IMPLEMENT ASI SPPBN TINGKA T F ASILIT AS
DI MBA RI-E
*V. Samiyoto dan **Pranjono
ABSTRAK
Implementasi Sistem Pertanggungjawaban dan Pengendalian Bahan Nuklir ( SPPBN) tingkat fasilitas di Material Balance Area (MBA) RI-E, Pusat Pengembangan Teknologi Bahan Bakar Nuklir dan Daur Ulang (P2TBDU), didasarkan alas struktur MBA RI-E dengan persyaratan dan ketentuan yang semuanya tertulis pada Facility Attachment No.5. Untuk memperlancar tugas akunting bahan nuklir (ABN), Kepa/a Pusat P2TBDU mengeluarkan SK tentang Organisasi Personalia Pengelo/a Akunting Bahan Nuklir, yang personilnya terdiri alas Penguasa Insta/asi Nuklir, Pengawas Bahan Nuklir, Koordinator Pengurus Bahan Nuklir dan Penguru.5 Bahan Nuklir di masing-masing Key Measurement Point (KMP). Tugas dC);n tanggung jawab masing masing personil pengelola ABN dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Inspeksi rutin oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) dilakukan satu kali tiap periode tutup buku, yang didahului inspeksi lokal oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Untuk keperluan penutupan buku perlu dilakukan inventori fisik bahan nuklir (Physical Inventory Taking, PIT) dengan cara melakukan pengukuran seluruh bahan nuklir yang ada di fasilitas. Pencatatan data-data hasil PIT di setiap KMP dilakukan oleh masing-masing Pengurus KMP yang ditulis pada formulir Physical Inventory Itemized Listing (PilL). Laporan hasil pencatatan buku dan hasil PIT dituliskan pada formulir Physical Inventory Listing (PIL) dan Material Balance Report ( MBR) oleh Koordinator Pengurus Bahan Nuklir dan akan diperiksa dan disyahkan oleh Pengawas Bahan Nuklir. Laporan tersebut- harus segera dikirimkan kepada BAPETEN paling lambat 1 minggu setelah PIT, yang oleh BAPETEN akan diverifikasi den selanjutnya akan diteruskan ke IAEA.
,
fabrikasi digunakan untuk pembuatan pelet UO2 sampai merakit EB menjadi bundel.PENDAHULUAN
Instalasi Elemen Bakar Eksperimental (IEBE) adalah salah satu instalasi nuklir yang dimiliki P2TBDU yang digunakan sebagai sarana untuk ":!1elakukan pengembangan teknologi bahan bakar reaktor daya, yang mengubah bahan baku berbentuk Yellow cake menjadi elemen bakar (EB) yang digunakan untuk reaktor daya.
Untuk menanggulangi penyelewengan
penggunaan bahan nuklir dari pemakaian untuk tujuan damai menjadi senjata/bahan peledak lain, yang dapat dilakukan oleh perorangan, kelompok orang, pihak manaje-men fasilita$ atau bahkan oleh pihak peme-rintah sendfri, maka sesuai dengan perjanjian safeguards, pemakaian bahan nuklir pada proses-proses di atas dikenakan safeguards oleh IAEA.
Instalasi ini dilengkapi dengan fasilitas Teknologi Pemurnian dan Konversi, Teknologi Fabrlkasl, den Kendall Kualltas.
Agar 'pemakaian bahan nuklir dapat memenuhi semua peraturan yang dikeluarkan
baik oleh IAEA maupun oleh BAPETEN
sebagai penyelenggara Sistem pertanggung-jawaban dan Perigendalian Bahan Nukir
(SPPBN/safeguards) tingkat negara, maka Pad a fasilitas Teknologi Pemurnian dan
Konversi dapat dilakukan kegiatan-kegiatan yang meliputi unit pelarutan, pemurnian, pengendapan, dan unit kalsinasi-reduksi yang menghasilkan serbuk UOz, sedangkan fasilitas
V.SAMIYOTO, PRANJONO Implementasi SPPBN Tingkat Fasi/itas di MB.4 RI-E
mulai tahun 1996 Ka. PEBN (sekarang
P2TBDIJ) membentuk tim Personalia
Pengelola Akunting Bahan Nuklir (ABN)-PEBN melalui SK Nc. 0O1/HKOOO9/EBN/1996 (yang diperbarui setiap tahun) sebagai satuan organisasi pelaksana implementasi SPPBN di
tingkat fasilitas.
verifikasi, IAEA akan menerbitkan dokumen Facility Attachment yang berisi pengesahan struktur MBA, persyaratan den peraturan pelaksanaan SPPBN tingkat fasilitas.
