• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHARUAN DI INDONESIA Muhammadiyah Na

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBAHARUAN DI INDONESIA Muhammadiyah Na"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata KuliahPemikiran Modern dalam Islam

Oleh:

Rangga

NIM 30700115019

Dosen Pemandu;

Muhajirin, S.Fil.I.,M.Fil.I

PROGRAM STUDI ILMU HADIS JURUSAN TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN, FILSAFAT DAN POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebangkitan Islam telah menjadi wacana bersama sejak kita

memasuki abad ke-15 H. Sebelumnya, umat Islam memang

mengalami stagnasi yang cukup lama terutama dalam bidang ilmu

pengetahuan dan teknologi.Belakangan ini, umat Islam di berbagai

kawasan sudah mulai melakukan identifikasi terhadap potensi yang

dimilikikinya.Berbagai inovasi, kreatifitas, spekulasi dan eksperimen

ilmiah mulai dilakukan. Kendati mengalami banyak kendala,

peradaban muslim sudah mulai diukir sebagai sumbangsihnya pada

dunia. Menurut kami bahwa di indonesia ini masih dalam proses

menuju yang lebih baik dalam hal melakukan pembaharuan mulai

dari pendidikan.

Di Indonesia terdapat banyak perkumpulan-perkumpulan atau

organisasi-organisasi Islam yang berkembang.Dalam makalah ini,

perkumpulan atau organisasi Islam yang kami angkat yaitu Jami’at

Khair dan Muhammadiyah, PERSIS, NU, Al-Irsyad, serta

tokoh-tokohnya dan bagaimana peranannya terhadap pendidikan Islam

pada masa itu. Setelah kami membaca, menurut kami bahwa di

indonesia ini banyak sekali organisasi-organisasi, termasuk

munculnya organisasi-organisasi Islam di Indonesia lebih banyak

(3)

Dari organisasi Islam ini ditumbuhkan dan dikembangkan sikap dan

rasa nasionalisme dikalangan rakyat melalui pendidikan.

Dalam hal ini, kami hanya membahas 3 organisasi, yaitu,

Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, PERSIS.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pembaharuan di Indonesia yang dilakukan oleh

Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah?

2. Bagaimanakah peranan PERSIS dalam Pembaharuan di

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah

1. Nahdatul Ulama (NU)

Nahdatul Ulama (Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan

Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam

besar di Indonesia.Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan

bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Sebab jauh

sebelum NU lahir dalam bentuk jam’iyyah (organisasi), ia terlebih

dahulu mewujud dalam bentuk jama’ah (community) yang terikat

kuat oleh aktivitas sosial keagamaan yang mempunyai karakter

tersendiri.

Dalam Anggaran Dasar hasil Muktamarnya yang ketiga pada

tahun 1928 M, secara tegas dinyatakan bahwa kehadiran NU

bertujuan membentengi artikulasi fiqh empat madzhab di tanah air.

Sebagaimana tercantum pada pasal 2 Qanun Asasi li Jam’iyat

(5)

a. Memegang teguh pada salah satu mazhab empat( salah satu dari

Imam Muhammad bin idris Al-Syafi’I, Imam Malik bin Anas, Imam

Abu Hanifah an-nu’man, dan Ahmad bin Harbal)

b. Menyelenggarakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan

umat Islam

Tahun 1927 baru tujuan organisasi dirmuskan.Organisasi ini

bertujuan memperkuat iakatan salah satu dari empat mazab serta

untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk

anggotanya.Kegiatan ini meliputi usaha antar para aulama yang

masih berpegang teguh pada mazab.Dengan demikian tampak

bahwa NU bermaksuf mempertahankan praktek keagamaan yang

sudah menstradisi.NU memberikan perhatian yang besar pada

pendidikan, khusnya pendidikan tradisional. NU mendirikan

madrasah dengan model barat, sampai akhir tahun1956 komisi

perguruan NU mengeluarkan reglement tentang susunan

madrasah-madrasah NU yang terdiri dari:

a. Madrasah awaliyah

b. Madrasah ibtidaiyah

c. Madrasah tsanawiyah

d. Madrasah mu’alimin wusta

e. Madrasah mu’alimin ulya.

NU mendapat kesulitan untuk memprakarasai pembaharuan

pendidikan dilingkungan pesantren pedesaan.Usaha tersebut

(6)

memperkenalkan sistem pengajaran bahasa belanda di HIS pada

pesantren.Pembaharuan pendidikana dipesantren ini mendapat

reaksi hebat dari orang Tua wali. Mereka memindahkan

anak-anaknya kepesantren lain karena Tebuireng sudah terlalu modern.

