Penyesuaian diri dalam belajar pada siswa yang berprestasi di bawah rata-rata (studi deskriptif pada siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman tahun ajaran 2018/2019 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan belajar) - USD Repository

108 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENYESUAIAN DIRI DALAM BELAJAR

PADA SISWA YANG BERPRESTASI DI BAWAH RATA-RATA (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman

Tahun Ajaran 2018/2019 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Belajar)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling

Oleh: Kiky Aprilliya NIM: 151114021

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

HALAMAN MOTTO

“Orang-orang yang berilmu kemudian dia memanfaatkan ilmu tersebut

(bagi orang lain) akan lebih baik dari seribu orang yang beribadah

atau ahli ibadah.”

(H.R Ad- Dailami)

“Tanpa terus menerus tumbuh dan berkembang, kata kata seperti

kemajuan, prestasi, dan sukses tak punya arti apa-apa”

(Benjamin Franklin)

“Tidak ada yang tidak mungkin bila kamu memiliki keyakinan tersebut”

(5)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini saya persembahkan kepada:

Allah SWT yang telah memberikan penguat dalam kehidupan saya

Kedua Orang tua yang saya cintai:

Bapak Yohanes Berman Suradi

Ibu Sri Mulyani

Adik saya yang saya sayangi

Rosita Anggreyani

Terkasih :

Akhmad Syaifuddin

Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si yang setia dan sabar

dalam mendampingi saya selama proses penulisan skripsi

Teman-teman BK Angkatan 2015

Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Sanata Dharma

(6)
(7)
(8)

ABSTRAK

PENYESUAIAN DIRI DALAM BELAJAR

PADA SISWA YANG BERPRESTASI DI BAWAH RATA-RATA (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman

Tahun Ajaran 2018/2019 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial)

Kiky Aprilliya

Universitas Sanata Dharma

2019

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan tingkat penyesuaian diri dalam belajar pada siswa yang berprestasi di bawah rata-rata di kalangan siswa kelas XI IPS SMA N 2 Ngaglik Sleman tahun ajaran 2018/2019. (2) mengidentifikasi item-item pengukuran penyesuaian diri dalam belajar siswa yang berprestasi di bawah rata-rata yang capaian skornya rendah sebagai bahan usulan topik Bimbingan untuk siswa kelas XI IPS SMA N 2 Ngaglik Sleman.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA N 2 Ngaglik Sleman yang berprestasi di bawah rata-rata sejumlah 40 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Penyesuaian Diri dalam Belajar dengan 50 item. Reliabilitas instrumen diukur menggunakan Alpha Cronbach dengan indeks 0.881. Teknik analisis data yang digunakan adalah norma kategorisasi menurut Azwar yang terdiri dari 5 kategori yakni sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penyesuaian diri dalam belajar sebagian besar 20 (50 %) siswa yang di teliti mencapai kategori sangat baik, 17 (42,5 %) pada kategori baik, 3 (7,5 %) pada kategori cukup baik. (2) Berdasarkan hasil perhitungan capaian skor item pengukuran penyesuaian diri dalam belajar siswa yang berprestasi di bawah rata-rata terdapat 2 item yang capaian skornya berada dalam kategori rendah, hal tersebut dijadikan sebagai dasar perancangan topik-topik bimbingan untuk meningkatkan penyesuaian diri dalam belajar siswa yang berprestasi di bawah rata-rata .

(9)

ABSTRACT

THE SELF ADJUSTMENT IN LEARNING OF STUDENTS WITH UNDER AVERAGE ACHIEVEMENT (Descriptive Study on Class XI IPS Students of SMA N 2 Ngaglik Sleman

Academic Year 2018/2019 and Its Implications on Proposal of Tutoring Topics)

Kiky Aprilliya

Sanata Dharma University

2019

This study was aimed to: (1) describe the level of self adjustment in learning for students who performed below the average among students of class XI IPS of SMA N 2 Ngaglik Sleman academic year 2018/2019. (2) identify items on the of self-adjustment measurement for students who perform below the average that had low scores as material for the proposed topic of Guidance for of class XI IPS students of SMA N 2 Ngaglik Sleman.

The type of this research was quantitative descriptive research. The research subjects were the class XII students of SMA N 2 Ngaglik Sleman, that had below average achievement with total subjects were 40 students. The instrument used was the Self-Adjustment in Learning questionnaire with 50 items of questions. Instrument reliability was measured using Alpha Cronbach that measured using 0.881 as the index. The data analysis technique used was the categorization norm according to Azwar which consists of 5 categorization: very high, high, medium, low, and very low.

The results of the study showed that: (1) Most of the students' self adjustments in learning 20 students (50%), that being studied were in a very good category, 17 students (42.5%) had good self adjustment, and 3 students (7.5%) were considered in quite good category. (2) Based on the calculation results of the items of self adjustment in learning for students who have below average achievement, there were 2 items that had low scores and become the basis for designing guidance topics to improve self adjustment in learning for student who performed below average.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas karuni-nya ,

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penulis

menyadari tanpa adanya bantuan, bimbingan dan kerjasama yang baik dari

pihak-pihak yang terlibat, maka penulis tidak dapat menyelesaikan skripsi

dengan baik dan cepat, oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terima kasih pada:

1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M,Si selaku Dekan Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Kepala Program Studi Bimbingan

dan Konseling Universitas Sanata Dharma dan juga selaku Dosen

Pembimbing yang dengan sabar mendampingi penulis dalam

menulis skripsi.

3. Juster Donal Sinaga, M.Pd selaku Wakil Kepala Program Studi

Bimbingan dan Konseling.

4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling

yang telah membimbing dan membagikan ilmunya kepada penulis

selama menempuh pendidikan di Program Studi Bimbingan dan

Konseling.

5. Kedua orangtua yang saya sayangi Bapak Yohanes Berman Suradi

dan Ibu Sri Mulyani yang sudah memberikan dukungan secara

moril dan materil sehingga saya bisa melanjutkan studi ke jejang

perguruan tinggi. Terimakasih doa yang selalu senantiasa Bapak

dan Ibu yang selalu berikan untuk saya.

6. Segenap Yayasan Realino Romo Andri dan Ibu Lasmi yang selalu

memperhatikan saya sehingga saya dapat menyelesaikan kuliah

saya tanpa kekurangan biaya sedikitpun.

7. Bruder Sarju yang telah memberikan bantuan serta mengarahkan

dan memberikan dukungan kepada saya, sehingga saya bisa

(11)
(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vii

ABSTRAK ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C.Batasan Masalah ... 5 A.Hakekat Penyesuaian Diri ... 9

1. Pengertian Penyesuaian Diri ... 9

2. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri... 10

3. Faktor-Faktor Penyesuaian Diri ... 14

(13)

B. Hakekat Belajar dan Prestasi di bawah Rata-rata ... 21

1. Pengertian Belajar ... 21

2. Ciri-ciri Belajar ... 22

3. Bentuk-bentuk Belajar ... 23

4. Hasil Belajar ... 24

5. Penilaian Hasil Belajar ... 25

6. Pengertian Prestasi di Bawah Rata-rata ... 31

7. Penyesuaian Diri dalam Belajar ... 32

8. Faktor-Faktor Mempengaruhi Prestasi Belajar ... 32

C.Hakekat Remaja ... 33

1. Pengertian Remaja ... 33

2. Karakteristik Perkembangan Remaja ... 35

3. Tugas Perkembangan Remaja ... 36

4. Masalah-masalah dan Kesulitan Remaja dalam Perkembangan sosial ... 36

D.Hakekat Bimbingan Belajar... 38

1. Pengertian Bimbingan Belajar ... 38

2. Tujuan Bimbingan Belajar ... 39

3. Ruang Lingkup Program Bimbingan Belajar ... 39

4. Prosedur Penyusunan Program Bimbingan Belajar ... 40

E. Kajian Penelitian yang Relevan ... 41

F. Kerangka Berpikir ... 42

BAB III METODE PENELITIAN A.Jenis Penelitian ... 45

B. Tempat dan Waktu Penelitian... 45

C.Subjek Penelitian ... 46

D.Variabel Penelitian ... 46

(14)