II. IMPLEMENTASI SPPBN 01 MBA RI-E
Implementasi SPPBN di IEBE didasarkan atas struktur MBA RI-E dengan persyaratan dan ketentuan yang semuanya tertulis pada Facility Attachment No.5 yang Islnya antara lain menyebutkan bahwa tim ABN di fasilitas diwajibkan untuk menyelenggarakan sistem pencatatan dan pelaporan.
SISTEM PERTANGGUNGJAWABAN
DAN PENGENDAl.IAN BAHAN NUKLIR
(SPPBN)
Dengan ikut sertanya Indonesia menan-da-tangani perjanjian NPT (Treaty on The Non Proliferation 0; Nuclear Weapons) pad a tanggal 2 Maret 1970 dan selanjutnya pada
tanggal 14 Juli 1980 menonda-tangani
perjanjian Safeguards dengan IAEA, maka Indollesia harus bersedia menerima Safe-guards berdasarkan perjanjian safeguards terhadap semua pengelolaan dan penggu-naan bahan nuklir serta semua perangkat nukl1r.
Tim ABN sebagai penyelenggara SPPBN di tingkat fasilitas melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :
Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang
dikeluarkan IAEA pad a dokumen INF
CIRC/153 yang isinya antara lain mengharus-kan setiap negara yang telah menanda-tangani perjanjian Safeguards, maka setiap
negara berkewajiban menyelenggarakan
sistem sefeguards. Oleh karena itu, BAPETEN dalam hai ini sebagai penyelenggara safe-guards tingkat negara (state leval)
berkewajib-an membentuk SPPBN, dan penguasa
instalasi sebagai penyelenggara safeguards tingkai fasilitas (facility level) berkewajiban mengimplementasikan safeguards. Ketentuan IAEA tersebut dilaksanakan oleh BAT AN den~an mengeluarkan SK Dirjen BAT AN No. 362/DJ/IX/1994 yang sekarang telah diganti
dengan SK Ka. BAPETEN No.
13/Ka.BAPETENNI-99.
Tugas danTanggung Jawab Pengurus KMP
1. Menyelenggarakan pencatatan data-data bahan nuklir yang ada pada KMP yang menjadi tanggung jawabnya pad a formulir Lajur Bantu berdasarkan data yang ada pada Kartu Serta.
2. Menyelenggarakan pencatatan se-tiap
pemindahan (pengiriman dan! atau
penerimaan) bahan nuklir antar KMP dalam
satu MBA pada Formulir Pemindahan
Internal atas masing-masing KMP yang menjadi tanggung jawabnya.
3. Menyelenggarakan Oaf tar Inverlta-risasi Fisik bahan nuklir pada waktu tertentu pada Form Inventarisasi Fisik atas bahan nuklir
yang ada pada KMP yang menjadi
tanggung jawabnya.
4. Melakukan koordinasi dengan
Koor-dinator Pengurus KMP dengan jalan
memberikan informasi kepada Koordinator Pengurus KMP.
5. Bertanggung jawab kepada atasan
langsungnya atas kebenaran tugas yang menjadi bebannya.
Struktur MBA di fasilitas (Iihat Lampiran, Gambar 1). dibentuk dengan cara mengaju-kannya ke IAEA dengan mengisi formulir dokumen disain fasilitas (Design Information Questionnaire, DIQ). Setelah melakukan
Tugas dan Tanggung Jawab Koor-dinator Pengurus KMP
1. Menyelenggarakan pencatatan data-data bahan nuklir yang ada pada MBA yang
URANIA No.21 & 22/Thn.VI/Januari-ApriI2000
V.SAMIYOTO, PRANJONO Implementasi SPPBN Tingkat Fasilitas di MBA RI-E
2.
