl. Gunung Batu . 5, Bogor. 16610. Telp. (0251)-8633378, Fax. (0251)-8633413 e-mail: [email protected]
iterima 5 Maret 2013, Disetujui 4 Februari 2015 D
ABSTRACT
Formaldehyde emission and physical-mechanical properties of particleboard bonded with urea formaldehyde (UF) could have negative effects on human health, specially when used in a room with limited ventilation. To reduce formaldehyde emission, an adsorbent can be added into adhesive mixture. This report describes the effect of imposing active charcoal into urea formaldehyde adhesive in terms of formaldehyde emission, physical-mechanical changes and economic aspect of the recycled particleboard. Results showed that the addition of active charcoal in particleboard production significantly changed the product properties. The charcoal addition as much as 3% to the UF adhesive could reduce formaldehyde emission and improve physical-mechanical properties of particleboard, and meet the Indonesian and Japanese Standards. The addition of active charcoal into particleboard is financially feasible.
Keywords: Recycled particleboard, formaldehyde emission, active charcoal, urea formaldehyde, financial aspect ABSTRAK
Emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis dari papan partikel yang direkat dengan urea formaldehida (UF) dapat mengganggu kesehatan, terutama jika digunakan di dalam ruangan dengan ventilasi terbatas. Untuk mengurangi emisi formaldehida, dapat digunakan suatu adsorben ke dalam perekatnya. Dalam tulisan ini diuraikan pengaruh penggunaan arang aktif dalam campuran perekat urea formaldehida terhadap emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis papan partikel daur ulang serta aspek ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian arang aktif mempengaruhi emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis papan partikel. Aplikasi arang aktif sebanyak 3% pada perekat urea formaldehida mampu mengurangi emisi formaldehida dan meningkatkan sifat fisis-mekanis papan partikel serta memenuhi persyaratan standar Indonesia dan Jepang, dan layak secara finansial.
Kata kunci: Papan partikel daur ulang, emisi formaldehida, arang aktif, urea formaldehida, aspek finansial
Penelitian Hasil Hutan Vol. 33 No. 1, Maret 2015: 1-10
I. PENDAHULUAN
Papan partikel merupakan produk panel kayu yang dibuat dengan menggunakan perekat urea formaldehida, dan menghasilkan sisa potongan produk yang relatif banyak. Potongan sisa ini merupakan limbah pabrik yang digunakan untuk
bahan bakar boiler. Perekat yang digunakan pada papan partikel ini menimbulkan emisi formaldehida yang berbahaya bagi kesehatan, apalagi pembakaran pada boiler akan meningkat-kan emisi formaldehida yang berbahaya bagi operator dan lingkungan di sekitar pabrik. Limbah produk papan partikel mengandung
bahan kimia polimer organik yang berbahaya bagi kesehatan.
Hasil penelitian mengemukakan bahwa kandungan emisi formaldehida 0,1 ppm dapat menyebabkan gangguan kesehatan, dan pada konsentrasi tinggi dapat merusak fungsi paru serta
menyebabkan kanker (Liteplo ., 2002; Rong,
2002; Dynea, 2005; dan CPSC, 2007).
Dalam menanggulangi emisi gas formaldehida dari produk, salah satu upaya yang dilakukan antara lain dengan membuat produk panel kayu secara non kimiawi yaitu dengan pencampuran arang aktif pada bahan baku panel (Santoso dan Pari, 2011) selain menggunakan komposisi perekat tertentu dengan penambahan bahan kimia yang berfungsi sebagai bahan penangkap (Santoso dan Sutigno, 2004; Santoso ., 2005; Malik dan Santoso, 2006), yaitu dengan cara menurunkan perbandingan mol urea dengan formaldehida menjadi 1 : 1,1 atau menggunakan bahan kimia sebagai zat penangkapnya seperti urea, melamin, maupun campuran urea dengan melamin, serta garam-garam amonium seperti NH Cl dan NH OH.
Namun demikian upaya yang telah dilakukan seperti tersebut di atas masih menimbulkan kelemahan antara lain masih ada sifat-fisis mekanisnya yang menurun dan belum memenuhi persyaratan standar yang diinginkan, selain itu belum memecahkan masalah adanya limbah sisa potongan produksi papan partikel yang menurut hasil pantauan di lapangan dalam sehari bisa mencapai 6 ton (Santoso dan Pari, 2011).
Dalam tulisan ini dikemukakan teknologi reduksi emisi formaldehida produk panel kayu daur ulang yaitu dengan pencampuran arang aktif pada perekat urea formaldehida, dengan menggunakan bahan baku limbah partikel sisa produk. Logika penelitian adalah penangkapan formaldehida bebas dari perekat urea formaldehida oleh arang aktif sehingga berkurang, selanjutnya formaldehida yang masih teremisi oleh produk papan partikel daur ulang diukur konsentrasinya dengan metode spektroskopi ultra violet dan sifat fisis-mekanis papan dilakukan dengan cara gravimetri dan dekstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan teknologi untuk menurunkan tingkat emisi formaldehida tanpa mengurangi sifat fisis-mekanis papan partikel serta
et al
et al
4 4
meningkatkan produktivitas industri papan partikel dengan memanfaatkan limbah partikel sisa potongan produknya.
Untuk memperoleh teknologi produksi arang, dan arang aktif dari limbah kayu diameter kecil (Ø < 10 cm), dilakukan kegiatan lapangan yang terdiri atas pengumpulan partikel kayu untuk bahan baku papan partikel dan pembuatan arang. Pembuatan arang aktif dari kayu dilakukan
dengan menggunakan metode “ ”.
Modifikasi pembuatan arang aktif dilakukan dengan perendaman arang dalam asam fosfat teknis pada konsentrasi rendah (0,5 M) selama 24 jam, ditiriskan dan selanjutnya dimasukkan ke
dalam dan dipanaskan pada suhu 700 -800 C.
Apabila suhu telah dicapai, dialirkan uap air panas
dari selama 120 menit dan 150 menit.
Setelah proses aktivasi selesai, arang aktif yang dihasilkan dikeluarkan dari dalam .
Panel daur ulang berupa papan partikel yang dibuat berukuran 35 cm x 35 cm x 1 cm dengan target kerapatan 0,7 g/cm , banyaknya perekat yang digunakan kurang lebih 12% dari berat partikel. Bahan baku berupa limbah sisa potongan papan partikel kayu dikeringkan (kadar air < 10%) dicampur dengan perekat urea formaldehida yang mengandung arang aktif dengan komposisi yang bervariasi (kadar arang aktif: 0, 1, 2 dan 3 %). Ramuan perekat dicampur secara merata lalu
dihamparkan di atas plat , dan dikempa
dalam alat pencetak pada suhu kamar selama beberapa menit. Lembaran papan partikel yang terbentuk selanjutnya dikempa pada suhu 110 C dengan tekanan 12 kg/cm selama 10 menit. Setiap perlakuan dibuat dalam 5 x ulangan. Papan partikel daur ulang yang dihasilkan selanjutnya dikondisikan pada suhu kamar selama seminggu sebelum dilakukan pengujian.
Tiap lembar papan partikel dipotong untuk pengujian sifat fisis-mekanis dan emisi formaldehidanya mengacu kepada BSN (2006) dan JSA (2003).
