• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Penemuan Hukum ISI id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tugas Penemuan Hukum ISI id"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan kehidupan masyarakat terutama dalam kaitannya dengan tanah selalu ditempatkan sebagai salah satu faktor yang menjadi penyebab terjadinya sengketa dibidang pertanahan berupa sengketa penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah. Boedi Harsono1 memberikan pengertian “penguasaan” dan “menguasai” dalam arti fisik dan

arti yuridis. Penguasaan yuridis dilandasi hak yang dilindungi oleh hukum dan umumnya memberikan kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang dihaki walaupun kenyataannya penguasaan fisiknya dilakukan pihak lain karena disewakan misalnya atau tanah tersebut dikuasai oleh pihak lain tersebut secara tanpa hak.

Dalam hal ini pemilik tanah berdasarkan hak penguasaan yuridiksnya berhak untuk menuntut diserahkannya tanah tersebut secara fisik kepadanya baik dengan alasan melakukan

wanprestasi (cidera janji) atau dengan dasar perbuatan melawan hukum.

Dalam hukum tanah kita dikenal juga penguasaan yuridis yang tidak memberi kewenangan untuk menguasai tanah tersebut secara fisik. Kreditur pemegang hak jaminan atas tanah hanya mempunyai hak penguasaan yuridis atas tanah yang dijadikan agunan sedangkan penguasaan fisik tetap ada pada debitur yang mempunyai tanah (Undang-undang No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah).

Pengertian Penguasaan dan Menguasai biasa dipakai dalam pengertian Perdata (privaatrechtelijk) maupun dalam pengertian Publik (publiekrechtelijk) seperti arti dikuasai Negara didalam pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 dan Hak menguasai Negara didalam pasal 1 dan pasal 2 Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Ketentuan Dasar-Dasar Pokok Agraria (UUPA).

Hak Penguasaan atas tanah merupakan suatu hubungan hukum konkrit (Hak) jika telah dihubungkan dengan tanah tertentu (asas spesialitas) dan orang/badan hukum tertentu sebagai subyek haknya dan diakui oleh masyarakat umum (asas publisitas).

Lili Rasyid2 untuk menjelaskan arti Hak menguasai terlebih dahulu membandingkan

antara Hak milik dengan Hak menguasai suatu benda. Yang pokok ialah bahwa hak milik

1 Budi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Perkembangan Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria isi dan pelaksanaannya, jilid 1 Penerbit Jambatan, Jakarta 1994, hlm 19.

(2)

bersifat permanen, sedangkan hak menguasai jika tidak disertai hak pemilikan atas benda tersebut bersifat sementara. Perbedaan lainnya ialah bahwa hak milik menunjuk kepada ketentuan hukum dari suatu sistem hukum, sedangkan hak untuk menguasai suatu benda menunjukkan adanya fakta bahwa terdapat hubungan diantara manusia dan benda. Hak milik merupakan suatu konsep hukum dan hak menguasai merupakan konsep pra hukum. Para ahli umumnya sependapat bahwa dalam konsep possession (hak menguasai) ini disyaratkan adanya fakta penguasaan yang nyata terhadap suatu benda, dan adanya keinginan yang kuat untuk menggunakan atau memanfaatkan kekuasaan tadi bagi dirinya.

Wewenang yang diberikan Negara kepada orang atau badan hukum untuk menggunakan tanah atas permukaan dan tubuh bumi, air serta ruang yang ada diatasnya disebut hak-hak atas tanah yang nama dan jenis-jenisnya dijabarkan dalam UUPA pasal 16. Dalam perkembangannya, terdapat penguasaan tanah yang tidak dikenal dalam hak-hak atas tanah UUPA sehingga dalam praktiknya tidak heran menimbulkan sengketa di kemudian hari. Berbagai penguasaan tanah yang tidak dikenal dalam UUPA salah satunya adalah mengenai tanah garapan. Disini Tim Penulis mengarahkan pembahasan penulisan Karya Ilmiah difokuskan mengenai Tanah Garapan. Pembahasan karya Ilmiah ini ditujukan untuk memenuhi nilai Tugas yang di berikan oleh Dosen bapak Dr. Hasyim Purba, S.H.,M.Hum yang mengajar mata kuliah Penemuan Hukum di Sekolah Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjabaran dalam latar belakang, maka kami akan mengarahkan pembahasan Tulisan Karya Ilmiah ini kepada beberapa pokok permasalahan, berikut adalah rumusan masalah yang akan dibahas dalam karya ilmiah ini :

1. Apa yang menjadi pengertian dari Tanah Garapan?

2. Bagaimana peraturan perundang-undangan mengatur mengenai Tanah Garapan di indonesia?

3. Bagaimana pemberian hak atas tanah diatas tanah garapan berdasarkan ketentuan landreform?

4. Bagaimana penyelesaian sengketa Tanah Garapan?

C. Tujuan Penulisan

(3)

penasaran dan juga diharapkan membantu memenuhi teori Agraria yang mengarahkan pembahasan mengenai Tanah Garapan yang banyak menjadi Buah Bibir dari masyarakat di Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Sebutan Garapan pada Tanah

(4)

garapan” kalau maksudnya tanah itu tadinya tanah kosong dan kemudian dikuasai secara fisik tanpa adanya dasar hak yang resmi.