Bertanggung jawab menjamin
ierpe-nuhinya persyaratan dan peraturan baik
nasional maupun internasional yang
berlal<u bagi Sistem PPBN.
2.
11.1. PENCATATAN
Ada dua sistem pencatatan yang harus dilakukan :
3
11.1.1.
Catatan pembukuan
Catatan pembukuan yang dilaksanakan di MBA RI-E dibuat sedemikian sehinga dapat
memenuhi persyaratan pembukuan yang
berlaku. Catatan pembukuan tersebut terdiri dari:
1. General ledger (GL) yaitu dokumen untuk .pencatatan resume dari seluruh pengu-bahan inventori pengu-bahan nuklir yang ada di dalam MBA dan dokumen ini dibuat untuk setiap jenis bahan nuklir.
Subsidiary Ledger (SL) yaitu dbkumen pelengkap llntuk pencatatan bahan nuklir
yang ada di dalam suatu KMP dan
transaksi bahan nuklir antar KMP dalam satu MBA, dokumen ini dibuat untuk setiap jenis bahan nuklir.
Inventory Change Document (ICD) yaitu dokumen dukung untuk pencatatan bahan nuklir yang dipindahkan dari suatu MBA,ke t\1BA lain. ICD ini dibuat rangkat 5 (lima), 1 lembar untuk arsip MBA pengirim, 1 lembar dikirim ke BAPETEN, 3 lembar dikirim ke MBA penerima untuk ditanda-tangani dan selanjutnya dikirim kembali 1 lembar ke MBA pengirim dan 1 lembar ke
BAPETEN dan 1 lembar arsip MBA
penerima.
Internal Material Transfer (IMT) yaitu dokumen untuk penoatatln pemlndlhan dan data bahan nuklir antar KMP dalam satu MBA. IMT 'ini dibuat rangkap 3 (tiga) yaitu:
.lembar 1 untuk KMP penerima .lembC)r 2 untuk KMP pengirim
.lembar 3 untuk Koordinator Pengurus Bahan Nuklir.'
4.
menjadi tanggung jawab-nya didasarkan atas data yang diberikan oleh masing~ masing Pe-ngurus KMP dalam MBA yang bersangkutan.
Menyelenggarakan pencatatan setiap
pemindahan (pengiriman\ dan/atau
penerimaan) bahan nuklir antar MBA pada formulir Inventory Change Document (ICD)
atas MBA yang menjadi tanggung
jawabnya.
Melakukan Pelaksanaan Inventori Fisik berdasarkan data dari masing~masing
pengurus KMP dalam MBA yang
bersangkutan.
Menyiapkan laporan Sistem
Pertanggungjawaban dan Pengen-dalian Bahan Nuklir ke BAPETEN dan IAEA. Menyertai pelaksanaan kegiatan verifikasi
Inventori Fisik baik oleh BAPETEN
maupun IAEA.
5.
2.
3.
Tugas dan Tanggung Jawab Pengawas
Bahan Nuklir1. Mengawasi dipenuhinya peraturan tentang
Sistem Pertanggungjawab-an dan
Pengendalian Bahan Nuklir.
2. Memberikan petunjuk kepada para
pengurus Bahan Nuklir agar memudahkan pelaksanaan Sistem Pertanggungjawaban dan Pengen-dalian Bahan Nuklir (SPPBN).
3. Menyiapkan petunjuk teknis yang
diperlukan untuk pelaksanaan SPPBN
agar semua persyaratan dan peraturan yang berlaku ~apat terpenuhi.
4. Melakukan pelaksanaan Inventori Fisik bersama dengan Koordinator pengurus Bahan Nuklir dan verifi-kasi hasil Pelaksanaan Inventori Fisik baik oleh
Inspektur BAPETEN maupun Inspektur
IAEA pada MBA-MBA yang menjadi
tanggung jawabnys.
4
Tugas dan Tanggung Jawab Penguasa
Instalasi Nuklir
1. Menyelenggarakan Sistem
Pertang-gungjawaban dan Pengendalian Bahan
Nuklir pada instalasi-instalasi yang menjadi tanggung jawabnya.