II. BAHAN DAN METODE A. Penyiapan Arang Aktif
B. Pembuatan Papan Partikel dan Contoh Uji drum kiln retort steam boiler retort stainless steel 0 0 3 o 2
Sifat Papan Partikel Daur Ulang Rendah Emisi Formaldehida (Adi Santoso & Gustan Pari). C. Rancangan Penelitian dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan faktor tunggal, di mana faktornya berupa kadar arang aktif dalam ramuan perekat urea formaldehida sebanyak (0, 1, 2 dan 3) %.
Pengujian sifat fisis-mekanis yang terdiri atas kadar air, kerapatan, keteguhan rekat internal, kuat pegang sekrup, keteguhan lentur (MOE), keteguhan patah (MOR), dan pengembangan tebal serta emisi formaldehida mengacu kepada BSN (2006) dan JSA (2003), serta konduktivitas dan daya serap papan partikel daur ulang terhadap beberapa jenis bahan kimia berbahaya seperti kloroform, aseton, benzena, hexana, premium, minyak tanah, etanol, asam asetat, HCl dan amoniak, dilakukan di Laboratorium Kimia dan Energi, dan Laboratorium produk majemuk Pusat
Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustek olah), Bogor. Selain itu dilakukan analisis kelayak an ekonomi dari pendirian industri papan partikel daur ulang dengan ramuan perekat UF yang me ngandung arang aktif ini, menggunakan per hitungan sederhana yang terdiri atas analisis
(BEP) dan kelayakan usaha dengan
indikator investasi, yaitu (NPV),
(BCR) dan (IRR) (Effendi, 2001).
Ikhtisar hasil pengukuran emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis dari papan partikel tercantum pada Tabel 1.
-III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Break Event Point
Net Present Value
Benefit Cost Ratio Internal Rate of Return
A. Kadar Air dan Kerapatan
Kadar air papan partikel ditetapkan dengan metode oven. Nilai rataan penetapan kadar air papan partikel (Tabel 1) berkisar antara 7,68 -7,88 %. Secara keseluruhan papan partikel daur
ulang ini memenuhi persyaratan standar Jepang dan Indonesia, karena nilainya kurang dari 14 % (BSN, 2006; JSA, 2003). Menurut hasil sidik ragam, pencampuran arang aktif ke dalam perekat UF berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air papan partikel daur ulang dibanding tanpa arang Kadar arang aktif, (Actived charcoa contentl), % Parameter (Parameter) KA (Water content), % Kerapatan (Density), g/cm3 IB (kg/cm2) (kg/cmMOR2) (kg/cmMOE2) Pengembangan Tebal (Thickness swelling) % Kuat pegang Sekrup (Screw holding),, Kg Emisi formalda (Formaldehyde emission),mg/L 0 7,88a 0,85a 1,36d 157,95 19.205 24,71c 35,0d 4,87a 1 7,73b 0,85a 1,53c 160,66 22.741 26,81b 48,4c 4,62b 2 7,68b 0,85a 1,74b 184,43 25.297 28,10a 55,0b 3,80c 3 7,73b 0,84a 1,92a 171,59 27.246 22,40d 107,4a 3,25d SNI (2006) ≤14 0,40 - 0,90 Tipe 8: 1,5 Tipe 13: 2 Tipe 18: 3,1 Tipe 8: 82 Tipe 13: 133 Tipe 18: 184 Tipe 8: 20400 Tipe 13: 25500 Tipe 18: 30600 Tipe 8: -Tipe 24-10 & 17,5-10.5 (t ≤12,7 mm): 25 Tipe 24-10 dan 17,5-10.5 (t >12,7 mm): 20 Tipe 8: 31 Tipe 13: 41 Tipe 18: 51 Tipe F****: 0,5 Tipe F***: 1,5 Tipe F**: 5
Tabel 1. Emisi formaldehida dan sifat fisis-mekanis dari papan partikel*)
Table 1. Formaldehyde emission and physical-mechanical properties of particleboard*)
Keterangan : Rata-rata dari 5x ulangan , MOE = , MOR =
, IB = Keteguhan rekat internal , KA = Kadar Air Huruf yang sama di belakang angka menyatakan tidak berbeda
(Remarks) (Average of 5 repetition) Modulus of Elasticity Modulus of
Rupture (Internal Bond) (Moisture content),
(Same letter after number indicated that the values are not significantly different).
*) d c b a c c a b
aktif. Kadar air produk yang menggunakan arang aktif sebanyak 1-3 % satu sama lain tidak berbeda nyata.
Kerapatan papan partikel rata-rata berkisar antara 0,84-0,85 g/cm (Tabel 1). Secara keseluruhan papan partikel yang dibuat ini tergolong papan partikel berkerapatan sedang karena nilainya antara 0,4-0,9 g/cm (BSN, 2000; 2006, JSA, 2003). Secara statistik produk yang dibuat memiliki kerapatan yang seragam.
Keteguhan rekat internal atau dikenal juga dengan keteguhan tarik tegak lurus permukaan papan partikel, dimaksudkan untuk mengetahui kualitas perekat yang digunakan dalam mengikat adheren. Nilai rata-rata nilai keteguhan rekat internal papan partikel daur ulang berkisar antara 1,36-1,92 kg/cm (Tabel 1), hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya di mana papan partikel dibuat dengan perekat UF yang dicampur dengan arang aktif yang memiliki nilai keteguhan rekat internal papan partikel 1,84-3,07 kg/cm (Santoso dan Pari, 2011). Namun demikian, keteguhan rekat internal papan partikel dalam penelitian ini seluruhnya memenuhi persyaratan standar Jepang maupun Indonesia, karena nilainya > 1,5 kg/cm (BSN, 2006; JSA, 2003).
Menurut hasil sidik ragam, penggunaan arang aktif berpengaruh sangat nyata terhadap keteguhan rekat internal papan partikel daur ulang. Berdasarkan hasil uji beda, perlakuan terbaik dicapai pada papan yang menggunakan campuran UF dengan arang aktif sebanyak 3% dengan nilai keteguhan rekat internal 1,92 kg/cm , sementara penelitian pada terdahulu menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dicapai pada papan partikel yang menggunakan campuran perekat UF dengan arang aktif sebanyak 0,5-1,5 %, dengan nilai keteguhan rekat internal 3,0-3,07 kg/cm (Santoso dan Pari, 2011). Rendahnya keteguhan rekat internal produk ini kemungkinan disebabkan keberadaan arang aktif yang bersifat kurang polar dibanding partikel kayu dan perekat UF mengakibatkan berkurangnya ikatan antara perekat dengan partikel kayu, selain itu, partikel limbah yang digunakan masih terselimuti oleh perekat UF yang mengeras sehingga ikatan
3 3 2 2 2 2 2 B. K e t e g u h a n R e k a t I n t e r n a l d a n Pengembangan Tebal
antara ramuan perekat dengan partikel tidak maksimal.