F. Validitas dan Reliabilitas ... 50

G.Teknik Analisis Data ... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian ... 62

B. Pembahasan ... 66

BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 70

B. Keterbatasan ... 70

C.Saran ... 71

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Subjek Penelitian ... 46

Tabel 3.2 Norma Skor Kuesioner Penyesuaian Diri dalam Belajar ... 49

Tabel 3.3 Hasil Rekapitulasi Uji Validitas Skala Penyesuaian Diri dalam Belajar Siswa ... 52

Tabel 3.4 Kriteria Guilford ... 55

Tabel 3.5 Nilai Koefisien Reliabilitas Instrumen ... 55

Tabel 3.6 Norma Kategorisasi Penyesuaian Diri ... 58

Tabel 3.7 Kategorisasi Data Skor Tingkat Penyesuaian Diri dalam Belajar Siswa ... 60

Tabel 3.8 Penggolongan Tingkat Capaian Skor Item Penyesuaian Diri dalam Belajar Siswa ... 60

Tabel 4.1 Tingkat Penyesuaian Diri dalam Belajar Siswa yang Berprestasi di Bawah Rata-rata ... 62

Tabel 4.2 Penggolongan Skor Item Penyesuaian Diri dalam Belajar Siswa yang Berprestasi di Bawah Rata-rata... 65

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir ... 44

Gambar 4.1 Diagram Kategorisasi Tingkat Penyesuaian Diri

dalam Belajar Siswa yang Berprestasi

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penyesuaian Diri dalam Belajar

Siswa ... 76

Lampiran 2 Tabulasi Data ... 83

Lampiran 3 Tabel Data Validitas ... 84

Lampiran 4 Usulan Topik-topik Bimbingan untuk

Meningkatkan Penyesuaian Diri dalam Belajar ... 88

Lampira 5 Data siswa yang Berprestasi di Bawah Rata-rata ... 89

(18)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dipaparkan mengenai latar belakang masalah, identifikasi

masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan batasan/definisi istilah. Paparan bersifat singkat dan ringkas.

A.Latar Belakang Masalah

Seorang individu dituntut supaya dapat beradaptasi dengan lingkungan baru

atau keadaan yang membuat individu tersebut harus menyesuaikan dengan

kondisi yang ada dalam kehidupan sekitarnya. Tidak semua individu mampu

untuk menyesuaikan diri dengan lancar. Adapula individu yang mengalami

kesulitan dalam belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru atau

keadaan baru. Sundari (2005: 39) mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah

kemampuan individu untuk beraksi karena tuntutan dalam memenuhi dorongan

atau kebutuhan dan mencapai ketentraman batin dalam hubungannya dengan

sekitar. Berdasarkan pernyataan di atas maka penyesuaian diri yang dimaksud

dalam latar belakang ini adalah penyesuaian diri individu dalam mengahadapi

keadaan dimana ia mengalami prestasi belajar di bawah rata-rata, sehingga

(19)

Siswa (SMA) mengalami peralihan dari (SMP) ke (SMA). Ketika mereka

berada di kelas X, siswa juga mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan

baru dan cara belajar yang baru pula, namun terlepas dalam itu semua

penyesuaian diri siswa tidak hanya sampai disitu, selanjutnya siswa harus

beradaptasi dengan belajar. Perubahan dari satu tahap ke tahap belajar

berikutnya yang lebih tinggi membutuhkan penyesuaian, siswa harus

menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada dalam dirinya sendiri.

Belajar adalah perubahan tingkah laku yang disengaja untuk memperoleh

wawasan yang baru serta pengalaman yang baru pula sehingga kognitif, afektif

mereka berubah. Dari hasil belajar di sekolah siswa akan mendapatkan prestasi.

Pengertian prestasi menurut KBBI adalah hasil yang telah dicapai (dari yang

telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya), jadi prestasi belajar yaitu hasil

yang dicapai dari penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang

dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes

atau angka nilai yang diberikan oleh guru dari hasil yang telah dicapai. Prestasi

belajar dikembangkan menjadi prestasi di atas rata maupun di bawah

rata-rata. Prestasi di atas rata-rata merupakan hasil belajar capaian nilai yang didapat

di atas ketentuan standar nilai yang sudah ditentukan oleh guru ataupun sekolah.

Prestasi di bawah rata-rata adalah hasil belajar yang didapat tidak mencapai

standar nilai yang sudah ditentukan. Siswa yang mendapatkan prestasi di bawah

rata-rata tidak mudah dalam menerima keadaanya sehingga memerlukan

penyesuaian diri. Siswa akan mengalami kurangnya percaya diri dalam belajar,

(20)

diri dalam belajar sebab ia merasakan berbeda dengan teman-teman yang

memiliki prestasi di atas rata-rata.

Penyesuaian diri sangat penting bagi siswa dalam belajar yang prestasinya

di bawah rata-rata untuk menunjang keberlangsungan siswa dalam belajar dan

berada di lingkungan sekolah. Siswa yang memiliki nilai percaya diri akan

memotivasi belajarnya sehingga siswa dapat memperbaiki cara belajar siswa

tersebut, dengan penyesuaian diri yang dimiliki siswa dapat membuat siswa

menerima dirinya terhadap keadaan dan dapat memperbaiki dirinya, sehingga

mendapatkan hasil belajar yang maksimal untuk kedepannya.

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman. Peneliti ingin

meneliti di SMA Negeri 2 Ngaglik bermula dari peneliti ingin melihat seberapa

baik kemampuan siswa kelas XI dalam penyesuain diri yang memiliki prestasi

di bawah rata-rata. Peneliti juga ingin mengetahui bagaimana proses belajar yang

dilakukan siswa yang mendapatkan hasil belajar yang prestasi di bawah

rata-rata. Siswa kelas XI harus dapat menaikan peringkat nilai mereka yang mendapat

prestasi di bawah rata-rata sehingga lulus dengan hasil yang baik. Apabila hal

ini tidak dilakukan maka siswa akan mengalami kesulitan belajar di kelas XII.

Melihat bahwa harapan sekolah siswa mampu Lulus di kelas XII dimasa yang

akan datang. Guru BK juga mengeluhkan siswa yang prestasi di bawah rata-rata

kelas XI IPS cenderung mengabaikan tugas dari guru dan sering mengumpulkan

tugas terlambat dari batas pengumpulan. Siswa yang prestasi di bawah rata-rata

cenderung menarik diri dan menyukai kegiatan yang ia senangi sehingga dalam

(21)

belajar di kelas. Siswa harus mampu menyesuaian diri dalam belajar dikarenakan

siswa harus meningkatkan proses belajar mereka dari kelas X ke kelas XI dan

kelas XII. Sekolah memberikan standar capaian nilai yang diberikan pada setiap

kelas seperti kelas X capaian nilai yang harus terpenuhi 65, kelas XI capaian

nilai yang harus terpenuhi 70 dan untuk kelas XII capain skor nilainya 75.

Penyesuaian diri dalam belajar ini perlu dilakukan dengan keadaan yang baru

seperti proses penyesuaian diri dengan tuntutan belajar, proses belajar,

tugas-tugas yang diberikan dan lingkungan sekitar seperti hubungan dengan guru,

teman sebaya.

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “Tingkat Kemampuan Penyesuaian Diri

dalam Belajar pada Siswa yang Berprestasi di bawah Rata-rata (Studi

Deskriptif pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman Tahun Ajaran

2018/2019 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi

Sosial)”.