V.SAf\1IYOTO. PRANJONO Imp/erne/llasi SPPBN Tingka/ Fasililas di MBA RI-E
Physical Inventory Itemized List (PilL) adalah daftar inventori bzhen nuklir di setiap KMP, yang dilengkapi dengan kode-kode yang menerangkan lokasi, kode bahan nuklir (material code) dan diskripsi bahan nuklir.
11.1.2.
Catatan operasional
Catatan operasional diperoleh dari :
1. Data pengoperasian yaitu untuk menen-tukan perubahan kuantitas dan komposisi bahan nuklir.
2. Kartu Serta Uranium yaitu '.mtuk penca-tatan data bahan nuklir yang dipindahkan antar alaVruang dan selalu menyertai bahan nuklirnya.
inventori dan selanjutnya oleh BAPETEN diteruskan ke IAEA.
2. PIL (Physical Inventory Listing)
PIL merupakan laporan yang berisi daftar inventori seluruh bahan nuklir yang ada di fasilitas (MBA) yang datanya diperoleh dari pelaksanaan inventori fisik (PIT). Dari sini dapat diketahui bahwa PIL merupakan bukti nyata keberadaan dan jumlah bahan nuklir yang ada di fasilitas atau MBA yang bersangkutan. Laporan ini segera dikirim ke BAPETEN dalam jangka waktu tidak lebih dari 1 minggu setelah pelaksanaan inventori fisik dan selanjutnya oleh BAPETEN diteruskan ke IAEA.
3. MBR (Material Balance Report)
Laporan ini dibuat untuk melaporkan keadaan neraca bahan di fasilitas.
Dari laporan ini dapat diketahui besar kecilnya bahan nuklir yang tidak dapat diukur (hilang, terjadi penyelewengan dsb.) yang disebut MUF (Material Unaccounted For). Untuk membuat laporan ini harus
memperhatikan komponen-komponen
ne-raGa bahan yang ada. Laporan ini harus segera dikirim ke BAPETEN dalam jangka waktu yang tidak lebih dari 1 minggu setelah pelaksanaan inventori fisik, selanjutnya oleh BAPETEN diteruskan ke IAEA.
3.
4.
5.
Kartu ini dibuat rangkap 4 yaitu:
.lembar 1 menyertai bahan nuklirnya .lembar 2 untuk KMP penerima .lembar 3 untuk KMP pengirim
.lembar 4 untuk Koordinator Pengurus Bahan Nuklir
Data kalibrasi (tangki, instrumen, cuplikan dan analisis)
Prosedur pengendalian kualitas
pengukuran.
Uraian tindakan untuk persiapan dan pelaksanaan inventori fisik bahan nuklir. Uraian tindakan untuk menentl!kan jumlah kehilangan bahan nuklir yang disebabkan karena kecelakaan.
6.
Perhitungan Neraca Bahan:
Neraca Bahan dapat disusun apabila telah terpenuhinya segala komponen yang termasuk di dalamnya, seperti data dari pelaksanaan inventarisasi fisik (PIT), data pengubahan-pengubahan yang terjadi (peneri-maan/pengiriman antar MBA), penutupan buku akhir (BE), dan BA, serta data inventarisasi awal (PB), maka perhitungan neraca bahan
akan memperlihatkan adanya kehilangan
atau~ah penyelewengan yang terjadi tanpa terdeteksi.
11.2.
PELAPORAN
Laporan akunting bahan nuklir terdiri dari:
11.2.1. LapC\ran Rutin:1. ICR (Inventory Change Report)
Laporan ini dibuat untuk melaporkan semua pengubahan irventori bahan nuklir yang terjadi dan datanya diperoleh dari dokumen pengubahan yang terjadi (ICD-MT). Laporan ini harus segera dikirim ke BAPETEN dalam jangka waktu tidak lebih dari 14 hari teihitung mulai awal bulan berikutnya setelah teljadi pengubahan
bahan
dilakukanPerhitungan neraca
dengan rumus sbb:
URANIA No.21 & 22frhn.VI/Januari-ApriI2000
V .SAMIYOTO~ PRANJONO Implemenlasi SPPBN Tingkal Fasililas
NfB.4
RI-E
MUF = PB + Pemasukan -Pengeluaran -Inventori fisik akhir
PB = Inventori awal
Pemasukan = Penerimaan dari MBA lain. Pengeluaran = Pengiriman ke MBA lain.
