Medical Laboratory Technology Journal
Available online at : http://ejurnal
-
analiskesehatan.web.id
2 (2), 2016, 56-60KESESUAIAN HASIL PEMERIKSAAN RT PCR, RDT NS1, DAN RDT IgM
PASIEN PENYAKIT DENGUE
Paisal1*, Mukhlis Zuardi2, Reni Herman3
1 Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Jl. Lokalitbang Gunung Tinggi, Tanah Bumbu, 72271,
Indonesia. 2 Loka LitbangBiomedis Aceh, Jl. Sultan Iskandar Muda Lrg. Tgk. Dilangga No. 9,
Aceh Besar, 23371, Indonesia. 3 Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan,
Jl. Percetakan Negara No. 23, Jakarta, 10560, Indonesia
e-mail: [email protected]
Abstract: The incidence of dengue disease in the world is estimated at 390 million cases per
year. In Indonesia, during 2013 there were 35-40 cases per 100.000 population, with a
mortali-ty rate of 0.73%. This study aimed to determine the suitabilimortali-ty and the percentage of RT-PCR,
RDT NS1, and RDT IgM detection examination. Samples were obtained from hospitals in Aceh province during 2012. The research samples reached 100 collected samples, it was only 82
samples that fulfill the analysis criteria. Cohen’s Kappa test result showed there was moderate
suitability between RT-PCR and RDT NS1 (K=0,404, p = 0,000), and weak suitability between
RT-PCR began RDT IgM (K=0,139, p = 0,046). While the percentage of detection for RT-PCR,
RDT NS1, dan RDT IgM were 16%, 10%, and 60%. RDT IgM is the best alternative for labora-tory examination in the hospital.
Keywords: dengue; laboratory examination
Abstrak: Insiden penyakit dengue di seluruh dunia diperkirakan sebesar 390 juta kasus per
tahun. Di Indonesia, selama 2013 terjadi 35-40 kasus per 100.000 penduduk, dengan angka
kematian sebesar 0,73%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian dan
prosen-tase deteksi pemeriksaan RT-PCR, RDT NS1, dan RDT IgM. Sampel diperoleh dari rumah
sa-kit di Provinsi Aceh selama tahun 2012. Sampel penelitian mencapai 100 sampel yang
terkum-pul, hanya 82 sampel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis. Hasil uji Cohen’s Kappa,
di-peroleh kesesuaian sedang antara RT PCR dengan RDT NS1 (K=0,404, p = 0,000), dan kes-esuaian lemah antara RT PCR dengan RDT IgM (K=0,139, p = 0,046). Sedangkan prosentase
deteksi untuk RT-PCR, RDT NS1, dan RDT IgM berturut-turut adalah 16, 10, dan 60 persen.
RDT IgM merupakan alternatif pilihan terbaik bagi pemeriksaan laboratorium di rumah sakit. Kata kunci: dengue; pemeriksaan laboratorium
PENDAHULUAN
Penyakit dengue merupakan penyakit en-demis di lebih dari 100 negara tropis dan
sub-tropis. Negara-negara yang banyak yang
terkena adalah yang terletak di Asia Tenggara dan Pasifik Barat (Tsai et al., 2009). Insiden penyakit dengue di seluruh dunia diperkirakan 390 juta kasus per tahun, dan yang bermani-festasi secara klinis sekitar 96 juta (Bhatt et al., 2013).
Di Indonesia, kasus infeksi dengue per-tama kali dilaporkan terjadi di Jakarta dan Su-rabaya pada 1968 (Soedarmo, 1994). Insiden dengue semakin meningkat dari tahun ke ta-hun. Pada tahun 1968, insidennya adalah
0,05/100.000 naik menjadi 35-40/100.000
pa-da 2013. Walaupun insiden meningkat, angka kematian cenderung menurun, yaitu 41% pa-da 1968 menjadi 0,73% papa-da 2013 (Karyanti et al., 2014)
Penyakit dengue disebabkan oleh virus dengue. Virus ini termasuk ke dalam genus
flavivirus, famili Flaviviradae. Virus dengue
dikenal memiliki empat jenis serotipe, yaitu DENV1, DENV2, DENV3, dan DENV4.