B.Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan tingkat

peyesuaian diri dalam belajar pada siswa yang berprestasi di bawah rata-rata

pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman tahun ajaran 2018/2019

berbagai masalah sebagai berikut:

1. Siswa cenderung untuk tidak mengerjakan atau menunda mengerjakan dan

(22)

2. Siswa yang berprestasi di bawah rata-rata memiliki sifat kurang percaya diri

dan tidak banyak berbicara dalam interaksi sosial sehingga sulit

menyesuaiakan diri dalam belajar.

3. Siswa kesulitan menyesuaiakan diri dalam bertanggung jawab dan cenderung

mengabaikan proses belajar

4. Penyesuaian diri siswa yang salah menyebabkan motivasi belajar menurun

dan berakibat prestasi belajar siswa di bawah rata-rata.

5. Siswa mengalami kecemasan dan tidak tenang dalam belajar.

C.Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan untuk menganalisa tingkat

penyesuaian diri dalam belajar siswa yang berprestasi di bawah rata-rata pada

siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman Tahun Ajaran 2018/2019

pada no 1, 3, dan 4 yang telah dipaparkan pada identifikasi masalah di atas.

D.Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Seberapa baik tingkat peyesuaian diri dalam belajar siswa yang berprestasi

di bawah rata-rata pada siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman

tahun ajaran 2018/2019?

2. Item-item pengukuran peyesuaian diri dalam belajar maka yang capaian

skornya rendah, sebagai dasar penyusunan topik-topik bimbingan

peningkatan penyesuaian diri dalam belajar dikalangan siswa yang

berprestasi di bawah rata-rata untuk siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2

(23)

E.Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Mendiskripsikan seberapa baik penyesuaian diri dalam belajar pada siswa

yang berprestasi di bawah rata-rata siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik

Sleman tahun ajaran 2018/2019.

2. Mengidentifikasi butir pengukuran peyesuaian diri dalam belajar yang

skornya rendah pada siswa yang berprestasi di bawah rata-rata.

F.Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Memberikan tambahan informasi bagi peneliti ilmiah, dibidang

penyesuaian diri dalam belajar pada siswa yang berprestasi di bawah

rata-rata dan mengetahui topik-topik bimbingan pribadi-sosial.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru Pembimbing

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru Bimbingan dan

Konseling, khususnya sebagai data (need assesmen) dalam rangka

penyusunan topik-topik bimbingan yang berkaitan dengan peyesuaian

(24)

b. Bagi peneliti lain

Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber inspirasi bagi

peneliti lain yang berminat untuk mengkaji lebih mendalam hal

penyesuaian diri dalam belajar pada siswa yang berprestasi di bawah

rata-rata dilihat dari berbagai aspek.

G.Batasan Istilah

1. Penyesuaian Diri dalam Belajar

Penyesuaian diri dalam belajar adalah proses seorang individu untuk

beradaptasi dalam belajar atau berperilaku, bersikap, dan bertindak secara

tepat sesuai situasi belajar yang dialami dan membuat individu dapat

menghadapi perubahan yang terjadi dalam belajar.

2. Hasil belajar

Hasil belajar meupakan hasil penilaian yang diperoleh siswa setelah

mengikuti proses belajar. Penelitian ini mengambil hasil belajar siswa kelas

XI IPS SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman Tahun Ajaran 2018/2019 pada mata

pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris,

Geografi, Sosiologi, Ekonomi. Peneliti mengambil mata pelajaran tersebut

ingin melihat seberapa baik penyesuaian diri siswa dalam belajar dari keenam

mata pelajaran tersebut setelah mengikuti belajar-mengajar, yang merupakan

(25)

3. Prestasi di Bawah Rata-rata

Prestasi di bawah rata-rata merupakan hasil belajar yang didapat melalui

hasil pengukuran dengan sebuah instrumen tes atau instrumen yang relevan,

yang menghasilkan capaian atau perolehan belajar yang berada di bawah

standar rata-rata hasil belajar siswa dalam kelompoknya.

4. Bimbingan Pribadi Sosial

Bimbingan pribadi sosial merupakan bimbingan untuk membantu seorang

indidvidu dalam pribadi sosialnya, sehingga individu mampu berkembang

(26)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini dibahas kajian teoritis yang melandasi kerangka konseptual

peneliti ini. Kerangka konseptual penelitian ini meliputi: konsep penyesuaian diri,

konsep belajar dan hasil belajar, konsep remaja, konsep bimbingan pribadi-sosial.

A.Hakekat Penyesuaian Diri 1. Pengertian Penyesuaian Diri

Ali (2005: 176) menyatakan bahwa penyesuaian diri yang baik adalah

individu yang telah belajar bereaksi terhadap dirinya dan lingkunganya dengan

cara-cara yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat, serta dapat mengatasi

konflik mental, frustasi, kesulitan pribadi dan sosial tanpa mengembangkan

perilaku simptomatik dan gangguan psikosomatik yang mengganggu tujuan-

tujuan moral, sosial, agama, dan pekerjaan. Calhoun dan Acocella (Sobur, 2003:

526) mendefinisikan “Penyesuaian diri sebagai inetraksi yang kontinu dengan

diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia.”

Schneiders (Desmita, 2009: 192) menyebutkan penyesuaian diri (adjustment)

sebagai:

(27)

Jadi penyesuaian diri pada prinsipnya adalah suatu proses yang

mencakup respons mental dan tingkah laku, dengan mana individu berusaha

untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya,

sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari

dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan di mana ia tinggal.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian

diri merupakan proses adaptasi seseorang dengan lingkungan dan keadaan

yang ada dalam hidup individu guna mendapatkan keberhasilan dalam

tuntutan kehidupanya.

2. Aspek-aspek Penyesuaian Diri

Menurut Rosdiana (2009: 3) aspek-aspek penyesuaian diri dalam belajar

meliputi 10 aspek yaitu:

a. Kepemimpinan (Agency atau leadership)

Kepemimpinan merupakan proses dimana seseorang memberi pengaruh

kepada orang lain. Karakter seseorang pemimpin digambarkan seperti

memiliki motivasi tinggi untuk berprestasi, persuasife memiliki keterampilan

sosial yang baik, kreatif dan memiliki penyesuaian diri sosial yang baik

(Baron & Byrne; dalam Rosdiana, 2009: 3). Siswa yang memiliki rasa

kepemimpinan akan memperoleh nilai positif dari hal tersebut dan memiliki

karakter seperti yang diutarakan diatas yang dapat mendukungnya dalam

penyesuaian diri dengan baik. Siswa yang penyesuaian dirinya baik akan

(28)

dan memiliki karakter seperti yang disebutkan. Karnes (Rosdiana, 2009: 3)

menegaskan dengan adanya kemampuan kepemimpinan ini, diharapkan akan

membentuk beberapa karakteristik inisiatif, keterampilan komunikasi,

semangat dan tanggung jawab yang dapat memberi dukungan bagi

keberhasilnnya di sekoah.

b. Kemasyarakatan (Communion)

Steinberg (Rosdiana, 2009: 3) menjelaskan remaja yang sehat tidak hanya

memiliki kemampuan untuk berhasil secara individual tetapi juga mampu

mepertahankan keterikatan yang memuaskan dan sehat dengan orang lain.

