• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Dinamika Madani, Volume 1, Nomor 1, Desember 2018: 49-62

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Dinamika Madani, Volume 1, Nomor 1, Desember 2018: 49-62"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DRAINASE KOTA PEKANBARU BERDASARKAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 12/PRT/M/2014 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN DRAINAGE DEVELOPMENT IN THE CITY OF PEKANBARU BASED ON THE MINISTER OF PUBLIC WORKS REGULATION NUMBER 12/PRT/M/2014 CONCERNING THE IMPLEMENTATION OF URBAN DRAINAGE SYSTEMS Ardiansah, Bagio Kadaryanto, Nabella Puspa Rani Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning Jln. Yos Sudarso Km. 8 Rumbai Kota Pekanbaru

Email: [email protected]

ABSTRACT

The city of Pekanbaru is the capital of Riau Province which every year experiences floods when heavy rains fall. The floods caused by poor drainage systems and have caused various problems. This fact shows that drainage development has not been fully implemented based on Minister of Public Works’ Regulation Number 12/PRT/M/2014 concerning the Implementation of Urban Drainage Systems. This study aims to explain how the implementation of the construction of drainage in the City of Pekanbaru is, what are the obstacles and what are the efforts of the Pekanbaru City Government to overcome drainage problems. This type of research is a sociological legal research, namely research that looks at the effectiveness of law in society. The data used in this study were in the form of observations and interviews. The conclusion of this study is that the Pekanbaru City Government has not fully implemented the Minister of Public Works Regulation Number 12/PRT/M/2014 concerning the Implementation of Urban Drainage Systems. Constraints faced during the construction of drainage, among others: the construction of housing has not been equipped with drainage, there are no complete rules governing drainage, construction of drainage does not have final disposal, construction of drainage does not meet the standards, people still disposing garbage in drainage, no community participation in the construction of a drainage system, etc. Some efforts need to be done, among others: Pekanbaru City Government finalise its drainage system masterplan, coordinating with the Riau Provincial Government to overcome the flood problem, designed an environmentally sound drainage system, oversaw the drainage construction, fostering the community to be aware of the environment, overhauled the drainage system that did not meet the standards, involved community participation in sustainable drainage systems, and others.

Keywords: Urban Drainage System, City of Pekanbaru

(2)

ABSTRAK

Kota Pekanbaru adalah ibukota Provinsi Riau yang setiap tahun mengalami banjir manakala hujan deras. Banjir yang diakibatkan sistem drainase yang buruk telah menimbulkan berbagai permasalahan. Kenyataan ini menunjukkan pembangunan drainase belum sepenuhnya terlaksana berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pelaksanaan pembangunan drainase Kota Pekanbaru, apa saja kendala dan apa saja upaya pemerintah Kota Pekanbaru untuk mengatasi permasalahan drainase. Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum sosiologis, yaitu penelitian yang mencermati efektivitas hukum dalam masyarakat. Data yang digunakan dalam penelitian ini dalam bentuk observasi dan wawancara. Kesimpulan penelitian ini bahwa Pemerintah Kota Pekanbaru belum sepenuhnya melaksanakan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Kendala yang dihadapi pembangunan drainase, antara lain: pembangunan perumahan belum dilengkapi drainase, belum adanya aturan yang lebih lengkap yang mengatur tentang drainase, pembangunan drainase tidak memiliki pembuangan akhir, pembangunan drainase tidak memenuhi standar, masyarakat masih membuang sampah pada drainase, tidak adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan sistem drainase, dan lain-lain. Beberapa upaya yang perlu dilakukan, antara lain: Pemerintah Kota Pekanbaru harus menuntaskan masterplan sistem drainase, berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau untuk mengatasi masalah banjir, merancang sistem drainase berwawasan lingkungan, mengawasi pembangunan drainase, membina masyarakat untuk sadar terhadap lingkungan, merombak sistem drainase yang tidak memenuhi standar, melibatkan partisipasi masyarakat dalam sistem drainase yang berkelanjutan, dan lain-lain.

Kata Kunci: Sistem Drainase Perkotaan, Kota Pekanbaru

1. PENDAHULUAN

Manusia dan lingkungan bagaikan kehidupan ikan dalam air, sejak lahir, tumbuh kembang dan dewasa. Manusia kerap berinteraksi dengan lingkungan alam dan sosial budaya, sehingga wajar jika karakter dan tingkah laku manusia terbentuk oleh keadaan lingkungan (Moh. Yahya Obaid, 2013). Manusia dapat mempengaruhi lingkungan hidupnya. Manusia dapat memelihara, melestarikan, mencemari, atau merusak lingkungan hidup (Sodikin, 2007). Perilaku manusia dalam bidang pembangunan berusaha untuk mewujudkan hidup yang nyaman.

Pada dasarnya pembangunan itu adalah gangguan terhadap keseimbangan lingkungan hidup, yaitu usaha sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan hidup (Niniek Supami, 1992). Pembangunan memiliki dampak bagi lingkungan hidup baik dampak positif maupun negatif. Pembangunan yang berdampak positifnya ialah pembangunan yang diselaraskan dengan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan, sehingga gangguan terhadap lingkungan hidup bisa diminimalisir. Sementara pembangunan yang berdampak negatifnya ialah pembangunan yang determinan dari lingkungan hidup, maka keseimbangan akan terganggu (Hengki Firmanda, 2012).