Virus dengue ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Nyamuk ini menggigit di siang hari dan berkembang biak di air bersih.
Infeksi oleh salah satu serotipe akan mencetuskan kekebalan jangka panjang khu-sus untuk serotipe tersebut. Tetapi, infeksi berikutnya dari serotipe yang lain dapat me-nyebabkan penyakit dengan gejala klinis yang parah. Fenomena ini terjadi diduga karena
adanya mekanisme Antibody-dependent
En-hancement (Nielsen, 2009).
Masa inkubasi penyakit dengue sekitar 3 sampai 7 hari. Setelah itu muncul gejala yang terbagi menjadi tiga fase. Fase pertama ada-lah fase demam. Pada fase ini terjadi pening-katan suhu tubuh lebih dari 38,5°C disertai
fase kritis terjadi kebocoran pembuluh darah yang ditandai dengan hemokonsentrasi, hipo-proteinemia, efusi pleura, dan asites. Tidak semua pasien dengue mengalami fase kritis. Fase ketiga adalah fase penyembuhan. Pada fase ini, pembuluh darah yang bocor mem-baik seperti sebelum sakit dan gejala demam dan gejala penyerta lainnya menghilang. Fase
penyembuhan berlangsung cukup singkat,
yaitu 48 – 72 jam (Simmons, Farrar, van Vinh
Chau, & Wills, 2012).
Sejak masa inkubasi sampai mulai mun-cul demam, jumlah virus dengue semakin meningkat. Selain itu, produk virus yaitu
pro-tein NS1 (non structural 1) juga turut
mening-kat seiring dengan bertambahnya jumlah vi-rus. Menjelang akhir masa demam sekitar
hari ke-6 dan ke-7, jumlah virus dan protein
NS1 semakin berkurang sebelum akhirnya menghilang sama sekali (Peeling, Artsob, & Pelegrino, 2010).
Berbeda halnya dengan antibodi IgM yang muncul sebagai reaksi terhadap keberadaan virus dengue. Pada awal perjal-anan penyakit, antibodi ini hampir tidak
terdeteksi. Baru setelah hari ke-3 sampai hari
ke-5, antibodi terdeteksi pada 50% pasien,
hari ke-6 terdeteksi pada 80% pasien dan
pa-da hari ke-10 terdeteksi pada 99% pasien
(WHO, 2009).
Secara laboratorium, virus dengue dapat dideteksi menggunakan teknik isolasi virus
dan deteksi materi genetik dengan reverse
transcriptase polymerase chain reaction (RT
PCR). Sedangkan protein NS1 dapat
dideteksi dengan teknik lateral flow
menggunakan rapid diagnostic test (RDT
NS1). Antibodi IgM juga dapat dideteksi
dengan teknik lateral flow dengan rapid
diag-nostic test (RDT IgM). Penelitian ini bertujuan
untuk menentukan tingkat kesesuaian antara pemeriksaan RDT IgM, RDT NS1, dan RT PCR dan menentukan prosentase deteksi ke-tiga pemeriksaan tersebut.
BAHAN DAN METODE
Jenis penelitian survey analitik. Penelitian dilakukan di rumah sakit yang berada di Provinsi Aceh pada 2012.
Pengambilan Darah
Darah vena yang diambil adalah bagian dari darah yang digunakan untuk pemerik-saan rutin rumah sakit. Jumlah darah vena
untuk penelitian ini adalah 1-2 ml. Darah vena
tersebut disentrifuse dengan kecepatan 1500 rpm selama 15 menit pada suhu ruang.
Se-rum yang didapatkan berkisar 500 – 1000 µl.
