KARYA TULIS ILMIAH
JALAN KEADILAN PEMECAH PERMASALAHAN KORUPSI DI
INDONESIA
DISUSUN OLEH
RAFFI KHARISMA RIALDI PUTRA
(1410611056)
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
FAKULTAS HUKUM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara hukum yang dimana hukum menjadi
panglima utama dalam penyelenggaraan pengaturan hak-hak warga negaranya.
Hak asasi manusia yaitu hak dasar yang diperoleh sejak lahir di dunia. Setidaknya
terdapat 6 (enam) macam hak asasi manusia yang mendasar, yaitu; personal right,
Property Right, Politic right, right of legal equality, social and culture right,
procedural right.
1Hak politik merupakan salah satu bagian dari hak warga negara
yang dimana merupakan produk dari hukum, pada hemat sekarang ini
penghapusan hak politik menjadi suatu perbincangan yang merupakan salah satu
upaya untuk mencapai jalan keadilan dalam memecahkan permasalahan korupsi
di Indonesia yang sudah menjadi suatu budaya buruk di negeri ini.
John Rawl sendiri mengemukakan hak asasi manusia melalui teorinya A
Theory of Justice berdasarkan dua prinsip utama yang erat dengan prinsip
kebebasan, yaitu: Pertama, “Each person is to have an equal right to the most
extensive basic liberty compatible with a similar for others” artinya, setiap
individu pada dasarnya memiliki hak yang sama yang dimana menjadi sebuah
dasar kebebasan dan berlaku pula kepada tiap-tiap individu yang lain.
2Dalam hal ini kebebasan dasar para warga adalah kebebasan berpolitik,
yaitu untuk memberikan hak suara dan hak atas kedudukan publik, kemerdekaan
berbicara dan berkumpul, kebebasan nurani dan kemerdekaan berpikir,
kemerdekaan memiliki properti, serta kemerdekaan dari penahanan dan pengambil
alihan semena-mena. Kebebasan-kebebasan ini dibutuhkan untuk menciptakan
suatu keadilan sosial agar semua masyarakat memiliki hak dan kedudukan yang
sama. Kedua. “Social and economic inequalities are both. Reasonably expected to
be everyone’s advantage and attached to positions and office open to all”.
31 Wahyono, “Memahami Karakteristik Hak Asasi Manusia”,
http://ham.go.id/memahami-karakteristik-hak-asasi-manusia/, diakses tanggal 20 Mei 2017.
2 John Rawls, Teori Keadilan, Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan Kesejahteraan
Sosial dalam Negara, (Jakarta; Pustaka Pelajar, 2011) Hlm. 5
Melalui prinsip ini, distribusi kesejahteraan dan pendapatan serta hierarki
kewenangan harus konsisten dengan prinsip kebebasan dan kesetaraan
kesempatan. Yang dimana, distribusi ini harus benar-benar menjadi keuntungan
dan kebaikan semua orang. keadilan sosial, berdasarkan prinsip ini akan tercapai
bila mampu membagi semua keuntungan sosial dan ekonomi bagi semua pihak.
Meskipun demikian, ketidak samaan posisi dalam mencapai hak-hak ekonomi dan
sosial masih terjadi.
Seperti kita ketahui, terdapat banyak sekali persoalan yang melingkupi
proses penegakan hukum di Indonesia, khususnya dalam pemberantasan tindak
pidana korupsi. Menurut H.M. Prasetyo menyatakan bahwa tidak kalah
pentingnya adalah persoalan efisiensi dalam penanganan perkara tindak pidana
korupsi.
4Salah satu contohnya yaitu ambiguitas regulasi pemberantasan korupsi
adalah pengembalian kerugian negara tidak menghapus pidana perbuatan korupsi.
Walaupun kerugian negara sangat kecil, tetap haruslah dilakukan penyidikan dan
penuntutan tanpa memperhitungkan biaya penanganan perkara yang lebih besar
ketimbang jumlah kerugian negaranya.
Berdasarkan Transparency International Bribe Payers Index menjadi fakta
yang sangat disayangkan. Pada tahun 2011, BPI yang dihasilkan dari survey
terhadap 3000 pelaku usaha yang menjalankan bisnis Internasional di 28 negara
telah menempatkan Indonesia berada pada peringkat 25 dari 28 negara dengan
BPI 7,1 dari rata-rata 7,8.
5Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi No.