Satu elemen yang membentuknya dalam proses belajar di lingkungan

sekitarnya yang berkaitan dengan siswa.

c. Ketahanan (Presistence)

Aspek ini menunjukkan bagaimana siswa bertahan dalam kesulitan dan

kegagalan. Djamarah (Rosdiana, 2009: 4) mengatakan siswa idealnya merasa

yakin pada kemampuan diri sendiri dan tidak tergantung pada orang lain

dalam menghadapi berbagai masalah.

d. Keterlibatan Terhadap Tugas (TaskInvolvement)

Aspek ini menyangkut bagaimana siswa mampu menghindari gangguan

dan tetap dapat memusatkan perhatian pada tugas. Hal ini juga menunjukkan

kemampuan siswa untuk merasa bertanggungjawab terhadap hasil tugas yang

(29)

siswa dengan task involment lebih peduli terhadap aktivitas belajar dan

pengerjaan tugas-tugas sekolah. Sedangkan siswa dengan ego involment tidak

peduli pada proses belajarnya dan lebih mementingkan pandangan dan

tanggapan orang lain tentang dirinya. Jadi siswa yang lebih peduli, rajin

dalam belajar dan pengerjaan tugas-tugas sekolah merupakan siswa dengan

task involment sedangkan siswa dengan ego involment akan belajar karena

dukungan ingin mendapatkan sebuah pujian dari orang lain.

e. Kepercayaan Diri Akademis (AcademicConfidence)

Aspek ini menunjukkan seberapa besar rasa optimis siswa terhadap

kemampuannya dalam menyelesaikan sekolah. Siswa yang memiliki

kepercayaan diri akademis dapat melihat kemampuannya sendiri.

f. Kepercayaan Diri Sosial (SocialConfidence)

Aspek ini menggambarkan bagaimana kemampuan siswa dalam menjalin

hubungan siswa dengan orang di sekitarnya sehingga dalam proses

pembelajaran dapat membantu siswa dengan guru, teman sebaya, dan

sebagainya di sekolah.

g. Lokus Control Internal (InternalLocusofControl)

Seseorang diminta untuk menjelaskan hal yang menyebabkan

keberhasilan atau kegagalannya, maka mereka akan cenderung menjelaskan

mengenai locus of control, yang merupakan hal atau orang yang dianggap

memiliki tanggungjawab untuk menyebabkan kegagalan atau keberhasilan.

(30)

perilaku dan karakteristik yang ia miliki merupakan seseorang yang

menggunakan locus of control internal sedangkan orang yang cenderung

menunjuk faktor yang di luar dirinya sebagai penyebab kesuksesan dan

keberhasilan merupakan orang dengan locus of control eksternal. Hal ini

didukung oleh pendapat Ormord (Rosdiana 2009: 4) yang mengatakan dalam

situasi pendidikan, bila seseorang siswa melihat penyebab kegagalan dan

keberhasilan dirinya pada hal yang tidak akurat dan dari variabel yang tidak

terkontrol, yang lebih banyak merupakan variabel di luar diri, maka ia

cenderung tidak ingin mengubah perilakunya di masa depan agar meraih

sukses.

h. Kepercayaan Pengembangan Diri (IncrementalScale)

Aspek ini menggambarkan bahwa kemampuan manusia tidak stabil tetapi

dapat dikontrol sehingga masih dapat dikembangkan. Keyakinan bahwa dapat

dikembangkan dan dapat dikehendakinya merupakan sebuah keyakinan

dalam diri siswa. Pandangan tambahan (incrementialview) adalah keyakinan

bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui kerja keras disertai dengan

penambahan pengetahuan dan keterampilan sedangkan tampilan intitas

(entityview) adalah kemampuan bersifat stabil dan merupakan tingkah laku

yang terkontrol. Siswa yang memiliki incrementialview percaya keberhasilan

didapat dari kerja keras dengan pengetahuan dan keterampilan yang

dimilikinya, sedangkan siswa yang entity view memandang keberuntungan

(31)

i. Hubungan dengan Guru (TeacherRepport)

Aspek ini menunjukkan siswa memperlakukan guru sebagai salah satu

sumber pengetahuan dibandingkan sebagai ancaman. Djamarah (Rosdiana,

2009: 4) mengatakan dengan terjadinya hubungan antara siswa dan guru,

maka mereka saling mengenal kepribadian dan akan lebih memudahkan

dalam proses penyesuaian diri.

j. Hubungan dengan Teman Sebaya (PeerRapport)

Peer merupakan kumpulan orang-orang yang seusia yang berfungsi

sebagai perbandingan sosial dan sumber informasi di luar keluarga. Santrock

(Rosdiana, 2009: 4) mengatakan dalam hubungan dengan peer ini seseorang

dapat mengembangkan pengetahuan serta keterampilan sosialnya. Melihat

dari sudut pandang orang lain dalam menilai serta memperlakukan dirinya

sebagai prosespembelajaran suatu dimensi untuk menunjukan dirinya sebagai

siswa di sekolah.

3. Faktor-Faktor Penyesuaian Diri

Hartinah (2008: 190) menyebutkan ada lima faktor yang mempengaruhi

proses penyesuaian diri diantaranya yaitu:

a. Kondisi-kondisi fisik, termasuk didalamnya keturunan, konstitusi fisik,

suasana saraf, kelenjar, dan sistem otot, kesehatan, penyakit dan sebagainya.

Kondisi jasmani seperti pembawaan dan struktur/konstitusi fisik dan

(32)

secara instrinsik berkaitan erat dengan susunan/konstitusi tubuh. Struktur

jasmani merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan

bahwa sistem syaraf, kelenjar dan otot merupakan faktor yang penting bagi

penyesuaian diri. Gangguan pada sistem syaraf, kelenjar dan otot dapat

menimbulkan gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian.

Kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara

dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula.

b. Perkembangan dan kematangan, khususnya kematangan intelektual, sosial,

moral, dan emosional.

Sesuai dengan hukum perkembangan, tingkat kematangan yang dicapai

berbeda pada individu yang satu dengan yang lainnya. Sehingga pencapaian

pola-pola penyesuaian diri berbeda pula secara individu. Kondisi-kondisi

perkembangan mempengaruhi setiap aspek kepribadian seperti: emosional,

sosial, tanggung jawab, dan intelektual. Dalam fase tertentu salah satu aspek

mungkin lebih penting daripada kematangan sosial, dan kematangan

emosional, merupakan yang terpenting dalam penyesuaian diri.

c. Penentu psikologis, termasuk di dalamnya pengalaman belajar,

pengkondisian, penentuan diri (self determination), frustasi dan konflik.

1) Pengalaman

Tidak semua pengalaman mempunyai arti bagi penyesuaian diri.

Pengalaman-pengalaman tertentu yang mempunyai arti dalam

(33)

traumatik. Pengalaman yang menyenangkan akan menimbulkan proses

diri yang baik, sedangkan pengalaman yang traumatik dapat menimbulkan

penyesuaian yang kurang baik.

2) Belajar

Proses belajar merupakan dasar fundamental dalam proses penyesuaian

diri, karena melakui belajar ini akan berkembang pola respon yang akan

membentuk kepribadian.

3) Determinasi diri

Determinasi diri mempunyai peranan penting dalam penyesuain diri

karena mempunyai peranan dalam pengendalaian arah dan pola

penyesuaian diri.

4) Konflik dan Penyesuaian

Secara umum, orang berpandangan bahwa semua konflik bersifat

mengganggu atau merugikan. Kenyataannya ada pula seseorang yang

mempunyai banyak konflik tanpa hasil-hasil yang merusak atau

merugikan. Konflik dapat bermanfaat memotivasi seseorang untuk

meningkatkan usaha kearah pencapaian tujuan yang menguntungkan

secara sosial, atau mungkin sebaliknya ia memecahkan konflik dengan

melarikan diri, khusunya lari kedalam gejala-gejala neuroitis. Gejala

neuroitis merupakan gejala-gejala dalam saraf seperti saraf mata atau

(34)

d. Kondisi lingkungan, khususnya keluarga dan sekolah.

1) Pengaruh rumah dan keluarga

Interaksi sosial yang pertama diperoleh oleh individu berlangsung dalam

keluarga. Kemampuan interaksi sosial ini kemudian akan dikembangkan

di masyarakat.