Sebagian serum dilakukan pemeriksaan RDT IgM dan RDT NS1. Sebagian lagi disimpan
pada suhu -20oC untuk keperluan
pemerik-saan RT PCR. Pemeriksaan IgM
Pemeriksaan IgM dilakukan menggunakan
Rapid Diagnostic Test IgM. Sebanyak 3 tetes
serum diteteskan ke sumur sampel, lalu dit-ambahkan 2 tetes larutan buffer. Dibiarkan sekitar 15 menit lalu hasil pemeriksaan di-baca. Jika muncul dua garis merah pada lajur periksa IgM, maka hasil pemeriksaan diang-gap positif. Tetapi jika hanya satu garis merah pada kedua lajur periksa maka hasil dianggap negatif.
Pemeriksaan RDT NS1
Prosedur pemeriksaan protein NS1
menggunakan RDT NS1 (Rapid Diagnostic
Non Structural 1). Caranya yaitu dengan pipet
disposable, sebanyak 3 tetes serum
dimasuk-kan ke dalam sumur sampel yang bertanda S.
Dibiarkan selama 15-30 menit, lalu hasil
pemeriksaan dibaca. Jika muncul dua garis merah, maka hasil pemeriksaan positif, tetapi jika hanya satu garis merah, hasil pemerik-saan dianggap negatif.
Pemeriksaan RT-PCR
Pemeriksaan RT-PCR (Reverse
Tran-scriptase Polymerase Chain Reaction)
dil-akukan dalam 3 tahap (Paisal et al., 2015). Tahap pertama adalah isolasi RNA virus den-gue dari serum menggunakan kit isolasi RNA. Tahap kedua adalah amplifikasi RNA virus dengue (Lanciotti, Calisher, Gubler, Chang, & Vorndam, 1992). Secara singkat, salinan cDNA dari kapsid dan prM diperoleh dengan cara amplifikasi menggunakan dua primer konsensus (D1 dan D2) yang akan menempel pada keempat jenis serotipe dengue. Setelah itu, dilakukan amplifikasi kedua dengan empat primer spesifik (TS1, TS2, TS3, TS4) untuk
masing-masing serotipe. Tahap ketiga adalah
elektroforesis. Bahan yang dilektroforesis adalah hasil amplifikasi kedua. Elektroforesis menggunakan gel agarose 1% yang diwarnai dengan ethidium bromide. Interpretasi hasil elektroforesis adalah DENV1 jika panjang pita DNA 482 bp, DENV2 119 bp, DENV3 290 bp dan DENV4 392 bp.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini diikuti oleh 82 orang re-sponden. Jumlah responden menurut jenis
kelamin, baik laki-laki dan perempuan cukup
berimbang. Sedangkan menurut umur, lebih dari setengah responden berusia di bawah 30 tahun (Tabel 1).
Tabel 1. Karakteristik Responden
Dari 82 sampel yang memenuhi kriteria penyakit dengue secara klinis, pemeriksaan RDT IgM mendeteksi paling banyak, dan se-baliknya pemeriksaan RDT NS1 yang
mendeteksi paling sedikit (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Sampel
* Dari 13 sampel yang positif RT PCR, 11 sampel juga positif RDT IgM
** Dari 8 sampel yang positif RDT NS1, semuanya juga positif RDT IgM
Untuk mengetahui kesesuaian
(agreement) antara pemeriksaan RT PCR
dengan RDT NS1, dan RT PCR dengan RDT IgM dalam menegakkan diagnosis penyakit
dengue, dilakukan uji Cohen’s Kappa. Untuk
Tabel 3. Kesesuaian Antara Pemeriksaan RT PCR dengan RDT NS1 dan RDT IgM
Penelitian memperoleh hasil kesesuaian yang sedang antara pemeriksaan RT PCR dan RDT NS1 dan kesesuaian yang lemah antara RT PCR dan RDT IgM (Tabel 3).
