• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRITIK HADIS DAN TUJUAN PEMELIHARAAN ORS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KRITIK HADIS DAN TUJUAN PEMELIHARAAN ORS"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

KRITIK HADIS DAN TUJUAN PEMELIHARAAN

ORSINILITAS TEKS

Didin Chonytha (14750010)

A. Latar Belakang

Membicarakan tentang Hadits, maka kita sebagai umat muslim pasti

mengetahui bahwa hadits adalah sumber rujukan kedua setelah Al-Qur’an. Posisi hadits sebagai penjelas atas arti dan maksud ayat Al-Qur’an yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW bermacam-macam bentuknya. Ia dapat berupa ucapan, perbuatan,

tulisan maupun taqrir Nabi (pembenaran berupa diamnya beliau terhadap perbuatan

yang dilakukan oleh orang lain). Berbeda dengan Al-Qur’an yang mempunyai kepastian teks dan kepastian argument.1

Sekalipun ulama hadits telah meletakkan lima syarat dalam menilai validitas

hadits, namun dalam tataran praktis khususnya penilaian sanad sering terjadi

perdebatan di antara mereka. Akhirnya, muncullah ijtihad untuk menggabungkan

berbagai pendapat tersebut, atau memberikan penilaian tersendiri atas hadits yang

belum dikritisi. Ijtihad yang dimaksud tentu berdasarkan metodologi yang kuat dan

objektif; bukan ijtihad yang muncul dari sikap fanatik atau mendewakan‘ rasio. Tulisan ini akan mencoba menelaah metode kritik hadits yang menjadi landasan para

ulama dalam menilai hadits, baik metode yang telah menjadi kesepakatan bersama

atau masih dalam perbedatan. Untuk selanjutnya dapat dinilai apakah perbedaan

ijtihad itu saling bertentangan (ikhtilâfu tadhâdh) atau justru saling melengkapi

(iktilâfu takamuly).

1 Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadits: Versi Muhaddisin dan Fuqaha . Cet. I, (Yogyakarta: Teras,

(2)

Cara mengetahui bagaimana sebuah sanad dan matan hadits itu bisa

dinyatakan sebagai hadits shahih maka harus ada pembahasan lebih lanjut tentang

bagaimana sanad dan matan itu harus memiliki kualitas yang terstandar, sehingga

bisa dinyatakan kalau hadits tersebut termasuk hadits shahih. Di sini penulis akan

membatasi pembahasan hanya pada kritik terhadap sanad hadits, karena dalam

pembahasan tentang matan hadits, akan dibahas oleh kelompok lain, sehingga untuk

memfokuskan pembahasan pada makalah ini, penulis hanya akan membahas tentang

kritik terhadap sanad hadits.

Kritik dalam konteks ilmu hadits, tidak sinonim dengan istilah kritik yang

secara umum digunakan oleh orientalis. Dalam perpektif orientalis, kritik

dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan semacam kecaman, yang pada

akhirnya dapat melahirkan pelecehan terhadap eksistensi hadits. Istilah kritik tidak

berkonotasi negatif, bahkan sebaliknya berkonotasi positif. Aktivitas kritik dalam

ilmu hadits dimaksudkan sebagai upaya menyeleksi hadits, sehingga dapat diketahui

mana yang shahih dan mana yang tidak shahih. Dengan demikian istilah kritik berasal

dari ulama hadits bukan dari dunia barat.2

Aktivitas kritik hadits merupakan keharusan yan dilakukan untuk memberikan

keyakinan kepada umat islam untuk berupaya merealisasikan serangkaian ajaran

islam dengan berpegang teguh pada hadits-hadits yang telah terbukti kesahihannya

dan meninggalkan hadits-hadits yang tidak bisa diterima sebagai dasar agama.