2) Hubungan orangtua dan anak

Pola hubungan antara orangtua dan anak akan mempunyai pengaruh

terhadap proses penyesuaian diri anak-anak. Beberapa pola yang

mempengaruhi penyesuaian diri antara lain:

a) Menerima, yaitu situasi hubungan dimana orangtua menerima anaknya

dengan baik. Sikap penerimaan ini dapat menimbulkan suasana hangat

dan rasa aman.

b) Menghukum dan displin yang berlebihan. Displin yang ditanamkan

orangtua terlalu kaku dan berlebihan sehingga dapat menimbulkan

suasana psikologis yang kurang menguntungkan anak.

c) Memanjakan dan melindungi anak secara berlebihan, hal ini dapat

menimbulkan perasaan tidak aman, cemburu, rendah diri, canggung,

dan gejala-gejala salah suai lainnya.

d) Penolakan, yaitu pola hubungan dimana orangtua menolak kehadiran

anaknya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penolakan orangtua

(35)

3) Hubungan saudara

Suasana hubungan saudara yang penuh persahabatan, kooperatif, saling

menghormati, penuh kasih sayang, mempunyai kemungkinan yang lebih

besar untuk tercapainya penyesuaian yang lebih baik. Sebaliknya suasana

permusuhan, perselisihan, iri hati, kebencian dapat menimbulkan kesulitan

dan kegagalan penyesuaian diri.

4) Masyarakat

Keadaan lingkungan masyarakat dimana individu berada merupakan

kondisi yang menentukan proses dan pola-pola penyesuaian diri. Kondisi

ini menunjukkan bahwa gejala tingkah laku yang salah suai bersumber dari

masyarakat. Pergaulan yang salah di kalangan remaja dapat

mempengaruhi pola penyesuaian diri.

5) Sekolah

Sekolah mempunyai peranan sebagai media untuk mempengaruhi

kehidupan inetelektual, sosial, dan moral para siswa. Suasana di sekolah

baik sosial maupun psikologis menentukan proses dan pola penyesuaian

diri.

6) Penentu kultural, termasuk agama.

Lingkungan kultural dimana individu berada dan berinteraksi akan

menentukan pola penyesuaian diri, misalnya tata cara kehidupan di

(36)

bagaimana seseorang menempatkan diri dan bergaul di masyarakat sekitar.

Agama memberikan suasana psikologis tertentu yang mengurangi konflik,

frustasi, dan ketegangan lainnya. Agama juga memberikan suasana damai

dan tenang bagi seseorang. Agama merupakan sumber nilai, kepercayaan,

dan pola tingkah laku yang akan memberikan tuntutan bagi arti, tujuan,

dan hidup manusia.

4. Karakteristik Individu yang Mampu Menyesuaikan Diri.

Hartinah (2008: 186) mengatakan karakteristik individu yang mampu

menyesuaikan diri adalah sebagai berikut:

a. Penyesuaian diri secara positif

Mereka yang tergolong mampu melakukan penyesuaian diri secara positif

ditandai hal-hal sebagai berikut:

1) Tidak adanya ketegangan emosional.

2) Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis.

3) Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi.

4) Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.

5) Mampu dalam belajar.

6) Menghargai pengalaman.

7) Bersikap relistik dan objektif.

Berbagai bentuk penyesuaian diri secara positif yang dilakukan oleh

(37)

1) Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung

dalam situasi ini individu secara langsung menghadapi

masalahnya dengan segala akibat-akibatnya. Ia melakukan

segala tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapinya.

2) Penyesuaian diri dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan)

dalam situasi ini individu mencari berbagai bahan pengalaman

untuk dapat menghadapi dan memcahkan masalahnya.

3) Penyesuaian dengan trial and eror atau coba-coba dalam cara

ini individu melakukan segala suatu tindakan coba-coba, dalam

arti kalau menguntungkan diteruskan dan kalau gagal tidak

diteruskan. Taraf pemikiran kurang begitu berperan

dibandingkan cara eksplorasi.

4) Penyesuaian dengan substansi (mencari pengganti) jika individu

merasa gagal dalam menghadapi masalah, maka ia dapat

memperoleh penyesuaian dengan jalan mencari pengganti.

5) Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan diri dalam hal

ini individu mencoba menggali kemampuan-kemampuan

khusus dalam dirinya, kemudian dikembangkan sehingga dapat

membantu penyesuaian diri.

6) Penyesuaian dengan belajar; individu akan banyak memperoleh

pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu

menyesuaikan diri.

(38)

Penyesuaian diri akan lebih berhasil jika disertai dengan

kemampuan memilih tindakan yang tepat dan pengendalian diri

secara tepat pula. Dalam situasi ini individu berusaha memilih

tindakan maa yang harus dilakukan, dan tindakan mana yang

tidak perlu dilakukan. Cara inilah yang disebut inhibisi.

Disamping itu, individu harus mampu mengendalikan dirinya

dalam melakukan tindakannya.

8) Penyesuaian dengan perencanaan secara cermat

Dalam situasi ini tindakan yang dilakukan merupakan

keputusan yang diambil berdasarkan perencanaan yang cermat.

Keputusan diambil setelah dipertimbangkan dari berbagai segi,

antara lain segi untung dan ruginya.

B.Hakekat Belajar dan Prestasi di bawah Rata-rata 1. Pengertian Belajar

Menurut Kingsley (Ahmadi & Supriyono, 2013: 127) belajar adalah proses

dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek

atau latihan. Belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia.

Individu yang belajar telah melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu

sehingga tingkah lakunya berkembang, Semua aktivitas dan pretasi hidup tidak

lain adalah hasil dari belajar (Ahmadi & Supriyono, 2013: 127).

Dengan demikian dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar

(39)

untuk memperoleh perubahan dalam dirinya, baik secara praktek atau latihan

yang dapat memunculkan paradigma baru pada individu tersebut sehingga

tingkah lakunya berkembang. Hal tersebut dapat terjadi akibat dari interaksi dan

lingkungan yang ada di sekitarnya.

2. Ciri- ciri Belajar

Jika hakekat belajar adalah perubahan tingkah laku, maka menurut

Djamarah (2011: 15) ada enam ciri-ciri belajar.

a. Perubahan yang terjadi secara sadar

Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau

sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan

dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah,

kecakapanya bertambah.

b. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung

terus-menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan

menyebabkan perubahan berikutnya. Misalnya anak yang tidak bisa

membaca sebelumnya maka setelah ia belajar ia dapat membaca.

c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

Perubahan- perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh

suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Maka semakin banyak usaha belajar

(40)

d. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang

akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang

benar-benar disadari.

3. Bentuk-bentuk Belajar

Menurut De Block (Winkel, 2004) bentuk-bentuk belajar menurut fungsi

psikis belajar afektif, belajar kognitif, belajar senso-motorik.

a. Belajar Afektif

Belajar afektif merupakan belajar menghayati nilai dari suatu obyek yang

dihadapi melalui alam perasaan, entah obyek itu berupa orang, benda atau

kejadian/peristiwa. Orang harus belajar pula untuk mengungkapkan perasaan

dalam bentuk ekspresi yang wajar dan dapat diterima oleh masyarakat.

Misalnya anak kecil yang naik pitam karena keinginanya tidak dipenuhi;

belum menguasai cara/bentuk ekspresi marah yang wajar. Rasa marah yang

meluap-luap, belum pernah belajar cara mengekspresikan rasa marah secara

wajar yang dapat diterima oleh orang lain.

b. Belajar Kognitif

Belajar kognitif merupakan belajar memperoleh dan menggunakan suatu

bentuk representasi yang mewakili semua obyek yang dihadapi, entah obyek

itu orang, benda atau kejadian/peristiwa, misalnya seseorang pergi berlibur

(41)

negeri, semua pengalaman tercatat dalam benaknya berbentuk gagasan dan

sejumlah tanggapan. Gagasan dan tanggapan tersebut dituangkan dalam

kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengar kriterianya

dipresentasikan dalam bentuk gagasan dan tanggapan yang kedua-duanya

bersifat mental; kemudian gagasan dan tanggapan dituangkan dalam

kata-kata yang dapat didengar oleh orang lain, yang menangkap apa yang

dimaksud.

c. Belajar Senso-motorik

Belajar senso-motorik merupakan belajar menghadapi dan menangani

aneka obyek secara fisik, termasuk kejasmanian manusia sendiri. Menurut

pandangan Piaget, belajar senso-motorik merupakan dasar bagi belajar

berpikir. Mengamati aneka obyek dengan memegang serta menangani benda,

mendasarkan perkembangan berpikir.

