• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PEMBELAJARAN PENJASORKES BERBA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN PEMBELAJARAN PENJASORKES BERBA (1)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PEMBELAJARAN PENJASORKES BERBASIS BLENDED

LEARNING PADA JENJANG SATUAN PENDIDIKAN

SEKOLAH MENENGAH ATAS/KEJURUAN

Septian Raibowo Pendidikan Olahraga Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang [email protected]

Abstrak; Dunia pendidikan termasuk yang paling diuntungkan dari kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi karena memperoleh manfaat yang luar biasa. Dari eksplorasi sumber belajar berkualitas seperti literatur, jurnal, dan buku, membangun forum-forum

diskusi ilmiah,

sampai konsultasi/diskusi dengan para pakar/ahli di dunia. Semua bisa dengan mudah dilakukan tanpa adanya batas karena setiap individu dapat melakukannya sendiri. Dampak yang sedemikian luas tersebut telah memberikan warna atau wajah baru dalam sistem pendidikan di dunia ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pengembangan model-model pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran berbasis teknologi informasi. Tulisan ini membantu memberikan informasi kepada pendidik mengenai bagaimana mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan gaya dan preferensi sesuai kebutuhan belajar siswa. Siswa memiliki pengetahuan tentang bagaimana memberikan peluang yang praktis dan realistis, salah satunya dengan menggabungkan beberapa aspek yang terbaik dari pembelajaran konvensional (tatap muka) dan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang dilakukan secara online. Kelas tatap muka dapat digunakan untuk melibatkan para siswa dalam pengalaman interaktif, sedangkan kelas online memberikan pendidik bagi para peserta dengan konten multimedia yang kaya akan pengetahuan pada setiap saat, dan di mana saja selama tersedia akses internet. Penggabungan kedua bentuk pembelajaran ini yang dinamakan sebagai Blended Learning

Kata Kunci : Blended Learning, Penjasorkes, Karakter anak SMA/SMK

Pendidikan Jasmani adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kebugaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka membentuk manusia indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila (Cholik dan Lutan dalam Simanjuntak, 2008:4).

Sedangkan menurut Bucher (dalam Sukintaka, 2003: 4), pendidikan

(2)

Studi Agnes Stoodley (1974) di Stanford University dengan menganalisis 22 literatur yang berbeda, menghasilkan 5 komponen tujuan pendidikan jasmani, yaitu: pengembangan kesehatan, pengembangan mental-emosional, pengembanganneomuscular,pengembaan sosial,dan pengembangan intelektual

Jewet dan Mullan (1977) dibawah sponsor AAHPERD mengembangkan kerangka tujuan dalam kurikulum. Kerangka kerjaitu membagi 3 hal utama yang merupakan kata kunci dalam menentukan kata tujuan pendidikan jasmani hubugannya dengan gerak manusia, yaitu: pengembangan individu, lingkungan, dan interaksi sosial.

Annarino (1978) dalam bukunya Bucher (1983) telah memberikan taksonomi khusus yang dipakai untuk mendidik jasmani yang tebagi menjadi 4 domain yaitu: (1) Domain Fisik/Jasmani, suatu pengembangan organ-organ tubuh, meli-puti: pengembangan kekuatan, ketahanan dan kelenturan; (2) Domain psikomotor, pengembangan dari sistem syaraf dan kelompok dan kelompok otot sehingga menghasilkan gerak, meliputi; pengembangan kemampuan pemahaman gerak, hinestetis, ketrampilan gerak dasar;(3) Domain Kognitif, pengembangan intelektual meliputi; pengem-bangan pengetahuan serta ketrampilan-keterampilan intelektual dan kecakapan tertentu; (4) Domain Afektif,

pengembangan sosio-personal-emosional meliputi pola hidup sehat sebagai akibat suatu aktifitas fisik aktualisasi diri dankontrol diri

Dalam undang-undang R.I No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, istilah yang dipakai untuk olahraga di sekolah adalah olahraga pendidikan. Pada Bab VI pasal 17 disebutkan bahwa olahraga pendidikan: (1) diselenggarakan sebagai bagian proses pendidikan, (2) dilaksanakan baik pada jalur pendidikan formal maupun nonformal melalui kegiatan intrakurikuler dan/atau ekstra kurikuler, (3) dimulai sejak usia dini, (4) dibimbing oleh guru/dosen olahraga dan dapat dibantu oleh tenaga keolahragaan yang disiapkan oleh setiap satuan pendidikan.

Berdasarkan pemahaman bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan dan pembelajaran, maka peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani harus berorientasi pada kecenderungan-kecenderungan global pengembangan pembelajaran.

(3)

kuliah). Makna asli sekaligus yang paling umum blended learning mengacu pada belajar yang mengkombinasi atau mencampur antara pembelajaran tatap muka (face to face = f2f) dan pembelajaran berbasis komputer (online dan offline). Istilah blended learning pada awalnya digunakan untuk menggambarkan mata kuliah yang mencoba menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online. Saat ini istilah blended menjadi populer, maka semakin banyak kombinasi yang dirujuk sebagai blended learning. Namun, pengertian pembelajaran berbasis blended learning adalah pembelajaran yang mengkombinasi strategi penyampaikan pembelajaran menggunakan kegiatan tatap muka, pembelajaran berbasis komputer (offline), dan komputer secara online (internet dan mobile learning).

