• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalan Keadilan Pemecah Permasalahan Koru

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jalan Keadilan Pemecah Permasalahan Koru"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

JALAN KEADILAN PEMECAH PERMASALAHAN KORUPSI DI

INDONESIA

DISUSUN OLEH

RAFFI KHARISMA RIALDI PUTRA

(1410611056)

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

FAKULTAS HUKUM

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara hukum yang dimana hukum menjadi

panglima utama dalam penyelenggaraan pengaturan hak-hak warga negaranya.

Hak asasi manusia yaitu hak dasar yang diperoleh sejak lahir di dunia. Setidaknya

terdapat 6 (enam) macam hak asasi manusia yang mendasar, yaitu; personal right,

Property Right, Politic right, right of legal equality, social and culture right,

procedural right.

1

Hak politik merupakan salah satu bagian dari hak warga negara

yang dimana merupakan produk dari hukum, pada hemat sekarang ini

penghapusan hak politik menjadi suatu perbincangan yang merupakan salah satu

upaya untuk mencapai jalan keadilan dalam memecahkan permasalahan korupsi

di Indonesia yang sudah menjadi suatu budaya buruk di negeri ini.

John Rawl sendiri mengemukakan hak asasi manusia melalui teorinya A

Theory of Justice berdasarkan dua prinsip utama yang erat dengan prinsip

kebebasan, yaitu: Pertama, “Each person is to have an equal right to the most

extensive basic liberty compatible with a similar for others” artinya, setiap

individu pada dasarnya memiliki hak yang sama yang dimana menjadi sebuah

dasar kebebasan dan berlaku pula kepada tiap-tiap individu yang lain.

2

Dalam hal ini kebebasan dasar para warga adalah kebebasan berpolitik,

yaitu untuk memberikan hak suara dan hak atas kedudukan publik, kemerdekaan

berbicara dan berkumpul, kebebasan nurani dan kemerdekaan berpikir,

kemerdekaan memiliki properti, serta kemerdekaan dari penahanan dan pengambil

alihan semena-mena. Kebebasan-kebebasan ini dibutuhkan untuk menciptakan

suatu keadilan sosial agar semua masyarakat memiliki hak dan kedudukan yang

sama. Kedua. “Social and economic inequalities are both. Reasonably expected to

be everyone’s advantage and attached to positions and office open to all”.

3

1 Wahyono, “Memahami Karakteristik Hak Asasi Manusia”,

http://ham.go.id/memahami-karakteristik-hak-asasi-manusia/, diakses tanggal 20 Mei 2017.

2 John Rawls, Teori Keadilan, Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan Kesejahteraan

Sosial dalam Negara, (Jakarta; Pustaka Pelajar, 2011) Hlm. 5

(3)

Melalui prinsip ini, distribusi kesejahteraan dan pendapatan serta hierarki

kewenangan harus konsisten dengan prinsip kebebasan dan kesetaraan

kesempatan. Yang dimana, distribusi ini harus benar-benar menjadi keuntungan

dan kebaikan semua orang. keadilan sosial, berdasarkan prinsip ini akan tercapai

bila mampu membagi semua keuntungan sosial dan ekonomi bagi semua pihak.

Meskipun demikian, ketidak samaan posisi dalam mencapai hak-hak ekonomi dan

sosial masih terjadi.

Seperti kita ketahui, terdapat banyak sekali persoalan yang melingkupi

proses penegakan hukum di Indonesia, khususnya dalam pemberantasan tindak

pidana korupsi. Menurut H.M. Prasetyo menyatakan bahwa tidak kalah

pentingnya adalah persoalan efisiensi dalam penanganan perkara tindak pidana

korupsi.

4

Salah satu contohnya yaitu ambiguitas regulasi pemberantasan korupsi

adalah pengembalian kerugian negara tidak menghapus pidana perbuatan korupsi.