4. Hasil Belajar

Supratiknya (Widodo, 2013: 34) mengatakan hasil belajar yang menjadi

objek penilaian kelas berupa kemampuan-kemampuan baru yang diperoleh

siswa setelah mereka mengikuti proses belajar-mengajar tentang mata pelajaran

tertentu. Suprijono (2012: 5) mengatakan hasil belajar adalah pola-pola

perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan

(42)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan

pola perbuatan, nilai, pengertian, sikap, apresiasi dan keterampilan siswa setelah

mereka mengikuti proses belajar-mengajar dalam mata pelajaran tertentu.

5. Penilaian Hasil Belajar

a. Pengertian Penilaian hasil belajar

Kunandar (2014: 61) mengatakan penilaian hasil belajar merupakan

sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam kegiatan belajar mengajar.

Penilaian hasil belajar maka dapat diketahui seberapa besar keberhasilan

peserta didik telah menguasai kompetensi atau materi yang telah diajarkan

oleh guru. Melalui penilaian juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk melihat

tingkat keberhasilan atau efektivitas guru dalam pembelajaran. Penilaian hasil

belajar harus dilakukan dengan baik mulai dari penentuan instrument,

penyusunan instrument, telaah instrument, pelaksanaan penilaian, analisis

hasil penilaian dan program tindak lanjut hasil penilian.

Berdasarkan penjelasan di atas maka, pengertian penilaian hasil belajar

merupakan seberapa besar keberhasilan peserta didik, berdasarkan

kemampuan yang di dapatkan dari proses belajar mengajar, sehingga dapat

memberikan informasi yang bermanfaat tentang proses belajar mengajar

(43)

b. Bentuk-bentuk penilaian hasil belajar

Permendikbud No. 66 Tahun 2013 (Abidin, 2014:3) mengatakan penilaian

pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan pencapaian hasil

belajar peserta didik mencakup:

1) Penilaian otentik

Penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara

komprehensif untuk menilai masukan (input), proses, dan keluaran

(output) pembelajaran.

2) Penilaian diri

Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta

didik untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah

ditetapkan.

3) Penilaian berbasis portofolio

Penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan

untuk menilai keseluruhan identitas proses belajar peserta didik termasuk

penugasan perseorangan atau kelompok di dalam atau di luar kelas

khususnya pada sikap atau perilaku dan keterampilan.

4) Ulangan

Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur tingkat

(44)

pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar

pesrta didik.

5) Ulangan harian

Ulangan harian merupakan kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk

menilai kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi

(KD) atau lebih.

6) Ulangan tengah semester

Ulangan tengah semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh

pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah

melaksanakan 8-9 minggu kegiatan pembelajaran. Cukupan ulangan

tengah semester meliputi seluruh indikator yang mempresentasikan

seluruh KD pada periode tersebut.

7) Ujian akhir semester

Ujian akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik

untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester.

Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang mempresentasikan

semua KD pada semester tersebut.

8) Ujian Tingkat Kompetensi

Ujian Tingkap Kompetensi yang disebut UTK merupakan kegiatan

(45)

tingkat kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar

yang mempresentasikan kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.

9) Ujian Mutu Tingkat Kompetensi

Ujian Mutu Tingkat Kompetensi yang disebut UMTK merupakan kegiatan

pengukuran yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui pencapain

tingkat kompetensi. Cakupan UMTK meliputi sejumlah Kompetensi

Dasar yang mempresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi

tersebut.

10) Ujian Nasional

Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN merupakan kegiatan

pengukuran kompetensi tertentu yang dicapai peserta didik dalam rangka

menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan, yang dilaksanakan

secara nasional.

11) Ujian Sekolah/Madrasah

Ujian Sekolah/ Madrasah merupakan kegiatan pengukuran pencapaian

kompetensi di luar kompetensi yang diujikan pada UN, dilakukan oleh

(46)

c. Cara-cara penilaian hasil belajar

Kunandar (2014: 93) mengatakan penilaian hasil belajar peserta didik perlu

dilakukan secara terprogram dan sistematis, jadi cara-cara penilaian terdapat 3

macam yaitu:

1) Penetapan indikator pencapain hasil belajar

Indikator merupakan pertanda atau indikasi pencapaian kompetensi, ukuran,

karakteristik, ciri-ciri, pembuatan atau proses yang berkontribusi atau

menunjukan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator dirumuskan

dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan diamati

seperti: mengidentifikasi, menghitung, membedakan, menyimpulkan,

menceritakan kembali, mempraktikan, mendemosntrasi, dan

mendiskripsikan.

2) Pemetaan standar kompetensi/kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator

dan teknik penilaian.

Pemetaan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dilakukan

untuk memudahkan guru dalam menentukan teknik penilaian yang akan

digunakan oleh guru untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.

3) Menyusun instrumen penilaian.

Menyusun instrumen penilaian adalah hal yang sangat penting dalam

(47)

yang tepat, maka akan menghasilkan informasi pencapaian kompetensi

peserta didik yang valid dan akurat.

d. Teknik dan Instrumen Penilaian

Permendikbud no. 66 Tahun 2013 (Abidin: 26) memaparkan teknik dan

Instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan

keterampilan sebagai berikut:

1) Penilaian kompetensi sikap. Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap

melalui beberapa teknik, diantaranya adalah observasi, penilaian diri,

penilaian “teman sejawat” (peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal.

Instrumen yang digunakan untuk obeservasi, penilaian diri, dan penilaian

antar peserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang

disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.

2) Penilaian kompetensi pengetahuan. Pendidik menilai kompetensi

pengetahuan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Instrumen tes

tertulis dapat berupa soal, pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah,

menjodohkan, dan uraian. Untuk instrumen tertentu saja harus dilengkapi

dengan penskoran. Instrumen tes lisan dapat berupa daftar pertanyaan yang

akan ditanyakan pada saat pelaksanan penilaian berlangsung. Instrumen

penugasan berupa pekerjaan rumah atau proyek yang dikerjakan baik secara

individu maupun atau kelompok sesuai dengan karakteristik proyek.

3) Penilaian Kompetensi Keterampilan. Pendidik menilai kompetensi

keterampilan melalui penilaian kerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta

(48)

praktik, projek, dan penialain portofolio. Instrumen yang digunakan berupa

daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Intrumen

penilaian harus memiliki berupa persyaratan. Persyaratan yang harus

dipenuhi diantaranya substansi yang mempresentasikan kompetensi yang

dinilai, konstruksi yang memnuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk

instrumen yang digunakan, penggunaan bahasa yang baik dan benar serta

komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.

5. Pengertian Prestasi Belajar di bawah Rata-rata

Menurut Hamdani (2011: 137) pretasi belajar dalam bidang pendidikan

adalah hasil dari pengukuran terhadap usaha belajar siswa yang meliputi faktor

kognitif, afektif dan psikomotorik, setelah mengikuti proses pembelajaran yang

diukur dengan menggabungkan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Hadi

(2004: 272) mengatakan rata-rata “mean” atau yang biasa disebut dengan nilai

rata-rata diperoleh dari menjumlahkan seluruh nilai dan membaginya dengan

jumlah individu.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi dalam belajar

siswa yang berprestasi di bawah rata-rata adalah hasil yang dicapai dalam proses

mengikuti pembelajaran meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotorik

dengan menggabungkan insrumen tes atau instrumen yang relevan, sehingga

mendapatkan hasil belajar atau prestasi rata-rata di bawah angka atau bilangan,

yang sebelumnya nilai yang diperoleh setelah dihitung, sehingga menemukan

nilai tengah sebagai patokan. Individu yang berprestasi di bawah rata-rata berada

(49)

telah dihitung berdasarkan langkah menentukan nilai rata-rata. Maka

dikategorikan memiliki prestasi di bawah rata-rata.