Pembelajaran blended dapat menggabungkan pembelajaran tatap muka (face-to-face) dengan pembelajaran berbasis komputer. Artinya, pembelajaran dengan pendekatan teknologi pembelajaran dengan kombinasi sumbersumber belajar tatap muka dengan pengajar maupun yang dimuat dalam media komputer, telpon seluler atau iPhone, saluran televisi satelit, konferensi video, dan media elektronik lainnya. Pebelajar dan pengajar/fasilitator bekerja sama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tujuan utama pembelajaran blended adalah memberikan kesempatan bagi berbagai karakteristik pebelajar agar terjadi belajar mandiri, berkelanjutan, dan berkembang sepanjang hayat, sehingga belajar akan menjadi lebih efektif, lebih efisien, dan lebih menarik.

Secara konseptual blended learning masih diperdebatka. Jay Cross dalam mengantar buku The Handbook of Blended Learning secara sinic menyebutnya sebagai Useless concept karena meragukan pendekatan ini dapat meningkatkan hasil belajar. Sekalipun demikian berbagai riset menunjukkan

cepat atau lambat akan

menggantikan model pembelajaran tradisional karena akan terjadi percepatan ganda dalam cara anak didik dalam memenuhi kebutuhannya belajar sebagai akibat dari percepatan inovasi teknologi dalam bidang pendidikan (Yusuf, 2011: 233)

(4)

saja, melalui buku teks, majalah, koran, internet, CD ROM, radio, televisi, dan sebagainya.

Agar para pengajar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan pada berbagai jenjang sensitif terhadap perkembangan pengetahuan tentang pembelajaran masa depan, diperlukan serangkaian kegiatan untuk mengembangkan pembelajaran. Kegiatan ini sangat urgent dilakukan untuk memfasilitasi upaya peningkatan kualitas pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis blended learning. Dengan pembelajaran berbasis blended learning akan memudahkan bagi pebelajar (learner) untuk mengakses pembelajaran penjas dengan menggunakan berbagai modus belajar. Melalui pembelajaran berbasis blended learning juga akan meningkatkan keterampilan soft skill (keterampilan memanfaatkan teknologi informasi) bagi pelajar dan mahasiswa. Melalui Pembelajaran Berbasis blended learning akan membangun jembatan antara konteks pembelajaran yang bersifat teaching-based, instructor-mediated ke arah konteks pembelajaran yang bersifat learning-based. Keuntungan yang akan diperoleh melalui pembelajaran ini terutama untuk menyediakan sumber-sumber belajar bagi pelajar/mahasiswa yang berpeluang untuk mengembangkan setiap individu mencapai kemampuan optimal dalam keterampilan hard skill maupun soft skill.

Pembahasan

Strategi Blended Learning

(5)
(6)

mengimplementasikan strategi belajar yang cocok untuk dirinya 5) Mengevaluasi hasil belajarnya Menurut Kozma, Belle, William (dalam Pannen dan Sekarwinahya, 1994: 59) terdapat beberapa dampak positif dari kemandirian belajar bagi mahasiswa, yaitu: mahasiswa akan merasakan tingkat kepuasan yang tinggi, mempunyai minat dan perhatian yang tidak terputus-putus, dan mempunyai kepercayaan diri yang lebih kuat dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya belajar secara pasif (menerima saja)

Critical Thinking

Richard Paul dan Linda Elder (2008) dalam sebuah makalah berjudul “The Miniature Guide to Critical Thinking Concepts and Tools” mendefinisikan Critical Thinking sebagai sebuah seni berpikir analisis dan evaluasi yang mempunyai tujuan untuk memperbaiki. Sedangkan Scriver dan Paul menyebutkan bahwa Critical Thinking merupakan sebuah standar intelektual yang bagus sebagai syarat untuk berpartisipasi secara penuh dalam ranah sosial, ekonomi dan kehidupan politik di lingkungan dimana kita tinggal. Secara singkat, Critical thinking adalah kemampuan seseorang untuk dirinya sendiri, mendisiplinkan dirinya, memonitor dirinya, dan mampu berpikir untuk mengoreksi dirinya sendiri; dimana secara rutin mereka akan mengaplikasikan standar-standar

intelektual pada elemenelemen cara berpikir dengan tujuan untuk membentuk atribut intelektual (Paul dan Elder, 2008).

Pendidikan Jasmani

Pendidikan Jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani dan olahraga.

Di dalam intensifikasi penyelengaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, peranan Pendidikan Jasmani adalah sangat penting, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain dan olahraga yang dilakukan secara sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat. Pendidikan Jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik, pengetahuan, penalaran, penghayatan nilai (sikap-mental-emosional-spiritual-sosial), dan pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan serta perkembangan yang seimbang.

(7)

menyenangkan serta berbagai ungkapan yang kreatif, inovatif, terampil, memiliki kebugaran jasmani, kebiasaan hidup sehat dan memiliki pengetahuan serta pemahaman terhadap gerak manusia. Dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani guru diharapkan mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan dan olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur, kerjasama, dan lain-lain) serta pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik, mental, intelektual, emosi dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan didaktik-metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Tidak ada pendidikan yang tidak mempunyai sasaran paedagogis, dan tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa adanya Pendidikan Jasmani, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alamiah berkembang searah dengan perkembangan zaman.