Dengan demikian, kekhawatiran akan terjadinya penyimpangan dalam realisasi ajaran

agama yang telah diajarkan oleh Rasulullah dapat diminimalisir. Kritik terhadap

hadits selalu berorientasi pada dua aspek, yakni aspek pada sanad (kredibilitas rawi)

dan pada aspek matan hadits (orisinilitas teks hadits).3

2 Umi Sumbulah, Kritik Hadits Pendekatan Historis Metodologis, (Malang, UIN Press, 2008), hlm. 26 3

(3)

Oleh karena itu, di dalam makalah ini, penulis akan membahas beberapa sub

tema yang terkait dengan pembahasan tentang kritik Hadits dan tujuan pemeliharaan

orisinalitas teks yang akan disajikan lebih luas dan mendalam.

B. Rumusan Masalah

1. Sebutkan definisi dan pengertian dhabt?

2. Bagaimana kritik terhadap perawi dari sudut pandang ke-dhabit-an dan

keorsinilan teks hadits?

3. Bagaimana metode dan analisis untuk mengetahui ke-dhabit-an perawi?

C. Tujuan Masalah

1. Agar pembaca mengetahui definisi dan pengertian dhabit.

2. Untuk memperjelas kritik terhadap perawi dari sudut pandang ke-dhabit-an dan

keorsinilan teks hadits.

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Metodologi Studi Kritik Hadits

Studi kritik hadis, pada umumnya terbagi menjadi dua sisi hadis, yaitu sisi

sanad dan sisi matan. Terkait istilah kritik sanad dan kritik matan, terdapat perbedaan

yang sangat signifikan antara dua kaidah ulama klasik dan ulama modern. Ulama

klasik mengatakan bahwa setiap yang sanadnya sahih, pasti matannya sahih, begitu

juga sebaliknya. Sementara ulama ahli hadis modern memiliki kaidah yakni

kesahihan atau ke-daif-an sanad tidak mempengaruhi ke-sahih-an / ke-daif-an matan,

begitu pula tidak sebaliknya.

Kaidah kritik versi ulama‟ modern ini bukanlah plagiat atau membenarkan apa yang sering dikatakan oleh para orientalis belakangan ini. Sebab kaidah ini telah

dicetuskan oleh ulama khalaf (setelah masa fitnah) lantaran banyaknya aksi

pemalsuan hadis pada masa fitnah yang dipelopori oleh kaum syi’ah, mu'tazilah, zindiq, ahli bid'ah dan kaum sufi yang sengaja membuat matan palsu lalu mencuri

sebuah sanad dari beberapa hadis sahih bahkan mutawatir untuk membenarkan

ideologi dan aliran mereka.4

Melihat fenomena sejarah kelam hadis yang pernah dilalui oleh umat Islam,

maka dirasa penting memisahkan antara kesahihan sanad hadis dan matannya. Sebab

itulah ulama hadis melakukan kajian kritik yang komprehensif baik dari sisi matan

hadis maupun sanadnya dengan tidak meniadakan hubungan erat antara keduanya.

1. Kritik Sanad

Sanad hadis merupakan unsur utama penelitian dan pemahaman hadis.

Kualitas sanad yang ditetapkan ulama memiliki tingkatan yang berbeda. Perbedaan

4

(5)

tersebut dapat disebabkan antara lain: tingkatan otoritas yang dimiliki oleh

komunitas tertentu, terhadap syarat minimal kesahihan suatu hadis, serta penetapan

tingkatan hadis yang dapat digunakan dalam persoalan tertentu. Para ulama hadis

telah menetapkan bahwa pedoman bagi aqidah haruslah berdasarkan hadis-hadis

mutawatir. Jika suatu hadis yang di dalamnya terdapat pembicaraan yang ganjil

dan sukar untuk dipahami, maka persoalan sanad menjadi hal utama yang harus

diperhatikan. Dengan kata lain, kondisi kandungan hadis yang dibicarakan hadis

tersebut akan ditinggalkan apabila setelah diteliti ternyata sanadnya dha'if.