4/PUU-VII/2009 tentang pencalonan mantan narapidana sebagai anggota
legislatif, DPD, dan kepala daerah.
6Hal ini dapat diketahui bahwasanya mantan
narapidana sejujurnya diperbolehkan untuk mencalonkan dirinya sebagai anggota
legislatif, DPD, dan kepala daerah asalkan memenuhi 4 syarat yaitu: tidak berlaku
untuk jabatan publik yang dipilih (elected officials), berlaku terbatas jangka
waktunya hanya selama 5 (lima) tahun sejak terpidana selesai menjalani
hukumannya, dikecualikan bagi mantan terpidana yang secara terbuka dan jujur
4 Lihat, Adi Toegarisman, Pemberantasan Korupsi Dalam Paradigma Efisiensi, (Jakarta; PT
Kompas Media Nusantara, 2016) Hlm. VIII, HM Praseto menyatakan pendapatnya pada dalam kata pengantar atau kata sambutan sambutan yang di cantumkan dalam buku ini.
5 BPI Indeks yang menggambarkan praktik-praktik penyuapan yang dilakukan oleh dunia usaha
terhadap kepada penyelenggara negara atau pejabat publik di suatu negara.
6 Putusan Mahkamah Konstitusi No.4/PUU-VII/2009 tentang pencalonan mantan narapidana
mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan narapidana,
bukan sebagai pelaku kejahatan yang berulang-ulang. Putusan Mahkamah
Konstitusi tersebut terkait dengan permohonan pengujian terhadap pasal 12 huruf
g, pasal 50 ayat 1 huruf g UU No.1 tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan
pasal 58 huruf f UU No.12 tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah, yang
merupakan norma hukum yang inkonstitusional bersyarat. Mahkamah Konstitusi
memperbolehkan mantan narapidana untuk mencalonkan sebagai anggota
legislatif, DPD dan kepala daerah dengan syarat tertentu, dengan dasar
pertimbangan bahwa Mahkamah Konstitusi mempunyai wewenang untuk menguji
pasal-pasal tersebut, pemohon mempunyai kedudukan hukum (legal standing) dan
pada pokok dalil-dalil permohonan pemohon.
Justitiae Non Est Neganda, Non Differenda, Justice is not to be denied or
delayed yang artinya adalah keadilan tidak dapat disangkal atau ditunda. Semakin
membudayanya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara dan
tokoh politik, maka semakin banyak pula upaya-upaya untuk memberantas tindak
pidana korupsi karena korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara dan tokoh
politik memiliki dampak yang amat luas. Kriteria terpidana korupsi yang dijatuhi
pidana tambahan berupa pencabutan hak pilih aktif dan pasif adalah terpidana
yang memiliki jabatan dan posisi politik, disebut dengan korupsi politik.
Pencabutan hak pilih aktif dan pasif tidak melanggar Hak Politik warga negara,
mengingat perbuatan korupsi yang dilakukannya juga telah melanggar hak asasi
sehingga disebut extraordinary crime.
7Dalam Undang-undang nomor 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia, hak pilih aktif dan pasif masuk dalam kategori
derogable rights atau hak yang bisa dilanggar penegak hukum dalam rangka
penegakan hukum dan rasa keadilan masyarakat.
Rumusan Masalah
Dalam hal ini akhirnya penulis dapat menentukan suatu rumusan masalah yaitu:
1. Apakah upaya pemerintah dalam mengurangi perbuatan tindak pidana
korupsi yaitu dengan penghapusan hak politik merupakan solusi terbaik?
7Yosy Dewi Mahayanthi, “Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan putusan pencaputan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pro : Regulasi Penghapusan Hak Politik Bagi Terpidana Tindak Pidana
Korupsi
Pengakuan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia terdapat di dalam
landasan dasar negara Indonesia (staatfundamentalnorm) yaitu Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya
disingkat UUD 1945) tepatnya pada Pasal 27 (1) dimana setiap warga negara
bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan, dan wajib
menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Dengan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Indonesia adalah negara hukum
(rechtsstaat), bukan negara yang berdasarkan atas kekuasaan (machtsstaat).
Adapun unsur-unsur rechsstaat menurut Scheltema antara lain: 1) kepastian
hukum; 2) persamaan; 3) demokrasi; dan 4) pemerintahan yang melayani
kepentingan umum.