Motifasi utama berdirinya NU adalah mengorganisasikan

potensi dan peranan ulama’ pesantren yang sudah ada, untuk

ditingkatkan dan dikembangkan secara luas untuk diguakan sebagai

wadah untuk mempersatukan dan menyatukan langkah para ulama’

pesantren dalam tugas pengabdian yang tidak terbatas pada

masalah kepesantrenan dan kegiatan ritual Islam saja, tetapi lebih

ditingkatkan lagi agar para ulama’ lebih peka terhadap

masalah-masalah sosial, ekonomi dan masalah-masalah kemasyarakatan pada

umumnya.1

2. Muhammadiyah

Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi Islam modern

yang berdiri di Yogyakarta pada 18 November 1912. Organisasi ini

terbentuk karena masyarakat islam yang berpandangan maju

menginginkan terbentuknya sebuah organisasi yang menampung

aspirasi mereka dan menjadi sarana bagi kemajuan umat islam.

Keberadaan tokoh-tokoh Islam yang berpandangan maju tersebut

terbentuk karena pendidikan serta pergaulan dengan kalangan

Islam di seluruh dunia melalui ibadah haji.Salah seorang tokoh

(7)

tersebut ialah KH.Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan

organisasi ini.Muhammadiyah didirikan atas dasar agama dan

bertujuan untuk melepaskan agama Islam dari adat kebiasaan yang

jelek yang tidak berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

Hal-hal yang berkaitan dengan paham agama dalam

Muhammadiyah secara garis besar dan pokok-pokoknya ialah

sebagai berikut:

a. ‘Aqidah; untuk menegakkan aqidah Islam yang murni, bersih dari

gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khurafat, tanpa

mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

b. Akhlaq; untuk menegakkan nilai-nilai akhlaq mulia dengan

berpedoman kepada ajaran-ajaran Alquran dan Sunnah Rasul,

tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia

c. ‘Ibadah; untuk menegakkan ‘ibadah yang dituntunkan oleh

Rasulullah S.A.W. tanpa tambahan dan perubahan dari manusia

d. Mu’amalah dunyawiyat; untuk terlaksananya mu’amalah

dunyawiyat (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat)

dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan semua

kegiatan dalam bidang ini sebagai ‘ibadah kepada Allah SWT.

Semasa kecilnya, Ahmad Dahlan tidak pernah bersekolah

secara resmi ke lembaga-lembaga pendiidkan yang ada saat itu

karena orang-orang Islam pada saat itu melarang anak-anaknya

untuk memasuki sekolah Gubernemen.Tapi walaupun beliau tidak

(8)

langsung dari ayahnya yang seorang ulama.2 Selain belajar secara

langsung kepada ayahya, dia juga mendapakan pendidikan dari

pengajian-pengajian yang diadakan di Yogyakarta yang meliputi

nahwu, fiqih, tafsir, dan lain-lain.Dengan bantuan kakaknya (Nyai

Haji Saleh), pada tahun 1890 melanjutkan pendidikannya ke

Mekkah, dan belajar disana selama satu tahun.

Di Mekkah, KH Ahmad Dahlan bertemu dengan KH Baqir

seorang alim dari Kauman Yogyakarta yang bermukim di Mekkah

dan membantu mengajarkan ilmu agama kepada KH Ahmad

Dahlan. KH Baqir juga mempertemukan KH Ahmad Dahlan dengan

Rasyid Ridha dan berdiskusi untuk bertukar pikiran dalam rangka

semangat pembaharuan, dan semangat pembaharuan ini yang

benar-benar diresapi oleh KH Ahmad Dahlan saat itu.3

Dasar dan Fungsi Lembaga Pendidikan yang menjadi dasar

pendidikan Muhammadiyah adalah:

a. Tajdid: kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk

mengubah cara berpikir dan cara berbuat yang sudah terbiasa

demi mencapai tujuan pendidikan.

b. Kemasyarakatan: antara individu dan masyarakat supaya

diciptakan suasana saling membutuhkan. Yang dituju adalah

keselamatan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.