Pada awalnya yang terjadi ialah dimana orang yang “menyerobot” tanah kosong, biasanya tanah Negara. Menyerobot dalam arti si pelaku langsung saja mendirikan bangunan di atas tanah itu, tanpa ada acara apapun, hal ini tentu saja juga tidak membayar sepeser pun. Kemudian bisa terjadi si penyerobot itu kemudian “menjual tanah garapannya” itu kepada orang lain. Dalam arti yang murni ia sebenarnya menjual “hak serobot”. Sebab ia tidak ada hak apa pun atas fisik tahah tersebut.3

Batam merupakan kepulauan terluar yang terdekat dan berbatasan langsung dengan laut international antara Indonesia-Singapura, dengan letak dan lokasih yang strategis sekaligus menguntungkan pulau batam diberikan dengan hak pengelolaan kepada Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (OPDIPB) dengan Keputusan Presiden no. 41 Tahun 1973.

Dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden tersebut menimbulkan banyaknya perantau dari Pulau Sumatera dan Pulau Jawa yang pergi ke Pulau Batam untuk merantau, dengan banyaknya perantau tersebut hal ini menimbulkan perlunya penyediaan kebutuhan papan bagi perantau yang mengaduh nasibnya di Pulau Batam, banyak dari sebagian perantau yang mendirikan bangunan di atas tanah di pulau batam dengan cara menguasai secara fisik saja (menyerobot tanah) tanpa tau kepemilikan hak atas tanah tersebut, dan bertahan hingga sekarang ini.

Bukan hanya di Pulau Batam saja hampir diseluruh di wilayah diseluruh indonesia hampir terjadi fenomena penyerobotan terhadap fisik atas tanah tanpa mengetahui siapa yang memiliki hak atas tanah yang sah dan sesuai dengan yang diatur oleh peraturan perundang-undangan negara indonesia.

Tanah garapan pun juga bisa terjadi secara demikian. Tanah yang telah dibebaskan oleh suatu instansi pemerintah. Maksud semula ilah untuk membangun perumahan untuk pegawai. Tetapi karena satu dan lain hal tidak jadi. Lalu pegawai-pegawai instansi tersebut “menyerobot” saja dengan mendirikan bangunan diatasnya. Ada juga instansi yang kemudian membagi-bagikan tanah itu kepada pegawainya. Tampaknya cari ini terlihat resmi, akan tetapi sebaliknya instansi itu tidak seharusnya berbuat demikian. Namun dalam praktiknya tanah seperti itu pun banyak diperjualbelikan.

(5)

Notaris yang baik tidak akan bersedia membuat akta mengenai tanah garapan. Sebab sebenarnya si penggarap tidak punya hak apa pun terhadap tanah tersebut, terkecuali “hak serobot” yang telah disebut dengan sebutan “hak garap”. Kalau notaris membuat akta penjualan “hak serobot”, berarti notaris itu mengakui adanya “hak serobot” itu. Hal mana adalah tidak pada tempatnya.4

Karena itu “jual-beli”, juga dalam praktek disebut juga “pengoperan hak” dibuktikan hanya dengan akta dibawah tangan. Pada umumnya Lurah dan ketua RT yang jadi saksi. Mereka ini minta imbalan yang sering kali sampai 1% dari nilai harga penjualan.

Tentu saja dalam hal ini tidak ada aturan surat – surat apapun yang diperlukan dalam transaksi itu. Seluruhnya tergantung kepada para pihak yang bersangkutan. Akan tetapi mengatur mengenai keberadaan tanah garapan, karena tanah garapan bukanlah status hak atas tanah.

Dalam peraturan perundang-undangan terdapat pula istilah hukum untuk tanah garapan ini, yaitu pemakaian tanah tanpa izin pemilik atau kuasanya dan penduduk tanah tidak sah (onwettige occupattie), sedangkan jenis tanah garapan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga (3) yaitu :

1. Tanah garapan di atas tanah yang langsung dikuasai oleh negara (vrij landsdomein); 2. Tanah garapan di atas tanah instansi atau badan hukum milik pemerintah;

3. Tanah garapan di atas tanah negara perorangan atau badan hukum swasta;5

4 Ibid, hlm. 33

5 Tanah garapan di atas tanah yang langsung dikuasai oleh negara dibedakan menjadi : a. Tanah negara, berasal dari bekas eigendom milik negara atau pemerintah, b. Tanah negara berasal dari bekas

(6)

Peraturan perundang-undangan yang mengatur soal tanah garapan ini dapat dibedakan menjadi tiga kurun waktu.

1. Pertama periode sebelum tahun 1945, antara lain :

a. Staatblad Tahun 1927 Nomor 177 tentang Onwettige Occupatie van Landsdomein.

b. Staatblad Tahun 1912 Nomor 177 tentang Sewa Tanah kepada Onwettige Occupatie.

c. Staatblads Tahun 1925 Nomor 649 tentang ketentuan baru mengenai pembukaan tanah oleh orang indonesia di Jawa dan Madura.

2. Kedua Periode Tahun 1945-1950, antara lain UUD 1945, dan Keputusan Penguasa perang pusat tanggal 14 April 1958 Perpu Nomor 011 Tahun 1958 jo. Nomor 014 Tahun 1959 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya.

3. Ketiga periode Tahun 1960 – sekarang, antara lain UU Nomor 51 Prp Tahun 1960 jo. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak atau Kuasanya.