Walaupun kerugian negara sangat kecil, tetap haruslah dilakukan penyidikan dan

penuntutan tanpa memperhitungkan biaya penanganan perkara yang lebih besar

ketimbang jumlah kerugian negaranya.

Berdasarkan Transparency International Bribe Payers Index menjadi fakta

yang sangat disayangkan. Pada tahun 2011, BPI yang dihasilkan dari survey

terhadap 3000 pelaku usaha yang menjalankan bisnis Internasional di 28 negara

telah menempatkan Indonesia berada pada peringkat 25 dari 28 negara dengan

BPI 7,1 dari rata-rata 7,8.

5

Berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi No.

4/PUU-VII/2009 tentang pencalonan mantan narapidana sebagai anggota

legislatif, DPD, dan kepala daerah.

6

Hal ini dapat diketahui bahwasanya mantan

narapidana sejujurnya diperbolehkan untuk mencalonkan dirinya sebagai anggota

legislatif, DPD, dan kepala daerah asalkan memenuhi 4 syarat yaitu: tidak berlaku

untuk jabatan publik yang dipilih (elected officials), berlaku terbatas jangka

waktunya hanya selama 5 (lima) tahun sejak terpidana selesai menjalani

hukumannya, dikecualikan bagi mantan terpidana yang secara terbuka dan jujur

4 Lihat, Adi Toegarisman, Pemberantasan Korupsi Dalam Paradigma Efisiensi, (Jakarta; PT

Kompas Media Nusantara, 2016) Hlm. VIII, HM Praseto menyatakan pendapatnya pada dalam kata pengantar atau kata sambutan sambutan yang di cantumkan dalam buku ini.

5 BPI Indeks yang menggambarkan praktik-praktik penyuapan yang dilakukan oleh dunia usaha

terhadap kepada penyelenggara negara atau pejabat publik di suatu negara.

6 Putusan Mahkamah Konstitusi No.4/PUU-VII/2009 tentang pencalonan mantan narapidana

(4)

mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan narapidana,

bukan sebagai pelaku kejahatan yang berulang-ulang. Putusan Mahkamah

Konstitusi tersebut terkait dengan permohonan pengujian terhadap pasal 12 huruf

g, pasal 50 ayat 1 huruf g UU No.1 tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan

pasal 58 huruf f UU No.12 tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah, yang

merupakan norma hukum yang inkonstitusional bersyarat. Mahkamah Konstitusi

memperbolehkan mantan narapidana untuk mencalonkan sebagai anggota

legislatif, DPD dan kepala daerah dengan syarat tertentu, dengan dasar

pertimbangan bahwa Mahkamah Konstitusi mempunyai wewenang untuk menguji

pasal-pasal tersebut, pemohon mempunyai kedudukan hukum (legal standing) dan

pada pokok dalil-dalil permohonan pemohon.

Justitiae Non Est Neganda, Non Differenda, Justice is not to be denied or

delayed yang artinya adalah keadilan tidak dapat disangkal atau ditunda. Semakin

membudayanya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara dan

tokoh politik, maka semakin banyak pula upaya-upaya untuk memberantas tindak

pidana korupsi karena korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara dan tokoh

politik memiliki dampak yang amat luas. Kriteria terpidana korupsi yang dijatuhi

pidana tambahan berupa pencabutan hak pilih aktif dan pasif adalah terpidana

yang memiliki jabatan dan posisi politik, disebut dengan korupsi politik.

Pencabutan hak pilih aktif dan pasif tidak melanggar Hak Politik warga negara,

mengingat perbuatan korupsi yang dilakukannya juga telah melanggar hak asasi

sehingga disebut extraordinary crime.