Kota merupakan sistem terbuka, baik secara fisik maupun sosial ekonomi, bersifat dinamis atau bersifat sementara. Dalam perkembangannya, kota sukar

(3)

untuk dikontrol dan sewaktu-waktu dapat menjadi tidak beraturan. Kota merupakan suatu wilayah berkembangnya kegiatan sosial, budaya dan ekonomi perkotaan yang tidak berstatus sebagai kota administratif atau kotamadya. Aktifitas dan perkembangan kota mempunyai pengaruh terhadap lingkungan fisik (Zoe’raini Djamal Irwan, 2004).

Kota memerlukan adanya suatu sistem drainase. Pembangunan sistem drainase di suatu wilayah bertujuan untuk menyediakan suatu sistem saluran yang berfungsi mengalirkan air di permukaan akibat hujan secepatnya ke badan air penerima terdekat seperti sungai. Seiring dengan semakin banyak jumlah penduduk di perkotaan maka dapat dipastikan semakin pesat pula pembangunan berbagai prasarana dan sarana perkotaan (Nurhapni dan Hani Burhanuddin, 2011).

Sistem jaringan drainase di suatu kawasan dirancang untuk menampung debit aliran yang normal, terutama pada saat musim hujan. Kapasitas saluran drainase sudah diperhitungkan untuk dapat menampung debit air agar tidak mengalami banjir. Jika kapasitas sistem saluran drainase menurun, maka debit yang normal tidak akan bisa ditampung oleh sistem yang ada. Menurunnya kapasitas sistem disebabkan banyak terdapat endapan seperti tanah dan sampah, terjadi kerusakan fisik sistem jaringan, dan adanya bangunan lain di atas sistem jaringan (Inggrit Regina Pangkey et al, 2015).

Drainase adalah suatu ilmu untuk pengeringan tanah. Drainase berasal dari kata to drain yang berarti mengeringkan atau mengalirkan air. Drainase merupakan terminologi yang digunakan untuk menyatakan sistem-sistem yang berkaitan dengan penanganan masalah kelebihan air, baik di atas maupun di bawah pemukiman tanah (Haryono Sukarto, 1999). Drainase merupakan sarana atau prasarana untuk mengalirkan air hujan dari suatu tempat ke tempat yang lain (Ajeng Kusuma Dewi et al, 2014).

Drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Drainase bermakna sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas, dimana drainase suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penanggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut (Suripin, 2004).

Drainase Perkotaan berfungsi untuk mengeringkan bagian wilayah kota yang permukaan lahannya lebih rendah dari genangan, mengalirkan kelebihan air permukaan ke badan air terdekat secepatnya agar tidak membanjiri kota, mengendalikan sebagian air permukaan akibat hujan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik, dan meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah. (Sri Harto, 1993).

Kota Pekanbaru adalah Ibu Kota Provinsi Riau memiliki luas 632,2 KM2. Setiap tahun kota Pekanbaru mengalami banjir manakala hujan deras. Pada tanggal 1 Mei 2017, banjir melanda kota Pekanbaru dengan ketinggian air berkisar 10-30 cm. Banjir sekitar Jalan Soebrantas dan Jalan Soekarno-Hatta mengakibatkan kemacetan yang parah. Banjir juga melanda sekitar Jalan SM Amin, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Riau. Banjir yang merendam Perumahan Alam

(4)

Surya telah menimbulkan korban jiwa akibat tersengat listrik (www.cakaplah.com, 2017).

Pada tanggal 23 Juni 2017 banjir melanda kota Pekanbaru. Hujan deras mengakibatkan tergenang air setinggi 50 cm di Jalan Sudirman tepatnya sekitar Hotel Grand Central. Genangan air juga melanda pemukiman penduduk dan ruas jalan sehingga mengakibatkan akses jalan terputus. Kemudian, pada tanggal 3 September 2017, hujan deras juga telah mengakibat banjir di Jalan Sudirman sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas yang parah.

Banjir masih terus terjadi di kota Pekanbaru. Apabila terjadi curah hujan yang cukup tinggi dipastikan mempengaruhi kondisi jalan dan drainase. Jika hujannya lebat, maka air menjadi tergenang di jalan. Kondisi ini terjadi karena sistem drainase buruk (www.pekanbaru.tribunnews.com, 2017). Fakta yang diungkap hanya sebagian tahun 2017. Yang pasti, banjir telah menimbulkan permasalahan, yaitu keselarasan antara pembangunan dan lingkungan hidup.

Kondisi eksisting sistem drainase Kota Pekanbaru banyak masalah, seperti sistem trotoar, saluran drainase yang tersumbat sampah, tanah yang lebih tinggi dari bahu jalan, kondisi inlet-inlet drainase yang tertutup tanah yang menyebabkan terjadinya banjir, dan lain-lain. Dengan permasalahan tersebut, maka diperlukan kajian untuk memperbaiki sistem drainase Kota Pekanbaru (Irma Suryanti et al, 2013).

