“Balas Budi Burung Bangau” Oleh: Daras Resviandira
Sinopsis
Tiga orang pemuda yang sedang pergi berburu di dalam hutan menemukan bangau yang sedang terluka. Dua dari tiga pemuda itu bermaksud untuk membawa pulang bangau tersebut, namun seorang pemuda lainnya melarang usaha kedua temannya itu dan membiarkan bangau tersebut bebas. Akibatnya, sang bangau yang terpukau oleh kebaikan sang pemuda ingin membalas budi padanya. Dengan bantuan Dewa, bangau akhirnya menadapatkan kekuatan untuk bisa berubah menjadi manusia. Setiap malam jumat, sang bangau akan kembali ke wujud aslinya, saat itulah sang bangau akan menenun bulu-bulunya untuk dijaikan kain indah yang nantinya akan diberikan kepada pemuda. Singkat cerita, bangau dan pemuda yang menolongnya telah menjadi suami isteri. Setiap seminggu sekali sang bangau meminta untuk tidak diganggu jika sedang berada di dalam kamar, dan si pemuda menyanggupinya.
“Balas Budi Burung Bangau” Oleh: Daras Resviandira Tokoh : - kakek
- Anak kecil - Bangau
- Gadis bangau & nenek
Latar : jepang di jaman dahulu(waktu). hutan, rumah, jalan(tempat). Adegan 1
Seorang anak sedang bermain di depan rumahnya. Ia mencoba untuk menangkap seekor burung. Lalu, datanglah sang kakek.
Kakek : Kamu sedang apa nak?
Anak : Lihat kek! Burungnya lucu ya?
Kakek : Aduh, kamu jangan suka menangkap hewan-hewan seperti itu, kasihan kan. Ayo! Cepat lepaskan.
Anak : Yah... (melepaskan burung)
Kakek : Hewan-hewan juga punya perasaan. Kalau mereka terluka, mereka bisa melawanmu, tapi jika kamu baik kepada mereka, mereka pun akan membalas budi.
Anak : Masa kek? Bohong ah.
Kakek : Untuk apa kakek bohong. Sebelumnya, apa kamu sudah pernah mendengar cerita
tentang balas budi burung bangau?
Anak : Belum kek, memang bagaimana ceritanya? Narator keluar.
A : (masuk panggung sambil mencari buruan)
B&C : (masuk panggung dengan terburu-buru) (lalu menabrak A) A : Aduh! Kalian sedang apa sih?! Burungnya jadi lepas kan??
*A, B & C jalan sambil mengobrol*
Lalu terdengar sebuah suara. A, B & C pun mencari sumber suara tersebut.
B : Wah! Ada burung bangau, besar sekali! C : Kayaknya enak kalau kita panggang. B : Ayo kita bawa pulang.
A : Hus! Sembarangan kalian. Sayang sekali kalau hewan seindah ini kita panggang. (menolong si bangau dan mengobatinya). Nah sekarang kau sudah bisa pergi. C : Yah . . makan siang ku . .
A : Kita cari saja hewan lain, lagipula aku belum pernah mendengar ada orang yang makan daging bangau.
C : Daripada perut kita keroncongan kan. A,B, C pergi, dan si bangau membuntuti ketiganya.
B : Hei, apa kalian masih ingat? Gadis cantik yang kita temui sewaktu festival musim panas kemarin?
C : Ah ya aku ingat sekali.
B : Bagaimana ya, aku ingin sekali bertemu dan berkenalan dengannya. C : Kira-kira siapa ya namanya.
C : Kalau kamu suatu saat berkenalan dengannya, ajak aku juga untuk bertemu dengan teman-temannya ya. Pasti banyak sekali gadis yang tak kalah cantik.
B : Itu hal mudah. Nanti aku carikan gadis cantik untukmu deh.
C : Oiya, jangan lupa untuk teman kita yang satu ini juga. (merangkul A) A : Eits, kok aku dibawa-bawa.
C : Memangnya kamu tidak mau berkenalan dengan gadis-gadis cantik itu? A : Bukannya seperti itu sih.
B : Apa mereka tidak sesuai dengan tipe mu ya?
A : Tipe? Hmm gimana ya.
B : Bagaimana sih kamu. Kamu itu kan bisa dibilang cukup terkenal di kalangan para gadis. Kenapa tidak kamu coba untuk berkenalan dengan salah satu dari mereka.
A : Hah~ gadis seperti mereka pasti hanya tertarik pada harta saja. Setelah tahu bahwa aku hanya seorang pemuda miskin, pasti mereka langsung menjauh. Sudahlah jangan terlalu banyak berkhayal.
B : Yah namanya juga orang sedang bermimpi. *A,B,C masih mengobrol*
Bangau tersebut pun mendengar percakapan ketiganya, dan berencana untuk membalas budi kepada si pemuda A.