2Bolland, Pergumulan Islam di Indonesia, , (Jakarta: Grafitti Press. 1985)

(9)

c. Aktivitas: anak didik harus mengamalkan semua yang

diketahuinya dan menjadikan pula aktivitas sendiri sebagai salah

satu cara memperoleh pengetahuan yang baru.

d. Kreativitas: anak harus mempunyai kecakapan atau keterampilan

dalam menentukan sikap yang sesuai dan menetapkan alat-alat

yang tepat dalam menghadapai situasi-situasi baru.

e. Optimisme: anak harus yakin bahwa dengan keridhaan Tuhan,

pendidikan akan membawanya kepada hasil yang dicita-citakan,

asal dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab,

serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang menyimpang dari

segala yang digariskan oleh agama Islam

Adapun lembaga pendidikannya berfungsi sebagai berikut:

a. Alat dakwah ke dalam dan ke luar anggota-anggota

Muhammadiyah. Dengan kata lain, untuk seluruh anggota

masyarakat

b. Tempat pembibitan kader; yang dilaksanakan secara sistematis

dan selektif, sesuai dengan kebutuhan Muhammadiyah

khususnya, dan masyarakat Islam pada umumnya.

c. Gerak amal anggota; penyelenggaraan pendidikan diatur secara

berkewajiban terhadap penyelenggaraan dan peningkatan

pendidikan itu, dan akan menyekolahkan anak-anak mereka ke

sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat

(10)

dan pelajaran umum.Dengan demikian, diharapkan bangsa

Indonesia dapat dididik menjadi bangsa yang utuh berkepribadian,

yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas dan agama

yang mendalam.

Pada zaman pemerintah kolnial Belanda, sekolah-sekolah

yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah:

a. Sekolah Umum, Taman Kanak-kanak (Bustanul Atfal), Vervolg

School 2 tahun, Schakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, MULO 3

tahun, AMS 3 tahun, dan HIK 3 tahun. Pada sekolah-sekolah

tersebut diajarkan pendidikan agama Islam sebanyak 4 jam

pelajaran seminggu.

b. Sekolah Agama: Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3

tahun, Mualimin/Muallimat 5 tahun, Kulliatul Muballigin (SPG

Islam) 5 tahun.

Pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah

mempunyai andil yang sangat besar bagi bangsa dan Negara, dan

tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan

diantaranya:Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia

melalui ajaran Islam, Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah,

ide-ide reformasi Islam secara luas disebarkan, Mempromosikan

kegunaan ilmu pengetahuan modern. Selanjutnya pada zaman

kemerdekaan, sekolah Muhammadiyah mengalami perkembangan

yang pesat. Pada dasarnya, ada empat jenis lembaga pendidikan

(11)

1) Sekolah-sekolah umum yang bernaung di bawah Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: SD, SMTP, SMTA, SPG,

SMEA, SMKK dan sebagainya. Pada sekolah-sekolah ini

diberikan pelajaran agama sebanyak 6 jam seminggu.

2) Madrasah-madrasah yang bernaung di bawah Departemen

Agama, yaitu: (MA). Madrasah-madrasah ini ada setelah

adanya SKB 3 menteri tahun 1976 dan SKB 2 Menteri tahun

1984, mutu pengetahuan umumnya sederajat dengan

pengetahuan dari sekolah umum yang sederajat.

3) Jenis sekolah atau Madrasah khusus Muhammadiyah, yaitu:

Muallimin, Muallimat, Sekolah Tabliq dan Pesantren

Muhammadiyah.

4) Perguruan Tinggi Muhammadiyah: untuk Perguruan Tinggi

Muhammadiyah umum di bawah pembinaan Kopertais

(Depdikbud), dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Agama di

Bawah pembinaan Kopertais (Departemen Agama).

B. PERSIS

1. Sejarah Lahirnya PERSIS

Persis berawal dari suatu kelompok Tadarusan(penelaah

agama Islam) dikota bandung dibawah pimpinan H. Muhammad

Zamzam dan H Muhammad Yunus. Bersama jamaahnya dengan

penuh kecintaah menelaah, mengkaji serta menguju ajaran-ajaran

(12)

menjadi semakin tahu akan hakikat islam yang sebenarnya.