Apabila mengacuh kepada Keputusan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Norma dan Standar Mekanisme Ketatalaksanaan Kewenangan Pemerintah di Bidang Pertanahan yang dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota “SK kepala BPN” yang menjadi definisi Tanah Garapan

“Sebidang tanah yang sudah atau belum dilekati dengan suatu hak yang dikerjakan dan dimanfaatkan oleh pihak lain baik dengan persetujuan atau tanpa persetujuan yang berhak dengan atau tanpa jangka waktu tertentu”

C. Pemberian Hak Atas Tanah Berdasarkan Ketentuan Landreform

Salah satu sumber/landasan pemberian hak atas tanah kepada masyarakat adalah dengan berlakunya ketentuan Landreform, yaitu melakukan redistribusi atas tanah kepada masyarakat petani yang bertujuan untuk mempertinggi penghasilan dan taraf hidup para petani, terutama petani kecil dan petani penggarap tanah, sebagai landasan atau prasyarat untuk menyelenggarakan pembangunan ekonomi menuju masyarakat adil dan makmur berlandaskan pancasila, serta perwujudan fungsi sosial yang terkandung dalam UUPA Nomor 5 Tahun 1960.

(7)

Meliputi lima program, yaitu: pelaksanaan pembaruan hukum agraria,penghapusan hak-hak asing dan konsesikolonial atas tanah, diakhirinya kekuasaantuan tanah dan para feodal, perombakan pemilikan dan penguasaan tanah, serta perencanaan dan penggunaan sumber daya alam sesuaikemampuannya. (Soni Harsono, 2003)

Program landreform secaralebih spesifik adalah larangan penguasaantanah melebihi batas maksimum, larangantanah absentee, redistribusi tanah objek landreform, pengaturan pengembalian danpenebusan tanah yang digadaikan, pengaturan tentang bagi hasil, serta penetapan luasminimum dan pelarangan fragmentasi lahanpada batas tertentu :

a. Obyek landreform : Pertanahan atau tanah kelebihan dari batas maximal. Tanah guntai, tanah kontenporer, tanah absentre.

b. Subyek landreform : Pemilik pengarap, buruh tani teteap yang mengerjakan tanahnya, pengarap hak milik.

Sebagai Landasan hukum berlakunya Pelaksanaan Landreform di Indonesia adalah :

1. Landasan Ideal : Pancasila.

2. Landasan Konstitusional : Pasal 33 UUD 1945

3. Landasan Operasional :

a. Pasal 7, 10 dan 53 UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang UUPA.

b. UU Nomor 56/Prp/1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian.

c. UU Nomor 2 Tahun 1960 jo. Inpres Nomor 13 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil.

d. Peraturan Presiden Nomor 224 Tahun 1961

Dalam rangka pelaksanaan Landreform tersebut, Pasal 2 ayat (1) dan pasal 14 PP Nomor 224 Tahun 1961 Jo. UUPA Nomor 5 Tahun 1960 yang merupakan landasan Landreform telah memberikan kewenangan kepada Kepala daerah untuk melaksanakan redistribusi atas tanah tersebut, sebagaimana berbunyi.

“Menteri Agraria dapat menyerahkan wewenang tersebut kepada panitia Landreform daerah Tk.II…. dst”

sehingga Gubernur selaku kepala daerah dan Kepala Inspeksi/Kadit Agraria telah mengeluarkan beberapa jenis Surat Keputusan sebagai pengaplikasian redistribusi tanah tersebut, diantaranya disebut sebagai SK KINAG (Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria)/SK KINAG JABAR untuk wilayah propinsi Jawa Barat).

SK. KINAG (Surat Keputusan Kepala Inspeksi Agraria)

(8)

Pembagian tanah berdasarkan landreform ini juga memiliki syarat ;

A. Objek Landfreform yang akan didistribusikan (PP Nomor 224 Tahun 1961 dan PP Nomor 41 Tahun 1964), yaitu :

1) Tanah-tanah selebihnya dari batas maksimum ialah tanah-tanah yang merupakan kelebihan maksimum sebagaimana dimaksud UU No. 56/Prp/1960. Dan tanah tanah yang jatuh pada Negara karena pemiliknya melanggar ketentuan UU tersebut ;

2) Tanah-tanah yang diambil pemerintah karena pemiliknya bertempat tinggal diluar daerah, sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 3 ayat 5 ; 3) Tanah tanah swapraja dan bekas swapraja yang telah beralih kepada

Negara sebagai yang dimaksudkan dalam dictum keempat huruf A UUPA;

Yang dimaksud dengan tanah swapraja dan bekas swapraja yang telah beralih kepada negara ialah domein swapraja dan tanah bekas swapraja yang dengan berlakunya UUPA menjadi hapus dan tanahnya beralih kepada negara, begitu pula tanah yang benar-benar dimiliki oleh Swapraja baik yang diusahakan dengan cara persewaan, bagi hasil ataupun yang diperuntukkan sebagai tanah jabatan dan sebagainya.

Tanah swapraja dan bekas swapraja yang telah beralih kepada negara tersebut diberi peruntukan sebagian untuk kepentingan pemerintah dan sebagian untuk mereka yang langsung dirugikan karena dihapuskannya hak swapraja atas tanah itu dan sebagian untuk dibagikan kepada rakyat yang membutuhkannya.