Berdasarkan latar belakang tersebut, pertanyaan yang perlu dicermati adalah bagaimana pelaksanaan pembangunan drainase Kota Pekanbaru berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan, apa saja kendala yang dihadapi dan apa saja upaya yang harus dilakukan Pemerintah Kota Pekanbaru untuk mengatasi permasalahan drainase berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Artikel ini akan menjawab beberapa pertanyaan tersebut.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum sosiologis. Penelitian hukum sosiologis adalah penelitian yang mengkaji efektivitas hukum di masyarakat (Soerjono Soekanto, 1983). Penelitian hukum sosiologis berorientasi pada data primer yang diperoleh dari lapangan (Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 1985). Penelitian hukum sosiologis sering juga dikenal sebagai penelitian lapangan. Penelitian ini mengkaji bagaimana bekerjanya norma hukum di dalam masyarakat (Mukti Fajar dan Yulianti Achmad, 2010).

Lokasi penelitian ini dipilih kota Pekanbaru. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, sekunder, dan tertier. Data primer adalah data yang diperoleh dari lapangan, respondennya masyarakat atau pihak terkait yang sesuai dengan permasalahan penelitian ini. Untuk memperoleh data primer, peneliti langsung mewawancarai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru, Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru, dan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui beberapa literatur-literatur dan berbagai peraturan perundang-undangan yang sifatnya mendukung data primer penelitian ini. Sedangkan data tertier adalah

(5)

data yang diperoleh melalui kamus, enksiklopedi, dan sejenisnya yang berfungsi untuk mendukung data primer dan sekunder.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil

Pemerintah Kota Pekanbaru memang telah melaksanakan pembangunan drainase, akan tetapi belum sepenuhnya terlaksana berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Pemerintah Kota Pekanbaru terus berupaya mengatasi banjir dengan cara melakukan pembenahan sistem drainase sesuai aturan yang berlaku. Hanya saja dalam upaya pembenahan itu masih terdapat berbagai kendala yang menjadi hambatan bagi Pemerintah Kota Pekanbaru khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru untuk menyelengarakan sistem drainase perkotaan sesuai yang diharapkan.

Setidaknya terdapat 4 (empat) kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan sistem drainase berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Pertama, laju pertumbuhan penduduk yang berdampak pada wilayah pemukiman dan mengakibatkan kota padat penduduk. Kedua, kesadaran masyarakat perkotaan untuk menjaga lingkungan memanfaatkan drainase sesuai dengan fungsinya karena masih banyak ditemukan sampah yang dibuang pada drainase yang mengakibatkan terjadinya penyumbatan di saluran pembuangan air sehingga berakibat timbulnya banjir di beberapa wilayah kota Pekanbaru.

Ketiga, belum adanya pembenahan dan penataan kawasan terutama pada kawasan kota lama dan kawasan yang berkembang dengan jumlah penduduk yang padat. Contohnya, kawasan Senapelan yang merupakan pusat pertama Kota Pekanbaru. Untuk melakukan pembenahan pada kawasan Senapelan perlu kerjasama Pemerintah Kota Pekanbaru, masyarakat, dan pihak terkait. Beberapa kawasan pemukiman memiliki drainase, tetapi tidak sesuai standar. Hal ini sering ditemukan di kawasan perumahan yang drainasenya dibuat oleh pengembang sekedar untuk melengkapi syarat saja dan tidak mengikuti aturan yang telah ditetapkan sesuai dengan siteplan, sehingga ukurannya dibuat tidak sesuai standar. Keempat, beberapa kawasan pemukiman ditemukan drainase yang buntu atau tidak ada saluran pembuangan akhir. Hal ini berdampak pada genangan air di wilayah pemukiman masyarakat.

3.2. Pembahasan

3.2.1. Pelaksanaan Pembangunan Drainase Kota Pekanbaru

Drainase merupakan suatu sistem atau wadah pembuangan atau penyaluran air hujan dan air limbah rumah tangga. Drainase memiliki peranan yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, terutama untuk daerah padat penduduk seperti daerah perkotaan. Drainase juga merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem terpenting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta merupakan komponen penting dalam tata ruang kota atau perencanaan infrastruktur kota.

(6)

Di dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan terdapat ketentuan bahwa penyelenggaraan sistem drainase perkotaan adalah upaya merencanakan, melaksanakan konstruksi, mengoperasikan, memelihara, memantau, dan mengevaluasi sistem fisik dan non fisik drainase perkotaan. Sementara sistem drainase perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis dan non teknis dari prasarana dan sarana drainase perkotaan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tersebut dimaksudkan sebagai acuan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, badan usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan sistem drainase perkotaan. Tujuannya untuk mewujudkan penyelenggaraan sistem drainase perkotaan yang memenuhi persyaratan tertib administrasi, ketentuan teknis, ramah lingkungan dan memenuhi keandalan pelayanan, menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat dan bebas genangan, dan meningkatkan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian air.

Berkenaan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tersebut, A Saat selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru, menyatakan bahwa bahwa Pemerintah Kota Pekanbaru berupaya mewujudkan tujuan penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Hanya saja, perlu dilakukan pembenahan terhadap beberapa lokasi. Kota Pekanbaru bukanlah kota yang baru berdiri, akan tetapi kota yang sudah lama dan terus berkembang. Sebelumnya telah ada pemikiran tentang sistem tata ruang kota dan perencanaan pembangunan berkelanjutan atau jangka panjang, seperti kawasan Senapelan yang merupakan kawasan lama.

Penyelenggaraan sistem drainase perkotaan menganut sistem pemisahan antara jaringan drainase dan jaringan pengumpul air limbah pada wilayah perkotaan. Tahapan penerapan sistem pemisahan disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah berdasarkan hasil kajian teknis. Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan menjadi tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya. Pemerintah daerah dapat melakukan kerjasama antar daerah dalam penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan dilakukan oleh instansi teknis yang bertanggungjawab dalam sub bidang drainase.