Sanad boleh dikatakan menjadi pusat perhatian ulama' hadis dalam

mengkritik hadis, karena mayoritas ulama' hadis menjadikan sanad sebagai

patokan sahih tidaknya suatu hadis. Dengan demikian ulama' hadis memusatkan

perhatian pada keadaan setiap perawi hadis, baik itu dari pengetahuan dan

pengalaman mereka sendiri (pengamatan pribadi), maupun dari penilaian beberapa

ulama' lain yang akan menguatkan penilaian mereka. Mereka juga memperhatikan

perjalanan riwayat antara perawi yang satu dengan yang lain, apakah ada

kesinambungan atau tidak. Dari sini sangatlah penting bagi ulama' hadis untuk

mengembangkan studi sanad sebagai proses seleksi yang sangat urgen.

a. Syarat Kesahihan Sanad5

1) Ittishal (sambungnya sanad)

Sanad dianggap sambung jika dalam setiap tingkatan sanad itu terdapat

perawi yang saling menghubungkan satu sama lain yang keduanya

benar-benar pernah bertemu atau minimal mereka berdua sama-sama hidup satu

masa. Dari sini, informasi tentang biografi perawi atau sensus generasi

perawisangatlah urgen dan membantu bagi pengkritik sanad hadis.

5

(6)

2) ‘Adalah dan Dhabit.

Kedua variabel ini harus di penuhi oleh perawi. Dengan ‘Adalah, kejujuran

perawi dapat diketahui dan dengan dengan Dabt, kecerdasan perawi dapat

pula diketahui.6

3) Jika dua-duanya terpenuhi, maka perawi sudah bisa dikatakan thiqah. Jika

salah satu saja tidak terpenuhi, maka riwayatnya tidak dapat diterima.

Untuk mengetahui apakah perawi itu ‘adil atau tidak, Dabit atau tidak,

diperlukan penelusuran (tatabbu‘) lebih lanjut.

2. Instrumen Penting Dalam Studi Kritik Sanad

Dalam sebuah studi kritik sanad hadis, seorang pengkritik tidak boleh melupakan

beberapa hal berikut :

a. Illat.

Yang dimaksud illat adalah faktor pencacat dalam sebuah hadis, yang

tersembunyi, yang mana secara zahir, hadis yang bersangkutan selamat dari

faktor pencacat tersebut7.

b. Perawi Yang Mengalami Ikhtilat(kacau, pikun)

Kekacauan yang terjadi pada perawi hadis kadangkala dikarenakan umurnya

yang sudah tua, kehilangan penglihatan atau kehilangan kitab jika ia biasa

meriwayatkan melalui tulisan bukan melalui hafalan. Diantara Ulama' hadis

yang sempat mengalami masa pikun adalah : Ata' bin Saib Thaqafi

6Adalah : bakat atau sifat yang mendorong perawi untuk selalu bertaqwa dan menjahui hal-hal yang

dapat mengurangi reputasi, citra, wibawa dan harga dirinya dan menjahui kemaksiatan yang dapat membuat dirinya menjadi orang yang fasiq.

Dhabt : kecerdasan, ketangkasan, kecermatan, atau suatu kemampuan untuk memahami hadith, mampu untuk meriwayatkan seperti apa yang diriwayatkan oleh gurunya , kemampuan menghafal hadith (jika ia meriwayatkannya dari hafalan) dan ketelitian serta kecermatan dalam menulis hadith dan menjaganya dari segala bentuk kesalahan atau perubahan (tahrîf) yang mungkin terjadi ( jika ia meriwayatkan hadith dari kitabnya), Al-Suyûti, Tadrib Al-Rawi fi sharh taqrib al-Nawawi, jld. 1 (Beirut: Maktabah Dar Al Turath, 1392), 300-301.