Adegan 2
Bangau : Aku ingin membalas budi pada pemuda itu. Tapi... aku tidak ingin dia tahu bahwa aku ini seekor bangau, jadi, aku akan berubah!
Kuroko masuk menutupi si bangau dengan kain hitam, bangau bertukar tempat dengan gadis.
Gadis : Sekarang aku akan mendatangi pemuda tampan itu. Gadis bangau keluar panggung.
Ketiga pemuda masuk sambil bercanda-canda. Si gadis bangau mendatangi mereka. Ketiga pemuda terkejut.
Narator masuk, setelah beberapa waktu adegan tanpa suara, pemain keluar.
Anak : Lalu, bagaimana kelanjutannya kek?
Kakek : Ya, setelah mereka bertemu, pemuda dan gadis bangau tersebut memutuskan untuk menikah.
Anak : Wah.. tapi apa pemuda itu tahu kalau istrinya adalah jelmaan burung bangau yang dia tolong?
Kakek : Tidak, karena sang bangau tidak ingin jati dirinya diketahui oleh si pemuda. Bahkan setelah menikah, sang gadis bangau meminta kepada suaminya agar ada satu malam dimana si pemuda dilarang untuk mengintip sang istri ketika sedang sendirian dalam kamar.
Anak : Apa yang sedang dilakukan istrinya di dalam kamar sendirian, kek? Kakek : Istrinya itu sedang menenun kain yang dibuat dari bulu-bulunya yang
indah, untuk dijual oleh sang suami.
*A, B & C masuk sambil mengobrol*
B : Indah sekali kain ini. Kau dapatkan darimana? A : Istriku yang menenunnya.
B : Benang apa yang ia gunakan?
A : Entahlah.
C : Apa kamu tidak pernah bertanya atau melihat ia sedang menenun?
A : Ya, sejak awal ia tidak pernah meminta untuk tidak membahas hal-hal seperti itu. Bahkan saat ia sedang menenun pun ia memintaku untuk tidak memasuki kamar dan melihatnya.
C : Lho, kenapa?
A : Aku tidak tahu.
B : Memangnya kamu tidak penasaran?
A : Iya juga sih.
B : Nah, bagaimana kalau kau masuk saja ke dalam kamarnya, saat ia sedang menenun.
C : Ya! Siapa tahu kau mengetahui sesuatu.
Adegan 3
Bangau sedang menenun kain, dan kuroko masuk menjadi pintu.
A : Malam ini, istriku pasti sedang menenun. Sekarang, aku coba masuk ke dalam kamar.
Pemuda masuk, dan terkejut melihat si burung bangau.
Adegan 4
Sang pemuda sedang lari-lari mencari burung bangau, lalu bertemu kedua temannya.
C : Hei, ada apa? Kenapa kau berlari-lari seperti itu?? A : Bangau.. bangau .. (sambil mengatur nafasnya) B : Apa? Ada apa dengan bangau?
A : Aku sedang mencari bangau.
*C dan B ikut mencari setelah sedikit berbincang dengan A* A menemukan bangau yang sedang menangis ketakutan di dalam hutan.
A : Kenapa kamu lari?
Bangau : Aku takut kamu akan marah kepadaku. A : Marah? Kenapa harus marah?
Bangau : Karena aku hanya seekor bangau.
A : Kamu harus tahu, walaupun dirimu hanya seekor bangau, namun yang kulihat hanyalah hatimu, yang jauh lebih cantik dari seorang bidadari sekalipun.
Narator masuk, bangau dan A pergi setelah narator berbicara sebentar. Bangau dan A adegan tanpa suara.
Anak : Jadi mereka tetap bersama kek?
Kakek : ya, mereka menjadi pasangan yang bahagia layaknya pasangan-pasangan lainnya.
Anak : Tapi perempuan itu kan hanya seekor bangau.
Kakek : Kau tahu nak? Semesta ini luas, sangat luas, tak beda dengan perasaan. Terlalu dalam untuk diungkapkan. (jeda) aku sangat mencintai nenekmu. Tak ada seorangpun di dunia ini yang mengetahui hatiku lebih dari dirinya. Tak ada satupun keinginan yang sangat aku inginkan, selain dari dia.
Nenek masuk membawa kain, memberikan kepada kakek.
Kakek : Mata kita mungkin terlalu liar untuk mencari kepuasan batin. Tapi, ketika hati sudah menemukan tahta bagi seseorang, tak ada satupun hal yang mampu
menggantikannya.
Nenek : (memanggil nama si anak) Anak : Eh ada nenek!
Nenek : Nenek punya kue enak lho, mau gak? Anak : Horee mau nek mau!