• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI INVERSI NON LINIER DENGAN PENDEKATAN LINIER UNTUK MENENTUKAN HIPOSENTER (CONTOH KASUS DI G. KELUD)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "APLIKASI INVERSI NON LINIER DENGAN PENDEKATAN LINIER UNTUK MENENTUKAN HIPOSENTER (CONTOH KASUS DI G. KELUD)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

APLIKASI INVERSI NON LINIER DENGAN PENDEKATAN LINIER UNTUK

MENENTUKAN HIPOSENTER (CONTOH KASUS DI G. KELUD)

Cecep SULAEMAN

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Sari

Parameter model yang tidak linier dapat didekati secara linier memakai ekspansi Taylor orde pertama di sekitar model awal. Solusinya diperoleh memakai metoda kuadrat terkecil, yaitu meminimumkan selisih data pengamatan dengan data perhitungan. Contoh kasus diterapkan untuk menghitung hiposenter gempa Vulkanik di G. Kelud. Hasil perhitungan menunjukkan, bahwa gempa vulkanik di G. Kelud terdapat pada kedalaman 0,5 – 3,5 km di bawah kawah.

Pendahuluan

Hiposenter merupakan salah satu parameter penting di dalam bidang seismik. Berdasarkan informasi hiposenter dapat diperkirakan penyebab gempa tersebut, apakah aktivitas magma atau aktivitas struktur (misalnya sesar). Berbagai metoda telah dikembangkan untuk menentukan hiposenter. Salah satu cara penentuan hiposenter adalah dengan metoda inversi.

Tulisan ini membahas metoda inversi non linier dengan pendekatan linier yang kemudian diaplikasikan untuk menghitung hiposenter. Sebagai contoh kasus, metoda ini diterapkan untuk menghitung hiposenter gempa vulkanik di G. Kelud menjelang erupsi tahun 2007.

Teori inversi didefinisikan sebagai suatu kesatuan teknik/metoda matematika dan statistika untuk memperoleh informasi yang berguna mengenai suatu sistem fisika berdasarkan observasi terhadap sistem tersebut (Menke, 1984; di dalam Grandis, 2003). Pemodelan inversi sering disebut sebagai kebalikan dari pemodelan ke depan, karena dalam pemodelan inversi, parameter model diperoleh secara langsung dari data.

Secara umum metoda inversi dibagi menjadi inversi linier dan inversi non linier, bergantung pada permasalahan yang diselesaikan. Permasalahan non linier dapat diselesaikan dengan pendekatan linier, yaitu melalui pencarian lokal dan pencarian global. Penyelesaian inversi adalah memperkirakan parameter model yang memiliki respon (data terhitung) cocok dengan data lapangan.

Solusinya diperoleh dengan menerapkan jumlah kuadrat kesalahan minimum (least square). Inversi non Linier dengan Pendekatan Linier

Secara umum, hubungan antara data dengan parameter model yang tidak linier dapat dinyatakan dengan persamaan eksplisit (Tarantola, 1987; Grandis, 2003), yaitu ;

d = g(m) ... (1) dimana :

d adalah data

g merupakan fungsi pemodelan ke depan m adalah model yang terdiri atas sejumlah parameter model.

Huruf tebal (bold) menyatakan besaran vector. Parameter model yang tidak linier dapat didekati secara linier dengan memakai ekspansi Taylor orde pertama g(m) di sekitar model awal m0, maka persamaan (1) menjadi

d = g(m0) + J0 Δm0 ……… (2) dengan J0 = 0 m j i m g ⎥ ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎢ ⎣ ⎡ ∂ ∂

adalah matriks Jacobi dengan komponen berupa turunan parsial fungsi g(m) terhadap setiap elemen parameter model m yang dievaluasi pada m = m0 dan

(2)

Persamaan (2) tersebut dapat diselesaikan memakai metoda kuadrat terkecil, yaitu mencari solusi Δm0 yang menghasilkan (d –

(g(m0) + J0 Δm0) minimum. Artinya kuantitas

yang diminimumkan adalah selisih data pengamatan dengan data perhitungan dengan menggunakan pendekatan orde pertama ekspansi Taylor. Solusi persamaan (2) tersebut adalah

Δm0= [J0T J0 ]-1J0T (d - g(m0)) …..…… (3)

Notasi superposisi T dalam persamaan di atas menyatakan transpos.