7

Dalam Undang-undang nomor 39 Tahun

1999 tentang Hak Asasi Manusia, hak pilih aktif dan pasif masuk dalam kategori

derogable rights atau hak yang bisa dilanggar penegak hukum dalam rangka

penegakan hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Rumusan Masalah

Dalam hal ini akhirnya penulis dapat menentukan suatu rumusan masalah yaitu:

1. Apakah upaya pemerintah dalam mengurangi perbuatan tindak pidana

korupsi yaitu dengan penghapusan hak politik merupakan solusi terbaik?

7Yosy Dewi Mahayanthi, “Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan putusan pencaputan

(5)
(6)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pro : Regulasi Penghapusan Hak Politik Bagi Terpidana Tindak Pidana

Korupsi

Pengakuan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia terdapat di dalam

landasan dasar negara Indonesia (staatfundamentalnorm) yaitu Pancasila dan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya

disingkat UUD 1945) tepatnya pada Pasal 27 (1) dimana setiap warga negara

bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan, dan wajib

menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

Dengan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Indonesia adalah negara hukum

(rechtsstaat), bukan negara yang berdasarkan atas kekuasaan (machtsstaat).

Adapun unsur-unsur rechsstaat menurut Scheltema antara lain: 1) kepastian

hukum; 2) persamaan; 3) demokrasi; dan 4) pemerintahan yang melayani

kepentingan umum.

8

Berkaitan dengan hal tersebut, perlu adanya supremasi hukum tertinggi

dalam penganagan kasus korupsi di Indonesia, hal ini dibutuhkan karena masalah

korupsi ini sudah menjadi masalah besar hampir di seluruh negara berkembang di

dunia, salah satunya Indonesia Korupsi sepertinya sudah menjadi budaya yang

berkembang dikalangan masyarakat kelas atas sampai bawah. Korupsi dapat

dilihat dengan mata telanjang diberbagai institusi, baik eksekutif, legislatif

maupun yudikatif. Parahnya hampir semua pejabat-pejabat tinggi negara

melakukannya, tanpa mereka pikirkan bahwa tindakan ini merugikan negara itu

sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa nilai luhur suatu individu atau yang sering

disebut moral dan etika pejabat dewasa ini mengalami penurunan. Bahwa tidak

adanya kesadaran seorang individu tentang etika dan aturan hukum yang berlaku

membuat korupsi semakin meningkat. Akan tetapi tidak hanya moral individu itu

saja yang dapat mempengaruhi terjadinya korupsi, banyak hal yang menjadi latar

(7)

belakang korupsi salah satunya seperti kekuasaan, yang dikenal sebagai abuse of

power atau penyalahgunaan kekuasaan.

Untuk mengatasi masalah korupsi yang sudah mendarah daging di

Indonesia dari legislatif, eksekutif dan yudikatif yang sudah tidak dapat

terbendung lagi, diperlukan hukuman tambahan bagi terpidana kasus ini, yaitu

pencabutan hak politik, pencabutan hak politik dalam hal ini adalah pencabutan

hak memilih dan dipilih dalam jabatan publik.

Mengenai pencabutan hak politik, sebenarnya sistem pidana di Indonesia

telah mengatur hal tersebut, yaitu dikenal dengan pencabutan hak tertentu diatur

dalam Pasal 10 poin b Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dan juga Pasal 18

huruf d Undang Undang No 39 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi. Apabila kita kembali merujuk pada ketentuan Pasal 10 poin b

Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), ada beberapa jenis Pidana

Tambahan, yaitu : 1. Pencabutan hak-hak tertentu, 2. Perampasan barang-barang

tertentu, 3. Pengumuman putusan hakim.

Hal tersebut juga tertuang secara lex specialis dalam Pasal 18 ayat (1)

huruf d Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi, sebagai berikut : Pencabutan Seluruh atau sebagian hak-hak

tertentu atau penghapusan Seluruh atausebagian keuntungan tertentu, yang telah

atau dapat diberikan oleh Pemerintah kepada terpidana.Kata tertentu dalam

pencabutan hak berarti pencabutan itu tidak dapat dilakukan terhadap semua hak,

hanya hak tertentu saja yang bisa dicabut. Apabila semua hak dicabut, akan

membawa konsekuensi terpidana kehilangan semua haknya termasuk kesempatan

untuk hidup.