Pengujian pengembangan tebal papan partikel setelah direndam dalam air dingin selama 24 jam dalam air dingin pada suhu kamar dimaksudkan untuk memenuhi kualitas perekat yang digunakan dan ketahanan produk tersebut terhadap kelembaban lingkungan. Nilai rata-rata pengembangan papan partikel daur ulang ini berkisar 22,40-28,10 % (Tabel 1), hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya di mana papan partikel dibuat dengan perekat UF yang dicampur dengan arang aktif memiliki nilai pengembangan tebal 27,96-48,20 % (Santoso dan Pari, 2011). Di dalam standar Indonesia (BSN, 2006), untuk papan partikel tipe 8 (atau tipe U menurut standar Jepang), yakni yang menggunakan perekat UF, pengembangan tebal papan partikel tidak dipersyaratkan, akan tetapi dalam BSN (2006) disyaratkan bahwa untuk papan partikel yang memiliki ketebalan ≤12,7 mm, pengembangan tebalnya maksimal 25 %. Dengan demikian produk daur ulang yang memenuhi syarat adalah yang menggunakan kadar arang aktif sebanyak 3% dalam perekat UF cairnya.
Menurut hasil sidik ragam, pemakaian arang aktif dalam perekat UF berpengaruh sangat nyata terhadap pengembangan tebal papan partikel daur ulang. Berdasarkan hasil uji beda, pengembangan tebal terbaik dicapai pada papan partikel daur ulang yang menggunakan campuran arang aktif sebanyak 3% dalam perekat UF cairnya.
Keteguhan patah ( )
merupakan nilai yang menunjukkan beban maksimum yang dapat ditahan oleh suatu beban persatuan luas sampai bahan tersebut patah (Haygreen dan Bowyer, 1993). Nilai rataan keteguhan patah papan partikel daur ulang ini berkisar 157,95-171,59 kg/cm (Tabel 1). Nilai keteguhan patah papan partikel dalam penelitian ini seluruhnya memenuhi persyaratan standar Jepang (JSA, 2003) dan Indonesia (BSN, 2006) karena > 82 kg/cm (tipe 8), dan > 133 kg/cm (tipe 13). Kualitas keteguhan patah papan partikel ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian tahap 1 yang rata-rata mencapai 84,51-79,67 kg/cm (Santoso dan Pari, 2011). C. Keteguhan Patah dan Lentur
Modulus of rupture, MOR
2
2 2
Menurut hasil sidik ragam, pemakaian arang aktif dalam perekat UF berpengaruh sangat nyata terhadap keteguhan patah papan partikel daur ulang. Berdasarkan hasil uji beda, keteguhan patah terbaik dicapai pada papan yang menggunakan campuran arang aktif sebanyak 3% dengan nilai keteguhan patah sebesar 171,59 kg/cm , sementara pada penelitian terdahulu yang terbaik adalah papan partikel yang menggunakan campuran perekat UF dengan arang aktif sebanyak 1,5% dengan nilai keteguhan patah 179,67 kg/cm .
Keteguhan lentur ( / )
merupakan ukuran kemampuan suatu bahan atau material untuk mempertahankan perubahan bentuk akibat beban yang mengenainya. Nilai rataan keteguhan lentur papan partikel daur ulang ini berkisar antara 19.205-27.246 kg/cm (Tabel 3). Papan yang menggunakan limbah partikel dengan campuran arang aktif 1-3 % dalam perekat UF seluruhnya memenuhi persyaratan standar Jepang dan Indonesia, karena nilai MOE-nya > 20.400 kg/cm (BSN, 2000; JSA, 2003) dan > 20.400 kg/cm (BSN, 2006). Dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya dengan MOE: 155,8-2.731 kg/cm (Santoso dan Pari, 2011), keteguhan lentur papan partikel daur ulang ini jauh lebih tinggi. Keberadaan arang aktif dalam perekat UF dan adanya lapisan perekat UF pada limbah partikel bahan baku mampu meningkatkan keteguhan lentur papan partikel daur ulang tipe 8 ini manjadi setara dengan tipe 13 (BSN, 2006).
Menurut hasil sidik ragam, peramuan arang aktif dalam perekat UF sangat berpengaruh nyata terhadap keteguhan lentur papan partikel daur ulang. Berdasarkan hasil uji beda, keteguhan lentur tebaik dicapai pada papan yang menggunakan campuran UF dengan arang aktif 3%, dengan nilai keteguhan lentur 27.246 kg/cm . Uji kuat pegang sekrup (BSN, 2006) menggambarkan kemampuan papan partikel untuk menahan sekrup dengan ukuran tertentu. Parameter ini berlaku bagi papan partikel yang memiliki ketebalan minimal 1,5 cm. Rata-rata kuat pegang sekrup papan partikel daur ulang ini 35,0-107,4 kg (Tabel 1). Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian tahap 1 yang
2 2 2 2 2 2 2
Modulus of elasticity MOE
D. Kuat Pegang Sekrup
rata-rata mencapai 51,14-80,87 kg (Santoso dan Pari, 2011). Tingginya nilai ikatan antara ramuan perekat yang mengandung arang aktif dengan limbah partikel disebabkan masih adanya lapisan perekat dalam partikel. Pemakaian ramuan perekat yang mengandung arang aktif mampu meningkatkan kualitas kuat pegang sekrup papan partikel dari tipe 8 sampai ke tipe 18 menurut persyaratan standar Jepang (JSA, 2003) dan Indonesia (BSN, 2006).
Menurut hasil sidik ragam, pemakaian arang aktif dalam perekat UF berpengaruh sangat nyata terhadap kuat pegang sekrup papan partikel daur ulang. Berdasarkan hasil uji beda, kuat pegang sekrup terbaik dicapai pada papan partikel yang menggunakan campuran arang aktif sebanyak 3 % dengan nilai kuat pegang sekrup sebesar 107,4 kg. Sementara pada penelitian tahap 1, nilai kuat pegang sekrup terbaik dicapai pada papan partikel yang menggunakan campuran perekat dengan arang aktif sebanyak 2% dengan nilai kuat pegang sekrup 80,87 kg (Santoso dan Pari, 2011).
Salah satu sifat yang kurang disukai dari perekat yang mengandung formaldehida adalah emisi formaldehida dari produk perekatannya, karena dalam jumlah tertentu dapat mengganggu kesehatan (Roffael ., 1993). Berkenaan dengan hal tersebut, maka emisi formaldehida dari papan partikel perlu diuji, guna mengetahui tingkat keamanannya. Nilai rataan emisi formaldehida papan partikel daur ulang ini berkisar antara 3,25-4,87 mg/L (Tabel 1). Sebagian besar papan partikel yang diteliti memiliki emisi formaldehida kategori E2 menurut standar Jepang (maks. 5 mg/L, JSA, 2003) atau tipe F** (BSN, 2006). Pencampuran arang aktif ke dalam perekat UF sebanyak 3% mampu menurunkan emisi formaldehida papan partikel sampai 33%.
