• Tidak ada hasil yang ditemukan

hubungan etnis cina dengan bangsa Indone

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "hubungan etnis cina dengan bangsa Indone"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Hubungan Pribumi dan Non-Pribumi di Era Reformasi: Perspektif Pribumi A. Faktor penyebab Etnis Cina menjadi target korban kerusuhan Mei 1998

Politik SARA yang dipraktikkan pada era orde baru menyebabkan masyarakat Indonesia tersegregasi ke dalam kotak-kotak yang dilabeli oleh salah satu unsur dari empat elemen (suku, agama, ras, antargolongan) untuk menjaga keamanan dan keteraturan nasional dan untuk menghindari konflik. Namun, dalam segeregasi ini, etnis Cina dianggap sebagai “others” bukan sebagai “we” oleh masyarakat pribumi. Politik SARA bisa dibilang sukses pada dua puluh tahun pemerintahan presiden Soeharto, namun sepuluh tahun terakhir pemerintahan Soeharto, politik SARA malah menjadi ancaman atau pemincu konflik SARA karena adanya kesenjangan sosial yang membuat masyarakat pribumi termarginalisasi.

Etnis Cina dilihat pribumi terlalu dekat dan terkait dengan pihak yang berkuasa (yang memiliki otoritas), orang-orang kaya atau konglomerat dan kelompok yang menikmati kemakmuran yang lebih dibanding kelompok lainnya. Hal ini menjadi alasan mengapa etnis Cina dianggap sebagai others oleh pribumi. Imam Syafii, seorang reporter Jawa Pos dalam mengomentari mengapa etnis Cina selalu menjadi target kemarahan massa, ia menulis artikel di mana di artikelnya ia meenyampaikan bahwa “dosa” etnis Cina yang memicu tindakan brutal dan kejam masyarakat pribumi kepada mereka.

Pertama, ia mengindikasi terdapat hubungan sekunder yang tidak harmonis antara etnis Cina dengan lingkungannya yang lebih luas terutama oleh masyarakat pribumi. Fenomena ini muncul karena kesuksesan etnis Cina dalam mendominasi sektor ekonomi karena sosialisasi lingkungan dan budayanya yang membuat etnis Cina lebih tertarik dan ahli dalam sektor ekonomi atau perdagangan. Kedua, Syafii juga melihat ada perasaan buruk pada etnis Cina karena kecendrungan mereka untuk hidup secara eksklusif baik dari lokasi tempat tinggalnya maupun dari sosialisasi atau lingkaran pergaulannya. Lebih jauh lagi, kedekatan etnis Cina pada konglomerat dan pihak yang berkuasa meningkatkat kecurigaan masyarakat pribumi terhadap etnis Cina.

(2)

dan mereka menerima hal tersebut sebagai takdir yang tidak dapat diubah, bahwa hak dan tugasnya di negara ini terbatas pada sektor ekonomi saja.

Selain itu, Anita Lie juga menanggapi pernyataan Syafii mengenai tempat tinggal eksklusif warga etnis Cina, ia mengatakan bahwa reporter tidak jeli dalam mengamati karena tempat tinggal etnis Cina yang eksklusif bukan berdasarkan kecendrungan kesamaan etnis, namun kesaaan kelas karena pada kenyataannya hanya sedikit warga etnis Cina yang hidup di kawasan tempat tinggal eksklusif tersebut. Kesalahan lain dari warga etnis Cina adalah keengganan mereka dalam menolak tuduhan yang menyatakan mereka identik atau sama dengan Eddy Tansil dan Hartono, dan bahwa mereka juga sebenarnya marah dan menentang perbuatan konglomerat Cina yang terlibat dalam korupsi dan kolusi dengan beberapa anggota birokrasi pemerintahan.

B. Persepsi Pribumi mengenai tragedi Mei 1998

Serangkaian kejadian yang terjadi pada 13 dan 14 Mei menjadi awal mula jatuhnya Soeharto dan pemerintahan orde barunya merupakan tragedi nasional yang mana etnis Cina terutama kaum wanitanya menjadi korban utama dalam peristiwa ini. Peristiwa ini menjadi guncangan besar bagi bangsa yang menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai slogan nasional. Peristiwa ini kemudian dianalisis oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk oleh pemerintah setelah insiden terjadi. TGPF pun melihat terdapat pola yang sama dalam kericuhan-kericuhan yang terjadi. Kemudian analisis kejadian ini pun dibagi menjadi dua bagian yanitu analisis pada level makro dan level mikro.