Pendidikan Karakter

Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seorang dari yang lain, tabiat atau watak, kebiasaan, pembawaan. (Wynne dalam Mulyasa 2011) mengemukakan bahwa karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan

dalam tindakan nyata atau perilaku seharihari. Karakter, sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the god), dan melakukan kebaikan (doing the good). Dalam pendidikan karakter, kebaikan itu sering kali dirangkum dalam sederet sifat-sifat baik. Dengan demikian, maka pendidikan karakter adalah sebuah upaya untuk membimbing perilaku manusia menuju

standar-standar baku.

Upaya ini juga memberi jalan untuk menghargai persepsi dan nilai-nilai pribadi ditampilkan di sekolah. Fokus pendidikan karakter adalah pada tujuan-tujuan etika, tetapi prakteknya meliputi penguatan kecakapan-kecakapan yang penting yang mencakup perkembangan sosial siswa. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha bersama. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan kepala sekolah melalui pembelajaran di kelas dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya sekolah. Pendidikan karakter seringkali diartikan sebagai pendidikan watak. Watak itu sendiri merupakan konsep lama yang berarti seperangkat sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikan, kebijakan, dan kematangan moral. Ciri-ciri watak yang baik dan yang menjadi tujuan pencapaian pendidikan karakter adalah rasa hormat, tanggung jawab, rasa

(8)

perasaan yang baik atau loving good (moral feeling) dan perilaku yang baik (moral action) sehingga terbentuk perwujudan kesatuan perilaku dan sikap hidup peserta didik (Marzuki, 2012). Pendidikan Karakter Usia Remaja.

Model pendidikan karakter pada usia remaja dikaji dari dua buah judul penelitian. Mulyani (2010) telah mengembangkan model integrasi tindak tutur direktif dalam penerapan pendidikan ahlaq mulia dan karakter bangsa bagi pelajar di SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Jawa Timur. Pada tahap studi pendahuluan teridentifikasi nilai-nilai ahlaq mulia dan karakter pelajar Muhammadiyah 1 Ponorogo yang harus dikembangkan antara lain: jujur, disiplin, santun, rendah hati, percaya diri, mandiri, dan bertanggungjawab serta memiliki kemampuan kognitif yang memadai. Model tindak tutur direktif kepala sekolah, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan kepada peserta didik dapat diklasifikasi menjadi tiga kategori yaitu perintah, permintaan dan saran. Model perintah (command) diaktualisasikan dalam tindakan: melarang, memperingatkan, memerintah, menegur, mendesak, dan mengharuskan. Model permintaan (request) diaktualisasikan dalam tindakan: memohon, mengharap, meminta, menghimbau, dan mengajak.

Model saran (suggest) dilakukan dalam kegiatan menasehati, menganjurkan, menawarkan, mendorong, mempersilahkan, dan menyarankan. Model perintah (command) diintegrasikan dengan model bermain peran, simulasi dan diskusi kelompok. Permintaan (request) diintegrasikan dalam tindakan keteladanan, simulasi dan bermain

peran. Model saran (suggest) diintegrasikan dalam kegiatan bakti sosial, kunjungan lapangan dan problem solving. Seckman High School telah menerapkan pendidikan karakter melalui penekanan prinsip untuk bekerja secara kelompok/tim, berempati dan melayani. Untuk mendampingi prinsip tersebut, sekolah memasang spanduk/poster yang bermuatan karakter tersebut. Setelah lima tahun berlalu, sekolah mengalami hal-hal positif antara lain, suspensi menurun 98% di luar sekolah dan 30% di dalam sekolah, perkelahian menurun 65% dan kejadian yang berhubungan dengan obat menurun 74%. Waterlo middle school di New York mengalami masalah dengan disiplin dan akademik. Seorang guru menyatakan: gunakan rasa kekeluargaan dan bangun budaya peduli, tekankan rasa hormat menghormati dan menerima. Siswa kemudian membuat ikrar, tidak akan menggunakan tangan dan kata-kata untuk menyakiti diri mereka

sendiri dan

orang lain. Dua tahun kemudian, perkelahian menurun 71%, skor matematika meningkat 49% dan dampak pengiringnya meningkat 97% (Mazzola, 2003). Tugas-tugas pendidik pada usia remaja lebih kompleks daripada tugas-tugas pada usia anak-anak. Sesuai dengan karakteristik mental usia remaja yang sedang dalam tahap pencarian jati diri, tugas pendidik adalah menciptakan lingkungan yang sebaik-baiknya dengan memberikan banyak aktivitas positif supaya remaja tidak terjerumus pada kegiatan negatif yang merugikan masa depannya.

(9)

Supaya karakter positif dapat diinternalisasi menjadi karakter yang permanen, sekolah bertugas menyediakan banyak pilihan yang mendukung berkembangnya karakter positif tersebut dan menekan peluang munculnya karakter negatif. Model pendidikan karakter pada usia remaja dilakukan untuk menanamkan kedisiplinan, kejujuran, rasa hormat menghormati dan saling tolong menolong dalam semua kegiatan.