Menurut hasil sidik ragam, peramuan arang aktif ke dalam perekat UF berpengaruh sangat nyata terhadap emisi formaldehida papan partikel daur ulang. Berdasarkan hasil uji beda, emisi formaldehida terbaik dicapai pada papan partikel daur ulang yang menggunakan campuran arang aktif ke dalam perekat UF sebanyak 3% dengan nilai emisi formaldehida 3,25 mg/L. Sementara pada penelitian sebelumnya, emisi formaldehida terbaik dicapai pada papan partikel yang E. Emisi Formaldehida
et al
Sifat Papan Partikel Daur Ulang Rendah Emisi Formaldehida (Adi Santoso & Gustan Pari).
menggunakan campuran perekat UF dengan arang aktif sebanyak 2%, dengan nilai emisi formaldehida 0,39 mg/L (Santoso dan Pari, 2011), sehingga tergolong papan partikel dengan katagori E (maks. 0,5 mg/L, JSA 2003). Rendahnya kemampuan reduksi ramuan perekat UF dengan arang aktif ini dikarenakan partikel
0
limbah yang digunakan sebagai bahan baku masih diselimuti oleh perekat UF.
Berdasarkan pada uraian di atas secara garis besar perbandingan karakteristik papan partikel terbaik hasil penelitian pada tahun 2010 (Santoso dan Pari, 2011) dengan hasil penelitian ini dapat dikemukakan seperti pada Tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2. Perbandingan karateristik papan partikel rendah emisi*)
Table 2. Comparison of the low emission particleboard characteristic*)
Keterangan (Remarks): (Average of 5 repetition) (Does not meet the Standard) (Source)
*)
Rata-rata dari 5x ulangan , Tidak memenuhi syarat Sumber : *** Santoso dan Pari (2010)
**)
Dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu (Santoso dan Pari, 2011), teknologi pembuatan papan partikel daur ulang rendah emisi ini lebih baik karena walaupun produknya masih tergolong E , namun produk daur ulang ini memiliki keunggulan dalam hal sifat mekanisnya yang selain memenuhi persyaratan, juga meningkatnya kelas produk, yaitu dari tipe 8 menjadi setara dengan tipe 13 bahkan tipe 18. Sementara papan partikel produk penelitian pada sebelumnya yang menggunakan bahan baku partikel karet meskipun tergolong E - E , tetapi keteguhan lenturnya tidak memenuhi persyaratan.
Daya serap papan partikel daur ulang tanpa arang aktif dalam perekat UF (kontrol) terhadap gas/uap dari pelarut organik secara statistik
2
0 2
F. Daya Serap Papan Partikel Daur Ulang terhadap Gas dari Bahan Kimia Berbahaya
sangat berbeda nyata dibanding dengan produk yang sama yang menggunakan ramuan perekat UF dan arang aktif (Tabel 3), peningkatan daya serap produk daur ulang tersebut secara signifikan terhadap uap/gas kloroform (44,26%), etanol (48,53%), aseton (18,58%), benzena (65,97%), dan heksana (48,81%), sementara peningkatan daya serap terhadap gas/uap bahan bakar minyak (BBM) rata-rata 23,36% (premium) dan 75,56% (minyak tanah).
Hasil penelitian ini juga menunjukkan peningkatan daya serap produk daur ulang terhadap asam lemah (asam asetat: 23%), asam kuat (HCl: 25,82%), dan basa lemah (NH OH: 54,30%), sementara terhadap basa kuat (NaOH) hanya 8,55%.
Berdasarkan data tersebut dapat dikemukakan bahwa papan partikel daur ulang ini mampu menyerap gas/uap beberapa jenis bahan kimia berbahaya sehingga ramah lingkungan.
4
Sifat(Properties) Tahun(Year) 2010 Tahun(Year) 2012
Kadar air (Water content), % 4,95 7,73
Kerapatan (Density), g/cm3 0,73 0,84
Pengembangan tebal (Thickness swelling), % 31,21**) 22,40
Keteguhan rekat internal (Internal Bond ), kg/cm2 2,42 1,92
Keteguhan lentur (Modulus of Elasticity), kg/cm 1.431**) 27.246
Keteguhan patah (Modulus of Rupture), kg/cm2 84,51 171,59
Kuat pegang sekrup (Screw holding),kg 57,75 107,4
Emisi formaldehida (Formaldehyde emission),mg/L 0,39 3,25
Bahan baku (Raw material) (Rubberwood particles)Partikel kayu karet Partikel daur ulang(Recycled particles)
Tipe produk (Product type) 8 8,13, 18
Tabel 3. Konduktivitas (W/mK) dan daya serap papan partikel daur ulang (%) terhadap
bahan kimia*)
Table 3. Conductivity (W/mK) and absorption (%) of the recycle particleboard against
chemical*)
Daya serap terhadap
(Absorptionagainst) Kadar arang aktif (Activated charcoal content),% Peningkatan(Increase), %
0 1 2 3 Chloroform 99,4 % 11,50d 12,49c 14,34b 16,59a 44,26 Ethanol 99,9 % 3,40d 4,43c 4,93b 5,05a 48,53 Acetone 99,8 % 7,32d 8,11c 8,57b 8,99a 18,58 Benzene 99,7 % 3,35d 3,51c 4,53b 5,56a 65,97 n-hexane 99% 5,06d 5,35c 5,57b 7,53a 48,81 Premium 2,44d 2,57c 2,80b 3,01a 23,36
Minyak tanah (Carosene) 2,25d 2,83c 3,26b 3,95a 75,56
Acetic acid 99% 4,00d 4,07c 4,27b 4,92a 23,00
HCl 4N 3,06c 3,31b 3,40b 3,85a 25,82
NH4OH 25% 4,88d 6,16c 6,5bb 7,53a 54,30
NaOH 5N 3,51c 3,67b 3,76b 3,81a 8,55
Conductivity 0,108c 0,087b 0,080ab 0,074a 31,48
Keterangan (Remarks):*)Rata-rata dari 5x ulangan(Average of 5 repetition)
G. Konduktivitas Papan Partikel Daur Ulang Pengujian papan partikel daur ulang terhadap konduktivitas termal (Tabel 3), ditujukan untuk mendapatkan daya hantar panas/listrik produk tersebut akibat penggunaan ramuan perekat yang mengandung arang aktif. Penambahan arang aktif pada perekat UF memberikan pengaruh yang positif terhadap nilai konduktivitas termal papan partikel daur ulang, di mana peningkatan kadar arang aktif dalam ramuan perekat UF menurunkan konduktivitas termal papan secara sangat nyata (31,48%) yakni dari 0,108 W/mK menjadi 0,079 W/mK.
Menurunnya nilai konduktivitas termal dari produk daur ulang dibandingkan dengan kontrol mengindikasikan bahwa arang aktif didominasi
oleh muatan positif. Menurut Wibowo .
(2008), papan partikel yang konduktivitaset al
termalnya rendah adalah papan partikel yang baik sebagai penghambat panas (isolator) dan sebaliknya apabila nilai konduktivitas termalnya tinggi tidak dapat menghambat panas (konduktor).
Untuk mengetahui kelayakan produksi papan partikel yang menggunakan campuran arang aktif dalam perekatnya dilakukan analisis finansial secara sederhana (Effendi, 2001). Biaya komponen produksi 1m papan partikel daur ulang ditunjukkan pada Tabel 4, sedangkan biaya produksi, pajak dan penerimaan selama 5 tahun disajikan pada Tabel 5.
H. Analisis Finansial
Hasil analisis kajian finansil menunjukkan bahwa industri papan partikel rendah emisi yang Sifat Papan Partikel Daur Ulang Rendah Emisi Formaldehida (Adi Santoso & Gustan Pari).