Kesesuaian sedang antara RT PCR dan RDT NS1 disebabkan karena dua pemerik-saan ini mendeteksi dua hal yang meningkat secara paralel, yaitu virus dengue dan protein NS1. Pemeriksaan RT PCR dapat mendeteksi sampel positif virus dengue yang diambil sejak hari pertama sakit sampai hari ketujuh. Setelah hari ketujuh, pemeriksaan RT PCR cenderung memberikan hasil negatif
(Grobusch, Niedrig, Göbels, Klipstein
-Grobusch, & Teichmann, 2006). Sedangkan RDT NS1 dapat mendeteksi protein NS1 se-jak hari pertama dan kemampuan deteksi mencapai puncak pada hari kedua sampai keempat dan kemudian terus menurun (Pal et al., 2014).
Ditinjau dari prosentese pendeteksian, kemampuan RT PCR lebih tinggi dibanding-kan RDT NS1 (Tabel 2). Beberapa penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa sensi-tivitas RT PCR lebih tinggi dibandingkan dengan RDT NS1 (Tricou et al., 2010). De-teksi pemeriksaan terhadap NS1 diketahui menurun pada infeksi sekunder akibat adanya antibodi yang terbentuk pada infeksi sebe-lumnya.
Sedangkan kesesuaian lemah antara RT PCR dan RDT IgM terjadi akibat kedua pemeriksaan ini mendeteksi bahan yang pen-ingkatannya berbeda menurut waktu. RDT PCR mendeteksi virus dengue yang mening-kat pada awal penyakit dan kemudian menghilang setelah beberapa hari. Se-baliknya, antibodi IgM baru terbentuk dan terdeteksi pada hari keempat atau kelima se-jak munculnya demam dan kadarnya terus meningkat sampai beberapa minggu
beri-kutnya (Sa-Ngasang et al., 2006).
Ditinjau dari prosentase deteksi, kemam-puan RDT IgM mendeteksi infeksi dengue jauh lebih tinggi dibandingkan dengan RT
PCR maupun RDT NS1 (Tabel 2). Hal ini ter-jadi kemungkinan karena responden baru ber-obat setelah beberapa hari dihitung dari hari pertama munculnya demam. Gejala yang tid-ak jelas pada awal penytid-akit sering me-nyebabkan responden menunda waktu untuk mencari pengobatan di rumah sakit.
Diantara ketiga pemeriksaan, yang paling praktis digunakan di lapangan adalah RDT NS1 dan RDT IgM. RT PCR membutuhkan biaya yang mahal, alat yang canggih, dan pemeriksa yang terlatih. Oleh karena itu, RT PCR lebih cocok digunakan di laboratorium yang besar.
Dari penelitian ini, semua hasil RDT NS1 juga positif pemeriksaan RDT IgM. Oleh kare-na itu, pemeriksaan RDT IgM saja sudah cukup untuk membantu diagnosis infeksi den-gue. Tetapi beberapa literatur menyebutkan bahwa kombinasi RDT IgM dengan RDT NS1 dapat meningkatkan kemampuan deteksi
dibandingkan jika digunakan masing-masing
(Blacksell et al., 2011). Tetapi jika kedua pemeriksaan tersebut dilakukan, biaya akan bertambah.
KESIMPULAN
Kesesuaian pemeriksaan RT PCR dengan RDT NS1 berada pada tingkat se-dang (K=0,404, p = 0,000). Kesesuaian pemeriksaan RT PCR dengan RDT IgM be-rada pada tingkat lemah (K=0,139, p = 0,046). Prosentase deteksi pemeriksaan RT PCR 16%, RDT NS1 10%, RDT IgM 60%
SARAN
RDT IgM merupakan alternatif pilihan ter-baik bagi pemeriksaan di rumah sakit.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Daerah di Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Kabu-paten Aceh Barat, dan KabuKabu-paten Simeulue
atas bantuannya dalam pelaksanaan
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Bhatt, S., Gething, P. W., Brady, O. J., Messi-na, J. P., Farlow, A. W., Moyes, C. L., & William, G. R. (2013). The global
distribu-tion and burden of dengue. Nature, 496,
Blacksell, S. D., Jarman, R. G., Bailey, M. S., Tanganuchitcharnchai, A., Jenjaroen, K.,
Gibbons, R. V., & … Day, N. P. J. (2011).