Sistem Drainase Perkotaan terdiri atas sistem teknis dan non teknis. Sistem teknis merupakan jaringan drainase perkotaan yang terdiri dari saluran induk/primer, saluran sekunder, saluran tersier, saluran lokal, bangunan peresapan, bangunan tampungan beserta sarana pelengkapnya yang berhubungan secara sistemik satu dengan lainnya. Sedangkan sistem non teknis merupakan dukungan terhadap sistem teknis drainase perkotaan terkait dengan pembiayaan, peran masyarakat, peraturan perundang-undangan, institusi, sosial ekonomi dan budaya, dan kesehatan lingkungan permukiman.

Saluran induk/primer dan/atau saluran sekunder dapat berupa sungai, dan/atau anak sungai yang berfungsi sebagai drainase perkotaan, dan/atau kanal buatan yang seluruh daerah tangkapan airnya terletak dalam satu wilayah

(7)

perkotaan. Menurut pengamatan peneliti, Kota Pekanbaru juga memiliki beberapa sungai yang berfungsi sebagai saluran terakhir pada sistem drainase. Beberapa sungai tersebut adalah, Sungai Siak, Sungai Sago, Sungai Sail, Sungai Senapelan, Sungai Air Hitam, dan Sungai Sibam.

Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan disusun untuk kawasan metropolitan, kawasan perkotaan besar dan kota yang mempunyai nilai strategis. Dalam hal sistem drainase perkotaan untuk kawasan kota sedang dan kecil, Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan disusun secara sederhana. Rencana induk disusun oleh instansi yang berwenang di bidang drainase. Rencana induk ditetapkan oleh Pemerintahan Kabupaten/Kota. Penyusunan Rencana Induk pada Kabupaten/Kota harus berdasarkan pada Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kota yang bersangkutan dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air di wilayah tersebut. Rencana induk Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan berlaku 25 (dua puluh lima) tahun atau disesuaikan dengan jangka waktu berlakunya Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kota. Menurut A Saat, Perencanaan Sistem Drainase Kota Pekanbaru sudah terangkum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Pekanbaru.

Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan disusun dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu: rencana pengelolaan sumber daya air, rencana tata ruang wilayah (RTRW), tipologi kota/wilayah, konservasi air, kondisi lingkungan, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal. Rencana Induk Sistem Drainase Perkotaan harus memperhatikan beberapa hal, yaitu: inventarisasi kondisi awal sistem drainase, kajian dan analisis drainase dan konservasi air, pendekatan penyelenggaraan sistem drainase perkotaan, rencana sistem jaringan drainase perkotaan termasuk skema jaringan drainase perkotaan, skala prioritas dan tahapan penanganan, perencanaan dasar, pembiayaan, kelembagaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Pekanbaru, Roni Amriel berpendapat bahwa Pemerintah Kota Pekanbaru belum memiliki masterplan dalam penanggulangan masalah banjir dan sistem drainase. Penanganan masalah banjir terkesan masih separuh hati. Roni Amriel menambahkan bahwa Pemerintah Kota Pekanbaru harus serius untuk menyelesaikan masalah banjir.

Pemerintah Kota Pekanbaru memang telah melaksanakan pembangunan drainase, namun pembangunan drainase belum berdasarkan perencanaan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 6 ayat (1) dan (2) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa Perencanaan Sistem Drainase Perkotaan meliputi a. Penyusunan rencana induk; b. Studi kelayakan; dan perencanaan teknik terinci/detail design. Selanjutnya Pasal 6 ayat (2) menyebutkan bahwa Perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun untuk pengembangan Sistem Drainase Perkotaan guna mendukung Sistem Drainase Perkotaan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tersebut menghendaki adanya Operasi dan Pemeliharan sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat (1), (2) (3), (4), dan (5). Pasal 20 ayat (1) menyebutkan bahwa Operasi dan Pemeliharaan dilaksanakan untuk menjamin kelangsungan fungsi Sistem Drainase Perkotaan dengan prinsip aman dan bersih. Pasal 20 ayat (2) menyebutkan bahwa Operasi

(8)

dan Pemeliharaan drainase perkotaan Primer, sekunder dan tersier menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. Pasal 20 ayat (3) menyebutkan bahwa Dalam hal Operasi dan Pemeliharaan drainase perkotaan lokal, menjadi tanggung jawab pengelola kawasan. Pasal 20 ayat (r) menyebutkan bahwa Operasi dan Pemeliharaan Sistem Drainase Perkotaan di kawasan permukiman yang dibangun oleh pelaku pembangunan menjadi tanggung jawab pelaku pembangunan dan/atau masyarakat berdasarkan peraturan perundangan. Pasal 20 ayat (5) menyebutkan bahwa Pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan wajib mengikuti kaidah pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Sistem Manajemen Lingkungan.

3.2.2. Kendala Yang Dihadapi dan Upaya Untuk Mengatasi Permasalahan Sistem Drainase Perkotaan Kota Pekanbaru

Otonomi daerah merupakan hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur serta mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakatnya. Otonomi daerah menuntut pemerintah daerah mengatur terkait urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerahnya di dalam peraturan daerah. Menindaklanjutnya hal tersebut, Pemerintah Kota Pekanbaru telah memberlakukan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 3 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kota Pekanbaru. Peraturan daerah ini mengatur perihal berbagai urusan pemerintahan di kota Pekanbaru.