Pada lebel makro, kejadian ini tidak dapat dipisahkan dari konteks dinamika sosial dan politik Indonesia saat itu. Pada level ini ditandai dengan serangkaian peristiwa seperti pemilu tahun 1997, krisis ekonomi, pertemuan MPR/DPR 1998, demonstrasi mahasiswa, dan penculikan aktivis-aktivis mahasiswa. Dari serangkaian kejadian yang menimpa bangsa Indonesia saat itu, krisis ekonomi yang melanda Indonesia menjadi peristiwa yang mendorong kerusuhan dan kekerasan massa yang berlebihan karena krisis ekonomi semakin memperluas jarak antara masyarakat yang kaya dengan yang miskin dan memperkuat persepsi ketidakadilan di masyarakat.

(3)

TGPF pun menunjukkan bahwa kemarahan yang ditujukan pada warga etnis Cina karena prasangka rasial terhadap etnis Cina di masyarakat. Laporan TGPF yang menyatakan terdapat pola yang sama baik dari perencanaan sampai eksekusi kerusuhan yang terjadi di beberapa kota khususnya di Jakarta hati-hati menyimpulkan bahwa ada konspirasi nasional yang telah direncanakan dengan baik.

TGPF menambahkan bahwa kurangnya koordinasi antara kekuatan keamanan, antisipasi yang kurang, pelaksanaan perintah yang sembarangan, pihak keamanan yang mengijinkan kekerasan tersebut terjadi, dan angka pihak keamanan yang terbatas dibandingkan dengan luasnya area tempat kekerasan atau kerusuhan tersebut terjadi. Kerusuhan ini juga terkait dengan kekerasan seksual yang dialami oleh kaum wanita non-pribumi (etnis Cina). Namun Ignas Kleden berpendapat bahwa kerusuhan Mei 1998 bukan hasil dari kebencian etnis, memang perbedaan ras, etnis,dan budaya dapat menyebabkan gangguan dalam komunikasi, tetapi mereka tidak secara alami mendorong kemarahan etnis. Hubungan antar etnis hanya akan mengubah ke permusuhan dan kekerasan apabila perbedaan-perbedaan tersebut berdampingan dengan dominasi salah satu kelompok etnis terhadap kelompok etnis lainnya yang mana tidak disebabkan oleh beberapa konsekuensi alami tetapi lebih karena kebijakan pemerintah.

C. Perubahan sikap masyarakat Pribumi terhadap etnis dan kebudayaan Cina

Setelah masa orde baru berakhir, terdapat beberapa perubahan termasuk perubahan pada hubungan etnis di Indonesia. Tetapi perubahan ini memiliki bisa menghasilkan dua kecendrungan, pertama kecendrungan untuk menghasilkan sikap toleransi terhadap perbedaan-perbedaan (khususnya dalam etnis), dan disisi lain adanya kecendrungan untuk menghasilkan sikap ketidaktoleranan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Selepas pemerintahan orde baru runtuh, presiden B.J. Habibie pun menurunkan instruksi presiden untuk tidak lagi menggunakan istilah pribumi dan non-pribumi di seluruh kebijakan pemerintah dan implementasinya.

(4)

daerah di Indonesia yang masih didasarkan pada SARA. Meskipun pada dasarnya konflik-konflik tersebut berasal dari masalah-masalah kecil atau sepele, masalah ini didukung dengan prasangka yang dimiliki antar individu yang bertikai sehingga konflik ini berujung pada konflik kelompok.

Referensi

Dokumen terkait

besar warga negara Cina yang tinggal di Indonesia memiliki harga diri yang tinggi.. Banyak warga Cina yang beranggapan bahwa orang yang berkebangsaan

Jawa dan etnis Cina dan pengaruh nama merek dengan kombinasi angka terhadap.. persepsi konsumen di Daerah Istimewa

Dan yang paling menonjol pada permasalahan ini adalah pengakuan terhadap etnis-nation Tionghoa, meskipun kehadiran etnis ini sudah berabad-abad lalu dan (seharusnya)

Skripsi dengan judul :Perbedaan Karakteristik Wirausaha Etnis Cina Dengan Wirausaha Pribumi Dalam Perspektif Ekonomi Islam(Studi di Pasar Kecamatan Sumber Rejo

Tujuan penelitian ini adalab untuk mengetabui bubungan parental expectancy dan motivasi berprestasi baik pada etuis Cina maupun J awa, serta mengetabui perbedaan

Perilaku sosial seperti apa yang dibangun antara pedagang Etnis Cina Tionghoa dengan masyarakat Islam, sehingga terjadi kerukunan dan keharmonisan yang berada

Perbedaan tingkat prasangka terhadap etnis Cina berdasarkan jenis kelamin dilakukan dengan uji t menghasilkan nilai sebesar 0,109 dengan nilai p = 0,913 (p >