Blended Learning Dalam Pembelajaran Walaupun masih terjadi perdebatan ekstrim antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbasis komputer, makalah ini tidak berpretensi untuk melemahkan salah satu di antaranya, tetapi justru ingin memadukan atau mengkombinasikan berbagai modus belajar yang telah berkembang sampai saat ini. Hasil penelitian yang dilakukan Dziuban, Hartman, dan Moskal (2004) menemukan bahwa program blended learning memiliki potensi untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan juga menurunkan tingkat putus sekolah dibandingkan dengan pembelajaran yang sepenuhnya pembelajaran online. Demikian juga ditemukan bahwa model pembelajaran berbasis blended lebih baik daripada pembelajaran tatap muka (Face to face). Berdasarkan temuannya yang disajikan dalam Tabel 1 menunjukkan perbandingan tingkat keberhasilan (bagi siswa mencapai nilai A, B, atau C) selama dua tahun persembahan Web. Pada tabel 2.1. disajikan hasil penelitian pembelajaran yang dilakukan melalui tatap muka (face to face), pembelajaran kombinasi (blended) dan pembelajaran melalui

internet (online) penuh.

Persentase nilai hasil belajar antara pembelajaran tatap muka (face to face), pembelajaran kombinasi (blended) dan pembelajaran melalui internet (online) (Dziuban, Hartman, & Moskal, 2004)

Pembelajaran berbasis blended learning, di samping untuk meningkatkan hasil belajar, bermanfaat pula untuk meningkatkan hubungan komunikasi pada tiga mode pembelajaran yaitu lingkungan pembelajaran yang berbasis ruang kelas tradisional, yang blended, dan yang sepenuhnya online. Para peneliti memberikan bukti yang menunjukkan bahwa blended learning menghasilkan perasaan berkomunitas lebih kuat antar mahasiswa daripada pembelajaran tradisional atau sepenuhnya online (Rovai dan Jordan, 2004). Dalam penelitian pengembangan SDM di perusahaan, Barbian (2002) menyimpulkan bahwa metode blended learning meningkatkan produktivitas karyawan lebih besar daripada metode pembelajaran tunggal.

(10)

pembelajaran tatap muka dan 50% dilakukan pembelajaran online. Atau ada pula yang menggunakan komposisi 75/25, artinya 75% pembelajaran tatap muka dan 25% pembelajaran online. Demikian pula dapat dilakukan 25/75, artinya 25% pembelajaran tatap muka dan 75% pembelajaran online. Pertimbangan untuk menentukan apakah komposisinya 50/50, 75/25 atau 25/75 bergantung pada analisis komptensi yang ingin dihasilkan, tujuan mata pelajaran, karakteristik pebelajar, interaksi tatap muka, strategi penyampaian pembelajaran online atau kombinasi, karakteristik, lokasi pebelajar, karakteristik dan kemampuan pengajar, dan sumber daya yang tersedia. Berdasarkan analisis silang terhadap berbagai pertimbangan tersebut, pengajar akan dapat menentukan komposisi (presentasi) pembelajaran yang paling tepat. Namun demikian, pertimbangan utama dalam merancang komposisi pembelajaran adalah penyediaan sumber belajar yang cocok untuk berbagai karakteristik pebelajar agar dapat belajar lebih efektif, efisien, dan menarik.

Dalam skenario pembelajaran berikutnya tentu saja harus memutuskan untuk tujuan mana mana yang dilakukan dengan pembelajaran tatap muka, dan bagian mana yang offline dan online. Misalnya dalam pembelajaran pendidikan jasmani, pada saat menjelaskan pengetahuan dan teknik gerak dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis komputer (offline), untuk melihat aplikasi gerakan dalam suatu pertandingan dapat dilakukan melalui akses internet (online), dan pada saat menjelaskan dan mendemonstrasikan, melatih keterampilan, melatih disiplin, dan sportivitas lebih cocok dilakukan dengan tatap muka.

Demikian pula dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di mana guru atau instruktur semua kegiatan berbasis audio (pemahaman pendengaran, ekspresi oral) akan berlangsung di ruang kelas, sedangkan kegiatan berbasis teks akan dilakukan secara online. Yang penting, pembelajaran berbasis blended learning bertujuan untuk memfasilitasi terjadinya belajar dengan menyediakan berbagai

sumber belajar dengan memperhatikan karakteristik pebelajar dalam belajar.

Pembelajaran juga dapat mendorong peserta untuk memanfaatkan sebaik-baiknya kontak face-to-face dalam mengem-bangkan pengetahuan. Lalu, persiapan dan tindak-lanjutnya dapat dilakukan secara offline dan online. Program belajar yang total online tidak dianjurkan untuk pembelajaran yang masih mempertimbangkan perlunya kontak tatap muka antara pebelajar dan pengajar. Namun, dalam pembelajaran ada kalanya pebelajar tidak dapat datang karena berbagai kendala, misalnya di jurusan pendidikan jasmani ada sebagian mahasiswa yang aktif sebagai olahragawan yang mempunyai jadwal latihan dan pertandingan yang ketat dan tidak sinkron dengan jadwal perkuliahan, maka pembelajaran berbasis offline dan online menjadi memungkinkan untuk dilakukan pada kelas reguler mahasiswa.