Tanah tanah yang dikuasai langsung oleh Negara, yang akan ditegaskan lebih lanjut oleh menteri Agraria. (Tanah-tanah lain yang dikuasai oleh negara dan ditegaskan menjadi obyek landreform adalah.

a. Tanah-tanah bekas partikelir.

Tanah-tanah bekas partikelir yang akan dibagikan tersebut adalah tanah-tanah bekas tanah-tanah partikelir yang merupakan tanah-tanah kongsi yang tidak dikembalikan kepada bekas pemiliknya sebagai ganti rugi dan yang berupa tanah pertanian.

b. Tanah-tanah bekas hak erfpacht yang telah berakhir jangka waktunya, dihentikan atau dibatalkan.

c. Tanah-tanah kehutanan yang diserahkan kembali penguasaannya oleh instansi yang bersangkutan kepada negara, dan lain-lain.

B. Syarat – syarat utama yang harus dipenuhi oleh mereka yang akan menerima redistribusi Tanah untuk mendapatkan hak milik adalah.

1. Pasal 3 Ayat (2) PP Nomor 224 Tahun 1961

Syarat-syarat penerima redistribusi :

a. Petani penggarap atau buruh tanah yang berkewarganegaraan Indonesia;

(9)

c. Kuat kerja dalam pertanian.

Status hukum tanah yang dibagi adalah Hak Milik, dengan diberikan syarat-syarat sebagai berikut:

(Pasal 14 PP nomor 224 Tahun 1961)

Yaitu petani penggarap atau buruh tani tetap yang berkewarganegaraan Indonesia, bertempat tinggal di kecamatan tempat letak tanah yang bersangkutan dan kuat bekerja dalam pertanian. Tempat tinggal ini masih dapat dispensasi sesuai dengan ketentuan tentang absentee yaitu tidak ada keberatan jika petani penggarap bertempat tinggal yang berbatasan dengan letak tanahnya asal jarak antara tempat tinggal penggarap dan tanah yang bersangkutan masih memungkinkan mengerjakan tanah itu secara efisien (pasal 3 ayat (2) PP Nomor 224 Tahun 1961).

(Pasal 8 PP Nomor 224 Tahun 1961)

Oleh karena luas tanah yang akan diredistribusikan sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah petani yang membutuhkan maka diadakan prioritas dalam pembagiannya. Para penggarap tanah yang bersangkutan mendapat prioritas pertama karena mereka mempunyai hubungan yang paling erat dengan tanah yang digarapnya sehingga atas dasar prinsip ”tanah untuk tani yang menggarap” hubungan tersebut tidak boleh dilepaskan, bahkan harus dijamin kelangsungannya (penjelasan pasal 8 PP Nomor 224 Tahun 1961).

a. Penggarap yang mengerjakan tanah yang bersangkutan ;

b. Buruh tani tetap pada bekas pemilik, yang mengerjakan tanah yang bersangkutan; c. Pekerja tetap pada bekas pemilik tanah yang bersangkutan ;

d. Penggarap yang belum sampai 3 tahun mengerjakan tanah yang bersangkutan e. Penggarap yang mengerjakan tanah hak pemilik;

f. Penggarap tanah-tanah yang oleh pemerintah diberikan untuk peruntukan lain berdasarkan pasal 4 ayat (2) dan (3).

g. Penggarap yang tanahnya kurang dari 0,5 hektar; h. Pemilik yang luas tanahnya kurang dari 0,5 hektar ; i. Petani atau buruh tanji lainnya

(Pasal 14 PP Nomor 224 Tahun 1961)

(10)

2. Para petani yang mengerjakan tanah tersebut pada pasal 1 diberi hak milik atas tanah yang dikerjakannya apabila memenuhi syarat syarat prioriteit sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 dan 9 serta memenuhi pula kewajiban membayar sewa tersebut diatas.

Status hukum tanah yang dibagi adalah Hak Milik, dengan diberikan syarat-syarat sebagai berikut (Pasal 14 PP nomor 224 Tahun 1961) :

a. Penerima redistribusi wajib membayar uang pemasukan;

b. Tanah yang bersangkutan harus diberi tanda batas;

c. Haknya harus didaftarkan guna memperoleh sertipikat sebagai tanda bukti hak;

d. Penerima redistribusi wajib mengerjakan/mengusahakan tanahnya secara aktif;

e. Setelah 2 tahun harus dicapai kenaikan hasil tanaman;

f. Penerima redistribusi wajib menjadi anggota koperasi tanah pertanian;

g. Dilarang mengalihkan hak kepada pihak lain selama uang pemasukan belum dibayar;

h. Hak Milik dapat dicabut tanpa ganti rugi apabila lalai dalam memenuhi kewajibannya

Pemberian hak milik tersebut pada ayat (2) pasal ini dilakukan dengan keputusan menteri Agraria atau pejabat yang ditunjuk olehnya disertai dengan kewajiban, sebagai berikut :

a. membayar harga tanah yang bersangkutan menurut ketentuan pasal 15. b. Tanah itu harus dikerjakan/diusahakan oleh pemilik sendiri secara aktif.

c. Setelah 2 tahun sejak tanah tersebut diberikan dengan hak milik, setiap tahunnya harus dicapai kenaikan hasil tanaman sebanyak yang ditetapkan oleh dinas pertanian rakyat daerah.

d. Harus menjadi anggota koperasi termaksud dalam pasal 17

Selama harga tanah yang dimaksud dalam huruf A diatas belum dibayar lunas, maka hak milik tersebut dilarang untuk dipindah tangankan kepada orang lainkecuali izin menteri Agraria atau pejabat yang ditunjuk oleh kelalaian dalam memenuhi kewajiban tersebut dalam pada ayat 1 atau ayat 3 pasal ini serta pelanggaran terhadap larangan tersebut pada ayat 4 dapat dijadikan alasan untuk mencabut izin mengerjakan tanah yang bersangkutan atau miliknya.