Merekapun menjadi sadar bahaya keterbelakangan, kejumudan,

penutupan ijtihad, taklid buta, dan serangkaian bid’ah. Mereka

berusaha melakukan gerakan Tajdid pemurnian ajaran islam dan

pemurnian ajaran islam dari faham-faham yang sesat dan

menyesatkan. Kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah,

danberimarahdalam menyebarkan syariat Islam menimbulkan

semangat kelompoktadarusan ini untuk mendirikan sebuah

organisasi baru dengan ciri dan karateristik yang khas.4Maka

berdirilah Persis pada tanggal 12 September 1923 di Bandung.5

Dengan kata lain, pendirian Persis merupakan usaha sejumlah umat

islam untuk memperluas topic-topik diskusi keagamaan yang telah

dilakukan secara informal. Umat islam yang terlibat dalam

diskusi-diskusi ini semuanya adalah kelas pedagang yang berasal dari

Palembang yang telah lama bermukim di Bandung dan pada

akhirnya menyatakan diri sebagai orang Sunda.6

2. Peranan Persis Terhadap Pembaharuan di Indonesia

Sejak berdirinya, Persis lebih menitikberatkan perjuangan

pada penyebaran penyiaran faham al-Qur’an dan al-Sunnah kepada

masyarakat Muslim dan bukan untuk memperbesardan memperluas

4Pusat Pimpinan Persatuan Islam, Sejarah Singkat Persatuan Islam (PERSIS),

(Bandung: PP PERSIS, t.th.) h.5

5Dadan Wildan, Yang Da’I yang Politikus Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh PERSIS, (Bandung: Rosda Karya, 1997 M) h.7

(13)

jumlah anggota dalam organisasi.Persis pada umumnya kurang

memberikan tekanan pada kegiatan organisasinya sendiri.Persis

pada umumnya kurang memberikan tekanan pada kegiatan

organisasinya sendiri. Persis tidak terlalu berminat untuk

membentuk banyak cabang atau menambah sebanyak mungkin

anggota. Pembentukam cabang tergantung pada inisiatif peminat

semata dan bukan didasarkan kepada suatu rencana yang

dilakukan oleh pimpinan pusat.7Keanggotaan awal Pesis kurang dari

20 orang pada tahun-tahun pertama. Aktivitaspun berkisar pada

shalat jumat ketika anggota datang bersama-sama dan mengikuti

kursus-kursus pengajaran agama yang diberikan oleh sejumlah

tokoh Persis.8Sebagai gerakan tajdid, Persis mempunyai ciri radikal

apabila dibandingkan dengan organisasi lainnya. A. Hasan sebagai

penggerak dan tokohnya dikenal sebagai ulama yang beraliran

reformis, radikal dalam memutuskan hukum islam, dan

melaksanakannya berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah.9

Perjalanan panjang sebuah organisasi sejak awal berdirinya

hingga sekarang ini tidak terlepas dari dinamika sosio-kultural

masyarakat dan perilaku politik dimana organisasi itu tumbuh dan

berkembang. Persis pada periode awal dibawah pimpinan

Muhammad Zam-Zam, Muhammad Yunus,, A, Hasan dan M. Natsir

menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan

7Haris Muslim, Persis Dari Masa Ke Masa: Sebuah Refleksi Sejarah dalam siapkah Persis Menjadi Mujadid lagi ?(Bandung: Aqaprint, 2000 M) h. 18

8Oward M. Federspil, Persatuan Islam Pembaharuan Islam Abad XX, h.16

(14)

pemikirannya. Disamping masyarakat yang jumud, juga

menghadapi colonial belanda dan kemudian jepang.Menjelang

kemerdekaan, persis mulai tertarik dengan masalah-masalah

politik. Menurut persis bahwa kembali pada al-Qur’an dan al-Sunnah

itu bukan hanya terbatas dalam aqidah dan ibadah, tetapi lebih luas

daripada itu termasuk berjuang dalm politik memenangkan ideology

islam.10

Pasca kemerdekaan, persis melakukan reorganisasi untuk

menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan oleh

jepang.Reorganisasi tahun 1048 persis berada dibawah

kepemimpinan K>H> Isa Anshari dari tahun 1948-1960.11Saat itu

Persis dihadapkan pada pergolakan politi yang belum stabil. Persis

mengeluarkan sejumlah manifesto politik yang isinya sebagian

besar menolak konsepsi Bung Karno tentang Nasakom, bahkan

K>H> Isa Anshari membentuk Front anti komunis yang

membahayakan umat islam.

Pada muktamar Persis ke-7 di Bangil, berkembang wacana

agar persis diubah formatnya dari organisasi masa menjadi

organisasi politik dengan nama baru ‘Jamaah Muslimin’. Hal ini

diungkapkan oleh ketua umumnya K.H. Isa Anshari. Dipihak lain

menginginkan Persis tetap eksis sebagai ormas islam yang bergerak

dibidang dakwah dan pendidikan Gagasan K.H. Isa Ansari tersebut

10Isa Anshari, Manifestasi Perjuangan Pesatuan Islam, h.12

(15)