Menurut ketentuan Pasal 35 ayat (1) KUHP, hak-hak yang dapat dicabut

oleh hakim dengan suatu putusan pengadilan adalah :

1. Hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu;

2. Hak untuk memasuki angkatan bersenjata;

(8)

4. Hak menjadi penasehat atau pengurus atas penetapan pengadilan, hak menajdi

wali, wali pengawas, pengampu, atau pengampu pengawasan atas orang yang

bukan anaknya sendiri;

5. Hak menajalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian, atau

pengampuan atas anaknya sendiri;

6. Hak menjalankan mata pencarian tertentu.

Pencabutan hak politik bagi Luthfi Hasan Ishaaq yang melakukan tindak

pidana korupsi suap pada proyek impor daging sapi. Keterlibatan Luthfi Hasan

Ishaaq diketahui melalui keterangan pada Ahmad Fathanah yang telah ditangkap

terlebih dahulu yang diketahui sebagai kurir dalam kasus suap ini. Saat tertangkap

tangan, KPK menduga uang sebesar Rp. 1 miliar yang dutemukan di dalam mobil

Ahmad Fathanah itu untuk diserahkan kepada Luthfi Hasan Ishaaq. Luthfi Hasan

Ishaaq telah melanggar pasal 12 huruf a dan b dan atau pasal 5 ayat 2 dan pasal 11

UU Tipikor. Majelis Kasasi yang menjatuhkan pidana tambahan berupa

pencabutan hak pilih pasif terhadap Luthfi Hasan Ishaaq.

9

Hakim menilai dalam aspek sosiologis bahwa perbuatan terpidana menjadi

ironi demokrasi, karena tidak melindungi nasib para petani peternak sapi nasional.

Hubungan transaksional antara Luthfi Hasan Ishaaq dengan Maria Elizabeth

Liman merupakan korupsi politik sehingga merupakan kejahatan yang serius

(serious crime). Artidjo Alkostar menyatakan bahwa Perbuatan terdakwa selaku

anggota DPR yang melakukan hubungan transaksional telah mencederai

kepercayaan rakyat banyak, khususnya masyarakat pemilih yang telah memilih

terdakwa menjadi anggota DPR RI.

10

Dari beberapa hal diatas memunculkan beberapa alasan mengapa

penerapan penghapusan hak politik bagi terpidana tindak pidana korupsi menjadi

sangat penting yaitu:

a.

Penjatuhan pidana tambahan berupa pencabutan hak memilih dan

dipilih atau hak politik merupakan sarana penal untuk

menanggulangi tindak pidana korupsi yang memiliki efek

penjeraan bagi terpidana dan pencegahan bagi masyarakat.

9 Putusan Mahkamah Agung Nomor 1195 K/Pid.Sus/2014 Tahun 2014 Luthfi Hasan Ishaaq 10 Inggried Dwi Wedhaswary, ”Hak Politik Luthfi Hasan Ishaaq Dicabut, Hukumannya

(9)

b.

Karakteristik korupsi di Indonesia sebagai kebiasaan masyarakat.

c.

Untuk menghindarkan dari pemimpin yang korup.

d.

Korupsi merupakan extra ordinary crime dan serious crime.

11

B. Kontra : Akan adanya Penghapusan Hak Politik Bagi Terpidana Tindak

Pidana Korupsi.

Summum Jus Summa Injuria, Summa Lex Summa Crux yang artinya

adalah keadilan yang setinggi-tingginya dapat berarti ketidak adilan tertinggi,

berdasarkan adagium tersebut dapat dilihat bahwa sesungguhnya penghapusan

hak politik bagi teripidana tindak pidana korupsi merupakan sesuatu yang

dianggap sebagai solusi untuk penyelesaian masalah tindak pidana korupsi di

Indonesia namun hal tersebut tidak memberikan jaminan bahwasanya tindak

pidana korupsi di Indonesia akan berkurang atau bahkan hilang dari negeri ini.