(11)

efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang lebih besar dalam berinteraksi antar manusia dalam lingkungan belajar yang beragam. Belajar blended menawarkan kesempatan belajar untuk menjadi baik secara bersama-sama dan terpisah, demikian pula pada waktu yang sama maupun berbeda Sebuah komunitas belajar dapat dilakukan oleh pelajar dan pengajar yang dapat berinteraksi setiap saat dan di mana saja karena memanfaatkan yang diperoleh komputer maupun perangkat lain (iPhone) sebagai fasilitasi belajar. Blended learning memberikan fasilitasi belajar yang sangat sensitif terhadap segala perbedaan karakteristik pskiologis maupun lingkungan belajar.

Hasil penelitian Karen Precel, Yoram Eshet-Alkalai, and Yael (2009) terkait dengan kontribusi komponen-komponen dalam blended learning menunjukkan bahwa komponen pembelajaran yang dianggap paling berkontribusi belajar adalah tugas-tugas (rerata = 4,72), buku cetak (rerata = 4,54), presentasi pertemuan (rerata = 4,42), dan pertemuan kuliah tatap muka dengan instruktur (rerata = 4,15). Video online kuliah memberikan kontribusi terhadap belajar (rerata = 3,83), buku pelajaran online memiliki kontributsi rata-rata untuk belajar (rerata = 3.32), walaupun kontribusinya rendah hampir setengah dari peserta (46,5%) menyatakan sering menggunakannya.

Peran Pengajar

Dwiyogo (2010:7) Peran pengajar dalam pembelajaran berbasis blended learning sangat penting dalam mengelola pembelajaran. Yang pasti pengajar harus melek informasi. Di samping memiliki keterampilan mengajar dalam menyampaikan isi pembelajaran tatap muka,

pengajar juga harus memiliki kpengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan sumber belajar berbasis komputer (Microsoft Word dan Microsoft PowerPoint) dan keterampilan untuk mengakses internet, kemudian dapat menggabungkan dua atau lebih metode pembelajaran tersebut.

Seorang pengajar dapat memulai pembelajaran dengan tatap muka terstruktur kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran berbasis komputer offline dan pembelajaran secara online. Kombinasi pembelajaran juga dapat diterapkan pada integrasi e-learning (online), menggunakan komputer di kelas, dan pembelajaran tatap muka di kelas. Bimbingan belajar perlu diberikan kepada pebelajar sejak awal, agar para pebelajar memiliki keterampilan belajar kombinasi sejak awal, karena kemampuan ini akan menjadi alat belajar di masa depan. Peran pengjaar sangat penting karena hal ini memerlukan proses transformasi pengetahuan isi dan blended learning sebagai alat.

Dengan makin baiknya sistem ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, maka penduduk dunia akan semakin banyak pula, oleh karena itu perlu dilakukan pembelajaran yang efisien dalam pemanfaatan sumber daya, pembelajaran berbasis blended learning merupakan suatu keniscayaan untuk dilaksanakan dalam sistem pembelajaran, khususnya di Indonesia. Kunci dari semua ini terletak pada peran pengajar yang mengusai kompetensi untuk mengelola pembelajaran berbasis blended learning

Unsur-unsur Blended Learning

(12)

antara tatap muka dan e-learning tinggi paling tidak memiliki 6 (enam) unsur, yaitu: (a) tatap muka (b) belajar mandiri, (c) aplikasi, (d) tutorial, (e) kerjasama, dan (f) evaluasi.

Pembelajaran Tatap muka Pembelajaran tatap muka dilakukan seperti yang sudah dilakukan sebelum ditemukannya teknologi cetak, audio visual, dan komputer, pengajar sebagai sumber belajar utama. Pengajar menyampaikan isi pembelajaran, melakukan tanya jawab, diskusi, memberi bimbingan, tugastugas kuliah, dan ujian. Semua dilakukan secara sinkron (synchronous), artinya semua pebelajar belajar isi pembelajaran pada waktu dan tempat yang sama. Beberapa variasi yang dilakukan, misalnya dosen membagi perkuliahan ke dalam topik-topik yang harus di bahas oleh mahasiswa di depan kelas, mehasiswa membuat makalah untuk presentasi mahasiswa sebagai peserta dan melakukan klarifikasi, tanya-jawab, dan memecahkan masalah. Dengan menggunakan pendekatan berpusat pada pebelajar, kuliah dilakukan dengan tutorial, buku kerja, menulis makalah, dan penilaian.

Pembelajaran Mandiri Dalam pembelajaran tatap muka, untuk mengakomodasi perbedaan individual kemudian berkembang dengan memberikan tugas belajar mandiri melalui pembelajaran menggunakan modul, sekarang di sekolah digunakan Lembar Kerja Siswa. Tujuannya tentu agar siswa yang berlainan karakteristik kecerdasannya akan belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya. Dalam sumber belajar untuk pembelajaran mandiri ini, kebanyakan pengajar memerlukan buku teks 2

atau atau lebih sebagai sumber belajar. Dalam pembelajaran berbasis blended learning, akan banyak sumber belajar yang harus diakses oleh pebelajar, karena sumber-sumber tersebut tidak hanya terbatas pada sumber belajar yang dimiliki pengajar, perpustakaan lembaga pendidikannya saja, melainkan sumber-sumber belajar yang ada di perpustakaan seluruh dunia. Pengajar yang profesional dan kompeten dalam disiplin ilmu tentu dapat merancang sumber-sumber belajar mana saja yang dapat diakses untuk mengkombinasikan dengan buku, multi media, dan sumber belajar lain.