D. Peneylesaian Sengketa Tanah Garapan

(11)

ayat 2 huruf r, sebagai urusan pemerintahan sebagaimana disebut dalam pasal 2 yaitu bahwa urusan pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah (politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiscal nasional, agama) dan urusan pemerintahan yang di bagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan.

Urusan pertanahan dimaksud merupakan salah satu dari 31 bidang urusan pemerintahan yang terdiri dari sub bidang dan setiap sub bidang terdiri dari sub-sub bidang yaitu :

1. Izin lokasi;

2. Pengadaan tanah untuk kepentingan umum; 3. Penyelesaian sengketa tanah garapan;

4. Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan;

5. Penetapan subyek dan obyek redistribusi serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee;

6. Penetapan tanah ulayat;

7. Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong; 8. Izin membuka tanah;

9. Perencanaan penggunaan tanah wilayah kabupaten/kota.

Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan dan Keputusan Kepala BPN No. 2 Tahun 2003 Tanggal 28-8-2003 tentang Norma dan Standarisasi Mekanisme Ketatalaksanaan Kewenagan Pemerintah di Bidang Pertanahan yang dilaksanakan oleh Pemerintahan Kabupaten/Kota.

Penyelesaian sengketa tanah garapan merupakan salah satu kebijakan Pemerintah di bidang pertanahan yang kewenangan pelaksanaannya diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai pelaksanaan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (LN 1999 No. 60. TLN No. 2043) dan dalam rangka menyiapkan konsepsi, kebijakan dan sistem pertanahan nasional yang utuh dan terpadu serta pelaksanaan Tap MPR No. IX/MPR/2001 Tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.

Adapun langkah-langkah BPN melakukan percepatan dalam :

1. Penyusunan RUU penyempurnaan UU No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

2. Pembangunan Sistem Informasi dan Manajemen Pertanahan yang meliputi :

(12)

b. Penyiapan aplikasi data tekstual dan spasial pelayanan pendaftaran tanah. c. Pemetaan Kadasteral dalam rangka inventarisasi/registrasi P4T dengan Citra

Satelit.

3. Pembangunan dan pengembangan pengelolaan penggunaan dan pemanfaatan tanah melalui sistem geografi dalam rangka memenuhi ketentuan pangan nasional.

Selain usaha yang dilakukan BPN untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul di bidang pertanahan, khususnya tanah garapan, ada beberapa pola yang sudah terbentuk mengenai penyelesaian sengketa tanah garapan; yaitu:

1. Keputusan Kepala BPN No. 2 Tahun 2003 Tanggal 28-08-2003 tentang Norma dan Standar Mekanisme Ketatalaksanaan Kewenangan Pemerintah di bidang pertanahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dalam penjelasan yang diuraikan dalam Surat Kepala BPN tanggal 31 Mei 2003 No. 110-1316, bahwa sengketa tanah garapan merupakan konflik kepentingan berkaitan dengan pengusahaan tanah oleh pihak-pihak yang tidak berhak, diatas tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau diatas tanah hak pihak lain sebagaimana dimaksud dalam UU No. 51 Prp Tahun 1960 dan Keppres No. 32 Tahun 1979.

Bupati/Walikota mempunyai peranan yang penting, oleh karena upaya meningkatkan ketahanan pangan mempunyai hubungan erat dengan upaya penguatan hak-hak rakyat atas tanah dengan penyelesaian sengketa tanah garapan. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota membantu upaya yang dilakukan oleh Bupati/Walikota tersebut, dengan melakukan koordinasi dan operasional lapangan dengan penanganan sebagai berikut:

a. Norma yang digunakan sebagai landasan operasional adalah:

1) Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).

2) Undang-Undang No. 51 Prp Tahun 1960 Tentang Larangan Pemakaian tanah tanpa ijin yang berhak atau kuasanya.

3) Keputusan Presiden RI No. 32 Tahun 1979 Tentang Pokok-Pokok Kebijaksanaan Dalam Rangka Pemberian Hak Baru Atas Tanah Asal Konversi Hak Barat.

4) Keputusan Presiden RI No. 34 Tahun 2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan.

(13)

1) Tahap Persiapan, dimulai pada waktu menerima laporan pengaduan sengketa tanah garapan;

2) Tahap Pelaksanaan Penanganan Sengketa:

a) Melakukan penelitian terhadap subyek dan obyek sengketa, (diharapkan dari penelitian ini diperoleh data (fisik, yuridis, administratif) yang akurat).

b) Mencegah meluasnya dampak sengketa tanah garapan baik dari segi subyek maupun obyek (berupa tindakan-tindakan misalnya: status quo).

c) Melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk menetapkan langkah-langkah penanganannya (apabila perlu dibentuk suatu Tim Task Force).

d) Memfasilitasi musyawarah antara para pihak yang bersengketa untuk mengadakan kesepakatan para pihak (Dituangkan dalam Berita Acara hasil musyawarah).

e) Jika tidak terjadi kesepakatan dalam musyawarah, Pemerintah atau pemegang hak dapat menempuh jalur hukum (berupa bentuk keputusan/rekomendasi yang ditunjukkan kepada Pengadilan).