Pasal 3 Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 3 Tahun 2008 menyebutkan ada 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan yang menjadi urusan Kota Pekanbaru, yaitu: Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan Umum; Perumahan, Penataan Ruang, Perencanaan Pembangunan, Perhubungan, Lingkungan Hidup, Pertanahan, Kependudukan dan Catatan Sipil, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, Sosial, Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Penanaman Modal, Kebudayaan dan Pariwisata, Kepemudaan dan Olah Raga, Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri; Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Statistik, Kearsipan, Perpustakaan, Komunikasi dan Informatika, Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kehutanan, Energi dan Sumber Daya Mineral, Kelautan dan Perikanan, Perdagangan; dan Perindustrian. Sebanyak 31 (tiga puluh satu) urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sesuai Pasal 4 Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 3 Tahun 2008 dibagi menjadi 2 (dua), yaitu Urusan Wajib dan Urusan Pilihan.

Pemerintah Kota Pekanbaru menempatkan pengurusan drainase dalam Lampiran Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 3 Tahun 2008, tanggal 21 Juli 2008 dimasukkan ke dalam pembagian urusan pemerintahan bidang pekerjaan umum sub bidang drainase. Pasal 5 ayat (2) huruf d Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 3 Tahun 2008 memposisikan Bidang Pekerjaan Umum masuk ke dalam Urusan Wajib pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah Kota Pekanbaru, karena berhubungan dengan pelayanan dasar daerah.

(9)

Rincian yang menjadi urusan Pemerintah Kota Pekanbaru di bidang Pekerjaan Umum sub bidang Drainase dalam Lampiran Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 3 Tahun 2008 dibagi menjadi Pengaturan, Pembinaan, Pembangunan, dan Pengawasan. Pertama, Pengaturan itu dalam bentuk: (a) Penetapan Peraturan Daerah kebijakan dan strategi berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi, (b) Penetapan peraturan daerah NSPK drainase dan pematusan genangan di wilayah berdasarkan SPM yang disusun pemerintah pusat dan provinsi. Kedua, Pembinaan dalam bentuk peningkatan kapasitas teknik dan manajemen penyelenggara drainase dan pematusan genangan di wilayah. Ketiga, Pembangunan dalam bentuk: (a) Penyelesaian masalah dan permasalahan operasionalisasi system drainase dan penanggulangan banjir di wilayah kota serta koordinasi dengan daerah sekitarnya, (b) Penyelenggaraan pembangunan dan pemeliharaan PS drainase, dan Penyusunan rencana induk PS drainase skala. Keempat, Pengawasan dalam bentuk: (a) Evaluasi terhadap penyelenggaraan sistem drainase dan pengendali banjir, (b) Pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan drainase dan pengendalian banjir, (c) Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 3 Tahun 2008 telah mengamanatkan pengurusan drainase kepada Pemerintah Kota Pekanbaru khususnya Walikota Pekanbaru yang diteruskan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Pekanbaru. Pengurusan drainase harus berdasarkan atas Rincian Lampiran Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 3 Tahun 2008 berupa Pengaturan, Pembinaan, Pembangunan, dan Pengawasan.

Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 1 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Pekanbaru Tahun 2005-2025, di dalam Bab II Kondisi dan Analisis Kondisi Umum Daerah khususnya pada penguraian tentang Sarana dan Prasarana menyebutkan di wilayah Kota Pekanbaru terdapat (a) Jalan Nasional (128,256 km dansemuanya beraspal) sebanyak 76,62 % dalam kondisi baik; (b) Jalan Provinsi (135,2 km) yang beraspal 84,3 %, hanya 48,1% dalam kondisi baik; (c) Jalan Kota (2.426,84 km) lebih parah lagikeadaannya, 38,8% aspal, 1,7% kerikil, dan 59,5 % jalan tanah (dari jumlah itu hanya 42,5% dalam kondisi baik). Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas jalan provinsi dan jalan kota di Pekanbaru sangat rendah. Kondisi ini diperparah lagi dengan masih banyaknya ruas jalan yang belum dilengkapi dengan drainase jalan sehingga mempercepat kerusakan jalan disebabkan tergenangnya badan jalan.

Penjelasan lebih lanjut di dalam Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 1 Tahun 2011 bahwa banjir di Kota Pekanbaru umumnya terjadi akibat curah hujan yang tinggi, anak-anak sungai sebagai saluran primer belum tertata dengan baik, jaringan drainase yang belum tersambung seluruhnya, serta belum lancarnya aliran pada saluran drainase yang ada. Genangan air ini disebabkan belum tuntasnya saluran drainase yang mengalirkan air limpahan hujan ke anak sungai dan ke sungai. Selain itu, ada pula banjir yang memang disebabkan oleh rendahnya permukaan tanah pada lokasi yang berdekatan dengan sungai Siak, Sungai Sago, Sungai Sail, Sungai Senapelan, Sungai Air Hitam, dan Sungai Sibam.