MUF = Inventori buku-inventori Fisik
= (" Jumlah yang semestinya ada")- (" Jumlah kenyataan") Inventori buku = (Inventori awal + penerimaan
-pengeluaran)
Inventori fisik = Inventori akhir = "Jumlah kenyataan yang ada".
11.2.2. Laporan Khusus
Laporan khusus ini dibuat apabila terjadi suatu kecelakaan/kejadian yang mengaki-batkan hilangnya sejumlah bahan nuklir yang cukup berarti atau melebihi batas yang telah ditentukan, dan pula bila terjadi perubahan "contaiment dan surveillance" (CIS) yang tak diduga dari yang telah ditentukan dalam
Facility Attachment.
secara signifikan atau penyelewengan tanpa terdeteksi. Tentu saja komponen-komponen
lain dari neraca bahan seperti penerimaan, perlgiriman, pembuangan dll, harus pula diperhatikan untuk melengkapi arti neraca bahan. Data-data baik dari inventarisasi fisik maupun dari seluruh komponen neraca b~han diperlukan agar neraca bahan dan MUF dapat dievaluasi dan menghasilkan kesimpulan yang berarti. Sebelum dilakukan pelaksanaan inventori fisik secara menyeluruh untuk
mempcrsiapkan audiUpemeriksaan bahan
nuklir baik oleh BAPETEN maupun oleh IAEA, Koordinator Pengurus Bahan Nuklir membuat surat Nota Dinas yang i5inya tentang jadual
penghentian sementara pemakaian bahan
nuklir di fasilitas sampai selesainya pemeriksaan bahan nuklir oleh BAPETEN
maupun IAEA yang disampaikan kepada
seluruh pemakai bahan nuklir di fasilitas. Dalam pelaksanaan PIT, setiap personil petugas Pengelola Bahan Nuklir melakukan tug as dan tanggungjawab masing-masing sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Iihat halaman di atas/Lampiran di SK Kapus). Laporan-laporan jenis lain dapat saja
dibuat untuk memenuhi keperluan manajemen fasilitas sendiri atau oleh fihak nasional, misalnya laporan evaluasi MUF, dll.
III. PERMASALAHAN
Laporan-laporan tersebut disiapkan oleh Koordinator Pengurus Bahan Nuklir dengan mengisi formulir-formulir standar IAEA (ICR, PIL dan MBR) dan akan dikirimkan ke
BAPETEN setelah ditanda-tangani oleh
Pengawas Bahan Nuklir serta mendapat
persetujuan dari penguasa Instalasi Nuklir
(PIN).
Permasalahan yang ada pada peiak-sanaan SPPBN di MBA RI-E masih terdapat beberapa masalah yang perlu dipikirkan penyelesaiannya:
1. Belum tercapainya sistem komunikasi yang lancar dalam pemindahan data dari data-data operasi menjadi data-data akunting.
2. Oleh karena hal tersebut di atas, maka pada pelaksanaan inventarisasi fisik sering kali masih ada kesalahan yang ditemukan oleh inspektor, yang seharusnya dapat diantisipasi apabila ada kelengkapan
data-datE) operasl. 11.3. Pelaksanaan Inventarisasi Fisik (PIT;
Keglatan ~IT Inl sang at menentukan dalam akunting dan pengendalian atas bahan nuklir karena dari sini dapat dibuktikan secara nyata keberadaan fisik bahan nuklir. Neraca bahan yang diperoleh atas inventarisasi fisik adalah satu-satunya cara yang dimiliki fasilitas untuk menjamin bahwa tidak ada kehilangan
IV. PEMBAHASAN/PEMECAHAN MASALAH
Sebagian data akunting terutama data inventarisasi fisik yang harus dibuat oleh Tim akunting bahan nuklir, sangat bergantung
-53
V.SAMIYOTO, PI{ANJONO Imp/ementasi SPPBN TingkaJ f(I.I'i/ita.l: di ,\18:1/(1-£
kepada data-data operasi yang dibuat oleh para pemakai bahan nuklir, oleh k::trena kedua jenis data terse but dibuat oleh personil yang berbeda dan ul'ltuk kepentingan yang berbeda harus dibuat sedemikian sehingga ada form Kartu serta uranium yang harus diisi oleh para pemakai uraniuIT. yang dapat digunakan bersama-sama. Hal ini diperlukan agar pad a pelaksanaan inventarisasi fisik tidak perlu dilakukan pengukuran ulang oleh Tim ABN. Oi sisi lain, Tim tersebut dapat mengalami kesulitan bila melaku~<an penglJkuran ulang, karena tidak tahuJ persis perilaku yang harus dikenakan pada bahan nuklir yang telah dan
sedang digunakan. .