3) Kegiatan pelaporan pelaksanaan Bupati/Walikota melaporkan hasil penyelesaian sengketa tanah garapan kepada Pemerintah cq Kepala BPN melalui Kepala Kantor Pertanahan Wilayah BPN Propinsi setempat (berupa laporan tertulis yang ditandatangani oleh Bupati/Walikota)

Untuk melaksanakan penanganan sengketa tersebut diperlukan Sumber Daya Manusia dengan kualifikasi yang menekuni bidang tugas dan kompetisi yang diperlukan.

2. Peraturan Pemerintah RI No. 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antar Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;

(14)

kewajiban setiap tingkat sasaran Pemerintahan yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat. Urusan ini terbagi dalam urusan wajib dan pilihan, salah satu urusan wajib yang mengenai fungsi Pemerintah Daerah tersebut adalah: bidang pertanahan.

Bidang pertanahan ini terdiri dari sub-sub bidang antara lain penyelesaian sengketa tanah garapan.

Dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut, Pemerintah dapat menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil pemerintah dalam rangka dekonsentrasi atau menugaskan sebagian wewenang tersebut berdasarkan asas tugas pembantuan (madebewind).

a. Pemerintah dakam hal ini Menteri/Kepala LPND

1) Menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria untuk pelaksanaan urusan tersebut. Memperhatikan keserasian hubungan Pemerintah dengan Pemerintah Daerah, melibatkan pemangku jabatan dan berkoordinasi dengan Mendagri.

2) Pembenaran, pengendalian dan memonitoring terhadap pelaksanaan penanganan sengketa tanah garapan.

Sub bidang pertanahan tentang urusan penyelesaian sengketa tanah garapan membebani kewajiban bagi Pemerintah untuk menetapkan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur dan kriteria penyelesaian.

b. Pemerintah Daerah Propinsi menyelenggarakan penyelesaian sengketa tanah garapan lintas Kabupaten/Kota, dan untuk Propinsi DKI Jakarta yang terdiri dari:

1) Penerimaan dari pengkajian laporan pengaduan sengketa tanah garapan.

2) Penelitian terhadap obyek dan subyek sengketa.

3) Pencegahan meluasnya dampak sengketa tanah garapan.

4) Koordinasi dengan instansi terkait untuk menetapkan langkah-langkah penanganannya.

(15)

c. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyelenggarakan penyelesaian sengketa tanah garapan berupa:

1) Penerimaan dari pengkajian laporan pengaduan sengketa tanah garapan.

2) Penelitian terhadap obyek dan subyek sengketa.

3) Pencegahan meluasnya dampak sengketa tanah garapan.

4) Koordinasi dengan Kantor Pertanahan untuk menetapkan langkah-langkah penanganannya.

5) Fasilitasi musyawarah antar pihak yang bersengketa untuk mendapatkan kesepakatan para pihak.

3. Tahap Penanganan dan Penyelesaian Sengketa: a. Identifikasi jenis masalah/sengketa.

Proses identifikasi ini sangat penting dan menentukan oleh karena itu hasil identifikasi ini kita akan mengenali masalahnya, sekaligus mengetahui apakah pengaduan/sengketa ini merupakan kompetensi kita atau bukan.

Pada waktu mengenali substansi apa yang digunakan dalam materi pengaduan, maka suatu jenis pengaduan dapat di identifikasi apabila yang dijadikan dasar pengaduan tersebut ditemukan alat-alat bukti yang menunjukkan alas hak kepemilikan misalnya; surat pembelian tanah, hibah dan sebagainya, maka kita dapat mengidentifikasi bahwa masalah ini bukan sengketa garapan melainkan sebagai sengketa kepemilikan.

Bentuk pengaduan lain misalnya dengan sengketa garapan akan tetapi tidak menyangkut wilayah/ruang lingkup tanah Negara sebagaimana diuraikan dalam Keppres No. 34 Tahun 2003, maka tipologi masalah dari sengketa tersebut tidak termasuk sengketa garapan yang harus ditangani oleh Pemerintah Kabupaten/Kota/Propinsi sesuai PP No. 38 Tahun 2007.

Pengaduan jenis ini seyogianya diselesaikan dengan cara koordinasi dengan instansi yang kompetensinya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dengan pola penanganan secara koordinasi.

(16)

Jadi hasil dari identifikasi ini memerlukan sikap hukum apabila diterima untuk ditangani sesuai kompetensi atau ditolak penanganannya.

b. Pengumpulan data yuridis, fisik dan administratif.

Data yang dihimpun dan dikumpulkan adalah dari data yuridis, data fisik, dan data administratif.

1) Data yuridis misalnya yang menyangkut bukti-bukti yang menunjukkan adanya hubungan hukum antara pengadu dengan obyek tanah garapan apakah termasuk penggarapan dengan atau tanpa hubungan hukum dengan pemiliknya atau bukti-bukti lain yang mendukung adanya hubungan tersebut secara sah, misalnya pernah ada perjanjian jual beli dengan ahli waris pemilik dan sebagainya.