Berdasarkan hal tersebut tentunya pasti akan menimbulkan resiko yang besar pula

yang dapat dilihat bahwasanya penghapusan politik bagi terpidana tindak pidana

korupsi saja sudah sangat bertentangan dengan hak asasi manusia yang dimasukan

dalam hak-hak tiap warga negara di Indonesia. Robert Klitgaard yang menyatakan

bahwa “perbuatan korupsi dapat terjadi karna adanya speed money, yaitu uang

yang dibayakan kepada pejabat pemerintah untuk mempercepat pertimbangan

bisnis yang ada dalam yuridiksi mereka”

12

.

Konsep tersebut menjadi sangat penting dikarnakan karakter korupsi di

Indonesia sangat terkait dangan “sistem birokrasi yang koruptif”

13

, dalam praktek

penegakan hukum juga dapat sering dijumpai terjadinya disparitas penganan

kasus-kasus tindak pidana korupsi. Dalam pendapat Asep Dedi Suwasta, hal

tersebut terjadi sebagai bentuk akibat “kesesatan hakim dalam melakukan

argumentasi hukum. Argumentasi seorang hakim kerap sekali menimbulkan

kesesatan dalam penalarannya atau tafsirannya. Akibat terbesar dari kesalahan ini

adalah orang yang korupsi bebas dan orang yang tidak terbukti masuk penjara”

14

.

11 Warih Anjari, “Pencabutan Hak Politik Terpidana Korupsi dalam Perspektif Hak Asasi

Manusia”, (Jakarta: Jurnal Yudisial, 2015) Hlm. 43.

12 Robert Klitgaard, “Internasional Cooperation Against Corruption, Finance & Development”,

Maret 1998, http://www.imf.org/external/pubs/ft/fandd/1998/03/.

13 Adi Toegarisman, Op. Cit. Hlm. 4.

14 Asep Dedi Suwasta, Tafsir Hukum Positif Indonesia, (Bandung: Alia Publishing, 2011), Hlm.

(10)

Menurut Adi Toegarisman yang menjadi salah satu faktor yang dapat

dianggap menjadi sebab kesesatan dalam argumentasi hakim yaitu adalah

dikarenakan adanya persinggungan antar peraturan perundang-undangan dalam

hukum pengelolaan keuangan di Indonesia terutama yang berkaitan dengan

kerugian keuangan negara yang berasal dari perbuatan korupsi

15

. Dapat diketahui

bahwa jika melihat Undang-Undang No. 31 tahun 1999 jo Undang-Undang No.

20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengalami ketidak

harmonisan undang-undang tersebut dengan Undang-Undang No. 17 tahun 2003

tentang Keuangan Negara, lalu Undang-Undang No. 1 tahun 2004 tentang

Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang No. 15 tahun 2004 tentang

Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Benturan hukum antaran Undang-Undang diatas dapat kita ketahui

disebabkan oleh karena adanya pengabaiannya asas principle of legality yang

dibutuhkan untuk membuat bekerjanya suatu sistem hukum. Menurut Lon L.

Fuller dalam bukunya yang berjudul The Morality of Law

16

meyatakan bahwa

salah satu dari 8 hal yang menyebabkan gagalnya suatu system hukum yaitu

adalah “contradiction in the law”. Yang artinya suatu sistem hukum tidak boleh

mengandung peraturan-peraturan yang bertentangan dengan peraturan lainnya,

Oleh karena beberapa alasan tersebut, hakim dalam memutus suatu

perkara Tindak Pidana korupsi harus mempertimbangkan sebab dan akibat dari

putusan yang akan dijatuhkannya. Jadi, dasar pembenaran adanya pidana menurut

teori ini adalah terletak pada tujuannya. Hakikatnya, teori pemidanaan tersebut

ditransformasikan melalui kebijakan pidana (criminal policy) pada kebijakan

legislatif.