8Berkaitan dengan hal tersebut, perlu adanya supremasi hukum tertinggi
dalam penganagan kasus korupsi di Indonesia, hal ini dibutuhkan karena masalah
korupsi ini sudah menjadi masalah besar hampir di seluruh negara berkembang di
dunia, salah satunya Indonesia Korupsi sepertinya sudah menjadi budaya yang
berkembang dikalangan masyarakat kelas atas sampai bawah. Korupsi dapat
dilihat dengan mata telanjang diberbagai institusi, baik eksekutif, legislatif
maupun yudikatif. Parahnya hampir semua pejabat-pejabat tinggi negara
melakukannya, tanpa mereka pikirkan bahwa tindakan ini merugikan negara itu
sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa nilai luhur suatu individu atau yang sering
disebut moral dan etika pejabat dewasa ini mengalami penurunan. Bahwa tidak
adanya kesadaran seorang individu tentang etika dan aturan hukum yang berlaku
membuat korupsi semakin meningkat. Akan tetapi tidak hanya moral individu itu
saja yang dapat mempengaruhi terjadinya korupsi, banyak hal yang menjadi latar
belakang korupsi salah satunya seperti kekuasaan, yang dikenal sebagai abuse of
power atau penyalahgunaan kekuasaan.
Untuk mengatasi masalah korupsi yang sudah mendarah daging di
Indonesia dari legislatif, eksekutif dan yudikatif yang sudah tidak dapat
terbendung lagi, diperlukan hukuman tambahan bagi terpidana kasus ini, yaitu
pencabutan hak politik, pencabutan hak politik dalam hal ini adalah pencabutan
hak memilih dan dipilih dalam jabatan publik.
Mengenai pencabutan hak politik, sebenarnya sistem pidana di Indonesia
telah mengatur hal tersebut, yaitu dikenal dengan pencabutan hak tertentu diatur
dalam Pasal 10 poin b Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dan juga Pasal 18
huruf d Undang Undang No 39 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Apabila kita kembali merujuk pada ketentuan Pasal 10 poin b
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), ada beberapa jenis Pidana
Tambahan, yaitu : 1. Pencabutan hak-hak tertentu, 2. Perampasan barang-barang
tertentu, 3. Pengumuman putusan hakim.
Hal tersebut juga tertuang secara lex specialis dalam Pasal 18 ayat (1)
huruf d Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, sebagai berikut : Pencabutan Seluruh atau sebagian hak-hak
tertentu atau penghapusan Seluruh atausebagian keuntungan tertentu, yang telah
atau dapat diberikan oleh Pemerintah kepada terpidana.Kata tertentu dalam
pencabutan hak berarti pencabutan itu tidak dapat dilakukan terhadap semua hak,
hanya hak tertentu saja yang bisa dicabut. Apabila semua hak dicabut, akan
membawa konsekuensi terpidana kehilangan semua haknya termasuk kesempatan
untuk hidup.
Menurut ketentuan Pasal 35 ayat (1) KUHP, hak-hak yang dapat dicabut
oleh hakim dengan suatu putusan pengadilan adalah :
1. Hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu;
2. Hak untuk memasuki angkatan bersenjata;
4. Hak menjadi penasehat atau pengurus atas penetapan pengadilan, hak menajdi
wali, wali pengawas, pengampu, atau pengampu pengawasan atas orang yang
bukan anaknya sendiri;
5. Hak menajalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian, atau
pengampuan atas anaknya sendiri;
6. Hak menjalankan mata pencarian tertentu.
Pencabutan hak politik bagi Luthfi Hasan Ishaaq yang melakukan tindak
pidana korupsi suap pada proyek impor daging sapi. Keterlibatan Luthfi Hasan
Ishaaq diketahui melalui keterangan pada Ahmad Fathanah yang telah ditangkap
terlebih dahulu yang diketahui sebagai kurir dalam kasus suap ini. Saat tertangkap
tangan, KPK menduga uang sebesar Rp. 1 miliar yang dutemukan di dalam mobil
Ahmad Fathanah itu untuk diserahkan kepada Luthfi Hasan Ishaaq. Luthfi Hasan
Ishaaq telah melanggar pasal 12 huruf a dan b dan atau pasal 5 ayat 2 dan pasal 11
UU Tipikor. Majelis Kasasi yang menjatuhkan pidana tambahan berupa
pencabutan hak pilih pasif terhadap Luthfi Hasan Ishaaq.