7 Mustafa bin Ismail al Sulaimani al Maaribi, Al-Ja>wa>hir al-Sulaima>niyah, sharh}u al

(7)

Kufy, Imam Ahmad, Ibnu Rahawaih, Ibnu Ma'in, Ibn al-Madini, Waki dan lain

lain.

c) Mengenali perawi lebih jauh

Untuk mengenal perawi lebih jauh, pengkritik sanad harus mengetahui:

1) Tahun kelahiran dan tahun wafat perawi. Ini akan memudahkan pengkritik

sanad untuk mengetahui hubungan perawi dengan guru-gurunya dan

murid-muridnya;

2) Kebangsaan perawi. Ini penting sekali untuk membedakan antara perawi

yang ada keserupaan (misalnya nama) dengan perawi lain yang di negara

lain;

3) Guru-guru dan murid-muridnya, sehingga status sanad bisa dipastikan

apakah ittsal, inqit}a‟ atau ada tadlis didalamnya;

4) Sabiq dan lahiq, untuk mengetahui siapakah yang wafat lebih dulu antara

dua rowi. Salah satu rujukan dalam disiplin ini adalah Al-sabiq wa al-lahiq

karya Al-Khatib Al-Baghdadi;

5) Identitas, integritas, kredibilitas dan kualitas seorang perawi berdasarkan

pendapat-pendapat ulama hadis. Dan manakala terjadi kontradiksi antara

periwayatan beberapa perawi thiqah, maka riwayat perawi yang

mempunyai tingkat kethiqahan paling tinggi harus diunggulkan atas

riwayat perawi lain yang tingkat kethiqahannya lebih rendah;

6) Perawi yang dikenal sering melakukan tadlis.dan irsal . Tadlis adalah jika

perawi mempunyai guru ( atau siapa saja yang pernah ia jumpai) dan

biasanya ia menerima hadis dari gurunya itu, namun ketika ia mendapatkan

hadis dari orang lain, ia kemudian meriwayatkan hadis yang didapat dari

orang lain itu, tapi menggunakan perangkat yang mengkaburkan dan

seakan -akan ia menerima hadis tersebut dari gurunya sendiri (dengan

(8)

darinya. Perawi yang terkenal sering melakukan tadlis adalah Baqiyyah bin

Al-Walid8 dan Al-Walid bin Muslim Al-Dimashqi;

7) Madhhab perawi, apakah ia ahlussunnah atau ahli bid'ah, apakah bid'ahnya

membuatnya menjadi munafiq, kafir atau tidak, apakah ia mengajak orang

lain (mendakwahkan) kebid‟ahannya atau tidak. ini memudahkan pengkritik sanad untuk labeling perawi sesuai madhhab yang ia anut,

apakah mu'tazilah atau shî'ah rafidah, qadiyaniyah, khattabiyah dan

sebagainya;

8) Nama dan laqob perawi. Banyaknya jumlah perawi hadis menyebabkan

terjadinya keserupaan pada nama, kunyah, dan laqob.

B. Kritik Sanad Hadits

Para ulama Hadis sesungguhnya telah memiliki teori-teori sanad yang cukup

ketat. Namun demikian, jauhnya jarak antara masa Rasul saw. dengan masa

kodifikasi hadis, sekitar satu setengah abad atau 150 tahun, menyebabkan teori-teri

tersebut dalam prakteknya menghadapi hambatan yang cukup serius. Diantaranya

yaitu terbatasnya data-data yang diperlukan dalam proses pembuktian. Dan pada

perkembangan selanjutnya keterbatasan-keterbatasan ini diatasi oleh teori-teori baru,

seperti Ash-shohabah Kulluhum 'Uduul (semua sahabat bersifat adil). Dengan kata

lain, validitas satu generasi pertama, generasi sahabat, tidak perlu ada pembuktian.