Pembelajaran Berbasis Masalah Aplikasi dalam pembelajaran berbasis blended learning dapat dilakukan melalui Pembelajaran Berbasis Masalah Masalah. Melalui pembelajaran berbasis masalah, pebelajar akan belajar berdasarkan masalah yang harus dipecahkan, kemudian melacak konsep, prinsip, dan prosedur yang harus diakses untuk memecahkan masalah tersebut. Ini berbeda dengan pembelajaran konvensional, yang di tahap awal disajikan konsep, prinsip, dan prosedur yang diakhiri dengan menyajikan masalah. Asumsinya, pebelajar dianggap belum memiliki pengetahuan prasyarat untuk memecahkan masalah, sehingga konsep-konsep tersebut disajikan terlebih dahulu. Melalui pembelajaran berbasis masalah, pebelajar akan secara aktif mendefinisikan masalah, mencari berbagai alternatif pemecahan, dan melacak konsep, prinsip, dan prosedur yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah tersebut.

(13)

tatap muka, namun sifat tutotial berbeda dengan pembelajaran tatap muka konvensional. Pada tutorial, pebelajar yang aktif untuk menyampaikan masalah yang dihadapi, seorang pengajar akan berperan sebagai tutor yang membimbing. Sejumlah program universitas menggunakan berbagai pembelajaran interaktif komputer. Perusahaan menyediakan pembelajaran berbasis CD-ROM dan konten online. Meskipun aplikasi teknologi dapat meningkatkan keterlibatan pebelajar dalam belajar, peran pengajar masih diperlukan sebagai tutor.

Pembelajaran Kolaborasi Kerjasama atau kolaborasi merupakan salah satu ciri penting pembelajaran masa depan yang lebih banyak mengedepankan kemampuan individual, namun kemampuan ini kemudian disinergikan untuk menghasilkan produk, karena produk masa depan, apalagi produk komputer baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak yang kompleks, diperlukan pendekatan interdisipliner. Oleh karena itu produk masa depan adalah produk yang dihasilkan dari kegiatan kolaborasi. Keterampilan kolaborasi harus menjadi bagian penting dalam pembelajaran berbasis blended learning. Hal ini tentu berbeda dengan pembelajaran tatap muka konvensional yang semua pebelajar belajar di dalam kelas yang sama di bawah kontrol pengajar, dalam pembelajaran berbasis blended, maka pebelajar bekaerja secara mandiri dan berkolaborasi. Oleh karena itu, tagihan dalam pembelajaran ini akan berbeda dengan pembelajaran tatap muka. Evaluasi pembelajaran berbasis blended learning tentunya akan sangat berbeda dibanding dengan

evaluasi pembelajaran tatap muka. Evaluasi harus didasarkan pada proses dan hasil yang dapat dilakukan melalui penilaian evaluasi kinerja belajar pebelajar berdasarkan portofolio. Demikian pula penilaian perlu melibatkan bukan hanya otoritas pengajar, namun perlu ada penilaian diri oelh pebelajar, maupun penilai pebelajar lain.

Pelaksanaan Blended Learning Di Sekolah Dalam dunia Pendidikan Tinggi, Blended e-learning banyak digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Diawali dengan Universitas Terbuka yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh yang dilakukan secara konvensional (tanpa menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, tetapi saat ini Universitas Terbuka sudah memanfaatkan teknologi informasi dalam pelaksanaan pembelajaran, sehingga menggabungkan pembelajaran secara konvensional dan pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi. Penyelenggaran pendidikan di Universitas Terbuka ini dapat dikatakan menerapkan Blended Learning.

(14)

penyelenggara pendidikan dasar dan menengah (SD-SMA/SMK) menerapkan Blended Learning di sekolahnya?

Berdasarkan pengamatan di lapangan, sudah banyak lembaga penyelenggara pendidikan dasar dan menengah dalam hal ini pendidikan jenjang SD hingga SMA/SMK yang telah menerapkan Blended Learning. Jika dilihat banyaknya lembaga penyelenggara pendidikan dasar dan menengah yang menerapkan Blended Learning, dapat dikatakan bahwa memang penerapan Blended Learning dalam pendidikan dasar dan menengah itu sangat diperlukan atau dibutuhkan. Penerapan Blended Learning dalam pendidikan dasar dan menengah apakah dapat disamakan dengan penerapan Blended Learning dalam dunia pendidikan tinggi.

Penerapan Blended Learning dalam pendidikan dasar dan menengah tidak begitu dibutuhkan jika penerapannya disamakan dengan penerapan Blended Learning di Perguruan Tinggi. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendekatanan dan metode pendidikan terutama di perguruan tinggi yang melaksanakan pendidikan jarak jauh.

Pada pelaksanaan pendidikan dasar dan menengah, harus menerapkan tatap muka dalam pembelajarannya, akan tetapi bukan berarti dalam pendidikan dasar dan menengah tidak dapat menerapkan Blended Learning. Pada pendidikan dasar dan menengah juga dapat menerapkan Blended Learning, hanya saja secara teknis pelaksanaan pembelajaran tidak dapat disamakan dengan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Kapan Blended Learning dibutuhkan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah sekolah pada pendidikan dasar dan menengah? Blended Learning dibutuhkan pada saat metode pendidikan jarak jauh tidak begitu dibutuhkan.