Dengan memperhatikan Δm0 = [ m - m0],

maka solusi tersebut dapat diartikan sebagai suatu pertubasi terhadap model awal m0 untuk

memperoleh model m yang lebih baik, sehingga m = m0 + Δm0. Model yang optimum

diperoleh melalui proses modifikasi terhadap model awal m0 secara iteratif menggunakan

persamaan (3). Hubungan antara pertubasi model dengan model pada dua iterasi yang berurutan, maka model pada iterasi ke n+1, dapat ditulis:

mn+1= mn + [JnT Jn ]-1JnT(d - g(mn)) ...(4)

Aplikasi Inversi non Linier dengan pendekatan Linier untuk Menentukan Hiposenter

Salah satu data yang diperoleh bila kita melakukan pengamatan seismik adalah waktu tiba gelombang (tobs) di stasiun seismik. Bila

gelombang seismik menjalar pada medium yang homogen dari posisi sumber , maka waktu tiba gelombangnya, misalnya gelombang P dapat dihitung di stasiun seismik (Gambar 1), dengan persamaan sebagai berikut

)

,

,

(

x

0

y

0

z

0

Gambar 1. Sumber gempa dan Stasiun seismik

p i i i

v

z

zs

y

ys

x

xs

0 2 0 2 0 2 0 cal pi

)

(

)

(

)

(

t

t

=

+

+

+

; i = 1,…, N ... (5) dimana : cal pi

t

= waktu tiba gelombang P di stasiun seimik ke i

0

t

= waktu terjadi gempa

p

v = kecepatan gelombang P

Dalam menentukan hiposenter memakai metoda di atas, maka langkah yang harus dilakukan adalah menyusun matriks sesuai dengan persamaan (4). Matriks tersebut adalah matriks berelemen parameter model (mn),

matriks Jacobi (Jn), dan matriks berelemen

selisih data waktu tiba dengan waktu tiba perhitungan (Tobs – Tcal). Dalam studi ini

diasumsikan kecepatan gelombang P ( ) konstan dan waktu terjadi gempa diketahui dari hubungan data waktu tiba gelombang P

p v 0

t

dengan selisih waktu tiba gelombang S dengan P, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.

(3)

Gambar 2. Hubungan (ts –tp) dengan tp untuk memperoleh t0

Parameter model di dalam penentuan hiposenter adalah , ditulis dalam bentuk matriks untuk n = 0 adalah

0 0 0

,

y

,

z

x

=

0 0 0 0

z

y

x

m

………(6)

Matrik Jacobi Jn diperoleh dengan

menurunkan persamaan (5) terhadap parameter model , dan disusun dalam bentuk matriks sesuai persamaan (4) unuk n = 0, yaitu :

0 0 0

,

y

,

z

x

J0 =

0 cal pN 0 cal pN 0 cal pN 0 cal p2 0 cal p2 0 cal p2 0 cal p1 0 cal p1 0 cal p1

...

...

...

y

t

y

t

x

t

y

t

y

t

x

t

z

t

y

t

x

t

………. (7) dengan p i i i i

v

z

zs

y

ys

x

xs

x

xs

x

2 0 2 0 2 0 0 0 cal pi

(

)

(

)

(

)

(

)

t

+

+

=

p i i i i

v

z

zs

y

ys

x

xs

y

ys

y

2 0 2 0 2 0 0 0 cal pi

(

)

(

)

(

)

(

)

t

+

+

=

p i i i i

v

z

zs

y

ys

x

xs

z

zs

z

2 0 2 0 2 0 0 0 cal pi

(

)

(

)

(

)

(

)

t

+

+

=

Dalam matriks Jacobi tersebut, jumlah baris sama dengan jumlah stasiun dan jumlah kolom sama dengan jumlah parameter model. Nilai (d - g(m0)) adalah selisih data waktu tiba

pengamatan dengan waktu tiba perhitungan di masing – masing stasiun seismik, dan ditulis dalam bentuk matriks sebagai berikut :

(d – g(m0)) = ………(8)

cal pN obs pN cal 2 p obs 2 p cal 1 p obs 1 p

t

t

....

t

t

t

t

Solusi diperoleh bilamana parameter model memiliki kesalahan terkecil atau kesalahan dengan kreteria yang diinginkan. Nilai kesalahan (E) dapat dihitung dari jumlah kesalahan kuadrat :

= − = N 1 obs p cal pi t ) t ( E i i ………(9)

Contoh Kasus Menentukan Hiposenter di G. Kelud

Metoda ini diterapkan untuk menentukan hiposenter di G. Kelud untuk 6 data gempa vulkanik pada tanggal 1 Nopember 2007, beberapa hari menjelang munculnya kubah lava. Sinyal gempa terekam di empat stasiun seismik dengan koordinat seperti tercantum pada Tabel 1 (Suantika, 2007). Dalam studi ini dipakai koordinat Kartesian, dengan stasiun KWH dijadikan referensi.