Dalam ukuran modern, teori kritik sanad secara umum mengandung

kelemahan inheren, seperti anggapan tentang seorang manusia terhormat yang tidak

memiliki keinginan berdusta sehingga mereka pasti bercerita benar. Di samping itu,

para peneliti hadis kadang tidak menyadari adanya masalah ingatan yang keliru,

pikiran yang mengandung kepentingan, pembacaan ke belakang (dari masa kini ke

masa lalu) atau pun tersangkutnya pengaruh seseorang dan bahkan tentang adanya

berbagai tuntutan mendesak. Kelemahan yang terdapat dalam teori kritik sanad ini

mencerminkan tingkat kesulitan yang tinggi dalam proses pembuktian validitas

8

(9)

sebuah hadis. Prof Ali Mustafa ya’kub membagi ke-Dhabit-an hadis menjadi enam bagian yaitu;

1. Memperbandingkan Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah Shahabat

Nabi, antara yang satu dengan yang lain.

2. Memperbandingkan Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi pada masa yang

berlainan.

3. Memperbandingkan Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang berasal

dari seorang guru Hadits.

4. Memperbandingkan suatu Hadits yang sedang diajarkan oleh seorang dengan

Hadits semisal yang diajarkan oleh guru lain.

5. Memperbandingkan antara Hadits-hadits yang tertulis dalam buku dengan yang

tertulis dalam buku lain, atau dengan hafalan Hadits.

6. Memperbandingkan Hadits dengan ayat-ayat al-Qur‘an.

Penelitian dan kritik Sanad atau Isnad (diringkas dan diubah dari Fitnah

Kubro karya Prof DR M. Amhazun yang diterjemahkan oleh Daud Rasyid dari hal.

39-79 dengan beberapa perubahan dan penambahan) yaitu untuk meluruskan dan

membongkar kedustaan yang ada dalam khabar (berita) dengan melalui dua aspek

iaitu:

1. Aspek teoritis, iaitu penetapan kaedah-kaedah yang dapat digunakan untuk

mendeteksi adanya kedustaan.

2. Aspek praktis, iaitu penjelasan tentang peribadi-peribadi yang dianggap sebagai

pendusta dan seruannya pada umat manusia agar bersikap hati-hati terhadap

mereka.

Dalam aspek teoritis, metode kritik para ulama telah berhasil sampai pada

(10)

puncak kreasi yang dihasilkan oleh kemampuan manusia. Untuk mengetahui

ketelitian metode ilmiah yang diikuti ulama yang berkecimpung di bidang ini, maka

cukuplah kita baca karya-karya yang mereka hasilkan dalam bentuk kaedah-kaedah

Al-Jarh dan At-Ta‘dil, pengertian istilah-istilah yang tercakup dalam dua kategori itu, urutan hirarkisnya yang dimuali dari yang teratas Ta‘dil sampai tingkat yang

terbawah –Jarh-, syarat-syarat penerimaan suatu riwayat, dimana mereka tetapkan dua syarat pokok terhadap perawi yang bisa diterima periwayatannya,9 yaitu:

1. Al ‘Adalah (keadilan) iaitu seorang perawi itu harus muslim, baligh, berakal, jujur,

terbebas dari sebab-sebab kefasikan dan terhindar dari hal-hal yang merusak muru‘ah (martabat diri)

2. Adh Dhabit iaitu seorang perawi harus menguasai apa yang diriwayatkannya, hafal

atas apa yang diriwayatkan kalau dia meriwayatkannya dengan metode hafalan,

cermat dengan kitabnya kalau dia meriwayatkannya dengan melalui kitabnya.

C. Pengertian Dhabt

Aspek intelektualitas (Dhabit) perawi yang dikenal dalm ilmu hadits di

fahami sebagai kecerdasan perawi hadits. Istilah dhabit sendiri secara etimologi yakni

menjaga sesuatu.10 Aspek tersebut adalah salah satu aspek untuk di terimanya riwayat

yang disampaikan.