17

Dari alasan-alasan diatas dapat diketahui tidaklah diperlukannya yang

namanya sebuah gagasan untuk menghapus hak politik terpidana tindak pindana

korupsi karnah lah tersebuta sangatlah berlebihan karena tanpa dijatuhi hukuman

tambahan seperti itu pun orang yang terbukti melakukan tindak pidana dan

dijatuhi hukuman karena korupsi memang secara otomatis tercabut hak politiknya

15 Adi Toegarisman, Loc. Cit.

16 Lon L. Fuller, The Morality of Law, Revised ed, (New Heaven: Yale University Press, 1969),

Hlm.. 33.

17 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan hukum Pidana, (Bandung: Citra Aditya Bakti,

(11)

untuk menjadi pejabat publik. Kalau ditelusuri satu per satu, semua UU yang

terkait dengan peluang untuk menduduki jabatan publik memang melarang orang

yang pernah dijatuhi hukuman pidana karena korupsi untuk menduduki jabatan

publik.

Melalui putusan No 4/PUUVII/ 2009 (tanggal 24 Maret 2009) Mahkamah

Konstitusi telah menetapkan bahwa hukuman pencabutan hak politik itu dianggap

konstitusional tetapi dengan batasan-batasan tertentu sesuai dengan apa yang

dijelaskan sebelumnya.

18

Tapi yang bersangkutan tidak boleh diangkat dalam

jabatan-jabatan yang tidak melalui pemilihan oleh rakyat seperti PNS, menteri,

duta besar, dan sebagainya. KPK, Pengadilan Tipikor sampai Mahkamah Agung

memang tidak salah dalam hal ini. Lembaga-lembaga tersebut hanya terasa

melakukan hal yang sangat berlebihan karena menjatuhkan hukuman yang

memang sudah otomatis berlaku sebagai hukuman.

19

Ketepatan lembaga-lembaga tersebut tampak dari isi penghukuman bahwa

hak politik yang dicabut itu mencakup hak dipilih dan memilih. Padahal di dalam

berbagai UU maupun putusan Mahkamah Konstitusi pencabutan itu tertuju pada

hak untuk menjadi pejabat publik. Namun hukuman pencabutan hak politik itu

terasa berlebihan sebab secara psikologis dan sosiologis pencabutan hak memilih

tak dirasakan sebagai hukuman. Yang dirasakan sebagai hukuman adalah

pencabutan hak untuk dipilih dan menduduki jabatan publik yang sudah ada di

berbagai UU dan putusan MK.

18 Putusan Mahkamah Konstitusi No.4/PUU-VII/2009 tentang pencalonan mantan narapidana

sebagai anggota legislative, DPD,dan kepala daerah.

(12)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam tulisan ini penulis dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya

upaya pemerintah tentang menghapus hak politik bagi terpidana tindak pidana

korupsi merupakan salah satu solusi yang baik, agar tidak terjadinya perbuatan

korupsi yang terus menerus dengan memutus tali rantai politik sang terpidana

tindak pidana korupsi tersebut, namun facta sunt potentiora verbis yang arti fakta

lebih kuat dari kata-kata yang dimana kita dapat melihat sendiri bahwasanya kita

tidak bisa terpaku kepada suatu peraturan yang efeknya masih belom terlihat.

Penulis sendiri disini berpendapat jika melihat dari sisi negatifnya sesungguhnya

alangkah lebih baiknya jika kita lebih terfokus ke merubah peraturan-peraturan

perundang-undangan antara No. 31 tahun 1999 jo Undang-Undang No. 20 tahun

2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengalami ketidak

harmonisan undang-undang tersebut dengan Undang-Undang No. 17 tahun 2003

tentang Keuangan Negara, lalu Undang-Undang No. 1 tahun 2004 tentang

Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang No. 15 tahun 2004 tentang

Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

(13)

Daftar Pustaka

Arief, Barda Nawawi, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung, Citra

Aditya Bakti, 2002.