2) Data fisik yang menyangkut letak dan batas penguasaan penggarapan tersebut seiring ditemukan dalam kasus penggarapan tanah dengan perjanjian, ternyata letak tanah dulu batu-batu sudah bergeser dan berubah luasnya dari perjanjian yang ditetapkan. Sering juga terjadi pengalihan garapan tanah tersebut tanpa sepengetahuan pemiliknya. 3) Data Administratif : Setiap perbuatan penggarapan tanah sudah tentu

akan tercatat kapan terjadi dan dengan dasar apa penggarapan tersebut terjadi. Sesuai ketentuan peraturan setiap perjanjian penggarapan tanah harus dibuat secara tertulis dan diketahui, serta dicatat di kantor Desa, bahkan untuk penggarap yang tanpa perjanjian akan tercatat dalam buku agenda lain misalnya register kepemilikan atau pinjaman pajaknya. Hal yang terakhir ini penting untuk mengetahui sejarah mengenai kepemilikan pemilik tanah atas tanah yang bersangkutan. c. Pengolahan data yuridis, administratif, fisik.

Data-data yang dikumpulkan penting untuk diolah, oleh karena didalam kegiatan ini cukup menentukan lengkap atau kurangnya data yang relevan untuk dikumpulkan.

(17)

d. Analisis Masalah.

Kegiatan menganalisa masalah adalah suatu hal yang paling penting dari seluruh proses kegiatan. Analisa yang benar akan menentukan bobot suatu pengambilan keputusan yang berkualitas, sebaliknya analisa yang salah hanya akan menimbulkan keputusan yang menyesatkan, bahkan akan menimbulkan sengketa atau masalah baru.

Adapun pengetahuan dan kejujuran aparat atau SDM yang menangani kasus ini sangat menentukan. Pengetahuan yang utama yang harus dikuasai adalah teknis peraturan perundang-undangan disamping pengetahuan lain seperti sosial, ekonomi, budaya baik diperoleh dari pendidikan dan pelatihannya berdasarkan pengalaman yang dipunyak aparat/petugas.

Kesalahan penerapan peraturan perundang-undangan terhadap suatu kasus akan menimbulkan pengambilan keputusan yang menyesatkan, memberikan ketidakadilan, mengundang persoalan/sengketa baru yang akan menyulitkan dikemudian hari.

e. Rekomendasi.

Hasil analisis akan melahirkan usulan penyelesaian dengan beberapa opsi atau dapat juga langsung menghasilkan suatu keputusan.

Rekomendasi dapat berupa usulan pendalaman masalah sengketa dengan materi tertentu, misalnya : membentuk tim, melakukan lagi pengumpulan data agar lebih akurat, mengusulkan para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan dengan upaya lain termasuk upaya hukum pengadilan atau menyarankan untuk menempuh jalan musyawarah.

Rekomendasi yang baik adalah suatu usulan penyelesaian yang menjamin bahwa cara penyelesaian yang disarankan akan menghasilkan penyelesaian yang tuntas.

f. Upaya musyawarah.

(18)

digunakan adalah dengan lembaga mediasi sebagai bagian dari penyelesaian sengketa alternatif (ADR).

g. Keputusan.

Keputusan diharapkan sebagai ahir suatu proses penyelesaian. Keputusan yang baik dan benar adalah suatu hasil dari pertimbangan yang komprehensif dan dilakukan dengan tata cara sesuai ketentuan peraturan yang berlaku, dengan tidak mengabaikan segi-segi keadilan dan bukti serta fakta hukum yang ada. Tidak setiap keputusan memuaskan para pihak yang bersengketa. Oleh karena itu agar keputusan ini dapat dipertahankan dengan baik diforum hukum diperlukan suatu catatan risalah yang menjadi pendukung yang berisi argumentasi hasil analisis pada waktu proses pengambilan keputusan.

4. Mediasi

Selain penyelesaian sengketa melalui pengadilan/litigasi kita mengenal pula penyelesaian sengketa melalui lembaga di luar pengadilan yang disebut arbitrase dan alternatif pengadilan sengketa atau Alternative Disprial Resolution (ADR) sebagaimana di atur dalam UU No. 30 Tahun 1999.

Alternatif penyelesaian sengketa salah satunya adalah dengan melakukan mediasi, yang prinsipnya adalah win-win solution agar memuaskan semua pihak.

BPN RI dalam Tugas Pokok dan Fungsi sesuai Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2006 dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No. 3 Tahun 2007, memiliki kewenangan dan tugas mediasi sebagai alternatif penyelesaian sengketa. Adapun tata cara pelaksanaan mediasi didasarkan dalam UU No. 30 Tahun 1999.

5. Berperkara di Pengadilan.

Forum pengadilan merupakan salah satu cara penyelesaian sengketa yang dipilih oleh para pihak untuk mencapai tujuannya.

Pengadilan yang digunakan untuk berperkara adalah Pengadilan Umum, Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Agama. Para pihak dapat diantara mereka sendiri atau pihak Instansi yang menerbitkan penetapan Tata Usaha Negara.

Ada instansi yang memiliki tugas pokok dan fungsi untuk beracara di Pengadilan (seperti BPN RI) tetapi ada yang tidak bertugas, memiliki tugas demikian.

(19)

menggunakan Pengacara Negara yang ada pada tupoksi Kejaksaan Agung R.I. bidang perdata dan Tata Usaha Negara (Datun).