Pelaksanaan pembangunan drainase Kota Pekanbaru menghadapi berbagai kendala. Pembangunan perumahan di Pekanbaru yang tumbuh cukup signifikan telah menimbulkan masalah perkotaan. Pembangunan perumahan yang semakin

(10)

tinggi belum diikuti dengan kelengkapan fasilitas sosial, drainase, dan jalan lingkungan. Penempatan perumahan yang tidak melengkapi persyaratan teknis, lingkungan, dan sosial menjadi permasalahan besar di kemudian hari karena dapat menjadi penyebab banjir, kemacetan lalu lintas, dan permasalahan sosial lainnya. Sebelum diterbitkan IMB, instansi terkait sudah mengatur dalam ketentuan persyaratan advis planning (saran) sesuai siteplan, hanya saja banyak pihak pengembang tidak mengikuti saran yang udah diberi. Instansi terkait juga harus sering mengawas ke lapangan apakah pihak pengembang udah mengikuti ketentuan yang diberikan dan pantauan masyarakat juga sangat membantu melaporkan kejadian di lapangan, untuk ditindak lanjuti oleh instansi berwenang.

Selain itu, kemajuan Kota Pekanbaru yang diikuti bertambahnya jumlah jalan, seharusnya pemerintah Kota Pekanbaru menata dan membangun jaringan drainase agar dapat mengatasi banjir. Seiring pesatnya pembangunan jaringan jalan, maka juga dilaksanakan pembangunan jaringan drainase, dan dikoneksikan ke seluruh jaringan drainase, sehingga terhubung antara satu drainase dengan yang lainnya hingga ke sungai-sungai sebagai tempat akhir penampungan air. Pemerintah Kota Pekanbaru belum membuat aturan yang lebih lengkap tentang drainase khususnya besaran dan tinggi drainase mulai dari jalan nasional, jalan provinsi, jalan kota, jalan protokol, hingga jalan-jalan yang berada di perumahan warga atau gang-gang. Disinilah perlu adanya saling koordinasi terhadap masing-masing instansi yang mempunyai kewenangan supaya mereka bersinergi untuk membangun jalan dan drainase yang saling terhubung

Pemerintah Kota pekanbaru telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kendala tersebut. Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 1 Tahun 2011 khususnya dalam hal drainase sebagai upaya untuk mewujudkan pelayanan prima pada masyarakat. Pemerintah kota Pekanbaru harus menjadikan prioritas utama pada pembangunan sistem drainase kota dan penanganan banjir yang komprehensif dengan memperhatikan tata ruang, topografi, drainase alam yang sudah ada, pembuatan waduk/kolam penampung air, sumur resapan serta pemanfaatan daerah rawa dan gambut yang terencana dengan memperhatikan aspek keseimbangan lingkungan dan diharapkan Tahun 2025 Kota Pekanbaru bebas banjir. Untuk menata utilitas kota supaya tidak semrawut, maka harus dilakukan secara bertahap pembangunan utilitas kota yang meliputi drainase secara terpadu dan terkoordinasi sehingga keamanan, kenyamanan, dan keindahan kota terwujud.

Upaya Pemerintah Kota Pekanbaru menata drainase juga tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 2 Tahun 2014 tentang Bangunan Gedung. Pasal 54 ayat (2) menyebutkan bahwa Setiap Bangunan Gedung dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan baik dengan sistem peresapan air ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke dalam sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan. Pasal ini menekankan bahwa setiap bangunan harus memberikan jalur air hingga sampai ke drainase yang ada. Pasal ini juga memberikan pesan bahwa keharusan dan kewajiban bagi bangunan gedung untuk memiliki drainasi. Kewajiban memiliki drainase tidak hanya pada bangunan gedung saja, tetapi juga pada bangunan sebagai tempat penampungan sementara, yang ditegaskan dalam Pasal 111 ayat (3) bahwa Bangunan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi

(11)

dengan fasilitas penyediaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai. Penjelasan ayat (3) menguraikan Yang dimaksud dengan fasilitas penyediaan air bersih adalah penyediaan air bersih yang kualitasnya memadai untuk diminum serta digunakan untuk kebersihan pribadi atau rumah tangga tanpa menyebabkan risiko bagi kesehatan. Yang dimaksud dengan fasilitas sanitasi adalah fasilitas kebersihan dan kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan saluran air (drainase), pengelolaan limbah cair dan/atau padat, pengendalian vektor dan pembuangan tinja.

Pengaturan drainase juga menyentuh daerah-daerah, seperti pasar, pusat perbelanjaan, dan toko swalayan, yang diatur dalam Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 09 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan dan Toko Swalayan. Pasal 8 Peraturan Daerah ini menyebutkan bahwa Fasilitas Bangunan dan Tata Letak Pasar harus memasukkan unsur sanitasi atau drainase. Drainase wajib ada pada Pasar Rakyat (Lihat Pasal 15 bahwa drainasi ditutup dengan grill). Penekanan tentang kewajiban Pelaku Usaha Pasar Rakyat, Pusat Perbelanjaan dan Toko Swalayan tertuang dalam Pasal 55 ayat (1) huruf h bahwa wajib menyediakan sarana kesehatan, sarana persampahan dan drainase, kamar mandi dan toilet serta fasilitas ibadah bagi karyawan dan konsumen.

Menurut Ina Mulyani, Sub Bidang Pembinaan Lingkungan dan Penegakan Hukum Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Riau bahwa pada dasarnya persoalan drainase Kota Pekanbaru terletak pada proses pendirian bangunan. Setiap mendirikan atau membangun sesuatu termasuk pasar terlebih dahulu wajib memperhatikan drainase agar aliran air pada bangunan tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Sebelum mendirikan bangunan harus ada izin mendirikan bangunan. Pada saat melakukan pembangunan drainase wajib dimasukkan perencanaan pembangunan.