Sedangkan secara terminology terdapat beberapa pengertian mengenai definisi

Dhabit yakni salah satunya menurut Al-Sarkhasi11 bahwa dhabt mengandung makna

sebagai tingkat kemampuan dan kesempurnaan intelektualitas seseorang dalam

penerimaan hadits, mampu memaknai secara mendalam makna yang dikandungnya,

menghafalkan dan menjaga hafalanya semaksimal mungkin hingga pada waktu

9

Bustamin, metodologi studi kritik hadis, (Jakarta: Grafindo persada, 2004), h.43

10Abu Louis Ma’luf, Al munjid fil lughoh wal al-a’lam (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), cet. Ke-24, h.

224

11 Nama lengkap al-syarkhasi adalah Muhammad bin ahmad bin sahal Abu bakar, dia adalah ulama

(11)

penyebaranya dan periwayatan hadis yang didengarnya tersebut kepada orang lain.

Dengan demikian di tuntut adanya konsistensi mulai dari proses tahammul hingga

proses ‘ada’al hadits.

Dari segi bahasa, kata dhabit memiliki beberapa pengertian. Dalam

kitab lisanul ‘Arab, Ibnu Mandzur menjelaskan :

ي هقرفي ا ئيش موزل : طبظلا

ئيش لك

مزحااب هظفخ ئيشلا طبظلاو

شطبلا ديدش , مز اح يا طبظلا لجرلاو

Sedangkan menurut Ibnu Hajar al-Asqalaniy, dhabit dapat dimaknai dengan

sesuainya sesuatu dan tidak bertentangan dengan lainnya, mengingat sesuatu secara

sempurna, kuat pegangannya. Adapun pengertian dhabit menurut istilah, telah

dikemukakan oleh ulama dalam berbagai format bahasa, antara lain sebagai berikut :

1. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalaniy dan al-Sahawiy yang disebut orang dhabit

adalah orang yang kuat hafalannya tentang apa-apa yang didengarnya dan mampu

menyampaikan hafalanya itu kapan saja dia menghendakinya.

2. Dhabit adalah orang yang mendengarkan pembicaraan sebagaimana seharusnya,

dia memahami pembicaraan itu secara benar, kemudian dia menghafalnya dengan

sungguh-sungguh dan dia berhasil hafal dengan sempurna, sehingga dia mampu

menyampaikan hafalannya itu kepada orang lain dengan baik.

3. Dhabit ialah orang yang mendengarkan riwayat sebagaimana seharusnya, dia

memahaminya dengan pemahaman yang mendetail kemudian dia menghafalnya

dengan sempurna, dan dia meyakini kemampuan yang demikian itu, sedikitnya

mulai dari saat mendengar riwayat itu sampai dia menyampaikan riwayat tersebut

kepada orang lain.

Dari definisi di atas, kelihatannya memiliki versi dan format bahasa yang

(12)

memiliki kesamaan. Intinya adalah kuatnya hafalan periwayat dalam meriwayatkan

hadis (mulai dari ia mendengarnya sampi ia menyampaikan kepada orang lain dan ia

memahami betul apa yang disampaikannya itu).

Ulama hadis umumnya tidak menerangkan argumen mendasar unsur kaedah

periwayat bersifat dhabit. Mereka umumnya hanya mengemukakan berkenaan dengan

pengertian Dhabit sebagai salah satu unsur kaedah kesahihan sanad hadis.12

Klasifikasi Dhabt

NO Pemilik Konsep Dhabt Klasifikasi Dhabt

1 Dalam kitab fath

(13)

apapun yang dapat

mengurangi kualitas

sebuah kitab, baik

sebatas sisipan atu

sebagiannya.