Tabel 4. Biaya komponen produksi 1 m papan partikel daur ulang3
Table 4. Component cost for 1 m production of the recycled particleboard3
No. Uraian (Descriptions) Satuan (Unit) Cost Ratio Rp/Satuan (Unit) Total (x Rp.1000,-)
1. Kayu karet (Rubberwood) m3 3 200,-/kg 750
2. Solar (Diessel oil) liter 3 11.000,- 33
3. Listrik (Electricity) kwh 185 1.200,- 222
4. Amonia (Ammonia) liter 0,2 4.000,- 0,8
5. Parafin (Paraffine) kg 1 8.000,- 8
6. Arang aktif (Active charcoal) kg 37,5 15.000,-/kg 562,5
7. Perekat UF (UF glue) kg 142 3.000,-/kg 426
8. Asam stearat (Stearic acid) kg 0,2 9.000,-/kg 1,8
9. NH4Cl (Ammonium chloride) kg 1,6 3.500,-/kg 5,6
10. (Sander) lbr 600 34.000/lbr 34
11. (Flaker knife) buah 0,06 120.000,- 7,2
Total
2.050.900,-menggunakan bahan baku limbah partikel industri dengan ramuan perekat UF mengandung arang aktif layak untuk didirikan.
Biaya overhead
(1% x biaya produksi) = Rp. 20.509,-Biaya variabel = Rp. 2.071.409,-Biaya tenaga kerja = Rp. 163.800.000,-Biaya pemeliharaan alat = Rp. 360.000.000,-Biaya tetap = Rp. 523.800.000,-Penjualan akan mencapai titik impas
produksi (BEP) = 1.594 m /tahun Pendapatan per tahun (kapasitas produksi 4.100 m )
= Rp. 9.840.000.000,-Profil industri papan partikel daur ulang:
1. Jenis bahan baku : limbah papan partikel 2. Kapasitas terpasang : 5.000 m
3. Kapasitas produksi : 4.100 m 4. Jumlah shift : 3 shift/hari 5. Lama pembuatan : 24 jam (kontinyu) Total biaya untuk produksi 8.250 m :
Rp. 5.075.977.500,-/thn 3 3 3 3 3 variable
Tabel 5. Biaya produksi, pajak dan penerimaan selama 5 tahun
(Table 5. Production cost, tax and debit for 5 years)
Tahun ke-(years)
Biaya produksi (Production cost)
(x Rp. 106)
Pajak (Tax), % Penerimaan (Revenue) (x Rp. 106)
20 25 60% 80% 100% 1 5.076 + 3.000 9.691 10.095 4.920 2 5.076 7.309 7.931 4.920 3 5.076 8.771 9.914 9.840 4 5.076 10.525 12.392 9.840 5 5.076 12.631 15.490 19.680 Jumlah (Total) 48.927 55.822 49.200
Hasil kelayakan finansial:
1. (NPV) tahun ke-5 pajak (20%)
= Rp.
3.273.000.000,-NPV tahun ke-5 pajak (25%) = Rp.
3.622.000.000,-(IRR) = 20,47%
2. (Net B/C)
Tahun 3 dan 4, Net B/C = 0,65 Tahun ke-5, Net B/C = 1,98
3. (ROI)
Produksi 80%, ROI = 25,97% Produksi 100%, ROI = 65,24%
Jangka pengembalian modal layak pada produksi 100% karena nilainya > dari bunga bank
4. (PBP)= 4,1 tahun
Net Present Value
Internal Rate of Return Net Benefit Cost Ratio
Rate of Investment
Pay Back Periode
IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
B. Saran
Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa pencampuran arang aktif ke dalam perekat urea formaldehida mampu mereduksi emisi formaldehida sekaligus meningkatkan kualitas produk dengan sangat nyata terhadap kualitas papan partikel.
Penggunaan perekat tersebut pada papan partikel daur ulang, mampu menurunkan emisi formaldehida sebesar 33 %, dan kelas produk meningkat dari tipe 8 menjadi setara dengan tipe 18. Selain itu papan partikel meningkat kemampuannya dalam menyerap gas/uap beberapa jenis bahan kimia berbahaya.
Papan partikel daur ulang yang dibuat dengan perekat yang dicampur arang aktif merupakan produk ramah lingkungan dan dapat digunakan sebagai dinding penyekat isolator terhadap rambat panas/listrik.
Berdasarkan hasil kegiatan finansial, bahwa industri papan partikel rendah emisi yang menggunakan bahan baku limbah partikel industri dengan ramuan perekat UF mengandung arang aktif prospektif untuk didirikan.
DAFTAR PUSTAKA
CPSC.(1997). An update on formaldehyde: 1997.
Revision. . [27 Maret
2007].
Badan Standardisasi Nasional. (2000). Papan partikel. Standard Nasional Indonesia (SNI 0 3 - 2 1 0 5 0 2 0 0 0 ) . Ja k a r t a : B a d a n Standardisasi Nasional
Badan Standardisasi Nasional. (2006). Papan Partikel. Standard Nasional Indonesia (SNI 0 3 - 2 1 0 5 - 2 0 0 6 ) . Ja k a r t a : B a d a n Standardisasi Nasional.
Dynea. (2005). Resin for ultra low formaldehyde emission according to the Japanese F**** quality. San Diego: Manfred Dunky. Effendi, R. (2001). Kajian tekno-ekonomi industri
MDF (Medium Density Fiberboard). . 2 (2), 103-112
Haygreen, J.G & Bowyer, J.L. 1996. (terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Japan Industrial Standard [JIS]. (2003). Particleboard. JIS A 5908. Tokyo : Japanese Standards Association.
Liteplo, R.G., Beauchamp R., Meek M.E. & Chenier R. (2002). Formaldehyde. Concise International Chemical Assessment Document 40. Geneva: WHO.
Malik J. & A Santoso. (2006). Emisi formaldehida kayu lamina dari tiga jenis kayu hutan tanaman dengan perekat tanin, lignin dan
fenol. 6(1): 34-39.
Roffael, E, (1993). Transleted from German text and edited by K. C. Khoo, M. P. Koh & C.L. Ong. Formaldehyde Release From Particle Board and Other Wood Based Panel, Malaysia : Forest Research Institute Malaysia (FIRM) with technical assistance from Malaysia-German Forestry Research Project (GTZ)
Rong, H., Z: Ryu., J. Zheng, & Y. Zhang. (2002).
Effect of oxidation of rayon-based
http://www.cpsc.gov
Info
Sosial Ekonomi .
Hasil Hutan dan Ilmu Kayu: Suatu Pengantar
Jurnal Nusa Kimia
. air
Sifat Papan Partikel Daur Ulang Rendah Emisi Formaldehida (Adi Santoso & Gustan Pari).
activated carbon fibers on the adsorption
behavior for formaldehyde. 40:
2291-2300.
Santoso, A. & Sutigno, P. (2004). Pengaruh fumigasi amonium hidroksida terhadap emisi formaldehida kayu lapis dan papan
partikel. . 22(1),
9 - 16.
Santoso, A., Hadi, YS. & Sutigno P. (2005). Pengaruh fumigasi dan penyemprotan amonia terhadap emisi formaldehida pada kayu lapis dan papan partikel.