Evaluation of six commercial point-of-care
tests for diagnosis of acute dengue infec-tions: The need for combining NS1 anti-gen and IgM/IgG antibody detection to achieve acceptable levels of accuracy.
Clinical and Vaccine Immunology, 18(12),
2095–2101.
Grobusch, M. P., Niedrig, M., Göbels, K.,
Klip-stein-Grobusch, K., & Teichmann, D.
(2006). Evaluation of the use of RT-PCR
for the early diagnosis of dengue fever.
Clinical Microbiology and Infection, 12(4),
395–397.
Karyanti, M. R., Uiterwaal, C. S., Kusriastuti, R., Hadinegoro, S. R., Rovers, M. M., &
Heesterbeek, H., … Bruijning-Verhagen,
P. (2014). The changing incidence of Dengue Haemorrhagic Fever in
Indone-sia: a 45-year registry-based analysis.
BMC Infectious Diseases, 14(1), 412.
Lanciotti, R. S., Calisher, C. H., Gubler, D. J., Chang, G. J., & Vorndam, A. V. (1992). Rapid detection and typing of dengue vi-ruses from clinical samples by using
re-verse transcriptase-polymerase chain
re-action. Journal of Clinical Microbiology,
30(3), 545–551.
Nielsen, D. G. (2009). The relationship of in-teracting immunological components in
dengue pathogenesis. Virology Juournal,
6(211).
Paisal, Herman, R., Arifin, A.Y., Ardiansyah, A., Hanum, S., Khairiah, & Zuardi, M. (2015). Serotipe virus dengue di Provinsi
Aceh. Aspirator, 7(1),7-12.
Pal, S., Dauner, A. L., Mitra, I., Forshey, B.
M., Garcia, P., & Morrison, A. C., … Wu,
S. J. L. (2014). Evaluation of dengue ns1 antigen rapid tests and elisa kits using
clinical samples. PLoS ONE, 9(11).
Peeling, R., Artsob, H., & Pelegrino, J. (2010). Evaluation of diagnostic tests: dengue.
Nature Riviews, 8(12), S30–S37.
Sa-Ngasang, A., Anantapreecha, S., A
-Nuegoonpipat, A., Chanama, S.,
Wi-bulwattanakij, S., & Pattanakul, K., …
Ku-rane, I. (2006). Specific IgM and IgG re-sponses in primary and secondary dgue virus infections determined by
en-zyme-linked immunosorbent assay.
Epi-demiology and Infection, 134(4), 820–
825.
Simmons, C. P., Farrar, J. J., van Vinh Chau,
N., & Wills, B. (2012). Dengue. New
Eng-land Journal of Medicine, 366(15), 1423–
1432.
Soedarmo, S. P. (1994). The epidemiology, prevention and control of dengue
hemor-rhagic fever in Indonesia. Gaoxiong Yi
Xue Ke Xue Za Zhi = The Kaohsiung
Journal of Medical Sciences, 10, S109–
S112.
Tricou, V., Vu, H. T. T., Quynh, N. V. N.,
Ngu-yen, C. V. V, Tran, H. T., & Farrar, J., …
Simmons, C. P. (2010). Comparison of two dengue NS1 rapid tests for sensitivity, specificity and relationship to viraemia
and antibody responses. BMC Infectious
Diseases, 10(142).
Tsai, J. J., Chan, K. S., Chang, J. S., Chang,
K., Lin, C. C., & Huang, J. H., … Lin, C.
Y. (2009). Tsai, J. J., Chan, K. S., Chang, J. S., Chang, K., Lin, C. C., Huang, J. H.,
… Lin, C. Y. (2009). Effect of serotypes
on clinical manifestations of dengue fever
in adults. Journal of Microbiology,
Immu-nology, and Infection = Wei Mian Yu Gan
Ran Za Zhi, 42(6), 471–478.
WHO. (2009). Laboratory Diagnosis and
Di-agnostic Tests. In Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and