Biasanya, banjir yang melanda Kota Pekanbaru disebabkan curah hujan yang tinggi. Untuk mengatasi banjir, maka air hujan yang jatuh di suatu kawasan perlu dialirkan atau dibuang. Disini perlu adanya kolam retensi yaitu kolam yang dapat menampung air hujan sementara waktu dengan memberikan kesempatan untuk dapat meresap kedalam tanah yang opersionalnya dapat dikombinasikan dengan pompa atau pintu air. Caranya dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut. Sistem saluran di atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar. Sistem yang paling kecil juga dihubungkan dengan saluran rumah tangga dan dan sistem saluran bangunan infrastruktur lainnya, sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran tersebut perlu diolah (treatment). Seluruh proses di atas disebut dengan sistem drainase (Kodoatie, 2003).

Sistem drainase sebagai serangkaian bangunan air berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Dirunut dari hulunya, bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interseptor drain), saluran pengumpul (colector drain), saluran pembawa (conveyor drain), saluran induk(main drain) dan badan air penerima (receiving waters). Di sepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya, seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air (aquaduct), pelimpah, pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando dan stasiun

(12)

pompa. Pada sistem drainase yang lengkap, sebelum masuk ke badan air penerima air diolah dahulu pada instalasi pengolah air limbah (IPAL), khususnya untuk sistem tercampur. Hanya air yang telah memiliki baku mutu tertentu yang dimasukkan ke dalam badan air penerima, biasanya sungai, sehingga tidak merusak lingkungan (Suripin, 2004).

Beberapa faktor penyebab kegagalan pelaksanaan pembangunan drainase perkotaan, antara lain: kerusakan lingkungan, kesalahan sistem drainase, kesalahan perencanaan, masalah sampah, kesalahan dalam pembangunan drainase, dan minimnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kelancaran drainase (Maizir, 2017).

Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Pekanbaru, Roni Amriel memberikan solusi untuk mengatasi masalah banjir di Kota Pekanbaru. Roni Amriel menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Pekanbaru perlu bekerjasama dan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau. Sebab, ada beberapa jalur drainase dan sungai yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi Riau. Agar sistem drainase kota Pekanbaru menjadi satu kesatuan, maka harus dilakukan pembenahan mulai sekarang. Jika tidak, maka jangan heran kawasan pemukiman, jalan raya, bahkan perkantoran akan menjadi langganan banjir setiap musim hujan.

Menurut Roni Amriel, apabila penanganan masalah banjir hanya bersifat parsial, maka masalah banjir tidak akan pernah selesai. Selama ini, setiap banjir di kawasan pemukiman, maka Walikota bertindak dan memerintah anggotanya mengeruk drainase. Tindakan walikota ini bukan solusi komprehensif, akan tetapi hanya merupakan aksi spontanitas. Yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah banjir adalah pembangunan jangka panjang dan pembangunan berkelanjutan. Sistem drainase ini merupakan pambangunan jangka panjang.

Pemerintah Kota Pekanbaru perlu mempertimbangkan sistem drainase berwawasan lingkungan. Sebab sistem drainase berwawasan lingkungan adalah usaha menampung air yang jatuh di atap pada suatu reservoir tertutup di halaman masing-masing atau secara kolektif untuk memberikan kesempatan air meresap ke dalam tanah dengan harapan sebanyak mungkin air hujan diresap ke dalam tanah (Sunjoto,1987).

Pemerintah Kota Pekanbaru perlu perlu juga melibatkan partisipasi masyarakat karena keterlibatan masyarakat memegang peranan penting pembangunan drainase. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sistem drainase yang berkelanjutan dalam rangka otonomi daerah. Pelaksanaan otonomi daerah bertujuan untuk pemberdayaan daerah, mulai pengelolaan pendapatan asli daerah hingga penanggulangan berbagai permasalahan di daerah. Pemerintah dan dukungan peran serta masyarakat bersama-sama menangani masalah banjir baik secara teknis dan maupun dana (Sobriyah dan Wignyosukarto, 2001).

Pada prinsipnya, pemerintah pusat telah memberikan kesempatan dan keleluasan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan sistem jaringan drainase, antara lain: survey dan investigasi, perencanaan, pembebasan tanah, pembangunan, operasi dan pemeliharaan, dan monitoring dan evaluasi (Pranoto dalam Adi Yusuf Muttaqin, 2005). Oleh karena itu, Pemerintah Kota Pekanbaru semestinya memanfaatkan

(13)

kesempatan dan keleluasan untuk mengatur dan mengurus daerah untuk melaksanakan pembangunan drainase dengan sebaik-baiknya.

4. PENUTUP

Pemerintah Kota Pekanbaru memang telah melaksanakan pembangunan drainase, akan tetapi belum sepenuhnya terlaksana berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan. Pelaksanaan pembangunan sistem drainase Kota Pekanbaru masih terdapat beberapa kendala yang harus diperhatikan mengingat pentingnya fungsi drainase pada lingkungan terutama untuk mengatasi banjir.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam pembangunan sistem drainase, antara lain: padatnya penduduk yang membutuhkan banyak perumahan berdampak pada minimnya kawasan penghijauan, pembangunan perumahan belum dilengkapi drainase, belum adanya aturan yang lebih lengkap yang mengatur tentang drainase, pembangunan drainase tidak memiliki pembuangan akhir, pembangunan drainase tidak memenuhi standar, kurangnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan karena masih banyak ditemukan sampah pada drainase, tidak adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan sistem drainase, dan lain-lain.