5(2), 36 - 41.
Carbon
Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Jurnal Nusa Kimia
Santoso, A. & Pari, G. (2011). Teknik pencampur-an arpencampur-ang aktif pada ramupencampur-an perekat urea formaldehida. Laporan Hasil Penelitian. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan.
Sudjana. (2002). Desain dan Analisis Eksperimen. Bandung: Tarsito.
Wibowo, H., Khairul, M., Toto, R. & Ellyawan, A. (2008). Konduktivitas Termal Papan Partikel Sekam Padi.
. Vol.1. Jurnal Teknologi
ISSN: 0216-4329 Terakreditasi No.: 443/AU2/P2MI-LIPI/08/2012
ANALISIS HASIL PENGUJIAN KAYU YANG DISERANG PENGGEREK
KAYU DI LAUT DENGAN INTERPRETASI GAMBAR DIGITAL
(Digital Image Interpretation on The Marine Borer Attacked Wood Samples)
Krisdianto , Listya Mustika Dewi & Mohammad Muslich1 1 1
1Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan
Jl. Gunung Batu . 5, Bogor. 16610. Telp. (0251)-8633378, Fax. (0251)-8633413 iterima 23 September 2014, Disetujui 12 Februari 2015
D
ABSTRACT
Natural durability is determined through the tests of wood against wood attacking organisms. Natural durability of wood against marine borer was tested by exposing wood into the open sea water for six months. Damage intensity can be measured on the basis of digital image using Image-J software. This paper studies natural durability of nine wood species from Sumatera, Java and Kalimantan against marine borer. Results show that sempur lilin ( Hoogl.),
bambang lanang ( L.var. ) and kayu bawang ( (Jack) Jacobs)
were clasified into class durability I (very resistant), while cangcaratan ( (Blume) Rehd. and
aveangkelalai ( ssp. ) were classified into class durability II (resistant) against
marine borer. Ki pasang ( Miq.) and segelam ( ) were grouped into class durability
III (moderately resistant), while ki bugang ( Blume) and ki langir (
Blume) fall into class durability V (perishable). Damage intensity could be measured accurately using Image-J software. However, this method obtained higher damage percentage since the ex-rope hole was included in the measurement. Accordingly, the image method should be modified by excluding the ex-rope image to achieve high accuracy measurement.
Keywords: Natural durability, marine borer, digital image, nine wood species, class durability
Dillenia obovata Michelia champaca pubinervia
(Azadirachta excelsa
Lithocarpus sundaicus Shorea pervistipulata albifolia
Prunus javanica Hopea rudiformis
Arthophyllum diversifolium Otophora spectabilis
Dillenia obovata
Michelia champaca pubinervia Azadirachta excelsa
Lithocarpus sundaicus Shorea pervistipulata albifolia
Prunus javanica Hopea rudiformis
Arthophyllum diversifolium Otophora
spectabilis
Keawetan kayu alami dinilai berdasarkan ketahanannya terhadap organisme perusak tertentu. Pengujian ketahanan alami kayu terhadap organisme perusak di laut dilakukan dengan membenamkan contoh kayu di perairan laut terbuka. Setelah enam bulan, kayu dinilai intensitas kerusakannya dan diklasifikasikan kelas ketahanannya terhadap serangan penggerek di laut. Penilaian kerusakan kayu dilakukan dengan interpretasi gambar digital. Tulisan ini mempelajari ketahanan alami sembilan jenis kayu dari Sumatera, Jawa dan Kalimantan terhadap organisme penggerek laut dengan perangkat lunak Image-J setelah enam bulan. Hasil pengujian kayu di perairan terbuka menunjukkan kayu
sempur lilin ( Hoogl.), kayu bambang lanang ( L.var. ) dan kayu
bawang (Jack) Jacobs) termasuk kelas ketahanan I (sangat tahan), sedangkan kayu
cangcaratan ( (Blume) Rehd., aveang kelalai ( ssp. )
termasuk kelas ketahanan II (tahan) terhadap penggerek kayu di laut. Kayu ki pasang (
Miq.) dan segelam ( ) termasuk kelas ketahanan III (agak tahan) terhadap penggerek
kayu di laut, sedangkan kayu ki bugang ( Blume) dan ki langir (
Blume) termasuk kelas ketahanan V (sangat tidak tahan) terhadap penggerek kayu di laut. Pengukuran persentase kerusakan kayu dapat dilakukan dengan akurasi tinggi menggunakan metode gambar digital daripada cara konvensional. Pengukuran persentase kerusakan kayu dengan gambar digital menghasilkan nilai lebih tinggi karena bekas lubang tali. Namun, bekas lubang tali juga diperhitungkan sebagai kerusakan kayu. Untuk memperoleh pengukuran kerusakan yang tinggi, maka metode gambar
ABSTRAK Penelitian Hasil Hutan Vol. 33 No. 1, Maret 2015: 11-18
I. PENDAHULUAN
Keawetan alami suatu jenis kayu ditentukan berdasarkan daya tahannya terhadap serangan organisme perusak, seperti jamur, serangga dan penggerek kayu di laut. Sifat keawetan ini di-pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kandungan zat ekstraktif, umur pohon, bagian kayu dalam batang, kecepatan tumbuh, tempat tumbuh dan jenis organisme perusak serta tempat kayu tersebut akan digunakan (Martawijaya, 1996). Sebagai contoh, kayu yang digunakan untuk mebel di dalam ruangan, hanya perlu diuji ketahanannya terhadap kumbang bubuk kayu dan rayap kayu kering, sedangkan untuk kayu yang akan digunakan sebagai bahan bangunan yang bersentuhan dengan tanah, maka perlu dilakukan pengujian ketahanannya terhadap rayap tanah.
Untuk penggunaan kayu di daerah pantai dan berhubungan dengan air laut, ketahanan alami kayunya perlu diuji terhadap penggerek laut (Muslich dan Rulliaty, 2013). Penggunaan kayu di lingkungan tersebut meliputi penggunaan kayu untuk kapal dan bangunan kapal, dermaga dan rambu lalu lintas kapal. Penggunaan kayu di ekosistem perairan laut membuka kemungkinan serangan oleh penggerek laut. Beberapa
penggerek laut yang menyerang kayu adalah dari famili Pholadidae,
, , dan dari famili
Teredinidae (Muslich dan Rulliaty, 2013).
Pengujian ketahanan terhadap penggerek laut saat ini dilakukan berdasarkan metode yang telah dikembangkan oleh Muslich dan Sumarni (2005, 2006, 2008). Pengujian dilakukan dengan mengikat contoh uji kayu satu sama lain dalam satu rangkaian dengan tali plastik dan dibenamkan dalam air laut. Agar mendekati kondisi yang sebenarnya, tempat pengujian dilakukan di ekosistem pantai dan laut yang telah diketahui kondisi ekosistem biofisiknya. Saat ini, pengujian ketahanan terhadap penggerek laut dilakukan di ekosistem pantai Pulau Rambut di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Rangkaian contoh uji ditambatkan pada dermaga kapal di Pulau Rambut dengan posisi contoh uji horizontal seperti yang dilakukan oleh Muslich dan Sumarni (1987).