6. Penyesuaian Diri dalam Belajar

Ali (2015: 176) menyatakan bahwa penyesuaian diri yang baik adalah

individu yang telah belajar bereaksi terhadap dirinya dan lingkunganya dengan

cara-cara matang. Hamalik (2009: 45) megatakan bahwa belajar adalah

terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan

perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara lengkap.

Berdasarkan penjelasan di atas penyesuaian diri dalam belajar adalah

penyesuaian diri dalam belajar yaitu individu mampu menyesuaiakan diri

terhadap lingkungannya dengan cara-cara matang, dengan belajar individu

mampu memperoleh pengetahuan, perubahan dari persepsi dan keterampilan.

7. Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat bersumber dari

faktor Internal maupun faktor eksternal. Ahmadi & Supriyono (2013: 138)

menjelaskan bahwa kedua golongan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.

a. Faktor yang tergolong internal meliputi:

1) Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang

diperoleh, yang termasuk faktor ini misalnya pengelihatan, pendengaran,

struktur tubuh.

2) Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yang

(50)

a) Faktor intelektif yang meliputi: faktor potensial yaitu

kecerdasan dan bakat dan faktor kecakapan nyata yaitu

prestasi yang telah dimiliki.

b) Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu

seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi,

penyesuaian diri.

b. Faktor kematangan fisik maupun psikis.

Yang tergolong faktor eksternal yang merupakan faktor yang asalnya

dari luar diri seseorang atau individu, ialah:

1) Faktor sosial yang terdiri atas: lingkungan keluarga, lingkungan

sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan kelompok.

2) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi,

kesenian.

3) Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim.

C.Hakekat Remaja 1. Pengertian Remaja

Adoloscene atau remaja berasal dari kata Latin adoloscere yang berarti

“tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Menurut Hurlock (Rossum, 2008:

23) masa remaja terbagi menjadi dua yaitu remaja awal yang berlangsung

kira-kira dari usia 13 tahun sampai dengan 16 tahun dan remaja akhir yang

(51)

Berdasarkan penjelasan di atas remaja berarti tumbuh menuju tahap

dewasa. Remaja terbagi menjadi dua bagian yaitu remaja awal dengan

usia kira-kira 13-16 tahun dan yang kedua remaja akhir yang bermula

pada usia 16 tahun sampai usia matang secara hokum.

2. Karakteristik Perkembangan Remaja

Hurlock (1997) mengatakan seperti semua rentang dalam kehidupan

masa remaja yang memiliki ciri-ciri tertentu seperti berikut :

a. Masa remaja sebagai masa peralihan

Pada periode ini remaja ada pada posisi yang sedikit membuatnya

bingung, karena bukan menjadi anak-anak lagi namun belum saatnya

disebut dewasa.

b. Masa remaja sebagai periode perubahan

Pada masa ini remaja mengalami perubahan seperti perubahan fisik,

perubahan emosi ditandai dengan semakin banyak emosi yan dapat

dikenali bukan hanya marah ataupun senang tetapi juga minat sosial.

c. Masa remaja sebagai usia yang bermasalah

Masa remaja disebut dengan usia bermasalah karena remaja masih sulit

(52)

d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Remaja mulai mencari identitas diri dengan melihat orang yang dapat

menjadi model atau figur.

e. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa

Pada periode ini remaja berusaha untuk menampilkan dirinya yang

dewasa dan bukan lagi anak-anak. Maka remaja akan mencoba

berperilaku seperti orang dewasa.

3. Tugas Perkembangan Remaja

Hurlock (1997) mengatakan tugas perkembangan remaja sebagai berikut:

a. Mencapai peran sosial pria dan wanita.

b. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.

c. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik

pria maupun wanita.

d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertangung jawab.

e. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa

lainnya.

f. Mempersiapkan karir ekonomi.

g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.

h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk

berperilaku mengembangkan ideologi.

Melihat ciri-ciri dan tugas perkembangan masa remaja, bahwa masa

(53)

akhir menuju remaja dengan menunjukan ciri-ciri seorang remaja

mempunyai perubahan berupa fisik, pikiran dan juga emosi oleh sebab itu

masa remaja memiliki tugas perkembangan yan harus terselesaikan supaya

dapat menjadi dewasa yang optimal. Tugas-tugas perkembangan fase

remaja ini berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase

operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat

membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya

itu dengan baik. Supaya dapat terpenuhi dan melaksanakan tugas-tugas

perkembangan, diperlukan kemampuan kreatif remaja. Kemampuan kreatif

ini banyak diwarnai oleh perkembangan kognitifnya.

4. Masalah-masalah dan Kesulitan Remaja dalam Perkembangan

Masa remaja seringkali dikenali dengan masa mencari jati diri, oleh

Erickson disebut dengan identitas ego (ego identity) (Bischof, dalam Rossum,

2013: 25). Hal ini terjadi karena masa remaja merupakan peralihan antara masa

kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa. Sejumlah sikap yang

sering ditunjukkan oleh remaja yaitu sebagai berikut:

a. Kegelisahan

Sesuai dengan fase perkembangannya, remaja mempunyai banyak idealisme,

angan-angan, atau keinginan yang hendak diwujudkan di masa depan.

Namun, sesungguhnya remaja belum memiliki banyak kemampuan yang

memadai untuk mewujudkan semua itu. Seringkali angan-angan dan

(54)

Di satu pihak mereka menginginkan mendapatkan pengalaman

sebanyak-banyaknya untuk menambah pengetahuan, tetapi dipihak lain mereka merasa

belum mampu melakukan berbagai hal dengan baik sehingga tidak berani

mengambil tindakan mencari pengalaman langsung dari sumbernya. Tarik

menarik antara angan-angan yang tinggi dengan kemampuannya yang masih

belum memadai mengakibatkan mereka diliputi oleh perasaan gelisah.

b. Pertentangan

Sebagai individu yang sedang mencari jati diri, remaja berada pada situasi

psikilogis antara ingin melepaskan diri dari orang tua dan perasaan masih

belum mampu untuk mandiri. Pada umumnya remaja sering mengalami

kebingungan karena sering terjadi pertentangan pendapat antara mereka

dengan orang tua.

c. Aktivitas berkelompok

Berbagai macam keinginan para remaja seringkali tidak dapat terpenuhi

karena bermacam-macam kendala, dan yang sering terjadi adalah tidak

tersedianya biaya. Adanya bermacam-macam larangan dari orang tua

seringkali melemahkan atau bahkan mematahkan semangat para remaja.

Kebanyakan para remaja menemukan jalan keluar dari kesulitannya setelah

mereka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama.

Melakukan suatu kegiatan secara berkelompok sehingga berbagai kendala

(55)

d. Keinginan mencoba segala sesuatu

Pada umumnya, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiosity),

Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, remaja cenderung ingin

berpetualang, menjelajah segala sesuatu, dan mencoba segala sesuatu yang

belum pernah dialaminya.

D.Hakekat Bimbingan Belajar 1. Pengertian Bimbingan Belajar

Kartadinata (Susanto, 2018: 47) memaparkan bimbingan belajar

merupakan proses bantuan yang diberikan kepada siswa agar dapat mengatasi

masalah-masalah yang dihadapinya melalui proses perubahan belajar,

individu dapat mencapai prestasi sesuai dengan kemampuannya. Yusuf &

Nurihsan (2010: 10) mengatakan bimbingan belajar yaitu bimbingan yang

diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan memecahka

masalah-masalah akademik. Masalah-masalah akademik meliputi

pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan/konsentrasi, cara belajar,

penyelesaian tugas-tugas dan latihan, pencarian dan penggunaan sumber

belajar, perencanaan pendidikan lanjutan dan lain-lain.