Beberapa upaya yang perlu dilakukan, antara lain: Pemerintah Kota Pekanbaru harus menuntaskan penyusunan masterplan penanggulangan masalah banjir dan sistem drainase, Pemerintah Kota Pekanbaru bekerjasama dan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau untuk mengatasi masalah banjir, Pemerintah Kota Pekanbaru mempertimbangkan sistem drainase berwawasan lingkungan, Pemerintah Kota Pekanbaru melakukan pengawasan terhadap pembangunan drainase, Pemerintah Kota Pekanbaru melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk sadar terhadap lingkungan, Pemerintah Kota Pekanbaru melakukan perombakan sistem drainase yang tidak memenuhi standar, Pemerintah Kota Pekanbaru melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sistem drainase yang berkelanjutan, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Adi Yusuf Muttaqin. 2007. Kinerja Sistem Drainase Yang Berkelanjutan Berbasis

Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus di Perumahan Josroyo Indah Jaten Kabupaten Karanganyar). Jurnal Media Teknik Sipil.

Ajeng Kusuma Dewi, Ary Setiawan, Agus P Saido. 2014. Evaluasi Sistem Saluran

Drainase di Ruas Jalan Solo Sragen Kabupaten Karanganyar. e-Jurnal Matriks

Teknik Sipil. Vol. 2, No. 1.

Haryono Sukarto. 1999. Drainase Perkotaan. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.

Hengki Firmanda. 2011. Asas Hukum Kontrak sebagai Pencegah Pencemaran dan

Perusakan Lingkungan Hidup (Studi terhadap Asas Re Bus Sic Stantibus dalam Kontrak Karya Pertambangan di Indonesia. Tesis. Magister Imu Hukum

(14)

Inggrit Regina Pangkey, Esli D. Takumansang, Andy Malik. 2015. Evaluasi Kinerja

Sistem Drainase di Wilayah Pusat Kota Amurang Berdasarkan Persepsi Masyarakat. Jurnal Universitas Sam Ratulangi. Vol. 2, No. 3.

Irma Suryanti, I.N. Norken, dan G.B. Sila Dharma. 2013. Kinerja Sistem Jaringan

Drainase Kota Semarapura di Kabupaten Klungkung. Jurnal Spektran. Vol. 1.

No. 1.

Maizir. 2017. Evaluasi Kegagalan Pembangunan Drainase Dalam Lingkungan

Daerah Pemukiman. Jurnal Teknik Sipil ITP. Vol. 4, No. 2.

Moh. Yahya Obaid. 2013. Religiusitas Lembaga Pendidikan yang Berwawasan

Lingkungan. Jurnal Al-Ta’dib. Vol. 6 No. 1.

Mukti Fajar dan Yulianti Achmad. 2010. Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan

Empiris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nurhapni dan hani Burhanuddin. 2011. Kajian Pembangunan Sistem Drainase

Berwawasan Lingkungan di Kawasan Perumahan. Jurnal Perencanaan Wilayah

dan Kota. Vol. 11, No. 1.

Robert Kodoatie. 2003. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sobriyah dan Budi Wignyasukarto. 2001. Peran Serta Masyarakat dalam

Pengendalian Banjir untuk Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah, Makalah

pada Kongres VII dan PIT VIII Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI), Malang.

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. 1985. Penelitian Hukum Normatif: Suatu

Tinjauan Singkat. Jakarta: Rajawali.

Soerjono Soekanto. 1983. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press.

Sri Harto. 1993. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil UGM.

Sunjoto. 1987. Sistem Drainase Air Hujan yang Berwawasan Lingkungan. Makalah Seminar Pengkajian Sitem Hidrologi dan Hidrolika, PAU Ilmu Teknik Universitas Gajah Mada.

Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Andi. Zoe’raini Djamal Irwan. 2004. Tantangan Lingkungan & Lansekap Kota. Jakarta:

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, untuk mengetahui apakah Sistem Reward, Job Relevant Information (JRI), dan Manager’s Value Orientation towards

Peneliti melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan seputar proses terbentuknya negara republik Indonesia yang telah pelajari ada pertemuan sebelumnya untuk

Berdasarkan uraian pada latar belakang permasalahan yang telah dijabarkan sebelumnya, maka dapat dirumuskan permasalahannya antara lain Bagaimana cara belajar

Terlebih bilamana persoalan arah kiblat masjid yang berkapasitas buatan atau didirikan oleh sang Wali, mereka beranggapan dengan keyakinan bahwa arah kiblat yang ada

Latar Belakang Penggunaan Transliterasi dalam Membaca Al-Qur’an Dari tiga informan yang diwawancarai, setidaknya diperoleh gambaran bahwa ketidakmampuan membaca Al-Qur’an tulisan Arab

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana penerapan model pembelajaran

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan kondisi lingkungan fisik rumah dan perilaku anggota keluarga dengan kejadian

Menurut Keeves yang dikutip dalam Nugrahanto 2016: 51 menyatakan bahwa status sosial ekonomi merupakan dimensi struktural dari latar belakang orang tua yang didalamnya tercakup