Di BPN sejak Tahun 1981 berdasarkan SE. Mendagri cq Dirjen Agraria tanggal 14/10/1981 No. Btu. 10/271/10/81 Tentang Mewakili Pemerintah Republik Indonesia pada sidang di Pengadilan, dengan latar belakang bahwa banyak perkara di Pengadilan yang ditangani tidak sebagaimana mestinya antara lain dihadiri oleh petugas yang kewenangannya beracara, memerintahkan untuk dihadiri sendiri oleh Direktorat/Kepala Kantor Agraria Kabupaten/Kodya dan dilarang diwakilkan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah dijabarkan dan dijelaskan pada Bab II mengenai pembahasan tim penulis karya ilmiah ini menyimpulkan bahwa benar adanya pengakuan terhadap pengertian tanah garapan di indonesia, dan tim telah sepakat menyimpulkan bahwa :

(20)

sebidang fisik tanah yang kosong tanpa mengentahui siapa yang memiliki hak yang dilindungi oleh peraturan hukum yang berlaku. Dikuasai secara fisik tanah dan dikerjakan selama bertahun-tahun secara berkesinambungan dan mendapakan pengakuan sosial bahwa benar tanah yang dikerjakan “garapan” telah diduduki dan dikelolah dengan baik oleh seseorang yang menguasai fisik tanah garapan tersebut. 2. Dengan maraknya terjadi “fenomena sosial” mengenai pengusahaan fisik sebidang

tanah di indonesia ini, akan tetapi sampai saat ini pengaturan mengenai substansi-substansi tanah garapan masih belum jelas, dimana hanyalah sebuah definisi tanah garapan saja yang dijabarkan. Di samping itu, hukum pertanahan dalam UUPA juga tidak mengenal adanya tanah garapan, padahal hak atas tanah dapat terjadi karena penetapan Pemerintah atau menurut ketentuan Undang-Undang.

3. Berdasarkan Landreform yang dilakukan pemerintah demi memberikan hukum pada kekosongan hukum pertanahan saat kepergian pemerintahan Hindia-belanda dari Indonesia membuat penguasaan tanah di indonesia secara yuridis terjadi kekosongan sehingga dengan terbentuknya pemerintah indonesia terjadilah “fenomena sosial”

tentang penguasaan tanah secara fisik yang berujung kepada penguasaan tanah secara

“yuridis” yang diatur langsung oleh pemerintah indonesia pada masa awal pemerintahan itu.

4. Meskipun pengaturan tanah garapan belum secara substansial, akan tetapi “fenomena sosial” tersebut dalam penyelesaian sengketanya sudah ada pola-pola yang terbentuk sesuai peraturan-peraturan yang berlaku. Adapun Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional telah menempatkan penanganan sengketa dalam suatu kedeputian Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan, yang mempunyai tugas pokok “Merumuskan kebijakan teknis di bidang pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan”. Untuk melengkapi pelaksanaan fungsi tersebut telah dikeluarkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No. 34 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penanganan dan Penyelesaian Masalah Pertanahan.

B. Saran

(21)

kegiatan usaha dan ekonomi yang berjalan diatas permukaan bumi, oleh karena adanya tuntutan dan gugatan yang menyatakan hak yang sah akan kepemilikan hak atas tanah yang diperoleh diatas Tanah garapan.

Daftar Pustaka

1. A. P. Parlindungan, BEBERAPA PELAKSANAAN DARI U.U.P.A, Penerbit CV. Mandar Maju, Cetakan Pertama, Tahun 1992.

2. Boedi Harsono, HUKUM AGRARIA INDONESIA HIMPUNAN PERATURAN – PERATURAN HUKUM TANAH, Penerbit Djambatan, Cetakan Kelima, 1984.

(22)

4. Effendi Perangin, PRAKTEK JUAL BELI TANAH, Penerbit Raja Grafindo Persada, Cetakan ketiga, 1994.

5. Rasjidi Lili dan Ira Thania Rasjidi, Pengantar Filsafat Hukum, Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung, 2002

6. Rusmadi Murad, MEYIKAP TABIR MASALAH PERTANAHAN (Rangkaian Tulisan dan Materi Ceramah), Penerbit Mandar Maju, Cetakan Pertama, 2007.

Referensi

Dokumen terkait

Dapat dirumuskan Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur untuk desain Sarana Rekreasi & Edukasi Peternakan Sapi Perah di Desa Jetak dengan suatu konsep

(1) Perkawinan bagi yang bukan beragama Islam yang telah dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaannya, wajib diberitahukan oleh yang bersangkutan atau keluarga yang

Pada kesempatan ini penulis memberikan suatu aplikasi yang dapat diterapkan pada perusahaan Indosat bagian Team Account Maintenance (Divisi Cellular Customer Service) untuk

Bagian ini harus menjelaskan mengenai kegiatan dan hasil yang sudah dilakukan untuk keperluan baseline program, terutama penjelasan mengenai alasan pemilihan lokasi,

Rangka utama untuk motor penggerak dan poros merupakan bagian paling penting dalam konstruksi mesin pengupas biji melinjo karena tugas utamanya adalah menahan

ini terbuka untuk penyedia yang teregistrasi p Elektronik (LPSE) dan memenuhi persyaratan yang i Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) pada

Surat pernyataan mempunyai tempat praktik profesi atau surat keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kefarmasian atau dari pimpinan fasilitas produksi atau

analisis regresi digunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung serta memprediksi nilai variabel tergantung dengan menggunakan variabel