Pengujian dilakukan selama 6 bulan dan serangan dinilai dengan cara membelah contoh uji kayu menjadi dua bagian sama tebal. Intensitas serangan diamati secara visual berdasarkan penilaian yang telah ditetapkan pada SNI 01-7207-2014 (BSN, 01-7207-2014) seperti pada Tabel 1.
Martesia striata Teredo
bartchi Dicyatifer manni Bankia cieba
digital dimodifikasi dengan menutup bagian lubang bekas tali dengan kesan yang sama dengan bagian disekitarnya.
Kata kunci: Ketahanan alami, penggerek laut, gambar digital, sembilan jenis kayu, kelas ketahanan
Kelas (Class) Intensitas serangan (%,Attackintensity) Ketahanan (Resistance) I II III IV V < 7 7 – 27 27,1 – 55 55,1 – 80 >80
Sangat tahan (Very durable) Tahan (Durable)
Agak tahan (Moderately durable) Tidak tahan (Not durable) Sangat tidak tahan (Perishable)
Sumber (Source): BSN (2014)
Tabel 1. Klasifikasi ketahanan kayu terhadap penggerek kayu di laut Table 1. Wood resistance classification against marine borers
Analisis Hasil Pengujian Kayu di Laut dengan Interpretasi Gambar Digital (Krisdianto, Listya Mustika Dewi & Mohammad Muslich) Pengamatan visual dilakukan dengan
mengamati kerusakan secara langsung terhadap kayu setelah pengujian di laut. Berdasarkan persentase kerusakan diklasifikasikan ke kelas ketahanan yang telah ditetapkan seperti disajikan pada Tabel 1. Angka persentase kerusakan yang ditampilkan untuk menentukan kelas awet merupakan angka yang spesifik, yaitu 7%, 27%, 55% dan 80%. Batasan di atas menunjukkan bahwa penilaian persentase kerusakan kayu memerlukan akurasi yang tinggi. Penilaian kerusakan kayu saat ini dilakukan dengan memetakan kerusakan kayu secara visual pada kertas milimeter blok dan dihitung luasan lubang kerusakannya. Ketelitian perhitungan kerusakan sangat bergantung pada keterampilan dan pengalaman dalam menentukan persentase kerusakannya. Perbedaan pengamat dalam menghitung persentase kerusakan akan menyebabkan perbedaan penilaian kerusakan kayunya.
Salah satu cara penentuan persentase kerusakan kayu adalah dengan interpretasi perbedaan warna pada foto contoh kayu dengan perangkat lunak (Mekhtiev dan Torgovnikov, 2009, Sugiyanto, 2011). Interpretasi foto dilakukan dengan menghitung persentase luasan kerusakan kayu berupa lubang gerek yang
memiliki warna berbeda. Seperti halnya dalam Mekhtiev dan Torgovnikov (2009) yang melakukan interpretasi foto dengan menghitung persentase perbedaan warna dalam foto kayu yang sudah diserang organisme perusak dengan perangkat lunak Image-J (Mekhtiev dan Torgovnikov, 2009). Tulisan ini mempelajari hasil analisa persentase kerusakan kayu akibat penggerek di laut dengan interpretasi foto menggunakan Image-J. Kerusakan kayu dinyatakan dalam persen luasan contoh uji setelah kayu direndam selama 6 bulan di laut. Identifikasi jenis penggerek di laut dilakukan dengan cara mengamati struktur cangkuk dan bentuk palet serta bekas lubang gerek pada kayu. Identifikasi jenis penggerek dilakukan sesuai dengan klasifikasi yang disusun oleh Turner (1966, 1971).
Sembilan jenis kayu dari Sumatera, Jawa dan Kalimantan dikumpulkan untuk diuji ketahanan-nya terhadap penggerek di laut. Pengujian dilakukan di Pulau Rambut, Kepulauan Seribu. Kesembilan jenis kayu tersebut disajikan dalam Tabel 1.
II. BAHAN DAN METODE A. Lokasi Penelitian
Tabel 1. Sembilan jenis kayu dari Sumatera, Jawa dan Kalimantan
Table 1. Nine wood species origrinated from Sumatera, Java and Kalimantan No. No koleksi(Collection
number)
Jenis kayu
(Wood species) Nama daerah(Local name) (Place of origin)Tempat asal
1. 34385 Arthophyllum diversifoliumBlume Ki bugang Jawa
2. 34386 Dillenia obovataHoogl. Sempur lilin Jawa
3. 34387 Lithocarpus sundaicus(Blume) Rehd. Cangcaratan Jawa
4. 34388 Prunus javanicaMiq. Ki pasang Jawa
5. 34389 Otophora spectabilisBlume Ki langir Jawa
6. 34390 Hopea rudiformis Segelam Kalimantan
7. 34391 Shorea parvistipulatassp. albifolia Aveangkelalai Kalimantan
8. 34392 Michelia champacaL. var. pubinervia Bambang lanang Sumatera
B. Metode
Dari kesembilan jenis kayu tersebut, sembilan puluh contoh uji dengan ukuran 30 cm x 5 cm x 2,5 cm dirangkai dengan tali plastik dan direndam di perairan Pulau Rambut. Setelah enam bulan, contoh uji diambil dari laut dan dikeringkan sebelum dibelah untuk analisa kerusakan (Muslich dan Sumarni, 2005, 2006, 2008; Muslich and Rulliaty, 2011). Dalam kondisi terbelah, contoh kayu dihitung persen kerusakannya dengan cara konvensional dan interpretasi foto digital dengan menghitung luasan lubang kerusakan dengan kertas millimeter dan dipindai dengan
untuk analisa dengan interpretasi foto. Secara konvensional, luasan lubang gerek dihitung luasannya dengan menggambar pada
digital scanner
plastik transparan dan dihitung luasan kerusakannya dengan kertas millimeter. Untuk interpretasi foto, hasil scan digital kayu dianalisa kerusakannya berdasarkan perbedaan warna. Untuk interpretasi foto digital, karena adanya lubang bekas tali di tengah contoh uji untuk merangkai kayu, maka perhitungan persentase kerusakan dilakukan dengan dua cara: pertama memperhitungkan total lubang kerusakan yang terjadi pada permukaan contoh uji termasuk lubang bekas tali (Gambar 1A dan 1B), sedangkan cara kedua dengan merekayasa gambar asli sehingga bekas lubang tali tertutup (Gambar 1C, dan 1D). Persentase lubang dalam satu contoh uji dihitung berdasarkan total luasan lubang gerek dengan perangkat lunak Image-J.