D. Penelitian Matan Hadis Musykil

Penelitian matan hadis merupakan salah satu bentuk upaya meneliti

kandungan atau matan suatu hadis. Para ulama hadis berpendapat bahwa kritik matan

harus didahului oleh kritik sanad. Dengan kata lain, sebuah hadis yang sudah

dinyatakan lemah dari segi sanadnya, maka upaya terhadap kritik matan tidak lagi

menjadi kewajiban, karena hadis tersebut sudah dianggap tidak memenuhi syarat

untuk dijadikan hujjah.

Langkah-langkah pelaksanaan kritik matan hadis Agar upaya pelaksanaan

kritik matan mencapai sasaran dan tujuan yang diinginkan, maka diperlukan adanya

pedoman atau petunjuk pelaksanaannya, termasuk juga tata urutan segenap kegiatan

dalam melakukan kritik dimaksud. Sebagian ulama menetapkan langkah-langkah

kritik matan yang terdiri atas;

a. Bidang kebahasaan, termasuk kritik teks yang mencermati keaslian dan kebenaran

teks, format qauli atau format fi'li. Target analisis proses kebahasaan matan hadis

ini tertuju pada upaya penyelamatan hadis dari pemalsuan dan jaminan kebenaran

teks hingga ukuran sekecil-kecilnya. Langkah metodologis ini bertaraf kritik

otentisitas documenter (naqd taqnini ikhtilathi). Temuan hasil analisisnya bisa

mengarah pada gejala mawdhu', mudhtarif, mudraj, maqlub, mushahhaf/

(14)

b. Analisis terhadap isi kandungan makna (konsep doktrin) pada matan hadis. Target

kerja analisisnya berorientasi langsung pada aplikasi ajaran berstatus layak

diamalkan, harus dikesampingkan atau ditangguhkan pemanfaatannya sebagai hujjah syar’iyyah. Kategori kritiknya adalah naqd tathbiqi. Hasil temuan analisisnya bisa menjurus pada gejala: munkar, syadz, mukhtalif (kontroversi)

atau ta'arudh (kontradiksi);

c. Penelusuran ulang nisbah (asosiasi) pemberitaan dalam matan hadis kepada

narasumber. Target analisisnya terkait potensi kehujjahan hadis dalam upaya

merumuskan norma syari’ah. Seperti diisyaratkan oleh surat al-Nahl: 41 bahwa Rasulullah Saw. menerima tugas untuk menjelaskan (bayan) terhadap ungkapan

Alquran yang mujmal dan pada surat al-Ahzab 21 memproyeksikan pribadi

Rasulullah saw. Sebagai sumber keteladanan yang ideal bagi umatnya. Kedua

kapasitas itu lekat maqam kerasulan/kenabiannya. Karenanya perlu

dikembangkan uji nisbah (asosiasi) kandungan makna yang termuat dalam matan

hadis, apakah benar-benar melibatkan peran aktif nabi Saw, ataukah hanya

sebatas praktek keagamaan sahabat/tabiin atau semata-mata fatwa pribadi mereka.

Hasil temuan analisisnya menjurus pada data marfu’, mawquf, maqthu’ atau

(15)

BAB III

PENUTUP

Dari berbagai tulisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa:

1. menurut Al-Sarkhasi bahwa dhabt mengandung makna sebagai tingkat

kemampuan dan kesempurnaan intelektualitas seseorang dalam penerimaan

hadits, mampu memaknai secara mendalam makna yang dikandungnya,

menghafalkan dan menjaga hafalanya semaksimal mungkin hingga pada waktu

penyebaranya dan periwayatan hadis yang didengarnya tersebut kepada orang

lain. Dengan demikian di tuntut adanya konsistensi mulai dari proses tahammul

hingga proses ‘ada’al hadits.