ditolak oleh K.H. Abdurrahman yang mendapat dukungan penuh

dari pimpinan pusat pemuda persis. Melalui pertarungan yang

sangat alot, akhirnya K.H. Abdurrahman terpilih menjadi ketua

umum Persis melalui referendum.12

Bergantinya pusat pimpinan dan perubahan situasi, rupanya

mempengaruhi pula penampilan persis.Bila pada masa

kepemimpinan K>H> Isa Ansari, Persis kental dan akrab dengan

politik praktis, maka persis ketika dibawah pimpinan K>.H

Abdurrahman dari ahun 1962-1983, Persis menunjukkan

kecenderungan pada kegiatan-kegiatan sekitar tablig dan

pendidikan, dari tingkat pusat hingga ketingkat cabang.Hal ini tidak

terelepas dari langkah dan kebijakan K.H. Abdurrahman.13

K.H. Abdurrhman lebih mengorientasikan Persis sebagai

organisasi agama sebab ia mengambil pola kepemimpinan ulama,

bukan political leader, pada masa kepemimpinan K.H>.

Abdurrahman inilah Persis kembali pada garis perjuangannya,

sehingga tidak salah jikalau Dadan Wildan mengatakan bahwa K.H.

Abdurrahman sebagai penegak Khittah Persis.14Dari pergerakan

yang dilakukan oleh Persis melalui tokoh-tokoh pentingnya

walaupun dalam sejarahnya mereka berbeda namun tak dapt

12Haris Muslim, Persis Dari Masa Ke Masa: Sebuah Refleksi Sejarah dalam siapkah Persis Menjadi Mujadid lagi ?h. 28

13Dadan Wildan Anas, K.H. Abdurrahman dan Sejarah Pembaharuan Islam di Indonesia,” Majalah” Risalah No.6, 1997 h. 20.

(16)

dinafikan bahwa Persis merupakan salah satu organisasi yang

mempunyai peranan penting dalam pembaharuan di Indonesia.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan.

A. Motifasi utama berdirinya NU dan Muhammadiyah adalah

mengorganisasikan potensi dan peranan ulama’ pesantren yang

sudah ada, untuk ditingkatkan dan dikembangkan secara luas

untuk diguakan sebagai wadah untuk mempersatukan dan

menyatukan langkah para ulama’ pesantren dalam tugas

pengabdian yang tidak terbatas pada masalah kepesantrenan

dan kegiatan ritual Islam saja, tetapi lebih ditingkatkan lagi agar

para ulama’ lebih peka terhadap masalah-masalah sosial,

ekonomi dan masalah kemasyarakatan pada umumnya.

B. Peranan PERSIS dalam pembahruan di Indonesia Sejak berdirinya,

Persis lebih menitikberatkan perjuangan pada penyebaran

penyiaranya pada faham al-Qur’an dan al-Sunnah kepada

masyarakat Muslim. Persis pada periode awal dibawah pimpinan

Muhammad Zam-Zam, Muhammad Yunus,, A, Hasan dan M.

Natsir menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan

ide-ide dan pemikirannya. Disamping masyarakat yang jumud,

(17)

jepang.Menjelang kemerdekaan, persis mulai tertarik dengan

masalah-masalah politik. Menurut persis bahwa kembali pada

al-Qur’an dan al-Sunnah itu bukan hanya terbatas dalam aqidah dan

ibadah, tetapi lebih luas daripada itu termasuk berjuang dalm

politik memenangkan ideology islam

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Tradisi Dan Kebngkita Islam di Asia Tenggara, ,Jakarta: Lp3 Press, 1989

Bolland, Pergumulan Islam di Indonesia, , Jakarta: Grafitti Press. 1985

Effendi,Djohan.Pembaruan tanpa Membongkar Tradisi: Wacana Keagamaan di Kalangan Generasi Muda NU Masa Kepemimpinan Gus Dur, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010

Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, Jakarta:Lp3 Press. 1980

Rukiati,Enung K. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung:pustaka 2006

Wildan, Dadan.Yang Da’I yang Politikus Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh PERSIS, Bandung: Rosda Karya. 1997

M, Howard. Federspiel, Persatuan Islam Pembaharuan Islam Abad XX, yang dialihbahasakan oleh Yudian W. Asmin dan H. Afandi Mochtar, Yogyakarta: Gajah Mada UniVersity Press. 1996

Muslim, Haris. Persis Dari Masa Ke Masa: Sebuah Refleksi Sejarah dalam siapkah Persis Menjadi Mujadid lagi ?, Bandung: Aqaprint, 2000.

(18)

Haris Muslim, Persis Dari Masa Ke Masa: Sebuah Refleksi Sejarah dalam siapkah Persis Menjadi Mujadid lagi ?h. 28

Referensi

Dokumen terkait