Anjari, Warih, “Pencabutan Hak Politik Terpidana Korupsi dalam Perspektif Hak

Asasi Manusia”, Jurnal Yudisial, 2015.

Fuller, Lon L, The Morality of Law, Revised ed, Yale University Press, New

Heaven, 1969.

Mahayanthi, Yosy Dewi, “Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan

putusan pencaputan hak pilih aktif dan pasif terhadap terpidana tindak

pidana korupsi dalam perspektif hak asasi manusia”, Malang: Jurnal

Ilmiah, 2015.

Rawls, John, Teori Keadilan, Dasar-Dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan

Kesejahteraan Sosial dalam Negara, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2011

Suwasta, Asep Dedi, Tafsir Hukum Positif Indonesia, Alia Publishing, Bandung,

2011.

Siddiq, Muhammad. Armia, Perkembangan Pemikiran Teori Ilmu Hukum, PT.

Pradnya Paramita, Jakarta, 2008.

Toegarisman, Adi, Pemberantasan Korupsi Dalam Paradigma Efisiensi, PT

Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2016.

Refferensi Online

Wahyono, “

Memahami Karakteristik Hak Asasi Manusia”,

http://ham.go.id/memahami-karakteristik-hak-asasi-manusia/.

Wedhaswary, Inggried Dwi, ”Hak Politik Luthfi Hasan Ishaaq Dicabut,

Hukumannya Diperberat Jadi 18 Tahun”, http://nasional.kompas.

com/read/2014/09/16/06315561/Hak.Politik.Luthfi.Hasan. Ishaaq.Dicabut.

Hukumannya.Diperberat.Jadi.18.Tahun.

Klitgaard, Robert, “Internasional Cooperation Against Corruption, Finance &

Development”, Maret 1998, http://www.imf.org/external/pubs/ft/fandd

/1998/03

(14)

Putusan Mahkamah Agung Nomor 1195 K/Pid.Sus/2014 Tahun 2014 Luthfi

Hasan Ishaaq

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menyatakan bahwa kemampuan membaca puisi siswa mengalami peningkatan, Pada siklus I pertemuan I rata-rata kemampuan membaca puisi siswa memperoleh

Tujuan dan teori pemasaran yang telah dikaji kemudian akan dijadikan landasan untuk dapat mengetahui segala kebutuhan, keinginan dan permintaan target sasaran

Dari pola pergerakan arus ini dapat diketahui juga pola pergerakan sedimen yang mungkin terjadi .Model hidrodinamika dalam model ini meliputi pemodelan pasang surut, kecepatan arus

Dalam konteks ini, salah saji bisa diakibatkan oleh penerapan akuntansi secara keliru, tidak sesuai dengan fakta atau karena hilangnya informasi penting (Martiyani,

Mulai mengatur hidup kita, arahnya diluruskan kembali, yang kemarin sibuk menumpuk aset hutangan dan gaya hidup berlebihan sekarang fokus bagaimana membuat bisnis

Pegawai Negeri Sipil yang melaksanakan tugas pada UPT Satuan PAUD dan UPT Satuan Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu, tetap

Sama halnya dengan Pb, untuk logam esensial Cu mengalami peningkatan konsentrasi mulai dari hulu hingga ke mulut estuari. Konsentrasi Cu pada daerah sungai lebih rendah

Pengaruh Kompos Pupuk Organik yang Diperkaya dengan Bahan Mineral dan Pupuk Hayati terhadap Sifat-sifat Tanah, Serapan Hara dan Produksi Sayuran Organik.. Laporan Proyek