Jadi berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bimbingan belajar

merupakan proses pemberian bantuan pada bidang belajar untuk diberikan

kepada siswa yang memiliki masalah atau kebutuhan di bidang belajar

seperti meningkatkan prestasi, cara belajar, tugas-tugas, pengenalan

(56)

2. Tujuan Bimbingan Belajar

Yusuf dan Nurihsan (2010: 15) memaparkan tujuan bimbingan belajar

sebagai berikut:

a. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan

membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap

semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang

diprogramkan.

b. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.

c. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti

keterampilan membaca buku, menggunakan kamus, mencatat

pelajaran, dan mempersiapakan diri menghadapi ujian.

d. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan perencanaan

pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas,

memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan

berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka

mengembangkan wawasan yang lebih luas.

e. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

3. Ruang Lingkup Program Bimbingan Belajar

Sriyono (2016: 124) mengatakan ruang lingkup di sekolah mencakup

bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan pribadi, dan bimbingan

(57)

bimbingan dalam meningkatkan kemandirian belajar siswa merupakan

bagian dari layanan bimbingan belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat

Sukardi (Sriyono, 2016: 124), bahwa materi yang diangkat melalui layanan

pembelajaran yaitu meliputi:

a. Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar tentang

kemampuan, motivasi, sikap dan kebiasaan belajar.

b. Pengembangan motivasi sikap dan kebiasaan belajar yang baik.

c. Pengembangan keterampilan belajar membaca, mencatat, bertanya, dan

menjawab serta menulis.

d. Pengajaran perbaikan

e. Program pengayaan.

4. Prosedur Penyusunan Program Bimbingan Belajar

Winkel & Hastuti (2010: 130) mengatakan penyusunan program

bimbingan dapat dikerjakan oleh tenaga ahli bimbingan atau seorang

guru-konselor, yang akan bertugas sebagai koordinator bimbingan, dengan

mengajak bicara tenaga bimbingan yang lain di sekolah. Dalam penyusunan

rencana ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: pola dasar mana yang

sebaiknya dipegang dan pendekatan (strategy) mana yang paling tepat;

komponen-komponen bimbingan belajar mana yang perlu diperioritaskan;

bentuk bimbingan belajar, sifat bimbingan belajar, dan ragam bimbingan

mana yang paling sesuai untuk melayani kebutuhan para siswa;

keseimbangan yang wajar antara pelayanan bimbingan secara kelompok

(58)

evaluasi program; pelayanan rutin dan pelayanan incedental pada tingkat

kelas mana saja akan diberikan layanan-layanan bimbingan tertentu;

petunjuk dan interuksi tertentu yang pernah dikeluarkan oleh instansi yang

berwenang; dan sebagainya. Setelah selesai disusun, rencana itu dibahas

dalam panitia kecil yang disebutkan di atas untuk di bahas seperlunya.

E.Kajian Penelitian yang Relevan

Panditasari (2013) melakukan penelitian tentang dominasi gaya belajar

yang dimiliki siswa kelas XI SMA Santo Mikael Sleman tahun ajaran 2012/2013

yang berprestasi belajar rendah dan membuat usulan topik-topik bimbingan

belajar yang sesuai untuk membantu mengoptimalkan penggunaan gaya belajar

siswa. Metode yang digunakan dalam penilitian ini adalah studi deskriptif.

Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner skala gaya belajar yang

disusun oleh peneliti dengan memodifikasi kuesioner Sudaryanto (2010) dengan

jumlah 52 item.

Hasil penelitian yang diperoleh ialah siswa yang berprestasi belajar rendah

berjumlah 17 siswa. Berdasarkan aspek yang digunakan dalam penelitian maka

hasil penelitian menunjukkan gaya belajar visual sebesar 29,41%, gaya belajar

auditorial 29,41% dan gaya belajar kinestetik sebesar 41,17%. Peneliti

menyusun usulan topik-topik bimbingan belajar yaitu cara belajar kreatif dan

(59)

F.Kerangka Berpikir

Penyesuaian diri dalam belajar merupakan kemampuan individu

mendapatkan sebuah pengalaman, sikap-sikap, nilai-nilai yang dihasilkan dari

belajar, sehingga individu tersebut mampu menyesuaikan diri dalam belajar

dengan baik. Penyesuaian diri dalam belajar merupakan langkah individu untuk

mampu berinteraksi serta mencakup respon-respon mental dan perilaku supaya

individu tersebut dapat memenuhi kebutuhan belajar. Individu yang mampu

menyesuaikan diri dengan baik dapat berelasi secara interpersonal dengan baik,

dapat pula belajar dengan baik, bertanggung jawab, mandiri, peduli dan

penerimaan sosial.

Prestasi di bawah rata-rata merupakan hasil dari belajar mengajar seorang

siswa yang hasilnya diperoleh berada di bawah rata-rata. Siswa yang berprestasi

di bawah rata-rata mendapatkan nilai di bawah standar nilai yang telah

ditentukan, hal yang dapat mempengaruhi prestasi siswa di bawah rata-rata

yaitu, (a) faktor jasmaniah, (b) faktor psikologis, (c) kematangan fisik dan psikis,

(d) kematangan spiritual atau kemanan. Faktor- faktor tersebut dapat

ditanggulangi dengan cara siswa tersebut dapat menyesuaiakan diri dengan

keadaan yang ada.

Adapun aspek-aspek penyesuaian diri dalam belajar yang meliputi:

kepemimpinan, kemasyarakatan, ketahanan, keterlibatan terhadap tugas,

kepercayaan diri akademis, kepercayaan diri sosial, locus control internal,

(60)

teman. Berdasarkan pernyataan di atas hal tersebut merupakan ciri-ciri atau

tanda individu mengalami penyesuaian diri dalam belajar.

Bedasarkan hasil observasi di SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman, pada siswa

kelas XI IPS tahun ajaran 2018/2019, Peneliti ingin melihat seberapa baik

penyesuaian diri pada siswa yang berprestasi di bawah rata-rata. Setelah peneliti

mengetahui hasil penyesuaian diri dalam belajar siswa yang berprestasi di bawah

rata-rata, peneliti mengusulkan topik-topik program pendampingan yang sesuai

berdasarkan item-item yang skornya rendah hal ini untuk meningkatkan

kemampuan penyesuaian diri dalam belajar pada siswa yang berprestasi di

(61)

Figur

Gambar 4.1  Diagram Kategorisasi Tingkat Penyesuaian Diri
Gambar 4 1 Diagram Kategorisasi Tingkat Penyesuaian Diri . View in document p.16
   Skema Kerangka PikirGambar 2.1
Skema Kerangka PikirGambar 2 1 . View in document p.61
Tabel 3.1 Subjek Penelitian
Tabel 3 1 Subjek Penelitian . View in document p.63
Tabel 3.3
Tabel 3 3 . View in document p.69
Tabel 3.4 Kriteria Guilford
Tabel 3 4 Kriteria Guilford . View in document p.72
 Table 3.6 Norma Kategorisasi Penyesuaian Diri dalam Belajar
Table 3 6 Norma Kategorisasi Penyesuaian Diri dalam Belajar . View in document p.75
Tabel skor 3.8
Tabel skor 3 8 . View in document p.77
Tabel 3.7
Tabel 3 7 . View in document p.77
Tabel 4.1 Tingkat Penyesuaian Diri dalam Belajar Siswa yang Berprestasi di
Tabel 4 1 Tingkat Penyesuaian Diri dalam Belajar Siswa yang Berprestasi di . View in document p.79
Gambar 4.1
Gambar 4 1 . View in document p.80
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.82
Tabel 4.3 Item yang Memiliki Skor rendah
Tabel 4 3 Item yang Memiliki Skor rendah . View in document p.83

Referensi

Memperbarui...