9Hakim menilai dalam aspek sosiologis bahwa perbuatan terpidana menjadi
ironi demokrasi, karena tidak melindungi nasib para petani peternak sapi nasional.
Hubungan transaksional antara Luthfi Hasan Ishaaq dengan Maria Elizabeth
Liman merupakan korupsi politik sehingga merupakan kejahatan yang serius
(serious crime). Artidjo Alkostar menyatakan bahwa Perbuatan terdakwa selaku
anggota DPR yang melakukan hubungan transaksional telah mencederai
kepercayaan rakyat banyak, khususnya masyarakat pemilih yang telah memilih
terdakwa menjadi anggota DPR RI.
10Dari beberapa hal diatas memunculkan beberapa alasan mengapa
penerapan penghapusan hak politik bagi terpidana tindak pidana korupsi menjadi
sangat penting yaitu:
a.
Penjatuhan pidana tambahan berupa pencabutan hak memilih dan
dipilih atau hak politik merupakan sarana penal untuk
menanggulangi tindak pidana korupsi yang memiliki efek
penjeraan bagi terpidana dan pencegahan bagi masyarakat.
9 Putusan Mahkamah Agung Nomor 1195 K/Pid.Sus/2014 Tahun 2014 Luthfi Hasan Ishaaq 10 Inggried Dwi Wedhaswary, ”Hak Politik Luthfi Hasan Ishaaq Dicabut, Hukumannya
b.
Karakteristik korupsi di Indonesia sebagai kebiasaan masyarakat.
c.
Untuk menghindarkan dari pemimpin yang korup.
d.
Korupsi merupakan extra ordinary crime dan serious crime.
11B. Kontra : Akan adanya Penghapusan Hak Politik Bagi Terpidana Tindak
Pidana Korupsi.
Summum Jus Summa Injuria, Summa Lex Summa Crux yang artinya
adalah keadilan yang setinggi-tingginya dapat berarti ketidak adilan tertinggi,
berdasarkan adagium tersebut dapat dilihat bahwa sesungguhnya penghapusan
hak politik bagi teripidana tindak pidana korupsi merupakan sesuatu yang
dianggap sebagai solusi untuk penyelesaian masalah tindak pidana korupsi di
Indonesia namun hal tersebut tidak memberikan jaminan bahwasanya tindak
pidana korupsi di Indonesia akan berkurang atau bahkan hilang dari negeri ini.
Berdasarkan hal tersebut tentunya pasti akan menimbulkan resiko yang besar pula
yang dapat dilihat bahwasanya penghapusan politik bagi terpidana tindak pidana
korupsi saja sudah sangat bertentangan dengan hak asasi manusia yang dimasukan
dalam hak-hak tiap warga negara di Indonesia. Robert Klitgaard yang menyatakan
bahwa “perbuatan korupsi dapat terjadi karna adanya speed money, yaitu uang
yang dibayakan kepada pejabat pemerintah untuk mempercepat pertimbangan
bisnis yang ada dalam yuridiksi mereka”
12.
Konsep tersebut menjadi sangat penting dikarnakan karakter korupsi di
Indonesia sangat terkait dangan “sistem birokrasi yang koruptif”
13, dalam praktek
penegakan hukum juga dapat sering dijumpai terjadinya disparitas penganan
kasus-kasus tindak pidana korupsi. Dalam pendapat Asep Dedi Suwasta, hal
tersebut terjadi sebagai bentuk akibat “kesesatan hakim dalam melakukan
argumentasi hukum. Argumentasi seorang hakim kerap sekali menimbulkan
kesesatan dalam penalarannya atau tafsirannya. Akibat terbesar dari kesalahan ini
adalah orang yang korupsi bebas dan orang yang tidak terbukti masuk penjara”
14.
11 Warih Anjari, “Pencabutan Hak Politik Terpidana Korupsi dalam Perspektif Hak Asasi
Manusia”, (Jakarta: Jurnal Yudisial, 2015) Hlm. 43.
12 Robert Klitgaard, “Internasional Cooperation Against Corruption, Finance & Development”,
Maret 1998, http://www.imf.org/external/pubs/ft/fandd/1998/03/.