(15)

kemungkinan model dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis Internet, yaitu model web course, web centric course, dan web enhanced

course.

Model Web course adalah penggunaan Internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pendidik sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui Internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh. Untuk pendidikan guru model seperti ini dapat digunakan untuk peningkatan “knowledge dan skill”, memperkuat pengetahuannya tentang materi pelajaran sebagai spesifikasi keilmuannya dan memperkuat pemahaman tentang metodologi pembelajaran melalui simulasi pembelajaran yang disajikan melalui internet misalnya video streaming, video conference dan lain-lain. Intinya, semua aktivitas belajar mengajar

dilakukan secara

online tanpa adanya tatap muka sama sekali. Model Web centric course adalah penggunaan Internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan melalui internet,dan sebagian lagi melalui tatap muka, sedangkan fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pendidik bisa memberikan petunjuk pada peserta didik untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Peserta didik juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pendidik lebih banyak diskusi

tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut. Model ini lebih relevan untuk digunakan dalam pengembangan pendidikan guru, dilihat dari kondisi, kultur dan infrastruktur yang dimiliki saat ini. Secara substansial materi keguruan identik dengan nilai yang tidak hanya dapat ditransfer melalui pembelajaran tanpa tatap muka, melainkan diperlukan direct learning, sehingga unsur-unsur modelling dari seorang guru dapat diadaptasi dengan baik. Untuk penguasaan materi konseptual, teoritikal dan keterampilan dapat menggunakan Blended e-learning dengan sistem jarak jauh.

Model web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pendidik, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Oleh karena itu peran pendidik dalam hal ini dituntut untuk menguasai teknik mencari informasi di Internet, membimbing mahasiswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui Internet, dan kecakapan lain yang diperlukan

(16)

penyampaian materi pembelajaran, diskusi, ujian dan lain-lain, sedangakan dalam pembelajaran pada pendidikan dasar dan menengah masih mewajibkan adanya kegiatan tatap muka secara langsung antara peserta didik dengan pendidiknya.

Pada model Web Centric Course dan Web Enhanced Course lebih tepat diterapkan di sekolah-sekolah pada pendidikan dasar dan menengah. Hal ini dikarenakan pada model Web Centric Course masih menerapkan tatap muka untuk menyampaikan sebagian materi-materi pembelajarannya, dan penerapan pada model Web Enhanced

Course digunakan sebagai penunjang saja dalam memberikan materi pengayaan, berkomunikasi antar peserta didik atau dengan narasumber lain yang dilakukan di luar jam pembelajaran formal. Pengembangan Langkah-Langkah Pembelajaran Dalam BlendedLearning

(17)

perlu mempersiapkan terlebih dulu segala hal yg dibutuhkan, seperti materi-materi yang akan disampaikan atau dibahas, platform yang akan digunakan dalam pembelajaran dengan Blended Learning, tutorial penggunaan platform yang digunakan dalam pembelajaran dengan menerapkan Blended Learning dan lain sebagainya. Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan Blended Learning, pendidik harus menyiapkan dulu semua kebutuhan pembelajarannya terutama penggunaan platform teknologi yang akan digunakan dalam pembelajaran yang akan

digunakan tanpa

melaksanakan tatap muka.

(18)

konvensional (tatap muka), mandiri, dan mandiri via online.

Bahan belajar mandiri secara offline disiapkan dalam bentuk digital, seperti dalam bentuk CD, MP3, DVD, dll, sedangkan bahan belajar mandiri secara online disiapkan dalam bentuk Mailing List, Social Media, Learning Management Systems (LMS) dan lain sebagainya. Pelaksanaan pembelajaran dengan Blended Learning secara online dapat diterapkan dalam beberapa model yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course. Pada implemenatasinya, pembelajaran dengan blended learning pada lembaga pendidikan dasar dan menengah lebih tepat dengan menerapkan model web centric course, dan web enhanced course, karena pada pendidikan dasar dan menengah masih diwajibkan adanya tatap muka di dalam kelas.

Pada penerapan Blended Learning pendidik seharusnya dapat memastikan bahwa seluruh pesertanya memiliki sarana dan prasarana yang memadai, sehingga dalam belajar secara mandiri via online tidak banyak hambatan dikarenakan faktor sarana dan prasana yang kurang memadai. Selain itu pendidik sudah menyiapkan solusi terbaik dalam mengatasi permasalahan yang mungkin muncul. Pembagian materi belajar harus dapat dialokasikan dengan baik, dengan mempertimbangkan isi bahan ajar, serta tujuan pembelajarannya, mana yang harus dibahas secara tatap muka, atau dapat dipelajari secara mandiri.

Dalam mengorganisir pembelajaran, pendidik juga harus menyiapkan jadwal yang terorganisir untuk tatap muka dan pembelajaran

mandiri diawal, agar peserta mengetahui secara jelas jadwal tersebut.

DAFTAR RUJUKAN

Annis RS. 2013. Strategi Blended Learning Untuk Peningkatan Kemandirian Belajar Dan Kemampuan Critical Thinking Mahasiswa Di Era Digital. Jurnal Pendidikan Akuntasi Indonesia. Vol XI No 2 Tahun 2013

Ayala, Gerardo, dkk., 2008. Towards Computatonal models for Mobile Learning Objects, Journal IEEE.