Gambar 1. Interpretasi gambar digital kayu bawang dengan bekas lubang tali (A dan B) dan penghilangan bekas lubang tali (C dan D)
Figure 1. Digital image interpretation of bawang wood with ex-rope hole included (A and B) and without ex-rope hole (C and D)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil interpretasi gambar digital kerusakan contoh uji akibat penggerek di laut disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan bahwa kelas ketahanan kayu yang diukur dengan metode konvensional dan interpretasi digital sama. Perhitungan persentase kerusakan secara konvensional memiliki satu angka desimal yang merupakan nilai rata-rata dari sepuluh kali ulangan, sedangkan hasil pengukuran dengan interpretasi digital menunjukkan dua angka desimal. Hal ini menunjukkan bahwa nilai pengukuran dengan interpretasi gambar digital lebih akurat dari metode konvensional. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk mengukur persentase secara konvensional lebih lama dari pengukuran gambar digital, karena pada metode konvensional, operator memerlukan ketelitian dan keahlian dalam menghitung luasan lubang kerusakan, sedangkan pengukuran dengan gambar digital, akurasi dan ketelitian relatif tinggi karena pengukuran dilakukan oleh perangkat lunak. Lebih tingginya akurasi dan ketelitian perangkat lunak ini sejalan dengan
pernyataan Illic (2004) Mekthiev dan
Torgovnikov (2004) yang menyebutkan bahwa dalam pengukuran parameter kerusakan kayu
dalam
sebisa mungkin dilakukan dengan perangkat lunak agar akurasi dan ketelitiannya tinggi. Dalam
hal ini, Illic (2004) Mekhtiev dan
Torgovnikov (2004) menyarankan dalam pengukuran kerusakan kayu sebaiknya mengurangi campur tangan manusia secara konvensional.
Tabel 2 juga menunjukkan bahwa rata-rata persentase kerusakan kayu dengan interpretasi digital lebih tinggi dari konvensional, namun kelas ketahanan terhadap penggerek di laut tidak berbeda. Kayu sempur lilin, bambang lanang, dan kayu bawang termasuk kelas ketahanan I, sedangkan kayu cangcaratan dan aveangkelalai termasuk kelas ketahanan II. Kayu kipasang dan segelam termasuk kelas ketahanan III, sedangkan kayu kibugang dan kilangir termasuk kelas ketahanan V terhadap penggerek laut.
Dalam Tabel 2 juga ditunjukkan bahwa persentase kerusakan kayu secara digital dengan menyertakan bekas lubang tali, lebih besar dari pengukuran tanpa menyertakan bekas lubang tali. Pada pengukuran kerusakan kayu dengan lubang tali, bekas lubang dipindai sebagai kerusakan akibat penggerek kayu. Lubang ini memiliki persentase luasan 1,64 - 1,9% dengan rata-rata 1,83% dari seluruh luasan yang diinterpretasikan.
dalam
No. Nama daerah(Local name)
Metode konvensional (Conventional method)
Metode interpretasi digital (Digital interpretation method) Dengan bekas tali
(with ex-rope)
Tanpa bekas tali (without ex-rope) Rata-rata kerusakan (Destruction average) Kelas ketahanan (Durability class) Rata-rata kerusakan (Destruction average) Kelas ketahanan (Durability class) Rata-rata kerusakan (Destruction average) Kelas ketahanan (Durability class) 1. Ki bugang 89,2 + 1,93 V 91,61 + 0,87 V 89,79 + 0,90 V 2. Sempurlilin 3,1 + 0,57 I 3,72 + 0,11 I 1,90 + 0,14 I 3. Cangcaratan 18,1 + 1,79 II 19,36 + 3,79 II 17,50 + 3,78 II
4. Ki pasang 36,9 + 1,59 III 38,39 + 11,34 III 36,55 + 11,37 III
5. Ki langir 88,9 + 0,99 V 90,11 + 10,39 V 88,27 + 10,40 V
6. Segelam 28,3 + 1,16 III 29,95 + 4,20 III 28,14 + 4,22 III
7. Aveang kelalai 23,7 + 1,06 II 25,61 + 1,59 II 23,82 + 1,56 II
8. Bambang lanang 1,9 + 0,74 I 2,32 + 0,27 I 0,44 + 0,28 I
9. Kayu bawang 2,7 + 0,67 I 3,26 + 0,77 I 1,44 + 0,76 I
Tabel 2. Intensitas kerusakan dan kelas ketahanan terhadap penggerek laut sembilan jenis kayu
Table 2. Damage intensity and class durability against marine borer of nine wood species
Keterangan(Remarks): * Rata-rata dari pengukuran 10 contoh uji (The average of 10 samples)
Analisis Hasil Pengujian Kayu di Laut dengan Interpretasi Gambar Digital (Krisdianto, Listya Mustika Dewi & Mohammad Muslich)
Hasil uji-T antara pengukuran dengan cara konvensional dengan cara interpretasi digital dan adanya bekas lubang tali dan tidak adanya lubang tali disajikan dalam Tabel 3. Uji-t menunjukkan bahwa dari hasil perhitungan persentase kerusakan secara konvensional tidak berbeda nyata dengan cara digital dengan nilai probabilitas (p>0,05), kecuali untuk kayu sempur lilin,
bambang lanang dan kayu bawang. Hal ini menunjukkan pengukuran persentase kerusakan kayu akibat serangan penggerek laut berbeda nyata hanya pada kayu dengan kelas ketahanan I (sempur lilin, bambang lanang dan kayu bawang) sedangkan untuk kayu dengan kelas ketahanan II V pengukuran konvensional tidak berbeda nyata dengan pengukuran secara digital.
Tabel 3. Hasil uji-t persentase kerusakan kayu
Table 3. T-test result of damage intensity Pasangan
(Pairs) t (Significant probability)Probabilitas
Ki bugang (konvensional – digital) Ki bugang (dengan dan tanpa lubang tali) Sempurlilin (konvensional – digital) Sempur lilin (dengan dan tanpa lubang tali) Cangcaratan (konvensional – digital) Cangcaratan (dengan dan lubang tali) Ki pasang (konvensional – digital) Ki pasang (dengan dan lubang tali) Ki langir (konvensional – digital) Ki langir (dengan dan lubang tali) Segelam (konvensional – digital) Segelam (dengan dan tanpa lubang tali) Aveang kelalai (konvensional – digital) Aveang kelalai (dengan dan tanpa lubang tali) Bambang lanang (konvensional – digital) Bambang lanang (dengan dan tanpa lubang tali) Bawang (konvensional – digital)
Bawang (dengan dan tanpa lubang tali)
1,012 -125,592 -5,835 -92,839 -0,302 -40,534 -0,2444 -64,739 -0,118 -9,770 0,010 -20,122 0,745 -42,332 -5,676 -412,713 -4,760 -167,014 0,369 . 0,000 * 0,004 * 0,000 * 0,777 . 0,000 * 0,819 . 0,000 * 0,912 . 0,001 * 0,992 . 0,000 * 0,497 . 0,000 * 0,000 * 0,000 * 0,001 * 0,000 *
Keterangan: * berbeda nyata pada taraf uji 95% (Significant in the level of 95%)
Perbedaan pengukuran persentase kerusakan pada kayu dengan lubang bekas tali dan tanpa bekas lubang tali menunjukkan perbedaan tidak nyata. Walaupun pengukuran dengan bekas lubang tali lebih besar dari perhitungan tanpa menyertakan bekas lubang tali, namun persentase pengukurannya masih termasuk dalam kelas ketahanan yang sama.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, pada perhitungan persentase kerusakan dengan lubang tali, bekas lubang diperhitungkan sebagai bekas serangan penggerek laut, sedangkan pada metode tanpa lubang bekas tali, bekas lubang dianggap sebagai bagian kayu yang tidak terserang oleh penggerek laut. Dalam modifikasi gambar sebelum interpretasi, bagian bekas lubang ditutup