Perhitungan hiposenter memakai persamaan (4). Dalam contoh kasus ini, matriks parameter model awal (n = 0) terdiri atas 3 baris dan 1 kolom, baris pertama sampai ke tiga

(4)

masing-masing berisi . Matriks Jacobi terdiri atas 4 baris dan 1 kolom, matriks selisih data waktu tiba pengamatan dengan perhitungan terdiri atas 4 baris dan 1 kolom. Kecepatan gelombang P dianggap tetap sebesar 3 km/detik, dan waktu terjadi gempa dicari dari hubungan (t 0 0 0

,

y

,

dan

z

x

0

t

s –tp) dengan tp. Operasi

matriks pada persamaan (4) tersebut diselesaikan dengan memanfaatkan perintah-perintah bahasa program Matlab Versi 7.1.

Hasil perhitungan menunjukkan gempa vulkanik tersebut berada di area kawah G. Kelud pada kedalaman antara 0,5 0 – 3,5 km dari kawah (Gambar 3) dengan kesalahan bervariasi antara 0,0017 sampai dengan 0,0172.

Tabel 1. Koordinat stasiun seismik di G. Kelud

Stasiun Lintang (LS) Bujur (BT) Elevasi

(m) KLD -07°56’36.500” 112°18’37.300” 1492 SUM -07°56’41.700” 112°17’55.600” 1350 GJM -07°56’04.620” 112°17’58.800” 1400 KWH -07°56’32.800” 112°18’13.900” 1257 -3 -2 -1 0 1 2 3 -3 -2 -1 0 1 2 3 KLD SUM GJM KWH Barat - Timur (km) S e la tan U tar a (k m )

Episenter Gempa Vulkanik G. Kelud 1 Nopember 2007 episenter st. seismik

Kawah

Gambar 3a. Episenter gempa vulkanik di G. Kelud, 1 Nopember 2007 -3 -2 -1 0 1 2 3 -3 -2 -1 0 1 2 3 KLD SUM KWH Barat - Timur (km) K e da la m a n (k m )

Hiposenter Gempa Vulkanik G. Kelud 1 Nopember 2007 hiposenter St. seismik

Kawah

Gambar 3b. Hiposenter gempa vulkanik di G. Kelud, 1 Nopember 2007

Pembahasan

Pemakaian metoda ini memperlihatkan hasil yang cukup baik. Banyaknya iterasi sampai memperoleh kesalahan yang kecil (kreteria yang diinginkan) bergantung pada pemberian model awal. Dalam contoh kasus di atas, banyaknya iterasi hanya sampai dua kali dengan nilai model awal di sekitar kawah (

x

0

=

0

,

y

0

=

0

,

dan

z

0

=

2

km

). Bila nilai model awal yang diberikan jauh dari kawah, maka iterasi lebih dari dua kali. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian metoda pendekatan linier ini, memerlukan pengetahuan mengenai struktur daerah penelitian dan atau permasalahan yang ditinjau. Dalam contoh kasus ini daerah penelitian adalah gunungapi dan permasalahan yang ditinjau adalah gempa vulkanik, maka nilai model awal yang diberikan adalah di sekitar kawah, sehingga tidak memerlukan banyak iterasi untuk mendapatkan model yang optimum.

Metoda ini belum memperhatikan kualitas data pengamatan (waktu tiba gelombang), maka bila diberikan pembobotan terhadap data, hasilnya akan bergantung pada kualitas data.

(5)

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

• Permasalahan non linier dapat diselesaikan dengan pendekatan linier

• Metoda inversi non linier dengan pendekatan linier dapat diaplikasikan untuk menghitung hiposenter

• Hiposenter gempa vulkanik di G. Kelud berada pada kedalaman 0,5 – 3,5 km di bawah kawah dengan kesalahan lebih kecil dari 0,1

• Pemberian nilai awal dalam menentukan hiposenter memerlukan pengetahuan mengenai struktur daerah penelitian.

Daftar Pustaka

Grandis, H., 2003, Inversi Geofisika, Buku Ajar, Program Studi Geofisika, ITB

Menke, W., 1984, dalam Grandis, 2003, Geophysical Data Analysis, Academic Press

Suantika, G., 2007, Laporan Tanggap Darurat Letusan G. Kelud, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Tarantola, A., 1987, Inverse Problem Theory, Elsevier, 1987

Gambar

Gambar 2. Hubungan (t s  –t p ) dengan t p  untuk  memperoleh t 0
Tabel 1. Koordinat stasiun seismik di G. Kelud  Stasiun  Lintang (LS)  Bujur (BT)  Elevasi

Referensi

Dokumen terkait