Agnes Kukulska-Hulme, John Traxler. 2005. Mobile learning: a handbook for educators and trainers, Routledge.

Apriliya R 2015. Penerapan Blended Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ilmu Bangunan Di Kelas X TGB SMK Negeri 7 Surabaya. Jurnal Kajian Pendidikan Teknik Bangunan Vo 1 No 1/JKPTB/(2015):40-49

Charles D. Dziuban, Joel L. Hartman, Patsy D. Moskal, 2004. Blended Learning. Research Bulletin. Volume 2004, Issue 7. March 30, 2004.

Dodon Y. (-). Blended Learning: Model Pembelajaran Komunikasi E-Learning Dalam Pendidik Jarak Jauh. Program Studi Sistem Komputer; Universitas Andalas.

Dwiyogo. 2010. Pembelajaran Berbasis Blended Learning

Dwiyogo. 2010. Analisi Kebutuhan Pengembangan Model Rancangan Pembelajaran Berbasis Blended Learning (PBBL) Untuk Meningkatkam Hasil Belajar Pemecahan Masalah. Universitas Negeri Malang: Malang

Dziuban, Charles D., dkk., 2004. Blended Learning,

(19)

Hoic-bozic, Natasa, dkk, (2009), A Blended Cultural Consideraion, Journal IEEE.

Kana Hidayati dan Endang Listyani.(2010). Pengembangan Instrumen Kemandirian Belajar Mahasiswa. Diakses melalui: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/peneli tian/Kana%20Hidayati,

%20M.Pd./Pengembangan

%20Instrumen.pdf tanggal 10 Maret 2016.

Karen Precel, Yoram Eshet-Alkalai, and Yael Alberton. 2009. Pedagogical and Design Aspects of a Blended Learning Course. International Review of Research in Open and Distance Learning. Volume 10,Number 2. ISSN: 1492-3831 April – 2009

Maria D. Avgerinou. 2008. Blended Collaborative Learning for Action Research Training.Journal of Open Education volume 4 No.1, 2008..

Marzuki, 2008. Meneladani Nabi , Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari. Jurnal Humanika Vol. 8 No. 1. Maret 2008, Hal 1.

Mazzola, J. W. 2003. Bullying in school: a strategic solution. Washington, DC: Character Education Partnership

Mulyasa. 2011. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Murray Fisher, Jennifer King, dan Grace Tague. 2001. Development of a SelfDirected Learning Readiness Scale for Nursing Education. Nurse Education Today 21, p. 516-525.

Mutohir, Toho Cholik. 2011. Dimensi Pedagogi Olahraga. Wineka Media. Malang

McGinnis, M. 2005. Building A Successful Blended Learning Strategy, (http://www.ltimagazine.com/ltimagazine/ar ticle/articleDetail.jsp?id=167425), diakses tanggal 20 April 2016.

Oliver, Martin & Trigwell, Keith, (2005), eLearning Journal, Volume 2, Number 1

Ozgen. Ufuk Karakus. (2009). The Impact od Blended Learning Model on Student Attitudes Towards Geography Course and Their Critical Thinking Dispositions and Levels. The Turkish Online Journal of Educational Technology – TOJET October 2009 volume 8 Issue 4.

Richard Paul, Linda Elder. 2008. The Miniature Guide to Critical Thinking Concepts and Tools. California: The Foundation for Critical Thinking Press.

Rooney, J. E. 2003, Blended learning opportunities to enhance educational programming and meetings. Association Management, 55(5), 26-32.

Republik Indonesia, 2003. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Soekartawi, A. Haryono dan F. Librero, (2002), Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Southeast Journal of Education. Technical Education:Technologies for Vocational Training

Wendhie P. (-). Implementasi Blended Learning Dalam Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Widyaswara LPMP; Yogyakarta

Whitelock, D. & Jelfs, A. 2003, Editorial: Journal of Educational Media Special Issue on Blended Learning, Journal of Educational Media, 28(2-3), pp. 99-100.

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Food bar adalah campuran bahan pangan (blended food) yang diperkaya dengan nutrisi, kemudian dibentuk menjadi bentuk padat dan kompak (a food bar form). Tujuan

Si la disposición imperativa y coercitiva es la formación o entrenamiento desde el tener, les decimos: tienen que tener conocimientos, los que no deben ser precarios; tienen

Kajian ini berkisar komitmen pelajar dan pensyarah di kampus antaranya ialah komitmen pelajar terhadap pemakaian kad matrik universiti, komitmen pensyarah memperuntukkan masa bagi

“Analisis Pngaruh Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar, Inflasi, Jumlah Uang Beredar (M2) Terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK), Serta implikasinya Pada Pembiayaan Mudharabah

Skripsi ini merupakan sebagian tugas dan syarat yang harus dipenuhi guna memperoleh gelar sarjana pendidikan S-1 pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas

bahwa berdasarkan Pasal 110 ayat (1) huruf f Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Retribusi Pelayanan Pasar merupakan salah satu

Hal ini terlihat dari jawaban masyarakat bahwa 80% masyarakat sekitar Kali Garang sangat mengetahui peralatan tersebut dan 15% mengetahui serta 5% tidak mengetahui peralatan

Bahan Hukum Tersier, sedangkan bahan hukum tersier pada penelitian ini adalah berupa artikel yang berhubungan dengan tindak pidana pencabulan. anak yang berasal dari