2. Kaidah kritik versi ulama’ modern ini bukanlah plagiat atau membenarkan apa yang sering dikatakan oleh para orientalis belakangan ini. Sebab kaidah ini telah

dicetuskan oleh ulama khalaf (setelah masa fitnah) lantaran banyaknya aksi

pemalsuan hadis pada masa fitnah yang dipelopori oleh kaum shi’ah, mu'tazilah,

zindiq, ahli bid'ah dan kaum sufi yang sengaja membuat matan palsu lalu mencuri

sebuah sanad dari beberapa hadis sahih bahkan mutawatir untuk membenarkan

ideologi dan aliran mereka

3. Studi kritik hadis, pada umumnya terbagi menjadi dua sisi hadis, yaitu sisi sanad

dan sisi matan. Terkait istilah kritik sanad dan kritik matan, terdapat perbedaan

yang sangat signifikan antara dua kaidah ulama klasik dan ulama modern. Ulama

klasik mengatakan bahwa setiap yang sanadnya sahih, pasti matannya sahih,

begitu juga sebaliknya. Sementara ulama ahli hadis modern memiliki kaidah

yakni kesahihan atau ke-daif-an sanad tidak mempengaruhi ke-sahih-an / ke-daif

(16)

Daftar pustaka

Abdurrahman, elan sumarna, Metode kritik hadis, (Bandung, Rosda, 2011)

Abu Louis Ma’luf, Al munjid fil lughoh wal al-a’lam (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986)

Al-Asqalaniy, Nuzhah al-Nazhar (Kairo: Dar al-Fikr, t.th).

as-Sakhawiy, al-Mutakallimun fi al-Rijal (Kairo: maktabah al-Mathba’ah al -Islamiyah, 1980).

Bustamin, metodologi studi kritik hadis, (Jakarta: Grafindo persada, 2004)

Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadits: Versi Muhaddisin dan Fuqaha. Cet. I,

(Yogyakarta: Teras, 2004)

Ibnu Mandzur, Lisan al-‘Arab (Beirut; Dar al-Shadar, 1863).

Shubhiy Shaleh, “Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (Beirut : Dar al-‘Imiy al -Malayin, 1977).

Mustafa bin Ismail al Sulaimani al Ma‟aribi, Al-Jarwahir al-Sulaimaniyah, sharhu al

manzumah al-baiquniyah, (Riyad : Dar al-Kayan, 2006)

Nuruddin Atar, Manhaj al-naqd fiUlum al-hadith (Beirut: Dar Al Fikr, 1418)

Shubhiy Shaleh, “Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (Beirut : Dar al-‘Imiy al -Malayin, 1977).

Umi Sumbulah, Kritik Hadits Pendekatan Historis Metodologis, (Malang, UIN Press,

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil pengujian, dapat dapat disimpulkan bahwa Pengukuran kinerja Puskesmas Putri Ayu dan Puskesmas Pakuan baru dengan menggunakan metode balanced

Alvarezii di sekitar Pulau Panjang sudah mendekati daya dukungnya (50 Ha) karena penanaman yang ada sudah mencapai luasan lebih dari 40 hektar dengan sistem penanaman

Setelah melewati tahapan demi tahapan sampai pada penentuan parameter SVM dan Forward Selection serta Backward Elimination membandingkan BPNN dan Forward Selection serta

Sebagai bentuk realiasi dari upaya yang dilakukan sekolah dalam meningkatkan kompetensi TAS, SMK Negeri 2 Depok mengikutkan TAS pada kegiatan pendidikan dan pelatihan

Komedi sekarang tidak hanya diaplikasikan dalam bentuk berupa situasi komedi (sitkom) atau dalam film saja. Acara pertelevisian yang memakai unsur komedi dapat ditemui juga

Disarankan pada guru dan siswa untuk tetap menggunakan media ini, agar dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa serta dukungan dari pihak sekolah untuk

analisis data menurut model stake yaitu mencoba membandingkan antara hasil yang diperoleh dengan standar yang telah digunakan sebelumnya. Dengan model ini, peneliti

Sedangkan nilai adjusted R square adalah 0,573, hal ini berarti 57,3% variasikepuasan pasien dapat dijelaskan oleh variabel persepsi harga dalam perspektif Islam dan