3.
personil yang ditunjuk sebagai pengelola akunting bahan nuklir.
Untuk 1ebih mengefektifkan pelaksanaan SPPBN di MBA RI-E perlu adanya usaha terns menerus dari semua pihak dalam hal pengisian data-data bahan nuklir
kedalam KSU, sehingga keberadaan
bahan nuklir selalu disertai dengan KSU.
DAFTARPUSTAKA
1
2.
Banyaknya jumlah item/batch yang harus diukur untuk menentukan jumlah bahan nuklir tiap-tiap batch dan 'Naktu PIT yang relatif sing kat kurang lebih 2 minggu. kedua faktor tersebut memperbesar kemungkinan adanya kesalahan pengukuran oleh Tim ABN.
3.
SURIPTO, A., "Implementasi SSAC tingkat fasilitas di instalasi bahan nuklir'" kuliah SSAC-2 di Serpong, 1993
Dokumen IAENINFCIRC/153., "Structure and content of agreement between the agency and states required in connection with the treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons", Februari 1983
SK Dirjen No. 362/DJ/IX/1994 tentang
Sistem Pertangggungjawaban dan
Pe-ngendatian Bahan Nuklir.
Facility Attachment No.5 untuk MBA RI-E
4.
Para Penulis adalah para pejabat pranata nuklir dan *Staf SubBidang Akuntansi Bahan Nuklir,
Bidang Keselamatan Kerja dan **Staf Bid. Tek. Bahan Bakar Reaktor Daya,
P2TBDU,BATAN
TANYAJAWAB I USULAN
Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas dapat dilakukan usaha-usaha sebagai
berikut :
1. Perlu terus menerus d!lakukan upaya terciptanya kebiasaan menuliskan data-data bahan nuklir pad a Kartu Serta Uranium (KSU).
2. Perlu diadak(;1n sosialisasi tentang Akuntansi Bahan Nuklir di instalasi yang
bersangkutan dalam interval waktu
tertentu.
3. Oi masa ciatang Akuntansi Bahan Nuklir seyogyanya dimasukkan dalam salah satu materi Oiklat di P2TBOU.
Hendro Wahyono
Perlu diadakan DIKLAT tentang MBA bagi
pengurus Pengelola MBA (Material
Balance Accounting) atau Pengurus
Bahan Nuklir di masing-masing KMP. V. KESIMPULAN DAN SARAN
1
Pada umumnya pelaksanaan SPPBN di.MBA RI-E dapat berjalan lancar.
Semenjak diberlakukan SK Oirjen No. 362/0J/IX/94 (sampai dengan Juni 1999) dan diduklJng SK Kapus, pelaksanaan SPPBN di MBA RI-E dapat berjalan lebih 19ncar, karena adanya pembagian tugas dan tanggung jawab terhadap setiap
V. Samiyoto
2
Usulan diterima.
Koreksi unt-uk Material Balance
Accounting. Yang benar adalah Material Balance Area.
V.SAMIYOTO, PRANJONO Implementasi SPPBN Tingkat Fasilitas di MBA RI-E
LAMPI RAN
KMP
KMP2
Gambar 1. MBA RI-E, Instalasi Elemen Bakar Eksperimental.
Gambar 2. ORGANISASI DAN PERSONALIA PENGELOLA ABN -P2TBDU (periode 1Juli- 31 Maret 2000)