13 Adi Toegarisman, Op. Cit. Hlm. 4.
14 Asep Dedi Suwasta, Tafsir Hukum Positif Indonesia, (Bandung: Alia Publishing, 2011), Hlm.
Menurut Adi Toegarisman yang menjadi salah satu faktor yang dapat
dianggap menjadi sebab kesesatan dalam argumentasi hakim yaitu adalah
dikarenakan adanya persinggungan antar peraturan perundang-undangan dalam
hukum pengelolaan keuangan di Indonesia terutama yang berkaitan dengan
kerugian keuangan negara yang berasal dari perbuatan korupsi
15. Dapat diketahui
bahwa jika melihat Undang-Undang No. 31 tahun 1999 jo Undang-Undang No.
20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengalami ketidak
harmonisan undang-undang tersebut dengan Undang-Undang No. 17 tahun 2003
tentang Keuangan Negara, lalu Undang-Undang No. 1 tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang No. 15 tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Benturan hukum antaran Undang-Undang diatas dapat kita ketahui
disebabkan oleh karena adanya pengabaiannya asas principle of legality yang
dibutuhkan untuk membuat bekerjanya suatu sistem hukum. Menurut Lon L.
Fuller dalam bukunya yang berjudul The Morality of Law
16meyatakan bahwa
salah satu dari 8 hal yang menyebabkan gagalnya suatu system hukum yaitu
adalah “contradiction in the law”. Yang artinya suatu sistem hukum tidak boleh
mengandung peraturan-peraturan yang bertentangan dengan peraturan lainnya,
Oleh karena beberapa alasan tersebut, hakim dalam memutus suatu
perkara Tindak Pidana korupsi harus mempertimbangkan sebab dan akibat dari
putusan yang akan dijatuhkannya. Jadi, dasar pembenaran adanya pidana menurut
teori ini adalah terletak pada tujuannya. Hakikatnya, teori pemidanaan tersebut
ditransformasikan melalui kebijakan pidana (criminal policy) pada kebijakan
legislatif.
17Dari alasan-alasan diatas dapat diketahui tidaklah diperlukannya yang
namanya sebuah gagasan untuk menghapus hak politik terpidana tindak pindana
korupsi karnah lah tersebuta sangatlah berlebihan karena tanpa dijatuhi hukuman
tambahan seperti itu pun orang yang terbukti melakukan tindak pidana dan
dijatuhi hukuman karena korupsi memang secara otomatis tercabut hak politiknya
15 Adi Toegarisman, Loc. Cit.
16 Lon L. Fuller, The Morality of Law, Revised ed, (New Heaven: Yale University Press, 1969),
Hlm.. 33.
17 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan hukum Pidana, (Bandung: Citra Aditya Bakti,
untuk menjadi pejabat publik. Kalau ditelusuri satu per satu, semua UU yang
terkait dengan peluang untuk menduduki jabatan publik memang melarang orang
yang pernah dijatuhi hukuman pidana karena korupsi untuk menduduki jabatan
publik.
Melalui putusan No 4/PUUVII/ 2009 (tanggal 24 Maret 2009) Mahkamah
Konstitusi telah menetapkan bahwa hukuman pencabutan hak politik itu dianggap
konstitusional tetapi dengan batasan-batasan tertentu sesuai dengan apa yang
dijelaskan sebelumnya.
18Tapi yang bersangkutan tidak boleh diangkat dalam
jabatan-jabatan yang tidak melalui pemilihan oleh rakyat seperti PNS, menteri,
duta besar, dan sebagainya. KPK, Pengadilan Tipikor sampai Mahkamah Agung
memang tidak salah dalam hal ini. Lembaga-lembaga tersebut hanya terasa
melakukan hal yang sangat berlebihan karena menjatuhkan hukuman yang
memang sudah otomatis berlaku sebagai hukuman.
19Ketepatan lembaga-lembaga tersebut tampak dari isi penghukuman bahwa
hak politik yang dicabut itu mencakup hak dipilih dan memilih. Padahal di dalam
berbagai UU maupun putusan Mahkamah Konstitusi pencabutan itu tertuju pada
hak untuk menjadi pejabat publik. Namun hukuman pencabutan hak politik itu
terasa berlebihan sebab secara psikologis dan sosiologis pencabutan hak memilih
tak dirasakan sebagai hukuman. Yang dirasakan sebagai hukuman adalah
pencabutan hak untuk dipilih dan menduduki jabatan publik yang sudah ada di
berbagai UU dan putusan MK.
18 Putusan Mahkamah Konstitusi No.4/PUU-VII/2009 tentang pencalonan mantan narapidana
sebagai anggota legislative, DPD,dan kepala daerah.